You are on page 1of 2

Doa Kedagingan

Yakobus 4:3 Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu. Anda memang tidak sedang salah lihat memang judul renungan ini adalah DOA KEDAGINGAN bukan DOSA KEDAGINGAN. Kita sudah terbiasa dengan istilah DOSA KEDAGINGAN tetapi ngomong-ngomong apa ada yang namanya DOA KEDAGINGAN? Yakobus memberi penjelasan bahwa dalam hidup kita seringkali harapan dan kerinduan hati tidak terwujud sebagaimana yang kita harapkan, hal itu tidak disebabkan oleh karena ketiadaan doa dalam keseharian kita (ayat 2), tetapi juga karena sekalipun berdoa namun doa yang dinaikkan sarat dengan nafsu. Kata nafsu dalam teks ini lebih mengarah pada bentukbentuk kesenangan (Yun. hedone, Ing. pleasure). Yakobus memaksudkan disini bahwa doa yang dinaikkan merupakan suatu upaya untuk menyenangkan diri sendiri. Mungkin akan timbul semacam pertanyaan: apakah tidak boleh kita menaikkan doa yang berangkat dari kerinduan diri sendiri? Dan apakah doa yang kita naikkan yang penuh dengan permintaan pribadi selalu berarti dengan doa yang penuh hawa nafsu? Dan kalau tidak bagaimana cara membedakannya? Yesus pernah mengajarkan sebuah doa tatkala Ia bergumul di taman Getsemani: Ya BapaKu, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi (Lukas 22:42). Yesus menaikkan doa yang bukan karena kesenangan atau nafsu tetapi karena kengerian yang telah Ia bayangkan di depan-Nya. Dalam hal ini doa Yesus memang bukanlah doa yang penuh dengan kedagingan tetapi juga doa itu sendiri tidak berarti telah sesuai dengan kehendak Allah. Kata kunci dalam doa yang tidak kita lupakan adalah sesuai dengan kehendak Allah. Doa tidak akan mengubah kehendak Allah tetapi mengubah kehendak kita menurut kehendak Allah. Dengan berdoa kita

belajar mensejajarkan diri dengan kehendak-Nya. Doa memang membutuhkan iman, tetapi iman bukanlah alat untuk memaksa Tuhan melakukan kehendak kita. Iman adalah sebuah penyerahan dan keyakinan akan tindakan Allah. Doa Yesus di Getsemani adalah doa yang penuh dengan iman karena di dalamnya Ia tidak mengubah kemauan Bapa-Nya tetapi mengatakan kehendak Bapa-lah yang jadi sekalipun Ia punya keinginan tersendiri, dan keinginan-Nya Dia lebur ke dalam keinginan Bapa. Kelihatannya Yesus sangat konsisten dalam pengajaran tentang doa. Di bagian awal pelayanan-Nya Ia pernah mengajarkan doa kepada murid-murid-Nya: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Yesus mengetahui bahwa berdoa berarti meminta kehendak Bapa terjadi baik dalam peristiwa di bumi maupun dalam keputusan Allah di sorga .. Namun bila menyimak kembali apa yang dikatakan Yakobus dengan istilah: sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu, maka doa-doa semacam itu kita golongkan sebagai doa kedagingan. Doa kedagingan itu mencakup: DOA KONSUMERISME Meminta Tuhan untuk memenuhi semua keinginannya untuk punya ini dan punya itu seolah Allah itu lampu Aladin. DOA AMBISIUS Meminta dan memaksa Tuhan untuk bisa membawa dia ke jabatan ini dan itu. DOA EGOIS Meminta Tuhan untuk menguntungkan diri kita dan mengabaikan keuntungan atau keberuntungan orang lain. DOA KEPAHITAN Meminta Tuhan untuk membalas dendam kita terhadap orang yang menyakiti kita. DOA PATAH HATI Ambil nyawa saya saja Tuhan! DOA PENGENDALI Meminta Tuhan untuk melakukan sesuatu agar orang bisa tunduk dan takluk kepada kemauannya. Untuk yang seperti ini, anjuran yang positif dari Alkitab mengatakan: jangan buang waktu dan anggaran untuk berdoa macam begini!. Allah tentunya langsung menggelengkan kepala tanda bahwa Ia tidak setuju dengan cara anak-anak-Nya, sebab mereka tatkala datang di dalam doa masih juga dikuasai oleh kedagingan.