AKIBAT PENGGALIAN PASIR MERAJALELA, JEMBATAN SIPOHOLON TERANCAM AMBRUK

Sipoholon, () Jembatan yang menghubungkan jalan raya Tarutung Balige dengan Desa Simanungkalit Kecamatan Sipoholon terancam ambruk. Jembatan yang diterjang arus Sungai Sigeaon Desember lalu ini sampai sekarang belum diperbaiki. Meski sudah hampir ambruk, jembatan yang berada di atas Sungai Sigeaon masih ramai dilalui kendaraan dan pejalan kaki. Apabila kondisi ini tidak segera diperhatikan, dikhawatirkan bisa membahayakan bagi pengendara maupun pengguna jalan. Sebab, jembatan bisa sewaktu-waktu rubuh dan membahayakan pengguna jalan. Jubelanto SImanungkalit, salah seorang penduduk Desa Simanungkalit kepada wartawan, Jumat (18/1) mengatakan selalu was-was setiap lewat dari jembatan tersebut. Karena takut melintas dari jembatan tersebut, awalnya dia terpaksa lewat jalan alternatif dari Dusun Sibuntuon ke Desa Siwaluompu. Kemudian masuk kembali ke Tarutung untuk kemudian ke Kecamatan Sipoholon. Tentu saja hal itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Seiring berjalannya waktu, dan masih ramai dilalui kendaraan, akhirnya Jubel memanfaatkan jembatan itu, karena hanya membutuhkan 15 menit biar sampai dari rumah ke tempatnya bekerja. “Khawatir sudah pasti. Tetapi mau bagaimana lagi. Kalau dari Desa Sibuntuon ke Siwaluompu lalu ke Tarutung, terus masuk lagi ke Sipoholon, membutuhkan waktu yang sangat lama. Jadi, tak apa lah lewat dari sana. Yang penting kita harus waspada,” ucapnya. Ketika disinggung mengenai hal ini, Alain Delon Simanungkalit mengatakan bahwa kemungkinan penyebab jembatan itu ambruk adalah penggalian pasir yang mulai merajalela sampai-sampai menggunakan mesin sehingga tanah penahan tiang jembatan menipis sehingga tiangnya juga tidak

kokoh lagi. “Penggalian bahan galian golongan C tersebut sudah sangat meresahkan masyarakat, terutama masyarakat yang masih melakukan penggalian pasir secara manual”, lanjutnya. Delon kemudian menambahkan, “Kemungkinan hal ini juga akan berdampak kepada jembatan di Desa Sait Ni Huta Kecamatan Tarutung, dimana penggalian juga sudah menggunakan mesin”, tandasnya mengakhiri Kepala Dinas PUK Taput Ir Anggiat Rajagukguk kepada wartawan saat dikonfirmasi melalui selulernya, Jumat (18/1) membenarkan kemiringan jembatan tersebut. Ia mengatakan, packapatahnya jembatan tersebut, pihaknya sudah melarang pengendara maupun pejalan kaki untuk tidak melewati Jembatan Seminarium dengan memasang garis polisi sebagai tanda supaya tidak dilewati karena sewaktu-waktu dapat menyebabkan bahaya. ”Begitu jembatan itu kita ketahui miring, kita langsung mengimbau kepada masyarakat agar tidak emlalui jembatan tersebut. Selain itu, di jembatan itu juga sempat dibuat garis polisi sebagai tanda jangan dilewati karena sangat berbahaya. Tetapi, ada saja masyarakat yang bandal,” ucapnya. Ditanya apakah jembatan tersebut sewaktu-waktu bisa ambruk, Anggiat tidak memungkiri mengingat konstruksi jembatan sudah rusak. Sementara soal perbaikan, kata Anggiat, dana perbaikan telah ditampung di APBD Taput 2013 sebesar Rp1 miliar. Untuk diketahui, Jembatan Seminarium merupakan akses keluar masuk masyarakat Desa Seminarium, Desa Pintu Bosi, Desa Lobu Sikkam, Desa Sibuntuon. Selain itu, dua jembatan gantung masingmasing Jembatan kondisinya hanyut dan Jembatan Lumban Soit Desa Hutauruk miring dan terancam rubuh. (Chompey)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful