P. 1
Css tb

Css tb

|Views: 2|Likes:
Published by Tomi Atmadirja

More info:

Published by: Tomi Atmadirja on Feb 28, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/23/2014

pdf

text

original

Clinikal Sains Session Tuberkulosis

Mia puspita G1A106045 Kepanitraan Klinik Senior Bagian penyakit dalam RSUD Raden Matther Fakultas Kedokteran Universitas Jambi 2011

I. Pendahuluan
Penyakit TB masih menjadi masalah kesehatan dunia dimana penyakit ini paling banyak menyerang kelompok usia produktif. Kebanyakan berasal dari kelompok sosial ekonomi rendah dan tingkat pendidikan yang rendah. Diperkirakan 95 % kasus TB paru terjadi dinegara berkembang yang relatif miskin. WHO melaporkan bahwa setengah persen dari penduduk dunia terserang penyakit TB, sebagian besar di negara berkembang sebanyak 75%, salah satunya adalah Indonesia dimana setiap tahun ditemukan 539.000 kasus baru TB BTA (+) dengan kematian 101.000.

.Definisi Tuberkulosis paru (TB) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi mycobacterium tuberculosis yakni kuman aerob yang dapat hidup terutama diparu atau diberbagai organ tubuh yang lainnya yang memiliki tekanan parsial oksigen yang tinggi.

.Etiologi  Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular kronis yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis.

Klasifikasi Berdasarkan organ tubuh yang terkena  Tuberkulosis paru  Tuberkulosis ekstra paru Berdasarkan Hasil Pemeriksaan Dahak (BTA)  Tuberkulosis paru BTA (+)  Tuberkulosis paru BTA (-) Berdasarkan Tipe Pasien  Kasus baru  Kasus kambuh (relaps)  Kasus defaulted atau drop out  Kasus gagal  Kasus kronik  Kasus bekas TB .

 kuman menetap dijaringan paru  sitoplasma makrofag  keorgan tubuh lainnya.  Dari sarang primer akan timbul peradangan saluran getah bening menuju hilus (limfangitis fokal)  (limfadenitis regional)  kompleks primer (Ranke).  Berdasarkan penularannya : 1. .Patogenesis Penularan kuman terjadi melalui udara dan diperlukan hubungan yang intim untuk penularannya. dijaringan paru akan berbentuk sarang tuberkulosis pneumonia kecil  sarang primer atau sarang (focus) Ghon. Tuberkulosis primer kuman  masuk ke trakea  bronkus  bronkiolus  alveolar ukuran < 5 mikrometer  terjadi reaksi radang  neutrofil  makrofag  Kebanyakan kuman dibersihkan.

2. sarang meluas (fibrotik). sarang pnemonik meluas (membentuk jaringan keju) .Kuman yang dorman  reaktivasi  akibat sistem imun menurun  dimulai dari sarang dini  pneumonik kecil diresorbsi. Pasca primer .

.

Kebiasaan merokok .Faktor risiko TB Faktor risiko kependudukan a. Kondisi sosial ekonomi c. Kebiasaan tidur penderita TB bersama-sama dengan anggota keluarga b. Umur d. Pencahayaan Faktor risiko perilaku a. Status Gizi b. Lantai rumah c. Ventilasi d. Kepadatan b. Jenis kelamin Faktor risiko lingkungan a. Kebiasaan membuang ludah/dahak sembarangan c.

malaise. dan berat badan menurun .Diagnosis 1.Nyeri Dada Gejala sistemik : Demam.Sesak Nafas .Batuk . anoreksia.Batuk Darah . keringat malam.  Manifestasi klinis .

 Auskultasi :infiltrat (suara nafas bronkial. badan kurus dan berat badan menurun. dan nyaring). suhu demam. kavitas (fremitus mengeras)  Perkusi :infiltrat (Redup). Paru-paru  Inspeksi : pernafasan tertinggal pada daerah yang sakit. . kavitas (hipersonor). infiltrat + penebalan pleura (vesikuler melemah). kasar. retraksi dinding dada  Palpasi :infiltrat (fremitus melemah).Pemeriksaan fisik  Keadaan umum : konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia. rhonki basah. kavitas (suara amporik).

Kavitas terutama lebih dari satu dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau noduler .Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Radiologi  TB Aktif .Kalsifikasi (seperti bintik-bintik kapur) .Penebalan pleura  .Bayangan bercak milier .Efusi pleura unilateral (umumnya) dan bilateral (jarang)  Gambaran radiologi TB in aktif : .Fibrotic (seperti garis-garis) .Bayangan berawan/nodular disegmen apical dan posterior lobus atas paru dan segmen superior lobus bawah .

TB aktif .

TB Tenang .

 Kuman ini berbentuk batang (panjang 1-4 mikron.3-0. diameter 0. .Pemeriksaan sputum BTA :  Kriteria BTA positif adalah bila sekurang-kurangnya ditemukan 3 batang kuman BTA pada satu sediaan. Pemeriksaan dilakukan sewaktu pagi sewaktu (SPS).6 mikron).

D (purified protein derivative). . 48-72 jam akan timbul reaksi berupa indurasi kemerahan.Pemeriksaan Tuberkulin     Pemeriksaan ini banyak dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis tuberculosis terutama pada anakanak.1 cc tuberculin P. Biasanya dipakai tes mantoux yakni dengan menyuntikkan 0.P. Dikatakan positif jika diameter indurasi lebih dari 10 mm. Disuntikkan intrakutan.

Pemeriksaan darah Leukosit meningkat  LED meningkat  .

Alur Diagnosa Tuberkulosis .

Penatalaksanaan TB Oba t R H Z Dosis (mg/KgB B/hr) 8-12 4-6 20-30 Dosis yang dianjurkan Harian (mg/KgBB/h r) 10 5 25 Dosis Intermitten maks (mg/KgBB/ (mg) hr) 10 10 35 600 300 Dosis (mg)/KgBB < 40 300 150 750 40-60 450 300 1000 > 60 600 450 1500 S E 15-18 15-20 15 15 15 30 1000 Sesuai BB 750 750 1000 1000 1500 .

 Pemakaian obat antituberkulosis cukup lama.  Pemberian obat yang tidak teratur.Resisten Ganda (Multi Drug Resistance/ MDR)  Resistensi ganda menunjukkan M.tuberculosis resisten terhadap rifampisin dan INH dengan atau tanpa OAT lainnya.  Fenomena “ addition syndrome”  Penggunaan obat kombinasi yang pencampurannya tidak dilakukan secara baik.  Pengetahuan pasien kurang tentang penyakit TB  Kasus MDR-TB rujuk ke dokter spesialis paru . yaitu :  Pemakaian obat tunggal dalam pengobatan tuberkulosis  Penggunaan paduan obat yang tidak adekuat. Ada beberapa penyebab terjadinya resitensi terhadap obat tuberkulosis. sehingga mengganggu bioavailabiliti obat  Penyediaan obat yang tidak reguler.

Obat dengan akiviti bakteriostatik. etambutol. Obat dengan aktiviti bakterisid: aminoglikosid. cycloserin dan PAS . Obat dengan aktiviti bakterisid rendah: fluorokuinolon 3.Klasifikasi OAT untuk MDR Kriteria utama berdasarkan data biologikal dibagi menjadi 3 kelompok OAT: 1. tionamid dan pirazinamid yang bekerja pada pH asam 2.

Directly Observed Treatment Short Course (DOTS)  Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa kunci keberhasilan program penanggulangan tuberkulosis adalah dengan menerapkan strategi DOTS.Mencegah putus berobat .Mencegah resistensi . Tujuan : .Mengatasi efek samping obat jika timbul .Mencapai angka kesembuhan yang tinggi . A.

Komplikasi lanjutan : obstruksi jalan nafas. kor pulmonal.Komplikasi   komplikasi dini : pleuritis. dll. efusi pleura. dan laryngitis. . empiema.

Jika dalam 2 tahun penyakit tidak aktif.Prognosis   Jika berobat teratur sembuh total (95%). hanya sekitar 1 % yang mungkin relaps .

TERIMA KASIH .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->