Penggunaan Bahasa dalam Situasi Keanekabahasaan Oleh Fatchul Mu’in

Pendahuluan Kalau kita melihat atau mendengar seseorang memakai dua bahasa atau lebih dalam pergaulannya dengan orang lain, kita dapat mengatakan bahwa dia berdwibahasa atau bermultibahasa, dalam arti dia melakukan kedwibahasaan atau kemultibahasaan atau keanekabahasaan. Ada sejumlah ilmuwan bahasa berpendapat bahwa penggunaan lebih dari satu bahasa semacam itu diacu dengan satu istilah, yakni kedwibahasaan atau bilingualisme. Kata bilingualisme secara leksikal berarti penggunaan dua bahasa. Kita ikuti pendapat-pendapat para ahli. Kedwibahasaan dibatasi oleh Bloomfield sebagai penggunaan dua bahasa yang sama baiknya antara bahasa ibu (asli) dan bahasa kedua. Dengan demikian, pengertian kedwibahasaan semacam ini menyaran pada kelancaran dan ketepatan yang sama seperti penggunaan bahasa oleh penutur asli dari setiap bahasa itu. Bila kita beranjak dari gagasan Bloomfield tentang kedwibahasaan, lebih jauh kita dapat ikuti penjelasannya dalam buku yang berjudul Language yang di dalamnya, antara lain, dia menyatakan sebagai berikut: In the extreme case of foreign-language learning the speaker becomes so proficient as to be indistinguishable from the native speaker around him. This happens occassionally in adult shifs of language and frequently in the childhood shift. In this cases where this perfect foreign-language learning is not accompanied by loss of the native-language, it results in bilingualism, native-like control of two languages (Bloomfield, 1935:56). Dengan demikian, menurut Bloomfield, belajar bahasa asing yang sempurna tanpa diikuti oleh hilangnya bahasa asli akan terjadi native-like control of two languages. Namun demikian, penggunaan dua bahasa atau lebih akan melibatkan latar kontal sosial budaya. Pada hakikatnya, kontak bahasa adalah salah satu aspek dari kontak kebudayaan, sedangkan pengacauan kaidah, alih kode maupun campur kode itu merupan segi dari difusi dan akulturasi budaya. Lebih lanjut, dalam kaitan ini, Weinreich menjelaskan sebagai berikut. In a great majority of contact between groups speaking different mother tongues, the groups constitute, at the same time, distinct ethnic or cultural communities. Such contact entails biculturalism (participation in two cultures) as well as bilingualism, diffusion of cultural traits as well as of linguistic elements (1968:5 dan 89). Atas dasar pendapat dari dua ahli bahasa di atas, dapat dikatakan bahwa bagaimanapun sempurnanya penguasaan dua bahasa atau lebih oleh seseorang, bila dua bahasa atau lebih berkontak, yakni: bahasa-bahasa itu

1

Interferensi dapat dikatakan sebagai 2 . maka bahasa Indonesia terkena interferensi (interference) dari (kaidah) bahasa Inggris. sebab morfologi merupakan salah satu cabang linguistik atas dasar sistem bahasa. Mengapa penggunaan bahasa Indonesia oleh anak-anak sekolah dasar itu mendapat “gangguan” dari unsur-unsur atau kaidah-kaidah bahasa Sunda? Jawabannya adalah bahwa pada taraf belajar bahasa Indonesia. baik interferensi fonemis. 1985). Faktor yang pertama adalah beberapa kaidah bahasa yang dikenalnya. sintaktis maupun semantis) dari bahasa Sunda masuk ke dalam tuturan bahasa Indonesia mereka. Penggunaan bahasa yang melibatkan unsur-unsur atau kaidah-kaidah bahasa lain dapat ditanggapi lewat dua perspektif: linguistik dan sosiolinguistik/sosiologi bahasa. sehingga ketika mereka berbahasa dengan bahasa Indonesia dapat saja unsur-unsur (baik fonetis/fonemis. maka sementara dia menggunakan salah satu bahasa yang dikenalnya. misalnya. Yus Rusyana (1975) menyusun disertasi dengan judul Interferensi Morfologi pada Penggunaan Bahasa Indonesia oleh Anak-anak yang Berbahasa Pertama Bahasa Sunda Murid Sekolah Dasar Di Daerah Propinsi Jawa Barat. telah menyusun disertasi dengan mengangkat masalah interferensi morfologi pada tahun 1975. yang tentunya berbeda satu dengan yang lainnya: mampukah dia membedakan dan memilahmilahkan setiap kaidah itu. morfologis maupun sintaktis. Interferensi dari Perspektif Linguistik Seorang dwibahasawan yang menyampaikan pesan lewat bahasa kepada orang lain. Dan. Terjadilah interferensi (Soetomo. Kebiasaan berbahasa Sunda itu telah tertanam kuat dalam diri mereka. Beberapa dosen dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang juga pernah mengadakan penelitian atau menyusun karya tulis dengan mengangkat masalah interferensi. kaidah bahasa yang lain tidak mengganggu? Jika dia tidak mampu. bila bahasa yang dominan itu adalah bahasa Inggris. Kajian interferensi oleh Yus Rusyana ini jelas dilakukan dalam perspektif linguistik. kaidah bahasa yang lain dapat saja muncul dalam tuturannya. Fenomena interferensi sebenarnya telah banyak dibicarakan orang. maka unsur-unsur bahasa lain atau asing itu dapat saja muncul dalam tuturan orang tersebut. Penggunaan bahasa seperti digambarkan di atas dapat ditanggapi dari sudut pandang bahasa apa yang dominan digunakan dalam suatu tindak berbahasa . Yus Rusyana. interferensi itu dapat ditanggapi dari sudut pandang kompetensi berbahasa. apakah bahasa Indonesia atau bahasa Inggris? Bila bahasa yang dominan itu adalah bahasa Indonesia. sehingga ketika dia menggunakan salah satu bahasa yang dikenal. Dengan demikian. perjalanan pesan itu terhambat oleh dua faktor. maka bahasa Inggris terkena interferensi dari (kaidah) bahasa Indonesia. morfologis. Interferensi menyaran pada penggunaan unsur atau kaidah dari bahasa tertentu dalam tuturan bahasa lain. anak-anak itu telah menguasai bahasa pertama (bahasa ibu) bahasa Sunda.digunakan oleh orang yang sama secara bergantian. Kompetensi berbahasa ini menyaran pada kemampuan seseorang penutur untuk memilah dan memilih kaidah-kaidah bahasa tertentu dari kaidah-kaidah bahasa yang lain.

bahwa kedua penutur tersebut telah menjadi dwibahasawan-dwibahasawan seperti yang disarankan oleh Bloomfield. unsur-unsur bahasa Sunda masuk dalam tuturan bahasa Indonesia-nya.fenomena bahasa yang timbul akibat pengaruh bahasa tertentu. Bila. Karena seseorang. kata. ketika seseorang berbahasa Inggris. Andaikan saja. saya bisa mengganggu sebentar? (2) Ulun mencari piyan di kampus kemarin. melakukan interferensi. 3 . piyan sudah bulikan. Ada seperangkat peraturan berbahasa yang telah disepakati oleh masyarakat di mana dia hidup dan bergaul dengan anggotaanggota lain sesuai dengan tata-nilai yang menjadi pedoman mereka. Dalam kenyataannya. sejumlah unsur bahasa yang berbeda masuk ke dalam tuturannya dalam bahasa tertentu. maka tuturannya dengan suatu bahasa akan terkena interferensi dari salah satu kaidah bahasa-(bahasa) yang dikuasainya. Ini berarti bahasa Indonesia kedua penutur itu mendapat interferensi dari bahasa Jawa atau Banjar. atau alih-kode/campur kode (Soetomo. maka berarti kita menemukan gejala alih kode atau campur kode. Andaikan saja lagi. dia tidak bebas sama sekali. baik kalimat (1) maupun (2) diungkapkan dalam konteks berbahasa Indonesia. tidak mampu memilih dan memilah kaidah bahasa yang satu dari bahasa yang lainnya. Pertimbangan komunikasi ini menentukan apakah dia akan bertutur dengan tunggal-bahasa. maka hal itu dikategorikan dalam bentuk kesalahan berbahasa. Misalnya. baik penggunaan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia atau bahasa Banjar dan bahasa Indonesia kita lihat sebagai penggunaan dua bahasa secara berselangseling. Hambatan Kultural dalam Berbahasa Faktor yang kedua adalah faktor yang berasal dari pertimbangan komunikasi. Ada seperangkat peraturan berbahasa yang telah disepakati oleh masyarakat di mana dia hidup dan bergaul dengan anggotaanggota lain sesuai dengan tata-nilai yang menjadi pedoman mereka dalam upayanya berinteraksi dengan sesamanya. dan makna). frasa. Artinya. 1985). mofem. Jadi. misalnya. Dalam kenyataannya. Telaah dengan perspektif ini mengacu pada komponen-komponen bahasa (bunyi. ketika anak-anak yang bahasa pertamanya bahasa Sunda berbahasa Indonesia. gejala interferensi kita lihat dari bahasa penerima (dalam hal ini: bahasa Indonesia). Jika masuknya unsur-unsur dari bahasa lain ke tuturan dalam bahasa tertentu dapat ditanggapi dari perspektif linguistik. dia tidak bebas sama sekali. Titik berat atau fokus perhatian pada kesalahan berbahasa dalam perspektif ilmu bahasa adalah pada bahasa penerima yang mendapat „gangguan‟ dari bahasa lain. maka dengan demikian bahasa Indonesia sang penuturnya mendapat ‘gangguan’ dari bahasa Jawa untuk kalimat (1) dan bahasa Banjar untuk kalimat (2). yakni yang kedwibahasaannya memenuhi kriteria native-like control of two languages. Atau. kalimat. unsur-unsur atau kaidah-kaidah bahasa Indonesia masuk ke dalam tuturan bahasa Inggris-nya. Bahasa digunakan manusia untuk alat komunikasi dalam upayanya berinteraksi dengan sesamanya. Interferensi dan alih kode bahkan campur kode dapat dilihat dari dua contoh kalimat berikut: (1) Nuwun sewu.

Sebagaimana diketahui bahwa bahasa dan budaya merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. maka dapat saja dia terhambat oleh kultur Jawa-nya ketika dia berbahasa Indonesia. Tata lambang kognisi adalah tata lambing yang dihasilkan manusia dalam upayanya untuk memperoleh pengetahuan terhadap segala sesuatu di lingkungannya. misalnya. termasuk bertingkah laku dalam berbahasa. Pendek kata. penyimpangan dalam berbahasa Indonesia itu bukan akibat ketidakmampuan mereka menggunakan bahasa Indonesia. Tata lambang konstitusi adalah tata lambang yang bertalian dengan kepercayaan manusia terhadap Tuhan yang menentukan hidup dan kehidupan manusia atau terhadap kekuatan supernatural di luar kekuatan manusia. Jadi. Budaya memberikan pedoman bagi masyarakat yang memilikinya. kepribadian. Sebagai contoh. sosial. Tata lambang eskpresi adalah tata lambang untuk mengungkapkan perasaan atau emosi manusia (Soetomo. Hal ini karena bahasa merupakan salah satu unsur budaya. kognisi. Jika dikatakan bahwa bahasa merupakan sistem simbol atau tata lambang. masuknya unsur asing itu dapat saja disengaja oleh A sebagai upaya untuk memperlihatkan perasaan (sikap. Karena nilai-nilai yang terkandung dalam sistem itu telah tertanam kuat pada diri seorang penutur bahasa (Jawa. di sini terdapat kesulitan untuk membedakan atau memisahkan bahasa dari budaya atau budaya dari bahasa. bila penutur A tadi menonjolkan status dan peranannya dalam interaksi verbal itu. Tingkah laku berbahasa ini dapat dinilai berdasarkan sumber-sumber penyebabnya. memiliki kemampuan dan penguasaan terhadap baik bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia dengan sama baiknya. kedua penutur ini tidak memiliki persoalan kebahasaan. Tetapi. 1985). Sistem tindak manusia ini memiliki empat sub-sistem: budaya. pengalaman dan sebagainya) kepada penutur B. maka ia dapat mengacu tata lambing konstitusi. 4 . Dengan demikian. dan demikian juga penutur yang kedua. tetapi ia merupakan akibat dari faktor sosial budaya yang melingkungi penutur-penutur tersebut. motivasi.Penutur pertama. tiba-tiba penutur A menyelipkan beberapa buah kata asing (non bahasa Indonesia) dalam tuturannya. (Sub) sistem sosial dapat pula menjadi sumber hambatan. betul-salah. dan sama akurasinya. dalam suatu interaksi verbal antara dua orang yang dilakukan dalam bahasa Indonesia. Ia mengajarkan bagaimana manusia harus bertingkah laku. Sebagian tata cara bertingkah laku itu dapat diungkapkan dengan bahasa. Dalam hal ini (sub) sistem kepribadian penutur adalah penyebab penggunaan unsur asing dalam tuturan bahasa Indonesia yang disampaikan oleh A tersebut. Di sini. dan tingkah laku manusia. sama kelancarannya. (sub) sistem tingkah laku adalah penyebab masuknya unsur asing itu dalam tuturan A tersebut. Masuknya unsur asing ke dalam tuturan A tadi dapat disebabkan oleh kebiasaan atau kemudahan pengucapan semata. Menurut teori Parsons (dalam Soetomo. sedangkan budaya itu sendiri adalah sesuatu yang sebagiannya diformulasikan dalam bentuk bahasa. pantas-tak pantas dan sebagainya. misalnya). evaluasi dan ekspresi. 1985) tingkah laku (berbahasa) manusia telah diatur oleh human action system. Tata lambang evaluasi adalah tata lambang yang bertalian dengan nilai baikburuk.

sebagaimana terurai di atas) dapat menjadi hambatan dalam berbahasa. namun tidak dapat dipakai untuk membicarakan diri sendiri atau anak-anak kecil. siapa penuturnya dan siapa pula lawan tuturnya. Kedua kalimat ini digunakan untuk membicarakan atau menyapa orang lain yang lebih tua atau lebih tinggi derajat sosialnya. Kalimat Kulo dahar rumiyen adalah contoh kalimat yang tidak dibenarkan oleh kultur Jawa karena kata kulo tidak boleh ditinggikan (dengan menggunakan kata dahar). Sementara. kata-kata itu dapat saja dipakai. Kata bujur dalam bahasa Sunda berarti pantat dan harus ditabukan. Hambatan kultural yang lain dapat dilihat. kognisi. dahar (misalnya) dalam konsep bahasa Jawa tidak dapat dipakai secara sembarangan. misalnya. Sementara Pride dan Holmes mengatakan bahwa speech act yang terjadi pada masyarakat multilingual akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor non-kebahasaan seperti: partisipan. walaupun sekarang dia telah memahami arti kata bujur dalam konsep bahasa Banjar. suasana dan maksud (1972:35) 5 . Penggunaan Bahasa dalam Situasi Keanekabahasaan Penggunaan bahasa dalam situasi keanekabahasaan atau multilingualisme telah banyak mendapat perhatian dari ahli bahasa.Umpamanya. Kata-kata itu harus digunakan sesuai dengan peserta tutur. penutur bahasa Banjar yang tentu saja berlatar belakang bahasa Banjar. Penutur bahasa Sunda yang tentu saja berlatar belakang bahasa Sunda. misalnya. artinya dia merupakan dwibahasawan Sunda-Indonesia. (Sub) sistem budaya (dalam kaitan dengan bahasa sebagai tata lambang: konstitusi. artinya dia merupakan dwibahasawan Banjar-Indonesia. adalah Bapak dahar atau Monggo dahar rumiyen. dari kasus tindak berbahasa (speech act) yang terjadi antara penutur dari suku Sunda dan Banjar. topik pembicaraan. Kedua bahasa daerah ini sama-sama memiliki kata bujur. dalam arti tidak dapat diucapkan di sembarang tempat (misalnya. namun tetap saja dia merasa berdosa bila dia mengucapkan kata tersebut karena ini berarti melanggar aturan atau nilai dari kulturnya sendiri. Hambatan kultural terjadi bila penutur yang berlatar belakang budaya / bahasa Sunda mendengar atau menggunakan kata bujur. Sementara kata bujur dalam konteks bahasa Banjar berkonotasi baik. maka penyelipan unsur-unsur bahasa daerah atau asing dalam tuturan bahasa Indonesia-nya akan dianggap orang lebih baik. mengkaitkan penggunaan bahasa semacam itu dengan Who speaks What language to Whom and When (1972:244). seorang pengacara ingin menyelipkan register hukum dalam tuturan bahasa Indonesia-nya akan memperingatkan lawan tuturnya. Penggunaan yang benar. untuk selalu sadar akan posisi A maupun posisinya sendiri dalam hubungan peran itu. contohnya. Oleh karena suatu komunitas tutur kebetulan mengangkat bahasa daerah atau asing tertentu lebih tinggi nilainya daripada bahasa Indonesia karena mampu mengungkapkan konsep atau ide secara lebih tepat dan teliti. B. setting. Kata sare. Fishman. dan ekspresi. Untuk menyapa atau membicarakan orang yang lebih tua. evaluasi. jalur. di hadapan orang banyak).

khususnya radio swasta. alih dialek. Pemilihan bahasa berkaitan dengan topik pembicaraan. Dalam perspektif sosiolinguistik/sosiologi bahasa ini. setting menyaran pada waktu dan tempat). (Menurut Pride dan Holmes. sedangkan berbahasa yang benar adalah berbahasa yang secara cermat mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku. dia tidak bebas sama sekali. ada seperangkat peraturan berbahasa yang telah disepakati oleh masyarakat di mana dia hidup dan bergaul dengan anggota-anggota masyarakat lain sesuai dengan tata nilai budaya yang menjadi pedoman hidup mereka. alih gaya. Dalam kenyataannya. maka bahasa yang digunakan adalah satu bahasa (dari sekian bahasa yang dia kenal dan kuasai) yang baik dan benar. hendaknya kita tidak serta merta menyatakan bahwa tindak berbahasa itu tidak benar dan penuturnya tidak mampu berbahasa Indonesia secara baik dan benar yang cenderung untuk mengangkat prestise-nya dengan cara menggunakan unsur- 6 . keduanya disebut partisipan. Dia “harus” melakukan alih kode lantaran nilai budaya masyarakatnya. alih nada dan sebagainya) bukan berarti dia tidak mampu berbahasa dengan salah satu bahasa dari bahasa-bahasa yang dikuasainya. Dalam kaitan ini. maka hendaknya bahasa daerah itu tidak terselepi oleh simbol-simbol atau kaidah-kaidah dari bahasa-bahasa lain. dia memanfaatkan bahasa lain (bahasa daerah). tindak berbahasa yang ideal adalah bahwa bila seseorang berbahasa. fenomena alih kode dilihat dari pemakai bahasa sebagai makhluk sosial yang hidup dalam masyarakat yang berbudaya. Ungkapan who speaks (penutur) dan to whom (lawan tutur) menyaran pada orang yang melakukan speech act. misalnya. Pemilihan bahasa juga dipengaruhi oleh waktu dan suasana (Fishman menyebut when) dan setting. Bila dalam situasi lain. Ini berarti bahwa bila seseorang berbahasa dalam situasi tertentu. Alih Kode oleh Penyiar Radio Menyikapi penggunaan bahasa Indonesia di radio. Menurut Istiati Soetomo (1985). What language menyaran pada pemilihan bahasa yang dilakukan oleh partisipan. misalnya) maka hendaknya unsur-unsur atau kaidah-kaidah dan sejenisnya dari bahasabahasa lain yang dikuasainya tidak dimasukkan dalam tuturan bahasa Indonesia-nya. “menghendaki” hal itu. Sebab. Bahasa digunakan oleh manusia untuk alat komunikasi dalam upayanya berinteraksi dengan sesamanya. Artinya. Kemiripan itu dapat diilustrasikan sebagai berikut. Durdje Durasid (1990) menyatakan bahwa berbahasa yang baik adalah berbahasa yang mengandung nilai rasa yang tepat dan sesuai dengan situasi penggunaannya. seseorang yang melakukan alih kode (mungkin berwujud alih bahasa. alih register.Gagasan dari kedua ahli itu sebenarnya mengandung maksud yang mirip. seorang partisipan memilih bahasa tertentu (dari sejumlah bahasa yang dikuasainya) karena topik pembicaraannya lebih tepat diungkapkan lewat bahasa itu. Penggunaan bahasa-bahasa (setidak-tidaknya dua bahasa) secara berselang-seling dapat ditanggapi dari perspektif sosiolinguistik. di mana sejumlah penyiarnya seringkali melakukan alih kode (ke dialek Betawi) atau menyilipkan istilah-istilah/kata-kata bahasa Inggris. dengan menggunakan bahasa tertentu (bahasa Indonesia. Penggunaan dua bahasa atau lebih (gandabahasa atau multibahasa) secara berselang seling semacam ini menimbulkan fenomena alih-kode.

para penyiar radio sangat penting peranannya dalam pembinaan bahasa Indonesia. Sebab. di atas peran keluarga. misalnya. hendaknya kita pahami sebagai tindak berbahasa yang dilandasi oleh “keharusan social-budaya” di mana penutur itu harus berlaku hormat terhadap para pendengar pemilik bahasa itu (faktor sosial budaya). sistem nilai dan sebagainya ) dari masyarakat tertentu. tidak dibiarkan tumbuh liar. mungkin. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa tindak bahasa (speech act)-nya dapat didengar oleh khalayak yang sangat luas. yang berkaitan dengan sosial budaya (hubungan status-peranan sosial. dan nuwun sewu. akan tetapi ia menjadi masalah seluruh bangsa Indonesia. lalu dia berkeyakinan bahwa prestise-nya akan naik maka faktor penyebabnya adalah motivasi. karena. Dalam kaitan ini. Mungkin saja. Masalah bahasa Indonesia bukan hanya masalah guru atau dosen dan pakar bahasa. mungkin. khususnya guru bahasa Indonesia. Dalam hal ini faktor pendengar menjadi penyebabnya. khalayak pendengarnya menghendaki dialek itu. Dengan menggunakan dialek Betawi. sudah diikrarkaan oleh para 7 . yakni penggunaan atau pemilihan dialek tertentu dilakukan untuk memenuhi „tuntutan‟ pendengarnya. Seorang penyiar radio menyelipkan dialek Betawi. dialek Betawi dianggap berkesesuaian dengan selera pendengarnya. atau bahkan dalam bahasa asing.unsur bahasa selain bahasa Indonesia.. misalnya: ulun. Sejumlah kata-kata diucapkan terbalik: Arek Malang diucapkan kere ngalam. alih bahasa atau dialek itu disebabkan oleh faktor-faktor lain. yang bersangkutan ingin mengidentifikasikan diri sebagai penutur berprestise tinggi seperti layaknya para selebritis di Jakarta. piyan (bahasa Banjar). Banyak faktor yang menyebabkan yang bersangkutan berbahasa seperti itu. Seorang penyiar yang menyelipkan unsur-unsur dari bahasa daerah. Prokem adalah semacam „bahasa‟ yang biasanya dipakai di lingkungan remaja dan orang-orang luar terkadang sulit memahaminya. sugeng midangetakan (bahasa Jawa) yang memancarkan konotasi hormat. semonggo. seorang penyiar radio hendaknya tidak ikut-ikutan untuk menggunakan istilah-istilah atau dialek daerah tertentu yang justru “merusak” bahasa Indonesia. kecuali jika siarannya dilakukan dalam bahasa daerah atau dialek daerah tertentu. Bahasa Indonesia akan lebih mantap. Dalam kepenyiarannya yang dilakukan dalam bahasa Indonesia. misalnya. ibu diganti nyokap. Sejumlah singkatan digunakan untuk menghindari ketabuhan atau kesan jorok bila diperdengarkan. pulang menjadi ngalup. para guru. bila dalam perkembangan dan pertumbuhannya terus menerus dibina. Penyiar Radio dalam Pembinaan Bahasa Indonesia Di samping masuknya unsur-unsur bahasa asing dan daerah dalam tuturan bahasa Indonesia. Bila dilihat dari sudut penyiarnya. sebab dalaam kode (yang berupa prokem) itu tersembunyi “rahasia”. yakni motivasi dalam rangka untuk mencapai prestise melalui penggunaan bahasa (dialek) tertentu. telah cukup lama dikenal dan digunakan istilah prokem. mungkin. Bahasa Indonesia yang jauh sebelum negara kita merdeka. Penyiar kita tak jarang menggunakan istilah-istilah semacam itu dalam kepenyiarannya. Kata bapak diganti bokap.

Mengingat penggunaan bahasa Indonesia dalam situasi keanekabahasaan itu sulit.pemuda waktu itu sebagai bahasa persatuan. Untuk itu. agar bahasa kita. Maka dari itu. Bahasa Indonesia sejak adanya sumpah pemuda itu terus mengalami perkembangan dan kini sudah semakin mantap. Pembinaan bahasa Indonesia yang baik dan benar bukan hanya menjadi tanggung jawab keluarga. campur kode). Interferensi harus dihindari karena ini suatu penyimpangan bahasa. Kesemakinmantapan bahasa Indonesia itu tidak lain karena para pakar bahasa kita berupaya terus menerus untuk menyempurnakan bahasa Indonesia. bahasa Indonesia tetap terbina maka para penyiar radio kita yang banyak berkecimpung dalam penggunaan bahasa Indonesia (di samping para guru. guru-guru khususnya guru-guru bahasa Indonesia di sekolah. para penyiar juga harus ikut memasyarakatkan bahasa Indonesia yang baik dan benar kepada para pendengarnya. maka perlu adanya pembinaan penggunaan bahasa Indonesia untuk dapat menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Alih kode bukanlah fenemona bahasa yang sepenuhnya salah. suatu bahasa yang mampu mempersatukan berbagai macam suku baik sebelum Indonesia merdeka maupun setelah ia merdeka. Dalam kegiatan kepenyiaran mereka. alih kode. Penutup Penggunaan bahasa Indonesia dalam situasi keanekabahasaan dihadapkan pada sejumlah fenomena bahasa (interferensi. Secara sosilolinguistik alih kode dibenarkan asalkan sesuai dengan sejumlah kondisi yang memang ”mengharuskan” untuk ber-alih kode. Atau dengan perkataan lain. peranan penyiar dalam pembinaan bahasa Indonesia adalah sangat besar. peranan itu hendaknya betul-betul dimainkan oleh kawan-kawan penyiar radio. tokoh-tokoh masyarakat di daerah dan pusat akan tetapi juga menjadi tanggung jawab para penyiar radio pemerintah maupun swasta. khususnya guru-guru bahasa dan pakar bahasa Indonesia) juga mempunyai tanggung jawab yang tidak enteng untuk membina bahasa Indonesia yang baik dan benar. 8 . Wallahua’lam.

Uriel.A. Interferensi Morfologi pada Penggunaan Bahasa Indonesia oleh Anak-anak yang berbahasa Pertama Bahasa Sunda Murid Sekolah Dasar di Daerah Propinsi Jawa Barat. Readings in The Sociology of Language. Yus. PWJ. Peter. J.Pengembangan Materi Penelitian dalam Bidang Bahasa. Languages in Contact : Findings and Problems. Societies: Evolutionary and Comparative Perspective. Language. Durasid. Language in Sociocultural Change. (Makalah). Semarang: Fakultas Sastra. 1984. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. Jakarta: UI. Jakarta : Gramedia.1985b. Leonard. 9 . Alih-Kode dan Tunggal Bahasa dalam Masyarakat Gandabahasa. Disertasi. England: Penguin Books. 1984. Parsons. 1975. J. Makalah. Nababan. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Telaah Sosial-Budaya Terhadap Interferensi. Advances in The Study of Societal Multilingualism. Soetomo. 1990. Istiati. 1985a. Semarang : FS Undip. Istiati. 1972. London : Unwin University Books Compston Printing Ltd. Pokok-Pokok Pikiran tentang Multilingualisme dalam Sastra.A. Soetomo. Soetomo.Bahan Bacaan Bloomfield. J. Middlesex. (Disertasi). Sosiolinguistik vs Sosiologi Bahasa: Dua Disiplin Ilmu yang bisa Komplementer. The Hague : Mouton. Rusyana. Rusyana. Englewood. Talcott. California : Stanford University Press. Sociolinguistics: An Introduction. Trudgill. Inc. Banjarmasin: Puslit Unlam Fishman. 1972. Ed. Istiati 1985b. New Jersey: Prentice_hall. 1953. The Hague-Paris : Mouton. Weinriech. 1968. 1974. 1966. Fishman. The HagueParis: Mouton. Durdje. Yus. Fishman.A. 1978. Jakarta : Universitas Indonesia. Bandung: Diponegoro.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful