You are on page 1of 34

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan masalah kesehatan yang sering dialami pada sebahagian masyarakat yang ditandai dengan berat lahir kurang dari 2500 gram. Kejadian BBLR pada dasarnya berhubungan dengan kurangnya pemenuhan nutrisi pada masa kehamilan ibu dan hal ini berhubungan dengan banyak faktor dan lebih utama pada masalah perekonomian keluarga sehingga pemenuhan kebutuhan konsumsi makanan pun kurang. Namun kejadian BBLR juga dapat terjadi tidak hanya karena aspek perekonomian, dimana kejadian BBLR dapat saja tejadi pada mereka dengan status perekonomian yang cukup. Hal ini dapat berkaitan dengan paritas, jarak kelahiran, kadar hemoglobin dan pemanfaatan pelayanan antenatal. (1) BBLR termasuk faktor utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas dan diabilitas neonatus, bayi dan anak serta memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupannya di masadepan. BBLR yang tidak ditangani dengan baik dapat mengakibatkan timbulnya masalah pada semua sistem organ tubuh meliputi gangguan pada pernafasan (aspirasi mekonium, asfiksia neonatorum), gangguan pada sistem pencernaan (lambung kecil), gangguan sistem perkemihan (ginjal belum sempurna), gangguan sistem persyarafan (respon rangsangan lambat). (1) Selain itu bayi berat lahir rendah dapat mengalami gangguan mental dan fisik serta tumbuh kembang. BBLR berkaitan dengan tingginya angka kematian bayi dan balita, juga dapat berdampak serius pada kualitas generasi mendatang, yaitu akan memperlambat pertumbuhan dan perkembangan anak, serta berpengaruh pada penurunan kecerdasan (Depkes RI, 2005). (1) Bayi yang lahir dengan berat lahir rendah (BBLR) memerlukan perawatan yang tepat agar tidak terjadi hal-hal yang membahayakan bayi seperti yang telah disebutkan diatas. Bidan dan perawat adalah bagian dari pemberi pelayanan yang ikut berperan penting dalam memberikan perawatan pada bayi dengan berat lahir rendah (BBLR). Perkembangan bayi BBLR yang dirawat di RS sangat tergantung pada ketepatan tindakan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan. (1)

1

1.2 Rumusan Masalah Dari latar belakang yang dikemukakan di atas, banyak menimbulkan pertanyaan bagi pembaca antara lain : 1. Apa itu BBLR ? 2. Bagaimana pola penyebaran (epidemologi) dari BBLR ? 3. Bagaimana penggolongan BBLR? 4. Apakah penyebab BBLR ? 5. Bagaimana karakteristik klinis dari BBLR ? 6. Masalah apa yang sering terjadi pada BBLR? 7. Apakah patofisiologi gangguan pertumbuhan intrauterine ? 8. Bagaimana Teknik Penilaian Umur Kehamilan ? 9. Bagaimana penatalaksanaan dari BBLR? 10. Bagaimana pencegahan dari BBLR? 11. Bagaimana jadwal imunisasi pada BBLR? 12. Bagaimana pemulangan dan pemantauan BBLR? 13. Bagaimana konseling pada saat BBLR pulang? 14. Bagaimana prognosis dari BBLR? 15. Apa saja komplikasi dari BBLR?

1.3 Tujuan 1.3.1. Tujuan Umum Untuk mendapatkan gambaran umum tentang keadaan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) 1.3.2. Tujuan Khusus Dengan pembuatan makalah ini maka dokter muda mampu: a. Mengkaji masalah yang sering terjadi pada BBLR. b. Mengevaluasi keberhasilan tindakan yang telah dilakukan pada bayi dengan kasus BBLR

2

1.4 Manfaat Manfaat penulisan refrat ini adalah : 1.4.1. dapat melatih dokter muda dalam menyusun sari kepustakaan 1.4.2. dapat menambah pengetahuan tentang bayi dengan kasus BBLR

3

BAB II PEMBAHASAN
2.1 DEFINISI Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gram (atau hanya sampai dengan 2499 gram), tanpa memandang gestasi. (2) Kongres ‘European Perinatal Medicine’ ke II di London (1970) telah diusulkan sebagai berikut :    Bayi kurang bulan ialah bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu (259 hari) Bayi cukup bulan ialah bayi dengan masa kehamilan mulai 37 minggu sampai 42 minggu (259-293 hari) Bayi lebih bulan ialah bayi dengan masa kehamilan mulai 42 minggu atau lebih (294 hari atau lebih) . (3)

2.2 EPIDEMIOLOGI Prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 3,3%-38% dan lebih sering terjadi di negara-negara berkembang atau sosio-ekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi dibanding pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram. BBLR termasuk faktor utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas dan disabilitas neonatus, bayi dan anak serta memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupannya dimasa depan. Angka kejadian di Indonesia sangat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain, yaitu berkisar antara 9%-30%, hasil studi di 7 daerah multicenter diperoleh angka BBLR dengan rentang 2.1%-17,2 %. Secara nasional berdasarkan analisa lanjut SDKI, angka BBLR sekitar 7,5 %. Angka ini lebih besar dari target BBLR yang ditetapkan pada sasaran program perbaikan gizi menuju Indonesia Sehat 2010 yakni maksimal 7%. (4)

4

2.3 PENGGOLONGAN 2.3.1 Bayi berat lahir rendah digolonglan menjadi,  Prematuritas Murni Masa gestasi < 37 minggu (259 hari) dan berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi itu, atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan (NKB-SMK). (3)  Dismaturitas Bayi lahir dengan berat badan kurang dari seharusnya untuk masa gestasi itu, bayi mengalami retardasi pertumbuhan intra uterin dan merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya tersebut (KMK). Berat badan lahirnya di bawah presentil ke 10 menurut kurva pertumbuhan intrauterin Lubchenco atau di bawah 2SD menurut kurva pertumbuhan intrautrerin Usher dan Mc.Lean. Dismaturitas dapat terjadi ‘preterm, ‘term’, atau ‘posterm’. Penyebab dismaturitas ialah setiap keadaan yang mengganggu pertukaran zat antara ibu dan janin.(3) 2.3.2 Berkaitan dengan penanganan dan harapan hidupnya, BBLR dibedakan dalam :     Bayi berat lahir rendah (BBLR), berat lahir 1500-2500 gram Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR), berat lahir < 1500 gram Bayi berat lahir ekstrem rendah (BBLER), berat lahir < 1000 gram (2)

2.3.3 Berdasarkan berat badan menurut usia kehamilan dapat digolongkan Kecil Masa Kehamilan (KMK) yaitu jika bayi lahir dengan BB dibawah persentil ke-10 kurva pertumbuhan janin.  Sesuai Masa Kehamilan (SMK) yaitu jika bayi lahir dengan BB diantara persentil ke-10 dan ke-90 kurva pertumbuhan janin.  Besar Masa Kehamilan (BMK) yaitu jika bayi lahir dengan BB diatas persentil ke 90 pada kurva pertumbuhan janin.(3)

5

2.4 PENYEBAB BBLR 2.4.1 Prematuritas Murni a. Faktor Ibu. 1. Umur (< 20 tahun). 2. Paritas (>4) 3. Infertilitas. 4. Riwayat kehamilan tak baik. 5. Rahim abnormal. 6. Jarak kelahiran terlalu dekat. 7. BBLR pada anak sebelumnya. 8. Malnutrisi sebelum hamil (pertambahan berat badan kurang selama hamil). 9. Penyakit akut dankronik. 10. Kebiasaan tidak baik (pengobatan selama hamil, merokok, alkohol, radiasi). 11. Keadaan penyebab insufisiensi plasenta (penyakit jantung, ginjal, paru, hipertensi, DM, preeklamsi). 12. Keadaan sosial ekonomi (status gizi dan pengawasan ANC yang kurang baik). b. Faktor Placenta 1. Penyakit vaskuler. 2. Kehamilan ganda. 3. Malformasi. 4. Tumor. c. Faktor Janin 1. Kelainan kromosom. 2. Malformasi. 3. Infeksi bawaan yang didapat dalam kandungan (misal; TORCH). 4. Kehamilan ganda. 2.4.2 Dismaturitas Penyebab dismaturitas ialah setiap keadaan yang mengganggu pertukaran zat antara ibu dan janin. (3)

6

Pada dismaturitas mungkin terjadi retardasi pertumbuhan dan ‘wasting’. Menurut Gruenwald, defisit makanan akan mengakibatkan terjadinya ‘fetal distress’. Penggolongan fetal distress 1. Acute fetal distress, hanya mengakibatkan ‘perinatal distress’ tetapi tidak mengakibatkan retardasi pertumbuhan dan ‘wasting’ 2. Subacute fetal distress, menujukkan tanda ‘wasting’ tetapi tidak retardasi pertumbuhan 3. Chronic fetal distress, menujukkan retardasi pertumbuhan. (3) Bayi dismatur dengan tanda ‘wasting’ atau insufisiensi plasenta dibagi dalam: 1. Stadium pertama Bayi tampak kurus dan relative lebih panjang, kulitnya longgar, kering seperti perkamen tetapi belum terdapat noda mekonium. (3) 2. Stadium kedua Didapatkan tanda stadium pertama ditambah dengan warna kehijauan pada kulit, plasenta dan umbilicus. (3) 3. Stadium ketiga Ditemukan tanda stadium kedua, ditambah dengan kulit yang berwarna kuning, demikian dengan kuku dan tali pusat.(3) ‘Wasting’ adalah suatu kondisi yang ditandai oleh atrofi massa tubuh dan penurunan berat badan. 2.5 KARAKTERISTIK KLINIS PADA PREMATURITAS MURNI Secara umum gambaran klinis pada bayi bayi berat lahir rendah sebagai berikut: 1. Berat badan lahir < 2500 gram, panjang badan kurang atau sama dengan 45 cm, lingkar dada < 30 cm, lingkar kepala < 33 cm. (3) 2. Masa gestasi < 37 minggu(3). 3. Penampakan fisik sangat tergantung dari maturitas atau lamanya gestasi;    Kepala relatif lebih besar dari badan, osifikasi tengkorak sedikit, ubun-ubun dan sutura lebar, (3) Rambut biasanya tipis,halus dan teranyam,sehingga sulit terlihat satu persatu(3) Tulang rawan dan daun telinga belum cukup sehingga elastisitas daun telinga masih kurang(3)

7

 

Jaringan mamae belum sempurna,demikian pula putting susu belum terbentuk dengan baik(3) Kulit tipis, transparan, banyak lanugo, lemak sub kutan sedikit, Kulit tampak mengkilat dan licin,terdapat piting edema dapat berubah sesuai perubahan posisi, edema biasanya berhubungan dengan DM dan toksemia gravidarum(3)

   

Genetalia immatur, ,desensus testikulorum biasanya belum sempurna.dan labia minora belum tertutup sempurnaoleh labia mayora(3) Otot masih hipotonik sehingga tungkai abduksi, sendi lutut dan kaki fleksi, dan kepala menghadap kesatu jurusan(3) Tonic neck reflks biasanya lemah,refleks moro (+),refleks mengisap dan menelan belum sempurna demikian pula refleks batuk. (3) Bila lapar biasanya menangis,gelisah,aktifitas bertambah;bila dalam waktu 3 hari tanda kelaparan tidak terdapat kemungkinan besar bayi menderita infeksi atau perdarahan intracranial. (3)

 

Seringkali terdapat edema pada anggota gerak ,yang menjadi lebih nyata sesudah 24 – 48 jam(3) Lebih banyak tidur daripada bangun, tangis lemah, pernafasan belum teratur dan sering terjadi apnea, refleks menghisap, menelan, dan batuk belum sempurna.(3)

2.6 MASALAH YANG SERING TERJADI PADA BBLR Masalah lebih sering dijumpai pada Bayi Kurang Bulan dan BBLRdibanding dengan Bayi Cukup Bulan dan Bayi Berat Lahir Normal. Bayi kurang bulan sering mempunyai masalah sebagai berikut: (9) 2.6.1 Ketidakstabilan Suhu(9) Bayi kurang bulan memiliki kesulitan untuk mempertahankan suhu tubuh akibat :     Peningkatan kehilangan panas Berkurangnya lemak subkutan Rasio daerah permukaan terhadap berat badan yang tinggi Berkurangnya produksi panas karena tidak memadainya lemak coklat dan ketidakmampuan untuk menggigil

8

2.6.2 Kesulitan Pernapasan(9)                  Defisiensi surfaktan paru yang mengarah ke PMH (Penyakit Membran Hialin) Risiko aspirasi akibat belum terkoordinasinya reflek batuk, reflek menghisap dan reflek menelan Thoraks yang dapat menekuk dan otot pembantu respirasi yang lemah Pernapasan periodik dan apneu

2.6.3 Kelainan Gastrointestinal dan nutrisi(9) Refleks pengisapan dan penelanan yang buruk, terutama pada usia kehamilan sebelum 34 minggu Penurunan motilitas usus Penundaan pengosongan lambung Penurunan pencernaan dan absorpsi berbagai vitamin yang larut dalam lemak Defisiensi enzim laktase pada brush border usus Menurunnya simpanan kalsium, fosfor, protein, dan zat besi dalam tubuh Meningkatnya risiko EKN (Enterokolitis netrotikans)

2.6.4 Imaturitas Hati(9) Konyugasi dan ekskresi bilirubin yang terganggu Defisiensi faktor pembekuan yang bergantung pada vitamin K

2.6.5 Imaturitas Ginjal(9) Ketidakmampuan untuk mengekskresi solute load besar Akumulasi asam anorganik dengan asidosis metabolic Eliminasi obat oleh ginjal mungkin sangat menurun Ketidakseimbangan elektrolit, misalnya hiponatremia atau hipernatremia, hiperkalemia atau glikosuria ginjal 2.6.6 Imaturitas Imunologis(9) Risiko tinggi terkena infeksi karena:       Tidak banyak transfer IgG maternal selama trimester tiga Fagositosis terganggu Penurunan berbagai faktor komplemen

2.6.7 Kelainan Neurologis(9) Refleks isap dan telan yang imatur Penurunan motilitas usus Apneu dan bradikardia berulang

9

             

Perdarahan intraventrikuler dan leukomalacia periventrikuler Pengaturan perfusi serebral yang buruk Ensefalopati iskemik hipoksik Retinopati preterm Kejang Hipotonia

2.6.8 Kelainan Kardiovaskuler(9) Patent Ductus Arteriosus (PDA) merupakan hal yang umum ditemui pada bayi kurang bulan Hipotensi atau hipertensi 2.6.9 Kelainan Hematologis(9) Anemia (onset dini atau lanjut) Hiperbilirubinemia, terutama indirek Koagulasi intravaskuler menyebar (DIC) Penyakit perdarahan pada neonatus (HDN)

2.6.10 Metabolisme(9) Hipokalsemia Hipoglikemia atau hiperglikemia

2.7 PATOFISIOLOGI GANGGUAN PERTUMBUHAN INTRAUTERIN Terdapat banyak penyebab gangguan pertumbuhan intrauterine, yang disebut juga Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) dan efeknya terhadap janin bervariasi sesuai dengan cara dan lama terpapar serta tahap pertumbuhan janin saat penyebab tersebut terjadi. Walaupun setiap organ dapat dipengaruhi oleh gangguan pertumbuhan intrauterine, efeknya pada tiap organ tidak sama. Jika gangguan pertumbuhan terjadi pada akhir kehamilan, pertumbuhan jantung, otak, dan tulang rangka tampak paling sedikit terpengaruh, sedangkan ukuran hati, limpa dan timus sangat berkurang. Keadaan klinis ini disebut gangguan pertumbuhan asimetri dan biasa terjadi pada bayi-bayi yang dilahirkan oleh wanita penderita hipertensi kehamilan (preeklamsia). Sebaliknya, jika gangguan terjadi pada awal kwhamilan (30% semua bayi KMK) tampak pertumbuhan simetri dan seringkali berkaitan dengan hasil akhir perkembangan syaraf yang buruk(9) Penyebab gangguan pertumbuhan intrauterine yang paling akhir ditemukan adalah penyalahgunaan kokain selama kehamilan. Obat dengan mudah masuk plasenta sehingga

10

konsentrasinya dalam darah janin sama dengan konsentrasi ibu. Kokain adalah salah satu stimulant SSP dan menghambat konduksi saraf perifer. Konduksi saraf perifer yang terbatas diakibatkan oleh hambatan pengambilan kembali neurotransmitter seperti noradrenalin dan dopamine, sehingga konsentrasi neurotransmitter ini di dalam serum meningkat dan menyebabkan vasokonstriksi, takikardia, serta hipertensi baik pada ibu maupun janin. Efek berbahaya kokain terhadap kehamilan yang meliputi tingginya tingkat aborsi pada trimester pertama, solution plasenta, dan prematuritas, merupakan akibat kenaikan konsentrasi bahan-bahan neurotransmitter. (9) Bersamaan dengan vasokonstriksi fetomaternal yang menyeluruh, terjadi

vasokonstriksi hebat lapisan uteroplasenta. Hal ini membatasi penyediaan oksigen dan nutrisi bagi janin. Akibatnya adalah tingkat gangguan pertumbuhan janin intrauterine (IUGR) lebih tinggi, mikrosefali, dan panjang badan kurang diantara bayi-bayi dari ibu pecandu kokain dibandingkan bayi-bayi dari ibu bebas obat. (9) Bayi dengan pertumbuhan intrauterine berlebihan dengan berat lahirnya melampaui persentil 90 untuk kehamilan (BMK), juga menggambarkan kelompok yang heterogen berkenaan dengan umur kehamilan dan etiologi. Sebagian adalah bayi-bayi yang memang berukuran besar karena keturunan, sedangkan sebagian lain merupakan hasil pertumbuhan intratuterin yang berlebihan dan bersifat patologis. (9) PLASENTA Pada pertumbuhan intrauterine normal, pertambahan berat plasenta sejalan dengan pertambahan berat janin, tetapi walaupun untuk terjadinya bayi besar dibutuhkan palsenta yang besar, tidak demikian sebaliknya. Namun demikian, berat lahir memiliki hubungan yang berarti dengan luas permukaan villus plasenta. Aliran darah uterus, juga transfer oksigen dan nutrisi plasenta dapat berubah pada berbagai penyakit vascular yang diderita ibu. Disfungsi plasenta yang terjadi sering berakibat gangguan pertumbuhan janin. 2530% kasus gangguan pertumbuhan janin dianggap sebagai hasil penurunan aliran darah uteroplasenta pada kehamilan dengan komplikasi penyakit vascular ibu. Keadaan klinis yang melibatkan aliran darah palenta yang buruk meliputi kehamilan ganda, penyalahgunaan obat, penyakit vascular (hipertensi dalam kehamilan atau kronik), penyakit ginjal, dan tumor vaskuler. (9) MALNUTRISI Ada dua variabel bebas yang diketahui mempengaruhi pertumbuhan janin, yaitu berat ibu sebelum hamil dan pertambahan berat ibu selama hamil. Ibu dengan berat badan kurang seringkali melahirkan bayi yang berukuran kecil daripada bayi yang dilahirkan ibu

11

dengan berat normal atau berlebihan. Selama embryogenesis status nutrisi ibu memiliki efek kecil terhadap pertumbuhan janin. Hal ini karena kebanyakan wanita memiliki cukup simpanan nutrisi untuk embrio yang tumbuh lambat. Meskipun demikian pada fase pertumbuhan trimester ketiga saat hipertrofi seluler janin dimulai, kebutuhan nutrisi janin dapat melebihi persediaan ibu jika masukan nutrisi ibu rendah. Data upaya menekan kelahiran BBLR dengan pemberian tambahan makanan kepada populasi beresiko tinggi (riwayat nutrisi buruk) menunjukkan bahwa kalori tambahan lebih berpengaruh terhadap peningkatan berat badan janin disbanding penambahan protein. (9)

INFEKSI Infeksi virus tertentu berhubungan dengan gangguyan pertumbuhan janin. Wanita dengan status sosio ekonomi rendah diketahui melahirkan bayi dengan gangguan pertumbuhan maupun bayi kecil disamping memiliki insidensi infeksi perinatal yang lebih tinggi. Bayi-bayi yang menderita infeksi rubella congenital dan sitomegalovirus (CMV) umumnya terjadi gangguan pertumbuhan janin, tidak tergantung pada umur kehamilan saat mereka dilahirkan. (9) Namun demikian, hubungan gangguan mental dengan infeksi tidak menunjukkan sebab dan akibat secara jelas. (9)

FAKTOR-GENETIK Diperkirakan 40% daris eluruh variasi berat lahir berkaitan dengan kontribusi genetic ibu dan janin. Wanita normal tertentu memiliki kecenderungan untuk berualngkali melahirkan bayi KMK (tingkat pengulangan 25%-50%) dan kebanyakan wanita tersebut dilahirkan sebagai BBL KMK. Demikian juga, wanita yang pernah melahirkan bayi besar. Hubungan yang berarti antar berat lahir ibu dan janin berlaku pada semua ras. (9)

2.8 TEKNIK PENILAIAN UMUR KEHAMILAN 2.8.1 Teknik penilaian umur kehamilan antenatal(9)  HPHT  Pengukuran tinggi fundus uteri ( ukuran McDonald) dalam cm di atas simfisis pubis  USG

12

2.8.2 Teknik penilaian umur kehamilan pasca persalinan(9) 1. Penilaian Umur kehamilan berdasarkan ciri fisik luar Ballard score

2. Penilaian umur kehamilan dengan pemeriksaan neurologis 1. Postur

Otot tubuh total tercermin dalam sikap yang disukai bayi saat istirahat dan ketahanan untuk meregangkan kelompok otot individu. Sebagai pematangan berlangsung, janin meningkat secara bertahap mengasumsikan nada fleksor pasif yang berlangsung dalam arah sentripetal, dengan ekstremitas bawah sedikit di depan ekstremitas atas. Bayi prematur terutama pameran dilawan nada ekstensor pasif, sedangkan istilah bayi mendekati menunjukkan nada fleksor semakin kurang menentang pasif. Untuk mendapatkan item postur, bayi ditempatkan terlentang (jika ditemukan rawan) dan pemeriksa menunggu sampai bayi mengendap dalam posisi santai atau disukai. Jika bayi ditemukan telentang manipulasi, lembut (fleksi jika diperpanjang, memperpanjang jika tertekuk) dari ekstremitas akan memungkinkan bayi untuk mencari posisi dasar kenyamanan. Fleksi pinggul tanpa hasil penculikan di posisi katak-kaki seperti yang digambarkan dalam postur persegi # 3. Fleksi hip diiringi penculikan digambarkan oleh sudut lancip di pinggul di alun-alun postur # 4. Sosok yang paling dekat menggambarkan postur disukai bayi dipilih.(10)

13

2.

Jendela pergelangan tangan

Pergelangan fleksibilitas dan / atau resistensi terhadap ekstensor peregangan bertanggung jawab untuk sudut yang dihasilkan dari fleksi pada pergelangan tangan. Pemeriksa meluruskan jari-jari bayi dan berlaku tekanan lembut pada dorsum tangan, dekat jari-jari. Dari pra-sangat panjang untuk pasca-panjang, sudut yang dihasilkan antara telapak tangan dan lengan bawah bayi diperkirakan; > 90 °, 90 °, 60 °, 45 °, 30 °, dan 0 °. Alun-alun yang tepat pada lembar skor dipilih. (10) 3. Gerakan lengan membalik Manuver ini berfokus pada nada fleksor pasif otot bisep dengan mengukur sudut mundur berikut perpanjangan sangat singkat dari ekstremitas atas. Dengan bayi berbaring telentang, pemeriksa tempat satu tangan di bawah siku bayi untuk dukungan. Mengambil tangan bayi, pemeriksa sebentar set siku dalam fleksi, maka sesaat meluas lengan sebelum melepaskan tangan. Sudut mundur yang lengan mata air kembali ke fleksi dicatat, dan alun-alun yang sesuai dipilih pada lembar skor. Bayi yang sangat prematur tidak akan menunjukkan apapun mundur lengan. # 4 persegi dipilih hanya jika ada kontak antara kepalan bayi dan wajah. Ini terlihat dalam jangka panjang dan bayi pasca. Perawatan harus diambil untuk tidak memegang lengan dalam posisi diperpanjang untuk jangka waktu lama, karena hal ini menyebabkan kelelahan fleksor dan menghasilkan skor yang palsu rendah karena untuk mundur fleksor miskin. (10) 4. Sudut popliteal Manuver ini menilai pematangan nada fleksor pasif sendi lutut dengan pengujian untuk ketahanan terhadap perpanjangan ekstremitas bawah. Dengan berbaring telentang bayi, dan dengan popok kembali bergerak, paha ditempatkan lembut pada perut bayi dengan lutut tertekuk penuh. Setelah bayi telah rileks dalam posisi ini, pemeriksa lembut menggenggam kaki di sisi dengan satu tangan sementara mendukung sisi paha dengan lainnya. Perawatan diambil tidak untuk mengerahkan tekanan pada paha belakang, karena hal ini dapat mengganggu fungsi mereka. Kaki diperpanjang sampai resistensi pasti untuk ekstensi dihargai. Pada beberapa bayi, kontraksi hamstring dapat digambarkan selama manuver ini. Pada titik ini terbentuk pada sudut lutut oleh atas dan kaki bagian bawah diukur. (10) Catatan: a) Hal ini penting bahwa pemeriksa menunggu sampai bayi berhenti menendang aktif sebelum memperpanjang kaki. b) Posisi terang akan mengganggu kehamilan sungsang dengan ini manuver untuk 24 sampai 48 jam pertama usia karena kelelahan berkepanjangan fleksor intrauterin. Tes harus diulang setelah pemulihan telah terjadi; bergantian, skor yang sama dengan yang diperoleh untuk item lain dalam ujian dapat diberikan. (10)

14

5.

Scarf Sign (Tanda selendang)

Manuver ini tes nada pasif fleksor tentang korset bahu. Dengan bayi terlentang berbaring, pemeriksa menyesuaikan kepala bayi untuk garis tengah dan mendukung tangan bayi di dada bagian atas dengan satu tangan. ibu jari tangan lain pemeriksa ditempatkan pada siku bayi. (10) Pemeriksa dorongan siku di dada, penebangan untuk fleksi pasif atau resistensi terhadap perpanjangan otot fleksor bahu korset posterior. Titik pada dada yang siku bergerak dengan mudah sebelum resistensi yang signifikan dicatat. Tengara mencatat dalam rangka meningkatkan kematangan adalah: jilbab penuh di tingkat leher (-1); aksila kontralateral baris (0); baris puting kontralateral (2); proses xyphoid (3); baris puting ipsilateral (4), dan aksila ipsilateral baris (5). (10) 6. Tumit ke Telinga Manuver ini mengukur nada fleksor pasif tentang korset panggul dengan tes fleksi pasif atau resistensi terhadap perpanjangan otot fleksor pinggul posterior. Bayi ditempatkan terlentang dan tertekuk ekstremitas bawah dibawa untuk beristirahat di kasur bersama bagasi bayi. Pemeriksa mendukung paha bayi lateral samping tubuh dengan satu telapak tangan. Sisi lain digunakan untuk menangkap kaki bayi di sisi dan tarik ke arah telinga ipsilateral. (10) Para menebang pemeriksa untuk ketahanan terhadap perpanjangan fleksor panggul korset posterior dan catatan lokasi dari tumit mana resistensi yang signifikan adalah dihargai. Tengara mencatat dalam rangka meningkatkan kematangan termasuk resistensi terasa ketika tumit pada atau dekat: telinga (-1); hidung (0); dagu tingkat (2); baris puting (3); daerah pusar (4), dan femoralis lipatan (5). (10)

15

3. Penilaian umur kehamilan berdasarkan maturitas fisik dan neurologis Menggabungkan skor maturitas fisik dan neurologis. Memplotkan skor total dari maturitas fisik dan neurologis pada table di bawah ini : The extended NBE System with Corresponding GA
SCORE 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 CORRESPONDING GESTATIONAL AGE (week) 24.0 24.3 24.6 25.1 25.4 26.0 26.3 26.6 27.1 27.4 28.0 28.3 28.6 29.1 29.4 30.0 30.3 30.6 31.1 31.4 32.0 32.3 32.6 33.1 33.3 34.0 SCORE 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 CORRESPONDING GESTATIONAL AGE (week) 34.3 34.6 35.1 35.4 36.0 36.3 36.7 37.1 37.4 38.0 38.3 38.6 39.1 39.4 40.0 40.3 40.6 41.1 41.4 42.0 42.3 42.6 43.1 43.4 44.0

Penilaian Usia Gestasi, Perinasia-2011

16

4. Penilaian umur kehamilan berdasarkan pemeriksaan vaskularisasi anterior kapsul lensa Terjadi perubahan terus menerus pembuluh-pembuluh vascular anterior kapsul lensa sesuai dengan pertambahan umur kehamilan. Ada hubungan yang erat antara perubahan vascular tersebut dengan umur kehamilan yang ditentukan oleh metode dubowitz, namun hanya selama minggu ke 27-34 kehamilan. Hubungan ini tampaknya tidak dipengaruhi oleh berat lahir.

Penilaian umur kehamilan berdasarkan pemeriksaan vascular anterior

17

2.9 PENATALAKSANAAN Setelah bayi lahir dilakukan: 2.9.1.Tindakan Umum 1. Membersihkan jalan nafas. 2. Mengusahakan nafas pertama dan seterusnya. 3. Perawatan tali pusat dan mata. 2.9.2.Tindakan Khusus  Oksigen    Beri oksigen melalui pipa nasal atau nasal prongs jika terdapat salah satu tanda hipoksemia.(5) Pemberian oksigen hanya pada sianosis atau sukar bernafas. (6) Jika terdapat tarikan dinding dada ke dalam, atau megap-megap, atau sianosis menetap,tingkatkan konsentrasi oksigen dengan nasal prong, kateter nasal, atau kap oksigen(6)  Suhu  Lakukanlah perawatan kulit-ke-kulit di antara kedua payudara ibu atau beri pakaian di ruangan yang hangat atau dalam humidicrib jika staf telah berpengalaman dalam menggunakannya. Jika tidak ada penghangat bertenaga listrik, air panas dimasukkan di dalam botol yang dibungkus dengan handuk, bermanfaat untuk menjaga bayi tetap hangat. Pertahankan suhu inti tubuh sekitar 36.5 – 37.5˚ C dengan kaki tetap hangat dan berwarna kemerahan. (5)  Jika bayi tidak ada kesukaran bernafas dan tetap hangat dg metode kanguru. (6)  Cairan dan pemberian minum  Jika mungkin berikan cairan IV 60 mL/kg/hari selama hari pertama kehidupan. Sebaiknya gunakan paediatric (100 mL) intravenous burette: dengan60 tetes = 1 mL sehingga, 1 tetes per menit = 1 mL per jam. (5)  Jika bayi sehat dan aktif, beri 2-4 mL ASI perah setiap 2 jam melalui pipa lambung, tergantung berat badan bayi. (5) Hari 1 60 mL/kg/hari Hari 2 90 mL/kg/hari Hari 3 120 mL/kg/hari

18

Kemudian ditingkatkan sampai 150 mL/kg/hari Jika toleransi minum oral baik, sesudah beberapa hari jumlah dapat ditingkatkan menjadi 180 mL/kg/hari. Hati-hati dengan pemberian cairan parenteral pada bayi karena bisa cepat terjadi overhidrasi. Ketika memberikan cairan IV, jangan melebihi volume ini kecuali jika bayi mengalami dehidrasi atau sedang mendapat terapi sinar atau berada di bawah pemancar panas. Jumlah ini adalah TOTAL asupan cairan yang diperlukan seorang bayi, asupan oral harus diperhitungkan ketika menghitung kecepatan cairan IV. (5)     Beri cairan lebih banyak jika bayi ditempatkan di bawah pemancar panas (1.2-1.5 kali) (5) Jika mungkin, periksa glukosa darah setiap 6 jam hingga pemberian minum enteral dimulai, terutama jika bayi mengalami apnu, letargi atau kejang. (5) Bayi mungkin memerlukan larutan glukosa 10%.(5) Mulai berikan minum jika kondisi bayi stabil (biasanya pada hari ke-2, pada bayi yang lebih matur mungkin pada hari ke-1). Pemberian minum dimulai jika perut tidak distensi dan lembut, terdapat bising usus, telah keluar mekonium dan tidak terdapat apnu. (5)     Gunakan tabel minum(5). Hitung jumlah minum dan waktu pemberiannya. (5) Jika toleransi minum baik, tingkatkan kebutuhan perhari. (5) Pemberian susu dimulai dengan 2-4 mL setiap 1-2 jam melalui pipa lambung. Beberapa BBLSR yang aktif dapat minum dengan cangkir dan sendok atau pipet steril. Gunakan hanya ASI jika mungkin. Jika volume 2-4 mL dapat diterima tanpa muntah, distensi perut atau retensi lambung lebih dari setengah yang diminum, volume dapat ditingkatkan sebanyak 1-2 mL per minum setiap hari. Kurangi atau hentikan minum jika terdapat tanda-tanda toleransi yang buruk. Jika target pemberian minum dapat dicapai dalam 5-7 hari pertama, tetesan IV dapat dilepas untuk menghindari infeksi. (5)  Minum dapat ditingkatkan selama 2 minggu pertama kehidupan hingga 150-180 mL/kg/hari (minum 19-23 mL setiap 3 jam untuk bayi 1 kg dan 28-34 mL untuk bayi 1.5 kg). Setelah bayi tumbuh, hitung kembali volume minum berdasarkan berat badan terakhir. (5)

19

 Antibiotika dan Sepsis  Faktor-faktor risiko sepsis adalah: bayi yang dilahirkan di luar rumah sakit atau dilahirkan dari ibu yang tidak sehat, pecah ketuban >18 jam, bayi kecil (mendekati 1 kg). (5)  Jika terdapat salah satu TANDA BAHAYA atau tanda lain infeksi bakteri berat mulailah pemberian antibiotic(5)  Apnu  Amati bayi secara ketat terhadap periode apnu dan bila perlu rangsang pernapasan bayi dengan mengusap dada atau punggung. Jika gagal, lakukan resusitasi dengan balon dan sungkup. (5)   Jika bayi mengalami episode apnu lebih dari sekali dan atau sampai membutuhkan resusitasi berikan sitrat kafein atau aminofilin. (5) Kafein lebih dipilih jika tersedia. Dosis awal sitrat kafein adalah 20 mg/ kg oral atau IV (berikan secara lambat selama 30 menit). Dosis rumatan sesuai anjuran
(5)

 

Jika kafein tidak tersedia, berikan dosis awal aminofilin 10 mg/kg secara oral atau IV selama 15-30 menit . Dosis rumatan sesuai anjuran. (5) Jika monitor apnu tersedia, maka alat ini harus digunakan. (5)

TANDA BAHAYA ATAU TANDA INFEKSI BERAT Tanda bahaya (5) Tanda dan gejala sakit berat pada bayi baru lahir dan bayi muda sering tidak spesifik. Tanda ini dapat terlihat pada saat atau sesudah bayi lahir, saat bayi baru lahir datang atau saat perawatan di rumah sakit. Pengelolaan awal bayi baru lahir dengan tanda ini adalah stabilisasi dan mencegah keadaan yang lebih buruk. Tanda ini mencakup:         Tidak bisa menyusu Kejang Mengantuk atau tidak sadar Frekuensi napas < 20 kali/menit atau apnu (pernapasan berhenti selama >15 detik) Frekuensi napas > 60 kali/menit Merintih Tarikan dada bawah ke dalam yang kuat Sianosis sentral.

20

Tanda infeksi berat(5) Faktor risiko infeksi bakteri berat adalah:                Ibu demam (suhu > 37.90 C sebelum atau selama persalinan) Ketuban pecah > 18 jam sebelum persalinan Cairan amnion berbau busuk.

Tanda infeksi lain: Ikterus berat Distensi perut berat

Tanda infeksi lokal adalah : Nyeri dan bengkak sendi, gerakan berkurang dan rewel jika bagian-bagian ini disentuh. Pustula kulit banyak dan berat Pusar kemerahan, meluas ke kulit sekitarnya atau terdapat nanah Ubun-ubun membonjol

Tatalaksana pemberian antibiotika(5) Anak harus di rawat di rumah sakit. Jika pemeriksaan kultur darah tersedia, lakukan pemeriksaan tersebut sebelum memulai antibiotik. Jika ditemukan tanda infeksi bakteri yang berat, beri ampisilin (atau penisilin) dan gentamisin Beri kloksasilin (jika ada) sebagai pengganti penisilin jika pustula atau abses kulit meluas arena tanda ini dapat merupakan tanda-tanda infeksi stafilokokus. Sebagian besar infeksi bakteri yang berat pada neonatal harus diobati dengan antibiotik sekurangnya 10 hari. Jika tidak membaik dalam 2-3 hari, ganti antibiotika dengan sefalosporin generasi ke3 (sefotaksim) atau rujuk bayi ke fasilitas yang lebih lengkap. Dosis obat antibiotika untuk bayi baru lahir dan BBLR(5) Ampisilin IM/IV: 50 mg/kgBB setiap 12 jam (minggu pertama kehidupan) setiap 8 jam (minggu ke 2-4 kehidupan ) Bentuk : vial 250 mg dicampur dengan 1.3 ml air steril menjadi 250 mg /1.5 ml.

21

Gentamisin Minggu I kehidupan: BBLR: 3 mg/kgBB/dosis, 1x sehari (IM/IV) BBL normal: 5 mg/kgBB/dosis, 1x sehari (IM/IV) Minggu 2-4 kehidupan: 7.5 mg/ kgBB/dosis, 1x sehari (IM/IV) Bentuk : vial 20 mg/2ml vial 80 mg/2 ml ditambah 8 ml air steril menjadi 10 mg/ml

Kloksasilin 25-50 mg/kgbb/dosis Setiap 12 jam (minggu pertama kehidupan) Setiap 8 jam (minggu 2-4 kehidupan) Bentuk vial 250 mg ditambah dengan 1,3 ml air steril menjadi 250 mg/1,5 ml

Tindakan pencegahan infeksi: 1. Cara kerja aseptik, cuci tangan sebelum dan sesudah memegang bayi. 2. Mencegah terlalu banyak bayi dalam satu ruangan. 3. Melarang petugas yang menderita infeksi masuk ke tempat bayi dirawat. 4. Pemberian antibiotik sesuai dengan pola kuman. 5. Membatasi tindakan seminimal mungkin.

2.10

PENCEGAHAN Upaya-upaya yang dapat dilaksanakan untuk mencegah terjadinya BBLR : 1. Upaya agar melaksanakan antenatal care yang baik, segera melakukan konsultasi dan merujuk bila ibu terdapat kelainan. 2. Meningkatkan gizi masyarakat sehingga dapat mencegah terjadinya persalinan dengan BBLR. 3. Tingkatkan penerimaaan keluarga berencana. 4. Anjurkan lebih banyak istirahat, bila kehamilan mendekati aterm, atau istirahat berbaring bila terjadi keadaan yang menyimpang dari kehamilan normal. 5. Tingkatkan kerjasama dengan dukun beranak yang masih mendapat kepercayaan masyarakat. (8)

22

2.11

JADWAL IMUNISASI PADA BBLR Bayi prematur dapat diimunisasi sesuai dengan umur kronologisnya dengan dosis dan jadwal yang sama dengan bayi cukup bulan. Vaksin DTwP atau DTaP,Hib dan OPV diberikan pada umur 2 bulan. Bila bayi masih dirawat pada umur 2 bulan sebaiknya diberikan IPV, bila akan diberikan OPV sebaiknya ditunda sampai saat bayi akan dipulangkan dari RS/Rumah Bersalin untuk menghindarkan penyebaran virus polio kepada bayi lainyang sedang dirawat. Pada bayi premature respon imun kurang bila dibandingkan bayi matur terhadap imunisasi hepatitis B, sehingga pemberian vaksin hepatitis B dapat dilakukan dengan 2 cara sebagai berikut  Ibu positif HbsAg, berat lahir > 2000 g: Harus diberikan hepatitis B bersamaan dengan HBIG pada 2 tempat yang berlainan dalam waktu 12 jam. Dosis ke-2 diberikan 1 bulan kemudian, dosis ke-3 dan ke-4 diberikan umur 6 dan 12 bulan. Periksa titer anti-HBs dan HbsAg pada umur 9-15 bulan. Bila HbsAg dan anti-HBs negative, reimunisasi dengan 3 dosis dengan interval 2 bulan dan periksa kembali HbsAg dan anti-HBs.  Ibu positif HbsAg, berat lahir < 2000 g : Bayi harus diberikan vaksin Hepatitis B + HBIg pada 2 tempat suntikan yang berlainan dalam waktu 12 jam. Imunisasi vaksin hepatitis B ke 2 diberikan umur 1 bulan dan berat badan mencapai 2000 g, selanjutnya umur 2-3 bulan dan 6 bulan umur kronologis. Periksa anti-HBs dan HbsAg pada umur 9-15 bulan. Bila HbsAg dan anti-HBs negative, reimunisasi dengan 3 dosis dengan interval 2 bulan dan periksa kembali HbsAg dan anti-HBs  Ibu negative HbsAg, berat lahir >2000 g: Pemberian imunisasi hepatitis B dosis pertama saat lahir, selanjutnya umur1-6 bulan umur kronologis.  Ibu negative HbsAg, berat lahir <2000 g: Imunisasi pertama saat berat badan telah mencapai 2000 g atau secara klinis keadaannya stabil dalam 30 hari umur kronologis atau pada saat keluar dari RS sebelum 30 hari. Imunisasi Hepatitis B dalam 3 dosis pada umur 1-2 bulan, 2-4 bulan dan 6-18 bulan umur kronologis  Ibu tidak diketahui status HbsAg, berat lahir > 2000 g:

23

Diberikan vaksin Hepatitis B dalam 12 jam. Periksa HbsAg ibu segera. Bila hasil positif, ditambahkan HBIg dalam waktu 7 hari.  Ibu tidak diketahui status HbsAg, berat lahir < 2000 g: Diberikan vaksin hepatitis B. periksa HbsAg ibu segera, bila tidak dapat dilakukan dalam 12 jam, berikan HBIg dalam 12 jam. Saat ini telah beredar vaksin kombinasi hepatitis B dengan DTP, DTaP (DTP/HepB). Vaksin kombinasi baru dapat diberikan pada umur kronologis setelah 6 minggu, jadi vaksin kombinasi tidak dapat diberikan sebagai imunisasi pertama pada bayi premature. (11)

2.12

PEMULANGAN DAN PEMANTAUAN BBLR

BBLR dapat dipulangkan apabila : (5) • Tidak terdapat TANDA BAHAYA atau tanda infeksi berat. • Berat badan bertambah hanya dengan ASI. • Suhu tubuh bertahan pada kisaran normal (36-37˚C) dengan pakaian terbuka. • Ibu yakin dan mampu merawatnya. BBLR harus diberi semua vaksin yang dijadwalkan pada saat lahir dan jika ada dosis kedua pada saat akan dipulangkan. (5) 2.13 KONSELING PADA SAAT BBLR PULANG

Lakukan konseling pada orang tua sebelum bayi pulang mengenai : (5) • pemberian ASI eksklusif • menjaga bayi tetap hangat • tanda bahaya untuk mencari pertolongan Timbang berat badan, nilai minum dan kesehatan secara umum setiap minggu hingga berat badan bayi mencapai 2.5 kg(5). 2.14 PROGNOSIS Tergantung dari berat ringannya masalah perinatal, seperti; masa gestasi (semakin muda dan semakin rendah berat badan bayi makin tinggi angka kematiannya), komplikasi yang menyertai (asfiksia/iskemia, sindrom gangguan pernafasan, perdarahan intraventrikuler, infeksi, gangguan metabolik, dll)(8)

24

2.15

KOMPLIKASI 1. Sindrom gangguan pernafasan idiopatik(5) 2. Pneumonia aspirasi(5) 3. Perdarahan intraventrikular(5) 4. Fibroplasia retrolental(5) 5. Hiperbilirubinemia (5) 6. Hipoglikemia simtomatik(5) 7. Asfiksia neonatorum(5) 8. Anemia(7) 9. Polisitemia (7) 10. Rakitis prematuritas(7) 11. PDA(7) 12. Kerusakan otak(7)

25

BAB III PENUTUP
3.1.KESIMPULAN Bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan masalah kesehatan yang sering dialami pada sebahagian masyarakat yang ditandai dengan berat lahir kurang dari 2500 gram. BBLR yang tidak ditangani dengan baik dapat mengakibatkan timbulnya masalah pada semua sistem organ tubuh meliputi gangguan pada pernafasan (aspirasi mekonium, asfiksia neonatorum), gangguan pada sistem pencernaan (lambung kecil), gangguan sistem perkemihan (ginjal belum sempurna), gangguan sistem persyarafan (respon rangsangan lambat). Selain itu bayi berat lahir rendah dapat mengalami gangguan mental dan fisik serta tumbuh kembang.

3.2.SARAN Diharapkan setelah dirawat bayi dapat: Berat badan naik mencapai normal, daya hisap kuat, tidak terjadi infeksi dan hipotermi, maupun resiko infeksi. proses perawatan bayi BBLR sebaiknya dengan mempertahankan teknik aseptik dalam setiap melakukan tindakan. Kepada dokter muda diharapkan dapat menganalisis dan menegakkan diagnosa sesuai dengan prioritas masalah yang ada, menetapkan intervensi dan mengevaluasi tindakan yang dilakukan pada BBLR.

26

DISKUSI 1. Apakah berbeda penatalaksanaan antara BBLR dengan Prematuritas Murni dengan Dismaturitas? Jelaskan! Jawab : Berbeda. Penatalaksanaan BBLR karena prematuritas murni :   intubasi dan suction trakea dilakukan apabila terjadi aspirasi mikoneum pemberian kortikosteroid (betamethasone atau dexamethasone) kepada ibu hamil 24jam sebelum dia melahirkan bayi premature. Hal ini ajan mengurangi resiko HMD > 50%, mengurangi mortalitas > 50%, dan mengurangi perdarahan intrakranium.   pemberian surfaktan eksogenus melalui selang endotrakeal pada BBLR

dengan HMD ( http://www.emedicine.com) fototerapi dilakukan pada hiperbilirubinemia. Hal ini terjadi karena faktor kematangan hepar belum sempurna (3) Penatalaksanaan BBLR karena dismaturitas :  pemberian makanan dini (early feeding), karena biasanya pada BBLR dengan dismaturitas tampak haus. Hal ini penting untuk menghindari terjadinya hipoglikemia.  memeriksa kadar gula darah setiap 8-12 jam. Sebaiknya lakukan terlebih dahulu pemeriksaan penyaring dengan dextrostix. Jika dengan cara ini kadar glukosa 45mg% atau kurang, harus dilanjutkan dengan pemeriksaan true glucose.  awasi frekuensi pernafasan dalam 24 jam pertama. Hal ini dilakukan untuk mengetahui adanya sindroma aspirasi mekonium atau sindroma gangguan pernafasan idiopatik. Sebaiknya setiap jam dihitung, jika frekuensinya lebih dari 60 kali/menit lakukan foto toraks.    awasi temperaturnya, karena pada BBLR dengan dismaturitas lebih mudah terjadi hipotermik pencegahan terhadap infeksi, karena terjadi gangguan pemindahan IgG dari ibu ke janin. waspada terhadap kelainan congenital, karena terjadi Intra Uterine Growth Retardation (IUGR)

27

pada BBLR dengan dismaturitas yang preterm, dapat juga dilaksanakan penatalaksanaan seperti pada BBLR dengan prematuritas murni.(3)

2. Mengapa pada BBLR sering terjadi masalah ketidakstabilan suhu? Jawab : Karena pada bayi kurang bulan memiliki kesulitan untuk mempertahankan suhu tubuh akibat :     peningkatan kehilangan panas berkurangnya lemak subkutan rasio daerah permukaan terhadap berat badan yang tinggi berkurangnya produksi panas karena tidak memadainya lemak coklat dan ketidakmampuan untuk menggigil (9) 3. Apakah setiap BBLR perlu diberikan Antibiotik? Jawab : Tidak, antibiotik hanya diberikan pada BBLR dengan tanda bahaya dan infeksi berat saja.            
(5)

Tanda bahaya antara lain : tidak bisa menyusu kejang mengantuk atau tidak sadar kecepatan pernafasan < 20 kali/menit atau apnu kecepatan pernafasan > 60 kali/menit merintih tarikan dada bawah kedalam yang kuat sianosis sentral

Tanda infeksi berat antara lain : yang termasuk tanda bahaya ikterus berat distensi perut berat tanda infeksi lokal :  nyeri dan bengkak sendi, gerakan berkurang dan rewel jika bagian-bagian ini disentuh  pustule kulit banyak dan berat  pusar kemerahan, meluas ke kulit sekitarnya atau terdapat nanah  ubun-ubun menonjol

28

4. Selain BBLR, kapan dilakukan penilaian umur gestasi dengan menggunakan ballard score? Jawab : Selain BBLR, Ballard score dilakukan pada:   Bayi yang tidak diketahui usia gestasinya Bayi dengan berat ≥ 4 kg

5. Bagaimana penatalaksanaan BBLR yang lahir dengan ketuban keruh? Jawab: Secara prosedural dilakukan kultur terlebih dahulu. Hasil kultur baru diketahui setelah satu minggu. Untuk menunggu hasil kultur, diberikan antibiotik (5) Ampicillin IM/IV: 50 mg/kgBB setiap 12 jam (minggu pertama kehidupan) setiap 8 jam (minggu ke 2-4 kehidupan ) Bentuk : vial 250 mg dicampur dengan 1.3 ml air steril menjadi 250 mg /1.5 ml. Gentamisin Minggu I kehidupan: BBLR: 3 mg/kgBB/dosis, 1x sehari (IM/IV) Bentuk : vial 20 mg/2ml vial 80 mg/2 ml ditambah 8 ml air steril menjadi 10 mg/ml Jika keadaan fisik dan hasil laboratorium tidak menunjukkan perubahan kearah positif, antibiotik tersebut dapat diganti dengan sefalosporin generasi ke3. Setelah hasil kultur diketahui, berikan antibiotik yang sesuai dengan penyebabnya.

6. Bagaimana mekanisme kehilangan panas pada bayi baru lahir? Jawab : Bayi baru lahir dapat kehilangan panas tubuhnya melalui cara-cara berikut: 1) Evaporasi Evaporasi adalah kehilangan panas akibat penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri. Hal ini merupakan jalan utama bayi kehilangan panas. Kehilangan panas juga terjadi jika saat lahir

29

tubuh bayi tidak segera dikeringkan atau terlalu cepat dimandikan dan tubuhnya tidak segera dikeringkan dan diselimuti. 2) Konduksi Konduksi adalah kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin. Meja, tempat tidur atau timbangan yang temperaturnya lebih rendah dari tubuh bayi akan menyerap panas tubuh bayi melalui mekanisme konduksi apabila bayi diletakkan di atas benda-benda tersebut. 3) Konveksi Konveksi adalah kehilangan panas tubuh yang terjadi saat bayi terpapar udara sekitar yang lebih dingin. Bayi yang dilahirkan atau ditempatkan di dalam ruangan yang dingin akan cepat mengalami kehilangan panas. Kehilangan panas juga terjadi jika ada aliran udara dingin dari kipas angin, hembusan udara dingin melalui ventilasi / pendingin ruangan. 4) Radiasi Radiasi adalah kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat benda-benda yang mempunyai suhu lebih rendah dari suhu tubuh bayi. Bayi dapat kehilangan panas dengan cara ini karena benda-benda tersebut menyerap radiasi panas tubuh bayi (walaupun tidak bersentuhan secara langsung)

7. Seperti apa bentuk kejang pada bayi baru lahir /neonatus? Jawab: Bentuk kejang pada bayi baru lahir/neonatus (3) 1) Bentuk kejang yang hampir tidak terlihat. Terbanyak didapat pada neonates berupa : a. Deviasi horizontal bola mata b. Getaran dari kelopak mata/berkedip-kedip c. Gerakan pipi dan mulut seperti mengisap, megunyah, mengecap dan menguap d. Apnu berulang e. Gerakan tonik tungkai 2) Kejang klonik multifocal Gerakan klonik berpindah-pindah dari satu anggota gerak ke anggota gerak lainnya secara tidak teratur. Kadang-kadang karena kejang yang satu dengan yang lainnya saling bersambungan dapat menyerupai kejang umum.

30

3) Kejang tonik Ekstensi kedua tungkai, kadang-kadang dengan fleksi kedua lengan menyerupai keadaan dekortikasi. 4) Kejang mioklonik Berupa gerakan fleksi seketika seluruh tubuh. Jarang terlihat pada neonatus.

8. Mengapa pada bayi BBLR sering terjadi apneu? Bagaimana penatalaksanaan dan mekanisme kerjanya? Jawab : Pada BBLR sering terjadi apneu karena : a. Imaturitas pusat pernafasan b. Obstruksi jalan nafas oleh lendir atau susu c. Serangan apnu yang menyertai beberapa kelainan paru yang berat, misalnya penyakit hialin membrane, pneumonia, perdarahan paru. d. Gangguan SSP, misalnya perdarahan intracranial, kernicterus e. Gangguan metabolic, misalnya hipoglikemia, perubahan keseimbangan asambasa, cairan dan elektrolit tubuh Penatalaksanaannya :      Melakukan rangsangan mekanis pada bayi dengan mengubah letak bayi atau memukul telapak kaki bayi Membersihkan saluran nafas Diberikan O2 intranasal dengan sedikit tekananatau melakukan frog breathing Menyelidiki dasar etiologi serangan apnu dan sikap selanjutnya disesuaikan dengan etiologinya. Dapat diberikan aminofilin 2-4 mg/kgbb setiap 6 jam secara IV untuk merangsang pusat pernafasan yang belum matur

Mekanisme kerja Aminofilin : Pemberian teofilin oral atau iv, dapat mengurangi lamanya apnu pada bayi prematur. Dosis yang digunakan 2,5-5 mg/kgBB/hari. Aminofilin merupakan garam dari teofilin. Pada penggunaan iv tersedia dalam ampul 10 mL mengandung 24 mg aminofilin setiap mililiternya. Teofilin merupakan derivate Xantin.

31

Mekanisme kerja Xantin : Menghambat kerja enzim fosfodiesterase (PDE) sehingga mencegah pemecahan cAMP dan cGMP masing-masing menjadi 5-AMP dan 5-GMP. Penghambatan PDE menyebabkan akumulasi cAMP dan cGMP dalam sel-sel sehingga menyebabkan relaksasi otot polos, termasuk otot polos bronkus. Teofilin merupakan antagonis kompetitif pada reseptor adenosin, sehingga dapat mengatasi bronkokonstriksi pada pasien asma. Teofilin juga memiliki efek anti inflamasi dan menghambat pelepasan mediator dari sel radang, karena teofilin mengaktivasi histon deasetilase dalam nucleus. Deasetilasi histon dapat menurunkan transkripsi beberapa gen proinflamasi dan memperkuat efek kortikosteroid. Xantin memiliki efek farmakologis antara lain : a. Relaksasi otot polos (terutama otot polos bronkus)   Efek bronkodilasi aminofilin disebabkan oleh antagonisme terhadap reseptor adenosine maupun inhibisi PDE. suntikan aminofilin iv menyebabkan berkurangnya gerakan usus halus dan usus besar untuk sementara waktu b. Merangsang SSP  Dapat merangsang pusat nafas karena meningkatkan kepekaan pusat nafas terhadap perangsangan CO2, sehingga pada bayi prematur frekuensi maupun lamanya episode apnu dapat dikurangi.  Pemberian aminofilin dengan dosis 2mg/kgBB dapat mempercepat pemulihan pada keadaan sedasi c. Merangsang sistem kardiovaskular   Dapat meningkatkan secara moderat frekuensi denyut jantung dan curah jantung dengan nyata dan segera. Dapat meyebabkan dilatasi pembuluh darah termasuk pembuluh darah koroner dan pulmonal. d. Merangsang otot rangka   Dapat meningkatkan kapasitas kerja otot termasuk otot bantu pernafasan. Aminofilin dapat memperbaiki kontraktilitas dan mengurangi kelelahan otot diafragma. e. Meningkatkan diuresis

32

Dapat meninggikan produksi urin tapi efeknya hanya sebentar. Hal ini terjadi diduga karena terjadi penghambatan reabsorbsi elektrolit ditubuli proksimal maupun disekmen dilusi tanpa disertai dengan perubahan filtrasi glomeroli ataupun aliran darah ginjal

f. Merangsang sekresi lambung      Dapat meninggikan sekresi pepsin dan asam Dapat meningkatkan katekolamin dalam darah, enzim dopamin-hidroksilase dan aktivitas renin dalam plasma. Dapat meningkatkan kadar gastrin dan hormone paratiroid dalam plasma.

g. Efek metabolic Meningkatkan kadar lemak bebas dalam plsma. Meninggikan metabolisme basal

(Farmakologi dan Terapi Edisi 5 halaman 252-258)

33

DAFTAR PUSTAKA
1. Diakses dari http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/134 pada tanggal 6 Februari 2013 pukul 16.00 WIB 2. Prawirohardjo, Sarwono.2005.Ilmu Kebidanan.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka

Sarwono Prawirohardjo 3. Staf pengajar FKUI.1997.Buku Kuliah 3 Ilmu Kesejatan Anak.Jakarta:Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI 4. Setyowati T. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bayi Lahir dengan Berat Badan Rendah (Analisa data SDKI 1994). Badan Litbang Kesehatan, 1996. Diakses dari http://www.digilib.litbang.depkes.go.id pada tanggal 7 Februari 2013 pukul 19.00 WIB 5. Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak Di Rumah Sakit rujukan tingkat pertama di kabupaten/kota, Jakarta: DepKes RI,2008 6. Prawirohardjo, Sarwono.2002.Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo 7. Habel Alex. Buku Saku Ilmu Penyakit Anak untuk Pemula . Bina rupa aksara publisher 8. BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah). Diakses dari pada

http://dianopretz.wordpress.com/2011/11/23/bblr-bayi-berat-lahir-rendah/ tanggal 9 Februari 2013 pukul 15.30 WIB

9. Damanik Sylviati M. Klasifikasi Bayi Menurut Berat Lahir dan Masa Gestasi . Dalam Kosim MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A, penyunting. Buku ajar neonatologi. Edisi 1. Jakarta: IDAI. 2008 10. Ballard score dari http://irapanussa.blogspot.com/2012/06/ballard-score.html pada tanggal 17 Februari 2013 pukul 09.00 11. Ranuh I.G.N Gde, Suyitno Hariyono, dkk. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Satgas Imunisasi IDAI

34