P. 1
Vol-5-No-2_pp.158-164

Vol-5-No-2_pp.158-164

|Views: 48|Likes:
Published by Wisnu Wardana

More info:

Published by: Wisnu Wardana on Mar 04, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/10/2013

pdf

text

original

158

PENENTUAN KREATININ DALAM URIN SECARA KOLORIMETRI DENGAN SEQUENTIAL INJECTION-FLOW REVERSAL MIXING (SI-FRM) Colorimetric Determination of Creatinine in Urin with Sequential Injection-Flow Reversal Mixing (SI-FRM)
Hermin Sulistyarti1 , Akhmad Sabarudin1, Yudha Ikoma Istanti1, Eka Ratri Noor Wulandari1 1 Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia sulistyarti@yahoo.com

ABSTRAK Sequential injection analysis (SIA), generasi kedua dari sistem injeksi alir telah dikembangkan untuk penentuan kreatinin sebagai indeks medis kegagalan ginjal kronis. Pendeteksian kreatinin didasarkan pada reaksi Jaffe yang terjadi antara kreatinin dan asam pikrat dalam medium basa untuk membentuk senyawa berwarna merah-oranye. Absorbansi dari senyawa yang terbentuk diukur pada panjang gelombang 530 nm. Dalam penelitian ini, suatu konsep baru dari SIA yang disebut “lab-at-valve” dikembangkan dengan menambahkan suatu Valve Mixing sebagai tempat untuk memaksimalkan pembentukan senyawa antara kreatinin dan alkali-pikrat. Parameter-parameter yang mempengaruhi metode ini antara lain laju alir produk, waktu delay, volume sampel, volume reagen, konsentrasi reagen dan senyawa pengganggu telah dipelajari secara rinci. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa kondisi optimum akan tercapai pada laju alir 20 µL/detik, waktu delay 5 detik, komposisi penggunaan 100 µL sampel dengan 300 µL reagen (asam pikrat 0,03 M dan NaOH 3 %) sehingga limit deteksi pada penentuan kreatinin yang dihasilkan sebesar 3,01 µg/g. Aplikasi dari metode ini ditujukan untuk penentuan kreatinin dalam sampel urin. Kata kunci : Kreatinin, reaksi Jaffe, SI-VM, RGB kolorimetri, urin ABSTRACT Sequential injection analysis (SIA), a second-generation of Flow Injection system has been developed for the determination of creatinine as an index of chronic renal failure. Creatinine detection was measured by Jaffe’s reaction between creatinine and picrate in alkaline medium to form a colored product (red-orange). The absorbance was measured at wavelength of 530 nm. In this system, a new concept of SIA, called “lab-at-valve (LAV)”, has been developed by designing of a valve mixing to maximize formation of creatinine-alkaline picrate compound. The influence of variables such as effect of rate flow of product, delay time, sample volume, reagent volume, reagent concentration, and interference was investigated. The results showed that optimum conditions was obtained at flow rate of 20 µL/s, delay time of 5 s, the composition of 100 µL sample volume with 300 µL reagent volume (0.03 M picrate acid and 3 % NaOH) and detection limit of creatinine is 3.01 µg/g. Application of the proposed method was successfully applied to the determination of creatinine in urine samples. Keywords : Creatinine, Jaffe’s reaction, SI-VM, RGB colorimetry, urine

Penentuan Kreatinin dalam Urin Secara Kolorimetri… (Hermin Sulistyarti dkk)

Analisis kadar kreatinin dalam tubuh merupakan indeks medis yang penting untuk mengetahui kondisi laju filtrasi glomerulus. (2009). kondisi sosial-ekonomihari. 1992). diduga di Dikemudian menyempurnakan dikarenakan jumlah sampel yang dibutuhkan besar maka dibutuhkan jumlah reagen yang banyak dengan konsentrasi yang tinggi sehingga dibutuhkan mengakibatkan untuk waktu yang mencapai Indonesia penyakit ginjal akan meningkat dalam jumlah dan kepentingan. dan berfungsinya kerja otot (Spiritia. Parameter yang diteliti yaitu konsentrasi Na-pikrat dan NaOH. penentuan kreatinin didasarkan pada reaksi Jaffe dengan menggunakan metode SIA. Dalam darah. 2005). Siangproh et al. reagen. Ginjal yang sehat menghilangkan kreatinin dari darah dan memasukkannya pada urin untuk dikeluarkan dari tubuh (Anonim. No.5. keadaan ginjal. 70-79 . 2009). Untuk mengatasi maka kelemahan pada metode batch diperkenalkan metode analisis berbasis teknik alir dengan menggunakan sistem sequential Penggunaan mempercepat mengefisienkan larutan harganya melakukan yang mahal injection SIA analysis ditujukan proses penggunaan dibuang dan (SIA). kesehatan memang manusia. Senyawa ini dihasilkan ketika terjadi kontraksi pada otot. Reaksi Jaffe merupakan reaksi yang sederhana dan mudah. 2009). Pola penyakit ini sering cepat berubah. Vol.159 PENDAHULUAN Dewasa ini. Metode ini didasarkan pada pembentukan senyawa berwarna merah–oranye yang terjadi analisis secara otomatis dan memperkecil menghemat pemakaian reagen (Christian. untuk analisis. belum antara tingginya Penyakit tingkat ginjal sepuluh asam pikrat dengan kreatinin dalam suasana basa (Siangproh et al. 2 (Juli 2011). Kreatinin adalah zat racun dalam darah. sejalan dengan perubahan budaya. volume sampel serta reagen. akan tetapi kelompok penyakit ini semakin banyak ditemukan pada berbagai jenis pelayanan kesehatan. terdapat pada seseorang yang ginjalnya sudah tidak berfungsi dengan normal. reaksi Jaffe umumnya menggunakan batch dengan dengan penangas sering cara asam listrik. 2009) Metode yang sering digunakan untuk penentuan kreatinin adalah metode analisis secara kolorimetri melalui reaksi Jaffe. Dalam aplikasinya. dilakukan metode batch. Akan tetapi dalam aplikasinya kurang efektif karena Sains dan Terapan Kimia. dan jumlah flow reversal.. Jaffe dalam digunakan reaksi pikrat namun mereaksikan dengan Metode untuk yaitu suatu kreatinin kematian merupakan masalah utama bagi mencapai penyebab utama kematian di Indonesia. sehingga yang berbahaya yang disekresikan dalam bentuk urin. kreatinin filtrasi dihilangkan dengan proses dan melalui glomerulus ginjal kesempurnaan reaksi memerlukan waktu yang lama yaitu sekitar 30 menit (Faria & Pasquini.

Senyawa pengganggu yang diuji dalam penelitian ini yaitu kreatin. dari ini Proses penelitian yang akan analisis tinggi. dilakukan mengenai terlebih pengaruh dahulu penelitian senyawa-senyawa pembentukan segmen antara sampel dan reagen di holding coil yang selanjutnya dilakukan mixing analisis proses flow reversal pada Pada pengaplikasiannya cepat yaitu 12 yang terdapat pada sampel urin yang dapat mengganggu terhadap pengukuran kadar kreatinin. Untuk itulah (LAV) yang dikembangkan suatu suatu tehnik konsep terbaru dari SIA yaitu Lab-at-Valve merupakan analisis on-line yang ekonomis.160 proses analisis menggunakan laju alir yang lambat yaitu 50 µL/menit selain itu tidak adanya tempat untuk bercampurnya sampel dan reagen reaksi sehingga pembentukan dimungkinkan dan sensitifitas tinggi (limit deteksi 5. waktu delay dan konsentrasi asam pikrat serta NaOH yang digunakan. Komponen sederhana dan pada SIA-LAV dilakukan oleh Wulandari (2010) .69 µg/g). volume sampel dan reagen yang dipakai. Berdasarkan pada penelitian uraian ini diatas. metode ini cukup efektif dimana proses berlangsung sampel/jam. Sebelum dilakukan aplikasi penentuan kreatinin dalam sampel urin. penggunaan sedikit reagen Penentuan Kreatinin dalam Urin Secara Kolorimetri… (Hermin Sulistyarti dkk) . hanya saja ditambahkan suatu separating chamber yang diletakkan di port 1 pada selection valve sebagai tempat terjadinya reaksi antara reagen dan sampel. Spektrofotometer secara chamber langsung sehingga akan pada proses mendeteksi separating dilakukan dengan pendiaman sampel dan reagen dalam valve mixing selama jangka waktu (2010) tertentu. parameter lebih lebih yang Untuk yang sederhana Wulandari diharapkan proses yang optimasi mempercepat sensitifitas dilakukan yang terjadi di dalamya dapat langsung diketahui (Burakham et al. 2005) Pengembangan metode SIA-LAV ini telah dilakukan pada penelitian yang dilakukan oleh Wulandari (2010). Sebagai tempat untuk terjadinya reaksi antara asam pikrat dan kreatinin dibuat suatu valve mixing dimana untuk penyempurnaan senyawa reaksi pembentukan kreatinin-pikrat disusun hampir sama dengan tehnik SIA sebelumnya. maka suatu digunakan metode pengaplikasian dari metode SIALAV yang disebut dengan Sequential Injection-Valve Mixing (SI-VM). Kemudian dilakukan aplikasi metode SI-VM untuk penentuan kadar coil. hanya saja sebagai tempat terjadinya reaksi antara reagen dan sampel dibuat suatu mixing coil dan pada prosesnya untuk menyempurnakan senyawa reaksi pembentukan dilakukan kreatinin-pikrat dilakukan tetapi tetap mempertahankan meningkatkan absorbansi dari kreatinin meliputi laju alir produk.. Metode ini merupakan metode alternatif dari metode SI-FRM yang telah [7] senyawa kreatinin-pikrat tidak berjalan dengan sempurna.

ari denga kompute Adapun gambar da alat te ersebut ditun njukkan pada Gambar 1. USA pompa A).. C Co o. Reno. as sam pikrat hidrok ksida (SAP Kemika). USA) deng valve (SL. kreatin natrium (Sigma-A Aldrich. pipet mikr 1 mL dan 5 mL. ro gkat alat SI-VM yang t terdiri dari seperang syringe pump P. evada. ui . neraca n yang digunaka an Mettl ler. Hasil dari m n reaksi antara asam pikrat dan kreatinin dalam suasana basa b tersebut akan i on-line men nggunakan dideteksi secara o RGB kolo orimeter.. Penen ntuan Parameter Optimum secar ra on lin ne Penentuan la alir opti P aju imum produ uk dilaku ukan menggunakan cara c on-line e. (Sigma-A (Sigma-A Aldrich. ana alitis semprot. yaitu dengan ala SI-VM ya at ang dirangk kai an er. sampel techni urin d akuades yang buka merupaka dan s an an bahan kimia pro a n analisis. Co. gan kapasita volume as Nevada. dalam botol penelitian ini antara lain:. ir Tahap ini dilaku p ukan sebany yak tiga ka ali agar dihasilkan k kondisi alat yang bena arr benar bersih saat digunaka an Gambar 1 Rangkai Alat SI-V ian VM .a) yaitu padatan kreatinin u Aldrich. as sam nitrat 6 65 % (Merck KGaA. a Penentuan laju alir opt timum produ uk dilaku ukan melalui 4 tahap ber rikut ini: Tahap 1: Pencuci line dan detektor p ian Pada tahap ini d dilakukan p pengkondisia an d a: g V) alat dengan cara switching valve (SV berada pada pos mengisi dan syring sisi ge pump (SP) meng gambil 2100 μL Akuade 0 es menuju hold ding coil (HC C) untuk dialirkan m ui ngan laju ali 30 μL/detik. perala n atan gelas. k kecuali etanol ical grade (SAP Kem mika).5 mL. Bahan an-bahan ya ang digunak kan dalam Baha penelitian ini merupa n akan bahan kimia pro analisis (p. Ne dan det tektor berup RGB kolorimeter pa k yang diko ontrol melalu komputer. (SP Hamilto on. METODE PENELITIAN E Alat -alat Alatoven.16 61 kreatinin pada sam mpel urin. 2. ir melalu port 2 den port 3 dengan la alir 50 μL/detik da aju an melalu port 4 den ui ngan laju ali 50 μL/detik. delapan selection v n. Hamilton Reno.J Jerman). Jerman). Co..Jerman). .Jerman).

Tahap 3: Pendeteksian kreatinin Pada tahap ini dilakukan absorbansi larutan standar kreatinin dideteksi dengan cara: SV berada pada posisi “OUT” dan SP mengambil masing-masing 150 μL larutan standar kreatinin dan larutan asam pikrat-NaOH untuk dialirkan menuju port 1 dengan laju alir 5 μL/detik. Besarnya laju alir produk yang melalui detektor dapat mempengaruhi absorbansi kreatinin yang diperoleh. Semakin lama waktu kontak antara sampel dan reagen maka senyawa kreatinin-pikrat yang terbentuk akan semakin stabil. Waktu delay dapat mempengaruhi senyawa proses pembentukan kreatinin-pikrat yang terjadi karena berpengaruh terhadap lamanya waktu kontak antara sampel dan reagen. Langkah berikutnya yaitu mengalirkan akuades kedalam detektor untuk membawa sisa-sisa larutan yang masih tertinggal. Penentuan Kreatinin dalam Urin Secara Kolorimetri… (Hermin Sulistyarti dkk) . kemudian dilakukan prosedur seperti di atas. sehingga absorbansi yang diperoleh akan semakin tinggi. Sesuai dengan Gambar 2 maka laju alir 20 µl/s dipilih sebagai laju alir optimum ke detektor karena diperoleh sensitivitas yang paling tinggi. .162 Tahap 2: Pengisian Line dengan larutan Pada tahap ini dilakukan pengisian lineline yang akan digunakan dengan cara: SV berada pada posisi “OUT” dan SP mengambil 500 μL larutan standar kreatinin dan 500 μL reagen dari port 3 dan 4 yang akan dikeluarkan melalui port 7 dengan laju 50 μL/detik. HASIL DAN PEMBAHASAN Optimasi Parameter Parameter Fisik Penentuan laju alir optimum produk dilakukan dengan cara memvariasi kecepatan laju alir menuju ke detektor sehingga akan dihasilkan nilai absorbansi kreatinin yang berbeda pada berbagai tingkatan laju alir. kemudian dilakukan delay yang dilanjutkan dengan mengalirkan larutan campuran ini menuju detektor. Namun waktu kontak yang terlalu lamapun dapat menurunkan absorbansi. Nilai Absorbansi yang diperoleh akan terbaca oleh komputer. cepat lambatnya analisis serapan senyawa kreatinin-pikrat yang mampu dibaca oleh detektor dan proses dispersi yang terjadi antara senyawa kreatinin-pikrat dengan carrier (akuades). Nilai absorbansi diplotkan ke dalam kurva baku untuk mengetahui kadar kreatinin dalam sampel urin. Penetuan Kreatinin dalam Urin secara on line Pada penentuan kadar kreatinin dalam urin dilakukan prosedur seperti pada penentuan optimasi parameter dengan menggunakan seluruh kondisi optimum dari parameter yang digunakan. Sebelum digunakan urin diencerkan 30 kali dengan akuades. dikarenakan proses laju alir akan pembentukan mempengaruhi senyawa kreatinin-pikrat.

600. Va ariasi volum me reage yang digunakan yaitu 150. Volu ume reagen (larutan Na-pikrat) n yang dig gunakan dala penelitia ini juga am an perlu dite karena berpengaruh terhadap eliti b h jumlah vo olume samp yang mam untuk pel mpu membentuk senyaw dengan sejumlah wa volume reagen tertentu. Seda en gunakan te erlalu banya ak reage yang dig maka selain pe emborosan penggunaa an en asi ga reage konsentra larutan sampel jug akan mengalam mi pengen nceran da an rnya pengen nceran yang terjadi haru us besar diperh hitungkan k kembali. dan 7 750 µL. en 450. -pikrat kreatinin- tadiny ya sehingga a terbentuk dapat te k erdispersi k ke dalam carrier (akuades) an ansi yang diperoleh. Perlunya untuk me reagen optimum.16 63 Gam mbar 2 Grafik Penen G ntuan Laju A Optimum Produk Alir m Hal ini dik karenakan ya ang senyawa telah terjadi dalam jumlah ya m ang sedikit maka tida ak akan mampu unt tuk memben ntuk senyaw wa uruh kreatinin kreatinin-pikrat dengan selu angkan apa abila volum me yang ada. Vo olume reage en 0 optimum yaitu 300 µL. menentukan volum en unakan karena apabila reage yang digu Gambar 3 Grafik Penent tuan Konsen ntrasi NaOH Optimum . 300. penuruna absorba Waktu de elay optimum yaitu 5 det m tik.

. Berdasarka n an Gamb 4 maka dapat dike bar etahui bahw wa absor rbansi sema akin meningkat denga an semakin bertamb bahnya kons sentrasi asam pikrat.035 M da an berkurang pada k usnya. 2009). ab bsorbansi a akan terus yang dig meningka sejalan d at dengan bertambahnya volume sampel yan digunaka hingga ng an te (Ruzicka & keadaan steady stat tercapai ( Hansen. ume sampel optimum ya ang dipilih Volu adalah 100 µL me volum dikarenaka an sampel pada µL penggunaan dengan 100 Penga aruh konsen ntrasi asam pikrat yait m tu sebag gai reagen untuk pembentu uk senya awa dengan kreatinin. Kons sentrasi asam pikrat 0.164 Gambar 4 r Grafik Penentuan Konsentra Asam Pik Optimum n asi krat m memp pengaruhi ai Sesua Gambar r pembentuka an 3 maka senyaw wa masi volum sampel ditentukan me Optim untuk sampel meminimum mkan tetapi teta ap pe enggunaan mempe ertahankan kreatinin-pikrat (S Siangproh et al. asi konsentra sensitifita as NaOH optimum yaitu 3% karena pad H da konse entrasi tersebut pengu ukuran lebih tinggi.. 1988). disediaka Paramet Kimia ter Penga aruh konsen ntrasi NaOH sebagai H reagen u untuk pemb bentuk suas sana basa dalam p pembentukan senyawa kreatininn pikrat perlu diteliti karena k konsentrasi ang an NaOH ya digunaka akan . as an sensitifita yang tinggi denga tingkat ketelitian yang besa (Siangpr n ar roh et al. dan ab bsorbansi akan mulai konsentrasi 0. k ng t seluruh kreatinin yan ada tepat berikatan sejumlah reagen ya ang telah an. 2009). Abso orbansi yang diperoleh berbanding lurus de engan volum sampel me gunakan. p pikrat Konsentra asi banya ak asam pikrat yan tinggi menyebabka ng m an sema akin sehing gga kelebih han asam pikrat yan ng tidak bereaksi dengan kre eatinin aka an aksi dengan ion Na+ da NaOH da ari an berea dihasi ilkan e endapan Na-pikra at.0 03 seteru M dip pilih sebaga konsentr ai rasi optimum dikare enakan asam pikrat pada konsentra m asi lebih tinggi dari k konsentrasi tersebut tida t ak ngkatkan menin h jumlah asam s sensitifitas.

Vol.213 853.5. waktu delay 5 standar detik. 2 (Juli 2011). yang dapat metode hal ini digunakan memiliki sensitifitas yang tinggi dengan limit deteksi sebesar 3.165 Tabel 1.03 M dan NaOH 3%) 300 µL.928 Aplikasi SI-VM untuk Pengukuran Kreatinin dalam Urin Aplikasi SI-VM pada penentuan kreatinin dalam sampel urin dilakukan pada beberapa sampel urin yang telah diperoleh. kebiasaan banyaknya macam hidup sehari-hari air yang misalnya serta konsumsi putih makanan berbeda-beda yang dikonsumsi pada setiap individu. No 1 2 3 Penentuan kadar kreatinin dalam sampel urin Sampel Urin 1 Urin 2 Urin 3 Konsentrasi Sampel (µg/g) 759.6 ± 1. diperoleh Seluruh sampel urin terlebih dahulu yang dilakukan berbagai individu tergantung dari berbagai faktor seperti jenis kelamin. Berdasarkan hasil uji sampel urin pada kondisi optimumnya diperoleh hasil analisa yang ditunjukkan pada Tabel 1.12 ± 0. Tabel 1 menunjukkan bahwa konsentrasi kreatinin yang terdapat pada masing-masing urin berbeda-beda pada KESIMPULAN Metode direkomendasikan penentukan dikarenakan kadar metode SI-VM sebagai kreatinin.643 1415.00670. pengenceran sebanyak 30 kali dengan menggunakan akuades. No. sehingga akan diperoleh besarnya konsentrasi kreatinin yang terdapat dalam masing-masing urin.01 µg/g dan waktu analisis optimum selama ±2 menit. berat badan. 100 volume µL dan sampel/larutan volume reagen (asam pikrat 0. kreatinin Kondisi dengan penentuan menggunakan metode SI-VM berlangsung pada kondisi laju alir produk 20 µL/detik. Sains dan Terapan Kimia. Dari hasil uji analisa kadar kreatinin dalam urin diperoleh nilai absorbansi yang kemudian diplotkan dengan menggunakan kurva baku kreatinin dengan persamaan garis lurus yang diperoleh yaitu y = 0.00016x + 0.37 ± 3. 70-79 .

2005. HIV Penyakit Ginjal. 1992. 2010.or. Talanta.org/parent/general/ body_basics/kidneys_urinary. Skripsi Jurusan Kimia Universitas Brawijaya. 2009. Sakai.W. and K. N. Spectrophotometric Determination Of Creatinine by Monosegmented Continuous-Flow Analysis. John Willey & Sons.1988. Malang Yayasan Spiritia. Chailapakul. Journal of Automatic Chemistry. T.html Burakham. Grudpan. and C. Penentuan Kreatinin dalam Urin Secara Kolorimetri dengan Sequential Injection-Flow Reversal Mixing (SI-FRM). and E. com/method2. Teshima. O. Jakmunee.. 2009. Alternative Method for Measurement of Albumin/Creatinine Ratio Using Spectrophotometric Sequential Injection Analysis. S. New York.C. 14(3): 97-100 Ruzicka. 2005. Development of Sequential Injection Lab at Valve (SI-LAV) Micro Extraction Instrumentation for the Spectrophotometric Determination of an Anionic Surfactant. Pasquini.id/ dan Penentuan Kreatinin dalam Urin Secara Kolorimetri… (Hermin Sulistyarti dkk) . USA ISBN 0-47181355-9 Siangproh.H. Flow Injection Analysis 2nd Edition. FIA/SIA Principles.166 DAFTAR PUSTAKA Anonim.. E. http://www. J. Katoh. 79:1111-1117 Wulandari. S.aspx Faria.flowinjection.N. Urin Test. Hansen. Inc. J. R. http://kidshealth. http://spiritia.. (2009).R.. L. Thailand Christian.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->