Sarah Paradiska/22574 Pelacuran merupakan fenomena manusiawi yang telah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu

. Semakin lama industri yang menyuguhkan kenikmatan batin ini semakin mengalami perkembangan. Hal ini tidak bisa lepas dari hasrat manusiawi yang dimiliki hampir semua manusia. Perkembangan zaman memaksa manusia lebih kreatif dalam melakukan segala hal. Pelacuran merupakan ladang bisnis yang menjanjikan bagi sebagian kelompok masyarakat. Persaingan antara pelaku industri seks terjadi secara cepat seraya perkembangan waktu. Tingkat kekreatifitasan seseorang dalam menyuguhkan “petualangan” lain dari seks merupakan salah satu daya tarik yang dapat menjadi persaingan antara pelaku industri seks. Secara tidak langsung, hal ini memaksa lebih banyak lagi tenaga kerja yang dibutuhkan dalam industri semacam ini. Pelacuran dijadikan suatu komoditi wajib di setiap wilayah. Kembali lagi, pelacuran merupakan ladang uang yang cukup menjanjikan. Tempat pelacuran atau lokalisasi dapat meraup keuntungan besar setiap malam yang pasti akan mengalir ke kantong pemerintah. Hal ini membuat industri seperti ini kian menjamur di berbagai tempat. Dari sisi keagamaan, budaya serta kesehatan, sangat jelas sekali pelacuran merupakan hal yang dikecam keberadaannya. Akan tetapi, dari segi ekonomi dan bisnis bukan tidak mungkin praktek seperti ini menyelamatkan puluhan ribu masyarakat dari lingkar pengangguran. Industri seks dapat berkembang di berbagai wilayah di dunia dikarenakan adanya banyak faktor yang mendukung hal tersebut. Prostitusi atau pelacuran terkadang menjadi kelebihan dari industri pariwisata di berbagai daerah. Bisnis ini tidak mengenal batasan usia baik produsen maupun konsumen. Pelakunya pun tidak memerlukan suatu keahlian khusus untuk menjalankannya. Perluasan industri seks di dunia salah satunya disebabkan oleh globalisasi yang sedang gencar-gencarnya terjadi1. Globalisasi yang terjadi diperlihatkan dengan semakin banyaknya persaingan yang terjadi antar negara. Perkembangan tersebut dapat berupa jasa-jasa maupun produk prostitusi. Pada saat ini negara Hungaria sekarang menjadi negara yang memproduksi pornografi terbesar, dan negara Cina menjadi negara yang memproduksi alat-alat seks terbesar (James, 2003:20). Kemudian, globalisasi juga mempengaruhi perluasan jaringan prostitusi di dunia. Saat ini para pelacur yang berada di suatu negara bukan hanya berasal dari negara tersebut. Akan tetapi terdapat kemungkinan para pelacur tersebut berasal dari negara lain. Hal ini tidak mungkin lepas dari peranan pemerintah setempat dalam rangka perizinan untuk menempatkan para pelacur. Selain itu, kepentingan beberapa kelompok dalam sektor ekonomi juga mempengaruhi perluasannya. Seorang antropolog bernama Alison J. Murray pernah mengadakan suatu kajian yang membuktikan bahwa pelacuran merupakan suatu tindakan rasional yang menghasilkan pemasukan ekonomi yang tinggi dibandingkan dengan pekerja perempuan kelas bawah lainnya2. Terlepas dari kontroversi tidak berkesudahan yang dihadirkan, pelacuran sudah menjadi suatu industri yang keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari kehidupan karena terlalu banyak faktor yang bergantung pada industri tersebut. Sehingga apabila suatu saat rantai pelacuran terputus maka sangat banyak sekali sektor yang akan mengalami kerugian lebih besar.

1

James J. Spillane. 2003. Etika Bisnis dan Industri Sebagai Kegagalan Pasar Bebas. dalam James J. Spillane (ed). Wisata Seks dalam Industri Pariwisata: Peluang atau Ancaman?. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. hal. 2 Ibid. hal. 24

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful