You are on page 1of 21

WRAP UP SKENARIO 3 MENCRET

KELOMPOK B – 2 Ketua Sekertaris Anggota : Trias Putra Pamungkas : Tenni Widya Sari : Mazaya Ekawati Muthiara Surya Rosi Nadilah Vicianty Meista Sari Widya Paramita Yuris Adi Prakoso Zahra Puspita Zulfikar
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI JAKARTA 2011

1102011286 1102011277 1102011158 1102011183 1102011245 1102011288 1102010287 1102010304 1102011301 1102011303

SASARAN BELAJAR LO 1. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ANALISA GAS DARAH LI 1.1 Definisi Analisa Gas Darah LI 1.2 Langkah-langkah Analisa Gas Darah LI 1.3 Tujuan Analisa Gas Darah LI 1.4 Parameter Analisa Gas Darah LO 2. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN KESEIMBANGAN ASAM BASA LI 2.1 Definisi Asam Basa LI 2.2 Klasifikasi Asam Basa LI 2.3 Sumber Asam Basa LI 2.4 Fisiologi Keseimbangan Asam Basa LO 3. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN UKURAN KEASAMAN PH LI 3.1 Definisi pH LI 3.2 Cara Menentukan pH Larutan Asam dan Basa LI 3.3 Rumus mencari pH LI 3.4 Manfaat Pengukuran pH LI 3.5 Penyebab perubahan pH LO 4. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ASIDOSIS METABOLIK LI. 4.1 Definisi Asidosis Metabolik LI 4.2 Etiologi Asidosis Metabolik LI 4.3 Manifestasi klinis Asidosis Metabolik LI 4.4 Diagnosis Asidosis Metabolik LI 4.5 Penanganan Asidosis Metabolik LI 4.6 Kompensasi Asidosis Metabolik

SKENARIO MENCRET

Seorang laki-laki, 35 tahun, dibawa ke Puskesmas karena mengalami mencret lebih dari 12 kali dalam sehari sejak 2 hari yang lalu. Keluhan ini timbul setelah makan malam di warung nasi dekat rumahnya. Pemeriksaan fisik : kesadaran komposmentis lemah, TD: 85/60 mmHg, nadi:120x/menit, pernapasan 34x/menit, cepat dalam. Jumlah urine sedikit. Di Puskesmas penderita dipasang infus dan diberikan pertolongan pertama lalu dirujuk ke RS terdekat. Dokter meminta untuk diperiksa Analisa Gas Darah Kesannya : terdapat gangguan keseimbangan asam basa berupa asidosis metabolik, dengan anion gap yang normal.

LO 1 MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ANALISA GAS DARAH LI 1.1 Definisi Analisa Gas Darah Analisa gas darah adalah pengukuran pH dan juga keseimbangan asam basa, oksigenasi (PaO2), kadar karbondioksida (PaCO2) , kadar bikarbonat (HCO3), saturasi oksigen, dan kelebihan atau kekurangan basa (Base Excess). Analisa gas darah biasanya didasarkan pada pengambilan sampel arteri. Nilai vena diberikan sebagai referensi. (Horne, Swearingen.2001) Analisa gas darah berguna untuk menginterprestasi:  Apakah pasien menderita asidemia / alkalemia? - pH < 7,35 disebut asidemia - pH > 7,45 disebut alkalemia Apakah masalah primer gangguan asam basa - Asidosis Metabolik : HCO3 menurun PaCO2 menurun - Akalosis Metabolik : HCO3 meningkat PaCO2 meningkat - Asidosis Respitoris : PaCO2 meningkat HCO3 meningkat - Alkalosis Respitoris : PaCO2 menurun HCO3 menurun

Kadar Normal Gas Darah pH PaCO2 PaO2 HCO3 Saturasi Oksigen Base Excess

7,35 - 7,45 35 – 45 mmHG 80 – 100 mmHG 22 – 26 mEq/L 95 – 100% -2,4 s.d +2,3

LI.1.2 Langkah-langkah Analisa Gas Darah 1. Langkah satu, tentukan apakah pH normal. Bila pH menyimpang dari 7,40 perhatikan seberapa besar pH menyimpang dan kemana arahnya. Jika pH >7,45 adalah Alkalosis ,dan jika pH <7,35 adalah Asidosis. Apakah pH dalam keadaan kritis yaitu >7,55 atau <7,20. 2. Langkah dua, periksa PaCO2, bila menyimpang dari 40 mmHg, PaCO2 dan pH arahnya adalah berlawanan, jika PaCO2 meningkat maka pH menurun (Asidosis), dan sebaliknya. 3. Langkah tiga, tentukan nilai HCO3. Bila HCO3 menyimpang dari 24 mEq/L perhatikan derajat dan arah penyimpangan. HCO3 dan pH bergerak dalam arah yang sama. 4. Langkah empat, bila PaCO2 dan HCO3 Abnormal, tetapkan nilai mana yang berhubungan lebih erat dengan nilai pH.

5. Langkah lima, periksa PaCO2 dan saturasi oksigen untuk menentukan apakah PaCO2 menurun, normal, atau meningkat. Penurunan PaCO2 dan Saturasi O2 dapat menimbulkan Asidosis Laktat dan dapat menandakan perlunya peningkatan konsentrasi oksigen. Sebaliknya konsentrasi PaO2 tinggi dapat menandakan kebutuhan untuk menurunkan konsentrasi oksigen yang diberikan. (Horne, Swearingen.2001) LI.1.3 Tujuan Analisa Gas Darah 1. Sebagai penggambaran hasil berbagai tindakan penunjang yang dilakukan 2. Pegangan dalam penanganan pasien-pasien yang memiliki penyakit berat yang akut dan menahun (Horne, Swearingen.2001) LI.1.4 Parameter Analisa Gas Darah 1. Pengukuran pH dilakukan dengan elektroda pH 2. Pengukuran PaCO2 dilakukan dengan elektroda CO2. Elektroda berada dlam lingkungan buffer bikarbonat dan dipisahkan dari sampel darah oleh suatu membrane semipermeable untuk CO2. CO2 yang berdifusi kedalam buffer mengakibatkan perubahan pH dan nilai ini yang diukur oleh elektroda. 3. Pengukuran PaO2 dilakukan dengan elektroda O2. (Madjid.2008 Gangguan keseimbangan cairan elektrolit asam basa FKUI)

LO 2. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN KESEIMBANGAN ASAM BASA LI 2.1 Definisi Asam Basa Definisi Asam dan basa Asam : sekelompok zat yang mengandung hidrogen yang mengalami disosiasi atau terpisah dalam larutan untuk menghasilkan H+ Basa: Bahan yang dapat berikatan dengan H+ Teori Arhenius Asam : Zat yang terdisosiasi dalam air yang membentuk ion hidrogen (H+) Basa : Zat yang terdiososiasi dalam air yang membentuk ion hidroksil (OH-) Teori Bronsted lowry Asam : suatu zat/bahan yang cenderung memberikan sebuah proton Basa: suatu zat/bahan yang cenderung menerima sebuah proton

Asam basa adalah proses memberi dan menerimanya proton serta pembentukan ion hidrogen dan hidroksil  Diperkenalkan oleh Johannnes Bronsted & Thomas Lowry pada tahun 1923  Asam didefinisikan sebagai suatu zat yang dapat memberikan ion hidrogen, dan sebuah basa adalah suatu zat yang dapat menerima ion hidrogen  Dalam reaksi asam basa, ion hidrogen dipindahkan dari asam ke basa CH3COOH(aq) + H2O(l) Asam 1 Basa 1 ↔ H3O+(aq) + CH3COO-(aq) Asam 2 Basa 2

 Asam-basa terdapat sebagai pasangan konyugat. CH3COO- adalah basa konyugat dari CH3COOH dan sebaliknya. H3O+ dan H2O juga membentuk pasangan asam-basa konyugat.

HCl(dalam NH3) + NH3(l) ↔ NH4+(dalamNH3) + Cl-(dalamNH3) Asam 1 Basa 1 Asam 2 Basa 2

 Contoh asam basa bronsted lowry pada pelarut non-H2O  Beberapa molekul dan ion dapat berfungsi sebagai asam maupun sebagai basa tergantung konsidi reaksi sehingga disebut amfoter. Sebagai contoh air dan ion hidrogen karbonat
+ 3 2 3 3 -

CH COOH(aq) + H O(l) ↔ H O (aq) + CH COO (aq)
+ -

H O(l)
2 2 3

+ NH (aq)
3

↔NH (aq) + OH (aq)
4 + 22

H CO (aq) + H O(l) ↔H O (aq) + CO (aq)
2 3 2 3

H O(l)
2

+ HCO (aq) ↔ H CO (aq) + OH (aq)
3

Asam 1

Basa 1

Asam 2

Basa 2

TEORI ASAM BASA LEWIS  Basa Lewis merupakan jenis basa yang menyumbangkan sepasang elektron bebas (donor elektron)  Asam Lewis adalah jenis asam yang menerima sepasang elektron bebas (akseptor elektron)  Salah satu contohnya reaksi molekul yang kekurangan elektron BF3 dengan molekul kaya elektron NH3 membentuk BF3NH3  Definisi Lewis mensistematiskan kimia berbagai macam oksida biner yang dapat dianggap sebagai anhidrida asam atau basa

 Anhidrida asam didapatkan dengan mengambil air dari suatu asam okso sampai hanya tertinggal oksidanya, dengan demikian CO2 merupakan anhidrida asam karbonat (H2CO3)  CO2(g) + H2O(l) ↔ H2CO3(aq) Oksida logam Golongan I dan II adalah anhidrida basa, yang diperoleh dengan menghilangkan air dari hidroksida yang sesuai. Contoh kalsium oksida, CaO, adalah anhidrida basa dari kalsium hidroksida Ca(OH)2 CaO(s) + H2O(l) Ca(OH)2(s) Reaksi oksida asam dan basa Lewis CaO(s) + CO2(g) ↔ CaCO3(s)

LI 2.2 Klasifikasi Asam Basa  Berdasarkan kekuatannya  ASAM KUAT  Asam kuat adalah asam yang seluruhnya terionisasi di dalam larutan air. Contohnya HCl, HBr, HI, H2SO4, HNO3, dan HClO4  Kekuatan asam dari seluruh asam kuat sama besar (efek perataan) dalam pelarut air, walaupun kemampuan untuk menyumbangkan hidrogen berbeda  Kesetimbangan reaksi asam kuat bergerak ke arah kanan (=1)  BASA KUAT
-

 Basa kuat yaitu basa yang bereaksi sempurna menghasilkan ion OH bila dilarutkan
2 -

dalam air. Ion amida (NH ) dan hidrida (H ) merupakan basa kuat  Kekuatan basa dari seluruh basa kuat sama besar (efek perataan) dalam pelarut air,
-

walaupun kemampuan untuk menyumbangkan OH berbeda  Kesetimbangan reaksi basa kuat bergerak ke arah kanan (=1)  ASAM LEMAH  Asam lemah jika perpindahan ion hidrogen ke air tidak berlangsung sampai selesai (mencapai kesetimbangan)  Asam lemah merupakan elektrolit lemah  Asam lemah menghasilkan sifat koligatif yang lebih kecil daripada asam kuat  Reaksi kesetimbangan asam lemah HA(aq) + H2O(l)↔H3O (aq) + A (aq)  Rumus kesetimbangan [H3O ] [A ]= Ka[HA]
+ + -

 Ka adalah tetapan kesetimbangan asam pada suhu tertentu  BASA LEMAH  Penjelasan asam lemah mirip dengan basa lemah  K = ketetapan kesetimbangan basa
b -

 Basa lemah bereaksi dengan air untuk menghasilkan OH  Jumlah ion yang dihitung [OH ]  K dari basa lemah lebih kecil dari 1 dan semakin lemah suatu basa, semakin kecil nilai K -nya
b b

 Berdasarkan bentuk ion Asam anion (-), contohnya: H2SO4, SO3 Asam Kation (+), contohnya: NH4, H3O Basa anion (-), contohnya : Clˉ, C Basa kation (+), contohnya: Na+

 Asam yang berasal dari proses metabolisme 1. Asam volatil : Asam yang mudah menguap, dapat berubah bentuk menjadi cair maupun gas Contoh : CO2 2. Asam non-volatil : Asam yang tidak mudah menguap, tidak dapat berubah bentuk menjadi gas untuk diekskresikan oleh paru-paru, tetapi harus diekskresikan oleh ginjal. Dapat berupa : Asam organik

Asam anorganik  Berdasarkan kemampuan ionisasinya asam dan basa 1. Asam dan basa monoprotik Dapat melepaskan suatu ion H+/OH- (ionisasi primer) 2. Asam dan basa protipotik Dapat melepaskan 3/lebih ion H+/OH- (ionisasi tersier) 3. Asam basa diprotik Dapat melepaskan ion H+/OH- (ionisasi sekunder)

LI 2.3 Sumber Asam Basa     Asam dan basa bersumber dari: Produksi karbondioksida (C ) oleh sel-sel jaringan. C berikatan dengan air (terutama sel darah merah) untuk membentuk asam karbonat ( C ) yang terurai menjadi ion-ion hidrogen. Asam anorganik yang dihasilkan selama penguraian hidrogen. Asam hidrogen yang dihasilkan dari metabolisme perantara. Sebagian besar ion hidrogen yang dihasilkan merupakan produk sampingan atau produk akhir dari proses katabolisme sempurna karbohidrat, lemak dan protein.

LI 2.4 Fisiologi Keseimbangan Asam Basa Keseimbangan asam basa adalah keseimbangan ion hidrogen, keseimbangan antara ion [ ] bebas dan [HC ] dalam cairan tubuh sehingga keseimbangan tubuh yang harus dijaga kadar ion [ ] bebas dalam batas normal maupun pembentukan asam maupun basa terus berlangsung dalam kehidupan. pH darah normal adalah 7.3-7.5 asam adalah pH dibawah 7.3 dan basa adalah pH di atas 7.5.pH 7.3-7.5 harus tetap dipertahankan,walaupun banyak senyawa-senyawa metabolit atau nutrien yang bersifat mengganggu nilai tersebut.Gangguan ke arah keasaman (asidosis) pH kurang dari 7.3 atau ke arah kebasaan (alkalosis) pH diatas 7.5.Gangguan dapat dipulihkan ke keadaan semula oleh alat kompensasi tubuh. Karena ion [ ] berpengaruh besar dalam keseimbangan asam-basa, maka faktor yang mempengaruhi [ ] juga mempengaruhi keseimbangan asam basa, yaitu : a) Lebihnya kadar [ ] yang ada dalam cairan tubuh, berasal dari  Pembentukan C yang sebagian berdisosiasi menjadi H+ dan HC  Katabolisme zat organik  Disosiasi asam organik pada metabolisme intermedik, contoh pada metabolik lemak terbentuk asam lemak dan laktat yaitu melepaskan [H+] b) Keseimbangan intake dan output ion [H+] tubuh Bervariasi tergantung dari:  Diet ( makanan ), H+ naik, jika kebanyakan makan asam (asidosis), sedangkan dengan mengkonsumsi sayur dan buah bersifat basa banyak menghasilkan HC .  Aktivitas yaitu lari cepat membuat tubuh kita asam karena menghasilkan banyak CO2 sehingga pH turun  Proses anaerob yaitu lebih banyak penumpukan asam laktat seperti olahraga berat sehingga menimbulkan reaksi asam dan membuat pH turun Untuk itu diperlukan kordinasi untuk pengaturan keseimbangan asam basa yang dilakukan dengan 3 sitem :    1.Sistem buffer 2.Sistem respirasi 3.Sistem eksresi melalui ginjal

1. Sistem buffer Sistem buffer disebut juga sistem penahan atau sistem penyangga, karena dapat menahan perubahan pH. Sistem buffer merupakan larutan yang mengandung asam dan basa konjugasinya. Sistem buffer kimia hanya mengatasi ketidakseimbangan asam basa sementara. Jika dengan buffer kimia tidak cukup memperbaiki, maka pengontrolan pH akan dilanjutkan oleh paru paru yang merespon secara cepat terhadap perubahan ion H+ dalam darah karena rangsangan kemoreseptor dan pusat pernafasan mempertahankan kadar [H+] sampai ginjal menghilangkan ketidakseimbangan tersebut, ginjal mampu meregulasi ketidakseimbangan ion H+ dengan mensekresikan ion H+ dan menambahkan HC baru dalam darah karena memiliki dapar fosfat. Didalam tubuh terdapat beberapa sistem buffer, yaitu :  Sistem buffer asam karbonat-bikarbonat  Sistem buffer hemoglobin  Sistem buffer protein  Sistem buffer fosfat Sistem buffer asam karbonat-bikarbonat Sistem buffer ini merupakan suatu komponen yang paling penting pada pengaturan pH cairan ekstraseluler. Sistem buffer bikarbonat merupakan sistem buffer istimewa, sistem buffer tetap merupakan sistem buffer terbaik pada pH 7.4 walaupun Pka nya 6.1, karena dapat mengeluarkan CO2 melalui paru dan jumlahnya banyak. Tubuh mempertahankan sistem buffer bikarbonat ini dengan pengaturan kadar karbondioksida di paru dan bikarbonat di ginjal. H2O + CO2 ↔ H2CO3 ↔ H+ + HCO3-

CO2 bereaksi dengan H2O membentuk CO3 yang kemudian berdisosiasi menjadi ion hidrogen dan ion bikarbonat melalui reaksi reversibel. Bila terjadi peningkatan ion hidrogen, terjadi interaksi dengan ion bikarbonat sehingga terbentuk asam karbonat. Berarti dalam hal ini ion bikarbonat bertindak sebagai basa lemah yang menerima kelebihan ion hidrogen. Asam karbonat yang terbentuk akan mengalami disosiasi menjadi CO2 dan air, dan CO2 yang dihasilkan akan dikeluarkan melalui paru.  Sistem buffer hemoglobin Buffer hemoglobin (Hb) merupakan buffer intraseluler yang bekerja di dalam sel darah merah. Hb dapat berfungsi sebagai buffer karena mengandung residu histidin, yaitu asam amino yang dapat berikatan secara reversibelion hidrogen, menghasilkan Hb bentuk berproton dan tidak berproton. Na+ + HCO3 ↔ NaHCO3 Hb- + H+ ↔ HHb (PK 7-8) Pada sel darah merah, Hb dapat mengikat karbondioksida dan mengubahnya menjadi karbonat karena didalam sitoplasma terkandung anhidrase karbonat, dan proses pengikatan terjadi dengan cepat karena CO2 berdifusi cepat melintasi membran sel

darah merah tanpa memerlukan mekanisme transport aktif membran sel. Kemampuan pengaturan ini dikenal sebagai sistem buffer hemoglobin. Buffer utama cairan ekstraseluler adalah sistem bikarbonat dan hemoglobin. Hb penting untuk pengangkutan oksigen ke jaringan, pengangkut CO2 dan sebagai sistem buffer yang kuat.  Sistem buffer protein Sistem buffer protein berfungsi mengatur pH cairan ekstraserselular dan interstitial.Protein sebagai buffer berinteraksi secara ekstentif dengan sistem buffer lainnya. Protein tersusun oleh asam amino yang mempunyai sifat amfoter, yaitu asam amino akan bersifat sebagai kation pada suasana asam dan bersifat sebagai anion pada suasana basa. Fungsi pengaturan buffer protein: - Bila terjadi penurunan pH, gugus amino (-NH2) dari asam amino akan bertindak sebagai basa lemah dengan mengikat ion hidrogen dan membentuk ion amonium. Gugus amino bertindak sebagai akseptor proton. - Bila terjadi peningkatan pH, gugus karboksil (-COOH) dari asam amino mengalami disosiasi dan berubah menjadi ion karboksil dan ion H+. Gugus karboksil bertindak sebagai donor proton. Cairan interstitium yang mengandung protein dan asam amino terdisosiasi ikut berperan mengatur pH. Protein mengandung asam amino histidin yang mempunyai cincin imitazol dengan Pka = 6.0. Pada kebanyakan protein Pk sekitar 7.0-7.4. Proses pengaturan melalui sistem buffer protein berjalan lambat karena ion hidrogen harus melalui proses difusi membran sel yang dipengaruhi oleh pompa natrium.  Sistem buffer Fosfat Sistem dapar ini berperan penting dalam pendaparan cairan tubulus ginjal dan cairan intrasel Pada cairan intra sel, kehadiran penyangga fosfat sangat penting dalam mengatur pH darah. Penyangga ini berasal dari campuran dihidrogen fosfat (H2PO4-) dengan monohidrogen fosfat (HPO32-). Sistem penyangga fosfat bekerja dalam cara yang serupa untuk mengubah asam kuat menjadi asam lemah dan basa kuat menjadi basa lemah. Natrium hidrogen fosfat ( ) adalah basa lemah dan natrium dihidrogen fosfat ( Na P ) adalah asam lemah HCl + Na2HPO4 ↔ NaH2PO4 + NaCl NaOH + NaH2PO4 ↔ Na2HPO4 + H2O H2PO4-(aq) + H +(aq) 2 PO 4(aq) H2PO4 - (aq) + OH (aq) --> HPO42-(aq)) + H2O (aq) Penyangga fosfat dapat mempertahankan pH darah 7,4. Penyangga di luar sel hanya sedikit jumlahnya, tetapi sangat penting untuk larutan penyangga urin.

Sistem pernapasan tubuh (respirasi) Dengan cara hiperventilasi ataupun hipoventilasi,sistem ini mengatur komponen asam bikarbonat.sehingga rasio Garam bikarbonat dan asam karbonat dipertahankan normal. Dalam Hal ini melibatkan    1.Pemasukan O2 dan pelepasan CO2 di alveoli paru-paru 2.Transportasi O2 dari alveoli paru-paru ke jaringan-jaringan 3.Trasnportasi CO2 dari jaringan ke alveoli paru-paru.

Transportasi O2 dalam darah berbentuk    1.Gas terlarut di dalam plasma darah 2.O2 terikat hemoglobin dalam sel darah merah membentuk senyawa Hb-oksi (HbO2) HbO2 mempunyai keasamaan tinggi,lebih tinggi dari Hb tereduksi

Transportasi CO2 dalam darah berbentuk     1.Gas larut dalam plasma darah (jumlahnya sedikit) 2.Asam karbonat,larut dalam plasma darah (jumlahnya sedikit) 3.Berbentuk ikatan karbamino dengan protein darah,termasuk Hb (kira-kira 20% CO2 yang di transport). 4.garam bikarbonat (kira-kira 70% CO2 yang di transpor)

Kejenuhan Hb-oksi terutama dipengaruhi oleh pO2 dan pCO2 stempat. LO 3. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN UKURAN KEASAMAN PH LO 3.1 Definisi pH PH adalah suatu cara untuk menyatakan konsentrasi ion H+ yang sangat kecil dan untuk menyatakan tingkat keasaman larutan. L.I. 3.2 Cara menentukan PH larutan asam-basa  Secara kualitatif PH di perkirakan dengan menggunakan kertas lakmus (litmus) atau suatu indicator (kertas indikator PH) . Jika menunjukkan warna merah berarti keasaman larutan naik (asam) Jika menunjukkan warna biru berarti keasaman larutan turun (basa) Lalu menggunakan indicator universal , alat PH meter. Secara kuantitatif pengukuran PH menggunakan elektroda potensiometrik . elektroda ini memutar perubahan voltase yang di sebabkan oleh perubahan aktivitas ion hydrogen (H+) dalam larutan .

L.I. 3.3 Rumus mencari PH     Asam kuat PH = -log [H+] Asam lemah PH = Pka + log garam/asam Basa lemah PH = Pka + log garam / basa Basa kuat PoH = - log [OH-]

L.I. 3.4 Manfaat pengukuran PH  Dapat mengetahun PH berbagai substansi dalam tubuh Cairan getah lambung PH 1,0 – 2,0 Urine PH 4,8 – 7,5 Saliva (air liur) PH 1,5 – 1,9 Darah PH 7,25 – 7,75 Dapat lebih mudah untuk menunjang teori terapi Dapat dengan mudah menentukan kadar enzim untuk menentukan penyakit suatu organ tertentu Dapat mengetahui segala kemungkinan dari gangguan keseimbangan asam basa jika memakan makanan yang asam seperti jeruk , limao , etc. Menentukan derajat keasaman dari suatu larutan Menyatakan konsentrasi ion hydrogen Menyatakan suatu kondisi yang asidosis atau alkalosis Mengatur mekanisme ion-ion di cairan ekstraseluler

      

L.I. 3.5 Penyebab perubahan PH  Beban makanan dan beban metabolic Ion hydrogen di tambahkan atau di kurangi sebagai akibat makan-makanan tertentu atau akibat perubahan metabolic Beban respirasi Peningkatan laju pernafasan yang tidak di sertai peningkatan aliran CO2 ke paruparu akan mengurangi tekanan Co2 dalam alveoli . begitu juga pada darah yang kembali menuju ke jaringan perifer sehingga terjadi akibat respiratorik  H+ menurun PH meningkat

ALKALINTIDE adalah pembentukan asam lambung yang di pengaruhi makanan - Protein sekresi HCL meningkat  alkalintide meningkat - Karbohidrat dan lipid  sekresi HCL menurun  alkalintide menurun - Alkalintide meningkat  H+ darah menurun  PH meningkat

Peran ginjal dalam menentukan PH : - Ginjal mengatur PH , konsentrasi ion mineral dan komposisi air dalam darah . ginjal mempertahankan PH plasma darah pada kisaran 7,4 melalui pertukaran ion hydronium dan hydroksil . akibatnya urine yang di hasilkan bersifat asam pada PH 5 atau alkalosis pada PH 8. Larutan buffer adalah campuran asam/basa lemah dan basa/asam konjugasinya yang dapat mempertahankan PH di sekitar daerah kapasitas buffer. Ada 4 sistem buffer utama dalam cairan : 1. System asam karbonat – natrium bikarbonat Merupakan buffer utama dalam cairan ekstraseluler a. Dalam kondisi normal , rasio molekul asam karbonat (H2CO3) terhadap molekul basa bikarbonat (NaHCO3) dalam plasma adalah 1:20 b. Setiap perubahan dalam konsentrasi ion hydrogen akan mengubah rasio tersebut dan mengakibatkan alkalosis dan asidosis. c. System buffer berfungsi untuk mencegah perubahan rasio sehingga terjadi pengubahan asam kuat menjadi asam lemah dan basa kuat menjadi asam lemah. 2. Sistem buffer fosfat Merupakan buffer utama cairan intraseluler a. Berfungsi sama dengan system asam karbonta-natrium . karbonat berfungsi untuk mengubah asam kuat menjadi asam lemah dan basa kuat menjadi basa lemah b. Sistemnya : ketika PH menurun,ion monohidrogen fosfat berperan sebagai akseptor H+ Ketika PH meningkat , ion dihidrogen berperan sebagai donor H+ c. Natrium hydrogen fosfat (Na2HPO4) adalah basa lemah dan natrium dihidrogen fosfat (NaH2PO4) adalah asam lemah. Komponen ini bekerja secara intraseluler, terutama dalam sel darah merah dan dalam epitelium tubulus ginjal. d. Ada 2 macam fosfat : organic  berperan dalam dapar ion H+ intrasel Anorganic  berperan dalam dapar urine 3. Sistem buffer protein Merupakan buffer terkuat dalam tubuh a. Meliputi protein intraseluluer dan protein plasma ekstraseluler yang menjadi buffer asam karbonat dan asam organic b. Protein adalah buffer yang sangat baik karena mengandung gugus karboksil yang berfungsi sebagai asam dan gugus amino yang berfungsi sebagai basa , bergantung pada media yang mengelilingi protein. c. Sebagian besar protein dalam tubuh termasuk media dasar . protein bertindak sebagai asam dan sebagai anion yang besar d. Sistemnya : ketika PH meningkat , kelompok karboksil memberikan H+ Ketika PH menurun , kelompok amino sebagai akseptor H+

4. Sistem buffer hemoglobin a. Terdapat dalam sel darah merah b. Berfungsi sebagai pembentukan H+ saat terjadinya transport CO2 di antara jaringan dan paru-paru c. Sebagai asam lemah , hemoglobin mampu mendapar CO2 dengan pengeluaran HCO3 ke dalam plasma yang akan di tikarkan dengan ion klorida untuk mempertahankan netralitas elektrisnya 5. Buffer karbonat pada tulang Pada asidosis yang berkepanjangan , tulang turut berperan dalam system dapar yaitu melalui dapar karbonat karena dalam tulang juga di endapkan sejumlah garam bikarbonat. LO 4. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ASIDOSIS METABOLIK LI 4.1 Definisi Asidosis Metabolik Asidosis Metabolik adalah suatu keadaan turunnya kadar ion HCO3 diikuti dengan penurunan tekanan parsial CO2 di dalam arteri. Penurunan HCO3 1 mEq/L diikuti penurunan PaCO2 sebesar 1,2 mmHg, yang menyebabkan penurunan pH dan peningkatan H. (Madjid.2008 Gangguan keseimbangan cairan elektrolit asam basa FKUI) Gangguan sistemik yang ditandai dengan penurunan primer kadar bikarbonat plasma sehingga menyebabkan terjadinya penurunan pH (peningkatan H). (Price. Wilson.2006.Patofisiologi) LI 4.2 Etiologi Asidosis Metabolik 1. Penambahan asam terfiksasi (nonkarbonat) 2. Kegagalan ginjal dalam mengekskresi beban asam harian 3. Kehilangan bikarbonat basa Penyebab Asidosis Metabolik : A. Selisih Anion Normal (Hiperkloremik) 1. Kehilangan bikarbonat a. Kehilangan melalui saluran cerna : - Diare - Ileostomy - Kolestiramin - Drainase cairan empedu dan pankreatik - Ureterosigmoidostomi

b. Kehilangan melalui ginjal : - Asidosis tubulus proksimal ginjal - Inhibitor karbonik anhydrase (asetazolamid) - Hipoaldosteronisme c. Peningkatan beban asam : - Ammonium klorida (NH4Cl - Cairan-cairan hiperalimentasi

NH3 + HCl )

B. Selisih Anion Meningkat a. Peningkatan produksi asam : - Ketoasidosis diabetic - Asidosis laktat - Kelaparan - Intoksikasi alcohol b. Menelan substansi toksik : - Overdosis salisilat - Methanol atau formaldehid - Etilen glikol (antibeku) c. Kegagalan eksresi asam : - Retensi asam sulfat dan asam fosfat - Gagal jantung akut atau kronis (Price. Wilson.2006.Patofisiologi)

LI 4.3 Manifestasi Klinis Asidosis Metabolik Gejala : a. b. c. d. e. f. g. Mual Muntah Kelelahan Pernapasan menjadi lebih dalam atau sedikit lebih cepat Rasa mengantuk Mengalami kebingungan Tekanan darah menurun, menyebabkan syok, koma dan kematian (Price. Wilson.2006.Patofisiologi)

LI 4.4 Diagnosis Asidosis Metabolik Asidosis metabolic akut dapat menyababkan : 1. 2. 3. 4. depresi miokardial disertai reduksi cardiac output (curah jantung) penurunan tekanan darah, penurunan aliran ke sirkulasi hepatic dan renal menyebabkan aritmia dan fibrillasi ventricular

5. metabolism otak menurun secara progresif 6. pada pH yang lebih dari 7,1 akan menyebabkan fatigue (rasa lelah), sesak napas, nyeri perut, nyeri tulang, dan mual/muntah 7. pada pH kurang atau sama dengan 7,1 akan menyebabkan inotropic negative, aritmia, konstriksi vena perifer, dilatasi arteri perifer, penurunan tekanan darah, penurunan aliran darah ke hati, kontriksi pembuluh darah paru (pertukaran oksigen terganggu) (Madjid.2008 Gangguan keseimbangan cairan elektrolit asam basa FKUI)

Diagnosis asidosis metabolic ditegakkan berdasarkan gambaran klinis dan dipastikan oleh hasil pemeriksaan laboratorium yaitu pH, PaCO2, dan HCO3 dengan menggunakan pendekatan sistematik. Hasil pemeriksaan menunjukkan : pH : <7,35 HCO3 : <22 mEq/L PaCO2 : <40 mmHg (Price. Wilson.2006.Patofisiologi)

LI 4.5 Penanganan Asidosis Metabolik Tujuan penanganan asidosis metabolic adalah untuk meningkatkan pH sistemik sampai ke batas aman, dan mengobati penyebab asidosis yang mendasari. Langkah koreksi asidosis metabolic : 1. Langkah pertama, tetapkan berat ringannya gangguan asidosis. Gangguan disebut letal bila pH darah kurang dari 7 atau kadar ion H lebih dari 100 nmol/L. gangguan yang perlu mendapat perhatian bila pH darah 7,1-7,3 atau kadar ion H antara 50-80 nmol/L. 2. Langkah kedua, tetapkan anion gap atau bila perlu anion gap urin untuk mengetahui dugaan etiologi asidosis metabolic. Dengan bantuan gejala klinis lain dapat dengan mudah ditetapkan etiologinya. 3. Langkah ketiga, bila dicurigai kemungkinan asidosis laktat, hitung rasio delta anion gap dengan delta HCO3 (delta anion gap : anion gap pada saat pasien diperiksa dikurangi dengan median anion gap normal, delta HCO3: kadar HCO3 normal dikurangi dengan kadar HCO3 pada saat pasien diperiksa). Bila rasio lebih dari 1, asidosis disebabkan oleh asidosis laktat. Langkah ini menetapkan sampai sejauh mana koreksi dapat dilakukan. (Madjid.2008 Gangguan keseimbangan cairan elektrolit asam basa FKUI)

LI 4.6 Kompensasi Asidosis Metabolik Gangguan keseimbangan asam basa bila terjadi keadaan asidosis atau alkalosis maka tubuh akan melakukan mekanisme kompensasi oleh paru-paru dan ginjal, dengan merubah komponen PaCO2 dan HCO3.  Asidosis Metabolik Kompensasi primernya meliputi peningkatan kecepatan ventilasi, yang mengurangi PaCO2 dan kompensasi ginjal, yang dengan menambahkan bikarbonat baru ke cairan ekstrasel membantu memperkecil penurunan awal konsentrasi HCO3 ekstrasel.

Alkalosis Metabolik Kompensasi utamanya adalah penurunan ventilasi, yang meningkatkan PaCO2 dan peningkatan ekskresi HCO3 oleh ginjal, yang membantu mengkompensasi peningkatan awal konsentrasi HCO3 cairan ekstrasel. Asidosis Respitorik Respon kompensasi adalah peningkatan HCO3 plasma, yang disebabkan oleh penambahan bikarbonat baru ke dalam cairan ekstrasel oleh ginjal. Peningkatan bikarbonat membantu mengimbangi peningkatan PaCO2, sehingga mengembalikan pH plasma kembali normal. Alkalosis Respitorik Respon kompensasi terhadap pengurangan PCO2 primer pada alkalosis respitorik adalah pengurangan konsentrasi HCO3 plasma, yang disebabkan oleh peningkatan ekskresi HCO3 oleh ginjal. (Prince & Wilson, 2006)

 Asidosis respiratorik asidosis respiratorik adalah peningkatan PCO2 arteri akibat berkurangnya ventilasi. CO2 yang tertahan di dalam tubuh berada dalam keadaan seimbang dengan H2CO3, yang selanjutnya berada dalam keseimbangan dengan HCO3- sehingga HCO3- plasma meningkat dan pH menurun.

Etiologi Asidosis respiratorik terjadi karena deepresi pusat pernafasan, kaelainan atau pengaruh penyakit yang menyerang otot dinding dada, dan trauma toraks berat. Selain itu karena inhibisi pusat pernafasan, penyakit nuueromuskular, obstruksi jalan nafas, kelainan restriktif, mechanical underventilation dan over feeding.

Gambaran klinis Gambaran klinis yang sering muncul pada penderita asidosis respiratorik biasanya bergubungan dengan pengaruh sistem syaraf. Perubahan yang sering terjadi adalah sakit kepala, mengantuk berlebihan hingga kehilangan kesadaran (koma). Peningkatan tekanan intrakranial dapat menyebababkan dilatasi vena retina dan pepidena. Pada penderita asidosis akut  terjadi penurunan pH yang disebabkan kenaikan tekanan CO2 secara mendadak (akut) yang diikuti oleh peningkatan HCO3- plasma. Pada penderita asidosis kronik  adanya adptasi dari ginjal sehingga penurunan Ph tidak terjadi akibat adanya retensi HCO3- yang menybabkan terjadi peningkatan HCO3- plasma kurang lebih 3—4 mEq/L setiap 10mmHg tekanan air raksa.

Tata laksana Asidosis respiratorik dengan hipoksemia berat memerlukan ventilasi mekanik dengan pemberian O2 pada pasien yang mengalami retensi PCO2 kronik dan hipoksia, namun harus berhati-hati karena dapat mengakibatkan menurunnya minute volume dan meningkatkan PCO2. Pada pasien dengan alkalosis respiratorik kronik, untuk penurunan PCO2 harus berhati-hati umtuk menghindari alkalosis yang berat karena sudah ada bantuan dari kompensasi ginjal.

 Definisi Alkalosis Respiratorik Pada alkalosis respiratorik terjadi hiperventilasi alveolar sehingga terjadi penurunan PaCO2 (hipokapnia) yang dapat meningkatkan pH. Hiperventilasi alveolar dapat timbul karena adanya stimulus langsung maupun tidak langsung pada pusat pernapasan, penyakit paru akut dan kronik, overventilasi iatrogenik (penggunaan ventilasi mekanik). Hiperventilasi kronik umumnya bersifat asimptomatik sedangkan hiperventilasi akut ditandai dengan adanya rasa ringan di kepala (pusing), parestesia, circumoral numbness, dan kesemutan. Alkalosis respiratorik dapat didiagnosa pasti dengan hasil PCO3 yang rendah.  Etiologi Alkalosis Respiratorik a. Rangsangan hipoksemik - Penyakit paru dengan gradien A – a - Penyakit jantung dengan right to left shunt - Penyakit jantung dengan edema paru - Anemia gravis

b. c. d. e.  a. b. c. d. e. f. g.

Stimulasi pusat pernapasan di medula Kelainan neurologis Psikogenik, misalnya serangan panik, nyeri Gagal hati dengan ensefalopati Kehamilan Mechanical overventilation Sepsis Pengaruh obat ; salisilat, hormon progesteron Gejala Rasa cemas berlebihan Sesak napas Nyeri dada Pusing Kesemutan Parestesia Circumoral numbness

 Tata laksana Ditujukan terhadap kelainan primernya a. Alkalosis respiratorik yang disebabkan oleh hipoksemia diatasi dengan memberikan terapi oksigen b. Alkalosis respiratorik yang disebabkan oleh serangan panik diatasi dengan menenangkan pasien atau memberikan pernapasan dengan sistem air rebreathing c. Overventilasi pada pasien dengan ventilasi mekanik diatasi dengan mengurangi minute ventilation atau dengan menambahkan dead space d. Alkalosis respiratorik yang disebabkan oleh hipoksemia diterapi dengan oksigen dan memperbaiki penyebab gangguan pertukaran gas. e. Koreksi alkalosis respiratorik dengan rebreathing mask harus berhati-hati terutama pada pasien denga kelainan susunan saraf pusat, untuk menghindari ketidakseimbangan pH cairan serebrospinal dan pH perifer. Pengobatan : Biasanya satu-satunya pengobatan yang dibutuhkan adalah memperlambat pernafasan. Jika penyebabnya adalah kecemasan, memperlambat pernafasan bisa meredakan penyakit ini. Jika penyebabnya adalah rasa nyeri, diberikan obat pereda nyeri. Menghembuskan nafas dalam kantung kertas (bukan kantung plastik) bisa membantu meningkatkan kadar karbondioksida setelah penderita menghirup kembali karbondioksida yang dihembuskannya. Pilihan lainnya adalah mengajarkan penderita untuk menahan nafasnya selama mungkin, kemudian menarik nafas dangkal dan menahan kembali nafasnya selama mungkin. Hal ini dilakukan berulang dalam satu rangkaian sebanyak 6-10 kali. Jika kadar karbondioksida meningkat, gejala hiperventilasi akan membaik, sehingga mengurangi kecemasan penderita dan menghentikan serangan alkalosis respiratorik.

DAFTAR PUSTAKA  Sherwood, Lauralee (2004), Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem edisi 2, Jakarta, EGC.  Sudoyo, W Aru, Bambang setiyohadi, Idrus Alwi (2009),Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Ed.5, Jakarta, Interna Publishing.  Saifuddin, M, dkk. (2008), Gangguan Kesimbangan air-elektrolit dan asam-basa edisi II. Jakarta, FKUI.  Guyton,Arthur c, dkk. (2008), Buku ajar fisiologi kedokteran edisi III. Jakarta, EGC.  Oxtoby, Gillis, Nachtrieb. Prinsip-prinsip kimia modern  (http //chem-is-try.org/pengukuran pH/oleh Jim Clark/(access from 5 maret 2011)  http://choled.wordpress.com/2008/02/17/  http://ayosz.wordpress.com/2008/02/21/kesimbangan-asam-basa/