Pusat Hukuman Ditemukan area yang paling poten bagi rasa terhukum dan kecendrungan untuk menghindar, yaitu

terdapat pada area kelabu sentral disekeliling aquaduktus sylvius dalam mesensefalon dan menyebar ke atas ke zona periventrikular hipotalamus dan thalamus. Area rasa terhukum yang tak begitu kuat ditemukan di beberapa lokasi amygdale dan hippocampus. Sangatlah menarik terutama bahwa perangsangan pada pusat rasa tethukum ini seringkali dapat menghambat pusat-pusat ganjaran dan pusat rasa senang secara sempurna, yang menunjukkan bahwa rasa terhukum dan rasa takut dapat terjadi mendahului rasa senang dari rasa ganjaran. Perangsangan pada area ini menyebabkan hewan tersebut menunjukkan gejala-gejala tidak senang, takut, panik, rasa sakit, rasa terhukum, dan bahkan penyakit. Rasa marah—hubungannya dengan pusat rasa terhukum Pola marah (rage pattern) merupakan suatu pola emosi yang melibatkan pusat rasa terhukum pada hipotalamus dan struktur limbic lain, pola ini juga mempunyai cirri-ciri tersendiri yang dapat diibaratkan sebagai berikut. Perangsangan yang kuat pada pusat rasa terhukum di otak, khusunya pada zona periventrikular hipotalamus dan hipotalamus lateral, menyebabkan hewan: (1) membangun sikap mempertahankan diri, (2) mengeluarkan cakarnya (3) mengangkat ekor, (4) mendesis, (5) meludah, (6) menggeram, dan (7) mendirikan bulu-bulu tubuh, membuka matanya lebar-lebar, dan melebarkan pupil. Selanjutnya, gangguan yang paling ringan saja sudah dapat menyebabkan hewan itu ingin menyerang dengan luas. Perilaku ini hamper selalu timbul pada hewan yang dihukum dengan begitu kejamnya, dan merupakan pola perilaku yang disebut rasa marah. Untungnya, pada hewan normal, phenomena rasa marah ini terutama dicegah oleh adanya sinyal inhibisi dari nuclei ventromedial hipotalamus. Selain itu, bagian hippocampus dan kortex limbic anterior terutama pada gyrus cinguli anterior dan gyrus subcalosum membantu menekan phenomena rasa marah ini.