Referat

Disusun oleh : Nurmauli 0608120833 Pembimbing: dr. Roy David S, SpTHT-KL

Anatomi Sinus Paranasal

.

Fungsi sinus paranasal membantu keseimbangan kepala. membantu produksi mukus untuk membersihkan rongga hidung . penahan suhu (thermal insulators). membantu resonansi suara.sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning).

Fungsi Sinus Mukosiliar pada kompleks ostiomeatal (KOM) Klirens mukus nasal Patensi ostium sinus .

.

 Multisinusitis  > satu sinus yang terkena.  . pansinusitis  semua sinus yang terkena.Sinusitis  inflamasi mukosa sinus paranasal.

 videoplayback.sinusitis.FLV .

Faktor Lokal Faktor Pencetus Sinusitis • • • • • • Deviasi septum Rinitis alergi Rinitis vasomotor Infeksi gigi Polip nasal Tumor ganas sinus paranasal • Barotrauma • Diskinesia silia Faktor sistemik • Defisiensi imun • Penyakit sistemik .

Biasanya disertai oleh hipertrofi pada sisi yang mengalami deviasi. . aliran turbulensi udara terganggu  gerakan silia terhambat  predisposisi sinusitis .Kelainan anatomi menyumbat ostium sinus.Deviasi septum .

• Rx alergi fase cepat.• Penyakit inflamasi diawali tahap sensitisasi dan tahap provokasi/reaksi alergi. leukotrin. prostaglandin)  edema pada mukosa dan meningkatkan sekresi nasal • Rinitis alergi yang sering dapat menimbulkan komplikasi berupa sinusitis paranasal Rinitis alergi . sel plasma  IgE  berikatan dengan sel mast dan antigen binding protein yang bebas  bertemu dg antigen allergen degranulasi sel mast  mediator inflamasi (histamine. slow reacting substance of anaphylaxis (SRSA).

• Mukosa nasal menjadi edem dan adanya Rinitis hipersekresi sebagai respon terhadap vasomotor perubahan lingkungan. .• Gangguan sistem saraf otonom dan didominasi oleh aktivitas saraf parasimpatik. • Overstimulasi sistem saraf parasimpatik menyebabkan hidung menjadi tersumbat dan running nose.

alveolaris tempat akar gigi rahang atas Infeksi gigi • Infeksi gigi rahang atas : infeksi apikal akar gigi atau inflamasi jaringan periodontal molar/pre mudah menyebar secara langsung ke molar atas sinus. atau melalui pembuluh darah dan limfe  sinusitis .Sinusitis dentogen • Dasar sinus maksila adalah Proc.

. sedangkan yang satunya masuk ke dalam hidung dan terus ke nasofaring. • Menyumbat ostium dan membesar dengan berproliferasi dan edema menjadi suatu Polip nasal ‘struktur bilobus’. • Satu lobus tetap dalam sinus.Polip antrokoanal • Berasal dari mukosa di dekat ostium sinus maksilaris.

.

Tumor ganas sinus paranasal • Karsinoma sel skuamosa  tumor ganas yang paling sering mengenai sinus maksilaris. • Karsinoma adenoid kistik  keganasan sinus kedua yang paling sering ditemukan • Memiliki makna klinis  kemampuan tumor menyumbat sinus dengan pertambahan ukurannya. • Sinus etmoid  tempat kedua yang sering terkena. sedangkan sinus frontalis dan sphenoid jarang terjadi. . • Selanjutnya dapat mempermudah tahaptahap perkembangan sinusitis.

. • Suatu sinus dengan ostium yang tidak kompeten dan terisi cairan serta aliran turbulensi udara pada nasal yang terganggu merupakan lingkungan yang ideal untuk perkembangan sinusitis.• Perubahan tekanan atmosfer lingkungan  ostium terganggu mencegah terjadinya keseimbangan tekanan dalam sinus. • Berenang/menyelam (alat scuba diving)  tekanan negatif intrasinus transudasi Barotrauma cairan dan perdarahan kedalam sinus.

. silia • Tanpa fisioterapi profilaktik  berkembang menjadi bronkiektasis.Kartagener’s syndrome • Pada beberapa pasien dengan kelainan silia seperti pada Kartagener’s syndrome  Diskinesia gejala pada nasal dan sinus.

Defisiensi imun Faktor sistemik Penyakit sistemik .

Gejala serupa sinusitis bakterial.Defisiensi imun .Sinusitis jamur bersifat progresif kronik.Porter dkk  sinusitis pada 54% pasien dengan HIV-positif. tetapi sekret hidungnya kental dengan bercak-bercak kehitaman yang bila dilihat dengan mikroskop merupakan koloni jamur.Sinusitis jamur : infeksi jamur pada paranasal yang umumnya terjadi pada pasien defisiensi imun seperti pasien HIV. . diabetes mellitus.Prasad dkk  gejala sinonasal pada 968 pasien dengan HIV-positif. . . bisa menginvasi sampai ke orbita atau intrakranial. . dan penggunaan kortikosteroid jangka panjang. didominasi kasus sinusitis. .

Penyakit sistemik Sarkoidosis Crohn’s disease .

• Sarkoidosis sinonasal sering disertai dengan gejala tidak spesifik seperti obstruksi hidung. postnasal drip. epistaksis. crusting. • Pemeriksaan endoskopi biasanya tampak mukosa yang hiperplastik dan rapuh dengan kemerahan dan bengkak. Sarkoidosis (Penyakit Boeck) .• Gangguan kronis multisistemik yang tidak diketahui etiologinya. Biasanya ditemukan pada orang dewasa muda • Zeitlin dkk menganalisis 733 kasus sarkoidosis dan menemukan keterlibatan sinonasal. nyeri wajah dan sakit kepala. episode berulang dari sinusitis.

• Dapat melibatkan seluruh bagian saluran cerna. mudah terjadi perdarahan. ulserasi. • Gejala pada hidung : obstruksi hidung. erosi. dan juga epistaksis serta keluhan sinusitis. rhinore. hidung dan juga laring.000 penduduk terkena penyakit ini. • Insiden tahunannya adalah 5.2/100. dan juga nekrosis pada septum atau konka inferior . hiposmia. Crohn’s Disease • Penyebaran ke ekstra intestinal : rongga mulut. • Mukosa nasal terlihat kemerahan secara difus dan hipertrofi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful