You are on page 1of 11

ENVIRO 3 (2): 29-39, September 2003, ISSN: 1411-4402

© 2003 PPLH-Lemlit UNS Surakarta.

Konsep Tata Ruang Gunung Lawu sebagai Kawasan Konservasi


Ekosistem Alami di Pulau Jawa Bagian Tengah

Lanscape concept of Mount Lawu as conservation area of natural ecosystem in


central part of Java

AHMAD DWI SETYAWAN1,2


1
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta 57126
2
Program Studi Ilmu Lingkungan, Program Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret Surakarta 57126

Diterima: 17 Agustus 2001. Disetujui: 11 September 2001.

Anonim, 1992; Groombridge, 1990). Konsep


Abstract. Gunung Lawu merupakan ekosistem khas ini tidak hanya mencakup jumlah spesies
Pulau Jawa, yang menjadi batas ekologi (ekoton)
antara pulau Jawa bagian barat yang cenderung
tetapi juga meliputi varietas, variabilitas, serta
berbukit-bukit dan basah dengan bagian timur yang keunikan gen, spesies dan ekosistem
lebih landai dan kering. Dengan kondisinya yang (Anonim. 1997; Savage, 1995).
relatif masih alami, kawasan ini berpotensi untuk Sejak sebelum kedatangan bangsa-bangsa
dijadikan taman nasional. Taman nasional adalah barat, kepulauan Nusantara telah menjadi
kawasan konservasi alami yang memiliki ekosistem
asli yang dikelola dengan sistem zonasi dan dapat gudang hasil-hasil bumi, khususnya rempah-
dimanfaatkan untuk tujuan pendidikan, penelitian, rempah. Sebagian besar komoditas ini me-
pemuliaan spesies, dan pariwisata. Konsep ini rupakan produk endemik Nusantara, sehingga
tampaknya masih merupakan cara yang paling para pedagang internasional dari Cina dan
sesuai untuk perlindungan keanekaragaman hayati.
Gunung Lawu dan kawasan di sekitarnya sangat
India – waktu itu – harus mengambilnya
ideal untuk taman nasional, karena memenuhi semua langsung dari negeri ini. Mereka kemudian
persyaratan yang diperlukan, yaitu (i) luasnya lebih mengekspornya ke Asia Tengah dan Arab,
dari 10.000 ha, (ii) masih memiliki ekosistem alami yang selanjunya dibawa pedagang setempat
dan dan spesies endemik, (iii) memiliki stus ke Eropa. Kejayaan ini berakhir sejalan
purbakala, memiliki nilai spiritual dan estetis; (iv)
memiliki fisiografi dan fisiognomi yang khas; serta dengan datangnya imperialisme barat, dimana
(v) memungkinkan dikembangkannya pariwisata. komoditas asli Nusantara ini ditanam secara
Kawasan ini juga mendukung dibangunnya pusat- masal dalam perkebunan-perkebunan besar di
pusat konservasi keanekaragaman seperti kebun Afrika dan Amerika tropis dengan dukungan
raya, taman safari, taman hutan raya, taman
agrowisata, dan lain-lain sehingga dapat dibentuk
sistem perbudakan, sehingga nilai ekonomi-
kawasan konservasi biodiversitas yang terintegrasi. nya turun (Setyawan, 2000).
Keanekaragaman hayati Indonesia sejak
Kata kunci: tata ruang, Gunung Lawu, keanekara- lama dimanfaatkan untuk berbagai keperluan,
gaman hayati, kawasan konservasi, ekosistem alami. baik oleh peneliti asing, perusahaan, maupun
masyarakat lokal, dengan sedikit atau tanpa
imbalan untuk kegiatan konservasi. Indonesia
PENDAHULUAN merupakan negara yang kaya keaneka-
ragaman hayati. Dalam era globalisasi ini,
Keanekaragaman hayati (kehati) atau batas ekonomi negara satu dengan lainnya
biodiversitas adalah: keanekaragaman di hampir tidak ada lagi, sehingga terbuka
antara makhluk hidup dari semua sumber/ peluang untuk memasarkan produk ke negara-
ekosistem, termasuk dari daratan, lautan, negara lain. Namun di sisi lain terdapat
ekosistem akuatik lain, serta kompleks- tuntutan kuat untuk menghasilkan produk
kompleks ekologi dimana keanekaragaman bermutu tinggi, murah, dan cukup, sehingga
menjadi bagiannya, sehingga mencakup pekerjaan harus secara efektif dan efisien.
keanekaragaman di dalam spesies, di antara Produk negara-negara industri maju umumnya
spesies, dan ekosistem (Anonim, 1993; sudah dirancang dari awal sedemikian rupa
30 ENVIRO 3 (2): 29-39, September 2003

sehingga tidak menyimpang dari standar mutu burung, dan 25% ikan (Anonim, 1993; Groom-
yang ditetapkan. Kegagalan berkompetisi da- bridge, 1990). Ekosistem hutan di Indonesia
pat menyebabkan Indonesia menjadi konsu- sangat khas dan beragam, didominasi flora
men permanen produk-produk negara lain. tropis dengan proporsi spesies endemik tinggi.
Dalam persaingan ini, selain kualitas produk, Hutan Indonesia kaya berbagai spesies
faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah tumbuhan, antara lain koleksi palemnya
sumber daya genetik dan akses terhadap terbesar di dunia, jumlah Dipterocarpaceae
pangkalan data standar mutu berbagai yang bernilai ekonomi tinggi lebih dari 400
komoditas pasar dunia. Dengan keaneka- spesies, dan menyimpan sekitar 25.000
ragaman hayatinya yang luar biasa, Indonesia tumbuhan berbunga (Anonim. 1993).
memiliki kelebihan komparatif terhadap Indonesia menduduki urutan pertama di
negara-negara lain (Moeljopawiro, 2000). dunia dalam hal kekayaan spesies mamalia
Keanekaragaman hayati sebagai sumber dan kupu-kupu berekor, urutan ketiga untuk
daya alam terbaharukan, dapat diandalkan reptilia, urutan keempat untuk burung, serta
sebagai tulang punggung pengembangan bio- urutan ketujuh untuk tumbuhan berbunga.
industri, seperti biopestisida, bio-pupuk, Luasnya perairan Indonesia dan kekayaan laut
pengelolaan limbah, dan lain-lain. Dengan di wilayah Indo-Pasifik barat, menambah
keanekaragaman hayati sebagai dasar, serta besar keanekaragaman hayati ini. Indonesia
didukung kebutuhan pasar dunia, dapat memiliki berbagai habitat pantai dan laut,
dikembangkan industri farmasi, kosmetika, termasuk hutan mangrove paling luas di dunia
senyawa aromatik, dan ekoturisme. Di dan sistem terumbu karang yang luas, dengan
samping itu keanekaragaman hayati sangat jenis-jenis ikan dan organisme terumbu karang
bermanfaat bagi masyarakat tradisional yang terkaya di dunia (Anonim. 1993).
multi-etnik dengan aneka budaya dan aneka Namun tingkat keterancaman spesies di
kebutuhan produk hayati. Keanekaragaman Indonesia juga termasuk paling tinggi.
hayati juga perlu bagi terciptanya lingkungan Indonesia menduduki lima besar untuk lima
hidup yang memenuhi kebutuhan manusia, kelas vertebrata dalam hal kemungkinan
seperti kebutuhan fisik badan, estetika, dan kepunahannya, baik mamalia, burung, reptilia,
spiritual (Hardjasoemantri, 2000). amfibia maupun ikan (Groombridge, 1990).
Upaya konservasi dan rehabilitasi kerusakan
keanekaragaman hayati belum seimbang
KEHATI INDONESIA dengan percepatan penyusutan sumber daya
dan erosi genetik. Oleh karena itu diperlukan
Posisi Indonesia di katulistiwa, di antara konsep dan strategi pelestarian dan peman-
dua benua (Asia dan Australia), di antara dua faatan kekayaan biodiversitas untuk pemba-
samudera (Pasifik dan Hindia), serta ter- ngunan nasional yang berkelanjutan, yakni
bentang mulai dari Sumatera di bagian barat pembangunan yang memenuhi kebutuhan
sampai Irian Jaya (Papua) di bagian timur sekarang tanpa mengurangi kemampuan
sepanjang lebih dari 5.000 km menjadikan generasi mendatang memenuhi kebutuhan
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar hidupnya (Hardjasoemantri, 2000).
di dunia dengan luas wilayah daratan dan
lautan kurang lebih 7,7 juta km2, terdiri dari
17.500-an pulau dengan panjang garis pantai KEHATI PULAU JAWA
lebih dari 81.000 km (Anonim. 1997). Posisi ini
menyebabkan terbentuknya berbagai macam Jawa merupakan hotspot biodiversitas
ekosistem, yang dihuni oleh berbagai macam dunia, dan hutan pegunungan merupakan
spesies, termasuk sejumlah besar spesies hotspot biodiversitas di pulau ini. Pulau Jawa
endemik, sehingga tingkat biodiversitas boleh jadi merupakan daerah tropis paling
Indonesia sangat tinggi (Setyawan, 2000). kaya dan penting (Werner, 1999). Kawasan ini
Indonesia merupakan pusat biodiversitas memiliki iklim yang sangat beragam, di bagian
utama di dunia, meskipun luasnya hanya 1,3% timur cenderung kering dan di bagian barat
permukaan bumi. Kawasan ini merupakan cenderung basah, sehingga memungkinkan
habitat bagi 10% tumbuhan berbunga di dunia, berbagai hewan, tumbuhan dan mikrobia
12% mamalia, 16% reptilia dan amfibia, 17% hidup dan berkembang. Pulau ini sangat subur
SETYAWAN – Tata ruang Gunung Lawu 31

karena kaya gunung berapi, sehingga sejak KEHATI KAWASAN PEGUNUNGAN


lama menjadi pulau favorit untuk bermukim,
akibatnya kepadatan penduduk sangat tinggi. Di Jawa, gunung merupakan salah satu
Pada saat ini, Jawa yang luasnya hanya habitat yang masih agak bebas dari eksploitasi
126,566 km2 dihuni lebih dari 114 juta manusia, di samping taman nasional, cagar
manusia (Soeriaatmadja, 1999), melebihi alam, suaka margasatwa, hutan lindung, dan
separuh penduduk Indonesia yang jumlahnya lain-lain. Di tempat ini terdapat bentuk
sekitar 206 juta jiwa. Pertambahan penduduk kehidupan yang khas karena ketinggian dan
yang tinggi menyebabkan tingkat eksploitasi kemiringan gunung menyebabkan terjadinya
alam dan perusakan habitat sangat tinggi. variasi suhu, curah hujan, intensitas sinar
Kerusakan ini diperparah krisis ekonomi yang matahari, ketebalan awan, kelembaban dan
melanda Indonesia sejak tahun 1997, dimana kecepatan angin, sehingga cenderung memi-
tekanan masyarakat terhadap hutan liki spesies-spesies yang berbeda dengan
meningkat sangat tajam. Sehingga dalam dataran rendah. Hutan pegunungan mulai
jangka panjang kekayaan biota Jawa yang terbentuk di ketinggian sekitar 2000 m, dimana
terkenal sangat beragam dikuatirkan akan suhu merupakan faktor dominan yang menen-
musnah (Kompas 14/6/1999). tukan formasi hutan dan distribusi hewan.
Kekuatiran ini memunculkan kesadaran Konsep ini dapat diperluas hingga ketinggian
akan konservasi. Perlindungan alam di Pulau sekitar 1000 m, sepanjang faktor suhu menye-
Jawa telah dimulai sejak jaman Belanda babkan komposisi biota cenderung berbeda
dengan munculnya staatblat yang mengatur dengan daratan rendah (Steenis, 1972).
cagar alam dan suaka margasatwa. Kesada- Whitmore (dalam Whitten dkk. 1996).
ran global akan pentingnya konservasi biodi- membagi hutan Asia Tenggara berdasarkan
versitas mulai menjadi tuntutan masyarakat elevasi sebagai berikut: 0-1200 m sebagai
modern sejak tahun 1960-an. Terutama hutan dataran rendah (lowland forest), 1200-
dengan terbitnya buku “Red Data Book” 1800 m sebagai hutan gunung dataran rendah
mengenai keterancaman dan kepunahan (lower montane forest), 1800-3000 m sebagai
beberapa spesies eksotis dunia (Groombridge, hutan gunung (upper montane forest), dan di
1990), serta ”The Silence Spring” mengenai atas 3000m sebagai subalpine forest (hutan
bahaya kerusakan lingkungan akibat pestisida subalpin. Hal ini sedikit berbeda dengan pem-
(Carlson, 1961). Pada saat ini negara-negara bagian menurut Steenis (1972) mengelom-
maju di Amerika Utara dan Eropa menerapkan pokkan zonasi iklim di Jawa sebagai berikut:
standard yang ketat untuk menjaga kelestarian 0–1000 m sebagai zona tropis, dimana 500–
biodiversitas. Namun negara-negara berkem- 1000 m subzona colline; 1000–2400 m se-
bang di garis katulistiwa yang memiliki bagai zona montane, dimana 1000–1500m
biodiversitas paling tinggi belum memberi sebagai subzona submontane; di atas 2400 m
pehatian penuh atas kelestarian biodiversitas sebagai zona subalpine.
(Setyawan, 2000). Hampir semua gunung di Jawa Tengah
Propinsi Jawa Tengah mempunyai kekaya- merupakan gunung api. Ekosistem hutan
an biodiversitas cukup tinggi, karena ekosis- gunung bervariasi, kondisi hutan gunung di
temnya lengkap mulai dari ekosistem terumbu bawah ketinggian 1200 m, hampir sama
karang, hutan bakau (mangrove), kars, waduk, dengan hutan dataran rendah. Akan tetapi
danau, sungai sampai ekosistem hutan da- dengan bertambahnya ketinggian lokasi, maka
taran rendah, hutan pegunungan, dan hutan tinggi pohon menjadi lebih pendek, tidak
subalpin. Tetapi kelestarian ekosistem- masif, dan umum ditemukan tumbuhan epifit,
ekosistem ini umumnya terancam dalam misalnya anggrek. Tumbuhan gunung memiliki
kondisi, terutama akibat perubahan habitat. ciri morfologi daun yang cenderung tebal.
Mengingat ekosistem tersebut merupakan Kelembaban tinggi merupakan tempat yang
kekayaan Propinsi Jawa Tengah, maka perlu subur untuk pertumbuhan tumbuhan lumut
kiranya dilakukan konservasi pada tingkat dan lumut kerak. Ekosistem hutan subalpin
ekosistem. Sehingga kekayaan spesies di dicirikan oleh tumbuhan yang ukuran daunnya
dalamnya ekosistem dapat dimanfaatkan dan kecil, cabang diselimuti epifit dan tidak ada
tetap lestari (Djohan, 2000). anggrek. Bentuk morfologi beberapa pohon
pegunungan menyesuaikan didi dengan arah
32 ENVIRO 3 (2): 29-39, September 2003

angin, misalnya Vaccinium varingaefolium. tempat-tempat peristirahaan yang dapat


Hutan subalpin hanya mempunyai satu strata mengganggu fungsi hidrologi. Kepadatan pen-
dan miskin dalam spesies. Ciri khas komunitas duduk yang tinggi menyebabkan kebutuhan
ini adalah ditemukannya tumbuhan edelweiss lahan pertanian sangat besar, akibatnya
(Anaphalis javanica). Tumbuhan ini tidak usaha pertanian merambah pula lereng-lereng
menyukai cahaya, terlebih cahaya matahari pegunungan yang terjal, sehingga
yang kuat. Anakan spesies ini hanya dapat mengganggu fungsi hidrologi dan menaikkan
tumbuh sepanjang 20 cm dalam waktu 13 tingkat sedimentasi (Setyawan, 2000).
tahun, sehingga spesimen dengan diameter Di antara tujuh unit biogeografi kepulauan
15 cm, mungkin umurnya lebih dari 100 tahun di Nusantara, yakni: (i) Jawa dan Bali, (ii)
(Whitten dkk. 1996). Sumatera, (iii) Kalimantan, (iv) Sulawesi, (v)
Nusa Tenggara, (vi) Maluku, dan (vii) Papua
dan pulau-pulau sekitarnya, tampak memang
PERAN HUTAN PEGUNUNGAN Pulau Jawa dan Bali paling tinggi yang proses
pemerosotan keanekaragaman hayatinya,
Hutan pegunungan menempati titik sentral karena banyaknya hutan yang diubah menjadi
dalam daur hidrologi. Topografi gunung sawah dan permukiman. Jawa Tengah,
menyebabkan titik-titik air yang menguap di merupakan propinsi yang paling sedikit
udara dapat terkondensasi menjadi hujan. Di berhutan, karena kepadatan penduduk yang
samping itu hutan pegunungan dengan mencapai > 850 jiwa/km2, serta merupakan
tumbuhannya yang lebat, membentuk masa daerah penghasil beras terbesar di Jawa.
humus yang cukup besar dan berongga, Hutan di propinsi ini hanya berupa kantung-
sehingga dapat menahan air hujan dan kantung kecil yang tersebar tidak merata
mendistribusikannya secara berkelanjutan (Soeriaatmadja, 2000).
dalam bentuk mata air, anak sungai dan lain- Ketiadaan pusat-pusat konservasi keane-
lain. Hutan pegunungan juga berfungsi karagaman hayati di Jawa Tengah dapat
menahan laju erosi sehingga waduk, sungai, menimbulkan masalah serius dalam upaya
saluran air dan mencegah kehancuran hutan pemuliaan spesies baru, serta pengendalian
mangrove di muara sungai akibat tingkat hama dan penyakit. Selama ini hal tersebut
sedimentasi yang berlebih. Hutan pegunungan belum tampak, boleh jadi karena Jawa Tengah
juga merupakan habitat satwa dan sejumlah sudah amat menggantungkan keperluan
tumbuhan yang sangat beragam. Di pulau keanekaragaman hayati dari berbagai wilayah
Jawa, hutan pegunungan merupakan habitat lain di Nusantara. Dalam dunia pertanian,
yang sangat tinggi keanekaragaman makin banyak suatu wilayah menggunakan
hayatinya. Hutan pegunungan memiliki potensi pestisida, seperti di persawahan Jawa
ekonomi cukup tinggi, berupa hasil hutan dan Tengah, maka makin meningkatkan
pariwisata. Hasil hutan meliputi kayu, tanin keanekaragaman hayati populasi hama dan
(damar), madu lebah, tanaman obat dan lain- penyakit, serta makin beranekaragam pula
lain, sedang potensi pariwisata dapat predator dan parasitoid yang mampu
dikembangkan sejalan dengan kecenderungan mengendalikan hama dan penyakit tersebut.
back to nature (Setyawan, 2000). Apabila Jawa Tengah ingin mengembangkan
suatu “sistem pertanian berkelanjutan” berarti
petani harus mampu mengubah sistem per-
ANCAMAN KEHATI JAWA TENGAH taniannya menjadi ekosistem pertanian yang
lebih beranekaragam (Soeriaatmadja, 2000).
Jawa merupakan pulau dengan kepadatan Biodiversitas di Jawa, khususnya di Jawa
populasi sangat tinggi. Hal ini menyebabkan Tengah, mengalami pengikisan berat hingga
kebutuhan akan lahan, baik untuk pertanian, kondisinya sangat memprihatinkan. Umbi-
industri, pemukinan, jalan dan lain-lain sangat umbian, buah-buahan, burung, ikan yang di
tinggi pula, hasilnya semua tempat tahun 1950-an masih mudah dijumpai di
menanggung tekanan lingkungan. Dataran sekitar pemukiman, sekarang sudah sulit
tinggi telah menjadi kawasan wisata sejak ditemukan, bahkan di lingkungan hutan
jaman Belanda, karena relatif alami dan jauh sekalipun, misalnya umbi gembolo (Dioscorea
dari kebisingan, sehingga sering dibangun alata L); buah nangka celeng (Artocarpus
SETYAWAN – Tata ruang Gunung Lawu 33

heterophyllus Lmk); burung elang (Haliaster Perhutani yang mengubah hutan tropika
indus) dan ikan gabus (Ophiocephalus basah menjadi tegakan pinus. Ada tiga faktor
striatus). Beberapa tumbuhan dan hewan yang menyebabkan masyarakat melakukan
bahkan sudah dinyatakan punah, misalnya pengikisan biodiversitas di Jawa. Pertama
harimau jawa (Panthera tigris sondaicus) dan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Kedua
jeruk jepara (Limnocitrus littoralis). Terkikisnya untuk memperoleh keuntungan finansial/
berbagai flora dan fauna ini disebabkan oleh ekonomi. Ketiga untuk memenuhi kebutuhan
meledaknya populasi manusia. Pengikisan energi berupa kayu bakar dan hijauan sebagai
dan perusakan biodiversitas ini sudah dimulai pakan ternak. Dengan membaiknya ekonomi
sejak jaman Kolonial Belanda, ketika terjadi Indonesia di masa Orde Baru, maka
pembukaan hutan untuk kebun dan pemu- perusakan biodiversitas oleh masyarakat
kiman. Perusakan pada waktu itu dilakukan untuk tujuan pemenuhan pangan sudah tidak
oleh pemerintah dan perusahaan swasta asing dilakukan. Tetapi akhir-akhir ini perusakan
secara besar-besaran (Rahadi, 2000). untuk tujuan ekonomi masih terus berjalan dan
Dewasa ini pengikisan dan perusakan makin hebat. Sementara perusakan untuk
biodiversitas masih terus berlanjut dan paling keperluan pakan ternak dan energi juga tidak
banyak tetap dilakukan oleh pemerintah pernah tuntas penyelesaiannya (Rahadi, 2000).
melalui Perhutani. Kawasan hutan di Jawa,
khususnya Jawa Tengah, lebih banyak berupa
pegunungan dengan tingkat kemiringan di KEHATI GUNUNG LAWU
atas 30 derajat. Mestinya hutan-hutan yang
merupakan kawasan konservasi ini tetap Gunung Lawu, gunung ketiga tertinggi di
dibiarkan dalam bentuk aslinya berupa hutan Pulau Jawa, merupakan pegunungan vulkanik
hujan tropika basah. Tetapi sebagian dari yang tidak aktif lagi. Secara geografi terletak di
kawasan tersebut oleh Perhutani dijadikan sekitar 111o15’ BT dan 7o30’LS. Lereng barat
areal tanaman pinus (Pinus merkusii). termasuk Propinsi Jawa Tengah, meliputi
Perubahan dari tegakan heterogen menjadi Kabupaten Karanganyar, Sragen dan
tegakan homogen akan merusak biodiversitas Wonogiri, sedang lereng timur termasuk
di dalamnya. Hal ini berbeda dengan Propinsi Jawa Timur, meliputi Kabupaten
perubahan hutan hujan tropika basah menjadi Magetan dan Ngawi. Gunung ini memanjang
hutan jati (Tectona grandis L.), yang terjadi se- dari utara ke selatan, dipisahkan jalan raya
jak jaman Hindu, dimana masih tersisa tempat penghubung propinsi Jawa Tengah dan Jawa
bagi keanekaragaman hayati. Di bawah tegak- Timur, dengan Cemoro Sewu sebagai dusun
an jati masih dapat tumbuh aneka jenis se- teratas. Topografi bagian utara berbentuk
mak, rerumputan, terna maupun liana. Satwa kerucut dengan puncak Argo Dumilah (3.265
seperti rusa, merak, babi hutan dan ular masih m), sedang bagian selatan sangat kompleks
dapat bertahan hidup di hutan jati (Rahadi, 2000). terdiri dari bukit dan jurang dengan puncak
Tegakan pinus nyaris tidak memberikan Jobolarangan (2.298 m) (Gambar 1.) (US
tempat bagi biodiversitas hutan tropika basah. Army Map Services, 1963). Hutan di lereng
Sebagai kawasan konservasi air pun, tegakan barat gunung ini dikelola Perum Perhutani
pinus juga tidak tepat karena bentuk tajuknya KPH Surakarta (Unit I Jawa Tengah), sedang
yang meruncing dan daunnya yang menjarum. lereng timur dikelola KPH Lawu dan sekitarnya
Bentuk tajuk serta daun demikian tidak akan (Unit II Jawa Timur) (Setyawan, 2001).
mampu menahan guyuran air hujan. Habitat di Gunung Lawu merupakan habitat yang
bawah tegakan pinus juga tidak menyisakan sangat eksotis, karena menjadi batas antara
ruang bagi tumbuhan lain. Sebab serasah lingkungan Jawa Timur yang cenderung datar,
pinus sulit sekali hancur menjadi humus kering, dan gersang dengan Jawa Tengah
hingga rumput dan belukar susah untuk yang mulai basah, sebelum mencapai Jawa
tumbuh. Selain itu pinus juga memiliki sifat Barat dan Banten yang bergunung-gunung,
alelopati, sama halnya dengan alang-alang, basah dan dingin. Sebagai kawasan peralihan
hingga tumbuhan lain sulit untuk hidup ekologi (ekoton), tempat ini ditumbuhi spesies-
berdampingan dengannya (Rahadi, 2000). spesies khas Jawa Timur yang tidak tumbuh di
Perusakan hutan di Jawa oleh masyarakat, Jawa Barat dan sebaliknya. Cemara gunung
sebenarnya tidak sehebat yang dilakukan (Casuarina junghuhniana Miq.) yang banyak
34 ENVIRO 3 (2): 29-39, September 2003

Gambar 1. Gunung Lawu dan kawasan di sekitarnya.

tumbuh di Gunung Lawu dan gunung-gunung hanya didominasi rerumputan dan semak-
Jawa Timur, tidak tumbuh di gunung-gunung semak, menunjukkan proses suksesi yang
sebelah barat Gunung Lawu, atau sebaliknya masih berlangsung. Bagian luar hutan berupa
pohon rasamala (Altingia exselsa) yang me- hutan tanaman industri yang didominasi pohon
limpah di Jawa Barat dan Banten tetapi tidak pinus, puspa, kipres, dan Acacia decurrens,
tumbuh alami di Jawa Timur (Steenis, 1972). yang membatasai lahan budidaya masyarakat
Jobolarangan (atau dilafalkan masyarakat dengan hutan alam (Setyawan, 2001).
setempat sebagai Jogolarangan) merupakan Keanekaragaman hayati Jobolarangan
salah satu contoh lokasi di Gunung Lawu yang sangat tinggi. Dalam penelitian pendahuluan
ekosistemnya masih alami dan keaneka- dilaporkan adanya lebih dari 150 spesies tum-
ragaman hayati cukup tinggi, beserta berbagai buhan Spermatophyta (Sutarno dkk., 2001),
permasalahannya. Bagian dalam hutan ini termasuk 12 spesies anggrek epifit (Marsusi
berupa hutan primer, berisi pohon-pohon tua dkk., 2001). Hal ini melengkapi penelitian
dan besar, dengan tinggi dapat mencapai 40- sebelumnya yang menemukan 77 spesies
60 meter dan garis tengah sekitar 1½ meter. Cryptogamae (Setyawan dan Sugiyarto, 2001).
Intensitas sinar matahari di lantai hutan sangat Juga dilaporkan adanya sekitar 20 spesies
rendah dan hanya memungkinkan pertumbuh- plankton (Susilowati, 2001), 12 familia larva
an herba dan semak-semak tertentu. Namun insekta akuatik (Mahajoeno, 2001), 6 kelom-
beberapa puncak bukit sempat mengalami pok mesofauna tanah (Sugiyarto dkk., 2001)
kebakaran hebat pada tahun 1997, sehingga dan 5 tipe spora endogone (Listyawati dkk.,
SETYAWAN – Tata ruang Gunung Lawu 35

2001). Penelitian lebih detail diyakini akan mengingat semakin hari kelompok yang
menambah jumlah spesies yang ditemukan. datang semakin banyak (Setyawan, 2001).
Pengamatan secara acak di lapangan
menunjukkan bahwa nilai penutupan setiap
spesies tumbuhan berkisar 10-60%, sehingga KONSERVASI KEHATI
seluruh permukaan tanah tertutup kanopi
tumbuhan, termasuk lantai hutan yang terbuka Konsep taman nasional diyakini merupakan
karena runtuhnya pohon tua atau bekas model konservasi ekosistem alami yang paling
kebakaran. Tumbuhan tidak hanya dijumpai di tepat. Dalam Undang-undang No 5 tahun
permukaan tanah, tetapi juga merambat atau 1990 tentang “Konservasi Sumberdaya Alam
epifit pada pohon dan tebing batu. Di hutan ini Hayati dan Ekosistemnya”, disebutkan bahwa:
ditemukan pula berbagai spesies serangga taman nasional adalah kawasan pelestarian
dan laba-laba, burung, ular, kadal dan katak. alam yang mempunyai ekosistem asli yang
Menurut penduduk setempat di lokasi ini dapat dikelola dengan sistem zonasi dan dapat
pula dijumpai beberapa mamalia besar, se- dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan,
perti anjing hutan, macan, kucing hutan, rusa, penelitian, pengembangan budidaya dan
celeng, lutung dan kera (Setyawan, 2001). rekreasi/pariwisata. Untuk mewujudkan fungsi
Menurut Setyawan dan Sugiyarto (2001), ini, pengelolaan taman nasional dibagi dalam
tingginya keanekaragaman hayati di Jobo- beberapa zonasi. Zona inti merupakan ka-
larangan disebabkan letaknya di lereng wasan yang sama sekali tidak boleh dijamah
selatan Gunung Lawu, dimana curah hujannya kecuali untuk penelitian. Zona pelindung
tinggi; tidak pernah terbakar, kecuali beberapa merupakan kawasan yang dapat dimanfaat-
puncak bukit; topografinya berupa bukit-bukit kan, misalnya untuk pariwisata alam, dengan
dan jurang dalam yang sulit dijangkau; tidak merubah keaslian ekosistem. Zona
merupakan area latihan rutin pasukan elit penyangga dapat dilakukan pengambilan asli
yang pada masa lalu sangat disegani; serta dengan batasan tertentu. Zona pemanfaatan
adanya kesadaran penduduk setempat untuk dapat dilakukan budidaya pertanian dengan
menjaga kelestarian hutan yang merupakan tidak mengganggu keseluruhan ekosistem
sumber air bagi kehidupan sehari-hari. (Setiono dan Sensudi 2000; Yusuf, 1987).
Salah satu jejak manusia yang paling Anggapan bahwa taman nasional harus
menyolok di hutan Jobolarangan adalah jalan- steril dari aktivitas manusia adalah tidak
jalan setapak yang dibuat untuk memasang benar. Masyarakat lokal beserta kearifan
pipa air dan menghubungkan desa-desa yang budayanya seringkali menjadi bagian tidak
berseberangan bukit. Jalan setapak ini penuh terpisahkan dari ekosistem alam. Sehingga
dengan serasah dan pada tempat terbuka kerap kali pemindahan mereka dari tempat
tertutup oleh semak-semak, menunjukkan asalnya, bukan hanya gagal memindahkan
jarang dilalui manusia. Meskipun demikian orang setelah puluhan tahun, tetapi juga
Jobolarangan bukan kawasan yang steril dari mempermiskin masyarakat secara struktural
gangguan manusia dan alam. Kebakaran dan turun-temurun. Meskipun harus diakui
hutan merupakan momok yang terus pula budaya konsumerisme telah mulai
mengancam walaupun diakui sebagai bagian menggerogoti kearifan tradisional sebagian
siklus alamiah ekosistem hutan pegunungan di masyarakat, sehingga sikap terhadap keles-
Jawa. Pengambilan pohon secara ilegal untuk tarian lingkungan mulai dikhawatirkan para
bahan bangunan, kayu bakar dan bahan baku pemerhati biodiversitas (Setyawan, 2001).
pembuatan arang masih dilakukan masyarakat Kawasan konservasi di Indonesia meliputi
setempat, sedangkan masyarakat luar areal seluas hampir 20 juta ha (Yusuf, 1987),
kadang-kadang datang untuk menembak rusa, bahkan menurut Isma’il (2000) luasnya
celeng dan ayam hutan. Kealamiahan hutan mencapai 22,4 juta ha, terdiri dari taman
ini juga mendorong berbagai kelompok pecinta nasional, cagar alam, suaka margasatwa,
alam melakukan jungle survival selama hutan wisata dan taman buru. Indonesia
berhari-hari dengan mengkonsumsi hewan memiliki sekurang-kurangnya 30 taman
dan tumbuhan liar, sehingga dikhawatirkan nasional di darat dan enam di laut dengan
dapat mengganggu kelestarian ekosistem, total luas sekitar 15 juta ha.
36 ENVIRO 3 (2): 29-39, September 2003

Di Jawa terdapat sembilan taman nasional, ruang adalah proses perencanaan tata ruang,
yakni tujuh di darat dan dua di laut. Di Propinsi pemanfaatan ruang dan pengendalian ruang.
Jawa Barat dan Banten terdapat tiga taman Penataaan ruang sering dikaitkan dengan
nasional yaitu: TN Ujung Kulon (122.956 ha), aspek fungsi, efisiensi dan estetika, sehingga
TN Gunung Gede Pangrango (15.000 ha) dan kesan yang terangkat adalah penataan ruang
TN Gunung Halimun (40.000 ha). Di Propinsi fisik. Pada kenyataannya aspek-aspek yang
Jawa Timur terdapat empat taman nasional terkait dengan penataan ruang bukan hanya
yaitu: TN Bromo, Tengger, Semeru (50.276,2 aspek fisik, melainkan juga aspek ekonomi,
ha), TN Meru Betiri (58.000 ha), TN Baluran sosial-budaya, politik dan lingkungan. Aspek-
(25.000 ha) dan TN Alas Purwo (43.420 ha). aspek ini perlu menjadi pertimbangan meng-
Di samping itu terdapat pula dua taman ingat yang terkait dengan penataan ruang
nasional laut, yaitu TNL Kepulauan Seribu di adalah manusia dengan berbagai aktivitasnya.
DKI Jakarta (108.000 ha) dan TNL Kepulauan Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat
Karimunjawa di Jawa Tengah (111.625 ha) berdiri sendiri, namun selalu berinteraksi
(Anonim, 1993). Akan tetapi Propinsi Jawa dengan lingkungan sosial dan lingkungan
Tengah yang terletak di tengah-tengah pulau alam. Untuk mencapai keselarasan antara
Jawa tidak memiliki taman nasional di manusia dengan lingkungannya, maka perlu
daratannya, meskipun ekosistemnya sangat pengaturan berkaitan dengan penyelarasan
khas karena merupakan daerah peralihan. keseimbangan kepentingan antara seluruh
Hingga kini mimpi lama masyarakat Jawa aspek tersebut (Sriwidiyoko, 2001).
Tengah untuk memiliki taman nasional di Pertimbangan dalam perencanaan tata
daratan, guna disandingkan dengan TNL ruang meliputi: (i) keserasian, keselarasan,
Karimunjawa, belum berakhir (Anonim, 2001). serta keseimbangan fungsi budidaya dan
Sebenarnya gagasan pembentukan taman fungsi lindung; (ii) dimensi waktu, teknologi,
nasional di daratan Jawa Tengah telah lama sosial budaya, dan pertahanan-keamanan, (iii)
digulirkan. Pada tahun 1990-an telah pengelolaan secara terpadu berbagai sumber
diupayakan mendorong pembentukan taman daya, fungsi, dan estetika lingkungan serta
nasional di Pegunungan Dieng (Rombang dan kualitas ruang. Produk perencanaan tata
Rudyanto, 1999), meskipun pada akhirnya ruang berupa konsep-konsep rencana tata
secara teknis sulit dilaksanakan, mengingat ruang, dengan hirarki: Rencana Tata Ruang
tingginya eksploitasi alam dan perubahan Wilayah Nasional (RTRWN), Rencana Tata
ekosistem di tempat tersebut. Pada tahun Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP), dan
2001 dicanangkan pembentukan TN Gunung Rencana Bagian Wilayah Kota (RBWK), yang
Merapi, akan tetapi sosialisasi yang kurang semuanya berupaya menjabarkan keserasian
dan perbedaan kepentingan menyebabkan antara pemanfaatan ruang dengan berbagai
tingginya tantangan masyarakat setempat. aspek. Secara garis besar produk-produk
Salah satu lokasi yang sangat potensial untuk Rencana Tata Ruang terbagi dalam fungsi
pendirian taman nasional, dimana dukungan budidaya dan fungsi lindung. Pengelolaan
masyarakat cukup kuat adalah Gunung Lawu, kawasan lindung bertujuan untuk mencegah
yang terletak di perbatasan propinsi Jawa timbulnya kerusakan fungsi lingkungan hidup,
Tengah dan Jawa Timur (Anonim, 2001). sedangkan pengelolaan kawasan budidaya
bertujuan untuk meningkatkan daya guna dan
hasil guna pemanfaatan ruang dan sumber
TATA RUANG daya, serta menghindari konflik pemanfaatan
ruang dengan kelestarian lingkungan hidup.
Dalam Undang-Undang No. 24 tahun 1992, Dalam kaitannya dengan fungsi lindung,
pengertian ruang adalah wadah yang meliputi Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa
daratan, lautan dan udara sebagai suatu Tengah menetapkan bahwa pengelolaan
kesatuan wilayah, tempat manusia dan makh- kawasan lindung bertjuan: (i) meningkatkan
luk lainnya hidup dan melakukan kegiatan fungsi lindung terhadap tanah, air, iklim,
serta memelihara kelangsungan hidupnya. tumbuhan, dan satwa, serta nilai sejarah dan
Sedangkan tata ruang adalah wujud struktural budaya bangsa; (ii) mempertahankan keane-
dan pola pemanfaatan ruang baik karagaman tumbuhan, satwa, tipe ekosistem
direncanakan atau tidak. Adapun penataan dan keunikan alam (Sriwidiyoko, 2001).
SETYAWAN – Tata ruang Gunung Lawu 37

HUBUNGAN TAMAN NASIONAL


KEHATI DAN RENCANA GUNUNG LAWU
TATA RUANG
Menurut Setiono dan Sensudi (2000),
terdapat beberapa persyaratan agar suatu
Sebagai salah satu pusat keanekaragaman
kawasan dapat diusulkan menjadi taman
hayati dunia, Indonesia menjadi pusat incaran
nasional. Selanjutnya dinyatakan oleh
dunia untuk mencari senyawa bioaktif sebagai
Setyawan (2001) dan Anonim (2001) bahwa
bahan baku obat modern. Hal ini menunjukkan
tampaknya semua persyaratan tersebut dapat
betapa keanekaragaman hayati yang terkan-
dipenuhi oleh Gunung Lawu.
dung dalam berbagai kawasan lindung (hutan
Pertama: Secara keseluruhan hutan di
dan berbagai kawasan lainnya) menjadi
sangat penting dan merupakan potensi terpen- Gunung Lawu (> 1200 m.) meliputi areal
dam (bioprospeksi) yang harus dipelihara, seluas lebih dari 15.000 ha. Luas ini dapat
diperkaya, dimanfaatkan, dan dikelola secara bertambah apabila diikutsertakan hutan pada
bijaksana agar tidak punah dan berkurang. ketinggian yang lebih rendah. Oleh karena itu
Indonesia telah meratifikasi Convention on kawasan ini memenuhi persyaratan untuk
Biological Diversity dengan mengeluarkan dijadikan taman nasional, mengingat
Undang-Undang RI Nomor 5 tahun 1994 peraturan di Indonesia menetapkan luas
(Sriwidiyoko, 2001). taman nasional minimal 10.000 ha.
Tujuan konvensi ini adalah melindungi Kedua: Vegetasi hutan Gunung Lawu
keanekaragaman hayati secara berkelanjutan relatif mapan karena tidak adanya aktifitas
dan pembagian keuntungan yang dihasilkan vulkanik dalam jangka panjang; serta masih
dari pendayagunaan sumber daya genetik dijumpai banyak lokasi yang memiliki
secara adil, termasuk akses terhadap sumber ekosistem alami tanpa campur tangan
daya genetik dan alih teknologi dengan manusia atau gangguan alam seperti
memperhatikan semua hak atas sumber- kebakaran. Juga terdapat spesies-spesies
sumber daya dan teknologi. Berkaitan dengan biota yang khas, misalnya jalak lawu yang
itu dalam kebijaksanaan Tata Ruang Wilayah belum masuk dalam buku-buku panduan
Propinsi Jawa Tengah, telah ditetapkan lapangan dan cemara gunung (Casuarina
berbagai kawasan lindung seluas 281.190 ha, junghuhniana) yang secara alami tidak pernah
terdiri dari: (i) kawasan yang melindungi dijumpai pada gunung-gunung di sebelah
kawasan bawahnya seluas 154.129 ha, (ii) barat gunung ini. Ekosistem alami dan spesies
kawasan perlindungan setempat seluas biota yang khas merupakan salah satu
74.417 ha, (iii) Kawasan suaka alam, persyaratan pembentukan taman nasional.
pelestarian alam, dan cagar budaya seluas Ketiga: Gunung Lawu memiliki banyak
16.110 ha, dan (iv) kawasan rawan bencana situs purbakala karena merupakan tempat
alam seluas 36.543 ha (Sriwidiyoko, 2001). pengasingan penguasa Majapahit terakhir,
Upaya pemerintah dalam menyelamatkan Raja Brawijaya V yang tidak bersedia
keanekaragaman hayati tidak dapat dilepas- mengikuti putranya, Raden Fatah ke Demak.
kan dari upaya peningkatan pendapatan Situs-situs ini tersebar mulai dari kaki gunung,
masyarakat, mengingat plasma nutfah di misalnya Candi Sukuh dan Candi Cetho,
berbagai kawasan pada dasarnya dapat hingga puncak gunung, seperti “makam” Argo
dilestarikan apabila masyarakat merasakan Dalem. Dalam kepercayaan tradisional Jawa
keuntungan dari pengusahaan biodiversitas “mataraman”, gunung ini dipercaya memiliki
tersebut. Melalui Rencana Tata Ruang, telah makna spiritual tertentu, sehingga sejak
digariskan upaya konservasi biodiversitas, se- ditetapkannya penanggalan hijriyah oleh
bagaimana tertuang dalam penetapan fungsi Sultan Agung Hanyokrokusumo pada abad ke-
lindung berbagai kawasan, yang bertujuan 16, setiap tahun baru hijriyah (1 Suro)
antara lain untuk mempertahankan keaneka- masyarakat Jawa menziarahi gunung ini. Pada
ragaman tumbuhan, satwa, tipe ekosistem dan dekade terakhir, setiap tahun baru hijriyah
keunikan alam (Sriwidiyoko, 2001). jumlah peziarah lebih dari 10.000 orang,
begitu pula pada tahun baru masehi dan hari
ulang tahun kemerdekaan RI. Adanya
peninggalan purbakala, nilai spiritual dan nilai
38 ENVIRO 3 (2): 29-39, September 2003

estetis merupakan persyaratan pembentukan ekosistemnya dilakukan melebihi daya dukung


taman nasional. lingkungan, akibatnya terjadi kerusakan
Keempat: Bentangan topografi Gunung permanen. Oleh karena itu konservasi
Lawu sangat khas, sehingga mampu biodiversitas di suatu kawasan tidak dapat
mengkondensasi angin tenggara yang basah meninggalkan upaya peningkatan
menjadi hujan. Hal ini menyebabkan lereng kesejahteraan hidup masyarakat di sekitarnya.
selatan relatif subur dengan vegetasi yang Salah satu bidang usaha yang sangat erat
rapat, sekalipun musim kemarau. Kecamatan kaitannya dengan upaya konservasi adalah
Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar di pengembangan pariwisata berbasiskan
lereng barat daya memperoleh cukup air untuk kelestarian ekosistem. Hal ini sejalan dengan
pertanian, sedang Kecamatan Plaosan, kecenderungan pariwisata dunia yang
Kabupaten Magetan di lereng tenggara yang menghendaki kembali ke alam. Pembentukan
tanahnya porous terbentuk telaga Sarangan taman nasional memungkinkan
yang luas. Selain topografi yang khas, taman pengembangan kawasan wisata terpadu yang
nasional memerlukan bentang geomorfologi meliputi kebun raya, taman safari, taman
yang beraneka. Kekayaan geomorfologi hutan raya, taman agrowisata dan bahkan
Gunung Lawu antara lain berupa mata air/air kawasan wisata modern seperti Disneyland,
terjun, gua, sumber air panas dan lubang- Dufan, TIJA, TMII dan lain-lain. Tentu dengan
lubang kawah solfatara. tetap mempertahankan ekosistem alamiah
Kelima: Kelebihan-kelebihan di atas sebagai daya tarik utamanya.
sangat memungkinkan tumbuhnya industri Selama ini upaya pengembangan
pariwisata, yang merupakan persyaratan pariwisata di Gunung Lawu seolah-olah
terakhir berdiri-nya taman nasional. Bahkan mandeg di lereng barat dengan maskotnya
pengembangan pariwisata di kawasan ini telah Tawangmangu, Karanganyar dan di lereng
dimulai sejak sebelum kemerdekaan, timur dengan maskotnya Telaga Sarangan,
khususnya di Tawangmangu. Pada masa kini Magetan. Namun pada masa mendatang tidak
pengembangan pariwisata alami terpadu di tertutup kemungkinan pengembangan
sekitar Gunung Lawu, sebagaimana di pariwisata ke lereng selatan, Wonogiri dan
Puncak, Jawa Barat sangat mungkin lereng utara, Sragen dan Ngawi. Terlebih
dilakukan. Di samping taman nasional, pengembangan pariwisata di Telaga Sarangan
kawasan ini berpotensi pula mendukung akhir-akhir ini mengalami kendala karena
berdirinya pusat-pusat surutnya debit air telaga akibat perubahan
konservasi
biodiversitas seperti: kebun raya, taman hutanekosistem gunung (Soenarto, 2000), sedang
raya, taman safari, taman bunga, taman buah pengembangan pariwisata di Tawangmangu
dan lain-lain, termasuk agrowisata kebun teh, beberapa kali menanggung berita tidak sedap
karet, pinus, sayuran, buah dan lain-lain. akibat adanya kasus tanah. Meskipun
demikian, sebelum krisis ekonomi 1997, dalam
setahun Sarangan dikunjungi sekitar 400.000
PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT
wisatawan, sedangkan Tawangmangu dikun-
Kerusakan kawasan konservasi keaneka- jungi sekitar 700.000 wisatawan (Setyawan,
ragaman hayati seringkali berkorelasi positif 2001). Dengan diberlakukannya UU No. 22
dengan tingkat pendapatan, jenis pekerjaan, Tahun 1999 tentang otonomi daerah, tampak-
pertambahan penduduk dan budaya baru nya setiap pimpinan wilayah, tidak mempunyai
yang berkembang pada masyarakat di pilihan lain kecuali bersikap proaktif memfa-
sekitarnya. Secara tradisional masyarakat di silitasi pengembangan wilayah ini, sehingga
sekitar kawasan konservasi umumnya telah penataan konsep tata ruang di Gunung Lawu,
dibekali oleh para leluhurnya dengan rambu- termasuk penyusunan Rencana Induk
rambu kearifan tradisional untuk mencegah Pengembangan Pariwisata (RIPP).
kerusakan lingkungan dan menjaga
tercukupinya kebutuhan hidup secara
berkesinambungan, akan tetapi perubahan DAFTAR PUSTAKA
kultur dan tekanan ekonomi seringkali Anonim. 1992. Konvensi Keanekaragaman Hayati.
mengubah pandangan hidup tersebut Jakarta: Komisi Plasma Nutfah Badan Penelitian dan
sehingga eksploitasi sumber daya alam dan Pengembangan Pertanian.
SETYAWAN – Tata ruang Gunung Lawu 39

Anonim. 1993. Biodiversity Action Plant for Indonesia. Setyawan, A.D. 2001. REVIEW: Potensi Gunung Lawu
Jakarta: National Development Agency Ministry of sebagai taman nasional. Biodiversitas 2 (2): 166-171.
National Development Planning. Setyawan, A.D. dan Sugiyarto. 2001. Keanekaragaman
Anonim. 1997. National Strategi for Mangrove flora hutan Jobolarangan Gunung Lawu: 1.
Management in Indonesia, Volume 2. Mangrove in Cryptogamae. Biodiversitas 2 (1): 115-122.
Indonesia Current Status. Jakarta: Office of the Setyawan, A.D. 2000. Menuju Taman Nasional Gunung
Minister of Environment. Lawu, Prospek dan Strategi Pembentukan Taman
Anonim. 2001. Rekomendasi Semiloka Nasional Nasional di Daratan Propinsi Jawa Tengah (dan
Konservasi Biodiversitas untuk Perlindungan dan Jawa Timur). Dalam Setyawan, A.D. dan Sutarno
Penyelamatan Plasma Nutfah di Pulau Jawa, (ed.). Menuju Taman Nasional Gunung Lawu.
Surakarta 17-20 Juli 2000. Sisipan Biodiversitas 2 Surakarta: Jurusan Biologi FMIPA UNS.
(2): I-XI. Soenarto. 2000. Penyelamatan Biodiversitas dalam
Carlson, R. 1961. The Silence Spring. pandangan masyarakat setempat. Dalam Setyawan,
Djohan, Tj. S. 2000. Kekayaan Biodiversitas Propinsi A.D. dan Sutarno (ed.). Menuju Taman Nasional Gu-
Jawa Tengah Berdasarkan Letak Geografinya. nung Lawu. Surakarta: Jurusan Biologi FMIPA UNS.
Dalam Setyawan, A.D. dan Sutarno (ed.). Menuju Soeriaatmadja, R.E. 1999. Jawa Island: Ecological
Taman Nasional Gunung Lawu. Surakarta: Jurusan Chalenges. Dipresentasikan dalam Workshop
Biologi FMIPA UNS. Ekologi dan Biogeografi Pulau Jawa. Jurusan Biologi
Groombridge, B., 1990. Global Biodiversity: Status of the FMIPA ITB, 10-11 Maret 1999.
Earth Living Resources. London: Chapman and Hall. Soeriaatmadja, R.E. 2000. Pelestarian keanekaragaman
Hardjasoemantri, K. 2000. Strategi Pelestarian dan hayati Pulau Jawa dan Bali. Dalam Setyawan, A.D.
Pemanfaatan Kekayaan Biodiversitas untuk dan Sutarno (ed.). Menuju Taman Nasional Gunung
Pembangunan Nasional yang Berkelanjutan. Dalam Lawu. Surakarta: Jurusan Biologi FMIPA UNS.
Setyawan, A.D. dan Sutarno (ed.). Menuju Taman Sriwidiyoko, B. 2000. Perlindungan kawasan ekologi
Nasional Gunung Lawu. Surakarta: Jurusan Biologi khas Propinsi Jawa Tengah, Studi Kasus Rencana
FMIPA UNS. Induk Pengembangan (RIP) Segara Anakan dan
Isma’il, N.M. 2000. Kebijakan pemerintah dalam Rawa Pening. Dalam Setyawan, A.D. dan Sutarno
konservasi sumber daya hutan dan ekosistemnya. (ed.). Menuju Taman Nasional Gunung Lawu.
Dalam Setyawan, A.D. dan Sutarno (ed.). Menuju Surakarta: Jurusan Biologi FMIPA UNS.
Taman Nasional Gunung Lawu. Surakarta: Jurusan Steenis, C.G.G.J. van. 1972. The Mountain Flora of
Biologi FMIPA UNS. Java. Leiden: E.J. Brill.
Kompas 14/6/1999 Sugiyarto, M. Pujo dan N.S. Miati. 2001. Hubungan
Listyawati, S., D. Handadari, B. Saryanto, B. Irawan, dan keragaman mesofauna tanah dan vegetasi bawah
D.D. Handayani. 2001. Tipe-tipe spora Endogone pada berbagai jenis tegakan di hutan Jobolarangan.
pada tanah di hutan Jobolarangan. Biodiversitas 2 Biodiversitas 2 (2): 140-141.
(2): 146-149. Susilowati, A., Wiryanto dan A. Rohimah. 2001.
Mahajoeno, E., M. Efendi dan Ardiansyah. 2001. Keane- Kekayaan fitoplankton dan zooplankton pada sungai-
karagaman larva insekta pada sungai-sungai kecil di sungai kecil di hutan Jobolarangan. Biodiversitas 2
hutan Jobolarangan. Biodiversitas 2 (2): 133-139. (2): 129-132.
Marsusi, C. Mukti, Y. Setiawan, S. Kholodah, dan A. Sutarno, A.D. Setyawan, S. Irianto, dan A.
Vivianti. 2001. Studi keanekaragaman anggrek epifit Kusumaningrum. 2001. Keanekaragaman flora hutan
di hutan Jobolarangan. Biodiversitas 2 (2): 153-158. Jobolarangan Gunung Lawu: 2. Spermatophyta.
Moeljopawiro, S. 2000. Bioteknologi untuk pengelolaan Biodiversitas 2 (2): 156-162
dan pemanfaatan plasma nutfah. Dalam Setyawan, Undang-undang No 5 tahun 1990 tentang Konservasi
A.D. dan Sutarno (ed.). Menuju Taman Nasional Gu- Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
nung Lawu. Surakarta: Jurusan Biologi FMIPA UNS. Jakarta: KMNLH.
Rahardi, F. 2000. Biodiversitas dan Ekonomi Masyarakat Undang-undang No 5 tahun 1990 tentang Konservasi
di sekitar Kawasan Konservasi. Dalam Setyawan, Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
A.D. dan Sutarno (ed.). Menuju Taman Nasional Gu- Jakarta: Departemen Kehutanan RI.
nung Lawu. Surakarta: Jurusan Biologi FMIPA UNS. Undang-Undang No. 24 tahun 1992 tentang Tata Ruang.
Rombang, W.M. dan Rudyanto. 1999. Daerah Penting US Army Map Services. 1963. Sheet 5220 III
bagi Burung di Jawa dan Bali. Bogor: PKA-BirdLife (Karangpandan) & Sheet 5219 IV (Djumapolo).
International-Indonesia Programme. Series T 725. Edition 1-AMS (FE/Far East).
Savage, J.M., 1995. Sistematics and the Biodiversity Werner, W., 1999. Conservation Strategies and Project
Crisis. BioScience 45 (10): 673-678. Planning. Dipresentasikan dalam “Workshop Ekologi
Setiono, D. dan E. Sensudi. 2000. Taman nasional dan Biogeografi Pulau Jawa”, Bandung 10-11 Maret
Gunung Gede Pangrango, Tinjauan konservasi 1999.
kawasan gunung di Pulau Jawa. Dalam Setyawan, Whitten, T., R.E.Soeriaatmadja & S.A. Affif. 1996. The
A.D. dan Sutarno (ed.). Menuju Taman Nasional Gu- Ecology of Java and Bali. Singapore: Periplus.
nung Lawu. Surakarta: Jurusan Biologi FMIPA UNS. Yusuf, A.T. 1987. Perhutanan sosial, bumper untuk
taman nasional. Suara Alam 52: 20-23.