You are on page 1of 18

ENVIRO 2 (1): 25-40, Maret 2002, ISSN: 1411-4402

© 2002 PPLH-Lemlit UNS Surakarta.

Ekosistem Mangrove sebagai Kawasan Peralihan Ekosistem Perairan


Tawar dan Perairan Laut
Mangrove ecosystem as ecotone of freshwater and marine ecosytems

AHMAD DWI SETYAWAN


Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta 57126

Diterima: 6 Januari 2002. Disetujui: 11 Maret 2002.

terestrial yang dapat menginvasi dan tumbuh


Abstract. Mangrove merupakan salah satu ekosistem di lingkungan air laut (MacNae, 1968; Chap-
langka dan khas di dunia, karena luasnya hanya 2%
permukaan bumi. Indonesia merupakan kawasan
man, 1976; Tomlinson, 1986; Nybakken, 1993;
ekosistem mangrove terluas di dunia. Ekosistem ini Kitamura dkk., 1997). Hutan mangrove disebut
memiliki peranan sosial-ekonomi dan ekologi yang juga vloedbosh, hutan pasang surut, hutan
sangat penting. Fungsi sosial-ekonomi hutan payau, rawa-rawa payau atau hutan bakau.
mangrove meliputi sumber kayu bangunan, kayu Istilah yang sering digunakan adalah hutan
bakar, kayu lapis, bubur kertas, tiang telepon, tiang
pancang, bagan penangkap ikan, dermaga, bantalan mangrove atau hutan bakau (Kartawinata,
kereta api, kayu untuk mebel dan kerajinan tangan, 1979). Namun untuk menghindari kesalahan
atap huma, tannin, bahan obat, gula, alkohol, asam literasi dianjurkan penggunaan istilah mangro-
asetat, protein hewani, madu, karbohidrat dan bahan ve karena bakau adalah nama lokal anggota
pewarna. Fungsi ekologi hutan mangrove meliputi
tempat sekuestrasi karbon, remediasi bahan
genus Rhizophora (Widodo, 1987).
pencemar, menjaga stabilitas pantai dari erosi, Kata mangrove merupakan perpaduan
intrusi air laut, dan tekanan badai, menjaga bahasa Melayu manggi-manggi dan bahasa
kealamian habitat, menjadi tempat bersarang, Arab el-gurm menjadi mang-gurm. Keduanya
pemijahan dan pembesaran berbagai jenis ikan, sama-sama berarti Avicennia (api-api),
udang, kerang, burung dan fauna lain, pembentuk
daratan, serta memiliki fungsi sosial sebagai areal pelatinan nama Ibnu Sina, seorang dokter
konservasi, pendidikan, ekoturisme dan identitas Arab yang banyak mengidentifikasi manfaat
budaya. Akan tetapi tingkat kerusakannya ekosistem obat tumbuhan mangrove (Jayatissa dkk.,
mangrove dunia, termasuk Indonesia, sangat cepat 2002; Ng dan Sivasothi, 2001). Pakar lain
dan dramatis. Ancaman utama kelestarian ekosistem
mangrove adalah kegiatan manusia, seperti
berpendapat kata mangrove merupakan per-
pembuatan tambak (ikan dan garam), penebangan paduan bahasa Portugis mangue (tumbuhan
hutan, dan pencemaran lingkungan. Di samping itu laut) dan bahasa Inggris grove (belukar), yakni
terdapat pula ancama lain seperti reklamasi dan belukar di tepi laut (MacNae, 1968). Kata
sedimentasi, pertambangan dan sebab-sebab alam mangrove dapat ditujukan untuk menyebut
seperi badai. Restorasi hutan mangrove mendapat
perhatian secara luas mengingat tingginya nilai spesies, tumbuhan, hutan atau komunitas
sosial-ekonomi dan ekologi ekosistem ini. Restorasi (FAO, 1982; Ng dan Sivasothi, 2001).
ini berpotensi besar menaikkan nilai sumber daya
hayati mangrove, memberi mata pencaharian
penduduk, mencegah kerusakan pantai, menjaga
biodiversitas dan produksi perikanan.
ASAL DAN DISTRIBUSI

Kata kunci: mangrove, ekosistem, ekoton. Asal usul spesies mangrove


Para peneliti berteori bahwa mangrove
berasal dari kawasan Indo-Malaysia, karena
PENDAHULUAN kawasan ini merupakan pusat biodiversitas
mangrove dunia. Spesies mangrove tersebar
Hutan mangrove atau mangal adalah ke seluruh dunia karena propagul dan bijinya
sejumlah komunitas tumbuhan pantai tropis dapat mengapung dan terbawa arus laut. Dari
dan sub-tropis yang didominasi oleh pohon Indo-Malaysia, spesies mangrove tersebar ke
dan semak tumbuhan bunga (angiospermae) barat hingga India dan Afrika Timur, serta ke
26 ENVIRO 2 (1): 25-40, Maret 2002

arah timur hingga Amerika dan Afrika Barat. pantai daerah tropis dan subtropis, pada garis
Penyebaran mangrove dari pantai barat lintang di antara 25oLU dan 25oLS, meliputi
Amerika ke laut Karibia melewati selat yang Asia, Afrika, Australia dan Amerika. Sebagai
kini menjadi negara Panama, antara 66 s.d. 23 perkecualian, mangrove ditemukan di selatan
juta tahun yang lalu, tanah genting ini masih hingga Selandia Baru (38oLS) dan di utara
berupa laut. Selanjutnya propagul mangrove hingga Jepang (32oLU). Faktor lingkungan
terbawa arus hingga pantai barat Afrika. setempat seperti aliran laut yang hangat,
Mangrove di Afrika Barat dan Amerika embun beku, salinitas, gelombang laut, dan
dikolonisasi oleh spesies yang sama dan lain-lain mempengaruhi distribusi mangrove
keragamannya lebih rendah, karena harus (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).
melewati samudera Pasifik yang luas, Berdasarkan keanekaragaman spesiesnya,
sedangkan mangrove di Asia, India, dan Afrika Walsh (1974) membagi dunia mangrove
Timur memiliki lebih banyak spesies, karena menjadi dua kawasan utama, yaitu kawasan
jaraknya yang lebih dekat dengan kepulauan Indo-Pasifik Barat yang meliputi Asia, India
Nusantara (Walsh, 1974; Tomlison, 1986). dan Afrika Timur, serta kawasan Amerika -
Distribusi mangrove Afrika Barat. Mangrove dari kawasan Indo-
Mangrove biasa ditemukan di sepanjang Pasifik Barat sangat terkenal dan beragam,

B
A

Indonesia (42.550 km2)


Amerika 23.36%
Brazil (13.400 km2)
27%
Australia (11.500 km2)
Asia Tenggara & 36.63%
Nigeria (10.515 km2)
Selatan
41% Kuba (7.848 km2)
India (6.700 km2)
7.36%
M alaysia (6.424 km2)
Banglades (5.767 km2)
6.31% Papua Nugini (5.399 km2)
Afrika Barat
2.92% M eksiko (5.315 km2
16% 5.77%
2.96% Lain-lain (66.727 km2)
Afrika Timur & Australia & 4.31%
Timur Tengah Oseania 3.17%
3.68%
6% 10% 3.53%

Gambar 1. Distribusi mangrove dunia dari total luas 18.107.700 ha. Keterangan: A. Kawasan Indo-Pasifik
Barat, B. Kawasan Amerika – Afrika Barat (Spalding et al., 1997; FAO 1985; Walsh, 1974).
SETYAWAN – Ekosistem mangrove 27

terdiri lebih dari 40 spesies, sedangkan di memberi kontribusi nyata dalam pembentukan
Afrika Barat dan Amerika hanya sekitar 12 hutan mangrove. Menurut Lovelock (1993) di
spesies (Gambar 1.). dunia terdapat 69 spesies mangrove tergolong
Tumbuhan mangrove dari kedua kawasan dalam 20 familia.
tersebut memiliki perbedaan cukup menyolok. Jumlah tumbuhan mangrove di Indonesia
Rhizophora dan Avicennia, dua genus utama masih diperdebatkan. Jumlah yang sering
mangrove, diwakili spesies yang berbeda diacu adalah 37 spesies (Soemodihardjo dan
mengindikasikan adanya spesiasi yang Ishemat, 1989) atau 45 spesies (Spalding et
mandiri. Di Indo-Pasifik Barat ditemukan al., 1997) atau 47 spesies (Anonim, 1997).
Avicennia oficinalis, A. mari-na, Rhizophora Spesies utama berasal dari genera
mucronata, R. apiculata, Bruguiera Rhizophora, Bruguiera, Xylocarpus, Avicennia,
gymnorhiza, dan Sonneratia alba, sedang di Ceriops, Excoecaria, Nypa, Lumnitzera,
Atlantik ditemukan A. nitida, R. racemosa, R. Sonneratia, Heritiera, dan Aegiceras
mangle, R. harrissonii, dan Laguncu-laria (Soemodihardjo dan Sumardjani, 1994).
racemosa (Marius, 1977; Aksornkoae, 1997).
Ciri-ciri tumbuhan mangrove
Mangrove di Indonesia Tumbuhan mangrove merupakan tumbuh-
Indonesia memiliki hutan mangrove terluas an berpembuluh, dapat menggunakan air
di dunia. Sekitar 61.250 km2 atau sepertiga garam sebagai sumber air, dengan adaptasi
mangrove dunia terdapat di Asia Tenggara, daun keras, tebal, mengkilat, sukulen, serta
dimana 42.550 km2 terdapat di Indonesia memiliki jaringan penyimpan air dan garam.
(Spalding et al., 1997). Ekosistem mangrove Tumbuhan mangrove memiliki mekanisme
hanya mencakup 2% daratan bumi, sehingga untuk mencegah masuknya sebagian besar
secara global sangat langka dan bernilai garam ke dalam jaringan dan dapat
dalam konservasi (Ong, 2002). Ekosistem ini mengekskresi atau menyimpan kelebihan
merupakan bagian dari wilayah pesisir yang garam. Biji dapat mengapung terbawa arus ke
mencakup 8% bumi (Birkeland, 1983; Ray dan area yang luas dan dapat berkecambah saat
McCormick, 1994; Clark, 1996). masih di pohon induk (vivipar), serta tumbuh
Mangrove di Indonesia umumnya dengan cepat setelah jatuh dari pohon. Akar
terpencar-pencar dalam kelompok-kelompok memiliki struktur tertentu (pneumatofora) yang
kecil, sebagian besar terletak di Irian Jaya menyerap oksigen pada saat surut dan
(Papua). Mangrove tumbuh pada berbagai mencegah kelebihan air pada saat pasang,
substrat seperti lumpur, pasir, terumbu karang sehingga dapat tumbuh pada tanah anaerob
dan kadang-kadang pada batuan, namun (Tomlinson, 1986)..
paling baik tumbuh di pantai berlumpur yang Tumbuhan mangrove berbentuk pohon dan
terlindung dari gelombang dan mendapat semak dengan bentuk dan ukuran beragam.
masukan air sungai. Tumbuhan mangrove di Semuanya termasuk dikotil kecuali Nypa
Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi dapat fruticans. Mangrove mudah dikenali karena
mencapai tinggi 50 m dengan diameter 50 cm, tumbuh pada area di antara rata-rata pasang
meski umumnya hanya setinggi 25 m dengan dan pasang tertinggi, serta pembentukan akar
diameter 18 cm (FAO, 1985). yang sangat menyolok untuk menyokong dan
mengait. Sebagian sistem akar terletak di atas
tanah dan berfungsi untuk menyerap oksigen
KLASIFIKASI MANGROVE selama surut. Acrostichum merupakan satu-
satunya Pterydophyta terestrial mangrove (Ng
Klasifikasi taksonomi dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).
Terdapat berbagai macam klasifikasi
tumbuhan mangrove. Menurut Tomlinson Klasifikasi vegetasi mangrove
(1986), mangrove meliputi 16-24 familia terdiri Komposisi dan struktur vegetasi hutan
dari 54-75 spesies. Sedangkan menurut Field mangrove beragam, tergantung kondisi
(1996), spesies mangrove sejati sekurang- geofisik, geografi, geologi, hidrografi, bio-
kurangnya terdiri dari 17 familia, meliputi geografi, iklim, tanah, dan kondisi lingkungan
sekitar 80 spesies, dimana 50-60 diantaranya lainnya.
28 ENVIRO 2 (1): 25-40, Maret 2002

Tomlinson (1986) mengklasifikasikan vegetasi mangrove


menjadi: mangrove mayor, mangrove minor dan tumbuhan
asosiasi. Tumbuhan mangrove mayor (true mangrove)
sepenuhnya berhabitat di kawasan pasang surut, dapat
membentuk tegakan murni, beradaptasi terhadap salinitas
melalui pneumatofora, embryo vivipar, serta mekanisme filtrasi
dan ekskresi garam, secara taksonomi berbeda dengan
tumbuhan darat setidaknya hingga tingkat genus, antara lain:
Avicennia, Bruguiera, Ceriops, Lumnitzera, Nypa fruticans,
Rhizophora, dan Sonneratia.
Mangrove minor dibedakan oleh ketidakmampuannya mem-
bentuk komponen utama yang menyolok, jarang membentuk
tegakan murni, dan hanya menempati tepian habitat, misalnya:
Acrostichum, Aegiceras, Excoecaria, Heritiera, Osbornia,
Pemphis, Scyphiphora, dan Xylocarpus.
Tumbuhan asosiasi mangrove adalah tumbuhan yang toleran
terhadap salinitas, tidak hanya ditemukan di hutan mangrove,
merupakan vegetasi transisi ke daratan atau lautan, dan dapat
berinteraksi dengan mangrove mayor, seperti Terminalia,
Hibiscus, Thespesia, Calophyllum, Ficus, Casuarina, Ipomoea
pes-caprae, Sesuvium portucalastrum, Salicornia arthrocnemum,
Gambar. Morfologi khas Cocos nucifera, Metroxylon sagu, Dalbergia, Pandanus, Hibiscus
tumbuhan mangrove. tiliaceus, dan lain-lain.

EKOSISTEM MANGROVE yang hangat (Walsh, 1974; Goldman dan


Horne, 1983). Proses internal pada komunitas
Komunitas mangrove tersusun atas ini seperti fiksasi energi, produksi bahan
tumbuhan, hewan dan mikrobia, namun tanpa organik dan daur hara sangat dipengaruhi
hadirnya tumbuhan mangrove, komunitas ini proses eksternal seperti suplai air tawar dan
tidak dapat disebut ekosistem mangrove pasang surut, serta suplai hara dan stabilitas
(Jayatissa et al., 2002), karena tumbuhan sedimen (Blasco, 1992). Faktor utama yang
mangrove mayor merupakan penyusun mempengaruhi komunitas ini adalah salinitas,
utamanya (Lugo dan Snedaker, 1974; Hamil- tipe tanah, dan resistensi terhadap arus air
ton dan Snedaker, 1984; Tomlinson, 1986). dan gelombang laut (Chapman, 1992; Steenis,
Identifikasi komposisi vegetasi mangrove 1958). Faktor-faktor ini bervariasi dari laut ke
merupakan prasyarat untuk memahami semua daratan hingga terbentuk zonasi (Giesen, 1991).
aspek struktur dan fungsi mangrove, Ekosistem mangrove merupakan bentuk
sebagaimana kondisi biogeografi, konservasi pertemuan lingkungan darat dan laut, se-
dan manajemennya (Jayatissa et al., 2002). hingga hewan dari kedua lingkungan ini dapat
ditemukan di dalamnya. Sebagian kecil hewan
Ekosistem peralihan menggunakan mangrove sebagai satu-
Ekosistem mangrove merupakan ekosistem satunya habitat, sebagian dapat berpindah-
peralihan atau ekoton antara komunitas laut pindah meskipun lebih sering ditemukan di
dengan komunitas perairan tawar di pantai hutan mangrove, sedang lainnya berpindah-
dan daratan, sehingga memiliki kekhasan pindah berdasarkan musim, tahapan siklus
tersendiri (Dahuri dkk., 1996). Komunitas ini hidup, atau pasang surut laut (Ng dan
sangat berbeda dengan komunitas laut, Sivasothi, 2001; Tomlinson, 1986).
namun memiliki beberapa persamaan dengan
komunitas daratan dengan terbentuknya rawa- Komponen abiotik ekosistem mangrove
rawa air tawar sebagai zona antara. Faktor lingkungan yang mempengaruhi
Hutan mangrove terbentuk karena adanya mangrove dalam jangka panjang adalah ke-
perlindungan dari ombak, masukan air tawar, tinggian dan fluktuasi permukaan laut. Adapun
sedimentasi, aliran air pasang surut, dan suhu faktor-faktor jangka pendek yang berpengaruh
SETYAWAN – Ekosistem mangrove 29

adanya hidrogen
sulfida (H2S), hasil
kegiatan bakteri anae-
rob pereduksi bele-
rang (e.g. Desulfo-
vibrio). Variasi setem-
pat dapat terjadi kare-
na adanya hewan-
hewan liang seperti
udang dan kepiting,
yang menyebabkan
udara masuk melalui
lubang-lubang di
tanah. Kondisi tanah
merupakan penyebab
terbentuknya zonasi
hewan dan tumbuhan,
misalnya kepiting
yang berbeda me-
nempati kondisi tanah
yang berbeda pula, di
Gambar. Tipe ekosistem mangrove. sisi lain tumbuhan
Avicennia dan Sonne-
adalah suhu, salinitas, arus laut, angin badai, ratia hidup dengan baik pada tanah berpasir,
kemiringan pantai, dan substrat sedimen sedangkan Rhizophora lebih menyukai lumpur
tanah. Kebanyakan mangrove tumbuh di lembut, adapun Bruguiera menyukai tanah
tanah lumpur, namun dapat pula tumbuh di lempung yang mengandung sedikit bahan or-
tanah gambut, pasir, dan batu karang. Apabila ganik (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).
kondisi pasang surut optimal, mangrove dapat Derajat keasaman (pH). Adanya kalsium
tumbuh jauh ke pedalaman sepanjang muara dari cangkan moluska dan karang lepas pantai
sungai dan teluk (Ng dan Sivasothi, 2001; menyebabkan air di ekosistem mangrove
Lovelock, 1993). Di Kalimantan, hutan ini bersifat alkali. Namun tanah mangrove bersifat
dapat menjorok hingga 150 km ke hulu sungai, netral hingga sedikit asam, karena aktivitas
bahkan di Sungai Kapuas hingga 240 km bakteri pereduksi belerang dan adanya
(Steenis, 1958). sedimentasi tanah lempung yang asam.
Tanah. Tanah mangrove merupakan tanah Aktivitas bakteri pereduksi belerang ditunjuk-
sedimen alluvial yang dibawa dan diendapkan kan oleh tanah gelap, asam dan berbau telur
oleh sungai dan laut. Tanah ini dapat busuk (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).
diklasifikasikan sebagai pasir (sand), lumpur/ Oksigen. Berbeda dengan tanah kering,
debu halus (silt) dan lempung/tanah liat (clay). lumpur hampir tidak memiliki rongga udara
Tanah disusun oleh ketiganya dengan untuk menyerap oksigen. Jumlah oksigen
komposisi berbeda-beda. Topsoil tanah terlarut dalam perairan mangrove umumnya
mangrove biasanya bertipe pasir atau lebih rendah daripada di laut terbuka.
lempung. Topsoil pasir berwarna lebih terang, Kandungan ini semakin rendah pada tempat
porous, dapat dilewati air pada saat pasang yang kelebihan bahan organik, mengingat
dan mengalami aerasi pada saat surut, oksigen diserap untuk peruraian bahan
sedangkan topsoil lempung berwarna lebih organik tersebut, sehingga terbentuk zona
gelap, kurang porous dan tidak teraerasi anoksik. Oksigen pada permukaan sedimen
dengan baik. Tanah subsoil selalu jenuh air (sediment water interface) digunakan bakteri
atau tergenang, sehingga hanya teraerasi untuk mengurai bahan organik dan respirasi.
sedikit, sangat kaya bahan organik, namun Oksigen ini diperoleh dari sirkulasi pasang-
terurai sangat lambat. Tanah ini berwarna surut dan pengaruh atmosfer. Di bawahnya
abu-abu gelap atau hitam (gleying), dan lumpur yang mengandung bahan organik dan
menghasilkan bau menyengat menunjuk-kan partikel-partikel halus menghasilkan kondisi
30 ENVIRO 2 (1): 25-40, Maret 2002

anoksik, yang hanya ditumbuhi bakteri Aliran pasang-surut. Laut mengalami


anaerob yang dapat mengurai bahan organik aliran air pasang (HW; high water, rising, flood
tanpa oksigen dan menghasilkan H2S (Ng dan tide) dua kali sehari, bergantian dengan aliran
Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). air surut (LW; low, receding, ebb tide). Hal ini
Nutrien. Nutrien yang dihasilkan produser disebabkan tarikan gravitasi dan gaya
primer hutan mangrove dilepaskan ke sentrifugal rotasi bumi, bulan dan matahari,
komunitas dalam bentuk detritus melalui serta kondisi geografi setempat. Aliran pasang
peruraian serasah daun dan kayu. Dapat pula surut biasanya campuran semi-diurnal, yakni
melalui perumputan yang dilakukan herbivora dua pasang tinggi dan dua pasang rendah
sehingga terjadi pemindahan energi. Nutrien yang dalam satu hari tingginya tidak sama.
ekosistem mangrove tidak hanya dihasilkan Waktu pasang bergeser 50 menit sehari,
oleh ekosistem itu sendiri (autochthonous), karena tergantung peredaran bulan, yaitu 24
tetapi juga dari sungai atau laut di luar jam 50 menit. Ketika bulan dan matahari
ekosistem (allochthonous). Hujan secara sejajar pada bulan purnama terjadi aliran
teratur menyapu detritus dari tepian pantai dan pasang tertinggi (high water spring tide;
daerah aliran sungai ke dalam mangrove. HWST). Kondisi yang sama pada bulan baru
Pada saat pasang naik, laut membawa bahan menyebabkan terjadi surut terendah (low
organik atau mikroorganisme tersuspensi ke water spring tide; LWST). Keduanya terjadi
ekosistem mangrove. Bersama dengan secara bergantian setiap dua minggu sekali.
surutnya air laut, mikroorganisme ini tersaring Rata-rata jangkauan antara pasang dan surut
oleh tanah. Sebaliknya pada saat surut nutrien pada bulan baru dapat mencapai 3,5 m,
dari daratan pantai juga terbawa ke laut (Ng sedangkan pada bulan purnama dapat
dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). mencapai 10 m. Daerah pantai yang terletak di
Sinar, suhu dan kelembaban. Kondisi di antara pasang tertinggi (highest high water
atas dataran terbuka dan di bawah kanopi spring tide; HHWST) dan surut terendah
hutan sangat berbeda. Dataran lumpur yang (lowest low water spring tide; LLWST) dikenal
tersinari matahari langsung pada saat laut sebagai zona pasang surut (intertidal). Hutan
surut di siang hari menjadi sangat panas dan mangrove tumbuh di antara rata-rata pasang
memantulkan cahaya, sedangkan permukaan (mid-tide level; MTL) dan pasang tertinggi
tanah di bawah kanopi hutan mangrove (HHWST). Pola pasang surut bervariasi
terlindung dari sinar matahari dan tetap sejuk. tergantung lokasi dan waktu. Tingginya
Tingkat kelembaban hutan mangrove lebih jangkauan pasang-surut dan faktor-faktor lain
kering dari pada hutan tropis pada umumnya menyebabkan terbentuknya zonasi horizontal
karena adanya angin. Suhu dan kelembaban dan vertikal spesies mangrove (Ng dan
udara sangat berpengaruh terhadap Sivasothi, 2001).
keanekaragaman spesies di suatu habitat (Ng Salinitas. Salinitas kawasan mangrove
dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). sangat bervariasi, berkisar 0,5-35 ppt, karena
Angin dan arus laut. Secara garis besar adanya masukan air laut pada saat pasang
iklim di Indonesia dibagi menjadi musim hujan dan air tawar dari sungai, khususnya pada
(Oktober-April) dan kemarau (April-Oktober), musim hujan. Air tawar memiliki salinitas 0-0,4
namun secara lebih detail dapat dibagi ppt. Air payau merupakan air pada derajat
menjagi empat musim (monsoon), yaitu: oligohalin (0,5-5 ppt) hingga mesohalin (5-18
musim timur laut (Desember-Maret) dengan ppt), sedangkan air laut umumnya berderajat
angin kuat dan hujan lebat, khususnya dua polihalin (18-30 ppt). Salinitas juga bervariasi
bulan pertama; antar musim (pancaroba) yang tergantung kedalaman badan air di muara
pertama (April) dengan angin tidak terlalu sungai. Garam yang terkandung dalam air laut
kuat; musim barat daya (Mei-September) cenderung tenggelam karena berat jenis (BJ)-
dengan angin kuat dan hujan sangat sedikit; nya lebih tinggi. Pada saat laut surut, kolam-
serta antar musim yang kedua (Oktober- kolam yang terbentuk pada saat laut pasang
Nopember) seperti antar musim yang pertama, dapat menjadi hipersalin (>30 ppt), karena
namun curah hujannya kadang-kadang lebih naiknya konsentrasi garam akibat evaporasi.
tinggi. Arus laut terbentuk oleh musim angin, Sungai-sungai kecil dalam hutan mangrove
sehingga ketinggian gelombang laut mengikuti bersifat oligohalin dan semakin ke dalam
musim ini (Ng dan Sivasothi, 2001). semakin tawar (Ng dan Sivasothi, 2001).
SETYAWAN – Ekosistem mangrove 31

ADAPTASI TUMBUHAN MANGROVE Aegiceras memiliki alat sekresi garam.


TERHADAP LINGKUNGAN Konsentrasi garam dalam getah biasanya
tinggi, sekitar 10% dari air laut. Sebagian
Proses evolusi menyebabkan spesies garam dikeluarkan melalui kelenjar garam dan
mangrove memiliki beberapa sifat biologi yang selanjutnya diterbangkan angin atau hujan.
khas sebagai bentuk adaptasi, yang terutama Hal ini bisa dirasakan dengan menjilat daun
ditujukan untuk mengatasi salinitas yang tumbuhan mangrove atau bagian lainnya (Ng
fluktuatif, kondisi lumpur yang anaerob dan dan Sivasothi, 2001).
dan tidak stabil, serta untuk reproduksi. Ultrafiltrasi. Tumbuhan mangrove seperti
Bruguiera, Lumnitzera, Rhizophora, dan
Salinitas Sonneratia tidak memiliki alat ekskresi garam.
Kebanyakan tumbuhan memiliki toleransi Untuk itu membran sel di permukaan akar
sangat rendah terhadap salinitas, sehingga mampu mencegah masuknya sebagian besar
tidak mampu tumbuh di dalam atau di dekat garam dan secara selektif menyerap ion-ion
air laut. Hal ini terjadi karena kebanyakan tertentu melalui proses ultrafiltrasi. Namun hal
jaringan makhluk hidup lebih encer daripada ini tidak selalu berlangsung sempurna, kele-
air laut, akibatnya air dari dalam jaringan bihan garam yang terserap dibuang melalui
tumbuhan dapat keluar akibat proses osmosis, transpirasi lewat stomata atau disimpan dalam
sehingga tumbuhan kekeringan, menjadi layu, daun, batang dan akar, sehingga seringkali
dan mati. Lingkungan yang keras ini daun tumbuhan mangrove memiliki kadar
menyebabkan diversitas hutan mangrove garam sangat tinggi (Ng dan Sivasothi, 2001).
cenderung lebih rendah daripada umumnya
hutan hujan tropis (Ng dan Sivasothi, 2001; Akar napas
Lovelock, 1993). Tumbuhan mangrove memiliki adaptasi
Tumbuhan mangrove tumbuh paling baik khusus untuk tumbuh di tanah yang lembut,
pada lingkungan air tawar dan air laut dengan asin dan kekurangan oksigen, dimana keba-
perbandingan seimbang (1:1). Salinitas yang nyakan tumbuhan tidak mampu. Suplai oksi-
tinggi pada dasarnya bukan prasyarat untuk gen ke akar sangat penting bagi pertumbuhan
tumbuhnya mangrove, terbukti beberapa dan penyerapan nutrien. Karena tanah
spesies mangrove dapat tumbuh dengan baik mangrove seringkali anaerob, maka beberapa
pada lingkungan air tawar. Di Pulau Christ- tumbuhan mangrove membentuk struktur
mas, Bruguiera cylindrica tumbuh selama khusus pneumatofora (akar napas). Akar yang
ribuan tahun pada danau air tawar, sedangkan menjulang di atas tanah ini dipenuhi dengan
di Kebun Raya Bogor B. sexangula tumbuh jaringan parenkim spons (aerenkim) dan
selama ratusan tahun pada lingkungan air memiliki banyak pori-pori pecil di kulit kayu
tawar. Terhentinya penyebaran mangrove ke sehingga oksigen dapat masuk dan diangkut
lingkungan perairan tawar tampaknya dise- ke sistem akar di bawah tanah. Akar ini juga
babkan ketidakmampuan untuk berkompetisi berfungsi sebagai struktur penyokong pohon
dengan spesies lain, sehingga mengem- di tanah lumpur yang lembut. Tumbuhan
bangkan adaptasi untuk tumbuh di air asin, mangrove memiliki bentuk akar napas yang
dimana tumbuhan lain tidak mampu bertahan. berbeda-beda (Ng dan Sivasothi, 2001).
Adaptasi terhadap salinitas umumnya berupa Akar horizontal yang menyebar luas,
kelenjar ekskresi untuk membuang kelebih dimana pneumatofora tumbuh vertikal ke atas
garam dari dalam jaringan dan ultrafiltrasi merupakan jangkar untuk mengait pada
untuk mencegah masuknya garam ke dalam lumpur. Terdapat empat tipe pneumatofora,
jaringan. Tumbuhan mangrove dapat yaitu akar penyangga (stilt, prop), akar pasak
mencegah lebih dari 90% masukan garam (snorkel, peg, pencil), akar lutut (knee, knop),
dengan filtrasi pada akar. Garam yang tetap dan akar papan (ribbon, plank). Tipe akar
terserap dengan cepat diekskresikan oleh pasak, akar lutut dan akar papan dapat
kelenjar garam di daun atau disimpan dalam berkombinasi dengan akar tunjang pada
kulit kayu dan daun tua yang hampir gugur pangkal pohon. Sedangkan akar penyangga
(Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). akan mengangkat pangkal batang ke atas
Ekskresi garam. Beberapa tumbuhan tanah (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock,
mangrove seperti Avicennia, Acanthus dan 1993).
32 ENVIRO 2 (1): 25-40, Maret 2002

Akar penyangga (sangga). Pada Rhizophora akar


panjang dan bercabang-cabang muncul dari pangkal
batang. Akar ini dikenal sebagai prop root dan pada
akhirnya akan menjadi stilt root apabila batang yang
disangganya terangkat hingga tidak lagi menyentuh
tanah. Akar penyangga membantu tegaknya pohon
karena memiliki pangkal yang luas untuk mendukung
di lumpur yang lembut dan tidak stabil. Juga
membantu aerasi ketika terekspos pada saat laut surut
(Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).
Akar pasak. Pada Avicennia dan Sonneratia,
pneumatofora merupakan cabang tegak dari akar
horizontal yang tumbuh di bawah tanah. Pada Gambar: Akar sangga pada Rhizophora.
Avicennia bentuknya seperti pensil atau pasak dan
umumnya hanya tumbuh setinggi 30 cm, sedangkan
pada Sonneratia tumbuh lebih lambat namun dapat
membentuk massa kayu setinggi 3 m, kebanyakan
setinggi 50 cm. Di teluk Botany, Sidney dapat dijumpai
Avicennia marina dengan pneumatofora setinggi lebih
dari 28 m, meskipun kebanyakan tingginya hanya
sekitar 4 m (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).
Akar lutut. Pada Bruguiera dan Ceriops akar
horizontal tumbuh sedikit di bawah permukaan tanah,
dan secara teratur dan berulang-ulang tumbuh vertikal
ke atas kemudian kembali ke bawah, sehingga
berbentuk seperti lutut yang ditekuk. Bagian di atas
tanah (lutut) membantu aerasi dan menjadi tempat
bertahan di lumpur yang tidak stabil. Lumnitzera
Gambar: Akar pasak pada Avicennia.
membentuk akar lutut kecil yang bentuknya
merupakan kombinasi akar lutut dan akar pasak (Ng
dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).
Akar papan. Pada Xylocarpus granatum akar
horizontal tumbuh melebar secara vertikal ke atas,
sehingga akar berbentuk pipih menyerupai papan.
Struktur ini terbentuk mulai dari pangkal batang. Akar
ini juga melekuk-lekuk seperti ular yang sedang
bergerak dan bergelombang. Terpaparnya bagian
vertikal me-mudahkan aerasi dan tersebarnya akar
secara luas membantu berpijak di lumpur yang tidak
stabil (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). Gambar: Akar lutut pada Bruguiera.
Sistem reproduksi
Mangrove merupakan tumbuhan penghasil biji
(spermatophyta), dan bunganya sering kali menyolok.
Biji mangrove relatif lebih besar dibandingkan biji
kebanyakan tumbuhan lain dan seringkali mengalami
perkecambahan ketika masih melekat di pohon induk
(vivipar). Pada saat jatuh, biji mangrove biasanya akan
mengapung dalam jangka waktu tertentu kemudian
tenggelam. Lamanya periode mengapung bervariasi
tergantung jenisnya. Biji beberapa jenis mangrove
dapat mengapung lebih dari setahun dan tetap viabel.
Pada saat mengapung biji terbawa arus ke berbagai Gambar: Akar papan pada Xylocarpus
tempat dan akan tumbuh apabila terdampar di areal granatum.
SETYAWAN – Ekosistem mangrove 33

yang sesuai. Kecepatan pertumbuhan biji yang jauh berhabitus tinggi. Pada ekosistem
tergantung iklim dan nutrien tanah. Biji yang alami tumbuhan mangrove membentuk
terdampar di tempat terbuka karena pohon zonasi. Zona luar yang terbuka didominasi
mangrove tua telah mati dapat tumbuh sangat Avicennia dan Sonneratia, diikuti Rhizophora
cepat, sedangkan biji yang tumbuh pada pada bagian sedikit agak dalam. Zona tengah
tegakan mangrove mapan umumnya akan didominasi Bruguiera gymnorrhiza. Zona tiga
mati dalam beberapa tahun kemudian (Ng dan didominasi Xylocarpus dan Heritiera. Zona
Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). dalam didominasi Bruguiera cylindrica,
Embryo vivipari. Vivipari adalah kondisi Scyphiphora hydrophyllacea, dan Lumnitzera.
dimana embryo pertama kali tumbuh, Adapun zona transisi didominasi Cerbera
memecah kulit biji dan keluar dari buah pada manghas. Pada perbatasan hutan mangrove
saat masih melekat pada tumbuhan induk, dengan rawa air tawar tumbuh tegakan Nypa
misalnya Bruguiera, Ceriops, Kandelia dan fruticans, diikuti Cyperus portulacastrum,
Rhizophora. Kriptovivipari (Yunani: kryptos, Fimbristylis ferruginea, Scirpus litoralis dan S.
tersembunyi) adalah kondisi dimana embryo Malaccensis (Sasaki dan Sunarto, 1994).
tumbuh dan memecah kulit biji, namun tidak Pada hutan mangrove alami dapat
keluar dari kulit buah hingga lepas dari terbentuk zonasi spesies tunggal sejajar
tumbuhan induk, misalnya Aegiceras, dengan garis pantai dan tepian sungai, mulai
Avicennia dan Nypa. Para pakar banyak dari tepi pantai ke arah daratan. Beting lumpur
berspekulasi mengenai fungsi vivipari atau yang luas atau beting pasir yang dangkal di
kriptovivipari dalam kaitannya dengan tepi laut ditumbuhi oleh Avicennia dan
morfologi, ekologi, dan fisiologi tumbuhan. Sonneratia. Rhizophora ditemukan lebih ke
Vivipari atau kriptovivipari tidak ditemukan dalam pada tepian sungai, adapun Bruguiera,
pada tumbuhan halofita atau tumbuhan rawa- Ceriops, Xylocarpus dan Heritiera membentuk
rawa air tawar, sehingga kondisi ini tidak bagian belakang mangrove. Pada lingkungan
disebabkan salinitas atau tanah yang jenuh air yang cocok, dimana terdapat pasir dan
(Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). lempung, Nypa fruticans dapat menjadi
Vivipari merupakan mekanisme adaptasi tumbuhan utama pada tepi sungai atau laguna
untuk mempersiapkan seedling tersebar luas, (Chapman, 1992).
dapat bertahan dan tumbuh dalam lingkungan Penyebab zonasi ini masih diperdebatkan
asin. Selama pembentukan vivipari, propagul dan kemungkinan disebabkan kombinasi
diberi makan pohon induk, sehingga dapat berbagai faktor seperti salinitas, kondisi tanah,
menyimpan dan mengakumulasi karbohidrat tingkat genangan, ukuran dan ketersediaan
atau senyawa lain yang nantinya diperlukan propagul, serta kompetisi antar spesies.
untuk pertumbuhan. Struktur kompleks Tumbuhan mangrove memiliki tanggapan
seedling pada awal pertumbuhan ini akan yang berbeda-beda terhadap faktor-faktor
membantu aklimatisasi terhadap kondisi fisik lingkungan tersebut, sehingga tumbuh
lingkungan yang ekstrim. Kebanyakan tersebar dalam zonasi yang karakteristik.
seedling tidak tumbuh di sekitar induk, namun Beberapa spesies mangrove tumbuh di garis
mengapung selama berminggu-minggu hingga pantai, tepian pulau, teluk yang terlindung,
jauh dari induknya. Pada kondisi tanah yang atau jauh ke pedalaman hulu sungai yang
sesuai seedling ini dapat berakar dan tumbuh masih dipengaruhi pasang surut (Ng dan
dengan cepat. Vivipari dan propagul yang Sivasothi, 2001).
berumur panjang, menyebabkan mangrove Pada sebagian besar hutan mangrove yang
dapat tersebar pada area yang luas (Ng dan sudah dipengaruhi kegiatan manusia
Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). (antropogenik), zonasi sulit ditentukan akibat
tingginya sedimentasi dan perubahan habitat.
Dalam hal ini ketersediaan propagul diduga
ZONASI MANGROVE lebih berpengaruh dari pada faktor lain,
dimana beting lumpur baru akan didominasi
Hutan mangrove di daerah tropis relatif tumbuhan yang propagulnya paling banyak
heterogen. Spesies yang tumbuh di bibir sampai di tempat tersebut, misalnya di Segara
pantai cenderung berhabitus rendah, sedang Anakan (Djohan, 2001, komunikasi pribadi).
34 ENVIRO 2 (1): 25-40, Maret 2002

HUTAN MANGROVE DAN EKOSISTEM kesua habitat tersebut. Berbagai ikan dan
DI SEKITARNYA udang yang biasa ditemukan di lepas pantai
menggunakan mangrove selama sebagian
Aliran energi siklus hidupnya. Sebaliknya kepiting lumpur
Hutan mangrove merupakan ekosistem (Thalassina anomala), menghabiskan besar
produktif yang mendukung sejumlah besar hidupnya di mangrove dan bergerak ke laut
kehidupan melalui rantai makanan yang hanya untuk bertelur. Aliran pasang surut dan
dimulai dari tumbuh-tumbuhan. Daun arus membawa nutrien dari mangrove ke
tumbuhan mangrove, sebagaimana semua rumput laut dan karang, dan sebaliknya.
tumbuhan hijau, menggunakan sinar matahari Saling pengaruh ini tergantung jauh-dekatnya
untuk mengubah karbon dioksida menjadi habitat satu dengan habitat lain. Ekosistem
senyawa organik melalui proses fotosintesis. mangrove juga dapat mencegah sedimentasi
Karbon yang diserap tumbuhan selama berlebih pada ekosistem rumput laut dan
fotosintesis, bersama-sama dengan nutrien terumbu karang, sehingga mencegah kema-
yang diambil dari tanah, menghasilkan bahan tian (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).
baku untuk pertumbuhan. Pertumbuhan pohon
mangrove sangat penting bagi keberlanjutan
hidup semua organisme. Terurainya daun, ba- MANFAAT MANGROVE
tang, dan akar mangrove yang mati mengha-
silkan karbon dan nutrien yang digunakan oleh Ekosistem mangrove menghasilkan sejum-
organisme lain (Ng dan Sivasothi, 2001; lah barang dan jasa yang tidak seluruhnya
Lovelock, 1993; Clough, 1992). laku di pasaran. Beberapa diantaranya
Tidak ada yang menjadi sampah dalam diteruskan sebagai pelayanan untuk
ekosistem mangrove. Tumbuhan mangrove ekosistem pantai dan lepas pantai. Nilai ini
merupakan lumbung sejumlah besar daun sulit ditentukan dan sering tidak disadari,
yang kaya nutrien yang akan diuraikan oleh sehingga hutan mangrove seringkali diubah
fungi dan bakteri atau langsung dimakan untuk menghasilkan produk yang langsung
kepiting. Material organik yang mati diuraikan laku di pasaran, misalnya pertambakan.
menjadi partikel-partikel kecil (detritus) oleh Kegunaan mangrove banyak dan beragam.
bakteri yang kaya protein. Detritus merupakan Referensi tertua mengenai pemanfaatan
sumber makanan bagi beberapa spesies spesies mangrove berasal dari tahun 1230 di
moluska, kepiting, udang dan ikan, yang Arab, yakni penggunaan seedling Rhizophora
selanjutnya dimakan hewan yang lebih besar. sebagai sumber pangan, getah untuk
Nutrien yang dilepaskan ke dalam air selama mengobati sakit mulut, batang tua untuk kayu
periuraian daun, kayu dan akar juga dimakan bakar, tanin dan pewarna, serta menghasilkan
plankton dan alga (Ng dan Sivasothi, 2001; minuman yang memiliki efek aprodisiak bagi
Lovelock, 1993; Clough, 1992). lelaki dan efek pengasihan bagi wanita
Detritus mangrove merupakan nutrien (Bandaranayake, 1998).
autochthonous bagi ekosistem mangrove dan
ekosistem perairan laut. Hal ini mendukung Manfaat ekonomi
berbagai jenis hidupan laut dalam jaring-jaring Hutan mangrove memiliki nilai sosial-
makanan yang kompleks yang terhubung ekonomi dan ekologi sangat penting (Bennett
dengan plankton dan alga. Plankton dan alga dan Reynolds, 1993). Selama berabad-abad
merupakan sumber utama karbon pada ekosistem mangrove memiliki nilai sosial-
ekosistem mangrove di samping detritus. ekonomi berupa: kayu bangunan, kayu bakar,
Nutrien di bawa pula dari kawasan hulu kayu lapis, bubur kertas, tiang telepon, tiang
sebagai allochthonous (Ng dan Sivasothi, pancang, bagan penangkap ikan, dermaga,
2001; Lovelock, 1993; Clough, 1992). bantalan kereta api, kayu untuk mebel dan
kerajinan tangan, atap, tannin kulit kayu,
Hubungan mangrove, rumput laut dan karang bahan obat, gula, alkohol, asam asetat,
Ekosistem mangrove, rumput laut dan protein hewani, madu, karbohidrat hipokotil
karang disatukan oleh massa air yang dan bahan pewarna (Hamilton dan Snedaker,
mengalir keluar masuk pada saat pasang dan 1984; IPIECA, 1993a; Spaninks dan
surut, serta oleh hewan-hewan yang hidup di Beukering, 1997; Bandaranayake, 1998;
SETYAWAN – Ekosistem mangrove 35

Dahdouh-Guebas et al., 2000; Manassrisuksi buah-buahan, minuman dan gula. Daun


et al., 2001; Ng dan Sivasothi, 2001; Ong, 2002). Osbornia octodonata digunakan sebagai
Kayu bangunan. Secara tradisional bumbu penyedap masakan. Buah Avicennia
masyarakat lokal menggunakan mangrove marina biasa digunakan sebagai sayuran.
untuk memasak, membangun rumah dan Buah Kandelia candel dan Bruguiera
perahu secara lestari, namun bertambahnya gymnorrhiza mengandung pati. Daun muda
penduduk menyebabkan penggunaan secara Acrostichum dan hipokotil Bruguiera
lestari sulit dipertahankan. Kayu Nypa diguna- merupakan makanan beberapa suku di Irian.
kan untuk dermaga atau bangunan bawah air Sagu dari batang Metroxylon sagu digunakan
karena tahan terhadap kebusukan, serangan sebagai makanan pokok. Nypa dapat
fungi dan hewan pelubang, sedangkan menghasilkan gula, alkohol, dan cuka. Ekstrak
daunnya untuk atap. Heritiera dan Xylocarpus kayu Avicennia alba dan A. officinalis
menghasilkan kayu gergajian berkualitas menghasilkan tonikum. Seedling Avicennia
tinggi. Tiang utuh Rhizophora merupakan hasil dan Bruguiera dapat dimasak dan dimakan
hutan mangrove paling utama, mudah (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).
ditebang, dan masa panennya pendek (Ng Kegunaan lain. Daun Nypa fruticans dapat
dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). digunakan atap, kertas sigaret, serta kerajinan
Kayu bakar dan arang. Kayu mangrove tangan seperti keranjang dan topi. Gabus
sering digunakan secara langsung sebagai dapat diperoleh dari pneumatofora berbagai
kayu bakar atau diolah lebih dahulu menjadi tumbuhan mangrove, khususnya Avicennia
arang. Kayu Rhizophora dan Avicennia dan Sonneratia. Propagul Rhizophora dan
memiliki nilai kalor tinggi dan menghasilkan Bruguiera dapat ditanam dalam pot dan
panas sangat tinggi, sehingga sangat sesuai menjadi tanaman hias. Garam dapat diperoleh
untuk kayu bakar dan arang. Di Indonesia hal dengan memasak daun Avicennia. Batang dan
ini telah dilakukan secara komersial sejak cabang Rhizophora mucronata, R. apiculata
tahun 1887 (Ng dan Sivasothi, 2001). dan Lumnitzera racemosa, dapat digunakan
Tanin. Kulit kayu mangrove mengandung untuk membuat joran pancing. Daun beberapa
metabolit sekunder tanin, terutama pada tumbuhan mangrove dapat digunakan sebagai
Rhizophoraceae. Tanin digunakan dalam makanan ternak seperti sapi, kambing, onta,
industri penyamakan kulit, merawat jaring dan kerbau. Beberapa tumbuhan mangrove
ikan, sumber warna, dan bahan obat menghasilkan obat penguat rambut, rempah-
tradisional. Tanin mengandung dua kelompok rempah, obat kuat, kemenyan dan parfum (Ng
fenol, dapat dihidrolisis dan tidak, yang dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).
diperlukan untuk sintesis obat-obatan tertentu.
Tumbuhan mangrove memiliki sifat sitotoksis, Manfaat ekologi dan sosial-budaya
antineoplastis, dan antimikrobia. Tumbuhan Mangrove memiliki fungsi ekologi yang
mangrove merupakan sumber saponin, tidak kalah penting, antara lain sekuestrasi
alkaloid dan flavonoid. Saponin memiliki karbon, menyaring dan menangkap bahan
aktivitas biologi penting sebagai spermisida pencemar yang terbawa air sungai atau
dan moluskisida. Ekstrak akar penyangga limpasan hujan, menjaga stabilitas pantai dari
Rhizophora apiculata dapat menghambat erosi, intrusi air laut, dan tekanan badai,
aktivitas larva nyamuk. Ekstrak Aegiceras menjaga kealamiahan habitat, menjadi tempat
mengandung saponin beracun untuk bersarang, pemijahan dan pembesaran anak
menangkap ikan (Ng dan Sivasothi, 2001). berbagai jenis ikan, udang, kerang, burung
Bahan baku industri. Mangrove dieks- dan fauna lain, pembentukan daratan baru,
ploitasi untuk menghasilkan lignosellulosa, serta memiliki fungsi sosial sebagai area
bubur kertas, dan rayon. Rhizophora apiculata konservasi, pendidikan, ekoturisme dan
menghasilkan lignosellulosa yang dibutuhkan identitas budaya (Thom, 1967; Tomlison,
industri tekstil. Serat dan kertas dapat 1986; Sukardjo, 1989; Howe et al., 1992;
dihasilkan dari Hibiscus, Thespesia, dan IPIECA, 1993a; Tanaka, 1994; Spaninks and
Pandanus (Ng dan Sivasothi, 2001). Beukering, 1997; Anonim, 2001b;
Bahan pangan. Produk kawasan Manassrisuksi et al., 2001; Ng dan Sivasothi,
mangrove yang langsung dapat dimakan 2001; Ong, 2002), namun nilai penting ekologi
antara lain madu, lilin, daging hewan, ikan, masih sering diabaikan (Coulter et al., 2001).
36 ENVIRO 2 (1): 25-40, Maret 2002

Perikanan dan daur hara. Mangrove me- terbentuk budaya tradisional yang terkait
rupakan pelayan ekosistem laut dan kawasan dengan ekosistem ini. Misalnya Cerbera
di sekitarnya. Mangrove menyuplai makanan manghas digunakan untuk membuat topeng
ke komunitas laut melalui rantai makanan dalam perayaan tradisional di Sri Langka (Ng
detritus serasah mangrove. Mangrove dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).
merupakan tempat persembunyian dan Ekowisata dan pendidikan. Salah satu
perkembangbiakan ikan, kepiting, udang, dan nilai komersial hutan mangrove adalah eko-
moluska. Mangrove juga merupakan tempat wisata. Kehidupan liar mangrove merupakan
bersarang dan tempat singgah ratusan jenis atraksi wisata yang menarik, misalnya migrasi
burung. Di samping itu duyung, kera, kucing burung-burung air. Sekolah juga
hutan, kadal monitor, penyu laut, ikan gelodog, menggunakan kawasan ini untuk praktikum
dan buaya muara berhabitat di hutan mang- (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).
rove. Konservasi mangrove akan menjaga ke-
berlanjutan rantai makanan dan industri peri- Bioprospeksi mangrove
kanan (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). Hutan mangrove alami yang masih memiliki
Proteksi pantai. Akar mangrove yang jalin- keanekaragaman spesies tinggi, berpotensi
menjalin, beserta pneumatofora dan batang untuk menghasilkan produk yang dapat
mangrove dapat mengurangi kecepatan arus dieksploitasi di masa depan (bioprospeksi).
air, menangkap sedimen untuk menjaga Berbagai spesies yang digunakan dalam
ketinggian daratan pantai dan mencegah pengobatan tradisional merupakan titik awal
siltasi pada lingkungan laut di sekitarnya. kajian ilmiah dalam pengobatan modern. Tum-
Keberadaan mangrove dapat mengurangi buhan mangrove sangat potensial sebagai
kerusakan akibat angin-badai dan gelombang sumber baru pestisida, agrokimia, bahan obat,
laut. Mangrove dapat menjaga stabilitas dan serta senyawa-senyawa bioaktif lain. Keru-
mencegah perubahan garis pantai dan rawa- sakan pada ekosistem darat dan laut yang
rawa di sekitarnya. Mangrove dapat menjadi berdampak pada mangrove menyebabkan
daerah penyangga untuk mengurangi penelitian untuk menemukan obat baru dari
kerusakan akibat badai dan tsunami. Di bioaktif mangrove mendesak dilakukan
tempat-tempat dimana hutan pantai telah (Lovelock, 1993).
ditebangi, terjadi erosi dan pendangkalan Senyawa-senyawa kimia dengan struktur
pantai. Mangrove dapat mempengaruhi daur kimia baru dan kelas tersendiri telah
hidrologi, menghambat intrusi air laut ke dikarakterisasi dari tumbuhan mangrove.
daratan, dan mempengaruhi mikroklimat (Ng Penelitian kandungan kimia tumbuhan
dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). mangrove memiliki dua alasan utama:
Instalasi pengolah limbah. Dalam kondisi Pertama, mangrove tumbuh di lokasi penuh
yang baik dan jumlah sesuai, komunitas stres seperti lingkungan yang fluktuatif,
mangrove dapat berfungsi sebagai instalasi kelembaban tinggi, mikroorganisme dan
pengolah limbah. Bahan pencemar dan insekta melimpah. Mangrove tumbuh dengan
sampah secara alamiah dapat terbenam dan subur pada lingkungan yang sangat khusus
terurai dalam ekosistem mangrove. Demikian dan berperan sebagai jembatan antara
pula kelebihan nutrisi kimia dari areal ekosistem tawar dan laut, karena modifikasi
pertanian dapat ditangkap dan di daur ulang di untuk mengatur air dan garam, serta
hutan mangrove. Ekosistem ini, mampu modifikasi fisiologis dalam metabolisme
menyerap kelebihan nitrat dan fosfat dari karbohidrat, sintesis polifenol dan lain-lain.
lahan pertanian di hulu sungai, sehingga tidak Oleh karena itu mangrove diduga memiliki
mencemari perairan pantai. Namun sebaliknya senyawa kimia khas yang melindunginya dari
volume limbah yang berlebihan dapat berbagai tekanan ini. Kedua, berbagai
meracuni dan merusak ekosistem mangrove tumbuhan mangrove telah digunakan dalam
(Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). pengobatan tradisional, dan ekstraknya
Budaya tradisional. Bagi jutaan diketahui memiliki aktivitas melawan penyakit
masyarakat asli yang tinggal di tepi pantai, pada manusia, hewan dan tumbuhan, namun
hutan mangrove menjadi tempat mencari masih sedikit penelitian untuk mengidentifikasi
nafkah dan memenuhi berbagai kebutuhan metabolit yang bertanggungjawab terhadap
dasar selama ratusan tahun, sehingga bioaktivitas ini (Lovelock, 1993).
SETYAWAN – Ekosistem mangrove 37

ANCAMAN DAN KONSERVASI yang sangat mengkhawatirkan. Untuk itu


EKOSISTEM MANGROVE dibutuhkan kebijakan nasional yang mengatur
pengelolaan sumber daya pesisir dan pulau-
Ancaman kelestarian pulau kecil (Suara Pembaruan, 29/7/2002b).
Di seluruh dunia aktivitas manusia telah
mengurangi luasan ekosistem alami dan Konservasi ekosistem mangrove
menurunkan keanekaragaman hayati hingga Mangrove telah lama menjadi sumber
tingkat yang meng-khawatirkan. Keaneka- kekaguman banyak orang. Bagi masyarakat
ragaman hayati kawasan tropis merupakan yang hidup di kawasan Indo-Pasifik Barat dan
yang tertinggi di dunia (Ligtvoet et al., 1996). Amerika-Afrika Barat, istilah mangrove sangat
Hutan mangrove diperkirakan menempati 75% familiar. Hutan mangrove sering diangankan
luas kawasan pantai tropis (Chapman, 1976), sebagai area yang selalu tergenang, dengan
tetapi tekanan antropogenik telah menurunkan tumbuhan yang memiliki sistem perakaran
luas hutan ini secara global hingga di bawah aerial yang khas. Namun banyak pula orang
50% dari luas awal (Saenger et al., 1983; yang menganggap mangrove sebagai rawa-
Spalding et al.1997; Ong, 2002). rawa yang menjadi sarang nyamuk, lalat, ular,
Penurunan luasan mangrove paling cepat tidak sehat dan berbahaya. Sehingga konsep
dan paling dramatis terjadi di Asia Tenggara pengelolaan hutan mangrove tidak dimiliki
(Gómez 1988; Aksornkoae, 1993). Di kebanyakan orang, termasuk para pengambil
Indonesia luas hutan ini terus menurun. Dalam keputusan (Lovelock, 1993).
kurun waktu 10 tahun (1982-1993), terjadi Restorasi mangrove. Restorasi ekosistem
penurunan hutan mangrove lebih dari 50% mangrove ditujukan untuk mengembalikan
dari total luasan semula (Dephut, 1994; ekosistem mangrove yang telah diubah ke
Soenarko, 2002). Hal ini disebabkan reklamasi kondisi normal seperti semula, atau sekurang-
untuk membangun tambak perikanan dan kurangnya pada kondisi yang efektif (Kairo et
garam (Terchunian et al., 1986; Primavera, al., 2001; Morrison, 1990; Field, 1998b).
1993), penebangan hutan secara berlebih Tujuan utama restorasi mangrove adalah
(Walsh, 1974; Hussein, 1995; Semesi, 1998), memantapkan kembali habitat dan fungsi
pertambangan, pencemaran, pembendungan mangove yang telah atau akan hilang
sungai (Lewis, 1990), pertanian, bencana (Morrison, 1990). Tujuan lainnya adalah
alam (Nybakken, 1993; Knox dan Miyabara, memperkaya landskap dan meningkatkan
1984), serta tumpahan minyak (Ellison dan kualitas lingkungan, menjaga keberlanjutan
Farnsworth, 1996), meski yang terakhir ini sumber daya alam, dan melindungi kawasan
belum banyak didokumentasikan (Burns et al., pantai (Field, 1996; Morrison, 1990).
1994; 1999). Kerusakan hutan mangrove Hutan mangrove yang rusak dapat
dapat pula terjadi karena konversi ke jenis melakukan penyembuhan sendiri melalui
hutan lainnya, misalnya sejak tahun 1997 suksesi sekunder dalam periode 15-30 tahun,
Perhutani mengubah 6000 ha dari 11.263 ha dengan syarat sistem hidrologi pasang-surut
hutan mangrove Segara Anakan menjadi tidak berubah, dan tersedia biji (propagul) atau
perkebunan kayu putih (Suara Merdeka, seedling. Oleh kerena itu sebelum dilakukan
16/6/2001). Hal yang sama telah lebih dahulu restorasi hambatan yang dapat mencegah
dilakukan di hutan mangrove Indramayu suksesi sekunder harus dihilangkan.
(Machfud, 1990). Mangrove juga dapat dibuat dengan
Penurunan luasan mangrove mendorong menghutankan dataran pasang surut yang
terjadinya intrusi air laut dan erosi pantai, gundul dan tempat-tempat yang dalam kondisi
sehingga menurunkan produktivitas perairan normal tidak ditumbuhi mangrove. Restorasi
pantai (Aksornkoae, 1993). Untuk mengatasi tanpa memperhatikan kemampuan alam untuk
hal ini banyak negara mengkampanyekan melakukan penyembuhan akan menyia-nyiakan
upaya konservasi, restorasi, (Hong dan San, investasi yang besar (Kairo dkk., 2001).
1993) dan manajemen hutan mangrove Penanaman dan pengelolaan mangrove di
(Manassrisuksi et al., 2001). Menteri Kelautan Asia Tenggara telah lama dilakukan (e.g.
dan Perikanan menilai, kondisi kerusakan Watson, 1928), meskipun catatan sejarah
hutan mangrove dan terumbu karang di pengelolaan mangrove paling tua dilakukan di
wilayah pesisir Indonesia sudah pada tingkat Sundarbans. Hutan mangrove Sundarbans di
38 ENVIRO 2 (1): 25-40, Maret 2002

Bangladesh dan India seluas 6000 km2 hak pengusahaan hutan mangrove telah
(577.000 ha) telah dikelola sejak tahun 1764 mengurangi luas dan kerapatan mangrove,
dan rencana kerja secara detail telah dibuat serta menekan ekosistem yang tersisa secara
pada tahun 1893-1894 (Chowdhury dan nyata. Untuk itu kepemilikan hutan mangrove
Ahmed, 1994; Hussain dan Acharya 1994; perlu dipertegas, termasuk kawasan terbuka
UNDP, 1998; Rahman, 2000). Hutan mang- yang potensial untuk ditanami mangrove.
rove di Matang, Malaysia seluas 40.000 ha Selanjutnya dibuat peraturan yang jelas dan
telah dikelola sejak tahun 1902 untuk mengha- penegakan hukum secara konsisten, sehingga
silkan arang (Watson, 1928). Manajemen ekosistem mangrove dapat terjaga
penebangan hutan dilakukan melalui rotasi kelestariannya (Choudhury, 1996).
selama 30 tahun (Ong, 2002). Hutan Matang
memberi lapangan kerja dan sumbangan
ekonomi cukup berarti bagi Malaysia (Chan, PENUTUP
1996). Hutan ini juga menjadi sumber kayu
bakar, bahan bangunan, mencegah erosi, dan Ekosistem mangrove menyimpan sejumlah
menjadi tempat pemijahan ikan. Pada saat ini besar permasalahan yang menunggu untuk
telah dilakukan pengelolaan secara terinte- segera dipecahkan, mengingat Indonesia
grasi untuk perikanan (Primavera, 1995) dan merupakan pusat distribusi mangrove dunia.
ekowisata (Bacon, 1987). Permasalahan yang menarik untuk diteliti
Strategi manajemen. Ekosistem mangrove antara lain: (i) floristik, morfologi, fenologi,
sangat kompleks sehingga pengelolaannya distribusi, biogeografi, dan genetika tumbuhan
harus terintegrasi dengan lingkungan alam di mangrove, (ii) ekologi ekosistem mangrove,
sekitarnya, bahkan hingga daerah aliran (iii) pengaruh stres lingkungan terhadap
sungai di hulu. Rencana manajemen mang- pertumbuhan dan perkembangan, rekruitmen,
rove harus diikuti sebanyak mungkin elemen dan regenerasi mangrove, (iv) pengaruh
stakeholders, seperti pemerintah, lembaga tumpahan minyak bumi, serta (v) restorasi dan
swadaya masyarakat, pengusaha hutan, ma- rehabilitasi habitat mangrove (Lovelock, 1993).
syarakat setempat dan ilmuwan. Peningkatan
kepedulian masyarakat dilakukan dengan
meningkatkan nilai mangrove yang terkait DAFTAR PUSTAKA
langsung dengan kepentingannya. Untuk itu
diperlukan penelitian yang sistematis, komit- Aksornkoae S. 1993. Ecology and Management of
men politik yang kuat, serta integrasi konsep Mangroves. Bangkok: International Union for
Conservation of Nature and Natural Resources.
dan pengalaman lapangan (Choudhury, 1996). Anonim. 1997. National Strategy for Mangrove
Suaka mangrove. Ekosistem mangrove Management in Indonesia. Volume 1: Strategy and
mempengaruhi hutan mangrove sendiri dan Action Plan. Volume 2: Mangrove in Indonesia
perairan di sekitar pantai. Pembuatan suaka Current Status. Jakarta: Office of the Minister of
Environment, Departement of Forestry, Indonesian
mangrove merupakan strategi penting untuk Institute of Science, Department of Home Affairs, and
melindungi mangrove dan ekosistem di The Mangrove Foundation.
sekitarnya, termasuk flora, fauna, komponen Anonim. 2001b. Shoreline stabilization and storm
biotik dan abiotik. Suaka mangrove diharap- protection. Wetland Values and Function. Gland: The
kan dapat berpengaruh positif terhadap Ramsar Bureau
Bacon, P.R. 1987. Use of wetlands for tourism in the
konservasi biodiversitas. Penerapan pende- insular Caribbean. Annals of Tourism Research 14:
katan konservasi harus dilakukan secara 104-117.
tegas. Pemanenan produk dan jasa pada Bandaranayake, W.M. 1998. Traditional and medicinal
bagian tertentu kawasan suaka ini tidak dapat uses of mangroves. Mangrove and Salt Marshes 2:
133-148.
dilakukan (Choudhury, 1996). Bennett, E.L. and C.J. Reynolds. 1993. The value of
Kepemilikan hutan mangrove. Hak mangrove area in Sarawak. Biodiversity
kepemilikan hutan mangrove umumnya tidak Conservation 2: 359-375.
jelas, sehingga penanggung jawab kawasan Birkeland, C. 1983. Influences of Topography of Nearby
ini tidak pasti. Hal ini menyebabkan tingginya Land Masses in Combination with Local Water
Movement Patterns on the nature of Nearshore
degradasi hutan mangrove, dimana pemberian Marine Communities, Productivity and Processes in
kompesasi kepada pemilik lahan untuk Island Marine Ecosystem. Dunedine: UNESCO
mencegah perusakan sulit dilakukan. Konsesi Report in Marine Science No. 27.
SETYAWAN – Ekosistem mangrove 39

Blasco, F. 1992. Outlines of ecology, botany and forestry FAO. 1982. Managenet and Utilization of Mangrove in
of the mangals of the Indian subcontinent. In Asia and the Pacific. Rome: FAO Environment Paper
Chapman, V.J. (ed.). Ecosystems of the World 1: Wet 3.
Coastal Ecosystems. Amsterdam: Elsevier. FAO. 1985. Mangrove Management in Thailand,
Burns, K.A. 1993. Evidence for the importance for Malaysia and Indonesia. Rome: FAO Environment
including hydrocarbon oxidation products in Paper 3.
environmental assessment studies. Marine Pollution Field, C. 1996. Restoration of Mangrove Ecosystems.
Bulletin 26: 77-85. Okinawa: International Tropical Timber Organization
Burns, K.A., S. Codi, R.J.P. Swannell, and N.C. Duke. and International Society for Mangrove Ecosystems.
1999. Assessing the petroleum hydrocarbon Giesen, W. 1991. Checklist of Indonesian Fresh Water
degradation potential of endogenous tropical marine Aquatic Herbs. PHPA/AWB Sumatra Wetland Project
wetland microorganisms: Flask experiments. Report No. 27. Jakarta: Asian Wetland Bureau-
Mangroves and Salt Marshes 3: 67-83. Indonesia.
Burns, K.A., S.D. Garrity, D. Jorissen, J. MacPherson, Goldman, R.C. and Horne, 1983. Lymnology. New York:
and M. Stoelting. 1994 The Galeta oil spill. II: McGraw Hill International Book Company.
Unexpected persistence of oil trapped in mangrove Gómez, E.G. 1988. Overview of environmental problems
sediments. Estuarine Coastal and Shelf Science 38: in the East Asian seas region. Ambio 17:166-169.
349-364. Hamilton, L.S. and S.C. Snedaker. 1984. Handbook for
Chan, H.T. 1996. Mangrove reforestation in peninsular Mangrove Area Management. Honolulu: Environment
Malaysia: a case study of Matang. In Field, C. (ed.) and Policy Institute, East-West Center.
Restoration of Mangro-ve Ecosystems. Okinawa: Hong, P.N. and H.T. San. 1993. Mangroves of Vietnam.
International Timber Trade Organi-zation and Bangkok: International Union for Conservation of
International Society for Mangrove Ecosystems. Nature and Natural Resources.
Chapman, V.J. 1976. Mangrove Vegetation. Howe, C.P., G.F. Claride, R. Hughes, and Zuwendra.
Liechtenstein J.Cramer Verlag. 1992. Manual of Guideline for Scoping EIA in
Chapman, V.J. 1992. Wet coastal formations of Indo Indonesia Wetland. Second edition. PHPA/AWB
Malesia and Papua-New Guinea. In Chapman, V.J. Sumatra Wetland Project No. 6B. Jakarta: Directorat
(ed.). Ecosystems of the World 1: Wet Coastal General of Forest Protection and Nature
Ecosystems. Amsterdam: Elsevier. Conservation-Asian Wetland Bureau Indonesia
Choudhury, J.K. 1996. Mangrove forest management. Hussain, Z. and G. Acharya, 1994. (ed.). Mangroves of
Mangrove Rehabilitation and Management Project in the Sundarbans. Vol, 2: Bangladesh. Bangkok:
Sulawesi. Jakarta: Asia Development Bank. International Union for the Conservation of Nature.
Chowdhury, R.A., and I. Ahmed. 1994. History of forest IPIECA. 1993a. Biological Impact of Oil Pollution:
management. In Hussain Z, and G. Acharya (ed.). Mangroves. IPIECA Report No. 4. London:
Mangroves of the Sundarbans, Vol. 2: Bangladesh. International Petroleum Industry Environmental
Gland, Switzerland: IUCN Wetlands Program. Conservation Association.
Clark, R. J. 1996. Coastal Zone Management Hand Jayatissa, L.P., F. Dahdouh-Guebas, and N. Koedam.
Book. Boca Raton: CRC Lewis Publishers. 2002. A revi-ew of the floral composition and
Clough, B.F. 1992. Primary productivity and growth of distribution of mangroves in Sri Lanka. Botanical
mangrove forests. In Robertson, A.I. and D.M. Alongi Journal of the Linnean Society 138: 29-43.
(ed.). Coastal and Estuarine Studies: Tropical Kairo, J.G., F Dahdouh-Guebas, J. Bosire, and N.
Mangrove Ecosystems. Washington DC.: American Koedam. 2001. Restoration and management of
Geophysical Union. mangrove systems — a lesson for and from the East
Coulter, S.C., C.M. Duarte, S.T. Mai, H.T. Nguyen, T.H. African region. South African Journal of Botany 67:
Hoang, H.G. Le, and N.G. Phan. 2001. Retrospective 383-389.
estimates of net leaf production in Kandelia candel Kartawinata, K. 1979. Status pengetahuan hutan bakau
mangrove forests. Marine Ecology Progress Series di Indonesia. Prosiding Seminar Ekosistem Hutan
221: 117-124. Mangrove. Jakarta: MAP LON LIPI.
Dahdouh-Guebas, F., C. Mathenge, J.G. Kairo, and N. Kitamura, S., C. Anwar, A. Chaniago, and S. Baba. 1997.
Koedam. 2000. Utilization of mangrove wood Handbook of Mangroves in Indonesia; Bal & Lombok.
products around Mida Creek (Kenya) among Denpasar: The Development of Sustainable
subsistence and commercial users. Economic Botany Mangrove Management Project, Ministry of Forest
54: 513-527. Indonesia and Japan International Cooperation
Dahuri R, J. Rais, S.P.Ginting dan M.J. Sitepu. 1996. Agency.
Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Knox, G.A. and T. Miyabara. 1984. Coastal Zone
Lautan Secara Terpadu. Jakarta: P.T. Saptodadi. Resource Development and Conservation in South
Departemen Kehutanan. 1994. Pedoman Penyusunan East Asia, with special Refference to Indonesia.
Rencana Teknik Rehabilitasi (RTR) Daerah Pantai. Jakarta: UNESCO.
Jakarta: Direktorat Jenderal Reboisasi dan Lewis, R.R. 1990. Creation and restoration of coastal
Rehabilitasi Lahan, Departemen Kehutanan. wetlands in Puerto Rico and the US Virgin Islands. In
Ellison, A.M. and E.J. Farnsworth. 1996. Anthropogenic Kusler J.A. and M.E. Kentula (ed.) Wetland Creation
disturbance of Caribbean mangrove ecosystems: and Restoration: The Status of Science, Vol. I:
past impacts, present trends, and future predictions. Regional Reviews. Washington: Island Press.
Biotropica 24: 549-565. Ligtvoet, W., R.H. Hughes, and S. Wulffraat. 1996.
Recreating mangrove forest near Jakarta,
40 ENVIRO 2 (1): 25-40, Maret 2002

Conserving biodiversity in an urban environment. Soewardi (ed.). Ecological Assessment for


Land and Water International 84: 8-11. Management Planning of Segara Anakan Lagoon,
Lovelock, C. 1993. Field Guide to the Mangroves of Cilacap, Central Java. Tokyo: NODAI Center for
Queensland. Queensland: Australian Institute of International Program, Tokyo University of Agriculture
Marine Science. www.aims.gov.au and JSPS-DGHE Program.
Lugo A.E. and S.C. Snedaker. 1974. The ecology of Semesi, A.K. 1998. Mangrove management and
mangroves. Annual Review of Ecology and utilization in eastern Africa. Ambio 27: 620-626.
Systematics 5: 39-63. Soemodihardjo, S and S. Ishemat. 1989. Country Report:
Machfud, D.S. 1990. Social Forestry Network: Social Indonesia, The Status of Mangrove Forests in
Forestry in Disputed upland Areas in Java. Jakarta: Indonesia, Symposium on Mangrove Management.
Perum Perhutani, State Forest Corporation, Java, Biotrop Special Publication No 37.
Indonesia. Soemodihardjo, S. and L. Sumardjani. 1994. Re-
MacNae, W. 1968. A general account of the fauna and afforestation of mangrove forests in Indonesia.
flora of mangrove swamps and forests in the Indo- Proceeding of the Workshop on ITTO Project.
West-Pacific region. Advances in Marine Biology 6: Bangkok, 18-20 April 1994.
73-270. Soenarko. 2002. Kebijakan KIMPRASWIL dalam Rangka
Manassrisuksi, K., M. Weir, and Y.A. Hussin. 2001. Percepatan Pembangunan Kelautan dan Perikanan.
Assesment of mangrove rehabilitation programme Rapat Koordinasi Nasional Departemen Kelautan
using remote sensing and GIS: a case study of dan Perikanan Tahun 2002, Jakarta, 30 Mei 2002.
Amphur Khlung, Chantaburi Province, Eastern Spalding, M., F. Blasco, and C. Field. 1997. World
nd
Thailand. 22 Asian Conference on Remote Mangrove Atlas. Okinawa: International Society for
Sensisng, Singapore 5-9 November 2001. Mangrove Ecosystems.
Marius, C. 1977. Propositions pour une classification Spaninks, F. and P. van Beukering. 1997. Economic
française des sols de mangroves tropicales. Cah. Valuation of Mangrove Ecosystems: Potential and
ORSTOM 15 (1): 89-102. Limitations. CREED Working Paper No 14, July
Morrison, D. 1990. Landscape restoration in response to 1997. London and Amsterdam: International Institute
previous disturbance. In Turner, M.G. (ed.) for Environment and Development, and Institute for
Landscape Heterogeneity and Disturbance. New Environmental Studies.
York: Springer-Verlag. Steenis, C.G.G..J. van. 1958. Ecology of mangroves. In
Ng, P.K.L. and N. Sivasothi (ed.). 2001. A Guide to Flora Malesiana. Djakarta: Noordhoff-Kollf.
Mangroves of Singapore. Volume 1: The Ecosystem Suara Merdeka, 16/6/2001. Hutan Mangrove
and Plant Diversity and Volume 2: Animal Diversity. Dimodifikasi dengan Kayu Putih.
Singapore: The Singapore Science Centre. Suara Pembaruan 29/7/2002b. Kerusakan Hutan Bakau
Nybakken, J.W. 1993. Marine Biology, An Ecological Mengkhawatirkan.
Approach. Third edition. New York: Harper Collins Suara Pembaruan, 29/7/2002a. 10 Ha Hutan Bakau di
College Publishers. Cilacap Kekeringan.
Ong, J.E. 2002. The hidden costs of mangrove services: Sukardjo, S. 1985. Laguna dan vegetasi mangrove.
use of mangroves for shrimp aquaculture. Oseana 10 (4): 128-137
International Science Round Table for the Media, Bali Sukardjo, S. 1989. The mangrove forests of Java and
Indonesia, 4 June 2002. Joint event of ICSU, IGBP, Bali (Indonesia). Symposium on Mangrove
IHDP, WCRP, DIVERSITAS and START. Management. Biotrop Special Publication No 37.
Primavera, J.H. 1993. A critical review of shrimp pond Tanaka, S., 1992. Bali Environment the Sustainable
culture in the Philippines. Reviews in Fisheries. Mangrove Forest. Jakarta: Development of
Science 1 (2): 151-201 Sustainable Mangrove Management Project.
Primavera, J.H. 1995. Mangroves and brackish water Terchunian, A., V. Klemas, A. Alvarez, B. Vasconez, and
pond culture in the Philippines. Hydrobiologia 295: L. Guerrero. 1986. Mangrove mapping in Ecuador:
303-309. The impact of shrimp pond construction.
Rahman, L.M. 2000. The Sundarbans: A Unique Environmental Management 10: 345-350
Wilderness of the World. In McCool, S.F., D.N. Cole, Thom, B.G. 1967. Mangrove ecology and deltaic
W.T. Borrie, and J. O’Loughlin (ed.). Wilderness geomorphology: Tabasco, Mexico. Journal of
science in a time of change conference—Volume 2: Ecology 55: 301-343
Wilderness within the context of larger systems; 1999 Tomlinson, C.B. 1986. The Botany of Mangroves.
May 23-27; Missoula, MT. Proceedings RMRS-P-15- Cambridge: Cambridge University Press.
VOL-2. Ogden: U.S. Department of Agriculture, UNDP. 1998. Integrated resource development of the
Forest Service, and Rocky Mountain Research Sundarbans Reserved Forests, Bangladesh. Volume
Station. I Project BGD/84/056. Dhaka: United Nations
Ray, C.C. and R.G. McCormick. 1994. Coastal marine Development Programme, Food and Agriculture
protected areas, a moving target. Proceeding from Organization of the United Nations.
the International Workshop on Coastal Marine Walsh, G.E. 1974. Mangroves: a review. In Reimold,
Protected Areas and Biosphere Reserves. Canberra: R.J., and W.H. Queen (ed.). Ecology of Halophytes.
ANCA/UNESCO. New York: Academic Press.
Saenger, P. and N.A. Siddique. 1993. Land from the sea: Watson, J.G. 1928. Mangrove forests of the Malay
the afforestation program of Bangladesh. Ocean and Peninsula. Kulala Lumpur: Malaysian Forest Records
Coastal Management 20: 23-39 No. 6
Sasaki, Y. and H. Sunarto. 1994. Mangrove forest of Widodo, H. 1987. Mangrove hilang ekosistem terancam.
Segara Anakan lagoon. In Takashima, F. and K. Suara Alam 49: 11-15.
ENVIRO 2 (1): 25-40, Maret 2002, ISSN: 1411-4402
© 2002 PPLH-Lemlit UNS Surakarta.