Pengukuran Jangka sorong

2 3

0

5

10

Pembacaan jangka sorong di atas adalah 2,25 cm Mikrometer sekrup
0 5 40 35 30 25

Pembacaan mikrometer sekrup di atas adalah 7,33 mm Zat dan Wujudnya

ρ=

m V
1

ρ adalah massa jenis (kg/m3) atau (g/cm3) m adalah massa (kg) atau (g)

V adalah (m3) atau (cm3) 1 g/cm3 = 1000 kg/m3 Gerak Lurus Gerak Lurus Beraturan (GLB)

v=
v adalah kelajuan (m/s) s adalah jarak (m) t adalah waktu (s)

s t

v=

Σs Σt

Grafik s (m)

v adalah kelajuan rata-rata (m/s) Σs adalah jumlah total jarak tempuh (m) Σt adalah jumlah total waktu tempuh (s)
v (m/s)

t (s) t (s) Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB)

v2 = v1 + a.t s = v1.t + ½.a.t2
2

v1 adalah kelajuan awal (m/s) v2 adalah kelajuan akhir (m/s) a adalah percepatan (m/s2) t adalah waktu (s) Grafik Dipercepat s (m)

Diperlambat s (m)

t (s) v (m/s) v (m/s)

t (s)

t (s) Gaya Resultan Gaya Resultan dua gaya searah :
F1 F2

t (s)

R = F1 + F2
3

Resultan dua gaya berlawanan arah : F2 F1 R = F1 – F2 Resultan dua gaya tegak lurus : F2 R= F1 + F2 2 2 F1 Gaya Berat w adalah gaya berat (N) m adalah massa (kg) g = gaya gravitasi (N/kg) Gaya gesek Gaya gesek terjadi apabila ada dua buah benda atau lebih bersentuhan dan arahnya selalu berlawanan dengan arah gerakbenda Hukum Newton Hukum I Newton 4 w = mg .

maka benda itu akan memberikan gaya reaksi yang besarnya sama tetapi arahnya berlawanan” Faksi = -Freaksi ΣF adalah resultan gaya (N) m adalah massa benda (kg) a adalah percepatan (N/kg) Tekanan Tekanan pada zat padat P= F A P adalah tekanan (N/m2) F adalah gaya (N) 5 .“Sebuah benda akan tetap diam atau bergerak lurus beraturan apabila resultan gaya yang bekerja pada benda itu sama dengan nol” Hukum II Newton ”Percepatan sebuah benda berbanding lurus dengan resultan gaya dan berbanding terbalik dengan massa benda” ΣF = 0 a= ΣF m Hukum III Newton ”Apabila sebuah benda diberikan gaya aksi.

A adalah luas daerah bidang tekan (m2) Tekanan pada zat cair (tekanan hidrostatis) Ph = ρ g h Ph = tekanan hidrostatis (N/m2) ρ adalah massa jenis zat cair (kg/m3) h adalah kedalaman zat cair (m) Hukum Pascal “Tekanan yang diberikan pada zat cair yang memnuhi sebuah ruangan tertutup diteruskan oleh zat cair itu dengan sama kuatnya tanpa mengalami pengurangan ke segala arah” P1 = P2 atau F1 F2 = A1 A2 F1 adalah gaya yang bekerja pada penanmpang 1 (N) A1 adalah luas penampang 1 (cm2) F2 adalah gaya yang bekerja pada penampang 2 A2 adalah luas penampang 2 (cm2) Bejana berhubungan h ρ1 adalah massa jenis zat cair jenis 1 (kg/m3) 1 ρ1 h1 = ρ2 h2 h1 6 .

h1 adalah tinggi permukaan zat cair jenis 1 dari bidang batas yang sama (cm) ρ2 adalah massa jenis zat cair jenis 2 (kg/m3) h2 adalah permukaan zat cair jenis 2 dari bidang batas yang sama (cm) Hukum Archimedes “Sebuah benda yang dicelupkan sebagian atau seluruhnya ke dalam zat cair akan mendapat gaya ke atas sebesar berat zat cair yang didesak oleh benda itu” FA adalah Gaya Archimedes (N) ρzc adalah massa jenis zat cair (kg/m3) V adalah volume benda yang tercelup di air (m3) Mengukur ketinggian suatu tempat dengan barometer h adalah ketingian tempat dari permukaan laut (m) Ptempat adalah tekanan atmosfer ditempat yang dimaksud (diukur dengan barometer) (cmHg) Tekanan pada gas Manometer terbuka FA = ρzc g V h = (76 cmHg – Ptempat) x 100 m Pgas = Pluar + ∆h 7 .

∆h gas ∆h Manometer tertutup gas Pgas = ∆h ∆h Pgas adalah tekanan gas di ruang tertutup (cmHg) Pluar adalah tekanan udara luar (cmHg) ∆h adalah selisih tinggi permukaan air raksa (cm) Terapung.gas ∆h Manometer terbuka Pgas = Pluar . melayang. tenggelam 8 .

ρ b < ρ zc Syarat benda melayang : ρ b = ρ zc Syarat benda tenggelam : ρ b > ρ zc Syarat benda terapung : Hukum Boyle P1V1 tabung 1 P2V2 P3V3 tabung tabung 2 3 ”perkalian antara tekanan dan volume ditabung 1 sama dengan di tabung dua dan sama dengan di tabung tiga” P adalah tekanan gas (atm) V adalah volume gas (m3) 1 N/m2 = 1 Pa 1 atm = 76 cmHg = 101300 Pa Energi dan Usaha Energi Kinetik P1V1 = P2V2 = P3V3 Ek = ½ m v2 Ek adalah energi kinetik (joule) m adalah massa (kg) v adalah kecepatan (m/s) Energi Potensial 9 .

Ep = m g h Ep adalah energi potensial (joule) m adalah massa (kg) g adalah percepatan gravitasi (N/kg) h ketinggian (m) Energi Mekanik EM = Ep + Ek Usaha W adalah usaha (joule) F adalah gaya (N) s adalah perpindahan (m) Daya W=Fs P= W atau P = F v t P adalah daya (J/s atau watt) W adalah usaha (joule) F adalah gaya (N) v adalah kecepatan (m/s) t adalah waktu (s) Pesawat Sederhana Pengungkit Jenis I : F x lk = w x lb 10 .

km = 3 Katrol ganda dengan empat katrol : F = ¼ w. km = 2 Katrol ganda dengan dua katrol : F = ½ w. h F= s w s km = F = h w w F F adalah gaya (N) W adalah berat beban (N) h adalah tinggi bidang miring (m) s adalah panjang bidang miring (m) 11 .km = lk w = F lb F adalah gaya (N) lk adalah lengan kuasa w adalah berat beban (N) lb adalah lengan beban Katrol Katrol tetap : F = w . km = 1 Katrol gerak : f = ½ w. km = 2 Katrol ganda dengan tiga katrol : F = 1/3 w. km = 4 Bidang Miring h s.

km adalah keuntungan mekanik Suhu Konversi skala termometer C : R : (F-32) = 5 : 4 : 9 K = 273 + C Peneraan termometer (X-2) : (C-0) = (100-0) : (98X C 2) 100 98 (X-2) : C = 100 : 96 (X-2) : C = 100 : 96 (X-2) : C = 25 : 24 24(X-2) = 25C 25 X-2 = C 24 25 0 2 X= C+2 24 Jika termometer celcius menunjukkan skala 24 maka termometer X menunjukkan skala 25 .24 + 2 = 27 oX 24 Kalor Uap bersuhu Proses perubahan wujud zat 100 0C es bersuhu 0 0C Q2 Q1 es bersuhu < 0 0 C Q4 Q3 Air bersuhu 100 0 C Air bersuhu 0 0C 12 .

13 .

∆T) L adalah panjang seteralah dipanaskan (cm) Lo adalah panjang sebelum dipanaskan (cm) α adalah koefisien muai panjang bahan (cm/oC) 14 .Uuap m adalah massa zat (kg) c adalah kalor jenis zat (J/kgoC) L adalah kalor lebur es (J/kg) U adalah kalor uap (J/kg) Pemuaian Pemuaian panjang : L = Lo (1 + α.ces.Les Q3 adalah kalor yang digunakan untuk mengubah air bersuhu 0C menjdai air vwersuhu 100 oC yaitu : Q3 = m.∆T Q4 adalah kalor yang digunakan untuk mengubah air bersuhu 100 oC menjadi uap bersuhu 100 oC yaitu : Q4 = m.Q1 adalah kalor yang digunakan untuk mengubah wujud es bersuhu < 0oC menjdai es bersuhu 0oC yaitu : Q1 = m.cair.∆T Q2 adalah kalor yang digunakan untuk mengubah es bersuhu 0 oC menjadi air bersuhu oC yaitu : Q2 = m.

∆T adalah selisih perubahan suhu (oC) Pemuaian Luas A = Ao (1 + β.∆T) V adalah panjang seteralah dipanaskan (cm3) Vo adalah panjang sebelum dipanaskan (cm3) γ adalah koefisien muai volume bahan (cm3/oC) ∆T adalah selisih perubahan suhu (oC) Getaran dan Gelombang Getaran 1 getaran adalah gerak : a-bc-b-a Frekuensi adalah banyaknya getaran setipa detik. a b c 15 .∆T) A adalah panjang seteralah dipanaskan (cm2) Ao adalah panjang sebelum dipanaskan (cm2) β adalah koefisien muai luas bahan (cm2/oC) ∆T adalah selisih perubahan suhu (oC) Pemuaian Volume V = Vo (1 + γ.

T= 1 t atau T = f n f adalah frekuensi (getaran/sekon atau Hz) T adalah periode (s) n adalah banyaknya getaran t adalah waktu (s) Gelombang Tansversal adalah gelombang yang arah rambatnya tegak lurus dengan arah getarnya simpangan p λ λ o r’ p’ q r s t’ λ t u v’ x y kedudukan w x’ v 16 .f= 1 n atau f = T t Periode adalah waktu yang digunakan untuk menempuh 1 getaran.

v adalah dasar gelombang 0pq. t’t. x’x adalah amplitudo Gelombang Longitudinal adalah gelombang yang arah rambartnya searah atau sejajar dengan arah getanya. v’v. t. wxy adalah bukit gelombang Qrs. r s λ λ q p rapatan renggangan v adalah kecepatan (m/s) λ adalah panjang gelombang (m) Bunyi Resonansi Adalah peristiwa ikut bergetarnya sebuah benda karena bergetarnya benda lain yang mempunyai frekuensi sama. x adalah puncak gelombang r. Pengukuran Kedalaman Laut v = λf atau v =T λ S = ½ v.t S adalah kedalaman laut (m) 17 . stu. r’r.1 gelombang (λ) adalah jarak 0-p-q-r-s p. uvw adalah lembang gelombang p’p.

v adalah kecepatan gelombang (m/s) t waktu (s) Resonansi L = ¼ λ (2n . sinar datang. sinar datang dari medium yang kurang rapat menuju medium yang lebih rapat akan dibiasakan mendekati garis normal 18 . garis normal dan sinar pantul terletak pada satu bidang datar 2.1) L adalah panjang kolom udara (m) λ adalahpanjang gelombang (m) n adalah resonansi ke n Cahaya Hukum pemantulan 1. garis normal dan sinar pantul terletak pada satu bidang datar 2. sinar datang. sudut datang sama dengan sudut pantul sinar datang garis normal sinar pantul sudut datang sudut pantul Hukum pembiasan 1.

3. sinar datang dari medium yang lebih rapat menuju medium yang kurang rapat akan dibiasakan menjauhi garis normal air udara Indeks bias n= λ1 c atau n = λ2 v n = indeks bias medium c = kecepatan cahaya diruang hampa udara (m/s) v = kecepatan cahaya dimedium (m/s) λ1 = panjang gelombang cahaya di udara (m) λ 2 = panjang gelombang cahaya di medium (m) Sudut kritis udara air Sumber cahaya Sudut kritis Pemantulan sempurna 19 .

jarak benda ke cermin sama dengan jarak bayangan ke cermin b. cermin datar hal-hal penting pada cermin datar : a.Cermin 1. bayangan bersifat maya d. apabila dua cermin datar disusun sehingga membentuk sudut maka belaku : 360 0 n= -m α n adalah jumlah bayangan α adalah sudut yang dibentuk oleh kedua cermin m = 1 bernilai satu jika genap m = 0 bernilai satu jika ganjil contoh : 360 0 bernilai α 360 0 bernilai α 20 . tinggi benda sama dengan tinggi bayangan c.

3600 3600 3600 -1 = 12 – bernilai genap yaitu -m= 360 0 30 b. m = 0 karena 30 5. n = 30 0 = 5. 300 b. n = -m= 30 1 = 11. 720 jawab : a. cermin cekung dan cermin cembung 1 1 1 + = s s' f s' h' M= = s h 21 .tentukan jumlah bayangan yang terbentuk jika dua buah cermin datar disusun membentuk sudut : a. 3600 360 0 -0=5– bernilai ganjil yaitu 2. m = 1 30 karena 30 12.

bayangan di depan cermin disebut bayangan nyata .bayangan di belakang cermin disebut bayangan maya ( s’ bertanda negatif) . sifat bayangannya selalu maya.untuk cermin cembung jarak fokus dan jarak bayangan selalu bertanda negatif.s adalah jarak benda terhadap cermin (cm) s’ adalah jarak bayangan terhadap cermin (cm) f adalah jarak fokus cermin (cm) M adalah perbesaran bayangan h’ adalah tinggi bayangan h adalah tinggi benda perjanjian tanda : . tegak diperkecil Lensa Pada lensa berlaku hukum pembiasan Lensa cekung dan lensa cembung 1 1 1 + = s s' f M = s' h' = s h 22 .

diperkecil Alat optik Lup disebut juga kaca pembesar yaitu berupa lensa positif (cembung) Fungsi : untuk melihat benda-benda yang kecil agar tampak lebih besar Perbesaran Lup A.s adalah jarak benda terhadap lensa (cm) s’ adalah jarak bayangan terhadap lensa (cm) f adalah jarak fokus lensa (cm) M adalah perbesaran bayangan h’ adalah tinggi bayangan h adalah tinggi benda perjanjian tanda : . tegak. Mata berakomodasi maksimum M = Sn +1 f 23 . sifat bayangannya selalu maya.bayangan di belakang lensa disebut bayangan nyata untuk lensa cekung jarak fokus dan jarak bayangan selalu bertanda negatif.bayangan di depan lensa disebut bayangan maya (s’ bertanda negatif) .

Mata berakomodasi maksimum Perbesaran : M =( ′ s ob s n )( + 1) s ob f ok Panjang : d = s’ob + sok D.B. Mata tidak berakomodasi 24 . Lensa okuler : lensa yang berhadapan dengan mata pengamat Persamaan – persamaan C. Mata tidak berakomodasi M = Sn f M = perbesaran Lup Sn = titik dekat mata (mata normal = 25 cm) f = jarak fokus lensa Mikroskop adalah alat optik yang digunakan untuk mengamati benda-benda yang sangat kecil yang tidak tampak oleh mata telanjang. seperti bakteri dan virus. Lensa objektif : lensa yang berhadapan dengan lensa 2. Tersusun dari dua buah lensa cembung yaitu : 1.

Mata berakomodasi maksimum f ob Perbesaran : M = s ok Panjang : d = fob + sok 25 . A. Teropong Bintang adalah teropong yang digunakan untuk melihat bintang-bintang yang semula tidak tampak atau kabur menjadi lebih jelas.Perbesaran : M =( ′ s ob s n )( ) s ob f ok Panjang : d = s’ob + fok M = perbesaran Mikroskop sob = jarak benda dari lensa objektif s’ob = jarak bayangan yang dihasilkan lensa objektif sn = titik dekat mata (mata normal = 25 cm) fok = jarak fokus lensa okuler d = panjang mikroskop Teropong atau Teleskop adalah alat optik yang digunakan untuk melihat benda-benda yang jauh sehingga tampak lebih dekat dan jelas.

B. misalnya pertunjukkan drama atau tarian f ob Perbesaran : M = f ok Panjang : d = fob + fok M = perbesaran Teropong fob = jarak fokus lensa obyektif fok = jarak fokus lensa okuler sok = jarak benda dari lensa okuler d = panjang Teropong 26 . Mata tidak berakomodasi f ob Perbesaran : M = f ok Panjang : d = fob + fok Teropong Bumi adalah teropong yang digunakan untuk mengamati benda yang cukup jauh dipermukaan bumi f ob Perbesaran : M = f ok Panjang : d = fob + 4 fp + fok Teropong Panggung adalah teropong yang digunakan untuk melihat pertunjukkan yang ditampilkan di panggung.

kuat arus listrik I= Q t I adalah kuat arus listirk ( A) Q adalah muatan listrik ( C ) t adalah waktu (s) 2. Beda Potensiallistrik V= W Q 27 .Listrik Statis Proton adalah muatan positif Elektron adalah muatan negatif Neutron adalah tidak bermuatan qq ' F =k 2 r F adalah gaya tarik atau tolak antar kedua muatan (N) k adalah konstanta Coulomb = 9x109 (Nm2/c2) q adalah muatan pertama (c) q’ adalah muatan kedua (c) r adalah jarak pisah kedua muatan (m) Listrik Dinamis 1.

Gaya gerak listrik (ggl) dan tegangan jepit] I = V = ε .Ir I adalah kuat arus listrik (A) ε adalah ggl (volt) R adalah hambatan listrik (ohm) r adalah hambatan dalam sumber tegangan (ohm) V adalah tegangan jepit (volt) Untuk beberapa sumber tegangan yang dipasang secara seri berlaku persamaan berikut : ε R+r 28 .V adalah beda potensial (volt) W adalah energi listrik (joule) Q adalah muatan listrik ( C ) 3. Hukum Ohm V = IR V adalah beda potensial (volt) I adalah kuat arus listrik (A) R adalah hambatan listrik (ohm / Ω) 4.

I = nε ( R + n. Hambatan penghatar (konduktor) R = ρ R adalah hambatan penghantar (ohm) ρ adalah hambatan jenis penghantar (Ωm) l adalah panjang penghantar (m) A luas penampang penghantar (m2) 6.r ) Untuk beberapa sumber tegangan yang dipasang secara seri berlaku persamaan berikut : ε I = r (R + ) n l A 5. Rangkaian hambatan listrik a. rangkaian seri R1 R2 R R3 S = R1 + R2 + R3 29 .

rangkaian paralel R1 R2 R3 1 1 1 1 = + + Rp R1 R2 R3 7.b. Hukum I Kirchhoff ”jumlah kuat arus yang masuk ke suatu percabangan sama dengan jumlah kuat arus yang keluar percabangan tersebut” Σ I masuk = Σ I keluar Energi dan Daya listrik W = V I t = I2 R t = R P= W t V2 t = V I = I2 R = V2 R W adalah energi listrik (joule) V adalah beda potensial (volt) I adalah kuat arus listrik (A) R adalah hambatan (ohm) P adalah daya listrik (watt) t adalah waktu (s) 30 .

Kemagnetan Gaya Lorentz F = BIL F adalah gaya lorentz (N) B adalah kuat medan magnet (Tesla) I adalah kuat arus listrik (A) L adalah panjang kawat/ penghantar (m) Induksi Elektromagnetik Transformator (travo) Vp Np Is = = Vs Ns Ip Vp adalah tegangan primer (volt) Vs adalah tegangan sekunder (volt) Np adalah jumlah lilitan primer Ns adalah jumlah lilitan sekunder Ip adalah kuat arus primer Is adalah kuat arus sekunder Efisiensi transformator (travo) η= Ps x100% Pp η adalah efisiensi transformator Pp adalah daya primer (watt) 31 .

Ps adalah daya sekunder (watt) 32 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful