ISSN 1829 - 5118

Vol. 8 - Maret 2012

JURNAL TUBERKULOSIS INDONESIA
DAFTAR ISI :

E VALUASI ME ODEFAST T PlaqueT TM UNT ME T KSI Mycobacterium B UK NDE E tuberculosis P ADA S UM DI BE RAP UNITPE ANAN KE HAT DI PUT BE A LAY SE AN JAKAR A-INDO S T NE IA HUBUNGAN DUKUNG S IAL DE AN KUALIT HIDUPP AN OS NG AS ADA PE R A NDE IT T RKULO P UBE SIS ARU (T P B ARU) DI BALAI PE NGO AN P NY BAT E AKITP ARU (BP4) Y Y OG AKAR A UNITMINGG AN T IR RAPIDT T ST B E ME KOKDAN T R RO UBE KULOS IS T RKULO DAN HIV-AIDS UBE SIS T RKULO ISNOS KO UBE S O MIAL

• • • • • •

Diterbitkan Oleh Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) The Indonesian Association Againts Tuberculosis

Vol. 8- Maret 2012

ISSN 1829 - 5118

JURNAL TUBERKULOSIS INDONESIA
Diterbitkan Oleh Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia

Pemimpin Umum Ketua Umum PP PPTI Penanggung Jawab Dr. Achmad Hudoyo, Sp.P, FCCP Pemimpin Redaksi Dr. Prasenohadi, Sp.P, Ph.D

Sekretariat Redaksi Drs. Sumardi

Alamat Sekretariat Redaksi & Iklan Jl. Sultan Iskandar Muda No. 66A Kebayoran Lama Utara, Jakarta 12240 Telp. 021 - 7397494 Fax. 021 - 7397494 http://www.ppti.info, email: ppti66@yahoo.com
Terbit pertama kali Agustus 2004

Petunjuk Untuk Penulis
Redaksi menerima naskah yang hanya ditujukan untuk Jurnal Tuberkulosis Indonesia (JTI) dalam bahasa Indonesia/Inggris, dengan ketentuan sebagai berikut: P edoman Umum  Naskah adalah karangan asli  Naskah belum pernah diterbitkan sebelumnya dalam bentuk dan media/jurnal apapun  Seluruh isi naskah adalah tanggung jawab penulis  Naskah yang telah dikirim menjadi hak redaksi, dan seluruh isinya tidak dapat direproduksi kembali untuk publikasi dalam bentuk apapun tanpa seijin redaksi  Redaksi berhak untuk melakukan proses penyuntingan naskah, dalam bentuk gaya, bentuk, tampilan, dan kejelasan isi, tanpa harus mengubah isi naskah  Redaksi berhak unt uk memint a penulis untuk memperbaiki isi dan bentuk tulisan  Naskah yang tidak dimuat, akan dikembalikan kepada penulis apabila ada permintaan sebelumnya  Naskah menggunakan Bahasa Indonesia baku, yang efektif dan efisien. Atau dalam keadaan tertentu, naskah dapat dibuat dalam Bahasa Inggris dengan ejaan yang standar Naskah  Naskah diketik dengan spasi ganda, dengan jarak tepi- tepi kertas 2,5 cm dan menggunakan ukuran kertas A4 (21x 30 cm)  Naskah dapat dikirim ke redaksi dalam bentuk disket berupa copy file dari naskah tersebut Kelengkapan Naskah  Naskah dikirim ke alamat sekretariat redaksi Jurnal Tuberkulosis Indonesia: Jl. Sultan Iskandar Muda No. 66A Kebayoran Lama Utara Jakarta 12240, Telp. (021) 7397494, atau via email: jti_indonesia@yahoo.com  Naskah dikirim dalam 2 berkas salinan (print- out) yang tersusun sesuai urutan: 1) halaman judul, 2) abstrak, 3) abstark dalam Bahasa Inggris termasuk key words, 4) isi, 5) ucapan terimakasih bila ada, 6) daftar pustaka, 7) tabel- tabel, 8) gambar/ilustrasi dan foto berikut keterangannya  Naskah disampaikan dalam bentuk disket dengan program MS-Word Halaman Judul dan P enulis  Judul makalah dit ulis lengkap, dan t idak menggunakan singkatan  Nama penulis ditulis lengkap dengan gelar akademis  Nama departemen dan institusi  Alamat korespondensi penulis Abstrak Dibuat dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, secara terstruktur yang memuat inti pendahuluan; subjek dan metode; hasil; dan kesimpulan penlis. Abstrak tidak lebih dari 250 kata. Tabel dan Gambar  Tabel dan gambar disajikan dalam lembar terpisah, dan telah disebutkan letaknya dalam narasi naskah  Judul tabel diletakkan di atas dan setiap tabel  Setiap singkatan pada tabel diberi keterangan sesuai urutan alfabet berupa catatan kaki di bawah tabel ataugambar.  G ambar, tabel, atau foto, harus diberi keterangan secara informative sehingga mudah untuk dimengerti  P ermintaan pemuatan gambar berwarna dikenakan biaya reproduksi Daftar Pustaka  Daftar rujukan dibuat sesuai dengan ketentuan Vancouver.  Daft ar rujukan t idak lebih dari 25 buah, dan merupakan rujukan t erbaru dalam satu dekade terakhir.  Setiap rujukan diberi nomor sesuai urutan dalam narasi naskah.  Nama jurnal disingkat seperti tercantum dalam Index Medicus.  Rujukan yang telah masuk dalam naskah, namun belum diterbitkan dalam satu jurnal ditulis sesuai aturan dan ditambahkan: In Press Contoh P enulisan Daftar Rujukan 1. Artikel jurnal baku. Contoh: Aditama.TJ.Y Priyanti ZS, , T uberkulosis, Diagnosis, T erapi dan Masalahnya, Lab. Mikrobiologi RSUP P ersahabatan/WHO Collaborating Center for Tuberculosis, E disi 3, 2000, hal 32-80. 2. Organisasi sebagai penulis. Contoh: Bureau of Tuberculosis Control. Clinical policies and protocols. 3rd ed. New Y ork, NY New Y City Department of : ork Health, 1999 3. Tanpa nama penulis. Contoh: Tuberculosis in South Africa (editorial). A Kalvin 1993; 74:5 4. P enulis perorangan. Contoh: Wallgreen A. Primary pulmonary tuberculosis in chilhood.; 2nd ed. California: Aicon Publishers; 1985 5. Bab dalam buku. Contoh: Rock JA, Surgical Condition of the Vaginal and Urethra, te Linde’ Operas tive Gynecology E igth E dition, New Y ork; Ralf press; 1995. p. 911-938

Jurnal Tuberkulosis Indonesia, Vol.8

i

EDITORIAL
Sekali lagi tentang TB-MDR. Siapa yang salah ?
“Kalau seandainya dokter yang mengobati sakit tb-paru saya dulu menjelaskan begini akibatnya dan seperti ini penderitaan yang harus saya jalani, pasti saya akan taat dan berobat teratur sampai sembuh betul!” Begitulah ‘ keluhan’ yang disampaikan seorang pasien yang didiagnosis sebagai TB-MDR, yaitu TB-paru dengan kuman tidak sensitif lagi dengan obat anti tb (OAT) minimal dengan jenis obat rifampisisn dan INH. Sehingga pasien harus menjalani pengobatan 2 tahun lamanya. Dia harus mendapat injeksi setiap hari selama 6 bulan dan obat minum minimal 4 macam obat lini kedua yang masih sensitif setiap hari selama 18 bulan setelah konversi. Untuk menjamin ketaatan minum obat pada program pengobatan TB- MDR, obat harus diminum dihadapan petugas kesehatan di rumah sakit atau puskesmas setiap hari. Bagi pasien yang mampu atau bahkan sudah pension tidak terlalu bermasalah, akan tetapi bagi pasien dengan umurt muda, masih bekerja atau bahkan tulang punggung rumah tangga, sangat menimbulkan masalah dan penderitaan bukan saja terhadap diri sendiri yang sedang sakit tetapi juga keluarga terutama istri dan anak-anak. Secara teoritis ada 5 faktor yang dianggap berperan menyebabkan ‘ wabah’ TB- MDR, yaitu (1). P engobatan tidak adekuat (menimbulkan mutan M.tb yg resisten), (2). P asien yg lambat terdiagnosis MDR, sehingga menjadi sumber penularan terus menerus, (3). Pasien dengan TB resisten obat yang tidak bisa disembuhkan, akan meneruskan penularan ,(4). P asien dengan TB resisten obat meskipun diobati terus tetapi dengan obat yang tidak adekuat mengakibatkan penggandaan mutan resisten ,(5). Ko- inveksi HIV mempermudah terjadinya resistensi primer maupun sekunder. Oleh karena itu dalam standar internasional penatalaksanaan TB (ISTC) standar 14 perlu dilakukan penilaian kemungkinan resistensi obat, berdasar riwayat pengobatan sebelumnya, pajanan dgn sumber yg mungkin resisten obat, dan prevalensi resistensi obat dalam masyarakat. Standar 15 ISTC mengisyaratkan bahwa pasien gagal pengobatan dan kasus kronik selalu dipantau kemungkinan terjadi resistensi obat. Untuk pasien dengan kemungkinan resistensi obat, biakan dan uji sensitiviti obat terhadap isoniazid, rifampisin dan etambutol seharusnya dilakukan segera. P asien tuberkulosis yang disebabkan kuman resisten obat (khususnya MDR) seharusnya diobati dengan paduan obat khusus yang mengandung obat anti tuberkulosis lini kedua. P aling tidak harus digunakan empat obat yg masih efektif dan pengobatan harus diberikan paling sedikit 18 bulan. Cara-cara yang berpihak kepada pasien disyaratkan untuk memastikan kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Konsultasi dengan penyelenggara pelayanan yang berpengalaman dalam pengobatan pasien dengan MDR-TB harus dilakukan. P eran Pusat Kesehatan Masyarakat (Puseksmas) di Indonesia dalam melaksanakan Program TB Nasional tidak diragukan lagi. Puskesmas mempunyai infra struktur program kesehatan komunitas yang lebih baik, sehingga angka putus obat rendah dan kesembuhan tinggi. Tetapi jangkauan Puskesmas untuk menjaring pasien TB terbatas, hanya sekitar 30 – 40%, selebihnya pasien TB ditangani oleh dokter praktek swasta, klinik atau rumah swasta dan rumah sakit pemerintah yang tidak mempunyai jejaring dan infrastruktur kesehatan masyarakat yang baik, bahkan boleh dikatakan buruk. Meskipun belum ada bukti dan data, tetapi hipotesis yang memprediksi bahwa ‘ kesalahan’ yang dapat berakibat timbulnya ‘ wabah TB-MDR’ ada pada dokter praktek swasta dan unit kesehatan tersebut.

ii

Jurnal Tuberkulosis Indonesia, Vol.8

utamanya yang berhubungan dengan MDR.Cepat tulisan Apri Liyanda. Dalam jurnal kali ini kita muat beberapa makalah yang bisa menunjang program TB Nasional. suatu tinjauan pustaka yang membahas penegakan diagnosis TB dalam waktu singkat.Sungguh sangat ironis memang. Diagnosis TB. Evaluasi metoe FAST-plaque adalah buah karya penelitian Lely Septawati Sp Mk dkk. sangat menarik studi yang dilkukan oleh dua mahasiswa peserta program S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat asal Afganistan yang berjudul Role of the Private Health Sector to Prevent MDR-TB E piemics in Indonesia. Achmad Hudoyo Sp P(K) Jurnal Tuberkulosis Indonesia. P enelitian lain tentang Hubungan Dukungan Sosial dengan Kualitas Hidup pasien TB paru. Akan tetapi kalau hal tersebut terbukti.8 iii . hasilya dipaparkan dalam tulisan Nita Yuniarti R. kurang dari satu jam dengan tujuan agar diagnosis Tb tidak terlambat.TB secara tidak langsung. maka secara nasional harus diambil kebijakan mendasar untuk mengevaluasi hal tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut. Vol.

.. batuk darah.Sp. Cleopas Martin Rumende. Walau B demikian. B Oleh karena teknik diagnosis T yang lebih cepat dan B akurat saat ini sangat diperlukan untuk meningkatkan cakupan T di Indonesia.dr. Suspek T B B paru ditetapkan dengan kriteria yang memenuhi satu atau lebih gejala sebagai berikut : gangguan di saluran nafas (batuk e” 2 minggu.Sp.. kasus baru di Indonesia berjumlah >600. Mycobact eriophage akan menginfeksi Mycobact erium tuberculosis hidup pada sputum. Deteksi Mycobacterium tuberculosis pada sputum dapat dilakukan melalui 2 metoda.. Sayangnya. maka perlu dilakukan suatu penelitian untuk B menguji met ode FASTPlaqueTBTM dalam mendet eksi Mycobacterium tuberculosis pada sputum.7 Hal ini tentu saja akan menyebabkan keterlambatan yang bermakna untuk menegakkan diagnosis dan memulai terapi.EVALUASI METODE FASTPlaqueTBTM UNTUK MENDETEKSI Mycobacterium tuberculosis PADA SPUTUM DI BEBERAPA UNIT PELAYANAN KESEHATAN DI JAKARTA-INDONESIA Leli Saptawati.2 Pada tahun 2006.12 P engambilan sputum dari masing-masing responden dilakukan maksimal sebanyak 3 1 Jurnal Tuberkulosis Indonesia. satu pasien yang dirawat di bagian paru RSUPNCM Jakarta.MK(K). secara t eknis met oda ini t idak mudah dikerjakan dan memerlukan biaya yang cukup mahal.8 .8 Amplifikasi asam nukleat merupakan teknik identifikasi cepat Mycobacterium tuberculosisyang telah banyak digunakan di negara-negara maju beberapa tahun terakhir ini.FINASIM..MK. Vol.000 kematian per tahun. Angka kematian karena infeksi T B berjumlah sekitar 300 orang per hari dan terjadi >100.Sc. metode penegakan diagnosis yang banyak digunakan saat ini adalah metode lama.PhD.dr. terdiri dari 18 pasien yang berobat jalan di poli paru Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSUPNCM) Jakarta.5 Secara umum.FCCP LATAR BELAKANG T uberkulosis (T merupakan salah satu penyakit yang B) telah lama dikenal dan sampai saat ini masih menjadi penyebab utama kematian di dunia.6 akan tetapi waktu yang diperlukan untuk memperoleh hasil kultur cukup lama. malaise. yaitu berkisar 21–94% dan rentang nilai spesifisitasnya 83– 100%. Kriteria inklusi yang digunakan adalah pasien usia e”15 tahun dengan suspek T paru. akurat..000 dan sebagian besar diderita oleh masyarakat yang berada dalam usia produktif (15–55 tahun). Anis Karuniawati. Ipswich.4 Kultur memiliki peran penting untuk menegakkan diagnosis T karena B mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang lebih baik daripada pewarnaan t ahan asam. metode ini kurang sensitif... yaitu sekitar 8 minggu. UK) merupakan salah satu metode cepat yang memiliki prinsip kerja berdasarkan teknologi amplifikasi faga.11 P engambilan sputum dilakukan dengan teknik asepsis. keringat malam. B mudah dan aman sehingga dapat dilakukan secara rutin di negara sedang berkembang.1 P revalensi T di Indonesia dan negaraB negara sedang berkembang lainnya cukup tinggi. sehingga diperlukan teknik diagnosis baru.10 Hingga saat ini belum ada penelitian yang dilakukan di Indonesia untuk mengetahui efektivitas metode FAST PlaqueT TM. 3 pasien yang berobat di Puskesmas Menteng Jakarta dan 24 pasien yang berobat di P erkumpulan P emberantasan T uberkulosis Indonesia (PPT T I) anah T inggi Jakarta. penurunan berat badan).9 Suatu penelitian meta analisis terhadap 13 penelit ian phage based assay menunjukan bahwa nilai sensitivitas uji FAST PlaqueTBTM masih memiliki rentang nilai sensitivitas yang cukup lebar. METODEA Sputum diperoleh dari 46 orang pasien.3 Hal tersebut merupakan tantangan bagi semua pihak untuk terus berupaya mengendalikan infeksi ini. Salah satu upaya penting untuk menekan penularan T di B masyarakat adalah dengan melakukan diagnosis dini yang definitif.5 Kult ur Lowenst ein.M.DR. yang memenuhi kriteria inklusi dan t elah menandatangani informed consent.PD KP. anoreksia. terdapat gejala sistemik (demam.Jensen (LJ) merupakan baku emas metode identifikasi Mycobacterium tuberculosis. nyeri dada). yaitu menggunakan luciferase reporter phage (LRP) dan menggunakan metode amplifikasi faga.. dengan sensitivitas dan spesifisitas masing-masing 99% dan 100%.MK(K).. Saat ini kriteria terpenting untuk menetapkan dugaan diagnosis T adalah berdasarkan pewarnaan tahan asam. Diharapkan metode ini dapat membantu penegakan diagnosis T yang cepat. Mardiastuti. sesak nafas.dr.4 Metoda diagnosis cepat yang baru dikembangkan yaitu penggunaan Mycobacteriophage.dr. karena baru memberikan hasil positif bila terdapat >103 organisme/ml sputum.Sp. FAST PlaqueT TM (Biotec B Laboratories Ltd. termasuk Indonesia.Sp. yang dapat mendiagnosis T dengan lebih B cepat dan akurat.

Spesimen didiamkan beberapa saat. P etri kemudian diinkubasi semalam pada suhu 35–37ºC. dilakukan biakan pada media LJdan Lowenstein Jensen–P-nitrobenzoic acid (LJ-PNB). masing-masing tabung ditambah 0.P ertumbuhan koloni dari 24 sampel sputum yang diperiksa disertai perubahan warna pada media LJ dari hijau menjadi biru atau coklat. Analisis B hanya dilakukan terhadap kultur Mycobacterium tuberculosis dan kultur negatif. kemudian masing-masing tabung ditambah 5 ml larutan F B PT MediumTM Plus untuk menetralisasi efek virusid.15. Setelah itu ditambahkan 1 ml FPTB MediumTM Plus. Dari 97 sampel yang dibiak. P setiap uji disertakan kontrol negatif dan kontrol positif.5–1 ml). ada Semua sampel sputum yang sudah diproses dan sudah diinkubasi selama 24 jam pada suhu 35-37ºC. 52 sampel tumbuh Mycobacterium tuberculosis dan 38 sampel menunjukkan kultur negatif. T abung didiamkan selama 5 menit pada suhu ruang.2 ml lagi untuk ditanam di media LJ-PNB. Diamkan hingga agar mengeras (sekitar 30 menit pada suhu 20–25ºC).P ertumbuhan bakteri kontaminan pada LJ dari 14 sampel sputum. P petri ada spesimen. kemudian supernatan dibuang. P periode I. Dari 7 sampel NT yang M dit emukan. Bersamaan dengan uji di atas. P erhitungan besar sampel menggunakan rumus perkiraan perbedaan 2 proporsi. Selanjutnya ditambah dengan 1 ml larutan sel sensor. UK .P ertumbuhan bakteri kontaminan pada LJ dari 8 sampel sputum. 7 sampel tumbuh NT M.17 HASIL Selama 2 periode pengumpulan sampel diperoleh 95 dan 69 sampel sputum.Lima sampel mengalami kont aminasi pada uji FASTPlaqueT TM B c. Dekontaminasi dilakukan dengan metode NALC-NAOH (Mycoprep®) dan disentrifus dengan kecepat an minimal 2000xg selama 20 menit. Keesokan harinya petri diambil dari inkubator dan dihitung jumlah plak yang terbentuk. Kemudian 1 ml spesimen dimasukkan ke dalam vial steril yang sudah tersedia dalam kit FAST PlaqueT TM dan diinkubasi B selama 18–24 jam. Kultur diamati hingga 8 minggu14. yaitu sputum sewaktu-pagi-sewaktu.Dua sampel mengalami perubahan warna pada media kult ur LJ dan kont aminasi pada hasil uji FASTPlaqueT TM. Sebanyak 0.5. Jurnal Tuberkulosis Indonesia. Setelah itu tutup ulir dirapatkan kembali dan tabung diinkubasi pada posisi tegak.Dua sampel mengalami kontaminasi baik pada kultur LJ maupun uji FASTPlaqueT TM B d. kontrol positif harus terbentuk e” 20 plak.1 ml larutan faga dan diinkubasi selama 60 menit pada suhu 35–37ºC.. Vol. Sedimen ditambah dengan 15 ml FAST PlaqueT B (FPT MediumTM Plus dan disentrifus dengan kecepatan B) minimal 2000xg selama 20 menit. sebanyak 17 dari 69 sampel tidak dapat digunakan karena : a.Dua responden (6 sampel) tidak ada keterangan mengenai gejala klinik. 50 dari 95 sampel ada tidak dapat digunakan karena : a.16 Uji FAST PlaqueT TM dilakukan sesuai dengan petunjuk B pada manual dari Biotec Laboratories Ltd. Karakteristik umur dari 46 responden yang masuk dalam penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah tersangka T paling banyak berada pada usia 35-44 dengan mean 43 B tahun dan deviasi standard (SD) 16. b. b. Sebelum diinkubasi. P ewarnaan dengan metode ZN dilakukan sebelum dan sesudah dekontaminasi sputum. Ipswich. c. Hasil pewarnaan setelahprosesdekontaminasi menunjukkan bahwa sebanyak 52 sampel (58%) positif dan 38 sampel (42%) negatif.13 P engumpulan spesimen dilakukan selama 2 periode yaitu bulan April–Juli 2009 dan Oktober–Desember 2010.kali. Selanjutnya spesimen diambil 1 ose dan dilakukan pembuatan preparat unt uk pemeriksaan mikroskopis. hasil dikatakan negatif apabila ditemukan 0–19 plak dan dikatakan positif apabila terdapat e” 20 plak. 2 di ant aranya t erdet eksi posit if oleh FASTPlaqueT TM dan 5 sampel terdeteksi negatif. Hasil pemeriksaan mikroskopis P 90 sampel sputum dilakukan pewarnaan tahan ada asam dengan metode Ziehl Neelsen.1 ml larutan virusid. Spesimen didiamkan beberapa saat. Setelah inkubasi.2 ml spesimen dimasukkan ke dalam media LJ dan diambil 0. Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin menunjukkan 33 orang (33/46) berjenis kelamin laki-laki dan 13 orang (13/46) berjenis kelamin perempuan. kontrol negatif dan kontrol positif ditambah dengan 0.E nam sampel mengalami kontaminasi pada hasil uji FASTPlaqueT TM B d. P ada kontrol negatif harus terbentuk d” 10 plak. Sedangkan pada periode ke-2. B Dengan demikian total sampel yang terkumpul adalah 164 sampel sputum. tutup ulir pada tabung LJ dan LJ-PNB dilonggarkan dan media diletakkan di dalam inkubator dengan posisi miring 30° selama 24 jam. Setelah itu ditambah dengan 5 ml FPT agar yang sudah dicairkan dan B dituang ke dalam petri steril. sedangkan jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian sebanyak 97 sampel. kemudian supernatan dibuang (sisakan sekitar 0.8 2 .

1 Keterangan : LJ . Lowenstein. RK neg . nilai duga positif. rasio kemungkinan positif. maka perlu diketahui kesesuaian hasil antara pewarnaan langsung dan F T AS PlaqueT TM. 53 sampel B (58.6) 0 (0.0) 1 (50. dua sampel menunjukkan hasil +1. 33 sampel menunjukkan hasil negatif pada pewarnaan langsung.0) 1 (50. NDP . delapan sampel menunjukkan hasil +2.3) 8 2 18 18 16 Kultur LJ positif Positif Negatif 47 5 52 5 33 38 90.0 81. Analisis statistik pewarnaan Zehl Neelsen dan FAST PlaqueT TM dengan kultur LJsebagai baku B emas. Berdasarkan tabel 5 dapat diketahui bahwa kesesuaian hasil sebesar 81.2%) menunjukkan hasil kultur negatif. RK pos . Analisis statistik FASTPlaqueTBTM dibandingkan dengan Kultur LJ.9 84. rasio kemungkinan negatif. RK neg . Lowenstein.4 86. NDN .7) Negatif n(%) 4 (50. ZN setelah Kultur LJ dekontaminasi Positif Negatif dan/atau FASTPlaqueTB Sensitivitas Spesifisitas NDP NDN RK RK (%) (%) (%) (%) pos neg Tabel 5. 18 sampel menunjukkan hasil +1. dan 16 sampel menunjukkan hasil +3 (tabel 4).0 90. RK pos . Tabel 4. Kesesuaian hasil antara pewarnaan langsung. rasio kemungkinan positif. rasio kemungkinan negatif. RK pos . disajikan pada tabel 1. uji FASTPlaqueTB TM dan kultur LJ negatif Penawaran langsung Uji Uji FASTPlaqueTB TM FASTPlaqueTB TM Negatif n(%) Positif n(%) 5 0 (0. Lowenstein.1 0. nilai duga positif.0) 1 (50. selanjutnya sampel ditanam pada media LJ dan LJ-PNB.8% antara pewarnaan langsung. Ziehl Neelsen Kultur LJ Sensitivitas Spesifisitas NDP NDN RK RK Positif Negatif (%) (%) (%) (%) pos neg Kesesuaian hasil antara pewarnaan Ziehl Neelsen langsung dan uji FASTPlaqueTBTM Pemeriksaan mikroskopis yang digunakan unt uk pelayanan sehari. nilai duga negatif. FAST plaqueT TM dan kultur LJnegatif diperoleh pada pewarnaan B langsung yang menunjukkan hasil negatif. Kesesuaian hasil antara pewarnaan langsung. Berdasarkan tabel 4 dapat diketahui bahwa kesesuaian hasil sebesar e”90% antara pewarnaan langsung. 3 Jurnal Tuberkulosis Indonesia. semua spesimen juga diperiksa dengan menggunakan metode FASTPlaqueT TM. Sebanyak 52 sampel (57.1 Negatif 1-9 BTA/100 lapang pandang +1 +2 +3 Keterangan : LJ . nilai duga negatif.8) 1 (100) 1 (50. nilai duga negatif.8%) menunjukkan hasil kultur LJ positif dan 38 sampel (42.0) 1 (50. 2 sampel menunjukkan 1–9 BT A/100 lapang pandang.8 . Hasil pemeriksaan FASTplaqueTBTM Selain pemeriksaan mikroskopis dan kultur. dan tidak ada sampel yang menunjukkan hasil +3 (tabel 5). Analisis statistik pewarnaan Ziehl Neelsen setelah homogenisasi dan dekontaminasi dibandingkan dengan Kultur LJ. Interpretasi hasil pada pewarnaan B langsung dilakukan berdasarkan panduan Depkes RI tahun 2006.2 Keterangan : LJ .8 90. satu sampel menunjukkan 1–9 BTA/100 lapang pandang. Vol. Analisis statistik kombinasi pemeriksaan Ziehl Neelsen setelah dekontaminasi dan/atau FASTPlaqueTBTM dibandingkan dengan Kultur LJ.4) 18 (100) 15 (93.Jensen. Tabel 3. dua sampel menunjukkan hasil +2.0) 17 (94.9%) menunjukkan hasil posit if dan 37 (41. Dari 90 sampel yang diperiksa.4 86.2 dan 3.hari laboratorium di Indonesia adalah pewarnaan Ziehl Neelsen langsung. nilai duga positif. NDP .Hasil pemeriksaan kultur Set elah dilakukan pemeriksaan mikroskopis.9 81. FAST plaqueTBTM dan kultur LJ positif dapat diperoleh mulai dari hasil +1. rasio kemungkinan negatif. NDN .0) 0 (0.5 78.1 4. rasio kemungkinan positif.Jensen.0) 1 (6.0) 1 (5. uji FASTPlaqueTB TM dan kultur LJ positif Penawaran langsung Negatif 1-9 BTA/100 lapang pandang +1 +2 +3 Uji Uji FASTPlaqueTB TM FASTPlaqueTB TM Positif n(%) 4 (50.0) Kultur LJ negatif 33 1 2 2 0 Positif Negatif 49 3 52 11 27 38 94. Nontuberculous Mycobacteria tidak diikutsertakan dalam analisis lebih lanjut .Jensen. RK neg .1%) memberikan hasil negatif.18 Di antara sampel dengan hasil kultur positif (52 sampel). NDP . Hal ini sesuai dengan panduan Depkes RI tahun 2006.0) 27 (81. Tabel 1.9 0. NDN .0) 0 (0. 8 sampel menunjukkan hasil negatif pada pewarnaan langsung.0 71.0) 1 (50. Tabel 2.0 3 0. Di antara sampel dengan hasil kultur negatif (38 sampel). Berkaitan dengan hal tersebut.8 6. FASTPlaqueTB Kultur LJ Sensitivitas Spesifisitas NDP NDN RK RK Positif Negatif (%) (%) (%) (%) pos neg Positif Negatif 45 7 52 8 30 38 86.

namun tidak dapat meningkatkan spesifisitas.0% dan 81. Kemampuan ini berkaitan erat dengan kemampuan infeksi dan replikasi faga D29 pada pejamu. Vol.2 kali. yaitu 58% sampel menunjukkan hasil kultur LJpositif dan sisanya menunjukkan hasil kultur negatif. antara lain jenis spesimen yang digunakan. Infeksi T memang cenderung lebih sering B diderita oleh laki-laki dibandingkan wanita. B Semua penelitian tersebut menunjukkan sensitivitas di bawah 60%. Jumlah sampel yang menunjukkan hasil negatif palsu pada uji FASTPlaqueT TM sebanyak 7 sampel. belum pernah mendapat atau sedang dalam terapi OAT(obat antituberkulosis). Faga yang masih bertahan di luar sel tesebut kemudian akan menginfeksi Mycobacterium smegmatisdan akan membentuk plak pada media dan memungkinkan terjadinya hasil positif palsu.0%. masyarakat dan negara. Salah satu kemungkinan yang B menyebabkan terjadinya positif palsu adalah masih adanya faga yang berada di luar sel. Hasil kultur juga menunjukkan data yang A sama.14 dan 0.5 Interpretasi hasil uji FAST PlaqueT TM sangat bersifat B subyektif dan memerlukan kehati-hatian.8 4 .9%. sehingga tidak menutup kemungkinan terjadi kesalahan interpretasi hasil yang dapat menyebabkan terjadinya positif palsu maupun negatif palsu. Beberapa penelitian yang dilakukan sebelumnya.18 Kondisi t ersebut t ent u saja akan sangat berdampak pada perekonomian keluarga. S elain itu. nilai duga positif 81.19 Selain merugikan secara ekonomis. Luasnya rentang nilai sensitivitas pada penelitian meta analisis tersebut.10 Dat a yang diperoleh pada penelit ian ini memperlihatkan bahwa responden t erbanyak adalah kelompok umur 35-44 yaitu 12 orang (12/45).16.4 P ada hasil uji FAST PlaqueTBTM yang dibandingkan dengan kultur LJ. spesifisitas71. maka diperoleh nilai sensitivitas sebesar B 94. rasio kemungkinan positif 3 dan rasio kemungkinana negatif 0. Apabila dibandingkan dengan kultur LJ. yang menyatakan bahwa infeksi T sebagian B besar diderita oleh masyarakat yang berada dalam usia produktif (15–55 tahun ). E B mpat sampel merupakan BTA negatif dan 3 sampel BT positif.5% dan spesifisitas 78. T juga memberikan dampak B buruk lainnya secara sosial bahkan dikucilkan oleh masyarakat .P meta ada analisis tersebut. Rasio kemungkinan positif dan negatif uji ini adalah 4. antara lain penelitian di Spanyol. Hal ini sesuai dengan kenyat aan bahwa diperkirakan set engah hingga tigaperempat kasus TB aktif menunjukkan BTA (+) dan sisanya BT (-). Nilai sensitivitas yang diperoleh pada penelitian ini sesuai dengan rentang nilai sensitivitas penelitian meta analisis t erhadap 13 penelit ian. riwayat terapi OAT pada responden.0%. Data tersebut sesuai dengan laporan dari Sub Direktorat T Depkes RI B tahun 2006. sebanyak 5 penelitian menyertakan responden yang sedang dalam terapi OAT10 . menunjukkan bahwa terapi OAT dapat menurunkan sensitivitas pemeriksaan uji FASTPlaqueT TM. ditemukan 8 sampel yang menunjukkan hasil postif palsu (6 sampel menunjukkan hasil BTA negatif dan 2 sampel menunjukkan hasil BT positif). Apabila dilakukan kombinasi pemeriksaan mikroskopis set elah homogenisasi dekont aminasi dan/at au FASTPlaqueT TM. Hal ini antara lain disebabkan karena faktor kebiasaan merokok. Hasil A negatif palsu berkaitan dengan kemampuan FAST laqueT TM P B dalam mendeteksi keberadaan Mycobacterium sp pada sputum. dipengaruhi oleh beberapa hal.0%.4 FAST PlaqueT TM merupakan suatu metode diagnostik B yang mudah dikerjakan dan dapat memberikan hasil dalam waktu 2x24 jam. Dengan data A tersebut dapat dilihat bahwa 6 sampel BT negatif terdeteksi A positif oleh FASTPlaqueT TM.20 Berdasarkan jenis kelamin. Hal ini terkadang cukup menyulitkan.0%. 3 penelitian tidak hanya menggunakan spesimen sputum namun juga menggunakan jenisspesimen lain.1. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi hasil pemeriksaan mikroskopisdan F P AST laqueT TM B mampu meningkatkan sensitivitas.3 Data yang dikeluarkan oleh Depkes RI (2001) juga menunjukkan bahwa 75% penderita T paru berada pada kelompok usia produktif (15–50 tahun) B dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah.21 Hasil pewarnaan Ziehl Neelsen setelah homogenisasi dan dekontaminasi menunjukkan sebanyak 58% (52/90) sampel memberikan hasil positif. perbandingan jumlah sampel BTA positif dan BT negatif pada seluruh sampel A yang diuji dan lamanya penyimpanan spesimen. Nilai duga posit if dan negat if met ode FASTPlaqueTBTM adalah 85. terutama dalam membedakan hasil negatif dan hasil positif lengkap.based assays memiliki sensitivitasantara 21–94%. Kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko infeksi T paru sebanyak B 2.0%. responden terbanyak dalam penelitian ini berjeniskelamin laki-laki yaitu 33 orang (33/45) dan 13 orang (13/45) berjenis kelamin perempuan. Penelit ian t ersebut menyimpulkan bahwa phage. karena proses destruksi faga oleh virusid tidak terjadi secara sempurna akibat adanya faktor dalam sputum yang mampu melindungi faga. metode ini memiliki sensitivitas 86. nilai duga negatif 90.PEMBAHASAN Responden yang ikut dalam penelitian ini berjumlah 46 pasien baru.22 Proses infeksi Jurnal Tuberkulosis Indonesia. Filipina dan T urki. P enelitian yang dilakukan oleh Muzaffar dkk (2002) menyimpulkan bahwa kombinasi pemeriksaan mikroskopis dan FASTPlaqueTBTM memperlihatkan nilai sensitivitasnya mencapai 90% dan spesifisitasnya 93%.

Kombinasi pemeriksaan mikroskopis dan FAS PlaqueT TM terbukti mampu meningkatkan sensitivitas. mereka melakukan penambahan penisilin pada medium pert umbuhan FASTPlaqueTBTM.ugm. P . Naning R. Supaya F T AS PlaqueT TM dapat B diaplikasikan secara efektif. Subotsky E et al. to Diagnose Pulmonary T P B uberculosis from Sputum Specimens in South Africa. sehingga bakteri tidak lagi bersifat infeksius. penelitian ini tidak melakukan identifikasi hingga spesiesbakteri. P enundaan pengiriman spesimen juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kontaminasi. Vol. Hal ini terutama perlu dilakukan di negara-negara sedang berkembang. 6(11): 972-76. BC 2. 6(7): 635-40.depkes. . terkait dengan pengambilan dan pengolahan spesimen yang tidak selalu dapat dilakukan dalam kondisi ideal. dan 9 sampel mengalami kontaminasi berupa discrete colonies yang memenuhi hampir seluruh permukaan media sehingga menyulitkan interpretasi hasil. FASTPlaqueT TM hanya mampu mendeteksi bakteri hidup B sedang metode Ziehl Neelsen tidak dapat membedakan ant ara bakt eri hidup dan mat i. Int J T uberc Lung Dis. Int J T uberc Lung Dis. Microbes and Infection. Hari T S B edunia : Lembar F akta T uberkulosis. tanpa mempengaruhi sensitivitasdan spesifisitasnya. uji FAST PlaqueT TM memiliki beberapa kelemahan B antara lain tidak spesifik untuk Mycobacterium tuberculosis. T . 2003. Selain itu. Kontaminasi tersebut dapat terjadi pada saat pengambilan dan pemeriksaan sampel atau karena proses dekontaminasi kurang adekuat. Batool S Azis A.dan replikasi faga dipengaruhi oleh beberapa faktor. 2008.22 S alah satu hal yang menjadi perhatian pada penelitian ini adalah tingginya angka kontaminasi pada hasil uji FAST laqueT TM. P beberapa sampel juga terdapat batang negatif Gram. 6. T B FASTPlaqueT TM merupakan metode yang cukup mudah B dikerjakan.24 Hal tersebut dapat membantu klinisi dalam menangani kasus T pada pasien B dengan kondisi klinismembaik namun hasil pewarnaan Ziehl Neelsen positif. Harley B.8 . Rizvi A. valuation of t he FASTPLAQUETB Assay for Direct Det ect ion of Mycobacterium tuberculosis in Sputum Specimens.or. memiliki risiko kontaminasi yang tinggi.4 Berdasarkan data yang diperoleh pada penelitian ini. Di samping beberapa kelebihan tersebut. Departemen Kesehatan RI.tbcindonesia. Replikasi faga juga akan menyebabkan lisis bakteri. 4. 34 di antaranya (34/69) mengalami kontaminasi pada media FAST PlaqueT TM. erformance of a Rapid Phage-based test. Mole LJ. 2002. Dominasi Bacillussp sebagai bakteri kontaminan memperkuat dugaan bahwa kontaminasi terjadi saat pengumpulan dan pemrosesan spesimen. 6(6): 529 – 37. diket ahui bahwa sebagian besar bakteri kontaminan adalah batang positif Gram berspora (Bacillus sp) diikuti oleh kokus positif Gram. Dari 69 sampel yang diperoleh pada periode P B ke-2. DAFTAR PUSTAKA 1. P engulangan prosesdekontaminasi dapat menurunkan kontaminasi dari 49. Zarifi AZ. Dua puluh lima sampel di antaranya B mengalami kontaminasi berupa generalized growth sehingga media menjadi keruh. P enelitian yang dilakukan oleh Muzaffar dkk (2002) juga menunjukkan adanya kontaminasi pada uji FAST PlaqueT TM B sebesar 18.id.5% (34/69 menjadi 10/ 69). dapat dilihat bahwa uji FAST laqueT TM memiliki sensitivitas P B yang cukup baik. Heydenrych A. Naqvi A.ac.3%. dan interpretasi hasil dipengaruhi oleh subyektivitas pembaca terutama dalam membedakan hasil negatif dan positif lengkap. B Set elah dilakukan pengujian.id 2007. kontaminan terbesar adalah bakteri positif Gram khususnya Bacillus sp dan Staphylococcus sp. Brookes R. abatabee J. akan tetapi nilainya masih lebih rendah apabila dibandingkan dengan metode pewarnaan Ziehl Neelsen set elah homogenisasi dan dekont aminasi.go. Sebagai upaya pengendalian kontaminasi. Pointers Menkes Menyambut Hari T Sedunia 2007 . antara lain struktur kimia dan biologis sputum23 dan kemampuan replikasi pejamu. 3. http:/ /puspasca. www. 5. FAST laqueT TM. 5 Jurnal Tuberkulosis Indonesia. pada penelitian ini dilakukan proses dekontaminasi ulang pada sampel yang terkontaminasi dan selanjutnya dilakukan uji FASTPlaqueT TM ulang. Bahadori M et al. Farnia P Mohammadi F Mirsaedi M. ada di antaranya E nterobacter aerogenes dan Pseudomonas sp. Penambahan penisilin t ersebut mampu menurunkan kontaminasi hingga menjadi 5. Sub Direktorat TB Departemen Kesehatan RI dan World Health O rganization (WHO). 2004. Beberapa kekurangan pada penelitian ini antara lain adalah sampel yang diuji belum mampu mewakili seluruh strain Mycobacterium tuberculosisdi Indonesia.3% menjadi 14. karena hanya diambil dari beberapa tempat pelayanan kesehatan di Jakarta.id. S elain itu metode ini memberikan keamanan yang lebih baik bagi petugas laboratorium karena menggunakan Mycobacterium smegmatis yang tidak bersifat patogen.6%. T uberculosis Infection in Infant and Children Who Have Contact with P ositive Sputum Adult T uberculosis. hal penting yang harusdilakukan adalah pengendalian bakteri kontaminan. E . Untuk menekan kontaminasi. Muzaffar R. Albert H. Hasilnya dapat diperoleh dalam waktu 2x24 jam. 2002. www. Bacteriological follow-up of pulmonary tuberculosis treatment: a study with a simple colorimetric assay.

P .based t est s for tuberculosis. 11. Pai M. 5. Kumar S.3_Bambang_S_01_05. 4.ugm. Reingold AL.pdf 2009. 2006. Hal. 19.16-18. Small PL. Rybniker J. Kinomoto M. Biot ec Laborat ories Lt d. 55(pt 1): 37–42. 38(1): 111-4.ac.tk/2011/05/faktorfaktor-resiko-tuberkulosis-tb.tbindonesia. 2. E ke-2. Trisnantoro L. Vol. 32(1): p. Suharjana BS. Revista Argentina de Microbiología. Dalam : Sastroasmoro: Dasar-dasar Metodologi penelitian Klinis. 2004. 2001: p. 13. Krist iani. Bose M. Hal. 18. Development of slide-method to distinguish alive and dead mycobacteria by fluorescent staining— a trial for solving the biohazard problem in T laboratories.based t est s f or t he det ect ion of Mycobacterium tuberculosis in clinical specimens: a systematic review and meta analysis. 9. Southeast Asian J T Med Public rop Health. 273. Undip websit e. E ditorial.17. 14. 20. 2009. 2007. as versatile tools for genetic manipulation of mycobacteria and development of simple methods for diagnosis of mycobacterial diseases.lrc. 23.ui.id 2008. Jakarta disi : CV Sagung Seto.ac. Fujiki A. 2008. 2006. 24. Jakarta. Host Range of 14 Mycobacteriophages in Mycobacterium ulcerans and seven other mycobacteria including Mycobacterium tuberculosis . p. 2011. Depkes RI.kesmas. Faktor-faktor yang .T McGraw-Hill Companies. http://www. http:/ /www. 2005. he Research Institute of T uberculosis. Kesehatan Masyarakat. 16. he Inc. Budiman I.ac. 23(3):149-50.8 6 . Levinson W. T uberkulosis. uberkulosis Masalah dan P erkembangannya. Moeslichan MS. 2002. Morbidoni HR. Rahmatullah P Udiono A.164. E valuation of an Ogawa Mycobacterium culture method modified for higher sensitivity employing concentrated samples.1-4. 17. Pedoman Diagnosis dan Pedoman Penatalaksanaan di Indonesia. Bacteriology examination to stop T Japan. Rusnoto. Tropical Medicine and Health. Pemeriksaan Mikroskopis T uberkulosis.id/pdf/BPN_2007. Available from: www. S tellaE De La Iglesia AI. T B. Harry PS. Journal of Medical Microbiology. 1314. 2006. 10. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pelaksanaan Penemuan Penderita T uberkulosis di P uskesmas Kabupaten S leman. Review of Medical Microbiology and Immunology. 14. Madiyono B. 2004. Bact eriophage.id/5283/. 41: 45-55.pdf. 15. P edoman Nasional P enanggulangan T uberkulosis.7. Lubasi D. Jakarta : Indah Offset Citra Grafika. Jurnal Tuberkulosis Indonesia. Yadav J. P erhimpunan Dokter Paru Indonesia. 12.biotec. 2005. BMCInfect Dis. Mycobacteriophages J. Hal. Sastroasmoro S. ai ascopella L. Stefanie K. Kumar N.21. B Kekkaku. Hal. A simple met hod t o dif ferent iat e bet ween Mycobact erium tuberculosis and Non-T uberculous Mycobacteria directly on clinical specimens. KMPKUniversitas G adjah Mada. 2006. Kalantri SP P M. United States. 2005. 8.undip. 2009. Kalant ri SP. Perkiraan Besar Sampel. Aditama TY T . 22. berhubungan dengan Kejadian T paru pada usia dewasa B (Studi kasus di balai pencegahan dan pengobatan Penyakit paru pat i). Habeenzu C.id/id/UP PDF/_working/ No. Basil MV.or.kmpk. F aktor-faktor risiko tuberkulosis (T B paru – T BC). http://www.html.1999.fk. Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Hal. www. Riley LW. FASTPlaqueTBTM a rapid bacteriophaga assay for the detection Mycobacterium tuberculosis complex in clinical samples. 74(8): 599-609. ht t p:// eprints.com. 21.application for identification and susceptibility testing. 5(59). Bact eriophage. Mitarai S.

pengakuan dan kebutuhan psikis termasuk rasa ingin tahu. pangan. WHO menyatakan bahwa T saat ini B telah menjadi ancaman global. yang sebenarnya dapat dicegah sehubungan dengan telah ditemukannya kuman penyebab T Kematian tersebut B. Demikian halnya dengan penderita penyakit kronis seperti T paru perlu mendapat dukungan sosial lebih. Upaya penanggulangan maupun pencegahan yang telah diupayakan masih belum berhasil menyelesaikan masalah yang ada yaitu menurunkan angka kesakitan dan kematian. Vol. P enderita akan tertekan dan merasa dikucilkan. maka peneliti merasa tertarik untuk mengkaji kedua hal tersebut. Meningkatnya st atus kesehat an berarti akan meningkat kan kualitas hidup penderita. Kasus T yang tidak terobati tersebut akan terus menjadi sumber B penularan. Balai P engobatan P enyakit P (BP4) aru dipilih sebagai tempat pengambilan data penelitian karena selain merupakan tempat berobat yang potensial bagi 7 Jurnal Tuberkulosis Indonesia. sehingga dirinya merasa dihargai. sehingga dapat berdampak pada kondisi psikologisnya dan akhirnya akan mempengaruhi keberhasilan pengobatan. dengan pengawasan dan pemberian semangat terhadap penderita. Kebutuhan fisik (sandang. Berdasarkan pertimbangan bahwa dukungan sosial dapat meningkatkan status kesehatan penderita serta pentingnya perhatian terhadap kualitas hidup penderita penyakit kronis. papan). Hal tersebut akan sangat menyinggung perasaan penderita. Dukungan sosial penting untuk menderita penyakit kronik sebab dukungan sosial dapat mempengaruhi tingkah laku individu. rasa aman.HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN KUALITAS HIDUP PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU (TB PARU) DI BALAI PENGOBATAN PENYAKIT PARU (BP4) YOGYAKARTA UNIT MINGGIRAN Nita Yunianti Ratnasari AKPER Giri Satria Husada Wonogiri PENDAHULUAN Latar Belakang P enyakit tuberkulosis (T paru merupakan penyakit B) kronis yang masih menjadi masalah kesehatan di dunia termasuk Indonesia. karena B dengan dukungan dari orang-orang tersebut secara tidak langsung dapat menurunkan beban psikologis sehubungan dengan penyakit yang dideritanya yang pada akhirnya akan meningkatkan ketahanan tubuh sehingga kondisi fisik tidak semakin menurun.Data Program P emberantasan T uberkulosis(P2 T di Indonesia menunjukkan peningkatan B) kasus dari tahun ke tahun. P saat itu seseorang ada akan mencari dukungan sosial dari orang-orang di sekitarnya. Kualitas hidup merupakan salah satu kriteria utama untuk mengetahui intervensi pelayanan kesehatan seperti morbiditas. enggan mengajak berbicara. mortalitas. diperhatikan dan dicintai.Setiap tahun terjadi sekitar 9 jut a penderit a baru Tbdengan kemat ian sebesar 3 jut a orang. seperti penurunan rasa cemas. Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup sendirian tanpa bantuan orang lain.8 . sehingga kualitas hidup menjadi perhatian pelayanan kesehatan. Dukungan keluarga dan masyarakat mempunyai andil besar dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan. Sejumlah orang dapat hidup lebih lama. Hal ini berarti dukungan sosial yang sangat dibutuhkan tidak didapatkannya secara optimal. tidak mungkin terpenuhi tanpa bantuan orang lain. masyarakat atau keluarga penderita. Diperkirakan 1. kebutuhan sosial (pergaulan. Di negara berkembang kematian mencakup 25% dari keseluruhan kasus. dan kecacatan. Fenomena di masyarakat sekarang ini adalah masih ada anggota keluarga yang takut apalagi berdekatan dengan seseorang yang disangka menderita T B paru. ketidakteraturan berobat dan drop out pengobatan. Masalah yang dijumpai adalah kesulit an penemuan penderit a TB paru BTA(+).9 milyar manusia atau sepertiga penduduk dunia terinfeksi penyakit ini. namun dengan membawa beban penyakit menahun atau kecacatan. fertilitas. pada umumnya disebabkan karena tidak terdeteksinya kasus dan kegagalan pengobatan. sehingga muncul sikap berhati-hati secara berlebihan. Di negara berkembang pada beberapa dekade terakhir ini insidensi penyakit kronismulai menggantikan dominasi penyakit infeksi di masyarakat. yang pada akhirnya dapat meningkatkan status kesehatan. perasaan religiusitas). P eran P engawas Minum Obat (PMO) tersebut dapat berasal dari petugas kesehatan. kalau dekat dengan penderita akan segera menutup hidung dan sebagainya. tidak berdaya dan put us asa. misalnya mengasingkan penderit a. Apalagi jika orang tersebut sedang menghadapi masalah baik ringan maupun berat.

dukungan sosial serta harapan. P ekerjaan responden mahasiswa 14 orang (28%). sebesar 48%. Sebanyak 34 orang (68%) dapat beraktivitas normal. Secara garis besar sebanyak 34 orang (68%) mempunyai kualitas hidup baik. Dapat diartikan bahwa ada hubungan yang sangat bermakna antara dukungan sosial dengan kualitas hidup yang berarti semakin tinggi dukungan sosial yang diterima. P endidikan responden sebanyak 23 orang (46%) t amat SLTA. Jumlah penderita laki-laki dan perempuan berimbang. penderita yang mendapat dukungan terbatas dari keluarga sebanyak 6 orang (12%) dan hanya seorang (2%) menyatakan jarang mendapat dukungan dari orang-orang sekitarnya. Usia 31–40 tahun dan usia 41–50 tahun masing-masing 8 orang (16%) dan 7 orang (14%). BP4 Unit Minggiran adalah pusat administrasi dan angka penemuan kasus baru penderita T paru di BP4 tersebut B paling tinggi dibandingkan BP4 unit lain di Y ogyakarta. 9 orang (18%) dalam melakukan kehidupannya membutuhkan bantuan orang lain serta 1 orang (2%) menyatakan tidak mampu menjalani kehidupan sehari-hari sama sekali. responden dengan pendidikan rendah (tidak sekolah. kesehatan. Sebanyak 40 orang (80%) dapat melakukan kehidupan sehari-hari dengan normal. 4. Vol. Kualitas Hidup P enilaian terhadap kualitas hidup meliputi 5 aspek yaitu : tingkat aktivitas.penderita TB paru. 21 orang (42%) menyatakan sering merasa lesu. sanak saudara dan tetangga. Dukungan sosial yang diterima para penderita pada umumnya diperoleh dari keluarga. besarnya B B dukungan sosial dan tingkat kualitas hidup penderita T B paru yang berobat di BP4 Y ogyakarta Unit Minggiran serta besarnya kontribusi karakteristik responden terhadap kualitas hidup penderita T paru. telah melewati fase intensif program pengobatan minimal 2 bulan dengan OATKategori I. tidak bekerja dan buruh masing-masing 8 orang (16%). P ada periode Januari sampai Desember 2003. penderita usia produktif yaitu antara 15–55 tahun. Riwayat pengobat an sebanyak 33 orang (66%) responden menyatakan tidak pernah mencari pengobatan sebelumnya Jurnal Tuberkulosis Indonesia. T otal sampel sebesar 50 orang penderita T paru yang berobat di BP4 Unit Minggiran B yang memenuhi kriteria yang ditentukan yaitu : terdiagnosis medismenderita T paru BT B A(+). 14 orang (28%) tamat SLTP sedangkan . Tujuan penelitian ini adalah untuk menget ahui hubungan antara dukungan sosial dengan kualitas hidup penderita T paru. dapat membaca dan menulis. Sebagian besar penderita T paru mendapat dukungan B kuat dari keluarga dan teman yaitu 43 orang (86%). kehidupan sehari-hari. tidak tamat maupun tamat SD masing-masing 3 orang (6%). Sebanyak 40 orang (80%) mempunyai harapan positif dan dapat menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan sekitarnya. 3. penderita T paru BT B A(+) baru ditemukan di Minggiran. kualitas hidup kategori sedang sebesar 30% dan hanya ada 1 orang responden (2%) dengan kualitas hidup jelek. Interpretasi kekuatan hubungan termasuk kategori tinggi.675.Data dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan kualitas hidup pada penderita T paru dengan menggunakan uji analisis B korelasi Product Moment P earson. 2. sangat takut dan cemas.8 8 . laki-laki 27 orang (54%). 14 orang (28%) dalam beraktivitas perlu bantuan orang lain dan 2 orang (4%) menyatakan tidak mampu beraktivitas. Sebanyak 25 orang (50%) merasa sehat pada sebagian besar waktu. maka kualitashidup juga semakin meningkat.01. BP4 juga sebagai tempat yang tepat unt uk mengembangkan berbagai penelit ian yang berhubungan dengan pengobatan penyakit tersebut. Untuk kategori sedang dan rendah masing-masing sebanyak 22 orang (44%) dan 10 orang (20%). B kecuali di BP4. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Sebanyak 18 orang (36%) mendapat dukungan sosial dengan kategori tinggi. p<0. Hubungan Antara Dukungan Sosial dengan Kualitas Hidup Dari hasil analisis dengan uji korelasiProduct MomentP earson diperoleh hubungan antara dukungan sosial dengan kualitas hidup pada penderita TB paru dengan r sebesar 0. Data diambil dengan pengisian kuesioner oleh responden pada bulan Februari sampai April 2004. perempuan 23 orang (46%). usia rata-rata 21–30 tahun sebanyak 26 orang (52%). serta 4 orang (8%) menyatakan bahwa badannya selalu terasa sakit. karakteristik penderita T paru. sedangkan 17 orang (34%) menyatakan pernah menjalani pengobatan lain sebelum di BP4 Minggiran. Dukungan Sosial T otal skor dukungan sosial adalah jumlah orang pemberi dukungan dan kepuasan responden atas dukungan sosial t ersebut . Ada 9 orang (18%) merasa sedih dan hanya 1 orang (2%) betul-betul bingung. METODE PENELITIAN P enelitian ini merupakan penelitian non eksperimental yang bersifat kuantitatif dengan metode deskriptif dengan rancangan studi potong lintang. Hasil P enelitian P enderita T paru yang menjadi responden dalam B penelitian ini adalah penderita usia produktif.

pekerjaan (â=–0. pekerjaan dan riwayat pengobatan tidak menunjukkan hubungan bermakna dengan kualitas hidup.8 . Sekitar 95% penderita TB paru berada di negara berkembang. Vol.906). Insidens tertinggi T paru biasanya mengenai usia B dewasa muda. Riwayat pengobatan menunjukkan sebesar 66% penderita belum pernah mencari pengobatan sebelumnya kecuali di BP4 tersebut. Dukungan sosial penting untuk penderita penyakit kronis. seperti penurunan rasa PEMBAHASAN Frekuensi penderita T paru yang menjalani program B pengobatan rawat jalan di BP4 Y ogyakarta Unit Minggiran terbanyak adalah usia produktif.378.155.330). B Hal tersebut dimungkinkan karena laki-laki lebih banyak melakukan aktifitas sehingga lebih sering terpajan oleh penyebab penyakit ini. Hal ini menunjukkan ada hubungan bermakna antara umur dan pendidikan dengan kualitashidup. p<0. Hasil pengukuran dukungan sosial dalam penelitian ini diperoleh 44% dari keseluruhan responden mendapatkan dukungan sosial tingkat sedang. antara 15–44 tahun. p<0. p=0.05) dan pendidikan (â=0. jenis kelamin (r=0. Rumah atau ruangan yang terlalu padat penghuninya akan kekurangan O2 sehingga menyebabkan menurunnya daya tahan dan memudahkan terjadinya penularan penyakit. Variabel lainnya yaitu jeniskelamin (â=0. Hal ini sesuai dengan pernyat aan mengenaibeberapa hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan penularan T paru adalah terkait perumahan yang B terlalu padat atau kondisi kerja yang buruk.519.420). mental dan sosial. jenis kelamin. riwayat pengobatan (r=0. pendidikan (r=0. pekerjaan (r=0. T ingkat keberhasilan pengobatan T paru sangat dipengaruhi B oleh kepatuhan penderita terhadap regimen pengobatan yang diberikan. p=0.077.05) memberikan kontribusi bermakna terhadap kualitas hidup. tingkat pendidikan. antara 21–30 tahun.05).Hubungan Antara Karakteristik Responden dengan Kualitas Hidup Hasil analisis dengan korelasi Pearson ant ara karakteristik responden (umur. sebesar 52%. p=0. Didapatkan hasil analisis : B variabel umur (r=0.417) t idak memberikan kontribusi terhadap kualitas hidup penderita T paru. Hasil analisis multipel regresi antara karakteristik responden dengan kualitas hidup penderita T paru.420. Dari hasil wawancara didapat bahwa responden yang berstatus mahasiswa kebanyakan berasal dari luar daerah sehingga mereka harus indekos. S edangkan variabel lainnya yaitu jeniskelamin. yaitu sebesar 54%. Tetapi dalam pelaksanaannya banyak penderit a yang t idak t ekun menyelesaikan pengobatannya. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Studi Kasus Hasil P engobatan T paru di 10 Puskesmas di DKI B Jakarta 1996–1999 yang menyatakan bahwa rendahnya t ingkat pendidikan akan menyebabkan rendahnya pengetahuan dalam hal menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan yang tercermin dari perilaku sebagian besar penderita yang masih membuang dahak serta meludah sembarang tempat. sebab dengan dukungan t ersebut akan mempengaruhi perilaku individu. Hal ini berkaitan erat dengan kepatuhan penderita dalam menuntaskan program pengobatannya yaitu selama 6 bulan. Tinggal di lingkungan padat hunian (seperti kos) berpengaruh terhadap penularan TB paru. Namun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan pendidikan tinggi belum 9 Jurnal Tuberkulosis Indonesia. Dari analisis tersebut diket ahui bahwa variabel umur dan pendidikan mempunyai nilai koefisien korelasi sedang. p<0.017. Hal ini berarti penderita T paru yang menjadi responden dalam penelitian ini cukup B mendapatkan dukungan sosial dari orang-orang di sekitar penderita. p=0. p=0. pekerjaan dan riwayat pengobatan) dengan kualitas hidup penderita T paru.468 dan r=0. p=0.753). Diasumsikan bahwa orang dengan pendidikan lebih t inggi akan sadar t ent ang perilaku sehat dan pengobatan terhadap penyakitnya. dengan tingkat kemaknaan p<0. Responden sebelumnya pernah menjalani pengobatan di luar BP4 pada akhirnya lebih memilih unt uk berobat di inst ansi t ersebut dengan pertimbangan biaya yang lebih murah dan terjangkau. dimana 75% diantaranya adalah usia produktif. masing-masing sebesar (r=0.05.laki mempunyai kecenderunganlebih rentan terhadap faktor risiko T paru. P ekerjaan responden terbanyak sebagai mahasiswa sebesar 28%. P endidikan responden terbanyak adalah tamat SLT A sebesar 46%.260. Kementerian Kesehatan RI telah menetapkan kebijakan dengan pemberian pengobatan gratissehingga diharapkan dapat merupakan perangsang bagi penderita agar t erat ur berobat sesuai dengan jadwal sampai tercapainya kesembuhan.593).05). p<0.141.468. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian tentang tampilan kelainan radiologik pada orang dewasa yang menyat akan bahwa laki.25. didapat B variabel umur (â=0. Kepadatan hunian menimbulkan efek negatif terhadap kesehatan fisik. B tentu individu tersebut mempunyai kesadaran lebih baik tentang penyakitnya dibanding mereka yang berpendidikan lebih rendah. Jumlah penderita laki-laki lebih tinggi dari perempuan.260) dan riwayat pengobatan (â=– 6.

T ingkat pendidikan memberikan kontribusi bermakna terhadap kualitas hidup (â=0.260. P penelitian ini diketahui bahwa ada hubungan ada yang sangat bermakna antara dukungan sosial dengan kualitas hidup (r=0. dengan penerimaan sosial yang dapat mempengaruhi self esteem. salah satunya adalah pengaruh tak langsung bahwa dukungan sosial dapat berpengaruh pada stres yang dihadapi individu. hilangnya nafsu makan. Harapan hidup penderita TB paru yang berobat jalan di BP4 tergolong baik. Hasil ini sesuai dengan teori mengenai pengaruh dukungan sosial. P umumnya B ada kualitas hidup akan menurun seiring dengan meningkatnya umur. napas pendek serta sering flu. penurunan nafsu makan. Hal ini sesuai pernyataan bahwa tingkat pendidikan akan mempengaruhi sikapnya dalam merawat diri sendiri.260). berpakaian sendiri. Keberadaan PMO yaitu seseorang yang dipercaya baik oleh penderita sendiri maupun oleh petugaskesehatan. Self esteem ini akan berpengaruh pada kesehatan jiwa seseorang. T B paru bersifat radang yang kronis.735). Sebagian besar responden yang mempunyai harapan positif tersebut telah yakin bahwa meski tergolong berat namun penyakit T paru B dapat disembuhkan. Kualitas hidup penderita TB paru yang berobat jalan di BP4 Y ogyakarta terkait dukungan dari keluarga dan t eman. Disebutkan pula bahwa laki-laki mempunyai kualitas hidup lebih jelek dibandingkan perempuan. Sebanyak 25 orang (50%) responden merasa sehat pada sebagian besar waktu. P enderita yang merasa tidak sehat sebanyak 4 orang (8%) lebih disebabkan oleh karena nyeri dada. p=0. batuk menetap dan merasa lelah.cemas. Semakin tinggi tingkat pendidikan akan bersifat semakin memacu ke arah kemajuan. naik kendaraan umum tanpa bantuan orang lain. Hasil analisis multipel regresi antara umur dengan kualitas hidup didapatkan nilai sebesar (â=0. dengan adanya pengawasan dalam minum obat serta terkait pemberian semangat pada penderita. Misalnya terkait dengan kepatuhan minum B obat yang berlangsung selama 6 bulan. terjadi penurunan berat badan. penderita yang menyatakan tidak mampu bekerja atau belajar dalam keadaan apapun sebesar 4%.155. sehingga sebagian merasa lebih baik mengurangi kontak dengan orang lain. Ada juga dimana orang-orang sekitar penderita sengaja membatasi kontak dengan penderit a. sakit pada dinding dada.05). Hal ini berarti umur memberikan kontribusi bermakna terhadap kualitas hidup penderita T paru. nyeri otot. P ada penelitian ini diketahui jenis kelamin tidak memberikan kontribusi terhadap kualitashidup dengan nilai (â=0.t eman diperoleh sebanyak 43 orang (86%) menyatakan mempunyai hubungan baik dengan orang lain dan memperoleh dukungan kuat dari angggota keluarga atau dari teman.519. dukungan yang kuat pada penderita terutama dari pihak keluarga akan sangat membantu proses penyembuhan penyakit T paru. dan keringat malam) dan dapat menurunkan produktivitas kerja penderita.05). Sebanyak 40 orang (80%) penderita mempunyai harapan positif serta mampu menyesuaikan dengan keadaan lingkungan sekit ar. Sebanyak 34 orang (68%) penderit a menyatakan bahwa mereka dapat bekerja atau belajar dengan normal. Jurnal Tuberkulosis Indonesia. P enderita yang kurang mendapat dukungan dari keluarga maupun temannya lebih disebabkan karena penyakit yang dideritanya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian mengenai Kualitas Hidup P enderita Gagal Ginjal T erminal Y ang Menjalani Hemodialisis Kronikdi RSUP dr. Hasil analisis multipel regresi antara pekerjaan dengan kualitas hidup penderita diperoleh (â=–0. Mereka telah menyadari bahwa T paru B mudah sekali menular.378. p=0. p<0. Gejala malaise sering ditemukan (anoreksia. penurunan berat badan.675. Sebaliknya. rasa tidak berdaya dan putus asa sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan status kesehatan penderita. mencuci. Kualitas hidup penderita TB paru yang berobat jalan di BP4 Y ogyakarta terkait kesehatan pada satu minggu terakhir adalah baik. Sardjito Y ogyakarta yang menyatakan bahwa jenis kelamin ternyata tidak berpengaruh terhadap kualitas hidup penderita gagal ginjal terminal (GGT) yang menjalani hemodialisis kronik. Sebaliknya.8 10 . meriang. demam dan berkeringat. Kualitas hidup penderita TB paru yang berobat jalan di BP4 Y ogyakarta terkait kehidupan sehari-hari pada satu minggu terakhir adalah baik. Kualitas hidup penderita TB paru yang berobat jalan di BP Y 4 ogyakarta terkait aktivitaspada satu minggu terakhir t ergolong baik. seperti mengurusdiri sendiri serta dapat berfungsi sosial merupakan salah satu komponen dalam kualitas hidup terkait kapasitas fungsional. sakit kepala. Batuk disertai dahak. p<0. karena takut tertular.01). Dukungan keluarga dan masyarakat mempunyai andil besar dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan. sehingga diharapkan sikap tersebut juga berpengaruh terhadap perawatan kesehatannya. Arah korelasi positif menunjukkan bahwa semakin besar dukungan sosial maka kualitas hidupnya akan semakin meningkat. Kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Vol. Sebesar 80% responden menyatakan mereka dapat makan. p<0. asalkan mematuhi regimen pengobatan yang telah ditetapkan. yang akan ikut mengawasi pasien minum seluruh obat nya diharapkan akan sangat membant u penderita untuk berperilaku positif sehingga mendukung proses penyembuhannya.

S. South E Asia.I. “KualitasHidup P enderita G agal Ginjal T erminal Y ang Menjalani Hemodialisa Kronis di RSUP dr. Jakarta : Hal : 715–719.. Crofton. Prasetyo. Variabel lainnya... KESIMPULAN Ada hubungan yang sangat bermakna antara dukungan sosial dengan kualitas hidup penderita T paru. 1996. Smeltzer. GC. D.. Sardjito Y ogyakarta” T .. Subowo.. Syme. ast Woerjandari. 1994. KT FK UGM Y I ogyakarta. “Pedoman Penyajit Tuberkulosis dan P enanggulangannya” Ditjen P2M & PLP Depkes RI. injauan Kasus Kualitas Hidup P asien Gagal Ginjal T erminal dengan P eritoneal Dialisa di Rumah Sakit Sardjito Y ogyakarta” KTI – FKL UGM.417).. Kassin.. S. “P enampilan Kelainan Radiologik P ada Koch P ulmonum O rang Dewasa”Majalah Radiologi Indonesia T . 1985. A. S. Sardjito” KT FK B A .S. 1999. 2001. Cermin Dunia Kedokteran. Pada penelit ian ini diketahui bahwa t idak ada hubungan antara riwayat pengobatan dengan kualitashidup penderita TB paru. S.e-psikologi. “Dukungan Sosial pada Lansia. 1992. A... 2003. DepkesRI. “Social Psycology” New Jerset : .. uberculosis” 2nd . 1. BP4 Yogyakarta. B DAFTAR PUSTAKA Bahar. F “Faktor-faktor Y Mempengaruhi Ketaatan .. I.L. Vol.. “Buku Ajar Keperawatan Medikal – Bedah. “Ilmu P enyakit Dalam Jilid II” Balai P . aru” Kuntjoro. Jakarta : Media Aesculapius. . “P edoman T uberkulosis dan P enanggulangannya” . d. Suzanne C. Dunia Kedokteran. 1990. yaitu jeniskelamin. ang Berobat P enderita KPT di UP RSUP Dr. Handayani. No 2 : 31–35. A. 2001. Princetor. Z. 11 Jurnal Tuberkulosis Indonesia. uberculosis Control” New Delhi. 1999.2002 Mansjoer.. Lebih banyak 50% responden adalah mahasiswa dan sisanya masih dibagi lagi dalam 6 kategori jenis pekerjaan yang lain. “Respon Imunitas Seluler pada Infeksi T B P . Priambodo. A. Jakarta. sehingga jenis pekerjaan dalam penelitian ini dapat dikatakan tidak mewakili profesi. Y ogyakarta.... Hal ini dimungkinkan karena jenis pekerjaan responden dalam penelitian ini hanya diambil secara deskriptif. A. R. I UGM. BP4 Unit B aru” Minggiran. Wardhani. sehubungan dengan program pengobatan gratis dari pemerintah dengan harapan untuk menekan angka drop out pengobatan serendah mungkin. “Kapita Selekta Kedokteran” E 3. Brehm. 1999. 1991. “Laporan T riwulan T P . N.. Sugiyono. . W. Cipta : Jakarta. “Studi Kasus Hasil P engobatan T P di 10 Puskesmas di DKI Jakarta 1996 – 1999” Cermin B aru . Jakarta. Jawa T engah” T . Y ogyakarta.. Gitawati.. Variabel umur dan pendidikan memberikan kontribusi bermakna terhadap kualitas hidup. R. Setiowulan. 2000. Jakarta : E 2001. Brunner & Suddarth / editor”. “Social Support and Health” London . esis Program P asca Sarjana UGM. Miller.. . 137 : 33 – 36.Dapat diartikan bahwa pekerjaan tidak memberikan kontribusi t erhadap kualit as hidup penderit a TB paru. 1999. “Hubungan Kepatuhan Berobat P enderita T uberkulosis P dengan Kejadian P aru enyakit P Obstruksi aru Menahun (PPOM) di RSUPDr. Cohen. “Manajemen Pengobat an Penderit a T uberkulosis P Dengan Sistem DO S Di Puskesmas dan aru T BP4 Kota Y ogyakarta” T . enerbit FK UI.. “Ilmu Kesehatan Masyarakat” PT Rineka . . Y ogyakarta. No. : Academic Press Inc.. E London : T Macmillan Press Ltd. S.com/ lain-lain/zainuddin. Jakarta. Semakin tinggi B dukungan sosial maka semakin tinggi kualitas hidup. pekerjaan dan riwayat pengobatan tidak memberikan kontribusi terhadap kualitas hidup penderita T paru. Houghton Mifflin. 1990. J. Online : 5 Oktober 2003: Available from : http://www. Cet. . ahun ke-2. “P edoman Nasional P enanggulangan T . Cetakan B” ke-5. Faisal. WHORegional For .. WHO “T .htm. d.. FK UGM Y ogyakarta. 2003. Sukasediati.. 1996. Vol 1. Siswanto. Alfabeta. Riwayat pengobatan pada penelitian ini terkait dengan ketaatan berobat penderita. . 1994 Depkes RI. 1993. “Statistik untuk P enelitian” Bandung : CV.E “T . Horne. S. p=0..8 . “Kualitas Hidup P enderita Dermatitis Kontak di RSUD Sragen. No.. didapatkan nilai (â=–6. Y ogyakarta. 2002. he DepkesRI. 2002.25. 137 : 17–20. injauan Pustaka dan Laporan P enelitian. N. Notoatmodjo. F “Clinical T . Sardjito T ahun 1991 – 1996” . W. esis P asca Sarjana UGM. Hamdani. Ed 8.

Foto polos toraks memberi hasil dengan sensitifitas tak lebih dan 30% pada negara berkembang.RAPID TB TEST Apri Lyanda Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hasil pemeriksaan BT A(+) di bawah mikroskop memerlukan kurang lebih 5000 kuman/ml sputum sedangkan untuk mendapat kan kuman positif pada biakan yang merupakan diagnosis pasti. Selama 15 abad kedua paham ini dianut berbagai ahli kedokteran. Kasus-kasus tertentu dilakukan kultur untuk konfirmasi diagnosis. tb) yang terjamin keamanannya. gambaran radiologis.000 penduduk.1 DiagnosisT paru yang digunakansaat ini secara rutin B dilaboratorium termasuk rumah sakit dan puskesmasadalah diagnosis bakteriologis dengan teknik mikroskopis bakteri tahan asam (BTA). perkiraan jumlah pasien TB sekitar 10% dari seluruh pasien T di dunia. P B enemuan Von Pirquet ini disempurnakan oleh Mantoux dan tekniknya distandarkan kemudian disebarluaskan.3Hasil kultur memerlukan waktu tidak kurang dan 6–8 minggu dengan angka sensitivitas 18– 30%. uji ini dikenal dengan nama Mantoux. lebih dari 1minggu untuk memperoleh hasil juga diperlukan fasilitas laboratorium khusus untuk kultur M. maka kemungkinan TB paru 80–85%.2 Pulasan BTA sput um mempunyai sensitifitas yang rendah. Survei Kesehatan Rumah T B angga (SKRT ) tahun 1995 menunjukkan bahwa penyakit T merupakan B penyebab kematian ketiga setelah penyakit kardiovaskuler dan saluran pernapasan pada semua kelompok usia dan penyebab pertama dari golongan penyakit infeksi. Kendalanya selain memerlukan waktu yang lama. RS P ersahabatan. Wilhelhm Rontgen tahun 1895 menemukan sinar-X sehingga makin melengkapi diagnosis T Von Pirquet tahun 1907 menunjukkan sarana diagnosis B.4 Oleh karena terdapat beberapa kekurangan dan membutuhkan waktu yang lama dalam menentukan diagnosispasti T paru. Laennec t ahun 1819 menemukan stetoskop menjadikan pemeriksaan jasmani hal penting dalam diagnosis klinis TB.3. lain T dengan uji tuberkulin. Jurnal Tuberkulosis Indonesia. Vol. Robert Koch pada t anggal 24 Maret 1882 menemukan basil T dan semua pihak menerima T adalah B B penyakit menular. T eknik mikroskopis BT dapat dilakukan dalam waktu relatif A cepat tetapi sensitivitas dan spesifitasteknik ini lebih rendah dibanding dengan teknik kultur. G alenusdokter di zaman Romawi berpendirian TB adalah penyakit menular.1. maka dibutuhkan B alat diagnostik yang cepat dan mempunyai sensitifitas dan spesifitasyang tinggi untuk memperbaiki metoda diagnostik yang konvensional. Hasil survei prevalens T tahun 2004 menunjukkan angka prevalens T B B BTAposit if secara nasional 110/100. P enemuan sarana diagnosis baru untuk T lebih B ditekankan untuk diagnosis yang lebih cepat dan dapat dilakukan sendiri oleh dokter tanpa perlu tenaga ahli lain. pemeriksaan fisis. terutama TB nonkavitas yang memberikan kepositifan 10% pada pasien dengan gambaran klinis TB parudan 40% penyandang TB paru dewasa mempunyai hasil negatif pada pulasan sputumnya.3 Bila terdapat gambaran infiltrat di lobus atas dan kavit as pada fot o polos t oraks. pemeriksaan laboratorium dan uji tuberkulin.TB Penyakit TB sudah ada sejak jaman purbakala. meskipun pemeriksaan tersebut sulit dan mempunyai keterbatasan.tuberculosis(M.2.2 Diagnosis T paru ditegakkan berdasarkan gambaran B klinis. P enemuan arkeologis di Mesir menemukan sisa tulang belakang manusia dengan tanda spondylitistuberculosa dari tahun 3700 SM dan mumi tahun 1000 SM dengan ciri penyakit yang sama.1 P emeriksaan mikrobiologis yaitu identifikasi mikroorganisme dalam sekret atau jaringan pasien merupakan hal utama dalam mendiagnosis TB.5 SEJARAH PERKEMBANGAN DIAGNOSIS M. Hippocrates berpendapat bahwa T B adalah penyakit keturunan. dibutuhkan sekitar 50–100 kuman/ml sputum.8 12 . P ermulaan abad ke-20 semua sarana diagnosis TB sudah tersedia lengkap dan di pakai terus sehingga sekarang. hampir 70 tahun sebelum penemuan Robert Koch. Berdasarkan data di atasT masih merupakan masalah utama B kesehatan masyarakat Indonesia. Villamin (1827-1892) pertama kali membuktikan secara ilmiah T B adalah penyakit menular t et api penyebabnya belum diketahui. Jakarta PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara dengan pasien tuberkulosis (TB) terbanyak ke-3 di dunia setelah India dan Cina. teknik kultur memiliki sensitivitas dan spesifitas yang tinggi.

M. bakteriofag yang berbeda diisolasi dan diteliti sebagai alat penting dalam manipulasi genetik mikobakterium. tb.6. Marcyl’ toile. Uji kultur M.7 Berbagai metoda baru telah dikembangkan saat iniuntuk diagnosis cepat T aktif dengan teknik terbaik B sepertigenotipe atau molekuler. Sparks B Amerika. t bdari kultur dan terutama dalam uji sensitifitas terhadap isoniazid dan rifampisin. non-T 4. tb. karena T BSA tidak spesifik untuk M. Manfaat klinis hanya ditunjukkan oleh 2 pendekatan berdasarkan bakteriofag yang dikembangkan. aplikasi rutin metoda ini sedikit terhambat dan masih dalam observasi mengenai manfaat dalam diagnosisT atau deteksi resistensi B obat antituberkulosis (OAT).(A) Hasil negatif.t b merupakan hambatan besar untuk diagnosiscepat penyakit. Dikutip dari (2) Metoda kromatografi Identifikasi langsung M.Nocardia dan basil gram(+) lainnya yang juga memiliki asam dan jenislipid yang sama.6P emeriksaan apus memiliki spesifisitasyang baiktetapi nilai prediktif positif yang rendah (5–80%) didaerah dengan insidens tinggi M.8. smegmatis.10.13-15 Luciferase Reporter Phage Assay telah t erbukti bermanfaat untuk membedakan M. eknik kultur masih dianggap sebagai metodarujukan karena identifikasi dan sensitifitas lebih baik dibanding pemeriksaan BT A.8 . kultur dan ident ifikasi fenot ipe. sejumlah bakteriofag dengan ada afinitas spesifik terhadap mikobakterium telah bermunculan untuk diagnosis cepat T Sejak 1947.Semua pemeriksaan tersebut masih membut uhkan waktu beberapa minggu unt uk mendapatkan konfirmasi laboratorium final dan bahkan waktu yang lebih lama lagi untuk identifikasi fenotipe kuman. Dua dekade terakhir telah terdapat perkembanganmetoda kultur melalui penggunaan media baru dan sistem otomatis seperti Bactec 460T buatan pabrik Becton Dickinson Diagnostics. tb. Pert umbuhan lambat bakt eri M. Karena hal itu.bernama Luciferase Reporter Phage Assay (LRP)dan Phage Amplified Assay (PhaB). Amerika. (B) Hasil positip. Westlake. Contoh uji kultur dapat dilihat pada gambar 1 dibawah ini.16 P enanda DNA merupakan inovasi pertama dalam diagnosis molekuler T yang mendeteksi langsung dari sampel klinis B.11 Meskipun metoda kromatografi dapat memiliki manfaat untuk identifikasi mikobakterium dari kultur positif.tb dan deteksinya memerlukan diagnosisbanding antara spesies Mycobacterium.14-16 Gambar 1. Luciferase Reporter Phage Assay mendasarkan pada cahaya emisi yang dikode oleh gen lusiferase (fflux) yang dimasukkan kedalam genom bakteriofag. MB/BacT ALERTdibuat oleh bioMérieux. T eknik ini secara umum cepat dan sederhana. lebih dari 250 tipe B. berdasarkan antigen MPT namun metoda ini tidak mewakili altenatif 64.7T B. salah satu yang paling menarik adalah fast gas chromatography mass spectrometry (GC-MS). tbdan mutasi spesifik yang berhubungan dengan resistensi yang membutuhkan dasar amplifikasi sekuens spesifik asam 13 Jurnal Tuberkulosis Indonesia.13Phage Amplified Assay telah dikomersialkan dengan nama dagang FASTPlaque-TB.9Berbagai metoda yang cepat dan sensitif telah dikembangkan. Metoda ini menunjukkan spesifisitas yang baik tapi kurang sensitifit. digunakanuntuk mendiagnosisT pada sediaaan saluran pernapasan juga telah B diteliti untuk uji sensitifitasterhadap antimikrobaM.tb kurang dari 1 jam. membutuhkan sedikit latihan dan tidak mahal. tb dengan menggunakan deteksi asam tuberkulostearat (T BSA). Diagnosis laboratoriumT B secara tradisional didasarkan pada apusan mikroskopis.5.7. baik sendiri maupun dalam kombinasi berbagai komponen struktur dinding sel mycobacterium. Meskipunmetoda t ercepat .12 Metoda Fagotipik P dekade terakhir.4. asam heksakosanoat dalam kombinasi dengan T BSA tampaknya cukup spesifik untuk keberadaan M.8 Beberapa metoda diagnosis cepat tersebut akan dibahas pada tinjauan pustaka ini. P E erancis. Sedangkan PhaB didasarkan pada kompleks sel M. bermakna untuk diagnosis cepat TB. MGIT 960 diproduksi oleh Becton Dickinson Diagnosticsdan V ersaT Kproduksi T Diagnostic RE rek System. P erbedaan terpent ing antara ke-2 metoda ini adalah mengenai deteksi sel mikobakt erium yang t erinfeksi bakteriofag. termudah dan termurah yang tersedia adalah pewarnaan tahan asam namun sensitifitasnya yang rendah (45–80% kultur positif) telah membatasi penggunaannya terutama di daerah dengan insidensTB rendah dan pada bent uk ekst rapulmoner TB sert a pada pasien t erinf eksi HIV. Meskipun demikian. Vol. Diantara komponenkomponen ini. tb yang rentan setelah amplifikasi bakteriofag Mycobacteriofag D29 pada M.11 Metoda Genotipe Berbagai teknik molekuler aplikasinya saat ini tersedia untuk diagnosis mikrobiologi infeksi micobakt erium.DIAGNOSIS CEPAT MYCOBATERIUM TUBERCULOSIS DiagnosiscepatT (rapid diagnosisT B B)adalah diagnosis cepat M.

tbuji langung buatan pabrik G en-P robe Inc. Vol.8 14 . Metoda ini bekerja dengan dasar transkriptase terbalik digunakan untuk menyalin rRNA menjadi hibrid cDNA-RNAsertametodachemiluminiscent untuk mendeteksi kompleks M.100 1. Metoda ini dapat diautomatisasi dan disetujui pada tahun 1996 oleh USFood and Drug Administration (FDA) untuk digunakan pada sediaanapus saluran pernapasan yang memiliki BT A(+).7 2. rest riksi at au sekuensing. met oda molekuler ini dapat mendiagnosisTB beberapa minggu lebih awal dibandingkan kultur pada 80–90% pasien dengan kecurigaan T yang tinggi.21 Reaksi Rantai Ligase / Ligase chain reaction(LCR) Ligase chain reaction merupakan metoda amplifikasi DNA semiotomatis untuk deteksi langsung M.18.21 S ini terdapat aat bukti bahwa AMTD menunjukkan spesifisitas tinggi (95– 100%) dan sensitifitas tinggi (91–100%) untuk sampel apus saluran napas positif.5. T Bdengan penanda DNA spesifik.20.20. Uji ini adalah uji DNA yang mengamplifikasi segmen spesifik gen RNA 16Sdilanjutkan dengan hibridisasi dan deteksi kolorimetrik.. tbbuatan Roche Diagnostic System Inc.3 2 2.20Semua met oda NAA membut uhkan analisis postamplifikasi yang lebih jauh dengan observasi elektroforesis fragmen teramplifikasi atau hibridisasi. rpoB. Basel Swiss adalah salah satu alat uji diagnosis cepat tertua berdasarkan PCRstandar. tb. lebih rendah pada kasus apus negatif (40–73%) dan sampel ekstrapulmoner (27–98%). Spesifisitas metoda ini berkisar antara 91–100%.21 Berbagai studi telah melaporkan sensitifitasyang tinggi pada spesimenapussaluran pernapasan positif (87–100%). untuk sediaansaluran pernapasan apus positif dan tahun 2000 dengan rekomendasi FDA diperluas hingga sampel apusnegatif.4 12 5.5 6 3.18 Manfaat klinis metoda ini telah dibahas secara luas dan bukti kuat tetapi implementasinya belum tercapai.komersial telah berkembang pada beberapa t ahun t erakhir yang direkomendasikan adalah menggunakan uji komersial yang memiliki level standarisasi dan reprodusibilitas yang lebih baik.16sRNA rpoBgene 23sRNA 16sRNA rpoBgene IS6110 Kolorimet rik Semiluscent Fluorimetrik Flourimetrik Kalouimetrik Kalorimet rik Fluorimetrik Fluorimetrik Kalorimet rik Dikutip dari (20) Transkripsi yang dimediasi Amplifikasi (TMA) AmplifikasiM. Beberapa kerugian mucul saat pengaplikasian metoda ini secara langsung pada sediaan klinis. pada siapa dan kapan menggunakan teknologi ini. hsp65. Meskipun demikian. penemuan terbaru tentang penggunaan uji NAA untuk mendiagnosa tuberkulosis menyatakan bahwa: a) metoda ini dapat secara cepat mendeteksi keberadaan M. Hal ini diakibatkan variasi teknik yang tersedia sangat luas dan kurangnya standarisasi antara penelitian satu dengan lainnya menggunakan kultur sebagai baku emasyang secara teoritis memiliki sensitifitas yang rendah dibandingkan uji amplifikasi NAA. yaitu masalah dengan inhibitor.. sensitifitaspada sampel apus negatif dan ekstraksi DNA. 16S rDNA atau MBP64.tb pada 50–85% sediaaan BT apus negatif dan A kultur positif b) nilai prediktif positif pada spesimen BT apus positif A lebih tinggi (>95%) c) secara umum. Selain itu. Kerugian yang paling penting adalah kurangnya kontrol amplifikasi int ernal (AIC) dan tidak t erdapat kemungkinan otomatisasi.amino nukleat (NAA). produk ini ditarik dari pasaran E ropa pada tahun 20 2002. Beberapa uji metoda hibridisasi Uji Metoda amplikasi PCR TMA LCR SDA Neste-P CR NA-SBA Real time PCR Real time PCR PCR Target Deteksi Vol Waktu Automatis IAC sampel paruh (ul) (jam) 10 0 45 0 50 0 50 0 50 0 50 0 10. Amplifikasi DNA konvensional denganP olymerase Chain Reaction (PCR) Uji amplifikasiM.20 B Uji NAA memiliki variasi luas dalam metoda non komersial dengan pemeriksaan ekstraksi asam nukleat dan amplifikasi polymerase chain reaction(PCR) dari berbagai target genetik seperti IS6110.17. kurangnya penilaian aspek klinis pada kebanyakan penelitian telah mengakibatkan beberapa kebingungan mengenai bagaimana.T uji langung merupakan uji pertama B yang disetujui FDA pada tahun 1995.19.20Unt uk diagnosis TBmetoda yang paling berkembang dan paling dikomersialkan didasarkan pada uji hibridisasi(T abel 1).000 50 6.5 2. Meskipun uji amplifikasi non. Teknik ini memiliki beberapa keunt ungan sepert i wakt u kembali yang cepat dan kemungkinan untuk automatisasi. meskipun sensitifitas ini lebih rendah untuk sampel apus negatif (65–93%) dan ekstrapulmoner (63–100%). Ligase chain reaction tidak dipasarkan lagi karena ongkos produksi pembuatan yang meningkat menyebabkan Jurnal Tuberkulosis Indonesia.5 Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Ya Tidak Tidak Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Cobas amplicor AMTD LCX BD Probe Tec Innolipa G enotype MD RT – PCR G eneExpert GeneQuick 16sRNA 16sRNA PAB IS6110. Meskipun spesifisitas (90–100%) dan sensitifitas (65– 90%) yang baik dilaporkan pada beberapa penelitian sampel pernapasan. San Diego Amerika merupakan alat T menggunakan MA met oda isot hermal cepat dengan suhu 420Cdengan amplifikasi rRNA 16S.21 T abel 1. Amplifikasi M.T dari sampel B klinis gen kromosom yang mengkode protein antigen b M.

M intracellulare. M kansasii danM malmoense.21 15 Jurnal Tuberkulosis Indonesia.21 P erbandingan biaya pemeriksaan dengan beberapa metoda dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini. Vol. tbdapat juga mendeteksi Mycobacterium Others T T han uberculosis (MOT ) antara lain T M avium. Alat ini dapat mendeteksi dan mengidentifikasi M.tb dibandingkan dengan pemeriksaan yang rutin dilakukan sekarang terlihat lebih mahal. Penelit ian yang dilakukan WHO di beberapa negara berkembang mempunyai kesimpulan dapat menghemat lebih banyak biaya dan waktu dibanding cara lama.PCR) Teknik ini didasarkan pada amplifikasi berurutan berbagai target DNA dan deteksi fluorimetrik.21 Uji LAMP dapat mensintesis sejumlah besar target DNA (gryrBatau IS6110) dalam tabung tunggal dan produk amplifikasi dapat dideteksi dengan metoda turbiditas atau kolorimet rik dan fluorimet rik. Metoda ini merupakan prosesamplifikasi enzimatik isotermal menggunakan suhu 52. G enewa. Sunnyvale Amerika dan FINDDiagnostics. GeneXpert buatan Cepheid.50C untuk menghasilkan beberapa salinan urutan target IS6110 dan gen rRNA 16Syang produk amplifikasinya terdeteksi dengan metoda fluorosen. P enelitian pendahuluan menyatakan sensitifitas dan spesifisitas yang baik pada sampel saluran pernapasan. Jenewa Swissbaru saja diperkenalkan sebagai uji diagnostik RT-PCR semi kuantitatif yang mengintegrasikan dan mengotomatisasi pengolahan sediaan dengan ekstraksi DNA dalam catridge sekali pakai. hasil yang menjanjikan dan uji ini memiliki keuntungan cepat hanya dalam waktu 2 jam dan relatif tidak mahal yang dapat bermanfaat pada kondisi terbatasnya sumber daya. Amerika.t b maupun MDR.TB. contoh untuk pembelian alat GenE xpert dengan metoda PCR-RT dibutuhkan dana sekitar 3 milyar rupiah. Al at di agnosi s cepat genexpert Dikutip dari (21 Metoda baru lainnya Loop mediated isothermal amplification (LAMP) buatan E iken Chemical Co. Diant ara berbagai alat yang t elah diprodusi menggunakan t eknik ini. Uji Hibridisasi Fase P adat / solid-phase hybridization assay Saat ini ada 2 perusahaan yang memproduksi alat uji hibridasi fase padat yaitu Innogenetics.tb pada sampel saluran napas.20 Alat uji ini diproduksi oleh Becton Dickinson.21 Uji NAA lainnya untuk diagnosis cepat T pada sediaan B saluran napas adalah GenoQuick MT test buatan Hain B Lifescience yang didasarkan pada PCR dan hibridisasi lanjutan. 21 Gambar 2. Nehren Jerman. Jepang dan FIND Diagnostics.21 Biaya P emeriksaan Uji Cepat Diagnosis M.harga alat uji ini tidak kompetitif nilai jualnya.19. Alat ini selain dapat mendeteksi kuman M.21 Sosialisasi pembiayaan yang lebih murah ini terusdilakukan oleh WHO unt uk memcepat diagnosis M. Alat uji ini di produksi oleh Abbot laboratorium.20 Meskipun dibutuhkan penelitian lebih jauh.20. Waktu hingga didapatkannya hasil kurang dari 2 jam dan hanya pelatihan minimal yang dibutuhkan untuk menggunakan uji ini. Uji ini memiliki sejumlah manfaat penting terutama kecepatannya dan masalah kontaminasi silang yang lebih sedikit hal ini dikarenakan prosessetelah ekstraksi DNA terjadi pada tabung tunggal.20. G Belgia dan Hain ent Lifescience. Chicago Amerika. terutama pada sampel saluran napas.tb jika dihitung lebih mendalam akan terlihat bahwa mempunyai banyak keunt ungan dan hasil akhirnya lebih murah.tb dari sediaan dahak dan dapat untuk mendeteksi resistensi rifampin dan isoniazid. S wissadalah teknik amplifikasi isotermal yang relatif baru. P embelian awal alat uji merupakan biaya termahal yang harus dikeluarkan. Real Time P olymeraseChain Reaction(RT. TB P emeriksaan uji cepat diagnosis M.8 . E valuasi pada sampel saluran napas menunjukkan sensitifitas 90– 100% pada sampel apus positif dan 30–85% pada sampel apus negatif dengan spesifisitas tinggi (90–100%). P emeriksaan dengan uji cepat diagnosis M. Berbagai alat yang berdasarkan teknik RT-PCR sudah banyak memproduksi seperti CobasT aqMan MT test B buatan Roche Diagnostic System dengan sensitifitas dan spesifisitasumum yang tinggi. Meskipun memiliki keterbatasan uji dalam konteks T data awal memberikan B. WHO telah mendukung penggunaan sistem ini sebagai uji diagnostik awal pada sediaan saluran pernapasan pasien dengan kecurigaan klinis tinggi memiliki T atau seseorang B dengan multidrug resistant (MDR) TB(Gambar 2). Strand Displacement Amplification (SDA) Diperkenalkan pada tahun1998 sebagai suatu teknik semiotomatisdalam deteksi M.

. Y oung DB. BMC Infect Dis.77 7. P ai ascopella L. Diagnosis cepat M. 10.90 0. 9th ed. J Clin Invest.8-14. Centers for Disease Control and P revention. Biaya Pemeriksaan diagnosis M. Bact eriophage. Identification of Mycobacterium tuberculosis and M. Hwang SH. lliott LB. Sosne G. Pfyffer GE Mycobacterium: general characteristics.353:444-9. Udani R. Am J RespirCrit Care Med. 2008. Kalkut G. R. P MY Kim YJ. A fast method . CEBarry.5:59.118:1255-65. Diagnosis cepat M. Chan J.mass spectrometry preceded by solid-phase microextraction and postderivatization on the fiber. Domínguez J. 5. Lancet. Vincent V.tb dapat menghemat waktu. 13. Confronting the scientific obstacles to global control of tuberculosis.tb adalah uji diagnosis untuk kuman M.57 2. Headley VL.13:961-79. Cheng D. biaya dan tidak perlu tenaga ahli karena dapat dikerjakan secara automatisasi 4. J Chromatogr A. Cetakan ke-2.02 12. Zeng Z. 2000. Rapid assessment of drug susceptibilities of Mycobacterium tuberculosis by means of luciferase reporter phages. Barletta RG. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Reingold A. E . Liu M. 2007. 6. 1994. . 1993. Salamon H.2008. 7. Guan W.41:2867-71. 4. Kaal E Kolk AH. Berlanga P Blanco S. Jost KC Jr. 2009.92 6.based t est s for t he det ect ion of Mycobacterium tuberculosis in clinical specimens: a systematic review and meta. Jurnal Tuberkulosis Indonesia. Washington DC: American Society for Microbiology. . Behr MA. Science. 14. P erkins MD. aviumcomplex directly from smear-positive sputum specimensand BACT C12B cultures by high-performance E liquid chromatography with fluorescence detection and comput er.1216:6319-25. p. In: Murray P Baron E Jorgensen JH. 11. ark .72 35. The new diagnost ic mycobacteriology laboratory.43 0. Hopewell PC. Y et al.47:481-4. E valuation of an immunochromatographic assay kit for rapid identification of Mycobacterium tuberculosis complex in clinical isolates. In: Murray PR.161:1376-95.60 1. Salf inger M. Warren SA. JClinMicrobiol.tb sudah berkembang pesat dengan bermacam metoda 3. American T horacic Society. Jeong SH. Vol.driven pat t ern recognit ion models.29 1. 1999. 9. and staining procedures. 2007. 3.8 16 . P once de León A.10 Uji resisten 2 obat 1.33:1270-7.55 0. et al. 12.RT BTA sputum Dikutip dari (18 Kesimpulan 1.00 2. Landry ML. J Chromatogr A. T ransmission of Mycobacterium tuberculosis from patients smear-negative for acid-fast bacilli. Riley L. editors. based technique for rapid diagnosis of pulmonary tuberculosis. Eur J ClinMicrobiol Infect Dis. 573-88. Kim HH. 2.tb yang terbaik dan direkomendasikan WHO adalah PCR-RT Daftar Pustaka 1. 543-72.87 MODS MGIT BACTEC LJ Microagar MABA PCR.Alcaide F Galí N. for the identification of Mycobacterium tuberculosis in sputum and cult ures based on t hermally assisted hydrolysis and met hylat ion f ollowed by gas chromatography-mass spectrometry. p. 2009. J.00 1.75 1. Jakarta: DepkesRI . Hu X.hal. P edoman nasional: penanggulangan tuberkulosis. Landry ML.14 0. 8. Manual of Clinical Microbiology.Kalantri S. 9th ed. Lee E . 2005.T B Metoda Uji Biaya (US$) 0. 2009. 2003. Jacobs WRJ.tb kurang dari 1 jam 2. Gutiérrez MC. Orus P et al.T abel 2.03 23. Pf yf f er GE.analysis. Analysis of fatty acids in sputum from patients with pulmonary t uberculosis using gas chromat ography. J ClinMicrobiol. et al. MA. Janssen HG. J ClinMicrobiol. Usefulness of a new mycobacteriophage. Duncan K. Kuijper S. Pfaller J. Mycobacterium: Laboratory characteristics of slowly growing mycobacteria. Diagnosis cepat M. 1995. Manual of Clinical Microbiology. laboratory detection.62 Uji resisten 4 obat 1. Diagnosis cepat M.23-2. Council of the Infectious Disease Society of America. Baron E Jorgensen JH. Daley CL.80 63. editors. Diagnostic standards and classification of tuberculosis in adults and children. P M. Cha D. Pfaller MA.1216:1450-7. Washington DC: ASM Press. Dunbar DF Barth SS.60 5.260:819-22.

Kunst H.15. E urRespir.24Suppl 1:53-7. Kinkese J. 2007. Domínguez J.11:1-96. 2006.Alcaide F New methodsfor mycobacteria identification. identification and drug resistance detection in Mycobacterium tuberculosis. N. Prat C. García-Sierra N. Prat C. Health T echnol Assess. phage replication assay for diagnosis of pulmonary tuberculosis. 20.Galí N.44:201-5. Godfrey-Faussett P Development of a bacteriophage . E nfermInfeccMicrobiolClin. Use of a mycobacteriophage-based assay for rapid assessment of suscept ibilit ies of Mycobact erium tuberculosis isolates to isoniazid and influence of resistance level on assay performance. Alcaide F Coll P .8 .Domínguez J. 2008. A systematic review of rapid diagnostic tests for the detection of tuberculosisinfection. P olomino JC. J Med Microbiol.McNerney R. Blanco S. 16. Vol. 17.26:339-50. Tembwe R. J ClinMicrobiol. et al. 2005. Deeks J. 21. 2004. Ausina V. 18. . 17 Jurnal Tuberkulosis Indonesia.26Suppl 9:33-41. 2006. Molecular detection. Nonconventional and new methods in the diagnosis of tuberculosis: feasibility and applicability in the field.Dinnes J.42:2115-20. 19. Gibson A. et al. Cummins E Waugh . Ut ilit y of molecular biology in t he microbiological diagnosis of mycobacterial infections. J ClinMicrobiol.56:103-11. Blanco S. Kambashi BS. 2009. E nfermInfectMicrobiolClin. Lacota A. .P alomino JC.

yaitu sekitar 1.4 kemudian diikuti oleh masyarakat kelas bawah hingga menggantikan mengunyah sirih yang menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia.4 juta jiwa di dunia dan setengah dari jumlah tersebut berasal dari benua Asia. Bahan farmakologik dalam tembakau yang menyebabkan adiksi adalah nikotin yang merupakan partikel padat dan sangat mudah diserap oleh selaput lendir hidung. Banyak penyakit yang dihubungkan dengan merokok yaitu penyakit keganasan. infertilitas. Vol. amonia. Merokok merupakan faktor risiko penting untuk terjadinya penyakit kardiovaskular serta MEROKOK T embakau diperkenalkan di Indonesia oleh bangsa Belanda sekitar 2 abad yang lalu dan penggunaannya pertama kali oleh masyarakat Indonesia ketika elit lokal Indonesia meniru kebiasaan merokok bangsa Belanda yang Jurnal Tuberkulosis Indonesia. Bahaya merokok t elah dibicarakan dan diakui secara luas. mut agenik dan karsinogenik. jumlah perokok Indonesia justru bertambah dalam 9 tahun t erakhir. P enggunaan tembakau khususnya merokok.500 bahan kimia yang memiliki berbagai efek racun.MEROKOK DAN TUBERK ULOSIS Agung Ari Wijaya Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Kriteria utama untuk menentukan ketergantungan obat adalah pengguna obat yang selalu terdorong untuk menggunakan.1 Jumlah perokok di dunia meningkat secara bermakna. hydroxyquinone. Jakarta PENDAHULUAN Merokok dan t uberkulosis(TB) merupakan dua masalah besar kesehatan di dunia.9% pertahun. Hubungan antara merokok dan T pertama B kali dilaporkan pada awal abad ke-20. diabetes. mulai dari partikel yang larut dalam air dan gas. Sebanyak 65–85% tembakau telah dikonsumsi diseluruh dunia dalam bentuk rokok yang menyebabkan kematian setiap detik. P adahal dari jumlah penduduk. akrolein. World Healt h Organizat ion memperkirakan bahwa pada tahun 2020 penyakit akibat merokok akan menyebabkan kematian sekitar 8. karbonmonoksida. kardiovaskuler. secara luastelah diakui sebagai masalah kesehatan masyarakat yang utama dan menjadi penyebab kematian yang penting di dunia.5-7 Asap rokok mengandung lebih dari 4. Merokok adalah t indakan seseorang menghisap rokok (tembakau). P enelitian yang dilakukan para ahli memberikan bukti terdapatnya bahaya merokok dan terjadinya penurunan fungsi paru pada perokok dan orang disekit arnya. Banyak zat yang bersifat karsinogenik dan beracun terhadap sel namun tar dan nikot in telah terbukti imunosupresif dengan mempengaruhi responskekebalan tubuh bawaan dari pejamu dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Diperkirakan bahwa pada tahun 2030 lebih dari 80% penyakit yang diakibatkan oleh rokok akan terjadi pada negara dengan pendapatan rendah dan sedang. walaupun T lebih banyak B ditemukan di negara berkembang. terdapat efek psikoakt if dan t erbiasa menggunakan obat tersebut. Berbeda dengan jumlah perokok Amerika yang cenderung menurun. benzopyrenes. penyakit paru obstrusi kronik (PPOK).2.8 T embakau telah disebut sebagai penyebab kematian secara global karena membunuh lebih dari 5 juta orang di seluruh dunia setiap tahunnya. nitrogen oksidadan kadmium. tar.7 juta pada tahun 1985. Indonesia berada di posisi ke-4 setelah Cina. Alzheimer. Setelah HIVdan AIDS meluas T menjadi penyebab kematian yang terkemuka di B seluruh dunia dan bertanggung jawab terhadap lebih dari satujuta kematian setiap tahunnya. artritis. 3 juta pada tahun 1990 dan telah diproyeksikan meningkat menjadi 8. impotensi.3 P B aru merupakan organ yang menderita kerusakan paling parah akibat merokok. India dan Amerika. Semakin tinggi kadar tar dan nikotin efek terhadap sistem imun juga bertambah besar. P ertumbuhan rokok Indonesia pada periode 2000–2008 adalah 0. saat ini diperkirakan sebanyak 1. RS P ersahabatan. Asap rokok menghasilkan berbagai komponen baik di kompartemen seluler dan ekstraseluler. mulut dan jaringan paru.4 juta pada 2020.2 Data World Health Organization (WHO) menunjukan Indonesia sebagai negara dengan konsumsi rokok terbesar ke-3 setelah Cina dan India dan diikuti Rusia dan Amerika. Kata rokok berasal dari bahasa belanda roken. Zat-zat yang mempunyai efek merugikan adalah nikotin. karbondioksida. T dan lain-lain.3 milyar perokok dan meningkat menjadi 1. Walaupun mekanisme yang pasti belum sepenuhnya diketahui namun telah banyak penelitian mengenai hubungan antara merokok danTB. aset on.7 milyar perokok pada t ahun 2025.8 18 . Isi dan konsentrasi bahan kimia dapat bervariasi dalam merek rokok yang berbeda. f ormaldehid.

India. Berhenti merokok diperlukan untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas. Diperkirakan bahwa merokok akan menyebabkan sekitar 10 juta kematian pada orang dewasa pada tahun 2030 dan sebagian besar peningkatan kematian yang berhubungan dengan tembakau akan berlangsung di Asia.4 juta orang yang hidup dengan ada 19 Jurnal Tuberkulosis Indonesia. Di berbagai negara sekitar 49% laki-laki dan 8% perempuan diatasusia 15 tahun merokok. P tahun 2004 sekitar 21% orang ada dewasa.3 juta perempuan). 133 kasus/100. Mycobacteria dapat diberi pewarnaan seperti bakteri lainnya misalnya dengan pewarnaan Gram. dalam hal prevalenspenggunaan.16 P ada tahun 1992. kematian akibat infeki TB sebesar 1.000 perempuan). yaitu Cina.7 juta jiwa (380. Afrika dan Amerika S elatan. Akibatnya merokok menjadi penyebab kematian dini di Amerika. S ebaliknya.8 .000 populasi dengan penderita HIV sebesar 1. sesuai dengan 4700 kematian pertahun dan menjadi penyebab kematian urutan ketiga pada perempuan usia 15-44 tahun. P erbedaan antara perempuan dan laki-laki berhubungan dengan perbedaan penggunaan tembakau. infeksi saluran napas bawah.000 penderita HIV. maka mycobacteria disebut sebagai Basil T ahan Asam (BT P A). Brasil. P tahun 2010 dilaporkan ada insidens T didunia sebesar 8. S tudi yang dilakukan di Oslo menunjukkan bahwa perokok ringan dengan 1–4 batang perhari ternyatatetap meningkatkan angka kematian. lemak berhubungan dengan arabinogalaktan dan peptidoglikan di bawahnya.000 orang Amerika diperkirakan meninggal akibat merokok atau perokok pasif. B P tahun 2008 sebanyak 1. Namun sekali diberi warna oleh pewarnaan Gram. durasi penggunaan yang lebih singkat atau frekuensi penggunaan yang lebih rendah pada perempuan. P enelitian di Brasil mendapatkan hasil terjadi penurunan yang nyata perokok pada masyarakat dengan penghasilan rendah. 22% merupakan siswa sekolah. Oleh karena itu. Indonesia. Namun demikian perokok pasif secara substansial juga berkontribusi menimbulkan bermacam penyakit. prevalensmerokok pada laki-laki meningkat tajam di negara-negara dengan penghasilan rendah dan menengah seperti Cinadan Indonesia. Usaha dengan intervensi secara psikososial dan penggunaan obat telah digunakan untuk tujuan tersebut. P erancis dan negara berpenghasilan tinggi lain. Kanada.39 juta) penderita T dengan B HIV positif.8 juta (8.1 juta B (0. ada dinding sel mycobacteria. lebih dari 80% berada di negara berpenghasilan rendah dan menengah. T uberkulosis saat ini banyak menyerang usia produktif dan meningkatkan angka kematian terutama di negara berkembang. Struktur ini menurunkan permeabilit as dinding sel sehingga mengurangi ef ekt ivit as t erhadap ant ibiot ik. Jepang. intervensi untuk berhenti merokok memiliki keberhasilan yang beragam. M. Lebih dari 60% perokok tinggal di hanya10 negara.32–0.1 juta jiwa. maka warna tersebut tidak dapat dihilangkan dengan asam.5 penyebab utama lain dari kematian di seluruh dunia yaitu serebrovaskular. Rusia. Cina memiliki produksi dan konsumsi tembakau terbesar di dunia. Setiap tahun sebanyak 438. P erkiraan biaya yang berhubungan dengan merokok yaitu biaya medis dan kehilangan produktivitas melebihi 167 milyar dollar Amerika per tahun. berbeda dengan 37% pria dan 21% perempuan yang berasal dari negara berpenghasilan tinggi.8 TUBERKULOSIS T uberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis complex dan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia. P eningkatan yang nyata terjadi pada laki-laki usia muda. Banglades. Delapan puluh persen kasus TB akt if yang dit emukan di 22 negara berkembang sebagian besar dari mereka di Asia (dengan 55% kasus di dunia) dan Afrika (30%). kanker saluran napas. Vol.4 juta kasus baru (3. B di Rusia dilaporkan kasusT yang resisten obat menyumbang B lebih dari seperlima semua kasus T baru di tahun 2008. T dan B.9–1.1113 Selain HIV/AIDS.14. S ekitar 1. Berhenti merokok dikaitkan dengan manfaat penting pada tingkat individu dan sosial. 1. namun banyak perokok mengalami kesulitan menghentikan kebiasaannya.9 Merokok tetap menjadi penyebab utama kematian yang dapat dicegah di dunia. Jerman dan T urki.10 Dilaporkan bahwa penggunaan tembakau dengan cara merokok lebih berbahaya dibandingkan dengan cara lain dan perokok akt if lebih menimbulkan beragam penyakit dibandingkan perokok pasif.tuberculosis berbentuk batang. Namun. Lipoarabinomannan suatu molekul lain dalam dinding sel mycobacteria berperan dalam interaksi antara inang dan patogen menjadikan M. WHO telah mencanangkan TB sebagai global emergency.5–9. Sekitar 5% dari beban kasus T global sekarang resisten terhadap beberapa obat.2 juta) kematian akibat TB dengan HIV negatif ditambah 0.15 Secara keseluruhan meskipun tingkat merokok telah menurun selama bertahun-tahun.2 juta). tidak membentuk spora dan termasuk bakteri aerob. lebih dari seperlima orang Amerika adalah perokok. PPOK. Konsumsi per orang dewasa perhari (jumlah rokok yang dihisap perhari dibagi dengan populasi perokok dan bukan perokok) telah menurun lebih dari 50% dalam 2-3 dekade terakhir di Amerika. tuberculosis dapat bertahan hidup di dalam makrofag.1 miliar orang merokok di seluruh dunia. T ahun 2009 dilaporkan terjadi 2. Mengingat prevalensmerokok upaya besar telah diarahkan untuk mengembangkan intervensi untuk membantu perokok berhenti merokok. termasuk 380. Amerika S erikat.9.35 juta (0. berukuran panjang 5 dan lebar 3 . merokok tembakau merupakan penyebab kematian utama yang meningkat dengan cepat.

PENGARUH ROKOK PADA PERTAHANAN RESPIRASI Rokok telah menunjukkan dampak yang luasterhadap mekanisme kekebalan inangnya. keparahan dan durasi infeksi. Rokok meningkatkan jumlah makrofag alveolar juga sel epitelial dan mengaktivasinya untuk menghasilkan mediator proinflamasi mikro sirkulasi paru.6% dan 3. Vol. A pemeriksaan radiologi lain adalah foto lateral. P perkusi ditemukan ada pekak. dan sel natural killer (NK) sehingga meningkatkan risiko. B. meningkatkan permeabilitas epitel pernapasan dan mengganggu bersihan mukosilier. P emeriksaan radiologi dengan pemeriksaan standar foto toraks P (posteroanterior). P embesaran kelenjar tersebut dapat menjadi “cold abscess”1 .000 populasi) kasus T baru B set iap t ahun jauh lebih besar dari st andar yang direkomendasikan WHOyaitu sebesar 3%. P saat yang ada sama. sesak napasdan nyeri dada. amforik. rokok juga mengganggu mekanisme pertahanan alamiah yang dimediasi oleh makrofag.1-1. bilasan bronkus. urin.55 juta) dan Indonesia (0. Kadang pasien terdiagnosis pada saat medical check up. serta daerah apeks lobus inferior (S6).HIV mengalami T aktif. fases dan jaringan biopsi (termasuk biopsi jarum halus/BJH). oblik at au CT. S erupa dengan ini merokok berpengaruh terhadap kemampuan makrofagalveolar untuk memfagositosis bakteri dan sel apoptosis. suara napas melemah.8 20 . Makrofag mempunyai peran yang strategis di alveolar. Di Amerika dilaporkan terjadi penurunan yang bermakna. E pitel pernapasan merupakan pertahanan pertama melawan agen lingkungan yang merugikan dan melindungi dengan cara menyapu partikel keluar dalam lapisan mukus. sel dendritik (DCs).59 juta). dan selanjutnya batuk diperlukan untuk membuang dahak ke luar. P ajanan asap rokok akut mengakibatkan supresi epitel pernapasan dan secara kronik dapat mengakibatkan inflamasi dan kerusakan sehingga menyebabkan perubahan bentuk sel epitel. tersering di daerah leher (pikirkan kemungkinan metastasis tumor). Bahan untuk pemeriksaan bakteriologi ini dapat berasal dari dahak. peningkatan retensi sel TCD8 dan induksi Interleukin-17 (IL-17) sebagai efektor sekresi sel T Setelah pajanan rokok jangka panjang. memfagositosis juga merekrut sel imun lain. pemeriksaan fisis. P permulaan (awal) ada perkembangan penyakit umumnya tidak (atau sulit sekali) menemukan kelainan. Makrofag alveolar mempunyai peran kunci dalam merusak dan mengeliminasi agen mikrobial pada saat awal bila ada infeksi. kelembaban udara dan pekerjaan yang dapat memodifikasi penyakit. daerah . ronki basah.4-0. bila organ yang terkena adalah paru maka gejala lokal ialah gejala respiratori (gejala lokal sesuai organ yang terlibat). Urutan berikutnya adalah China (1. sosial ekonomi. Gejala respirasi diantaranya adalah batuk 2 minggu. banyaknya cairan di rongga pleura.000 (9293/100. Merokok secara langsung membahayakan integritasbarier fisik. keringat malam.4% dan diperkirakan 380. hilangnya kemampuan untuk membersihkan sel-sel mati. yaitu gejala lokal dan gejala sistemik. Orang HIV-positif lebih mudah B t erinf eksi cenderung resist en t erhadap obat dan meningkatkan angka kematian.4 juta) menyumbang sekitar seperlima dari seluruh jumlah kasusdi dunia dengan angka kematian sebesar 17. P pleuritis T kelainan pemeriksaan fisis tergantung dari ada B.Scan. Di Nigeria dilaporkan kejadian TB sebesar 14. dari mulai tidak ada gejala sampai gejala yang cukup berat tergantung dari luas lesi. tanda-tanda penarikan paru. batuk darah.0. G ejala sistemik yang ditimbulkan akibat infeksi T adalah demam.52 juta). Jurnal Tuberkulosis Indonesia. diafragma dan mediastinum. tahun1993 sebesar 9. degradasi dan modifikasi secara kimiawi dari matriksekstraseluler. kadang-kadang di daerah ketiak. Bila bronkusbelum terlibat dalam proses penyakit. malaise.000 populasi dan pada tahun 2009 didapatkan 3. Afrika selatan (0. sel epitel. top-lordotic. T erdapat banyak penelitian kontroversi karena perbedaan dalam hal riwayat merokok. pemeriksaan bakteriologi yang mempunyai arti yang sangat penting dalam menegakkan diagnosis. G ejala klinisT dapat dibagi B menjadi 2 golongan. P pemeriksaan jasmani dapat ditemukan antara lain suara ada napas bronkial. Reactive Oxygen Species (ROS) dan enzim proteolitik dengan demikian memberikan mekanisme seluler yang menghubungkan rokok dengan inflamasi dan kerusakan jaringan. kelainan yang didapat ada B tergantung luaskelainan struktur paru. P ada limfadenitis T terlihat pembesaran kelenjar getah bening. Pemeriksaan penunjang lainnya diantaranya analisiscairan pleura. P engaruh rokok dalam hubungannya dengan peningkatan penyakit hinggá menjadi lebih berat ditandai dengan gangguan kemampuan makrofag untuk membunuh bakteri atau virus. kerentanan genetik. bilasan lambung. pemeriksaan histopatologi jaringan dan pemeriksaan darah.5% dari total kematian di India.000 populasi.5 juta). Kelainan paru pada umumnya terletak di daerah lobus superior terutama daerah apeks dan segmen posterior (S1 dan S2). P T paru. maka pasien mungkin tidak ada gejala batuk. cairan serebrospinal. India menempati urutan pertama penderita TB di dunia (1.16-18 Diagnosis T dapat ditegakkan berdasarkan gejala B klinis. olah raga. anoreksia dan B berat badan menurun.19 Di paru asap rokok memiliki efek baik proinflamasi dan imunosupresif pada sistem kekebalan tubuh.000 populasi.1.6-2. pada tahun 1945 dilaporkan 73/ 100. pada auskultasi suara napas yang melemah sampai tidak terdengar pada sisi yang terdapat cairan.3. nutrisi.0/100. Batuk yang pertama terjadi karena iritasi bronkus. Nigeria (0.35-0.8/100. G ejala respiratori ini sangat bervariasi. kurasan bronkoalveolar (bronchoalveolar lavage/BAL).37. cairan pleura.

yang paling penting adalah prevalens rendah infeksi T pada B populasi umum dan tingkat merokok telah menurun.9.19 HUBUNGAN MEROKOK DENGAN TUBERKULOSIS Hubungan antara merokok dan TB pertama kali dilaporkan pada t ahun 1918. ada didapatkan respons antibodi terhadap berbagai antigen berkurang secara nyata akibat pajanan kronik asap rokok. bronkus dan bronkiolus yang membentuk saluran udara yang memasok udara ke paru memberikan garis pertahanan pertama dengan mencegah kuman T untuk mencapai alveoli. Sitokin-sitokin ini sangat penting untuk respons awal pertahanan lokal untuk infeksi kuman termasuk T Dalam berbagai studi menunjukkan B.agregasi limfosit dengan sel Tdan sel B bisa terbentuk pada sisi tersebut.21 dan usia muda. merokok telah ditemukan berhubungan dengan penurunan tingkat sitokin proinflamasi yang dikeluarkan. dengan demikian hubungan defek sel NK menyebabkan peningkatan risiko infeksi dan kanker.25 Bukti menunjukkan bahwa sel NK memiliki peran dalam pertahanan bawaan dalam melawan agen mikrobial dan prot eksi ant i t umor. sitokin pro inflamasi dan pelepasan kemokin. namun ada banyak bukti menurunnya pertahanan saluran napas berpengaruh pada kerentanan terhadap infeksi TB pada perokok. ini lebih dari 50% pasien T di Amerika berasal dari beragam B negara dalam berbagai tahap epidemi tembakau dan faktorfaktor risiko untuk T berbeda antara penduduk pendatang B dan penduduk asli kelahiran Amerika.Mekanisme past i yang menghubungkan merokok dengan TB tidak sepenuhnya 21 Jurnal Tuberkulosis Indonesia. hal ini berhubungan dengan sosial ekonomi. P ajanan asap rokok melemahkan aktivitassitotoksik danproduksi sitokin sel NK pada manusia dan tikus. peminum B alkohol. P ada paru sel dendritik (DCs) merupakan sel antigen paling poten dan sangat diperlukan untuk inisiasi sel T diduga memiliki kerentanan yang tinggi dan terhadap rokok karena posisinya didalam lumen dan berada langsung dibawah epitel paru. membantu produksi antibodi patogen dan menyebabkan penyakit autoimun. Studi retrospektif yang dilakukan di Dublin pada 160 kasusantara bulan April 2007 hingga April 2008 didapatkan bahwa merokok berhubungan secara bermakna terhadap pemanjangan waktu konversi kuman T pada pasien yang B sedang mendapat t erapi obat antiTB.24 Di Amerika ada sejumlah kesulitan dalam menilai merokok sebagai faktor risiko untuk infeksi T Di antara B. dan kebiasaan merokok yang tinggi.Studi pada hewan coba dilaporkan terdapatnya penurunan jumlah DCs tergantung pada tipe sist em pajanan rokok.23 Studi kasus kontrol pada 111 pasien B BTA positif dengan 333 kontrol yang dilakukan di India pada bulan Sept ember 2004 hingga Agust us 2005 didapatkan peningkatan terjadinya infeksi T pada perokok B sebesar 3. indeksmassa tubuh dan status sosial ekonomi. Di Amerika merokok menjadi semakin terkonsentrasi pada populasi dengan sosial ekonomi rendah yang mengarah pada faktor risiko lain untuk T seperti HIV. Beberapa studi menunjukkan pada perokok dapat menurunkan jumlah dan aktivasinya berkurang pada perokok dibandingkan bukan perokok. dan heterogenitas antar kelompok risiko T Saat B. bahwa jumlah dan durasi merokok aktif berpengaruh terhadap risiko infeksi TB sedangkan pada perokok pasif berhubungan dengan peningkatan kejadian T pada anak B 4. Penelit ian lain menunjukkan meningkatnya angka kekambuhan penderita T yang merokok. Makrofag alveolar paru yang merupakan pertahanan utama terjadi penurunan fungsi fagositosis dan membunuh kuman pada individu yang merokok. standar pelayanan kesehatan.19 Gambar 1. tunawisma.8 kali dibandingkan yang tidak merokok dan berhubungan dengan jumlah rokok. T rakea. Hal ini dilakukan dengan sitotoksisitaslangsung yang mencetuskan apoptosis. S etelah berhenti merokok jumlah DCsmakin meningkat dan serupa dengan kontrol orang sehat yang tidak merokok. Studi yang dilakukan t erhadap penduduk asli dan pendat ang di Aust ralia menunjukkan bahwa angka kejadian T cenderung lebih B tinggi pada penduduk pribumi.8 .20.22. seperti dilaporkan pada diabetes. Merokok terbukti dapat B mengganggu bersihan mukosilier. Hilangnya pertahanan mukosa dapat mengakibatkan kolonisasi bakteri seperti yang terjadi pada 30% perokok jangka panjang dengan PPOK. Merokok juga dapat menurunkan level semua kelas imunoglobulin kecuali Ig E P studi dengan hewan coba . Dalam penelitian ini lama dan jumlah rokok juga berpengaruh terhadap perkembangan TB. Proses otoimun berperan pada timbulnya penyakit yang berhubungan dengan rokok. Gangguan sitem imun di paru akibat merokok Dikutip dari (19) dipahami. Vol. Studi klinis menunjukkan bahwa jumlah DCsberkurang pada sebagian besar jalan napas pasien ppok yang merokok.

mempengaruhi tingkat kematian T dan mengurangi beban B kesehatan masyarakat dan dengan berhenti merokok bisa mengurangi hampir sepertiga dari kematian akibat T Risiko B. Y WW.whql i bdoc.29 KESIMPULAN 1. T secara aerosol. Lam T Ho KS. Jurnal Tuberkulosis Indonesia. Merokok secara substansial memperburuk risiko kematian pada mereka dengan riwayat infeksi T kematian pada penderita yang merokok dilaporkan B. Lebih dari 20% laki-laki dewasa adalah perokok aktif dan kejadian T sebesar 100 B per 100. Risk oft uberculosis from exposure to tobacco smoke. 2. infeksi HIV dan fakt or yang berpengaruh lainnya. 2007. Chang L. WHOreport on the Global tuberculosis control report. Ini dampak kesehat an yang besar pada peningkat an kesehat an masyarakat terutama bila diterapkan ke negara-negara seperti Cina.Meskipun beberapa penelitian telah menunjukkan hubungan antara merokok dan T banyak dari mereka B.T CM. Bates MN. Asap rokok memiliki efek baik pro. Smith KR. Prevalens merokok jauh lebih tinggi pada laki-laki dari pada perempuan. Merokok dan T masih menjadi masalah kesehatan yang B penting dinegara maju dan negara berkembang. 2009.000 penduduk pertahun dan banyak terjadi pada laki-laki dengan usia diatas65 tahun. Berhenti merokok telah ditunjukkan B untuk mengurangi kejadian T sehingga perlu peningkatan B. World Health Organization.7%). India yang memiliki prevalensi merokok dan angka kejadian T lebih tinggi. Aditama T Youth tobacco Indonesian experience. 2010. T dapat dikurangi dengan hampir dua pertiga jika seseorang B berhenti merokok adalah bukti kuat dalam peran penting dari merokok dalam penanggulangan T Seperti merokok B. Merokok meningkatkan risiko infeksi Mycobacterium tuberculosis. Berhenti merokok memiliki manfaat bagi perokok jauh melampaui mengurangi risiko T tetapi pengendalian tembakau yang baik dapat B. Leung CC.167:335-42. 5.i nt / publ i cat i ons/ 2011 / 9789241564380_eng. P engendalian penggunaan tembakau berhasil dalam mengurangi merokok baik dapat mempengaruhi tingkat kematian T dan mengurangi hampir B sepertiga (30. didasarkan pada infeksi atau angka kematian. St udi dengan hewan coba t ikus yang mendapat kan pajananM. risiko berkurang secara substansial dan mirip dengan mereka yang tidak pernah merokok.10:69-84.2011. Di HongKong merokok dan T merupakan dua kondisi yang B umum dijumpai. alkohol. 4. Available f rom: URL: ht t p// www. Zainul Z. Berhenti merokok berperan dalam global tuberculosis control dan mengurangi kematian pada penderita T B. T dan B virus influenza pada fisiologi hewan coba sehingga meningkatkan kerentanan terhadap kedua patogen. . Lessa F aI . 2. 4. penelitianpenelitian tersebut memiliki berbagai keterbatasan seperti desain kasus control atau potong lintang ukuran sampel kecil.pdf. Arch Intern Med. sebesar 61% di India dan 32. pada penderita T yang merokok.21.(Online). Dengan dua pertiga dari laki-laki Cina merokok dan sekitar tiga juta kasus T sehingga pedoman pencegahan dan penanganan B yang baik terus dilakukan. didapatkan bahwa produksi B int erferon ³(IFN ³)oleh sel T akan menurun dengan penurunan faktor transkripsi yang mengatur ekspresi IFN ³ pada tikus yang diberi pajanan asap rokok.7%) dari beban kesehatan masyarakat yang telah lama mengganggu penduduk Taiwan. Chan H.inflamasi dan imunosupresif pada sistem imun saluran pernapasan.who. tapi begitu mereka berhenti. P assive smoking and tuberculosis. P B enelitian ini menemukan bahwa tidak satupun dari kedua senyawa tersebut dapat meningkatkan perlawanan terhadap T diantara laki-laki B perokok. St udi ini memberikan demonstrasi pertama bahwa pajanan asap rokok secara langsung menghambatr esponsselTuntuk M. P M. Merokok berhubungan dengan peningkatan kerentanan terhadap influenza dan T B. E xceli Journal. ew am WM. Dark nights behind the white clouds-risk of tobacco smoking on human health besides the oral health ang malignancy.26.28 Sebuah penelitian yang menghubungkan pengaruh vitamin terhadap penderita T yang merokok didapatkan bahwa suplemen B vitamin E menyebabkan peningkatan sementara dalam kejadian T pada perokok berat dengan diet tinggi asupan B vitamin E Vitamin A dan Etidak meningkatkan respon imun . Vol. Indonesia smoking control foundation.170:287-92. DAFTAR PUSTAKA 1. 3. pengetahuan dan penelitian tentang manfaat dari berhenti merokok untuk mengurangi angka kematian. 2011(cited 2011 November 17). dan kekurangan dalam data sosial ekonomi. sebanyak sembilan kali lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah merokok.27 P erokok memiliki angka kematian akibat T sangat B tinggi. Khalakdina A. risiko perkembangan penyakit dan kematian pada penderita T B. 3.8 22 .Y Mumbai. et al. India.8% di Hongkong. bertanggung jawab untuk lebih dari sepertiga kematian akibat T di T B aiwan (37. Arch Intern Med. Sebaliknya vitamin E t ampaknya cenderung meningkatkan kejadian T pada peserta yang merokok berat B dan telah mendapatkan diet asupan vitamin Csebesar 90mg/ hari atau lebih .

PDPI. International Journal of T uberculosis and Lung Disease. British Journal of Nutrition.65:1010-5. 14. and tuberculosis in China: a time-based.393. Anderson G. Mills E Wu P Spurden D. Ganguly D. Davidow AL. Cohen T Colijn C. Berhenti merokok. Murray M. New Zealand. Ehrlich RI. 28. E J. Salma K. . E . BMC Public Health. 8. 2009. Davies P Y W W. Dheda K.2007. Hnizdo E White N. Smoking cessation in indigenous populations of Australia. 10. http:// rial www. S iddiqui UA. E nviron. P essoa M.html(Accessed September 9. P . Jakarta 2011. Ir Med J. 9:292. 2006.37 (4):841-51. Enarson DA. . Canada. Hemila H. modelling study.4(4): 208–10. 23 Jurnal Tuberkulosis Indonesia. BMC Infect Dis. Churchyard GJ. 2008. Stämpfli M. her uberculosis risks by smoking cessation.2007:173-89. T . Public Health. Wang J. 26. indoor air pollution and tuberculosis: A systematic review and meta-analysis. A casecontrol study of tobacco smoking and tuberculosis in India Ann T horac Med. b quit smoking. 22. attern of default among tuberculosis patients on directly observed therapy in 19. Lin HH. Reichman . Li T Lam T Y WW.2008. 2004. 7.2011. Law WS. Cheng T . Davidson PM. 372(9648): 1473–83. 2011). 2009. Giacomo M. Nazzal K. Amoran O Osiyale O Lawal K. Leung C. Am J Respir Crit Care Med. lung disease and cancer.10:156. 21.6. Kane M.ox. WHO/HTM/TB/ 2008. Bjartveit K. 3(5): 90-5. 17. et al. 9. uk/~tobacco (2009). Exposure t o cigaret t e smoke inhibit s t he pulmonary T-Cell response to influenza virus and Mycobacterium tuberculosis infection and immunity.t erm smoking abstinance: A systematic review and meta-analysis. 9: 34-9 Lin HH. H. 25. Revisi pertama Juli 2011. Shen H. 2010. et al. 2008. 29. T eto hun M.ac. Rodrigues L. T obacco smoke. Gupta P et al. .Wilson K.Jakarta: 9-19 Udwadia F Finto L. Kaprio J. rural primary health care centresin O State. Abbott P . 18. P erhimpunan Dokter P aru Indonesia. How cigarette smoke skews immune responses topromote infection. 24. 27. Ximenes RA. WHO. 2011. . ew am al. 1950–2005. S moking prolongstheinfectivity of patients with tuberculosis. Ross J. Smoking increasesthe risk of relapse after successful tuberculosis treatmen. S moking and tuberculosis among the elderly in Hong Kong. Wen CP Chan T Chan HT T MK. andthe United States: Elements of effective interventions.ctsu. lung cancer. Smoking and tuberculosis: t he epidemiological association and immuno pathogenesis. E xcess lung function decline in gold miners following pulmonary tuberculosis. . .p 4-12 Mehta1 H. Vol. E zzati M. AgarwalS. Cigarette smoking and innate immunity. R. Res. multiple risk factor. bbert J. T verdal A. Garg S. T horax. T obacco Control. P R. Health consequences of smoking 1–4 cigarettes per day. 2010. Chiang C. . 103(9):278-80. Geneva: World Health Organization. Inflamm Res J.9-10. 8: 388-410. 2009. Batista J. et . Harm Reduction Journal.Lancet . Murray M. Davison P Moore L. Qureshi S. Pedoman diagnosis dan penatalaksanaan di Indonesia. ew L. Review of cigarette smoking and tuberculosis in China: intervention is needed for smoking cessation among tuberculosis patients. Indian J ChestAllied Sci. 6:25. Fanning A. 23. 2005. PDPI.79(1): 229-37. 15. zzati M.53. T ransactions of the royal society of tropical medicine and hygiene . Dawar S. Kabir Z. gun Journal of InfectiousDiseasesand Immunity.8 .170: 1027–33. hompson S. P enelope A. PLoSMedicine. Immunology. T .14:315– 20. Feng Y Kong Y Barnes PF Huang F Klucar P Wang X. 2008. Int. OT ’ oole M. 20. J. Boreham J. Vitamin E supplementation may transiently increase tuberculosis risk in males who smoke heavily and have high dietary vitamin intake. C. Nigeria. 12.2011. 16. obacco and tuberculosis: a qualitative systematic review and meta-analysis. 2009. Tuberkulosis. sai Y sai SP T reduction of T . S adikot1 R. Why stop T is uncomplete without . 2011. E ffects of smoking and solid-fuel use on COPD. 291-8. 11. E fficacy of pharmacot herapies f orshort . T CM. P edoman penatalaksanaan untuk dokter Indonesia. University of Oxford Clinical T Service Unit [online].57:497–503. Availableonlineat http://www. Mortality from smoking in developed countries. T . Int J E pidemiol. et al. 104961. Lopez A. Hassmiller K. 2008.who. . 13. Suryakant PR. . P erhimpunan Dokter P aru Indonesia.100:896–902.2010.int/tb/publications/ globalreport/2008/en/index. Global T uberculosis control. Gibbons N.

P orang dengan ada HIV yang bekerja pada tempat berisiko tinggi seperti fasilitas kesehatan. Infeksi T paru diukur ketika seseorang yang B diduga menginhalasi droplet yang mengandung bakteri Mycobacterium tuberculosis (M. walaupun persentase kasus T paru B dengan status HIV tidak diketahui meningkat dari 28. tb). Berdasarkan strukturnya HIV termasuk famili retrovirus yang merupakan virus RNA (Ribonucleacid Acid) dengan berat molekul 9. Respons sistem imun membatasi multiplikasi basil tuberkel 2–12 minggu setelah infeksi. Data dari RS propinsi di Jayapura menunjukkan pada triwulan pertama 2007. T ahun 1986 HIV-2 berhasil diisolasi dari pasien di Afrika Barat. mungkin merefleksikan kesulitan pemeriksaan HIV atau ketidaklengkapan hasil pemeriksaan HIV.1 Kasus T paru di Amerika rata-rata menurun menjadi B 46 kasus baru T paru per 100.2 Pada daerah endemik TB t erdapat hubungan yang tinggi jumlah CD4 (cluster of differentiation) dengan waktu perkembangan T B-HIV. P BI ersentase kasus T paru dengan HIV juga menurun dari 15% (2003) B menjadi 12.18 HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS Human Immunodeficiency Virus adalah virus sitoplastik dari famili Retroviridae. Kematian akibat penyakit ini pada beberapa negara meningkat sampai 50%. 13 diantara 40 pasien T ternyata positif HIV.0% pada seluruh populasi.7% (2006).4 P emeriksaan mikroskop elektron memperlihatkan HIV memiliki banyak tonjolan eksternal yang dibentuk oleh 2 protein utama envelope virus yaitu glikoprotein (gp) 120 di sebelah luar dan gp 41 yang terletak di transmembran.000 populasi (total 13767 B kasus) yang dilaporkan pada tahun 2006 dan diprediksi prevalensi kasus LT 4. biasanya sekitar 2 bulan setelah diagnosis T ditegakkan. Data klinik P I (P B PT erkumpulan P emberantasan T uberkulosisIndonesia) di Jakarta sejak 2004– 2007 menunjukkan prevalens HIV pada pasien dugaan T B paru dengan faktor risiko antara 3–5% dan prevalens pada pasien Tb paru antara 5–10% dengan kecenderungan meningkat setiap tahunnya. Rata-rata progresif menjadi T paru aktif pada B orang dengan infeksi HIVberkisar antara 35–162/1000 orang/ t ahun observasi.16 T tahun diperkirakan terjadi 239 kasus baru T iap B paru per 100.3 T paru menjadi B B penyebab utama kematian pada orang dewasa yang terinfeksi HIV.2 Orang dengan LTBI diprediksi berubah menjadi T B paru aktif sebesar 12. VirusHIV pertama kali diidentifikasi oleh Luc Montainer di Inst itut Past eur Paris t ahun 1983 disebut HIV. Karakteristik virus sepenuhnya diketahui oleh Robert Gallo di Washington dan Jay Levy di San Fransisco tahun 1984. Seseorang dengan LTBI tidak memberikan gejala dan tidak menularkan. RS P ersahabatan.9% per 1000 orang pertahun dari hasil observasi.8 24 . Keterlambatan dalam penegakan B diagnosisT paru mungkin menjadi kontributor yang penting B dalam menyebabkan tingginya angka kematian. Saat ini belum ada angka nasional yang menunjukkan gambaran HIV di antara pasien T paru. Glikoprotein 120 memiliki afinititas tinggi terutama regon V3 terhadap reseptor CD4 sehingga bertanggung jawab pada Jurnal Tuberkulosis Indonesia.8% secara nasional (berdasarkan laporan WHO2007). Vol. Survei yang dilaksanakan oleh Badan P enelitian dan P engembangan Departemen Kesehatan (Litbangkes) 2003 menunjukkan bahwa pasien dengan koinfeksi T B-HIV pada umumnya ditemukan di RS (Rumah Sakit) dan Rutan (Rumah Tahanan) atau Lapas (Lembaga P emasyarakatan) di beberapa propinsi ditemukan T paru sebagai infeksi oportunis utama pada pasien AIDS B di RS. Kondisi basil tuberkel persisten selama bertahuntahun berubah menjadi Latent T uberculosis Infection (LT BI). T uberkulosis paru dapat berkembang segera setalah terpajan (penyakit primer) atau setelah reaktivasi dari LT (Reactivation Disease).7 kilobases (kb).1. unit terapi obat-obatan atau tempat tunawisma dapat meningkatkan risiko terkena T paru. Jakarta PENDAHULUAN T World Health Organization (WHO) memprediksi he bahwa penyebab kematian orang dengan Acquired immuno deficiency syndrome (AIDS) adalah tuberkulosis (T paru B) sebesar 13%.4% (2006). P BI enyakit primer berjumlah sekitar 1/3 atau lebih kasus pada populasi dengan T B-HIV (Human Immunodeficency Virus).TUBE RKULOSIS DAN HIV-AIDS Arief Riadi Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Studi pertama B tentang sero prevalensi yang dilaksanakan di Yogyakarta menunjukkan angka 2%.7% (2005) menjadi 31.000 penduduk dengan estimasi prevalens HIV diantara pasien TB paru sebesar 0.

T anpa diimbangi upaya intervensi maka dari waktu ke waktu jumlah limfosit T -CD4 akan semakin rendah membuka peluang infeksi sekunder dan muncul manifestasi klinik AIDS hingga sepsis (Gambar 2). tuberculosis juga mengaktifkan replikasi HIV-1 pada CD4 T limfosit yang terinfeksi laten. M. Struktur HIV Dikutip dari (4) CD4 adalah reseptor spesifik pada sel pejamu untuk terjadi infeksi HIV yang mempunyai afinitas tinggi tehadap HIV terutama terhadap molekul gp 120. Masuknya monosit kedalam sel dendrit dapat memfasilitasi trasmisi HIV-1 ke CD4 T limfosit yang apabila berdiferensiasi ke M. Kontak yang terjadi mengakibatkan limfosit Tterpacu sehingga mengalami stres dengan berbagai perubahan. tuberculosis dapat menyebabkan infeksi lanjut pada CD4 sel T limfosit dan monosit.1) yang mengaktifkan replikasi HIV-1. makrofag terinfeksi oleh M. Sel target utama adalah sel yang mampu mengekspresikan reseptor CD4 antara lain astrosit. (T CD43 kemudian bersama-sama CD28 mempengaruhi CR) HIVmenjadi lebih aktif.4 Human immunodefisiency virusyang berada di dalam limfosit T -CD4 akan teraktivasi oleh pengaruh reseptor CD43 dan akan menginduksi pembentukan kompleksT -cell reseptor Gambar 2. Diantara sel tubuh yang mempunyai molekul CD4 paling banyak adalah sel limfosit-T Infeksi HIVdimulai dengan penempelan viruspada . Koreseptor lini kedua adalah chemokine reseptor 5 (CCR5) dan chemokine reseptor 4 (CXCR4). tb ada B yang akan mengekspresikan TNF-á bersamaan dengan Monocyt e Chemot act ic Prot ein 1 (MCP. Langerhan’ dan s dendritik. P eningkatan aktivitas limfosit T -CD4 yang terinfeksi HIVakan menginduksi T -helper 1 (T h-1) mensekresi Interleukin (IL)-1â.000. T umor necrosis factor (T NF)-á dan Interferon (IF N)-ã sehingga kadar didalam darah meningkat. Bila jumlah CD4 mencapai atau melampaui batas kritis d” 200 sel/mm3 berarti telah memasuki stadium AIDSdengan atau tanpa manifestasi klinik.8 .awal int eraksi dengan sel t arget . Viremia yang terus meningkat akan berusaha menyerang limfosit T. terekspresi tersebut menjadi aktivator baik terhadap limfosit T -CD4 sendiri maupun terhadap HIV. Produksi HIVselama infeksi mencapai 109-1011 partikel virus perhari bila berlangsung tanpa upaya pengobatan dapat meningkatkan jumlah virus mencapai 500-1. mikroglia. tb dapat menyebabkan berkembang menjadi infeksi laten HIV-1 (Gambar 3). M. Vol. sedangkan gp 41 bertanggung jawab dalam proses internalisasi atau absorbsi (Gambar 1). TNF-á menginduksi replikasi HIV dimediasi dengan peningkatan aktifitas NF-kB di sel mononuklear. monosit-makrofag. Fase kronik akan terjadi penurunan 70 sel/ìl setiap tahunnya.4 Gambar 1. Fase akut akan terjadi penurunan dramatiskadar CD4 sampai kurang dari 1000/mm3 dan naik kembali saat serokonversi.000 kopi HIV-RNA per ml. Patofisiologi HIV-AIDS Dikutip dari (4) P T paru aktif. Manifestasi klinik dapat terjadi pada jumlah limfosit T -CD4 relatif normal (CD4 e” 500 sel/mm3) atau terjadi penurunan sedang (CD4 d” 200 sel/mm3). IL-2.8 25 Jurnal Tuberkulosis Indonesia. Ikatan semakin kuat dengan kehadiran ko-reseptor kedua yang memungkinkan gp 41 menjalankan fungsinya sebagai perantara masuknya virus ke dalam sel target. T Long T he erminal Repeat (LTR) HIV mengandung 2 NF-kB. P erubahan diawali dengan ekpresi reseptor CD43 (sialophorin) pada permukaan limfosit T Reseptor CD43 yang .4 PATOGENESIS TB-HIV P erjalanan infeksi HIVdi dalam tubuh manusia diawali interaksi gp 120 pada selubung HIV berikatan dengan reseptor spesifik CD4. limfosit.4 Proses internalisasi limfosit Toleh HIV selain terjadi perubahan melalui aktivasi limfosit T -CD4 maupun HIVjuga membangkitkan timbulnya protein stres temasuk heat shock protein 70 (Hsp70). reseptor CD4 limfosit-Tsetelah penempelan terjadi fusi kedua membran (HIV dan limfosit) sehingga seluruh komponen virus masuk ke dalam sitoplasma sel limfosit-T4 . Ikatan terjadi akibat interaksi gp 120 HIV dengan CD4.CD4 berikutnya.

5 T abel 1.8 26 . T ahap ketiga Merupakan tahap simptomatis. P selaput mulut ada terjadi sariawan berulang. infeksi jamur seperti histoplasmosis. Dapat t erjadi berbagai macam inf eksi berupa Minor DIAGNOSIS Seseorang dengan infeksi HIV. Keluhan penderita lebih spesifik dengan gradasi sedang sampai berat. T paru. infeksi bakteri pada saluran napas atas. infeksi virus herpes. bronkus. G ejala yang muncul berupa berat badan turun lebih 10%. namun pemeriksaan kultur mikobakterium tetap dikerjakan. T ahap keempat Merupakan tahap lanjut atau tahap AIDS. 3. Diare kronik lebih dari satu bulan Demam lebih 1 bulan Penurunan kesadaran dan gangguan saraf E nselopati HIV Batuk menetap lebih satu bulan Dermatitis generalisata Herpes zoster berulang Kandidiasis orofaringeal Herpes simpleks Limfadenopati generalisata Infeksi jamur berulang pada alat kelamin perempuan Retinitis karena virus sitomegalo Dikutip dari (8) Gambar 3. diare lebih 1 bulan. kandidiosis pada esofagus. demam yang tidak diketahui penyebabnya berlangsung selama 1 bulan. Ini seperti terapi dengan obat anti retrovirus dan terapi preventif dengan izoniazid dapat mulai diberikan pada orang yang tidak ada gejala. BI menunjukkan negatif. T ahap pertama Merupakan tahap infeksi akut. kandidiasis oral. nyeri menelan dan pembesaran kelenjar getah bening. P tahap ini muncul ada gejala tapi tidak spesifik. Gejala klinik HIV dapat dibagi menjadi 4 tahap yaitu :4 1. pemeriksaan untuk T B paru termasuk dengan menanyakan tentang kombinasi dari gejala klinik yang terdapat pada pasien dan tidak hanya menanyakan keluhan batuk saja. trakea. Vol. T ahap kedua Merupakan tahap asimptomatis. rasa letih. namun penderita dapat melakukan aktifitas meskipun terganggu. oral hairy leukoplakia.16 a) Diagnosis of Latent Tuberculosis Infection (LTBI) Semua pasien yang didiagnosis HIV sebaiknya diperiksa LT Seseorang dengan hasil pemeriksaan LT BI. Dapat juga dit emukan keganasan termasuk keganasan kelenjar getah bening dan sarkoma kaposi. keadaan asimptomatis berkepanjangan hinggga manifestasi AIDS berat. paru. toksoplasmosisotak. penyakit sitomegalovirus. T ahap ini muncul 6 minggu pertama setelah pajanan HIV berupa demam. 4. Patofisiologi T B-HIV Dikutip dari (8) GEJALA KLINIK HIV Gejala klinik HIV merupakan gejala dan tanda infeksi virus akut. T ahap ini berlangsung selama 6 minggu sampai beberapa bulan atau tahun setelah infeksi tetapi penderita masih normal. Berat badan menurun tetapi tidak sampai 10%. Gejala mayor dan minor HIV Gejala Mayor Karakteristik Berat badan menurun lebih 70% dalam satu bulan. 2.pneumocystis pneumonia. P B enderita hanya berbaring ditempat tidur lebih dari 12 jam sehari selama sebulan terakhir. DiagnosisAIDSdi Indonesia dibuat bila terdapat uji HIV positif dan sekurang-kurangnya didapatkan satu gejala mayor dan satu gejala minor (Tabel 1). P tahap ini gejala ada dan keluhan menghilang.4. nyeri otot dan sendi. Derajat dan berat penyakit dit ent ukan sesuai ketentuan WHOmelalui stadium klinik pada orang dewasa. P enderita lebih banyak di tempat tidur. infeksi HIV lanjut (CD4+ < 200 cell/ L) dan tanpa indikasi pemberian terapi empiris LTBI seharusnya dilakukan kembali uji LT ketika mulai terapi BI Jurnal Tuberkulosis Indonesia.

. P umumnya uji rutin ada untuk LTBI direkomendasikan untuk orang terinfeksi HIV yang termasuk kategori resiko tinggi untuk berulang atau terpajan idividu dengan T paru. tuberculosis-spesific peptides telah dikembangkan untuk mendiagnosis LTBI. Setiap pasien dengan HIV dan uji LTBI positif seharusnya dilakukan foto toraks dan evaluasi klinik untuk T aktif. juga disebut Direct Amplification Test dapat langsung diterapkan pada spesimen klinik seperti dahak dan sangat membantu dalam proses evaluasi pasien dengan hasil hapusan dahak positif. Vol. cough.13 Lesi fibrotik yang sesuai dengan T kadang B secara insidental ditemukan pada gambaran foto toraks. orang dengan hidup dengan B faktor risiko terinfeksi HIV.8 .ART dan kadar CD4+ e 200 cell/ L. P ada orang dengan hasil dahak negat if atau penyakit ekstraparu maka penggunaan NAA harusdigunakan dan diinterpretasikan sesuai dengan penyebabnya.16 Uji Nucleic acid amplication (NAA). dipertimbangkan positif pada pasien terinfeksi HIV dengan indurasi e” 5 mm yang timbul setelah 48–72 jam setelah penyunt ikan secara int radermal 0. kelenjar limfe. Sampel dari dahak dan kultur seharusnya didapatkan dari pasien dengan gejala paru dan kelainan gambaran foto toraks. tuberculin test or interferon- release assay) in HIV-infected person P keadaan HIV dengan immunosupresi lanjut T ada ST dan IG dapat menunjukkan hasil negatif palsu. etc.8 B Diagnosis LTBI dapat dilakukan dengan satu atau dua pendekatan.g. Hasil positif lebih sering didapatkan pada penyakit paru dengan kavitas.. pecandu aktif. cairan pleura dan perikardial harus dilakukan. P pasien HIV dengan CD4+ <200 cell/ L dengan ada lesi fibrotik yang sesuai dengan T pada gambaran foto B t oraks dan t idak ada riwayat t erapi sebaiknya dipertimbangkan infeksi T dengan mengabaikan hasil dari B uji LT P keadaan seperti ini disarankan diberikan terapi BI. fever. hubungan korelasi yang S) baik akan menggantikan pengukuran terpajannya M.) Alternative cause identified for symptoms and abnormal chest radiograph Active tuberculosis excluded with negative smears and cultures in the setting of low suspicion Moderate to high suspicion or evidence for active tuberculosis Initiate treatment for LTBI Initiate four-drug regimen for active tuberculosis Gambar 4.g. ada empirik sambil menunggu hasil uji diagnosis lebih lanjut. Hasil positif NAA pada hapusan dahak sangat merefleksikan TB aktif. Seseorang dengan lesi fibrotik seharusnya menjalankan uji diagnosis LT dan dievaluasi untuk penyakit aktif. Hasil 27 Jurnal Tuberkulosis Indonesia. congregate setting. Hasil pengambilan dahak 3 hari lebih disarankan pagi hari dapat meningkatkan hasil dari hapusan dan kultur. pemeriksaan dahak dan kultur B seharusnya diperiksa walaupun pasien tidak menunjukkan gejala. Gambaran normal foto toraks tidak dapat menyingkirkan kemungkinan T aktif ketika kecurigaan terhadap penyakit B ini tinggi dan sampel dari dahak tetap harus didapatkan. P BI ada keadaan yang telah diketahui sebelumnya telah mendapat terapi T secara adekuat.14 b) Diagnosis TB Paru Aktif Negative Positive Contact to a case of active tuberculosis Chest radiography Clinical evaluation No Yes CD4+ T-lymphocyte count > 200 No symptoms and normal chest radiograph Symptoms (e.15 ST E valuasi dugaan HIV yang berhubungan dengan T B seharusnya dilakukan pada pemeriksaan foto toraks yang merujuk kepada kemungkinan lokasi anatomi penyakit.1 mL.” dilepaskan untuk merespon M. Diagram alur diagnosis LT BI-HIV Dikutip dari (10) P enelitian saat ini menyarankan bahwa Interferron Gamma Relation Assay (IGRA) lebih konsisten dan tinggi spesifitasnya (92–97%) dibandingkan dengan T uberculin S ensitiviti Ujit (T T sebesar 56–95%.9 P ada pasien dengan tanda T ekstraparu. Kultur darah dari mikobakterium dapat membantu pasien dengan tanda penyebaran penyakit atau perburukan imunodefisiensi. atau memiliki faktor risiko sosial demografi untuk TB. Uji tuberkulin dengan metode Uji Mantoux. tb dan kurang terjadinya reaksi silang terhadap vaksin Bacillus Calmette-Guerin (BCG) at au t erpajan nontuberculous mycobacteria lainnya dibandingkan dengan T .9 Test for LTBI (e. Sekarang ini penggunaan met oda in vit ro dengan mendet eksi IFN. weight loss) OR abnormal chest radiograph No Yes Evaluate for active tuberculosis (obtain samples for AFB smear and culture) Retest for LTBI once ART started and CD4+ Tlymphocyte count > 200 Treatment for LTBI not indicated Retest annually if on going high risk of tuberculosis exposure (endemic area. Hasil dari pemeriksaan hapusan dahak dan kultur yang berasal dari spesimen ekstraparu lebih tinggi diantara pasien imunodefisiensi lanjut dibandingkan dengan orang yang tidak terinfeksi.11.12 Serost at us HIV t idak mempengaruhi hasil dari pemeriksaan hapusan dahak dan kultur. Lebih dari ¼ dari pasien HIVdengan penyakit T paru menunjukkan B hasil negatif palsu. aspirasi B jarum halus atau biopsi dari lesi kulit.12 Frekuensi RAs terjadinya negatif palsu dan tidak dapat digunakannya hasil IGRA meningkat secara paralel dengan berlanjut nya imunodefisiensi.

Walaupun dengan gambaran foto toraks normal. pericarditis dan meningitis) dengan atau tanpa keterlibatan paru ditemukan pada gejala mayor dengan jumlah CD4+ < 200 cell/ L. Pada pasien dengan imunodefisiensi berat dan kadar mikobakterium yang tinggi. Pada beberapa pasien TB dapat menjadi penyakit sistemik yang berat dengan demam tinggi.8 Peningkatan derajat imunodefisiensi. Limfadenopati mediastinum juga dapat ditemukan. progresif. aspirasi jarum halus. T ujuan utama algoritma diagnosisadalah membantu keputusan klinik di daerah dengan prevalensi HIV tinggi dan mengurangi angka kesalahan diagnotik dan kematian. T ekstraparu B (limfadenitis. Penemuan histopatologi juga dipengaruhi oleh derajat imunodefisiensi. gambaran infiltrat milier lebih biasa dan kavitas lebih jarang. gejala klinik HIV kurang nyata dan apabila daerah tersebut tidak termasuk kedalam prevalensi HIVyang tinggi maka dilanjutkan penegakan diagnosissesuai dengan pedoman yang berlaku. pleuritis.d Consider treatment for PCP e Sputum AFB and culture b HIV test b.c CXR b Immediate referral not possible Parenteral antibiotic treatment for bacterial infection b.8 Gejala ekstraparu lebih sering timbul pada pasien HIV dibandingkan pada pasien yang tidak terinfeksi HIV.8 1st visit AFB-positived HIV+ or status unknownc Diagram alur diagnosis pasien T dengan HIV+ dengan B kondisi jelek AFB-negatived Dikutip dari (19) 2nd visit 3rd visit 4th visit GEJALA KLINIK TB-HIV Treat for TB CPTd HIV assessmentf TB likely CXRg Sputum AFB and cultureg Clinical assessmentg TB unlikely Treat for PCPi HIV assessmentf Treat for bacterial infectionh HIV assessmentf CTPe Response j No or partial response Response j Reassess for TB Diagram alur diagnosis pasien T dengan HIV+ pada pasien B rawat jalan Dikutip dari (19) Individu yang terinfeksi HIV pada T paru aktif sangat B dipengaruhi oleh derajat imunodefisiensi. lobus tengah. Apabila hasil pemeriksaan HIV negatif. Vol. pasien terinfeksi HIV dan T paru B dapat memberikan hasil dahak yang positif dan hasil kultur. Pada lobus bawah. biopsi jaringan) mewakili beberapa bentuk penyakit mikobakterium namun tidak selalu T 16 B.8 B G ejala klinik T paru pada pasien dengan HIVtergantung B dari derajat imunosupresi sebagai hasil dari infeksi HIV.positif dahak dari berbagai spesimen (dahak. dan sindoma sepsis. walaupun manifestasi klinik antara pasien terinfeksi HIV dengan tidak terinfeksi HIV tidak secara substantial berbeda. Pasien dengan fungsi relatif imun terdapat tipikal inflamasi granulomatosa yang diasosiasikan dengan penyakit TB. Apabila gejala klinik dan pasien berasal dari wilayah dengan prevalensi HIV tinggi maka penegakan diagnosis sesuai algoritma (Gambar 4).6 Pada pasien terinfeksi HIV dengan CD4+ > 350 cell/ L gejala klinik T sesuai dengan B pasien TB tanpa HIV. Algoritma digunakan pada pasien dewasa dengan keluhan batuk selama 2–3 minggu dan berdasarkan kondisi pasien.c HIV+ or unknow f No tuberculosis Treat tuberculosis AFB-positive g AFB-negative g Improvement after 3-5 days No Improvement after 3-5 days AFB HIV testb Reassess for other HIV-related disease TB unlikely Reassess for tuberculosis h Start TB treatment Complete antibiotics Refer for HIV and tuberculosis care P pasien dengan sakit berat perlu segera dirujuk ada ke pusat rujukan atau yang memiliki fasilitas lebih lengkap. Algoritma akan memberikan efek yang signifikan pada diagnosis T paru dengan HIV/AIDS dan akan membantu B penanganannya secara terintegrasi. Pasien 28 .19 Ambulatory patient with cough 2-3 weeks and no danger signsa Seriously III patient with cough 2-3 weeks and danger signsa Referral to higher level facility Parenteral antibiotic treatment for bacterial infection b. Pada HIV stadium lanjut gambaran foto toraks pada pasien T paru berbeda dibandingkan B dengan pasien dengan derajat keparahan imunosupresi lebih rendah.7 Gejala mayor terbatas pada paru dan biasanya gambaran foto toraks lobus atas berupa gambaran infiltrat fibronodular dengan atau tanpa kavitas. Apabila tindakan rujukan tidak dapat dilakukan segera maka pemberian antibiotik spektrum luas segera diberikan dan pemeriksaan dahak segera dikerjakan.19 Jurnal Tuberkulosis Indonesia. penyakit T dapat menjadi subklinik atau oligoasimptomatis.d Sputum AFB and culture b HIV test b.

of P neumocystis jiroveci dihydrofolate reductase associated wit h failure of prophylaxis. 3. An Algorithm for T uberculosis S creening and Diagnosis in P eople with HIV. Comstock G Meta-analysis: New ujits for ai . Interferon-gamma assays for tuberculosis: is anergy the Achilles’heel?Am J Respir Crit Care Med 2005. Horsburgh. tuberculosis infection. 54(RR-15):p. 19. Francioli P Mutations . 6. 340-54. 17. 8.737-42.1. Menzies D. Centersfor Disease Control and Prevention (CDC). Charles M. ai C. Kadhiravan T HIV-T co-infection: . 3. Keadaan imunodefisensi yang semakin berat akan membuat gejala ekstraparu semakin menjadi lebih sering (T abel 2). Clin Infect Dis2004. Pai M. 52(RR-11):p. B E pidemiology. 29 Jurnal Tuberkulosis Indonesia. 350(20): p. Departemen Kesehatan RI. 7. Clinical practice. 16. Isolated peripheral tuberculous lymphadenitis in adults: current clinical and diagnostic issues. T reatment of tuberculosis. p. 12. Hasil pemeriksaan dahak lebih sering memberikan hasil positif. Latent tuberculosis in HIV posit ive. ngl 18. diagnosis & management. Improving the diagnosis and treatment of smear-negative pulmonary and extrapulmonary tuberculosis among adult and adolecent. N E JMed 2002.2060-7. 5.1-309. Taelman H. 20(4): p. McCarthy MM. CR.245-50.7:56. Impact of human immunodef iciency virus inf ect ion on clinical and radiographic presentation. tuberculosis specific interferon-gamma ujit. Pulmonary t uberculosis in Kigali. DAFTAR PUSTAKA 1. MMWRRecomm Rep 2005. Artenstein AW. Rwanda. Kevin C. Kebijakan Nasional Kolaborasi TB HIV. Rabodonirina M. 121. P ada penderita HIV dengan dicurigai T maka harus B ditanyakan gejala lainnya tidak hanya batuk saja. United Stauji. Jasmer RM. Lundgren L. Airlangga University Press 2007. Mohan A. edisi pertama. P emeriksaan penunjang dengan IGRA dan TST sering menunjukkan negatif palsu. Am Rev Respir Dis. pp 550-567 9. Nahid P P M. Hasil pemeriksaan dahak TB paru dari pasien HIV menunjukkan hasil ¼-nya adalah negatif. Jereb J. T rends in tuberculosis incidence— United Stauji. 56(11): p. 146(5): p. Orang dengan T sesuai dengan definisi tidak LBI memberikan gejala asimptomatis. MMWR Recomm Rep 2003. 15. Bille J. 3(1): p. Priorities for the treatment of latent tuberculosis infection in the United Stauji.49-55. Ann Intern Med 2007.8 . Luetkemeyer AF Charlebois E Flores LL. P B ada pasien ini gambaran foto toraks akan seperti pada orang dengan HIV negatif. Hot e R. Nasronudin. Proc Am T horac Soc 2006. Respir Res 2006. P enyebab kematian terbesar pada AIDSadalah T paru. Nahimana A. Mazurek GH. ngl 11. Ruhwald M. interferon-gamma release assay with tuberculin skin ujiting in HIV-infected individuals. 38(8):p. the diagnosis of latent tuberculosis infection: Areas of uncertainty and recommendations for research.1-77 2. Center for Disease Control and Prevention (CDC).8 T abel 2. Hirsch HH.1159-66.1860-6. Sharma SK. Lewinsohn DM. 5. 347(23): p. American T horacic Society and Infectious DiseasesSociety of America. QuantiFE RON-T Gold ujit for detecting Mycobacterium B tuberculosis infection. N E J Med 2010. Nahid P Hopewell PC. D. Kaufmann G Sendi P Immune reconstitution in . treatment of tuberculosis. Williams WJ. Comparison of an . 14. 175(7): p. 13.103-10. Latent . WHO recomendation 2006.876-82. . Bat ungwanayo J. 10. diagnosed by the M. Lobue P Guidelines for using the . Hopewell P Advances in the diagnosis and .dengan kadar CD4 > 200/mm3 lebih sering memberikan manifestasi T paru dibandingkan dengan ekstraparu. Am J Respir Crit Care Med 2007. 4. 2006. MMWRMorb Mortal Wkly Rep 2007. B 2. Vol. Clin Infect Dis 1995. 4. Antimicrobial agents and chemotherapy 2004. 48:4301-5. Kimberly D. Indian J Med Res 2005. 2007. P M. Kim JH. HIV& AIDS: P endekatan biologi molekuler klinik dan sosial.362:707-16. HIV-infected patients.519-21. N Engl J Med 2004. Gejala klinik pada pasien T B-HIV karakteristik T paru : T ekstraparu B B Gejala klinik Foto toraks · Intratoraks limfadenopati · Lobus bawah Kavitas Alergi tuberculin Pemeriksaan dahak Reaksi obat Kambuh setelah pengobatan L ate HIVInfection 50:50 Sering seperti T primer B Sering Sering Jarang Sering Jarang Sering Sering E arly HIVInfection 80:20 Sering seperti T post primer B Jarang Jarang Sering Jarang Sering Jarang Jarang Dikutip dari (8) KESIMPULAN 1. Brock I. p. 172(5):p.

P erubahan ini berakibat pada kurangnya pengawasan infeksi di rumah sakit. jumlah percik renik. tb) dan menyerang organ pernapasan walaupun dapat mengenai organ lain. ditunjang oleh beberapa fakta bahwa Indonesia merupakan negara dengan pasien T terbanyak ke-3 di dunia setelah India dan Cina. efek samping obat. tb. Untuk petugaskesehatan saat ini T merupakan penyakit akibat kerja.1. bahkan petugas kebersihan di rumah sakit yang menangani penderita T B merupakan kelompok risiko tinggi.4 PENULARAN TUBERKULOSIS Mycobacterium tuberculosis merupakan kuman yang hidup sebagai parasit intraselular dan berkembang biak di dalam tubuh. Identifikasi B pengaruh kerja terhadap suatu penyakit penting dilakukan sebagai dasar pengobatan. Gejala penyakit timbul beberapa saat setelah infeksi dan pada umumnya respons imun terbentuk dalam 2–12 minggu setelah infeksi. Saat ini T merupakan masalah B kesehatan di dunia dan penyebab utama kematian di negara berkembang. Vol.1. B Hasil Survei Kesehatan Rumah T angga (SKRT menunjukkan ) bahwa penyakit T merupakan penyebab kematian nomor B 5 setelah penyakit kardiovaskular dan penyakit saluran napas pada semua kelompok usia dan nomor 1 dari golongan penyakit infeksi.7 TUBERKULOSIS DI RUMAH SAKIT P enularan T di rumah sakit berkaitan erat dengan B kejadian luar biasa di daerah tersebut. P B enularan T nosokomial dapat B dicegah dengan cara menerapkan pengendalian infeksi yang efektif.3 Tinjauan pustaka ini akan membahas mengenai T nosokomial. P ercik renik berdiameter 1–5 ¼m yang terhisap dan menginfeksi paru. lama pajanan.5 Keadaan lingkungan. Dokter. batuk produktif. Kondisi penderita T B yang dapat menimbulkan risiko penularan antara lain terdapatnya T paru. B yang sebelumnya telah teratasi kembali mencuat.6 T uberkulosis dimulai dari infeksi primer yang sering tidak menimbulkan gejala dan kemudian dapat sembuh sendiri sehingga uji tuberkulin berubah dari negatif menjadi positif. T atalaksana pemberantasan T dapat dilakukan B dengan berbagai cara dan hal ini telah berhasil dilakukan di beberapa negara maju. Infeksi t erjadi apabila orang menghirup percik renik yang mengandung M. Sardikin Giri Putro Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. P ercik renik di keluarkan oleh penderita sebagai sumber infeksi pada saat bicara atau batuk dan menular ke orang lain saat terjadi kontak dan dapat bertahan di udara selama berjam-jam bahkan beberapa hari sampai akhirnya ditiup angin. Center for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan tindakan pencegahan penularan berupa pengontrolan administratif. tampak kavitas pada foto toraks.8 Terapi T dapat B diberikan dengan rawat jalan. tb. bronkoskopi dan suction. teknik dan alat pelindung pernapasan. terapi antiT yang tidak tepat dan teratur.15 Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobact erium tuberculosis (M. sehingga pengawasan dan pemberantasan penyakit ini menjadi bertambah rumit. saat A) batuk atau bersin tidak menutup hidung atau mulut.4. serta menjalani prosedur B yang menginduksi batuk seperti induksi batuk. perawat.TUBERK ULOSIS NOSOKOMIAL Amir L uthfi. Jakarta PENDAHULUAN T uberkulosis (T tetap menjadi salah satu masalah B) kesehatan yang paling serius.8 30 . penyakit penyerta Jurnal Tuberkulosis Indonesia. ventilasi udara di ruangan. sputum basil tahan B asam (BT positif.2 Sejak meluasnya penyakit human immunodeficiency virus (HIV) dan pertambahan kasus T kebal obat (MDR-T masalah T B B). Zat yang terhirup di tempat kerja terutama di rumah sakit dapat menjadi penyebab penyakit paru kronik. Di Indonesia sendiri TB masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. tetapi terdapat kemungkinan penderita memerlukan perawatan di rumah sakit akibat beratnya penyakit. petugas laboratorium. RS P ersahabatan.1 Risiko penularan T diantara petugas kesehatan B cukup tinggi sebelum era antibiotika tetapi menurun dengan cepat setelah tahun 1950 dikarenakan menurunnya insidens penyakit dalam populasi dan terdapatnya terapi yang efektif. P enularannya dapat terjadi dari penderita ke orang lain melalui percik renik. pencegahan dan kelangsungan pekerjaan. ukuran dan konsentrasi kuman mempengaruhi proses infeksi M.

9 0.9 P encegahan agar tidak terjadi infeksi adalah vaksinasi dan memperbaiki sirkulasi udara sedangkan untuk tenaga medis yang sudah terinfeksi adalah mempertahankan daya tahan tubuh dan penatalaksanaan pada infeksi lat en. Beberapa faktor lainnya yang dapat meningkatkan risiko penularan diantaranya adalah frekuensi kontak langsung dengan pasien T masa kerja dan kontak B. P etugas kesehatan yang bertugas di bagian bronkoskopi. P engaturan aliran udara di ruangan yang kurang baik. B gejala-gejala T jaringan parut BCG. pembuangan udara t idak adekuat dan penggunaan ulang sirkulasi udara merupakan faktor yang ikut mempengaruhi kejadian tersebut.4 PENCEGAHAN.2 1.9 T ahun 1990 terjadi kejadian luar biasa tuberkulosis di beberapa rumah sakit di Amerika. Vol.8-1. Sembilan dari 52 penderita yang meninggal akibat T baru dapat didiagnosis saat dilakukan B otopsi.0-2.5) (0.Perawat inhalasi .Petugas register .dan indikasi lainnya.4 16.5 tahun atau setiap tahunnya risiko penularan 31 Jurnal Tuberkulosis Indonesia.12 P asien yang dirawat dengan indikasi yang tidak tepat.7 (0.Dokter . T belas persen petugas laboratorium iga mengalami perubahan uji tuberkulin menjadi positif setelah bekerja 14.1-1.Petugas laboratorium . otopsi.2 2. tb.4) 113 154.8 .4) 455 52 368.9-1. Diagnosis TB yang t epat dan cepat sangat diperlukan karena penderita yang belum terdiagnosis atau terjadi kesalahan diagnosis maka konsekuensinya akan terjadi penularan. T ingkat risiko penularan infeksi M.0 51.9) Dikutip dari (11) P etugas laboratorium mikrobiologi memiliki risiko penularan infeksi M.4) (0.2-0.TB. keadaan ini disebut dengan infeksi laten.7 Risiko penularan dapat dikurangi dengan pencegahan terhadap prosedur kerja dan pengawasan peralatan yang berpot ensi sebagai media penularan.6) (0. Sejumlah kuman M. P erubahan konversi uji tuberkulin berhubungan secara bermakna dengan pekerjaan sebagai petugaspatologi dan ini merupakan indikator keterlambatan diagnosis penderita dengan T selain akibat pengaturan B udara ruangan yang kurang baik. pembantu perawat Pekerjaan yang berhubungan dengan binatang Pelayanan makanan Pekerjaan yang berhubungan dengan debu Pekerjaan yang berhubungan dengan anak-anak. tb dan disarankan secepatnya melapor bila timbul gejala.9-1.4 1.7 253. intubasi endotrakea.Perawat .7-1. sekolah Pelayananan masyarakat Kasus Kasus MR T eramati Diharapkan S 321 20 68 7 15 26 150 565 336.12 P encegahan dimulai dari pemeriksaan terhadap pekerja yang akan diterima sebagai pegawai ataupun selama bekerja meliputi riwayat T sebelumnya. toraks (Gambar 1). penata radiologi dan fisioterapis.8 1.6) (1.1-1. Risiko kesakitan T pada kelompok pekerjaan B Kelompok pekerjaan Bidang kesehatan . T erdapat 3 langkah pengendalian infeksi meliputi :4 1. lain untuk terinfeksi T P B.0) (0. walaupun proses penularan masih dapat terus terjadi.0 0.3 2.5) (1.1 115.1) (0.3) 92 254. inhalasi dan prosedur lainnya yang dapat menginduksi batuk juga berisiko tinggi untuk terjadi penularan nosokomial.5 1. P engaturan administratif bertujuan untuk mengurangi pajanan petugas kesehatan dan penderita dengan M.4 (0. irigasi abses.2 sebesar kurang lebih 1%.5-1.1 1. dengan penderita yang belum terdiagnosis dan belum diobati. ruang perawatan yang tidak sesuai standar.5) (2. tb.0 (1. engendalian infeksi merupakan langkah khusus yang bertujuan untuk mengurangi penularan M. uji tuberkulin dan foto B.7 0.6 T abel 1.13 P engendalian infeksi T bertujuan untuk deteksi dini B penderita T memberi pengobatan dan mencegah orang B. petugas kesehatan yang bekerja di tempat yang tidak mempunyai fasilitaspengendalian infeksi. (IK 95%) (0. Seseorang dengan infeksi laten tidak menunjukkan gejala apapun dan tidak menjadi sumber penularan.9 56. tb cukup t inggi walaupun tidak berhubungan langsung dengan pasien karena seringkali pet ugas t idak menget ahui bahan yang diperiksa mengandung M.10 P etugas kesehatan dengan angka kesakitan T yang B termasuk kelompok risiko tinggi adalah dokter. induksi sputum.2-6. PENGENDALIAN DAN TATALAKSANA P encegahan T nosokomial merupakan hal yang paling B pent ing. perawat. meningkatkan risiko penularan untuk petugas dan penderita itu sendiri.1 50. penyedotan lendir di ruang rawat.6-0.3-0. tb petugas laboratorium hampir sama dengan klinisi karena bahan pemeriksaan diambil dari penderita T B yang belum terdiagnosis. P egawai yang tidak menunjukkan gejala dan tanda tetapi memiliki uji tuberkulin positif harus dijelaskan bahwa sebelumnya sudah terpajan M.9 1.Pekarya.8 24.2 2.4 0. tb tetap dorman dan bertahan hingga berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. riwayat vaksinasi BCG. petugas laboratorium.

Vol. P etugaskesehatan yang baru diangkat harus diperiksa kemungkinan menderita T pemeriksaan B. fasilitas dan peralatan khusus terutama di ruang isolasi.14 P erlu juga wadah khusus yang sudah diberi desinfektan untuk menampung dahak yang dibatukkan pasien.8 Diagnosis yang cepat dan akurat dapat mencegah penyebaran lebih luas. P asien MDR-T dirawat di ruang isolasi sehingga B kontak antar penderita dapat diminimalkan. P asien T yang harus dirawat diupayakan lama perawatan B secepat mungkin untuk mencegah penyebaran infeksi nosokomial. Pengat uran lingkungan bert ujuan mengurangi konsentrasi percik renik yang infeksius.2.6 Jendela dan pintu harus diatur supaya selalu terbuka sehingga udara dapat mengalir sert a penggunaan kipas angin untuk mengatur aliran udara merupakan cara sederhana untuk pengaturan ventilasi.4 Antara ruang rawat penderita T dengan ruang rawat B penderita nonT harus dibedakan. P emutusan rantai penularan di rumah sakit harus dilakukan dengan pemakaian perlengkapan pelindung.4. etugaskesehatan dengan uji tuberkulin negatif harus dilakukan vaksinasi BCG. P erlindungan pernapasan petugas kesehatan pada daerah dengan konsentrasi percik renik yang tidak dapat diatasi dengan kontrol administratif dan lingkungan. Fisis tidak Normal ya tidak Bekerja dgn pasien atau spesimen ya Parut BC G tidak ya tidak Ruang Periksa Uji tuberkulin Pintu Kantor Area Terbuka ya Derajat 0/1 tidak Ruang Tunggu C uriga Sisi C Sisi A tidak ya Pem. Sebaiknya kedua ruang perawatan ini berada pada bangunan yang berbeda dengan ventilasi yang baik. Masker dapat menghalangi penyebaran partikel yang mengandung T tb . T empat sampah harus tersedia untuk membuang masker dan tisu bekas pasien.6.6. Risiko T pada pekerja yang terpajan oleh penderita T lebih B B tinggi pada orang dengan uji tuberkulin negatif dibandingkan pada orang yang memiliki uji tuberkulin positif. P asien tersangka T diajarkan untuk tata cara batuk yang B benar dan diberi masker atau tisu untuk menutup mulut dan hidung ketika batuk kemudian harus ditempatkan di ruang tunggu khusus dengan ventilasi yang baik. yang bersumber dari mulut atau hidung pasien.1.7 P emberian INH profilaksis kurang disetujui dan hanya digunakan pada keadaan tertentu. pasien dengan batuk produktif ada dan dicurigai menderita TB tidak dibenarkan ikut antrian dengan pasien lainnya dan sebaiknya dilayani lebih dahulu. Fisis Apotik Pintu Pintu Sisi B Rencana Tampilan Dinding dengan daerah atas terbuka ya tidak Normal Klinik T anpa BC G Penyuluhan Klinik Gambar 2. B Dikutip dari (13) Jurnal Tuberkulosis Indonesia.8 32 . 3. ruang pemeriksaan dan ruang tunggu di pelayanan rawat jalan harus baik (Gambar 1-3).6.8 Anamnesis sebelum penerimaan pekerja P ruang rawat jalan. Pengaturan ventilasi ruang tunggu di pelayanan rawat jalan Dikutip dari (4) Gambar 1. Alur pemeriksaan T pada pekerja. P engaturan ventilasi ruang rawat inap. Udara bersih yang masuk ke ruangan dapat mengencerkan konsentrasi percik renik di udara. secara berkala dilakukan minimal sekali setahun untuk tenaga lama atau saat timbul gejala penularan T 4P B.15 C uriga ya Pem. Vaksinasi BCGdapat mengurangi risiko penyakit T tetapi hal ini tidak B terjadi di semua tempat. terutama ruang rawat B penderita risiko tinggi seperti anak kecil atau keadaan imunosupresi.4.

8 . yaitu masker bedah dan respirator (Gambar 5). Arah aliran udara diatur agar mengalir dari udara bersih. Masker bedah tidak melindungi tenaga kesehatan maupun pasien dari resiko t erhirupnya M. Tb t et ap masuk. melewati petugas kesehat an kemudian melewat i pasien sampai akhirnya keluar ruangan kembali. Pengaturan ventilasi di ruang rawat inap.7 P B engambilan dahak dilakukan di area atau ruangan terbuka dan jauh dari banyak orang sebaiknya tidak di dalam ruangan kecil atau ruang tertutup namun bila tidak memungkinkan pengambilan dahak dapat dilakukan di ruang berventilasi dengan risiko pajanan yang rendah terhadap petugas dan pasien. A. S umber energi bersumber dari sistem pompa yang kuat diperlukan untuk mengalirkan udara bersih ke dalam ruangan.Jendela Terbuka Jendela terbuka Aliran udara Tempat Tidur arah ventilasi alami atau ruang kerja yang tidak benar Angin Angin Angin Buruk arah ventilasi alami atau ruang kerja yang benar Angin Angin Pengaturan yang baik Angin Pintu Aliran udara dari bawah pintu Ruang Pendingin AC Aliran udara masuk Aliran udara masuk Tempat Tidur Pintu Aliran udara Aliran udara dari bawah pintu: tekanan negatif yang berhubungan dengan koridor Gambar 3. B. Masker bedah terbuat dari kertas at au kain yang t idak dapat mencegah penyebaran mikroorganisme dari pemakainya karena hanya menangkap partikel basah berukuran besar disekitar hidung atau mulut dan tidak melindungi pemakainya dari terhirupnya percik renik di udara. Masker ini digunakan pada B penderita T pada saat meninggalkan ruang isolasi ke B tempat pemeriksaan lainnya di rumah sakit.4. arah ventilasi alami atau ruang kerja yang benar arah ventilasi alami atau ruang kerja yang benar Angin Angin Baik Angin Pintu Jendela Gambar 5. vent ilasi mekanis dapat digunakan unt uk mengurangi konsentrasi percik renik di ruang fasilitas kesehatan. Induksi sputum. Respirator (kiri) dan masker (kanan) Dikutip dari (16) 33 Jurnal Tuberkulosis Indonesia.6 T erdapat 2 jenis masker.Ventilasi alamiah. S umber udara bersih harus t erhindar dari daerah pembuangan agar udara yang terkontaminasi tidak masuk kembali ke ruangan (Gambar 4). Vol.t b karena masker mempunyai keterbatasan kemampuan filtrasi dan terdapat celah disekitar hidung dan mulut yang memungkinkan aerosol M. terapi inhalasi dan tindakan bronkoskopi merupakan t imdakan yang dapat menimbulkan bat uk sehingga meningkatkan risiko penularan M. tb.6.15 Apabila ventilasi alamiah tidak tersedia atau tidak adekuat . namun pemakaian masker bedah dapat mengurangi percik renik atau aerosol yang berasal dari penderita T yang infeksius. T indakan ini sebaiknya dilakukan secara hati-hati di ruangan berventilasi dan petugas kesehatan menggunakan perlindungan masker yang direkomendasikan yaitu masker N-95.Ventilasi tekanan negatif Dikutip dari (4) Bahan pemeriksaan yang berasal dari pasien harus dipersiapkan secara baik dan aman pada saat pemeriksaan. pengepakan dan penyimpanan untuk mencegah penularan T di antara pekerja laboratorium. menarik atau mengeluarkan kembali udara tersebut ke luar gedung. Respirat or dapat memberikan perlindungan lebih baik daripada masker bedah. Aliran udara harus melintasi ruangan yaitu dari pintu ke jendela atau ventilasi didepannya bukan masuk dan ke luar dari jendela yang sama agar percik renik yang dibatukkan dapat dialirkan keluar (Gambar 3).

Hospital ventilation and risk for tuberculosisinfection in Canadian health care workers.Respirator adalah alat perlindungan dari percik renik M.hal. P etugas ini sebaiknya ditugaskan di tempat dengan risiko pajanan M.p. Am J Respir Crit Care Med. 10.15 Pet ugas kesehat an dengan keadaan imunokompromais yang menghadapi pasien T atau MDRB T harus mendapat pengawasan khususagar tidak terpajan.9 KESIMPULAN 1. Guidelines f or prevent ing t he t ransmission of Mycobacterium tuberculosisin health-care setting.14 B 2.Geneva. T dengan kemampuan menyaring partikel berukuran 1ì. 4. Beckett WS. 1999.(cited 2011 September 5). Fanning A. dan mencegah penularan. P hiladelphia: Lippincott William& Wilkins.int/ hq/1999/WHO_TB_99. perlindungan dan prosedur kerja yang baik.282:677-86. 3. DAFTAR PUSTAKA 1.154:553-4. . JAMA.Switzerland:WHO . P etugas yang menderita TB harus segera diterapi dan untuk sementara dinonaktifkan sampai terbukti tidak menjadi sumber penularan atau sputum BT negatif. Jurnal Tuberkulosis Indonesia. Lancet.2000. Jensen PA. MMWR Recomm Rep. A P ernah dilaporkan suatu outbreak MDR-T pada penderita B dan petugas kesehatan dengan kondisi imunokompromais akibat kontak dengan penderita MDR-T yang infeksius.475-86. Recognition. Ann Intern Med.269. Comstock GW. Dye C. management and prevention. In: Niederman MS. Lambert LA. Sarosi GA. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.Available from: http://whqlibdoc. Tuberculosis.8 34 . Watt CJ. Menzies D.pdf 5. tb yang rendah. Masker N-95 Dikutip dari (16) Tenaga medis yang t erkena TB di rumah sakit diberikan pengobatan yang tidak berbeda dengan penderita T lainnya. B terutama petugasyang mempunyai keluhan respirasi. Scheele S. Glassroth J. 2005. b Alat ini pas pada wajah dan mencegah kebocoran dari bagian pinggir tetapi apabila posisi pemakaian tidak tepat. Occupation and tuberculosis: Question t hat need answer. Respiratory infections. P engobatan T pada tempat kerja tidak berbeda dengan B pengobatan yang biasanya tetapi perlu diperhatikan juga penyakit penyerta. In: Hendrick DJ.1996.2002. munculnya epidemi HIVdan MDRT menyebabkan kasus ini muncul B kembali. editors. Joint T uberculosis Committee of the British T horacic Society. Dolin P P . Daerah dengan kejadian MDR-T yang cukup B B tinggi maka penggunaan obat antituberkulosis (O ) sangat AT ditekankan untuk menggunakan obat yang masih sensitif berdasarkan hasil biakan dan uji resistensi obat. pemberian t erapi secepat nya pada penderit a TB.3ì. diagnosisdini. Vol. 6.2000. 2001. Jenis yang direkomendasikan adalah respirator dengan kemampuan filtrasi 95% terhadap partikel berukuran 0. R. Risiko penularan nosokomial tuberkulosisdapat dikurangi dan dicegah dengan pengendalian infeksi. G lobal burden of tuberculosis. Fitzgerald JM.55:887-901. Control and prevention of tuberculosis in the Unit ed Kingdom: Code of pract ice 2000. T enaga medis dengan T yang mendapat pengobatan adekuat tidak B akan menularkan ke pekerja lain setelah pengobatan beberapa minggu dan bila pengobatan yang dijalani secara lengkap akan mengalami penyembuhan dan mencegah MDR-TB. Burge PS. Burge PS. editors. Cetakan ke-2. Glassroth J.6. Janggut dapat menghalangi pemakaian respirator yang pas di wajah sehingga menyebabkan kebocoran. Guidelines for prevention of tuberculosis in health care facilities in resource-limited settings. Jakarta: Depkes RI. 4. T uberculosis. 7. Gambar 6. 2003.133:779-89.257-63. 3. percik renik yang terinfeksius tetap akan masuk ke saluran napas. Y uan L. 362:887-99. P engendalian dan pencegahan infeksi T adalah deteksi B dini penderita T pemberian pengobatan antituberkulosis B. R.8-14 2. Occupational disorders of the lung. P edoman nasional : P enanggulangan tuberkulosis.who.54:1-141. Churg A. London: WB Saunders. 2nd edition. T uberkulosis adalah salah satu masalah kesehatan di tempat kerja khususnya di rumah sakit.2005. Dye C.6.2008. Tuberculosis. 9.1999. Lingkungan rumah sakit dan pekerja it u sendiri mempengaruhi penularan tuberkulosisnosokomial. World Health Organization. Iadermarco MF Ridzon R.p. T horax. Frieden T Sterling T Munsiff SS.6. athana V. 8. Raviglione MC. 5.

uberculosisamong health care workers during three recent decades. Onorato. he association between occupation and tuberculosis. Nardel E T . 12. Georgia. 14. T . Atlanta. Vol. Center for Disease Control and Prevention. . Available from: URL:http:// www.2007.Menzies D. 16.11.196:S108–13 15. Am J Respir Crit Care Med.(cited 2011 September 5). Y uan L. Jensen AP Miller B. Factors associated with tuberculin conversion in Canadian microbiology and pathology workers.Available from: URL:http://www. T E T ala .2003.2006. McKenna MT Hutton Marry.pdf. T Journal of he Infectious Diseases.Bock NN.Raitio M.1996.Departemnt of Health and Human Services. Fanning A. Am J Respir Crit Care Med.html 35 Jurnal Tuberkulosis Indonesia. T facts for health B care workers 2006. FitzGerald JM. E Respir J.8 . 2000. 13. uberculosis infection control in resources-limited setting in the era of expanding HIV care and treatment.cdc.tpchd.167:599-602.gov/niosh/npptl/topics/ respirators/disp_part.(cited 2011 September 8). Cauthen G.154:587-93.Niosh Approved N95 P articulate Filtering Facepiece Respirators.org/files/library/9638ba2e8c3a090c.15:304ur 7.