You are on page 1of 6

BioSMART ISSN: 1411-321X

Volume 2, Nomor 1 April 2000


Halaman: 7-12

Identifikasi Limbah Cair Kampus Kentingan


Universitas Sebelas Maret Surakarta

WIRYANTO, KUSUMO WINARNO, OKID PARAMA ASTIRIN, MARTI HARINI, AHMAD DWI SETYAWAN
Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta

ABSTRAK

The aim of this experiment was to know many kinds of liquid waste materials at UNS campus in Kentingan resulted from laboratorium
and research activity in laboratories located in Kentingan campus done by students and lecturer. This research was hoped become an
initial step of a model of policy on waste management of all campus in Indonesia. Government regulation no 12/1995 chapter 1 part
1:” Limbah adalah bahan sisa pada suatu kegiatan dan/atau proses produksi”. Research activity in any campus could produce waste. As
the advance of knowledge together with increasing number of active researcher, resulted in an increase of waste which in turn can
resulted in environmental pollution. This research was done by collecting handout of lab activity in exact faculties (Faculty of
medicine, agriculture, and technique), and Central laboratorium of mathematics and natural science (Including environmental lab),
followed by grouping of the kinds of waste collected (organic and an-organic liquid waste), and then data tabulation. Based on the
result of this research, it can be concluded that central lab of mathematics and natural science provide the most chemicals, including
270 chemicals (197 chemicals from enviroment / chemistry lab, and 83 chemicals of Biology lab), and 143, 22 and 38 chemicals from
faculty of medicine, technique and MIPA subsequently.

Key Words: liquid waste, Campus of Sebelas Maret University

PENDAHULUAN lain-lain), serta limbah laboratorium fotografi


yang mengandung senyawa kimia berbahaya dan
Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta beracun.
didirikan pada tahun 1976. Tahun ajaran 1997/1998, • Limbah kegiatan medis yang mengandung mikro-
UNS memiliki sembilan fakultas terdiri atas empat organisme patogen, parasit, virus, bakteri dan
fakultas eksakta (Fakultas Kedokteran, Fakultas bahan yang menyebabkan infeksi.
Teknik, Fakultas Pertanian dan Fakultas MIPA), dua Sedang secara umum limbah yang hasilkan
jurusan eksakta (Jurusan Pendidikan MIPA FKIP dan kegiatan praktikum/penelitian laboratorium di
Pendidikan Teknik FKIP), lima fakultas non-eksakta kampus terdiri atas (Martopo, 1990):
(Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, Fakultas Isipol, • Limbah cair organik yang mengandung logam
Fakultas Sastra dan FKIP) serta dua laboratorium berat, merkuri, sianida, flourida, arsen dan lain-
penunjang, yaitu Labora-torium MIPA Pusat (Biologi, lain, serta limbah cair organik yang mengandung
Fisika, Kimia) dan Labora-torium Lingkungan. Daya pelarut, lemak minyak, alkohol, asam-asam
tampung mahasiswa baru UNS pada tahun ajaran organik, halogen, organofosfat, fenol, senyawa
tersebut sebanyak 3059 orang, sedang jumlah seluruh aromatis dan lain-lain.
mahasiswa sekitar 15.000 orang. Dilayani sekitar • Limbah padat berupa endapan hasil percobaan,
2000 orang dosen dan karyawan. kertas saring atau kain penyaring yang
Kampus dan lingkungan memiliki keterkaitan mengandung merkuri, PCB, asbes dan lain-lain.
sangat erat. Makin besar kampus, makin banyak • Limbah gas yang mengandung HCN, HCl, Cl2,
mahasiswa, dosen dan karyawan yang beraktivitas di SO2, uap pelarut organik dan lain-lain.
dalamnya, sehingga makin besar pengaruhnya terhadap • Limbah cair dari larutan pencuci peralatan, seperti
lingkungan. Kegiatan administrasi membutuhkan alat alat gelas, alat medis, instrumen dan lain-lain.
tulis kantor lebih banyak. Kegiatan praktikum • Limbah cair pereaksi organik dan anorganik
menggunakan hewan dan tumbuhan percobaan, (reagent kimia).
mikroorganisme dan bahan kimia lebih banyak.
• Limbah biologi berbahaya, misalnya sisa hewan
Semakin banyak penelitian eksakta, maka jenis dan percobaan, media kultur yang mengandung
jumlah bahan yang digunakan semakin beragam,
mikroorganisme patogen, sisa DNA dan lain-lain.
termasuk bahan beracun berbahaya (B-3). Penelitian limbah cair di Kampus UNS Kentingan
Martopo (1990) mengelompokkan limbah yang
ini merupakan penelitian bertahap. Tahap pertama
dihasilkan kegiatan kampus menjadi tiga, yaitu: identifikasi jenis limbah cair kegiatan praktikum/
• Limbah kegiatan administrasi, berupa sampah. penelitian laboratorium, dilanjutkan meneliti jumlah
• Limbah kegiatan eksperimen laboratorium fakultas jenis limbah padat dan gas. Tahap kedua meneliti
eksakta (sains, teknologi, pertanian, medis dan
© 2000 Jurusan Biologi FMIPA UNS
8 BioSMART, Vol. 1, No. 1, April 2000, hlm. 7-12

kuantitas limbah cair, padat dan gas tersebut dalam Pasal 1 angka 1: Limbah adalah bahan sisa dari
periode tertentu dengan asumsi kegiatan praktikum/ suatu kegiatan dan/atau proses produksi.
penelitian setiap tahun sama. Tahap ketiga merencanakan Limbah dapat berbentuk padat, cair atau gas. Limbah
alternatif pengolahan limbah dan kemungkinan daur dapat menimbulkan pencemaran yang akan
ulang. Tahap keempat membangun IPAL terpadu di mengganggu kelestarian sumber daya alam dan
Kampus UNS Kentingan, sehingga menjadi kampus kehidupan manusia.
yang bersih, sehat, rapi dan indah.
Pasal 1 angka 2: Limbah bahan berbahaya beracun,
disingkat B-3, adalah setiap limbah yang mengandung
Lingkungan Hidup
bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat
Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan
dan/ atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik
semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup,
secara langsung maupun tidak langsung dapat
termasuk manusia dan perilakunya yang
merusak dan/atau mencemarkan lingkungan hidup
mempengaruhi kelangsungan peri kehidupan dan
dan/atau membahaya-kan kesehatan manusia.
kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lain
(Anonim, 1997). Lingkungan hidup merupakan suatu Pasal 5: Setiap orang atau badan usaha dilarang
ekosistem terdiri dari berbagai subsistem yang membuang limbah B-3 secara langsung ke dalam air,
memiliki aspek sosial, ekonomi dan geografi tanah atau udara.
beraneka ragam sehingga daya dukung dan daya Pasal 6 angka 1: Penghasil limbah B-3 wajib
tampungnya berbeda-beda. Untuk itu pengelolaan melakukan pengolahan limbah B-3.
lingkungan hidup harus terpadu (Mc Naughton dan Senyawa golongan B-3, memenuhi salah satu atau
Wolf, 1990; Resosoedarmo, 1988). semua kriteria berikut: mudah meledak, mudah
Semua makhluk hidup memiliki tempat yang terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan
disebut habitat (Soemarwoto,1989). Mereka memiliki
infeksi, korosif dan mempunyai LD50 < 15 gram
kelenturan untuk menyesuaikan diri dengan
(Anonim, 1995a)
perubahan lingkungan habitatnya. Penyesuaian ini
disebut adaptasi. Semakin besar daya adaptasi suatu Pengaruh Limbah Kimia Terhadap Lingkungan
organisme semakin beraneka habitat yang
Sianida (CN). Sangat toksis sehingga pengelolaannya harus hati-
ditempatinya (Rosalia, 1994). Adaptasi tidak selalu hati karena dengan asam dapat membentuk gas HCN yang sangat
berhasil, tergantung daya tahan dan pesaing beracun. Sianida bebas (ion CN) dalam air tanah dapat bereaksi
(Resosoedarmo, 1988). dengan besi (Fe) membentuk kompleks [Fe4{Fe(CN)6)2,
Faktor utama permasalahan lingkungan adalah Fe(Fe(CN)6)2, Fe(Fe(CN)6] yang tidak larut dalam air dan sangat
besarnya populasi manusia dengan segala stabil sehingga sulit terdegradasi (Anonim, 1996; Martopo, 1990,
Wiryanto, 1996).
kebutuhannya. Pertumbuhan populasi manusia yang
cepat memerlukan pertambahan papan, pangan, Krom valensi 6: Cr (VI). Dapat berupa ion bebas (kromat,
bikromat) atau senyawa (garam, kompleks). Sangat berbahaya
bahan bakar dan kebutuhan lainnya, sehingga limbah
karena dapat menembus membran biologi dan menimbulkan
yang dihasilkan dapat merubah kualitas lingkungan kangker. Dalam baku mutu lingkungan krom (VI) merupakan
(Soemarwoto, 1989). salah satu parameter yang keberadaannya sangat dibatasi. Logam
krom tidak menimbulkan resiko medis, tetapi senyawa kromium
Limbah yang kontak langsung dengan mata dan kulit dapat menyebabkan
iritasi, bisul bernanah pada hidung dan tenggorokan diikuti
Masyarakat kampus yang aktif melakukan kanker paru-paru (Anonim, 1996; Martopo, 1990, Wiryanto,
kegiatan praktikum/penelitian di laboratorium 1996).
memberikan andil limbah yang cukup besar terhadap
Merkuri (Hg). Merkuri baik sebagai unsur maupun senyawa
kualitas lingkungan. Pembuangan limbah cair di sangat berbahaya. Penyakit Minamata yang ditemukan di Jepang
kampus umumnya langsung ke lingkungan. Pada pada tahun 1970-an, merupakan bencana pencemaran terbesar
mulanya dalam proses ini tidak tampak dampak akibat terakumulasi-nya merkuri dalam ikan dan kerang. Merkuri
negatifnya, tetapi dalam jangka panjang akan terlihat sangat resisten dan mudah membentuk senyawa oegano-merkuri
yang larut dalam lemak tubuh. Merkuri dapat diabsorpsi melalui
dan membahayakan kehidupan di dalamnya makanan, paru-paru dan kulit. Akumulasi yang banyak terdapat
(Anonim, 1996). pada para pekerja yang terus menerus mendapat uap raksa.
Limbah cair adalah buangan cairan terdiri atas air Akumulasi terbanyak terdapat di otak (Anonim, 1996; Martopo,
yang melarutkan sekitar 0,1% benda-benda padat 1990, Wiryanto, 1996).
organik maupun anorganik. Misalnya tinja, urine, Kadmium (Cd). Dalam konsentrasi rendah kadmium sudah
sisa sabun, sampah dan sisa-sisa kain buruk yang sangat toksis, ambang batasnya 0,005 mg/m3. Tidak dapat
tercampur dalam larutan yang encer, kelam dan agak terdegradasi, mudah membentuk kompleks dengan protein
(gugus-SH) dan akan terakumulasi dalam tubuh sehingga
berbau ketika masih segar (baru) (Martopo, 1990). membahayakan tubuh. Kadmium dapat mengkontaminasi
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 12 melalui makanan dan pernapasan. Ginjal akan menimbun
Tahun 1995 antara lain menyebutkan (Anonim, kadmium untuk beberapa tahun lamanya dan pada usia 50 tahun,
1995b): kandungan kadmium akan stabil, karena proses penuaan pada
ginjal. Keracunan akut oleh kadmium menimbulkan gejala sesak
WIRYANTO, dkk. - Limbah Cair Kampus UNS 9
napas, sakit kepala dan menggigil. Keracunan kronis mengakibatkan Trikloroetan: digunakan untuk Tipp-Ex suatu bahan yang
gangguan pernapasan, meliputi saluran paru-paru, bronkus dan digunakan untuk mengoreksi ketikan yang salah dan bahan dry
terjadi proteinurea (Anonim, 1996; Martopo, 1990, Wiryanto, 1996). cleaning. Bila dihirup berlebihan dapat merusakkan sistem syaraf
pusat.
Timah (Pb). Timah banyak digunakan sebagai bahan antinok
dalam bensin dan untuk pelapis pita, karena resisten terhadap Karbontetraklor: sifat stabil, tidak dapat terdegradasi dan
bahan korosif. Keracunan timbal dapat disebabkan asap atau bersifat karsinogen. Di dalam tubuh stabil dan akan terakumulasi,
debu timbal, yang diserap aliran darah dan diakumulasikan pada merusak hati.
sumsum tulang. Pelepasan timbal dari sumsum tulang sangat
lambat sehingga dapat menimbulkan keracunan kronis (Anonim, Aldrin dan Dieldrin: merupakan senyawa mirip dengan
1996; Martopo, 1990, Wiryanto, 1996). insektisida organoklor, berupa gugus siklodiena. Aldrin mudah
berubah menjadi dieldrin dan keduanya merupakan racun yang
Asam, Alkali dan Garam. Senyawa ini digunakan secara umum kuat. Dieldrin merupakan senyawa karsinogen yang dapat
dan mudah mengalami degradasi. Asam nitrat akan melarutkan merusak hati dan ginjal. Senyawa ini larut dan dapat
garam logam berat dan ikut aliran air. Oleh karena itu asam dan terakumulasi dalam jaringan lemak. Dieldrin dapat bertahan di
alkali tidak berbahaya, tetapi apabila dapat melarutkan logam dalam tanah selama 20 tahun (Anonim, 1996; Martopo, 1990).
berat maka yang berbahaya adalah logam berat yang terkandung
di dalamnya (Anonim, 1996; Martopo, 1990). PCB: mulai dikenalkan dan dipasarkan pada tahun 1930, sangat
luas kegunaannya, antara lain untuk cairan pemindah panas pada
Oksidator dan Reduktor. Senyawa oksidator berbahaya karena transformator dan kapasitor listrik, senyawa aditif dalam zat warna,
dapat mengubah senyawa yang tidak reaktif menjadi reaktif. kertas karbon dan plastik (Anonim, 1996; Martopo, 1990).
Oksidator dapat mengubah krom (III) yang tidak karsinogen
menjadi krom (VI) yang karsinogen. Raksa (I) yaitu merkuro
dengan adanya oksidator menjadi raksa (II) yaitu merkuri yang Pencemaran
sangat toksis. Sebaliknya reduktor dapat mengubah senyawa Pencemaran memiliki beberapa makna berdasarkan
dengan valensi tinggi menjadi senyawa dengan valensi rendah kriteria yang digunakan para pemrakasanya, antara
(Anonim, 1996; Martopo, 1990).
lain (Semedi, 1985):
Flourida dan Boron. Flourida diperlukan tubuh dalam • Soemarwoto (1989): Pencemaran adalah adanya
konsentrasi rendah untuk menguatkan gigi, tetapi pada
konsentrasi tinggi dapat menimbulkan keropos pada gigi dan
suatu organisme atau unsur lain di dalam suatu
tulang. Di perairan flour (F) akan berikatan dengan boron (B) sumber daya dalam kadar yang mengganggu
membentuk BF4-, yang mempunyai kelarutan tinggi dalam air peruntukan sumber daya tersebut.
serta tidak dapat dilunakkan dengan aluminium aktif, sehingga • Makarim (1981): Pencemaran adalah suatu
menyulitkan pengolahan limbah secara pengendapan (Anonim,
keadaan terjadinya penurunan kualitas
1996; Martopo, 1990).
lingkungan yang disebabkan oleh masuk atau
Formalin: senyawa ini sangat stabil, merupakan senyawa dimasukkan materi atau energi sampai tingkat
karsinogen dan dalam penggunaannya selalu dicampur dengan
air, banyak digunakan sebagai bahan pengawet terutama dalam
tertentu, sehingga lingkungan tersebut tidak lagi
laboratorium medis dan biologi. Bila ikut bersama limbah cair memenuhi syarat untuk dipergunakan sesuai
dan kemudian masuk ke perairan dan diresapkan ke dalam tanah, dengan tujuannya.
maka akan mematikan aktivitas mikroorganisme tanah, sehingga • Southwick (1976): Pencemaran lingkungan
tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya (Anonim, 1996;
Martopo, 1990).
adalah perubahan sama sekali atau sebagian
besar yang tidak menguntungkan sekeliling kita,
Aseton: merupakan pelarut yang banyak digunakan di hampir sebagai hasil aksi manusia melalui efek langsung
semua laboratorium/eksperimen. Aseton mudah terbakar, bila
dihirup dalam konsentrasi tinggi akan mempengaruhi aktivitas atau tidak langsung meliputi perubahan pola
sistem syaraf (Anonim, 1996; Martopo, 1990). energi, tingkat radiasi, keadaan fisik, kimia dan
Alkohol: merupakan jenis pelarut umum yang digunakan di
kemelimpahan organisme.
berbagai kegiatan, tidak berbahaya, mudah terbakar dan mudah • Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
diperoleh kembali dari limbah cair dengan distilasi(Anonim, 173/Men.Kes./Per./VIII/1977 Bab I Pasal 1 butir
1996; Martopo, 1990). m; Pencemaran air adalah suatu peristiwa
Benzen, Toluen, Xylene: merupakan pelarut paling berbahaya, masuknya zat-zat ke dalam air yang
karena secara kimiawi strukturnya sangat stabil. Bila masuk ke mengakibatkan kualitas air tersebut menurun
dalam tubuh hanya dapat keluar secara pelahan-lahan. Dapat sehingga dapat mengganggu/ membahayakan
terakumulasi dalam tubuh dan menyebabkan kerusakan hati,
kanker dan mengurangi butir-butir darah merah. Pelarut ini dapat
kesehatan masyarakat.
masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan maupun pori-pori kulit • UU No. 4 Tahun 1982 Bab I Pasal 1 ayat (7);
(Anonim, 1996; Martopo, 1990). pencemaran adalah masuknya atau
Pelarut organik mengandung klor: pelarut jenis ini merupakan dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan
pelarut yang tidak mudah terbakar, tetapi memiliki sifat toksis komponen lain ke dalam lingkungan dan atau
karena larut dalam jaringan lemak dan menyebabkan kerusakan perubahan tatanan lingkungan oleh kegiatan
hati (Anonim, 1996; Martopo, 1990). Meliputi metilen klorida,
kloroform, trikloroetan dan karbontetraklor.
manusia atau oleh kegiatan alami, sehingga
kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat
Metilen klorida: banyak digunakan untuk melunakkan plastik
dan lemak, mengekstrak zat rasa dan kafein. tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi
kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai
Kloroform: pada saat sekarang kloroform tidak lagi digunakan
untuk anestesi, karena diketahui dapat merusak hati dan bersifat dengan peruntukannya.
karsinogen.
10 BioSMART, Vol. 1, No. 1, April 2000, hlm. 7-12

BAHAN DAN METODE Adapun pengelompokan data selengkapnya sebagai


berikut:
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
jenis senyawa kimia yang di gunakan di laboratorium Kelompok Jenis Limbah
lingkungan fakultas-fakultas eksakta di kampus UNS
Kentingan. Penelitian ini merupakan bagian dari Limbah Cair Anorganik
keseluruhan penelitian yang bertujuan membuat A Sianida (CN)
B Krom valensi 6 (Cr VI)
IPAL yang paling sesuai dengan kondisi kampus UNS. C Merkuri (Hg)
D Logam Berat (Cd, Pb, Cr, …)
Lokasi dan Waktu E Asam, Alkali, Garam
Penelitian dilakukan di laboratorium-laboratorium F Oksidator
G Reduktor
fakultas eksakta UNS Surakarta yang terletak di H Fluorida (F)
Kampus Kentingan, meliputi: Fakultas Kedokteran (13 I Boron (B)
laboratorium), Fakultas Pertanian (12 laboratorium), J Sulfida
Fakultas MIPA (2 laboratorium), Fakultas Teknik Limbah Cair Organik
(15 laboratorium), Laboratorium MIPA Pusat (3 K Pelarut Organik Umum
L Nitrogen (N)
labora-torium) dan Laboratorium Lingkungan (1 M Sulfur (S)
laboratorium). Waktu pelaksanaan adalah semester N Petroleum
pertama tahun ajaran 1997/1998. O Minyak/lemak hewan/nabati
P Halogen (Cl, Br, I, F)
Q Air
Cara Kerja R Senyawa mudah meledak
Prosedur kerja penelitian ini meliputi pencarian (Explosive substances)
data jenis-jenis limbah cair kimia yang dihasilkan S Senyawa berbahaya bila
dari aktivitas laboratorium fakultas eksakta di terdekomposisi (Hazardous subtances)
Kampus UNS Kentingan (secara kualitatif) dan cara T Polychlorinated biphenyl (PCB)
U Senyawa yang mudah terbakar
pengelolaan limbah cair tersebut. (Specific Inflamable Materials)

Jenis Limbah Cair


Untuk mengetahui jenis-jenis limbah cair yang Cara Pengelolaan Limbah
dihasilkan kegiatan laboratorium eksakta di Kampus Untuk mengetahui cara pengelolaan limbah cair
UNS Kentingan maka dilakukan : yang dihasilkan kegiatan laboratorium eksakta di
1. Pengumpulan buku-buku petunjuk praktikum/ Kampus UNS Kentingan maka dilakukan survai dan
penelitian yang digunakan di laboratorium dan wawancara kepada para pengelola dan pengguna
pengecekan silang di lemari-lemari kemikalia. laboratorium-laboratorium tersebut.
2. Pencatatan semua bahan kimia yang digunakan.
3. Pentabulasian dalam bentuk matriks. Setiap jenis
senyawa kimia diberi bobot atau nilai = 1. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. Evaluasi dan pengelompokkan menjadi beberapa
golongan. Cara Pengelolaan Limbah
5. Penyajian nilai yang merupakan jumlah jenis Setiap kegiatan tentu akan menghasilkan limbah
senyawa kimia yang digunakan dalam kelompok sebagai entropinya. Laboratorium sebagai salah satu
senyawa tersebut. sarana penting bagi mahasiswa dan dosen untuk
Semua jenis senyawa kimia dikelompokkan praktikum dan penelitan juga akan menghasilkan
menjadi enam golongan, merujuk model pengelolaan limbah. Limbah laboratorium umumnya dibuang
limbah senyawa kimia yang dilakukan di Dalhouise langsung ke dalam tanah, begitu pula di Kampus
University dan Kyoto University (Anonim, 1996). UNS Kentingan. Limbah kegiatan laboratorium dan
a. Limbah cair organik yang mengandung: sianida, limbah kegiatan non-laboratorium yang dibuang
krom valensi 6, logam berat, asam, alkali dan garam, langsung ke lingkungan lama-kelamaan akan
oksidator, reduktor, flourida, boron dan sulfida. terakumulasi dan merusak kondisi lingkungan
b. Limbah cair organik yang mengandung: pelarut kampus. Untuk itu perlu Instalasi Pengolah Air
organik umum, pelarut organik mengandung Limbah (IPAL), sehingga limbah yang dibuang ke
sulfur, pelarut organik mengandung nitrogen, lingkungan, sudah tidak berbahaya.
petroleum, minyak, lemak hewani dan nabati, Lingkungan yang menerima limbah dalam
halogen dan pelarut yang selalu tercampur air. konsentrasi rendah dapat menetralkannya, sehingga
c. Senyawa mudah meledak tidak menyebabkan perubahan atau kerusakan
d. Senyawa berbahaya bila terdekomposisi lingkungan. Tetapi apabila berlangsung lama, akan
e. Polychloridated biphenyl (PCB) terjadi akumulasi yang tidak dapat didegradasi
f. Senyawa yang mudah terbakar. lingkungan, sehingga melampaui ambang batas dan
WIRYANTO, dkk. - Limbah Cair Kampus UNS 11

merusak kondisi lingkungan. Pencemaran sangat laboratorium. Yaitu Laboratorium Komputer yang
berpengaruh terhadap keadaan lingkungan, karena menyatakan tidak menggunakan bahan kimia dan
menimbulkan efek negatif terhadap faktor biologis, laboratorium Kimia. Nilai/bobot FMIPA adalah 38,
fisik dan kimiawi. Efek pencemar selalu drastis, yang berarti hanya menggunakan 38 jenis bahan
sehingga terjadi perubahan. kimia. Pada masa mendatang, bertambahnya
Sebagian limbah cair kimia yang diresapkan ke mahasiswa serta berdirinya Laboratorium Biologi
dalam tanah dapat tercecer atau tertahan di dan Fisika diyakini penggunaan jenis bahan kimia
permukaan tanah. Limbah ini dapat terbawa air hujan akan terus meningkat.
ke perairan, sehingga merubah kualitas airnya.
Perairan yang terkontaminasi secara periodik oleh Fakultas Kedokteran
bahan-bahan kimiawi dapat berkurang Fakultas Kedokteran di Kampus UNS Kentingan
keanekaragaman jenisnya, di samping menimbulkan memiliki 13 laboratorium, tiga diantaranya
organisme yang berbahaya bagi manusia karena menyatakan tidak menggunakan bahan kimia, yaitu
adanya akumulasi limbah berbahaya. Seperti laboratorium Fisika, Laboratorium Fisiologi dan
akumulasi limbah mercuri pada ikan dan kerang di Laboratorium Ilmu Kedokteran Kehakiman.
Teluk Minamata Tokyo yang menyebabkan banyak Fakultas Kedokteran hanya memiliki nilai/bobot
kebutaan pada penduduk yang mengkonsumsinya. 141. Senyawa yang banyak digunakan adalah pelarut
Serta akumulasi kadmium pada beras di Toyama, organik umum dengan nilai/bobot 35 dan asam/
Jepang. alkali/garam 27. Hal ini wajar mengingat sebagian
Dalam penelitian ini diketahui bahwa: lain laboratoriumnya terletak di luar Kampus UNS
a. Semua limbah cair dari fasilitas laboratorium di Kentingan, tepatnya di RSUP dr. Muwardi Solo,
Kampus UNS Kentingan diresapkan langsung ke yaitu Laboratorium Rontgen, Laboratorium Bedah,
dalam tanah. Laboratorium IKA, Laboratorium Anestesi, Laboratorium
b. Limbah padat sisa bahan kimia yang kadaluwarsa, Mata, Laboratorium Psikiatri, Laboratorium Kulit
dipendam dalam tanah di lingkungan Kampus dan Kelamin, Laboratorium Kebidanan dan Penyakit
UNS Kentingan. Kandungan.
c. Limbah biologis bekas percobaan dipendam dalam
tanah di lingkungan Kampus UNS Kentingan. Fakultas Pertanian
Dengan semakin maju dan berkembangnya UNS Fakultas ini memiliki sembilan laboratorium, tiga
Surakarta, maka jumlah dan jenis limbah yang diantaranya menyatakan tidak menggunakan bahan
dihasilkan semakin banyak dan bervariasi, karena kimia, yaitu laboratorium Peternakan, Laboratorium
bertambahnya jumlah penghuni dan penelitian, Statistik dan Rancangan Percobaan serta
sehingga Instalasi Pengolah Air Limbah menjadi Laboratorium Geoklimatologi. Laboratorium yang
kebutuhan mendasar agar tetap dapat diciptakan paling banyak menggunakan bahan kimia adalah
kampus yang bersih, sehat dan ramah lingkungan. Laboratorium Tanah (33 jenis) dan Laboratorium
Mikrobiologi (30 jenis). Senyawa kimia yang banyak
Rekapitulasi Limbah Cair digunakan adalah asam/alkali/garam 36 jenis dan
Pada saat penelitian ini, UNS memiliki empat logam berat 24 jenis. Nilai/bobot Fakultas Pertanian
fakultas eksakta, yaitu Fakultas MIPA, Fakultas adalah 120.
Kedokteran, Fakultas Teknik dan Fakultas Pertanian. Banyaknya penggunaan logam berat mengharuskan
Serta dua unit penunjang, yaitu Laboratorium MIPA penanganan khusus, berhubung tingginya tingkat
Pusat dan Laboratorium Lingkungan. toksisitas bahan ini. Sedang banyaknya asam/alkali/
Pada tahun-tahun berikutnya, UNS akan terus garam memerlukan usaha daur ulang agar dapat
tumbuh dan berkembang, seperti berkembangnya dimanfaatkan kembali.
Fakultas MIPA, dibukanya program studi/jurusan
Teknik Kimia, Mesin dan Industri di Fakultas Teknik Fakultas Teknik
serta bertambahnya daya tampung tiap-tiap fakultas Fakultas ini terdiri dari dua jurusan, yaitu Jurusan
sebanyak 15% pada tahun ajaran 1998/1999. Teknik Sipil dan Teknik Arsitektur serta memiliki
Sehingga sarana laboratorium masih terus bertambah, lima laboratorium, dimana 4 diantaranya menyatakan
termasuk bertambahnya bahan-bahan kimia yang tidak menggunakan bahan kimia, yaitu Laboratorium
potensial menjadi limbah. Rekapitulasi limbah kimia Mekanika Tanah, Laboratorium Bahan,
cair dari laboratorium di seluruh Kampus UNS Laboratorium Geologi dan Laboratorium Geodesi.
Kentingan di sajikan dalam tabel 1. Hanya satu laboratorium yang menggunakan bahan
kimia, yaitu Laboratorium Teknik Penyehatan.
Fakultas MIPA Nilai/bobotnya 22, namun dengan didirikannya
Fakultas MIPA yang berdiri sejak tanggal 2 Mei jurusan Teknik Mesin, Teknik Industri dan Teknik
1997 memiliki empat jurusan, yaitu: biologi, kimia, Kimia diperkirakan jumlah bahan kimia yang
fisika dan matematika. Fakultas ini memiliki dua digunakan akan meningkat pesat, berhubung ketiga
12 BioSMART, Vol. 1, No. 1, April 2000, hlm. 7-12

jurusan tersebut, khususnya Teknik Industri dan KESIMPULAN


Teknik Kimia berkait erat dengan penggunaan
bahan-bahan kimia. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa:
laborato-rium yang paling banyak menghasilkan
Laboratorium MIPA Pusat limbah cair secara berturut-turut adalah:
Laboratorium ini memiliki tiga Sub-lab, yaitu Laboratorium MIPA Pusat 270 jenis, Fakultas
Sub-lab Biologi, Sub-lab Fisika dan Sub-lab Kimia Kedokteran 141 jenis, Fakultas Pertanian 120 jenis,
yang sekaligus berfungsi sebagai Laboratorium Fakultas MIPA 38 jenis, dan Fakultas Teknik 22
Lingkungan. Nilai/bobot laboratorium ini paling jenis. Jenis limbah terbanyak adalah limbah cair
tinggi dibanding laboratorium lain, yaitu 270, dimana organik yang mengandung bahan organik dan air.
Sub-lab Biologi menggunakan 83 jenis bahan kimia Limbah cair kimia di Kampus UNS Kentingan
dan Sub-lab Kimia/Laboratorium Lingkungan 197 diresapkan langsung ke tanah.
jenis. Sedang Sub-lab Fisika menyatakan tidak
menggunakan bahan kimia. DAFTAR PUSTAKA
Laboratorium MIPA Pusat merupakan entitas
paling banyak menggunakan bahan kimia. Namun Anonim. 1995a. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup
diantara bahan-bahan tersebut ada yang dihitung dua No. Kep-51/MENLH/10/1995 tentang Baku Mutu Limbah
Cair bagi Kegiatan Industri. Jakarta: Kantor MENLH.
kali, misalnya HgCl2 karena sekaligus mengandung Anonim. 1995b. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.
merkuri, garam dan halogen. MgSO4 mengandung 12 Tahun 1995 tetang Pengelolaan Limbah Berbahaya dan
garam, sulfida dan air. Bahan yang paling banyak Beracun. Jakarta: Kantor MENLH
digunakan di laboratorium ini adalah Anonim. 1996. Identifikasi Limbah Cair UGM. Yogyakarta:
Pusat Penelitian Lingkungan Hidup UGM.
asam/alkali/garam sebesar 101 jenis dan limbah cair Anonim. 1997, Undang-undang Pengelolaan Lingkungan Hidup,
yang mengandung bahan organik dan air 63 jenis. Beserta Penjelasannya. Jakarta: Kantor MENLH
Secara keseluruhan Kampus UNS Kentingan Martopo, S. 1996. Pencemaran Limbah Industri. Yogyakarta:
mempunyai nilai/bobot 601. Dimana Laboratorium Pusat Penelitian Lingkungan Hidup UGM
MIPA Pusat menghasilkan paling banyak limbah, Resosudarmo, S., K. Kusworo dan S. Aprilani. 1988. Pengantar
Ekologi. Bandung: C.V. Remaja Karya
yaitu 270 jenis, sedang Fakultas Teknik Rosalia. S.H. 1994. Penggunaan Enceng Gondok (Eichornia
menghasilkan limbah paling sedikit, hanya 22 jenis. crassipes) dan Kayambang (Salvinia natans All..) Untuk
Dari 21 kelompok jenis limbah, maka jenis Menurunkan Toksisitas Limbah Cair Industri Tekstil PT.
asam/alkali/garam mempunyai nilai/bobot paling Tyfountex Indonesia Kartosuro Sukoharjo. Surakarta:
Fakultas Kedokteran UNS.
besar, yaitu 185 jenis, diikuti limbah cair organik Semedi, M. 1985. Beberapa Aspek Pencemaran Limbah Pabrik
yang mengandung bahan organik dan air sebanyak PT. Batik Keris di Perairan Sungai Pemulung Surakarta.
92 jenis dan pelarut organik umum 83 jenis. Yogyakarta: Fakultas Biologi UGM
Soemarwoto, O. 1989. Ekologi. Lingkungan Hidup dan
Pembangunan. Jakarta: Penerbit Djambatan.
Wiryanto. 1996. Pengaruh Limbah Cair Industri Tekstil PT.
Tyfountex Indonesia Kartosuro Terhadap Perubahan DO,
BOD, Temperatur, pH, Kadar Logam dan Plankton di
Sungai Kudusan Sukoharjo dan Premulung Surakarta.
Yogyakarta: Program Paska Sarjana UGM.