You are on page 1of 7

BioSMART ISSN: 1411-321X

Volume 2, Nomor 2 Oktober 2000


Halaman: 8-14

Reduksi Air Limbah Rumah Tangga oleh Larva Nyamuk


Culex quinquefasciatus Say.

SUGIYARTO, MARTI HARINI, KUSUMO WINARNO, AHMAD DWI SETYAWAN, EDWI MAHAJOENO
Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kepadatan populasi larva nyamuk Culex quinquefasciatus Say yang
paling efektif dan efisien dalam mereduksi kandungan bahan pencemar air limbah rumah tangga. Dalam penelitian ini
dilakukan percobaan dengan perlakuan berupa tingkat kepadatan larva nyamuk, yaitu: 0, 20, 40 dan 60 ekor per 100
ml air limbah. Percobaan dilakukan dengan rancangan acak lengkap, masing-masing perlakuan dengan tiga ulangan.
Parameter kualitas air diamati pada hari ke 0, 2, 4 dan 6 setelah perlakuan dengan variabel yang diukur meliputi:
COD, kandungan zat padat total dan populasi bakteri Coliform dan Escherichia coli. Data penelitian dianalisis
dengan analisis varian dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa keberadaan larva uji dapat menurunkan COD dan kandungan zat padat total, tetapi tidak
berpengaruh terhadap populasi bakteri Coliform dan E. coli . Populasi larva nyamuk yang paling efektif dan efisien
dalam meningkatkan kualitas air limbah rumah tangga adalah 20 ekor/100 ml air limbah.

Key words: reduksi, air limbah rumah tangga, Culex quinquefasciatus Say.

PENDAHULUAN maupun introduksi agen biologi/dekomposer,


terutama mikroorganisme. Tetapi semua teknik
Air merupakan kebutuhan pokok makhluk tersebut belum dapat mengatasi masalah limbah.
hidup, termasuk manusia. Oleh karena kuantitas air Teknologi pengolahan air limbah dengan
di dunia tetap, maka diperlukan upaya menjaga menggunakan agen biologi merupakan alternatif
kelestarian sumberdaya air Dengan meningkatnya yang memberikan harapan besar. Teknik ini tidak
jumlah penduduk, maka kuantitas air yang banyak menimbulkan efek samping, sederhana dan
dieksploitasi juga meningkat, namun di sisi lain murah. Berbagai mikroorganisme seperti bakteri,
terjadi penurunan kualitas. Karena tercemarnya air algae maupun protozoa dapat dimanfaatkan sebagai
oleh berbagai materi dan atau energi dari berbagai agen biologi, misalnya dalam proses ‘lumpur aktif
kegiatan manusia. Sehingga diperlukan upaya kontinyu’ (‘Continuous Activated Sludges’/CAS)
untuk memulihkan kembali kualitas air agar dapat dan ‘Rotating Biological Contactor’/RBC.
dimanfaatkan kembali. Larva nyamuk Culex quinquefasciatus Say
Kegiatan rumah tangga menghasilkan berbagai merupakan salah satu organisme yang berpotensi
macam limbah, termasuk air limbah yang untuk mereduksi kandungan bahan organik air
mengandung berbagai macam zat atau bahan limbah. Nyamuk ini sangat melimpah, terutama di
terlarut, seperti sabun, air seni, feses, sisa makanan, daerah perkotaan, bertelur pada genangan air yang
minuman dan sebagainya. Pada umumnya mengandung banyak bahan organik, termasuk air
pencemar air limbah rumah tangga adalah bahan limbah rumah tangga. Setelah telur menetas akan
organik. Untuk itu teknologi pengolahan air limbah tumbuh larva yang memakan bahan organik dan
rumah tangga perlu diarahkan untuk mereduksi mikroorganisme dalam air. Larva dapat hidup
bahan organik tersebut. Pada saat ini telah dikenal dalam air yang kandungan oksigennya sangat
banyak teknik pengolahan air limbah, baik secara rendah, karena oksigen diperoleh langsung dari
alamiah maupun melalui rekayasa. Secara alamiah udara atmosfer melalui suatu sifon.
air limbah rumah tangga dapat mengalami proses Kemampuan larva C. quinquefasciatus Say
pemulihan selama kapasitas/daya dukung alam memakan bahan organik dan mikroorganisme
belum terlewati. Akan tetapi dengan meningkatnya dalam air limbah rumah tangga tergantung faktor
jumlah penduduk, kapasitas alamiah tersebut internal seperti kepadatan, laju pertumbuhan,
umumya terlewati sehingga diperlukan rekayasa. lamanya fase larva dan daya tahan atau adaptasi
Saat ini, telah dikenal banyak teknik rekayasa dari larva; serta faktor eksternal seperti suhu, pH,
pengolahan air limbah seperti penyaringan, ketersediaan makanan dan sebagainya. Hingga
pengendapan, penguapan, penambahan zat kimia sekarang belum diketahui kepadatan populasi
© 2000 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta
BioSMART, Vol. 2, No. 2, Oktober 2000, hlm. 8-14 9

optimum bagi pertumbuhan dan perkembangan oven, desikator, timbangan analitis, cawan petri,
larva nyamuk. Mulyani (1997) menyebutkan bahwa inkubator, autoklaf, colony counter, pH meter dan
peningkatan populasi larva C.quinquefasciatus Say botol sampel; media kaldu lauril triptosa, media
dalam air limbah rumah tangga dapat meningkatkan EC, media kaldu brillian green lactose bile, kertas
oksigen terlarut serta mempercepat penjernihan air. saring, larutan standard kalium bikromat, perak
Oleh karena itu penelitian ini dilakukan dengan sulfat, asam sulfat, reagen asam sulfat, larutan
penekanan pada pengamatan pengaruh besarnya standard fero-ammonium sulfat, indikator feroin,
populasi larva nyamuk terhadap kualitas air. merkuri sulfat, asam sulfamat dan kapas.

Perlakuan
METODE PENELITIAN Sebanyak 96 botol bekas air mineral diisi 100
ml air limbah rumah tangga, lalu dikelompokkan
Penelitian ini dilakukan dengan metode menjadi empat, masing-masing sebanyak 24 botol.
eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap Kelompok 1 tidak diisi/ dinokulasi larva uji,
(RAL). Variabel bebas berupa kepadatan populasi kelompok 2 diisi 20 ekor larva uji, kelompok 3 diisi
larva nyamuk C. quinquefasciatus Say, yang 40 ekor larva uji dan kelompok 4 diisi 60 ekor larva
meliputi empat tingkat kepadatan, yaitu 0, 20, 40 uji per botol. Kemudian semua botol ditutup plastik
dan 60 ekor per 1000 ml air limbah rumah tangga. bening, diikat dengan karet gelang dan diletakkan
Untuk masing-masing perlakuan dibuat tiga di tempat percobaan secara acak. Pengamatan
ulangan. Variabel terikat berupa COD, zat padat kualitas air limbah dilakukan pada hari ke-0, 2, 4
total, populasi bakteri Coliform dan Escherichia dan 6 setelah perlakuan.
coli, masing-masing diamati pada hari ke-0, 2, 4
dan 6 setelah perlakuan. Pengamatan
Untuk pengamatan hari ke-0 digunakan botol
Waktu dan Tempat Penelitian perlakuan untuk pengamatan ketiga parameter
Penelitian dilakukan pada bulan Oktober- kualitas air (masing-masing 3 botol untuk satu
Desember 1998 di Desa Merjosari, Kecamatan parameter yang diamati). Sedangkan pada
Lowokwaru, Kodya Malang, Jawa Timur. Sedang pengamatan hari ke ke-2, 4 dan 6, masing-masing
analisis COD, penimbangan zat padat total dan diambil 6 botol sampel per perlakuan per
penghitungan populasi bakteri Coliform dan E. Coli pengamatan; 3 botol untuk pengamatan zat padat
dilakukan di Laboratorium Kimia Analitik dan total, 3 botol untuk analisis COD dan populasi
Laboratorium Mikrobiologi FMIPA Universitas bakteri. Sebelum pengamatan dilakukan larva uji
Brawijaya Malang. diambil dari botol per comaad dengan cara disaring
dengan saringan halus (saringan teh). Adapun
Cara Kerja metode analisis parameter kualitas air limbah
dijelaskan pada sub bab di bawah.
Persiapan
Pada tahap ini dilakukan: koleksi telur dan COD (Chemical Oxygen Demand)
rearing larva nyamuk, pengambilan sampel air Analisis COD dilakukan dengan metode
limbah rumah tangga serta persiapan alat, bahan oksidasi bahan organik menggunakan kalium
dan analisis. Telur nyamuk dikoleksi di daerah kromat dengan prosedur sebagai berikut:
perumahan penduduk, yaitu pada jamban keluarga Dimasukkan 0,4 g HgSO4 ke dalam gelas
dengan pipet tetes. Telur ditampung pada wadah erlenmeyer COD (gelas refluks) 250 ml dan 5 buah
berisi air limbah kemudian dibiarkan menetas. batu didih. Ditambahkan 20 ml sampel air limbah
Larva dipelihara hingga umur empat hari, lalu dan 10 ml larutan kalium kromat 0,25N. Disiapkan
digunakan sebagai larva uji. 30 ml reagen asam sulfat-perak sulfat dan dengan
Air limbah rumah tangga diperoleh dari jamban menggunakan dispenser sebanyak 5 ml reagen
atau tempat penampungan air limbah rumah tangga tersebut dipindahkan ke dalam erlenmeyer COD,
sebelum dialirkan ke selokan. Sampel air limbah lalu dikocok perlahan-lahan hingga merata.
ditampung pada ember besar dan diaduk hingga Erlenmeyer COD diletakkan di bawah kondensor
homogen. Alat dan bahan yang digunakan meliputi yang telah dialiri air pendingin, kemudian sisa
botol air mineral ukuran 250 ml, plastik bening, reagen ditambahkan sedikit demi sedikit dengan
karet gelang, gelas ukur, pipet tetes, saringan dispenser sambil digoyang-goyang hingga
lembut, hand counter, erlenmeyer, kondensor tercampur merata. Kondensor dan erlenmeyer COD
Liebig, batu didih, pemanas listrik, bunsen, buret, dipanaskan pada bunsen selama 2 jam, didinginkan,
dispenser, pipet ukur, gelas beker, cawan penguap, lalu keduanya dipisahkan. Larutan dalam
10 SUGIYARTO dkk. - Reduksi Limbah oleh Larva Culex quinquefasciatus Say.

erlenmeyer COD diencerkan dengan 200 ml air Durham, kemudian diinkubasi pada suhu 440C atau
suling kemudian ditambahkan 3 - 4 tetes indikator 350C selama 24 atau 48 jam, hingga terbentuk gas.
feroin dan dititrasi dengan larutan standard fero Jumlah tabung Durham yang terisi gas dan yang
amonium sulfat 0,10 N sampai warna hijau-biru tidak merupakan dasar untuk menghitung populasi
menjadi coklat-merah. Untuk pembanding, dibuat bakteri. Perhitungan populasi bakteri merujuk pada
blangko yang diisi 20 ml air suling tabel MPN. Sebagai catatan: medium EC dengan
Dilakukan perhitungan nilai COD (mg O2/1) suhu inkubasi 440C dan lama inkubasi 24 jam
dengan rumus sebagai berikut: digunakan untuk menghitung bakteri E. coli,
(a - b) x N x 8000 sedang medium kaldu brilliant green lactose bile
COD = dengan suhu inkubasi 350C dan lama inkubasi 48
ml sampel jam digunakan untuk menghitung bakteri Coliform.
a: ml FAS untuk titrasi blangko
b: ml FAS untuk titrasi sampel Analisis Data
c: Normalitas larutan FAS Data dianalisis dengan menggunakan analisis
varian (ANAVA). Apabila terdapat perbedaan
Zat Padat Total nyata antar perlakuan pada setiap variabel yang
Analisis berat zat padat total dilakukan dengan diukur, maka dilanjutkan dengan uji beda nyata
metode penguapan (volatilisasi), diteruskan terkecil (BNT) pada tingkat kepercayaan 95%
penimbangan dengan urutan kerja sebagai berikut:
Cawan penguap dibersihkan, lalu dipanaskan
pada oven dengan suhu 105 0C selama 1 jam, HASIL DAN PEMBAHASAN
didinginkan dalam desikator dan ditimbang.
Dituangkan sebanyak 50 ml sampel air limbah yang Pengamatan hari ke-0, menunjukkan bahwa air
telah dikocok merata ke cawan penguap, lalu limbah rumah tangga yang dikoleksi di daerah
dimasukkan dalam oven; mula-mula suhu diatur pemukiman penduduk Desa Merjosari, Kecamatan
kurang dari 1000C hingga sampel yang tersisa Lowokwaru, Kodya Malang memiliki COD,
tinggal sedikit kemudian dinaikkan menjadi 105 0C populasi bakteri Coliform total dan bakteri E. coli
selama 1 jam, didinginkan dalam desikator dan cukup tinggi, namun kandungan zat padat totalnya
ditimbang. Dilakukan perhitungan berat zat padat relatif rendah. Menurut Alaerts dan Santika (1987),
total dengan rumus sebagai berikut: angka COD merupakan ukuran tingkat pencemaran
(a - b) x 1000 air oleh bahan-bahan organik yang secara alamiah
mg zat padat total = dapat dioksidasi melalui proses mikrobiologi.
c Sedang menurut Daryanto (1995) air limbah rumah
a: berat cawan penguapan tangga dikenal sebagai penghabis oksigen karena
b: berat cawan penguapan kosong tingginya kandungan bahan organik.
c: volume sampel air limbah
COD (kebutuhan oksigen kimia)
Populasi Bakteri Coliform dan E. Coli Hasil pengukuran COD air limbah dapat dilihat
Populasi bakteri coli dihitung menggunakan pada tabel 1. Sedangkan gambar 1 menunjukkan
metode MPN (Most Probable Number) dengan grafik hubungan antara hari pengamatan dan COD
urutan kerja sebagai berikut: untuk keempat perlakuan populasi larva uji.
Dibuat ekstrak agar triptosa-glukosa dan disimpan.
Air sampel diencerkan hingga 1/10.000. Disiapkan Tabel 1. Rerata COD air limbah rumah tangga akibat
tabung reaksi/fermentasi sebanyak 5 buah per perlakuan larva nyamuk C. quinquefasciatus Say. Pada
tingkat pengenceran, lalu diisi 10 ml kaldu lauril pengamatan hari ke-0, 2, 4 dan 6.
triptosa, dimasukkan dalam tabung Durham, ditutup
kapas dan disterilkan dalam autoklaf. Dituangkan 1 Perlakuan COD (ppm) hari ke:
0 2 4 6
ml sampel yang telah diencerkan ke dalam tabung
0 ekor 859,37 630,19 d 529,37 c 126,05c
fermentasi; disiapkan pula 1 tabung blangko berisi
20 ekor - 386,55 c 16,81 a 16,81 a
air suling. Dilakukan tes pendugaan dengan 40 ekor - 210,08 b 176,47 b 42,02 b
menginkubasi tabung fermentasi pada suhu 35 0C 60 ekor - 33,61 a 25,21 a 16,81 a
selama 24 jam atau 48 jam hingga terbentuk gas.
Dilakukan tes penegasan dengan mengambil 2 tetes Keterangan: Angka dalam kolom yang sama dan diikuti
sampel yang telah difermentasi dan dituangkan ke huruf yang sama tidak menunjukkan perbedaan yang
dalam tabung reaksi berisi medium EC atau kaldu nyata pada uji BNT dengan taraf kepercayaan 95%.
brilliant green lactose bile dan diberi tabung
BioSMART, Vol. 2, No. 2, Oktober 2000, hlm. 8-14 11

Pada pengamatan hari ke-0, yaitu kondisi air semakin menurunnya COD dengan bertambahnya
limbah rumah tangga pra-perlakuan nilai COD atau hari pengamatan. Penguraian bahan organik oleh
cukup tinggi, 859,37 ppm, sehingga kualitas air mikrobia menyebabkan menurunnya COD, namun
limbah mendekati kategori sangat buruk (mendekati laju pengurangan bahan organik oleh mikrobia ini
1000 ppm). Tanpa perlakuan larva uji, sebenarnya jauh lebih rendah dibanding laju penambahan
air limbah telah mengalami perubahan, tampak dari bahan organik baru. Menurut Daryanto (1995) pada
peningkatan nilai COD pada hari ke-2, 4 dan 6, pencemaran bahan organik tingkat berat, berbagai
dimana masing-masing menjadi 630,19; 529,37 dan jenis biota air akan mati akibat teracuni hasil-hasil
126,05 ppm. dekomposisi bahan organik, rendahnya kandungan
Dengan perlakuan larva uji, perubahan COD air oksigen dan pH.
limbah menjadi lebih cepat dan lebih besar. Pada
pengamatan hari ke-2 tampak bahwa semakin besar Zat Padat Total
populasi larva uji, maka semakin besar pula Data hasil pengamatan kandungan zat padat
perubahan nilai COD-nya, yakni menjadi 386,55; total disajikan pada tabel 2. Sedangkan gambar 2
210,08 dan 33,61 ppm, masing-masing pada menunjukkan grafik hubungan antara hari
perlakuan 20, 40 dan 60 ekor per 100 ml air limbah. pengamatan dan zat padat total.
Pada perlakuan 60 ekor larva uji, kualitas COD
air limbah berubah menjadi baik (di bawah 40 Tabel 2. Rerata zat padat total pada air limbah rumah
ppm). Pada pengamatan hari ke-4 kualitas air tangga akibat perlakuan larva nyamuk C. quinque-
limbah berubah menjadi sedang dan baik dengan fasciatus Say. Pada pengamatan hari ke-0, 2, 4 dan 6.
COD di bawah 200 ppm, yaitu masing-masing
Perlakuan Zat padat total (g/100 ml) hari ke:
16,81; 176,47 dan 25,21 ppm untuk perlakuan 20,
0 2 4 6
40 dan 60 ekor larva uji. Penurunan nilai COD air
0 ekor 0,99 0,99 a 0,99 a 0,99 a
limbah terlihat pula pada hari ke-6, yaitu masing- 20 ekor - 0,82 a 0,90 a 0,89 a
masing menjadi 16,81; 42,02 dan 16,81 ppm untuk 40 ekor - 0,80 a 0,82 a 0,86 a
perlakuan 20, 40 dan 60 ekor larva uji. Perlakuan 60 ekor - 0,66 a 0,92 a 0,96 a
20 ekor larva uji menunjukkan perubahan terbesar
mulai hari ke-4, yaitu menjadi 16,81 ppm, sedang Keterangan: Angka dalam kolom yang sama yang
pada perlakuan 60 ekor larva uji hal yang sama diikuti huruf yang sama tidak menunjukkan perbedaan
baru terjadi pada hari ke-6. yang nyata pada uji BNT dengan taraf kepercayaan 95%.
Berdasarkan analisis statistik, pengamatan hari
ke-2, 4 dan 6 terdapat perbedaan yang nyata dari Dari tabel 2 dan gambar 2 dapat diketahui
masing-masing perlakuan. Berdasarkan uji BNT, bahwa kandungan zat padat air limbah rumah
perbedaan yang nyata dari semua perlakuan terlihat tangga berkurang dari 100 g/l. Hal ini ditunjukkan
pada pengamatan hari ke-2, sedangkan pada hari oleh nilai zat padat total pada pengamatan hari ke-0
ke-4 dan 6 perlakuan 20 dan 60 ekor larva uji tidak yang hanya sebesar 0,99 g/100 ml. Dengan
menunjukkan perbedaan yang nyata. demikian, berdasarkan kandungan zat padat
Data parameter kualitas air limbah, terutama totalnya kualitas air limbah tersebut termasuk baik.
variabel COD pada perlakuan 0 ekor larva uji, Tanpa perlakuan larva uji, kandungan zat padat
menunjukkan bahwa perbaikan kualitas air limbah total air limbah ternyata tidak menunjukkan
dapat berlangsung secara alamiah, tampak dari perubahan dan tetap besar.

1000
900
800
: 0 ekor
700
COD (ppm

600 : 20 ekor
500 : 40 ekor
400 : 60 ekor
300
200
100
0
0 2 4 6
Hari Pengamatan

Gambar 1. Grafik perubahan COD air limbah rumah tangga pada berbagai perlakuan populasi larva uji.
12 SUGIYARTO dkk. - Reduksi Limbah oleh Larva Culex quinquefasciatus Say.

0.9

0.8

0.7
Zat Padat Total : 0 ekor
(g/100 ml) 0.6 : 20 ekor

0.5 : 40 ekor
: 60 ekor
0.4

0.3

0.2

0.1

0
0 2 4 6
Hari Pengamatan

Gambar 2. Grafik perubahan zat padat total air limbah rumah tangga pada berbagai perlakuan populasi larva uji

Dengan perlakuan larva uji, maka terjadi kandungan zat padat total kemungkinan karena air
perubahan kandungan zat padat total, yaitu menjadi limbah diambil dari penampungan air limbah yang
0,82; 0,80 ml dan 0,66 g/100 ml masing-masing tergenang, sehingga cukup banyak zat padat yang
untuk perlakuan 20, 40 dan 60 ekor larva uji per terendapkan. Meskipun kandungan zat padat
100 ml air limbah pada pengamatan hari ke-2. Pada totalnya rendah, namun dengan COD dan populasi
pengamatan hari ke-2 ini terjadi peningkatan bakteri yang tinggi maka air limbah rumah tersebut
besarnya zat padat yang tereduksi sejalan dengan tetap merupakan sumber masalah lingkungan.
bertambahnya populasi larva uji. Akan tetapi pada
pengamatan hari ke-4 terjadi peningkatan Populasi Bakteri Coliform dan E. Coli
kandungan zat padat total, baik pada perlakuan 20, Data hasil perhitungan populasi bakteri
40 dan 60 ekor larva uji, yaitu masing-masing 0,90; Coliform dan E. coli disajikan pada tabel 3 dan 4.
0,82 dan 0,92 g/100 ml. Pada pengamatan hari ke-6
terjadi lagi penurunan kandungan zat padat total Tabel 3. Hasil penghitungan bakteri Coliform pada air
untuk perlakuan 20 ekor larva uji, yaitu menjadi limbah rumah tangga akibat larva nyamuk
0,89 g/100 ml; sedangkan pada perlakuan 40 dan 60 C.quinquefasciatus Say. Pada hari ke-0, 2, 4 dan 6.
ekor larva uji justru tetap terjadi peningkatan
kandungan zat padat total, yaitu masing-masing Perlakuan Populasi Coliform/100 ml hari ke:
0 2 4 6
menjadi 0,86 dan 0,96 g/100 ml.
0 ekor >1800 350 > 1800 81
Dari analisis statistik terlihat bahwa semua
20 ekor - > 1800 1600 -
perlakuan larva uji tidak menunjukkan perbedaan 40 ekor - 1600 > 1800 -
yang nyata, baik pada pengamatan hari ke-2, 4 dan 60 ekor - > 1800 > 1800 -
6. Dengan demikian meskipun terjadi penurunan Keterangan: Data tidak dianalisis dengan uji statistik
kandungan zat padat total akibat perlakuan larva uji
pada air limbah rumah tangga, namun penurunan
tersebut relatif kecil dan tidak bermakna. Tabel 4. Hasil penghitungan bakteri E. coli pada air
Dari variabel kandungan zat padat total pada limbah rumah tangga akibat larva C. quinquefasciatus
perlakuan tanpa larva uji terlihat bahwa tidak Say. Pada pengamatan hari ke-0, 2, 4 dan 6.
terjadi perubahan kandungan zat padat total, baik
pada pengamatan kari ke-0, 2, 4 maupun 6. Hal ini Perlakuan Populasi E. coli/100 ml hari ke:
menunjukkan kecilnya dekomposisi alamiah bahan 0 2 4 6
organik menjadi gas. Hasil dekomposisinya tetap 0 ekor 350 350 81 64
20 ekor - > 1800 1600 -
tersuspensi atau terendapkan dalam air sampel, dan 40 ekor - 1600 81 -
menjadi bagian dari zat padat total yang diukur. 60 ekor - 430 > 1800 -
Dilihat dari kandungan zat padat totalnya, air Keterangan: Data tidak dianalisis dengan uji statistik
limbah rumah tangga yang diteliti termasuk dalam
standar kualitas air limbah yang baik. Rendahnya
SUGIYARTO dkk. - Reduksi Limbah oleh Larva Culex quinquefasciatus Say. 8

Dari tabel 3 dan 4 tampak bahwa perlakuan keberadaan larva uji dapat mempercepat dan
larva uji tidak berpengaruh terhadap populasi memperbesar penurunan COD air limbah rumah
bakteri Coliform dan E. coli. Hal ini ditunjukkan tangga. Hal ini dibuktikan secara statistik dengan
oleh ketidak-konsistenan populasi bakteri Coliform adanya perbedaan yang nyata dari COD antara air
dan E. coli dengan bertambahnya kepadatan larva limbah yang tidak diberi perlakuan larva uji dengan
uji maupun waktu perlakuan. Untuk itu dalam air limbah yang diberi perlakuan, baik pada
penelitian ini pengamatan populasi bakteri kepadatan 20, 40 dan 60 ekor larva per 100 ml air
Coliform dan E. coli pada hari ke-6 hanya limbah pada pengamatan hari ke-2, 4 maupun 6.
dilakukan pada perlakuan kontrol. Peningkatan COD air limbah akibat peningkatan
Tingginya populasi bakteri Coliform dan E. coli kepadatan larva uji ini kemungkinan disebabkan
menunjukkan bahwa air limbah yang diteliti oleh semakin besarnya bahan organik yang
tercemar tinja manusia atau hewan, sehingga dapat dimakan larva uji, sehingga semakin banyak bahan
menjadi sarang atau vektor penyakit. Alaerts dan organik yang tereduksi. Hal ini terutama terlihat
Santika (1987) mengemukakan bahwa semakin pada pengamatan hari ke-2, dimana kehidupan
tinggi populasi bakteri coli, maka semakin besar larva secara keseluruhan belum banyak terpengaruh
kemungkinan terdapatnya bakteri pathogen. kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan.
Dari variabel populasi bakteri Coliform tampak Akan tetapi pada pengamatan hari ke-4 dan 6
bahwa terjadi fluktuasi populasi bakteri Coliform tampak bahwa perlakuan kepadatan 20 ekor larva
yang tidak menentu; semula tinggi, rendah, tinggi justru menunjukkan nilai COD terendah. Hal ini
lalu rendah lagi. Sedangkan bakteri E. coli pada dikarenakan semakin tinggi tingkat kepadatan larva
perlakuan tanpa larva uji menunjukkan penurunan uji, semakin tidak menguntungkan kehidupan larva
populasi dengan bertambahnya hari. Hal ini karena adanya stres dan kematian. Dalam kondisi
kemungkinan karena adanya faktor lingkungan stres, larva uji banyak mengeluarkan feses atau sisa
yang tidak teramati pada penelitian, yang metabolisme lain sehingga meningkatkan
menentukan fluktuasi populasi bakteri tersebut. kebutuhan oksigen. Demikian juga larva uji yang
mati menambah bahan organik ke dalam air limbah
Pengaruh Kepadatan Larva Nyamuk sehingga COD meningkat.
Perbedaan kepadatan larva uji C.quinquefasciatus Penurunan COD selain disebabkan berkurang-
Say ternyata menyebabkan perbedaan kondisi air nya bahan organik yang dimakan larva uji, juga
limbah. Semakin tinggi kepadatan larva uji, maka disebabkan meningkatnya kandungan oksigen
semakin lambat laju pertumbuhan dan terlarut sehingga meningkatkan aktifitas penguraian
perkembangannya. Hal ini ditunjukkan oleh ukuran bahan organik oleh bakteri aerobik. Hal ini sesuai
tubuh larva yang semakin kecil dan sedikitnya penjelasan Mulyani (1997) bahwa keberadaan larva
jumlah larva yang berkembang menjadi pupa. Di nyamuk dalam air limbah rumah tangga dapat
samping itu semakin tinggi tingkat kepadatan larva meningkatkan DO rata-rata 0,17 ppm per hari.
uji aktifitas gerak larva semakin rendah, termasuk Peningkatan DO ini diduga disebabkan agitasi air
aktifitas makannya. Hal ini sesuai dengan oleh gerakan larva uji dalam mengambil oksigen ke
penjelasan Brown (1979) bahwa ukuran tubuh, laju permukaan air dan dalam mencari makanan.
pertumbuhan dan lama perkembangan larva Pengaruh tingkat kepadatan larva uji terhadap
nyamuk tergantung pada kondisi lingkungan air, penurunan kandungan zat padat total relatif kecil,
termasuk suhu, pH, ketersediaan makanan dan bahkan secara statistik tidak menunjukkan
tingkat kepadatan larva. Dijelaskan pula bahwa perbedaan nyata. Dari pengamatan hari ke-2
semakin tinggi tingkat kepadatan larva nyamuk tampak bahwa semakin tinggi tingkat kepadatan
akan menyebabkan stres dan kanibalisme. larva uji, maka semakin besar pula tingkat reduksi
Dilihat dari pengaruh kepadatan larva uji kandungan zat padat total, karena terjadi
terhadap kondisi lingkungan air, tampak adanya pemakanan bahan organik oleh larva uji.
pengaruh yang nyata dalam COD dan kandungan Tingkat kepadatan larva uji tidak berpengaruh
zat padat total Di samping itu pada tingkat terhadap populasi bakteri Coliform dan E. coli. Hal
kepadatan yang tinggi, warna air limbah menjadi ini kemungkinan karena laju pertumbuhan bakteri
kekuning-kuningan kemungkinan akibat keluarnya tersebut lebih cepat dibanding laju predasi oleh
sisa-sisa metabolisme larva uji. Akan tetapi tingkat larva uji. Dapat pula kerena bakteri tersebut masih
kepadatan larva uji tampaknya tidak mempengaruhi mampu hidup dan berbiak di dalam tubuh larva uji.
tingkat populasi bakteri Coliform dan E. coli. Kondisi ini menandakan bahwa fluktuasi populasi
Semakin tinggi kepadatan larva uji, maka bakteri Coliform dan E.coli lebih dikendalikan oleh
semakin besar perubahan COD air limbah rumah faktor lingkungan lain yang tidak diamati di dalam
tangga. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penelitian ini.
9 BioSMART, Vol. 2, No. 2, Oktober 2000, hlm. 8-14

Pengaruh Lama Perlakuan ml air limbah berarti semakin sedikit jumlah larva
Pengaruh lama perlakuan larva uji terhadap yang dibutuhkan per satuan volume air limbah
kualitas air limbah bervariasi tergantung kepadatan- dibanding perlakuan 40 dan 60 ekor larva uji. Di
nya. Pada kepadatan rendah (lebih rendah dari samping itu, pada perlakuan 20 ekor larva uji
kepadatan optimum), maka larva uji hidup normal, ternyata pertumbuhan dan perkembangan larva uji
sedang pada kepadatan tinggi aktifitas kehidupan- normal, sehingga tidak menimbulkan pengaruh
nya tidak normal. negatif terhadap lingkungan air dan bila larva uji
Untuk variabel COD, secara umum semakin tersebut dipanen untuk pakan ikan misalnya.
lama perlakuan maka semakin rendah COD-nya.
Namun hal ini tidak dapat dipastikan sebagai akibat
aktifitas larva uji ataukah mikroba yang secara KESIMPULAN
alamiah juga dapat mereduksi kandungan bahan
organik. Pada perlakuan 20 ekor larva uji, COD air Larva nyamuk Culex quinquefasciatus Say dapat
limbah menurun secara tajam sampai dengan menurunkan COD dan kandungan zat padat total air
pengamatan hari ke-4 dan tidak mengalami limbah, tetapi tidak mempengaruhi populasi bakteri
perubahan pada pengamatan hari ke-6. Tampaknya Coliform maupun Escherichia coli. COD air limbah
kepadatan 20 ekor ini masih di bawah tingkat menurun dari 859,37 ppm menjadi 16,81 ppm pada
kepadatan optimum. Tidak berubahnya COD dari hari ke-4 untuk perlakuan 20 ekor larva dan pada
pengamatan hari ke-4 sampai ke-6 kemungkinan hari ke-6 untuk perlakuan 60 ekor larva uji,
dikarenakan sebagian larva uji telah menjadi pupa, sedangkan penurunan kandungan zat padat total
sementara itu kulit larva (kitin) yang dilepaskan relatif kecil untuk semua perlakuan larva nyamuk
menambah jumlah bahan organik. Sedangkan pada sehingga secara statistik tidak menunjukkan
perlakuan 40 dan 60 ekor larva tampak penurunan perbedaan yang nyata. Perlakuan larva nyamuk 20
COD yang tajam sampai pengamatan hari ke-2 dan ekor per 100 ml air limbah menunjukkan efektifitas
penurunan yang relatif kecil pada pengamatan dan efisiensi tertinggi.
berikutnya. Hal ini kemungkinan pada saat awalnya
kehidupan larva masih normal karena makanan
masih mencukupi dan kondisi lingkungan belum DAFTAR PUSTAKA
terganggu.
Untuk variabel kandungan zat padat total Alaerts, G. dan S.S. Santika. 1987. Metode Penelitian Air.
tampak bahwa secara umum terjadi penurunan Surabaya:Usaha Nasional.
Brown, H.W. 1979. Dasar Parasitologi Klinis. Jakarta: PT
tajam kandungan zat padat total pada pengamatan Gramedia
hari ke-2, namun pada pengamatan hari ke-4 dan 6 Chandler, C.A. and C.P. Read. 1961. Introduction to
justru terjadi peningkatan kandungan zat padat Parasitology. New York: John Wiley & Sons.
total, karena dengan bertambahnya umur larva uji, Daryanto. 1995. Masalah Pencemaran. Bandung: Penerbit
Tarsito.
maka semakin besar tambahan bahan organik ke Harsfall, W.R. 1972. Moquitoes, Their Bionomics and Relation
dalam air limbah yang berasal dari feses, kulit to Diseases. New York: Hafner Publishing Company.
larva, sisa metabolisme dan larva mati. Hal ini jelas Hoedojo. 1989. “Vectors of Malria and Filariasis in Indonesia”
ditunjukkan oleh semakin besarnya pertambahan Buletin Penelitian Kesehatan No. 17 (2): 181-184
kandungan zat padat total pada hari ke-4 dan 6 Mulyani. 1997. “Pengaruh Pertumbuhan Larva Nyamuk Culex
quinquefasciatus Say Terhadap Faktor Fisiokokimia Media
untuk perlakuan 40 dan 60 ekor larva uji. Tumbuhnya” Seminar Biologi. Surakarta: P. Biologi
PMIPA FKIP UNS.
Efektifitas dan Efisiensi Odum, E.P. 1996. Dasar-dasar Ekologi. Yogyakarta: Gadjah
Secara umum keberadaan larva uji dalam air Mada University Press.
Soemirat, J. 1994. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah
limbah rumah tangga dapat mempercepat perbaikan Mada University Press.
kualitas air. Perlakuan 20 ekor larva uji per 100 ml Sugiharto. 1987. Dasar-dasar Pengelolaan Air Limbah.
air limbah menunjukkan efektifitas dan efisiensi Jakarta: UI-Press.
yang lebih tinggi dibanding perlakuan 40 dan 60 Suryani, N.T. 1997. “Preferensi Bertelur dan Daya Tetas Telur
ekor larva uji per 100 ml air limbah, hal ini Nyamuk Culex quinquefasciatus Say Pada Berbagai
Macam Air Limbah.” Seminar Biologi. Surakarta: P.
ditunjukkan oleh efektifnya perubahan kualitas air Biologi PMIPA FKIP UNS.
limbah yang antara lain ditunjukkan oleh perubahan Tanjung, H.S. dan S. Hadisusanto. 1987. Pencemaran
COD. Dengan perlakuan 20 ekor larva uji per 100 Lingkungan. Yogyakarta: F. Biologi UGM.