P. 1
BAB I

BAB I

|Views: 0|Likes:
Published by Yeche Minoz

More info:

Published by: Yeche Minoz on Feb 26, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2013

pdf

text

original

BAB I LANDASAN TEORI A. MEDIS 1.

Pengertian Infeksi Saluran Kemih (ISK) atau Urinarius Tractus Infection (UTI) adalah suatu keadaan adanya infasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, 2001). Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu keadaan adanya infeksi bakteri pada saluran kemih. (Enggram, Barbara, 1998). Infeksi Saluran Kemih (ISK) atau Urinarius Tractus Infection (UTI) adalah adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius, dengan atau tanpa disertai gejala. (Smeltzer & Bare, 2002, 1428). 2. Anatomi Fisiologi

Gambar I Sistem Perkemihan (sumber anatomi fisiologi)

a. GINJAL Kedudukan ginjal terletak dibagian belakang dari kavum abdominalis di belakang peritonium pada kedua sisi vertebra lumbalis III, dan melekat langsung pada dinding abdomen. Bentuknya seperti biji buah kacang merah (kara/ercis), jumlahnaya ada 2 buah kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar dari pada ginjal kanan. Pada orang dewasa berat ginjal ± 200 gram. Dan pada umumnya ginjal laki – laki lebih panjang dari pada ginjal wanita. Satuan struktural dan fungsional ginjal yang terkecil di sebut nefron. Tiap – tiap nefron terdiri atas komponen vaskuler dan tubuler. Komponen vaskuler terdiri atas pembuluhpembuluh darah yaitu glomerolus dan kapiler peritubuler yang mengitari tubuli. Dalam komponen tubuler terdapat kapsul Bowman, serta tubulus – tubulus, yaitu tubulus kontortus proksimal, tubulus kontortus distal, tubulus pengumpul dan lengkung Henle yang terdapat pada medula. Kapsula Bowman terdiri atas lapisan parietal (luar) berbentuk gepeng dan lapis viseral (langsung membungkus kapiler glumerolus) yang bentuknya besar dengan banyak juluran

mirip jari disebut podosit (sel berkaki) atau pedikel yang memeluk kapiler secara teratur sehingga celah – celah antara pedikel itu sangat teratur. kemudian menjadi saluran yang lurus yang semula tebal kemudian menjadi tipis disebut ansa Henle atau loop of Henle. yaitu bagian kulit (korteks). maka aka tampak bahwa ginjal terdiri dari tiga bagian. karena membuat lengkungan tajam berbalik kembali ke korpuskel renal asal. dan bagian rongga ginjal (pelvis renalis). 1) Bagian . Pada tempat penyaringan darah ini banyak mengandung kapiler – kapiler darah yang tersusun bergumpal – gumpal disebut glomerolus.Bagian Ginjal Bila sebuah ginjal kita iris memanjang. Kapsula bowman bersama glomerolus disebut korpuskel renal. kemudian berlanjut sebagai tubulus kontortus distal. Gambar II Ginjal (sumber anatomi fisiologi) a) Kulit Ginjal (Korteks) Pada kulit ginjal terdapat bagian yang bertugas melaksanakan penyaringan darah yang disebut nefron. bagian tubulus yang keluar dari korpuskel renal disebut dengan tubulus kontortus proksimal karena jalannya yang berbelok – belok. . sumsum ginjal (medula).

c) Rongga Ginjal (Pelvis Renalis) Pelvis Renalis adalah ujung ureter yang berpangkal di ginjal. Dari Kaliks minor. Diantara pyramid terdapat jaringan korteks yang disebut dengan kolumna renal. Pada bagian ini berkumpul ribuan pembuluh halus yang merupakan lanjutan dari simpai bownman. Di dalam pembuluh halus ini terangkut urine yang merupakan hasil penyaringan darah dalam badan malphigi. Dengan dasarnya menghadap korteks dan puncaknya disebut apeks atau papila renis. setelah mengalami berbagai proses. Kliks minor ini menampung urine yang terus kleuar dari papila.Tiap glomerolus dikelilingi oleh simpai bownman. ke pelvis renis ke ureter. Zat – zat yang terlarut dalam darah akan masuk kedalam simpai bownman. 2) Fungsi Ginjal: . urine masuk ke kaliks mayor. hingga di tampung dalam kandung kemih (vesikula urinaria). pelvis renalis bercabang dua atau tiga disebut kaliks mayor. yang masing – masing bercabang membentuk beberapa kaliks minor yang langsung menutupi papila renis dari piramid. Satu piramid dengan jaringan korteks di dalamnya disebut lobus ginjal. b) Sumsum Ginjal (Medula) Sumsum ginjal terdiri beberapa badan berbentuk kerucut yang disebut piramid renal. yaitu diantara glomerolus dan simpai bownman. Dari sini maka zat – zat tersebut akan menuju ke pembuluh yang merupakan lanjutan dari simpai bownman yang terdapat di dalam sumsum ginjal. Piramid antara 8 hingga 18 buah tampak bergaris – garis karena terdiri atas berkas saluran paralel (tubuli dan duktus koligentes). berbentuk corong lebar. dan gabungan antara glomerolus dengan simpai bownman disebut badan malphigi Penyaringan darah terjadi pada badan malphigi. mengarah ke bagian dalam ginjal. Sabelum berbatasan dengan jaringan ginjal.

saraf ini berjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang masuk ke ginjal. bakteri dan zat warna). misalnya amonia. didalamnya terjadi penyadangan pertama dan kapilerdarah yang meninggalkan simpai bowman kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena kava inferior. Anak ginjal (kelenjar suprarenal) terdapat di atas ginjal yang merupakan sebuah kelenjar buntu yang menghasilkan 2(dua) macam hormon yaitu hormone adrenalin dan hormn kortison. URETER . b. 3) Peredaran Darah Ginjal mendapat darah dari aorta abdominalis yang mempunyai percabangan arteria renalis. c) Mengatur keseimbangan air dan garam dengan cara osmoregulasi. d) Mengatur tekanan darah dalam arteri dengan mengeluarkan kelebihan asam atau basa. 4) Persyarafan Ginjal Ginjal mendapat persyarafan dari fleksus renalis (vasomotor) saraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal. b) Mengekskresikan zat – zat yang jumlahnya berlebihan (misalnya gula dan vitamin) dan berbahaya (misalnya obat – obatan.a) Mengekskresikan zat – zat sisa metabolisme yang mengandung nitrogen. yang berpasangan kiri dan kanan dan bercabang menjadi arteria interlobaris kemudian menjadi arteri akuata. arteria interlobularis yang berada di tepi ginjal bercabang menjadi kapiler membentuk gumpalan yang disebut dengan glomerolus dan dikelilingi oleh alat yang disebut dengan simpai bowman.

melalui osteum uretralis masuk ke dalam kandung kemih. Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa) b. Gerakan peristaltik mendorong urin melalui ureter yang dieskresikan oleh ginjal dan disemprotkan dalam bentuk pancaran. Gambar III Dinding Ureter (sumber anatomi fisiologi) Lapisan dinding ureter terdiri dari : a.Terdiri dari 2 saluran pipa masing – masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria) panjangnya ± 25 – 30 cm dengan penampang ± 0. Lapisan tengah otot polos c. .5 cm. Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan – gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kemih (vesika urinaria). Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis.

pembuluh darah. bagian ini terpisah dari rektum oleh spatium rectosivikale yang terisi oleh jaringan ikat duktus deferent. b) Korpus. saraf dan pembuluh sekitarnya mempunyai saraf sensorik. terletak di belakang simfisis pubis di dalam ronga panggul. Bentuk kandung kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat. VESIKULA URINARIA (Kandung Kemih) Kandung kemih dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet. yaitu bagian yang mengahadap kearah belakang dan bawah.Ureter berjalan hampir vertikal ke bawah sepanjang fasia muskulus psoas dan dilapisi oleh pedtodinium. berhubungan ligamentum vesika umbikalis medius. c. yaitu bagian antara verteks dan fundus. 1) Bagian vesika urinaria terdiri dari : Gambar IV Vesika Urinaria (sumber anatomi fisiologi) a) Fundus. Penyempitan ureter terjadi pada tempat ureter terjadi pada tempat ureter meninggalkan pelvis renalis. vesika seminalis dan prostate. .

vena membentuk anyaman dibawah kandung kemih. diatur oleh torako lumbar dan kranial dari sistem persarafan otonom. Persarafan dan peredaran darah vesika urinaria. Torako lumbar berfungsi untuk relaksasi lapisan otot dan kontraksi spinter interna. Pembuluh darah Arteri vesikalis superior berpangkal dari umbilikalis bagian distal. dan pada saat yang sama terjadi relaksasi spinter internus. oleh air kemih akan merangsang stres reseptor yang terdapat pada dinding kandung kemih dengan jumlah ± 250 cc sudah cukup untuk merangsang berkemih (proses miksi). tunika submukosa. dan akhirnya terjadi pengosongan kandung kemih. Peritoneum dapat digerakkan membentuk lapisan dan menjadi lurus apabila kandung kemih terisi penuh. dan lapisan mukosa (lapisan bagian dalam). Peritonium melapis kandung kemih sampai kira – kira perbatasan ureter masuk kandung kemih. Bila terjadi kerusakan pada saraf – saraf tersebut maka akan terjadi inkontinensia urin (kencing keluar terus – menerus tanpa disadari) dan retensi urine (kencing tertahan). Rangsangan yang menyebabkan kontraksi kandung kemih dan relaksasi spinter interus dihantarkan melalui serabut – serabut para simpatis. peritonium (lapisan sebelah luar). Pembuluh limfe berjalan menuju duktus limfatilis sepanjang arteri umbilikalis. Dinding kandung kemih terdiri dari beberapa lapisan yaitu. diikuti oleh relaksasi spinter eksternus. tunika muskularis. kontrol volunter ini hanya dapat terjadi bila saraf – saraf yang menangani kandung kemih uretra medula spinalis dan otak masih utuh. Kontraksi spinter eksternus secara volunter bertujuan untuk mencegah atau menghentikan miksi. . 2) Proses Miksi (Rangsangan Berkemih). Distensi kandung kemih.c) Verteks. bagian yang maju kearah muka dan berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikalis. Akibatnya akan terjadi reflek kontraksi dinding kandung kemih.

Pada laki. dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam). Uretra membranosa c. Klasifikasi Kandung kemih (sistitis) Uretra (uretritis) Prostat (prostatitis) Ginjal (pielonefritis) Jenis Infeksi Saluran Kemih. Uretra pada laki – laki terdiri dari : a.Muara uretra pada wanita terletak di sebelah atas vagina (antara klitoris dan vagina) dan uretra di sini hanya sebagai saluran ekskresi. 3. ISK uncomplicated (simple) . d. b. a. Uretra pada wanita terletak dibelakang simfisis pubis berjalan miring sedikit kearah atas.laki uretra berjalan berkelok – kelok melalui tengah – tengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis kebagian penis panjangnya ± 20 cm. dan lapisan submukosa. URETRA Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar. panjangnya ± 3 – 4 cm. Uretra Prostaria b.d. Uretra kavernosa Lapisan uretra laki – laki terdiri dari lapisan mukosa (lapisan paling dalam). lapisan spongeosa merupakan pleksus dari vena – vena. antara lain: Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut. Lapisan uretra pada wanita terdiri dari Tunika muskularis (sebelah luar). dibedakan menjadi: 1. c.

reflex vesiko uretral obstruksi. Ardaya. Kelainan faal ginjal: GGA maupun GGK. (Tessy Agus. baik seluler maupun humoral Adanya hambatan pada aliran urin Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat pengosongan kandung kemih yang kurang efektif . antara lain: Escherichia Coli: 90 % penyebab ISK uncomplicated (simple) Pseudomonas. Suwanto. paraplegia. a. staphylococcus epidemidis. anatomic maupun fungsional normal. kateter kandung kencing menetap dan prostatitis. misalnya batuk. Proteus. ISK ini terjadi bila terdapat keadaan-keadaan sebagi berikut: a. dan-lain-lain. ISK ini pada usia lanjut terutama mengenai penderita wanita dan infeksi hanya mengenai mukosa superficial kandung kemih. 2. d. antara lain: Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat Mobilitas menurun Nutrisi yang sering kurang baik Sistem imunitas menurun. sering terjadi bakterimia. Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut. 1) 2) 3) b. 2001) 4. b. sepsis dan shock. atoni kandung kemih.ISK sederhana yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing tak baik. c. enterococci. Gangguan daya tahan tubuh Infeksi yang disebabkan karena organisme virulen sperti prosteus spp yang memproduksi urease. ISK complicated Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali kuman penyebab sulit diberantas. 1) 2) 3) 4) 5) 6) Etiologi Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK. Klebsiella : penyebab ISK complicated Enterobacter. kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam antibiotika. Kelainan abnormal saluran kencing.

factor tekanan urine saat miksi. Nutrisi yang sering kurang baik d. Suwanto. Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat. Masuknya mikroorganisme dalam kandung kemih. asending dan hematogen. antara lain: factor anatomi dimana pada wanita memiliki uretra yang lebih pendek daripada laki-laki sehingga insiden terjadinya ISK lebih tinggi. b. bendungan intrarenal akibat jaringan parut. adanya dekubitus yang terinfeksi.2001) 5. (Price. kemudian keadaan ini secara . Patofisiologi Infeksi Saluran Kemih disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius. pemakaian kateter). Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat tersebut mengakibatkan distensii yang berlebihan sehingga menimbulkan nyeri. Adanya hambatan pada saluran urin f. Sylvia Andrson. Ada beberapa hal yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen. Secara asending yaitu: a. Mobilitas menurun c. hematogen. yaitu: adanya bendungan total urine yang mengakibatkan distensi kandung kemih. Ada dua jalur utama terjadinya ISK. Mikroorganisme ini masuk melalui : kontak langsung dari tempat infeksi terdekat.(Tessy Agus. dan lain-lain.1995) Pada usia lanjut terjadinya ISK ini sering disebabkan karena adanya: a. System imunnitas yng menurun e. Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap atau kurang efektif. pemasangan alat ke dalam traktus urinarius (pemeriksaan sistoskopik. keadaan ini mengakibatkan penurunan resistensi terhadap invasi bakteri dan residu kemih menjadi media pertumbuhan bakteri yang selanjutnya akan mengakibatkan gangguan fungsi ginjal sendiri. kontaminasi fekal. limfogen. Ardaya. Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal Secara hematogen yaitu: sering terjadi pada pasien yang system imunnya rendah sehingga mempermudah penyebaran infeksi secara hematogen. b.

E. coli Faktor Anatomi Ascending Hematogen. pili P Alat DC Masuk VU Menempel di VU Ureter Ginjal Infeksi Saluran Kemih . (Parsudi. Imam A. Penyebab umum obstruksi adalah: jaringan parut ginjal. neoplasma dan hipertrofi prostate yang sering ditemukan pada laki-laki diatas usia 60 tahun. batu. Limfatogen. Selain itu. antara lain: adanya obstruksi aliran kemih proksimal yang menakibtakan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter yang disebut sebagai hidronefroses.1999) Pathway ISK Organisme patogen: ex.hematogen menyebar ke suluruh traktus urinarius.Organ sekitar yang terinfeksi Pertahanan Lokal Tubuh Inadekuat Koloni kuman di Uretra Bakteri pili 1. beberapa hal yang menjadi predisposisi ISK.

Suzanne C. Tanda dan Gejala a.(Price. Malaise f.1995) 6. Hematuria d. Menggigil c. Sylvia Andrson. Nyeri ketika berkemih e. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis. Spasme pada area kandung kemih dan suprapubis c. Pusing g.2001) 7. Mual dan muntah (Smeltzer. a. Demam b. Nyeri panggul dan pinggang d. Nyeri yang sering dan rasa panas ketika berkemih b. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang pandang besar (LPB) sediment air kemih 2) Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment air kemih. 1) Pemeriksaan Penunjang Urinalisis Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya ISK. Bakteriologis 1) Mikroskopis . Nyeri punggung dapat terjadi Tanda dan gejala ISK pada bagian bawah (sistitis): Tanda dan gejala ISK bagian atas (pielonefritis) a. b.

herpes simplek). 2) Tes Penyakit Menular Seksual (PMS): Uretritia akut akibat organisme menular secara seksual (misal. (Smeltzer. Tes esterase leukosit positif: maka pasien mengalami piuria. Terapi Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut dapat dibedakan atas: a. Penatalaksanaan Penanganan Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang ideal adalah agens antibacterial yang secara efektif menghilangkan bakteri dari traktus urinarius dengan efek minimal terhaap flora fekal dan vagina. klamidia trakomatis. adanya batu.2001) 8.000 koloni per milliliter urin dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi. Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100. Terapi antibiotika dosis tunggal Terapi antibiotika konvensional: 5-14 hari Terapi antibiotika jangka lama: 4-6 minggu . Suzanne C. msistografi. Tes pengurangan nitrat.2) Biakan bakteri c. e. Griess positif jika terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit. hodronerosis atau hiperplasie prostate. neisseria gonorrhoeae. 3) Tes. Urogram IV atau evaluasi ultrasonic. dan ultrasonografi juga dapat dilakukan untuk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus urinarius. b.tes tambahan: Urogram intravena (IVU). Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik d. sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi yang resisten. c. massa renal atau abses. Metode tes 1) Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes Griess untuk pengurangan nitrat). Pielografi (IVP).

jika muncul salah satu. Penggunaan medikasi yang umum mencakup: sulfisoxazole (gastrisin). Setelah penanganan dan sterilisasi urin. Wahyudi. (Nugroho. tetapi E. c. abses). Efek samping obat d. Gangguan akumulasi obat terutama obat-obat yang ekskresinya melalui ginjal Resiko pemberian obat pada usia lanjut dalam kaitannya dengan faal ginjal: a. Prognosis Prognosis infeksi saluran kemih adalah baik bila dapat diatasi faktor pencetus dan penyebab terjadinya infeksi tersebut. d. suatu analgesic urinarius juga dapat digunakan untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat infeksi.2000) 10. harus segera ditangani. b. Apakah obat-obat yang diberikan benar-benar berguna/diperlukan/ Apakah obat yang diberikan menyebabkan keadaan lebih baik atau Apakah obat yang diberikan masih tetap diberikan? Dapatkah sebagian obat dikuranngi dosisnya atau dihentikan? malah membahanyakan (Smeltzer. Pemakaian obat pada usia lanjut perlu dipikirkan kemungkina adanya: a. kadang ampicillin atau amoksisilin digunakan.d. Jika kekambuhan disebabkan oleh bakteri persisten di awal infeksi. Coli telah resisten terhadap bakteri ini. Efek nefrotosik obat Efek toksisitas obat Pemakaian obat pada usia lanjut hendaknya setiasp saat dievalusi keefektifannya dan hendaknya selalu menjawab pertanyaan sebagai berikut: a. Gangguan absorbsi dalam alat pencernaan b. Suzanne C. factor kausatif (mis: batu. Interansi obat c. b. Terapi dosis rendah untuk supresi Pemakaian antimicrobial jangka panjang menurunkan resiko kekambuhan infeksi. bactrim. Komplikasi . trimethoprim/sulfamethoxazole (TMP/SMZ. septra).2001) 9. Pyridium. terapi preventif dosis rendah.

bayi prematur. sepsis. Pielonefritis emfisematosa syok septik dan nefropati akut vasomotor. e. pertumbuhan bayi lambat. dan infeksi ginjal adalah menjaga kebersihan diri . Minum banyak cairan (air) setiap hari akan membantu pengeluaran bakteri melalui sistem urine. e. obstruksi saluran kemih. infeksi kandung kemih. Pencegahan Beberapa hal paling penting untuk mencegah infeksi saluran kencing. anemia.2001) 11. Cerebral palsy. Imam A. bila setelah buang air besar atau air kecil bersihkan dengan cara membersihkan dari depan ke belakang.1999) . b. infeksi kuman yang multisistem. dan mencuci kulit di sekitar dan antara rektum dan vagina setiap hari. c. Buang air kecil sebelum dan setelah melakukan hubungan seks dapat flush setiap bakteri yang mungkin masuk ke uretra selama hubungan seksual. (Parsudi. fetal death. Komplikasi lain yang mungkin terjadi setelah terjadi ISK yang terjadi jangka panjang adalah terjadinya renal scar yang berhubungan erat dengan terjadinya hipertensi dan gagal ginjal kronik. Vitamin C membuat urin asam dan membantu mengurangi jumlah bakteri berbahaya dalam sistem saluran kemih. Suzanne C. f. ISK pada kehamilan dengan BAS (Basiluria Asimtomatik) yang tidak diobati: pielonefritis. Pregnancy-induced hypertension c. dan gangguan fungsi ginjal. a. d. Sistitis emfisematosa : sering terjadi pada pasien DM. Hindari pemakaian celana dalam yang dapat membuat keadaan lembab dan berpotensi berkembang biaknya bakteri. f. Mengosongkan kandung kemih segera setelah terjadi dorongan untuk buang air kecil juga bisa membantu mengurangi risiko infeksi kandung kemih atau ISK. Komplikasi yang dapat terjadi pada infeksi saluran kemih antara lain batu saluran kemih. b. Abses perinefrik (Smeltzer. Mencuci sebelum dan sesudah berhubungan seksual juga dapat menurunkan resiko seorang wanita dari ISK. ISK pada kehamilan: retardasi mental.a. d.

ASUHAN DASAR KEPERAWATAN 1. b. . a. a. Pengkajian psikologi pasien: 1) Bagaimana perasaan pasien terhadap hasil tindakan dan pengobatan yang telah dilakukan? Adakakan perasaan malu atau takut kekambuhan terhadap penyakitnya. Adakah riwayat infeksi sebelumnya? Adakah obstruksi pada saluran kemih? Bagaimana dengan pemasangan kateter foley? Imobilisasi dalam waktu yang lama. e. Pengkajian dari manifestasi klinik infeksi saluran kemih ISK pasien (dorongan. 1) 2) 3) d. Pengkajian Pemerikasaan fisik: dilakukan secara head to toe dan system tubuh Riwayat atau adanya faktor-faktor resiko: 1) 2) c. kandung kemih dan sruktur traktus urinarius lain. dan jumlah) 1) Bagaimana pola berkemih pasien? untuk mendeteksi factor predisposisi terjadinya 2) Adakah disuria? 3) Adakah urgensi? 4) Adakah hesitancy? 5) Adakah bau urine yang menyengat? 6) Bagaimana haluaran volume orine. Apakah terjadi inkontinensia urine? Adanya factor yang menjadi predisposisi pasien terhadap infeksi nosokomial. (Doenges. 1999) 2. Marilyn E.B. frekuensi. warna (keabu-abuan) dan konsentrasi urine? 7) Adakah nyeri-biasanya suprapubik pada infeksi saluran kemih bagian bawah 8) Adakah nyeri pangggul atau pinggang-biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas 9) Peningkatan suhu tubuh biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas. Diagnosa Keperawatan Yang Timbul Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra.

Bantu atau dorong penggunaan nafas berfokus Berikan perawatan perineal Jika dipaang kateter indwelling. baud an pola berkemih.b. Rasional: untuk mencegah kontaminasi uretra Rasional: Kateter memberikan jalan bakteri untuk memasuki kandung kemih dan naik ke saluran perkemihan. Marilyn E. Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada Hipertermi berhubungan dengan penyakit. c. dan kebutuhan kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain. e. d. Catat lokasi. seprti pijatan punggung. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi. berikan perawatan kateter 2 nkali per hari. f. masukan dan haluaran setiap 8 jam dan pantau hasil urinalisis ulang Rasional: untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan b. pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi. e. tidak nyeri pada perkusi panggul Intervensi: a. lingkungan istirahat. Kolaborasi: Intervensi Keperawatan . 1999) 3. d. lamanya intensitas skala (1-10) penyebaran nyeri. menurunkan tegangan otot. prognosis. Dx 1 : Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra. kandung kemih dan struktur traktus urinarius lain. Kriteria evaluasi: Tidak nyeri waktu berkemih. g. c. Berikan tindakan nyaman. Relaksasi: membantu mengarahkan kembali perhatian dan untuk relaksasi otot. (Doenges. Infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder. Pantau haluaran urine terhadap perubahan warna. Rasional: membantu mengevaluasi tempat obstruksi dan penyebab nyeri Rasional: meningkatkan relaksasi.

perilaku atau tingkat kesadaran Rasional: akumulasi sisa uremik dan ketidakseimbangan elektrolit dapat menjadi toksik pada susunan saraf pusat f. perasaan ingin kencing. b. Pla berkemih berubah. tidak terjadi tanda-tanda gangguan berkemih (urgensi. Observasi perubahan status mental:. d. menetes setelah berkemih. Buat berbagai variasi sediaan minum. Nyeri menetap atau bertambah sakit Rasional: Temuan. Kriteria Evaluasi: Pola eliminasi membaik. Kecuali dikontraindikasikan: ubah posisi pasien setiap dua jam .− Konsul dokter bila: sebelumnya kuning gading-urine kuning. Rasional: retensi urin dapat terjadi menyebabkan distensi jaringan(kandung kemih/ginjal) e. Pemberian air sampai 2400 ml/hari Rasional: akibta dari haluaran urin memudahkan berkemih sering dan membentu membilas saluran berkemih Dx 2: Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain. Awasi pemasukan dan pengeluaran karakteristi urin Tentukan pola berkemih pasien Dorong meningkatkan pemasukan cairan Kaji keluhan kandung kemih penuh Rasional: memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi Rasional: peningkatan hidrasi membilas bakteri. oliguri. sring berkemih dengan jumlah sedikit. disuria) Intervensi: a. berkabut atau keruh. c. jingga gelap. termasuk air Rasional: analgesic memblok lintasan nyeri sehingga mengurangi nyeri segar . Berikan analgesic sesuia kebutuhan dan evaluasi keberhasilannya Berikan antibiotic.temuan ini dapat memeberi tanda kerusakan jaringan lanjut dan perlu pemeriksaan luas − h.

Rasional: menurunkan panas tubuh pasien yang hipertermi. Rasional: menentukan intervensi selanjutnya. tidak ada perubahan warna kulit dan pusing. Rasional: menyeimbangkan suhu tubuh pasien. Dx. Rasional: menurunkan panas tubuh pasien. panas. jumlah leukosit dalam batas normal. e. Kolaborasi dengan farmasi dalam pemberian parasetamol. Rasional: aam urin menghalangi tumbuhnya kuman. Kriteria Evaluasi: suhu 36-370 C. elektrolit. Monitor adanya tanda dan gejala infeksi. Monitor warna kulit dan suhu kulit. Tingkatkan cairan intake dan nutrisi. status imun normal dan menunjukkan perilaku hidup sehat. Kriteria Evaluasi: klien bebas dari gejala infeksi. Inspeksi membrane mukosa terhadap kemerahan. dan drainase. Rasional: mengetahui apakah pasien mengalami hipertermi.Rasional: untuk mencegah statis urin g.4 Infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder. Ajarkan untuk mengompres pada lipatan paha dan axial. nadi dan respirasi dalam rentan normal. b. c. Peningkatan masukan sari buah dapt berpengaruh dalm pengobatan infeksi saluran kemih. b. Observasi suhu tubuh pasien. Intervensi: a. kreatinin Lakukan tindakan untuk memelihara asam urin: tingkatkan Rasional: pengawasan terhadap disfungsi ginjal masukan sari buah berri dan berikan obat-obat untuk meningkatkan aam urin. Intervensi: a. BUN. Dx 3: Hipertermi berhubungan dengan penyakit. Rasional: mengetahui apakah pasien mengalami hipertermi. − − Kolaborasi: Awasi pemeriksaan laboratorium. . d.

pemeriksaan diagnostic: tujuan. inum sebanyak kurang lebih delapan gelas per hari khususnya sari buah berri. Kaji ulang prose pemyakit dan harapan yang akan datanng Rasional: memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan beradasarkan informasi. Cairan menolong membilas ginjal. Rasional: Pasien sering menghentikan obat mereka. Intervensi: a. jelaskna pemberian antibiotic. Rasional: agar pasien dan keluarga memahami saat terjadi tanda-gejala infeksi. b. persiapan ynag dibutuhkan sebelum pemeriksaan. dan tindakan perawatan diri preventif. prognosis. Rasional: pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan m. pemeriksaan diagnostic. tindakan untuk mencegah penyebaran.embantu mengembankan kepatuhan klien terhadap rencan terapetik. Dx.5 Kurangnya pengetahuan tentang kondisi. d. Pastikan pasien atau orang terdekat telah menulis perjanjian untuk perawatan lanjut dan instruksi tertulis untuk perawatn sesudah pemeriksaan Rasional: instruksi verbal dapat dengan mudah dilupakan d. Dorong istirahat yang cukup. Berikan informasi tentang: sumber infeksi. Ajarkan pasien dan keluarga tanda-gejala infeksi. gambaran singkat. c. Rasional: istirahat cukup dapat mengurangi terjadinya infeksi. Rasional:mengurangi adanya infeksi oleh bakteri. Asam piruvat dari sari buah berri membantu mempertahankan keadaan asam urin dan mencegah pertumbuhan bakteri . c. Kolaborasi dalam pemberian antibiotik. perawatan sesudah pemeriksaan.Rasional: mengetahui tanda infeksi lebih dahulu. e. jika tanda-tanda penyakit mereda. Kriteria Evaluasi: menyatakna mengerti tentang kondisi. dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi. rencana pengobatan. Instruksikan pasien untuk menggunakan obat yang diberikan.

Marilyn E. (Doenges. 1999) . Berikan kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan perasaan dan masalah tentang rencana pengobatan.e. Rasional: Untuk mendeteksi isyarat indikatif kemungkinan ketidakpatuhan dan membantu mengembangkan penerimaan rencana terapeutik.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->