BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah suap adalah salah satu masalah yang sudah sangat lama terjadi dalam masyakat. Pada umumnya suap diberikan kepada orang yang berpengaruh atau pejabat agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang berhubungan dengan jabatannya. Orang yang memberi suap biasanya memberikan suap agar keinginannya tercapai baik berupa keuntungan tertentu ataupun agar terbebas dari suatu hukuman atau proses hukum. Maka tidaklah mengherankan yang paling banyak di suap adalah pejabat di lingkungan birokrasi pemerintah yang mempunyai peranan penting untuk memutuskan sesuatu umpamanya dalam pemberian izin ataupun pemberian proyek pemerintah. Suap sering diberikan kepada para penegak hukum umpamnya polisi, jaksa, hakim. Demikian juga kepada para pejabat bea cukai, pajak dan pejabat-pejabat yang berhubungan denga pemberian izin baik beruap izin berusaha, izin mendirikan bangunan dan lain-lain. Suap juga ditemukan dalam penerimaan pegawai, promosi maupun mutasi, bahkan saat ini suap disinyalir telah merambah ke dunia pendidikan baik dalam tahap peneriman mahasiswa/siswi baru, kenaikan kelas, kelulusan bahkan untuk mendapatkan nilai tertentu dalam ujian mata pelajaran atau mata kuliah. Untuk mendapatkan anggaran tertentu dari pemerintah pun saat ini ditengarai diwarnai suap agar mendapatkan jumlah anggaran yang diinginkan. Saat ini pejabat yang berwenang untuk mengeluarkan surat keterangan ataupun identitas juga rawan denga suap umpamanya surat keterangan mengenai umur, status perkawinan untuk calon TKI, pembuatan paspor, KTP, SIM dan lain-lain. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa suap sudah mewarnai hampir semua aspek kehidupan dan aktivitas masyarakat. Masalah suap sudah menjadi masalah yang multi dimensional karena menyangkut masalah sosial, moral, hukum, ekonomi bahkan masalah keamanan. Suap (bribery) bermula dari asal kata briberie (Perancis) yang artinya adalah ’begging’ (mengemis) atau ’vagrancy’ (penggelandangan). Dalam bahasa Latin disebut briba, yang artinya ’a piece of bread given to beggar’ (sepotong roti yang diberikan kepada pengemis). Dalam perkembangannya bribe bermakna ’sedekah’ (alms), ’blackmail’, atau ’extortion’ (pemerasan) dalam kaitannya dengan ’gifts received or given in order to influence corruptly’ (pemberian atau hadiah yang diterima atau diberikan dengan maksud untuk

memengaruhi secara jahat atau korup). Dengan demikian seseorang yang terlibat dalam perbuatan suap-menyuap sebenarnya harus malu apabila menghayati makna dari kata suap yang sangat tercela dan bahkan sangat merendahkan martabat kemanusiaan, terutama bagi si penerima suap. Suap juga diindikasikan dapat menimbulkan bahaya terhadap keamanan umat manusia (human security) karena telah merambah ke dunia pendidikan, kesehatan, penyediaan sandang pangan rakyat, keagamaan, dan fungsi-fungsi pelayanan sosial lain. Dalam kerangka penyuapan di dunia perdagangan, baik yang bersifat domestik maupun transnasional, suap jelas-jelas telah merusak mental pejabat. Demi mengejar kekayaan, para pejabat negara tidak segan-segan melanggar code of conduct sebagai aparatur negara. Dengan demikian, tampak bahwa elemen tindak pidana suap sebagai bagian dari korupsi tidak harus mengandung secara langsung unsur "merugikan keuangan negara atau perekonomian negara". Dalam suap-menyuap yang merupakan hal yang tercela adalah penyalahgunaan kekuasaan, perilaku diskriminatif dengan memberikan privilese atas dasar imbalan keuntungan finansial dan lain-lain, pelanggaran kepercayaan yang merupakan elemen demokrasi, rusaknya mental pejabat, ketidakjujuran dalam berkompetisi, bahaya terhadap human security, dan sebagainya. Reformasi (reform movement) harus ditafsirkan sebagai upaya sistematik untuk mengaktualisasikan nilai-nilai dasar (indexs) demokrasi. Menciptakan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN merupakan salah satu agenda reformasi di samping amandemen UUD 1945, promosi dan perlindungan HAM, penyelenggaraan pemilihan umum yang jujur dan adil, penguatan civil society, kebebasan berserikat dan berkumpul, kebebasan pers, desentralisasi (otonomi daerah), supremasi sipil, dan lain-lainnya. Bagi Indonesia yang sejak tahun 1998 berada di Era Reformasi, penanggulangan korupsi yang sudah bersifat sistemik dan endemik, termasuk suap-menyuap (yang oleh mantan Presiden Bank Dunia James Wolfensohn disebut sebagai "the cancer of developing countries") merupakan salah satu agenda reformasi yang harus dituntaskan. Pelbagai substansi hukum (legal substance) telah dibangun untuk memberantas KKN dan menciptakan penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas KKN seperti Tap MPR No XI/MPR/1998 dan UU No 28 Tahun 1999, UU No 31 Tahun 1999 jo UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, UU No 15 Tahun 2002 jo UU No 25 Tahun

2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, UU No 30 Tahun 2002 tentang Pembentukan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Bahkan Indonesia telah meratifikasi UN Convention Against Corruption 2003. Dalam konvensi ini ada empat hal yang menonjol, yaitu penekanan pada unsur pencegahan, kriminalisasi yang lebih luas, kerja sama internasional, dan pengaturan lembaga asset recovery untuk mengembalikan aset yang dilarikan ke luar negeri. Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan suap sudah menjadi budaya buruk masyarakat yang membahayakan, sehingga perlu untuk dicegah. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu diketahui faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan terjadinya suap. B. Rumusan Masalah Berdasarkan wacana di atas maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut : 1. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi suap ? 2. Bagaimanakah kebijakan hukum pidana baik bersifat prefentif maupun represif dalam menanggulangi praktik suap ? BAB II PEMBAHASAN A. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Suap Suap terjadi sebagai ungkapan gejala venalitas yang makin merebak. Secara sosiologis, istilah venalitas menunjuk pada suatu keadaan saat uang bisa digunakan membayar hal-hal yang secara hakiki tidak bisa dibeli dengan uang. Keadilan bisa dipertukarkan dengan uang. Begitu pula dengan pasal-pasal dalam kebijakan. Dalam uang, terdapat faktor ekonomi yang bernama keuntungan. Dalam jangka pendek, suap paling mudah dilakukan karena langkah itu akan memotong serangkaian prosedur demokrasi yang rumit dan melelahkan serta hanya akan menghasilkan "keadilan" yang tidak diinginkan. Elite politik dan ekonomi melihat suap sebagai langkah potong kompas yang bisa dilakukan untuk menghindari dirinya menderita kerugian secara ekonomis.

Suap berkaitan dengan mentalitas dan sistem. Suap terjadi akibat sebagian kecil elite sejak semula sudah terdidik untuk melakukannya. Untuk menjadi anggota parlemen, sudah menjadi rahasia umum berbagai jenis KKN dilakukan, dari yang skala kecil sampai besar. Begitu pula untuk "menjadi pejabat". Makin lama, suap menjadi mentalitas bersama yang berlindung dalam budaya "tahu sama tahu". Terjadinya suap disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu (1) sistem pemerintahan dan birokrasi yang memang kondusif untuk melakukan penyimpangan, (2) belum adanya sistem kontrol dari masyarakat yang kuat, dan belum adanya perangkat peraturan dan perundangperundangan yang tegas.[1] Apabila dilihat dari segi pelaku suap, sebab-sebab dia melakukan suap dapat berupa dorongan dari dalam dirinya, yang dapat pula dikatakan sebagai keinginan, niat, atau kesadaran untuk melakukan. Sebab-sebab manusia terdorong untuk melakukan suap antara lain : (a) sifat tamak manusia, (b) moral yang kurang kuat menghadapi godaan, (b) penghasilan kurang mencukupi kebutuhan hidup yang wajar, (d) kebutuhan hiduop yang mendesak, (e) gaya hidup konsumtif, (f) tidak mau bekerja keras, (g) ajaran-ajaraan agamaa kurang diterapkan secara benar. Dalam teori kebutuhan Maslow, demikian dikatakan Sulistyantoro bahwa, suap seharusnya hanya dilakukan oleh orang untuk memenuhi dua kebutuhan yang paling bawah dan logika lurusnya hanya dilakukan oleh komunitas masyarakat yang pas-pasan yang bertahan hidup, namum saat ini suap dilakukan oleh orang kaya, pendidikan tinggi.[2] Selanjutnya, poling yang dilakukan oleh Malang Corruption Watch (MCW) berdasarkan jawaban dari 9273 responden, hasilnya menunjukkan sekitar 30,2% suap terjadi karena aspek individu demi kepentingan pribadinya. Pola-pola penyimpangan yang terjadi biasanya tidak bekerja pada saat jam kantor (14,2%), pemakaian fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi dan keluarganya (10%), dan (6)% adalah biaya pengurusan sesuatu yang berkaitan dengan adminstarsi.[3] Organisasi atau institusi dapat saja menjadi korban suap atau dimana suap terjadi biasanya memberi andil terjadinya suap karena membuka peluang atau kesempatan untuk terjadinya suap.[4] Bilamana organisasi tersebut tidak membuka peluang sedikitpun bagi seseorang untuk melakukan suap, maka suap tidak akan terjadi. Aspek-aspek penyebab terjadinya suap dari sudut pandang organisasi ini meliputi: (a) kurang adanya teladan dari pimpinan, (b) tidak adanya kultur organisasi yang benar, (c) sistem akuntabilitas di instansi

pemerintah kurang memadai, (d) manajemen cenderung menutupi suap di dalam organisasinya. Tindakan suap mudah timbul karena ada kelemahan di dalam peraturan perundangundangan, yang dapat mencakup: (a) adanya peraturan perundang-undangan yang monolistik yang hanya menguntungkan kerabat dan “konco-konco” presiden, (b) kualitas peraturan perundang-undangan kurang memadai, (c) peraturan kurang disosialisasikan, (d) sangsi yang terlalu ringan, (e) penerapan sangsi yang tidak konsisten dan pandang bulu, (f) lemahnya bidang evalusi dan revisi peraturan perundang-undangan. Beberapa ide strategis untuk menanggulangi kelemahan ini telah dibentuk oleh pemerintah diantaranya dengan mendorong para pembuat undang-undang untuk melakukan evaluasi atas efektivitas suatu undangundang secara terencana sejak undang-undang tersebut dibuat. Lembaga-lembaga ekskutif (Bupati/Walikota dan jajarannya) dalam melakukan praktek suapnya tidak selalu berdiri sendiri, akan tetapi melalui suatu kosnpirasi dengan para pengusaha atau dengan kelompok kepentingan lainnya misalnya, dalam hal penentuan tender pembangunan yang terlebih dahulu pengusaha menanamkan saham kekuasaannya lewat proses pembiayaan pengusaha dalam terpilihnya bupati/Walikota tersebut. Kemudian mereka secara bersama-sama dengan DPRD, Bupati/Walikota membuat kebijakan yang koruptif yang hanya menguntungkan sebagian kecil masyarakat yaitu para kolega, keluarga maupun kelompoknya sendiri. Dengan kemampuan lobi kelompok kepentingan dan pengusaha kepada pejabat publik yang berupa uang sogokan, hadiah, hibah dan berbagai bentuk pemberian yang mempunyai motif koruptif telah berhasil membawa pengusaha melancarkan aktifitas usahanya yang berlawanan dengan kehendak masyarakat, sehingga masyarakat hanya menikmati sisa-sisa ekonomi kaum borjuasi atau pemodal yang kapitalistik. Dari kasus ini dapat disimpulkan bahwa terjadinya suap APBD sangat mungkin jika aspek peraturan perundang-undangan sangat lemah atau hanya menguntungkan pihak tertentu saja. Hal senada juga dikemukakan oleh Basyaib, dkk (2002) yang menyatakan bahwa lemahnya sistem peraturan perundang-undangan memberikan peluang untuk melakukan tindak pidana suap. Pengawasan yang dilakukan instansi terkait (BPKP, Itwil, Irjen, Bawasda) kurang bisa efektif karena beberapa faktor, diantaranya (a) adanya tumpang tindih pengawasan pada berbagai instansi, (b) kurangnya profesionalisme pengawas, (c) kurang adanya koordinasi antar pengawas (d) kurangnya kepatuhan terhadap etika hukum maupun pemerintahan oleh

pengawas sendiri. hal ini sering kali para pengawas tersebut terlibat dalam praktik suap. belum lagi berkaitan dengan pengawasan ekternal yang dilakukan masyarakat dan media juga lemah, dengan demikian menambah deretan citra buruk pengawasan APBD yang sarat dengan suap. Hal ini sejalan dengan pendapatnya Baswir yang mengemukakan bahwa negara kita yang merupakan birokrasi patrimonial dan negara hegemonik tersebut menyebabkan lemahnya fungsi pengawasan, sehingga merebaklah budaya suap itu.[5] B. Kebijakan Hukum Pidana dan Upaya Dalam Menanggulangi Praktik Suap Beberapa langkah strategis (umum) yang dapat dilakukan sebagai pencegahan dan perlawanan bagi tindak pidana suap, antara lain melalui dekonstruksi Budaya yang melestarikan Suap. Dalam kaitan dengan marak dan suburnya praktek suap di Indonesia, tidak terlepas dari kontribusi besar yang dianut oleh budaya masyarakatnya. Karena masyarakat sudah menganggap apa yang dilakukan menjadi bagian dari budaya yang telah dilakukan selama ini, akhirnya masyarakat bersikap permisif, dan bahkan dalam banyak hal menganggap lumrah. Hal itulah yang kemudian terkadang melahirkan sikap pesismis terhadap upaya-upaya pemberantasan suap. Untuk itu, harus dilakukan dekonsatruksi budaya yang telah beranak-pinak dalam kehidupan masyarakat. Memberantas budaya kultus dan paternalistik yang sudah berlangsung secara turun temurun telah mendorong suburnya praktek suap. Budaya ini telah melahirkan sikap ewuh pakewuh atau rikuh dalam upaya pemberantasan suap atau penyimpangan lainnya yang dilakukan oleh orang-orang tertentu yang memiliki kedudukan terhormat di masyarakat. Bahkan tidak jarang dijumpai, orang yang sudah “tercemari suap” pun masih dihormati dan disanjung-sanjung. Memberantas budaya hadiah yang diberikan kepada orang yang memiliki kewenangan tertentu dalam kaitannya dengan urusan publik. Sebab dalam prakteknya, makna hadiah telah mengalami reduksi dan penyimpangan dari konteks yang dimaksudkan oleh konsep hadiah itu sendiri. Hadiah semacam inilah yang semakin menyuburkan praktek suap di Indonesia. Memberantas budaya komunalisme dalam kehidupan masyarakat Indonesia dalam

konteks ketergantungan akan kehidupan kolektif yang kemudian melahirkan sikap toleransi terhadap praktek-praktek suap, karena hal itu dipandang merupakan bagian dari kehidupan komunalnya. Konteks komunalisme semacam ini yang menyimpang dan harus dikikis.

Budaya instan telah mendorong praktek penyimpangan dan suap, karena sesuatu ingin diraih dengan serba singkat dan tidak mau bekerja keras. Etos kerja pun telah dikesampingkan karena dipandang memperlama proses pencapaian terhadap sesuatu yang diinginkan. Akibatnya aturan atau prosedur yang sudah menjadi ketentuan dengan mudah dilanggarnya. Mengikis budaya permisif, hedonis, dan materialis. Pola kehidupan seperti ini telah menghilangkan idealisme dalam menegakkan nilai-nilai kebajikan. Akibatnya parameter yang digunakan bersandar pada kenikmatan duniawi dan materi. Fenomena ini sudah menjadi wabah endemic di masyarakat. Perlunya membangun budaya kritis dan akuntabilitas pada masyarakat, sehingga tidak memberi ruang terhadap lahirnya praktek dan tindak pidana suap. Orang akan berpikir panjang untuk melakukan suap karena munculnya kesadaran kritis masyarakat terhadapnya dan sekaligus menuntut adanya akuntabilitas terhadap setiap jabatan/kewenangan yang diembannya. Pendekatan Keagamaan dan Pendidikan dalam menindak praktik suap juga perlu dilakukan yakni dengan mendorong para tokoh dan lembaga agama mengeluarkan fatwa atau opini umum terhadap para pelaku suap yang merugikan masyarakat. Merumuskan dan mensosialisasikan pelajaran/mata kuliah civic education / tentang KKN di berbagai lembaga pendidikan, sebagai upaya penyadaran bagi peserta didik atau mahasiswa yang kelak dapat melahirkan warga Negara yang memiliki komitmen kejujuran, keadilan dan kebenaran. Para akademisi perlu didorong untuk terus melakukan berbagai riset (kualitatif maupun kuantitatif) tentang kasus KKN maupun yang terkait dengan budaya dan sosiologi suap. Melakukan reformasi silabi pendidikan keagamaan dari yang bercorak personal sosial morality menuju sosial morality, yakni dengan melakukan reinterpretasi teks-teks keagamaan secara lebih membumi khususnya yang terkait dengan isu KKN. Melakukan pendidikan dan penyadaran bagi segenap warga masyarakat tentang bahaya KKN melalui lembaga pengajian dan pengkajian agama maupun upacara keagamaan. Suap juga dapat dicegah melalui pendekatan Sosial-Budaya yaitu dengan menciptakan dan memasyarakatkan budaya malu di kalangan warga bangsa khususnya yang terkait dengan kasus penyalahgunaan kekuasaan/suap. Masyarakat hendaknya mulai melakukan upaya pengucilan bagi setiap anggota masyarakat yang terbuka melakukan suap yakni menolak

kehadiran para koruptor untuk tampil di berbagai forum resmi baik di masyarakat maupun media massa, kecuali bagi mereka yang sudah bertobat dijalanNya. Pengucilan melalui medium hukum adat atau budaya lokal juga sangat efektif untukk menimbulkan rasa jera bagi koruptor. Melakukan sosialisasi secara intensif tentang bahaya suap di tengah masyarakat melalu media massa. Pencegahan suap juga dapat dilakukan dengan memberikan penghargaan (award) secara tulus dan selektif bagi para tokoh yang layak untuk diteladani. Menghimbau kepada segenap masyarakat untuk segera menghentikan kebiasaan suapmenyuap, dari hal yang bersifat administratif sampai kasus money politics. Mendorong segenap anggota masyarakat untuk segera melaporkan kepada aparat yang berwenang tentang adanya indikasi penyalahgunaan wewenang/suap. Melalui kebijakan kriminal dan pendekatan hukum suap juga dapat ditanggulangi yaitu melalui pemerintah maupun anggota legislatif untuk segera merevisi undang-undang anti suap yang mengedepankan asas pembuktian terbalik terhadap warga masyarakat yang diduga melakukan tindakan pidana suap. Istilah menguatkan dalam pembuktian terbalik dikembangkan menjadi alat bukti secara mandiri. Setiap anggota masyarakat, baik secara individual maupun kelembagaan ormas dan LSM, hendaknya melakukan pressure kepada para aparat penegak hukum / judikatif (khususnya para jaksa dan polisi) untuk konsekwen dan memiliki keberanian dalam menindak para pelaku tindak pidana suap. Selain itu penangglangan masalah suap juga dapat dilakukan dengan memperluas horizon tentang makna suap bahwa suap bukan hanya suap uang tetapi juga termasuk suap waktu, kesetiaan, kasih sayang, informasi, martabat kemanusiaan, dan lain-lain. Mendorong aparat birokrasi untuk senantiasa mengembangkan sistem pemerintahan yang trasnparan dan responsif terhadap berbagai aspirasi masyarakat yang berkembang, serta selalu berupaya bagi terwujudnya sistem birokrasi yang memiliki akuntabilitas yang tinggi. Seleksi kepegawaian juga harus mempertimbangkan terlibat/tidaknya calon pegawai yang bersangkutan dalam suap. Kasus-kasus suap dari yang paling rendah hingga tindak pidana suap tingkat tinggi agar diketahui oleh khalayak umum sekaligus membuat jera para pelaku suap. Selain itu perlu juga untuk mendorong setiap proses sosial maupun politik yang dapat mewujudkan

terciptanya kesejahteraan bagi masyarakat, sehingga dengan terwujudnya kesejahteraan tersebut akan dapat mereduksi munculnya berbagai penyakit sosial semacam KKN maupun tindak kriminalitas lainnya. Pemerintah dan segenap anggota masyarakat untuk secara terus-menerus

meningkatkan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan melalui berbagai sarana pengawasan yang sudah tersedia, di samping media informal lainnya. Memeperbaiki Sistem Upah Tentang sistem upah bagi karyawan/pekerja kita dapat belajar dari Cina. Di Cina perbandingan sistem penggajian antara buruh paling rendah dengan majikan rata-rata 1:7. Sedangkan di Indonesia bisa sampai 1:100 seperti yang terlihat dalam kasus BUMN maupun perusahaan swasta. Demikian pula halnya tentang standar UMR (Upah Minimum Regional) haruslah selalu disesuaikan dengan KHM (Kebutuhan Hidup Minimun) hingga meningkat ke standar KHL (Kebutuhan Hidup Layak). Dalam kenyataan di lapangan, seringkali kenaikan gaji pegawai/karyawan tidak sebanding dengan kenaikan harga BBM/barang kebutuhan hidup sehari-hari. Penting disadari oleh segenap komponen bangsa bahwa sistem birokrasi yang tidak terbuka / transparan, membuat para investor asing menjadi enggan menanamkan modalnya di Indonesia. Hal ini tentu berdampak pada semakin menyempitnya lapangan kerja yang secara otomatis semakin memperbanyak jumlah pengangguran. Akumulasi pengangguran – terdidik maupun yang tidak terdidik – akan berimplikasi pada semakin merebaknya kemiskinan, kebodohan, rendahnya tingkat kesehatan rakyat dan semakin merajalelanya angka kriminalitas di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, suap menjadi pangkal segala maksiat di negeri ini, akibat lemahnya sistem birokrasi pemerintahan selama ini. Maka proses de-birokratisasi menjadi sebuah keniscayaan. Sebenarnya kebijakan otonomi daerah merupakan peluang emas bagi pemerintah, khususnya di daerah, untuk memajukan wilayahnya masing-masing. Sistem birokrasi yang sentralistik di masa Orde Baru ternyata hanya memperkaya para pejabat dan penguasa di pusat saja. Sebagian besar kekayaan di daerah terserap ke pusat kekuasaan di Jakarta. Secara evolutif dan sistematis daerah-daerah mengalami pemiskinan. Kini dengan adanya DPD (Dewan Perwakilan Daerah), misalnya diharapkan pola dan sistem pengambilan keputusan – baik di pusat maupun di daerah – menjadi lebih tepat sasaran. DPD berperan ganda, di satu sisi sebagai artikulator dari daerah yang diwakili, di sisi lainnya menjadi pengontrol

kebijakan pemerintah pusat terhadap daerah. Upaya de-birokrasi juga akan berdampak pada otonomisasi, pendelegasian wewenang, swastanisasi di segala bidang, Dengan demikian semakin banyak partisipasi rakyat yang bisa ditumbuhkan dan digerakkan untuk memacu laju pembangunan bangsa di masa yang akan datang. Namun penting pula disadari bahwa proses debirokratisasi ini juga harus ditopang oleh komitmen paratur Negara untuk selalu mewujudkan clean government, disamping telah tersedianya sistem hukum dan perundangundangan yang ketat sekaligus kontrol masyarakat secara terus menerus. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas dapa disimpulkan bahwa : 1. Faktor-faktor penyebab terjadinya korupsi adalah: (1) aspek prilaku individu organisasi, (2) aspek organisasi, dan (3) aspek masyarakat tempat individu dan organisasi berada. Sementara menurut Lutfhi (2002) faktor-faktor penyebab terjadinya korupsi adalah: (1) motif, baik motif ekonomi maupun motif politik, (2) peluang, dan (3) lemahnya pengawasan. 2. Berdasarkan beberapa catatan di atas, pada hakikatnya,banyak cara atau metode yang dapat digunakan oleh pemerintah bersama masyarakat Indonesia untuk mengatasi fenomena dan dampak korupsi di negeri ini. Kebijakan pidana dan upaya lain yang dapat dilakukan untuk menanggulangi suap antara lain dekonstruksi Budaya yang melestarikan Suap, Pendekatan Keagamaan dan Pendidikan, pendekatan Sosial-Budaya, penegakan hukum,pendekatan politis, dan debirokrasi. B. Saran Tindakan suap sangatlah sulit dibuktikan dan terkadang sering lewat dari pengawasan, maka dari itu lebih baik pengetauan tentang tindak kejahatan suap dapat dibangun sejak dini agar membangun anak bangsa yang lebih baik dan negara yang lebih baik pula.