You are on page 1of 10

BioSMART ISSN: 1411-321X

Volume 1, Nomor 1 April 1999


Halaman: 31-40

Status Taksonomi Genus Alpinia Berdasarkan Sifat-sifat Morfologi,


Anatomi dan Kandungan Kimia Minyak Atsiri

AHMAD DWI SETYAWAN


Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta

ABSTRAK

Holltum (1950) was the first researcher who divided genus Alpinia into three separated genera, i.e. Alpinia, Catimbium and Languas.
This classification was followed by many authors like Backer and Bakhuizen van den Brink (1968), although other authors challenged
it. Justification of the taxonomic status of this genus so far is only based on morphological characters of the flowers, and it has not
solved different opinion of the author yet. It is therefore important to conduct an experiment in order to extend of the character, such as
anatomical characters and their chemical constituent of essential oil to gain representative characters on classifying this genus. For this
reasons this experiment was conducted. Quantitative and qualitative methods were used in this experiment. Five species of genus
Alpinia took from Bogor Botanical Garden`s collection and species collected from highland of northern Purbalingga were used in this
experiment. Morphological character’s examinations were rhizomes, roots, shoots, leave, flowers, fruits and seeds. Anatomical
character’s examinations were the section of the rhizomes, roots, shoots and leave, included sheath and both upper and lower section of
epidermal lamina. Preparats were made by semi permanent method. Experiments on chemotaxonomy were done, including
quantitative analysis of essential oil of the rhizome by water distillation, and determination of the kind of their essential oils by gas
chromatography. The phylogenetic relationships of genus Alpinia were determined by clustering association coefficient continued by
cluster analysis. These results indicate that morphological and anatomical character, and chemical constituent of essential oils both
single or combination could be used as determinant character in genus Alpinia. Combination of these characters strengthen the current
classification based on morphological characters, but the phylogenetic dendrogram based on combination of previous characters
indicated that separation of genus Alpinia to three genera, i.e. Alpinia, Languas and Catimbium could not be confirmed.

Key words: Alpinia, morphology, anatomy, essential oils, phylogenetic

PENDAHULUAN konservasi Alpinia) dan Catimbium (Alpinia sub-


genus Catimbium K. Schum.). Namun pemisahan ini
Ruang lingkup taksonomi tumbuhan meliputi ditentang banyak ahli.
identifikasi, klasifikasi dan deskripsi (Lawrence, Genus Alpinia termasuk dalam Tribus Alpineae,
1955). Taksonomi berlandaskan sifat yang dapat Subfamilia Zingiberoideae, Familia Zingiberaceae,
dilihat, diukur, dihitung dan dibatasi, misalnya sifat Ordo Zingiberales (Scitamineae), Kelas
morfologi, anatomi, palinologi, fisiologi, biokimia, Monocotyledoneae, Subdivisi Angiospermae, Divisi
sitologi dan sitogenetika (Shukla dan Misra, 1982). Spermatophyta (Burtt, 1972; Burtt dan Smith, 1972;
Sifat yang bernilai tinggi harus jelas dan stabil (Davis Lawrence, 1951).
dan Heywood, 1973; Heywood, 1967). Taksonomi Morfologi merupakan sifat utama taksonomi, baik
yang sempurna boleh jadi mengharuskan penelitian bagian bunga atau vegetatif. Sifat bunga meliputi
semua sifat, sehingga diperoleh klasifikasi yang rinci bentuk, warna, jumlah dan organisasi. Sedang sifat
dan lebih baik (Turril, 1951). vegetatif meliputi percabangan, pertumbuhan, tekstur
Zingiberaceae memiliki sekitar 47 genus dan 1400 batang serta susunan, ukuran dan bentuk daun (Jones
spesies. Biasa dimanfaatkan untuk obat, rempah, dan Luchsinger, 1986). Sifat morfologi sering
bumbu, pewarna dan tanaman hias. Alpinia diperkuat sifat anatomi, meskipun terkadang hanya
merupakan genus terbesar dan memiliki 225 spesies. berlaku untuk klasifikasi di atas familia (Heywood,
Tumbuh di daerah tropis dan subtropis. Wilayah 1967). Sifat ini meliputi stomata, bulu-bulu;
sebaran utamanya di Indo-Malaysia, ke utara hingga substansi ergastik seperti: sel silika, kristal Ca-
Jepang dan ke selatan hingga New South Wales oksalat, pati, tanin, sel minyak, getah; parenkim;
(Lawrence, 1955; Purseglove, 1972). xilem, floem dan lain-lain. Sifat ini dipengaruhi
Taksonomi Zingiberaceae menarik dipelajari adaptasi dan fungsi (Shukla dan Misra, 1982). Sifat
karena adanya banyak perbedaan pendapat, misalnya lain yang mulai banyak digunakan adalah
status taksonomi genus Alpinia. Holttum (1950) kemotaksonomi, yaitu penerapan data-data kimia.
memisahkan genus ini menjadi tiga, yaitu: Alpinia Sifat ini tidak mensyaratkan spesimen utuh dan
(berdasarkan Alpinia sub-genus Dieramalpinia K. tersimpan baik (Hegnauer, 1963).
Schum.), Languas (termasuk Alpinia galanga, tipe
© 1999 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta
32 BioSMART Vol. 1, No. 1, April 1999, hal. 31-40

Tumbuhan memiliki hubungan kekerabatan yang tidak disintesis tumbuhan.Cara yang kini jamak
diturunkan secara genetik. Keeratan kekerabatan naik dipakai adalah ekstraksi, karena komposisinya tidak
dengan turunnya tingkat taksa dan berkurang dengan banyak berubah. Penyulingan masih digunakan
naiknya tingkat taksa. Taksonomi merupakan cermin namun terbatas untuk mengetahui kadar minyak
kekerabatan dan evolusi (Pool, 1941). (Guenther, 1948; Harborne, 1984).
Kromatografi gas cairan merupakan cara
Biosintesis Minyak Atsiri pemisahan minyak atsiri paling lazim. Pemisahan
Untuk tumbuh dan berkembang, makhluk hidup terjadi pada fase diam berdasarkan kelarutan
melakukan metabolisme. Proses ini dimulai dengan cuplikan. Senyawa yang kelarutannya rendah keluar
fotosintesis, dan hasilnya dapat diubah menjadi lebih dulu (Boyer, 1990; Gritter dkk., 1991).
senyawa sekunder (Geissmann dan Crout, 1969). Keunggulan metode ini adalah: cepat setimbang, gas
Senyawa ini dibentuk spesies tertentu, terpengaruh pembawa kecepatan tinggi, memisahkan pada titik
lingkungan, strukturnya serupa dan fungsi didih kecil, analisis kualitatif dan kuantitatif
fisiologisnya seolah-olah tidak penting (Tarigan, bersamaan, konsentrasi 0,01%, mudah dijalankan dan
1987) dipahami (Harborne, 1984; McNair dan Bonelli,
Struktur minyak atsiri Alpinia berupa modifikasi 1968).
sel-sel parenkim, yang dibentuk di semua jaringan
terutama rimpang. Minyak ini memiliki aroma khas, Taksonomi Numerik dan Kekerabatan
indek bias tinggi, optis aktif, sudut putar spesifik, Taksonomi numerik digunakan untuk menyusun
tidak larut dalam air, bening, rasa pedas, pahit dan klasifikasi berdasarkan hubungan fenetik, yaitu
hangat karena adanya resin (Burkill, 1935; Claus persamaan sifat fenotip. Dalam taksonomi ini taksa
dkk., 1970). Dalam minyak atsiri kadar resin sekitar terbawah berupa unit operasional taksonomi (OTUs)
30% (Paimin dan Murhananto, 1991). Komponen (Shukla dan Misra, 1982). Dendrogram filogeni
utama minyak atsiri adalah terpenoid dan senyawa dapat dibuat dengan metode koefisien asosiasi,
aromatis turunan asam sikimat (Claus dkk., 1970). dimana indek similaritas memakai rumus (Sokal dan
Selanjutnya Guenther (1948) menambahkan Sneath, 1963):
hidrokarbon rantai lurus dan senyawa lain yang m
belum jelas asalnya. Komponen minyak atsiri Sm = ------- x 100
umumnya tidak stabil dan dapat menyatu kembali n
secara intra molekuler. m = jumlah sifat yang berpasangan (++/--)
Minyak atsiri golongan terpenoid terdiri dari µ = jumlah sifat yang tidak berpasangan (+-/-+)
mono-terpen, sesquiterpen dan diterpen (Borner dan n =m+µ
Varner, 1965). Monoterpen merupakan minyak atsiri Sm = indeks similaritas
paling umum, sedang sesquiterpen paling khas Tingkat harga koefisien asosiasi dapat ditentukan
(Guenther, 1948). Diterpen sangat jarang (Robinson, dengan analisis klaster (Pielou, 1984).
1975). Bahkan menurut Ting (1982), tidak ada
minyak atsiri dari diter-pen. Monoterpen dibentuk
oleh ikatan dua isopentenil pirofosfat atau isopentenil BAHAN DAN METODE
pirofosfat dengan dimetilalil pirofosfat. Penambahan
isopentenilpirofosfat lebih lanjut menyebabkan Penelitian ini memakai metode kualitatif dan
terbentuknya sesquiterpen dan diterpen (Borner dan kuanti-tatif di laboratorium. Data diperoleh melalui
Varner, 1965; Geissmann dan Crout, 1969). pengamatan morfologi, anatomi dan kandungan
Turunan asam sikimat dikenal pula sebagai resin. kimia minyak atsiri. Prosedur pengamatan morfologi
Asam sikimat berasal dari penggabungan fosfoenol meliputi analisis langsung tumbuhan hidup dan
piruvat dan eritrosa-4-fosfat. Setelah melalui beberapa pembuatan herbarium (Lawrence, 1951; 1955).
tahap akan menghasilkan fenilalanin, prekusor Pengamatan anatomi meliputi pembuatan prepatat
senyawa-senyawa C6-C3 yang merupakan starter dan pemotretan (Radford dkk.,1982; Soerodikoesoemo,
senyawa-senyawa C6-C3-(C2)n, seperti zingeron dan 1989). Pengamatan kemotaksonomi meliputi distilasi
senyawa-senyawa keton lain (Geissmann dan Crout, air, ekstraksi dan kromatografi gas (Anonim, 1977;
1969). Harborne, 1984; Pramono, 1988). Analisis data
berupa pembuatan dendrogram filogeni dengan
Kromatografi Gas Cairan metode pengelompokan koefisien asosiasi (Sokal dan
Penyulingan sering digunakan untuk mendapatkan Sneath, 1963) dan analisis klaster (Pielou, 1984).
minyak atsiri, karena sederhana, cepat dan murah. Specimen Alpinia adalah tumbuhan hidup koleksi
Namun pada suhu tinggi minyak atsiri dapat Kebun Raya Bogor dan tumbuhan liar dari dataran
mengalami hidrodifusi, hidrolisis, polimerisasi dan tinggi Purbalingga Utara. Pada pengamatan
resinifikasi, sehingga terbentuk senyawa yang semula morfologi dilakukan pula pemeriksaan herbarium
SETYAWAN – Status Taksonomi Genus Alpinia 33

koleksi Herbarium Bogoriense Bogor. Spesies yang Bahan. Distilasi: xylene dan akuades. Ekstraksi: etanol,
diteliti adalah: Alpinia galanga (L.) Willd. Sin. petroleum eter, asam asetat 10% dalam petroleum eter, NH4OH
pekat dan NH4OH 1% dalam petroleum eter. Kromatografi gas
Languas galanga (L.) Stuntz., Alpinia Hookeriana cairan: senyawa identitas.
Val. sin. Catimbium latilabre (Ridl.) Holtt., Alpinia
Alat. Persiapan bahan: kipas angin, blender, ayakan, rak, kain
javanica Bl., Alpinia malaccensis Rosc. sin. hitam, ember, pisau, landasan kayu dan nampan pengeringan.
Catimbium malaccensis (Burm.) Holtt. dan Alpinia Distilasi air: labu destilasi Stahl berupa labu didih 1000 ml,
nutans Rosc. sin. Catimbium spesiosum (Wendl.) pendingin dan buret 0,5 ml berskala 0,01 ml; statis, klem, kasa
Holtt. Identifikasi mengacu pada Backer dan keramik dan kompor. Ekstraksi: tabung reaksi, lumpang dan
Bakhuizen v.d. Brink (1968), Holttum (1950), cawan porselen, tabung sentrifus, sentrifus, penangas air, corong,
kertas saring, vorteks, labu didih 1000 ml, pendingin, kipas
Henderson (1954) dan Ochse (1931). angin, penampung, statis dan klem. Kromatografi gas cairan:
tempat penyuntikan, kolom carbowax, detektor FID, alat
Pengamatan Morfologi pencatat, syringe dan tabung gas pembawa.
Pengamatan morfologi dilakukan terhadap Cara Kerja. Distilasi Air: Rimpang segar yang cukup umur
habitus, rimpang, akar, batang semu, daun (helai, (sekitar 12 bulan) dicuci bersih, dibuang akar dan sisik daunnya.
Dipotong melintang 1-2 mm. Dikeringkan di bawah sinar
pelepah, upih, tangkai), infloresensi, braktea primer,
matahari tidak langsung dengan ditutupi kain hitam selama 3-4
braktea sekunder, bunga, kelopak, mahkota, bibir, hari. Diblender dan diayak hingga menjadi serbuk. Distilasi
staminodia, filamen, anthera, stylus, stigma, ovarium, dimulai dengan menimbang 100 gram serbuk, dimasukkan dalam
buah dan biji. Untuk memudahkan pengamatan juga labu 1000 ml, ditambah akuades sampai ¾ isi labu dan
dibuat herbarium kering. dididihkan selama 5-6 jam hingga minyak atsirinya menguap
sempurna. Sebelumnya buret diisi 0,2 ml xylene untuk
Bahan. Dalam pembuatan herbarium diperlukan kertas menaikkan daya kohesi minyak atsiri.
herbarium, etiket, label, benang, tali pengikat, lem, selotip
transparan, kertas koran dan kertas kardus. Metode Ekstraksi: Rimpang dicuci bersih, dibuang akar dan sisik
daunnya. Ditimbang sekitar 1 kg, dipotong melintang 1-2 cm dan
Alat. Dalam pembuatan herbarium diperlukan sasak, pisau, silet, diblender halus. Dimasukkan dalam labu ekstraksi, ditambah 500
gunting, gunting tanaman dan alat tulis. Sedang untuk ml petroleum eter dan dibiarkan semalam. Setelah itu divorteks
pengamatan diperlukan mikroskop stereo, lensa pembesar, cawan sekitar 15 menit dan disaring. Filtrat dipekatkan dengan cara
petri, jarum pemisah, silet, pinset, meteran serta kamera diuapkan pada labu evaporasi yang dipanaskan dengan penangas
mikrofotografi. air dibantu kipas angin. Petroleum eter akan lebih dulu menguap
sehingga hanya tertinggal minyak atsiri. Selanjutnya siap untuk
Cara Kerja. Specimen tumbuhan hidup dan herbarium kering
kromatografi. Minyak atsiri disimpan di tempat sejuk, gelap dan
diamati langsung, bagian yang tersembunyi atau kecil diiris
ditutup rapat.
melintang dan diamati dengan lensa pembesar atau mikroskop
stereo. Penampakan umum, bunga dan herbarium dipotret. Metode Kromatografi Gas Cairan: Minyak atsiri hasil ekstraksi
dianalisis jenis-jenis senyawa penyusunnya. Kondisi
Pengamatan Anatomi kromatografi: cuplikan: minyak atsiri rimpang Alpinia, kolom:
Pengamatan anatomi dilakukan pada helai daun 10% carbowax 20 M, 2 meter, detektor: FID, suhu injektor
240°C, suhu kolom 90-915°C; 7,5°C per menit, gas pembawa N2
meliputi epidermis, hipodermis, bulu-bulu, stomata, 25 ml/menit, hidrogen 0,9 kg/cm2.
kloremkim, sel minyak dan berkas pengangkut; pada
pelepah daun meliputi epidermis, stomata, rongga Analisis Data
udara dan berkas pengangkut; pada batang, rimpang Seluruh data hasil penelitian morfologi, anatomi
dan akar meliputi susunan kortek dan stele. dan kandungan kimia minyak atsiri ditabulasikan,
Bahan. Dibutuhkan gliserin, alkohol 70%, safranin 1% dalam dianalisis dan dibuat dendrogram kekerabatannya.
alkohol 70% dan cat kuku. Kekerabatan fenetik ditentukan dengan metode
Alat. Untuk membuat preparat digunakan silet, kuas, jarum numerik, tepatnya metode pengelompokan dengan
preparat, cawan petri, gelas benda dan gelas penutup. Untuk koefisien asosiasi. Dimana tingkat persamaan harga-
pengamatan digunakan mikroskop, mikrometer, kamera lucida harga koefisien asosiasinya ditentukan dengan
dan kamera mikrofotografi.
analisis klaster .
Cara Kerja. Preparat dibuat dengan metode semi-permanen.
Rimpang, akar, batang, helai dan pelepah daun dibuat preparat
penampang melintang. Khusus helai daun juga dibuat preparat
paradermis. Langkah-langkahnya sebagai berikut: bahan diiris HASIL DAN PEMBAHASAN
tipis, difiksasi 24 jam dengan alkohol dan diwarnai safranin 1%
dalam alkohol 70% selama 5 menit. Dicuci alkohol 70% agar Kunci Determinasi
tidak luntur ketika diberi gliserin. Diletakkan pada gelas benda, Infloresensi terminal pada batang semu, aksis bercagang,
ditetesi gliserin, ditutup dengan gelas penutup, dan disegel memangku beberapa cincinnus (bunga tangga) yang tersusun
dengan cat kuku. Diamati dengan mikroskop dan dipotret dengan spiral terdiri dari 1-2 bunga atau lebih, dengan ujung 1 bunga;
kamera mikrofotografi. braktea primer kecil atau tidak ada, jarang besar; braktea
sekunder selalu ada, kecil atau besar; bibir dan filamen
Pengamatan Kemotaksonomi terpisah, sel-sel anthera tanpa apendik; staminodia tereduksi
menjadi gigi-gigi kecil; ovarium bersel 3; bulu-bulu uniselular;
Pengamatan kemotaksonomi dilakukan terhadap semua jenis
hipodermis hanya di permukaan atas daun; berbau aromatis,
senyawa sekunder minyak atsiri Alpinia.
mengandung sel-sel minyak atsiri.
34 BioSMART Vol. 1, No. 1, April 1999, hal. 31-40

Braktea primer kecil, segera rontok; braktea sekunder A.malaccensis dan A.nutans terkadang juga muncul di atas
berbentuk mangkuk atau cerobong; bunga besar, bibir sama permukaan tanah. Sedang rimpang A.galanga selalu di bawah
panjang dan lebarnya, infloresensi tidak ditutup rapat oleh tanah. Arah pertumbuhan rimpang dan daun transversal, sehingga
pelepah bunga; bibir kuning jeruk atau kuning jeruk dengan sangat kokoh. Irisan makroskopis rimpang memperlihatkan dua
batas tepi putih; tabung mahkota putih atau putih berbintik- sektor. Kortek di tepi berwarna kuning muda, kecuali A.galanga
bintik merah; braktea sekunder panjang mencapai 2 cm, merah. Stele di tengah kuning tua. Keduanya dipisahkan cincin
bentuk mangkuk lebar. Bulu terdapat pada kedua permukaan melingkar tebal berwarna kuning tua yang di dalamnya terdapat
daun ………………………………..… Alpinia javanica Bl. 1 endodermis, pada A.Hookeriana berwarna biru tua. Rimpang
Braktea sekunder tidak berbentuk mangkuk atau cerobong, berserat kuat dan keras, terutama stele. Pada A.galanga
robek dingga ke dasar, berpelepah atau datar. mengkilat hingga usia panen.
Braktea primer hilang (terkadang ada di dekat ujung Akar. Besar, kuat, ulet, berserat dan berdaging. Bentuk akar
infloresensi); braktea sekunder persisten, biasanya besar, cenderung sesuai bentuk rimpang. Akar A.galanga dan
menutup rapat kuncup-kuncup bunga hingga saat mekar, A.Hookeriana berdaging, sedang akar ketiga spesies lain
lalu rontok; kelopak robek sangat dalam ketika bunga berserat.
mekar; bibir besar, umumnya kuning jeruk atau kuning Batang. Tegak, kuat, tinggi, tumbuh sepanjang tahun, baik pada
jeruk dengan garis-garis merah, tiap cincinnus memiliki 1-2 musim hujan maupun kemarau. Merupakan pertumbuhan lebih
bunga. lanjut ujung rimpang dalam tanah. Pangkal batang ditutupi sisik-
Braktea sekunder panjang sekitar 2,5 cm, panjang bibir 3,5 sisik kecil dan menggembung. Batang merupakan kumpulan
cm, berbintik-bintik merah; bibir putih kemerahan pelepah daun yang panjang, tersusun berturut-turut secara
bergaris-garis kuning di pangkal dan berwarna kuning di berseling dan menyatu dengan batang kecil di tengah membentuk
tepi; bulu-bulu terdapat di kedua permukaan ..…….. batang besar dan kompak. Kekuatan dan keuletan batang
……………………………..Alpinia nutans Rosc.(1805) 2 tergantung pelepah daun yang menyusunnya. Batang A.galanga
Braktea sekunder panjang 3-4 cm, panjang bibir lebih 3,5 cm. dan A.Hookeriana lebih kompak. Tinggi batang A.galanga 1-3
m, A.Hookeriana 3 m, A.javanica 2-3 m, A.malaccensis 1-4 m
Panjang bibir mencapai 4,5 cm, kuning jeruk dengan dan A.nutans 1-2½ m dimana diameter masing-masing berturut-
garis-garis dan bintik-bintik kemerahan, mulut tabung turut 1-3 cm, 2½ -5 cm, 2-4 cm, 2½-4½ cm dan 2-4 cm.
mahkota tidak menyolok; bulu-bulu tidak ada,
permukaan bawah daun gundul, lebar mencapai 12 cm Daun. Tersusun berseling, terdiri dari pelepah, upih, tangkai dan
helai.
…………………….. Alpinia Hookeriana Val. (1904) 3
Helai Daun. Letak condong ke atas, mendatar atau agak terjurai.
Panjang bibir 6 cm, bagian dalam merah berbintik-bintik
Helai terbawah biasanya terletak sepertiga tinggi batang, bersama
kuning, mulut tabung terlihat; permukaan bawah daun
helai teratas ukurannya paling kecil. Helai terbesar terletak di
berbulu halus, lebar mencapai 20 cm .
pertengahan (2/3 tinggi batang). Daun sangat besar, bulat
……………....….. Alpinia malaccensis Rosc. (1808) 4 panjang/jorong, pada A.galanga lanset. Ujung runcing, pada
Braktea primer ada, biasanya kecil; braktea sekunder kecil; A.Hookeriana meruncing. Pangkal pasak. Helai A.galanga dan
kelopak tidak terbelah dalam, bibir kecil, putih atau putih A.Hookeriana simetris, tepi lurus dan rata, kedua permukaan
keunguan, biasanya bercuping 2; permukaan daun gundul gundul tetapi di tepi dan di bawah tulang daun terdapat bulu-bulu
…………………..…... Alpinia galanga (L.) Willd. (1797) 5 tipis. Pada A.javanica, A.malaccensis dan A.nutans asimetris,
tepi berlekuk-lekuk, permukaan atas A.malaccensis gundul,
kecuali di atas tulang daun, sedang permukaan bawah berbulu-
Mo rfo logi halus, rapat, seperti beludru. Warna helai atas dan bawah sama,
Habitus. Herba, menahun, bersemak, langsing, membentuk hijau, tetapi terkadang warna helai bawah lebih muda. Pada
rumpun, bunga terminal. Rumpun A.galanga dan A.Hookeriana A.javanica, A.malaccensis dan A.nutans agak kecoklat-coklatan
tegap, daun kaku menjulang ke atas, sedang A.javanica, sesuai warna bulu-bulu. Khusus A.javanica helai daun berbelang
A.malaccensis dan A.nutans daun terjurai ke bawah tidak tegap. kuning. Helai berbau aromatis, tergulung ketika masih tunas.
Ukuran helai A.galanga 20-60X4-15 cm, A.Hookeriana 70-
Rimpang. Menjari, berujung pada batang semu, menyerupai 90X10-15cm, A.javanica 90X15 cm, A.malaccensis 40-90X6-20
stolon, terletak di atas tanah atau sedikit di bawah permukaan cm dan A.nutans 50X8 cm.
tanah, memiliki sisik-sisik kecil berseling. Rimpang
A.Hookeriana sering tampak di atas tanah, sehingga berwarna Pelepah Daun. Besar, kuat, ulet, sangat panjang, tubuler di
kehijauan akibat munculnya klorofil. Rimpang A.javanica, pangkal, membentuk celah memanjang pada sisi yang
berlawanan dengan helai. helai pada pelepah terbawah tereduksi
menjadi sisik rudimenter kecil. Panjang pelepah A.galanga 30-40
1
Sinonim: Costus malaccensis Koen. (1791), Alpinia involucrata cm, A.Hookeriana 40-50 cm, A.javanica 40-60 cm,
Griff. (1851), Alpinia campanaria Ridl. (1892), Languas javanica A.malaccensis 40-60 cm dan A.nutans 30-40 cm.
Burk. (1935) (Holttum, 1950).
2 Tangkai. Menyatu dengan pelepah, terdapat upih di pangkalnya,
Sinonim: Zerumbet spesiosus Wendl. (1798), Renealmia nutans
Andr. (1800), Alpinia spesiosa K. Schum., Languas spesiosa Small.
yang terkadang merapat pada batang. Permukaan berbulu tajam
(1913), Catimbium spesiosum (Wendl.) Holtt. (1950) (Holttum, kecuali A.galanga dan A.Hookeriana.Tangkai agak panjang,
1950). pada A.galanga ½-0,8 cm, A.Hookeriana 2½ cm, A.javanica 2½
3
Sinonim: Alpinia latilabris Ridl. (1899), Catimbium latilabre (Ridl.) cm, A.malaccensis 3-7 cm dan A.nutans 2½ cm. Menggembung
Holtt. (1950), Alpinia mutica quoad Hk., Languas Hookeriana Merr. membentuk pulvinus.
(Anonim, 1986; Holttum, 1950).
4
Sinonim: Matantha malaccensis Burm. (1768), Galanga malaccensis Upih. Jelas, tegak, pendek, lebar, kuat, berbulu sikat, seperti
Rumph., Languas malaccensis Merr. (1921), Catimbium malaccensis kulit, bentuk segitiga bercuping dua. Pada A.galanga upih bulat,
(Burm.) Holtt. (1950), Alpinia malaccensis (Burm.) Roxb., Alpinia kecil, tipis, bulu tipis halus, terkadang memiliki telinga (auricula)
nobilis Ridl. (Backer dan Bakhuizen van den Brink, 1968; Holttum, di kedua sisinya. Panjang A.galanga ½-0,7 cm, A.Hookeriana 1¼
1950). cm, A.javanica 2½ cm, A.malaccensis 2¼ cm dan A.nutans 2 cm.
5
Basionim: Maranta galanga L. (1762); Sinonim: Amomum galanga
(L.) Lour. (1790) , Languas galanga (L.) Stuntz (1912), Languas Infloresensi. Terminal pada batang semu, tegak, pada
vulgare Koen. (1783), Alpinia galanga Sw. (1791) (Burtt dan Smith, A.Hookeriana dan A.nutans mengangguk. Panjang infloresensi
1972; Holttum, 1950; Westphal dan Jansen, 1989) A.galanga 10-20 cm, A.Hookeriana 10-30 cm, A.javanica 20-30
SETYAWAN – Status Taksonomi Genus Alpinia 35

cm, A.malaccensis 13-45 cm dan A.nutans 10-25 cm dengan Filamen (tangkai benang sari). Panjang, ramping, putih
diameter secara bertutur-turut 5-7 cm, 14,5 cm, 14,5 cm, 14,3 cm kemerahan, kecuali A.galanga kuning kehijauan. Panjang pada
dan 14,5 cm. Infloresensi berupa sebuah poros yang memangku A.galanga 1½-2 cm, A.Hookeriana ¼ cm, A.javanica 1 cm,
beberapa braktea primer spiral, ketiak setiap braktea terdapat A.malaccensis 1½ cm dan A.nutans 1 cm.
sebuah cincinnus (bunga tangga). Cincinnus A.galanga dan Anthera (kepala sari). Sangat panjang, tidak membungkus
A.javanica biasanya 2-3 bunga, A.nutans dua bunga, sedang stylus. Warna krem, kecuali A.galanga putih dan A.Hookeriana
A.Hookeriana dan A.malaccensis 1-2 bunga, bagian apikal kuning. Panjang pada A.galanga 2-2½ cm, A.Hookeriana 1 cm,
biasanya hanya terdapat satu bunga. Infloresensi diapit sepasang A.javanica ¾ cm, A.malaccensis ½-1 cm dan A.nutans ½-1 cm.
pelepah yang segera rontok, letak berseling berhadapan. Panjang
14-15 cm, kecuali A.galanga 10 cm. Pedunculus berbentuk galah Stylus (tangkai putik). Panjang, ramping, tunggal, terletak di
memanjang. saluran sepanjang stamen fertil, dekat anthera.
Braktea Primer. Hanya ditemukan pada A.galanga dan Stigma (kepala putik). Letak di ujung stylus dekat anthera,
A.javanica, masing-masing berwarna putih dan putih kecoklatan, bentuk cawan, kecuali A.galanga segitiga. Umumnya tidak
pada setiap ketiak terdapat sebuah cincinnus. A.Hookeriana, memanjang.
A.malaccensis dan A.nutans yang tidak memiliki braktea primer, Stylodia (kelenjar nektar). Tidak tereduksi. Nektar disekresi
juga mempunyai cincinnus dengan posisi serupa. Bunga pertama kelenjar epigen berbentuk kopuler atau masif, berasal dari
cincinnus terminal, bunga-bunga selanjutnya aksiler, dilindungi permukaan ovarium paling atas (Rao, 1963 dalam Burtt, 1972).
braktea sekunder yang terletak di sebelah dalam braktea primer
Ovarium. Inferior, trilokuler, plasentasi aksiler, tidak berbulu
(bila ada). Braktea primer A.galanga dan A.javanica berbentuk
kecuali A.galanga. Panjang saat mekar A.galanga ¼ cm,
lanset, tepi dan sisi luar berbulu, mudah rontok. Ukuran braktea
A.Hookeriana ½-0,6 cm, A.javanica 0,4 cm, A.malaccensis 0,9
primer keduanya hampir sama sekitar 7-10X1½-2 cm.
cm dan A.nutans 0,6 cm.
Braktea Sekunder. Terdapat dua tipe, yaitu: tabung (mangkuk-
Buah. Dehiscent, globose, tanpa braktea, kulit berbulu tajam.
cerobong) dan lanset (lunas perahu). Semua berbentuk mangkuk
Saat tua pecah menjadi 3 bila ditekan. Warna kuning-jeruk
cerobong, kecuali pada A.galanga. Persisten kecuali pada
hingga kuning kemerahan. Diameter A.galanga 1-1½ cm,
A.galanga yang hanya ada ketika muda dan cepat rontok. Ukuran
A.Hookeriana 2-2½ cm, A.javanica 2½ cm, A.malaccensis 3-3½
pada A.galanga 0,7-1X0,3-½ cm, A.Hookeriana 3-3½X2-3 cm,
cm dan A.nutans 3-4 cm.
A.javanica 1½-2X2-3 cm, A.malaccensis 4-2X2-3 cm dan
A.nutans 2½X2½ cm. Biji. Hitam, berarilus, ovarium seperti amplop, membentuk sudut
disisi dalam dan membulat di sisi luar. Biji tidak memenuhi
Bunga. Berdasarkan filogeninya bertipe liliiflorae, terdiri dari 3
ovarium, bagian yang kosong diisi arilus irregular. Testa halus.
sepala, 3 petala, 3+3 stamen dan 1 ginaesium yang terdiri dari 3
Perisperm tebal, putih, kaya pati, mengelilingi endosperm.
bagian. Sepala menyatu membentuk tabung kelopak. Petala
Endosperm mengelilingi embryo. Pangkal biji memiliki sumbat
menyatu membentuk tabung mahkota yang menyolok. Satu
yang menghubungkan radikula embryo dengan arilus. Ketika
stamen di lingkaran dalam membentuk stamen fertil, 2 stamen di
tumbuh sumbat ditekan keluar oleh kecambah.
lingkaran luar membentuk 2 staminodia lateral, sedang 3 stamen
sisanya sebagian atau seluruhnya membentuk bibir. Menurut
Schumman (dalam Holttum, 1950), bibir bercuping tiga seperti Anatomi
pada Alpinia berasal dari satu stamen luar. Rimpang. Irisan melintang terdiri dari kutikula, epidermis,
Kelopak. Berbentuk tabung menyerupai mangkuk-cerobong, kortek, endodermis dan stele. Kutikula tipis, pada A.galanga
bercuping tiga, dangkal, ujung tumpul atau membulat. Warna agak tebal dan mengkilat. Epidermis selapis, kecil, agak pipih,
putih bergaris-garis merah, pada A.galanga putih penuh. Sisi luar dinding kuning kecoklatan, pada A.galanga kemerahan; pada
berbulu, pada A.nutans hanya di tepi. Panjang pada A.galanga 1- rimpang tua sering robek, digantikan periderm. Hipodermis lebih
1¼ cm, A.Hookeriana 2½-3 cm, A.javanica 2¼ cm, dari selapis. Hipodermis dan periderm hanya teramati pada
A.malaccensis 3¼ cm dan A.nutans 2½ cm. A.Hookeriana. Kortek diisi sel parenkim besar, dinding tipis,
sangat rapat, beberapa lapis di luar tidak berpati. Jumlah sel
Tabung mahkota. Lebih pendek dari kelopak, berbentuk pipih
minyak atsiri sekitar 10 per satuan bidang pandang, namun pada
sampai garis lanset. Warna dasar putih, pada A.Hookeriana putih
distilasi air kadar minyak atsirinya berbeda-beda, tergantung
kekuningan dan A.malaccensis putih keunguan. Sisi luar berbulu
ukuran, kadar oleoresin dan efisiensi alat. Jumlah sel minyak per
kecuali A.nutans. Ukuran pada A.galanga 1X¼ cm,
satuan bidang pandang A.Hookeriana, A.galanga dan A.nutans 8-
A.Hookeriana 1X½ cm, A.javanica 1-2X½ cm, A.malaccensis
12, A.javanica 7-12, A.malaccensis 10-13. Endodermis selapis,
1¼X1½ cm dan A.nutans 1-5X½ cm.
dinding menebal radial, tidak berpati. Berkas pengangkut
Bibir. Diapit sepasang staminodia bulat telur, kecuali A.galanga tersebar di kortek dan stele, tipe kolateral, membentuk sabuk
lanset. Terbelah membentuk 2 cuping, tepi mengering, kecuali melingkar. Pada A.galanga dan A.Hookeriana sabuk dipisah-
A.galanga dan A.Hookeriana bulat, tidak mengering. Berkerut, pisahkan parenkim, pada tiga spesies lain bersambung dan sering
kecuali A.galanga berombak dan beringgit. Bibir A.galanga bertumpuk 2-3. Stele tipe ataktostele, memiliki sel minyak dan
putih kehijauan atau putih kekuningan, A.Hookeriana kuning- pati. Berkas pengangkut di kortek sangat rapat, kecuali
jeruk, tengah bergaris-garis merah tidak mencapai tepi. A.galanga, sehigga rimpang berserat, ulet dan sulit dipatahkan.
A.javanica kuning, tengah bergaris-garis merah sebagian hingga Xilem tipe jala, noktah dan tangga. Floem berkelompok, kadang
tepi. A.malaccensis kuning bergaris-garis dan bercak-bercak tidak jelas.
merah menutupi seluruh permukaan kecuali ujung. A.nutans
Akar. Irisan melintang terdiri dari kortek, endodermis dan stele.
kuning bergaris-garis merah muda jarang, selalu sampai tepi.
Bagian terluar kortek berupa selapis sel epi(ekso-)dermis, bentuk
Ukuran A.galanga 2-3X½-1 cm, A.Hookeriana 3¼-3¾X1¾-2½
bulat memanjang, rapat dan menebal, sebagian terdiferensiasi
cm, A.javanica 2½X1¾ cm, A.malaccensis 4X2½ cm dan
menjadi bulu-bulu akar. Di sebelah dalam endodermis terdapat
A.nutans 2½X1½ cm.
parenkim besar, dinding tipis dan tidak teratur. Menjelang
Staminodia. Sangat kecil, berupa gigi-gigi kecil yang menyatu endodermis terdapat 3-5 baris sel parenkim tersusun teratur
dengan pangkal bibir. Warna sesuai warna bibir. Menurut Burtt secara radial. Endodermis selapis menyerupai huruf "U",
(1972) staminodia merupakan hasil perkembangan filamen fertil. semakin menebal pada akar yang tua. Stele mengandung berkas
Stamen (benang sari). Stamen fertil berasal dari stamen tunggal pengangkut padat di tepi dan jaringan parenkimatis tipis di
di lingkaran dalam (Burtt, 1972). tengah. Floem bulat panjang, tetapi pada A.galanga bulat. Floem
36 BioSMART Vol. 1, No. 1, April 1999, hal. 31-40

berjajar dalam dua lingkaran, lingkaran luar berupa sel-sel kecil, kecil. Sarung berkas pengangkut luar parenkimatis, berdinding
lingkaran dalam berupa sel-sel yang besarnya 2-5. Jumlah tipis, jarang menebal, umumnya 1-2 lapis. Tetapi pada
lingkaran umumnya 20 buah, tetapi pada A.galanga hanya sekitar A.Hookeriana hanya selapis. Pada Berkas pengangkut kecil
10 buah. Pada A.galanga seluruh ruang stele merupakan berkas sarung berkas mengelilingai utuh, sedang pada berkas
pengangkut yang menebal, parenkim empulur sangat sedikit di pengangkut besar sarung berkas terpotong pada salah satu atau
tengah. kedua ujungnya.Sarung berkas pengangkut dalam berserat,
Batang. Irisan melintang terdiri dari kortek dan stele yang berdinding tebal, kompak dan padat. Pada berkas pengangkut
dipisahkan cincin tengah. Bagian terluar kortek berupa selapis sel kecil sarung ini hanya ada di gabian bawah, sedang pada berkas
epidermis dilindungi kutikula agak tebal. Pada A.javanica, pengangkut besar terletak di bawah dan di atas, terkadang hanya
A.malaccensis dan A.nutans kortek sempit, sedang pada spesies berupa serabut-serabut tidak kompak.
lainnya lebar. Cincin tengah A.Hookeriana dan A.nutans tebal. Pelepah Daun. Sisi luar A.javanica, A.malaccensis dan A.nutans
Stele tebal. Berkas pengangkut tersebar merata, rapat, tidak berlekuk-lekuk karena penonjolan rusuk berkas pengangkut
beraturan, agak bulat, ukuran bervariasi. Sel minyak atsiri perifer, sedang pada A.galanga dan A.Hookeriana rata.
kekuningan tersebar merata. Epidermis rusuk biasanya lebih kecil dan pipih. Stoma agak
Helai Daun. Pada irisan melintang telihat kutikula, epidermis, melimpah pada garis rusuk. Bulu uniseluler, tidak ada pada
hipodermis, parenkim palisade, parenkim bunga karang dan A.galanga, jarang pada A.Hookeriana, rapat-sangat rapat pada
berkas pengangkut. Kutikula agak tebal. Epidermis selapis pada spesies lainnya. Sel minyak berbentuk khas, warna kuning.
kedua permukaan, berbentuk segienam memanjang atau Kristal Ca-oksalat biasa ditemukan pada sisi adaksial, bentuk
segienam irreguler, ukuran lebih kecil dari pada sel-sel lain. bulat atau lonjong. Rongga udara besar, bersekat-sekat melintang
Letak epidermis atas lebih teratur dari pada epidermis bawah. oleh untaian sel-sel bulat atau bintang, kecuali A.galanga. Pada
Pada irisan paradermal terlihat di bawah dan di atas daerah rusuk A.nutans antara rongga udara dipisahkan septa tebal berisi berkas
sel epidermis lebih kecil dan rapat, berbentuk segienam. Pada pengangkut. Sistem berkas pengangkut pada tumbuhan dewasa
A.galanga dan A.javanica jumlahnya 1-2 baris, pada empat macam. Sistem berkas pengangkut utama (I) bulat
A.Hookeriana, A.malaccensis dan A.nutans 2-3 baris. Kristal Ca- memanjang, jelas, dekat sisi atas, berderet membentuk busur
oksalat hanya ditemukan pada A.javanica, A.malaccensis dan tunggal, seperti sisir. Setiap berkas mempunyai serabut padat di
A.nutans, bentuk bulat atau lonjong. Sel minyak atsiri irisan atas xilem dan di bawah floem, mempunyai trachea tunggal,
paradermal hanya ditemukan pada A.galanga.Kerapatan pada lebar, protoxilem panjang, metaxilem kecil dan floem tunggal.
permukaan atas 4-6 per satuan bidang pandang, bawah 50-60 per Busur sistem berkas pengangkut lainnya tereduksi tanpa
satuan bidang pandang. Bulu uniseluler, panjang, tertanam cukup protoxilem, namun dikelilingi sabuk kolenkim tipis. Sistem
dalam melebihi batas epidermis. Stomata bertipe ginjal, terdapat . berkas pengangkut adaksial (II) agak rapat, bentuk bulat,
Bulu permukaan atas hanya ditemukan pada A.javanica, 1-3 per membentuk selapis busur, ukuran bervariasi. Berkas pengangkut
satuan bidang pandang dan A.nutans 4-6 per satuan bidang yang besar dikelilingi sarung serabut tebal, sedang yang kecil
pandang. Sedang bulu permukaan bawah ditemukan pada sarung serabut tipis, kadang terdapat kumpulan serabut-serabut
A.javanica, 45-55 per satuan bidang pandang, A.malaccensis 25- kompak tanpa berkas pengangkut, seperti pada A.javanica dan
30 per satuan bidang pandang, A.nutans 30-35 per satuan bidang A.malaccensis. Sistem berkas pengangkut adaksial membentuk
pandang. Stomata sangat melimpah pada permukaan bawah, zona tepi yang kaku. Sistem berkas pengangkut sentral (III) dan
bahkan, kecuali A.galanga, selalu berdempetan di sepanjang sisi sistem berkas pengangkut abaksial (IV) umumnya tidak dapat
rusuk daun. Kerapatan stomata sangat bervariasi sangat dipisahkan, namun pada A.Hookeriana dan A.javanica masih
tergantung spesiesnya.Kerapatan stomata pada permukaan atas bisa dipisahkan. Sistem berkas pengangkut sentral umumnya
sebagai berikut pada A.Hookeriana 1-2 per satuan bidang hanya selapis, terletak di medula mesofil dan agak besar. Pada
pandang, A.nutans 3-4 per satuan bidang pandang, A.galanga dan A.Hookeriana sarung serabut agak tebal, sedang pada A.javanica
A.malaccensis 4-6 per satuan bidang pandang dan A.javanica 9- hampir tidak ada. Sistem berkas pengangkut abaksial biasanya 1-
10 per satuan bidang pandang. Kerapatan stomata pada 2 lapis, kecil, letak agak jauh dari sisi abaksial. Sarung serabut
permukaan bawah sebagai berikut pada A.malaccensis dan agak tebal, terkadang tidak ada. Sel-sel sarung berkas
A.nutans sekitar 100 per satuan bidang pandang, pada A.galanga pengangkut kolenkimatis. Sel parenkim menjadi sklerotis di sisi
dan A.javanica sekitar 150 per satuan bidang pandang dan pada abaksial.
A.Hookeriana sekitar 195-215 per satuan bidang pandang. Sel Kandungan Kimia Minyak Atsiri
tetangga lateral pada berbentuk segitiga, jumlah 2 buah. Sel Alpinia berbau aromatis karena mengandung minyak atsiri.
tetangga terminal 1 buah berbentuk bulan sabit, ukurannya Kadar minyak atsiri dipengaruhi varitas, iklim, tanah dan organ
sekitar 7-7,5 x 3,5-6 µm. Hipodermis umumnya selapis, hanya (Burkill, 1935; Guenther, 1948). Kadar minyak atsiri rimpang
ada di permukaan atas. Pada A.galanga, A.Hookeriana 1-2 lapis, berbeda-beda, paling banyak tepat di bawah jaringan epidermis
pada spesies lainya hanya selapis. Hipodermis berbentuk semakin ke tengah semakin sedikit. Kadar minyak atsiri terus
segienam memanjang atau bulat memanjang, umumnya pipih naik sampai umur 12 bulan, lalu turun, sedang bau khas oleoresin
antiklinal, namun pada A.malaccensis pipih periklinal. Ukuran semakin kuat (Paimin dan Murhananto, 1991). Dalam penelitian
bervariasi, pada A.galanga dan A.Hookeriana 9-9,75 x 8,75-9, 75 ini kadar minyak atsiri tertinggi terdapat pada rimpang
µm, pada A.javanica, A.malaccensis dan A.nutans sekitar 13-13,5 A.malaccensis (3,5%), sedang yang terendah pada A.galanga
x 8,25-10 µm. Hipodermis pada daerah rusuk tertekan atau (0,5-1%). Pada A.Hookeriana (1,8%), A.javanica (2,1%) dan
terpotong, pada daerah antar rusuk beraturan sedang di bawah A.nutans (2,3%).
stomata tidak beraturan. Klorenkim berdinding tipis terdiri dari Komponen utama penyusun minyak atsiri Alpinia adalah
lapisan palisade yang pipih antiklinal dan sel conus. Lapisan terpenoid (selanjutnya disingkat ‘T’) dan sebagian kecil turunan
palisade biasanya 1-2. Sel conus umumnya juga 1-2 lapis, kecuali asam sikimat. Jumlah dan macam komponen tiap spesies
pad A.Hookeriana, A.javanica dan A.malaccensis 3-5 lapis. berbeda-beda, sebagaimana ditunjukkan oleh jumlah puncak (Rf)
Berkas pengangkut agak rapat hingga sangat rapat, terpisah- pada kromatogram. Dalam penelitian ini hanya dapat disediakan
pisah. Pada A.galanga tidak rapat sedang pada spesies lain 2 zat identitas/standar, yaitu ß-pinen dan eugenol, sehingga hanya
terkadang rapat. Berkas pengangkut umumnya berbentuk pipih 2 dari 52 puncak yang dapat diidentifikasi. Masing-masing T5
antiklinal, pada A.galanga terkadang membulat. Jumlah dan untuk ß-pinen dan T47 untuk eugenol. Secara keseluruhan
ukuran berkas pengangkut pada tulang daun bervariasi, A.galanga memiliki 36 puncak, A.Hookeriana 29 puncak,
umumnya 8 buah. Berkas pengangkut selalu menyentuh salah A.malaccensis 23 puncak, A.javanica 21 puncak dan A.nutans 18
satu atau kedua permukaan daun kecuali berkas pengangkut puncak.
SETYAWAN – Status Taksonomi Genus Alpinia 37

Tabel 1. Nilai Rf dan kadar komponen kimia minyak atsiri Alpinia Eugenol atau 4-alil-2-metoksifenol
merupakan salah satu derivat fenol
dengan rumus kimia C 10 H 12 O 2 ,
Kadar Komponen Kimia Minyak Atsiri umumnya diperoleh dari minyak
cengkeh (Eugenia caryophyllum
(Sprengl.) Bullock et Harrison;
No Puncak Familia Myrtaceae). Eugenol

A. Hookeriana

A.malaccensis
(nilai Rf) merupakan komponen utama dan

A. javanica
A.galanga
kadarnya mencapai 70-90%, sehingga

A. nutans
mendominasi sifat-sifat minyak
cengkeh.
Eugenol tidak berwarna atau
kuning muda, sangat cair, bau
1. T1 (Rf 0,973) 0.0526 - - - - aromatis dan rasa pedas. Eugenol
2. T2 (Rf 1,049) - 0,3159 - 0,7647 0,5333 digunakan untuk mengobati sakit gigi
3. T3 (Rf 1,557) 0.9938 8,1185 0,9296 1,1677 2,6007 atau dibalurkan ke seluruh tubuh
4. T4 (Rf 1,875) 0.1416 14,5787 0,2984 0,2276 0,9470 untuk mengobati berbagai penyakit
5. T5 (Rf 2,243/ β- 0.4981 8,9204 2,8436 1,7644 7,5047 (Trease dan Evans, 1978). Minyak
pinen) atsiri A.javanica, A.malaccensis dan
6. T6 (Rf 2,592) 0.2703 1,1506 - - - A.nutans kemungkinan dapat menjadi
7. T7 (Rf 2,724) - - 3,0011 2,9458 - penggati minyak cengkih karena kadar
8. T8 (Rf 3,090) - 5,2599 0,6234 0,4074 - eugenolnya cukup tinggi, di atas 70%.
9. T9 (Rf 3,115) 0,8392 - - - 0,6916 Puncak yang kadarnya tinggi tidak
10. T10 (Rf 3,250) 5,4096 11,8391 3,6221 0,5397 9,726 selalu menjadi puncak utama,
11. T11 (Rf 3,900) 0,4618 0,6192 3,5498 1,1967 0,0471 misalnya T27 pada A.galanga (15%)
12. T12 (Rf 5,305) 0,1009 - - - - dan T10 pada A.nutans (9,73%).
13. T13 (Rf 6,158) - - - 0,3023 - Sebaliknya A.Hookeriana memiliki
14. T14 (Rf 6,759) - 0,0694 0,1998 0,0963 - puncak utama, T3 yang kadarnya
15. T15 (Rf 7,062) 6,6693 - - - - hanya 8,12%. Hal ini disebabkan
16. T16 (Rf 7,382) 1,0498 - 0,2523 - - komponen tersebut berikatan dengan
17. T17 (Rf 7,478) - 0,1313 - 0,2427 - komponen atau gugus lain
18. T18(Rf 8,062) - - 1,0401 - 1,4878 Dari lima spesies objek penelitian
19. T19 (Rf 8,227) 0,1871 27,4896 - 0,4029 - ini, baru dua yang komponen kimia
20. T20 (Rf 8,481) 0,2659 - - - - minyak atsirinya telah diteliti, yaitu
21. T21 (Rf 8,842) 4,0005 4,1588 0,3792 0,0839 0,4461 A.galanga, A.malaccensis, A.nutans.
22. T22 (Rf 9,217) - 0,3380 0,9757 0,3094 0,1818 Komponen minyak atsiri A.galanga
23. T23 (Rf 9,542) 37,7958 - - - - yang telah diidentifikasi antara lain
24. T24 (Rf 9,775) - - 0,0965 - 0,1235 20-30% sineol, 48% metilsinamat,
25. T25 (Rf 9,938) - 3,8420 - 0,2218 - kamfer, kamfor, ß-pinen, galangin,
26. T26 (Rf 10,152) - 2,1570 1,4799 - 0,8694 galangol, eugenol, kadinen, kadalen,
27. T27 (Rf 10,294) 15,0850 - - 1,3217 - α-10-epizonaren dan ß-10-epizonaren
28. T28 (Rf 10,518) - 0,3074 0,4198 - 0,6338 (Hegnauer, 1963; Guenther, 1948;
29. T29 (Rf 10.655) 4,9503 - - 0,9097 - Youngken, 1948; Wallis, 1955).
30. T30 (Rf 10,956) - 0,8502 - - 0,1488 Komponen minyak atsiri
31. T31 (Rf 11, 086) 7,8000 - 0,3424 - - A.malaccensis yang sudah
32. T32 (Rf 11,293) - 0,2505 - 1,3854 0,0533 diidentifikasi antara lain α-pinen, ß-
33. T33 (Rf 11,556) - - 0,7112 0,7785 - pinen, sineol dan 76% metilsinamat
34. T34 (Rf 11,944) 0,0833 0,0184 - - - (Hegnauer, 1963). Komponen minyak
35. T35 (Rf 12,490) 0,5627 - - - - atsiri A.nutans yang telah
36. T36 (Rf 12,856) 0,2660 - 0,1468 0,1719 0,1087 diidentifikasi adalah α-pinen, ß-pinen,
37. T37 (Rf 13,397) 0,4170 0,0694 - - - 60% sineol, dan 7,8% metilsinamat.
38. T38 (Rf 13,800) 0,0373 - - - - Di samping itu pada varietas dari
39. T39 (Rf 14,172) - 0,1772 - - - Jepang ditemukan pula 0,053%
40. T40 (Rf 14,356) 1,0972 - - 0,0602 - kamfen dan 30% kamfer, sedang pada
41. T41 (Rf 14,690) 0,2696 0,2125 - - - varietas dari Jawa tertentu ditemukan
42. T42 (Rf 15,077) 0,3528 0,0929 - - - suatu ester (5,75%) (Hegnauer, 1963).
43. T43 (Rf 15,463) 0,5085 - - - - Identifikasi minyak atsiri dengan
44. T44 (Rf 15,860) 0,4321 0,9702 - - - membandingkan kadar komponen
45. T45 (Rf 16,255) 0,2777 1,7969 - - - yang ada dalam pustaka dengan hasil
46. T46 (Rf 16,390) 0,2099 - - - - penelitian dalam kromatogam tidak
47. T47 (Rf 16,819/ 0,6116 - 76,2422 84,603 73,5835 dijamin kebenarannya, karena
eugenol) 8 sebagian besar komponen minyak
48. T48 (Rf 16,997) - 1,6980 2,6874 - - atsiri tidak stabil. Satu-satunya cara
49. T49 (Rf 17,241) 0,3195 - - - - identifikasi yang benar adalah dengan
50. T50 (Rf 17,563) 0,2919 - - - - senyawa identitas. Sedang komponen
51. T51 (Rf 17,978) 6,7336 - 0,1588 - 0,3129 yang disebutkan dalam pustaka
52. T52 (Rf 18,113) - 2,7061 - 0,0955 - berguna untuk memandu pemilihan
53. T53 (Rf 18,754) 0,8580 1,3682 - - - senyawa tersebut.
54. T54 (Rf 19,216) 0,0989 0,4939 - - -
38 BioSMART Vol. 1, No. 1, April 1999, hal. 31-40

Kekerabatan Genus Alpinia Tingkat kesamaan dendrogram kandungan kimia


Jumlah keseluruhan sifat yang diamati dalam minyak atsiri relatif lebih rendah dibanding
penelitian ini 163 buah, terdiri dari sifat morfologi 65 dendrogram morfologi dan anatomi. Hal ini berarti
buah, sifat anatomi 50 buah dan sifat kandung-an kandungan kimia minyak atsiri memiliki kemampuan
kimia minyak atsiri 48 buah. Perbedaan pemi-lihan lebih tinggi sebagai sifat pembeda. Sejalan dengan
sifat pembeda dapat menghasilkan perbedaan pola Trease dan Evans (1978) yang berpendapat bahwa
kekerabatan dan model klasifikasi, sekalipun secara dibandingkan sifat morfologi, kandungan kimia lebih
umum tetap sama. Semakin banyak sifat yang tegas dan pasti serta memilik arti lebih mendasar
dianalisis, semakin tinggi tingkat kesahihan-nya. untuk tujuan klasifikasi.
Semakin tinggi kemampuan suatu sifat untuk menjadi
sifat pembeda, semakin jauh tingkat kekerabatannya. Permasalahan Status Taksonomi Genus Alpinia
Pada dendrogram berdasarkan kombinasi sifat Bangsa Yunani dan Romawi mengenal jahe dari
morfologi, anatomi dan kandungan kimia minyak para pedagang Arab yang membawanya dari India.
atsiri, A.javanica, A.nutans dan A.malaccensis Nama Zingiber dan Zingiberaceae erat kaitannya
bergabung pada tingkat kesamaan 70%, disusul dengan hal ini. Jahe (Zingiber officinale Rosc.),
A.Hookeriana 50% dan A.galanga 30%. Pada dalam bahasa Sansekerta dinamai singabera,
dendrogram berdasarkan sifat morfologi, A.javanica sringavera atau shrinjaveram. Nama ini disadur
dan A.malaccensis bergabung dengan tingkat bangsa Arab menjadi zanjabil, zingabil atau
kesamaan 80%, diikuti A.nutans 70%, A.Hookeriana zindschebil, yang artinya akar dari India, selanjutnya
50% dan A.galanga 30%. Berdasar-kan sifat ini, diadopsi bangsa Yunani menjadi zingiberi dan
tingkat kesamaan genus Alpinia relatif tinggi, bangsa Romawi menjadi zingiber (Burkill, 1935;
sehingga fungsinya sebagai sifat pembeda kurang. Claus dkk., 1970; Fluckinger dan Hanbury, 1874;
Pada dendrogram berdasarkan sifat anatomi, Murray, 1881). Zingiberaceae sangat terkenal,
A.javanica, A.malaccensis dan A.nutans bersatu pada bahkan jahe didalam Al Quraan dinyatakan sebagai
tingkat kesamaan 70%, diikuti A.Hookeriana 50% campuran minuman surgawi. "Di dalam surga itu
dan A.galanga 30%. Pada dendrogram berdasarkan mereka diberi minum segelas (minuman) yang
sifat kandungan kimia minyak atsiri A.javanica dan campurannya adalah jahe (zanjabil)." (QS. Al Insaan
A.malaccensis bergabung pada tingkat kesamaan (76): 17).
70%, diikuti A.nutans 60% dan A.galangan 30%. Penelitian tentang Zingiberaceae telah banyak
Pada keempat dendrogram tersebut, semua spesies dipublikasikan, tetapi sering terjadi perbedaan
mengelompok pada kisaran tingkat kesamaan 30% pendapat. Salah satunya adalah sahih tidaknya
sampai 70%, pada dendrogram morfologi hingga 80%. pemisahan genus Alpinia menjadi tiga genus yang
Bentuk keempat dendrogram tersebut pada berdiri sendiri-sendiri. Holttum (1950) merupakan
prinsipnya sama, meskipun masing-masing punya orang pertama yang secara tegas membagi Alpinia
ciri khas sendiri-sendiri. Dendrogram kombinasi sifat menjadi tiga genus terpisah, (1) Alpinia, berdasarkan
morfologi anatomi dan kandungan kimia minyak Alpinia sub-genus Dieramalpinia K.Schum., (2)
atsiri dapat mendukung klasifikasi berdasarkan sifat Languas, berdasarkan Alpinia galanga, tipe
morfologi yang berlaku selama ini meskipun tingkat konservasi dari Alpinia dan (3) Catimbium,
kesamaannya relatif lebih rendah pada semua tingkat. berdasarkan Alpinia sub-genus Catimbium K. Schum.

Gambar 1. Kekerabatan genus Alpinia berdasarkan: A. Kombinasi sifatmorfologi, anatomi dan kandungan kimia minyak atsiri. B.
Sifat morfologi. C. Sifat anatomi. D. Sifat kandungan kimia minyak atsiri. Keterangan: 1.A.galanga, 2. A.Hookeriana, 3. A. javanica,
4. A.malaccensis, 5.A.nutans.
SETYAWAN – Status Taksonomi Genus Alpinia 39

Tabel 2. Perbandingan morfologi Alpinia, Catimbium dan Languas

Alpinia Catimbium Languas


1 Arah percabangan rimpang ketiga Arah percabanga rimpang ketiga jurusan Arah percabangan rimpang menyerong
arah berlawanan. berlawanan. keatas dan menjari.
2 Braktea primer ada, berbentuk garis Braktea primer hilang Braktea primer ada, biasanya kecil,
lanset berbentuk bulat telur
3 Braktea sekunder berbentuk Braktea sekunder tidak berbentuk cerobong, Braktea sekunder terbelah dan kecil
cerobong atau cangkir terbelah pada salah satu sisi; besar
membungkus seluruh kuncup sampai bunga
mekar
4 Kelopak tidak sangat terbelah Kelopak sangat terbelah Kelopak agak terbelah
5 Bibir berbentuk sudip, tepi Bibir berbentuk bulat telur, tepi berkerut. Bibir bercuping dua, tepi berkerut-kerut.
beringgit.

Keputusan ini diikuti Backer dan Bakhuizen v.d. dihasilkan penelitian ini, baik berdasarkan sifat
Brink (1968), namun mendapat banyak tantangan. morfologi, anatomi, kandung-an kimia minyak atsiri
Salah satunya Burtt dan Smith (1972) yang atau kombinasi ketiganya, maka tampaknya
memasukkan kembali ketiga genus tersebut kedalam keputusan ini harus ditolak.
genus Alpinia dengan dua alasan. Pertama: perluasan Pada keempat dendrogram di atas, A.javanica
genus dengan menambah jumlah genus, akan (Alpinia sensu Holttum), A.malaccensis dan A.nutans
mempersempit konsep dasar yang dapat mencakup (Catimbium sensu Holttum), selalu menempati
seluruh genus Alpinia, terutama pada spesies-spesies puncak dendrogram, kemudian A.Hookeriana
non-Malaya yang belum banyak diteliti. Kedua: (Catimbium sensu Holttum) bergabung dengan
tatanama tersebut bertentangan dengan Kode ketiganya, diikuti A.galanga (Languas sensu
Internasional Tatanama Tumbuhan yang telah Holttum). Tingkat kesamaan A.javanica,
menetapkan Alpinia sebagai nomen conservandum. A.malaccensis dan A.nutans rata-rata 70%. Bahkan
Penggunaan nama Languas untuk sebagian pada dendrogram morfologi tingkat kesamaan
anggota genus Alpinia pernah dilakukan Merrill A.javanica dan A.malaccensis 80%. Meskipun pada
(1925) dan Burkill (1935), namun setelah Alpinia dendrogram kandungan kimia minyak atsiri tingkat
menjadi nomen conservandum (nama yang kesamaan A.malaccensis dengan dua spesies lain
dilestarikan) penggunaan nama Languas tidak hanya 60%.
dibenarkan, termasuk untuk mena-mai sebagian Tingkat kesamaan antara gabungan A.nutans dan
anggotanya. Pengunaan nama Catimbium juga tidak A.malaccensis dengan A.Hookeriana yang oleh
diperkenankan, karena hampir semua anggotanya Holttum sama-sama dimasukkan dalam genus
dapat menyandang nama Alpinia. Menamai kembali Catimbium selalu lebih rendah daripada tingkat
kumpulan genus tanpa alasan kuat tidak dapat kesamaan antara gabungan dua spesies tersebut
dipertanggungjawabkan (Burtt dan Smith, 1972). dengan A.javanica, sekalipun A.javanica oleh
Holttum (1974) yang menanggapi kritikan Holttum dimasukkan dalam genus yang berbeda,
tersebut tetap berpendapat bahwa Alpinia mewakili Alpinia.
kelompok yang berbeda dengan Languas, dan Pada keempat dendrogram, A.galanga selalu
Catimbium tetap merupakan genus tersendiri, merupakan spesies paling berbeda dibanding
sekalipun bertentangan dengan Kode Internasional keempat spesies lain, dimana tingkat kesamaanya
Tatanama Tumbuhan. selalu hanya 30%. Berdasarkan kenyataan ini
Dalam penelitian ini, perbedaan mendasar antara pemisahan A.galanga dari kelompok genus Alpinia
Alpinia yang diwakili A.javanica, Catimbium yang oleh Holttum dapat dipahami, namun bagaimanapun
diwakili A.Hookeriana, A.malaccensis dan A.nutans juga A.galanga selalu cenderung mengelompok
serta Languas yang diwakili A.galanga dijelaskan dengan sesama genus Alpinia. Oleh karena itu
dalam tabel 2. menetapkan Alpinia sebagai genus tunggal untuk
Perbedaan-perbedaan di atas merupakan alasan kelompok ini lebih dapat diterima daripada
utama yang mendorong Holttum (1950) membagi memisahkannya menjadi tiga genus mandiri, yaitu:
genus Alpinia menjadi tiga genus mandiri. Namun Alpinia, Catimbium dan Languas.
berdasarkan keempat dendrogram filogeni yang
40 BioSMART Vol. 1, No. 1, April 1999, hal. 31-40

KESIMPULAN Henderson, M.R. 1954. Malayan Wild Flowers Monocotyledons.


Kuala Lumpur: The Malayan Nature Society.
Heywood, V.H. 1967. Plant Taxonomy. New York: St. Martin's
Dalam penelitian disimpulkan bahwa sifat Press.
morfologi, anatomi, kandungan kimia minyak atsiri Holttum, R.E. 1950. The Zingiberaceae of The Malay Peninsula.
atau kombinasi ketiganya dapat digunakan sebagai The Gardens Bulletin Singapore. Volume VIII. Part 1.
sifat pembeda genus Alpinia. Kombinasi sifat Holttum, R.E. 1974. A Commentary on Comparative
Morphology in Zingiberaceae. Garden's Bulletin Kew.
morfologi, anatomi dan kandungan kimia minyak Volume XXVII. Part II.
atsiri dapat memperkuat klasifikasi genus Alpinia Jones, S.B. dan A.E. Luchsinger. 1986. Plant Systematics.
berdasarkan sifat morfologi yang berlaku selama ini. Second edition. New York: McGraw-Hill Book Company.
Kekerabatan berdasarkan salah satu atau kombinasi Lawrence, G.H.M. 1951. Taxonomy of Vascular Plant. New
ketiga sifat tersebut secara umum sama, walaupun York: John Wiley and Sons.
Lawrence, G.H.M. 1955. An Introduction to Plant Taxonomy.
masing-masing memiliki kekhasan sendiri-sendiri. New York: The Macmillan Company.
Dendrogram kekerabatan berdasarkan kombinasi McNair, H.M. dan E.J. Bonelli. 1986. Dasar Kromatografi Gas
sifat morfologi, anatomi dan kandungan kimia (Penerjemah K. Padmawinata. 1988). Bandung: Penerbit
minyak atsiri menunjukkan bahwa pemisahan genus ITB.
Merrill, E.D. 1925. An Enumeration of Philippine Flowering
Alpinia menjadi tiga genus tersendiri: Alpinia, Plants. Volume I. Manila: Bureau of Printing.
Languas dan Catimbium tidak dapat diterima. Murray, J.A. 1881. The Plants and Drugs of Sind. London:
Richardson &Co.
DAFTAR PUSTAKA Ochse, J.J. 1931. Vegetables of The Dutch East Indies.
Buitenzorg: Archipel Drukkerij.
Paimin, F.B. dan Murhananto. 1991. Budidaya. Pengolahan.
Anonim. 1977. Materia Medika Indonesia. Jilid I. Jakarta:
Perdagangan Jahe. Jakarta: P.T. Penebar Swadaya.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Pielou, E.C. 1984. The Interpretation of Ecological Data. A
Anonim. 1986. Medical Herb Index in Indonesia (Indek Tumbuh-
Primer on Classification and Ordination. New York: John
tumbuhan Obat di Indonesia). Jakarta: P.T. Eisai Indonesia.
Wiley and Sons.
Backer, C.A. dan R.C. Bakhuizen van den Brink. 1968. Flora of
Pool, R.J. 1941. Flowers and Flowering Plants. Second edition.
Java. Volume III. Groningen: Wolters Noordhoff.
New York: McGraw-Hill Book Company Inc.
Borner, J. dan J.E. Varner. 1965. Plant Biochemistry. New York:
Pramono, S. 1988. Laporan Penelitian: Identifikasi Kandungan
Academic Press.
Kimia Tanaman Obat Melalui Pendekatan Kemotaksonomi
Boyer, R.F. 1990. Modern Experimental Biochemistr. Menlo
Kaempferia galanga. Yogyakarta: Lembaga Penelitian
Park Calif.: The Benjamin Cummings Publishing Company
UGM.
Inc.
Purseglove, J.W. 1972. Tropical Crops Monocotyledons.
Burkill, I.H. 1935. A Dictoinary of The Economic Product of The
London: Longman.
Malay Peninsula. London: Governments of The Straits
Radford, A.E. W.C. Dickinson. J.R. Masse dan C.R. Bell. 1982.
Settlements and Federated Malay States by The Crown
Vascular Plant Systematics. New York: Harper & Row
Agents for The Colonies.
Publishers.
Burtt, B.L. 1972. General Introduction to Pappers on
Robinson, T. 1975. The Organic Constituents of Hinger Plants.
Zingiberaceae. Notes from The Botanic Garden Edinburg 31
Their Chemistry and Interrelationships. Third edition. North
(2).
Amherst-Mass,: Cordus Press.
Burtt, B.L. dan R.M. Smith. 1972. Key spesies in The
Shukla, P. dan S.P. Misra. 1982. An Introduction to Taxonomy of
Taxonomic History of Zingiberaceae. Notes from The
Angiosperms. New Delhi: Vikas Publishing House
Botanic Garden Edinburg 31 (2).
PVT.LTD.
Claus, E.P. V.E. Tyler dan L.R. Brady. 1970. Pharmacognosy.
Sokal, R.R. dan P.H.A. Sneath. 1963. Principles of Numerical
Sixth edition. Philadelphia: Lea and Febinger.
Taxonomy. San Francisco: W.H. Freeman and Co.
Davis, P.H. dan V.H. Heywood. 1973. Principles of Angiosperm
Soerodikoesoemo, W. 1988. Petunjuk Praktikum Anatomi
Taxonomy. New York: Robert E. Kieger Publishing
Tumbuhan. Yogyakarta: Fakultas Biologi UGM.
Company.
Tarigan, P. 1987. Pengaturan Biosistesis Sekunder dalam
Fluckinger, F.A. dan D. Hanbury. 1874. Pharmacographia. A
Fermentasi. Risalah Seminar Nasional Metabolit Sekunder
History of The Principal Drug of Vegetable Origin.
1987. Yogyakarta: PAU Bioteknologi UGM.
London: Macmillan.
Ting, I.P. 1982. Plant Physyology. Reading-Mass.: Addison
Geissmann, T.A. dan D.H.G. Crout. 1969. Organic Chemistry of
Wesley Publishing Company.
Secondary Plant Metabolism. New York: Freeman. Cooper
Trease, G.E. dan W.C. Evans. 1978. Pharmacognasy. Eleventh
& Co.
edition. London: Bailliere Tindall.
Gritter, R.J. J.M. Bobbit dan A.E. Schwarting. 1991. Pengantar
Turrill, W.B. 1951. Modern Trends in The Classification of
Kromatografi. Terbitan kedua. Bandung: Penerbit ITB.
Plants. Taxon 1 (2).
Guenther, E. 1948. Minyak Atsiri. Jilid I (Penerjemah S. Ketaren.
Wallis, T.E. 1955. Textbook of Pharmacognosy. Third edition.
1987). Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (U.I. Press).
London: J & A Churchill. Ltd.
Harborne, J.B. 1984. Metode Fitokimia. Penuntun Cara Modern
Youngken, H.W. 1948. Textbook of Pharmacognosy. Sixth
Menganalisis Tumbuhan (Penerjemah K. Padmawinata dan
edition. New York: The Blakingston Division McGraw-Hill
I.Soediro. Penyunting S. Niksolihin). Bandung: Penerbit ITB.
Book Company. Inc.
Hegnauer, R. 1963. Chemotaxonomie der Pflanzen
Westphal, E. dan P.C.M. Jansen. 1989. Plant Resources in South-
(Monocotyledoneae). Band II. Stuttgart. Birkhauser Verlag.
East Asia. A Selection. Wageningen: Pudoc.