P. 1
Fisika SMA-MA-SMK Kelas Xi Bab 6 Momentum Sudut Dan Rotasi Benda Tegar

Fisika SMA-MA-SMK Kelas Xi Bab 6 Momentum Sudut Dan Rotasi Benda Tegar

4.69

|Views: 17,024|Likes:
Published by Pristiadi Utomo
Materi momentum sudut dan rotasi benda tegar di dalamnya tercakup konsep momen inersia, momentum sudut dan hukum kekekalannya, gerak menggelinding, serta titik berat benda. Pak Pris akan dengan senang hati membantu peningkatan akademik siswa siswi Indonesia.
Materi momentum sudut dan rotasi benda tegar di dalamnya tercakup konsep momen inersia, momentum sudut dan hukum kekekalannya, gerak menggelinding, serta titik berat benda. Pak Pris akan dengan senang hati membantu peningkatan akademik siswa siswi Indonesia.

More info:

Published by: Pristiadi Utomo on Mar 01, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/10/2014

pdf

text

original

Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.

BAB 7
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
MOMENTUM SUDUT DAN ROTASI BENDA TEGAR
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
1
STANDAR KOMPETENSI :
Menerapkan konsep dan prinsip mekanika
klasik sistem kontinu dalam menyelesaikan
masalah.
KOMPETENSI DASAR
• Setelah mempelajari bab ini kamu dapat
memformulasikan hubungan antara konsep torsi ,
momentum sudut, dan momen inersia,
berdasarkan hukum II Newton serta penerapannya
dalam masalah benda tegar


Katrol yang berputar karena bergesekan dengan tali memiliki momentum sudut yaitu hasil kali
momen inersia katrol dengan jari-jari katrol. Katrol termasuk silinder. Silinder selain dapat
berputar dengan sumbu putar menembus penampang, dapat juga berputar dengan sumbu putar
sejajar permukaan penampang. Sedangkan pada bola dapat berputar dengan sumbu putar dari
berbagai arah. Dalam bab ini akan dibahas tentang rotasi benda tegar beserta besaran-besaran
dalam dinamika rotasi seperti momentum sudut, momen gaya, momen inersia, hukum
kekekalan momentum sudut dan sebagainya.
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
Gerbang
Pernahkah Kamu melihat permainan roller coaster di
pekan raya? Kereta meluncur dan berputar menurut
sumbu putaran tertentu. Pernahkah Kamu melihat katrol?
Sebuah alat yang dapat berputar dan memberikan
keuntungan mekanik. Benda yang berotasi pasti ada
momen gaya yang bekerja pada benda itu.

A. Momen Gaya
Momen gaya merupakan salah satu bentuk usaha dengan salah satu titik sebagai titik acuan.
Misalnya anak yang bermain jungkat-jungkit, dengan titik acuan adalah poros jungkat-jungkit.
Pada katrol yang berputar karena bergesekan dengan tali yang ditarik dan dihubungkan
dengan beban.
Momen gaya adalah hasil kali gaya dan jarak terpendek arah garis kerja
terhadap titik tumpu. Momen gaya sering disebut dengan momen putar atau
torsi, diberi lambang τ (baca: tau).
τ = F . d
Satuan dari momen gaya atau torsi ini adalah N.m yang setara dengan
joule.
Momen gaya yang menyebabkan putaran benda searah putaran jarum jam disebut momen
gaya positif. Sedangkan yang menyebabkan putaran benda berlawanan arah putaran jarum jam
disebut momen gaya negatif.

Titik 0 sebagai titik poros atau titik acuan.
Momen gaya oleh F
1
adalah τ
1
= + F
1
. d
1
Momen gaya oleh F
2
adalah τ
2
= - F
2
. d
2
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
2
B
O

d
1
d
2
A
F
2
Rotasi roller coaster
Gambar:
Katrol
Gambar:
Menarik beban
menggunakan katrol
Gambar:
Skema permainan jungkat jungkit
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
Pada sistem keseimbangan resultan momen gaya selalu bernilai nol, sehingga dirumuskan:
∑ τ = 0
Pada permainan jungkat-jungkit dapat diterapkan resultan momen gaya = nol.
∑ τ = 0
- F
2
. d
2
+ F
1
. d
1
= 0
F
1
. d
1
= F
2
. d
2
Pada mekanika dinamika untuk translasi dan rotasi banyak kesamaan-kesamaan besaran yang
dapat dibandingkan simbol besarannya.
Perbandingan dinamika translasi dan rotasi
Translasi Rotasi
Momentum linier p = mv Momentum sudut* L = Iω
Gaya F = dp/dt Torsi τ = dL/dt
Benda massa
Konstan F = m(dv/dt)
Benda momen
inersia konstan*
τ = I (dω/dt)
Gaya tegak lurus
terhadap momentum F = ω x p
Torsi tegak lurus
momentum sudut
τ = Ω × L
Energi kinetik Ek = ½ mv
2
Energi kinetik Ek = ½ Iω
2
Daya P = F . v Daya P = τ . ω
Analogi antara besaran translasi dan besaran rotasi
Konsep Translasi Rotasi Catatan
Perubahan sudut s θ s = r.θ
Kecepatan v = ds/dt ω = dθ/dt v = r.ω
Percepatan a = dv/dt α = dω/dt a = r.α
Gaya resultan, momen F τ τ = F.r
Keseimbangan F = 0 τ = 0
Percepatan konstan
v = v0 + at ω = ω0 + αt
s = v0t = ½ at
2
θ = ω0t + ½αt
2
v
2
=
2
0
v + 2as ω
2
=
2
0
ω + 2αθ
Massa, momen kelembaman m I I = ∑miri
2
Hukum kedua Newton F = ma τ = Iα
Usaha W = ∫ F ds W = ∫ τ dθ
Daya P = F.v P = I ω
Energi potensial Ep = mgy
Energi kinetik Ek = ½ mv
2
Ek = ½ Iω
2
Impuls ∫ F dt ∫ τ dt
Momentum P = mv L = Iω
B. Momen Inersia Rotasi Benda Tegar
Benda tegar adalah benda padat yang tidak berubah bentuk apabila dikenai gaya luar.
Dalam dinamika, bila suatu benda tegar berotasi, maka semua partikel di dalam benda tegar
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
3
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
tersebut memiliki percepatan sudut α yang sama. Momen gaya atau gaya resultan gerak rotasi
τ didefinisikan sebagai berikut.
”Apabila sebuah benda tegar diputar terhadap suatu sumbu tetap, maka resultan gaya
putar (torque, baca torsi) luar terhadap sumbu itu sama dengan hasil kali momen inersia benda
itu terhadap sumbu dengan percepatan sudut”.
Dirumuskan sebagai berikut.
τ = Σ F
i
R
i
Sin θ
i
atau τ = ( Σ m
i
R
2

i
)
.
α
Σm
i
R
i
2
disebut momen inersia atau momen kelembaman benda terhadap sumbu putar, yaitu
penjumlahan hasil kali massa tiap partikel dalam suatu benda tegar dengan kuadrat jaraknya
dari sumbu.
Dirumuskan:
I = Σ m
i
. R
i
2
Definisi lain dari momen inersia adalah perbandingan gaya resultan (momen) terhadap
percepatan sudut.
Dirumuskan:
I =
α
τ
maka τ = I . α
τ = I
dt

Karena τ = ΣF . R dan τ = I . α
maka Σ F . R = I . α
Percepatan tangensial adalah juga percepatan linier a, yaitu percepatan singgung tepi
roda.
a = α . R
α =
R
a
persamaan menjadi :
Σ F . R = I .
R
a
Momen inersia harus dinyatakan sebagai hasil kali satuan massa dan kuadrat satuan jarak.
Untuk menghitungnya harus diperhatikan bentuk geometri dari benda tegar homogen.
Tabel berikut menunjukkan momen inersia beberapa benda homogen.
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
4
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
Momen inersia berbagai benda yang umum dikenal
I = ½ M (R1
2
+ R2
2
) I = 1/3 MR
2
I = MR
2
I = 2/5 MR
2
I = 2/3 MR
2
Contoh:
1. Empat buah partikel seperti ditunjukkan pada gambar dihubungkan oleh sebuah batang
kaku ringan yang massanya dapat diabaikan. Tentukan momen inersia sistem partikel
terhadap proses:
a. sumbu AA
1
,
b. sumbu BB
1
!
Penyelesaian:
a. I = Σ m
i
. R
i
2
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
5
L
I = ML
2
Batang silinder,
poros melalui pusat
L
I = ML
2
Batang silinder,
poros melalui ujung
b
a
I = M(a
2
+ b
2
)
(c) Pelat segiempat,
poros melalui pusat
b
a
I = Ma
Pelat segiempat tipis,
poros sepanjang tepi pusat
R
2
R
1
Silinder berongga Silinder pejal
Silinder tipis
berongga
Bola pejal
R R R
(i ) Bola tipis
berongga
A B
1 kg 2 kg 1 kg 3 kg
2 m 2 m 2 m
m
1
m
3
m
3
m
2
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
= m
1
R
1
2
+ m
2
. R
2
2
+ m
3
R
3
2
+ m
4
R
4
2
= 1 . 0
2
+ 2 . 2
2
+ 1 . 4
2
+ 3 . 6
2
= 0 + 8 + 16 + 108
I = 132 kg m
2
b. I = Σ m
i
R
i
2
= m
1
R
1
2
+ m
2
R
2
2
+ m
3
R
3
2
+ m
4
R
4
2
= 1 . 4
2
+ 2 . 2
2
+ 1 . 0
2
+ 3 . 2
2
= 16 + 8 + 0 + 12
I = 36 kg m
2
2. Empat buah partikel massanya 1kg, 2 kg, 2 kg, 3 kg seperti ditunjukkan pada gambar,
dihubungkan oleh rangka melingkar ringan jari-jari 2 meter yang massanya dapat
diabaikan.
a. Tentukan momen inersia sistem terhadap poros melalui pusat lingkaran dan tegak lurus
pada bidang kertas!
A
A’
b. Berapa besar momen gaya harus dikerjakan pada sistem untuk memberikan suatu
percepatan ∝ terhadap poros ini (∝ = 4
2
s
rad
)?
c. Ulangi pertanyaan (a) dan (b) untuk poros AA
1
!
Penyelesaian:
a. I = Σ m
i
R
i
2
= m
1
R
1
2
+ m
2
R
2
2
+ m
3
R
3
2
+ m
4
R
4
2
= 3 . 2
2
+ 2 . 2
2
+ 1 . 2
2
+ 2 . 2
2
= 12 + 8 + 4 + 8
= 32 kg m
2
b. τ = I . ∝ = 32 . 4 = 128 N.m
c. I = m
2
R
1
2
+ m
2
R
2
2
+ m
2
R
2
2
+ m
3
R
3
2
+ m
4
R
4
2

3. Sebuah benda sistem yang terdiri atas dua bola dengan massa masing- masing 5 kg
dihubungkan oleh sebuah batang kaku yang panjangnya 1 m. Bola dapat diperlakukan
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
6
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
sebagai partikel dan massa batang 2 kg. Tentukan momen inersia sistem terhadap sumbu
yang tegak lurus batang dan melalui
a. pusat 0, O
b. salah satu bola!
L = 1 m

Penyelesaian:
a. I = Σ m
i
R
i
2
I = m
A
. R
A
2
+ m
B
. R
B
2
+ 1/12 m . L
2
I = 5 . (0,5)
2
+ 5 . (0,5)
2
+ 1/12 . 2 . 1
2

I = 5 . 0,25 + 5 . 0,25 + 1/6
I = 2,5 + 1/6
I = 5/2 + 1/6 = = 16/6
I = 8/3 kg m
2

b. I = Σ m
i
R
i
2
I = m
A
.R
A
2
+ M
b
.R
B
2
+ 1/3 .m.l
2

I = 0 + 5 . 1
2
+ 1/3 . 2.1
2
I = 5 + 2/3
I = 5
3
2
kg m
2

C. Persamaan Lain Gerak Rotasi Benda Tegar
Dalam dinamika, bila suatu benda berotasi terhadap sumbu inersia utamanya, maka
momentum sudut total L sejajar dengan kecepatan sudut ω, yang selalu searah sumbu rotasi.
Momentum sudut (L) adalah hasil kali momen kelembaman I dan kecepatan sudut ω.
Sehingga dapat dirumuskan :
L = I . ω
Bagaimana persamaan tersebut diperoleh? Perhatikan gambar berikut. Momentum sudut
terhadap titik 0 dari sebuah partikel dengan massa m yang bergerak dengan kecepatan V
(memiliki momentum P = mv) didefinisikan dengan perkalian vektor,
L = R × P
atau L = R × mV
L = mR × V
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
7
0
ω
L
r
m
v
90°
Hubungan vektor antara kecepatan sudut dan
momentum sudut pada gerak melingkar
Lintasan
Bidang gerak
L
0
r
F
m
v
Momentum sudut sebuah partikel
A

B
6
1 15 +
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
Jadi momentum sudut adalah suatu vektor yang tegak lurus terhadap bidang yang dibentuk
oleh R dan v.
Dalam kejadian gerak melingkar dengan 0 sebagai pusat lingkaran, maka vektor R dan v
saling tegak lurus.
V = ω R
Sehingga L = m R v
L = m R ωR
L = m R
2
ω
Arah L dam ω adalah sama, maka:
L = m R
2
ω
atau L = I ω
karena ω =
dt

maka : L = m R
2

dt

L = I
dt

Momentum sudut sebuah partikel, relatif terhadap titik tertentu adalah besaran vektor, dan
secara vektor ditulis:
L = R × P = m (R × v)
Bila diturunkan, menjadi:

,
`

.
|
× +
,
`

.
|
× ·
dt
dp
R P
dt
dR
dt
dL
) F R ( ) mV V (
dt
dL
× + × ·
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
8
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
) F R ( 0
dt
dL
× + ·
F R
dt
dL
× ·
karena τ = F × R
maka τ =
dt
dL
Apabila suatu sistem mula-mula mempunyai memontum sudut total ΣL, dan sistem
mempunyai momentum sudut total akhir ΣL’, setelah beberapa waktu, maka berlaku hukum
kekekalan momentum sudut. Perhatikan seorang penari balet yang menari sambil berputar
dalam dua keadaan yang berbeda. Pada keadaan pertama, penari merentangkan tangan
mengalami putaran yang lambat, sedangkan pada keadaan kedua, penari bersedekap tangan
roknya berkibar-kibar dengan putaran yang cepat.

momentum sudut total awal = momentul sudut total akhir
ΣL = ΣL’
L
1
+ L
2
= L
1
’ + L
2

Hukum Kekekalan momentum rotasi sebagai berikut.
I
1
ω
1
+ I
2
ω
2
= I
1
’ ω
1


+ I
2
’ ω
2

D. Energi Kinetik Rotasi
Misalkan sebuah sistem terdiri atas dua partikel yang massanya m
1
dan m
2
dan
rotasi bergerak dengan kecepatan linier v
1
dan v
2
, maka energi kinetik partikel ke 1 adalah
½ m
1
v
1
2
. Oleh karena itu, energi kinetik sistem dua partikel itu adalah (energi kinetik
partikel

ke 2 adalah ½ m
2
v
2
2
) :
E
K
= ½ m
1
v
1
2
+ ½ m
2
v
2
2
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
9
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
Dalam sistem benda tegar energi kinetiknya:
E
K
= Σ ½ m
i
v
i
2

Benda tegar yang berotasi terhadap suatu sumbu dengan kecepatan sudut ω, kecepatan tiap
partikel adalah v
i
= ω . R
i
, di mana R
i
adalah jarak partikel ke sumbu rotasi.
jadi E
K
=

Σ ½ m
i
v
i
2
= Σ ½ m
i
R
i
2
ω
2
= ½ (Σ m
i
R
i
2
) ω
2
E
K
= ½ I . ω
2
karena L = I . ω
maka E
K
= ½ L . ω
atau E
K
= ½
I
L
2


Masalah umum di mana benda tegar berotasi terhadap sebuah sumbu yang melalui
pusat massanya dan pada saat yang sama bergerak translasi relatif terhadap seorang
pengamat. Karena itu, energi kinetik total benda dapat dituliskan sebagai berikut.
E
K
= ½ mv
2
+ ½ I . ω
2
Dalam hal ini hukum kekekalan energi total atau energi mekanik adalah:
E = E
K
+ E
P
= konstan
½ mv
2
+ ½ I ω
2
+ mgh = konstan
Contoh:
Sebuah silinder pejal homogen dengan jari-jari R dan massa m, yang berada di puncak bidang
miring, menggelinding menuruni bidang miring seperti tampak pada gambar. Buktikanlah
kecepatan liniear pusat massa ketika tiba di dasar bidang miring adalah V = gh
3
4
a. dengan menggunakan hukum kekekalan energi,
b. dengan menggunakan hukum II dinamika rotasi!
Penyelesaian
Jawab:
v
1
= 0, ω
1
= 0
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
10
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
s
h
a. Ek
1
+ Ep
1
= Ek
2
+ Ep
2
(½ m v
1
2
+ ½ I ω
1
2
) + mgh
1
= ( ½ mv
2
2
+ ½ I ω
2
2
) + mgh
2
0 + 0 + mgh = ½ mv
2
+ ½ . ½ mR
2
( )
2
+ 0
gh = ½ v
2
+ ¼. R
2
. v/r
gh = ¾ v
2

v
2
=
3
4
gh
v = gh
3
4
(terbukti)
b. hukum II dinamika rotasi
Σ F = m . a
m g .
s
h
- ½ m . a = m . a
s
gh
=
2
3
a
a =
3
2
.
s
gh
v
2
= v
o
2
+ 2 a s
v
2
= 0
2
+ 2.
3
2

s
gh
. s
v
2
=
3
4
gh
v = gh
3
4
(terbukti)
E. Menghitung Momen Inersia/Kelembaman Benda-benda
Homogen
1) Batang homogen (panjang 1, massa m, penampang A)
a. Momen kelembaman terhadap sumbu melalui ujung batang (O) tegak lurus
penampang batang.
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
11
sumbu
0
x

A
dx
r
v
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
Massa jenis batang
l.A
m
V
m
· · ρ
Kita ambil bagian kecil dx yang jaraknya x dari ujung O massa bagian itu:
dm = ρ.dV
dm = ρ A dx
dm = dx A
A 1
m
dm = dx
1
m
momen inersia batang :
I =

1
0
2
dm x
I =

1
0
2
dx
1
m
x
I =

1
0
2
dx x
1
m

I = ]
1
0
3
3x 1
1
m
I = o 1
1
m
3 1
3

I = 1/3 ml
2
b. Momen kelembaman batang terhadap titik beratnya (z)
maka: I =

+

1
2
1
1
2
1
2
dm x
I =

+

I
2
1
I
2
1
2
dx x
1
m

I =

+

I
2
1
I
2
1
2
dx x
m

Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
12

-½ 
sumbu
+½ 
z
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
I =
]
1
2
1
1
2
1
3
x 3 1
1
m
+

I = 1/3 ) 1 1/8 1 (1/8
1
m
3 3
+
I = 1/3
3
1
4
1
.
1
m
I = 1/12 m 1
2
2) Batang tipis (tanpa tebal) bentuk lingkaran (massa m)
a. Momen kelembamannya terhadap sumbu rotasi melalui pusat lingkaran tegak lurus
bidang lingkaran.
b. Momen kelembaman terhadap garis tengah sebagai sumbu rotasi
3. Keping (plat) berbentuk lingkaran (massa m)
a. Momen kelembaman terhadap sumbu rotasi melalui pusat lingkaran tegak lurus
keping.
b. Momen kelembaman terhadap garis tengah sebagai sumbu rotasi
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
13
x
sumbu
R
I = ½ m R
2
sumbu
R
I = ¼ m R
2
sumbu
R
I = m R
2
sumbu
R
I = ½ m R
2
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
4. Keping berbentuk segi empat
Keping tipis dengan panjang a dan lebar b, massa m sumbu x sejajar a dan
sumbu y sejajar b.
5. Silinder pejal homogen
Momen kelembaman terhadap sumbu silinder sebagai sumbu rotasi:
I = ½ mR
2
6. Silinder berongga homogen
Momen kelembaman terhadap sumbu silinder sebagai sumbu rotasi:
I = ½ m ( R
1
2
+ R
2
2
)

7. Bola pejal homogen
Momen kelembaman terhadap garis tengahnya sebagai sumbu rotasi:
I = 2/5 mR
2
Contoh:
1. Tentukan momen inersia batang yang berputar pada poros berjarak ¼ l dari ujung titik 0
O
-1/4 l +3/4 l
Penyelesaian:
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
14
b x
a
z y
Ix = m b
2
Iy = m a
2
Iz = m ( a
2
+ b
2
)
R
Sumbu
R
R
Sumbu

+

l
l
xdm
4 / 3
4 / 1

+

l
l
dx
l
m
x
4 / 3
4 / 1
. .
l
m

+

l
l
dx x
4 / 3
4 / 1
.
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
I = → dm =
l
m
. dx
I = =
I =
l
m

l
l
x
4
3
4
1
3
3
1
+

]
]
]

I =
l
m
.
3
1
.
]
]
]

− −
3 3
)
4
1
( )
4
3
( l l

I =
l
m
.
3
1
.
]
]
]

+
3 3
64
1
64
27
l l
I =
l
m
.
3
1
.
64
28
.l
3
I = m .
192
28
.l
2
I =
48
7
m .l
2
2. Tentukan momen inersia bola pejal!
Jawab:
• massa bola m
• volume bola V
= 4/3 π R
3
• massa keping =
dm
• volume keping = dV = πr
2
dx

V
dV
m
dm
·
dm =
V
m
dV
dm =
dm = ¾ dx
d I = ½ r
2
dm
= .
3
4.R
m . 3
(R
2
- x
2
) dx
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
15
3
2
4/3π/3
.dx r . m.π
3
2 2
) R .(
R
x m −

I
dI
0

+


R
R
) x R ( 2 / 1
2 2
+R − R
dx
R
x
r
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
I - 0 = ( ) dx . x x R 2 R
8R
3m
4 2 2 4
3 ∫
+

+ −
R
R
I =
]
R
R
4 2 2 4
3
x x R
3
2
- x R
8R
3m
+

,
`

.
|
+
I =
]
]
]

,
`

.
|
− + − −
,
`

.
|
+ −
5 5 5 5 5 5
3
x
5
1
R
3
2
R x
5
1
R
3
2
R
8R
3m
I =
]
]
]

,
`

.
| +

,
`

.
| +
5 5
3
R
15
3 - 10 15 -
R
15
3 10 - 15
8R
3m
I =
]
]
]

,
`

.
|

,
`

.
|
5 5
3
R
15
8
R
15
8
8R
3m
I =
5
3
R
15
16
.
8R
3m
I =
5
2
m.R
2

3. mencari momen kelembaban silinder pejal

massa = m
volume = V = π R
2
l
massa selubung = dm
volume selubung = dv = 2 π r l dr
V
dV
m
dm
·
dm =
V
m
dV
dm =
l π.R
m.2π.2π.
2
dr
dm =
2
R
2.m.r
dr
d I = r
2
dm
d I = r
2
.
2
R
2.m.r
dr


I
0
dI
=

R
0
2
3
R
m 2
r
dr
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
16
l
Sumbu x
dr
R
r
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
I – 0 = dr r
R
m 2
3
2 ∫

I =
R
0
4
2
r
4
1
R
m 2
]
]
]

I =
4
2
R
4
1
.
R
m 2
I = ½ m R
2
F. Katrol Tetap
a. Sumbu dianggap licin tanpa gesekan
Massa = m
Jari-jari = R
Momen kelembaman = I
Gerak translasi beban :
F = m . a
+ T
1
– m
1
g = m
1
a ......................(i)
+ m
2
g – T
2
= m
2
a ......................(ii)
Gerak rotasi katrol :
τ = I . a
(T
2
– T
1
) R = I
R
a
...................(iii)
b. Pada puncak bidang miring
Gerak translasi beban :
F = m . a
+ T
1
– m
1
g sin θ – f = m
1
a .......(i)
+ m
2
g – T
2
= m
2
a .......................(ii)
Gerak rotasi katrol :
τ = I . a
(T
2
– T
1
) R = I
R
a
........................(iii)
c. Satu ujung talinya terikat pada sumbu katrol
Gerak translasi beban :
F = m . a
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
17

B
A

Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
mg – T = m . a .................(i)
Gerak rotasi katrol :
τ = I . a
T . R = I .
R
a
.................(ii)
G. Menggelinding
Menggelinding adalah gabungan dari gerak translasi (titik pusat massa) dan gerak rotasi
(penampang bentuk lingkaran).
F
F
f f
Penyelesaian kita tinjau dari masing-masing gerakan itu.
1. Bila gaya F berada tepat di sumbu:
- gerak translasi berlaku : F – f = m . a
- gerak rotasi berlaku : f . R = I . α
di mana (α =
R
a
)
2. Bila gaya F berada di titik singgung :
- gerak translasi berlaku : F + f = m . a
- gerak rotasi berlaku : (F – f) . R = I . α (α =
R
a
)
Contoh:
1. 8.Pesawat Atwood seperti pada gambar, terdiri atas
katrol silinder yang masanya 4 kg (dianggap silinder
pejal). Masa m
1
dan m
2
masing- masing 5 kg dan 3 kg.
jari- jari katrol = 50 cm. Tentukan:
a. percepatan beban,
b. tegangan tali!
Penyelesaian:
a. Tinjau benda m
1
Σ F = m
1
. a
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
18
m
2
m
1
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
w
1
– T
1
= m
1
. a
5 . 10 – T
1
=5 . a
T
1
= 50 – 5a.
Tinjau benda m
2
:
Σ F = m
2
. a
T
2
– W
2
= m
2
. a
T
2
– 3.10 = 3 . a
T
2
= 30 + 3a
Tinjau katrol
Σ τ = I . ∝
T
1
. R – T
2
. R = ½ m . R
2
a/r
T
1
– T
2
= ½ . 4 . 2
50 – 5a – 30 – 3a = 2a
20 = 10 . a
a = 2 m/s
2
b. T
1
= 50 – 5 . 2 = 40 N
T
2
= 30 + 3 . 2 = 36 N
2.
Pesawat Atwood seperti pada gambar, terdiri dari katrol silinder yang licin tanpa
gesekan Jika m
1
= 50 kg dan m
2
= 200 kg , g = 10 m/det
2
Antara balok m
1
dan bidang datar ada gaya gesek dengan μ = 0,1. massa katrol 10 kg.
hitunglah:
a. percepatan sistem,
b. gaya tegang tali!
Penyelesaian:
a.
Tinjau m
1
:
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
19
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
Σ F = m . a
T
1
– f
1
= m . a
T
i
– µ
k
. N = m
1
. a
T
i
– 0,1 . m
1
. g = m
1
. a
T
1
– 0,1 50 . 10 = 50 . a
T
1
= 50 + 50a
Tinjau m
2
:
Σ F = m . a
w
2
– T
2
= m
2
. a
m
2
. g – T
2
= m
2
. a
200 . 10 – T
2
=200 . a
T
2
= 2000 – 200 . a
Tinjau katrol:
Σ = I . ∝
T
2
. R – T
1
. R = ½ m . r
2
. a/R
T
2
– T
1
= ½ m . a
2000 – 200a – 50 – 50 a = ½ . 10 . a
1950 = 255 a
a =
255
1950
= 7,65 m/s
2
b. T
1
= 50 + 50 . 7,65 = 432,5 N
T
2
= 2000 – 200 . 7,65 = 470 N
3. Dua buah benda yang massanya m
1
dan m
2
dihubungkan dengan seutas tali melalui sebuah
katrol bermassa M dan berjari-jari R seperti ditunjukkan pada gambar. Permukaan meja
licin. Tentukan percepatan masing- masing benda bila:
a. katrol dapat dianggap licin sehingga tali meluncur pada katrol
b. katrol cukup kasar sehingga ikut berputar dengan tali
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
20
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.

Penyelesaian:
a. katrol licin (µ
k
= 0), T
1
= T
2
= T
Tinjau m
1
: Σ F = m . a
T = m
1
. a
T = 3 . a
Tinjau m
2
: Σ F = m . a
w
2
– T = m
2
. a
m
2
. g – T = m
2
. a
5 . 10 – T = 5 . a
T = 50 – 5a
• T = T
3a = 50 – 5a
3a + 5a = 50
8a = 50
a =
8
50
= 6,25
s
m
2

b. katrol kasar
Katrol :
Σ τ = I . ∝
T
2
. R – T
1
. R = ½ m
k
. R
2
. a/r
50 – 5a – 3a = ½ . 1 . a
50 = ½ a + 8a = 8,5 a
a = 50/8,5 = 5,88
s
m
2

4. Bidang miring dengan sudut kemiringan θ = 30º. Koefisien gesek 0,2. Ujung bidang miring
diperlengkapi katrol dengan massa 600 gram. Jari- jari 10 cm (dianggal silinder pejal).
Ujung tali di atas bidang miring diberi beban 4 kg. Ujung tali yang tergantung vertikal
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
21
5 kg
3 kg
M = 1 kg
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
diberi beban dengan massa 10 kg. Tentukanlah percepatan dan tegangan tali sistem
tersebut!
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
22
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
Penyelesaian:
Tinjau m
1
Σ F
1
= m
1
. a
T
1
– fk – w
1
sin 30 = m
1
. a
T
1
– µ
k
. N – m
1
g sin 30 = m
1
. a
T
1
– µ
k
. m
1
. g . cos 30 – m
1
. g sin 30 = m
1
. a
T
1
– 0,2 . 4 . 10 . ½ - 4 . 10 . ½ = 4 . a
T
1
– 4 - 20 = 4a
T
1
= 26,928 + 4a
Tinjau m
2
Σ F = m . a
w
2
– T
2
= m
2
. a
w
2
. g – T
2
= m
2
. a
10 .10 – T
2
= 10 .a
T
2
= 100 – 10a
Tinjau katrol Σ τ = I . ∝
T
2
. R – T
1
. R = ½ m . R
2
. a/R
100 – 10a – 26,928 – 4a = ½ . 0,6 . a
100 – 26,928 = 0,3a + 10a + 4a
73,072 = 14,3 a
a = 5,1 m/s
2
• T
1
= 26,928 + 4 . 5,1
T
1
= 47,328 N
T
2
= 100 – 10 . 5,1
= 49 N
5. Balok A ditarik oleh pemberat B dengan cara seperti pada gambar. Koefisien gesekan
antara balok A dengan lantai = 0,5 . Jika massa A = m, massa B = 3m. Massa tali dan katrol
diabaikan dan percepatan gravitasi g.
Tentukan:
a. gaya tarik oleh tali
b. percepatan B
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
23
3
3

θ
m
1

m
2

Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
Penyelesaian:
Waktu sama, jarak yang ditempuh A adalah 2x jarak tempuh B berarti
s
A
= 2 s
B
atau a
A
= 2 a
B
Tinjau benda A
w
B
– 2T = m
B
. a
B
3mg – 2T = 3m a
B
a
B
=
m
T mg
3
2 3 −
Tinjau benda B
T – f = m
A
a
A
T – 0,5 N
B
= m . a
A
T – 0,5 m g = m a
A
a
A
=
m
mg T 5 , 0 −
a. gaya tarik oleh tali
Substitusi
a
A
= 2 a
B
m
mg T 5 , 0 −
= 2 (
m
T mg
3
2 3 −
)
3 T m – 1,5 m
2
g = 6 m
2
g – 4 T m
0 5 , 7 7
0 5 , 7 7
2
· −
· −
mg T
g m Tm
: m
T =
7
5 , 7 mg
b. percepatan B
a
B
=
m
T mg
3
2 3 −
=
m
mg
mg
3
)
7
5 , 7
( 2 3 −
=
m
mg mg
3
7
15 21 −
=
m
mg
21
6
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
24
A
B
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
a
B
=
7
2
g
H. Kesetimbangan Benda Tegar
Kesetimbangan adalah suatu kondisi benda dengan resultan gaya dan resultan momen
gaya sama dengan nol.
Kesetimbangan biasa terjadi pada :
1. Benda yang diam (statik), contoh : semua bangunan gedung, jembatan, pelabuhan, dan
lain-lain.
2. Benda yang bergerak lurus beraturan (dinamik), contoh : gerak meteor di ruang hampa,
gerak kereta api di luar kota, elektron mengelilingi inti atom, dan lain-lain.
Benda tegar adalah benda yang tidak berubah bentuknya karena pengaruh gaya dari luar.
Kesetimbangan benda tegar dibedakan menjadi dua:
1. Kesetimbangan partikel
2. Kesetimbangan benda
1. Kesetimbangan Partikel
Partikel adalah benda yang ukurannya dapat diabaikan dan hanya mengalami gerak
translasi (tidak mengalami gerak rotasi).
Syarat kesetimbangan partikel ΣF = 0  ΣF
x
= 0 (sumbu X)
ΣF
y
= 0 (sumbu Y)
2. Kesetimbangan Benda
Syarat kesetimbangan benda: ΣF
x
= 0, ΣF
y
= 0, Στ = 0
Momen gaya merupakan besaran vektor yang nilainya sama dengan hasil kali antara
gaya dengan jarak dari titik poros arah tegak lurus garis kerja gaya.
Dirumuskan: τ = F . d
Putaran momen gaya yang searah dengan putaran jarum jam disebut momen gaya
positif, sedang yang berlawanan putaran jarum jam disebut momen gaya negatif.
Momen kopel adalah momen gaya yang diakibatkan pasangan dua gaya yang sama
besarnya dan arahnya berlawanan tetapi tidak segaris kerja.
Benda yang dikenai momen kopel akan bergerak rotasi terus menerus.
Kerja Mandiri
1. Suatu batang AB yang homogen, massanya 30 kg, panjangnya 5 meter, menumpu pada
lantai di A dan pada tembok vertikal di B. Jarak dari B ke lantai 3 meter; batang AB
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
25
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
menyilang tegak Lurus garis potong antara lantai dan tembok vertikal. Berapa
besarnya gaya K mendatar yang harus di berikan pada batang di A supaya batang tetap
seimbang ? dan Hitung juga gaya tekan pada A dan B.
3. Titik Berat
Titik berat adalah titik pusat atau titik tangkap gaya berat dari suatu benda atau sistem
benda. Titik berat menurut bentuk benda dibedakan menjadi 3 antara lain:
a. Benda berbentuk garis/kurva, contoh : kabel, lidi, benang, sedotan, dan lain-lain.
b. Benda berbentuk bidang/luasan, contoh : kertas, karton, triplek, kaca, penggaris, dan
lain-lain.
c. Benda berbentuk bangunan/ruang, contoh : kubus, balok, bola, kerucut, tabung, dan
lain-lain
a. Benda berbentuk partikel massa
Apabila sistem benda terdiri dari beberapa benda partikel titik digabung
menjadi satu, maka koordinat titik beratnya dirumuskan:
Xo =
m
X .
Σ
Σm
=
... m
... X X X m
3 2 1
3 3 2 2 1 1
+ + +
+ + +
m m
m m
Jadi zo (Xo,Yo)
Yo =
m
m
Σ
Σ Y .
=
... m
... Y Y Y m
3 2 1
3 3 2 2 1 1
+ + +
+ + +
m m
m m
b. Benda berbentuk garis/kurva
Daftar titik beberapa benda berbentuk garis dapat dilihat dalam lampiran.
Apabila sistem benda terdiri dari beberapa benda garis digabung menjadi satu, maka
koordinat titik beratnya dirumuskan:
Xo =
l
X . l
Σ
Σ
=
... l l l
... X l X l X l
3 2 1
3 3 2 2 1 1
+ + +
+ + +
Jadi zo (Xo,Yo)
Yo =
l
Y . l
Σ
Σ
=
... l l l
... Y l Y l Y l
3 2 1
3 3 2 2 1 1
+ + +
+ + +
c. Benda berbentuk bidang/luasan
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
26
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
Daftar titik berat berbagai macam bidang beraturan dan bidang selimut benda
dapat dilihat dalam lampiran. Apabila sistem benda terdiri dari bidang gabungan, maka
koordinat titik beratnya dirumuskan:
Xo =
A
X . A
Σ
Σ
=
... A A A
... X A X A AX
3 2 1
3 3 2 2 1
+ + +
+ + +
Jadi zo (Xo,Yo)
Yo =
A
Y . A
Σ
Σ
=
... A A A
... Y A Y A Y A
3 2 1
3 3 2 2 1 1
+ + +
+ + +
d. Benda berbentuk volume/ruang (homogen)
Daftar titik berat berbagai macam benda ruang beraturan dapat dilihat dalam
lampiran. Apabila sistem benda terdiri dari bidang gabungan benda, maka koordinat
titik beratnya dirumuskan:
Bila terbuat dari bahan-bahan yang sama (homogen)
Xo =
V
X . V
Σ
Σ
=
... V V V
... X V X V X V
3 2 1
3 3 2 2 1 1
+ + +
+ + +
Jadi zo (Xo,Yo)
Yo =
V
Y . V
Σ
Σ
=
... V V V
... Y V Y V Y V
3 2 1
3 3 2 2 1 1
+ + +
+ + +
e. Bila terbuat dari bahan-bahan yang berbeda (heterogen)
Xo =
W
X . W
Σ
Σ
=
... W W W
... X W X W X W
3 2 1
3 3 2 2 1 1
+ + +
+ + +
Jadi zo (Xo,Yo)
Yo =
W
Y . W
Σ
Σ
=
... W W W
... Y W Y W Y W
3 2 1
3 3 2 2 1 1
+ + +
+ + +
]
keterangan : W = mg = ρ . V . g
karena S = ρ . g  W = S . V
ρ = massa jenis (kg/m
3
)
S = berat jenis (N/m
3
)
Tabel titik berat bentuk teratur linier
Nama benda Gambar benda letak titik berat keterangan
1. Garis lurus
x
0
=
1
2
l
z = titik tengah
garis
2. Busur lingkaran
y R
tali busur AB
busur AB
0
· ×
R = jari-jari lingkaran
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
27
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
3. Busur setengah
lingkaran
y
R
0
2
·
π
Tabel titik berat benda teratur berbentuk luas bidang homogen
Nama benda Gambar benda Letak titik
berat
Keterangan
1. Bidang segitiga
y
0
=
1
3
t
t = tinggi
z = perpotongan
garis-garis berat
AD & CF
2.Jajaran genjang,
Belah ketupat,
Bujur sangkar
Persegi panjang
y
0
=
1
2
t
t = tinggi
z = perpotongan
diagonal AC dan
BD
3. Bidang juring
lingkaran
y R
tali busur AB
busur AB
0
2
3
· ×
R = jari-jari lingkaran
4.Bidang setengah
lingkaran
y
R
0
4
3
·
π
R = jari-jari lingkaran
Tabel titik berat benda teratur berbentuk bidang ruang homogen
Nama benda Gambar benda Letak titik berat Keterangan
1. Bidang kulit
prisma z pada titik
tengah garis z
1
z
2
y
0
=
1
2
l
z
1
= titik berat
bidang alas
z
2
= titik berat
bidang atas
l = panjang sisi
tegak.
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
28
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
2. Bidang kulit
silinder.
( tanpa tutup )
y
0
=
1
2
t
A = 2 π R.t
t = tinggi
silinder
R = jari-jari
lingkaran alas
A = luas kulit
silinder
3. Bidang Kulit
limas
T’z =
1
3
T’ T
T’T = garis
tinggi ruang
4. Bidang kulit
kerucut
zT’ =
1
3
T T’
T T’ = tinggi
kerucut
T’ = pusat
lingkaran alas
5. Bidang kulit
setengah bola.
y
0
=
1
2
R
R = jari-jari
Tabel titik berat benda teratur berbentuk ruang, pejal homogen
Nama benda Gambar benda Letak titik berat Keterangan
1. Prisma
beraturan.
z pada titik
tengah garis z
1
z
2
y
0
=
1
2
l
V = luas alas kali
tinggi
z
1
= titik berat
bidang alas
z
2
= titik berat
bidang atas
l = panjang sisi
tegak
V = volume
prisma
2. Silinder Pejal
y
0
=
1
2
t
V = π R
2
t
t = tinggi silinder
R = jari-jari
lingkaran alas
3. Limas pejal
beraturan
y
0
=
1
4
T T’
=
1
4
t
V = luas alas x
T T’ = t = tinggi
limas beraturan
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
29
30° 30°
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
tinggi
3
4. Kerucut pejal
y
0
=
1
4
t
V =
1
3
π R
2
t
t = tinggi kerucut
R = jari-jari
lingkaran alas
5. Setengah bola
pejal
y
0
=
3
8
R
R = jari-jari bola.
4. Macam-macam Keseimbangan
Dibedakan menjadi 3:
a. Keseimbangan stabil/mantap
Adalah keseimbangan suatu benda di mana setelah gangguan yang diberikan
pada benda dihentikan, benda akan kembali ke posisi keseimbangan semula.
Contoh: Keseimbangan stabil dapat dipandang sebagai keseimbangan yang dimiliki
benda jika gangguan yang dialaminya menaikkan titik beratnya (energi potensialnya).
b. Keseimbangan labil/goyah
Adalah keseimbangan pada suatu benda di mana setelah gangguan yang
diberikan/dialami benda dihentikan, maka benda tidak kembali ke posisi
keseimbangan semula, tetapi bahkan memperbesar gangguan tersebut.
Contoh: Keseimbangan pada suatu benda dipandang sebagai keseimbangan yang
dimiliki benda jika gangguan yang dialaminya menurunkan titik beratnya (energi
potensialnya).
c. Keseimbangan indeferen/netral
Adalah keseimbangan pada suatu benda di mana setelah gangguan yang
diberikan tidak mengubah posisi benda.
Contoh : Keseimbangan indiferen dapat dipandang sebagai keseimbangan yang
dimiliki benda dimana jika gangguan yang dialaminya tidak menyebabkan perubahan
titik beratnya (energipotensialnya).
Soal-soal Ulangan 7
Soal –soal Pilihan Ganda
Berilah tanda silang (x) pada pilihan jawaban yang benar!
1.
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
30
F
45°
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.

m = 3 kg
Sebuah benda bermassa 3 kg diikat dengan tali pada langit-langit. Berapakah tegangan
pada tali tersebut ? (g = 9,8 m/det
2
)
a. 30,0 N
b. 29,4 N
c. 17,0 N
d. 14,7 N
e. 8,5 N
2.
α Tali
T
w
Sistem seperti terlihat pada gambar berada dalam keadaan seimbang. Berat batang dan
tali diabaikan. Gaya-gaya yang berkerja pada sistem adalah T, F, dan w. Manakah di
antara pernyataan berikut yang tidak benar?
a. F
2
+ w
2
= T
2
b. F = w tg α
c. T = w sec α
d. F dan w adalah komponen gaya T
e. w = T cos α
3.
Sebuah balok yang massanya 80,5 kg tergantung pada dua utas tali yang
bersambungan seperti yang terlihat pada gambar. Jika percepatan gravitasi bumi g =
9,8 m/det
2
maka besar tegangan pada tali horizontal A adalah ...
a. 80,5 N
b. 385 N
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
31
80,5 kg
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
c. 598,5 N
d. 643,7 N
e. 788,9 N
4.
Sistem pada gambar di atas berada dalam keadaan seimbang. Berat balok A adalah 600 N
dan koefisien gesekan static antara balok A dan meja adalah 0,2. Berat balok B adalah ...
a. 20
2
N
b. 20 3 N
c. 40 N
d. 40
2
N
e. 40 3 N
5. Sebuah gaya F yang bekerja pada sebuah benda tegar dapat diganti dengan . . . .
a. sebuah gaya lain yang sama besar, sejajar, dan searah tetapi mempunyai garis kerja
yang berbeda dengan F.
b. sebuah koppel
c. sebuah gaya dan sebuah Koppel yang sebidang
d. sebuah gaya atau sebuah koppel
e. sebuah gaya yang sebidang atau dengan sebuah Koppel yang sebidang
6. Sebuah penggaris homogen mempunyai keseimbangan di titik tengahnya (P) pada suatu
poros. Sebuah benda seberat 10 N digantung pada penggaris itu dalam berbagai posisi
tetapi tidak pada titik P. Mana salah satu di antara momen-momen gaya terhadap titik P
berikut ini yang tidak mungkin ?
a. -1 Nm
b. 0 Nm
c. +1 Nm
d. +5 Nm
e. +10 Nm
7. Seseorang memikul dua beban dengan tongkat homogen (AB) yang panjangnya 1,5 m.
Beban yang satu di ujung A dan yang lainnya di ujung B. Beban di A 100 N dan di B 500
N. Supaya batang AB horizontal (seimbang), pundak (bahu) orang tersebut harus
ditempatkan pada . . . .
a. 0,2 m dari B
b. 0,25 m dari B
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
32
A
B
30°
1 m 1 m 2 m
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
c. 0,3 m dari B
d. 0,5 m dari B
e. 0,75 m dari B
8. Sebuah balok homogen (AB) memiliki panjang 5 m dan berat 100 N. Pada ujung A
digantungkan beban 25 N. Di manakah balok itu harus ditumpu agar balok tetap
seimbang ?
a. 1,5 m dari ujung A
b. 2 m dari ujung A
c. 2 m dari ujung B
d. 2,5 m dari ujung B
e. 3 m dari ujung A
9. Sumbu kedua roda muka dan sumbu kedua roda belakang sebuah truk yang bermassa 3000
kg, berjarak 3 m. Pusat massa truk terletak 2 m di belakang roda muka. Diandaikan
percepatan gravitasi bumi adalah 10 m/detik
2
. Beban yang dipikul oleh kedua roda muka
truk itu sama dengan ...
a. 5000 newton
b. 10000 newton
c. 15000 newton
d. 20000 newton
e. 25000 newton
10.
P R S Q
F
Pada diagram, PQ adalah sebuah batang homogen dengan panjang 4 m. Batang itu diam
pada penopang di R (1 m dari P) dan S (1 m dari Q). Jika berat batang 150 N, berapakah
minimum gaya ke bawah F yang dikerjakan di Q yang akan mengangkat batang lepas dari
penopang di R?
a. 50 N
b. 75 N
c. 100 N
d. 125 N
e. 150 N
11. Sebuah bola pejal menggelinding dari keadaan diam menuruni bidang miring kasar yang
membentuk sudut 30
o
dengan arah mendatar. Kelajuan linier bola ketika sudah menempuh
lintasan sepanjang 3,5 m adalah … m/s
a. 6 b. 5 c. 4 d. 3 e. 2
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
33
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
12. Dari gambar di sampjng, massa katrol 300 gram. Katrol mula-mula
diam, kemudian dilepas sehingga berputar turun. Maka besar te-
gangan tali adalah … N
a. 1 b. 1,5 c. 2 d. 3,3 e. 4
13. Seorang penari balet berputar 3 putaran per detik dengan lengan direntangkan, saat itu
momen inersianya 8 kg m
2
. jika kedua lengannya dirapatkan sehingga momen inersianya
menjadi 2 kg m
2
, maka frekwensi putarannya menjadi …. putaran per detik.
a. 0,75 b. 3 c. 5,3 d. 8 e. 12
14. Dalam waktu 2 detik, sebuah roda yang berotasi murni, mengalami perubahan kecepatan
dari 4 rad/s menjadi 20 rad/s secara beraturan. Sebuah titik terletak 30 cm dari poros roda.
Besar percepatan tangensial yang dialami titik tersebut adalah … m/s
2
a. 240 b. 26,7 c. 4,8 d. 2,4 e. 0,27
15. Silinder pejal dengan massa 4 kg ditarik pada pusat
F massanya dengan gaya 56 N sehingga silinder ber-
gerak sepanjang bidang miring ke atas, tanpa slip.
tg α = 4/3. Besarnya energi kinetik pada
t = 2 detik, jika mula-mula silinder diam adalah ....
a. 234 J b. 243 J c. 324 J d. 342 J e. 432 J
16. Gerak menggelinding terjadi karena….
a. gaya yang diberikan jumlahnya tidak nol
b. jumlah torsi tidak nol
c. jumlah gaya dan jumlah torsi tidak nol
d. hanya bias terjadi di bidang miring
e. dapat terjadi di bidang yang licin sempurna
17. Gambar berikut adalah sebuah batang yang ditarik dengan gaya. Momen gaya terhadap
titik O adalah….
a. 75 N
b. 50 3 N
c. 100 N
d. 100 3 N
e. 250 3 N
18. Perhatikan gambar berikut ini. Bila massa batang AB diabaikan, maka besar dan titik
tangkap gaya resultannya adalah….
a. 30 N dan 0,7 m di kiri A
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
34
60º
F = 50 N
A 10 m O
20 N
10 N 40 N
A B
C
0,4 m 1 m
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
b. 30 N dan 0,7 m di kanan A
c. 30 N dan 1,0 m di kiri A
d. 30 N dan 2,0 m di kanan A
e. 30 N dan 2,0 m di kiri A
19. Sebuah benda begerak melingkar berubah beraturan dengan kelajuan anguler mula-mula 6
rad/s. Setelah 4 detik kelajuan angulernya 14 rad/s. Jika jari-jari 10 meter, maka
percepatan linier yang dialami benda tersebut adalah …. m/s
2
a. 280
b. 120
c. 60
d. 40
e. 20
20. Sebuah partikel A bermassa m diputar pada jari-jari R, dan partikel B bermassa 2 m
diputar pada jari-jari R
2
1
. Jika kelajuan sudut putaran kedua partikel tersebut sama, maka
perbandingan momentum anguler partikel A dan partikel B adalah : …
a. 2 : 1
b. 1 : 2
c. 3 : 1
d. 1 : 3
e. 1 : 1
21. Sebuah bola pejal menggelinding tanpa slip dengan kelajuan linier v, jika massa bola pejal
5 kg, maka energi kinetik bola pejal saat menggelinding tersebut adalah .…v
2
a. 1,0
b. 2,5
c. 3,5
d. 5,0
e. 7,5
22. Massa katrol adalah 2 kg dan besar F = 122 newton, maka gaya tegangan tali T
adalah …newton
a. 100
b. 120
c. 122
d. 220
e. 242
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
35
10 kg
F
w
T
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
23. Tangga homogen, panjang 10 m, massa 10 kg, bersandar pada dinding licin dan lantai
kasar. Ujung atas tangga berada 8 meter dari lantai. Bila tangga tepat akan menggeser
tentukan besarnya koefisien gesek statis lantai dengan tangga.
a. 0,80
b. 0,75
c. 0,60
d. 0,375
e. 0,30
24.
F

Sebuah silinder pejal dengan diameter 1 meter berada pada bidang datar kasar didorong
tepat pada pusat massanya dengan gaya F = 6 kali massa benda sehingga meng
gelinding tanpa slip, maka percepatan liniernya adalah … (gaya dan massa bersatuan
sesuai SI).
a. 1 m/s
2
b. 2 m/s
2
c. 3 m/s
2
d. 4 m/s
2
e. 5 m/s
2

25. R

30
o

P Q
Batang PQ horizontal beratnya 60 N menggunakan engsel pada titik P, sedang ujung Q
diikat tali bersudut 30
o
ke dinding. (lihat gambar di atas) Pada titik Q digantungkan beban
40 N, maka besar gaya tegangan tali QR …
a. 30 N
b. 35 N
c. 70 N
d. 120 N
e. 140 N
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
36
40 N
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
Soal-soal Uraian
Jawablah dengan benar!
1.
2 benda A dan B masing–masing bermassa 5 kg dan 2 kg
dihubungkan dengan sebuah tali dengan sebuah katrol
bermassa 2 kg dan berjari-jari 10 cm . Hitung percepatan
benda dan tegangan tali!

2.
Diketahui m
1
= 4 kg, M = 1 kg, r = 1 cm,
m
2
= 2 kg. Hitung percepatan benda dan tegangan
tali!
3. Suatu sistem katrol digunakan untuk mempertahankan beban 49 N
seperti pada gambar. Bila massa katrol diabaikan dan sistem dalam
keadaan setimbang, tentukan besarnya tegangan tali pada kabel
paling atas (T) !

4. Seorang tukang cat (massa 55 kg) mengatur papan homogen yang beratnya
60 N dengan kuda-kuda di B dan C seperti pada gambar. Panjang AD = 4 m,
AB = CD = 1 meter. Jarak kaleng cat (2 kg) dari A = 0,5 m. Secara perlahan
ia mengecat sambil menggeser ke kanan. Pada jarak berapa meter dari C dia
dapat menggeser sebelum papan terjungkit ?

A B C D

5. Hitunglah T
1
dan T
2
dari susunan kesetimbangan di bawah ini.
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
37
B
A
49 N
F
T
m
2
m1
M
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
6. Hitunglah Gaya T pada susunan kesetimbangan ini.
7. Seandainya benda-benda yang massanya m
A
= 20 kg dan m
B =
50 kg disusun
sedemikian hingga terjadi kesetimbangan, dengan tg θ = 3/4
Hitunglah m
C
jika lantai pada bidang miring licin sempurna.
Hitunglah 2 kemungkinan jawab untuk m
C
jika bidang miring kasar dengan koefisien
gesekan statis 0,3
8. Gaya 8 N, 6 N, 5 N, 3 N, 7 N, 9 N dan 4 N bekerja terhadap persegi panjang yang sisi-
sisinya berukuran : 4 m x 2 m seperti terlihat pada gambar.
Tentukan jumlah aljabar momen gaya dengan pusat :
a. Titik A b. Titik B c. Titik C d. Titik O
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
38
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
9. Pada sebuah batang horisontal AC yang panjangnya 10 m bekerja tiga buah gaya 3 N,
2 N dan 4 N seperti terlihat pada gambar ! Tentukan :
a. Resultan dari gaya-gaya tersebut.
b. Momen gaya yang bekerja pada sumbu-sumbu yang melalui A, B dan C
c. Letak titik tangkap gaya Resultannya.
10. Batang AB yang panjangnya 5 meter dan beratnya boleh diabaikan, padanya bekerja 5
buah gaya seperti tampak pada gambar di bawah ini. Jika tg θ = 3/4.
Tentukan besar dan letak dari gaya resultannya.
11. Batang AB yang mempunyai panjang 6 m mendapat gaya pada ujung-ujungnya seperti
tampak pada gambar. Tentukan besar dan letak gaya resultannya.
12. Sebuah batang homogen AB panjangnya 6m dan massanya 40 kg ditahan pada kedua
ujungnya. Dimana kita harus menempatkan beban 2000 N pada batang itu agar
tekanan-tekanan di A dan B berbanding sebagai 2 : 1 . Berat batang dianggap bertitik
tangkap di tengah-tengah batang.
13. Suatu batang AB yang homogen, massanya 30 kg, panjangnya 6 meter, bersandar di
atas tembok yang tingginya 3 meter ujung A dari batang menumpu pada lantai dan
berjarak 4 meter dari tembok. Berapa besarnya gaya K mendatar yang harus diberikan
pada batang di A supaya batang tetap seimbang ? dan Hitung juga gaya-gaya tekanan
pada A dan C.
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
39
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.

14. Pada sebuah balok kayu yang massanya 10 kg dikerjakan gaya K = 50 N yang
mengarah kebawah dan garis kerjanya berimpit dengan garis kerja gaya berat balok
itu. Tentukan letak dan besar gaya tekanan N ( gaya reaksi ) yang dilakukan bidang
terhadap balok itu.
15. Pada sebuah balok kayu, massanya 20 kg, panjangnya 30 cm dikerjakan gaya K = 100
N ( lihat gambar ). Tentukan letak dan besar gaya tekanan N ( gaya reaksi ) yang
dilakukan bidang terhadap balok itu.
16. Sebuah papan berbentuk empat persegi panjang ABCD ( beratnya diabaikan ) dapat
berputar pada bidangnya di sekeliling titik A sebagai engsel, AB = 4 meter ; AD = 3
meter. Persegi panjang itu setimbang karena gaya-gaya yang bekerja pada bidang
persegi panjang itu adalah : K
1
= 30 N pada titik C dengan arah BC; K
2
= 150 N pada
titik D dengan arah sejajar AC ; K pada titik B dengan arah BD.
Hitunglah : a. Besar gaya K itu b. Besar dan arah gaya engsel.
17. Sebuah batang AB massanya 10 kg, panjangnya 6 meter. Ujung B diikat dengan tali
dan ujung tali yang lain diikat di C pada sebuah tembok vertikal. Ujung A dari batang
bertumpu pada tembok itu juga. Dalam sikap seimbang ini tali membuat sudut 30
0
dengan tembok. Tentukan :
a. Gaya tegangan tali.
b. Tekanan tembok di A
c. Sudut yang dibuat batang dengan tembok.
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
40
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
18. Sebuah batang dengan berat 50 N seperti tampak pada gambar di bawah ini. Berapa
besar tegangan dalam kabel pendukungnya dan berapa komponen dari gaya yang
dikerjakan oleh engsel pada batang.
19. Sebuah batang lurus homogen AB ( massanya 10 kg ) di A dihubungkan pada tembok
vertikal oleh sebuah engsel, sehingga batang AB dapat berputar pada bidang yang
tegak lurus pada tembok. Tengah-tengah batang AB dihubungkan dengan tali pada
tembok sedemikian sehingga tali tersebut tegak lurus pada tembok dan kencang.
Batang tersebut membentuk sudut 60
0
dengan tembok ke atas. Pada ujung B dari
batang digantungkan benda massanya 30 kg.
Tentukan :
a. Diagram gaya-gaya
b. Gaya tegangan dalam tali
c. Besar dan arah gaya engsel.
20. Sebuah bidang miring AB ( panjangnya 40 meter ) bersendi/engsel pada kakinya yaitu
titik A. Puncak B bidang condong dihubungkan oleh tali BC dengan tembok vertikal
yang melalui A. Bidang miring ini bersudut 30
0
dengan horisontal dan tali BC arahnya
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
41
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
mendatar. Pada bidang miring dan tembok vertikal bersandar sebuah bola jari-jarinya 5
meter dan massanya 10 kg. berat bidang miring diabaikan.
Tentukanlah :
a. Gaya-gaya tekanan oleh bidang miring dan tembok pada bola
b. Gaya tegangan dalam tali
c. Gaya engsel.

21. 21. Sebuah bola pejal massa 5 kg berada di atas bidang miring Sebuah bola pejal massa 5 kg berada di atas bidang miring
kasar, mula-mula dalam keadaaan diam, kemudian mengge- kasar, mula-mula dalam keadaaan diam, kemudian mengge-
linding tanpa slip (jika tg 37 linding tanpa slip (jika tg 37
o o
= ¾ ) hitung energi kinetik = ¾ ) hitung energi kinetik
37 37
o o
setelah bergerak 7 detik. setelah bergerak 7 detik.
22. Massa A = massa B = 5 kg, jika tg 53 Massa A = massa B = 5 kg, jika tg 53
o o
= 4/3 dan koe- = 4/3 dan koe-
fisien gesekan antara benda A dan bidang miring 0,2 fisien gesekan antara benda A dan bidang miring 0,2
massa katrol 4 kg, Hitung percepatan sistem. massa katrol 4 kg, Hitung percepatan sistem.
53 53
o o

23. Silinder pejal dengan massa 4 kg ditarik pada pusat
F massanya dengan gaya 56 N sehingga silinder ber-
gerak sepanjang bidang miring ke atas, tanpa slip.
tg α = 4/3. Tentukan besarnya energi kinetik pada
t = 2 detik, jika mula-mula silinder diam.
24.
massa A = 8 kg, massa B = 6 kg
massa katrol = 4 kg, koefisien gesek bidang dengan benda A = 0,25.
Hitung percepatan benda A !
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
42
A
B
A
B
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
Rangkuman
1. Momen gaya sering disebut dengan momen putar atau torsi, diberi lambang τ (baca:
tau). Dirumuskan dengan:
τ = F . d
2. Pada sistem keseimbangan resultan momen gaya selalu bernilai nol, sehingga
dirumuskan:
∑ τ = 0
3. Momen inersia atau momen kelembaman benda terhadap sumbu putar, yaitu
penjumlahan hasil kali massa tiap partikel dalam suatu benda tegar dengan kuadrat
jaraknya dari sumbu.
Dirumuskan:
I = Σ m
i
. R
i
2
4. Momentum sudut (L) adalah hasil kali momen kelembaman I dan kecepatan sudut ω.
Sehingga dapat dirumuskan :
L = I . ω
5. Hukum Kekekalan momentum rotasi sebagai berikut.
I
1
ω
1
+ I
2
ω
2
= I
1
’ ω
1


+ I
2
’ ω
2

6. Energi kinetik total benda dapat dituliskan sebagai berikut.
E
K
= ½ mv
2
+ ½ I . ω
2
7. Hukum kekekalan energi total atau energi mekanik adalah:
E = E
K
+ E
P
= konstan
½ mv
2
+ ½ I ω
2
+ mgh = konstan
8. Syarat keseimbangan partikel ΣF = 0  ΣF
x
= 0 (sumbu X)
ΣF
y
= 0 (sumbu Y)
9. Syarat keseimbangan benda: ΣF
x
= 0, ΣF
y
= 0, Στ = 0
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
43
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
Glosarium
• Benda tegar = benda padat yang tidak berubah bentuk apabila dikenai
gaya luar.
• Gaya resultan = jumlah gaya-gaya.
• Geometri = ilmu ukur sudut ruang.
• Gerak rotasi = gerak perputaran pada porosnya.
• Gerak translasi = gerak lurus tanpa rotasi.
• Hukum kekekalan momentum sudut = momentum sudut awal sama
dengan momentum sudut akhir.
• Inersia = kelembaman yaitu kecenderungan suatu benda untuk
mempertahankan keadaan semula.
• Keseimbangan indiferen = keseimbangan pada suatu benda di mana
setelah gangguan yang diberikan tidak mengubah posisi benda.
• Keseimbangan labil = keseimbangan pada suatu benda dimana setelah
gangguan yang diberikan/dialami benda dihentikan, maka benda tidak
kembali ke posisi keseimbangan semula, tetapi bahkan memperbesar
gangguan tersebut.
• Keseimbangan stabil = keseimbangan suatu benda di mana setelah
gangguan yang diberikan pada benda dihentikan, benda akan kembali
ke posisi keseimbangan semula..
• Mekanika dinamika = mekanika yang mempelajari gerak dengan
memperhitungkan gaya-gayanya.
• Momen gaya = hasil kali antara gaya dengan jarak terpendek gaya ke
sumbu putar.
• Momen inersia = momen kelembaman yang dimiliki oleh benda
• Momentum linier = hasil kali antara massa dengan kecepatan.
• Momentum sudut = hasil kali antara momen inersia dengan kecepatan
sudut.
• Resultan = jumlah.
• Rotasi benda tegar = perputaran benda pada porosnya dimana benda
tidak mengalami perubahan bentuk.
• Torsi = momen gaya.
• Translasi = pergeseran linier.
Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd.
44

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->