You are on page 1of 7

BioSMART ISSN: 1411-321X

Volume 1, Nomor 2 Oktober 1999


Halaman: 13-19

Karyotipe Kromosom pada Tanaman Bawang Budidaya


(Genus Allium; Familia Amaryllidaceae)

ENDANG ANGGARWULAN, NITA ETIKAWATI, AHMAD DWI SETYAWAN


Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta

ABSTRAK

This research is objected to find out (1) the number, the type and the size of chromosomes, (2) the karyotype formulae and maps of the
chromosomes, and (3) the phylogenetic relationship of Allium. In this research, six species are examined, i.e. A.ascalonicum (shallot), A.cepa
(onion), Allium sp. (“big shallot”), A.sativum (garlic), A.fistulosum (Japanese bunching) and A.porrum. Referring to Backer and Bakhuizen van den
Brink’s manual (1968), they are identified before the examination. The result found out that all species has a same number of chromosomes, i.e. 2n
= 16. All of chromosomes have metacentric shape, except for the first chromosome pair of Allium sp. which has the sub-metacentric shape. The
longest of haploid chromosome length is A.sativum with 196.36 µm, then for A.porrum is 137.27µm, Allium sp. is 132.69 µm, A.ascalonicum is
124.71 µm and A.fistulosum is 113.60 µm. The relative asymetric index is over then 50 (53.79 – 57.70). The R-ratio of A.ascalonicum and A.sativum
subsequently are 1.6 and 1.7, then for A.cepa is 2.25, A.fistulosum is 2.28, A.porrum is 2.67 and Allium sp.is 2.71. A.ascalonicum and A.fistulosum have
the closest genetic relationship with similarity index of 80, then followed by A.cepa and Allium sp. with similarity index of 75. The four species
joint with A.porrum with similarity index of 65. A.sativum is the last species that joint with them with similarity index of 35.

Key words: Allium, chromosomal karyotype, phylogenetic relationship.

PENDAHULUAN berwarna merah, kuning atau putih serta menebal dan


membentuk umbi lapis untuk menyimpan cadangan
Genus Allium memiliki banyak anggota, sebagian di makanan. Umbi lapis A.sativum berbeda dengan umbi
antaranya bernilai ekonomi tinggi dan telah bawang lain. Umbi lapis bawang ini merupakan
dimanfaatkan sejak lama. Allium berguna untuk bumbu, kumpulan siung yang membentuk satu rumpun. Setiap
sayuran, obat dan tanaman hias. Kebutuhan pasar dunia rumpun terdiri lebih dari 3-13 siung, yang disatukan oleh
akan jenis sayuran ini sangat tinggi, begitu pula pelepah tipis seperti kulit. Setiap siung juga dibungkus
kebutuhan nasional. Namun produksi di Indonesia sangat oleh pelepah yang sama, sehingga terjaga dari kekeringan
terbatas, bahkan beberapa spesies harus diimpor. Karena (Backer dan Bakhuizen van den Brink, 1968).
meskipun iklim, musim dan lahan di Indonesia Sebagai bahan makanan Allium memiliki nilai gizi
mendukung pembudidayaan, kebanyakan petani tinggal yang cukup. Tanaman ini mengandung karbohidrat,
di dataran rendah sedang Allium umumnya merupakan protein, lemak, serat, vitamin A, B, C serta mineral
tumbuhan dataran tinggi (Rismunandar, 1989; Samadi berupa kalsium, fosfor dan besi. Allium dikenal memiliki
dan Cahyono, 1999). Untuk memproduksi Allium secara kasiat obat, khususnya A.sativum. Karena mengandung
besar-besaran, harus dilakukan pemuliaan tanaman agar alliin, allisin, allitiamin, minyak atsiri metilalil-trisulfida
diperoleh kultivar-kultivar dataran rendah. Di samping dan lain-lain (Rismunandar, 1989).
harus menarik, ukuran besar, masa panen singkat, tahan Sifat fenotip diatur secara genetis (Suryo, 1995),
penyakit dan lain-lain (Pike, 1989). sehingga program pemuliaan tanaman perlu ditunjang
Terdapat tujuh spesies Allium yang sering informasi sifat genetika (Chikmawati dkk., 1998). Data-
dibudidayakan, yaitu: bawang putih (Allium sativum L.), data morfometrik kromosom yang meliputi bentuk,
bawang merah (Allium ascalonicum L.), bawang bombay ukuran dan jumlah, serta peta karyotipe merupakan salah
(Allium cepa L.), bawang luncang (Allium fistulosum L.), satu syarat utama pemuliaan. Di samping berguna pula
bawang prei (Allium porrum L.), bawang kucai (Allium untuk taksonomi dan mengetahui hubungan kekerabatan.
odorum L.) dan bawang langkio (Allium schaenoprasum Studi sitologi genus Allium sering dilakukan, namun
L.) (Jones dan Mann, 1963), Menurut Rismunandar hingga saat ini data-data tersebut masih terbuka luas
(1989), dua spesies terakhir jarang dibudidayakan di untuk diteliti (Jacobsen dan Ownberry, 1976; Chinnappa
Indonesia. Di samping itu Pike (1989) menambahkan dan Basappa, 1986), karena karyotipe sebagian besar
bawang kurat (Allium ampeloprasum L), bawang rakkyo spesiesnya belum diketahui (Cai dan Chinnappa, 1987).
(Allium chinense G. Don) dan bawang prei cina (Allium Bentuk, ukuran dan jumlah kromosom dalam satu
tuberosum L) yang belum dibudidayakan di Indonesia. spesies pada dasarnya selalu tetap, sehingga dapat dibuat
Allium umumnya merupakan herba biennial, memiliki peta karyotipe atau karyogram serta idiogram. Berdasar-
batang semu yang tersusun dari pelepah-pelepah daun. kan kontriksi primernya, dikenal kromosom berbentuk
Daun tersusun berseling, tumbuh dari batang sejati metasentris, submetasentris, akrosentris dan telosentris.
berbentuk pipih atau cawan. Daun yang lebih tua terletak Berdasarkan ukurannya dikenal ukuran absolut dan ukuran
di sebelah luar dan membungkus daun yang lebih muda. relatif. Sedang berdasarkan jumlahnya dikenal kromosom
Helai berwarna hijau untuk fotosintesis, sedang pelepah aneuploid dan poliploid (Darnaedi, 1991; Suryo, 1995).

© 1999 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta


14 BioSMART Vol. 1, No. 2, Oktober 1999, hal. 13-19

Pembelahan meiosis biasanya hanya digunakan Alat yang digunakan meliputi: kotak penanaman,
untuk menghitung jumlah kromosom, sedang botol flakon, gelas benda, gelas penutup, kotak preparat,
pembelahan mitosis dapat digunakan untuk membuat kertas alumunium, kertas label, kertas tisu, kapas, pinset,
peta karyotipe (Riesenberg dkk., 1987). Studi mitosis dapat silet/skalpel, kuas, jarum preparat, pipet dan penggaris, oven,
menggunakan ujung akar, ujung batang, primordia daun, lemari pendingin, mikrometer, mikroskop cahaya,
petala muda, ovulum muda dan kalus. Namun biasanya kamera lusida, kamera mikrofotografi dan film.
digunakan ujung akar karena mudah tumbuh dan
seragam, sedang untuk pembelahan meiosis sering Cara Kerja
digunakan anthera (Darnaedi, 1991). Sifat kromosom sel Penanaman Sediaan
mitosis secara morfologi lebih stabil dibandingkan Ujung akar Allium diperoleh dengan merendam
meiosis, karena struktur penanda seperti satelit, pangkal umbi sedalam kurang lebih seperempat dari titik
penyempitan, letak sentromer dan panjang lengan lebih akar atau meletakkan umbi di atas kapas basah. Air harus
jelas (Min dkk., 1984). diganti setiap hari untuk mencegah tumbuhnya bakteri
Levan dkk., 1964 membagi kromosom menjadi tiga dan jamur. Akar akan muncul setelah 2-3 hari,
kelompok berdasarkan posisi relatif sentromer, dimana tergantung umur umbi lapis (Radford dkk., 1974).
bentuk metasentris dengan indeks sentromer 50-37,5; Apabila jumlah kromosom prometafase tidak cukup,
submetasentris (sm) dengan indeks sentromer 37,5-25 maka umbi Allium ditumbuhkan dalam air hingga
dan subtelosentris dengan indeks sentromer 25-12,5. panjang akar mencapai ± 0,5 cm, lalu direndam dalam
Kolkisin mampu berikatan dengan mikrotubuli, kolkisin 0,1% selama 14 jam, hingga ujung akar
sehingga menghentikan tahap prometafase dan kromosom menggembung, dan kemudian ditanam lagi selama 2-3
tidak tertarik ke bidang ekuator maupun kutub. Kolkisin hari. Perlakuan ini tidak perlu dilakukan terhadap
juga menyebabkan kromosom mengkerut, sehingga A.ascalonicum dan A.sativum, karena dengan prosedur
ukurannya memendek, terpencar-pencar, tidak terlalu reguler jumlahnya sudah cukup.
tumpang tindih dan mudah diamati. Konsentrasi efektif
kolkisin antara 0,01-1,00% untuk lama perendaman 6-72 Waktu Optimum Pembelahan Mitosis
jam. Kolkisin dapat digantikan 8-hidroksiquinolin, Studi pendahuluan dilakukan pagi hari mulai jam
kloralhidrat, indolasetat, asenapten dan p-diklorobenzen 08.00-13.00 WIB. Pemotongan akar dilakukan setiap 30
(Eigsti dan Dustin, 1957; Okada, 1981). menit dan dibuat preparat dengan metode squash semi
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui jumlah, permanen, diperoleh waktu pembelahan optimum jam
bentuk dan ukuran kromosom anggota-anggota genus Allium, 09.00 WIB (pagi).
(2) mengetahui rumus dan peta karyotipe anggota-
anggota genus Allium dan (3) mengetahui hubungan Pembuatan Kemikalia
kekerabatan antar anggota-anggota genus Allium. Kolkisin 0,2%. Kolkisin 0,2 gram dilarutkan dengan 5 ml etanol,
lalu ditambah 95 ml akuades dan diaduk hingga larut. Disimpan
METODE PENELITIAN dalam botol tertutup, berwarna gelap, dalam lemari pendingin
bersuhu 5 oC.
Penelitian dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu: Asam Asetat Glasial 45%. Asam asetat glasial 45 ml dan 55 ml
penanaman sediaan (Radford dkk., 1974), pembuatan akuades diaduk hingga larut, lalu disimpan dalam botol tertutup
pada suhu kamar.
kemikalia (Berlyn dan Miksche, 1976; Mc Lean dan
Cook, 1965), studi pendahuluan, pembuatan preparat HCl 1N. HCl pekat 1 bagian ditambah 11 bagian akuades, digojok
hingga larut dan disimpan dalam botol tertutup pada suhu kamar.
(Darnaedi, 1991; Okada, 1981; Robert dan Short, 1979;
Asetoorsein 2%. Asam asetat glasial 45 ml dipanaskan hingga
Soerodikoesoemo, 1989), pembuatan karyotipe (Robert
hampir mendidih (90-100oC), ditambah 2 gram orsein, dididihkan
dan Short, 1979; Ahmad dkk., 1993; Levan dkk., 1964) selama 10 menit sambil diaduk. Didinginkan pada suhu kamar.
dan penyusunan dendrogram (Sokal dan Sneath, 1963; Lalu ditambah 55 ml akuades dan digojok hingga larut. Disaring
Pielou, 1984). dan disimpan dalam botol tertutup, berwarna gelap, pada suhu
Alat dan Bahan kamar. Apabila terbentuk endapan, sebelum digunakan digojok
Objek penelitian berupa enam spesies Allium yang dan disaring lagi.
dibudidayakan di Indonesia: bawang merah (Allium
ascalonicum L.), bawang bombay (Allium cepa L.), Pembuatan Preparat
bawang merah besar (Allium sp.), bawang putih (Allium Preparat dibuat dengan metode squash semi
sativum L.), bawang luncang (Allium fistulosum L.) dan permanen (Darnaedi, 1991; Okada, 1981; Robert dan
bawang prei (Allium porrum L). Bawang kucai (Allium Short, 1979; Soerodikoesoemo, 1989) sebagai berikut:
odorum L) dan bawang langkio (Allium schaenoprasum Pra-perlakuan. Ujung akar dipotong 3-5 mm, dimasukkan dalam
L)., keduanya tidak ditemukan di Surakarta dan botol flakon berisi 2-3 ml kolkisin 0,2%. Lalu dibungkus kertas
sekitarnya. Menurut Rismunandar (1989), keduanya aluminium dan disimpan dalam lemari es selama 2-4 jam.
jarang dibudidayakan dalam jumlah besar. Sebelum Pencucian. Kolkisin dibuang dan dicuci dengan akuades tiga kali.
diteliti, setiap spesies diidentifikasi kembali dengan Fiksasi. Akuades dibuang, diganti asam asetat glasial 45% dan
disimpan dalam lemari es bersuhu 5oC selama 15 menit.
pustaka Backer dan Bakhuizen van den Brink (1968).
Pencucian. Asam asetat glasial 45% dibuang dan dicuci akuades tiga kali.
Dalam penelitian ini diperlukan alkohol absolut,
kolkisin 0,1% dan 0,2%, asam asetat glasial 45%,asam Hidrolisis. Akuades dibuang, diganti HCl 1N dan disimpan dalam
oven bersuhu 60oC selama ± 2 menit, tergantung besarnya bahan.
klorida 1N, asetoorsein 2%, gliserin, cat kuku, akuades,
Pencucian. HCl 1N dibuang dan dicuci dengan akuades tiga kali.
akuabides dan minyak imersi.
ANGGARWULAN, dkk. – Karyotype Kromosom Genus Allium 15

Pewarnaan. Akuades dibuang, diganti asetoorsein 2% selama 1-3 jam, similaritas ditentukan dengan rumus (Sokal dan
tergantung ukuran bahan dan kesegaran pewarna. Dilakukan pada suhu
kamar.
Sneath, 1963):
sifat berpasangan (++/--)
Squashing. Diambil 1-2 buah ujung akar dengan kuas, diletakkan di Indeks similaritas = ----------------------------- X 100
atas gelas benda dan dipotong hingga tersisa 1-2 mm dari ujung.
Ditetesi gliserin, ditutup gelas penutup dan diketuk-ketuk, hingga
seluruh sifat (++/--/+-/-+)
hancur merata. • Tingkatan persamaan harga-harga koefisien assosiasi
Penyegelan. Kelebihan gliserin di tepi gelas penutup dibersihkan ditentukan dengan analisis klaster (Pielou, 1984).
dengan tisu, disegel dengan cat kuku bening.
Pengamatan dilakukan dengan mikroskop cahaya, untuk memperbaiki HASIL DAN PEMBAHASAN
daya resolusi digunakan filter dan minyak emersi. Preparat yang baik
dipotret dengan kamera mikrofotografi. Hasil pemotretan diperbesar
Analisis Karyotipe
sehingga mudah diamati.
Indeks sentromer (Ci)
Dalam penelitian ini keenam spesies yang diamati
Analisis Hasil memiliki jumlah kromosom sama, 2n = 16. Hampir
Pembuatan karyotipe semua pasangan kromosom berbentuk metasentris,
Karyotipe dibuat sekurang-kurangnya dari dua foto kecuali pasangan kromosom pertama Allium sp.
kromosom prometafase dengan fokus berbeda-beda. Pasangan ini berbentuk submetasentris (Sm), dengan
Kedua foto tersebut dijiplak (diblat) pada plastik indeks sentromer 34,0, sehingga rumus karyotipe 2n =
transparansi, lalu digunting dan diatur sesuai dengan 14m + 2 sm, sedang kelima spesies lain rumus
bentuknya. Kemudian jumlah kromosom dan panjang karyotipenya 2n = 16 m. Hal ini menunjukkan tingginya
kedua lengannya diukur (Ruas dkk., 1995; Davina dan tingkat kesamaan genetik pada keluarga Allium.
Vernandes, 1989; Robert dan Short, 1979), setelah itu
dipasang-pasangkan sesuai homolognya (Ahmad dkk., Perbandingan lengan panjang dan pendek (L/S)
1993). Nilai L/S ini memiliki kegunaan sama dengan indeks
Data morfometri diperoleh dari 10 kromosom sentromer dari Levan dkk. (1964). Indeks sentromer
prometafase. Sifat yang diamati meliputi; panjang tersebut dapat dikonversi menjadi nilai L/S sebagai berikut:
absolut (µm), indeks sentromer relatif (centromeric • Bentuk kromosom metasentris: nilai CI = 50-37,5
index = Ci), panjang keseluruhan kromosom haploid atau nilai L/S = 1,00-1,67
(haploid chromosome length = HCL), indeks asimetri • Bentuk kromosom sub-metasentris: nilai CI = 37,5-
relatif (asimetry index = AsI%), perbandingan pasangan 25 atau nilai L/S = 1,67-3,00
kromosom terpanjang dan terpendek (ratio = R), serta
• Bentuk kromosom sub-telosentris: nilai CI = 25-
perbandingan lengan panjang dan pendek (L/S).
12,5 atau nilai L/S = 3,00-7,00
• Panjang absolut (µm), Dalam penelitian ini, keenam spesies yang masing-
Ukuran absolut kromosom ditentukan secara masing memiliki 8 pasangan kromosom hampir
langsung (Ruas dkk., 1995). semuanya memiliki nilai L/S antara 1,00-1,67, sehingga
• Indeks sentromer relatif (centromeric index = Ci), kromosom berbentuk metasentris. Kecuali pasangan
Bentuk kromosom ditentukan berdasarkan posisi pertama kromosom Allium sp., dimana nilai L/S-nya
relatif sentromer (Levan dkk., 1964). adalah 1,92, sehingga kromosomnya berbentuk
panjang lengan pendek kromosom
submetasentris.
Ci = ---------------------------------------------- X 100
total panjang lengan kromosom
Panjang keseluruhan kromosom haploid (HCL)
Nilai HCL tertinggi diperoleh A.sativum, yaitu
• Perbandingan lengan panjang dan pendek (L/S).
kromosom terpanjang 196,34, disusul A.porrum 137,27 µm, Allium sp. 132,69
Nilai L/S = ---------------------------------- µm, A.ascalonicum 124,71 µm, A.cepa 116,8 µm dan
kromosom terpendek A.fistulosum 113,6 µm. HCL dapat digunakan untuk
• Panjang keseluruhan kromosom haploid (haploid menduga perbedaan fenotip, perbedaan panjang HCL
chromosome length = HCL). mengindikasikan perbedaan jumlah gen yang
Nilai HCL dihitung dengan menjumlahkan seluruh mengontrol sifat fenotip tersebut. Dari nilai HCL di atas
panjang pasangan kromosom. terlihat bahwa A.sativum memiliki HCL yang jauh
• Indeks asimetri relatif (asimetry index = AsI%) berbeda dengan kelima spesies lain. Hal ini berkaitan
(Ruas dkk., 1995): dengan hubungan kekerabatannya yang jauh berbeda
total lengan panjang kromosom set dengan kelima spesies lainnya.
AsI % = ------------------------------------------- X 100 Indeks asimetri relatif (AsI%)
total panjang kromosom set Indeks ini menunjukkan simetri rata-rata antara
• Perbandingan pasangan kromosom terpanjang dan lengan panjang dan pendek dalam kromosom set. Dalam
terpendek (ratio = R) (Ruas dkk., 1995): penelitian ini, nilai AsI% keenam spesies sedikit di atas
pasangan kromosom terpanjang 50, sehingga cenderung berbentuk simetris (metasentris).
R = ------------------------------------------------- Secara berturut-turut nilai AsI% keenam spesies adalah
pasangan kromosom terpendek
A.cepa 53,79, A.porrum 54,88, A.sativum 55,45, Allium
sp. 56,26, A.ascalonicum 57,30 dan A.fistulosum 57,70.
Pembuatan dendrogram filogeni
Tingkat simetri kromosom A.cepa paling tinggi sedang
• Hubungan kekerabatan fenetik ditentukan dengan tingkat simetri A.fistulosum palilng rendah.
metoda pengelompokan koefisien asosiasi. Indek
16 BioSMART Vol. 1, No. 2, Oktober 1999, hal. 13-19

Gambar 1. Allium sativum (bawang putih) Gambar 2. Allium porrum (bawang prei)

Gambar 3. Allium sp (bawang merah besar) Gambar 4. Allium ascalonicum (bawang merah)

Gambar 5. Allium cepa (bawang bombay) Gambar 6. Allium fistulosum (bawang luncang)
ANGGARWULAN, dkk. – Karyotype Kromosom Genus Allium 17

20 µm

Gambar 7. Peta karyotipe (karyogram) dan idiogram enam spesies Allium: 1. Allium sativum, 2. Allium porrum, 3. Allium sp.,
4. Allium ascalonicum, 5. Allium cepa dan 6. Allium fistulosum.

Perbandingan pasangan kromosom terpanjang dan asimetri relatif (AsI%), perbandingan pasangan
terpendek (R) kromosom terpanjang dan terpendek (R), masing-masing
Nilai R digunakan untuk mendeteksi keseragaman satu buah. Sifat khas morfologi yang ditambahkan
panjang kromosom dalam satu spesies (satu kromosom adalah terbentuk-tidaknya umbi lapis.
set). Dalam penelitian ini panjang kromosom Dendrogram filogeni yang disajikan pada gambar 8
A.ascalonicum dan A.sativum relatif sama dalam menunjukkan bahwa spesies-spesies yang memiliki
kromosom set-nya, masing-masing dengan nilai R 1,6 kekerabatan paling dekat adalah A.ascalonicum dan
untuk A.ascalonicum dan 1,7 untuk A.sativum. Sedang A.fistulosum , dengan indek similaritas mencapai 80. Hal
keempat spesies lainnya memiliki nilai R lebih ini agak mengherankan apabila ditinjau dari terbentuk
bervariasi. Allium sp. dengan nilai R 2,71, A.porrum tidaknya umbi, mengingat umbi lapis A.fistulosum sangat
2,67, A.fistulosum 2,28 dan A.cepa 2,25. kecil, hanya berupa tonjolan, sehingga sering dianggap
tidak membentuk umbi. Namun hal ini juga
Hubungan Kekerabatan Allium mengindikasikan bahwa umbi lapis A.fistulosum yang
Dalam penelitian ini hubungan kekerabatan kecil tersebut pada dasarnya memiliki struktur sama
ditentukan berdasarkan 19 sifat sitologi dan satu sifat dengan umbi lapis A.ascalonicum, yakni terdiri dari
morfologi yang sangat khas untuk tumbuhan bawang. pelepah-pelepah daun yang tersusun berseling. Secara
Ke-19 sifat sitologi tersebut meliputi ukuran absolut morfologi keduanya cenderung memiliki kesamaan
pasangan kromosom sebanyak 8 buah, perbandingan bentuk daun, bunga dan bau minyak atsiri. Varitas
lengan panjang dan pendek (L/S) sebanyak 8 buah, serta A.fistulosum tertentu juga mampu hidup di daratan
panjang keseluruhan kromosom haploid (HCL), indeks rendah sebagaimana A.ascalonicum.
19 ANGGARWULAN, dkk. – Karyotype Kromosom Genus Allium

Tabel 1. Data morfometri krromosom enam spesies Allium

Pasangan kromosom
No Nama 1 2 3 4 5 6 7 8 HCL AsI% R

1. A.sativum 30,93 28,36 26,54 25,31 24,71 21,99 20,31 18,19 196,34 55,45 1,70
2. A.porrum 27,99 22,08 19,35 16,39 15,02 13,66 12.30 10,48 137,27 54,88 2,67
3. Allium sp. 25,94 21,85 18,43 16,38 15,26 14,11 11,15 9,57 132,69 56,26 2,71
4. A.ascalonicum 18,20 17,60 16,99 16,23 15,49 14,87 13,96 11,37 124,71 57,30 1,60
5. A.cepa 22,54 17,76 15,48 13,66 13,66 12,52 11,16 10,02 116,80 53,79 2,25
6. A.fistulosum 20,25 17,99 15,71 14,11 13,89 11,84 10,93 8,88 113,60 57,70 2,28

(L/S)
1. A.sativum 1,13 1,28 1,14 1,32 1,12 1,20 1,58 1,40
2. A.porrum 1,08 1,37 1,18 1,40 1,28 1,22 1,00 1,30
3. Allium sp. 1,92 1,13 1,08 1,25 1,09 1,14 1,45 1,21
4. A.ascalonicum 1,50 1,127 1,33 1,28 1,27 1,39 1,36 1,34
5. A.cepa 1,11 1,17 1,27 1,22 1,07 1,20 1,13 1,20
6. A.fistulosum 1,47 1,126 1,46 1,48 1,35 1,36 1,29 1,17

Keterangan:
• Perbandingan lengan panjang dan pendek (L/S)
• Panjang keseluruhan kromosom haploid (haploid chromosome length = HCL),
• Indeks asimetri relatif (asimetry index = AsI%)
• Perbandingan pasangan kromosom terpanjang dan terpendek (ratio = R)

Kedekatan hubungan kekerabatan kedua spesies di


atas disusul oleh A.cepa dan Allium sp., dimana indeks
similaritas di antara keduanya mencapai 75. Selama ini
di pasaran, Allium sp. sering diasosiasikan dengan
A.ascalonicum biasa, karena teksturnya menyerupai
A.ascalonicum biasa, meskipun ukuran, karakter daun,
bunga dan tempat tumbuhnya lebih cenderung serupa
dengan A.cepa.
Berdasarkan dendrogram anggapan ini dapat dibantah,
Allium sp. lebih dekat hubungan kekerabatannya dengan
A.cepa. Allium sp. kemungkinan merupakan salah satu
kultivar A.cepa yang telah mengalami mutasi, sehingga
berbeda dengan induknya atau mungkin pula merupakan
hasil persilangan antara A.cepa dengan A.ascalonicum
biasa, karena dalam praktek di lapangan persilangan
kedua spesies ini dapat menghasilkan anakan yang fertil.
Persilangan ini dapat terjadi secara alamiah dengan
bantuan serangga atau disengaja. Data morfometri
menunjukkan pasangan pertama kromosom Allium sp.
berbentuk sub-metasentris, berbeda dengan kromosom
lain yang berbentuk metasentris, sehingga dapat diduga
perbedaan-perbedaan yang terjadi dikontrol oleh gen-gen
di dalam pasangan kromosom ini.
Gabungan A.ascalonicum dan A.fistulosum dengan
gabungan A.cepa dan Allium sp. bertemu pada indeks
similaritas 65, bersamaan dengan A.porrum. Hal ini
sesuai dengan struktur umbi lapis kelimanya yang pada
dasarnya sama, terdiri dari pelepah-pelepah daun yang
tumpuk menumpuk secara berseling dan bagian
panggalnya menonjol, meskipun pada A.fistulosum dan
A.porrum ukuran tonjolan ini sangat kecil, sehingga
sering dikatakan tidak memiliki umbi.
A.sativum merupakan spesies terakhir yang bergabung
dalam rumpun Allium ini. A.sativum bergabung pada
indeks similaritas 35. Dalam pengamatan morfologi,
struktur umbi A.sativum sangat berbeda dengan kelima
Gambar 8. Dendrogram hubungan kekerabatan enam spesies tanaman
bawang budidaya (Genus Allium). bawang lainnya. Umbi lapis A.sativum berupa segmen-
segmen siung (clove) yang diselubungi dan disatukan
oleh sisik-sisik pelepah daun sangat tipis, sehingga
membentuk rumpun umbi lapis agak pipih. Siung Backer, C.a. dan R.C. Bakhuizen van den Brink, 1968, Flora of Java,
Vol. III, Groningen: Wolters Noordhoff.
berfungsi untuk menyimpan cadangan makanan dan Berlyn, G.P. dan J.P. Mische. 1976. Botanical Microtechnique and
setiap siung mengandung satu buah mata tunas. Dalam Cytocemistry. Ames: Iowa State University Press.
satu rumpun dapat dijumpai 3-13 buah siung, sedang Cai, Q. dan C.C. Chinnappa. 1987. Giemsa C-Banded Karyotipes of
umbi lapis kelima spesies lainnya berupa pangkal seven north American Spesies of Allium. American Journal of
Botany 74 (7): 1087-1092.
pelepah daun menebal, tersusun berseling dan berfungsi Chikmawati, T., R. Megia, U. Widyastuti dan I.N. Farikhati, 1998.
sebagai organ cadangan makanan. Di dalamnya terdapat Karyotipe Musa acumunata ‘Mas Jambe’ dan M. balbisiana
1-3 mata tunas yang menyisip di antara sela-sela ‘Klutuk Wulung’. Hayati. Juni 1998: 54-57.
pelepah. Di samping itu umbi lapis A.sativum berbau Chinnappa, C.C. dan G.P. Basappa. 1986. Citological Studies on some
Western Canadian Allium Spesies. American Journal of Botany
sangat tajam, berbeda dengan kelima spesies lainnya 73: 529-534.
yang baunya antara moderat hingga netral. Darnaedi, D., 1991, Kromosom dalam Taksonomi, Bogor: Herbarium
Bogoriense, Puslitbang Biologi - LIPI, .
KESIMPULAN Eigsti, O.J. dan P. Dustin, 1957, Colchicine in Agriculture, Medicine,
Biology and Chemistry, Ames-Iowa: The Iowa State Collge Press.
Jones, H.a. dan L.K. Mann, 1963, Onion and Their Allies, London:
Jumlah kromosom diploid genus Allium adalah 16 Leonard Hilll Ltd.
buah, hampir semua berbentuk metasentris, sehingga Levan, A., K. Fredga dan A.A. Sandberg, 1964, Nomenclature for
rumus karyotipenya 2n = 16m, kecuali Allium sp. dimana Centromeric Position on Chromosome. Hereditia 52: 201-220.
Mc Lean, R.C. dan W.R.I. Cook. 1965. Plant Science Formulae.
rumus karyotipenya 2n = 14m + 2sm, karena pasangan London: Macmillan.
kromosom pertama berbentuk submetasentris. Min, H.G., H.T. Ma dan G.H. Liang. 1984. Karyotype Analysis of
Secara berturut-turut A.sativum, A.porrum, Allium sp., seven species in the genus Sorghum. Jorunal of Heredity 75: 196-
A.ascalonicum, A.cepa dan A.fistulosum, memiliki 202.
Okada, H., 1981, Report on Trainings and Investigations in LBN-LIPI,
panjang keseluruhan kromosom haploid (HCL) adalah: Osaka: Departement of Biology Osaka University.
196,34, 137,27, 132,69, 124,71, 116,80 dan 113,60; Pielou, E.C., 1984, The Interpretation of Ecological Data, A Primer on
indeks asimetri relatif (AsI%) adalah: 55,45, 54,88, Classification and Ordination, New York: John Wiley and Sons.
56,26, 57,30, 53,79 dan 57,70; sedang perbandingan Pike, L.M. 1989. Onion Breeding dalam Breeding Vegetable Crops.
New York: AVI Publishing Co.
pasangan kromosom terpanjang dan terpendek (R) Radford, A.E., W.C. Dickinson, J.R. Massey dan C.R. Bell, 1974,
adalah: 1,70, 2,67, 2,71, 1,60, 2,25 dan 2,28 Vascular Plant Systematics, New York: Harper and Row
A.ascalonicum berkerabat dengan A.fistulosum pada Publishers.
indek similaritas 80. A.cepa berkerabat dekat dengan Riesenberg, L.H., P.M. Petersen, D.E. Soltis dan C.R. Annable. 1987.
American Journal of Botany 74 (11): 1614-1624.
Allium sp. pada indeks similaritas 75. Keempat spesies Rismunandar, 1989, Membudidayakan 5 Jenis Bawang, Bandung:
tersebut berkerabat dekat dengan A.porrum pada indek Penerbit Sinar Baru.
similaritas 65. Dan akhirnya kelima spesies tersebut Roberts, A.V. dan K.C. Short, 1979, An Experimental Study of
berkerabat dekat dengan A.sativum pada indek Mitosis, Journal of Biological Education 13 (3): 195-198.
Ruas, C.F., P.M. Ruas, N.I. Matzenbacher, G. Ross, C. Bernini dan A.
similaritas 35. L.L. Vanzela, 1995, Cytogenetic Studies of Some Hypochoeris
Spesies (Compositae) from Brazil, American Journal of Botany
DAFTAR PUSTAKA (82) 3: 369-375.
Sokal, R.R. dan P.H.A. Sneath, 1963, Principles of Numerical
Ahmad, Q.N., E.J. Britten dan D.E. Byth. 1983. A Quantitative Method Taxonomy, San Francisco: W.H. Freeman and Co.
of Karyotipic Analisis applied to Soy bean (Glycine max). Suryo, 1995, Sitogenetika, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Cytologia 48: 879-892.