You are on page 1of 22

KATA PENGANTAR

Dengan Ridho Allah SWT dan dengan bimbinganNyalah makalah ini dapat diselesaikan dengan sebaik mungkin, walaupun mendapatkan berbagai macam kesulitan. Namun ,kesulitan itulah yang membuat penulis semakin tertarik untuk membahas dan meneliti makalah yang berjudul “KAJIAN MENGKONSUMSI ULAR SEBAGAI OBAT” . Selanjutnya, kami mengucapkan terimakasih dan mohon maaf apabila kami telah mengambil karya-karya ulama atau para penulis buku yang mana kami jadikan sebagai bahagian dari kesempurnaan makalah ini. Juga kami ucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing Bapak Muhsin Salim Nasution , yang telah banyak memberikan masukan demi kesempunaan makalah ini . Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini banyak terdapat kekurangan dan kelemahan baik didalam penulisan maupun penyempurnaan bahan kajian .Untuk itulah penulis juga sangat mengharapkan kritikdan saran dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini . Demikianlah makalah ini kami sajikan semoga nantinya akan bermanfaat bagi para pembaca khususnya mahasiswa/i Yayasan Pendidikan Persada Bunda .

Pekanbaru , 3 Desember 2012

Penulis

i

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Medan Prof M Hatta, dalam Islam baik yang ditulis dalam ilmu Fiqih, banyak sekali hewanhewan yang tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi diantaranya hewan bertaring, binatang buas ataupun sesuatu yang menjijikkan. Seperti yang diketahui banyak sekali obat-obatan yang ditempuh untuk memperoleh hidup sehat. Salah satunya dengan mengonsumsi obat-obatan dari tim medis ataupun racikan rempah-rempah. Namun, tak dapat dipungkiri di kalangan masyarakat beredar paradigma memakan binatang seperti ular, daging kalong (kekelawar) hingga darah ular yang dapat menyembuhkan penyakit yang diderita seseorang. Contohnya seperti obat-obatan yang dipakai ibu-ibu untuk menyembuhkan pasca operasi caesar sehingga lukanya cepat mengering. Ular adalah hewan yang telah disepakati oleh para ulama keharamannya untuk dimakan. Karena ular termasuk hewan yang diperintahkan untuk dibunuh. Namun apakah seseorang boleh memakannya dengan dalil pengobatan? Untuk itulah penulis merasa perlu untuk melakukan penelitian terhadap satu permasalahan ini karena ternyata kasus ini sangat hangat dibicarakan dan menjadi pertanyaan besar dikalangan masyarakat umum tentang hukum mengkonsumsi obat dari ekstrak ular atau daging ular. Dalam hal ini penulis akan mencoba mengkaji hukum memakan daging atau meminum darah Ular dan sebabnya diharam berdasarkan dalil-dalil Al Qur’an dan Al Hadist. Sehingga kita sebagai umat islam

ii

tidak salah makan makanan yang justru makanan itu tergolong makanan yang haram. Akhirnya, penulis berserah diri kepada Allah SWT, semoga penelitian ini bermanfaat dan benar-benar menjadi satu masukan berharga bagi ummat manusia, khususnya ummat Islam di Dunia.Amin

B. Rumusan Masalah Dari Latar belakang masalah di atas, maka penulis mencoba untuk membuat rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa saja binatang yang menurut syariat dilarang untuk dimakan

dan sebabnya diharamkan ?
2. Bagaimanakah hukum Memakan daging atau meminum darah ular

dalam Islam dan Kajian hukumnya ? B. Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang :
1. Menjelaskan jenis dan sebab hewan yg haram dimakan 2. Memeberikan jawaban tentang hukum memakan daging atau darah

ular sebagai obat dalam Islam

iii

BAB II PEMBAHASAN

A. Binatang yang Haram Dimakan

1. Pengertian Binatang yang haram adalah binatang yang menurut syariat dilarang untuk dimakan. Setiap binatang yang diharamkan oleh syariat pasti ada bahayanya dan meninggalkan yang dilarang syariat pasti ada faidahnya dan mendapat pahala.

2. Jenis-Jenis Binatang yang Haram

Binatang haram dapat diketahui dari keterangan Al-Qur’an dan sabda Rasulullah. Di dalam Al-Qur’an, jenis binatang yang secara tegas diharamkan adalah sebagai berikut : • Haram karena Nas (sesuai dalil) • Haram karena dilarang dan diperintahkan membunuhnya • Haram karena jijik • Bangkai • Darah • Daging babi dan anjing • Binatang yang disembelih tanpa menyebut nama Allah SWT • Binatang yang mati tercekek/dipukul/jatuh/ditanduk
iv

• Binatang yang mati diterkam binatang buas • Binatang yang disembelih atas nama berhala

Adapun sebab-sebab binatang diharamkan adalah sebagai berikut : 1) Haram karena Nash, berdasarkan keterangan baik Al-Qur’an yaitu:  Bangkai Binatang Darat Bangkai binatang darat hukumnya haram dimakan. Binatang yang mati bukan dengan cara syar’i, baik karena mati sendiri atau karena anak adam yang tanpa melalui syar’i. Hukum nya jelas haram berdasarkan Al-Qur’an, Hadis dan ijma’ dan bahaya yang ditimbulkannya bagi badan manusia sangat nyata, sebab pada bangkai terdapat darah yang mengendap sehingga mengandung racun dan bakteri, dan ini sangat berbahaya bagi kesehatan1. Sekalipun bangkai haram hukumnya tetapi ada yang dikecualikan, yaitu bangkai ikan dan belalang berdasarkan hadits: “Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anh berkata, ‘Dihalalkan untuk kita dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai yaitu ikan dan belalang, sedangkan dua darah yaitu hati dan limpa.”2

1 2

Tafsir al-Manar : 6/134 diriwayatkan Imam Ahmad 2/97, Syafi’i dalam al-Umm 2/197

v

 Babi, semua unsur yang berasal dari babi hukumnya haram dimakan. Baik babi peliharaan maupun liar, dan mencakup seluruh anggota tubuh babi termasuk minyaknya. Tentang keharamannya, telah dijelaskan dalam al-Qur’an, Hadits, dan Ijma’ ulama. Imam adz-Dzahabi berkata : “saya tidak mengira akan ada seorang muslim yang dengan sengaja makan babi, karena yang memakan babi hanyalah orang-orang zindiq Jabaliyah dan Tayaminah yang keluar dari Islam. Dalam hati orang-orang yang beriman, makan babi lebih besar dosanya daripada minum khamr”3  Hewan yang disembelih bukan atas nama Allah. Jika disembelih tidak dengan atas nama Allah, binatng yang disembelih haram dimakan dagingnya.  Hewan yang mati karena tercekek atau dipukul  Hewan yang mati karena terjatuh. Hewan yang mati karena terjatuh dan tidak sempat disembelih hukumnya haram.  Hewan yang mati karena ditanduk atau diterkam hewan lain haram dimakan. Yakni hewan yang diterkam oleh harimau, serigala, atau anjing, lalu dimakan sebagiannya kemudian mati karenanya. Maka hukumnya adalah haram sekalipun darahnya mengalir dan yang tergigit sebatas bagian leher. Semua itu hukumnya haram dengan kesepakatan ulama. Apabila dijumpai masih hidup (bernyawa) seperti kalau tangan dan kakinya masih bergerak atau masih bernafas, kemudian disembelih secara syar’i, maka hewan tersebut adalah halal, karena telah disembelih secara halal.  Hewan yang disembelih untuk persembahan berhala Hewan yang dijadikan sesaji untuk makhluk atau berhala hukumnya haram dimakan.
3

al-Kabair hlm. 267-269

vi

 Hewan yang menjijikkan Beberapa binatang yang hidup dialam terlihat kotor dan menjijikkan. Setiap orang dapat berbeda dalam menentukan jenis binatang yang menjijikkan. Namun, semuanya akan sepakat jika melihat jenis binatang yang kotor. Binatangbinatang yang kotor dan menjijikkan haram dimakan. Sesuai dengan firman Allah SWT berikut :

Artinya :

vii

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orangorang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. Al-Maidah [5]:3) 2) Hewan yang diharamkan berdasarkan Hadis :  Khimar Ahliyah (Jinak) Khimar jinak haram dimakan dagingnya. Hal ini berdasarkan hadis berikut :

Artinya : Dari jabir r.a., pada perang khaibar Nabi telah melarang memakan daging Khimar jinak [H.R Bukhari dan Muslim]4 Dalam riwayat lain disebutkan: “Pada perang khaibar mereka menyembelih kuda, bighal, dan khimar. Lalu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari bighal dan khimar, dan tidak melarang dari kuda.”[ HR. Abu Dawud 3789]

Haram karena diperintahkan untuk membunuhnya,

yaitu ular, burung gagak, tikus, anjing buas, dan burung elang. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw :

4

Udin Wahyudin dkk, Fiqih (Bandung : Grafindo Media Pratama, 2006) h.46

viii

“Dari Aisyah r.a., Rasulullah saw menyuruh membunuh lima binatang yang merusak baik halal maupun haram, yaitu ular, gagak, tikus, anjing galak, dan burung elang ”5. Dari riwayat lain, dari Ummu Syarik Radhiallahu’anha berkata, bahwa Nabi Shalallahu’alaihi wa salam memerintahkan supaya membunuh tokek atau cicak6  Binatang yang Bertaring Binatang yang memiliki taring haram dimakan. Jenis binatang tersebut diantaranya anjing, singa, harimau, beruang, serigala, dan lain sebagainya. Yang menjadi patokan keharaman binatang buas adalah apabila dia memiliki dua sifat, yaitu memiliki gigi taring, dan melawan dengan taringnya. Hal ini terlarang berdasarkan hadits Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Artinya : “Setiap binatang buas yang bertaring, maka memakannya adalah haram.” [HR. Muslim no. 1933] An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan memiliki taring–menurut ulama Syafi’iyah- adalah taring tersebut digunakan untuk berburu (memangsa).”7  Binatang yang Berkuku Tajam

5 6

H.R. Muslim 1190, dan Bukhari 1829 dengan lafadz “KALAJENGKING” ganti dari “ULAR” H.R . Bukhari 3359 dan Muslim 2237 7 Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 13/83, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi, cetakan kedua, 1392.

ix

Binatng yang diharamkan karena mempunyai kuku tajam, diantaranya burung elang, burung hantu, burung rajawali, kelelawar dan sebagainya. Jenis binatang tersebut biasanya menjadi predator atau pemangsa binatang lain. Selain itu, dapat merugikan dapat merugikan manusia. Kelelawar sangat menyukai buah-buahan, rajawali, atau elang sangat menyukai anak ayam, itik dan lain sebagainya. Hal tersebut sesuai dengan keterangan hadis berikut:

Artinya : Nabi saw. telah melarang memakan setiap burung yang mempunyai kuku tajam. [H.R. Muslim]8

Binatang yang Dilarang untuk dibunuh

Ada beberapa jenis binatang yang haram dimakan karena dilarang membunuhnya. Contoh binatang yang dilarang dibunuh yaitu lebah, semut, dan burung suradi. Binatangbinatang tersebut banyak memiliki manfaat dan tidak berbahaya bagi manusia. Lebah adalah binatang penghasil madu yang banyak manfaatnya bagi manusia. Binatangbinatang tersebut tidak mengganggu kehidupan manusia. Imam Syafi’I dan para sahabatnya mengatakan, “Setiap hewan yang dilarang dibunuh berarti tidak boleh dimakan, karena seandainya boleh dimakan, tentu tidak akan dilarang membunuhnya”9. Haramnya jenis binatang tersebut sesuai dengan sabda Nabi saw berikut :

8 9

Ibid hlm. 48 Lihat al-Majmu’ 9/23 oleh an-Nawawi

x

Artinya : “Dari Ibnu Abbas, Nabi saw melarang membunuh empat macam binatang yaitu semut, tawon, burung tegukteguk dan burung suradi”[H.R. Ahmad dan lainnya]10
B. Hukum Memakan Ular

Dalam kajian fiqh islam, makanan termasuk dalam kategori non ibadah yang hukum asalnya adalah boleh dan halal, hal tersebut sesuai dengan ayat-ayat yang sangat jelas, diantaranya firman Allah: "Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu." (QS. 2 : 29). Seperti yang sudah dijelaskan di atas, semua hewan yang diperintahkan untuk dibunuh tanpa melalui proses penyembelihan adalah haram dimakan, karena seandainya hewan-hewan tersebut halal untuk dimakan maka tentunya Nabi tidak akan mengizinkan untuk membunuhnya kecuali lewat proses penyembelihan yang syar’iy. 1. Hukum mengkonsumsi Ular sebagai Obat Perihal bahwa binatang—binatang tersebut dikatakan dapat menyembuhkan penyakit, maka kita kembali pada kaidah dasar pengobatan dalam Islam “bahwa Allah tidak memperkenankan
10

Ibid hlm. 50

xi

obat untuk penyakit kita dari sesuatu yang diharamkan”. Abdullah bin Mas’ud berkata “ sesungguhnya Allah tidak membolehkan terapi bagi kalian dengan sesuatu yang diharamkan” [H.R. Bukhori] Sesungguhnya tidak ada satu penyakit kecuali Allah Ta'ala sudah menyediakan obat dan penawarnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

Artinya : “Setiap penyakit ada obatnya, dan bila telah ditemukan dengan tepat obat suatu penyakit, niscaya akan sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla." [HR. Muslim dari sahabat Jabir] Ular adalah hewan yang telah disepakati oleh para ulama keharamannya untuk dimakan. Karena ular termasuk hewan yang diperintahkan untuk dibunuh. Syaikh Sulaiman bin Shalih al-Khurasyi dalam kitabnya Al-Hayawanaat; Maa Yu'kal wa Maa Laa Yu'kal (Diterjemahkan: Kamus Halal-Haram), menyebutkan tentang pendapat yang shahih, bahwa setiap binatang yang diperintahkan untuk dibunuh maka dagingnya haram dimakan. Maksud dibunuh di sini adalah dibunuh tanpa dengan sebab yang dibenarkan syariat, yaitu disembelih sesuai syar'i. Karena seandainya diperbolehkan mengambil manfaat dengan cara memakan dagingnya tentu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak akan memerintahkan untuk membunuhnya.11 Ada dua pendapat di kalangan ulama tentang hukum berobat dengan sesuatu yang haram. Pendapat yang pertama
11

Lihat: Adwa' al-Bayan, Syaikh Muhammad Amin al-Syinqithi: 2/273

xii

mengharamkan secara total. Pendapat kedua membolehkan karena darurat. 1) Pendapat yang Mengharamkan Pendapat ini menyatakan bahwa apa pun dalihnya, pokoknya haram hukumnya bagi seorang muslim memakan hewan yang sudah diharamkan Allah untuk mengkonsumsinya. Mereka juga tidak menerima kalau dikatakan bahwa sebuah penyakit tidak ada obatnya. Sebab ada dalil yang shahih yang menyebutkan bahwa Allah SWT tidak menurunkan penyakit kecuali disertai juga dengan obatnya. Sesungguhnya Allah SWT menurunkan penyakit dan obat, dan menjadikan setiap penyakit ada obatnya. Hendaklah kalian berobat, dan janganlah kalian berobat dengan sesuatu yang haram.” (HR Abu Dawud). Dengan hadits ini maka makan daging atau darah ular hukumnya haram. Walau pun tujuannya untuk berobat atau mencari kesembuhan. Sebab tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya. Dan obat itu sudah diturunkan Allah SWT beserta dengan turunnya penyakit. Tugas kita adalah menemukan obat yang telah Allah SWT turunkan. Bukan menggunakan obat yang diharakamkan. Bahkan ada hadits yang justru menyebutkan bahwa bila sesuatu makanan itu haram, maka pasti bukan obat. Karena Allah SWT tidak pernah menjadikan obat dari sesuatu yang hukumnya haram.

xiii

”Sesungguhnya Allah tidak menjadikan obat bagimu pada apa-apa yang diharamkankan Allah atasmu.” (HR Bukhari dan Baihaqi). Selain itu, ular masuk kategori makanan yang khabaits (buruk), sama hukumnya seperti kalajengkikng, lalat, cicak, dan lainnya. Syaikh al-Syinqithi berkata mengenai serangga-serangga tersebut "Naluri yang sehat tidak mungkin bisa menikmati binatang-binatang yang buruk ini, apalagi memandangnya sebagai sesuatu yang baik. Bila ada orang Arab yang memakan serangga-serangga ini, hal itu semata-mata dikarenakan mereka dalam kondisi yang sangat kelaparan."12 Syaikhul Islam ibnu Taimiyah berkata, "Makan daging ular dan kalajengking adalah haram menurut ijma' ulama kaum muslimin." [Al-Fatawa: 11/609] Maka semakin jelas menurut pendapat ini bahwa makan daging ular atau minum darahnya bukanlah sebuah upaya penyembuhan yang benar. Karena obat itu tidak pernah diturunkan kecuali berupa benda-benda yang halal. 2) Pendapatan yang Menghalalkan Pendapat kedua yang menghalalkan berobat dengan sesuatu yang haram, menggunakan dua dalil utama.  Dalil Kedaruratan Dalam hukum syariat, ada kaidah bahwa sesuatu yang dharurat itu bisa menghalakan sesuatu yang dilarang. Ad-Dharuratu tubihul mahdzurat. Selain itu Allah SWT telah berfirman:
12

Lihat dalam Kamus Halal-Haram, hal. 38)

xiv

Dan barangsiapa yang terpaksa pada (waktu) kelaparan dengan tidak sengaja untuk berbuat dosa, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Belas-kasih. (QS. Al-Maidah: 3) Allah telah menerangkan kepadamu apa-apa yang Ia telah haramkan atas kamu, kecuali kamu dalam keadaan terpaksa." (QS. Al-An'am: 119) Namun mereka sepakat dalam menetapkan syarat-syarat yang harus terpenuhi, antara lain:

Terdapat bahaya yang mengancam kehidupan manusia jika Tidak ada obat lain yang halal sebagai ganti obat yang Adanya suatu pernyataan dari seorang dokter muslim yang

tidak berobat.

haram itu.

dapat dipercaya, baik pemeriksaannya maupun agamanya (i'tikad baiknya  Rukhshah (Keringanan) di Masa Nabi Selain itu mereka juga menggunakan berobat

kejadian di masa Nabi di mana -menurut merekaada hadits-hadits yang keringanan atau rukhshah. Misalnya hadits yang menyebutkan bahwa Nabi SAW pernah membolehkan suku ‘Ukl dan ‘Uraynah berobat dengan meminum air kencing unta. Hadits ini membolehkan berobat dengan najis, sebab air kencing unta itu najis menurut kebanyakan ulama. Walau pun mazhab Hanbali mengatakan
xv

membolehkan

dengan benda najis dan haram, sebagai sebuah

bahwa air kencing unta tidak najis, karena daging unta halal dimakan. Selain itu juga hadits dari Anas radhiyallahu 'anhu yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW memberi keringanan (rukhsah) kepada Zubair bin Al-‘Awwam dan Abdurrahman bin Auf untuk memakai kain sutera. Padahal begitu banyak hadits yang

mengharakan laki-laki muslim mengenakan pakaian yang terbuat dari sutera. Namun lantaran kdua shahabat itu menderita penyakit gatal-gatal, maka beliau pun memberikan keringanan untuk memakainya. Untuk kepentingan mempertahankan

hidupnya, dalam keadaan darurat, seseorang tidak hanya diperbolehkan bahkan diwajibkan memakan benda yang diharamkan dalam keadaan normal. Dalam keadaan terpaksa perkara yang dilarang menjadi diperbolehkan. Oleh karena itu, sebagaimana untuk menolak lapar dan dahaga dalam keadaaan darurat diperbolehkan makan dan minum barang haram, diperkenankan pula mengkonsumsi barang haram untuk keperluan pengobatan, kecuali minuman keras. Dengan begitu, minum darah kobra dapat dijadikan sebagai pengobatan alternativ. Mengingat pembolehan ini termasuk rukhshah, maka harus memenuhi dua persyaratan:
xvi

1. Tidak ada alternatif lain yang halal 2. Menurut dokter yang berkompeten, darah ular kobra efektif diderita. Memang juga ulama yang tidak membolehkan berobat dengan barang haram (darah ular kobra). Mereka berpegang pada sebuah hadits yang artinya,”Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan pada sesuatu yang dihramkan atas kalian”. Hadits ini secara eksplisit membatasi pengobatan pada hal-hal yang diharamkan. Barang haram merupakan sumber penyakit, bukan sumber kesehatan. Dua kondisi yang tampak bertentangan ini dikompromikan oleh para ulama dengan mengadakan perbedaaan antara dengan keadaan terpaksa dan tidak. Kalau terpaksa diperbolehkan, jika tidak terpaksa maka dilarang. Keterpaksaan dalam konteks pengobatan barang haram, bearti tidak diketemukannya obat dari bahan yang halal dalam penyakit tertentu. menyembuhkan penyakit yang

Bahkan bisa dikatakan bahwa berobat dengan obat-obatan yang haram adalah tanda adanya penyakit dalam hati seseorang, yaitu pada imannya. Karena jika ia adalah bagian dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang beriman, maka Allah tidaklah menjadikan kesembuhannya pada apa yang diharamkan.Oleh karena itu, jika ia terpaksa makan bangkai atau sejenisnya, wajib baginya untuk memakannya menurut pendapat yang masyhur dari keempat imam madzhab. Sedangkan berobat (dengan barang halal sekalipun), hukumnya tidak wajib menurut sebagian besar ulama. Bahkan mereka berbeda pendapat, apakah yang lebih afdol berobat atau meninggalkannya karena tawakkal.

xvii

Dan diantara dalil yang memperjelas hal ini, ketika Allah mengharamkan bangkai, darah, daging babi dsb, Dia tidak menghalalkannya kecuali untuk orang yang terpaksa (mudltor) dengan syarat tidak berlebihan dan tidak dalam keadaan maksiyat, sebagaimana disebutkan dalam ayat : “Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa,sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [QS. Al-Maidah:3]. Dan kita ketahui bahwa berobat tidaklah termasuk kategori terpaksa, sehingga tidak boleh berobat dengannya.

xviii

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari

pembahasan

Maklah

diatas,

maka

penulis

mencoba

mengambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Allah SWT menciptakan sesuatu dan membuat aturan yang bertujuan demi kebaikan manusia. Allah melarang umat Islam mengonsumsi binatang tertentu dengan banyak hikmah.
2. Binatang yang haram itu terbagi menjadi dua, yaitu haram karena

sudah ditetapkan oleh Al-Qur’an dan haram berdasarkan Al-Hadist
3. Tidak dibenarkan berobat dengan hal-hal yang diharamkan,

termasuk ular. Setiap muslim wajib meyakini bahwa tidak ada satu penyakit kecuali Allah seudah menyediakan obatnya. Dan Allah tidak menjadikan obat dari sesuatu yang haram. Maka jelaslah bahwa ular atau hewan yang diharamkan lainnya tidak sepatutnya menjadi alternatif pilihan dalam mencari kesembuhan.
4. Ada yang berobat dengan ular dan bisa mendapat kesembuhan.

Namun, patokan dalam berobat bukan hanya sembuh, tapi mengunakan sesuatu yang dibolehkan oleh Syariat harus menjadi prioritas.

xix

B. Saran Kita harus menghindari mengonsumsi binatang haram dapat

meningkatkan Kesehatan jiwa dan raga. Seseorang akan menjadi suci lhir dan bathin.

Kalau terpaksa diperbolehkan, jika tidak terpaksa maka dilarang.

Keterpaksaan dalam konteks pengobatan barang haram, bearti tidak diketemukannya obat dari bahan yang halal dalam penyakit tertentu.

Untuk pengobatan ini harus dilihat pembandingnya. Masih adakah

cara lain untuk mengobati seseorang selain dari minum darah ular ? Karena minum darah ular pada dasarnya adalah haram, maka untuk bisa menghalalkannya harusnya ada syarat kondisi darurat yang bisa diterima secara syariat.

xx

DAFTAR PUSTAKA

Udin, Wahyudin, (2006). Fiqih.Bandung: Grafindo Media Pratama. Utomo, Setiawan Budi, (2003). Fiqih Aktual: Jawaban tuntas masalah kontemporer. Jakarta: Gema Insani Press. M.Mahfud S, 2012, Binatang haram dalam Al-Qur’an dn As-Sunnah, [online] (http://sejenakberpikir.blogspot.com/2012/07/binatang-haram-dalam-alquran-dan-as.html) Badrul Tamam, 2010, voa-islam.com: Hukum Mengkonsumsi Obat dari Ekstrak Ular, ular) Aina Mulyana 2012, Jenis-Jenis Hewan yang Halal dan Haram dimakan serta Makanan yang Bersumber dari Binatang yang Diharamkan, [online] (http://ujungkulon22.blogspot.com/2012/03/jenis-jenis-hewan-yang-halaldan-haram.html) Dwi Rachmawati, 2012, Hukum Memakan Darah Kobra Makan Empedunya Untuk Obat [online] (http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2012/10/13/apa-hukummeminum-darah-kobra-dan-makan-empedunya-untuk-obat/495346/) [online] (http://www.voa-islam.com/islamia/konsultasiagama/2010/07/29/8700/hukum-mengkonsumsi-obat-dari-ekstrak-

xxi

Idfasysyfa, 2008, Hukum Memakan Benda Haram untuk Pengobatan, [online] (http://ldfasysyifa.multiply.com/journal/item/5?&show_interstitial=1&u= %2Fjournal%2Fitem)

xxii