You are on page 1of 10

IsTRi SoleHA

Istri yang shalih adalah perhiasan terindah bagi suaminya. Peran istri dalam kehidupan
suami sangatlah besar. Istri yang shalih dapat membina rumah tangga sakinah dan penuh
berkah. Istri seperti inilah yang menjadi dambaan setiap lelaki muslim.
Seperti apa istri yang shalih? Apa saja ciri-cirinya? Bagaimana mengetahuinya?
Artikel-artikel terurai menjawab semua pertanyaan tersebut berdasarkan Al-Qur'an dan
Hadits-Hadits Rasulullah SAW yang shahih. Insya Allah dengan memahaminya lelaki
muslim dapat memilih istri yang shalih. Bagi wanita muslim, bisa menjadikan artikel
artikel terurai sebagai pedoman untuk menjadi istri shalih.***
Taat Beragama
Rasulullah SAW bersabda :
"Perempuan itu dikawini atas empat perkara, yaitu : karena hartanya, karena
keturunannya, karena kecantikannya, atau karena agamanya. Akan tetapi, pilihlah
berdasarkan agamanya agar dirimu selamat." (H.R. Bukhari dan Muslim)
Penjelasan :
Hadits tersebut memberikan gambaran mengenai kriteria-kriteria yang menjadi bahan
pertimbangan seorang lelaki dalam memilih seorang perempuan sebagai istrinya.
Kriteria-kriteria tersebut adalah kecantikan, keturunan, kekayaan, dan agamanya. Orang
yang mengutamakan kriteria agama, dijamin oleh Allah SWT akan memperoleh
kebahagiaan dalam berkeluarga.
Agama atau diin ialah keyakinan yang disertai peribadatam sesuai dengan ketentuan
syari'at Islam. Bila keyakinan dan peribadatan yang dilakukan seseorang menyimpang
dari ketentuan syari'at Islam, orang yang melakukannya telah sesat. Untuk mengetahui
ketaatan seseorang beragama, kita harus berpedoman pada ketentuan Al-Qur'an dan
Sunnah Rasulullah SAW.
Dalam memilih seorang perempuan untuk dijadikan istri, pertama kali hendaklah kita
menilai ketaatannya dalam beragama seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW
dalam Hadits di atas.
Tanda utama seseorang dikatakan taat beragama yaitu bila ia dapat menjalankan
ketentuan pokok yang menjadi rukun Iman dan Islam dengan benar.
Orang yang beriman kepada Allah hanya meyakini ketentuan-Nya. Ia tidak akan
mempercayai ramalan ahli nujum dan peramal misalnya, sebab orang yang mempercayai
ramalannya berarti tidak sepenuhnya beriman kepada Allah SWT. Perbuatan seperti itu
disebut SYIRIK karena berlawanan dengan keyakinan bahwa hanya Allah SWT yang
tahu segala yang ghaib. Orang yang berbuat syirik telah sesat.
Tanda lain seseorang dikatakan taat beragama adalah bila ia menjalankan ibadah yang
diperintahkan oleh Islam dengan tekun dan benar. Ibdah pokok dalam Islam dan tidak
dapat ditinggalkan adalah shalat. Siapa pun yang telah memeluk Islam harus
melaksanakannya. Rasulullah SAW telah menyatakan bahwa shalat adalah hal yang
pokok dalam Islam. Hal ini disebutkan dalam Hadits berikut :
Dari Abu Hurairah Ra, ujarnya: Rasulullah SAW bersabda : "Perbuatan manusia yang
pertama kali dihisab pada hari kiamat kelak adalah shalatnya. Bila shalatnya baik, dia
akan beruntung dan selamat. Akan tetapi, bila shalatnya tidak benar, dia akan gagal dan
merugi. Jika ada yang kurang sedikit dari kewajiban yang dilakukannya, kelak Tuhu yang
Maha Gagah dan Maha Mulia akan berfirman : '(Wahai Malaikat), perhatikanlah apa
hamba-Ku ini melakukan shalat sunnah sehingga dapat menyempurnakan kekurangannya
dalam melakukan shalat wajib, kemudian semua amalnya akan dihisab dengan cara
seperti ini.'"(H.R. Tirmidzi, Hadits hasan)
Maksud Hadits ini ialah seseorang dinilai taat beragama bila ia menunaikan kewajiban
shalat dengan benar. Seseorang yang mengaku muslim tetapi terkadang menjalankan
shalat, terkadang tidak, berarti tidak taat beragama. Bila ia melakukan shalat tetapi tidak
mengikuti tuntunan Rasulullah SAW, shalatnya tidak benar. Orang semacam ini termasuk
orang yang tidak taat beragama.
Seorang laki-laki yang hendak menilai ketaatan calon istrinya, haruslah lebih dulu
mengerti ajaran Islam tentang keyakinan dan peribadatan secara benar sebagaimana
diajarkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW. Bila dia sendiri tidak tahu hal-
hal yang menjadi ketetapan dan hal-hal yang bukan menjadi ketetapan Islam, tentu dia
tidak akan bisa memilih calon istri yang taat beragama dengan benar menurut ketentuan
syari'at Islam.
Kita tidak seharusnya mudah terpesona dengan penampilan seorang perempuan.
Perempuan berjilbab, misalnya, dalam pergaulan sehari-hari ia ternyata bercampur
dengan laki-laki bukan mahram tanpa mengindahkan batas norma pergaulan yang
digariskan oleh Islam. Kita bisa menyimpulkan bahwa wanita
semacam ini jelas tidak taat beragama.
Kita tidak semestinya menilai perempuan berdasarkan atas ukuran dan norma yang
berlaku dalam masyarakat, karena norma yang berlaku di tengah masyarakat sering
bertentangan dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, kita harus benar-benar menggunakan
kriteria yang digariskan oleh Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW sejak awal memilih
calon istri.
Bila langkah awal telah ditempuh dengan benar, kelak rumah tangga kita akan dapat
berjalan dengan serasi, harmonis, dan dan penuh kemesraan, karena masing-masing
mendasarkan langkah dan niatnya hanya karena Allah. Segala bentuk kesulitan dan
goncangan dalam mengayuh bahtera rumah tangga akan dihadapi dengan penuh
ketenangan dan pikiran jernih, karena kedua belah pihak selalu pasrah dan berlindung
pada kehendak dan kekuasaan-Nya. Sikap semacam ini akan sangat membantu suamu
istri dalam membina rumah tangga sesuai dengan keridlaan Allah SWT.
Sebaliknya, istri tidak taat beragama, yaitu istri yang mengabaikan ajaran agama, akan
menyebabkan suami sulit membimbingnya dan sulit menciptakan suasana rumah tangga
yang islami. Bila suami dan istri sudah berlainan langkah dalam menilai perbuatan halal
dan haram atau baik dan buruk, hal ini bisa menimbulkan pertengkaran dan perpecahan
dalam berumah tangga. Rumah tangga semacam ini sulit menjadi harmonis, tentram dan
tenang.
Selain memberi dampak buruk bagi suami, istri yang tidak taat beragama akan memberi
dampak buruk pada pendidikan anak kelak. Ia tidak akan mendorong anaknya untuk taat
shalat dan rajin mengaji, tidak membiasakan salam ketika keluar masuk rumah, tidak tahu
membedakan najis dan suci, dan lain-lain. Anak-anak yang tidak mengenal aturan agama
semacam ini kelak setelah besar mungkin sekali mudah terpengaruh oleh pergaulan yang
buruk sehingga menjadi orang yang rusak akhlaqnya dan mengabaikan agama. Oleh
karena itu, besar sekali bahaya istri yang tidak taat beragama untuk menjadi ibu bagi
anak-anak kita.
Agar kita dapat membentuk rumah tangga yang diridlai oleh Allah dan memperoleh
kebahagiaan sepanjang hayat sebelum mengambil seorang perempuan menjadi istri kita
perlu mengetahui ketaatannya alam beragama. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan,
antara lain :
1. Mengamati caranya berpakaian, berias dan bergaul apakah sesuai dengan ketentuan
Islam atau tidak. Misalnya, mengamati apakah ia memakai muslimah atau tidak, bersolek
atau tidak, berkhalwat (berduaan) dengan laki-laki bukan mahram atau tidak.
2. Menanyakan kepada orang-orang yang dekat dengan dirinya, seperti kerabat dekat,
tetangga dekat, atau teman-teman dekat tentang ketaatannya menjalankan shalat 5 waktu,
ketaatannya menjalankan puasa Ramadhan, sikapnya kepada tetangga atau para
kerabatnya, sikapnya kepada orang yang lebih tua, dan lain-lain.
3. Datang sendiri kepada keluarga perempuan untuk melakukan penelitian dan
pengamatan secara langsung. Dalam pertemuan ini, perempuan yang diinginkan harus
disertai dengan anggota laki-laki keluarganya, sehingga tidak terjadi khalwat (berduaan).
Pada saat inilah kita bisa meneliti berbagai hal yang ingin diketahui dari perempuan
tersebut agar kita memperoleh gambaran yang jelas.
Cara-cara semacam inilah yang seharusnya dilakukan oleh kaum muslimin dalam
menyediliki calon istrinya. Kita tak boleh melakukan cara-cara di luar Islam, seperti
berpacaran atau berkenalan di tengah jalan. Cara semacam ini sama sekali tidak
dibenarkan.

Ringkasnya, Laki-laki yang ingin membangun rumah tangga bahagia dan penuh
kesejateraan di dunia dan di akhirat hendaklah memilih perempuan yang taat beragama
untuk dijadikan istri. Insya Allah hidupnya akan bahagia.***

Lelaki beriman istri soleha

Keutamaan hanya diketahui oleh orang yang memiliki keutamaan….

Pada zaman dahulu, ada seorang lelaki yang beriman tinggal bersama
dengan isteri dan anak-anaknya. Mereka tinggal dalam sebuah gubuk
sederhana. Meskipun mereka jauh dari kilauan dan gemerlap materi, hati mereka
dipenuhi dengan kasih sayang.

Pada suatu hari lelaki beriman itu berada dalam kesulitan,


sampai-sampai isterinya berkata kepada lelaki itu, “Kini simpanan kita tinggal satu
dirham saja.” Lelaki itu mengambil satu dirham tersebut dan pergi ke
pasar. Dengan uang itu dia akan membeli sedikit makanan. Dalam keadaan
bertawakal kepada Tuhan, dia tiba di pasar. Baru beberapa langkah dia
berjalan, tiba-tiba terdenagar suara gaduh. Seseorang berkata dengan
marah, “Engkau harus membayar utangmu. Jika tidak, aku tidak akan membiarkan
engkau pergi.”

Lelaki yang berdiri di hadapan orang itu menundukkan kepalanya karena


malu. Sang lelaki yang beriman itu mendekati kedua orang yang berselisih
itu dan dengan suara yang lembut bertanya, “Baiklah, katakanlah apa
yang menyebabkan kalian berselisih paham.”

Lelaki yang berhutang berkata, “Lelaki ini telah menjatuhkan harga


diriku hanya karena uang satu dirham padahal saat ini aku tidak mampu untuk
melunasi utang tersebut.”

Lelaki beriman itu berfikir sebentar dan kemudian, uang satu dirham
yang dimilikinya itu diberikannya kepada si penghutang. Akhirnya,
terjalinlah persahabatan antara orang itu tadi. Lelaki yang berutang itu
mendoakan keselamatan buat lelaki yang beriman itu serta mengucapkan
kesyukurannya.

Hati lelaki beriman itu dipenuhi rasa gembira karena berhasil menolong
orang lain. Lalu diapun pulang ke rumahnya. Di pertengahan jalan dia
terpikir, “Sekarang, bagaimana aku harus memberi jawaban kepada isteri
ku? Jika dia memprotes, aku akan membiarkannya karena itu haknya.”

Sesampainya di rumah, dia menceritakan apa yang telah terajdi.


Isterinya adalah juga seorang perempuan yang baik dan beriman. Dia tidak
memprotes suaminya, malah berkata, “Engkau telah melakukan sesuatu yang baik
hari ini dan engkau telah memelihara harga diri lelaki itu. Allah pasti
akan memberi balasan kepadamu. Ambillah tali yang ada di rumah kita ini
dan juallah di pasar. Mudah-mudahan, uang tersebut bisa engkau gunakan
untuk membeli makanan.
Lelaki beriman itu merasa sungguh gembira dengan sikap isterinya
tersebut. Dia kemudian mengambil tali itu dan membawanya ke pasar.

Ayo tunjuk tangan siapa yg mau menjadi wanita solehah??? nah klo mau jd wanita
solehah baca dulu artikel ini.. mungkin bisa menambah informasi kita kaum muslimah..

Ciri-ciri Wanita Sholehah

Tidak banyak syarat yang dikenakan oleh Islam untuk seseorang wanita untuk menerima
gelar solehah, dan seterusnya menerima pahala syurga yang penuh kenikmatan dari Allah
s.w.t.

Mereka hanya perlu memenuhi 2 syarat saja yaitu:


1. Taat kepada Allah dan RasulNya
2. Taat kepada suami

Perincian dari dua syarat di atas adalah sebagai berikut:

1. Taat kepada Allah dan RasulNya

Bagaimana yang dikatakan taat kepada Allah s.w.t. ?


- Mencintai Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w. melebihi dari segala-galanya.
- Wajib menutup aurat
- Tidak berhias dan berperangai seperti wanita jahiliah
- Tidak bermusafir atau bersama dengan lelaki dewasa kecuali ada bersamanya
- Sering membantu lelaki dalam perkara kebenaran, kebajikan dan taqwa
- Berbuat baik kepada ibu & bapa
- Sentiasa bersedekah baik dalam keadaan susah ataupun senang
- Tidak berkhalwat dengan lelaki dewasa
- Bersikap baik terhadap tetangga

2. Taat kepada suami


- Memelihara kewajipan terhadap suami
- Sentiasa menyenangkan suami
- Menjaga kehormatan diri dan harta suaminya selama suami tiada di rumah.
- Tidak cemberut di hadapan suami.
- Tidak menolak ajakan suami untuk tidur
- Tidak keluar tanpa izin suami.
- Tidak meninggikan suara melebihi suara suami
- Tidak membantah suaminya dalam kebenaran
- Tidak menerima tamu yang dibenci suaminya.
- Sentiasa memelihara diri, kebersihan fisik & kecantikannya serta rumah tangga

FAKTOR YANG MERENDAHKAN MARTABAT WANITA


—————————————

Sebenarnya puncak rendahnya martabat wanita adalah datang dari faktor dalam.
Bukanlah faktor luar atau yang berbentuk material sebagaimana yang digembar-
gemborkan oleh para pejuang hak-hak palsu wanita.

Faktor-faktor tersebut ialah:

1) Lupa mengingat Allah

Kerana terlalu sibuk dengan tugas dan kegiatan luar atau memelihara anak-anak, maka
tidak heran jika banyak wanita yang tidak menyadari bahwa dirinya telah lalai dari
mengingat Allah. Dan saat kelalaian ini pada hakikatnya merupakan saat yang paling
berbahaya bagi diri mereka, di mana syetan akan mengarahkan hawa nafsu agar
memainkan peranannya.

Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-Jathiah, ayat 23: artinya:

" Maka sudahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya
dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya. Dan Allah telah mengunci mati
pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya."

Sabda Rasulullah s.a.w.: artinya:


"Tidak sempurna iman seseorang dari kamu, sehingga dia merasa cenderung kepada apa
yang telah aku sampaikan." (Riwayat Tarmizi)

Mengingati Allah s.w.t. bukan saja dengan berzikir, tetapi termasuklah menghadiri majlis-
majlis ilmu.

2) Mudah tertipu dengan keindahan dunia

Keindahan dunia dan kemewahannya memang banyak menjebak wanita ke


perangkapnya. Bukan itu saja, malahan syetan dengan mudah memperalatkannya untuk
menarik kaum lelaki agar sama-sama bergelimang dengan dosa dan noda.
Tidak sedikit yang sanggup durhaka kepada Allah s.w.t. hanya kerana kenikmatan dunia
yang terlalu sedikit.

Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-An’am: artinya:

" Dan tidaklah penghidupan dunia ini melainkan permainan dan kelalaian dan
sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, oleh karena
itu tidakkah kamu berfikir."

3) Mudah terpedaya dengan syahwat


4) Lemah iman
5) Bersikap suka menunjuk-nunjuk.

Ad-dunya mata’ , khoirul mata’ al mar’atus sholich


Dunia adalah perhiasan, perhiasan dunia yang baik adalah Wanita sholihah.

Istri Soleha *-*

Rasulullah Saw. bersabda : Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah
wanita shalihah. (HR. Muslim).

Ciri khas seorang wanita shalihah adalah ia mampu menjaga pandangannya. Ciri lainnya,
dia senantiasa taat kepada Allah dan Rasul Nya. Make up- nya adalah basuhan air wudhu.
Lipstiknya adalah memperbanyak dzikir kepada Allah di mana pun berada. Celak
matanya adalah memperbanyak bacaan Al Quran. Jika seorang muslimah menghiasi
dirinya dengan perilaku takwa, akan terpancar cahaya keshalihahan dari dirinya.

Wanita shalihah tidak mau kekayaan termahalnya berupa iman akan rontok. Dia juga
sangat memperhatikan kualitas kata-katanya. Tidak ada dalam sejarahnya seorang wanita
shalihah centil, suka jingkrak-jingkrak, dan menjerit-jerit saat mendapatkan sesuatu
kesenangan. Ia akan sangat menjaga setiap tutur katanya agar bernilai bagaikan untaian
intan yang penuh makna dan bermutu tinggi. Dia sadar betul bahwa kemuliaannya justru
bersumber dari kemampuannya menjaga diri (iffah).
Wanita shalihah itu murah senyum, karena senyum sendiri adalah shadaqah. Namun,
tentu saja senyumnya proporsional. Tidak setiap laki-laki yang dijumpainya diberikan
senyuman manis. Intinya, senyumnya adalah senyum ibadah yang ikhlas dan tidak
menimbulkan fitnah bagi orang lain. Bisa dibayangkan jika kaum wanita kerja keras
berlatih senyum manis semata untuk meluluhkan hati laki-laki.

Wanita shalihah juga harus pintar dalam bergaul dengan siapapun. Dengan pergaulan itu
ilmunya akan terus bertambah, sebab ia akan selalu mengambil hikmah dari orang-orang
yang ia temui. Kedekatannya kepada Allah semakin baik sehingga hal itu berbuah
kebaikan bagi dirinya maupun orang lain. Pendek kata, hubungan kemanusiaan dan
taqarrub kepada Allah dilakukan dengan sebaik mungkin.

Ia juga selalu menjaga akhlaknya. Salah satu ciri bahwa imannya kuat adalah dari
kemampuannya memelihara rasa malu. Dengan adanya rasa malu, segala tutur kata dan
tindak tanduknya akan selalu terkontrol. Tidak akan ia berbuat sesuatu yang menyimpang
dari bimbingan Al Quran dan As Sunnah. Dan tentu saja godaan setan bagi dirinya akan
sangat kuat. Jika ia tidak mampu melawan godaan tersebut, maka bisa jadi kualitas
imannya berkurang. Semakin kurang iman seseorang, maka makin kurang rasa malunya.
Semakin kurang rasa malunya, maka makin buruk kualitas akhlaknya.

Pada prinsipnya, wanita shalihah itu adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-
Nya. Rambu-rambu kemuliaannya bukan dari beraneka aksesoris yang ia gunakan. Justru
ia selalu menjaga kecantikan dirinya agar tidak menjadi fitnah bagi orang lain.
Kecantikan satu saat bisa jadi anugerah yang bernilai . Tapi jika tidak hati-hati,
kecantikan bisa jadi sumber masalah yang akan menyulitkan pemiliknya sendiri.

Saat mendapat keterbatasan fisik pada dirinya, wanita shalihah tidak akan pernah merasa
kecewa dan sakit hati. Ia yakin bahwa kekecewaan adalah bagian dari sikap kufur nikmat.
Dia tidak akan merasa minder dengan keterbatasannya. Pribadinya begitu indah sehingga
make up apa pun yang dipakainya akan memancarkan cahaya kemuliaan. Bahkan,
kalaupun ia polos tanpa make up sedikit pun, kecantikan jiwanya akan tetap terpancar
dan menyejukan hati tiap-tiap orang di sekitarnya. Karena ia yakin betul bahwa Allah
tidak akan pernah meleset memberikan karunia kepada hamba-Nya. Makin ia menjaga
kehormatan diri dan keluarganya, maka Allah akan memberikan karunia terbaik baginya
di dunia dan di akhirat.

Jika ingin menjadi wanita shalihah, maka banyak-banyaklah belajar dari lingkungan
sekitar dan orang-orang yang kita temui. Ambil ilmunya dari mereka. Bahkan kita bisa
mencontoh istri-istri Rasulullah Saw. Seperti Siti Aisyah yang terkenal dengan
kecerdasannya dalam berbagai bidang ilmu. Ia terkenal dengan kekuatan pikirannya.
Seorang istri seperti beliau adalah seorang istri yang bisa dijadikan gudang ilmu bagi
suami dan anak-anak.

Bisa jadi wanita shalihah itu muncul dari sebab keturunan. Bila kita melihat seorang
pelajar yang baik akhlaknya dan tutur katanya senantiasa sopan, maka dalam bayangan
kita tergambar diri seorang ibu yang telah mendidik dan membimbing anaknya menjadi
manusia yang berakhlak. Sulit membayangkan, seorang wanita shalihah ujug-ujug
muncul tanpa didahului sebuah proses yang memakan waktu. Disini faktor keturunan
memainkan peran. Begitu pun dengan pola pendidikan, lingkungan, keteladanan dan lain-
lain. Apa yang nampak, bisa menjadi gambaran bagi sesuatu yang tersembunyi.

Banyak wanita bisa sukses. Namun tidak semua bisa shalihah. Shalihah atau tidaknya
seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan yang Allah pimpinkan. Dan
aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja berlaku bagi wanita yang sudah
menikah, tapi juga bagi remaja putri yang berumah tangga. Tidak akan rugi jika seorang
remaja putri menjaga sikapnya saat mereka berinteraksi dengan lawan jenis yang bukan
mahramnya. Bertemanlah dengan orang-orang yang akan menambah kualitas ilmu, amal
dan ibadah kita. Ada sebuah ungkapan mengatakan, Jika kita ingin mengenal pribadi
seseorang maka lihatlah teman-teman di sekelilingnya. Usahakanlah kita mampu
memberikan warna yang baik bagi orang lain, bukan sebaliknya malah kita yang diwarnai
oleh pengaruh buruk orang lain.

Jika para wanita muda mampu menjaga diri dan memelihara akhlaknya, maka iman kaum
laki-laki akan semakin kuat. Cahaya keshalihahan wanita mukminah akan menjadi
penyejuk sekaligus peneguh hati orang-orang beriman. Apalagi bagi kaum muda yang
sangat rentan dari godaan syahwat. Mereka harus dibantu dalam melawan godaan-
godaan.

Peran wanita shalihah sangat besar dalam keluarga dan bahkan negara. Kita pernah
mendengar, bahwa di belakang seorang pemimpin yang sukses ada seorang wanita yang
sangat hebat. Jika wanita shalihah ada di belakang para lelaki di dunia ini, maka bisa
dibayangkan, berapa banyak kesuksesan yang akan diraih. Selama ini wanita hanya
ditempatkan sebagai pelengkap saja, yaitu hanya mendukung dari belakang, tanpa peran
tertentu yang serius. Dalam sebuah keterangan diyatakan bahwa bejatnya akhlak wanita
bisa menyebabkan hancurnya sebuah negara. Bukankah wanita itu adalah negara?
Bayangkanlah, jika tiang-tiang penopang bangunan itu rapuh, maka sudah pasti
bangunannya akan roboh dan rata dengan tanah, sehingga tidak akan ada lagi yang tersisa
kecuali puing-puing yang nilainya tidak seberapa.

Jadi kita tinggal memilih, apakah akan menjadi tiang yang kuat atau tiang yang rapuh?
Jika ingin menjadi tiang yang kuat, kaum wanita harus terus berusaha menjadi wanita
shalihah dengan mencontoh pribadi istri-istri Rasulullah. Dengan terus berusaha menjaga
kehormatan diri dan keluarga serta memelihara farji-nya, maka pesona wanita shalihah
akan melekat pada diri kaum wanita kita.

Ciri-ciri Istri Solehah

1. Jangan membiarkan suami anda memandang dalam keadaan anda tidak


menggembirakannya. Wanita yang paling baik adalah wanita yang selalu
membuat suaminya bahagia.
2. Hendaklah senyum itu senatiasa menghiasi bibirmu setiap anda dipandang oleh
sang suami.
3. Perbanyaklah mencari keridhan suami dengan mentaatinya, sejauh mana
ketaatan anda kepada suami, sejauh itu pulalah dia merasakan cintamu
kepadanya dan dia akan segera menuju keridhaanmu.
4. Pilihlah waktu ynag tepat untuk meluruskan kesalahan suami.
5. Jadilah anda orang yang lapang dada, janganlah sekali-kali menyebut-nyebut
kekurangan suami anda kepada orang lain.
6. Perbaikilah kesalahan suami dengan segala kemampuan dan kecintaan yang
anda miliki, janganlah berusaha melukai perasaannya.
7. Janganlah memuji-muji laki-laki lain dihadapan suami kecuali sifat diniyah yang
ada pada laki-laki tersebut.
8. Jangan engkau benarkan ucapan negatif dari orang lain tentang suamimu.
9. Upayakan untuk tampil di depan suamimu dengan perbuatan yang disenanginya
dan ucapan yang disenanginya pula.
10. Berilah pengertian kepada suami anda agar dia menghormatimu dan saling
menghormati dalam semua urusan.
11. Anda harus selalu merasa senang berkunjung kepada kedua orang tuanya.
12. Janganlah anda menampakkan kejemuan padanya, jika terjadi kekurangan
materi Ingatlah bahwa apa yang ia berikan kepadamu sudah lebih dari cukup.
13. Biasakanlah anda tertawa bila ia tertawa, menangis dan bersedih jika ia
bersedih. Karena bersatunya perasaan akan melahirkan perasaan cinta kasih.
14. Diam dan perhatikanlah jika ia berbicara.
15. Janganlah banyak mengingatkan bahwa anda pernah meminta sesutu
kepadanya. Bahkan jangan diingatkan kecuali jika anda tahu bahwa ia mudah
untuk diingatkan.
16. Janganlah anda mengulangi kesalahan yang tidak disenangi oleh suami anda
dan ia tidak suka melihatnya.
17. Jangan lupa bila anda melihat suami anda shalat sunnah di rumah, hendaknya
anda berdiri dan ikut shalat dibelakangnya. Jika ia membaca, hendaknya anda
duduk mendengarkannya.
18. Jangan berlebih-l;ebihan berbicara tentang angan-angan pribadi di depan suami,
tetapi mintalah selalu agar ia menyebutkan keinginan pribadinya di depanmu.
19. Janganlah mendahulukan pendapatmu dari pendapatnya pada setiap masalah,
baik yang kecil maupun yang besar. Hendaklah cintamu kepadanya mendorong
anda mendahulukan pendapatnya.
20. Janganlah anada mengerjakan shaum sunnah kecuali dengan izinnya, dan
jangan keluar rumah kecuali dengan sepengetahuannya.
21. Jagalah rahasia yang disampaikan kepadamu dan janganlah menyebarkannya
sekalipun kepada kedua orang tuanya.
22. Hati-hati jangan sampai menyebut-nyebut bahwa anda lebih tinggi derajatnya
dari derajat suami. Hal itu akan mengundang kebencian kepadamu.
23. Jika salah satu dari orang tuanya sakit atau kerabatnya, maka anda punya
kewajiban untuk menjenguk bersamanya.
24. Sesuaikanlah peralatan rumah tangga anda dengan barang-barang yang
disenangi suami anda.
25. Jangan sampai anda meninggalkan rumah meskipun sedang bertengkar
dengannya.
26. Katakanlah kejemuan dan kebosananmu ketika ia sudah meninggalkan rumah.
27. Terimalah udzurnya ketika ia membatalkan janjinya untuk keluar bersamamu,
karena mungkin ia terpaksa memenuhi panggilan orang yang datang kepadanya.
28. Hindari sifat cemburu, sesungguhnya cemburu adalah senjata penghancur.
29. Janganlah mengabaikan pemimpinmu (suami) dengan alasan bahwa ia telah
menjadi suamimu.
30. Janganlah anda berbicara dengan sang suami, seakan-akan anda suci dan dia
berdosa.
31. Jagalah perasaannya, jangan gembira ketika dia sedang sedih dan jangan
menangis ketika dia gembira.
32. Perbanyaklah menyebut-nyebut keutamaan suami di hadapannya.
33. Perlihatkan kepada suamimu bahwa anda turut merasakan apa yng dirasakan
sang suami tatkala ia tidak berhasil mencapai maksud dan tujuannya.
34. Perbaharuilah (tekad suami) ketika terjadi kegagalan.
35. Jauhilah sifat dusta karena hal itu kanmenyakitkannya.
36. Ingatkanlah selalu pada suamimu bahwa anda tidak tahu (bagaimana nasib
anda) seandainya anda tidak dipersunting olehnya.
37. Ucapkanlah rasa syukur dan terima kasih pada waktu ia memberikan sesuau
kepadamu.