BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Diare pada Anak Usia 6-12 Bulan 1. Pengertian Diare merupakan sindrome yang menyertai berbagai penyakit

tertentu atau akibat gangguan pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh adanya gangguan gizi, alergi, kekurangan enzim pencernaan, gangguan mental, dan kekhawatiran. Atau secara tidak sengaja zat yang bersifat konstifasi ikut terkonsumsi. Gangguan terjadinya diare sangat beragam dapat disebabkan oleh pengaruh salah satu atau gabungan dari 3 mekanisme yang terdiri atas proses osmotis, gangguan transport air elektrolit dan perubahan mortilitas usus. Diare merupakan keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak dengan konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat bercampur lendir dan darah (Behrman, 2000). 2. Patofisiologi Diare dapat meningkatkan motilitas dan cepatnya pengosongan pada intestinal merupakan akibat dari gangguan absorbsi dan ekskresi cairan dan elektrolit yang berlebihan. Cairan, sodium, potasium dan bikarbonat berpindah dari rongga ekstraseluler ke dalam tinja, sehingga mengakibatkan dehidrasi kekurangan elektrolit dan dapat terjadi asidosis metabolik. Transport aktif akibat rangsangan toksin bakteri terhadap

11

12

elektrolit ke dalam usus halus. Sel dalam mukosa intestinal mengalami iritasi dan meningkatnya sekresi cairan dan elektrolit. Mikroorganisme yang masuk akan merusak sel mukosa intestinal sehingga menurunkan area permukaan intestinal, perubahan kapasitas intestinal dan terjadi gangguan absorbsi cairan dan elektrolit. Peradangan akan menurunkan kemampuan intestinal untuk mengabsorbsi cairan dan elektrolit dan bahanbahan makanan. Ini terjadi pada sindrom malabsorbsi. Meningkatnya motilitas intestinal dapat mengakibatkan gangguan absorbsi intestinal (Surasmi, 2003). 3. Jenis-jenis Diare Menurut Hidayat (2008) ada 3 jenis diare : a. Diare cair akut Diare cair akut memiliki tiga ciri utama : gejalanya dimulai secara tibatiba, tinjanya encer dan cair, pemulihan biasanya terjadi dalam waktu 3-7 hari. Kadang kala gejalanya bisa berlangsung sampai 14 hari. Lebih dari 75% orang yang terkena diare mengalami diare cair akut. b. Disentri Disentri memiliki dua ciri utama : adanya darah dalam tinja, mungkin disertai kram perut, berkurangnya nafsu makan dan penurunan berat badan yang cepat. Sekitar 10-15% anak-anak di bawah usia lima tahun (balita) mengalami disentri.

Tanda dan Gejala Menurut Schwartz (2004). tidak rewel. nafas cepat. mata sedikit cekung. turgor kulit masih kembali dengan cepat jika dicubit c. apatis bahkan gelisah . anak masih mau makan dan minum seperti biasa b. dapat mendahului atau tidak mendahului gejala diare 4) Gejala dehidrasi. tanda dan gejala diare pada anak antara lain : a. Umumnya karena diarenya tidak berat. Tanpa dehidrasi. Derajat dehidrasi akibat diare menurut Widoyono (2008) dibedakan menjadi tiga. anak apatis (kesadaran berkabut). ketegangan kulit menurun. biasanya anak merasa normal. masih bisa bermain seperti biasa. mata cekung. Gejala Umum 1) Berak cair atau lembek dan sering adalah gejala khas diare 2) Muntah. pada cubitan kulit turgor kembali lambat. gejala berlangsung lebih dari 14 hari dan ada penurunan berat badan. yaitu : a. menyebabkan anak rewel atau gelisah. Diare yang menetap atau persisten Diare yang menetap atau persisten memiliki tiga ciri utama : pengeluaran tinja encer disertai darah. 4. yaitu mata cekung. biasanya menyertai diare pada gastroenteritis akut 3) Demam.13 c. Dehidrasi ringan atau sedang. anak terlihat lemah. Dehidrasi berat.

kemungkinan karena cairan . d. sedang atau berat. dehidrasi dapat terjadi ringan. b. kehilangan cairan dapat terjadi dalam waktu yang singkat. Hipoglikemia dapat mengakibatkan koma. Gangguan asam-basa (asidosis) Hal ini terjadi akibat kehilangan cairan elektrolit (bikarbonat) dari dalam tubuh. c. Bila kehilangan cairan ini lebih dari 10% berat badan.14 b. Penyebab yang pasti belum diketahui. Sebagai kompensasinya tubuh akan bernafas cepat untuk membantu meningkatkan pH arteri. Dehidrasi (kekurangan cairan) Tergantung dari presentase cairan tubuh yang hilang. Komplikasi Menurut Sudarti (2010) komplikasi akibat diare yang berkepanjangan adalah : a. warna tinja seperti cucian beras dan berbau amis 2) Disenteriform : tinja berlendir dan berdarah 5. pasien dapat mengalami syok atau presyok yang disebabkan oleh berkurangnya volume cairan (hipovolemia). Gangguan Sirkulasi Pada diare akut. Gejala Spesifik 1) Vibrio cholera : diare hebat. Hipoglikemia (kadar gula darah rendah) Hipoglikemia sering terjadi pada anak yang sebelumnya mengalami malnutrisi (kurang gizi).

keseimbangan cairan dan elektrolit. dan penyuluhan. Gangguan Gizi Ganguan ini terjadi karena asupan makanan yang kurang dan output yang berlebihan. apalagi pada anak-anak. Penderita diare kebanyakan dapat sembuh tanpa pengobatan khusus. serta fungsi normal perut. Prinsipnya adalah mengganti cairan yang hilang (rehidrasi). 6. Hal ini akan bertambah berat bila pemberian makanan dihentikan. e. Pengobatan Diare pada Anak Menurut Whaley and Wong (2009) penatalaksanaan diare pada balita difokuskan pada penyebab. ditambah 1 sendok teh munjung gula pasir . Adapun cara membuatnya. tetap memberikan makanan.15 ekstraseluler menjadi hipotonik dan air masuk ke dalam cairan intraseluler sehingga terjadi edema otak yang mengakibatkan koma. tidak memberikan obat anti diare (antibiotik hanya diberikan atas indikasi). serta sebelumnya penderita sudah mengalami kekurangan gizi (malnutrisi). Serangan diare yang berulang akan mendorong tanpa Serangan diare yang berulang akan mendorong penderita ke dalam keadaan malnutrisi oleh karena itu penatalaksanaan yang benar sangat dibutuhkan karena dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian. yaitu: tuangkan air matang ke dalam gelas bersih (200 ml). Selain itu keluarga dapat menjaga balita atau anak-anak dari diare dengan menjaga kebersihan lingkungan serta makanan. Selain itu bila sudah terkena maka keluarga dapat melakukan pertolongan dengan memberikan oralit atau campuran gula dan garam.

air kelapa muda. pengobatan hanya ditujukan untuk menghilangkan infeksi tersebut. dan fase kembali ke makan semula. yaitu fase puasa. Fase puasa Pada diare ringan cukup diberi teh pahit kental ditambah garam seujung pisau untuk mengganti cairan tubuh. b. Menurut Widjaja (2004) pengobatan diare antara lain sebagai berikut : a. . Cairan rumah tangga adalah cairan yang berasal dari makanan seperti bubur encer dari tepung. Pengobatan Dietis Pengobatan dietis dibagi menjadi tiga fase. dan makanan yang diencerkan. Di samping itu. Pengobatan medis hanya dapat dilakukan oleh dokter. Dalam pengobatan laboratorium agar diketahui dengan pasti antibiotik yang dapat digunakan. Lamanya pemberian air teh pahit kental ini biasanya 6-12 jam. Pengobatan Medis Pengobatan medis dilakukan setelah diketahui dengan tepat penyebab munculnya diare. sup. Jika penyebabnya infeksi. air tajin. aduk sampai larut benar. jenis antibiotik yang digunakan juga harus disesuaikan dengan umur penderita.16 dan ¼ sendok teh garam dapur. Penderita dengan gejala diare berat harus diberi cairan oralit lengkap atau cairan intravena (infus). realimentasi (pemulihan). a.

kemudian sesudah diare berhenti diberi pisang (1 hari). baru makanan lunak. 1) Makanan Biasa Makanan biasa diberikan kepada penderita yang badannya normal dan sudah tidak menderita diare. Fase Realimentasi (Pemulihan) Cara realimentasi tergantung dari umur dan berat badan penderita. c. 2) Makanan Lunak Makanan lunak diberikan kepada penderita yang bersuhu badan makin meninggi. diet anak dikembalikan kepada porsi yang normal.17 b. Bayi berumur di bawah 1 tahun. tidak . agar anak tidak stress atau emosional. Namun. selanjutnya secara berturut-turut diberi bubur susu dan nasi tim dengan porsi sesuai dengan berat badannya. Untuk penderita seperti ini dapat digunakan semua bahan. tidak bergas. Fase Makan Biasa Setelah terapi dietis berhasil dilaksanakan. mudah dicerna. pemberian makanan normal tetap berpegang kepada tahapan-tahapan. hanya tidak boleh menggunakan bumbu yang merangsang. kemudian makanan biasa. setelah menjalani puasa minum teh. Misalnya dengan memberikan makanan cair terlebih dahulu. diberi ASI selama 3-5 hari. dengan syarat bahan yang digunakan tidak mengandung serat.

lima kali sehari c) Bahan yang digunakan tidak merangsang (jangan diberi bumbu pedas atau yang mengandung banyak serat) d) Variasi warna dan rasa harus diperhatikan e) Suhu makanan harus sesuai dengan suhu badan f) Makanan dapat dibuat encer atau agak kental 4) Makanan Bayi Bayi tetap diberi ASI. harus . tidak menggunakan bumbu yang merangsang. atau anak yang kekurangan gizi b) Jumlah cairan harus disesuaikan dengan kalori yang dikeluarkan tubuh dan diberikan dalam porsi kecil. Pemberian ASI Jika produksi susu ibu tidak memadai. kemudian ditambah makanan pendamping. Penyembuhan diare dengan memperhatikan konsumsi gizi dimaksudkan agar anak tidak mengalami kekurangan gizi. c. penderita typus dengan perdarahan usus. Jika tidak. Dahulu anak yang diare dianggap tidak perlu diberi menyembuhkan usus yang luka. harus dipikirkan cara menanggulanginya agar produksi air susu meningkat. 3) Makanan Cair a) Diberikan kepada penderita yang tidak dapat membuka mulut secara lebar. dan diberikan dalam porsi kecil-kecil tapi sering.18 mengandung banyak minyak.

d. terutama di perkotaan. selalu dapat menyebabkan gangguan lambung juga akan menyebabkan anak kekenyangan. Makanan tambahan yang diberikan terlalu cepat akan menganggu perkembangan lambung atau usus bayi. Ia harus diberi susu yang rendah gula. Makanan tambahan dapat berupa buahbuahan. yang menjadikan ASI sebagai satu-satunya pilihan. susu pengganti ASI harus dipilih yang bebas laktosa atau rendah laktosa. Pemberian makanan terlalu dini. sehingga harus dipilihkan susu yang mengandung lemak tak jenuh. dan nasi tim. Maka. biskuit. Bahkan. Berbeda dengan yang hidup di pedesaan. diare persisten dapat disebabkan oleh intoleransi laktosa. sebagian bayi ada yang tidak tahan terhadap lemak. Makanan tambahan yang hendak diberikan kepada bayi hendaknya diperkenalkan sedikit demi sedikit untuk membina selera . Itulah sebabnya.19 dicarikan alternatif pengganti ASI. pemberian makanan tambahan boleh diberikan setelah bayi berusia 6 bulan. ASI harus ditingkatkan produksinya. Ada juga bayi yang intoleransi gula (karbohidrat). sehingga tidak mau lagi minum ASI. makanan tambahan diberikan setelah bayi berumur 6 bulan. Makanan bayi berupa susu formula sudah banyak diperjual-belikan. bubur susu. Seperti sudah diketahui. Biasanya. Memberi Makanan Tambahan Makanan tambahan harus diberikan secara tepat. Karena itu. setelah enzim pencernaannya terbentuk dengan sempurna.

apel. Menggunakan air bersih. Mencuci tangan dengan sabun pada waktu sebelum makan. dan sari buah (jeruk. antara lain : a. agar-agar. yaitu tidak berwarna. Pencegahan Menurut Widoyono (2008) penyakit diare dapat dicegah melalui promosi kesehatan. Memasak air sampai mendidih sebelum diminum untuk mematikan sebagian besar kuman penyakit c. Ada pun makanan tambahan yang dapat diberikan pada usia tersebut berupa biskuit. Interaksi host. Pemberiannya harus dilakukan ketika bayi sedang lapar atau tidak sedang mengalami diare. pepaya. Segitiga ini merupakan interaksi antara tiga faktor yakni host (tuan rumah). dan tidak berasa b. agent dan . atau pisang ambon). Menggunakan jamban yang sehat f. tomat. Epidemiologi Diare pada Anak Usia 6-12 Bulan Segitiga epidemiologi merupakan konsep dasar epidemiologi yang memberikan gambaran tentang hubungan antara tiga faktor utama yang berperanan dalam terjadinya penyakit dan masalah kesehatan lainnya. Memberikan ASI pada anak sampai berusia dua tahun e. dan sesudah buang air besar (BAB) d. alpukat. tidak berbau. sesudah makan.20 makan bayi. Membuang tinja bayi dan anak dengan benar B. Tanda-tanda air bersih adalah “3 tidak”. agent (faktor penyebab) dan environment (lingkungan). 7.

Vibrio cholerae (kolera).21 environment merupakan suatu sistem yang dinamis yang berada dalam keseimbangan (equilibrium) pada seseorang (individu) yang sehat (Bustan. Faktor infeksi Infeksi pada saluran pencernaan merupakan penyebab utama diare pada anak. 2004). 2002). Host Kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui faecal oral antara lain melalui makanan/minuman yang tercemar tinja dan atau kontak langsung dengan tinja penderita. seperti radang tonsil. 1. dan radang tenggorokan 7) Keracunan makanan . bronkhitis. a. 1) Infeksi bakteri oleh kuman E. dan serangan bakteri lain yang jumlahnya berlebihan dan patogenik (memanfaatkan kesempatan ketika kondisi tubuh lemah) seperti pseudomonas.Coli Salmonella. 2) Infeksi basil (disentri) 3) Infeksi virus enterovirus dan adenovirus 4) Infeksi parasit oleh cacing (askari) 5) Infeksi jamur (candidiasis) 6) Infeksi akibat organ lain. Jenis-jenis infeksi yang umumnya menyerang sebagai berikut (Widjaja.

tinja berbau sangat khas asam. mengubah lemak menjadi micelles yang siap diabsorbsi usus. sakit di daerah perut. Status gizi Beratnya penyakit. terutama pada penderita gizi buruk. Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Faktor Malabsorbsi 1) Malabsorbsi karbohidrat.22 b. lama dan risiko kematian karena diare meningkat pada anak-anak yang menderita gangguan gizi. Jika tidak ada lipase dan terjadi kerusakan mukosa usus. Tujuan umum pemantauan status gizi adalah tersedianya informasi status gizi balita secara berkala dan terus-menerus. Gejalanya berupa diare berat. Jika sering terkena diare ini pertumbuhan anak akan terganggu 2) Malabsorbsi lemak. a. Dalam makanan terdapat lemak yang disebut triglyserida. Triglyserida. Faktor penjamu yang meningkatkan kerentanan terhadap diare (agent) Beberapa faktor pada penjamu dapat meningkatkan insiden. guna evaluasi perkembangan status gizi balita. diare dapat jadi muncul karena lemak tidak terserap dengan baik. kepekaan terhadap lactoglobulis dalam susu formula menyebabkan diare. beberapa penyakit dan lamanya diare. 2. . dengan bantuan kelenjar lipase. Pada bayi. penetapan kerja sama dan perencanaan jangka pendek. Gejalanya adalah tinja mengandung lemak.

2002). ketidak tahuan dan penyakit. madu. hygiene sanitasi yang jelek. Begitu pula rangkaian antara pendapatan. b. keadaan sosio ekonomi yang kurang. yaitu : (Supariasa. Status gizi ini sangat dipengaruhi oleh kemiskinan.9% 5) Gizi buruk : < 60% Pada penderita kurang gizi serangan diare terjadi lebih sering terjadi. biaya pemeliharaan kesehatan dan penyakit. Pemberian ASI eksklusif ASI eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI saja tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula.23 Baku rujukan yang digunakan adalah WHO-NCHS dengan lima klasifikasi. bubur susu. air putih dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang. kepadatan penduduk rumah. cara penanggulangan penyakit serta pemeliharaan kesehatan. Semakin buruk keadaan gizi anak. ASI merupakan makanan pertama. jeruk.69. air teh. bubur nasi dan tim. 1) Gizi lebih 2) Gizi baik : > 120% : 80% -120% median BB/U median BB/U median BB/U median BB/U median BB/U 3) Gizi sedang: 70% . .9% 4) Gizi kurang: 60% . biskuit. Diduga bahwa mukosa penderita malnutrisi sangat peka terhadap infeksi karena daya tahan tubuh yang kurang. pendidikan tentang pengertian penyakit.79. Pemberian ASI eksklusif dianjurkan untuk jangka waktu selama 6 bulan. semakin sering dan berat diare yang diderita. pepaya.

biasanya menyebabkan risiko tinggi terkena diare sehingga mengakibatkan terjadinya gizi buruk (Roesli. ASI turut memberikan perlindungan terhadap diare pada bayi yang baru lahir pemberian ASI secara penuh mempunyai daya lindung 4x lebih besar terhadap diare daripada pemberian Asi yang disertai dengan susu botol. Mencuci tangan dengan sabun. Perilaku hidup bersih dan sehat 1) Kebiasaan cuci tangan Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan. 2005). Flora usus pada bayi-bayi yang disusui mencegah tumbuhnya bakteri penyabab diare. terutama sesudah buang air besar.24 utama dan terbaik baik bayi. c. ASI mengandung berbagai zat gizi yang dibutuhkan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan bayi. pada 6 bulan pertama kehidupan. ASI mengandung antibodi yang dapat melindungi kita terhadap berbagai kuman penyebab diare seperti: Shigella dan Vibrio cholerae (Roesli. risiko mendapat diare adalah 30x lebih besar. . yang bersifat alamiah. Bayi-bayi harus disusui secara penuh sampai mereka berumur 6 bulan. ASI mempunyai khasiat preventif secara imunologik dengan adanya antibodi dan zat-zat lain yang dikandungnya. Pada bayi yang tidak diberi ASI secara penuh. Pemberian susu formula merupakan cara lain dari menyusui Penggunaan botol untuk susu formula. 2005).

Tinja bayi dapat pula menularkan penyakit pada anak-anak dan orang tuanya. 2) Kebiasaan membuang tinja Membuang tinja (termasuk tinja bayi) harus dilakukan secara bersih dan benar. c) Bila tidak ada jamban pilih tempat untuk membuang tinja anak seperti di dalam lubang atau di kebun kemudian ditimbun d) Bersihkan dengan benar setelah buang air besar dan cuci tangan dengan sabun 3) Pemberian imunisasi campak Diare sering timbul menyertai campak. Hal yang harus diperhatikan oleh keluarga membuang tinja anak adalah : a) Kumpulkan segera tinja bayi atau anak kecil dan buang ke jamban b) Bantu anak-anak buang air besar di tempat yang bersih dan mudah dijangkau olehnya. Banyak orang beranggapan bahwa tinja bayi tidaklah berbahaya. sebelum menyuapi makan anak dan sesudah makan. Oleh karena itu segera memberikan anak imunisasi campak setelah berumur 9 bulan. Diare sering terjadi dan berakibat berat pada anak-anak yang dalam .25 sesudah membuang tinja anak. padahal sesungguhnya mengandung virus atau bakteri dalam jumlah besar. sehingga pemberian imunisasi campak juga dapat mencegah diare. mempunyai dampak dalam kejadian diare.

Masyarakat yang terjangkau oleh penyediaan air yang bener-bener bersih mempunyai resiko menderita diare lebih kecil dibandingkan dengan masyarakat yang tidak mendapatkan air bersih. hal ini sebagai akibat dari penurunan kekebalan tubuh penderita. Hal yang harus diperhatikan oleh keluarga dalam menggunakan air bersih yaitu : a) Ambil air dari sumber air yang bersih . makanan yang disiapkan dalam panci yang dicuci dengan air tercemar.26 sedang menderita campak. jari-jari tangan. Masyarakat dapat mengurangi resiko terhadap serangan diare yaitu dengan menggunakan air yang bersih dan melindungi air tersebut dari kontaminasi mulai dari sumbernya sampai penyimpanan dirumah. cairan atau benda yang tercemar dengan tinja misalnya air minum. Sebagian besar kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur fekal-oral mereka dapat ditularkan dengan memasukkan kedalam mulut. Apabila ada balita pertanyaanya adalah apakah sudah ditimbang secara teratur ke posyandu minimal 8 kali setahun. 5) Menggunakan air bersih yang cukup. 4) Penimbangan balita Penimbangan balita diperlukan untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan balita.

27 b) Ambil dan simpan air dalam tempat yang bersih dan tertutup serta gunakan gayung khusus untuk mengambil air c) Pelihara atau jaga sumber air dari pencemaran oleh binatang dan untuk mandi anak-anak d) Gunakan air yang direbus e) Cuci semua peralatan masak dan makan dengan air yang bersih dan cukup 3. jari-jari tangan. maka dapat menimbulkan kejadian penyakit diare. Dua faktor yang dominan. Mereka dapat ditularkan dengan memasukkan ke dalam mulut. cairan atau benda yang tercemar dengan tinja. Kedua faktor ini akan berinteraksi bersama dengan perilaku manusia. yaitu melalui makanan dan minuman. Faktor lingkungan (environment) Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan. dan makanan yang disiapkan dalam panci yang dicuci dengan air tercemar. misalnya air minum. . Sebagian kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur fekal oral. Sumber air minum Sumber air minum utama merupakan salah satu sarana sanitasi yang berkaitan dengan kejadian diare. yaitu sarana air bersih dan pembuangan tinja. a. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku manusia yang tidak sehat pula.

3) Air angkasa yaitu air yang berasal dari atmosfir. Menurut Notoatmodjo (2007). 2) Air tanah yang tergantung kedalamannya bisa disebut air tanah dangkal atau air tanah dalam.28 Menurut Muscari (2005) macam-macam sumber air minum antara lain : 1) Air permukaan adalah air yang terdapat pada permukaan tanah. b. Misalnya air sumur. air rawa dan danau. Jenis tempat pembuangan tinja Pembuangan tinja merupakan bagian yang penting dari kesehatan lingkungan. Misalnya air sungai. seperti hujan dan salju. syarat pembuangan kotoran yang memenuhi aturan kesehatan adalah : 1) Tidak mengotori permukaan tanah di sekitarnya 2) Tidak mengotori air permukaan di sekitarnya 3) Tidak mengotori air dalam tanah di sekitarnya 4) Kotoran tidak boleh terbuka sehingga dapat dipakai sebagai tempat lalat bertelur atau perkembangbiakan vektor penyakit lainnya 5) Tidak menimbulkan bau . Pembuangan tinja yang tidak menurut aturan memudahkan terjadinya penyebaran penyakit tertentu yang penulurannya melalui tinja antara lain penyakit diare. Air dalam tanah adalah air yang diperoleh pengumpulan air pada lapisan tanah yang dalam. air dari mata air.

c. Lantai yang baik adalah lantai yang dalam keadaan kering dan tidak lembab. Pengelolaan sampah Pengelolaan sampah berkaitan dengan kesehatan masyarakat. Lantai dinaikkan kira-kira 20 cm dari permukaan tanah untuk mencegah masuknya air ke dalam rumah (Sanropie. kayu. dan teraso). 2009). Lantai yang basah dan berdebu dapat menimbulkan sarang penyakit. Bahan lantai harus kedap air dan mudah dibersihkan. paling tidak perlu diplester dan akan lebih baik kalau dilapisi ubin atau keramik yang mudah dibersihkan. sebab bila musim hujan akan lembab sehingga dapat menimbulkan gangguan atau penyakit pada penghuninya.29 6) Pembuatannya murah 7) Mudah digunakan dan dipelihara. Lantai rumah dapat terbuat dari: ubin atau semen. oleh karena itu perlu dilapisi dengan lapisan yang kedap air (disemen. karena dari sampah akan hidup mikroorganisme penyebab penyakit dan juga binatang serangga sebagai pemindah atau penyebar penyakit (vektor). Oleh karena itu. d. dan tanah yang disiram kemudian dipadatkan. dipasang keramik. sampah harus dikelola dengan baik agar . Lantai dari tanah lebih baik tidak digunakan lagi. Jenis lantai rumah Menurut Notoatmodjo (2007) syarat rumah yang sehat jenis lantai yang tidak berdebu pada musim kemarau dan tidak basah pada musim penghujan.

. Pengelolaan sampah padat dapat dilakukan dengan cara antara lain pemusnahan sampah dengan menimbun dalam tanah. Pengelolaan sampah meliputi pengumpulan dan pengangkutan sampah. sehingga masyarakat harus membangun dan mengadakan tempat khusus pengumpulan sampah dan kemudian dari masing-masing tempat pengumpulan sampah harus diangkut ke tempat penampungan sementara sampah dan selanjutnya ke tempat penampungan akhir. atau dijadikan sebagai pupuk kompos (Notoatmodjo.30 tidak menggangu atau mengancam kesehatan masyarakat. 2007). membakar.

1 Kerangka Teori Sumber : Soegijanto (2002). Faktor infeksi 2. . Status gizi 2. Sumber air minum 2. hal itu tergantung pada kondisi masing-masing faktor serta proses interaksi antara ketiga faktor tersebut. Jenis lantai rumah Diare pada anak 6-12 bulan Bagan 2. Bustan (2002) dan Schwartz (2004) . Faktor malabsorbsi Agent : 1. Jenis tempat pembuangan tinja 3. Perilaku hidup bersih dan sehat Environment : 1. Kerangka Teori Faktor-faktor yang dapat menimbulkan penyakit tergantung pada host. Host: 1. Pemberian asi eksklusif 3. agent dan environment. Sakit akan terjadi bila dalam lingkungan yang memadai agent berhasil memasuki tubuh host dan mulai menimbulkan reaksi.31 C. Ketiga faktor tersebut merupakan tritunggal yang selalu ada tetapi tidak akan selalu menimbulkan penyakit.

2. karena adanya variabel bebas. Variabel Independen (Variabel Bebas) Variabel Independen adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen. pemberian ASI eksklusif. lingkungan. 2007). . Variabel independen dalam penelitian ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi diare pada anak usia 6-12 bulan yaitu status gizi. Variabel dalam penelitian ini adalah : 1. 3. Variabel Penelitian Variabel adalah gejala yang menjadi fokus peneliti untuk diamati (Sugiyono. Status gizi Pemberian ASI eksklusif Lingkungan Perilaku hidup bersih dan sehat Diare pada anak usia 6-12 bulan Bagan 2. perilaku hidup bersih dan sehat. 2. Kerangka Konsep 1. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kejadian diare pada anak usia 6-12 tahun. 4.2 Kerangka Konsep E.32 D. Variabel Dependen (Variabel Terikat) Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat.

3. Ada hubungan perilaku hidup bersih dan sehat dengan kejadian diare pada anak usia 6-12 bulan di Puskesmas Kedungmundu Semarang. 4. 2. . Hipotesis Penelitian Menurut Notoatmodjo (2005). Ada hubungan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian diare pada anak usia 6-12 bulan di Puskesmas Kedungmundu Semarang. patokan duga atau sementara. yang kebenaranya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut. Ada hubungan lingkungan dengan kejadian diare pada anak usia 6-12 bulan di Puskesmas Kedungmundu Semarang. Ada hubungan status gizi dengan kejadian diare pada anak usia 6-12 bulan di Puskesmas Kedungmundu Semarang.33 F. hipotesis dalam penelitian ini yaitu: 1. hipotesa penelitian adalah jawaban sementara penelitian.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful