2008

PENALAKSANAAN TETANUS PADA ANAK

HEALTH TECHNOLOGY ASSESSMENT INDONESIA DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

PANEL AHLI dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A (K) Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi, IKA,FKUI/RSCM Jakarta Prof. Dr. Alex Chairulfatah, Sp.A (K) Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi, IKA, FK UNPAD/ RSHS Bandung dr. Djatnika Setiabudi, Sp.A(K) Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi, IKA, FK UNPAD/ RS HS Bandung dr. Amar Widhiani, Sp.A(K) Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi, IKA,FKUI/RSAB Harapan Kita Jakarta dr. Sri Kusumo Amdani, Sp.A(K) Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi, IKA,FKUI/RSAB Harapan Kita Jakarta dr. Debby Latupeirissa, Sp.A Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi, IKA,FKUI/RS Fatmawati Jakarta dr. Mulya Rahma Karyanti, Sp.A Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi, IKA,FKUI/RSCM Jakarta dr. Pratiwi Andayani, Sp.A Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi, IKA,FKUI/RS Fatmawati Jakarta UNIT PENGKAJIAN TEKNOLOGI KESEHATAN Prof.DR. Dr. Eddy Rahardjo, SpAn, KIC Ketua dr. Santoso Soeroso, Sp.A (K), MARS Anggota Dr. Mulya A. Hasjmy, Sp. B. M. Kes Anggota dr. Suginarti, M.Kes Anggota dr. Diar Wahyu Indriati, MARS Anggota dr. Ririn Fristika Sari, MKM Anggota dr. Titiek Resmisari Anggota dr. Sad Widyanti Soekadi Anggota

DAFTAR ISI

BAB I : PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Permasalahan 1.3. Tujuan BAB II : METODOLOGI PENILAIAN 2.1. Strategi Penelusuran Kepustakaan 2.2. Level of Evidence dan Tingkat Rekomendasi BAB III : TETANUS 3.1. Definisi 3.2. Etiologi 3.3. Epidemiologi 3.4. Patogenesis 3.5. Gejala Klinis 3.6. Penegakan Diagnosis 3.6.1. Anamnesis 3.6.2. Pemeriksaan Fisik 3.6.3. Pemeriksaan Penunjang 3.7. Diagnosis Banding 3.8. Komplikasi 3.9. Penatalaksanaan 3.9.1. Tatalaksana Umum 3.9.2. Tatalaksana Khusus 4.0. Asuhan Keperawatan 4.1. Prognosis 4.2. Pencegahan BAB IV : DISKUSI BAB V : ANALISIS BIAYA BAB VI: REKOMENDASI DAFTAR PUSTAKA

4 4 5 5 6 6 6 7 7 7 8 9 11 12 12 13 14 14 15 16 17 18 24 28 29 32 34 39 41

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Tetanus merupakan salah satu penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi. Penyakit ini ditandai oleh kekakuan otot dan spasme yang diakibatkan oleh pelepasan neurotoksin (tetanospasmin) oleh Clostridium tetani. Tetanus dapat terjadi pada orang yang belum diimunisasi, orang yang diimunisasi sebagian, atau telah diimunisasi lengkap tetapi tidak memperoleh imunitas yang cukup karena tidak melakukan booster secara berkala.1 Tetanus merupakan masalah kesehatan masyarakat yang terjadi di seluruh dunia. Diperkirakan angka kejadian pertahunnya sekitar satu juta kasus dengan tingkat mortalitas yang berkisar dari 6% hingga 60%.2 Selama 30 tahun terakhir, hanya terdapat sembilan penelitian RCT (randomized controlled trials) mengenai pencegahan dan tata laksana tetanus.3 Pada tahun 2000, hanya 18.833 kasus tetanus yang dilaporkan ke WHO.4 Sekitar 76 negara, termasuk didalamnya negara yang berisiko tinggi, tidak memiliki data serta seringkali tidak memiliki informasi yang lengkap. Hasil survey menyatakan bahwa hanya sekitar 3% tetanus neonatorum yang dilaporkan.5 Berdasarkan data dari WHO, penelitian yang dilakukan oleh Stanfield dan Galazka, dan data dari Vietnam diperkirakan insidens tetanus di seluruh dunia adalah sekitar 700.000 – 1.000.000 kasus per tahun.6 Selama 20 tahun terakhir, insidens tetanus telah menurun seiring dengan peningkatan cakupan imunisasi. Namun demikian, hampir semua negara tidak memiliki kebijakan bagi orang yang telah divaksinasi yang lahir sebelum program imunisasi diberlakukan ataupun penyediaan booster yang diperlukan untuk perlindungan jangka lama, serta pada orang-orang yang lupa melakukan jadwal imunisasi saat infrastruktur pelayanan kesehatan rusak—misalnya akibat perang dan kerusuhan. Akibatnya anak yang lebih besar serta orang dewasa menjadi lebih berisiko mengalami tetanus. Meskipun demikian, di negara dengan program imunisasi yang sudah baik sekalipun, orang tua masih rentan, karena vaksinasi primer yang tidak lengkap ataupun karena kadar antibodinya yang telah menurun seiring berjalannya waktu.3,7 Di Amerika Serikat, tetanus sudah jarang ditemukan. Tetanus neonatorum menyebabkan 50% kematian perinatal dan menyumbangkan 20% kematian bayi. Angka kejadian 6-7/100 kelahiran hidup di perkotaan dan 1123/100 kelahiran hidup di pedesaan. Sedangkan angka kejadian tetanus pada anak di rumah sakit 7-40 kasus/tahun, 50% terjadi pada kelompok 5-9 tahun, 30% kelompok 1-4 tahun, 18% kelompok >10 tahun, dan sisanya pada bayi <12 bulan.1,8

Namun demikian. Di seluruh dunia. Pada tetanus derajat berat. . obat-obatan untuk mengontrol spasme.2 Permasalahan Tetanus adalah suatu keadaan toksemia akut yang disebabkan oleh neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani yang ditandai dengan spasme otot yang periodik dan berat. dan pada akhirnya akan semakin menurunkan angka kejadian tetanus.3. 1. namun penyakit ini masih belum dapat dimusnahkan meskipun pencegahan dengan imunisasi sudah diterapkan secara luas di seluruh dunia. Aspek lain yang juga sangat penting adalah pencegahan. meskipun angka kejadiannya telah menurun setiap tahunnya. angka kematiannya masih cukup tinggi. diperlukan kajian lebih lanjut mengenai penatalaksanaan serta pencegahan tetanus guna menurunkan angka kematian penderita tetanus. khususnya pada anak. antibiotik untuk mematikan kuman serta pengobatan untuk mengatasi komplikasi dan perawatan suportif yang tepat.9 Meskipun insidens tetanus saat ini sudah menurun. tetap saja penyakit ini belum dapat disingkirkan dari dunia. Oleh karena itu. tatalaksana dan pencegahan infeksi tetanus. tetanus masih menjadi salah satu dari sepuluh besar penyebab kematian pada anak. 1.1 Tujuan Umum Menurunkan insidens dan angka mortalitas pada penderita tetanus dengan cara pencegahan serta penatalaksanaan yang lebih efisien dan efektif. namun kisaran tertinggi angka kematian dapat mencapai angka 60%. penatalaksanaan tetanus meliputi pemberian imunoglobulin tetanus untuk menetralisir toksin. Pencegahan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan pemberian imunisasi dan perawatan luka. Hal tersebut tentu saja patut disayangkan. meskipun sebenarnya dapat dicegah dengan pemberian imunisasi. Saat ini. efektif dan efisien diharapkan penanganan pasien tetanus dapat menjadi lebih optimal sehingga angka kematian dapat diturunkan.Di Indonesia. insidens tetanus cukup rendah begitu juga di Indonesia. Selain itu.3 Tujuan 1.2 Tujuan Khusus Terwujudnya rekomendasi pemerintah dalam menetapkan kebijakan program yang berkenaan dengan kesehatan anak khususnya tentang diagnosis. sehingga diharapkan cakupan imunisasi akan semakin luas. Dengan penatalaksanaan yang cepat.3. 1. Saat ini imunisasi yang aman dan murah sudah tersedia di berbagai belahan dunia.

Studi kohort dan/atau studi kasus kontrol IIIa. Evidence yang termasuk dalam level IIa atau IIb C.2. Studi cross-sectional IIIb. IIIb. 2. emedicine.1. Journal of the American Academy of Pediatrics. Konsensus dan pendapat ahli Tingkat rekomendasi A. Evidence yang termasuk dalam level Ia atau Ib B. tetanus in pediatric dan tetanus pada anak. Ib. Strategi Penelusuran Kepustakaan Penelusuran artikel dilakukan secara manual dan melalui kepustakaan elektronik: Communicable Diseases Centre (CDC). Level of evidence dan Tingkat Rekomendasi Setiap literatur yang diperoleh dilakukan penilaian kritis (critical appraisal) berdasarkan kaidah evidence-based medicine. World Health Organization (WHO). Rekomendasi yang ditetapkan akan ditentukan tingkat rekomendasinya. Textbook of Pediatric Infections. serta Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Minimal satu non-randomized controlled trials IIb.BAB II METODOLOGI PENILAIAN 2. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Evidence yang termasuk dalam level IIIa. Indian Journal of Pediatrics. Meta-analisis randomized controlled trials Minimal satu randomized controlled trials IIa. dalam dua puluh tahun terakhir (19882008). sesuai dengan kriteria yang ditetapkan US Agency for Health Care Policy and Research. Level of evidence Ia. Seri kasus dan laporan kasus IV. Kata kunci yang digunakan adalah tetanus. atau IV . kemudian ditentukan levelnya. Level of evidence dan tingkat rekomendasi diklasifikasikan berdasarkan definisi dari Scottish Intercollegiate Guidelines Network.

1 . Gejala ini bukan disebabkan kuman secara langsung. mencemari lingkungan secara fisik dan biologik. Spora dapat menyebar kemana-mana.10 3.1. infeksi telinga tengah. Sebaliknya.8. kotoran manusia dan hewan peliharaan serta di daerah pertanian. tetapi sebagai dampak eksotoksin (tetanospasmin) yang dihasilkan oleh kuman pada sinaps ganglion sambungan sumsum tulang belakang. sambungan neuromuskular (neuromuscular junction) dan saraf otonom.BAB III TETANUS 3. kuman berbentuk batang dengan sifat :     Basil Gram-positif dengan spora pada ujungnya sehingga berbentuk seperti pemukul genderang Obligat anaerob (berbentuk vegetatif apabila berada dalam lingkungan anaerob) dan dapat bergerak dengan menggunakan flagela Menghasilkan eksotoksin yang kuat Mampu membentuk spora (terminal spore) yang mampu bertahan dalam suhu tinggi. Definisi Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa disertai gangguan kesadaran yang disebabkan oleh kuman Clostridium tetani. Bakteri ini peka terhadap panas dan tidak dapat bertahan dalam lingkungan yang terdapat oksigen. Tetanus juga dapat terjadi akibat beberapa komplikasi kronik seperti ulkus dekubitus. Adanya luka mungkin dapat tidak disadari. Etiologi Kuman yang menghasilkan toksin adalah Clostridium tetani. Dapat juga terjadi akibat frost bite.8 °F (121°C) selama 10-15 menit. dan seringkali tidak dilakukan pengobatan.11 Clostridium tetani biasanya masuk ke dalam tubuh melalui luka. Spora mampu bertahan dalam keadaan yang tidak menguntungkan selama bertahun-tahun dalam lingkungan yang anaerob. dalam bentuk spora sangat resisten terhadap panas dan antiseptik. . Bakteri Clostridium tetani ini banyak ditemukan di tanah. Spora juga relatif resisten terhadap fenol dan agen kimia lainnya.2. abses dan gangren. kekeringan dan desinfektan. Spora dapat bertahan dalam autoklaf pada suhu 249.

1. tingkat pencemaran biologik lingkungan peternakan/pertanian. Tetanus pada anak tersebar diseluruh dunia. dan adanya luka pada kulit atau mukosa.3 2004 12 8. persalinan. terutama pada daerah risiko tinggi dengan cakupan imunisasi DPT yang rendah.3.10.1 3. Data insidens tetanus menurut WHO13 Tabel 3. Tetanus tidak menular dari manusia ke manusia.0 2005 11 27. dan pemakaian obat-obatan intravena atau subkutan.2. Tempat masuknya kuman penyakit ini bisa berupa luka yang dalam yang berhubungan dengan kerusakan jaringan lokal.3 1 0 11 0 1 0 2006 8 0 1 100 4 0 6 16.pembedahan. Epidemiologi Tetanus tersebar di seluruh dunia dengan angka kejadian tergantung pada jumlah populasi masyarakat yang tidak kebal. Angka kejadian pada anak laki-laki lebih tinggi. RSHS) 10 RSCM RSAB RSF RSHS Tahun kasus *m (%) kasus *m (%) kasus *m (%) kasus *m (%) 2003 10 20 3 0 6 0 7 14. lecet yang dangkal dan kecil atau luka geser yang terkontaminasi tanah.12 Tabel 3.7 2007 18 0 5 0 9 0 8 25. Jumlah Kasus Tetanus dan Kematian di Beberapa Rumah Sakit Provinsi di Indonesia (asupan finalisasi: insidens tetanus 5 tahun terakhir 2003-2007 di RSCM. RSAB Har-Kit.0 . akibat perbedaan aktivitas fisiknya. tertanamnya benda asing atau sepsis dengan kontaminasi tanah. trauma pada jari tangan atau jari kaki yang berhubungan dengan patah tulang jari dan luka pada pembedahan.3 1 0 2 0 4 25. RS Fatmawati.

Jakarta. RSHS = Rumah Sakit Hasan Sadikin.4. Bandung. luka bakar yang luas. Luka tusuk.Keterangan : RSCM = Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo.4.3.5 0 21. (*m = meninggal) Tabel 3. (*m = meninggal) Tabel 3.4 2 26 31 0 59 0 15. . namun diduga melalui :10 1. Patogenesis Pada dasarnya tetanus adalah penyakit yang terjadi akibat pencemaran lingkungan oleh bahan biologis (spora) sehingga upaya kausal menurunkan attack rate adalah dengan cara mengubah lingkungan fisik atau biologik. RSHS = Rumah Sakit Hasan Sadikin. RSF = Rumah Sakit Fatmawati. Jakarta. komplikasi kecelakaan. Insidensi Tetanus Neonatorum Menurut WHO12 3.3 0 0 0 9. RSF = Rumah Sakit Fatmawati.9 33. RSAB = Rumah Sakit Harapan Kita. 2.2 14. Bandung.4 6.1 Keterangan : RSCM = Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo. gigitan binatang. Distribusi Kelompok Umur Kasus Tetanus Tahun 2003-2007 10 Kelompo k Umur (Tahun) <1 1-4 5-9 >10 Jumlah RSCM kasus *m (%) kasu s 3 4 4 11 RSAB *m (%) RSF RSHS kasu *m (%) kasu *m (%) s s 10 13 12 2 37 0 0 0 0 0 9 7 8 2 26 22.3 12. RSAB = Rumah Sakit Harapan Kita. Port d’entree tak selalu dapat diketahui dengan pasti.5 0 15. patah tulang. luka yang tidak dibersihkan (debridement) dengan baik. Luka operasi.

(3) otak. bubuk kopi. Reseptor khusus pada ganglion menyebabkan fragmen C toksin tetanus menempel erat dan kemudian melalui proses perlekatan dan internalisasi. tetani masuk ke dalam tubuh melalui luka. Gejala klinis sepenuhnya disebabkan oleh toksin yang dihasilkan oleh sel vegetatif yang sedang tumbuh.5 nanogram per kilogram berat badan (satu nanogram = satu milyar gram). bubuk ramuan. (2) medula spinalis. yaitu tetanospasmin dan tetanolisin. sehingga kadar asetilkolin menjadi sangat tinggi pada sinaps yang terkena. dan daun-daunan merupakan penyebab utama masuknya spora pada puntung tali pusat yang menyebabkan terjadinya kasus tetanus neonatorum. 4. terutama serabut motorik. Tetanolisin menyebabkan hemolisis tetapi tidak berperan dalam penyakit ini. sehingga tonus otot meningkat dan menimbulkan kekakuan. Diperkirakan dosis letal minimum pada manusia sebesar 2. 10 Dampak toksin antara lain : 10 1. sehingga berubah menjadi bentuk vegetatif dan berbiak dengan cepat tetapi hal ini tidak mencetuskan reaksi inflamasi. pada sistem saraf simpatis. pembubuhan puntung tali pusat dengan kotoran binatang.3. Bila tonus makin meningkat akan menimbulkan spasme terutama pada otot yang besar. mengubah keseimbangan dan koordinasi impuls sehingga tonus otot meningkat dan otot menjadi kaku. Otitis media. Spora yang masuk ke dalam tubuh tidak berbahaya sampai dirangsang oleh beberapa faktor (kondisi anaerob). tetani menghasilkan dua eksotoksin. Gejala klinis tetanus disebabkan oleh tetanospasmin.14 Hipotesis bahwa toksin pada awalnya merambat dari tempat luka lewat motor end plate dan aksis silinder saraf tepi ke kornu anterior sumsum tulang belakang dan menyebar ke susunan saraf pusat lebih banyak dianut daripada lewat pembuluh limfe dan darah. karies gigi. . dan (4) pada beberapa kasus. Toksin menyebabkan blokade pada simpul yang menyalurkan impuls pada tonus otot. 11. Pemotongan tali pusat yang tidak steril. Pengangkutan toksin ini melewati saraf motorik. atau 175 nanogram pada orang dengan berat badan 70 kg. toksin diangkut ke arah sel secara ektra aksional dan menimbulkan perubahan potensial membran dan gangguan enzim yang menyebabkan kolin-esterase tidak aktif. Tetanospasmin melepaskan pengaruhnya di keempat sistem saraf: (1) motor end plate di otot rangka. C. Spora C. luka kronik. Dampak pada ganglion pra sumsum tulang belakang disebabkan karena eksotoksin memblok sinaps jalur antagonis.

aritmia. masa inkubasi akan semakin lama. secara umum semakin besar jarak antara tempat luka dengan SSP. heart block. yakni :1. tetapi bisa lebih pendek (1 hari atau hingga beberapa bulan). Masa inkubasi sekitar 7-21 hari. Spasme dapat berlangsung hingga 3-4 minggu. hiperhidrosis dan disfagia dengan hidrofobia. hipersalivasi dan spasme otot punggung. Derajat luka bervariasi. akan semakin tinggi kemungkinan terjadinya kematian. Penyakit ini biasanya memiliki pola yang desendens. Gejala utama berupa trismus terjadi sekitar 75% kasus. kesulitan menelan.12 Ada empat bentuk tetanus yang dikenal secara klinis. Spasme dapat terjadi hingga beberapa minggu sebelum akhirnya menghilang secara bertahap. dan spasme pada otot abdomen. 2. gelisah. mulai dari luka yang tidak disadari hingga luka trauma yang terkontaminasi. Tetanus lokal dapat . Dampak pada otak. hipotensi. tetani (tempat luka) ke Susunan Saraf Pusat (SSP). Manifestasi dini ini merefleksikan otot bulbar dan paraspinal. diakibatkan oleh toksin yang menempel pada gangliosida serebri diduga menyebabkan kekakuan dan spasme yang khas pada tetanus.5 Gejala Klinis Masa inkubasi tetanus umumnya 3-21 hari. 3. Generalized tetanus (Tetanus umum) Tetanus umum merupakan bentuk yang sering ditemukan. terutama mengenai saraf simpatis dan menimbulkan gejala keringat yang berlebihan. Localized tetanus (Tetanus lokal) Tetanus lokal terjadi pada ektremitas dengan luka yang terkontaminasi serta memiliki derajat yang bervariasi. Gambaran klinis lainnya meliputi iritabilitas.10. diikuti dengan kekakuan pada leher. Dampak pada saraf otonom. sebagian besar tergantung dari jarak luka dengan SSP. Semakin pendek masa inkubasi. atau takikardia. 3. hipertermia. mungkin karena dipersarafi oleh akson pendek. Spasme dapat terjadi berulang kali dan berlangsung hingga beberapa menit. Pemulihan sempurna memerlukan waktu hingga beberapa bulan. Bentuk ini merupakan tetanus yang tidak umum dan memiliki prognosis yang baik. Hal ini secara langsung berhubungan dengan jarak dari tempat masuknya kuman C.10 1.2. hipertensi. Tanda pertama berupa trismus/lock jaw. seringkali ditemukan oleh dokter gigi dan dokter bedah mulut.

spasmenya lama. laju napas>40x/menit.tanpa disfagia atau disfagia ringan II : Sedang Trismus sedang.spastisitas umum tanpa spasme atau gangguan pernapasan. disfagia ringan III : Berat Trismus berat. dan salah satu keadaan tersebut dapat menetap berat . Hanya sekitar 1% kasus yang menyebabkan kematian. rigiditas dengan spasme ringan sampai sedang dalam waktu singkat. Neonatus biasanya gelisah. disfagia berat IV : Sangat (derajat III + gangguan sistem otonom termasuk kardiovaskular) Hipertensi berat dan takikardia yang dapat diselang-seling dengan hipotensi relatif dan bradikardia. Tetanus neonatorum Bentuk tetanus ini terjadi pada neonatus. Selain berdasarkan gejala klinis. laju napas>30x/menit. Bentuk tetanus ini memiliki masa inkubasi 1-2 hari.mendahului tetanus umum tetapi dengan derajat yang lebih ringan. Angka mortalitas dapat melebihi 70%. Klasifikasi Ablett untuk Derajat Manifestasi Klinis Tetanus Derajat I : Ringan Manifestasi Klinis Trismus ringan sampai sedang. rewel. laju nadi > 120x/menit. Masa inkubasi sekitar 3-10 hari. 3. Tetanus neonatorum terjadi pada negara yang belum berkembang dan menyumbang sekitar setengah kematian neonatus. Cephalic tetanus (Tetanus sefalik) Tetanus sefalik umumnya terjadi setelah trauma kepala atau terjadi setelah infeksi telinga tengah. 4. spastisitas umum. Tabel 5. Prognosis biasanya buruk. Gejala dapat berupa tetanus lokal hingga tetanus umum. apneic spell. Gejala terdiri dari disfungsi saraf kranialis motorik (seringkali pada saraf fasialis). berdasarkan derajat beratnya penyakit. sulit minum ASI. tetanus dapat dibagi menjadi empat (4) tingkatan (lihat Tabel 5). mulut mencucu dan spasme berat. Penyebab yang sering adalah penggunaan alat-alat yang terkontaminasi untuk memotong tali pusat pada ibu yang belum diimunisasi.

karena pemeriksaan laboratorium tidak spesifik. atau terkena sinar yang kuat. penegakan diagnosis sepenuhnya didasarkan pada anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pada neonatus kekakuan mulut ini menyebabkan mulut mencucu seperti mulut ikan sehingga bayi tidak dapat menetek. kapan imunisasi yang terakhir? Selang waktu antara timbulnya gejala klinis pertama (trismus atau spasme lokal) dengan spasme yang pertama (period of onset)? 3. terjadi sebagai akibat kekakuan otot mimik sehingga tampak dahi mengkerut.  Otot dinding perut kaku sehingga dinding perut seperti papan.  Risus sardonikus.16 3.6. akan timbul spasme umum yang awalnya hanya terjadi setelah dirangsang misalnya dicubit. mata agak tertutup dan sudut mulut tertarik keluar dan kebawah. Jangan menyingkirkan diagnosis tetanus meskipun orang tersebut telah diimunisasi secara lengkap.3. Lambat laun ―masa istirahat‖ spasme makin pendek sehingga anak jatuh dalam status konvulsivus. Secara klinis untuk menilai kemajuan kesembuhan. . lebar bukaan mulut diukur setiap hari.2. Kekakuan yang sangat berat dapat menyebabkan tubuh melengkung seperti busur.  Bila kekakuan makin berat. Diperkirakan terdapat 4100 juta kasus tetanus pada orang yang telah divaksinasi (imunokompeten).1. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaaan fisik dapat ditemukan :10. Jadi. otot badan dan trunk muscle.15.17  Trismus adalah kekakuan otot mengunyah (otot maseter) sehingga sukar untuk membuka mulut. otot leher. Anamnesis Anamnesis yang dapat membantu diagnosis antara lain: 10      Apakah dijumpai luka tusuk.6. digerakkan secara kasar. luka dengan nanah atau gigitan binatang? Apakah pernah keluar nanah dari telinga? Apakah pernah menderita gigi berlubang? Apakah sudah pernah mendapat imunisasi DT atau TT.6 Penegakan Diagnosis Diagnosis tetanus sepenuhnya didasarkan pada temuan klinis. luka kecelakaan/patah tulang terbuka.  Opistotonus adalah kekakuan otot yang menunjang tubuh seperti: otot punggung.

Selain mahal.01 U/mL atau lebih.6. rahang menjadi kaku sehingga bayi tidak bisa menghisap dan sulit menelan. Setelah itu. tetani yang ditemukan pada luka dan dapat diisolasi dari pasien yang tidak mengalami tetanus. Beberapa saat sesudahnya. .3. aldolase) di dalam darah dapat meningkat. Kadar antitoksin di dalam darah 0.10. hasil biakan yang positif tanpa gejala klinis tidak mempunyai arti.  Pada tetanus yang berat akan terjadi gangguan pernapasan sebagai akibat spasme yang terus-menerus atau oleh karena kekakuan otot laring yang dapat menimbulkan anoksia dan kematian. Namun demikian. dan seringkali tidak dapat dikultur pada pasien tetanus. Hasil tes positif. Pemeriksaan Penunjang Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang khas untuk tetanus. dapat pula menyebabkan suhu badan yang tinggi atau berkeringat banyak. Hanya sekitar 30% kasus C. jika terjadi kontraksi rahang involunter (menggigit spatula) dan hasil negatif berupa refleks muntah. pengaruh toksin pada saraf otonom menyebabkan gangguan sirkulasi (gangguan irama jantung atau kelainan pembuluh darah). dianggap sebagai imunisasi dan bukan tetanus.     Nilai hitung leukosit dapat tinggi.10  Pemeriksaan biakan pada luka perlu dilakukan pada kasus tersangka tetanus.  Uji spatula dilakukan dengan menyentuh dinding posterior faring dengan menggunakan alat dengan ujung yang lembut dan steril. uji spatula memiliki spesifitas yang tinggi (tidak ada hasil positif palsu) dan sensitivitas yang tinggi (94% pasien yang terinfeksi menunjukkan hasil yang positif). Biakan kuman memerlukan prosedur khusus untuk kuman anaerobik. Pada tetanus neonatorum awalnya bayi tampak sulit untuk menghisap dan cenderung terus menangis.18 3. patah tulang panjang dan kompresi tulang belakang. tetani dapat ditemukan di luka orang yang tidak mengalami tetanus. badan menjadi kaku serta terdapat spasme intermiten. Kadar enzim otot (kreatin kinase. kekakuan otot sfingter dan otot polos lain sehingga terjadi retentio alvi atau retentio urinae atau spasme laring.1. kuman C. Dalam laporan singkat The American Journal of Tropical Medicine and Hygiene menyatakan bahwa pada penelitian. Pemeriksaan cairan serebrospinal dapat menunjukkan hasil yang normal.

ensefalitis. pemanjangan spasme batang tubuh. Tetani disebabkan oleh hipokalsemia. Secara klinis dijumpai adanya spasme karpopedal. Pada ketiga diagnosis tersebut tidak dijumpai trismus. Biasanya asimetris.7. 4. Namun dijumpai gangguan kesadaran dan terdapat kelainan likuor serebrospinal.8. 3. EMG dapat menunjukkan pelepasan subunit motorik yang terus-menerus dan pemendekan atau tidak adanya interval tenang yang normal yang diamati setelah potensial aksi. Trismus akibat proses lokal yang disebabkan oleh mastoiditis. risus sardonikus. 5.19 Diagnosis bandingnya adalah sebagai berikut : 10 1. Komplikasi Tetanus Tabel 6 menggambarkan beberapa komplikasi akibat tetanus.  Dapat ditemukan perubahan yang tidak spesifik pada EKG. Meningitis. Rabies :dijumpai gejala hidrofobia dan kesukaran menelan.8. 3. meningoensefalitis. Tabel 6. pneumonia) dan tipe II* gagal napas (spasme laring. Komplikasi tetanus 1.10 Sistem tubuh Jalan napas Komplikasi Aspirasi* Laringospasme/obstruksi* Sedasi dihubungkan dengan obstruksi* Respirasi Apnea* Hipoksia Tipe I* (ateletaksis. 2. 3. Tabel 7 menggambarkan komplikasi tetanus di beberapa RS di Indonesia. sedangkan pada anamnesis terdapat riwayat digigit binatang pada waktu epidemi. otitis media supuratif kronis (OMSK) dan abses peritonsilar. Diagnosis Banding Diagnosis banding tergantung dari manifestasi klinis utama dari penyakit. sedasi berlebihan) ARDS* Komplikasi dari pemanjangan bantuan ventilasi (contoh : . Keracunan striknin : minum tonikum terlalu banyak (pada anak). aspirasi.

bradiaritmia* Asistol* Gagal jantung* Ginjal Gagal ginjal : fase oligouria dan poliuria Stasis urin dan infeksi Gastrointestinal Stasis lambung Ileus Diare Perdarahan* Lain-lain Status konvulsivus Dehidrasi Penurunan berat badan* Tromboemboli* Sepsis dan gagal organ multipel* Fraktur vertebra selama spasme Avulsi tendon selama spasme * Komplikasi jangka panjang . bradikardia* Takiaritmia.pneumonia) Komplikasi trakeostomi (contoh : stenosis trakea) Emboli paru Emfisema mediastinum Penumotoraks Spasme diafragma Kardiovaskular Takikardia*. hipertensi*. iskemia* Hipotensi*.

0 Status konvulsivus Bronkopneumo nia Sepsis Keterangan : RSCM = Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo. mengatasi spasme. perawatan luka atau port’d entree lain yang diduga seperti karies dentis dan OMSK. 6. RSAB = Rumah Sakit Harapan Kita. Penanganan spasme. Pada tetanus neonatorum eksisi luas tunggul umbilikus tidak diindikasikan. elektrolit dan keseimbangan kalori (karena biasanya terganggu). menjaga kelancaran jalan napas. sedangkan tatalaksana khusus terdiri dari pemberian antibiotik dan serum anti tetanus. RSHS = Rumah Sakit Hasan Sadikin.9 . untuk memusnahkan ―pabrik‖ penghasil tetanospasmin. RSF = Rumah Sakit Fatmawati. terutama pada pasien yang mengalami demam dan spasme berulang. 4.12 1. disfagia atau hidrofobia. 2.9.5 0 0 1 2 0 0 2 1 0 0 0 0 0 0 RSHS kasus *m (%) 5 2 4 40. Penatalaksanaan pada tetanus terdiri dari tatalaksana umum yang terdiri dari kebutuhan cairan dan nutrisi. efektivitas antitoksin dalam dosis yang sangat besar dalam menurunkan angka kematian masih dipertanyakan. Pencegahan komplikasi gangguan napas dan metabolik. Bahkan pada kenyataannya. Asuhan keperawatan yang sangat ketat dan terus-menerus. Jakarta. oksigenasi. Lakukan pemantauan cairan. Bandung. Komplikasi tetanus tahun 2003-2007 10 Komplikasi RSCM RSAB RSF kas *m (%) kasus *m (%) kasus *m (%) us 0 0 2 1. Pemberian antitoksin dilakukan secepatnya setelah diagnosis tetanus dikonfirmasi. melakukan pembersihan luka di tempat masuknya kuman. 3. 5. Penatalaksanaan Tujuan penatalaksanaan pada tetanus adalah sebagai berikut : 11. Namun. Jika memungkinkan. juga pada pasien yang tidak mampu makan atau minum akibat trismus yang berat.0 0 50. tidak ada bukti kuat yang menyatakan bahwa toksin tetanus dapat diinaktifkan dengan antitoksin setelah toksin berikatan di jaringan.Tabel 7. Netralisasi toksin yang masih terdapat di dalam darah yang belum berikatan dengan sistem saraf. (*m = meninggal) 3.

1-0. kesadaran membaik (tidak koma).9. pemberian diazepam dilanjutkan dengan dosis rumatan sesuai dengan keadaan klinis pasien. Mengurangi spasme dan mengatasi spasme. tidak dijumpai gangguan pernapasan. Setelah 5-7 hari dosis diazepam diturunkan bertahap 5-10 mg/hari dan dapat diberikan melalui pipa orogastrik.3 mg/kgBB/kali dengan interval 2-4 jam sesuai gejala klinis atau dosis yang direkomendasikan untuk usia <2 tahun adalah 8mg/kgBB/hari diberikan oral dalam dosis 2-3 mg setiap 3 jam. Dosis maksimal adalah 40 mg/kgBB/hari. untuk bayi (tetanus neonatorum) diberikan dosis awitan 0. badan masih kaku. dan bila sampai hari ke-3 infus belum dapat dilepas sebaiknya dipertimbangkan pemberian nutrisi secara parenteral. . dosis dipertahankan selama 3-5 hari. Mencukupi kebutuhan cairan dan nutrisi Pada hari pertama perlu pemberian cairan secara intravena sekaligus pemberian obat-obatan. atau dosis diazepam intravena untuk anak 0. diikuti infus tetesan tetap 15-40 mg/kgBB/hari. Spasme harus segera dihentikan dengan pemberian diazepam 5 mg per rektal untuk BB<10 kg dan 10 mg per rektal untuk anak dengan BB ≥10 kg. Selanjutnya pengurangan dosis dilakukan secara bertahap (berkisar antara 20% dari dosis setiap dua hari). Tatalaksana Umum 9 1. Setelah spasme berhenti.3 mg/kgBB/kali. 3. fenobarbital iv dan morfin dapat digunakan sebagai terapi tambahan jika pasien dirawat di ICU karena terdapat risiko depresi pernapasan. Dosis diazepam yang direkomendasikan adalah 0. 4. Tanda klinis membaik bila tidak dijumpai spasme spontan. Midazolam iv atau bolus. Bila dosis diazepam maksimal telah tercapai namun anak masih spasme atau mengalami spasme laring. sebaiknya dipertimbangkan untuk dirawat di ruang perawatan intensif sehingga otot dapat dilumpuhkan dan mendapat bantuan pernapasan mekanik.1. Menjaga saluran napas tetap bebas. Memberikan tambahan O2 dengan sungkup (masker). Diazepam efektif mengatasi spasme dan hipertonisitas tanpa menekan pusat kortikal. 2. Alternatif lain. Setelah spasme mereda dapat dipasang sonde lambung untuk makanan dan obatobatan dengan perhatian khusus pada kemungkinan terjadinya aspirasi.3.2 mg/kgBB iv untuk menghilangkan spasme akut.1-0. pada kasus yang berat perlu trakeostomi. Apabila dengan terapi antikonvulsan dengan dosis rumatan telah memberikan respons klinis yang diharapkan.

Trakeostomi dan ventilasi mekanik selama 3-4 minggu. Sebagian dari dosis tersebut diberikan secara infiltrasi di tempat sekitar luka.2 Tatalaksana Khusus 1. Jika karies dentis atau OMSK dicurigai sebagai port d’entree. Pemberian ATS harus berhati-hati akan reaksi anafilaksis.000-6. Pada tetanus anak. berikan tambahan penatalaksanaan berikut :      HTIG disuntikkan secara intratekal (meningkatkan perbaikan klinis dari 430%). Karena alasan ini. Intraveneous Immunoglobuline (IVIG) mengandung antitoksin tetanus dan dapat digunakan jika HTIG tidak tersedia. magnesium. Kontraindikasi HTIG adalah riwayat hipersensitivitas terhadap imunoglobulin atau komponen human immunoglobuline sebelumnya. klonidin atau nifedipin. Magnesium diberikan secara infus (iv) untuk mencegah spasme otot.11. hiperpireksia/hipotermia) dan mungkin memerlukan labetolol. Efek otonom tetanus dapat menyulitkan untuk diatasi (hiper dan hipotensi yang berganti-ganti. pemberian anti serum dapat disertai dengan imunisasi aktif DT setelah anak pulang dari rumah sakit.000 IU) secara intramuskular (IM) dalam dosis tunggal. Rangsangan yang sangat ringan dapat memicu spasme yang berpotensi menyebabkan kematian pada pasien dengan penyakit yang sudah menyebar. Diazepam (dikenal sebagai valium) diberikan secara kontinu melalui infus iv. Obat-obatan seperti klorpromazin atau diazepam atau pelemas otot lain dapat diberikan untuk mengontrol spasme otot. trombositopenia berat atau keadaan koagulasi lain yang dapat merupakan kontraindikasi pemberian secara IM.9.000 IU dengan 50. Anti serum atau Human Tetanus Immunoglobuline (HTIG) 10.000 IU im dan 50. dosisnya adalah 500 IU IM dosis tunggal.000 IU iv.5. Pada kasus yang ekstrim mungkin diperlukan untuk menimbulkan paralisis pada pasien dengan obat kurare serta menggunakan ventilator mekanik. Bila fasilitas tersedia. semua prosedur terapeutik . dapat diberikan HTIG (3. 3. maka diperlukan konsultasi dengan dokter gigi/THT. HTIG hanya dapat menghilangkan toksin tetanus yang belum berikatan dengan ujung saraf. Untuk bayi.21 Dosis ATS yang dianjurkan adalah 100. Selain penatalaksanaan diatas. Pada keadaan tetanus berat memerlukan perawatan di perawatan intensif.

000-100.harus dikoordinasi dengan baik sehingga risiko menghasilkan tetanospasmin dapat berkurang hingga minimal. jika terdapat hipersensitif terhadap penisilin dapat diberikan tetrasiklin 50 mg/kgBB/hari (untuk anak berumur lebih dari 8 tahun).tetani. metronidazol telah menjadi terapi pilihan yang digunakan di beberapa pelayanan kesehatan. Metronidazol bakteri Spektrum sempit. penyakit tetanus tidak menimbulkan kekebalan. Antibiotika 10. Tabel 8. obligat anaerob (tidak dapat menginduksi Gram (+). Semua prosedur paling baik dilakukan setelah pasien mendapatkan sedasi dan relaksasi yang optimal.000 U/kgBB/hari selama 7-10 hari. Metronidazol efektif untuk mengurangi jumlah kuman C. 2. anaerob superinfeksi) Mekanisme kerja Stabilitas Menghambat dinding sel Tidak stabil Stabil sintesis Menghambat sisntesis DNA . Sampai saat ini. Sedangkan pada tetanus neonatorum. Imunisasi aktif dengan toksoid tetanus harus segera dilakukan setelah kondisi pasien stabil.14 Metronidazol diberikan secara iv dengan dosis inisial 15 mg/kgBB dilanjutkan dosis 30 mg/kgBB/hari dengan interval setiap 6 jam selama 7-10 hari. Selanjutnya pasien diberikan imunisasi tetanus. setiap 6 jam selama 10 hari direkomendasikan pada semua kasus tetanus. pemberian penisilin G secara parenteral dengan dosis 100. Penisilin membunuh bentuk vegetatif C. Sebuah penelitian menyatakan bahwa penisilin mungkin berperan sebagai agonis terhadap tetanospasmin dengan menghambat pelepasan asam aminobutirat gama (GABA). Tabel 8 menggambarkan perbandingan antara penisilin dan metronidazol. Sebagai lini kedua dapat diberikan penisilin prokain 50.11. Pada penelitian yang dilakukan di Indonesia.14 a. Karena toksin tetanus sangat kuat. dapat terjadi gangguan tumbuh kembang akibat hipoksia yang berat. Infeksi tetanus pada anak merupakan infeksi yang akut sehingga relatif tidak mengganggu tumbuh kembang anak.000 U/kgBB/hari secara iv. 8. Perbedaan Penisilin dan Metronidazol Penisilin Spektrum Spektrum luas. tetani bentuk vegetatif.

Reaksi alergi Resistensi Struktur Sering Sering Strukturnya GABA spasme : menyerupai menginduksi Jarang Jarang Penetrasi abses Akses ke Rendah Baik IM Oral. Pemberian antibiotika bertujuan untuk memusnahkan klostridium di tempat luka yang dapat memproduksi toksin. diberikan antibiotik yang sesuai. Jika terjadi penyulit sepsis atau bronkopneumonia. Tabel 9 memaparkan beberapa pilihan antibiotika yang dapat digunakan pada penatalaksanaan tetanus. . rektal. IV b.

penisilin dengan protein.Neonatus > 7 hari dan ≥ 1200 gram: 15-30 mg/kgBB/hari IV dibagi tiap 12 jam  Bayi dan Anak: 15-30 mg/kg/hari IV dibagi tiap 8-12 jam.HTA Indonesia_2008_Penatalaksanaan Tetanus pada Anak _hlm22/44 Tabel 9. Eritromisin Agen bakteriostatik yang  Anak menghambat sintesis protein 15-50 mg/kg/hari IV dibagi tiap 6 jam.20 Nama Obat Deskripsi Dosis Metronidazole Efek antibakteri terhadap  Neonatus klostridium.5-15 abses serta eksitasi terhadap mg/kgBB/hari IV dibagi tiap 12-24 jam SSP dapat abaikan. Bukan merupakan pilihan pada tetanus tetapi dapat digunakan pada tetanus karena beberapa alasan. Obat ini tergolong . lakukan pemantauan terhadap spasme dan perkembangan neuropati perifer. Kontraindikasi/ Perhatian KI : Hipersensitivitas P: Hati-hati pada penggunaan dengan diskrasia darah atau gangguan fungsi hati. KI: Riwayat hipersensitivitas . Berikatan  Anak : dan menghambat ikatan 100 000 U/kgBB/hari IV/IM dibagi tiap 4 jam.Neonatus < 1200 gram: 7. memiliki penetrasi yang 48 jam efisien ke dalam luka dan .5 mg/kgBB IV tiap aman. tidak dengan berikatan dengan melebihi 4g/hari subunit 50S ribosom bakteri. tidak melebihi 2 g/hari Penisilin G Antibiotik bakterisid. . tidak melebihi 24 juta U/hari dengan transpeptida yang mengadakan ikatan silang dengan peptidoglikan yang merupakan tahap akhir pada sintesis dinding bakteri. Perbandingan Antibiotika1. Menghambat sintesis dinding sel dan mengaktivasi enzim autolitik yang berperan pada kerja bakteri pada pembelahan bakteri.Neonatus ≤ 7 hari dan ≥ 1200 gram: 7.

.Neonatus > 7 hari : 10-20 mg/kgBB/hari IV Tidak digunakan untuk agen dibagi tiap 6-12 jam tetanus. KI : Riwayat hipersensitivitas.Neonatus > 7 hari dan 1200-2000 g : 10-15 mg/kgBB IV dibagi tiap 8-12 jam .Neonatus > 7 hari dan <1200 g : 15 mg/kgBB IV dibagi tiap 24 jam . Dapat digunakan jika  Bayi & anak pengobatan lain tidak tersedia. . Tidak melebihi 3g/hari tetanus.HTA Indonesia_2008_Penatalaksanaan Tetanus pada Anak _hlm23/44 Klindamisin Tetrasiklin Agen bakteriostatik yang  Neonatus berikatan dengan subunit 50S . enteritis regional. kolitis yang berkaitan dengan antibiotik KI : Riwayat hipersensitivitas. gangguan hepatik. tidak melebihi 4800 mg/hari Agen bakteriostatik yang  Dosis menghambat sintesis protein. ≥ 8 tahun : 25-50 mg/kgBB/hari per oral dibagi Tidak digunakan untuk agen tiap 6 jam. kolitis ulseratif.Neonatus ≤ 7 hari : 10-15 mg/kgBB/hari IV ribosom bakteri dan bekerja dibagi tiap 8-12 jam sebagai agen bakteriostatik. lakukan penyesuaian dosis terhadap fungsi ginjal dan parameter farmakokinetik. Tidak digunakan IV dibagi dalam 24 jam untuk agen tetanus. disfungsi hepatik berat. usia <8 tahun Vankomisin Agen bakterisid yang  Neonatus KI: Riwayat hipersensitivitas menghambat sintesis RNA dan .Neonatus ≤ 7 hari dan 1200-2000 g: 10-15 digunakan jika pengobatan lain mg/kgBB IV dibagi tiap 12-18 jam tidak tersedia.Neonatus ≤ 7 hari dan <1200 g: 15 mg/kgBB dinding sel.Neonatus > 7 hari dan >2000 g : 15-20 mg/kgBB IV dibagi tiap 8 jam  Bayi & Anak 10 mg/kgBB IV dibagi tiap 6 jam. Dapat .Neonatus ≤ 7 hari dan >2000 g: 10-15 mg/kgBB IV dibagi tiap 8-12 jam . . Dapat digunakan jika pengobatan lain tidak tersedia. .25-40 mg/kgBB/hari IV dibagi tiap 6-8 jam.

000 IU /kg i. diikuti infus tetesan tetap 15-40 mg/kgBB/hari Dalam keadaan berat diazepam drip 20 mg/kgBB/hari dirawat di PICU/NICU. Dosis pemeliharaan 8 mg/kgBB/hari p. penatalaksanaan tetanus dapat digambarkan secara lebih ringkas dan sistematis seperti pada tabel berikut ini.3 mg/kgBB/kali i.1-0.1-0.2 mg/kgBB iv untuk menghilangkan spasme akut.) Diazepam (iv bolus) 0.v. tetanus neonatorum dosis awitan 0.000 IU iv.o.HTA Indonesia_2008_Penatalaksanaan Tetanus pada Anak _hlm24/44 Dari penjelasan sebelumnya. tidak melebihi 2 g/hari Human tetanus immune globulin (3.02 mg/kgBB iv diikuti 0.05 mg/kgBB/dosis diberikan setiap 2-3 jam Diazepam (iv bolus) Midazolam (iv infus/bolus) Morfin (im/iv) Klorpromazin Trakeostomi Tekanan positif intermiten Ventilasi Penggantian volum yang cukup Sedasi (seperti di atas) Inotropik .v.m) Antitetanus serum (ATS) 50. tiap 2-4 jam. Pengelolaan Tetanus. dibagi dalam 6-8 dosis Midazolam (iv infus/bolus) Vekuronium Bila spasme sangat hebat pankuronium bromid 0.000 IU im dan 50. Tabel 10. (terlebih dahulu dilakukan tes kulit) (untuk tetanus neonatorum 10. Eradikasi bakteri penyebab Antitoksin netralisasi terhadap luka Terapi suportif selama fase akut Pembersihan luka Antibiotik Antitoksin kuda atau manusia Kontrol spasme otot Sedasi Pemeliharaan jalan napas/ventilasi Pemeliharaan hemodinamik Metronidazol 15-30 mg/kgBB/hari dibagi tiap 8-12 jam.000-6.000 IU i.

HTA Indonesia_2008_Penatalaksanaan Tetanus pada Anak _hlm25/44 Bila terjadi aktivitas simpatis yang berlebihan diberikan beta bloker seperti propanolol atau alfa dan beta bloker (labetolol) Rehabilitasi Imunisasi Nutrisi Fisioterapi Terapi primer penuh dari tetanus toksoid .

Untuk menghindari pneumonia aspirasi. Bila trismus makin berkurang.24. dapat menyebabkan aspirasi.23 2. Saat ini. Asuhan Keperawatan Luka Perawatan luka merupakan aspek penting dalam pencegahan tetanus selain pemberian imunisasi. Perawatan luka pada tetanus yang biasanya dilakukan selama ini adalah dengan : . Jika hal ini tidak sering-sering dihisap.HTA Indonesia_2008_Penatalaksanaan Tetanus pada Anak _hlm26/44 4. makanan diberikan lunak dengan lauk cincang.0 Asuhan Keperawatan Asuhan keperawatan pada pasien tetanus dibagi dalam dua kelompok yaitu: 1. Status pernapasan dievaluasi dengan hati-hati terhadap adanya tanda-tanda gawat napas dan peralatan emergensi harus selalu dalam keadaan siap sedia dan mudah dijangkau. luka dengan slough/slaf.Debridement luka (eksisi jaringan nekrotik) di ruangan tindakan khusus/ruang operasi.23. luka nekrotik atau luka berukuran kecil atau besar. Apakah lukanya bersih atau kotor. luka bernanah. Upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya luka pada penderita luka sangat tergantung pada penilaian terhadap luka. Asuhan Keperawatan Umum. Tindakan debridement luka (eksisi jaringan nekrotik) sangat dibutuhkan untuk membuang jaringan nekrotik yang dapat menghalangi proses penyembuhan luka dengan menyediakan tempat untuk pertumbuhan bakteri. dan sebagainya. Susu diberikan paling tidak dua kali sehari. . untuk membuang jaringan nekrotik pada luka tetanus dapat digunakan bahan terapi topikal modern yang lebih hemat biaya (seperti . . bisa diberikan makanan lunak biasa. selain dengan melakukan tindakan debridement luka secara pembedahan.Merawat dan membersihkan luka memakai teknik aseptik. kepala anak harus dimiringkan jika anak dalam keadaan telentang (untuk drainase).21  Jika trismus sudah berkurang lebih lebar dari 3 cm. Anak dengan kesulitan bernapas seharusnya dirawat di ruang intensif anak (ICU). luka permukaan atau dalam. Secara bertahap. luka eskar. antara lain dengan intervensi sebagai berikut :  Bersihkan jalan napas yang tidak efektif diantaranya dapat menyebabkan pneumonia aspirasi yang terjadi akibat terkumpulnya air liur (lendir) didalam mulut karena anak sukar menelan. maka makanan dapat diberikan per oral dalam bentuk makanan cair dan diberikan memakai sedotan.Irigasi luka.

.Luka dibiarkan terbuka. Dengan memperhatikan sifat luka tetanus. Autolisis debridement adalah suatu cara peluruhan jaringan nekrotik yang dilakukan oleh tubuh sendiri dengan syarat utama: lingkungan luka harus dalam keadaan lembab. jaringan nekrosis akan mudah lepas dengan sendirinya.Kompres dengan H2O2. diharapkan dapat mengurangi tindakan manipulasi terhadap terjadinya spasme/kejang pada anak. 18 dan jangan terlalu kencang menyemprotnya untuk mencegah spasme dan mencegah resiko perdarahan pada jaringan yang rapuh. tetapi tidak terlalu rapat (karena hidrogel memerlukan balutan sekunder).  Kemudian oleskan hidrogel ke dalam luka. Pada keadaan melunak. .Membuang benda asing dalam luka. Posisi luka pasien harus mudah dicapai sehingga hidrogel dapat diolesi langsung kedalam luka. .9%). enzim proteolitik secara selektif akan melepas jaringan nekrotik. Dengan metode autolisis debridement ini. Bila menggunakan metode semprot. bersihkan luka/cuci luka dengan menggunakan cairan fisiologis (normal saline/NaCl 0.HTA Indonesia_2008_Penatalaksanaan Tetanus pada Anak _hlm27/44 hidrogel) yang berfungsi sebagai autolisis debridement. tetapi lakukan dengan irigasi lembut. Perawatan luka pada tetanus dengan menggunakan bahan terapi topikal adalah sebagai berikut:  Dengan teknik aseptik. .  Tutup dengan kasa yang sangat tipis dengan sedikit plester. teknik pencucian luka tidak boleh digosok. dimana anak mudah terangsang mengalami spasme. gunakan jarum no. Pada keadaan lembab.

Kategori Cairan Pencuci Luka dan Terapi Topikal Luka Nama Cairan Deskripsi H2O2 (Hidrogen peroksida) Cairan antiseptik yang dapat berubah menjadi oksigen dan air jika berkontak dengan katalase. . karena mempunyai efek pendingin. NaCl 0. tidak menghambat proses penyembuhan luka dan tidak menyebabkan reaksi alergi atau merubah flora bakteri pada kulit. Kelebihan .Sebagai analgesik yang mengurangi rasa sakit. . Kandungan cairannya menciptakan lingkungan yang lembab pada luka. . suatu enzim yang ditemukan dalam darah dan sebagian besar jaringan.Transparan. .Meningkatkan autolitik debridement secara alami.Tidak menimbulkan trauma dan rasa sakit saat penggantian balutan.9% Cairan yang dapat dipergunakan untuk membersihkan luka karena isotonik terhadap jaringan tubuh.Oksigen bebas yang menimbulkan efek berbusa dapat membantu debridement mekanik terhadap debris dari luka.Menciptakan lingkungan yang tetap lembab. dapat digunakan untuk mengirigasi rongga tubuh dan ekonomis. Dalam pemakaiannya.Lembut dan fleksibel untuk segala jenis luka. -Mempunyai efek germicidal yang melawan bakteri anaerob karena adanya pelepasan oksigen. 7. . terdiri dari polyurethane carrier film dan lapisan hydrogel. yang akan terserap ke dalam struktur gel dan terbuang bersama pembalut sekunder.HTA Indonesia_2008_ Penatalaksanaan Tetanus pada Anak _hlm28/44 Tabel 11.8 Hidrogel Jenis terapi topikal berupa gel. Kekurangan -Efek berbusa dari H2O2 dapat . .Melunakkan dan menghancurkan jaringan nekrotik tanpa merusak jaringan sehat. hidrogel . tidak toksik terhadap jaringan.

.Dilaporkan adanya kasus emboli O2 dan emfisema pembedahan setelah irigasi dibawah tekanan atau irigasi dalam rongga tertutup dengan H2O2.Batasi penggunaannya untuk pengangkatan debris dari luka. . -Dapat melarutkan bekuan dan menyebabkan perdarahan.Disebabkan karena resiko terjadinya emboli oksigen atau emfisema pembedahan. . .Untuk luka nekrotik permukaan dan dalam .Untuk luka berlubang. mengisi luka dan mengurangi area jaringan mati.Pertimbangkan alternatif yang lebih aman untuk mengangkat debris misalnya kompres cairan normal salin atau autolityc debriding dressings (balutan yang dapat mengangkat debris secara autolitik)8 memerlukan balutan sekunder.Memiliki efek sitotoksik pada fibroblast. .Untuk luka permukaan dan dalam dengan cairan sedikit .HTA Indonesia_2008_ Penatalaksanaan Tetanus pada Anak _hlm29/44 Catatan mengangkat epitel yang baru terbentuk. penggunaan H2O2 dengan tekanan atau pada rongga tertutup/dangkal tidak direkomendasikan. . . maka luka tidak boleh terbuka.

bagian dari fraktur. tetapi angka mortalitas dapat diturunkan hingga 10-30 persen dengan perawatan kesehatan yang modern. jenis luka dan luas kerusakan jaringan turut memegang peran dalam menentukan prognosis. Letak. jenis luka. tali pusat. masa awitan. Semakin pendek masa awitan.HTA Indonesia_2008_Penatalaksanaan Tetanus pada Anak _hlm30/44 4. Tetanus neonatorum dan tetanus sefalik harus dianggap sebagai tetanus berat.10. Sebaliknya tetanus lokal yang memiliki prognosis baik. prognosisnya menjadi semakin buruk. dan keadaan status imunitas pasien. Pemberian antitoksin profilaksis dini meningkatkan angka kelangsungan hidup. meskipun terjadi tetanus. Semakin pendek masa inkubasi. Banyak faktor yang berperan penting dalam prognosis tetanus. Sistem Skoring Bleck Sistem skoring Masa inkubasi Awitan penyakit Tempat masuk 1 < 7 hari < 48 jam luka bakar.14 Berikut ini adalah skala/derajat keparahan yang menentukan prognosis tetanus menurut sistem skoring Bleck: 22 Tabel 12. karena mempunyai prognosis buruk.1 Prognosis Rata-rata angka kematian akibat tetanus berkisar antara 25-75%. luka operasi. Jenis tetanus juga memengaruhi prognosis. semakin buruk prognosis.4°C > 40°C (+) ≤ 38. atau penyuntikan intramuskular Spasme Suhu  Aksilar  Rektal Takikardia dengan frekuensi lebih dari 120x/menit (pada neonatus >150x/menit) Tetanus umum (+) (-) > 38. Diantaranya adalah masa inkubasi. aborsi septik.4°C ≤ 40°C (-) (+) (-) 0 ≥ 7 hari ≥ 48 jam Selain tersebut tempat Adiksi narkotika (+) (-) .

Dosis ketiga dapat diberikan 6 . Toksoid tetanus pertama kali diproduksi pada tahun 1924. mengingat perawatan kasus tetanus sulit dan mahal. Imunisasi aktif 10.2 Pencegahan Pencegahan sangat penting. Jenis imunisasi tergantung dari golongan umur dan jenis kelamin. setiap WUS yang berkunjung ke fasilitas pelayanan kesehatan harus selalu ditanyakan status imunisasi TT mereka dan bila diketahui yang bersangkutan belum mendapatkan imunisasi TT harus diberi imunisasi TT minimal 2 kali dengan jadwal sebagai berikut : Dosis pertama diberikan segera pada saat WUS kontak dengan pelayanan kesehatan atau sendini mungkin saat yang bersangkutan hamil. Oleh karena itu. Untuk pencegahan.12 bulan setelah dosis kedua atau setiap saat pada kehamilan berikutnya. Total 5 . Angka kegagalannya relatif rendah. perlu dilakukan: 1.HTA Indonesia_2008_Penatalaksanaan Tetanus pada Anak _hlm31/44  Skor total menunjukkan derajat keparahan dan prognosis. atau dikombinasi dengan toksoid difteri sebagai DT atau dengan toksoid difteri dan vaksin pertusis aselular sebagai DPT.14. seperti diuraikan berikut ini: Total Skor 0-1 2-3 4 5-6 Derajat Keparahan Ringan Sedang Berat Sangat berat Tingkat Mortalitas <10% 10-20% 20-40% >50% Tetanus sefalik selalu merupakan derajat berat atau sangat berat Tetanus neonatorum selalu merupakan derajat sangat berat 4. salah satu pencegahan adalah dengan pemberian imunisasi TT pada wanita usia subur (WUS).23 Imunisasi dengan toksoid tetanus merupakan salah satu pencegahan yang sangat efektif. Untuk mencegah tetanus neonatorum. Dosis tambahan sebanyak dua dosis dengan interval satu tahun dapat diberikan pada saat WUS tersebut kontak dengan fasilitas pelayanan kesehatan atau diberikan pada saat kehamilan berikutnya. dosis kedua diberikan 4 minggu setelah dosis pertama. Terdapat dua jenis toksoid tetanus yang tersedia –adsorbed (aluminium salt precipitated) toxoid dan fluid toxoid. Imunisasi toksoid tetanus digunakan secara luas pada militer selama Perang Dunia II. Kombinasi toksoid difteri dan tetanus (DT) yang mengandung 1012 Lf dapat diberikan pada anak yang memiliki kontraindikasi terhadap vaksin pertusis.11. Toksoid tetanus tersedia dalam kemasan antigen tunggal.

Pada beberapa orang.25 Ibu yang mendapat TT 2 atau 3 dosis ternyata memberikan proteksi yang baik terhadap bayi baru lahir dari tetanus neonatal. 2. jarang ditemukan kasus tetanus pada orang yang telah diimunisasi secara lengkap dalam waktu 10 tahun setelah dosis terakhir. ini akan memberi perlindungan terhadap seluruh bayi yang akan dilahirkan. Akibatnya. diperlukan imunisasi ulangan (booster) yang rutin dilakukan setiap 10 tahun.HTA Indonesia_2008_Penatalaksanaan Tetanus pada Anak _hlm32/44 dosis TT yang diterima oleh WUS akan memberi perlindungan seumur hidup.24 Tabel 13. luka kotor atau luka yang diduga tercemar dengan spora tetanus. Jadwal imunisasi Vaksin 2 bula n Vaksin dasar Vaksin booster Vaksin untuk wanita hamil/ WUS DPT 4 bula n DPT 6 bula n DPT DPT DPT dT TT 1 TT 2 TT 3 18 bulan Usia/Waktu 5 tahu n 12 tahun Efektivitas vaksin tetanus tidak pernah diuji dalam penelitian. WUS yang riwayat imunisasinya telah memperoleh 3 . peranan pencegahan dengan imunisasi sangatlah penting. Perawatan luka Perawatan luka harus segera dilakukan terutama pada luka tusuk. ditemukan bahwa kasus tetanus hanya terjadi pada anak-anak yang tidak diimunisasi karena orang tua menolak memberikan vaksinasi. imunitas dapat terjadi seumur hidup atau pada sebagian besar orang memiliki kadar antitoksin yang minimal setelah 10 tahun.11 Oleh karena itu. Perawatan luka dilakukan guna mencegah timbulnya jaringan anaerob. Kadar rata-rata antitoksin 0. Jaringan nekrotik dan benda asing harus dibuang. Kesimpulan bahwa kadar antitoksin bersifat protektif setelah diberikan toksoid tetanus yang lengkap terlihat manfaatnya secara klinis hingga 100%. cukup diberikan 2 dosis TT pada saat kehamilan pertama. Untuk pencegahan kasus tetanus neonatorum sangat bergantung . Pada penelitian di Amerika Serikat.01 AU/ml pada ibu cukup untuk memberi proteksi terhadap bayinya.4 dosis DPT/DaPT pada waktu anak-anak.

penting diperhatikan hal-hal berikut ini :27 Jangan membungkus punting tali pusat/mengoleskan cairan/bahan apapun ke dalam punting tali pusat Mengoleskan alkohol/povidon iodine masih diperkenankan tetapi tidak dikompreskan karena menyebabkan tali pusat lembab 3. dosis keempat tetap diberikan dan sebaiknya berupa adsorbed toxoid 5 Ya. Dosis untuk anak < 7 tahun : 4 U/kg IM dosis tunggal. 14 Pedoman Profilaksis terhadap Tetanus Riwayat Pemberian (dosis) <3 atau lupa >34 Luka Bersih dan Kecil Td atau TdaP2 ya Tidak5 TIG Jenis Luka Lainnya1 Td atau TdaP2 ya Tidak6 TIG3 tidak tidak Ya Tidak Keterangan : Td: difteri adult-type dan vaksin tetanus toksoid: TIG: tetanus immune globulin. jika >5 tahun mendapat imunisasi yang mengandung tetanus dan tidak diperlukan booster lagi . Tabel.v. dan air liur. di sisi ekstremitas lain dari pemberian tetanus toksoid 4 Bilamana telah diberikan 3 dosis toxoid fluid. dan luka akibat tembakan. toksoid difteri dengan dosis lebih kecil dan pertusis aselular 1 Antara lain (tidak terbatas hanya): luka yang terkontaminasi oleh kotoran/feses. tusukan.11. 3 Imun globulin i. tabrakan. luka bakar.m.10. 10 Berikut ini adalah pedoman pemberian profilaksis terhadap tetanus. aborsi serta perawatan tali pusat selain dari imunisasi ibu. HTIG juga dapat diberikan sebagai profilaksis luka. TIG: 250 U i. sedangkan dosis untuk anak ≥ 7 tahun : 250 U IM dosis tunggal. avulsi. dan frostbite 2 TdaP lebih baik dibandingkan Td untuk remaja yang belum pernah mendapat imunisasi TdaP.26 Pada perawatan tali pusat. Diberikan bilamana TIG tidak tersedia. Dosis ATS profilaksis 3000 IU. jika >10 tahun mendapat imunisasi yang mengandung tetanus 6 Ya.HTA Indonesia_2008_Penatalaksanaan Tetanus pada Anak _hlm33/44 pada penghindaran persalinan yang tidak aman. tanah. TdaP: booster tetanus toksoid. Td lebih baik dibandingkan TT untuk remaja yang telah diimunisasi TdaP atau TdaP memang tidak tersedia di Indonesia. Pemberian ATS dan HTIG profilaksis Profilaksis dengan pemberian ATS hanya efektif pada luka baru (< 6 jam) dan harus segera dilanjutkan dengan imunisasi aktif.

diazepam menjadi pilihan pertama. Tujuan pemberian ATS dan HTIG adalah untuk menetralisasi toksin yang beredar di dalam darah dan dapat juga diberikan sebagai profilaksis. Tercukupinya kebutuhan cairan dan nutrisi. Metronidazol efektif untuk mengurangi jumlah .000 IU saat ini sulit di dapat im dan  Masa kadaluarsa 50. hal-hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut : 1. Penatalaksanaan khusus tetanus terdiri dari pemberian serum anti tetanus/HTIG dan antibiotika. Tabel 13.000 IU hipersensitivitas secara IM terhadap dalam imunoglobulin atau dosis komponen human tunggal immunoglobuline sebelumnya Pada penelitian yang dilakukan di Indonesia. 2. Penanganan spasme. 4. metronidazol telah menjadi terapi pilihan yang digunakan di beberapa pelayanan kesehatan. Pada penanganan spasme. Mencari port d’entreeI.HTA Indonesia_2008_Penatalaksanaan Tetanus pada Anak _hlm34/44 BAB IV DISKUSI Diagnosis tetanus sepenuhnya didasarkan pada temuan klinis. Pada penatalaksanaan umum. karena pemeriksaan laboratorium tidak spesifik.000Riwayat 6. Berikut ini adalah tabel perbandingan antara ATS dan HTIG. 3. Metronidazol diberikan secara iv dengan dosis inisial 15 mg/kgBB dilanjutkan dosis 30 mg/kgBB/hari dengan interval setiap 6 jam selama 7-10 hari. Menjaga saluran napas agar tetap bebas.000 IU Berhati-hati akan  Ketersediaan di dengan reaksi anafilaksis pelayanan kesehatan 50. Penatalaksanaan pasien tetanus secara garis besar terdiri atas tatalaksana umum dan khusus.000 IU pendek iv  Ketersediaan di pelayanan kesehatan cukup  Masa kadaluarsa lebih lama HTIG 3. Perbandingan ATS dan HTIG ATS Indikasi ATS hanya efektif pada luka baru (kurang dari 6 jam) dan harus segera dilanjutkan dengan imunisasi aktif HTIG hanya dapat menghilangkan toksin tetanus yang belum berikatan dengan ujung saraf Dosis Kontraindikasi Kekurangan 100.

Tabel perbandingan setiap antibiotika dapat dilihat di dalam tabel 9. Peranan imunisasi sangatlah penting dalam memberikan proteksi pada infeksi tetanus. Pencegahan terdiri atas 3 aspek yaitu: imunisasi.HTA Indonesia_2008_Penatalaksanaan Tetanus pada Anak _hlm35/44 kuman C. . tetani bentuk vegetatif. perawatan luka dan pemberian ATS/HTIG profilaksis.

Untuk biaya perawatan dan jasa tindakan medik. Komponen direct cost dalam penatalaksanaan tetanus di rumah sakit. Komponen Terapi  Pemberian Antibiotika  Pemberian ATS/HTIG  Perawatan umum lainnya 3. Jasa Tindakan Medik Saat ini sedang disusun Sistem Case-mix dalam INA DRG (Indonesian Diagnosis Regiment Group) oleh Departemen Kesehatan RI untuk Rumah Sakit Pemerintah sehingga diharapkan di masa depan akan ada kesamaan biaya untuk suatu penyakit tertentu dengan kategori atau kriteria yang sama. meliputi: 1. Komponen Diagnostik : Karena diagnosis sepenuhnya didasarkan pada temuan klinis. pemeriksaan penunjang relatif tidak perlukan. Perhitungan biaya untuk pasien tetanus didasarkan pada berat ringannya penyakit yang diderita. 2. Perkiraan biaya yang akan dikeluarkan oleh penderita tetanus yaitu :     Tetanus derajat ringan Tetanus derajat sedang Tetanus derajat berat Tetanus derajat sangat berat . yaitu direct cost. tergantung dari kebijaksanaan pemerintah daerah masing-masing. indirect cost dan intangible cost.HTA Indonesia_2008_Penatalaksanaan Tetanus pada Anak _hlm36/44 BAB V ANALISIS BIAYA Dalam menyusun suatu analisis biaya. dibutuhkan tiga komponen biaya.

000 11.500 7.000 700.539.800 6.800 Total (RSHS) 1.9% 500 ml Abbocath 24 NGT Feeding drip 1 tabung besar x 7 hr 2 kolf x 7 hr 1 buah/3 hr x 4 48 buah 10 kolf 5 buah 2 buah 1 buah 100.300 213.500 15.200 107.556.890.190.000 Total (RSCM) 1.000 196. Jenis tindakan Rawat inap Ruang rawat kelas III Obat Metronidazol Diazepam Diazepam 5 mg oral ATS (20.000 98.600 3.941. Suportif Oksigen Kaen 3B Infus set Spuit 3 ml NaCl 0.500 2.613.000 Harga satuan (RSHS) 135.000 .300 2.000 500 588.000 12.000/hari 25.HTA Indonesia_2008_Penatalaksanaan Tetanus pada Anak _hlm37/44 BIAYA PENATALAKSANAAN TETANUS DERAJAT RINGAN-SEDANG No 1.800 55.000/hari 25.000 240.300 98.000 120.000 700.200 86.000 120.400 300 507.500 2.700 24.000 14 hari 1 flacon x 14 hr 1 ampul x 7 hr 3 x 5 mg x 7 hr 5 vial / 12 vial 354.000 24.000 75.000 24.300 12.000 unit) / HTIG (250 unit) Banyaknya Harga satuan (RSCM) 85.000 17.400 10.200 115. 2.000 100.000 350.000 50.000 98.812 217.060 2.000 12.000 14.000 75.000 10.000 77.500 2.800 2.200 13.

000 50.Urin lengkap 3x 1x 1x 2x 1x 45.000 150.000 50.000 4.000 58.000 70.000 80.000 8. RSHS = Rumah Sakit Hasan Sadikin.600 98.Darah Perifer Lengkap .000 80. Pemeriksaan Penunjang .500 150. 7.750 5.500 179.000 20.000 70.000 300.500 75.000 20.000 240.000 100.000 - 240.000 175.000 Keterangan : RSCM = Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo.000 192.000 50.000 95.Biakan darah & uji resistensi .000 80.000 135.000 70.000 70.000 80.000 50.000 192. Bandung . 1x 78.750 174.000 70.Biakan fokus infeksi& uji resistensi .HTA Indonesia_2008_Penatalaksanaan Tetanus pada Anak _hlm38/44 48. Jakarta. Konsultasi .500 179.000 175.Bagian THT .500 18.000 179.Bagian Bedah Perawatan luka H2O2 NaCl Hidrogel Imunisasi Tetanus 3x 1x 1x 3x 50.Unit Rehabilitasi Medik .000 50.000 80.000 80.000 70.000 47.Bagian Gigi & Mulut .000 18.000 179.Rontgen thoraks .

000 14.300 213.000/hr 9. Jenis tindakan Banyaknya Harga satuan (RSCM) Total (RSCM) Harga satuan (RSHS) Total (RSHS) 2.200 700.190.000 9.400 2.000 240.000 120. 3.400.000 196.000 48.400 10.000 24.000 1.000 .700 24.000 219.800 55.500 2.500 2.613.000 unit) / HTIG (250 unit) Suportif Oksigen Kaen 3B Infus set Spuit 3 ml NaCl o.000 98.000 11.331.000 75.000 174.000 15.200 507.100 2.535.000 2.000 694.9% 500 ml Abbocath 24 NGT Feeding drip Suction catheter Urin catheter Pemeriksaan Penunjang 7 hari 7 hari 1.556.890.000 75. 4.539.600 134.000 120.800.000 1 flacon x 14 hr 1 vial x 10 hr 8 vial x 7 hr 1 ampul x 7 hr 5 vial 12 vial 25.200 150.300 67.812 217.800 354.600 1 tabung besar x 7 hr 2 kolf x 7 hr 1 buah/3 hr x 4 48 buah 10 kolf 5 buah 2 buah 1 buah 6 buah x 7 hr 1 buah/3 hr x 2 3x 100.000 135.300 588.000/hari 135.000 1.000 98.HTA Indonesia_2008_Penatalaksanaan Tetanus pada Anak _hlm39/44 BIAYA PENATALAKSANAAN TETANUS DERAJAT BERAT-SANGAT BERAT N o 1.000 24.200 107.400 1.941.400 190.000 25.500 15.000 616.000/hari 14.000 350.000 12.300 15.200 115.400 45.600 98.000 12.060 2.000 58.000/hr 85.000.000.000 100.000 390.000 50.800 2. Rawat inap Ruang rawat ICU Ruang rawat kelas III Obat Metronidazol Cefalosporin gen 3 Diazepam Vecuronium ATS (20.200 13.000 150.300 98.000 700.500 7.000 12.000 1.000 17.

Konsultasi .000 70.000 75.000 78.000 20.000 179.000 95.000 20.000 80.000 80. RSHS = Rumah Sakit Hasan Sadikin.000 70. Bandung .500 115.000 300.Darah Perifer Lengkap .750 175.000 150.750 3x 1x 1x 3x 50. Jakarta.000 50.500 690.000 192.000 50.000 6. 1x 50.000 80.000 240.000 100.Urin lengkap 5.000 50.000 285.000 175.Analisis Gas Darah .Bagian Gigi & Mulut .HTA Indonesia_2008_Penatalaksanaan Tetanus pada Anak _hlm40/44 .000 80.Biakan fokus infeksi& uji resistensi .500 179.000 80.000 240.000 80.Unit Rehabilitasi Medik .000 70.000 50. 8.000 58.500 18.Biakan darah & uji resistensi .Rontgen thoraks .Bagian Bedah Perawatan luka H2O2 NaCl Hidrogel Imunisasi Tetanus 1x 1x 2 x 3 hr 2x 1x 179.000 70.000 - Keterangan : RSCM = Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo.000 47.000 18.000 192.Bagian THT .000 70.500 179.000 - 70.000 150.

HTA Indonesia_2008_Penatalaksanaan Tetanus pada Anak _hlm41/44 BAB VI REKOMENDASI I. [Rekomendasi C] IV. Penegakan diagnosis 2. Penatalaksanaan 3. Penegakan diagnosis tetanus sepenuhnya didasarkan pada temuan klinis karena tidak mudah dilakukan pemeriksaan penunjang yang spesifik. HTA (Health Technology Assessment) yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI dengan melibatkan berbagai mitra bestari (Stake holder) berusaha untuk melakukan penilaian dan kajian dari berbagai aspek terutama aspek teknologi kedokteran sesuai dengan kondisi negara Republik Indonesia yang diharapkan dapat memberi manfaat [Rekomendasi C] 1. [Rekomendasi C] Penatalaksanaan umum terdiri dari :  Menjaga saluran napas agar tetap bebas  Penanganan spasme. Pencegahan dalam penanggulangan masalah tetanus.  Tercukupinya kebutuhan cairan dan nutrisi.  Mencari port d’entrée Penatalaksanaan khusus terdiri dari :  Pemberian serum anti tetanus/HTIG Pemberian HTIG dibandingkan dengan serum anti tetanus adalah sbb : . [Rekomendasi C] II. Metronidazol antibiotika. Penatalaksanaan tetanus dibagi menjadi penatalaksanaan umum dan khusus. meliputi : III. Bahwa tetanus masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia.HTIG dari segi cost effectiveness lebih baik daripada ATS  Antibiotika. karena data RISKESDAS 2007 menunjukkan tetanus masih merupakan salah satu dari 10 penyebab kematian pada anak. merupakan pilihan pertama dalam pemberian .HTIG memilki efektivitas yang sama dengan ATS .Kejadian efek samping HTIG lebih jarang dibandingkan ATS yang berasal dari kuda .

Imunisasi dapat memberikan proteksi pada infeksi tetanus hingga 100%. HTIG dapat diberikan juga untuk profilaksis tetanus pada luka kotor. Pencegahan melalui imunisasi sangatlah penting mengingat perawatan tetanus sangat mahal dan sulit.HTA Indonesia_2008_Penatalaksanaan Tetanus pada Anak _hlm42/44 V. [Rekomendasi C] . [Rekomendasi C] VI.

326: 117-8. Firmanda D. Bennett JE. Sauders. Hadinegoro SR. Geneva:WHO. eds. 2004. 6 Stanfield JP. assessment and monitoring . Coni N. Vol. Infectious disease.who. Available in: www. In: Mandell GL. 4 World Health Organization.com Last updated Feb 1. 2 Bleck TP. 5th ed. Preventing and treating tetanus.62:647-9 [Medline]. 8 Pusponegoro HD. Man-dell. 1983:1107. 2001:18-19. Harrison RE.HTA Indonesia_2008_Penatalaksanaan Tetanus pada Anak _hlm43/44 DAFTAR PUSTAKA 1 Tolan Jr RW. 1995:2173. Edisi I 2004.13:184-5 {Abstract]. BMJ 2003.emedicine. J Accid emerg Med 1996. Tridjaja AAP.1766-76. Wkly Epidemiol Rec 1999. 2008. ed. Tetanus.htm Cherry JD. 7 Reid PM. Tetanus. [Tingkat Pembuktian IV].2006 (1). Bennet JV. Garna H. Tetanus immunization in the elderly population. 2008 10 11 12 13 CDC. 14 15 16 Band JD. Tetanus in Textbook of Pediatric Infections Diseases. Bull World Health Organ. . 4th ed New York: Churchill Livingstone. Satari HI. and Bennett's principles and practice of infectious diseases. Principles and practice of infectious disease.74:73-80 [Medline]. 2000: 2537-43. Farrar JJ. Dolin R. Brown D. The challenge continues in the face of neglect and lack of research. Tetanus. Buku Ajar Infeksi dan penyakit Tropis : Tetanus. In:Hoeprich PD. hal 99-108. Waters M.1984.. Progress towards the global elimination of neonatal tetanus. Philadelphia: Harper and Row. Clostridium tetani (tetanus). Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Vaccine-preventable diseases:monitoring system. Dolin R. Hadinegoro ARS. Sama A. Douglas. Tetanus (Lockjaw). Tetanus. et al.19901998. ed. Diunduh pada 15 Agustus 2008 dari http://www. 9 Riskesdas 2007 Sumarmo SPS.2. IDAI. Philadelphia: Churchill Livingstone.int/vaccines/globalsummary/immunization/timeseries/tsincidencente. (WHO/V&B/01. Edisi 2. Galazka A.RedBook WHO Immunization surveillance. A neonatal tetanus is the world today.34) 5 World Health Organization. 3 Thwaites CL.

In Plotkin.pp 386-7. 370:1947-59. Orenstein WA. 26 27 Roper MH. Barone AA. [Tingkat Pembuktian Ib]. Philadelphia. Ximenes RA. Tetanus. 19 Wassilak.Med. SA and Mortimer. 2nd ed.Am J Trop. Diunduh dari http://forum. Pelatihan Klinik Asuhan Persalinan Normal.HTA Indonesia_2008_Penatalaksanaan Tetanus pada Anak _hlm44/44 17 Hotez P. PA: Lippincott-Raven Publishers.0 Bleck TP.pp. USA: Mosby. 2008. In: Scheld WM. h.e2.Hyg.net/index.1997:629-53. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.phptopic=2111. Retrieved on 2007-10-11. Departemen Kesehatan RI Subdirektoraat Surveilans Epidemiologi Diunduh dari http://www. Hotez PJ. 2nd ed. Dalam:Gershon AA. karnad (1995-10)”Short report: The spatula test: A simple Bedside Test to Diagnose Tetanus (http:www. 2004. Krugman’s Infectious Diseases of Children. SGF. Golaz A.org/cgi/content/abstract/53/4/386). WB Saunders. Katz SL. Tetanus (Lockjaw) and Neonatal Tetanus. Edisi ke11. Tetanus.surveilans.org/general. Wilfert C. Infections of the central nervous system. Murphy TV. . Dirack DT. Brauner JS. et al. Sutter RW: Tetanus toxoid. Apte and ilip R. pp 57-90 20 21 22 Dire DJ. Gasse FL. 25 Fair E.dudung. Lancet 2007.emedicine. 23 Miranda-Filho DB. 655-62 18 Nitin M. Philadelphia. Revisi 2008.ajtmh. Philosophic Objection to Vaccination as a Risk for Tetanus Among Children Younger Than 15 Years. 24 Tetanus neonatorum. Wharton M. Vaz LV. Pediatrics 109 (1)2002. Jakarta 2008.328:615. penyunting. Whitley RJ. 1994. Randomised controlled trial of tetanus treatment with antitetanus immunoglobulin by the intrathecal or intramuscular route BMJ 2004.com Last updated Jul 25.php?tpl=en&id=12 tanggal 16 Februari 2009. Vandelaer JH. Maternal and neonatal tetanus. Available in: www. EA (eds): Vaccines.126.