I. PENDAHULUAN 1.1.

Tanah Mineral Masam dan Penyebarannya Tanah mineral masam banyak dijumpai di wilayah beriklim tropika basah, termasuk Indonesia. Luas areal tanah bereaksi asam seperti podsolik, ultisol, oxisols dan spodosol, masing-masing sekitar 47,5, 18,4, 5,0 dan 56,4 juta ha atau seluruhnya sekitar 67% dari luas total tanah di Indonesia (Nursyamsi et al, 1996). Luasnya tanah masam tersebut sebenarnya mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan usaha pertanian, tetapi sampai sekarang masih belum dapat dimanfaatkan secara maksimal mengingat beberapa kendala yang terdapat pada tanah masam.Tanah ordo lain yang bersifat masam adalah inseptisol dan entisol. Keasaman tanah ditentukan oleh kadar atau kepekatan ion hidrogen di dalarn tanah tersebut. Bila kepekatan ion hidrogen di dalam tanah terlalu tinggi maka tanah akan bereaksi asam. Sebaliknya, bila kepekatan ion hidrogen terIalu rendah maka tanah akan bereaksi basa. Pada kondisi ini kadar kation OH- lebih tinggi dari ion H+. Tanah masam adalah tanah dengan pH rendah karena kandungan H+ yang tinggi. Pada tanah masam lahan kering banyak ditemukan ion Al3+ yang bersifat masam karena dengan air ion tersebut dapat menghasilkan H+. Dalarn keadaan tertentu, yaitu apabila tercapai kcjenuhan ion Al3+ tertentu, terdapat juga ion Al-hidroksida ,dengan demikian dapat menimbulkan variasi kemasaman tanah (Yulianti, 2007). Di daerah rawa-tawa, tanah masam umumnya disebabkan oleh kandungan asam sulfat yang tinggi. Di daerah ini sering ditemukan tanah sulfat masam karena mengandung, lapisan cat clay yang menjadi sangat masarn bila rawa dikeringkan akibat sulfida menjadi sulfat. Kebanyakan partikel lempung berinteraksi dengan ion H+. Lempung jenuh hidrogen mengalami dekomposisi spontan. Ion hidrogen menerobos lapisan oktahedral dan menggantikan atom Al. Aluminium yang dilepaskan kemudian dijerap oleh kompleks lempung dan suatu kompleks lempung-Al-H terbentuk dengan cepat ion. Al3+ dapat terhidrolisis dan menghasilkan ion H. Reaksi tersebut menyumbang pada peningkatan konsentrasi ion H+ dalam tanah. Sumber keasaman atau yang berperan dalam menentukan keasaman pada tanah gambut adalah pirit (senyawa sulfur) dan asam-asam organik. Tingkat keasaman gambut mempunyai kisaran yang sangat lebar. Keasaman tanah gambut cendrung semakin tinggi jika gambut semakin tebal. Asam-asam organik yang tanah gambut terdiri dari atas asam humat, asam fulvat, dan asam humin. Pengaruh pirit yaitu pada oksida pirit yang akan menimbulkan keasaman tanah hingga mencapai pH 2 - 3. Pada keadaan ini hampir tidak ada tanaman budidaya yang dapat tumbuh baik. Selain menjadi penghambat pertumbuhan tanaman, pirit menyebabkan terjadinya karatan (corrosion) sehingga mempercepat kerusakan alat-alat pertanian yang terbuat dari logam. Terdapat dua jenis reaksi tanah atau kemasaman tanah, yakni kemasaman (reaksi tanah) aktif dan potensial. Reaksi tanah aktif ialah yang diukurnya konsentrasi hidrogen yang terdapat bebas

dalam larutan tanah. Reaksi tanah inilah yang diukur pada pemakaiannya sehari-hari. Reaksi tanah potensial ialah banyaknya kadar hidrogen dapat tukar baik yang terjerap oleh kompleks koloid tanah maupun yang terdapat dalam larutan (Hanafiah, 2007). Selanjutnya dijelaskan juga oleh Hanafiah (2007) bahwa sejumlah senyawa menyumbang pada pengembangan reaksi tanah yang asam atau basa. Asam-asam organik dan anorganik, yang dihasilkan oleh penguraian bahan organik tanah , merupakan konstituen tanah yang umum dapat mempengaruhi kemasaman tanah. Respirasi akar tanaman menghasilkan C02 yang akan membentuk H2CO3 dalam air. Air merupakan sumber lain dari sejumlah kecil ion H+. Suatu bagian yang besar dari ion-ion H+ yang dapat dipertukarkan. H H---Lempung ---> Lempung + 3 H+ H Ion-ion H+ tertukarkan tersebut berdisosiasi menjadi ion-ion H+ bebas. Dcrajat ionisasi dan disosiasi ke dalam larutan tanah menentukan khuluk kemasaman tanah. Ion-ion H+ yang dapat dipertukarkan merupakan penyebab terbentuknya kemasaman tanah potensial atau cadangan. Besaran dari kemasaman potensial ini dapat ditentukan dengan titrasi tanah. Ion-ion H+ bebas menciptakan kemasaman aktif. Kemasaman aktif diukur dan dinyatakan sebagai pH tanah. Tipe kemasaman inilah yang sangat menentukan dan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Ada beberapa alat ukur reaksi tanah yang dapat digunakan. Alat yang murah ialah kertas lakmus yang bentuknya berupa gulungan kertas kecil memanjang. Alat lain yang harganya sedikit mahal tetapi dapat dipakai berulang kali dengan hasil pengukuran lebih terjamin adalah pH tester dan soil tester. Pemakaian kertas lakmus sangat mudah, caranya yaitu : mengambil tanah lapisan dalam, lalu larutkan dengan air murni (aquadest) dalam wadah. Biarkan tanahnya terendam di dasar wadah sehingga airnya menjadi bening kembali. Setelah bening, air tersebut dipindahkan ke wadah lain secara hati-hati agar tidak keruh. Selanjutnya, ambil sedikit kertas lakmus dan celupkan ka dalam air tersebut. Dalam beberapa saat kertas lakmus akan berubah warna. Cocokan warna pada kertas lakmus dengan skala yang ada pada kemasan kertas lakmus. Skala tersebut telah dilengkapi dengan angka pH masing-masing Warna. Angka pH tanah tersebut adalah angka dari warna pada kemasan yang cocok dengan warna kertas lakmus Misalnya, angka yang cocok adalah 6 maka pH-nya 6. Pemakaian soil tester untuk mendapat pH tanah agak berbeda dengan kertas lakmus. Bentuknya seperti pahat dan berukuran pendek. Oleh karena berbentuk padatan, ada bagian yang runcing. Bagian runcing inilah yang ditancapkan ke tanah hingga pada batas yang dianjurkan. Setelah ditancapkan, sekitar tiga menit kernudian jarum skala yang terletak di bagian atas alat ini akan bergerak. Angka yang ditunjukkan jarum tersebut merupakan pH dari tanah tersebut. Pemakaian pH tester lebih sederhana dan soil tester penggunaannya untuk megukur nilai pH tanah di lahan yang tidak terlalu luas, sekitar 1-2 ha. Walaupun demikian, alat ini masih bisa

diandalkan. Bagian yang menunjukkan angka pH berbentuk kotak dengan jarum penunjuk angka. Bagian kotak tersebut dihubungkan dengan besi sepanjang 25 cm yang ujungnya runcing dan dilapisi logam elektroda. Besi inilah vang ditancapkan ke tanah. Jumlah besi bisa 1-2 buah. Penetapan pH tanah sekarang ini dilakukan dengan elektroda kaca. Elektroda ini terdiri dari suatu bola kaca tipis yang berisi HCL. encer, dan di dalamnya disisipkan kawat Ag-AgCl, yang berfungsi sebagai elektrodanya dengan tegangan (voltase) tetap. Pada waktu bola kaca tersebut itu dicelupkan ke dalam suatu larutan, timbul suatu perbedaan antara larutan di dalam bola dan larutan tanah di luar bola kaca. Sebelum pengukuran pH dilakukan, kedua elektroda pertama-tama harus dimasukkan ke dalam suatu larutan yang diketahui pH-nya (misalnya konsentrasi ion H+ = 1 g/L). Kegiatan ini disebut pembakuan elektroda dan petunjuk pH (pH meter). Dalam pengukuran pH, elektroda acuan dan elektroda indikator dicelupkan ke dalam suspensi tanah yang heterogen yang terdiri atas partikel-partikel padat terdispersi dalam suatu larutan aquadest. Jika partikel-partikel padat dibiarkan mengendap, pH dapat diukur dalam cairan supernatant atau dalam endapan (sedimen). Penempatan pasangan elektroda dalam supernatant biasanya memberikan bacaan pH yang lebih tinggi dari pada penempatan dalam sedimen. Perbedaan dalam bacaan pH ini disebut pengaruh suspensi. Pengadukan suspensi tanah sebelum pengukuran tidak akan memecahkan masalah tersebut, karena prosedur ini memberikan bacaan yang tidak stabil (Hanafiah, 2007). Jenis tanah masam diantaranya terdapat pada tanah ordo Ultisol. Ultisol dibentuk oleh proses pelapukan dan pembentukan tanah yang sangat intensif karena berlangsung dalam lingkungan iklim tropika dan subtropika yang bersuhu panas dan bercurah hujan tinggi dengan vegetasi klimaksnya hutan rimba. Dalam lingkungan semacam ini reaksi hidrolisis dan asidolisis serta proses pelindian (leaching) terpacu sangat cepat dan kuat. Asidolisis berlangsung kuat karena air infiltrasi dan perkolasi mengambil CO2 hasil mineralisasi bahan organik berupa serasah hutan dan hasil pernafasan akar tumbuhan hutan (Yulnafatmawita, 2008). Pelapukan masam tanah membebaskan basa dari mineral tanah secara cepat apabila didukung dengan daya lindi yang kuat maka akan terbentuk tanah yang miskin hara dan Al Fe serta Mn yang tinggi dapat meracun tanaman. Persoalan akan bertambah berat jika bahan induk tanah sudah bersifat masam kondisi inilah yang dijumpai di Sumatera. Tanah ultisol memiliki ciri-ciri sebagai berikut ; 1. pH rendah 2. Kejenuhan Al , Fe dan Mn tinggi 3. Daya jerap terhadap fosfat kuat 4. Kejenuhan basa rendah ; kadar Cu rendah dalam tanah yang berasal dari bahan induk masam (feksil) atau batuan pasir, Zn cukup namun tereluviasi. 5. Kadar bahan organik rendah dan kadar N rendah 6. Daya simpan air terbatas 7. Kedalaman efektif terbatas 8. Derajat agregasi rendah dan kemantapan agregat lemah baik pada lahan berlereng maupun datar.

Kerentanan terhadap erosi membuat tanah akan semakin cepat berkurang kesuburannya terutama pada lapisan atas dan akan terakumulasi di bagian yang lebih rendah (Notohadiprawiro, 2006). Kekahatan fosfor merupakan salah satu kendala terpenting bagi usaha tani di lahan masam. Hal ini karena sebagian besar koloid dan mineral tanah yang terkandung dalam tanah Ultisol mempunyai kemampuan menyemat fosfat cukup tinggi, sehingga sebagian besar fosfat dalam keadaan tersemat oleh Al dan Fe, tidak tersedia bagi tanaman maupun biota tanah (Hasanudin dan Ganggo, 2004). Menurut Subandi (2007) Tanah Ultisol umumnya mempunyai pH rendah yang menyebabkan kandunganAl, Fe, danMn terlarut tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Jenis tanah ini biasanya miskin unsur hara esensial makro seperti N, P, K, Ca, dan Mg; unsur hara mikro Zn, Mo, Cu, dan B, serta bahan organik. Meskipun secara umum tanah Ultisol atau Podsolik Merah Kuning banyak mengandung Al dapat ditukar (Al-dd) (20-70%), namun hasil penelitianmenunjukkan bahwa beberapa contoh tanah tersebut mengandung Al-dd relatif rendah (< 20%). Tanah di KP. Kayu Agung, Indralaya, dan Prabumulih Sumatera Selatan, misalnya, mempunyai kejenuhan Al-dd berturut-turut 11,08%, 1,01%, dan 17,26%, di Jawa Barat 13,40% dan 11 dari 28 contoh tanah lapisan atas yang berasal dari Lampung Tengah jugamemiliki kejenuhanAl-dd yang rendah . Tekstur tanah ultisol bervariasi, berkisar dari pasiran (sandy) sampai dengan lempungan (clayey) .Fraksi lempung tanah ini umumnya didominasi oleh mineral silikat tipe 1:1 serta oksida dan hidroksida Fe danAl , sehingga fraksi lempung tergolong beraktivitas rendah dan dayamemegang lengas juga rendah. Karena umumnya memiliki kandungan bahan organik rendah dan fraksi lempungnya beraktivitas rendah maka kapasitas tukar kation tanah (KTK) tanah Podsolik juga rendah, sehingga relatif kurang kuatmemegang hara tanaman dan karenanya unsur haramudah tercuci. Tanah Podsolik atau Ultisol termasuk tanah bermuatan terubahkan (variable charge), sehingga nilai KTK dapat berubah bergantung nilai pH-nya, peningkatan pH akan diikuti oleh peningkatan KTK ,lebih mampu mengikat hara K dan tidak mudah tercuci. Ultisols (ultimus-selesai) adalah tanah-tanah yang berwarna kuning merah dan telah mengalami pencucian yang sudah lanjut. Dikenal luas sebagai podsolik merah kuning. Tanah-tanah ini mendominasi lahan kering yang ada di Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Total luas adalah sekitar 45.79 juta ha atau 24.3 % dari lahan Indonesia dan menyebar di Kalimantan Timur (10.04 juta ha), Irian Jaya (7.62 juta), Kalimantan Barat (5.71 juta), Kalimantan Tengah (4.81 juta), dan Riau (2.27 juta ha). Tanah Oxisols (oxide, oksida) adalah tanah-tanah yang telah mengalami pencucian yang intensif dan miskin hara, tinggi kandungan AL dan Fe. Seperti halnya Ultisols, mereka mendominasi lahan kering dengan intensitas curah hujan yang tinggi. Tanah-tanah ini sudah tua. Total luas tanah ini sekitar 14.11 juta ha atau 7.5% dari total lahan Indonesia dan menyebar di Sumatera Selatan (2.82 juta ha), Irian Jaya (2.41 juta), Kalimantan Tengah (2.06 juta), Kalimantan Barat (1.79 juta), Jambi (1.14 juta), dan Lampung (1.01 juta ha).

Spodosol merupakan tanah mineral yang mempunyai horizon spodik, suatu horizon dalam dengan akumulasi bahan organic, dan oksidasi aluminium (Al) dengan atau tanpa oksidasi besi (Fe). Horizon iluvial ini dijumpai dibawah horizon eluviasi, biasanya suatu horizon albik (berwarna merah muda, dengan demikian memadai bila disebut abu kayu). Umumnya terbentuk diwilayah iklim humid, dibawah vegetasi hutan basah dan berkembang dari bahan endapan dan batuan sediment kaya kuarsa yang dipercepat oleh adanya vegetasi yang menghasilkan serasah asam. Senyawa – senyawa organic tercuci kebawah bersama air perkolasi sehingga tanah permukaan menjadi berwarna terang, sedang horizon bawah menjadi berwarna gelap karena terjadinya selaput organic pada butir-butir tanah. Species tumbuhan yang berkadar ion-ion logam rendah, seperti pinus, kelihatannya merangsang pertumbuhan spodosol. Dengan membusuknya daun-daun yang rendah kadar ion logamnya, kemasaman tinggi akan terbentuk. Air perkolasi membawa asam-asam itu kebagian profil tanah yang lenig dalam. Horizon atas hancur karena pencucian intensif oleh asam. Sebagian besar mineral, dipindahkan kebagian lebih dalam. Oksida aluminium dan besi serta bahan organic akan diendapkan di horizon bagian bawah, sehingga menghasilkan profil spodosol yang menarik. Mengikuti definisi kuantitatif taksonomi tanah, tanah diklasifikasi sebagai spodosol, apabila memiliki horizon dengan semua sifat berikut : i. Tersementasi dengan kelembaban minimum 10 cm; ii. Terletak langsung dibawah horizon albik, pada 50 % atau lebih dari setiap pedonnya; iii. Batas atas berada dalam kedalaman <50 cm, apabila kelas besar butirnya berlempung kasar, skeletal berlempung, atau lebih halus atau <200 cm. Apabila kelas besar butirnya berpasir, dan; iv. Batas bawah pada kedalaman 25 cm atau lebih, dari permukaan tanah. Dalam hal ini Spodosol mencakup Tanah-tanah yang disebut : Podzol dan Podzol Air Tanah. Spodosol adalah Tanah – tanah yang secara unik berkembang dari endapan pasir kuarsa, dan/atau batu sedimen berupa batu pasir kuarsa. Vegetasi alami yang tumbuh biasanya spesifik jenisnya. Yaitu vegetasi yang mampu berkembang subur di Tanah masam, seperti kantung Semar dan Paku-pakuan. Banyak tanah dari timur laut amerika serikat, termsuk bagian utara michigan dan winconsin yang dulunya digolongkan sebagai podsol, podsolik coklat dan podsol air tanah termasuk dalam spodosol. Sebagian dari mereka adalah orthod, suatu spodosol umum. Akan tetapi beberapa adalah aquod, karena tanah ini selama musim tertentu jenuh dengan air dan mempunyai ciri-ciri yang berasosiasi dengan kebasahan, seperti akumulasi bahan organik yang tinggi, becak-becak pada horizon albik dan terbentuknya semacam lapisan keras (duripan) pada horizon albik. Daerah-daerah dari aquod adalah Florida. Di Indonesia sendiri penyebaran endapan pasir dan batu pasir kuarsa yang secara geologis sangat luas, terdapat di kalimantan tengah, serta setempat-setempat di kalimantan barat dan kalimantan timur. Di pulau lain nampaknya tidak luas penyebaranya dan setempat – setempat terdapat disulawesi dan sumatra. Landform – nya dimasukkan sebagai dataran tektonik. Lanscape luas tanah spodosol seluruhnya diperkirakan 2,16 juta ha atau 1,1 % wilayah dataran indonesia. Penyebaranya paling luas terdapat di kalimantan tengah sekitar 1,51 juta ha, kemudian dikalimantan barat 0,42 juta dan kalimantan Timur 0,15 juta ha. Di silawesi tengah, tengah, selatan dan tenggara dipearkirakan terdapat antara 11-25 ribu ha (Himatan, 2006).

bukan tanah yang . Spodosol termasuk tanah dengan kelas besar butir berpasir. berwarna putih dan putih kekelabuan.2-1. kimia. yang sering kali dibuka untuk pertanian adalah Haplorthods yaitu spodosol yang terbentuk diwilayah beriklim basah. sehingga menambah biaya produksi. Kandungan kedua unsur hara ini dilapisan serasah. bisasanya terdapat lapisan bahan organik (Oi dan Oe) tipis (5-10) cm dan dibawahnya terdapat Horizon Al dengan kandungan bahan organik termasuk sedang sampai tinggi (3.5)%.9) di seluruh lapisan tanah.1 – 9. Rasio C/N tergolong tinggi (16-35). 2006) 1.2. bahan induk yang keras dan asam. dan (2) tempat akar berjangkar. Selain itu. Jumlah basa-basa dapat ditukar termasuk sangat rendah (0. sangat rendah sampai rendah. Secara alami (pengaruh lingkungan) yang disebabkan proses pembentukan tanah terhambat atau tanah yang terbentuk tidak sesuai untuk pertumbuhan tanaman. Tinjauan Umum Kesuburan Tanah Sebagai sumberdaya alam untuk budidaya tanaman. Tanah Marjinal dapat terbentuk secara alami dan antropogenik (ulah manusia). Reaksi tanah menunjukkan masam ekstrem sampai sangat masam (pH 3. dan agak tinggi sampai tinggi pada lapisan serasah dan di horizon Bs (sesquioksida). tanah mempunyai dua fungsi. kekurangan air. dengan kandungan bahan organik dangat rendah (0. selalu lebih tinggi dari pada lapisan bawah yang berpasir. Kandungan P dan K-potensial di lapisan atas dan dilapisan bawah. pengaruh salinisasi/penggaraman.95) %.Dari empat sub-ordo dalam kelompok spodosol. KB semuanya sangat rendah sampai. dengan kandungan fraksi pasir tinggi (65-96 %).2 cmol (+)/kg tanah). Tanah Marjinal untuk budidaya tanaman merupakan tanah yang mempunyai sifat-sifat fisika. Salah satu atau kedua fungsi ini dapat menurun. KTK tanah sebagian besar sangat rendah dilapisan pasir. Hilangnya fungsi inilah yang menyebabkan produkvitas tanah menurun menjadi Tanah Marjinal. suhu yang dingin/membeku. fraksi tanah yang dihasilkan didominasi oleh pasir.2 – 0. Langsung dibawah horizon ini terdapat horizon E. yaitu : (1) sebagai sumber penyedia unsur hara dan air.3 – 4. Kalau tanah ini diusahakan untuk budidaya tanaman memerlukan masukan teknologi. dan biologi yang tidak optimal untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman. Dengan demikian. dengan curah hujan tunggi dan rezim kelembaban tanah udik dan aquods yaitu spodosol basah atau jenuh air dengan drainase sangat terhambat dan sering kali mempunyai permukaan air tanah berada dekat dengan permukaan tanah. Pada permukaan tanah. Tanah Marjinal yang dimaksudkan adalah tanah yang terbentuk secara alami. Data dari analisis tanah dari beberapa pedon Spodosol dari kalimantan tengah dan kalimantan barat menunjukkan bahwa. tanah ini juga tidak mempunyai fungsi ekologis yang baik terhadap lingkungan. bahkan hilang. cenderung menaik kelapisan bawah. Misalnya. Potensi Kesuburan alami Spodosol dengan demikian disimpulkan sangat rendah sampai rendah penggunaan tanah (Himatan. tergenang dan akumulasi bahan gambut.

Histosols. Aliran permukaan yang berasal dari curah hujan akan mengikis lapisan permukaan yang merupakan bagian tersubur dari tanah. eksploitasi deposit bahan tambang. o. pengeringan ekstrem pada tanah gambut. Suatu tanah atau lahan dapat menghasilkan suatu produk tanaman yang baik dan menguntungkan maka tanah dikatakan produktif. Produktivitas tanah merupakan kemampuan suatu tanah untuk menghasilkan produk tertentu suatu tanaman dibawah suatu sistem pengelolaan tanah tertentu. b. karena merupakan kompleks petukaran ion dan penahan unsur hara. Histosols. r. Dari 12 ordo tanah di dunia (Alfisols. terungkapnya unsur atau senyawa beracun bagi tanaman. Fraksi tanah yang dahulu diangkut adalah yang halus dan ringan yaitu liat dan humus. dan Ultisols.5 % / tahun. Gelisols. Oleh karena itu. Entisols. Inceptisols. Deforestasi dan degradasi hutan menyebabkan terjadinya erosi yang dipercepat dan punahnya organisme yang berperan dalam pembentukan tanah T = ƒ (i. Luas lahan kritis di Indonesia dari tahun ke tahun meningkat. Mollisols. Kesuburan tanah adalah kemampuan atau kualitas suatu tanah menyediakan unsur hara tanaman dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan tanaman. deforestasi dan degradasi hutan. Tanah subur akan produktif jika dikelaola dengan tepat. Ultisol.menjadi marjinal karena antropogenik. Aridisols. sejalan dengan semakin mengganasnya deforestasi dan degradasi hutan serta belum diterapkannya teknologi konservasi tanah yang memadai. Dari hasil survei Direktorat Kehutanan tahun 1985 pada 75 DAS (sebagian dari jumlah DAS di Indonesia) jumlah lahan kritis telah mencapai 16 juta ha dan meningkat 2. Entisols. Dapat diprediksi betapa luasnya lahan kritis di Indonesia saat ini. Andisols. Oxisols. Misalnya. tanah tersebut akan menjadi lahan kritis. Dalam sedimen yang terangkut pada peristiwa erosi terdapat juga berbagai unsur hara dan bahan organik. serta kebakaran. menggunakan jenis tanaman dan teknik pengelolaan yang sesuai. Inceptisols. Sedangkan dari laporan Suranggajiwa (1975) luas lahan kritis pada seluruh DAS di Indonesia mencapai 30 juta ha dan meningkat 2 % / tahun. Kualitas tanah dapat sebagai sifat atau atribut inherent tanah yang dapat digambarkan dari sifat-sifat tanah atau hasil observasi tidak langsung. Kedua fraksi ini sangat berperan dalam menentukan kesuburan tanah. dalam bentuk senyawa-senyawa yang dapat dimanfaatkan tanaman dan dalam perimbangan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman tertentu dengan didukung oleh faktor pertumbuhan lainnya (Yuwono dan Rosmarkam 2008). terutama pada areal budidaya tanaman pada lahan berlereng. Spodosols. dan sebagai kemampuan tanah untuk menampakkan fungsi- . Tanah produktif harus mempuyai kesuburan yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. Produktivitas tanah merupakan perwujudan darifaktor tanah dan non tanah yang mempengaruhi hasil tanaman. Secara antropogenik adalah karena ulah manusia yang memanfaatkan sumberdaya alam yang tidak terkendali. tanah yang mengalami erosi akan menurun produktivitasnya menjadi tanah marjinal yang kalau erosi selanjutnya tidak dikendalikan. Gelisols. w). Tanah yang sehat akan memberikan sumbangan yang besar tehadap kualitas tanah. Akan tetapi tanah subur tidak selalu berarti produktif. dan Vertisols) yang tergolong Tanah Marjinal antara lain adalah : Aridisols. sehingga terjadi kerusakan ekosistem.

Ciri-ciri sitem ini (a) berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal dengan mengkombinasikan berbagai komponen sistem usahatani (tanaman. penurunan ketersediaan hara atau penurunan kesuburan. hewan. mengoptimalkan ketersediaan dan menyeimbangkan aliran unsur hara.fungsi produktivitas lingkungan dan kesehatan. Pendauran hara di dalam usahatani dengan sumber-sumber yang berasal dari luar usaha tani. tetapi hanya mengembalikan hara yang tidak terangkut ke luar bersama dengan hasil panen .(b) berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal dengan mengkombinasikan berbagai komponen sistem usahatani (tanaman. kompos. khususnya dengan mengelola bahan organik dan meningkatkan kehidupan mikroorganisme di dalam tanah (soil regenerator). hewan. dan pertanian modren yang tergantung dengan bahan kimia adalah High External Input Agriculture (HEIA) LEIA adalah sistem yang memanfaatkan sumberdaya lokal yang sangat intensif dengan sedikit atau sama sekali tidak menggunakan masukan dari luar sehingga tidak terjadi kerusakan sumberdaya alam. Umumnya berupa bahan-bahan agrokimia konvensional yang memang disengaja dibuat untuk input produksi. Aryantha (2002) menjelaskan ada tiga konsep untuk memperbaiki kesuburan tanah yaitu yang berwawasan lingkungan atau berkelanjutan adalah Low External Input Agriculture (LEIA) dan Low Ezternal Input Sustainable Agriculture (LEISA). limbah. Prinsip dasar LEISA adalah menjamin kondisi tanah yang mendukung pertumbuhan tanaman. Sistem ini sangat tergantung senyawa kimia sintetis (pupuk. Cara ini tidak menambahkan hara kepada tanah. HEIA adalah Merupakan sistem pertanian yang menggunakan masukan dari luar (secara berlebihan). air. air. zat pengatur tumbuh). Pendauran hara di dalam petak pertanaman. Kegiatan ini biasanya melibatkan tanaman legum (cover crop) untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan N pada tanaman pokok. Kegiatan ini berguna untuk menambahkan hara kepada tanah dari luar usaha tani. dll. tanah. air. tumbuhan dan hewan). karena dapat dipakai sebagai alat untuk menilai pengaruh pengelolaan lahan. tanah. pendaur ulangan unsur hara dan pemanfaatan . Pendauran hara di dalam usaha tani dengan sumber-sumber yang berasal dari usaha tani itu sendiri. mantap secara ekologis. iklim dan manusia) sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang luar biasa. iklim dan manusia) sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang luar biasa. pestisida. manusia (tenaga. pemadatan. Bahan-bahan yang digunakan: sampah. Winarso (2005) menjelaskan bahwa pengukuran kualitas tanah merupakan dasar untuk penilaian keberlanjutan pengelolaan tanah yang dapat diandalkan untuk masa-masa yang akan datang. adil secara sosial dan sesuai dengan budaya lokal. pengetahuan dan keterampilan) yang tersedia ditempat dan layak secara ekonomis. kehilangan bahan organik tanah dan lain lain. khususnya melalui penambatan Nitrogen. Dapat berpengaruh buruh pada keseimbangan lingkungan dan kesehatan manusia . Pendauran ini dapat dilewatkan dengan ternak atau pengembalian sisa-sisa biomassa hasil panen. LEISA adalah Pertanian dengan masukan rendah tetapi mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam (tanah. Pada umumnya proses degradasi tanah dalam sistem pertanian dapat disebabkan oleh erosi.

Sedangkan faktor ketinggian tempat di atas permukaan laut berkaitan dengan persyaratan tumbuh tanaman yang berhubungan dengan temperatur udara dan radiasi matahari. Karakteristik lahan tersebut terutama topografi dan tanah) merupakan unsur pembentuk satuan peta tanah (Ritung. Semakin tinggi tempat di atas permukaan laut. seperti respon terhadap pemupukan. Kualitas lahan ada yang bisa diestimasi atau diukur secara langsung di lapangan. 1976). maka temperatur semakin menurun. unsur hara dan radiasi (b) Kualitas yang berhubungan dengan kualitas pengelolaan normal. Namun dalam kesesuaian tanaman terhadap ketinggian tempat berkaitan erat dengan temperatur dan radiasi matahari. sawit. Iklim sebagai salah satu faktor lingkungan fisik yang sangat penting dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Demikian pula dengan radiasi matahari cenderung menurun dengan semakin tinggi dari permukaan laut. Bebrapa unsur iklim yang penting adalah curah hujan. saling melengkapi dan sinergi dalam penggunaan sumberdaya genetik yang mencakup penggabungan dalam sistem pertanian terpadu dengan tingkat keanekaragaman fungisonal tinggi . pengelolaan air dan pengendalian erosi. dan kelembaban. Sitorus (1985) menjelaskan ada empat kelompok kualitas lahan utama : (a) Kualitas lahan ekologis yang berhubungan dengan kebutuhan tumbuhan seperti ketersediaan air. dan kelapa lebih sesuai di daerah dataran rendah. seperti kemungkinan untuk mekanisasi pertanian (c) Kualitas yang berhubungan dengan kemungkinan perubahan. yaitu topografi.3. Karakteristik lahan yang erat kaitannya untuk keperluan evaluasi lahan dapat dikelompokkan ke dalam 3 faktor utama. Namun demikian mengingat sifat saling berkaitan antara unsur iklim satu dengan yang lainnya.pupuk luar sebagai pelengkap. Topografi yang dipertimbangkan dalam evaluasi lahan adalah bentuk wilayah (relief) atau lereng dan ketinggian tempat di atas permukaan laut. Sedangkan tanaman karet. Ketinggian tempat dapat dikelaskan sesuai kebutuhan tanaman. oksigen.). tanah dan iklim.2003). tetapi pada umumnya ditetapkan berdasarkan karakteristik lahan (FAO. Misalnya tanaman teh dan kina lebih sesuai pada daerah dingin atau daerah dataran tinggi. maka dalam uraian iklim ini akan diuraikan unsur-unsur iklim yang yang . meminimalkan kerugian sebagai akibat radiasi matahari. 1. Relief erat hubungannya dengan faktor pengelolaan lahan dan bahaya erosi. secara umum sering dibedakan antara dataran rendah (<700> 700 m dpl. Ketinggian tempat diukur dari permukaan laut (dpl) sebagai titik nol.. udara dan air dengan pengelolaan iklim mikro. Di daerah tropika umumnya radiasi tinggi pada musim kemarau dan rendah pada musim penghujan. Setiap kualitas lahan mempunyai keragaan ( performance) yang berpengaruh terhadap kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu dan biasanya terdiri atas satu atau lebih karakteristik lahan (land characteristics ). Kualitas dan Karekteristik Lahan Kualitas lahan adalah sifat-sifat pengenal atau attribute yang bersifat kompleks dari sebidang lahan. Dalam kaitannya dengan tanaman. suhu. kemungkinan untuk irigasi dan lain-lain (d) Kualitas konservasi yang berhubungan dengan erosi.

sedangkan karet. Oldeman (1975) mengelompokkan wilayah berdasarkan jumlah bulan basah dan bulan kering berturut-turut. Pengelompokan kelas tekstur adalah: .berkaitan dengan pertumbuhan tanaman. Data jenis tanah dapat di lihat melalui peta satuan lahan khusus jenis tanah. 6 dan 7 kurang sesuai untuk tanaman tahunan karena kelas 1 dan 2 sangat mudah meloloskan air. Faktor tanah dalam evaluasi kesesuaian lahan ditentukan oleh beberapa sifat atau karakteristik tanah di antaranya jenis tanah. 6 dan 7 sering jenuh air dan kekurangan oksigen. suhu udara diperkirakan berdasarkan ketinggian tempat dari permukaan laut. yakni bulan basah (>100 mm) dan bulan kering (<60 mm).3 C (0. debu dan liat. dan banjir/genangan. Pada daerah yang data suhu udaranya tidak tersedia. Tekstur dapat ditentukan di lapangan seperti disajikan pada Tabel 4. terutama tanaman tahunan atau perkebunan berada pada kelas 3 dan 4. semakin rendah suhu udara rata-ratanya dan hubungan ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus Braak (1928): 26. Kriteria yang terakhir lebih bersifat umum untuk pertanian dan biasanya digunakan untuk penilaian tanaman tahunan.01 x elevasi dalam meter x 0. Sedangkan secara otomatis menggunakan alat-alat khusus yang dapat mencatat kejadian hujan setiap periode tertentu. misalnya. Data curah hujan diperoleh dari hasil pengukuran stasiun penakar hujan yang ditempatkan pada suatu lokasi yang dianggap dapat mewakili suatu wilayah tertentu. B. kedalaman tanah dan retensi hara (pH. sedangkan kelas 5. tekstur. Bulan basah adalah bulan yang mempunyai curah hujan >200 mm. menyukai dataran tinggi atau suhu rendah. Semakin tinggi tempat. C. Tanaman kina dan kopi. Pengukuran curah hujan dapat dilakukan secara manual dan otomatis. misalnya setiap menit. seperti contoh peta jenis tanah propinsi Jambi Kabupaten Muaro Jambi. Drainase tanah kelas 1 dan 2 serta kelas 5. Sedangkan Schmidt & Ferguson (1951) membuat klasifikasi iklim berdasarkan curah hujan yang berbeda. terutama untuk padi. Berdasarkan kriteria tersebut Oldeman (1975) membagi zone agroklimat kedalam 5 kelas utama (A. Untuk keperluan penilaian kesesuaian lahan biasanya dinyatakan dalam jumlah curah hujan tahunan. sedangkan bulan kering mempunyai curah hujan <100 mm. jumlah bulan kering dan jumlah bulan basah. Kelas drainase tanah yang sesuai untuk sebagian besar tanaman. setiap jam. drainase tanah. dan seterusnya.6 C) Suhu udara ratarata di tepi pantai berkisar antara 25-27 C. kelapa sawit dan kelapa sesuai untuk dataran rendah. Drainase tanah menunjukkan kecepatan meresapnya air dari tanah atau keadaan tanah yang menunjukkan lamanya dan seringnya jenuh air. bahaya erosi. atau berdasarkan data hasil analisis di laboratorium dan menggunakan segitiga tekstur . Kriteria ini lebih diperuntukkan bagi tanaman pangan. Tekstur merupakan komposisi partikel tanah halus (diameter 2 mm) yaitu pasir. Kelas drainase tanah disajikan pada Tabel 5. serta beberapa sifat lainnya diantaranya alkalinitas. Secara manual biasanya dicatat besarnya jumlah curah hujan yang terjadi selama 1(satu) hari. yang kemudian dijumlahkan menjadi bulanan dan seterusnya tahunan. KTK). D dan E).

lempung. debu. Agak terhambat (somewhat poorly drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik agak rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah sampai sangat rendah. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. kerakal atau batuan pada setiap lapisan tanah. Bahan kasar adalah persentasi kerikil. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Baik (well drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang dan daya menahan air sedang. 3. Cepat (excessively drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi sampai sangat tinggi dan dayamenahan air rendah.Ciri yang dapat diketahui di lapangan. liat. Karakteristik Kelas Drainase Tanah 1. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan aluminium serta warna gley (reduksi). yaitu tanah berwarna homogen tanpabercak atau karatan besi dan aluminium serta warna gley (reduksi). Tanah demikian cocok untuk berbagai tanaman.Tanah demikian hanya cocok untuk sebagian tanaman kalau tanpa irigasi.Halus (h) : Liat berpasir. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Agak cepat (somewhat excessively drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi dan daya menahan air rendah. Tanah demikian tidak cocok untuk tanaman tanpa irigasi. lempung liat berpasir. lembab. 5. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan 0 sampai 100 cm. pasir berlempung. Tanah demikian cocok untuk berbagai tanaman. dibedakan menjadi: sedikit : <> 60 %. Agak kasar (ak) : Lempung berpasir. 2. Sangat halus (sh) : Liat (tipe mineral liat 2:1). tanah basah sampai ke permukaan. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna . 4. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. Sedang (s) : Lempung berpasir sangat halus. Kasar (k) : Pasir. dibedakan menjadi: tipis : <> 400 cm. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan 0 sampai 50 cm. tapi tidak cukup basah dekat permukaan. Agak halus (ah) : Lempung berliat. Agak baik (moderately well drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang sampai agak rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah. lempungberdebu. Ketebalan gambut. lempung liat berdebu. tanah basah dekat permukaan. liat berdebu.

A. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Pustaka: Madjid. Horizon A biasanya dicirikan oleh warna gelap karena relative mengandung bahan organik yang lebih tinggi. Tanah ini di Indonesia terbentuk di daerah yang bercurah hujan tinggi (2500-3000 mm per tahun). dibandingkan tanah yang tidak tererosi yang dicirikan oleh masih adanya horizon A. 6. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah.com. (3) Teknologi Pupuk Hayati. Terhambat (poorly drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah sampai sangat rendah.blogspot. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Tanah kemikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. 2009. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. fraksi lempung didominasi oleh mineral-mineral bermuatan terubahkan seperti kaolinit. 7. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. dan erosi parit (gully erosion). R. yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi) dan bercak atau karatan besidan/atau mangan sedikit pada lapisan sampai permukaan. Pendekatan lain untuk memprediksi tingkat bahaya erosi yang relatif lebih mudah dilakukan adalah dengan memperhatikan permukaan tanah yang hilang (rata-rata) pertahun. Permasalahan Pada Tanah Mineral Masam Tanah masam di Indonesia memiliki ciri-ciri tekstur lempungan. topografi berombak hingga berbukit dengan ketinggian 50-350 mm . yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi) permanen sampai pada lapisan permukaan. yaitu dengan cara memperhatikan adanya erosi lembar permukaan (sheet erosion). KPK rendah. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. permeabilitas rendah. Ca. 1993). vegetasi alami alang-alang (Imperata cylindrica) dan hutan (Hardjowigeno.. stabilitas agregat baik. gibsit dan atau goetit (Ismail et al.gley(reduksi) pada lapisan 0 sampai 25 cm. Tingkat bahaya erosi dapat diprediksi berdasarkan kondisi lapangan. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Sangat terhambat (very poorly drained): Tanah dengan konduktivitas hidrolik sangat rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) sangat rendah. P. erosi alur (rill erosion). (2) Kesuburan Tanah. tanah basah secara permanen dan tergenang untuk waktu yang cukup lama sampai ke permukaan. tanah basah untuk waktu yang ke cukup lama sampai permukaan. struktur gumpal. Mg sangat rendah. pH rendah. http://dasar2ilmutanah. 1993). aras N. II.

P. sehingga fraksi lempung tergolong beraktivitas rendah dan dayamemegang lengas juga rendah. sehingga relatif kurang kuatmemegang hara tanaman dan karenanya unsur haramudah tercuci. Fe. Mn. . Teknologi ini mencakup segala upaya untuk memanipulasi jasad renik dalam tanah dan proses metabolik mereka untuk mengoptimumkan produktivitas pertanaman. dan Mg. Fe. Usaha pertanian di tanah Ultisol akan menghadapi sejumlah permasalahan. Upaya untuk mengatasi persoalan kesuburan tanah-tanah masam adalah dengan mengkombinasikan antara praktek usaha tani dengan penerapan bioteknologi tanah yang menekankan pada komponen mengamankan suplai N di dalam sistem tanah-tanaman dengan pengayaan fiksasi N2 secara biologis (Notohadiprawiro. Lahan masam pada umumnya miskin bahan organik dan hara makro N. 2003). dan Mg.26% di Jawa Barat 13. lebih mampu mengikat hara K dan tidak mudah tercuci (Subandi. P. dan atau Mn dalam jumlah tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. dan atau Mg dan Mo . Pengelolaan tanah-tanah mineral masam untuk kepentingan pertanian menghadapi kendala pH yang rendah. Jenis tanah ini biasanya miskin unsur hara esensial makro seperti N. keracunan Al. batuan induk granit. Indralaya. serta bahan organik . Pemberian bahan ameliorasi kapur. Tanah di KP. Tanah Podsolik atau Ultisol termasuk tanah bermuatan terubahkan (variable charge). dan 17.Tanah Ultisol umumnya mempunyai pH rendah yang menyebabkan kandunganAl. Ca. K. mengandung Al. Fraksi lempung tanah ini umumnya didominasi oleh mineral silikat tipe 1:1 serta oksida dan hidroksida Fe danAl. Lahan kering tergolong suboptimal karena tanahnya kurang subur. Karena umumnya memiliki kandungan bahan organik rendah dan fraksi lempungnya beraktivitas rendah maka kapasitas tukar kation tanah (KTK) tanah Podsolik juga rendah. Tekstur tanah ultisol bervariasi. P. Ca. serta kekahatan unsur-unsur hara penting seperti N. dan Mn terlarut tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. dan B. dan K merupakan kunci untuk memperbaiki kesuburan lahan kering masam. berkisar dari pasiran (sandy) sampai dengan lempungan (clayey). Cu. unsur hara mikro Zn. Ca.01%. abu vulkan atau andesit . misalnya.40% dan 11 dari 28 contoh tanah lapisan atas yang berasal dari Lampung Tengah jugamemiliki kejenuhanAl-dd yang rendah (Taufiq et al.08%. Mo. 2007). maka dalam pengelolaannya untuk pertanaman. mempunyai kejenuhan Al-dd berturut-turut 11. 1.di atas muka air laut. sehingga nilai KTK dapat berubah bergantung nilai pH-nya. Meskipun secara umum tanah Ultisol atau Podsolik Merah Kuning banyak mengandung Al dapat ditukar (Al-dd) (20-70%). secara teknis. peningkatan pH akan diikuti oleh peningkatan KTK. Memperhatikan permasalahan yang dihadapi pada lahan kering masam seperti yang disebutkan di depan. terdapat dua pendekatan pokok yakni pemilihan jenis komoditas atau varietas yang adaptif serta perbaikan kesuburan tanah dengan ameliorasi dan pemupukan. dan Prabumulih Sumatera Selatan. bereaksi masam. Kayu Agung. dan pemupukan N. namun hasil penelitianmenunjukkan bahwa beberapa contoh tanah tersebut mengandung Al-dd relatif rendah (< 20%). dan/atau Fe. bahan organik. P. 1990). K.

Hal ini karena sebagian besar koloid dan mineral tanah yang terkandung dalam tanah Ultisol mempunyai kemampuan menyemat fosfat cukup tinggi. Kandungan dan kejenuhan aluminiumnya tinggi yang dapat meracuni tanaman dan daya fiksasi yang tinggi terhadap Phospor. Kesalahan dalam pengelolaan merupakan penyebab degradasi lahan yang mendasar. 2004. tidak tersedia bagi tanaman maupun biota tanah (Notohadiprawiro. 1997). 2005). Oleh karena itu. Dampak langsung dari wilayah yang . Lahan kering Podzolik Merah Kuning beriklim basah didominasi oleh tanah masam PMK dengan bahan induk yang miskin unsur hara (Partohardjono et al. tanah mudah menjadi padat dan permeabilitas tanah yang lambat. bergelombang hingga bergunung. Oleh karena itu lahan ini tergolong lahan marginal yang tingkat produktivitasnya rendah. 1994). Beberapa kendala sifat fisik tanah yang sering dijumpai antara lain adalah kemantapan agregat yang rendah. pemanfaatan lahan ini menghadapi kendala karakteristik tanah yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman terutama tanaman pangan bila tidak dikelola dengan baik. KTK dan kejenuhan basahnya umumnya rendah. Maluku.6 juta hektar dan tersebar di Kalimantan. Kandungan bahan organik. Sedangkan pembuatan teras dan galengan memerlukan biaya yang tinggi dan petani tidak memiliki cukup biaya.. 2006). sehingga sebagian besar fosfat dalam keadaan tersemat oleh Al dan Fe. dan bila lapisan ini tererosi maka tanah menjadi miskin hara dan bahan organik. erosi tanah merupakan salah satu penyebab degradasi lahan yang dominan disamping penyebab lain seperti pencucian hara dan akumulasi unsur-unsur beracun. Jawa dan Nusa Tenggara (Soebagyo. tetapi kadar Al dan Mn tinggi. yang dicirikan oleh kapasitas tukar kation (KTK) dan kemampuan memegang/menyimpan air yang rendah.Indonesia memiliki lahan kering masam cukup luas yaitu sekitar 99. Sumatera. Pada umumnya lahan kering masam didominasi oleh tanah Ultisol.et al. kesuburan tanah Ultisol sering kali hanya ditentukan oleh kadar bahan organik pada lapisan atas. Di samping itu. Tanaman yang dibudidayakan pada lahan kering PMK yang krits tidak mampu berproduksi secara optimal jika dikelola secara konvensional (Hakim et al. kekahatan fosfor merupakan salah satu kendala terpenting bagi usaha tani di lahan masam. Ultisol mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan pertanian lahan kering. Salah satu ordo tanah yang cukup luas penyebarannya adalah Ultisols. Namun demikian. kandungan bahan organik yang memadai. Hidayat dan Mulyani. Di daerah tropika basah yang topografinya bervariasi dari datar. 1997). produktivitas lahan cepat pula menurun dan akhirnya menjadi lahan kritis. Kesuburan tanah ini secara alamiah sangat tergantung pada lapisan atas yang kaya bahan organik tetapi bersifat labil. Ditinjau dari luasnya. Papua. Sifat kimia dan fisika tanah PMK yang jelek merupakan kendala misalnya tanah yang bereaksi masam sampai sangat masam. Mineral liat umumnya didominasi oleh kaolinit yang tidak banyak memberikan sumbangan terhadap kesuburan tanah serta sebagian besar tanah ini mempunyai kapasitas memegang air yang rendah dan peka terhadap erosi (Arief dan Irman. Kalau lahan ini diolah untuk budidaya. Sulawesi. Kendala pengembangan lahan Podzolik Merah Kuning beriklim basah dengan topograsi bergelombang cukup kompleks.

Pemupukan kalium memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan produksi kedelai di tanah Ultisol. Upaya untuk meningkatkan produksi kedelai di tanah masam dapat dilakukan melalui pengelolaan tanaman yang sesuai dan manipulasi tanah yang tepat. perbedaannya adalah pada jumlah tapak retensi.1-5.. Muljadi et al. jumlah basa-basa dapat ditukar tergolong rendah hingga sedang dengan komplek adsorpsi didominasi oleh Al. yaitu sekitar 4. mampu menjerap P. gibbsite dan pseudoboehmite. 1997). Oksida-oksida besi dan aluminium maupun lempung aluminosilikat. Mineral Kaolin telah lama dikenal akan reaktivitasnya terhadap fosfat. Masalah tersebut erat kaitannya dengan bahan induk tanah yang miskin K.2006) Pustaka: . Hara kalium merupakan hara makro bagi tanaman yang dibutuhkan dalam jumlah banyak setelah N dan P (Nursyamsi. Dalam hubungan ini nisbah antara oksida besi dan lempung silikat perlu dipertimbangkan sebagai dasar pengelolaan P terutama pada tanahtanah mineral masam. Wild (1950) melakukan penelitian tentang reaksi fosfat dengan lempung alumino-silikat dan berkesimpulan bahwa montmorillonit dan kaolinit menjerap P dalam jumlah yang hampir sama apabila ukuran partikelnya serupa. yaitu pertukaran ion fosfat dengan gugus hidroksil pada lapisan gibbsite dan/atau sebagai anion tertukarkan yang mengimbangi muatan positif hasil protonasi ion. Perbedaan ini akan menimbulkan perilaku dan tanggapan yang berbeda terhadap perlakuan pemberian fosfat ke dalam tanah sebagai pupuk. Meskipun demikian perlu disadari bahwa terdapat perbedaan kekuatan ikatan retensi yang bersumber pada perbedaan sifat ikatan antara anion fosfat dengan oksida-oksida besi dan lempung alumino silikat. dan curah hujan yang tinggi di daerah tropika basah sehingga K banyak yang tercuci. karena kaolin merupakan mineral lempung yang merajai terutama pada tanah-tanah mineral masam seperti Ultisols. 2000). (1966) berkesimpulan bahwa isotherm retensi P adalah sama untuk kaolinit.5. Ia mengusulkan dua mekanisme retensi P oleh mineral-mineral lempung.mengalami erosi adalah terjadinya suatu areal yang secara bertahap menjadi tandus dengan konsekuensi penduduk yang tinggal disekitarnya akan menjadi miskin (Pandang dan Subandi. dan hanya sedikit mengandung kation Ca dan Mg. Tanaman kedelai mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan di tanah Ultisol asal dibarengi dengan pengelolaan tanaman dan tanah yang tepat. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kemampuan retensi P dari kaolin dan oksida-oksida besi yang diperoleh dari tanah-tanah mineral masam di Indonesia. Kekahatan kalium merupakan kendala yang sangat penting dan sering terjadi di tanah Ultisol. Alfisols dan Oxisols maka reaktivitasnya terhadap fosfat perlu dipertimbangkan sebagai landasan pengelolaan P pada tanah-tanah ini. yang merupakan komponen utama fraksi lempung tanah-tanah mineral masam. Kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) lapisan atas tanah umumnya rendah hingga sedang (Subagyo et al. Umumnya tanah tersebut mempunyai pH yang sangat masam hingga agak masam. hara kalium yang mudah tercuci karena KTK tanah rendah.

http://dasar2ilmutanah. Penelitian Siradz (2003) memperlihatkan bahwa baik mineral lempung golongan kaolin maupun oksida-oksida besi mampu menjerap P. baik kalsit maupun dolomit. Perkembangan Penelitian Tanah Mineral Masam Hasil penelitian Arimurti et al (2006) menunjukkan bahwa tanah tersebut mempunyai sifat yang sangat masam (pH 4. Meningkatnya nilai pH tanah menyebabkan penurunan kandungan Al-dd tanah sedangkan penurunan nilai Al-dd tanah akan meningkatkan kandungan P-tersedia tanah. (3) Teknologi Pupuk Hayati. Semua kombinasi perlakuan jenis pupuk P dengan BPF sama baiknya dalam meningkatkan berat kering trubus pada tanah masam. berat kering trubus. Hasanudin (2003) melakukan penelitian tentang ketersediaan dan serapan P pada tanaman jagung di tanah ultisol melalui inokulasi mikoriza dan pemberian bahan organik. berat basah akar. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. 1976). N sangat rendah. semakin tinggi takaran P-alam.com. terutama jika dikombinasikan dengan kapur. (2) Kesuburan Tanah.2). Secara umum. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. R. Perlakuan dengan pupuk P ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan hanya pada parameter tinggi tanaman 10 dan 17 HST serta kadar P trubus. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.Madjid. berat basah trubus. Peningkatan takaran P. A. sedangkan peningkatan nilai pH tanah dipengaruhi oleh efek mandiri P-alam dan jenis kapur. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Efek peningkatan takaran P-alam juga berpengaruh terhadap peningkatan kandungan Ptersedia tanah pada setiap level pengapuran.blogspot. Terlihat bahwa ketersediaan P dan serapan P meningkat dengan perlakuan tersebut diikuti pula peningkatan pada ketersediaan N serta hasil tanaman jagung. P tersedia dan P total yang sangat rendah. Kapasitas retensi P dari oksida-oksida besi sekitar 10 kali .alam akan menurunkan kandungan Al-dd tanah. Perlakuan kombinasi pupuk P dengan BPF dapat meningkatkan pertumbuhan yang tampak pada parameter berat kering trubus. semakin tinggi pula nilai pH tanah. Pengapuran dengan dolomit meningkatkan pH tanah lebih tinggi dibandingkan pengapuran dengan kalsit. 2009. III. luas daun serta kadar P trubus. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa tanah ini mempunyai sifat berikut: C tinggi. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa perlakuan bakteri pelarut fosfat (BPF) mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. hal ini dapat disebabkan tanah tersebut mempunyai kapasitas tukar kation yang tinggi dan mempunyai kejenuhan basa rendah dan bereaksi masam (Sanchez. berat kering akar. Hasil penelitian Joy (2005) bahwa pada tanah masam terjadi penurunan kandungan Al-dd tanah dan peningkatan kandungan P-tersedia tanah dipengaruhi oleh interaksi antara takaran P-alam dengan jenis kapur. Perlakuan masing-masing SP-36 maupun rock fosfat sama baiknya dalam meningkatkan tinggi tanaman 10 dan 17 HST serta kadar P trubus. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri.

Oleh karena itu sebenarnya jumlah P yang dijerap oleh kaolin jauh lebih besar dibandingkan dengan oksida-oksida besi. bereaksi asam dan terjadi pencucian yang kuat terutama basabasa K. Penelitian Bertam et al (2005) pada tanah masam di Bengkulu dengan seri tanah Kandanglimun Bengkulu yang memiliki pH sangat masam. Ca tertukar rendah. glioksilat. laktat. tetapi keberadaan kaolin di dalam tanah-tanah mineral masam sekitar 18 kali lipat dibandingkan dengan oksida besi. Penelitian Junedi (2008) menunjukkan bahwa untuk memperbaiki permeabilitas tanah dapat dilakukan dengan penambahan kompos jerami padi saja. KTK rendah dan tekstur silt loam . Hasil penelitian Wulandari (2001) pada tanah ultisol menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan. suksinat. serta terjadi peningkatan pertumbuhan dan produksi kedelai jika dibandingkan dengan kontrol. Fe2+. kadar P tersedia sangat rendah. pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+. Diberi perlakuan dengan inokulasi mikoriza dan rhizobia indigeneus pada beberapa varietas kedelai . malat. fumarat. Ca dan Mg. glutamat. Akan tetapi jika kompos jerami padi diberikan bersama sama dengan kapur maka pemberian 10 ton-1 hakompos jerami padi dan 1xAldd kapur sudah mampu meningkatkan permeabilitas tanah. Pemberian kompos jerami padi 20 ton-1 ha masih mampu meningkatan permeabilitas tanah. kapur saja maupun diberikan secara bersama-sama. dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk tersedia yang dapat diserap oleh tanaman. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator. KTK . demikian pula dengan pemberian kapur sampai 2xAldd.lipat lebih besar dari kaolin. Mg dan K tertukar rendah . pH meningkat ke arah netral. Salah satu kendala adalah permeabilitas tanah yang lambat. memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan kesuburan tanah yang ditandai dengan meningkatnya N total. Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan . Kendala lain untuk budidaya pertanian adalah kekurangan unsur hara P akibat terjadinya fiksasi oleh mineral lempung kaolinit dan ion-ion Fe dan A1 akibat pH yang rendah. oksalat. Tanah Latosol merupakan tanah yang telah mengalami pelapukan yang intensif. P tersedia. kadar bahan organik rendah sampai sedang. Ultisol merupakan tanah terluas dari seluruh lahan kering yang ada di Propinsi Jambi yang mempunyai potensi besar untuk untuk dijadikan lahan pertanian produktif yang berkelanjutan dan menunjang program ketahan pangan nasional. diantaranya asam sitrat. Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik. Mg2+. Hasil penelitian Sumaryo dan Suryono (2000) tentang pengaruh pupuk P dan Dolomit pada hasil tanaman kacang tanah di tanah latosol menunjukkan bahwa pengaruh sangat nyata dari dosis pupuk dolomit pada semua parameter yang diamati dikarenakan pemberian dolomit dapat menambah unsur hara Ca dan Mg yang di dalam tanah Latosol sangat rendah sampai rendah serta dimungkinkan dapat memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. kadar N total rendah.

blogspot. R. Klebsiella aerogenes. Chromobacterium lividum dan B. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32. 903. jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot kering tanaman kedelai. Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%. serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung. 208. Penelitian Sudirja et al (2006) menunjukkan bahwa respon pemberian kompos kulit buah kakao. dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139. 2009. Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung.63%. (3) Teknologi Pupuk Hayati.mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia. Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus.87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF. dan 606. Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol. (2) Kesuburan Tanah. 203. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.67%.22 g. 217. sehingga cukup untuk meningkatkan pH dan akibatnya muatan permukaan negatif menjadi lebih besar. 575. Sejalan dengan pemikiran Sufiadi (1999). Klebsiella aerogenes.81%. pemberian bahan organik dengan dosis yang meningkat akan meningkatkan pelepasan kation ke dalam larutan tanah.75%.30%.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut.com. dan pupuk kandang ayam berpengaruh terhadap pH tanah. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0.3881 ppm dan 280. Pustaka: Madjid. http://dasar2ilmutanah. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah . Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g). 930. berat daun segar 4 tanaman per pot. 354. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin. 207.15 g tanaman-1. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. kascing. 34% dan 48% dibandingkan dengan kontrol. dan 61. Megaterium sebagai inokulan padat. maka pH tanah pun semakin meningkat. Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol.42 g atau ada kenaikan 877.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia. A.67%. Semakin besar dosis perlakuan pupuk organik yang diberikan.48 g. Chromobacterium lividum. dan B. .) di Tanah Marginal dengan pH rendah. Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed.63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan.

tetapi mengandung hara mikro yang cukup sangat diperlukan oleh tanaman. 100 kg TSP. KCI 50 kg / ha. Hara yang berasal dari bahan organik diperlukan untuk kegiatan mikrobia tanah untuk dirubah dari bentuk organik komplek yang tidak dapat dimanfaatkan tanaman menjadi bentuk senyawa organik dan anorganik yang sederhana yang dapat diabsorpsi oleh tanaman. mempertahankan kelengasan tanah . sebagai bahan pembenah tanah pupuk organik dapat mencegah erosi. TSP 100 kg / ha. untuk pupuk organic ( pupuk kandang / kompos ) 20 ton / ha. hijauan tanaman rerumputan. bobot volume. 2. Pupuk kandang merupakan hasil samping yang cukup penting dari budidaya hewan peliharaan baik unggas maupun non unggas. Kandungan hara pupuk organik pada umumnya rendah tetapi bervariasi tergantung jenis bahan dasarnya. Hasil penelitian Mayadewi (2007) pupuk kandang ayam meningkatkan pertumbuhan hasil .perdu dan pohon. Tanah yang dibenahi dengan pupuk organik mempunyai struktur yang baik dan sifat menahan air yang lebih besar dari pada tanah yang kandungan bahan orgaiknya rendah. juga dapat memperbaiki sifat fisik tanah. bahan tanaman dan limbah. Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral 4. Pemberian pupuk kandang selain dapat menambah tersedianya unsur hara. Pemakaian Pupuk Organik dan Anorganik Sumber pupuk organik dapat berasal dari kotoran hewan. 100 kg / ha Urea. Penggunaan pupuk organik sebaiknya harus diikuti dengan pupuk anorganik yang lebih cepat tersedia untuk menutupi kekurangan hara dari pupuk organik . Pupuk susulan diberikan 3 minggu setelah tanam berupa Urea 100 kg / ha. limbah pertanaman dan limbah agroindustri. total ruang pori. Kandungan unsur hara pupuk kandang akan berbeda dengan berbedanya jenis dan wujud bahan pupuk kandang .1. terdiri dari kotoran padat dan cair dari hewan ternak yang bercampur sisa makanan. Pupuk dasar diberikan sebelum tanam atau bersamaan tanam sejumlah 20 ton / ha pupuk organic. Sedangkan untuk pupuk an organik : Urea 300 kg / ha. Pemupukan yang dianjurkan pada budidaya tanaman jagung . dan 50 kg / ha KCl dengan membuat larikan atau ditugalkan kemudian ditutup kembali dengan tanah dengan jarak 10 cm dari garis tanam / lubang tanam.(Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. Beberapa sifat fisik tanah yang dapat dipengaruhi pupuk kandang antara lain kemantapan agregat. Ketersediaan unsur hara lambat. pupuk kandang. semak .2007). diteruskan pupuk susulan kedua pada tanaman berumur 5 minggu sejumlah 100 kg Urea / ha (Dinas Pertanian Jember. dapat menambah unsur hara dalam tanah . Karekteristik umum yang dimiliki oleh pupuk organik adalah : 1. 3. plastisitas dan daya pegang air. misalnya . mencegah pengerakan permukaan tanah (crusting)dan retakan tanah. Pada umumnya pupuk organik mengandung hara makro yang rendah. Kandungan hara rendah.

demikian pula pupuk KCl dengan takaran 60-90 kg/ha. (3) Interpretasi hasil analisis dan (4) Rekomendasi pemupukan. Hasil penelitian Hasanudin et al (2007) menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang pada berbagai dosis mampu menurunkan Al-dd sekaligus meningkatkan pH tanah walaupun peningkatan pH tanah tidak sedrastis penurunan Al-dd. (2) Analisa kimia tanah di laboratorium dengan metode yang tepat dan teruji. Pada dasarnya tahapan kegiatan uji tanah meliputi . Peningkatan pH diikuti dengan peningkatan P tersedia tanah . Takaran pupuk anorganik secara tepat perlu diteliti lebih lanjut. Pemupukan P juga memegang peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. tetapi hanya sebatas memenuhi kebutuhan tanaman. Pemberian bahan organik pada tanah masam dapat meningkatkan serapan P dan hasil tanaman jagung karena setelah bahan organik terdecomposisi akan menghasilkan beberapa unsur hara seperti N. pemakaian pupuk anorganik hanya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan minimum hara tertentu seperti N.03% bila dokombinasikan dengan jarak tanam 50 x 40 cm. Oleh sebab itu pemberian yang etrus menerus dalam jumlah berlebih akan terakumulasi dalam tanah dan dapat merubah status P tanah dari rendah ke tinggi sehingga tanaman tidak lagi tanggap terhadap pemupukan P (Barus. 2003). Pemberian pupuk P yaitu pupuk SP36 dan pupuk Rock fosfat mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung terlihat darai parameter tinggi tanaman 10 dan 17 hari setelah tanam serta kadar P trubus (Arimurti et al . dan K. Sebagian besar hara P dari pupuk P yang diberikan difiksasi di dalam tanah sehingga hanya 10-20% pupuk P yang diberikan diserap tanaman.2. sedangkan untuk tanaman nonlegum takarannya lebih tinggi. bukan untuk meningkatkan pHtanah maupun mengurangi kadar Al tanah. Pengapuran mungkin diperlukan. Pemakaian pupuk P (P-alam) minimal 60 kg P/ha untuk dua musim tanam. 2005). Pengapuran Salah satu kegiatan reklamasi lahan untuk memperbaiki atau memulihkan kembali tanah –tanah yang tidak subur agar secara optimal dapat mendukung pertumbuhan tanaman adalah dengan penambahan amelioran seperti pemberian kapur pertanian. Pupuk N (urea) untuk tanaman legum diperlukan sebagi stater sehingga diberikan pada saat tanam dengan takaran 15-20 kg/ha. Seperti halnya pupuk organik. 2006). Barus (2005) menjelaskan bahwa efisiensi penggunan pupuk dapat ditingkatkan dengan melakukan serangkaian uji tanah untuk suatu sistem hara-tanah-tanaman. Secara tidak langsung kapur dapat . 4. sehingga diberkan pada takaran yang rendah. Fosfor berperan pada berbagai aktivitas metabolisme tanaman dan merupakan komponen klorofil. P. (1) Pengambilan contoh tanah yang mewakili lokasi berdasarkan hasil survey terdahulu.tanaman jagung manis sebesar 47. P dan K serta menghasilkan asam humat dan fulvat yang memegang peranan penting dalam pengikatan Fe dan Al yang larut dalam tanah sehingga ketersediaan P akan meningkat (Hasanudin.

Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4. Penggunaan pupuk hayati berupa inokulan bakteri fospat dengan tanpa pemberian pupuk TSP dapat meningkatkan hasil jagung yang setara dengan pemberian TSP (Prihartini. yang ditandai dengan tingkat kesuburan rendah. bila dimanfaatkan secara tepat dalam system pertanian akan membawa pengaruh yang positif baik bagi ketersediaan hara yang dibutuhkan tanaman. 2007). maka dengan pengapuran saja hanya memungkinkan pertumbuhan tanaman yang normal.membentuk Al(OH)3 tidak aktif yang dihasilkan dari pelepasan CO32. 2002). .6 menjadi 5. Pupuk Hayati Penyedia Hara Tanaman Mikrobia tanah yang menguntungkan dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati. Bakteri pelarut fosfat. tetapi daya kerjanya lebih cepat dari pada kerja bahan organik. Kapur dapat menetralisir Al melalui ion OH. Oleh karena itu pengapuran pada tanah masam sebaiknya diikuti dengan pemberian pupuk organik agar stabilitas tanah terjaga dan pertumbuhan serta produksi tanaman akan terjamin (Kuswandi. walaupun kualitas lahan cepat menurun kembali. Perombak persenyawaan agrokimia Beberapa mikroorganisme tanah seperti Rhizobium. Mikroorganisme tersebut sering disebut sebagai biofertilizer atau pupuk hayati (Sutanto. Pengapuran ditekankan kepada penggunaan kapur biasa CaCO3 . Menurut Yuwono (2006) secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa : 1. seterusnya tanah masih perlu terus dipupuk.yang selanjutnya Al menjadi tidak larut dan Al-dd semakin berkurang (Hasanudin et al. Penyedia hara 2. lingkungan edapik. Kapur berfungsi memantapkan stabilitas tanah. Pengapuran hendaknya dipandang hanya untuk menetralisasikan tanah secara cepat dan seterusnya jangan tergantung lagi pada banyaknya kapur. tetapi dampak positifnya berlangsung jangka panjang. meningkatkan pH tanah dan secara langsung kapur dapat meningkatkan ketersediaan hara Ca. Azospirillum dan Azootobacter. Kelemahannya adalah bila tanah berkualitas rendah. maupun upaya pengendalian beberapa jenis penyakit.3. Pemantap agregat tanah 6. 2003). Mikoriza. Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri pelarut fospat dapat meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah dan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P serta dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Sebaliknya penggunaan bahan organik tanpa didahului dengan pengapuran menghasilkan pemantapan stabilitas tanah secara lambat. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5.1993). meningkatkan ketersediaan P.8 diperlukan dosis kapur 2x Al-dd. Sehingga akan dapat diperoleh pertumbuhan dan produksi tanaman yang optimal dan hasil panen yang lebih sehat. Peningkat ketersediaan hara 3.mengurangi keracunan Al. 4. Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk meningkatkan pH tanah dari 4.

Asosiasi ini akan dapat meningkatan ketersediaan hara P dan lainnya serta meningkatkan serapannya. Pemberian BPF P. Bakteri ini mencakup bakteri yang membentuk bintil akar. Bakteri penambat N yang hidup bebas seperti Azotobacter.Hasil penelitian Arimurti et al (2006) pada perlakuan bakteri pelarut fosfat (BPF) mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. Bakteri penambat N2. maka Azospirillum lebih efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. berat kering trubus dan akar paling baik menggunakan P. cantel. Permasalahan yang perlu diperhatikan adalah efisiesnsi inokulan Rhizobium untuk tanaman tertentu. 2002). bersimbiose dengan tanaman legum. Pupuk hayati meliputi bakteri penambat N. dan cendawan mikoriza arbuskula. 2002). Untuk meningkatkan berat basah. bawang putih. penggunaan Rhizobium sp. Rhizobium mampu mencukupi 80% kebutuhan nitrogen tanaman legum dan meningkatkan produksi antara 10-25%. 2007). Aeruginosa atau gabungan keduanya dalam meningkatkan tinggi tanaman 10 dan 45 HST. merupakan mikroba hasil seleksi yang benar-benar unggul dalam membantu pertumbuhan tanaman. dan bakteri penambat N yang hidup bebas di dalam tanah. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Azospirillum menyebabkan kenaikan hasil cukup besar pada tanaman jagung. . MVA membantu pertumbuhan tanaman dengan memperbaiki ketersediaan hara fosfor dan melindungi perakaran dari serangan patogen (Hadiyanto dan Hairiyah. Rhizobium yang berasosiasi dengan tanaman legum mampu menfiksasi 100-300 Kg N/Ha dalam satu musim tanam dan meninggalkan sejumlah N untuk tanaman berikutnya. putida sama baiknya dengan P. Oleh karena itu. putida. artinya satu spesies Rhizobium hanya dapat bersimbiose dengan spesies legum tertentu. budi daya tanaman legum (kacang-kacangan) dapat menggunakan Rhizobium spp. Kenaikan hasil tanaman setelah diinokulasi Azotobacter terjadi pada tanaman jagung. Apabila Azotobacter dan Azospirillum diinokulasi secara bersama-sama. harus disesuaikan dengan spesies legum yang akan dibudidayakan. Oleh karena itu. berat basah akar. dan mendapat pasokan nutrisi secara teratur dari tanaman. padi. Selanjutnya dijelaskan juga oleh Tim Peneliti Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (2008) bahwa pemakaian pupuk hayati pada lahan kering masam sebaiknya yang telah terbukti dapat menjalankan fungsi ekologis. gandum dan cantel (Sutanto. Namun. luas daun serta kadar P trubus. berat kering trubus. perlu diperhatikan bahwa hubungan antara tanaman legum dan Rhizobium bersifat sangat spesifik. Asosiasi simbiotik anatara jamur dan sistem perakaran tanaman tinggi diistilahkan dengan mikoriza. tomat. Dalam fenomena ini jamur menginfeksi dan mengkoloni akar tanpa menimbulkan nekrosis sebagaimana biasa terjadi pada infeksi jamur patogen. berat kering akar. terong dan kubis. Hasil penelitian Hasanudin dan Gonggo (2004) menjelaskan pemberian inokulasi mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan inokulasi mikoriza 20 g tanaman-1 dapat meningkatkan serapan P dan hasil jagung. Tanggapan tanaman sangat bervariasi tergantung pada kondisi tanah dan efektifitas populasi asli (Sutanto. berat basah trubus. mikroba pelarut fosfat.

Keunggulan kemampuan CMA dalam pengambilan hara. Mikroba ini ada yang hidup bebas di dalam tanah atau hidup di daerah perakaran (rhizobakteri). maka secara teknik pengolahan tanah yang dilakukan harus berprinsip peningkatan kesuburan tanah dan adanya pelaksanaan konservasi tanah dan air. kecepatan translokasi hara enam kali kecepatan rambut akar. dan secara tidak langsung melalui perbaikan struktur tanah. ketersediaan hara rendah. dan Beijerinckia dapat digunakan pada tanaman dari famili Gramineae (rumputrumputan) seperti padi.4. dan Acaulospora.CMA ini memungkinkan tanaman memperoleh hara dan air yang cukup pada kondisi lingkungan yang miskin unsur hara dan kering. bahan organik tanah rendah. Kemampuan asosiasi tanaman. tumpang sari atau penanaman budidaya lorong. dan sorgum. Telah banyak dihasilkan pupuk hayati yang mengandung mikroba pelarut fosfat. CMA juga berperan dalam membantu pemenuhan kebutuhan air pada saat kekeringan karena bertambahnya luas permukaan penyerapan air oleh hifa eksternal. teras bangku atau teras individu dan pembuatan saluran drainase. CMA secara tidak langsung juga dapat meningkatkan ketersediaan P-tanah melalui produksi enzim fosfatase oleh akartanaman. Mikroba pelarut fosfat. sehingga ketersediaan P bagi tanaman meningkat dan mengurangi takaran penggunaan pupuk P.umumnya dari spesies Glomus. Secara mekanik pembuatan teras misalnya teras gulud. Pada prinsipnya untuk meningkatkan atau mempertahankan kemampuan tanah dapat dilakukan teknik pengelolaan tanah secara mekanik dan vegetatif. CMA merupakan suatu bentuk asosiasi cendawan dengan akar tanaman tingkat tinggi. Mikroba tersebut dapat menghasilkan senyawa organik yang dapat melarutkan Ptanah. Gigaspora. jagung. dan tanah memiliki slope tertentu serta berada pada daerah dengan intensitas hujan tinggi. Pada saat ini telah dihasilkan berbagai inokulan CMA.Azospirillum. Cendawan mikoriza arbuskula (CMA). dan nilai ambang batas konsentrasi hara yang dapat diserap CMA lebih rendah (setengah ambang batas konsentrasi hara yang dapat diserap akar). melampaui jarak yang dapat dicapai akar (rambut akar). Sedangkan secara vegetatif adalah penerapan pola tanam yang menutup permukaan tanah sepanjang tahun baik dengan hijauan maupun vegetasi misalnya dengan pergiliran tanaman . Teknik Pengelolaan Tanah Apabila dihadapkan pada kondisi tanah masam. Konservasi tanah secara mekanik adalah semua perlakuan fisik mekanis dan pembuatan . perlindungan terhadap patogen tanah maupun unsur beracun. dan Cu. 4. disebabkan CMA memiliki struktur hifa yang mampu menjelajah daerah di antara partikel tanah. Hal ini dimungkinkan karena CMA mempunyai kemampuan menyerap hara dan air lebih tinggi dibanding akar tanaman. Zn. Satu spesies CMA dapat berasosiasi dengan berbagai tanaman sehingga satu macam CMA dapat digunakan untuk berbagai jenis tanaman. terutama hara yang bersifat tidak mobil seperti P.

dan (4) mempermudah pengolahan tanah. sistem ini juga dimaksudkan untuk mempercepat penanaman tanaman pada musim kedua. guludan dapat dibuat menurut arah kontur. Teras biasanya dibangun di ekosistem lahan sawah tadah hujan. Jenis teras ini biasa dibangun di areal perkebunan atau pertanaman buah-buahan. lahan tegalan. .bangunan yang ditujukan untuk mengurangi aliran permukaan guna menekan erosi dan meningkatkan kemampuan tanah mendukung usahatani secara berkelanjutan. sehingga terjadi deretan bangunan yang berbentuk seperti tangga. Contohnya adalah tumpang gilir antara tanaman jagung yang ditanam pada awal musim hujan dan kacang tanah yang ditanam beberapa minggu sebelum panen jagung. (2) penutupan lahan oleh seresah dan tajuk mengurangi evaporasi. dengan umur tanaman yang relatif sama dan diatur dalam barisan atau kumpulan barisan secara berselang-seling seperi: padi gogo + jagung . Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan teras gulud (Gambar 8) menurut Sinukaban (1994): (1) Teras gulud cocok diterapkan pada lahan dengan kemiringan 10-40%. Pengelolaan tanah secara vegetatif dapat menjamin keberlangsungan keberadaan tanah dan air karena memiliki sifat : (1) memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dengan memperbesar granulasi tanah. tanaman musim kedua ditanam sebelum panen tanaman musim pertama. tidak lebih dari 1% ke arah saluran pembuangan. Teras individu adalah teras yang dibuat pada setiap individu tanaman. Selain itu. padi gogo ditanam secara tumpang sari dengan jagung. dan berbagai sistem wanatani. (2) Pada tanah yang permeabilitasnya tinggi. (3) disamping itu dapat meningkatkan aktifitas mikroorganisme yang mengakibatkan peningkatan porositas tanah. (2) menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak sampai merusak. 2006). (3) meningkatkan laju infiltrasi. sehingga masih mendapatkan air hujan dengan jumlah yang cukup untuk pertumbuhan dan produksinya. miring ke dalam/goler kampak (bidang olah miring beberapa derajat ke arah yang berlawanan dengan lereng asli). membentuk sudut 0o dengan bidang horizontal). Pada usahatani lahan kering. Pergiliran tanaman atau tanam berurutan adalah sistem bercocok tanam dengan menanam dua atau lebih jenis tanaman pada sebidang tanah selama satu tahun. Sistem ini bertujuan untuk meningkatkan intensitas penggunaan lahan dan menjaga agar permukaan tanah selalu tertutup tanaman. Pada tanah yang permeabilitasnya rendah. sehingga memperbesar jumlah infiltrasi dan mencegah terjadinya erosi (Rahim. Teras bangku dapat dibuat datar (bidang olah datar. fungsi utama teras bangku adalah: (1) memperlambat aliran permukaan. terutama tanaman tahunan. Teras bangku atau teras tangga dibuat dengan cara memotong panjang lereng dan meratakan tanah di bagian bawahnya. dan miring keluar (bidang olah miring ke arah lereng asli). Tanam bersisipan atau tumpang sari adalah sistem penanaman lebih dari satu macam tanaman pada lahan yang sama secara simultan.jagung + kacang tanah. Pada musim pertama di awal musim hujan. Hal ini ditujukan agar air yang tidak segera terinfiltrasi ke dalam tanah dapat tersalurkan ke luar ladang dengan kecepatan rendah. guludan dibuat miring terhadap kontur.

mempertinggi kemampuan tanah dalam menyerap air yaitu dengan menggunakan pupuk organik berupa pupuk hijau atau pupuk kandang serta penggunaan sisa-sisa tanaman yang diletakkan di atas tanah sebagai serasah (mulsa) sehingga dapat mempertahankan kelembaban tanah.Menambah tanaman penguat teras. sehingga tanah terlindung dari air hujan dan pemadatan tanah karena ulah pekerja selama operasi di lapangan. Mempunyai sistem perakaran intensif. Di Filipina. Alley cropping dapat menurunkan erosi sebanyak 69%. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ini sangat efektif mengendalikan erosi.. Leucaena leucocephala yang pertama diuji dalam sistem Alley cropping ini dan menyusul kemudian Glinsidia sepium. Rendahnya erosi disebabkan oleh hasil pangkasan yang sukar melapuk yang berfungsi sebagai mulsa.Di Indonesia sistem ini sudah diyakini efektif mengendalikan erosi (Sukmana and Suwardjo. sehingga mampu mengikat air. Tanaman penguat teras yang dianjurkan ditanam antara lain lamtorogung. jarak antara tanaman pagar dan pada saat awal. Efektivitas pengendalian erosi ini selain karena hal yang telah disebutkan diatas juga karena terbentuknya teras secara alami dan perlahan-lahan setinggi 25-30 cm pada dasar tanaman pagar. Alegre dan Rao (1995) menunjukkan bahwa Alley cropping menahan kehilangan tanah 93% dan air 83% dibandingkan dengan pertanaman tunggal semusin. b. c. Bermanfaat dalam menyuburkan tanah maupun sebagai penghasil makanan ternak. akasia. Beberapa hasil penelitian yang dilakukan telah menunjukkan bahwa Alley cropping sangat efektif dalam mengendalikan erosi. Efektivitas pengendalian erosi tersebut sangat tergantung kepada jenis tanaman pagar yang digunakan. Salah satu teknologi yang tersedia adalah sistem pertanaman lorong atau Alley cropping. Salah satu cara untuk memperbaiki struktur tanah. murah dan dapat diterima oleh petani. kemiringan lahan. Tahan pangkas sehingga tidak menaungi tanaman utama. kaliandra. 1991) dapat meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman serta dapat diadopsi oleh petani di lahan kering. Anonimous (2009) menjelaskan bahwa alley cropping merupakan salah satu sistem agroforestry yang menanam tanaman semusim atau tanaman pangan diantara lorong-lorong yang dibentuk oleh pagar tanaman pohonan atau semak (Kang et al. Teknologi yang diintroduksikan ke lahan kering masam DAS bagian hulu haruslah teknologi yang mampu mengendalikan erosi. mudah dilaksanakan. Dengan cara ini penguapan air tanah dapat diperkecil sehingga air tanah tetap tersedia bagi tumbuhnya tanaman. Barisan tanaman pagar menurunkan kecepatan aliran permukaan sehingga memberikan kesempatan pada air untuk berinfiltrasi. gamal. rumput gajah dan rumput benggala. 8% disebabkan oleh perubahan profil tanah dan 4% oleh penanaman secara kontour . Efektivitas pengendalian erosi dapat mencapai >95% dibanding apabila tidak menggunakan Alley cropping. Selanjutnya tanaman pagar menyebabkan air tanah selalu berkurang untuk kebutuhan pertumbuhannya selama musim kemarau sehingga sistem ini menyerap lebih banyak . 1984). yang terdiri atas 48% disebabkan oleh pengaruh penutupan tanah oleh mulsa.tanaman yang memenuhi syarat sebagai penguat teras adalah: a. Tanaman pagar dipangkas secara periodik selama pertanaman untuk menghindari naungan dan mengurangi kompetisi hara dengan tanaman pangan/semusim.

Lebih dekat pada barisan tanaman pagar. Hasil penelitian Agas et al. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah.Contoh kondisi pertanaman alley cropping. Sistem ini dapat memperbaiki sifat fisik tanah yaitu menurunkan BD (bulk density) dan meningkatkan konduktivitas hidraulik tanah.13 dan 0. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Alley cropping juga ternyata dapat meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman. http://dasar2ilmutanah.16 . P. bahan organik rendah dan kahat unsur hara makro maupun mikro serta tingginya kandungan Al dan Fe.com. tengah dan atas dari lorong.49 mm/detik pada bagian bawah menjadi 0. Kandungan air tanah dan tekanan air tanah menurun pada bagian lorong yang dekat pada tanaman pagar. 0.08 m3 masing-masing pada bagin bawah. Air tersedia pada kedalaman 10-15 cm adalah 0. 2. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. R. (2) Kesuburan Tanah. keracunan Al. serta kekahatan unsur-unsur hara penting seperti N. Karekteristik tanah mineral masam adalah pH rendah . Mn. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. A.blogspot.12 mm/detik pada bagian atas dari lorong. Hal ini akan menyebabkan kompetisi air antara tanaman pagar dengan tanaman pangan pada lorong. Tanah mineral masam yang terdapat pada iklim tropik adalah jenis tanah ultisol. pengapuran. . (1997) tentang sifat-sifat tanah dan air di bawah Alley cropping pada tanah oxilos miring menunjukkan bahwa pada umumnya sifat-sifat tanah tidak dipengaruhi oleh jenis legum/taman pagar. oxisols dan spodosol serta inseptisol . Transmisivitas air menurun dari 0. Kesimpulan 1. Pengelolaan tanah-tanah mineral masam untuk kepentingan pertanian menghadapi kendala pH yang rendah. mempengaruhi distribusi air. Pustaka: Madjid. 2009. Selain perbaikan sifat fisik tanah. pemberian pupuk hayati dan pengelolaan tanah yang berazas peningkatan kesuburan tanah dan melakukan tindakan konservasi tanah dan air . dan atau Mg dan Mo 3. V. tetapi dipengaruhi oleh posisi dalam lorong.air hujan ke dalam tanah dan akhirnya menurunkan erosi. Alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi tanah masam guna mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman adalah pemberian pupuk organik dan anorganik. (3) Teknologi Pupuk Hayati. dan/atau Fe. Ca. Selain efektif mengendalikan erosi. penelitian-penelitian terdahulu juga memperlihatkan bahwa Alley cropping dapat meningkatkan unsur hara di dalam tanah .

com (diakses Mei 2009) Bertam. Pustaka Adipura. Akademika Pressindo. 2003. 2008. azotobacter dan bahan organic pada ultisol.2007. Edisi khusus No 1: 1-4.id (diakses 8 April 2009).files. Geografi tanah Indonesia.Jakarta .M.DAFTAR PUSTAKA Arimurti.com (diakses Mei 2009) Anonimous. 8(2): 52-55. Edisi 2.K.S. Barus.Budidaya Lorong. Raja Gravindo Persada.I dan Sopandie. A.Hairiyah. Hasanudin. Hardjowigeno. Arief. 5(2): 83-89. Hal. Budidaya Tanaman Jagung.2007. http://warintek. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis.YH. S. 1997. Dasar Dasar Ilmu Tanah.J. Setyati. Peningkatan ketersediaan dan serapan N dan P serta hasil tanaman jagung melalui inokulasi mikoriza. 1665-1675. Pemanfaatan Mikrobia Pelarut Fospat dan Mikoriza untuk Perbaikan Fospor tersedia. 4(2) : 97-103.wordpress. Handayanto. Hasanudin. 2005. 1993.Mansur. pp 139165. Jurnal Akta Agrosia . Jakarta. feiraz.AK. 2007. Arief. 2007.Ganggo. Dinas Pertanian Jember. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia.Universitas Bengkulu.2004. Jurnal Akta Agrosia . . Puslitbang Tanaman Pangan. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia.Serapan Fospor Tanah Ultisol dan Hasil Jagung. Introduksi pasangan CMA dan Rhizobia Indigenous untuk peningkatan pertumbuhan dan hasil kedelai di ultisol Bengkulu.files.D dan Mujib.D. 273 p. Hanafiah.Setiadi.C.Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. Pengaruh pengapuran dan pupuk kandang terhadap ketersediaan hara P pada timbunan tanah pasca tambang batubara. 7(2):94-103. Dan Irman. Balitbangtan Deptan.bantul.Y.wordpress. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia . Ameliorasi Lahan Kering Masam untuk Tanaman Pangan. 2005. Efettivitas bakteri pelarut fosfat dan pupuk P terhadap pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays) pada tanah masam. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. bebasbanjir2025.B.E.go. Mitriani dan Barchia F. Kusuma. Respon tanaman padi terhadap pemupukan P pada tingkat status hara P tanah yang berbeda. 2006. Hasanudin. Universitas Jember Jurusan FMIPA .2009.

Nanan. Mikroorganisme Meningkatkan Efisiensi Pemupukan Fospat. 6(2) : 71-81. Puslitbang Tanah dan Agroklimat. Fakta dan Implikasi Pertaniannya. Universitas Lampung 17-18 November 2008. Notohadiprawiro. D. 1996. 1993. Mardinus dan H. Ismail. Buletin Agronomi. Junedi.T. Mulyani. 1997. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.com (di akses Mei 2009). Teknologi Pengelolaan Lahan Kering: Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. Sutisni dan I P. Perbedaan respon keterkaitan pH. 2005. Plant & Soil 151: 55. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III..No.Bogor . serta P tersedia dari tanah masam akibat aplikasi P-alam. Kanisus Yogyakarta. Tahun II No. Joy. N.G. Pengaruh jenis pupuk kandang dan jarak tanam terhadap pertumbuhan gulma dan hasil jagung manis.. Nursyamsi. 1656-1664. S. Hiatan06. Ultisol. 1993. Pengapuran Tanah Pertanian. .files.M. Nursyamsi. H. Hakim. Widjaja-Adhi. "Erapan P dan Kebutuhan Pupuk P Untuk Tanaman Pangan pada Tanah-tanah Asam".Bogor.2.. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan.65. Pusparajah (Eds. 31 (3): 100-106. NA.2003. 2007. Kebutuhan hara kalium tanaman kedelai di tanah ultisol. pp 8-35..Himatan. 2006.Edisi 1. 2005. Ismail. Croswell & E. H. Notohadiprawiro. A.Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimak. 2006.In: Management of Acid Soils in the Humid Tropics of Asia E.wordpress. 28(4): 163-169. 2006. Al-dd.T. Buletin Pusat Penelitian Marihat .R. Jurnal Agritrop. Muchtar. D. Noor A. Dalam Jurnal Tanah Tropika. Puslitbangtan.) Aciar Monograph 13: 62-68. Lahan Kering untuk Pertanian.. kalsit dan dolomite. Hidayat. Prihartin.. 2008. Mayadewi. Departemen Pertanian. 1990. T. Farming Acid Soils for Food Crop: An Indonesian Experience. 2006. Allevation of SoilAcidity in Ultisol and Oxisol for Corn Growth. Himpunan Ilmu Tanah Universitas Padjajaran. Pembentukan dan Profil Tanah.6. Perbaikan Lahan Kritis dengan Rotasi Tanaman dalam Budidaya Lorong. Badan Litbang Pertanian. 2003. Deptan. G. Shamshuddin & S. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. Hal.Jurnal Bionatura 7(3): 249-258. Pemanfaatan kompos dan jerami padi dan kapur guna memperbaiki permeabelitas tanah ultisol dan hasil kedelai. Dan A. B. J. Kuswandi. Syed Oman.Proseding Seminar Nasional Sains dan Teknologi II.

2000. Sudirja. Wild. Kanisus Jakarta. Puslitbangtan Deptan. Teknologi Produksi dan Strategi Pengembangan. Sunaryo dan Suryono. Respon beberapa sifat kimia fluventic eutrudepts melalui pendayagunaan limbah kakao dan berbagai jenis pupuk organik. Subagyo. 1994. H. Bogor.S. Puslitbangtan. Triwardani.B. Prahoro.Manshuri. 2001. 2000. Adnyana dan D. Iptek Tanaman Pangan 2(1) :12 -25. Deptan. Membangun Pertanian Menjadi Lestari dengan Konservasi. Bumi Aksara Jakarta.. dan A. Rahim. Sistem Usahatani Konservasi Menunjang Pendapatan Petani Lahan Kering. Pandang. dan C. 1994. Tanah-tanah pertanian di Indonesia.O. Hal..S. The retention of phosphate by soils.R. Hal. Suryantini. 2008. Pengaruh dosis pupuk dolomit dan pupuk P terhadap jumlah bintil akar dan hasil tanaman kacang tanah di tanah latosol. S. Faperta IPB. N. Laporan teknis BalaiPenelitianTanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (tidak dipublikasi). Subandi. Sutanto.Biodiversitas. Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning.G. 2003. Pp 177-184. Pengendalian Erosi Tanah.Edisi 3. M..A. N. Penerapan Pertanian Organik .G. Subandi. A. ES. 4(1) : 1-5. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed.R.pp 91-106.Penerapan Pertanian Organik. Darmawan.Universitas Padjajaran.Solihin. H. Sinukaban.A. Pemanfaatan Biota Tanah untuk keberlanjutan produktivitas pertanian lahan kering masam. Rachman S. 7(1):1014. M. Pengembangan Inovasi Pertanian 1(2):157-163. Edisi 5.Agrosains 2(2):54-58. Peranan Sistem Usahatani Terpadu dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan di Berbagai Agroekosistem. 1997. S. Ismail. 2006.. Jurnal Nature Indonesia. Bogor. Sudaryono. Siswanto. Soil Sci. Suharta. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Wulandari. Taufiq. 2005. 1950. I.A.MA dan Rosniawati. Kuntyastuti. 1: 221-238 .) di Tanah Marginal.dan Subandi. 2007. 2166 dalam Sumber Daya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. S dan Suliasih . J.2002. Tim Peneliti Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.. Prosiding Simposium Panelitian Tanaman Pangan III.2002. Widawati..Partohardjono. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III Buku 6. Hal 143-182..Edisi 3 . Perbaikan dan peningkatan efisiensi produksi kedelai di lahan keringmasam. Kanisus Jakarta. 2006. 1676-1686.

Soil Survey Staff (1990) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tanah organik (Histosol) adalah tanah yang mempunyai ketebalan sebagai berikut : (1) 60 cm atau lebih dengan kandungan serat (bahan organik kasar) meliputi 3/4 volume atau lebih dan kerapatan jenis dalam keadaan lembab kurang dari 0.Yogyakarta. 1997). N. Sumatera. Uni Sovyet dan Amerika Serikat. pp 23 -32. tersebar pada pulau-pulau besar Kalimantan. umumnya bersifat sangat asam (pH 4. Menurut Soekardi dan Hidayat (1988) penyebaran gambut di Indonesia meliputi areal seluas 18. (2) 40 cm atau lebih : (a) dengan lapisan bahan organik jenuh air lebih dari 6 bulan atau telah ada perbaikan drainase. Reaksi Tanah . Yuwono NW dan Rosmarkam A. warna coklat hingga kehitaman. Kalimantan Barat merupakan propinsi yang memiliki luas lahan gambut terbesar di Indonesia yaitu seluas 4.2006.0) kandungan unsur hara rendah (Paungkas P.2(5) : 23 – 43. 2001). konsistensi tidak lekat-agak lekat. Ilmu Kesuburan Tanah.16 juta hektar.5 m. 2006).Jurnal Hijau. dengan ciri dan sifat: tidak terjadi deferensiasi horizon secara jelas.1 g ml-1. tekstur debu lempung. Yulianti. I. (b) dengan bahan organik terdiri atas bahan organik halus (saprik) atau bahan organik sedang (hemik) atau bahan fibrik (kasar) kurang dari 2/3 volume dan kerapatan jenis dalam keadaan lembab 0. seorang pejabat Belanda pada tahun 1860an yang menyatakan bahwa 1/6 areal wilayah Sumatera ditempati gambut (Notohadiprawiro.NW. UGM.Yuwono. 2007. Dengan penyebaran seluas sekitar 18 juta ha maka luas lahan gambut Indonesia menempati urutan ke-4 dari luas gambut dunia setelah Kanada. Yogyakarta. 1. .Pupuk Hayati . tidak berstruktur.61 juta ha. diikuti oleh Kalimantan Tengah.480 ribu hektar.70 juta hektar dan 1. ketebalan lebih dari 0. 2008. Edisi 4.48 juta hektar. Istilah gambut sendiri pertama kali muncul dan kemudian umum digunakan oleh di kalangan ilmiawan dan menjadi kosa kata Indonesia sejak tahun 1970 an (Radjaguguk. Riau dan Kalimantan Selatan dengan luas masing-masing 2. Jenis tanah Organosol atau tanah gambut atau tanah organik berasal dari bahan induk organik seperti dari hutan rawa atau rumput rawa.1 g ml-1 atau lebih. Papua serta beberapa pulau Kecil. Pendahuluan Lahan gambut dikenal dan ditemukan pertama kali oleh Kyooker. kandungan organik lebih dari 30% untuk tanah tekstur lempung dan lebih dari 20% untuk tanah tekstur pasir.

suatu tanah digolongkan pada tanah gambut jika (1) mempunyai 18 % atau lebih C-organik jika fraksi mineral terdiri atas 60% atau lebih kadar liat. gambut sering bercampur dengan tanah liat. Di alam.1 jika kandungan liatnya antara 0-60 %. Tanah gambut dapat terbentuk di daerah rawa pasang surut dan di daerah rawa-rawa pedalaman yang tidak dipengaruhi oleh air pasang surut (Hardjowigeno. Di daerah tropis khususnya Indonesia menurut Driesen (1978) terbentuknya gambut pada umumnya terjadi dibawah kondisi dimana tanaman yang telah mati tergenang air secara terus menerus. Tanah disebut sebagai tanah gambut apabila memenuhi salah satu persyaratan berikut (Soil Survey Staff . 1996). yaitu lahan yang menempati posisi peralihan diantara daratan dan sistem perairan.1990): 1. misalnya pada cekungan atau depresi. Tanah gambut terbentuk karena laju akumulasi bahan organik melebihi proses mineralisasi yang biasanya terjadi pada kondisi jenuh air yang hampir terus menerus sehingga sirkulasi oksigen dalam tanah terhambat. danau atau daerah pantai yang selalu tergenang dan produksi bahan organik yang melimpah dari vegetasi hutan mangrove atau hutan payau.Tanah gambut merupakan tanah hidromorfik yang bahan asalnya sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik sisa-sisa tumbuhan. Apabila tidak jenuh air mempunyai kandungan C-organik minimal 2O %. dan (3) mempunyai 12% sampai 18% C-organik jika fraksi mineral mengandung liat antara 0% sampai 60 %. tanah gambut mempunyai lapisan organik setebal 50 cm atau lebih dari permukaan tanah. . Tanah gambut terdapat di cekungan. Menurut Everret (1983). (2) mempunyai 12% atau lebih kecil C-organik jika fraksi mineral tidak mengandung liat. Lahan gambut sangat luas umumnya menempati menyebar diantara aliran bawah sungai besar dekat muara. dalam keadaan yang selalu tergenang. Menurut Suhardjo dan Soepraptohardjo (1981). dimana proses dekomposisinya berlangsung tidak sempurna sehingga terjadi penumpukan dan akumulasi bahan organik membentuk tanah gambut yang kedalamannya di beberpa tempat dapat mencapai 16 meter. Hal tersebut akan memperlambat proses dekomposisi bahan organik dan akhirnya bahan organik itu akan menumpuk. depresi atau bagian-bagian terendah di pelimbahan dan menyebar di dataran rendah sampai tinggi. 2. Lahan ini sepanjang tahun/selama waktu yang panjang dalam setahun selalu jenuh air (water logged) atau tergenang air. Yang paling dominan dan sangat luas adalah lahan gambut yang terdapat di lahan rawa di dataran rendah sepanjang pantai. Apabila dalam keadaan jenuh air mempunyai kandungan C –organik paling sedikit 18% jika kandung liatnya >60 % atau mempunyai kandungan C-organik 2% jika tidak mempunyai liat (O %) atau mempunyai kandungan C–organik lebih dari 12% + % liat x 0. Lahan gambut mempunyai penyebaran di lahan rawa. Kriteria penggolongan tanah gambut dengan tanah mineral secara kuantitatif ditentukan oleh kandungan fraksi bahan tanah mineral dan C-organik. dimana gerakan naik turunnya air tanah dipengaruhi pasang surut harian air laut.

• Saprists adalah gambut yang tingkat dekomposisinya telah lanjut.2 dan biasanya berwarna hitam atau coklat kelam. Tanah gambut secara alami terdapat pada lapisan paling atas. tanah gambut dibedakan menjadi tiga yaitu: a.5 – 6 meter. • Fibrists merupakan tumpukan dari bahan organik yang berserat yang belum atau baru mengalami proses dekomposisi. berat jenisnya besar dari 0. berasal dari sisa tumbuhan yang hidupnya di daerah sedang (vegetasi spagnum). bobot isi rendah (0. • Hemists adalah gambut yang tingkat dekomposis bahan organik tengah berlangsung. gambut pegunungan: terbentuk di daerah topografi pegunungan. Gejala kering tak balik (irreversible drying) terjadi dan gambut berubah sifat seperti arang sehingga tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air (Subagyo et al. kerikil atau pasir yang ruang antaranya telah diisi oleh bahan organik. Contoh penyebarannya di daerah dataran pantai Sumatra. bergantung pada tahapan dekomposisinya.5 – 16 meter. 1996). gambut ombrogen: terletak di dataran pantai berawa. hampir tidak berserabut. dimana separuh dari bahan organik tersebut telah terdekomposisi. Contoh penyebarannya di Dataran Tinggi Dieng. kandungan unsur hara relatif lebih tinggi. Fibreists. dan porositas total antara 75% sampai 95% menyebabkan terbatasnya penggunaan mesin-mesin pertanian dan pemilihan komoditas yang akan diusahakan (Ambak dan Melling. Contoh penyebarannya di Rawa Pening (Jawa Tengah).4 g cm-3). • Folist merupakan lapisan tanah yang tersusun oleh tumpukan daun-daun. Berdasarkan penyebaran topografinya. Gambut akan kehilangan air tersedia setelah 4 sampai 5 minggu pengeringan dan hal itu mengakibatkan gambut mudah terbakar. Hemists. b. Lahan dengan ketebalan tanah gambut kurang dari 50 cm disebut sebagai lahan atau tanah bergambut disebut sebagai lahan gambut apabila ketebalan . Sifat lain yang merugikan adalah jika gambut mengalami pengeringan yang berlebihan sehingga koloid gambut menjadi rusak. mempunyai ketebalan 0. terbentuk dari sisa tumbuhan hutan dan rumput rawa. Menurut Soil Taxonomi gambut digolongkan kedalam order Histosol yang dibedakan menjadi 4 sub order masing-masing Folists. ranting dan cabang yang tertimbun diatas batuan. berasal dari sisa tumbuhan rawa. bersifat agak asam.05-0. dan Segara Anakan (Cilacap. Rawa Lakbok (Ciamis. ketebalan 0. 2000). Jawa Barat). gambut topogen: terbentuk di daerah cekungan (depresi) antara rawa-rawa di daerah dataran rendah dengan di pegunungan.Gambut tropis umumnya berwarna coklat tua (gelap). dan c. hampir selalu tergenang air. Kandungan air yang tinggi dan kapasitas memegang air 15 sampai 30 kali dari bobot kering. bersifat sangat asam. Kalimantan dan Irian Jaya (Papua). Di bawahnya terdapat lapisan tanah alluvial pada ke dalaman yang bervariasi. Jawa Tengah). Saprists. Dapat juga digolongkan pada tanah gambut bila kedalaman tanah tersebut besar dari 50 cm dan kandungan bahan organiknya besar 65%.

300 cm 4. Lahan gambut sangat dalam. emisi karbon. Lahan gambut dangkal. Berdasar sifat dari bahan gambut dan hasil pembelajaran dalam pengelolaan lahan gambut. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 100 . Menurut pengamatan di lapangan. di kawasan hutan gambut tropika. Dengan demikian. 2. Misalnya kasus kebakaran hutan yang menyebabkan protes dari negara-negara tetangga. Terdapat hubungan sangat jelas antara cadangan karbon. Dalam kondisi alami.gambut lebih dari 50 cm. penataan ruang berdasarkan satuan sistem hidrologi gambut sebagai wilayah fungsional ekosistem gambut. yaitu lahan dengan ketebalan gambut lebih dari 300 cm. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 50 . Diberbagai tempat dewasa ini telah dilakukan pemanfaatan tanah gambut itu terutama untuk lahan pasang surut dan pembukaan lahan lain baik untuk perkebunan maupun untuk lahan pemukiman transmigrasi. Komposisi bahan penyusun gambut berkaitan erat dengan asam-asam organik yang dihasilkan selama proses dekomposisi. vegetasi maupun gambut di bawahnya menyimpan kandungan karbon yang besar. peningkatan stabilitas dan penurunan sifat toksik bahan gambut dan pengembangan tanaman yang sesuai dengan karakteristik lahan. lahan gambut dibagi menjadi empat tipe. Stevenson (1994) menjelaskan bahwa lignin akan mengalami proses degradasi menjadi senyawa humat dan selama proses degradasi tersebut akan dihasilkan asamasam fenolat. Lahan gambut sedang. maka pengembangan lahan gambut Indonesia ke depan dituntut menerapkan beberapa kunci pokok pengelolaan yang meliputi aspek legal yang mendukung pengelolaan lahan gambut. Pemanfaatan gambut yang tidak bijaksana justru membawa bencana bagi kehidupan masyarakat setempat dan bangsa. Wilayah lahan-lahan gambut merupakan potensi karbon dan juga sebagai penyimpan air perlu didorong sehingga pemanfaatannya bisa maksimal dan tidak keliru lagi. Berdasarkan kedalamnya.200 cm 3. Lahan gambut dalam. Tanah gambut di daerah tropika basah seperti Indonesia berkembang dari vegetasi hutan tropis.100 cm. dan pengaruhnya terhadap proses perubahan iklim dunia. pendekatan pengembangan berdasarkan karakteristik bahan tanah mineral di bawah lapisan gambut. pengelolaan air. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 200 . sehingga menghasilkan tanah gambut yang variasi dan sebarannya heterogen. Isu perubahan iklim dunia sudah menjadi isu global yang perlu dicarikan solusinya. Dari sekian luas penyebaran di Indonesia beberapa bagian dipengaruhi oleh pasang. . material berserat ini tidak terdistribusi secara merata dalam lapisan tanah. yaitu: 1. Pasalnya. lapisan tanah gambut terdiri atas bahan material berserat dan tanaman yang terdekomposisi belum sempurna.lahan gambut adalah lahan rawa dengan ketebalan gambut lebih dari 50 cm.

05 CaO 4. Menurut Halim dan Soepardi (1987). kandungan basa sedang). dan kadar abunya seperti yang disajikan pada Tabel 1. Tingkat dekomposisi bahan organik ditunjukkan oleh kandungan serat. Saprik adalah bahan organik yang terdekomposisi paling lanjut yang mengandung serat kurang dari 1/3 volume dan bobot isi saprik adalah 0. yaitu dangkal (50-100 cm). (1996) membagi gambut dalam 4 kelas.Berdasarkan tingkat kesuburan alami. reaksi gambut netral atau alkalin).80 0. Tanah gambut yang berkembang di atas pasir kuarsa miskin hara esensial dibandingkan dengan tanah gambut yang berkembang di atas tanah lempung dan liat. atau endapan liat nonmarin. 1974) memilah gambut menjadi tiga golongan. dan oligotropik menurut Fleischer Tingkat Kesuburan Eutropik Mesotropik Oligotropik Kriteria Penilaian (%) N K2O 2. pasir kuarsa. (2) gambut mesotropik dengan kesuburan sedang. Kriteria kimia gambut eutropik.195 g cm-3. sedangkan hemik adalah bahan organik yang mempunyai tingkat dekomposisi antara fibrik dengan saprik dengan bobot isi 0. Sebagai akibat akumulasi bahan organik dan tanah dalam lingkungan tergenang air. Ketebalan atau kedalaman gambut juga menentukan tingkat kesuburan alami dan potensi kesesuaiannya untuk tanaman.10 0. Yang dimaksud dengan fibrik adalah bahan organik tanah yang sangat sedikit terdekomposisi yang mengandung serat sebanyak 2/3 volume. agak dalam (100-200 cm). Subagyo et al.00 5. terutama Ca rendah dan reaksi masam) dan mesotrofik ( terletak diantara keduanya dengan pH sekitar 5. dan (3) gambut oligotropik sebagai gambut miskin. oligotrofik (kandungan mineral.00 0.00 Sumber : Driessen dan Soepraptohardjo (1974).50 2. mesotropik. yaitu (1) gambut eutropik yang subur.075 sampai 0.00 2. Penggolongan tersebut didasarkan pada kandungan nitrogen (N). kalium (K).195 g cm-3. Menurut Subagyo et al. dalam (200-300 cm) dan sangat dalam (lebih dari 300 cm). banyak terbentuk senyawa-senyawa asam organik sehingga derajat kemasaman tanah gambut tinggi. Bobot volume fibrik lebih kecil dari 0. Tabel 1.10 0.25 Abu 10. gambut dibagi dalam 3 kelompok yakni eutrofik (kandungan mineral tinggi.00 0. Fleisher (1965. kalsium (Ca). (1996).075 g cm-3 dan kandungan air tinggi jika tanah dalam keadaan jenuh air.00 1. kategori kemasaman tanah gambut dibedakan atas : (1) . fosfor (P).03 P2O5 0. Berdasarkan status hara. dikutip Driessen dan Soepraptohardjo.20 0. Pengertian taraf dekomposisi bahan organik tanah yang lebih jelas dikemukakan Widjaja dan Adhi (1988).25 0. tanah bawah gambut dapat terdiri atas liat endapan marin.

Diposkan oleh Dr. Program Pascasarjana. R. pH berkisar antara 4 sampai 5. Permasalahan Pada Tanah Gambut . Program Magister (S2). (2) Kesuburan Tanah. Palembang.tinggi. (2) sedang. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. 2009. Indonesia. Universitas Sriwijaya. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Pascasarjana. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Ir. Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Propinsi Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. MS di 21:50 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 2) Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian* Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Propinsi Sumatera Selatan. Program Magister (S2). Palembang. Program Magister (S2). Propinsi Sumatera Selatan. http://dasar2ilmutanah. pH lebih dari 5. Program Studi Ilmu Tanaman. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. A. Abdul Madjid. pH kurang dari 4.com. Indonesia.blogspot. (3) rendah. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Universitas Sriwijaya.

daya memegang air tinggi. dalam keadaan tergenang. 1996). Berdasarkan atas tingkat pelapukan (dekomposisi) tanah gambut dibedakan menjadi: (1) gambut kasar (Fibrist ) yaitu gambut yang memiliki lebih dari 2/3 bahan organk kasar. (2) gambut sedang (Hemist) memiliki 1/3-2/3 bahan organik kasar. Bahan penyusun gambut terdiri dari empat komponen yaitu bahan organik. pH yang sangat rendah dan status kesuburan tanah yang rendah.1 gr/cc untuk gambut kasar. irreversible dan subsiden. kerapatan lindak. dan (3) gambut halus (Saprist) jika bahan organik kasar kurang dari 1/3. dan kadar lengas gambut merupakan sifat-sifat fisik yang perlu mendapat perhatian dalam pemanfaatan gambut. Perubahan kandungan air karena reklamasi gambut akan ikut merubah sifat-sifat fisik lainnya (Andriesse. lapisan bawah. Noor (2001) menambahkan bahwa ketebalan gambut. Gambut halus memiliki ketersediaan unsur hara yang lebih tinggi memiliki kerapatan lindak yang lebih besar dari gambut kasar (Hardjowigeno. Sifat Fisik Sifat-sifat fisik gambut sangat erat kaitannya dengan pengelolaan air gambut. Mengingat sifat-sifat fisik tanah gambut saling berhubungan maka pembahasan sifat fisik dari tanah gambut tidak dapat dilakukan secara terpisah. • Sifat-sifat Tanah Gambut Diantara sifat yang penting dari tanah gambut di daerah tropis adalah : bahan penyusun berasal dari kayu-kayuan. sifat menyusut dan subsidence ( penurunan permukaan gambut) karena drainase. Pengembangan usaha pertanian sangat dibatasi oleh beberapa hal di atas (Andriesse. yang pertama-tama harus diperhatikan adalah dinamika sifat-sifat fisika dan kimia tanah gambut. kering tidak balik. antara lain (1) dinamika sifat kemasaman tanah yang dikaitkan dengan pengendalian asam-asam organik meracun. Rendahnya kerapatan lindak menyebabkan daya dukung gambut (bearing capasity) menjadi sangat rendah. Tanah gambut mempunyai kerapatan lindak (bulk density) yang sangat rendah yaitu kurang dari 0. Uraian tentang sifat-sifat fisik gambut ini akan dihubungankan dengan sifat-sifat kimia tanah gambut. namun unsur hara masih dalam bentuk organik dan sulit tersedia bagi tanaman.2 gr/cc maka kerapatan lindak gambut adalah sangat rendah. dan (2) dinamika kesuburan tanah sehubungan dengan ketersediaan unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman yang diusahakan (3) kebakaran lahan gambut dan (4) pengaturan tata air pada lahan gambut sesuai kebutuhan tanaman. keadaan ini menyebabkan rebahnya tanaman tahunan seperti kelapa dan kelapa sawit pada tanah gambut. . air dan udara. bahan mineral. 1988). Menurut Hardjowigeno (1996) sifat-sifat fisik tanah gambut yang penting adalah: tingkat dekomposisi tanah gambut.Pada pengelolaan tanah gambut untuk usaha pertanian. 1988). Dibanding dengan tanah mineral yang memiliki kerapatan lindak 1. dan sekitar 0. Gambut kasar mempunyai porositas yang tinggi. Pemahaman akan sifat-sifat fisik akan sangat bermanfaat dalam menentukan strategi pemanfaatan gambut.2 gr/cc pada gambut halus. Gambut kasar mudah mengalami penyusutan yang besar jika tanah direklamasi. A.

Perbaikan drainase akan menyebabkan air keluar dari gambut kemudian oksigen masuk kedalam bahan organik dan meningkatkan aktifitas mikroorganisme. Kemampuan menyerap air gambut fibrik lebih besar dari gambut sapris dan hemist. di Kalimantan Barat kubah gambut di Sungai Selamat dapat mencapai 8 m. Lapisan bawah gambut dapat berupa lapisan lempung marine atau pasir. Gambut tropis umumnya berwarna coklat kemerahan hingga coklat tua (gelap) tergantung tahapan dekomposisinya. 2000) Sebagai contoh di Malaysia. tiga komoditas utama yaitu kelapa sawit. 1988. pada kondisi tergenang (anaerob) pirit tidak akan berbahaya namun jika didrainase secara berlebihan dan pirit teroksidasi maka akan terbentuk asam sulfat dan senyawa besi yang berbahaya bagi tanaman. Tingginya kemampuan gambut menyerap air menyebabkan tingginya volume pori-pori gambut. Kemasaman tanah akan memningkat pH menjadi 2-3 sehingga tanaman pertanian akan keracunan dan pertumbuhan terhambat serta hasil rendah. Harjowigeno. 1991). Kandungan air yang tinggi dan kapasitas memegang air 15-30 kali dari berat kering. rendahnya bulk density (0.000 % bobot. jika lapisan gambut terkikis.Tanah gambut jika di drainase secara berlebih akan menjadi kering dan kekeringan gambut ini disebut sebagai irreversible artinya gambut yang telah mengering tidak akan dapat menyerap air kembali. Kadar lengas gambut fibrik lebih besar dari gambut hemik dan saprik. sedangkan yang telah mengalami dekomposisi berkisar antara 200-600 % bobot. Akumulasi gambut akan menyebabkan ketebalan gambut yang bervariasi pada suatu kawasan. menyusut dan hilang maka akan muncul tanah pasir yang sangat miskin. kearah kubah gambut akan menebal. akibatnya kemampuan menyerap air gambut menurun sehingga gambut sulit diusahakan bagi pertanian. 1986). Pada gambut alami kadar lengas gambut sangat tinggi mencapai 500-1. akibatnya terjadi dekomposisi bahan organik dan gambut akan mengalami penyusutan (subsidence) sehingga permukaan gambut mengalami penurunan. 2001). Gambut ditepi kubah tipis dan memiliki kesuburan yang relatif baik (gambut topogen) sedang di tengah kubah gambut tebal >3m memiliki kesuburan yang relatip rendah (gambut ombrogen) (Andriesse. 1996). mengakibatkan rendahnya kerapatan lindak dan daya dukung gambut (Mutalib et al. Gambut diatas pasir kuarsa memiliki kesuburan yang relatip rendah. Ketebalan gambut berkaitan erat dengan kesuburan tanah. Tanah lapisan lempung marin umumnya mengandung pirit (FeS2). semakin dekat dengan sungai ketebalan gambut menipis. demikianpula pada daerah rasau Jaya. karet dan kelapa cenderung pertumbuhannya miring bahkan ambruk sebagai akibat akar tidak mempunyai tumpuan tanah yang kuat (Singh et al. Berkurangnya kemampuan menyerap air menyebabkan volume gambut menjadi menyusut dan permukaan gambut menurun (kempes). Perubahan menjadi kering tidak balik ini disebabkan gambut yang suka air (hidrofilik) berubah menjadi tidak suka air (hidrofobik) karena kekeringan. Gambut memiliki daya dukung atau daya tumpu . Umumnya gambut akan membentuk kubah (dome). namun kemampuan fibris memegang air lebih lemah dari gambut hemik dan saprist (Noor.05-0. Kadar lengas gambut (peat moisture) ditentukan oleh kematangan gambut.4 g/cm3) dan porositas total diantara 75-95% menyebabkan terbatasnya penggunaan mesin-mesin pertanian dan pemilihan komoditas yang akan diusahakan (Ambak dan Melling.

pohon rebah. dan abu. Sifat-sifat Kimia Ketebalan horison organik. Untuk mengatasi masalah kandungan asam-asam organik yang beracun biasanya dilakukan drainase dengan membuat saluran drainase intensif atau saluran cacing. Gambut dengan ketebalan lebih dari 75 cm ditata dengan sistem tegalan. Sifat gambut seperti ini mengakibatkan terjadinya genangan. semakin banyak kandungan mineral tanah sehingga relatif lebih subur. tanah mineral. Bahan amelioran adalah bahan yang mampu memperbaiki atau membenahi kondisi fisik dan kesuburan tanah. jalan. B. Gambut tebal sulit dan tidak cocok dibuat sawah karena dalam kondisi basah.8 cm/bulan. pupuk kandang. Beberapa contoh bahan amelioran yang sering digunaka adalah kapur . Atas dasar kesuburannya gambut dibedakan atas gambut subur (eutropik). Masalah penurunan gambut ditanggulangi dengan cara sebagai berikut: Penanaman tanaman tahunan didahului dengan penanaman tanaman semusim minimal tiga kali musim tanam. saluran drainase) terganggu atau ambles. Pemadatan dapat dilakukan dengan menggunakan alat sederhana yang dibuat sendiri dari kayu gelondong yang dapa digelindingkan (Gambar 3). permukaan tanah gambut akan mengalami penurunan karena pematangan gambut dan berkurangnya kandungan air. Sebagai akibatnya. Budidaya tanaman tahunan hanya pada lahan dengan ketebalan gambut <> 2. Dilakukan pemadatan gambut sebelum penanaman. 1988). sifat subsoil dan frekuensi luapan air sungai mempengaruhi komposisi kimia gambut. gambut tebal sebaiknya tidak digunakan sebagai lahan pertanian/sawah. penurunan tersebut semakin cepat dan semakin lama. dan dilakukan pemadatan sebelum penanaman tanaman tahunan. dan sulit disawahkan (kecuali gambut dengan kedalaman kurang dari 75 cm). . dan konstruksi bangunan (jembatan. Penurunaan gambut terjadi setelah dilakukan drainase. Semakin tebal gambut. akan sulit diinjak serta sangat miskin hara. Gambut tipis yang terbentuk diatas endapan liat atau lempung marin umumnya lebih subur dari gambut dalam (Widjaya Adhi. 3.yang rendah karena kerapatan tanahnya rendah. Pada tanah gambut yang sering mendapat luapan. Rata-rata kecepatan penurunan adalah 0. Karenanya. gambut sedang (mesotropik) dan gambut miskin (oligotropik). kompos. jalan sulit dilalui kendaraan. Beberapa kiat untuk mengatasi daya tumpu dan daya dukung gambut yang rendah adalah: 1. Kesuburan gambut sangat bervariasi dari sangat subur sampai sangat miskin. dan umumnya terjadi selama 3-4 tahun setelah drainase dan pengolahan tanah. pohon yang tumbuh menjadi mudah rebah. ata menggunakan alat pemadat mekanis yang biasa digunakan untuk memadatkan tanah di jalan.3-0.

dalam Mutalib et al. Kemasaman akan menurun dan kesuburan tanah akan meningkat dengan meningkatnya KB. Everret (1983) mengemukakan bahwa Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah gambut pada umumnya sangat tinggi. 1999). Laju pelepasan kation terjerap bagi tanaman bergantung pada tingkat KB suatu tanah.6 cmol kg-1 tanah. Unsur P dalam tanah gambut terdapat dalam bentuk P organik dan kurang tersedia bagi tanaman. hal ini menyebabkan ketersedian hara terutama K. Gambut pantai memiliki kemasaman lebih rendah dari gambut pedalaman. Bo dan Zn merupakan unsur mikro yang seringkali sangat kurang (Wong et al. Tanah gambut memiliki kapasitas tukar kation (KTK) yang sangat tinggi (90-200 me/100 gr) namun kejenuhan basa (KB) sangat rendah.1986. Kemasaman tanah gambut disebabkan oleh kandungan asam asam organik yang terdapat pada koloid gambut. 1997) dilapangan pencucian P dapat diperkecil dengan menambahkan tanah mineral kaya besi dan Al (Salampak. Bo dan Mo.3 (Andriesse. P. Hubungan ketebalan gambut dengan sifat kimia dan kesuburan gambut disajikan pada Tabel 3. 1996). Kondisi tanah gambut yang sangat masam akan menyebabkan kekahatan hara N. Mg. magnesium. Dekomposisi bahan organik pada kondisi anaerob menyebabkan terbentuknya senyawa fenolat dan karboksilat yang menyebabkan tingginya kemasaman gambut. K. dan Mg menjadi sangat rendah. Tanah gambut ombrogen dengan kubah gambut yang tebal umumnya memiliki kesuburan yang rendah dengan pH sekitar 3. Ca. Kekahatan Cu acapkali terjadi pada tanaman jagung.1 sampai 65. Selain itu terbentuknya senyawa fenolat dan karboksilat dapat meracuni tanaman pertanian (Sabiham. Suatu tanah dikatakan sangat subur jika KB-nya lebih besar dari 80%. Pemupukan P dengan pupuk yang cepat tersedia akan menyebabkan ion phosphat mudah tercuci dan mengurangi ketersediaan hara P bagi tanaman. C/N gambut umumnya sangat tinggi melibihi 30 ini berarti hara nitrogen kurang tersedia untuk tanaman sekalipun hasil analisis N total menunjukkan angka yang tinggi. dan natrium. Nilai KB berhubungan erat dengan pH dan tingkat kesuburan tanah. 2001). Nilai Kejenuhan Basa (KB) adalah persentase dari total kapasitas tukar kation yang ditempati oleh kation-kation basa seperti kalsium. kalium. Data KTK tanah gambut di dataran Anai yang diambil dari beberapa sampel profil. Penambahan besi dapat mengurangi pencucian P (Soewono. Hardjowigeno. yaitu antara 35. Unsur hara Cu. kesuburan sedang jika KB- . KB gambut harus ditingkatkan mencapai 25-30% agar basa-basa tertukar dapat dimanfaatkan tanaman (Tim Fakultas Pertanian IPB.3 namun pada gambut tipis di kawasan dekat tepi sungai gambut semakin subur dan pH berkisar 4. biasanya lebih dari 100 cmol kg-1 tanah. pembuatan parit drainase dengan kedalaman mencapai lapisan pirit akan menyebabkan pirit teroksidasi dan menyebabkan meningkatnya kemasaman gambut dan air disaluran drainase. 1991). ketela pohon dan kelapa sawit yang ditanam di tanah gambut. 1996. dan Sagiman. Ca. 1988). Jika tanah lapisan bawah mengandung pirit. 1986.Secara umum kemasaman tanah gambut berkisar antara 3-5 dan semakin tebal bahan organik maka kemasaman gambut meningkat. KTK tanah gambut di dataran Anai termasuk tinggi dan sangat tinggi.

Mahalnya harga pupuk menyebabkan ketergantungan petani pada abu bakar dari gambut semakin tinggi.nya berkisar antara 50% sampai 80%. (Prasetyo. sehingga menyebabkan produktivitas lahan semakin merosot. (1992) pengapuran dapat meningkatkan pH tanah. meningkatkan pH. 1993). Pembukaan lahan gambut dengan cara bakar. yaitu dengan cara membakar gambut pada waktu membersihkan lahan dari gulma dan semak belukar. juga memberikan dampak negatif berupa penurunan kualitas tanah serta pemborosan energi. yaitu sifat kering tak balik (irreversible drying) dan daya retensi air yang besar (Driessen dan . Hasil penelitian Mawardi et al. Alternatif mempertahankan dan meningkatkan kesuburan lahan gambut serta menghindarkan dampak negatif penggunaan abu bakaran gambut dan pupuk kimia antara lain dengan memadukan penggunaan limbah-limbah pertanian sebagai amelioran dan penanaman varietasvarietas adaftif serta pemanfaatan pupuk organik. Menurut Sastrosupadi et al. Selain itu. baik terhadap lahan pertanian maupun lingkungan. Tindak lanjut masalah tanah gambut yang sudah dipecahkan adalah usaha memperbaiki kesuburan tanah digunakan pupuk (makro dan mikro) dan bahan amelioran. orientasi pengembangan pertanian diarahkan untuk meningkatkan produksi secara berkelanjutan (mempertahankan kualitas lahan dan lingkungan) denga cara memperbaiki kesuburan tanah menggunakan sumberdaya alami seperti mendaur ulang limbah pertanian sehingga pemakaian pupuk kimia dapat dikurangi. pemakaian pupuk kimia dengan dosis tinggi secara terus menerus dapat merusak struktur tanah dan menimbulkan pencemaran. dan aplikasi mikrobia pelapuk bahan organik (Poeloengan et al. selain memberikan dampak positif terhadap peningkatan produksi. menjadi faktor penyebab kerusakan lahan gambut yang cukup signifikan. dan meningkatkan ketersediaan P untuk tanaman.1997). Rendahnya pH dan besarnya kapasitas sangga tanah gambut menyebabkan banyak diperlukan kapur untuk meningkatkan setiap satuan pH. Pertanian yang hanya bertumpu pada pemakaian pupuk kimia. Dalam era lingkungan dan globalisasi. Pembuatan abu sebagai bahan amelioran dilakukan petani bersamaan dengan musim kemarau. menetralkan Al. Gambut mempunyai sifat khas. 1995). Dari hasil-hasil penelitian disimpulkan bahwa salah satu kegiatan pertanian yang memberikan kontribusi yang nyata bagi rusaknya ekosistem gambut adalah kegiatan pembukaan lahan gambut dengan cara bakar. Kendala utama yang dihadapi dalam pengembangan pertanian di lahan pasang surut (gambut) adalah adanya lapisan gambut tebal dan lapisan pirit (FeS02). dan dikatakan tidak subur jika KB-nya kurang dari 50% (Tan. (1997) memperlihatkan bahwa bahan-bahan amelioran dapat menetralkan asam-asam organik yang bersifat meracuni. pengapuran untuk menaikkan pH tanah (Mawardi et al. dan memperbaiki pertumbuhan dan produksi tanaman. Pupuk mikro digunakan pada tanah gambut dengan kedalaman lebih dari 1 m. 1996).

selain juga dapat digunakan untuk bahan bakar. Gambut tropika umumnya tersusun dari bahan kayu sehingga banyak mengandung lignin. Selain itu juga dengan semakin meningkatnya penyusutan kawasan gambut dapat mengakibatkan terganggunya tatanan tata air di kawasan gambut karena sifat gambut yang besar dalam menyimpan air yaitu antara 200 – 800 % bobot (Nugroho et al. Oksidasi pirit akan menyebabkan pemasaman tanah karena diikuti oleh pelepasan ion ion sulfat dan besi. 1974). Dalam konteks konservasi lahan gambut maka upaya untuk menghindarkan terjadinya degradasi lahan adalah bagaimana mempertahankan lapisan gambut pada batas antara 25 – 50 cm bergantung sistem usahatani yang dikembangkan dan mencegah terjadinya oksidasi pirit berlebihan. dan protein. sehingga memungkinkan fungi dan bakteri berkembang untuk merombak senyawa sellulosa. bakteri yang banyak ditemukan pada gambut tropika adalah Pseudomonas selain fungi white mold dan Penecilium (Suryanto. Tanah gambut mempunyai kandungan bahan organik yang tinggi (>12% C. 1997). Penelitian tentang dekomposisi gambut di Palangkaraya menunjukkan bahwa dekomposisi permukaan gambut terutama disebabkan oleh dekomposisi aerob yang dilaksanakan oleh fungi (Moore and Shearer. Hasil pemetaan pada sebagian besar kawasan gambut di Kalimantan. karbon) dan kedalaman gambut minimum 50 cm. dibagian 80 cm teratas profil tanah. tetapi pada keadaan kering atau drainase berlebihan maka pirit menjadi labil dan mudah teroksidasi. 1977). Pada keadaan jenuh air pirit stabil dan tidak berbahaya. 1978). Setelah gambut didrainase untuk tujuan pertanian maka kondisi gambut bagian permukaan tanah menjadi aerob. aluminum dalam larut tanah. Pirit mempunyai sifat yang unik dan tergantung pada keadaan air (Van Breemen dan Pons. Oleh karena itu penyusutan atau kehilangan lapisan atas (gambut) dapat menyebabkan terjadinya pemasaman tanah dan pencemaran terhadap lingkungan. kaya bahan organik dan diperkaya oleh sulfat larut yang berasal dari laut. hemisellulosa. Tanah gambut diklasifikasikan sebagai Histosol dalam sistem Klasifikasi FAO UNESCO (1994) yaitu yang mengandung bahan organik lebih tinggi daripada 30 persen. ameliorasi tanah dan untuk menyerap zat pencemar lingkungan. Pseudomonas merupakan bakteri yang mampu merombak lignin(Alexander. Lahan gambut merupakan lahan yang berasal dari bentukan gambut beserta vegetasi yang terdapat diatasnya terbentuk di daerah yang topografinya rendah. Sifat Biologi Menurut Waksman dalam Andriesse (1988) perombakan bahan organik saat pembentukan gambut dilakukan oleh mikroorganisme anaerob dalam perombakan ini dihasilkan gas methane dan sulfida. selanjutnya akan menghancurkan struktur mineral liat tanah sehingga meningkatkan kadar asam. C.Soepraptohardjo. Sedangkan pirit adalah suatu mineral endapan marin yang terbentuk pada tanah yang jenuh air. media pembibitan. dan akuakultur. Gambut merupakan sumberdaya alam yang banyak memiliki kegunaan antara lain untuk budidaya tanaman pertanian maupun kehutanan. .. besi. 1997). 1991). dan bercurah hujan tinggi atau di daerah yang suhunya sangat rendah. dalam lapisan setebal 40 cm atau lebih. termasuk kawasan pengembangan lahan gambut (PLG) sejuta hektar berada pada endapan marin yang kaya pirit pada kedalaman yang beragam antara 25 – 100 cm lebih.

Salah satu teknik pengelolaan air di lahan gambut dapat dilakukan dengan membuat parit/saluran. 40 – 80 persen kebutuhan nitrogen kedelai dapat disuplai melalui simbiosis kedelai dan bakteri bintil akar (B. Lahan gambut yang sering menerima luapan air sungai relatif lebih subur dibandingkan lahan gambut yang semata-mata hanya menerima limpasan/curahan air hujan. et a1. Mengendalikan keberadaan air tanah di lahan gambut sesuai dengan kebutuhan tanaman yang akan dibudidayakan. sehingga tata air menjadi kebutuhan mutlak (Yardha. 2005). Kedelai adalah tanaman yang sangat banyak memerlukan nitrogen. et a1. Tingkah laku dari keduanya akan berpengaruh terhadap tinggi dan lama genangan air di lahan gambut dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap tingkat kesuburan lahan serta pola budidaya tanaman yang akan diterapkan di atasnya. namun mempunyai ketersedian hara makro dan mikro yang sangat rendah. 1998. Gambut memiliki ketersediaan N yang rendah. Selain itu path musim penghujan akan terjadi penggenangan air dan path musim kemarau akan terjadi kekeringan. • Teknologi Pengelolaan Air di Lahan Gambut Pengelolaan air di lahan gambut bertujuan untuk mengatur pemanfaatan sumber daya air secara optimal sehingga didapatkan hasil/produktivitas lahan yang maksimal. tapi juga tidak tergenang di musim hujan.Pada berapa penelitian di lahan gambut Jawai (Kab Sambas) dan Jangkang (Kab Pontianak) dapat diisolasi bakteri Bradyrhizobium japonicum yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan hasil kedelai di lahan gambut. Lahan gambut dicirikan dengan kandungan bahan organik yang tinggi. D. Pengaturan Tata Air Pada Tanah Gambut Lahan marginal seperti lahan gambut dapat ditingkatkan menjadi lahan produktif dengan menerapkan teknologi yang tepat guna. Sifat luapan/pasang surut air sungai yang jangkauannya dapat mencapai lahan gambut dapat disiasati untuk mengatasi berbagai kendala pertanian di lahan gambut. • Sumber Air di Lahan Gambut Sebagai salah satu jenis lahan rawa. Yusuf. Mencuci asam-asam organik dan anorganik serta senyawa lainnya yang bersifat racun terhadap tanaman dan memasukan (suplai) air segar untuk memberikan oksigen. japonicum ). . keberadaan air di lahan gambut sangat dipengaruhi oleh adanya hujan dan pasang surut/luapan air sungai. dengan tujuan: 1. Inokulasi B japonicum asal Jawai dan Jangkang yang efektif dapat meningkatkan kandungan N dan hasil tanaman kedelai (Sagiman dan Anas. kemasaman tanah tinggi. serta sekaligus mempertahankan kelestarian sumber daya lahan tersebut. 1999). 2. misalnya untuk mencuci zat-zat beracun atau asam kuat yang berasal dari teroksidasinya pirit dan mengatur keberadaan air sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. Hal demikian dapat dicapai dengan membuat pintu air (flapgate) yang dapat mengatur tinggi muka air tanah gambut sekaligus menahan air yang keluar dari lahan. Artinya: gambut tidak menjadi kering di musim kemarau.

Parit dibuat secara bertahap dan diselaraskan dengan kondisi perubahan lahan. Parit dapat dipandang sebagai saluran sekunder bila sungai dipandang sebagai saluran primer. akibatnya bahan-bahan beracun dan juga senyawa asam menumpuk/terakumulasi di dalam saluran dan menyebabkan mutu air menjadi jelek. selain meningkatkan kesuburannya adalah mengendalikan tinggi muka air di dalamnya sehingga gambut tetap basah tapi tidak tergenang dimusim hujan dan tidak kering di musim kemarau.3. Kondisi di atas dapat diatasi dengan mengangkat/ membuang endapan dari dalam saluran atau memisahkan saluran air masuk/irigasi (inlet) dengan air keluar/drainase (outlet). Kondisi demikian menyebabkan penyumbatan saluran sehingga proses pergantian air di dalam petakan lahan tidak berlangsung sempurna.Lahan gambut merupakan salah satu jenis lahan rawa yang selalu jenuh air atau tergenang. Penerapan sistem parit biasanya diawali dengan usaha pembukaan lahan (reklamasi) dengan merintis dan memotong/menebang pohon-pohon besar. Memanfaatkan keberadaan air di dalam saluran sebagai media budidaya ikan. dikiri dan kanan parit dibuat pematang-pematang yang umumnya digunakan sebagai jalan sekaligus sebagai batas kepemilikan lahan. Beberapa teknik pengelolaan air yang telah lama dikembangkan di lahan rawa (termasuk gambut) antara lain: (1) Sistem parit/handil di tepi sungai. Sistem parit/handil di tepi sungai Pengelolaan lahan pertanian dengan sistem parit/handil ini. dan pada saluran ini sering terjadi pendangkalan yang diakibatkan oleh endapan lumpur sungai. Sistem parit/handil dicirikan oleh: . Pekerjaan ini dilakukan secara berkelompok dan bertahap serta dimulai dari tepi sungai tegak lurus kearah pedalaman. kondisi demikian menjadikan lahan gambut sulit untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian. Parit dibuat dari pinggir sungai yang mengarah tegak lurus ke arah daratan. Selain itu keberadaan air di dalam parit akan berfungsi sebagai sekat bakar yang dapat mencegah terjadinya kebakaran di lahan gambut. Kedua sistem ini mempunyai kelemahan yaitu aliran air yang masuk atau keluar dari petakan lahan gambut (pada saat pasang-surut/luapan berlangsung) terjadi pada satu saluran yang sama. pengaruh pasang surut (kedalaman muka air) dan ketebalan gambut. Salah satu faktor kunci keberhasilan pengembangan pertanian di lahan gambut. baik budidaya aktif (dimana benih ikan ditebarkan di dalam saluran) maupun budidaya pasif (dimana parit/saluran digunaan sebagai perangkap ikan ketika sungai di sekitarnya meluap). sebagai sarana transportasi hasil panen. Pengaturan tinggi muka air yang tepat juga dimaksudkan agar proses pencucian bahan beracun berjalan dengan lancar sehingga tercipta media tumbuh yang baik bagi tanaman. 1. telah dikembangkan sejak dahulu kala oleh petani di lahan gambut pedalaman Kalimantan. dan (2) Sistem saluran model garpu di lahan pasang surut (dikembangkan oleh Universitas Gajah Mada).

Sistem saluran model garpu di lahan pasang surut Pengaturan tata air dengan sistem garpu (Gambar 2) telah dikembangkan oleh Universitas Gajah Mada (UGM) pada lahan pasang surut. apabila gambut mengalami pengeringan yang berlebihan sehingga koloid gambut menjadi rusak dan kering. Pada kanan dan kiri parit dibuat tanggul/pematang untuk ditanami buah-buah yang berfungsi sebagai penguat tanggul agar tidak longsor. surjan atau lahan kering. Lebar parit/handil berukuran 5 meter dan semakin menyempit ke arah hulu parit. Di atas pematang ini. Struktur tinggi/operasional pintu-pintu air tersebut disesuaikan dengan penggunaan lahannya. air akan mendorong pintu sehingga air dapat masuk ke dalam parit-parit petakan lahan. Untuk mengatur air pasang surut.4 km dari tepi sungai ke arah pedalaman. tetapi sewaktu surut. 3. 5. yaitu lahan-lahan yang terletak di dataran pantai atau dataran dekat sungai. pertama sebagai saluran drainase (pembuangan) apabila air surut dan kedua sebagai saluran irigasi (mengairi) apabila air pasang. maka perlu dilakukan pengangkatan/pembuangan lumpur secara rutin setiap bulan sekali. . Pada setiap jarak 500 meter dibuat parit cacing yang berfungsi untuk memasukan dan mengeluarkan air pada petakan pertanaman. karena dirancang untuk areal pertanian yang cukup luas dan menggunakan alat-alat berat. Kebakaran Lahan Gambut Kendala lain pada tanah gambut adalah kebakaran gambut hal ini dapat merugikan. 1996). Aliran air dalam parit adalah dua arah atau bolak balik. 4.5 . Gambut akan kehilangan air tersedia setelah 4 . maka dibuat pintu-pintu air yang dikenal dengan sebutan flapgate yaitu pintu otomatis yang ketika pasang. 6. juga dapat dibuat pondok-pondok. maka pada parit dipasang tabat untuk mencegah keluarnya air sewaktu surut tetapi sewaktu pasang air dapat mudah masuk dalam petakan. 2. luapan air akan tertahan dan genangan pada lahan usaha yang ditimbulkan terbatas. 7. Lahan usahatani umumnya berjarak 0.5 minggu pengeringan dan ini mengakibatkan gambut mudah terbakar.1. karena sudah ada tanggul sungai yang terbentuk secara alami sehingga bila sungai pasang atau banjir. 2. atau sampai ke ketebalan gambut maksimum 1meter. Untuk mencegah agar parit tidak tersumbat oleh endapan lumpur. Terjadi gejala kering tak balik (irreversible drying) dan gambut berubah sifat seperti arang sehingga tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air (Subagyo et al. Kelemahan sistem garpu: Biaya pembuatan sistem garpu terlalu mahal. E. Untuk mempertahankan keberadaan air di lahan/petakan. apakah untuk sawah. air akan tertahan di dalam paritparit petakan lahan. Parit dibuat biasanya berfungsi ganda. Di bagian tepi sungai biasanya tidak dibuatkan pematang. baik terpengaruh secara langsung maupun tidak langsung oleh pasang surut.

yakni di kawasan antara Sungai Kalimantan dan Cempaka (sekarang Sungai Sampit dan Katingan) di Kalimantan Tengah. Selanjutnya pada tahun 1987 kebakaran hutan dalam skala besar terjadi lagi di 21 propinsi terutama di Kalimantan Timur. Faktor manusia yang dapat memicu terjadinya kebakaran meliputi pembukaan lahan dalam rangka pengembangan pertanian berskala besar. pemicu utama terjadinya kebakaran adalah adanya kegiatan dan atau kecerobohan manusia. Parish. Begitulah kebakaran besar terjadi lagi pada tahun 1991. telah membakar sekitar 1.6 juta ha hutan termasuk sekitar 500... 1998). sehingga sejak saat itu timbul anggapan bahwa kebakaran hutan adalah bencana alam akibat kemarau panjang dan kering karena ENSO. Statistik Kehutanan Indonesia telah mencatat adanya kebakaran hutan sejak tahun 1978. 2002).000 ha di Kalimantan. 1994 dan 1997 di 24 propinsi di Indonesia. 2002.. Kebakaran hutan dan lahan pada tahun 1997 dinyatakan sebagai yang terburuk dalam 20 tahun terakhir. • Penyebab Kebakaran Kebakaran hutan dan lahan gambut selama musim kering dapat disebabkan atau dipicu oleh kejadian alamiah dan kegiatan atau kecerobohan manusia. dan lama kejadiannya dari 14 bulan hingga 22 bulan (Singaravelu. Kebakaran hutan tropika basah di Indonesia diketahui terjadi sejak abad ke-19.5 juta ha lahan gambut di Indonesia (BAPPENAS. yang terjadi bersamaan dengan munculnya periode iklim panas ENSO.Kebakaran hutan dan lahan gambut di wilayah tropika terutama di Asia Tenggara sudah terjadi selama 20 tahun terakhir ini. yang nampaknya cocok benar dengan periode iklim panas ENSO rata-rata 5 tahun.000 ha lahan gambut di Kalimantan Timur (Page et al. yang 90–95% kejadian kebakaran dipicu oleh faktor ini. meskipun kebakaran besar yang diketahui oleh umum terjadi pada tahun 1982/1983 telah menghabiskan 3. piknik dan perburuan. 2002). Periode panas ini dapat terjadi setiap 3–7 tahun. 2005). Pembukaan dan persiapan lahan oleh petani dengan cara membakar merupakan cara yang murah dan cepat terutama bagi tanah yang berkesuburan rendah. 2002). kebakaran hutan dan lahan di Indonesia berulang setiap lima tahun. Kebakaran tersebut terjadi umumnya selama musim kering yang terimbas oleh periode iklim panas atau dikenal sebagai El Nino-Southern Oscilation (ENSO). termasuk 750. 2002) dan di Sumatra (Sanders. yang rusak akibat kebakaran hutan tahun 1877. Meskipun demikian. dan kegiatankegiatan rekreasi seperti perkemahan. Atas dasar rekaman sejarah tersebut di atas. kegiatan ini dapat memicu terjadinya kebakaran.. terus meningkat ke akhir tahun dan berpuncak pada pertengahan tahun berikutnya. Hanya saja jika tidak terkendali. kegiatan pembukaan dan persiapan lahan baik oleh perusahaan maupun masyarakat merupakan penyebab utama terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut. Pemanasan ini biasanya bermula pada bulan Oktober. . persiapan lahan oleh petani. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa cara ini cukup membantu memperbaiki kesuburan tanah dengan meningkatkan kandungan unsur hara dan mengurangi kemasaman (Diemont et al. Musa & Parlan. dan pelepasan gas metana (CH4) telah diketahui dapat memicu terjadinya kebakaran (Abdullah et al. 2000. Kejadian alamiah seperti terbakarnya ranting dan daun kering secara serta-merta (spontan) akibat panas yang ditimbulkan oleh batu dan benda lainnya yang dapat menyimpan dan menghantar panas. Menurut pengalaman di Malaysia (Abdullah et al. Kebakaran selama musim kering pada tahun 1997. 2002).

Selain itu. Di samping itu. Di kawasan bergambut. gangguan atas dinamika flora dan fauna. gangguan atas kualitas udara dan kesehatan manusia. . ujung api bergerak secara zigzag dan cepat.29 cm jam-1 (atau 29 cm hari-1). Berdasarkan pengamatan lapangan (Usup et al. Ujung api bergerak dan menyebar ke arah kubah gambut (peat dome) dan perakaran pohon dengan kecepatan rata-rata 1. kehilangan potensi ekonomi. Dari uraian di atas jelas bahwa kebakaran hutan dan lahan gambut dapat meninmbulkan dampak/akibat buruk yang lebih besar dibandingkan dengan kebakaran yang terjadi di kawasan tidak bergambut (tanah mineral). 2000. Kebakaran tipe kedua ini paling berbahaya karena menimbulkan kabut asap gelap dan pekat. Siegert et al. yaitu tipe lapisan permukaan dan tipe bawah permukaan. yang biasanya terjadi pada gambut dangkal atau pada hutan dan lahan berketinggian muka air tanah tidak lebih dari 30 cm dari permukaan. 2003) ada dua tipe kebakaran lapisan gambut. yang sebarannya semakin banyak ke arah saluran pengatusan (drainase) yang telah dibangun (Jaya et al. ancaman kebakaran terutama terjadi dalam kawasan hutan dan lahan gambut yang telah direklamasi. Page et al. bahkan oleh hujan lebat sekalipun.Dalam skala besar. 2000). 2000.4 juta hektar di Kalimantan Tengah diliputi oleh titik titik panas (hot spots). dan gangguan atas sistem transportasi dan komunikasi. Tipe yang kedua adalah terbakarnya gambut di kedalaman 30–50 cm di bawah permukaan.000 ha kawasan PPLG di Kalimantan Tengah telah terbakar selama kebakaran tahun 1997 (Page et al. dengan panjang proyeksi sekitar 10–50 cm dan kecepatan menyebar rata-rata 3. Akibat kebakaran hutan dan lahan gambut antara lain adalah kehilangan lapisan serasah dan lapisan gambut. cara penanganannya pun berbeda. 2002). Pada tipe yang pertama ini. Tipe yang pertama dapat menghanguskan lapisan gambut hingga 10–15 cm. Ancaman itu memang akhirnya terjadi bahwa sekitar 500. kebakaran tipe ke-2 ini sangat sulit untuk dipadamkan. • Akibat Kebakaran Kebakaran hutan dan lahan gambut dapat berakibat langsung dan tidak langsung atas lingkungan di dalam tapak kejadian (on site efect) atau di luar tapak kejadian (of site efect). • Sifat Kebakaran Sifat kebakaran yang terjadi di kawasan hutan dan lahan gambut berbeda dengan yang terjadi di kawasan hutan dan lahan tanah mineral (bukan gambut). karena karakteristik kebakaran di kawasan bergambut yang khas daripada di kawasan tidak bergambut. stabilitas lingkungan. dedaunan dan bekas kayu yang gugur. kebakaran tidak hanya menghanguskan tanaman dan vegetasi hutan serta lantai hutan (forest floor) termasuk lapisan serasah. tetapi juga membakar lapisan gambut baik di permukaan maupun di bawah permukaan. Kasus kebakaran hutan dan lahan gambut pada tahun 1997 menunjukkan bahwa sekitar 80% dari luas lahan Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PPLG) 1. dan melepaskan gas pencemar lainnya ke atmosfer.83 cm jam-1 (atau 92 cm hari-1).

Dampak utama kebakaran hutan dan lahan gambut adalah asap yang mempengaruhi jarak pandang dan kualitas udara.. serba-cakup (comprehensive).125 asma. hilangnya vegetasi akan mengurangi penyerapan CO2 sehingga meningkatkan efek rumah kaca dan hutan juga kehilangan fungsi pengaturan iklimnya. Pada kebakaran tahun 1997 berkurangnya jarak pandang di beberapa kota di Kalimantan dan Sumatra antara bulan Mei dan Oktober telah mengakibatkan penundaan jam terbang dan bahkan penutupan beberapa bandar udara. dan terpadu. Pengelolaan atas kebakaran hutan lahan gambut meliputi upaya pencegahan dan pengendalian. 41.4 trilyun untuk delapan propinsi kawasan bergambut di Kalimantan dan Sumatra. terutama di daerah-daerah yang banyak dijumpai kebakaran hutan dan lahan gambut. 2002). 298.145 bronkitis. • Pencegahan kebakaran . dengan melibatkan semua pihak yang berkepentingan (stake holder). termasuk di Kalimantan Selatan yang dijumpai 69 kasus kematian. kebakaran tahun 1997 telah merusak vegetasi hutan sehingga kerapatan pohon berkurang hingga 75% (D’Arcy & Page. Pelepasan C ini berdampak luar biasa atas emisi gas karbondioksida (CO2) ke atmosfer. Akibat utamanya adalah terganggunya fungsi hidrologis dan pengaturan iklim. Kerugian ekonomi pada sektor kehutanan akibat kebakaran tahun 1997 mencapai Rp 2.095 bronkitis.761 kasus ISPA.. Akibat ini bisa terjadi selama bertahun-tahun tergantung kemampuan untuk memulihkan. dan 1. dan pada kesehatan manusia serta flora dan fauna.120 ISPA (infeksi saluran pernafasan akut). Jumlah kasus selama bulan September–November 1997 di delapan propinsi di Kalimantan dan Sumatra tercatat 527 kematian. asap yang dihasilkan telah mengakibatkan gangguan kesehatan terutama masyarakat miskin. Di beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatra. Selain itu.6 Gt C. Sedangkan di sektor pertanian kerugiannya mencapai Rp 718 milyar. akibat rendahnya kecepatan angin permukaan. 8. dan 202. Asap bertahan cukup lama di lapisan atmosfer permukaan. Kebakaran hutan dan lahan gambut juga berdampak atas hilangnya beberapa potensi ekonomi terutama di sektor kehutanan dan pertanian.800 asma. ibu hamil dan anak balita. Akibat tidak langsung dari kebakaran lahan gambut merupakan akibat lanjutan (postefect) yang dihasilkan ketika proses pemulihan hutan dan lahan gambut baik secara alamiah maupun buatan manusia belum mencapai titik pulih.2–0. yang turut berperan dalam pemanasan global (Siegert et al. lanjut usia. Hilangnya vegetasi dan terbukanya hutan dan lahan gambut menyebabkan debit aliran permukaan dan erosi akan meningkat dalam musim hujan sehingga dapat menyebabkan banjir. Kedua upaya itu harus dilakukan secara sistematis. 2000). 58. karena kehilangan lapisan gambut. Ketebalan itu setara dengan pelepasan karbon (C) sebanyak 0. 2002). Selain itu.Kasus kebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan Tengah pada tahun 1997 telah menghilangkan lapisan gambut 35–70 cm (Jaya et al. Kehilangan lapisan gambut ini berakibat atas kestabilan lingkungan.446. Lapisan asap ini berdampak serius pada sistem transportasi udara.

Pengembangan sistem penegakan hukum. peta resiko kebakaran yang berkaitan dengan sebab musabab terjadinya kebakaran. Kegiatan ini akan memberikan gambaran secara kartografik terhadap kerawanan kebakaran. dan peta sejarah kebakaran yang penting untuk evaluasi penanggulangan kebakaran. Hal ini mencakup penyelidikan terhadap penyebab kebakaran serta mengajukan pihak-pihak yang diduga menyebabkan kebakaran ke pengadilan. pemberian ijin bagi kegiatan. Pengembangan sistem kepemilikan lahan secara jelas dan tepat sasaran. data hidrologis (kedalaman muka ir tanah dan kadar lengas tanah).Tindakan pencegahan merupakan komponen terpenting dari seluruh sistem penanggulangan bencana termasuk kebakaran. dan data bahan yang dapat memicu timbulnya api. perencanaan tata guna hutan/lahan. 6. yaitu sejak penetapan fungsi wilayah. Penatagunaan lahan sesuai dengan peruntukan dan fungsinya masing-masing. Bila pencegahan dilaksanakan dengan baik. hingga pemantauan dan evaluasi. 3. serta sistem produksi kayu yang tidak rentan terhadap kebakaran. dan memulihkan hutan dan lahan gambut yang telah rusak. dengan mempertimbangkan kelayakannya secara ekologis di samping secara ekonomis. Pencegahan kebakaran diarahkan untuk meminimalkan atau menghilangkan sumber api di lapangan. • Pengendalian kebakaran . atau dengan pembakaran yang terkendali (controlled burningbased land clearing). Pengembangan sistem informasi kebakaran yang berorientasi kepada penyelesaian masalah. Gambarannya dapat berupa peta bahaya kebakaran yang berhubungan dengan kondisi mudahnya terjadi kebakaran. Pengembangan sistem budidaya pertanian dan perkebunan. Upaya ini pada dasarnya harus dimulai sejak awal proses pembangunan sebuah wilayah. 5. Pencegahan perubahan ekologi secara besar-besaran diantaranya dengan membuat dan mengembangkan pedoman pemanfaatan hutan dan lahan gambut secara bijaksana (wise use of peatland). 2. seperti pembukaan dan persiapan lahan tanpa bakar (zero burning-based land clearing). 4. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya api di antaranya: 1. Hal ini mencakup pengembangan sistem pemeringkatan bahaya kebakaran (Fire Danger Rating System) dengan memadukan data iklim (curah hujan dan kelembaban udara). Program ini diharapkan dapat mendorong dikembangkannya strategi pencegahan dan pengendalian kebakaran berbasis masyarakat (community-based fire management). seluruh bencana kebakaran dapat diminimalkan atau bahkan dihindarkan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menghindari pengelolaan lahan yang tidak tepat sesuai dengen peruntukan dan fungsinya. Pengembangan program penyadaran masyarakat terutama yang terkait dengan tindakan pencegahan dan pengendalian kebakaran. 7.

Kegiatan mitigasi bertujuan untuk mengurangi dampak kebakaran seperti pada kesehatan dan sektor transportasi yang disebabkan oleh asap. dan (5) membuat parit-parit api untuk mencegah meluasnya kebakaran beserta dampaknya. (2) menyediakan dan mengaktifkan semua alat pengukur debu di daerah rawan kebakaran. dan ketaatan para pengusaha terhadap ketentuan penanggulangan kebakaran. Kegiatan pertanian dengan membuka lahan baru. apalagi yang masih berhutan. Hal yang paling penting dalam tahap ini adalah membangun partisipasi masyarakat di kawasan rawan kebakaran. Kesiagaan dalam pengendalian kebakaran bertujuan agar perangkat penanggulangan kebakaran dan dampaknya berada dalam keadaan siap digerakkan. harus dihindari/dilarang. Strategi pemadaman api secara konvensional seperti pada kawasan hutan dan lahan tidak bergambut harus dikombinasikan dengan cara-cara khas untuk kawasan bergambut. karena tanah gambut mempunyai daya hantar air cacak (vertikal) yang sangat randah. (4) mengembangkan waduk-waduk air di daerah rawan kebakaran. Beberapa kegiatan mitigasi yang dapat dilakukan antara lain: (1) menyediakan peralatan kesehatan terutama di daerah rawan kebakaran. Pemadaman api di bawah permukaan dengan menyemprotkan air ke atas permukaan lahan tidaklah efektif. Pemadaman api di kawasan bergambut jauh lebih sulit daripada di kawasan yang tidak bergambut. tetapi daya hantar air menyamping (lateral)nya tinggi. Oleh karenanya pemadaman api bertipe ini hanya dapat dilakukan dengan membuat parit yang diairi. seperti yang dilakukan di Malaysia (Musa & Parlan.Kegiatan pengendalian kebakaran meliputi kegiatan mitigasi. Kegiatan pengelolaan lahan rawa gambut untuk pertanian harus diprioritaskan pada kawasan lahan gambut yang telah mengalami kerusakan tetapi memiliki potensi pemanfaatan yang tinggi dengan batas kedalaman tidak lebih dari 1 meter. Tahapan ketiga adalah kegiatan pemadaman api. kesiagaan. seperti sekat bakar diairi (KATIR) yang telah dikembangkan oleh Tim Serbu Api Universitas Palangkaraya. Cara lainnya adalah penyemprotan air melalui lubang yang telah digali hingga batas api di bawah permukaan. Pada tahap ini usaha lokal untuk memadamkan api menjadi sangat penting karena upaya di tingkat lebih tinggi memerlukan persiapan lebih lama sehingga dikhawatirkan api sudah menyebar lebih luas. . dan pemadaman api. terutama untuk memadamkan api di bawah permukaan. 2002). (3) memperingatkan pihak-pihak yang terkait tentang bahaya kebakaran dan asap. Hal ini terkait dengan kecepatan penyebaran api yang sangat cepat dan tipe api di bawah permukaan. Pengelolaan lahan gambut harus dilakukan secara terencana dan penuh kehati-hatian agar mutu dan kelestarian sumber daya lahan dan lingkungannya dapat dipertahankan secara berkesinambungan.

Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Ir. Abdul Madjid. (2) Kesuburan Tanah. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. 2009. Diposkan oleh Dr. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah.com. A. MS di 21:46 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Posting Lama Langgan: Entri (Atom) . R. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut.blogspot. http://dasar2ilmutanah. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful