REFERAT TRAUMATIK SUBDURAL HEMATOMA (SDH

)

Disusun untuk melaksanakan tugas Kepaniteraan Klinik Madya SMF Ilmu Penyakit Bedah RSD dr. Soebandi

Oleh: Irwan Prasetyo, S. Ked 082011101078

Pembimbing : dr. H. Moch. Dwikoryanto, Sp.BS

SMF/LAB. BEDAH RSD DR. SOEBANDI JEMBER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER 2013

i

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR ISI ............................................................................................ ii BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA .............................................................. 2 2.1. Definisi ......................................................................................... 2 2.2 Anatomi Kepala ............................................................................. 3 2.2.1 Kulit Kepala .......................................................................... 3 2.2.2 Tulang Tengkorak.................................................................. 4 2.2.3 Meningen .............................................................................. 5 2.2.4 Otak....................................................................................... 6 2.2.5 Cairan Serebrospinal .............................................................. 7 2.2.6 Tentorium .............................................................................. 8 2.2.7 Perdarahan Otak .................................................................... 8 2.3 Epidemiologi .................................................................................. 9 2.4 Klasifikasi ...................................................................................... 9 2.5 Etiologi .......................................................................................... 11 2.6 Patofisiologi ................................................................................... 12 2.7 Manifestasi ..................................................................................... 16 2.8 Diagnosis ....................................................................................... 19 2.8.1 Anamnesis ............................................................................. 19 2.8.2 Fisik ...................................................................................... 19 2.8.3 Penunjang .............................................................................. 21 2.9 Diagnosis Banding ......................................................................... 24 2.10 Penatalaksanaan ........................................................................... 24 2.11.1 Non-Operatif ....................................................................... 25 2.11.2 Operatif ............................................................................... 25 2.11 Komplikasi ................................................................................... 31 ii

2.12 Prognosis ...................................................................................... 32 BAB 3. KESIMPULAN ........................................................................... 34 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 35 DAFTAR GAMBAR ................................................................................ iv

iii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Subdural Hematoma ............................................................. 2 Gambar 2. Lapisan Kranium .................................................................. 3 Gambar 3. Calvaria ................................................................................. 4 Gambar 4. Meningen ............................................................................... 6 Gambar 5. Lobus Otak ............................................................................ 7 Gambar 6. Cairan Cerebrospinal............................................................ 8 Gambar 7. Lapisan Subdural .................................................................. 13 Gambar 8. Patofisiologi SDH .................................................................. 16 Gambar 9. Glasgow Coma Scale ............................................................. 21 Gambar 10. MRI SDH ............................................................................. 24 Gambar 11. Craniotomy .......................................................................... 27 Gambar 12. Burr Hole ............................................................................. 30

iv

Trauma kapitis ini dapat menimbulkan terjadinya kelainan neurologi pada saat awal kejadian.000 penduduk meninggal karena trauma kepala (20 orang per 100. PENDAHULUAN Di negara-negara maju menunjukkan data bahwa trauma kepala mencakup 26% dari jumlah segala macam kecelakaan.99%. atau intraserebral hematom. cedera kepala menempati urutan ke-7 pada 10 penyakit utama penyebab kematian terbanyak pada pasien rawat inap di rumah sakit dengan CFR 2. dan muntah yang seringkali bersifat proyektil. Akibatnya dapat terjadi fraktur tulang tengkorak. laserasi serebri. epidural hematom.000 populasi). timbulnya kecacatan pada kemudian hari atau bahkan pada kasus yang berat dapat menimbulkan kematian. adanya pupil yang anisokor dan terjadinya hemiparesis kontralateral. 9 1 .000 populasi. Kurang lebih 33% kecelakaan berakhir pada kematian menyangkut trauma kapitis. Bertambah besarnya volume perdarahan mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan intrakranial yang ditandai dengan nyeri kepala.BAB 1.94% dan pada tahun 2008 menempati urutan ke-6 dengan CFR 2. 10 Di Indonesia. Sedangkan di Amerika. jika hematom yang terbentuk lebih besar akan memicu terjadinya sindrom herniasi yang ditandai dengan penurunan kesadaran. menurut Depkes RI tahun 2007. Insidensi pasien dengan cedera kepala berat (GCS kurang dari 8) mencapai 100 per 100. papil edema. tiap tahunnya hampir 52.4 Pada tahap lebih lanjut.10 Perdarahan bisa berjalan dengan cepat atau lambat.11 Trauma kapitis merupakan keadaan gawat darurat sehingga perlu segera ditangani. kontusio serebri. yang mengakibatkan seseorang tidak bisa bekerja lebih dari satu hari sampai selama jangka panjang. dan perdarahan intrakranial seperti subdural hematom. Trauma timbul akibat adanya gaya mekanik yang secara langsung menghantam kepala.

namun dapat terjadi juga akibat laserasi pembuluh arteri pada permukaan otak. Perdarahan subdural paling sering terjadi pada permukaan lateral hemisferium dan sebagian di daerah temporal. sesuai dengan distribusi bridging veins.BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.medscape.adam.com) 2 . Perdarahan ini sering terjadi akibat robeknya venavena jembatan yang terletak antara kortek cerebri dan sinus venous tempat vena tadi bermuara.9.2. Perdarahan subdural juga menutupi seluruh permukaan hemisfer otak dan kerusakan otak dibawahnya berat.1 Definisi 1.com dan stonybrookphysician. Gambar 1.10 Hematoma subdural adalah penimbunan darah di dalam rongga subdural (di antara duramater dan arakhnoid). Subdural hematoma (boards.

wordpress.Perdarahan subdural yang disebabkan karena perdarahan vena. biasanya darah yang terkumpul hanya 100-200 cc dan berhenti karena tamponade hematom sendiri. Gambar 2. dan kronik bila 21 hari atau 3 minggu lebih setelah trauma. Subdural hematome dibagi menjadi 3 fase. connective tissue atau jaringan penyambung.14 2.1 Kulit Kepala Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan yang disebut SCALP yaitu. Setelah 5-7 hari hematom mulai mengadakan reorganisasi yang akan terselesaikan dalam 10-20 hari. yaitu akut. subakut 3-7 hari setelah trauma. loose conective tissue atau jaringan penunjang longgar dan pericranium. Darah yang diserap meninggalkan jaringan yang kaya dengan pembuluh darah sehingga dapat memicu lagi timbulnya perdarahan-perdarahan kecil dan membentuk suatu kantong subdural yang penuh dengan cairan dan sisa darah. subakut dan kronik.com) 3 . Lapisan Kranium (yayanakhyar. 2.2 Anatomi 4. aponeurosis atau galea aponeurotika. skin atau kulit.2. Dikatakan akut apabila kurang dari 72 jam.

2 Tulang Tengkorak Tulang tengkorak terdiri dari kubah (kalvaria) dan basis kranii. Gambar 3.corpushumania.2. temporal dan oksipital. fosa media tempat temporalis dan fosa posterior ruang bagi bagian bawah batang otak dan serebelum.ca) 4 . parietal. Rongga tengkorak dasar dibagi atas 3 fosa yaitu : fosa anterior tempat lobus frontalis. Kalvaria khususnya di regio temporal adalah tipis. Tulang tengkorak terdiri dari beberapa tulang yaitu frontal.2. Calvaria (www. Basis kranii berbentuk tidak rata sehingga dapat melukai bagian dasar otak saat bergerak akibat proses akselerasi dan deselerasi. namun di sini dilapisi oleh otot temporalis.

3. Membrana ini membungkus saraf otak dan 5 . Piamater Pia mater melekat erat pada permukaan korteks serebri.2. Arteri meningea terletak antara duramater dan permukaan dalam dari kranium (ruang epidural). Selaput ini dipisahkan dari dura mater oleh ruang potensial. Duramater Duramater secara konvensional terdiri atas dua lapisan yaitu lapisan endosteal dan lapisan meningeal. Pia mater adalah membrana vaskular yang dengan erat membungkus otak. Adanya fraktur dari tulang kepala dapat menyebabkan laserasi pada arteri-arteri ini dan menyebabkan perdarahan epidural. disebut spatium subdural dan dari pia mater oleh spatium subarakhnoid yang terisi oleh liquor serebrospinalis.3 Meningen Selaput meningen menutupi seluruh permukaan otak dan terdiri dari 3 lapisan yaitu : 1. dapat mengalami robekan dan menyebabkan perdarahan subdural. Selaput Arakhnoid Selaput arakhnoid merupakan lapisan yang tipis dan tembus pandang. maka terdapat suatu ruang potensial (ruang subdura) yang terletak antara duramater dan arachnoid. terdiri atas jaringan ikat fibrosa yang melekat erat pada permukaan dalam dari kranium.2. dimana sering dijumpai perdarahan subdural. Yang paling sering mengalami cedera adalah arteri meningea media yang terletak pada fosa temporalis (fosa media). 2. Perdarahan sub arakhnoid umumnya disebabkan akibat cedera kepala. Duramater merupakan selaput yang keras. Selaput arakhnoid terletak antara pia mater sebelah dalam dan dura mater sebelah luar yang meliputi otak. Pada cedera otak. Sinus sagitalis superior mengalirkan darah vena ke sinus transversus dan sinus sigmoideus. pembuluh-pembuluh vena yang berjalan pada permukaan otak menuju sinus sagitalis superior di garis tengah atau disebut Bridging Veins. Karena tidak melekat pada selaput arachnoid di bawahnya. Laserasi dari sinus-sinus ini dapat mengakibatkan perdarahan hebat. meliputi gyri dan masuk kedalam sulci yang paling dalam.

medula oblongata dan serebellum.com) 2. mesensefalon (otak tengah) dan rhombensefalon (otak belakang) terdiri dari pons.menyatu dengan epineuriumnya. 6 . Gambar 4. Otak terdiri dari beberapa bagian yaitu. proensefalon (otak depan) terdiri dari serebrum dan diensefalon.4 Otak Otak merupakan suatu struktur gelatin yang mana berat pada orang dewasa sekitar 14 kg. Meningen (withfrenship.2. Arteri-arteri yang masuk kedalam substansi otak juga diliputi oleh piamater.

pshycoloyimania.com) Fisura membagi otak menjadi beberapa lobus. CSS akan direabsorbsi ke dalam sirkulasi vena melalui granulasio arakhnoid yang terdapat pada sinus sagitalis superior. Pada medula oblongata terdapat pusat kardiorespiratorik. Lobus-lobus Otak (www. fungsi motorik dan pusat ekspresi bicara. Lobus parietal berhubungan dengan fungsi sensorik dan orientasi ruang.2. CSS mengalir dari dari ventrikel lateral melalui foramen monro menuju ventrikel III. Lobus oksipital bertanggung jawab dalam proses penglihatan. Serebellum bertanggung jawab dalam fungsi koordinasi dan keseimbangan. Lobus temporal mengatur fungsi memori tertentu. dari akuaduktus sylvius menuju ventrikel IV. Mesensefalon dan pons bagian atas berisi sistem aktivasi retikular yang berfungsi dalam kesadaran dan kewapadaan. Adanya darah dalam CSS dapat menyumbat granulasio arakhnoid sehingga mengganggu penyerapan CSS dan 7 . 2.5 Cairan Serebrospinalis Cairan serebrospinal (CSS) dihasilkan oleh plexus khoroideus dengan kecepatan produksi sebanyak 20 ml/jam. Lobus frontal berkaitan dengan fungsi emosi.Gambar 5.

Gambar 6.org) 2.7 Perdarahan Otak Otak disuplai oleh dua arteri carotis interna dan dua arteri vertebralis.hydroassoc. Keempat arteri ini beranastomosis pada permukaan inferior otak dan membentuk sirkulus Willisi.6 Tentorium Tentorium serebeli membagi rongga tengkorak menjadi ruang supratentorial (terdiri dari fosa kranii anterior dan fosa kranii media) dan ruang infratentorial (berisi fosa kranii posterior). Angka rata-rata pada kelompok populasi dewasa volume CSS sekitar 150 ml dan dihasilkan sekitar 500 ml CSS per hari. 2.menyebabkan kenaikan takanan intracranial. Cairan cerebrospinalis (www.2.2. Vena-vena otak tidak mempunyai jaringan otot didalam dindingnya 8 .

yang sangat tipis dan tidak mempunyai katup.12 a. berdasarkan suatu penelitian. pasien menjadi sulit dibangunkan dan tidak 9 . 2. Awalnya pasien mengalami periode tidak sadar lalu mengalami perbaikan status neurologi yang bertahap.000 populasi. Vena tersebut keluar dari otak dan bermuara ke dalam sinus venosus cranialis. Sejalan dengan meningkatnya tekanan intrakranial. Perdarahan akut Gejala yang timbul segera kurang dari 72 jam setelah trauma. Laki-laki lebih sering terkena daripada perempuan dengan perbandingan 3:1.9 Subdural hematoma akut dilaporkan terjadi pada 5-25% pasien dengan trauma kepala berat. Di Indonesia belum ada catatan nasional mengenai morbiditas dan mortalitas perdarahan subdural. tidak ada adhesi. Sedangkan kronik subdural hematoma terjadi 1-3 kasus per 100. Pada bayi-bayi ruang subdural lebih luas.4. b. Namun. Pada orang-orang tua bridging veins mulai agak rapuh sehingga lebih mudah pecah/rusak bila terjadi trauma. Pada gambaran Ct-scan. didapatkan lesi hiperdens. Biasanya terjadi pada cedera kepala yang cukup berat yang dapat mengakibatkan perburukan lebih lanjut pada pasien yang biasanya sudah terganggu kesadaran dan tanda vitalnya.7. setelah jangka waktu tertentu penderita memperlihatkan tanda-tanda status neurologis yang memburuk. Mayoritas perdarahan subdural berhubungan dengan faktor umur yang merupakan faktor resiko pada cedera kepala (blunt head injury). 2. Perdarahan dapat kurang dari 5 mm tebalnya tetapi melebar luas. sehingga perdarahan subdural bilateral lebih sering di dapat pada bayi-bayi.3 Epidemiologi 1.4 Klasifikasi 1. Perdarahan subdural biasanya lebih sering ditemukan pada penderita-penderita dengan umur antara 50-70 tahun. Perdarahan sub akut Biasanya berkembang dalam beberapa hari sekitar 4-21 hari sesudah trauma.

c. Darah di dalam kapsula akan membentuk cairan kental yang dapat menghisap cairan dari ruangan subaraknoidea. Pembuluh darah ini dapat pecah dan menimbulkan perdarahan baru yang menyebabkan menggembungnya hematoma. kapsula masih belum terbentuk atau tipis di daerah permukaan arachnoidea. Kapsula melekat pada araknoidea bila terjadi robekan pada selaput otak ini. Pada subdural kronik. Pada tahap selanjutnya dapat terjadi sindrom herniasi dan menekan batang otak. Lesi isodens didapatkan karena terjadinya lisis dari sel darah merah dan resorbsi dari hemoglobin. didapati kapsula jaringan ikat terbentuk mengelilingi hematoma. Dikatakan SDH sederhana (simple SDH) bila hematoma ekstra aksial tersebut tidak disertai dengan cedera parenkim otak.berespon terhadap rangsang nyeri atau verbal. Jamieson dan Yelland mengklasifikasikan SDH berdasarkan keterlibatan jaringan otak karena trauma. Perdarahan kronik Biasanya terjadi setelah 21 hari setelah trauma bahkan bisa lebih.lahan sehingga mengakibatkan penekanan dan herniasi. Perdarahan kronik subdural. pada yang lebih baru. bahkan hanya terbentur ringan saja bisa mengakibatkan perdarahan subdural apabila pasien juga mengalami gangguan vaskular atau gangguan pembekuan darah. Hematoma akan membesar dan menimbulkan gejala seprti pada tumor serebri. kita harus berhati hati karena hematoma ini lama kelamaan bisa menjadi membesar secara perlahan. Sebagaian besar hematoma subdural kronik dijumpai pada pasien yang berusia di atas 50 tahun. gejalanya bisa muncul dalam waktu bermingguminggu ataupun bulan setelah trauma yang ringan atau trauma yang tidak jelas. Pada gambaran skening tomografinya didapatkan lesi hipodens. Kapsula ini mengandung pembuluh darah yang tipis dindingnya terutama pada sisi duramater. sedangkan SDH 10 . Karena dinding yang tipis ini protein dari plasma darah dapat menembusnya dan meningkatkan volume dari hematoma. Pada gambaran skening tomografinya didapatkan lesi isodens atau hipodens. Pada perdarahan subdural kronik.

alkoholik. 11 . o Trauma pada leher karena guncangan pada badan. misalnya pada orang yang jatuh terduduk. Lebih dari dua pertiga fraktur pada penderita SDH akut terletak di posterior dan ini konsisten dengan lesi kontra cop. kebanyakan dari lesi parenkim ini terletak di lobus temporal dan lobus frontal. dan keganasan ataupun perdarahan dari tumor intrakranial.kompleks (complicated SDH) adalah bila hematoma ekstra axial disertai dengan laserasi parenkim otak. Perdarahan subdural dapat terjadi pada:  Trauma o o Trauma kapitis Trauma di tempat lain pada badan yang berakibat terjadinya geseran atau putaran otak terhadap duramater. perdarahan intraserebral (PIS) dan apa yang disebut sebagai ’exploded temporal lobe’. Lebih dari 70% perdarahan intraserebral.5 Etiologi 1.5 Keadaan ini timbul setelah cedera/trauma kepala hebat.3.  Non trauma o Pecahnya aneurysma atau malformasi pembuluh darah di dalam ruangan subdural. penggunaan antikoagulan. 2.2. laserasi dan kontusio parenkim otak yang berhubungan dengan SDH akut disebabkan oleh kontra kup (contrecoup) trauma. gangguan hati. Hal ini lebih mudah terjadi bila ruangan subdura lebar akibat dari atrofi otak. seperti perdarahan kontusional yang mengakibatkan ruptur vena yang terjadi dalam ruangan subdural. o Gangguan pembekuan darah biasanya berhubungan dengan perdarahan subdural yang spontan. o Pada orang tua. misalnya pada orangtua dan juga pada anak – anak.

dapat merobek beberapa vena halus pada tempat di mana mereka menembus duramater. juga pernah dilaporkan disebabkan oleh lesi traumatik dari arteri pericalosal karena cedera kepala. Perdarahan subdural akut pada fisura interhemisferik pernah dilaporkan. Perdarahan dapat terjadi akibat robeknya vena jembatan (bridging veins) yang menghubungkan vena di permukaan otak dan sinus venosus di dalam duramater atau karena robeknya araknoidea.6 Patofisiologi 1. Gumpalan darah lambat laun mencair dan menarik cairan dari sekitarnya dan mengembung memberikan gejala seperti tumor serebri karena tekanan intracranial yang berangsur meningkat 12 . Perdarahan yang tidak terlalu besar akan membeku dan di sekitarnya akan tumbuh jaringan ikat yang membentuk kapsula. berpindahnya posisi otak yang terjadi pada trauma. Kebanyakan perdarahan subdural terjadi pada konveksitas otak daerah parietal. Karena otak yang bermandikan cairan cerebrospinal dapat bergerak. Perdarahan yang besar akan menimbulkan gejala-gejala akut menyerupai hematoma epidural.2.7 Perdarahan terjadi antara duramater dan arakhnoidea. disebabkan oleh ruptur vena .vena yang berjalan diantara hemisfer bagian medial dan falks . Sebagian kecil terdapat di fossa posterior dan pada fisura interhemisferik serta tentorium atau diantara lobus temporal dan dasar tengkorak. sedangkan sinus venosus dalam keadaan terfiksir. Pada anak – anak kecil perdarahan subdural di fisura interhemisferik posterior dan tentorium sering ditemukan karena goncangan yang hebat pada tubuh anak (shaken baby syndrome). kemungkinannya tetap harus dicurigai.6. Walaupun perdarahan subdural jenis ini tidak patognomonis akibat penyiksaan kejam (child abused) terhadap anak. Perdarahan subdural interhemisferik akan memberikan gejala klasik monoparesis pada tungkai bawah.

berkisar dari beberapa jam sampai beberapa hari.yazid88. karena pembuluh darah pada membran ini jauh lebih rapuh sehingga dapat berperan dalam penambahan volume dari perdarahan subdural kronik. Vena jembatan dianggap dalam tekanan yang lebih besar. maka lucid interval juga lebih lama dibandingkan perdarahan epidural. Lapisan subdural (www.blogspot. sering menyebabkan terbentuknya hematoma yang besar sebelum gejala klinis muncul. Akibat dari perdarahan subdural. Karena perdarahan yang timbul berlangsung perlahan. dapat meningkatkan tekanan intrakranial dan perubahan dari bentuk otak. Pada hematoma yang besar biasanya menyebabkan terjadinya membran vaskular yang membungkus hematoma subdural tersebut. bila volume otak mengecil sehingga walaupun hanya trauma yang kecil saja dapat menyebabkan robekan pada vena tersebut. Pada fase ini peningkatan tekanan intra kranial terjadi relatif perlahan karena komplains tekanan 13 .com) Perdarahan subdural kronik umumnya berasosiasi dengan atrofi cerebral. Perdarahan terjadi secara perlahan karena tekanan sistem vena yang rendah.Gambar 7. Perdarahan berulang dari pembuluh darah di dalam membran ini memegang peranan penting. Pada perdarahan subdural yang kecil sering terjadi perdarahan yang spontan. Naiknya tekanan intra kranial dikompensasi oleh efluks dari cairan likuor ke axis spinal dan dikompresi oleh sistem vena.

yaitu teori dari Gardner yang mengatakan bahwa sebagian dari bekuan darah akan mencair sehingga akan meningkatkan kandungan protein yang terdapat di dalam kapsul dari subdural hematoma dan akan menyebabkan peningkatan tekanan onkotik didalam kapsul subdural hematoma. Komplains intrakranial mulai berkurang yang menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan intra kranial yang cukup besar. Pembentukan skar dimulai dari sisi dura dan secara bertahap meluas ke seluruh permukaan bekuan. darah mengalami degradasi. Karena tekanan onkotik yang meningkat inilah yang mengakibatkan pembesaran dari perdarahan tersebut. pembuluh 14 . Herniasi tonsilar melalui foramen magnum dapat terjadi jika seluruh batang otak terdorong ke bawah melalui incisura tentorial oleh meningkatnya tekanan supra tentorial. Pada waktu yang bersamaan. Meskipun demikian pembesaran hematoma sampai pada suatu titik tertentu akan melampaui mekanisme kompensasi tersebut.intra kranial yang cukup tinggi. Level dari koagulasi. Tetapi ternyata ada kontroversial dari teori Gardner ini. Hasil akhir dari penyembuhan tersebut adalah terbentuknya jaringan skar yang lunak dan tipis yang menempel pada dura. Penyembuhan pada perdarahan subdural dimulai dengan terjadinya pembekuan pada perdarahan. perdarahan berulang yang dapat mengakibatkan terjadinya perdarahan subdural kronik. Teori yang ke dua mengatakan bahwa. yaitu ternyata dari penelitian didapatkan bahwa tekanan onkotik di dalam subdural kronik ternyata hasilnya normal yang mengikuti hancurnya sel darah merah. Juga pada hematoma subdural kronik. faktor angiogenesis juga ditemukan dapat meningkatkan terjadinya perdarahan subdural kronik. Akibatnya perfusi serebral berkurang dan terjadi iskemi serebral. level abnormalitas enzim fibrinolitik dan peningkatan aktivitas dari fibrinolitik dapat menyebabkan terjadinya perdarahan subdural kronik. karena turut memberi bantuan dalam pembentukan peningkatan vaskularisasi di luar membran atau kapsul dari subdural hematoma. Lebih lanjut dapat terjadi herniasi transtentorial atau subfalksin. Sering kali. didapatkan bahwa aliran darah ke thalamus dan ganglia basaalis lebih terganggu dibandingkan dengan daerah otak yang lainnya. Terdapat 2 teori yang menjelaskan terjadinya perdarahan subdural kronik.

Waktu yang diperlukan untuk penyembuhan pada perdarahan subdural ini bervariasi antar individu. tergantung pada kemampuan reparasi tubuh setiap individu sendiri. Prinsipnya kalau berdarah. Untuk sisanya. ada dua kemungkinan (1) direabsorbsi ulang. Terbentuk granulation tissue pada membrane luar.darah besar menetap pada skar. dan (2) tetap demikian dan berpotensi untuk terjadi kalsifikasi. Fibroblas kemudian akan pindah ke membrane yang lebih dalam untuk mengisi daerah yang mengalami hematom. 15 . tapi menyisakan hemosiderofag dengan heme di dalamnya. pasti ada suatu proses penyembuhan. sehingga membuat skar tersebut rentan terhadap perlukaan berikutnya yang dapat menimbulkan perdarahan kembali.

Pupil yang anisokor dan defisit motorik adalah gejala klinik yang paling 16 . Keadaan berikutnya akan ditentukan oleh kecepatan pertambahan hematoma dan penanggulangannya. Stone dkk melaporkan bahwa lebih dari separuh penderita tidak sadar sejak kejadian trauma.net) 2.3. Pada penderita dengan benturan trauma yang ringan tidak akan kehilangan kesadaran pada waktu terjadinya trauma.prmob.2.Gambar 8. Penderita-penderita dengan trauma berat dapat menderita kerusakan parenkim otak difus yang membuat mereka tidak sadar dengan tanda-tanda gangguan batang otak. Gejala-gejala klinis terjadi akibat cedera otak primer dan tekanan oleh massa hematoma. Penderita dengan SDH yang lebih ringan akan sadar kembali pada derajat kesadaran tertentu sesuai dengan beratnya benturan trauma pada saat terjadi kecelakaan (initial impact). yang lain menunjukkan beberapa lucid interval.5 Gambaran klinis ditentukan oleh dua faktor: beratnya cedera otak yang terjadi pada saat benturan trauma dan kecepatan pertambahan volume SDH.7 Manifestasi Klinis 1. SDH dan lesi massa intrakranial lainnya yang dapat membesar hendaklah dicurigai bila ditemukan penurunan kesadaran setelah kejadian trauma. Patofisiologi SDH (id.

a.sering ditemukan. Secara umum. hematoma ini juga disebabkan oleh perdarahan vena dalam ruangan subdural. papil edema. epilepsi. mual. Dan berkaitan erat dengan trauma otak berat. Gangguan neurologik progresif disebabkan oleh tekanan pada jaringan otak dan herniasi batang otak dalam foramen magnum. Perubahan diamater pupil lebih dipercaya sebagai indikator letak SDH. III. gejala yang nampak pada subdural hematom seperti pada tingkat yang ringan (sakit kepala) sampai penurunan kesadaran. Trauma langsung pada saraf okulomotor atau batang otak pada saat terjadi trauma menyebabkan dilatasi pupil kontralateral terhadap trauma. kecuali bila ada efek massa atau lesi lainnya. Hematoma Subdural Subakut Hematoma ini menyebabkan defisit neurologik dalam waktu lebih dari 48 jam tetapi kurang dari 2 minggu setelah cedera. Hematoma Subdural Akut Hematoma subdural akut menimbulkan gejala neurologik dalam 24 sampai 48 jam setelah cedera. Lesi pasca trauma baik hematoma atau lesi parenkim otak biasanya terletak ipsilateral terhadap pupil yang melebar dan kontralateral terhadap defisit motorik. Akan tetapi gambaran pupil dan gambaran motorik tidak merupakan indikator yang mutlak bagi menentukan letak hematoma. sering diduga tumor otak. diplopia akibat kelumpuhan n. muntah. kadang kala dengan riwayat trauma yang tidak jelas. b. Penurunan kesadaran hematom subdural tidak begitu hebat seperti kasus cedera neuronal primer. yang selanjutnya menimbulkan tekanan pada batang otak. Gejala yang timbul tidak khas dan meruoakan manisfestasi dari peninggian tekanan intrakranial seperti: sakit kepala. Gejala motorik mungkin tidak sesuai bila kerusakan parenkim otak terletak kontralateral terhadap SDH atau karena terjadi kompresi pedunkulus serebral yang kontralateral pada tepi bebas tentorium. Seperti pada hematoma subdural akut. anisokor pupil. dan defisit neurologis lainnya. vertigo. Keadan ini dengan cepat menimbulkan berhentinya pernapasan dan hilangnya kontrol atas denyut nadi dan tekanan darah. 17 .

Pada kedua keadaan ini. Hematoma subdural yang bertambah luas secara perlahan paling sering terjadi pada usia lanjut (karena venanya rapuh) dan pada alkoholik. terjadi kerusakan sel-sel darah dalam hematoma. Hematoma subdural pada bayi bisa menyebabkan kepala bertambah besar karena tulang tengkoraknya masih lembut dan lunak. Tingkat kesadaran mulai menurun perlahanlahan dalam beberapa jam. Hasil pemeriksaan CT scan dan MRI bisa menunjukkan adanya genangan darah.Anamnesis klinis dari penderita hematoma ini adalah adanya trauma kepala yang menyebabkan ketidaksadaran. darah dikelilingi oleh membrane fibrosa. cedera tampaknya ringan. Dengan meningkatnya tekanan intrakranial seiring pembesaran hematoma. Penambahan ukuran hematoma ini yang menyebabkan perdarahan lebih lanjut dengan merobek membran atau pembuluh darah di sekelilingnya. Namun jangka waktu tertentu penderita memperlihatkan tandatanda status neurologik yang memburuk. selanjutnya diikuti perbaikan status neurologik yang perlahan-lahan. yang 18 . Hematoma subdural yang kecil pada dewasa seringkali diserap secara spontan. Dengan adanya selisih tekanan osmotic yang mampu menarik cairan ke dalam hematoma. Pergeseran isi intracranial dan peningkatan intracranial yang disebabkan oleh akumulasi darah akan menimbulkan herniasi unkus atau sentral dan melengkapi tanda-tanda neurologik dari kompresi batang otak. bulan dan bahkan beberapa tahun setelah cedera pertama. sehingga selama beberapa minggu gejalanya tidak dihiraukan. Hematoma Subdural Kronik Timbulnya gejala pada umumnya tertunda beberapa minggu. Dalam 7 sampai 10 hari setelah perdarahan terjdi. Terjadi perdarahan secara lambat dalam ruangan subdural. Trauma pertama merobek salah satu vena yang melewati ruangan subdural. Hematoma subdural yang besar. c. menambah ukuran dan tekanan hematoma. penderita mengalami kesulitan untuk tetap sadar dan tidak memberikan respon terhadap rangsangan bicara maupun nyeri.

15 2.menyebabkan gejala-gejala neurologis biasanya dikeluarkan melalui pembedahan.2 Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan klinis meliputi pemeriksaan primer (primary survey) yang mencakup jalan nafas (airway). Jika ada pernah atau tidak penderita kembali pada keadaan sadar seperti semula.8 Diagnosis 1. Jalan nafas harus dibersihkan 19 . Pada penderita sadar perlu ditanyakan ada tidaknya sakit kepala dan mual. 2. Untuk tambahan informasi perlu ditanyakan apakah disertai muntah dan kejang setelah terjadinya trauma kepala.1 Anamnesis Dari anamnesis di tanyakan adanya riwayat trauma kepala baik dengan jejas dikepala atau tidak. adanya kelemahan anggota gerak sesisi dan muntah-muntah yang tidak bisa ditahan.8.2. atau karena proses intra kranial yang masih berlanjut. dan di perhatikan lamanya periode sadar atau lucid interval. 2. dan apakah dalam pengaruh alkohol. Jika pernah apakah tetap sadar seperti semula atau turun lagi kesadarannya. obat-obatan yang sedang dikonsumsi saat ini. Petunjuk dilakukannya pengaliran perdarahan ini adalah:      sakit kepala yang menetap rasa mengantuk yang hilang-timbul linglung perubahan ingatan kelumpuhan ringan pada sisi tubuh yang berlawanan. Kepentingan mengetahui muntah dan kejang adalah untuk mencari penyebab utama penderita tidak sadar apakah karena inspirasi atau sumbatan nafas atas. pernafasan (breathing) dan tekanan darah atau nadi (circulation) yang dilanjutkan dengan resusitasi.9.8. jika terdapat jejas perlu diteliti ada tidaknya kehilangan kesadaran atau pingsan. Ditanyakan juga penyakit lain yang sedang diderita.

bradikardia dan bradipnea. respon verbal dan respon motorik pasien terdapat stimulasi verbal atau nyeri. pemeriksaan diameter kedua pupil . Secara bersamaan juga diperiksa nadi dan tekanan memantau apakah terjadi hipotensi. Terjadinya peningkatan tekanan intrakranial ditandai dengan refleks Cushing yaitu peningkatan tekanan darah. bila perlu dipasang orofaring tube atau endotrakeal tube lalu diikuti dengan pemberian oksigen. Jika terjadi hipotensi atau syok harus segera dilakukan pemberian cairan untuk mengganti cairan tubuh yang hilang. Tanda awal dari herniasi lobus temporal (unkus) adalah dilatasi pupil dan hilangnya refleks pupil terhadap cahaya. dan tandatanda defisit neurologis fokal. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan perfusi dan oksigenasi jaringan tubuh. dilakukan pemeriksaan neurologi serial meliputi GCS. Pemeriksaan kesadaran dengan Skala Koma Glasgow menilai kemampuan membuka mata. syok atau terjadinya peningkatan tekanan intrakranial. Hal ini dilakukan sebagai deteksi dini adanya gangguan neurologis. lateralisasi dan refleks pupil.apabila terjadi sumbatan atau obstruksi. Pada pemeriksaan sekunder. Pemeriksaan diamter kedua pupil dan adanya defisit neurologi fokal menilai apakah telah terjadi herniasi di dalam otak dan terganggunya sistem kortikospinal di sepanjang kortex menuju medula spinalis. Adanya trauma langsung pada mata membuat pemeriksaan menjadi lebih sulit. 20 . Pemeriksaan neurologik yang meliputkan kesadaran penderita dengan menggunakan Skala Koma Glasgow. Pemakaian pulse oksimetri sangat bermanfaat untuk memonitor saturasi O2.

profil hemostasis/koagulasi. karena prosesnya cepat. 21 . Bahkan fraktur sering didapatkan kontralateral terhadap SDH. c.Gambar 9. mampu melihat seluruh jaringan otak dan secara akurat membedakan sifat dan keberadaan lesi intra-aksial dan ekstra-aksial. pemeriksaan darah rutin. CT-Scan Pemeriksaan CT scan adalah modalitas pilihan utama bila disangka terdapat suatu lesi pasca-trauma. Fraktur tengkorak sering dipakai untuk meramalkan kemungkinan adanya perdarahan intrakranial tetapi tidak ada hubungan yang konsisten antara fraktur tengkorak dan SDH. Laboratorium Pemeriksaan laboratorium minimal meliputi.3 Pemeriksaan Penunjang a. Glasgow Coma Scale (yalescientific. b.org) 2. elektrolit. Foto tengkorak Pemeriksaan foto tengkorak tidak dapat dipakai untuk memperkirakan adanya SDH.8.

Pada pemeriksaan CT dengan kontras. Terdapat dalam jumlah yang lebih sedikit di daerah bagian atas tentorium serebelli. subdural hematom berbentuk lensa seperti epidural hematom dan biasanya unilateral. Bila tidak ada midline shift harus dicurigai adanya massa kontralateral dan bila midline shift hebat harus dicurigai adanya edema serebral yang mendasarinya. Pergeseran garis tengah (midline shift) akan tampak pada perdarahan subdural yang sedang atau besar volumenya. 2)Perdarahan Subdural Subakut Di dalam fase subakut perdarahan subdural menjadi isodens terhadap jaringan otak sehingga lebih sulit dilihat pada gambaran CT. Pada gambaran T1-weighted MRI lesi subakut akan tampak hiperdens. Subdural hematom berbentuk cekung dan terbatasi oleh garis sutura. vena-vena kortikal akan tampak jelas dipermukaan otak dan membatasi subdural hematoma dan jaringan otak. Perdarahan subdural yang terletak diantara kedua hemisfer menyebabkan gambaran falks serebri menebal dan tidak beraturan dan sering berhubungan dengan child abused. Perdarahan subdural jarang berada di fossa posterior karena serebelum relatif tidak bergerak sehingga merupakan proteksi terhadap ’bridging veins’ yang terdapat disana. Oleh karena itu pemeriksaan CT dengan kontras atau MRI sering dipergunakan pada kasus perdarahan subdural dalam waktu 48 – 72 jam setelah trauma kapitis. Perdarahan subdural yang sedikit (small SDH) dapat berbaur dengan gambaran tulang tengkorak dan hanya akan tampak dengan menyesuaikan CT window width. Perdarahan subdural subakut sering juga berbentuk lensa (bikonveks) 22 . Jarang sekali.1)Perdarahan Subdural Akut Perdarahan subdural akut pada CT-scan kepala (non kontras) tampak sebagai suatu massa hiperdens (putih) ekstra-aksial berbentuk bulan sabit sepanjang bagian dalam (inner table) tengkorak dan paling banyak terdapat pada konveksitas otak di daerah parietal.

Akan tetapi CT-scan mempunyai proses yang lebih cepat dan akurat untuk mendiagnosa SDH sehingga lebih praktis menggunakan CT-scan ketimbang MRI pada fase akut penyakit.sehingga membingungkan dalam membedakannya dengan epidural hematoma. hematoma subdural kronis muncul sebagai lesi heterogen padat yang mengindikasikan terjadinya perdarahan berulang dengan tingkat cairan antara komponen akut (hyperdense) dan kronis (hipodense). 23 . MRI dapat membantu mendiagnosis bilateral subdural hematom kronik karena pergeseran garis tengah yang kurang jelas pada CT-scan. MRI lebih sensitif untuk mendeteksi lesi otak nonperdarahan. 3)Perdarahan Subdural Kronik Pada fase kronik lesi subdural menjadi hipodens dan sangat mudah dilihat pada gambaran CT tanpa kontras. d. Pada alat CT generasi terakhir tidaklah terlalu sulit melihat lesi subdural subakut tanpa kontras. kontusio. MRI (Magnetic resonance imaging) Magnetic resonance imaging (MRI) sangat berguna untuk mengidentifikasi perdarahan ekstraserebral. Seringkali. MRI baru dipakai pada masa setelah trauma terutama untuk menetukan kerusakan parenkim otak yang berhubungan dengan trauma yang tidak dapat dilihat dengan pemeriksaan CT-scan. dan cedera axonal difus. Sekitar 20% subdural hematom kronik bersifat bilateral dan dapat mencegah terjadi pergeseran garis tengah.

Didalam masa mempersiapkan tindakan operasi. atau furosemid 10 dihiperventilasikan. Seperti pemberian manitol 0. tentu kita harus memperhatikan antara kondisi klinis dengan radiologinya.5. Perdarahan subarachnoid g.25gr/kgBB. MRI pada SDH (unipa. Stroke b. perhatian hendaknya ditujukan kepada pengobatan dengan medikamentosa untuk menurunkan peningkatan tekanan intrakrania (PTIK).it) 2.13 Dalam menentukan terapi apa yang akan digunakan untuk pasien SDH. Hydrocephalus 2.Gambar 10.2.3. Abses otak d.10 Penatalaksanaan 1. 24 . Encephalitis c. Tumor otak f. Adverse drugs reactions e. 16 mg intravena.9 Diagnosis Banding 9 a.

maka jelas diperlukan tindakan operasi untuk melakukan pengeluaran hematoma.1 Tindakan Tanpa Operasi Pada kasus perdarahan yang kecil (volume 30 cc ataupun kurang) dilakukan tindakan konservatif. tindakan operasi/evakuasi walaupun terhadap lesi yang kecil akan merendahkan TIK dan memperbaiki keadaan intraserebral. apabila diketemukan adanya gejalagejala yang progresif.10.10. Beberapa penderita mungkin mendapat kerusakan berat parenkim otak dengan efek massa (mass effect) tetapi SDH hanya sedikit. operasi tidak akan memperbaiki defisit neurologik dan karenanya tidak di indikasikan untuk tindakan operasi. Croce dkk merawat nonoperatif sejumlah penderita SDH akut dengan tekanan intrakranial (TIK) yang normal dan GCS 11 – 15.5 cm. Tetapi pada keadaan ini masih ada kemungkinan terjadi penyerapan darah yang rusak diikuti oleh terjadinya fibrosis yang kemudian dapat mengalami pengapuran. Dua dari penderita ini kemudian mendapat ICH yang memerlukan tindakan operasi. Penderita SDH akut yang berada dalam keadaan koma tetapi tidak menunjukkan peningkatan tekanan intrakranial (PTIK) yang bermakna kemungkinan menderita suatu diffuse axonal injury. 2. Pada penderita SDH akut dengan refleks batang otak yang negatif dan depresi pusat pernafasan hampir selalu mempunyai prognosa akhir yang buruk dan bukan calon untuk operasi. Hanya 6% dari penderita yang membutuhkan operasi untuk SDH. Pada penderita ini. Tetapi sebelum diambil keputusan untuk dilakukan tindakan 25 . Pada penderita ini.2. Servadei dkk merawat non operatif 15 penderita dengan SDH akut dimana tebal hematoma < 1 cm dan midline shift kurang dari 0.2 Tindakan Operasi Baik pada kasus akut maupun kronik. Ternyata dua pertiga dari penderita ini mendapat perbaikan fungsional.

dengan ketebalan > 10 mm atau pergeseran midline shift > 5 mm pada CT-scan b. dan/atau didapatkan pupil dilatasi asimetris/fixed e. Merawat sumber perdarahan c. dengan ketebalan perdarahan < 10 mm dan pergeeran struktur midline shift. dan/atau TIK > 20 mmHg. breathing dan circulation (ABCs). Jika mengalami penurunan GCS > 2 poin antara saat kejadian sampai saat masuk rumah sakit d. Semua pasien SDH dengan GCS < 9 harus dilakukan monitoring TIK c. Reseksi parenkim otak yang nonviable d. Tindakan operasi ditujukan kepada: a. Kriteria penderita SDH dilakukan operasi adalah: 16 a. Pasien SDH dengan GCS < 9. Pasien SDH dengan GCS < 9. Pasien SDH dengan GCS < 9. 26 . Evakuasi seluruh SDH b. Pasien SDH tanpa melihat GCS.operasi. Mengeluarkan ICH yang ada. yang tetap harus kita perhatikan adalah airway.

nucleusinc. Karena dengan tehnik ini menunjukan komplikasi yang minimal. Tindakan operatif pada SDH (Kraniotomi) (catalog. Reakumulasi dari perdarahan subdural kronik pasca 27 . subdural drain.Gambar 11.org) Tindakan operatif yang dapat dilakukan adalah burr hole craniotomy. Dan yang paling banyak diterima untuk perdarahan sub dural kronik adalah burr hole craniotomy. twist drill craniotomy.

Trepanasi atau burr holes dimaksudkan untuk mengevakuasi SDH secara cepat dengan lokal anestesi. Hampir semua ahli bedah saraf memilih kraniotomi luas. sisa hematoma akan melekat pada surgical patties.kraniotomi dianggap sebagai komplikasi yang sudah diketahui. Lubang bor yang pertama dibuat dilokasi dimana di dapatkan hematoma dalam jumlah banyak. setelah itu dilakukan irigasi ruang subdural dengan memasukkan kateter kesegala arah. Pada saat ini tindakan ini sulit untuk dibenarkan karena dengan trepanasi sukar untuk mengeluarkan keseluruhan hematoma yang biasanya solid dan kenyal apalagi kalau volume hematoma cukup besar. Luasnya insisi ditentukan oleh luasnya hematoma dan lokasi kerusakan parenkim otak. Jika pada pasien yang sudah berusia lanjut dan sudah menunjukkan perbaikan klinis. Pemeriksaan pasca operasi menujukkan sisa hematoma dan perdarahan ulang sangat minimal dan struktur garis tengah kembali lebih cepat ke posisi semula dibandingkan dengan penderita yang tidak dioperasi dengan cara ini. Usaha diatas adalah untuk memperbaiki prognosa akhir SDH. duramater dibuka lebar dan hematoma dievakuasi dari permukaan otak. merawat perdarahan dan mempersiapkan dekompesi eksternal dari edema serebral pasca operasi. dura mater dibuka dan diaspirasi sebanyak mungkin hematoma. reakumulasi yang terjadi kembali. Setelah itu. duramater dijahit rapat. tidaklah perlu untuk dilakukan operasi ulang kembali. Lubang bor berikutnya dibuat dan kepingan kranium yang lebar dilepaskan. dilakukan kraniotomi dekompresif yang luas dengan maksud untuk mengeluarkan seluruh hematoma. dimasukkan surgical patties yang cukup lebar dan basah keruang subdural. dilakukan irigasi. Kontusio jaringan otak dan hematoma intraserebral direseksi. Lebih dari seperlima penderita SDH akut mempunyai volume hematoma lebih dari 200 ml. tindakan ini akan segara menurunkan TIK. kemudian surgical patties disedot (suction). Dipasang drain 24 jam diruang subdural. Kraniotomi dan membranektomi merupakan tindakan prosedur bedah yang invasif dengan tingkat komplikasi yang lebih tinggi. Surgical patties perlahan – lahan ditarik keluar. 28 .

Trepanasi atau kraniotomi adalah suatu tindakan membuka tulang kepala yang bertujuan mencapai otak untuk tindakan pembedahan definitif. 29 . dimana CT scan kepala tidak bisa dilakukan. Indikasi Operasi. yaitu:    Penurunan kesadaran tiba-tiba di depan mata Adanya tanda herniasi/ lateralisasi Adanya cedera sistemik yang memerlukan operasi emergensi. pupil anisokor dengan refleks cahaya menurun dan kontralateral hemiparesis merupakan tanda adanya penekanan brainstem oleh herniasi uncal dimana sebagian besar disebabkan oleh adanya massa extra aksial.Penggunaan teknik ini sebagai penatalaksanaan awal dari perdarahan subdural kronik sudah mulai berkurang. adanya trias klinis yaitu penurunan kesadaran. Pada pasien trauma.

org) Perawatan Pascabedah Monitor kondisi umum dan neurologis pasien dilakukan seperti biasanya. subdural empiema. Jahitan dibuka pada hari ke 5-7. Tindakan pemasangan fragmen tulang atau kranioplasti dianjurkan dilakukan setelah 6-8 minggu kemudian. 30 . Setelah operasipun kita harus tetap berhati hati.Gambar 12. karena pada sebagian pasien dapat terjadi perdarahan lagi yang berasal dari pembuluh darah yang baru terbentuk. kejang. irigasi yang kurang baik.nucleusinc. Burr Hole (catalog. pergeseran otak yang tiba-tiba.

Tindakan reoperasi untuk reakumulasi hematom dilapaorkan sekitar 12-22%. abses otak dan meningitis telah dilaporkan terjadi pada kurang dari 1% pasien setelah operasi drainase dari hematoma subdural kronis (SDH). Kejang pasca operasi dilaporkan terjadi pada 3-10% pasien. 2. kegagalan dari otak untuk mengembang kembali dan terjadinya reakumulasi dari cairan subdural. dan infeksi lain. Komplikasi operasi. Follow-up CT scan kontrol diperlukan apabila post operasi kesadaran tidak membaik dan untuk menilai apakah masih terjadi hematom lainnya yang timbul kemudian. 31 .11 Komplikasi 8 Setiap tindakan medis pasti akan mempunyai resiko. Empiema subdural.3% kasus. atau tension pneumocephalus terjadi pada 2. hematom intraparenkim.4-19% mengalami komplikasi medis atau operasi. Serial skening tomografi pasca kraniotomi sebaiknya juga dilakukan. Maka dalam hal ini hematoma harus dikeluarkan lagi dan sumber perdarahan harus ditiadakan. Sebanyak sepertiga pasien mengalami kejang pasca trauma setelah cedera kepala berat. Cedera parenkim otak biasanya berhubungan dengan subdural hematom akut dan dapat meningkatkan tekanan intrakranial. Meningitis atau abses serebri dapat terjadi setelah dilakukan tindakan intrakranial. usia pasien. Pasca operasi dapat terjadi rekurensi atau masih terdapat sisa hematom yang mungkin memperlukan tindakan pembedahan lagi. seperti massa subdural. dan kondisi medis secara bersamaan. rawat inap. Residual hematom ditemukan pada 92% pasien berdasarkan gambaran CT scan 4 hari pasca operasi. sebanyak 5. pneumonia. Komplikasi medis. empiema. Pada pasien ini. timbulnya komplikasi terkait dengan anestesi. terjadi pada 16. Infeksi luka dan kebocoran CSF bisa terjadi setelah kraniotomi.tension pneumoencephalus.9% kasus. Pada pasien dengan subdural hematom kronik yang menjalani operasi drainase. seperti kejang.

Pada kebanyakan kasus SDH akut.3. Perdarahan subdural akut yang kompleks (complicated SDH) biasanya mengenai parenkim otak .2. Tindakan operasi pada hematoma subdural kronik memberikan prognosis yang baik. keterlibatan kerusakan parenkim otak merupakan faktor yang lebih menentukan prognosa akhir (outcome) daripada tumpukan hematoma ekstra axial di ruang subdural.12 Prognosis 1. Pada beberapa kasus yang lain.2. sehingga hanya menimbulkan gejala-gejala yang ringan. prognosanya baik. Pada penderita dengan perdarahan subdural akut yang sedikit (diameter < 1 cm). 32 . karena sekitar 90 % kasus pada umumnya akan sembuh total. misalnya kontusio atau laserasi dari serebral hemisfer disertai dengan volume hematoma yang banyak. Pada penderita ini mortalitas melebihi 50% dan biasanya berhubungan dengan volume subdural hematoma dan jauhnya midline shift. Pada beberapa kasus. Walaupun demikian bila dilakukan operasi lebih dari 4 jam setelah kejadian tidaklah selalu berakhir dengan kematian. menjadi lebih kecil apabila dilakukan operasi dalam waktu 4 jam setelah kejadian. perdarahan tidak berlanjut mencapai ukuran yang dapat menyebabkan kompresi pada otak. Hematoma subdural yang disertai lesi parenkim otak menunjukkan angka mortalitas menjadi lebih tinggi dan berat dapat mencapai sekitar 50 %. hal yang paling penting untuk meramalkan prognosa ialah ada atau tidaknya kontusio parenkim otak.5 Tidak semua perdarahan subdural bersifat letal. memerlukan tindakan operatif segera untuk dekompresi otak. Angka mortalitas pada penderita dengan perdarahan subdural yang luas dan menyebabkan penekanan (mass effect) terhadap jaringan otak. Perdarahan subdural akut yang sederhana (simple SDH) ini mempunyai angka mortalitas lebih kurang 20%. Akan tetapi. Sebuah penelitian menemukan bahwa 78% dari penderita perdarahan subdural kronik yang dioperasi (burr-hole evacuation) mempunyai prognosa baik dan mendapatkan penyembuhan sempurna.

65%. Penderita yang sadar pada waktu dioperasi mempunyai mortalitas 9% sedangkan penderita SDH akut yang tidak sadar pada waktu operasi mempunyai mortalitas 40% . relfleks pupil bilateral negatif dan postur deserebrasi. 33 .Menurut Jamieson dan Yelland derajat kesadaran pada waktu akan dilakukan operasi adalah satu-satunya faktor penentu terhadap prognosa akhir (outcome) penderita SDH akut. bilateral midriasis berhubungan dengan mortalitas yang sangat tinggi. hanya mempunyai functional survival sebesar 10%. Seelig dkk melaporkan pada penderita SDH akut dengan kombinasi refleks okulo-sefalik negatif. Tetapi Richards dan Hoff tidak menemukan hubungan yang bermakna antara derajat kesadaran dan prognosa akhir. Abnormalitas pupil.

dan kemudian dilakukan tindakan berupa evakuasi hematom. Tindakan yang bisa dilakukan dapat berupa konservatif (medikamentosa) atau berupa tindakan operatif. dan kronis.BAB 3. Penanganan yang cepat dan adekuat menentukan besarnya hematom dibantu dengan pemeriksaan penunjang. serta dilatasi pupil dan hemiparesis apabila terjadi herniasi. Subdural hematom dibagi menjadi akut. 34 . Gejala yang ditimbulkan akibat terkumpulnya hematom yang mendesak otak dapat berupa nyeri kepala. mual muntah. subakut. kejang. Perdarahan subdural paling sering terjadi pada permukaan lateral hemisferium dan sebagian di daerah temporal. Perdarahan disebabkan trauma langsung pada kepala yang kemudian memicu timbulnya akselsari dan deakselerasi jaringan otak sehingga merobek pembuluh darah terutama bridging veins. KESIMPULAN Subdural hematoma adalah perdarah yang terjadi di ruang subdural yang disebabkan karena robeknya bridging veins.

Jong W. 2003. 6. M. Gerard. 9.. Jakarta: EGC... Current Surgical Diagnosis & Treatment. dkk. Sylvia dan Wilson.306. Buku Ajar Ilmu Bedah. Medscape Reference. 2012. Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39. Tom. dkk. Medscape Reference. Subdural Hematoma Surgery.D. Subdural Hematoma. R. Patofisiologi: Konsep Klinis Prosesproses Penyakit hal 1174-1176. 4. S. Charles. R. Jakarta : EGC. FK USU: Medan. Edition Ninth.3 Halaman 297. Subdural Hematoma. Subdural Hematoma. 8. 5. United State of America : The McGraw-Hill. F. 3. 7.. A. dkk. MedlinePlus Medical Encyclopedia. Halaman 837-843. Meagher. Sjamsuhidajat. 2006. 2011. Engelhard. No. 2006. G. Memahami Fakta-Fakta pada Perdarahan Subdural Akut. Price. Heller. dkk. 2011. J. edisi kedua hal 818. 35 .DAFTAR PUSTAKA 1. 2011. Sastrodiningrat. Lorraine. 2004. H. 2. H. L. Medscape Reference. Schwartz’s Principles of Surgery. 2010. edition eleven. Subdural Hematoma in Emergency Medicine.

usu. USA: Blackwell Publishing. 2004.. MedlinePlus Medical Encyclopedia. Sidharta. IM. 2010.pdf. P. Chapter II. Neurologi Klinis Dasar. Advanced Trauma Life Support (ATLS) Seventh edition. dan Mardjono. Textbook of Surgery Third edition hal 417-425. Chronic Subdural Hematoma. Cowles. 2010. Surabaya: Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Ayu.id/bitstream/123456789/21258/. 2006. M. Kaye.10. Tim Neurotrauma. 13. R. Jakarta: Dian Rakyat. 2007. A. Dugdale.. D.ac. Craniotomy Series.. 14.. Chicago: First Impression 15. dkk. 16. 2007. 11. MedlinePlus. 2006. USU Respiratory: Universitas Sumatera Utara repository. American College of Surgeon. Pedoman Tatalaksana Cedera Otak./Chapter%20II. 36 . 12. A.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful