P. 1
Contoh Isi Buku: Di Balik 7 Hari Besar Islam (E-book)

Contoh Isi Buku: Di Balik 7 Hari Besar Islam (E-book)

|Views: 2|Likes:
Published by bisnis2030
Hari-hari besar Islam termasuk ke dalam hari-hari festival yang banyak dirayakan oleh umat Islam Indonesia. Bahkan kemudian, di Indonesia yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam, hari-hari tersebut dimasukkan sebagai hari libur nasional.
Hari-hari besar Islam termasuk ke dalam hari-hari festival yang banyak dirayakan oleh umat Islam Indonesia. Bahkan kemudian, di Indonesia yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam, hari-hari tersebut dimasukkan sebagai hari libur nasional.

More info:

Categories:Topics, Art & Design
Published by: bisnis2030 on Mar 09, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

09/19/2013

Di Balik

7

Hari Besar
Islam
Sejarah, Makna dan Amaliah

Oleh: KH. Muhammad Sholikhin

Garudhawaca Jogjakarta 2012
1

Di Balik 7 Hari Besar Islam K.H. Muhammad Sholikhin Penyunting : Didik Adi Sukmoko Desain Cover : Jalu Sentanu ISBN 978-602-18362-5-5 13 x 19 cm | 254 hlm Garudhawaca, Jogjakarta Juli 2012

------------------------------------------------------------------------© 2012 Muhammad Sholikhin. Pastikan Anda mendapat buku ini dengan cara-cara yang santun dan tidak melukai. -------------------------------------------------------------------------

Garudhawaca Digital Book and PoD http://garudhawaca.blogspot.com http://garudhawaca.web.id

garudhawaca@gmail.com

2

KATA PENGANTAR

Hari-hari besar Islam termasuk ke dalam hari-hari festival yang banyak dirayakan oleh umat Islam Indonesia. Bahkan kemudian, di Indonesia yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam, hari-hari tersebut dimasukkan sebagai hari libur nasional. Paling tidak hari besar Islam yang termasuk dalam konteks hari libur nasional adalah : Tahun Baru Hijriyah (1 Muharram), hari Maulud Nabi Muhammad SAW (12 Rabi’ul awal), hari Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad (27 Rajab), Nuzulul Qur’an (21 Ramadhan), ’Idul Fitri (1-2 Syawal), dan ’Idul Adha (10 Dzulhijah). Karena rutinnya kegiatan-kegiatan peringatan dan perayaan hari besar Islam tersebut, maka banyak pihak, baik kedinasan, lembaga keagamaan, masjid atau kelompok masyarakat banyak yang membentuk panitia Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) secara khusus. Persoalannya adalah, kebanyakan masyarakat kita tidak atau kurang pernah memperhatikan mengapa harihari besar tersebut mesti diperingati? Ada pelajaran apa di dalam peristiwa hari besar tersebut? Dan bagaimana menindaklanjuti peringatan hari besar keagamaan ke dalam bentuk aplikasi perbuatan keseharian? Baik itu perbuatan yang terkait dengan akhlak dan moralitas, keagamaan, sosial, politik dan budaya. Berangkat dari rasa keprihatinan tersebutlah, maka penulis tergerak untuk menghadirkan buku ini. Penulis
3

mencoba menguraikan jalinan peristiwa yang menyebabkan hari tersebut masuk dalam kawasan hari besar Islam, dan menguraikan berbagai aspek pelajaran yang dapat kita ambil hikmahnya. Lebih lagi, penulis juga memberikan berbagai alternatif aplikasi amaliah yang dapat kita kerjakan, sehingga setiap kali selesai memperingati suatu hari besar keagamaan tersebut, kita harapkan adanya peningkatan kualitas kehidupan, keagamaan dan kemasyarakatan dari diri kita. Penulis berharap hadirnya buku ini membawa manfaat yang cukup bagi kita semua, baik dalam segi kehidupan dunia maupun segi kehidupan di akhirat kelak.

Wisma Baitut Ta’lim Al-Hikmah Pedut, Cepogo, Boyolali, Juli 2012 Penulis,

Muhammad Sholikhin

4

DAFTAR ISI Etos Islam Sebagai Rahmatan Li al ’Alamin (7) Tahun Baru Hijriyah (27) Maulud Nabi Muhammad (47) Isra’ Mi’raj (64) Nuzulul Qur’an (113) Lailatul Qadar (121) Idul Fithri (151) Idul Adha (167) Senarai Pustaka (242)

5

6


K

Islam :

Rahmatan Li-al ‘Alamin
Pandangan Islam sebagai Agama Rahmat Seluruh Alam onsep rahmatan lil ‘alamin dalam dakwah tidak terpisah dari dogmatika penciptaan manusia yang bersuku, berbangsa dan berlainan bahasa agar saling ta’aruf. Sumbu dari konsep ini tidak lain adalah penjagaan tauhid. Justru karena visi rahmatan lil ‘alamin inilah, maka dakwah menjadi suatu alat penting bagi Islam, untuk menyatakan dirinya kepada umat manusia. Dari penjagaan tauhid itulah kemudian dakwah untuk bertujuan menjadikan agama sebagai rahmatan li al'alamin. Ini suatu konsep kosmologis yang mengantarkan kesadaran kemanusiaan, bahwa manusia itu dalam skala intern komunitasnya sendiri memang sebagai `abidullah, namun lebih luas dari itu, manusia diciptakan di dunia ini adalah sebagai Khalifah Allah langsung ataupun sebagai insan khalifah Allah. Jadi fakta keislaman tidak hanya diukur dari sisi aktualitas manusianya saja, namun juga perlu pengukuran lain yakni kemampuan manusia itu menciptakan kondisi keislaman universal (berbuat ihsan). Sebab alam ini

7

diciptakan Tuhan dalam posisinya sebagai muslim, di mana setiap sesuatu yang berada di dalamnya "menyerah kepada kehendak Allah." Akan tetapi yang patut diperhatikan adalah, bahwa konsep Islam sebagai rahmat semesta, sebenarnya lebih mengacu pada misi kerasulan Nabi Muhammad, “wa maa arsalnaka illa rahmatan li al-‘alamin”. Sehingga untuk memahami konsep ini secara sempurna dan utuh, maka perlu memahami dalam kaitannya pada konteks kenabian dan trisalaqh Nabi Muhammad. Inilah yang menjadi titik tekan pada tulisan ini. Makna kehadiran Nabi sebagai rahmat bagi manusia onsep kenabian dalam hubungannya dengan visi Islam rahmatan lil ‘alamin terkait erat dengan kondisi masyarakat sekarang yang “sakit”. Manusia di masa modern, lebih banyak mengalami penyakit-penyakit kejwaan seperti depresi, dislokasi, alienasi (keterasingan jiwa), dan yang angkanya semakin menaik adalah berjangkitnya wabah penyakit stress. Ini diakibatkan oleh, diantaranya, mobilitas kehidupan yang kian meninggi, tumpah ruahnya informasi (overlapping), gumebyarnya barang-barang industri, produksi dan konsumsi, atau kebutuhan hidup yang kian melambung, sementara harga-harga itu sangat sulit dijangkau kelompok manusia awam, utamanya warga muslim pedesaan. Dan yang paling penting, sebab manusia telah kehilangan “makna hidup” (Alvin Toffler, The Third Wave, 1983) yang berupa nilai-nilai spiritual ruhaniah

K

8

yang berasal dari agama. Ini disebabkan oleh satu faktor, yaitu karena manusia era modern telah cenderung mengagung-agungkan hal-hal yang serba mechanics, menggantungkan hidupnya pada hasil karya industri, manusia menghasilkan industri berat dan kemudian menggantungkan kehidupannya. Sehingga (menurut Eric Fromm) manusia terasing dari jiwanya sendiri. Survey membuktikan, bahwa saat ini antara manusia yang sehat jiwanya dengan yang menderita "sakit kejiwaan" atau gejalanya telah 1:4. Banyak psikolog yang meramalkan, nanti dekade tahun 2010-an akan menjadi 1:10. Jadi jika dalam satu RT, selisih 10 orang, maka yang sehat jiwanya sungguh sungguh hanya 1, sedang yang menderita "sakit" ada 9 orang. Maka wajar jika angkaangka kriminalitas dan penyimpangan makin menggila. Jika pada masa lalu Imam Syafi'i pernah menyatakan bahwa tradisi (al-‘urf) orang kebanyakan (ijma’/Jumhur) yang tak bertentangan dengan syari'at bisa menjadi salah satu sumber acuan hukum (hujjah), maka zaman sekarang yang berlaku adalah ucapan Imam AsySyaukani : “pendapat/perkataan orang banyak tidak dapat menjadi hujjah,” (Irsyad al-‘Fuhul; 49, 247). Pernyataan ini sejalan dengan firman Allah; “Jika engkau mengikuti (perkataan/perbuiatan) orang banyak (kebanyakan) di bumi, tentu mereka akan menyesatkan engkau dari jalan Allah, karena mereka hanya mengikuti persangkaan (dan berdasarkan hawa nafsu) mereka saja, dan mereka hanya suka berbohong (Qs. AlAn’am/6;117). Manusia yang "sakit" tersebut di atas tentunya

9

membutuhkan kehadiran dokter-dokter yang sangat handal. Di sinilah fungsi peranan ajaran spiritualitas agama, yakni ajaran para Nabi, untuk menetralisir penyakit kejiwaan manusia, dengan cara mensucikan jiwanya. Maka tentang urgensi kehadiran Nabi Muhammad, Allah berfirman :
"Dialah yang mengutus dikalangan kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayatnya, mensucikan mereka, dan (dengan) mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (Sunah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya berada dalam kesesatan yang nyata." (QS. A1Jumu'ah/62;2).

Di sini jelas bahwa kesucian itu diperoleh dengan membaca Al-Kitab, dan mempelajari ajaran-ajaran Kitab Al-Qur'an bersama Sunah Nabi sebagai Hikmah. Ayat tersebut turun sebagai wujud peng-qabul-an Allah atas do'a Nabi Ibrahim di masa lalu (lihat QS. Al-Baqarah; 129). Do'a ini amat bagus jika kembali kita dengungkan untuk menjaga anak-cucu kita kelak. Sehubungan dengan fungsi tersebut Imam Al-Razi menulis; "Ketahuilah; bahwa kebanyakan manusia terkena penyakit rohani yakni mereka mencintai dunia, loba, hasad (iri dan dengki), sombong, mencari harta benda yang banyak (menumpuk harta) dan sebagainya. Sedangkan dunia ini adalah seperti rumah sakit yang penuh dengan orang~rang sakit, dan (kedudukan Ajaran) Nabi-nabi adalah seperti dokter-dokter yang

10

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->