PELAKSANAAN BARANG RAMPASAN

LELANG DI

TERHADAP NEGERI

KEJAKSAAN

PALEMBANG

Tesis Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana S-2 Program Magister Kenotariatan

Di susun oleh : DENNY PRATAMA, SH B4B 006 094

PROGRAM

PASCA

SARJANA MAGISTER

KENOTARIATAN

UNIVERSITAS

DIPONEGORO

SEMARANG 2008

PELAKSANAAN LELANG TERHADAP BARANG RAMPASAN DI KEJAKSAAN NEGERI PALEMBANG

Oleh : DENNY PRATAMA, SH B4B 006 094

Penulisan di atas telah disetujui Oleh :

Pembimbing Program

Ketua

HERMAN SUSETYO, S.H.,M.Hum S.H.,MS NIP. 130 702 192 429

MULYADI, NIP. 130 529

PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini : Nmama Nim Fakultas : Denny Pratama, SH : B4B 006 094 : Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro Semarang

dengan ini menyatakan bahwa penulis membuat tesis ini sebagai hasil pekerjaan penulis sendiri, sama sekali tidak terdapat karya dari orang lain yang telah

diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi dan lembaga pendidikan lainnya. Pengetahuan yang penulis dapatkan khususnya penetapan – penetapan Mahkamah Agung RI. benar – benar dari hasil penelitian penulis sendiri yang belum / pernah diteliti oleh siapapun sebelumnya, sumbernya telah dijelaskan dan telah dibuat daftar pustaka dalam tulisan ini.

Semarang, Yang menyatakan,

Denny Pratama, S.H.

MOTTO : “ Jangan jadikan kritikan orang lain itu sebagai beban, tapi jadikanlah kritik orang lain itu sebagai masukan bagi kita untuk berbuat lebih baik.” ( Denny Pratama, SH ) “ Peliharalah lidahmu saat berkata, dan jagalah kakimu di saat melangkah.” ( Pepatah Minang )

Kepersembahan Kepada : Nenekku Hj. Maniar ( Alm. ) Papa dan Mamaku tercinta Adikku Dessy Anggraeni tersayang Keasihku tersayang Almamaterku

MS. selaku Ketua Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Diponegoro dan selaku Reviewer Proposal Tesis. namun berkat bantuan dari berbagai pihak penulis dapat mengatasi segala persoalan dan hambatan yang menjadi kendala dalam penulisan tesis ini. penulis dapat : DI menyelesaikan “ PELAKSANAAN penulisan LELANG dengan judul BARANG RAMPASAN KEJAKSAAN NEGERI PALEMBANG. SH..Hum selaku Pembimbing Tesis dan ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada : 1. yang . Bapak Mulyadi. Untuk itu.KATA PENGANTAR Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan karuniaNya yang telah dilimpahkan tesis TERHADAP sehingga ini. SH.M.. “ Penulisan tesis ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu persyaratan mencapai derajat sarjana S-2 di Program Magister Kenotariatan Selama Fakultas tesis Hukum ini.. dengan ikhlas dan hati yang tulus penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Herman Susetyo. penulisan penulis dihadapkan pada berbagai kesulitan dan hambatan. Universitas Diponegoro.

SH. Bapak Hendro Saptono. selaku Reviewer Proposal Tesis.telah memberikan masukan. . M.. kritik dan saran dalam penulisan tesis ini. Seluruh Dosen Pengampu yang telah banyak membantu dan memberikan ilmunya kepada penulis selama penulis menempuh pendidikan di Program Magister Kenotariatan. SH. Bapak Budi Ispriyarso. 6. kritik dan saran dalam penulisan tesis ini. 5. selaku Sekretaris Bidang Akademik dan selaku Reviewer Proposal Tesis. kritik dan saran dalam penulisan tesis ini. Hum selaku Dosen Wali penulis. yang telah serta selaku memberikan masukan...M. 7. Bapak Achmad Busro. Hum. yang telah memberikan masukan.Hum.Hum.. yang telah memberikan masukan. Para Staf Tata Usaha Program Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro yang telah membantu penulis selama menempuh pendidikan di Program Magister Kenotariatan. Bapak Yunanto. selaku Sekretaris Bidang Administrasi Umum dan Keuangan Reviewer Proposal Tesis. 4. 2. 3. SH.. M. M.. SH.. kritik dan saran dalam penulisan tesis ini.

Mkn.. Merliansyah. ( Ferza ). ( Merlin ). SH. MM. Kepada seluruh keluargaku yang kucintai dan kusayangi yang namanya tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak memberikan dukungan dan semangat kepada penulis . Ijal Cirebon dan . doa dan motivasi yang tidak hentinya kepada penulis sehingga pebulis dapat menyelesaikan pendidikan dan penulisan tesis ini .. SH. H.. Mkn. ( Cak Mur ). SH. 10. ( Ayus ). SH. ( Bang Andi ). Andi Mardani.. Mkn ( Iki ). Ibunda ST Maswarti adikku Dessy Anggraeni. SH ( Bang Ican ). dan Bapak Hikal. Yusrizal. Muryanto. ( Bang Boim ).. SH.. Made Wiryasa. Ferza Ika Mahendra. ( Bang Ijal ). SH. selaku Ketua Pelaksana Lelang Barang Rampasan di Kejaksaan Negeri Palembang yang telah banyak memberikan bantuan kepada penulis . SH. Bapak Safe’i. 11. SH. SH. Agus Oprasi. ( Abe ). SH.Mkn. Mkn. SH. 9. Irsan Zainuddin. KGS... Kepada seluruh teman – teman satu perjuangan angkatan 2006 Pak Lasmiran ( Pak De ). Mkn. M.. Kepada Ayahanda tercinta Maryono dan Pasiyo. SE.8. ( Bli Made ). SH. Hikmah T.. Ahmad Kardiansyah. Mkn. tersayang yang telah memberikan dukungan. Rizal Effendi.

. . terima kasih atas saran dan kritiknya selama pebulisan tesis ini . ( Agus ) serta teman – teman yang namanya tidak dapat disebutkan satu persatu.August Mudhofar. Denny Pratama. S. SH. Akhir kata. Rekan – rekan angkatan 2007. terima kasih atas dukungan kalian selama ini . Semarang. semoga tesis ini dapat memberikan manfaat bagi Penulis khususnya dan bagi semua pihak. 13. yang telah memberikan dukungan dan semangat serta motivasi kepada penulis.H. Kepada kekasihku Dria Maya Sari. SH. 12. Amin.

Dari hal inilah yang menimbulkan ketidaksinkronisasian antara peraturan yang mengatur pelaksanaan lelang terutama terhadap barang rampasan berupa kapal. “ Terhadap Barang . pada tahun 2000 yang lalu diberlakukannya Keputusan Presiden Nomor 14 Tahun 2000 Tentang Pemanfaatan Kapal Perikanan Yang Dirampas Untuk Negara yang secara garis besar menegaskan bahwa terhadap kapal – kapal asing atau kapal – kapal yang tertangkap oleh pihak yang berwenang itu tidak dilakukan lelang tapi dihibahkan kepada nelayan kecil dan transmigran. dapat diketahui bahwa di dalam pelaksanaan lelang barang rampasan ini memang terdapat banyak kendala seperti pengeluaran surat izin yang dikeluarkan oleh Kejaksaan Agung RI.ABSTRAK “ PELAKSANAAN LELANG TERHADAP BARANG RAMPASAN DI KEJAKSAAN NEGERI PALEMBANG “ Di dalam pelaksanaan terhadap barang rampasan ada prosedur atau tata cara yang sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku. Penelitian yang dilakukan di dalam penulisan tesis ini menggunakan metode yuridis empiris. Maksudnya adalah pendekatan terhadap suatu masalah dengan cara meninjau peraturan – peraturan perundang – undangan dan putusan – putusan pengadilan yang telah berlaku dalam masyarakat sebagai hukum positif dengan peraturan pelaksanaannya termasuk implementasinya di lapangan. Tetapi. penentuan harga limit. Dari hal tersebut. Jadi dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan lelang yang dilakukan oleh Kejaksaan Negeri Palembang belum berjalan effektif serta harus adanya tindakan yang cepat dan tegas dari pihak – pihak yang terkait dengan pelaksanaan lelang barang rampasan. kondisi barang yang rusak dan sedikitnya peserta lelang yang menghadiri pelaksanaan lelang barang rampasan tersebut. Kata Kunci : “ Pelaksanaan Lelang Rampasan. timbullah permasalahan terhadap pelaksanaan lelang barang rampasan yang disita oleh Kejaksaan Negeri Palembang dan faktor – faktor penghambat di dalam pelaksanaan lelang dan upaya apa yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut. Dari hasil penelitian.

invitation and Decision . From watchfulness's result. " . The purpose approach towards a problem by review regulation .foreign's ship or Ship . So from explanation above inferential that auction's execution that done by country's judiciary palembang not yet walk effektif with must fast 's action's existence and Firm from side . Keyword: " Auction's execution towards spoil. From the mentioned.crenellated 's ship by that in charge's side is not done auction but presented to little fisherman and Transmigrant.operative 's invitation.regulation perundang .'s side related to spoil's auction's execution.hindrance's factor in auction's execution and What done to overcome the mentioned. In the year 2000 ago memberlakukannya number's president's decision 14 year 2000 about fishery's ship's utilization that seized for country marginally confirm that towards ship .ABSTRACT " Auction's execution towards spoil At country's judiciary Palembang" In execution towards spoil there procedure or Appropriate customs and manners with regulation perundang . Goods's condition that broken and At least auction's entrant that attend spoil's auction's execution. Price pixing limit. From this matter evokes ketidaksinkronisasian between regulation that regulate auction's execution especially towards spoil shaped ship. Watchfulness that done in this thesis's writing uses empirical juridical method.court's decision that operative in society as positive law with the execution's regulation has belonged the implementation at field. Knowable that in this spoil's auction's execution really there are a lot of obstacle like licence's expenditure that taked by great judiciary ri. Emerge troubleshoot towards spoil's auction's execution that seized by country's judiciary palembang and Factor . But.

12 D. Latar Belakang …………………………………………………………. Pengertian ……………………………………………………………….DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ………………………………………………………………………………………… HALAMAN PENGESAHAN …………………………………………………………………………… i ii HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN………………………………………………. Manfaat Penulisan …………………………………………………… 13 BAB II.19 1.Pengertian Tentang Barang Rampasan ………………………………………………………… 1. 19 2. Permasalahan ………………………………………………………………… 12 C.. Jenis-jenis Lelang …………………………………………… 20 . TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………………………… A. Pengertian ……………………………………………………………… 14 14 14 2. Penyelesaian barang rampasan ………………… 17 B.Pengertian Tentang Lelang …………………………………. Ruang Lingkup ……………………………………………………………. PENDAHULUAN …………………………………………………………………………… iv viii ix xii 1 A. 1 B. DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………………………… BAB I. iii KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………………………… HALAMAN PERNYATAAN …………………………………………………………………………… ABSTRAK ………………………………………………………………………………………………………. Jenis-jenis barang rampasan …………………… 16 3. Tujuan Penulisan ……………………………………………………… 12 E.

. Sistematika Penelitian ………………………………………. 1. 31 31 33 34 34 36 1. Pelaksanaan Lelang …………………………………………. Kedudukan Jurusita …………………….. 21 C. 2. 2. 2. Metode Pendekatan ………………………………………………. Spesifikasi Penelitian …………………………………. 38 3. Pelaksanaan Lelang Barang Rampasan Yang Dilakukan Oleh Kejaksaan Negeri Palembang ………………………………………………………… 44 B.. 1. Faktor – Faktor Yang Menghambat Pelaksanaan Lelang Terhadap Barang Rampasan ………………………………………………………………………………… 60 C.Pihak – pihak Yang Berwenang Dalam Pelaksanaan Lelang Barang Rampasan …………………………………………………………………………. BAB III METODE PENELITIAN ………………………………………………………. 41 5.. 37 2.3.. 44 A. Teknik Pengumpulan Data …………………………………… 39 4. Tugas Jurusita …………………………………. 2. 42 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ………………………. Jurusita ……………………………………………………………….. Upaya Penanggulangan Terhadap Faktor – Faktor Penghambat ………………………………………………………… 67 . Metode Analisis Data …………………………………………. Kejaksaan …………………………………………………………….

70 B.BAB V PENUTUP …………………………………………………………………………………………… 70 A. Kesimpulan …………………………………………………………………….. Saran ……………………………………………………………………………………… 70 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………………………… 72 LAMPIRAN ………………………………………………………………………………………………………… 74 .

2. Jakarta : Sinar . pidana denda . perampasan Barang itu – barang tertentu berdasarkan keputusan dari Kejaksaan Agung Republik Indonesia itu dapat dilakukan lelang. kita mengenal adanya pidana pokok dan pidana tambahan. pencabutan hak – hak tertentu . 4. perampasan barang – barang tertentu . pidana tutupan. Pidana pokok : 1. Latar Belakang Di dalam hukum acara pidana. 3. pidana kurungan . pidana mati .BAB I PENDAHULUAN A. 1 Andi Hamzah. Hal ini dapat dilihat di dalam Pasal 10 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang menyebutkan bahwa : “ Pidana terdiri dari a. 3. 5. 2. Hukum Grafika 1996 hlm. pidana penjara . Acara Pidana Indonesia. pengumuman putusan hakim.”1 Dari tambahan Pasal berupa 10 KUHP tersebut barang – terhadap barang pidana tertentu perampasan pelaksanaannya itu dilakukan oleh Pihak Jurusita dan pihak kejaksaan yang bagian dilakukan eksukutor. atau dimsnahkan. dimanfaatkan oleh pemerintah untuk kepentingan Negara atau Sosial.5-6. b. Pidana tambahan : 1.

Di dalam peraturan pelaksanaan lelang barang rampasan. ada hal – hal yang perlu diketahui dan pahami terlebih dahulu dari kaedah hukum tersebut. . tidak ada hukum yang dapat dipahami tanpa mengetahui asas – asas hukum. Oleh karena itu untuk memahami hukum suatu bangsa dengan sebaik – baiknya tidak hanya dilihat pada peraturan – peratutan hukumnya saja. 1211. Hal ini disebabkan dalam menentukan layak atau tidaknya atau menentukan harga dasar barang – barang yang akan dilakukan lelang itu diserahkan kepada ahlinya. melainkan harus menggali sampai pada asas – asas hukum dan juga badan atau orang sbagai pelaksana dari peraturan hukum tersebut.2 Dari pernyataan di atas.Barang – barang dinyatakan untuk lelang dalam pelaksanaannya membutuhkan waktu yang cukup lama. Asas hukum inilah yang memberi makna etis pada peraturan – peraturan hukum serta tata hukum di dalam menjalani hidup berbangsa dan bernegara. 2 Kejaksaan Agung RI. jika dikaitkan dengan peraturan hukum atau kaedah hukum. Tentang Pembinaan. 1988 hlm. Himpunan Peraturan Jakarta : Kejaksaan Agung RI. pelaksanaan lelang itu harus selesai dalam jangka waktu 4 (empat) bulan. Berarti.

menurut van Apeldoorn seperti dikutip oleh DR. Perihal Kaedah Hukum.Jadi. Soejono Dirdjosisworo. sedangkan hukum tidak tertulis beliau mengartikan bahwa hukum tidak tertulis adalah hukum kebiasaan. Jakarta 2001 hlm.”4 Dari kedua pernyataan para sarjana di atas. PT. SH menyebutkan bahwa hukum itu sebagai perikelakuan atau sikap tindak yang ajeg. di dalam upaya melakukan perubahan dalam masyarakat diperlukan adanya persamaan di dalam hukum atau sesuai dengan yang dikehendaki oleh masyarakat yang antara lain: adanya perubahan di bidang sosial – ekonomi dan di bidang lainnya. maka dapat melakukan identifikasi hukum terutama hukum yang tertulis. PT. 4 Soerjono Dirdjosisworo.undang dan traktat yang dihasilkan dari hubungan hukum internasional. Pengantar Ilmu Hukum.7. Terhadap hukum tertulis. Soejono Dirdjosisworo. 3 . Raja Grafindo Persada.3 Menurut DR. Mengenai pengertian hukum. Aditya Bakti. dahulu ( maksudnya melakukan sosial di sini adalah harus terlebih perilaku dari – identifikasi ) baru terhadap gejala kemudian hasil identifikasi tersebut dibandingkan dengan rumusan Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto. Alumni.205-206. beliau mengartikan bahwa hukum tertulis adalah hukum yang mencakup perundang – undangan dalam berbagai bentuk yang dibuat oleh pembuat undang . Bandung 1993 hlm. SH dijelaskan bahwa hukum itu ada yang tertulis dan hukum yang tidak tertulis.

Adapun peraturan – peraturan yang mengatur tentang pelaksanaan lelang barang rampasan ini. agar tidak menyimpang dari topik permasalahan yang akan diangkat. maka penulis memparkan tentang pelaksanaan lelang dan badan – badan hukum yang menangani lelang tersebut di dalam Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana ( KUHAP ) dan peraturan – peraturan yang mengatur tentang pelaksanaan lelang barang rampasan yang ada d Indonesia terutama khusus yang terjadi di kota Palembang. Apabila tidak sesuai berdasarkan teori tindakan sosial.rumusan perilaku yang tertuang di dalam peraturan perundang – undangan. maka ini berarti ada referensi lain yang digunakan oleh warga masyarakat untuk berperilaku atau bersikap tindak. identifikasi hukum akan antara kesesuaian nyata atau ketidaksesuaian yang yang denan perilaku dirumuskan dalam peraturan. Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana ( KUHAP ) yang terdapat di dalam Pasal 1 butir (16). Pasal 45 ayat (1) dan Pasal 273 ayat (3) dan ayat (4) KUHAP. Dalam menghasikan perilaku bidang hukum. Pasal 46 ayat (1) dan ayat (2). Pasal 39. antara lain : 1. Dari yang telah dijelaskan di atas. .

Perkara tersebut dikesampingkan untuk kepentingan umum atau perkara itu ditutup demi hukum. Pasal 1 butir (16) KUHAP. KUHP DAN KUHAP.”6 5 6 Andi Hamzah. “ Benda yang dikenakan penyitaan dikembalikan kepada orang atau kepada mereka dari siapa benda itu disita. hlm 220-221. Jakarta : 2002. c.144. Di dalam Pasal 46 ayat (1) dan (2) Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana ( KUHAP ) yang menyebutkan bahwa : • Ayat (1). untuk dimusnahkan atau dirusak sampai tidak dapat dipergunakan lagi atau jika benda tersebut diperlukan sebagai barang bukti perkara lain.a. . Kepentingan penyidikan dan penuntutan tidak memerlukan lagi. penuntutan dan 5 peradilan. Perkara itu tidak jadi dituntut karena tidak cukup bukti atau ternyata tidak merupakan tindak pidana. kecuali jika menurut putusan hakim benda itu dirampas untuk negara. b.” b. “ Apabila perkara sudah diputus. maka benda yang dikenakan penyitaan dikembalikan kepada orang atau kepada mereka yang disebut dalam putusan tersebut. Jakarta : Sinar Grafika 1996 hlm. atau kepada orang atau kepada mereka yang paling berhak apabila: a. Menurut Pasal 1 butir 16 Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana ( KUHAP ) mengenai pengertian penyitaan dalam arti yang luas menyebutkan bahwa : “ Penyitaan adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mengambil alih dan atau menyimpan di bawah penguasaanya benda bergerak atau tidak bergerak. kecuali apabila benda itu diperoleh dari suatu tindak pidana atau yang digunakan untuk melakukan suatu tindak pidana. berwujud dan tidak berwujud untuk kepetingan pembuktian dalam penyidik. Hukum Acara Pidana Indonesia. Pasal 46 ayat (1) dan ayat (2) KUHAP. Redaksi Sinar Grafika.” • Ayat (2).

benda tersebut dapat di jual lelang atau dapat diamankan oleh penyidik umum atau penuntut umum. Pasal 45 ayat (1) KUHAP..”8 7 8 Redaksi Sinar Grafika. Jakarta : 2002.c. maka benda tersebut dapat diamankan atau dijual lelang oleh penuntut umum atas izin hakim yang menyidangkan perkaranya dan disaksikan oleh tersangka atau kuasa hukumnya. 3. Benda yang dipergunakan untuk menghalang – halangi penyidik delik. Di dalam Pasal ini dinyatakan bahwa : “ Dalam hal benda sitaan terdiri atas benda yang dapat lekas rusak atau yang membahayakan. 4. sehingga tidak mungkin untuk disimpan sampai putusan pengadilan terhadap perkara yang bersangkutan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap atau jika biaya penyimpanan benda tersebut menjadi terlalu tinggi. dengan disaksikan oleh tersangka atau kuasa hukumnya. hlm. apabila perkara masih ada di tangan penyidik atau penuntut umum. Benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan melakukan delik. 220. 218 Ibid. Di dalam Pasal ini disebutkan bahwa benda – benda yang dapat dilakukan penyitaan antara lain . Benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan delik yang dilakukan. Pasal 39 KUHAP. KUHP DAN KUHAP. 2. Benda yang telah dipergunakan secara langsung untuk melakukan delik. 1. sejauh mungkin dengan persetujuan tersangka atau kuasanya dapat diambil tindakan sebagai berikut : a. apabila perkara sudah di tangan pengadilan.hlm. .7 d. b.

jaksa mengusahakan benda tersebut ke kantor lelang negara dan dalam waktu tiga bulan untuk dijual lelang.e.” • Ayat (4). a. Keputusan Jaksa Agung tanggal 5 Agustus 1988. Di dalam keputusan bahwa Jaksa – Agung benda benda untuk tersebut dapat telah disebutkan dilakukan benda yang yang pelelangan secara adalah langsung dipergunakan melakukan delik dan benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan delik yang dilakukan seperti yang disebutkan di dalam Pasal 39 KUHAP pada point 1 dan 4. Keputusan Jaksa Agung. “ Jangka waktu sebagaimana tersebut pada ayat (3) dapat diperpanjang paling lama satu bulan. Di dalam Pasal 273 ayat (3) KUHAP yang disebutkan bahwa : • Ayat (3). Keputusan Jaksa Agung tanggal 5 Agustus 1988. Pasal 273 ayat (3) dan ayat (4) KUHAP. .10 9 10 Ibid. “ Jika putusan pengadilan juga menetapkan bahwa barang bukti dirampas untuk negara.”9 2. 307. yang hasilnya dimasukkan ke kas negara untuk dan atas nama jaksa. selain pengecualian sebagaimana tersebut pada Pasal 46. hlm.

Pasal 13. Di dalam Pasal ini disebutkan bahwa : “ Jaksa Agung Republik Indonesia dapat menetapkan barang rampasan tertentu dipergunakan bagi kepentingan Negara atau sosial sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku. 1988 hlm. Pembinaan. dan Pasal 14 Keputusan Jaksa Agung Nomor : KEP. 1208 – 1209.” • Pasal 13. .089 / J. Di dalam Pasal 12. A / 8 / 1988 tentang Penyeleaian Barang Rampasan.b. Di dalam Pasal ini disebutkan bahwa : “ Kepala Kejaksaan Tinggi atau Kepala Kejaksaan Negeri atau Kepala Cabang Kejaksaan Negeri yang menguasai barang rampasan terkena larangan impor dan dilarang untuk diedarkan segera melaporkan kepada Jaksa Agung Muda yang berwenang menyelesaikan barang rampasan untuk penyelesaian selanjutnya. Himpunan Peraturan Tentang Jakarta : Kejaksaan Agung RI. A / 8 / 1988 ini menyebutkan bahwa : • Pasal 12.089 / J.” • Pasal 14 Di dalam Pasal ini disebutkan bahwa : “Jaksa Agung Republik Indonesia dengan pertimbangan khusus dapat menempatkan barang rampasan untuk dimusnahkan atau dirusak sampai tidak dapat dipergunakan lagi sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku.”11 11 Kejaksaan Agung RI. Keputusan Jaksa Agung Nomor : KEP.

Eka Jaya.”13 Dari keempat peraturan tersebut. Jakarta : 2002. Di dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 303 / KMK. hlm. hlm. 4.01 / 2002 tentang Crash Program Pengurusan Piutang Negara Perbankan pada Pasal 13 ayat (1). 796.03 / B / B. terhadap serta penyelesaian tata cara barang rampasan pelaksanaan lelang barang rampasan. Ibid.03 / B / B.5 / 8 / 1988 tentang Penyelesaian Barang Rampasan. 13 12 . 1211.12 Di dalam Surat Edaran Nomor : SE. peraturan yang digunakan untuk penyelesaian barang rampasan dari tindak pidana yang terjadi adalah Keputusan Jaksa Agung point a dan b serta Surat Edaran Nomor : SE.03 / B / B. atau tempelan yang mudah di baca oleh umum dan atau melalui media elektronik termasuk internet di wilayah kerja Kantor Lelang tempat barang akan dijual. Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 303 / KMK.5 / 8 / 1988 tentang Penyelesaian Barang Rampasan. Surat Edaran Nomor : SE. selebaran. CV. baik pihak – pihak yang diberi kuasa oleh Pengadilan tersebut.5 / 8 / 1988 ini secara garis besar menyebutkan tentang adanya tenggang waktu di dalam penyelesaian barang rampasan.01 / 2002 ini dijelaskan bahwa : “ Penjualan secara lelang di dahului dengan Pengumuman Lelang yang dilakukan oleh Penjual melalui surat kabar harian. Petunjuk Pelaksanaan Lelang.3.

. pelelangan terhadap barang rampasan ada prosedur atau tata cara yang sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku. Tetapi pada tahun 2000 yang lalu diberlakukannya Keputusan Presiden Nomor 14 Tahun 2000 Tentang Pemanfaatan Kapal Perikanan Yang Dinyatakan Dirampas Untuk Negara yang secara garis besar menegaskan bahwa terhadap kapal – kapal asing atau kapal – kapal yang tertangkap oleh pihak yang berwenang.Kedua penyelesaian peraturan barang inilah rampasan. yang digunakan di untuk dalam Berarti. yang salah satunya menyebutkan bahwa sebelum dilakukan pelelangan diumumkan terlebih dahulu diberitakan di media massa tentang benda yang akan dilelang. dan dari hal inilah timbulnya peraturan barang ketidaksinkronisasian yang mengatur terutama terhadap peraturan – tentang pelaksanaan barang lelang rampasan rampasan terhadap berupa kapal. terhadap kapal – kapal tersebut tidak dilakukan pelelangan melainkan dihibahkan kepada Menteri Perikanan dan Kelautan yang selanjutnya diserahkan kepada nelayan – nelayan yang membutuhkan kapal – kapal tersebut.

yang dalam hal ini adalah nelayan di sekitar Sungai Musi.” BARANG RAMPASAN DI KEJAKSAAN NEGERI .Oleh karena itu. dan hal ini dapat kita lihat di kota Palembang seperti yang terjadi pada tahun 2004 yang lalu. Dari kasus ini. Bertitik tolak dari uraian diatas. terlihat surat adanya izin keterlambatan pengeluaran penyerahan kapal – kapal tersebut kepda pihak – pihak yang membutuhkan. maka penulis bertujuan untuk melakukan penelitian dalam memenuhi tugas akhir ( tesis ) dengan judul “ PELAKSANAAN LELANG TERHADAP PALEMBANG. semenjak diberlakukannya Keputusan Presiden ini keberadaan peraturan pelaksanaan lelang barang rampasan menjadi kurang efektif. penanganannya dilakukan oleh pihak Kejaksaan Negeri untuk Palembang Negara dan kapal – kapal tersebut masih disita yang untuk Jaksa selanjutnya Agung untuk menunggu keputusan dari dilakukannya penyerahan kepada pihak nelayan yang membutuhkannya.di mana terdapat adanya dua buah kapal ( kasus penangkapan ikan oleh nelayan asing d wilayah perairan Kalimantan). Dari pernyataan di dalam diatas.

Ruang lingkup penulisan tesis ini penulis lakukan terhadap peraturan pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan yang dilakukan oleh Kejaksaan Negeri Palembang baik secara teori maupun praktiknya. Tujuan Penelitian. D. Permasalahan. Bagaimana rampasan pelaksanaan yang disita pelelangan oleh Kejaksaan barang Negeri Palembang ? 2. adalah : 1. Apakah yang menjadi faktor – faktor penghambat ( kendala ) di dalam pelaksanaan pelelangan barang rampasan tersebut dan bagaimanakah upaya untuk mengatasinya ? C.B. Ruang Lingkup. . Mengetahui prosedur pelaksanaan pelelangan barang rampasan yang dilakukan oleh Kejaksaan Negeri Palembang. Permasalahan yang akan dibahas dalam tesis ini. Penelitian ini bertujuan untuk : 1.

2. Manfaat praktis. Mengetahui yang menjadi kendala atau penghambat di dalam pelaksanaan pelelangan barang rampasan tersebut dan upaya untuk mengatasinya. Manfaat berikut : 1. untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan bagi penulis serta menambah bahan kepustakaan dalam bidang hukum khususnya mengenai pelaksanan pelelangan barang rampasan. .2. E. yaitu penulisan ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan bagi pihak dari penelitian ini adalah sebagai Kejaksaan dalam pelaksanaan pelelangan barang rampasan. Manfaat teoritis. khususnya di perpustakaan Program Pascasarjana UNDIP. Manfaat Penelitian.

Kamus Hukum.5 / 8 / 1988 tentang Penyelesaian Barang Rampasan yang menyebutkan bahwa : “ Terhadap barang rampasan yang termasuk dalam satu putusan Pengadilan pada prinsipnya tidak diperkenankan di jual lelang secara terpisah – pisah.T.C. 126. 15 Simorangkir. 1988 hlm. Himpunan Peraturan Tentang Pembinaan.15 Barang rampasan ini apabila akan dilakukan pelelangan itu dilaksanakan secara bersama. J.. barang yang dituntut Kejaksaan Agung RI. 1210. kecuali dalam keadaan terdesak. Jakarta : Snar Grafika 2000 hlm. 1206. dan barang bukti tersebut dapat dilelang apabila telah diputuskan oleh Pengadilan dan mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Pengertian. Barang rampasan itu adalah barang yang merupakan alat atau barang bukti. 14 . “ 16 Adapun barang rampasan yang dimasudkan di dalam point 9 Surat Edaran tersebut terhadap barang rampasan yang diperkenankan secara terpisah antara lain : barang sengketa dalam perkara perdata.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. tidak dapat dilakukan secara terpisah kecuali bila keadaan terdesak seperti yang dijelaskan di dalam point 9 Surat Edaran Nomor : SE – 03 / B / B. Jakarta : Kejaksaan Agung RI.14 Di dalam kamus hukum menyebutkan tentang pengertian rampasan. 16 Kejaksaan Agung RI. Himpunan Peraturan Tentang Pembinaan. 1. 1988 hlm.dkk. yaitu hukuman tambahan yang memungkinkan pemilikan suatu barang oleh atas benda – benda yang dimiliki / dikuasai atau yang berasal dari kejahatan yang telah dilakukan dan telah dijatuhi hukuman.Pengertian Tentang Barang Rampasan. Jakarta : Kejaksaan Agung RI.

lain dipergunakan lagi ( berdasarkan sub V.. 1224. narkotika point 5 Surat Edaran Nomor : SE – 03 / B / B. Pembinaan.5 / 8 / 1988 tentang Penyelesaian Barang Rampasan ). 1988 hlm.17 Menurut barang peraturan pelaksanaan barang lelang terhadap yang rampasan. Himpunan Peraturan Tentang Jakarta : Kejaksaan Agung RI. . barang yang akan diajukan bagi kepentingan diajukan Negara atau Sosial. dan barang yang akan yang untuk dimusnahkan barang rampasan berada di luar daerah hokum Kejaksaan yang bersangkutan. Biasanya barang rampasan di wilayah perairan tersebut digunakan untuk kepentingan Negara. 18 maka barang 17 Kejaksaan Agung RI. Terhadap barang rampasan yang berada di wilayah perairan mendapat itu izin sebelum dilakukan dahulu pelelangan dari itu harus terlebih Menteri Keuangan seperti yang disebutkan di dalam point 7 huruf d Surat Edaran Nomor : SE – 03 / B / B. 1988 hlm. dapat terhadap rampasan bagi keberadaannya Negara atau membahayakan dengan kata kepentingan tidak dapat sosial. Himpunan Peraturan Tentang Jakarta : Kejaksaan Agung RI. 1214. Pembinaan. 18 Kejaksaan Agung RI. dan apabila izin itu diberikan maka pelelangan terhadap barang rampasan tersebut dapat dilaksanakan.oleh pihak ke tiga.5 / 8 / 1988 tentang Penyelesaian telah Barang Rampasan.

dokumen atau surat – surat yang lengkap atau merupakan barang selundupan. Barang – barang rampasan yang digunakan untuk kepentingan Negara atau sosial. Jenis – jenis barang rampasan yang termasuk di dalamnya antara lain seperti : motor. obat – obatan terlarang.rampasan berwenang. yaitu :19 1. 19 Ibid hlm. rumah ( dalam kasus perdata ). mobil. Maksud kalimat diatas adalah barang – barang rampasan jenis ini keberadaannya dapat dimanfaatkan bagi kepentingan Negara maupun sosial. dan lain sebagainya. Jenis – jenis barang rampasan yang termasuk di dalamnya yaitu : alat – alat elektronik. dan lain sebagainya. tersebut Contoh dimusnahkan barang seizin yang pihak tidak yang dapat rampasan dipergunakan ini antara lain : jenis – jenis tertentu dari narkotika seperti ganja.A / 1988 tentang Penyelesaian Barang Rampasan di dalam Pasal 12 sampai dengan Pasal 14 yang menyebutkan jenis – jenis barang rampasan. 2. 2. dan biasanya barang – barang rampasan ini digunakan untuk kepentingan Negara tau Sosial. Maksud kalimat di atas adalah barang – barang rampasan jenis ini pada saat penerimaannya itu tidak memiliki dokumen . kapal dan lain sebagainya.089 / J. Jenis – Jenis Barang Rampasan. Barang – barang rampasan yang dikenakan larangan import dan dilarang untuk diedarkan. . 1211 – 1219. Berdasarkan ketentuan yang berlaku yaitu Keputusan Jaksa Agung Nomor : KEP.

yang hasilnya dimasukkan ke kas negara untuk dan atas nama jaksa. Pembinaan. 3. Di dalam penyelesaian barang rampasan jenis ini Jaksa Agung Republik Indonesia bekerjasama dengan Menteri Kesehatan.5 /8 / 1988 tentang Penyelesaian Barang Rampasan. Mengenai penyelesaian barang rampasan ini diatur di dalam Surat Edaran Nomor : SE – 03 / B / B. . obat – obatan terlarang. Tenggang waktu untuk menyelesaikan barang rampasan dibatasi selambat – lambatnya dalam masa 4 ( empat ) bulan semenjak Putusan Pengadilan memperoleh kekuatan hukum yang tetap. Penyelesaian Barang Rampasan. Himpunan Peraturan Tentang Jakarta : Kejaksaan Agung RI. selain pengecualian sebagaimana tersebut pada Pasal 46. 1988 hlm. Barang – barang rampasan yang dimusnahkan.” b.1211 – 1212. Ayat (4) : “ Jangka waktu sebagaimana tersebut pada ayat (3) dapat diperpanjang untuk paling lama satu bulan. Tenggang waktu tersebut mengikat dan merupakan kewajiban bagi kejaksaan untuk menaatinya. Maksud kalimat di atas adalah barang – barang rampasan jenis ini keberadaannya dapat tidak dimanfaatkan bagi kepentingan Negara maupun sosial. Jenis – jenis barang rampasan yang termasuk di dalamnya antara lain : ganja. Ayat (3) : “ Jika putusan pengadilan menetapkan bahwa barang bukti dirampas untuk negara. Jaksa menguasakan benda tersebut kepada Kantor Lelang Negara dan dalam waktu 3 ( tiga ) bulan untuk dijual lelang. Menurut Pasal 273 ayat (3) dan ayat (4) KUHAP disebutkan bahwa : “ a. heroin. yang menyebutkan bahwa :20 1.” 20 Kejaksaan Agung RI.3. morfin dan lain sebagainya.

Sebagaimana yang dimaksud dalam butir 3. Mengenai hal tersebut di atas di dalam Pasal 28 ayat (2) UU No. di dalam pasal tersebut disebutkan bahwa : “ Pengeluaran barang rampasan untuk melaksanakan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap. sosial atau dimusnahkan. dilakukan atas permintaan jaksa secara tertulis. 27 Tahun 1983. a. harus dilakukan dengan suatu berita acara. 3. dalam rangka pengajuan premi / ganjaran. dalam tenggang waktu 7 ( tujuh ) hari setelah putusan tersebut di terima sudah harus dilimpahkan penanganannya oleh Bidang yang menangani sebelum menjadi barang rampasan kepada Bidang yang berwenang menyelesaikannya dengan melampirkan salinan vonnis atau extract vonnis. Terutama terhadap barang – barang rampasan dalam penyelundupan yang dilarang untuk diimport dan dilarang untuk diedarkan. seperti barang – barang rampasan dalam perkara penyelendupan yang dilarang untuk di import dan dilarang untuk diedarkan. dan pendapat hukum. Setiap satuan barang rampasan dari suatu perkara yang putusan pengadilannya telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap. Untuk dipergunakan bagi kepentingan Negara atau sosial atau barang – barang rampasan terutama yang berasal dari perkara penyelundupan dan pelanggaran wilayah R.2. Dalam hal ini Jaksa Agung Republik Indonesia dapat menetapkan barang – barang tersebut untuk digunakan untuk kepentingan negara atau sosial atau untuk dimusnahkan. kecuali untuk barang – barang rampasan tertentu Jaksa Agung Republik Indonesia dapat menetapkan lain yaitu digunakan bagi kepentingan Negara. .I. dalam penyelesaiannya digunakan INPRES Nomor 9 Tahun 1970 tentang Penjualan dan atau Pemindahtanganan barang – barang yang dimiliki atau dikuasai Negara. a.” b. Penyelesaian barang rampasan pada umumnya diselesaikan dengan cara dijual lelang melalui Kantor Lelang Negara. 4. Tindakan ini perlu diambil untuk mengamankan dan atau melindungi barang – barang yang telah dapat di produksi dalam Negeri.

Barang Yang Dikuasai Negara dan Barang Yang Menjadi Milik Negara pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai pada Pasal 1 angka 5 menjelaskan bahwa lelang adalah penjualan barang yang dilakukan dimuka umum termasuk melalui media elektronik.T. Jakarta : Sinar Grafika 2000 hlm. Jakarta. dan atau dengan penawaran harga secara tertulis yang didahulukan dengan usaha mengumpulkan peminat.B. Di dalam Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 36 / KMK.23 Dari ketiga pengertian tersebut. Pengertian Tentang Lelang. Simorangkir. Pengertian. di dalam kamus hukum juga disebutkan bahwa : “ Lelang adalah penjualan barang – barang di muka umum dan diberikan pada penawar yang tertinggi. Jakarta : 2002 hlm. 22 J. dkk. 1992 hlm.04 / 2002 tentang Jasa Pra Lelang Dalam Lelang Barang Yang Dinyatakan Tidak Dikuasai.”22 Hal serupa juga disebutkan dalam Kamus Bahasa Indonesia yang berbunyi : “ lelang ialah menjual atau penjualan dihadapan orang banyak dengan tawaran yang beratas – atasan. 23 Muhamad Ali. dengan penawaran lisan dengan harga yang semakin meningkat atau dengan penawaran harga yang semakin menurun. Petunjuk Pelaksanaan Lelang. 605. Kamus Hukum. dapat diketahui bahwa lelang itu haruslah dilakukan di muka umum dan diumumkan melalui media massa maupun media elektronik serta adanya peserta lelang yang berasal dari beberapa CV.C. 1. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Moderen. 218.21 Mengenai pengertian lelang ini.90. Eka Wijaya. 21 . Pustaka Alumni.

Jenis – Jenis Lelang. 07 / 2006 tentang Pejabat Lelang Kelas I yang menyatakan bahwa lelang itu terbagi menjadi 3 macam. Lelang Non Eksekusi Sukarela adalah lelang atas barang milik swasta perorangan. Lelang Eksekusi Barang Sitaan Pasal 45 Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana ( KUHAP ). Di dalam Pasal 1 angka 8 sampai dengan angka 10 Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 41 / PMK. Lelang Eksekusi Pengadilan. kelompok masyarakat atau badan yang di lelang secara sukarela termasuk BUMN / D yang berbentuk Persero ( Pasal 1 angka 10 ).masyarakat rampasan yang berminat terhadap barang – dan barang adanya yang akan dilakukan pelelangan penawaran harga dari barang rampasan tersebut. antara lain Lelang Eksekusi Panitia Urusan Piutang Negara ( PUPN ). Lelang. Lelang Eksekusi Pasal 6 Undang – Undang Hak Tanggungan ( UUHT ). dalam rangka membantu penegakan hukum. Lelang Eksekusi Barang Temuan. Kumpulan – Kumpulan . Lelang Eksekusi adalah lelang untuk melaksanakan / penetapan pengadilan atau dokumen – dokumen lain yang dipersamakan dengan itu sesuai dengan peraturan peraturan perundang – undangan. 2. Lelang Eksekusi Pajak. “ 24 Dikutip dari Tugas Peraturan Peraturan Lelang. yaitu :24 “ 1. 2. Lelang Non Eksekusi Wajib adalah lelang atas barang milik negara / daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang – Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Pembendaharaan Negara Atau Barang Milik Badan Usaha Milik Negara / Daerah ( BUMN / D ) yang oleh peraturan perundang . 45 – 46. Lelang Eksekusi Fidusia ( Pasal 1 angka 8 ). hlm.undangan diwajibkan dijual melalui lelang termasuk kayu dan hasil hutan lainnya dari tangan pertama (Pasal 1 angka 9 ). Lelang Eksekusi dikuasai / tidak dikuasai Bea Cukai. Lelang Eksekusi barang rampasan. 3.

Sebelum dijual lelang barang rampasan perlu mendapatkan izin. Pra lelang. Pelaksanaan pra lelang itu terdiri beberapa tahapan. Adapun. Pelaksanaan Lelang.Dari ketiga jenis lelang di atas. Pra lelang itu merupakan suatu perbuatan hukum yang dilakukan oleh pihak kejaksaan berdasarkan Putusan Pengadilan. . antara lain : a. Izin untuk menjual lelang barang rampasan diberikan oleh Kepala Kejaksaan Negeri. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya terhadap barang rampasan yang akan dilakukan lelang itu harus memenuhi persyaratan – persyaratan atau memenuhi ketentuan – ketentuan peraturan perundang – undangan yang berlaku. 3. tata cara yang harus dipenuhi oleh pihak – pihak yang akan melakukan pelelangan terhadap barang rampasan ini ( dalam hal ini yang dilakukan oleh pihak kejaksaan ) adalah sebagai berikut : 1. lelang yang dilakukan oleh pihak kejaksaan itu termasuk ke dalam Lelang Eksekusi seperti yang disebutkan di dalam point 1 di atas.

kondisi dari barang rampasan oleh instansi yang terkait dengan barang rampasan tersebut.Kepala Kejaksaan Tinggi. Adapun dokumen – dokumen yang yang harus dilampirkan itu antara lain : turunan Putusan Pengadilan yang membuktikan bahwa barang untuk bukti Negara. b. maka pihak kejaksaan melakukan penentuan kondisi barang rampasan yang dimintakan kepada ahli atau kepada . Permohonan izin lelang yang diberikan Kajari atau Kacabjari itu selambat – lambatnya 7 ( tujuh ) hari dan Kajati sudah memberikan keputusan apakah barang rampasan akan diberikan izin untuk dijual lelang atau tidak. Setelah mendapatkan izin untuk melakukan pelelangan terhadap barang rampasan tersebut. dan Jaksa Agung Muda. Permohonan rampasan surat izin untuk menjual dokumen lelang atau barang surat – harus melampirkan yang berkaitan dengan pelaksanaan lelang barang rampasan tersebut. dan perkiraan harga dasar atau harga limit yang wajar dari instansi berwenang yang didasarkan pada kondisi barang rampasan tersebut. yang dimaksud telah yang dinyatakan jelas tersebut dirampas barang satu pertelaan akan dari rampasan dilelang dalam daftar.

Setelah disetujuinya atau dikabulkannya permohonan izin. Langkah selanjutnya adalah menentukan harga dasar atau harga limit yang dimintakan kepada Instansi yang berwenang. yang didasarkan telah pada kondisi oleh barang ahlinya rampasan ditetapkan tersebut dan dilakukan secara tertulis. c. Pelaksanaan lelang. Prosedur pelaksanaan lelang barang rampasan yang dilakukan oleh pihak kejaksaan adalah sebagai berikut : 1. rampasan maka pelaksanaan dapat lelang terhadap dan barang tidak tersebut dilaksanakan bertentangan dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku. Diterbitkannya Keputusan Izin Lelang Barang Rampasan baik yang dikeluarkan oleh Jaksa Agung Muda yang berwenang menyelesaikan barang rampasan maupun Kepala Kejaksaan Tinggi atau Kepala Kejaksaan Negeri segera dilaksanakannya pelelangannya dengan . 2.Instansi yang ada relevansinya dengan barang rampasan tersebut. menentukan kondisi barang dan menentukan harga dasar dari barang rampasan tersebut dan adanya peserta lelang.

hlm. seperti yang disebtkan di dalam Pasal 253 Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 36 / KMK. Pengumuman lelang ini dilakukan 7 ( tujuh ) hari sebelum lelang dilakukan. Mencari dan mengumpulkan perserta lelang. 3. Setelah tersebut. Eka Wijaya. 04 / 2002 tentang Jasa Pra Lelang Dalam Lelang Yang Dinyatakan Tidak Dikuasai. 07 / 2005 tentang Balai Lelang yang menyebutkan bahwa : “ Pengumuman Lelang adalah pemberitahuan kepada masyarakat tentang adanya Lelang dengan maksud untuk menghimpun peminat lelang dan pemberitahuan kepada pihak ketiga yang berkepentingan.”25 Hal senada juga dijelaskan di dalam Pasal 1 angka 18 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 118 / PMK. “26 Pengumuman lelang ini diumumkan di Harian atau di Mass Media lainnya bahwa Kejaksaan setempat akan melakukan pelelangan barang – barang rampasan dan disebutkan jenis dan jumlahnya. Kumpulan – Kumpulan Peraturan Lelang. Jakarta : 2002 hlm. Barang Yang Dikuasai Negara dan Barang Yang Menjadi Milik Negara Pada Direktorat Jendral Bea dan Cukai bahwa : “ Pemberitahuan rencana lelang dilakukan secara tertulis kepada Pemegang Hutang dan atau Penjamin Hutang melalui kurir atau jasa pos paling lambat 7 ( tujuh ) hari sebelum lelang dilaksanakan. baik peserta yang bertempat tinggal di wilayah di mana lelang dilaksanakan maupun peserta yang berada di 25 CV. diterbitkannya maka pihak keputusan Panitia izin lelang melakukan Lelang pengumuman lelang. 2. 615.perantaraan Kantor Lelang Negara sesuai dengan ketentuan yang berlaku. . 3. Petunjuk Pelaksanaan Lelang. 26 Dikutip dari Tugas Peraturan Lelang.

luar wilayah pelaksanaan lelang barang rampasan tersebut. Sepuluh hari dari pelelangan itu pertama batal. Jika ada pelelangan tersebut ternyata penawaran tertinggi belum mencapai harga dasar yang ditentukan. maka pelelangan atas barang rampasan dimaksud diulang kembali. maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan oleh pelelangan Panitia barang rampasan Barang dilaksanakan Penyelesaian Rampasan oleh pihak Kejaksaan. 4. Hal ini perlu dilakukan supaya kapal – kapal tersebut jangan sampai jatuh kepada pemilik yang berasal dari luar negeri. . maka pelelangan ini pun dinyatakan batal yang dituangkan dalam Berita Acara. Terhadap barang – barang rampasan tertentu seperti kapal penangkap ikan diusahakan agar peserta lelang harus memiliki izin penangkapan ikan dan lain sebagainya. maka pelelangan tersebut dinyatakan batal dan dibuatkan Berita Acara yang menyatakan pembatalan pelaksanaan lelang. tertinggi dan jika pelelangan yang kedua penawaran yang juga belum mencapai harga dasar ditentukan. Setelah dilakukannya pengumuman lelang dan adanya peserta lelang yang cukup.

3. Penyetoran hasil lelang barang rampasan ke . Dalam pelelangan terakhir ini memerlukan izin.Pelelangan pelelangan tertinggi yang ketiga dan kali adalah harga merupakan penawaran sebelumnya terakhir yang diusahakan pernah dicapai pelelangan sebagai harga dasar. Langkah terhadap langkah panitia selanjutnya barang setelah itu harus pelaksanaan selesai lelang rampasan yang dilaksanakan. Pasca lelang. dilampirkan dalam Berita Acara Lelang yang batal dan Risalah Lelang. Izin ini diberikan oleh Kepala Kejaksaan Negeri atau Kepala Kejaksaan Tinggi atau Jaksa Agung Muda yang dan berwenang menyelesaikan barang rampasan. Penyetoran dan Laporan. Hasil penjualan lelang barang rampasan merupakan penerimaan hasil dinas Kejaksaan dan harus disetor ke Kas Negara dengan uang tunai dan hasil penjualan lelang barang rampasan dilakukan tanpa pemotongan bentuk apapun harus segera di setor ke Kas Negara dalam waktu 2 x 24 jam. oleh pihak adalah selanjutnya yang dilakukan menyelenggarkan lelang tersebut sebagai berikut : a.

Kas Negara dilakukan Khusus dan oleh / juru lelang atas nama yang Bendaharawan bersangkutan Penerima Kejaksaan / Bendaharawan Khusus Penerima Kejaksaan yang bersangkutan. Premi / uang ganjaran ini diberikan oleh pemerintah kepada Barang kepada Barang pihak – pihak atau Panitia Pelaksana ini Lelang Rampasan. Penangkap dan Penuntut Umum serta Pengadilan dapat diberikan premi / uang ganjaran. b. seperti terhadap penyelesaian perkara penyelundupan dan pelanggaran wilayah RI baik terhadap Pelapor. Penyidik. pihak – Adapun pihak tujuan premi diberikan Lelang – atau Panitia Pelaksana Rampasan adalah untuk merangsang petugas petugas penegak hukum. Apabila pada kejaksaan setempat tidak terdapat Kas Negara maka uang hasil lelang tersebut disetorkan ke Bank Milik Pemerintah atau Giro Pos untuk rekening Kas Negara dan terhadap kepada biaya lelang atau dan uang miskin dan dibebankan pembeli pemegang lelang tidak dibenarkan diambil dari hasil lelang. Ketentuan yang mengatur mengenai premi / uang ganjaran diatur dalam : . Premi / Uang Ganjaran.

1988 hlm. . a.Surat Edaran Bersama Jaksa Agung Muda R. Di dalam mengajukan premi / uang ganjaran ini bagi pihak penyelenggara lelang barang rampasan ini harus melampirkan dokumen – dokumen atau surat – surat.I. Tembusan Berita Acara Lelang dari Kantor Lelang Negara setempat. e. b. Salinan Keputusan Hakim yang sudah mempunyai kekuatan hukum yang tetap. dan Ketua Mahkamah Agung R.I.I. Nomor : 268 / KMK.I / 1984 tentang Ketentuan Tata Laksana Pemberian Uang Ganjaran atas Keputusan Menteri Keuangan R.. Nomor : 268 / KMK. Uraian tentang jasa – jasa orang yang dimohonkan uang ganjaran.Ketentuan – ketentuan yang berasal dari menteri keuangan sebagaimana tersebut dalam keputusan Menteri Keuangan R. Himpunan Peraturan Jakarta : Kejaksaan Agung RI. Tembusan bukti penyetoran uang hasil penjualan di muka umum ke Kas Negara. f. . 27 Kejaksaan Agung RI.1 yang menyatakan bahwa : 27 “ Dalam hal barang rampasan dijual di muka umum.I. Jumlah ganjaran yang dimohon. 01 / 1982.5 / 8 / 1988 sub IX mengenai Premi / uang ganjaran poin 3. Salinan Berita Acara Penangkapan atau Berita Acara Pemeriksaan mengenai barang atau tindak pidana yang tertangkap. Dokumen – dokumen atau surat – surat yang perlu dilampirkan untuk mengajuakan premi / uang ganjaran ini berdasarkan Surat Edaran Nomor : SE03 / B / B. Surat Menteri Keuangan R. 1213 Tentang Pembinaan.I. Nomor : SE – 003 / JA / 12 / 1986 dan Nomor : 05 Tahun 1986. d. c. Nomor : S – 183 / MK. 05 / 1983 jo. 01 / 1982 dan Nomor : 423 / KMK.

Setelah semua rangkaian kegiatan lelang barang rampasan selesai. . b. . jika ia tidak berkediaman di tempat. yang berisikan : . yang berisikan :28 . . pekerjaan dari tiap pembeli.uraian dari yang dilelangkan . Bandung : PT.tanggal dan huruf . bagian badan. Eresco 1987 hlm. dan dalam keadaan bahwa juru lelang berdasar Pasal 20 harus menyakinkan bahwa penjual berhak untuk menjual pendapatnya tentang itu . yang dibrikan dengan angka . tentang kedudukannya.nama kecil. dimana penjualan . ia minta diadakan penjualan.nama.harga. .keterangan secara umum tentang sifat dari barang yang dijual.nama kecil. 184 – 186. 28 .4.tempat. tapi dalam menunjukkan letaknya dan batasnya barang – barang tidak bergerak bukti milik mutlak harus menurut bunyi kata – katanya. dengan menyebutkan hak dari tanah – tanah lain yang ada di atasnya dan beban yang membebani barang – barang tersebut . nama dan tempat kediaman dari kuasanya jika penjualan dilakukan di depannya. . nama. maka pihak penyelenggara lelang atau Panitia risalah rampasan Pelaksana lelang Lelang Barang Rampasan pelelangan Risalah membuat barang Lelang dari pelaksanaan isi tersebut. di mana penjualan itu dilakukan . juga tempat kediamannya. dengan uraian jika ia tidak dibuat atas namanya sendiri. nama dan tempat kedudukan juru lelang juga nama kecil. pekerjaan dan tempat kediaman dari orang untuk siapa penjualan dilakukan. . bagian kepala. Adapun dari tersebut adalah sebagai berikut : a. Peraturan dan Instruksi Lelang. Rochmat Soemitro. Membuat Risalah Rapat.

c. yang berisikan : .dalam penjualan dilakukan sesuai dengan ayat kelima dari Pasal 9 juga dengan angka tawaran atau persetujuan harga..penyebutan jumlah barang lelang yang laku. yang diberikan untuk itu. yang tetap mengikat nama dan pekerjaan dari penawar atau yang menyetujui harganya yang bersangkutan juga tempat kediamannya. di mana dilakukan penjualan. bagian kaki. dengan huruf dan angka . semuanya dengan huruf dan angka – angka.jumlah semua. . . dan jumlah yang ditawarkan untuk itu. jika ia tidak bertempat kediaman.

Urusan Keuangan dan Peralatan. dan di dalam organisasi Kejaksaan Negeri ini terdapat beberapa saksi atau subtansi – subtansi kecil ( berdasarkan Keputusan Jaksa Agung Republik Indonesia KEP – 116 / J. 144. Seperti yang telah disebutkan dalam point kelima tentang tata cara pelaksanaan lelang terhadap barang rampasandi atas dan berdasarkan UU No.S. Bima Aksara. 30 Ibid hlm. b. 29 Di dalam kejaksaan yaitu terdapat Tinggi dan instansi Kejaksaan Kejaksaan Negeri. Kejaksaan merupakan alat negara penegak hukum yang bertugas organisasi vertikal. . terdiri dari : a. Kansil. 29 C.T. 2) Sub Bagian Pembinaan. sebagai penuntut ini umum. Kejaksaan. mereka adalah : 1.C. 143.A / 6 / 1983 pada Pasal 735 sampai dengan Pasal 751 ) adalah sebagai berikut :30 Kejaksaan Negeri Kelas I terdiri dari : 1) Kepala Kejaksaan Negeri. Jakarta 1986 hlm. Urusan Kepegawaian. Kitab Undang – Undang Kekuasaan Kehakiman( KUKK).Pihak – pihak Yang Berwenang Dalam Pelaksanaan Lelang Barang Rampasan. 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum menyebutkan adanya pihak – pihak yang terlibat di dalam pelaksanaan lelang barang rampasan tersebut.

b. c. Sub Seksi Penuntutan. Sub Seksi Administrasi Intelijen. b. Sub Seksi Sosial Politik. tata Adapun usaha dan tugas ini rumah dari Sub Bagian Pembinaan urusan urusan adalah tangga melakukan serta ketatausahaan kepustakaan. 6) Seksi Tindak Pidana Khusus. d. Sub SeksiPerdata dan Bantuan Hukum. terdiri dari : a. Sub Seksi Penyidikan. b. dalam hal ini juga Sub Bagian Pembinaan ini dibantu oleh Seksi Tindak Pidana Umum dan Seksi Tindak Pidana Khusus sub seksi eksekusi. terdiri dari : a. c.c. d. Sub Seksi Penuntutan. d. Sub Seksi Eksekusi. UrusanKesejahteraan. Dari paling keenam subtansi terlibat Kejaksaan di dalam Negeri lelang ini yang berwenang terhadap barang rampasan itu adalah Sub Bagian Pembinaan urusan tata usaha. 5) Seksi Tindak Pidana Umum. terdiri dari : a. Sub Seksi Pra Penuntutan. 4) Seksi Intelijen. 3) Pemeriksa. Tetapi. Sub Seksi Eksekusi. Sub Seksi Khusus. c. Bantuan dari kedua Seksi ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan jumlah barang rampasan yang merupakan hasl putusan Pengadilan. Sub Seksi Ekonomi. . Urusan Tata Usaha.

Hakim Anggota. Citra Umbara. 2 Tahun 1986 “ tentang Peradilan Umum yang menyebutkan dari : Susunan Pengadilan Negeri terdiri Pimpinan. Bandung : 2004 hlm. “ 32 Berikut ini penulis juga memaparkan secara singkat mengenai jurusita ini.75. 31 . Susunan pejabat Pengadilan Negeri seperti yang disebutkan di dalam Pasal 10 ayat (1) UU No.Hal ini juga ditegaskan di dalam penjelasan alenia kedua Pasal 30 huruf b Undang – Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia yang menyatakan bahwa : “ Melaksanakan putusan Pengadilan termasuk juga melaksanakan tugas dan wewenang mengendalikan pelaksanaan hukuman mati dan putusan pengadilan terhadap barang rampasan yang telah dan akan disita untuk selanjutnya dijual lelang. Kitab Undang – Undang Kekuasaan Kehakiman( KUKK). Jurusita.S. 32 C. Bima Aksara. Kansil. 35. Panitera. Di pejabat dalam yang Pengadilan di Negeri dalam terdapat susunan suatu berwenang menyelesaikan perkara baik itu perkara pidana maupun perkara perdata. Undang – Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia. 2. Sekretaris dan Jurusita.T. “31 Dari kedua ketentuan di atas. cukup menjelaskan bahwa adalah tugas dan wewenang dari / pihak kejaksaan itu melaksanakan putusan penetapan pengadilan terutama di dalam menyelesaikan barang rampasan. Jakarta 1986 hlm.

2. Kansil. 92 . Jakarta 1986 hlm hlm. melaksanakan semua perintah yang diberikan oleh Ketua Sidang. b. menyampaikan pengumuman-pengumuman. Kedudukan sebagai Pengadilan Jurusita atau dalam di Pengadilan eksekutor melaksanakan Negeri itu pelaksana dan di dari putusan ini tugasnya Jurusita di bantu oleh Jurusita Pengganti. .S. c.93. Tugas Jurusita. sedangkan Jurusita Ketua Pengganti dan diberhentikan oleh Pengadilan Negeri dan pernyataan ini dijelaskan di dalam Pasal 41 ayat (1) dan (2) UU No. protesprotes. 34 Ibid hlm.2. 86.T. Bima Aksara. 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum yang menyebutkan bahwa :34 Jurusita bertugas : a. yang salinannya diserahkan kepada pihak – pihak yang berkepentingan.dan pemberitahuan putusan Pengadilan menurut cara-cara berdasarkan ketentuan undang-undang. 1. d. Jurusita ini diangkat dan diberhentikan oleh Menteri Kehakiman atas usul Ketua Pengadilan diangkat 33 Negeri. 33 C. membuat berita acara penyitaan. 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum.2. Mengenai tugas dari pada jurusita ini dijelaskan di dalam Pasal 65 ayat (1) UU No. Melakukan penyitaan atas perintah Ketua Pengadilan Negeri. tegorantegoran. Kedudukan Jurusita. Kitab Undang – Undang Kekuasaan Kehakiman( KUKK).

.Melihat dari tugas Jurusita dan Seksi Tindak Pidana Umum dan Seksi Tindak Pidana Khusus sub seksi eksekusiterdapat persamaan. yaitu sama – sama sebagai pelaksana dari putusan Pengadilan dan di dalam hal ini yang menjadi dasar bahwa kedua pihak ini yang berwenang dalam melaksanakan lelang barang rampasan berdasarkan atas perintah dari Ketua Sidang.

penelitian adalah pemeriksaan secara hati-hati. Namun untuk mencapai kebenaran ilmiah tersebut ada dua pola pikir menurut sejarahnya. maka metode penelitian dapat diartikan sebagai proses prinsip-prinsip dan tata cara untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam melakukan penelitian. yaitu berfikir secara rasional dan berfikir secara empiris. prinsip-prinsip sedangkan dan tata memecahkan suatu masalah. oleh karena itu untuk menemukan metode ilmiah maka digabungkanlah metode pendekatan rasiaonal dan metode pendekatan kerangka merupakan empiris pemikiran kerangka disini yang rasionalisme sedangkan atau memberikan empirisme untuk logis pembuktian pengujian memastikan suatu kebenaran.BAB III METODE PENELITIAN Metode cara adalah proses. . tekun dan tuntas terhadap suatu gejala untuk menambah pengetahuan manusia. Dengan demikian penelitian yang dilaksanakan tidak lain untuk memperoleh data yang telah diuji kebenaran ilmiahnya.

Peraturan Tentang Pembinaan yang dikeluarkan oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia. pendekatan digunakan hukum dan yuridis-empiris. dilihat digunakan sebagai untuk perilaku masyarakat yang berpola dalam kehidupan masyarakat yang selalu berinteraksi dan berhubungan mengenai dalam aspek lelang kemasyarakatan khususnya pelaksanaan terhadap barang . Sedangkan menganalisis pendekatan hukum yang empiris. UI Press. .barang rampasan yang dilakukan oleh pihak Kejaksaan Negeri Palembang. 1986 hlm. 35 Soerjono Soekanto. • Keputusan Presiden Kapal Nomor 14 Tahun Yang 2000 Tentang Pemanfaatan Perikanan Dinyatakan Dirampas Untuk Negara. untuk 35 Pendekatan berbagai undangan menganalisis perundangterhadap teori-teori terkait peraturan hukum dengan tinjauan pelaksanaan pelelangan terhadap barang rampasan maka dalam penelitian ini di iniventarisasi yang terhadap dengan peraturan perundang-undangan berhubungan permasalahan tersebut. Pengantar Penelitian Hukum. 15. yaitu antara lain : • • Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. Metode Pendekatan Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode yuridis. Jakarta.1.

5 / 8 / 1988 tentang Penyelesaian Barang Rampasan dengan pelaksanaannya di lapangan. Spesifikasi Penelitian Berdasarkan tujuan yang hendak dicapai pada penelitian ini maka hasil penelitian ini nantinya akan bersifat deskriptif analistis. menggambarkan dan melaporkan secara rinci. yaitu Sedangkan dimaksud mengelompokkan. yang dimaksud dengan pendekatan yuridis empiris ini seperti yang penelitian oleh disebutkan Soerjono Soekanto dan H. menghubungkan peraturan pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan yang dilakukan oleh Kejaksaan Negeri Palembang yaitu Surat Edaran Nomor : SE. Yang dimaksud dengan deskriptif yaitu memaparkan.Jadi.03 / B / B. yakni memandang hukum sebagai Law in yang menyangkut pertautan sosial.20. . 36 Ibid hlm. sistematis dan menyeluruh mengenai pelaksanaan pelelangan terhadap barang Negeri analitis rampasan yang dilakukan oleh yang pihak Kejaksaan dengan antara Palembang. Abdulrahman sebagai Socio Legal Action Research.36 antara hukum dengan pranata – pranata 2.

data yang diperoleh dari wawancara secara mendalam.03 / B / B.Jadi yang dimaksud dengan penelitian yang bersifat deskriptif analisis yaitu menggambarkan dan melaporkan secara rinci sistematis dan menyeluruh mengenai pelaksanaan pelelangan terhadap barang rampasan yang dilakukan oleh pihak antara Kejaksaan peraturan Negeri Palembang dan menghubungkan pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan yang dilakukan oleh Kejaksaan Negeri Palembang yaitu Surat Edaran Nomor : SE.Data primer. Teknik Pengumpulan Data Adapun tesis ini data adalah yang dibutuhkan sekunder. berupa data-data yang langsung didapatkan dalam penelitian di lapangan. di dalam yaitu penulisan data yang data diperoleh dari bahan – bahan yang diberikan instansi pada saat penulis melakukan riset dan studi kepustakaan. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini dapat digolongkan menjadi dua antara lain :37 a. . 3.5 / 8 / 1988 tentang Penyelesaian Barang Rampasan dengan pelaksanaannya di lapangan.

yaitu bahan-bahan yang erat hubungannya dengan bahan hukum primer dan dapat membantu menganalisa bahan hukum primer yaitu : . data data yang dipergunakan data untuk sekunder melengkapi primer.Buku-buku ilmiah.Bahan Hukum sekunder. 1988 hlm.Yang dimaksud dengan wawancara secara mendalam prosedur yang dirancang untuk membangkitkan pernyataan – pernyataan secara bebas yang dikemukakan bersungguh – sungguh secara terus terang. peraturan perundangan-undangan yang terkait dengan Kenotariatan.Makalah-makalah.Wawancara. 61 Penelitian Hukum dan . Metodologi Jurimetri.Data sekunder. 38 Ronny Hanitijo Soemitro. . 2.Hasil-hasil Penelitian dan . Adapun tersebut antara lain : 1. .38 b. Semarang.Bahan hokum Hukum yang primer yang merupakan bahan-bahan yaitu mempunyai kekuatan mengikat.

dicari tema dan polanya. hubungan. Reduksi data adalah data yang diperoleh di lapangan dituliskan terinci. persamaan. dipilih hal-hal pokok. difokuskan pada hal-hal yang penting. B. yakni : A. dalam Laporan bentuk uraian atau laporan yang tersebut direduksi. Metode Analisis Data Di dalam penelitian ini metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis kualitatif. telah direduksi lalu berusaha untuk mencari maknanya kemudian mencari pola. dirangkum.4. maka dari data yang telah dikumpulkan secara lengkap dan telah di cek keabsahannya dan dinyatakan valid lalu diproses melalui langkah-langkah yang bersifat umum. . hal-hal yang sering timbul dan kemudian disimpulkan. Mengambil kesimpulan dan verifikasi. yaitu data yang telah terkumpul.

. BAB I : PENDAHULUAN Bab ini berisikan masalah. tujuan perumusan penelitian dan manfaat penelitian. data. pihak – pihak dan peraturan – peraturan yang berkaitan dengan pelaksanaan lelang barang oleh lelang barang rampasan yang dilakukan kejaksaan negeri Palembang yang diperoleh dari hasil studi kepustakaan. latar ruang belakang lingkup. data. masalah. Sistematika Penelitian. jangka dalam metode sumber waktu penulisan pendekatan. data yaitu dilakukan tentang penelitian. Maksud dari pembagian tesis ini ke dalam bab – bab untuk menjelaskan dan menguraikan setiap masalah dengan baik dan jelas.5. Untuk menyusun tesis ini penulis membahas. spesifikasi analisis metode penelitian dan sistematika penelitian. BAB II : TINJAUAN PUSTAKA Bab ini berisikan uraian mengenai beberapa teori. menguraikan masalah yang terbagi ke dalam lima bab. BAB III : METODE PENELITIAN Bab ini berisikan uraian bagaimana penelitian dan pengumpulan ini.

BAB V : PENUTUP Bab ini berisikan kesimpulan dan saran – saran.BAB IV : HASIL Bab PENELITIAN DAN PEMBAHASAN pejelasan mengenai ini berisikan penelitian dan pembahasan permasalahan yang menghubungkan fakta dan data yang diperoleh dari hasil penelitian lapangan kemudian dianalisa. .

. Pelaksanaan Lelang Barang Rampasan Yang Dilakukan Oleh Kejaksaan Negeri Palembang Sebelum membahas lebih lanjut mengenai pelaksanaan dari undang – undang terhadap pelaksanaan lelang barang rampasan yang dilakukan oleh Kejaksaan Negeri Palembang. Satjipto Rahardjo di dalam bukunya yang berjudul “ Permasalahan Hukum di Indonesia “. Satjipto Rahardjo tersebut. hlm. hukum diungkapkan Prof. menunjukkan bahwa penerapan peraturan perundang – undangan selama ini tidak berjalan dengan semestinya atau dengan kata lain tidak berjalan secara efektif. Hukum Indonesia. Permasalahan Bandung 1983. terhadap di di mana lelang. 58. pengawasan penyelesaian Alumni. betapa peraturan yang dikira sudah dibuat dengan rapi itu masih ada saja kekurangannya yang kemudian mesti ditutup segera oleh langkah – langkah yang taktis dari para pelaksananya. Satjipto Rahardjo. Di sini beliau mengungkapkan bahwa : “ Dalam kehidupan hukum sehari – hari bisa dilihat.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Untuk dalam 39 itulah hal diperlukan peranan pemerintah. bahwa pada suatu saat tampak. . penulis seperti memaparkan yang sedikit tentang oleh penegakan DR. DR.”39 Dari ungkapan Prof.

Jakarta 2001. 371. yang dikatakan effektifitas itu adalah suatu kegiatan atau perbuatan terhadap suatu peraturan yang berlaku haruslah nantinya Effektif di dalam masyarakat. Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia disebutkan bahwa effektifitas 40 adalah pengertian memberikan tersebut hasil menurut yang hemat memuaskan. selaras. dibebankan pengawasan melainkan kepada ini ketua ktua siding. kewajiban sehingga –kewajiban dapat yang dibebankan penerapan menjadikan peraturan tersebut dapat berjalan dengan efektif. hlm. Dari penulis.barang dalam bekerja rampasan melakukan sendiri. dengan suatu yang serta apa pelaksanaannya yang yang dihasilkan diharapkan. 40 . perundang – sejalan itu atau dan sesuai tidaknya peraturan undangan itu tergantung dari masyarakat. Badudun.S. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Oleh karena itu bagi pihak – pihak yang terkait di dalam pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan ini diperlukan adanya keseriusan dan kedisiplinan di dalam melaksanakan kepadanya.karena berhasil pelaksanaan dari sebuah peraturan masyarakatlah yang J. Di siding tidak dibantu atau bekerjasama dengan pihak – pihak yang terkait di dalam pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan. dkk. Putra Sinar Harapan.

2. di Kejaksaan Negeri Palembang. menurut nara sumber yang penulis temui mengungkapkan bahwa : yang dimaksud dengan effektifitas itu dapat dipandang dari berbagai sudut. Maksudnya di sini adalah bahwa apa yang ditetapkan oleh suatu peraturan baik itu tertulis maupun tidak tertulis harus dijalankan dengan semestinya atau dengan kata lain harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh undang – undang yang berlaku dan terhadap suatu peraturan yang mengatur dalam suatu bidang yang sama itu hendaklah sambil mendukung antara satu peraturan dengan peraturan yang lain. Berarti. Ketua Pelaksana Pelelangan Barang Rampasan. Beliau juga menambahkan apabila suatu peraturan itu tidak dijalankan sesuai dengan yang seharusnya ditetapkan maka peraturan tersebut tidak berjalan dengan sempurna atau tidak effektif. Subjek pelaksana peraturan perundang – undangan ( aparat hukum ). hari Kamis tanggal 27 Maret 2008. yaitu dari sudut :41 1. . dalam hal ini subjek pelaksana dari sebuah peraturan perundang – undangan dalam bertindak dan berbuat harus seiring dan sejalan 41 Wawancara dengan Syafei’i. Mengenai pengertian effektifitas ini. Apabila yang dirasakan masyarakat itu menguntungkan bagi mereka makaa peraturan itu berjalan dengan effektif begitu juga sebaliknya apabila yang dirasakan masyarakat itu merugikan maka peraturan itu tidak berjalan dengan effektif.merasakan dampaknya. Peraturan perundang – undangan yang berlaku. Sebagai subjek pelaksana dari sebuah peraturan perundang – undangan dengan apa yang telah ditetapkan oleh peraturan perundang – undangan yang berlaku.

dengan yang telah dituangkan di dalam sebuah peraturan baik tertulis maupun tidak tertulis. tetapi yang terjadi di lapangan atau praktiknya belum tentu demikian. Dari pengertian tersebut. Di sini nara sumber tersebut menambahkan bahwa hasil atau dampak dari sebuah peraturan perundang – undangan itu haruslah sesuai dengan yang diharapkan dan yang diinginkan oleh semua orang. terutama hal – hal yang menguntungkan dari semua bidang terutama di bidang hukum. menurut penulis. Sehubungan dengan point ketiga ini juga.“ penyimpangan artikel terdapatnya aparat – penyimpangan perilaku dari aparat hukum yang tidak bertanggung jawab. seperti yang diungkapkan Gatot. bahwa :“ Kepastian hukum di Indonesia tidak akan pernah terwujud jika aparat penegak hukum masih berlaku tidak . menarik untuk disimak pernyataan di sebuah artikel dalam Surat Kabar Harian Kompas tanggal 29 Desember 2003 yang lalu dengan judul di – artikel dalam “ Uang Menentukan tersebut Hukum di Indonesia. 3.terutama pada point ketiga. bila dilihat pada peraturan lelang yang berhubungan dengan barang rampasan memang benar. seorang pengacara dari LBH Jakarta. Hasil dari pelaksanaan peraturan perundang undangan.

Dikutip dari Surat Kabar Harian Kompas. tanggal 29 Desember 2003. maupun penyidikan yang dilakukan oleh pihak Kejaksaan. di dalam suatu diberlakukannya suatu perundang – undangan. mulai dari penyitaan barang bukti yang telah digunakan sebagai alat bukti untuk penyidik baik yang dilakukan oleh pihak kepolisian. 42 . dalam telah pelaksanaan ada aturan lelang tentang terhadap barang pelaksanaannya. hlm. hingga adanya keputusan hakim terhadap barang rampasan tersebut ( dirampas untuk dilakukan pelelangan. 7. pihak kejaksaan dan pihak pengadilan.adil. kemudian dilakukan penyerahan barang bukti ke pihak Pengadilan untuk dilakukan proses lebih lanjut. “ hukum 42 Demikian pentingnya peranan aparat penegak disamping undang – undang itu sendiri. Berikut ini bagan tentang penyelesaian barang rampasan berwenang yang dilakukan oleh pihak – pihak – yang barang menangani penyelesaian barang rampasan tersebut mulai dari pihak kepolisian. Di rampasan. untuk kepentingan Negara atau Sosial atau untuk dilakukan pemusnahan ).

BAGAN TENTANG PENYELESAIAN BARANG RAMPASAN disita kepolisian alat bukti dilelang / Barang Rampasan dimusnahkan Juru Sita kerjasama kejaksaan melaksanaka n putusan pengadilan Pengadilan Putusan Pengadilan alat bukti .

tetapi tidak dapat diselesaikan maka barang rampasan itu diserahkan kepada Negara. Barang disita oleh pihak kepolisian guna penyidikan dan penyelidikan terhadap tindak pidana yang terjadi. peraturan seperti terhadap barang rampasan yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya.Sumber : Data sekunder yang diperoleh. Dari keterangan bagan di atas. Keterangan : 1. mulai dari penyidikan yang dilakukan oleh pihak itu kepolisian di hingga dalam putusan Pengadilan. disebutkan bahwa tenggang waktu untuk menyelesaikan barang rampasan dibatasi selambat – lambatnya dalam masa 4 ( empat ) bulan setelah Putusan Pengadilan mempunyai kekuatan hukum yang tetap.dirampas untuk Negara atau Sosial ataupun dimusnahkan dan selanjutnya oleh pihak pengadilan memberikan perintah kepada pihak kejaksaan dan juru sita untuk melaksanakan tugas tersebut. proses penyelesaian barang rampasan itu cukup jelas. setelah ada putusan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap. apabila penyelesaian terhadap barang rampasan tersebut lewat dari batas waktu yang ditetapkan. Dari pihak Pengadilan. 3. pelaksanaan Selain lelang juga. Berarti. tindak lanjut terhadap barang rampasan dari putusan tersebut adalah dilakukannya perampasan untuk dilakukannya pelelangan. Dari pihak kepolisian barang rampasan tersebut diserahkan kepada pihak kejaksaan untuk digunakan sebagai alat bukti dip roses persidangan. Tetapi yang terjadi di lapangan pelaksanaannya tidaklah berjalan demikian. 2. Hal ini dapat diketahui .

dan dari perkembangan sanksi yang kasus ini terdakwa tidak puas terhadap rasa ke dijatuhkan ini terdakwa kepadanya. Terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh warga negara Thailand bersama dengan 18 orang ABK tersebut. Pada tanggal tersebut warga negara Thailand bernama Som Chit bin Khan In bersama dengan 18 orang anak buah kapal ( ABK ) dengan menggunakan kapal milik warga pribumi ikan dan telah melakukan ikan kegiatan dengan penangkapan pembudayaan menggunakan alat yang dapat membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan lingkungannya. penyelesaiannya itu dilakukan di wilayah hukum kota Palembang. Berikut penyelesaian kasus ini mulai dari pperadilan tingkat pertama hingga peradilan tingkat kasasi : .dari lamanya penyelesaian barang rampasan tersebut. mengajukan Dari kasasi ketidakpuasan Mahkamah Agung RI. sebagai contoh dapat dilihat dari kasus berikut ini. terdakwa bersama dengan 18 orang ABK ditarik dan ditahan di Pelabuhan DATPOL AIR Sungai Lais Palembang. yaitu kasus pelanggaran kapal penangkap ikan yang dilakukan oleh warga negara Thailand yang dilakukan di perairan Pulau Leman Kalimantan pada tanggal 23 Agustus 2001 yang lalu. Berdasarkan posisi kasus di atas.

Menetapkan bahwa masa selama terdakwa berada di dalam tahanan akan dikurangi seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan. No. 6.500.PLG. Sukron Wijaya Tegal atau orang yang paling berhak. Uang sejumlah Rp. 3. hlm. 1. 2. Menyatakan bahwa terdakwa : Som Chit bin Khan In telah terbukti secara sah dan menyatakan bersalah melakukan tindak pidana : “ Penangkapan ikan di wilayah perikanan perairan Indonesia dengan menggunakan bahan dan / atau alat yang dapat membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan lingkungannya. Reg. 1 ( satu ) unit kapal KM.00 ( tiga juta rupiah ) subsider 3 ( bulan ) kurungan. B / 2001 / PN. 4. tanggal 7 Maret 2002 dalam putusan ( amar )-nya dinyatakan sebagai berikut :44 1. 3 ( tiga ) unit jarring ikan jenis trawl dirampas untuk dimusnahkan. Sinar Jaya I berikut dokumen ( surat – surat )nya segera dikembalikan kepada : H. Menghukum terdakwa tersebut di atas untuk membayar biaya perkara Rp. Menetapkan barang bukti : a. PLG tanggal 11 Januari 2002 dalam putusan ( amar ) – nya dinatakan sebagai berikut :43 1. 5-6. 5. Menyatakan bahwa terdakwa : Som Chit bin Khan In telah terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana : “ Penangkapan ikan di wilayah perikanan perairan Indonesia dengan menggunakan bahan dan / atau alat yang dapat membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan lingkungannya. II.I. 931 .Dari peradilan tingkat banding Nomor : 21 / Pid / 2002 / PT. Menghukum Terddakwa tersebut di atas dengan pidana penjara selama 2 ( dua ) tahun dan denda Rp. R.00 ( seribu lima ratus rupiah ).000. b.I. Menyatakan / Menetapkan agar terdakwa tetap berada di dalam tahanan.000.6-7. “ 2. “ 43 Dikutip dari Putusan Mahkamah Agung K/Pid/2002 tanggal 29 Juli 2002.065. 3. c. Dari peradilan tingkat pertama Nomor : 1394 / Pid.00 ( dua juta enam puluh lima ribu rupiah ) dirampas u ntuk Negara.000. 44 Ibid hlm.

Uang sejumlah Rp. 3 ( tiga ) unit jarring ikan jenis trawl dirampas untuk dimusnahkan. tetapi dalam penyelesaian Ibid hlm. menurut analisis penulis bila dikaitkan dengan peraturan pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan memang 45 sudah terlaksana. 3. Menghukum terdakwa tersebut di atas untuk membayar biaya perkara Rp.500. Menetapkan barang bukti : a. kemudian terdakwa mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung.000.000.00 ( dua juta enam puluh lima ribu rupiah ) dirampas u ntuk Negara. Menetapkan bahwa masa selama terdakwa berada di dalam tahanan akan dikurangi seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan. 4. 12. Membebankan Pemohon / terdakwa tersebut untuk membayar biaya perkara tingkat kasasi ini sebesar Rp.00 ( tiga juta rupiah ) subsider 3 ( bulan ) kurungan. Setelah membaca dan mempelajari amar putusan di atas. 2. b. Menyatakan / Menetapkan agar terdakwa tetap berada di dalam tahanan. c. 2. Ternyata peradilan banding dalam amar putusan menguatkan yang telah ditetapkan oleh Pengadilan Negeri. 931 /K / Pid / 2002 tanggal 29 Juli 2002 mengadili dan memutuskan bahwa :45 1.065. 2. No. 3. 5.2. Dari peradilan tingkat kasasi Reg. 2.00 ( dua ribu rupiah ). Sinar Jaya I berikut dokumen ( surat – surat )nya segera dikembalikan kepada : H. 1 ( satu ) unit kapal KM. Menolak putusan kasasi dari Pemohon kasasi / terdakwa : SOM CHIT BIN KHAN IN tersebut .000. Sukron Wijaya Tegal atau orang yang paling berhak. .000. 6. Menghukum Terddakwa tersebut di atas dengan pidana penjara selama 2 ( dua ) tahun dan denda Rp.00 ( dua ribu lima ratus rupiah ).

Ketua Pelaksana Pelelangan Barang Rampasan.kasus ini sekali lagi memakan waktu yang cukup lama yaitu satu tahun lebih dan pada kasus ini ada peraturan lain yang menetapkan bahwa kapal tersebut diserahkan kepada nelayan kecil dan nelayan transmigran ( berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 14 Tahun 2000 tentang Penghibahan Kapal Penangkap Ikan Yang Dinatakan Dirampas pertama Untuk yang Negara yang terdapat : “ di dalam pasal menyebutkan bahwa Kapal perikanan beserta kelengkapannya yang dinyatakan dirampas untuk Negara berdasarkan keputusan Pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap. kecil nelayan transmigran belum juga terlaksana. hari Kamis tanggal 27 Maret 2008. .46 46 Wawancara dengan Syafei’i. hal ini disebabkan karena pihak Kejaksaan Negeri belum mengetahui prosedur penyerahan kapal teersebut. “ Hingga penyerahan saat kapal penulis kepada melakukan nelayan penelitian dan ini. di Kejaksaan Negeri Palembang. dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan nelayan kecil dan nelayan transmigran dalam usaha penangkapan ikan.

berupa adanya keuntungan dan kerugian bagi pihak Kejaksaan Negeri hal ini memberkan pengaruh yang besar. . Untuk dilakukannya pelelangan terhadap kapal tersebut. Dengan tidak dilaksanakannya peraturan pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan sebagaimana yang telah ditetapkan. bahwa di pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan antara lain berupa kapal itu dirampas untuk Negara dan kemudian selanjutnya setelah mendapat izin dari Kejaksaan Agung RI. maka akan menimbulkan dampak bagi pihak – pihak penyelenggara lelang barang rampasan ( dalam hal ini pihak kejaksaan dan Jurusita ).Ketidakfahaman antara peraturan ini menyebabkan lelang ketdaksesuaian terhadap barang pelakasaan rampasan. di Kejaksaan Negeri Palembang. beliau mengungkapkan bahwa : 47 Wawancara dengan Syafei’i. hari Kamis tanggal 27 Maret 2008. Ketua Pelaksana Pelelangan Barang Rampasan. pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan itu menjadi tidak effektif. 47 sebagaimana yang disampaikan oleh nara sumber yang penulis temui. sejak diberlakukannya Keputusan Presiden Nomor 14 Tahun 2000 tersebut. Tetapi. dengan praktiknya di lapangan seperti yang telah dalam dijelaskan peraturan pada halaman sebelumnya.

Dengan berkurangnya beban tugas ini membuat instansi ini agak leluasa. Berdasarkan penelitian yang telah penulis lakukan. “ Bagi Jurusita.“ Keuntungan yang diperoleh Instansi ini terhadap penghibahan kapal penangkap ikan kepada nelayan kecil dan nelayan transmigran adalah berkurangnya beban tugas dan tanggung jawab terhadap penyelesaian barang rampasan ini. karena dalam proses pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan ini membutuhkan waktu yang lama. hal ini tidak mempunyai pengaruh yang berarti karena tugas mereka selama barang dan ini hanya melakukan berdasarkan perampasan keputusan terhadap Pengadilan rampasan pihak membantu kejaksaan di dalam melakukan pelelangan terhadap barang rampasan tersebut. seperti yang telah ditetapkan oleh peraturan pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan yang menyebutkan adanya sebagian kecil dari hasil penjualan lelang terhadap barang rampasan tersebut itu diberikan kepada instansi ini sebagai hasil kegiatan rutin dinas kejaksaan. terungkap bahwa yang menjadi pertimbangan pemerintah untuk melakukan penghibahan kapal – kapal penangkap . Mengenai kerugian yang dialami oleh instansi ini terhadap penghibahan kapal penangkap ikan ini nara sumber tersebut mengungkapkan bahwa dengan penghibahan kapal penangkap ikan ini menyebabkan sedikit berkurangnya pendapatan atau hasil kegiatan dinas instansi ini. Maksudnya di sini adalah bahwa selama ini penyelesaian terhadap barang rampasan berupa kapal ini yang dulunya mereka harus mellakukan pelelangan tetapi kini pihak Kejaksaan Negeri hanya menerima tugas untuk melakukan perampasan dan menyerahkan kapal tersebut kepada nelayan kecil dan nelayan transmigran berdasarkan proses penyerahan yang sudah ditetapkan di dalam Keputusan Presiden ini.

diketahui pula bahwa penguhibahan kapal penangkap ikan ini bukan merupakan faktor utama yang menyebabkan peraturan pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan menjadi tidak effektif. Menurut dapatkan.ikan ini kepada nelayan kecil dan nelayan transmigran sebagaimana tertuang dalam Keppres No. berdasarkan pemantauan sela ini menentukan adanya pelanggaran – pelanggaran berikut yang telah dilelang tersebut. selain apa yang diungkapkan. Selain itu. tetapi terhadap benda bergerak seperti mobil. 14 Tahun 2000. Selain itu juga pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan memakan waktu yang sangat panjang seperti yang telah dijelaskan pada kasus pelanggaran yang dilakukan . juga terjadi pelanggaran berupa tidak dilakukannya terlebih dahulu pengumuman lelang. tetapi juga terdapat faktor – faktor lainnya. pengamatan ini dan informasi yang penulis peraturan selama pelanggaran terhadap pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan. dan laini – lain jarang sekali terdengar ataupun terbaca di media massa atau media elektronik tentang adanya pelelangan terhadap barang rampasan tersebut. Kalaupun ada pengumuman lelang tersebut hanya dilakukan terhadap benda – benda tidak bergerak seperti tanah dan rumah. motor.

Salah adalah satu contoh yang dapat diangkat di sini motor sebuah kasus tentang perampasan sepeda yang terjadi pada bulan September tahun 2001 yang lalu. sedangkan berdasarkan ketentuan peraturan pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan ini barang tersebut sudah harus diselesaikan dalam jangka waktu 4 ( empat ) bulan dengan ketentuan : (1) 3 ( tiga ) bulan setelah putusan pengadilan barang tersebut hendaklah dilaporkan kepada Kejaksaan Agung RI . dan (2) dalam jangka waktu 1 ( satu ) bulan pihak Kejaksaan Agung RI. Dari pengembangan kasus ini hingga motor saat tersebut penulis masih melakukan penelitian. . sudah memberikan keputusan terhadap barang rampasan tersebut. hingga saat ini barang 48 Wawancara dengan Syafei’i. bahwa kasus ini masih menunggu keputusan dari Kejaksaan Agung RI. Ketua Pelaksana Pelelangan Barang Rampasan. sepeda berada di Kejaksaan Negeri. Berarti hal ini menunjukkan lamanya penyelesaian terhadap barang rampasan ini. 48 Hal ini diperkuat oleh informasi yang diberikan oleh nara sumber yang penulis temui. hari Kamis tanggal 27 Maret 2008.kapal penangkap ikan oleh warga negara Thailand di halaman sebelumnya. tetapi hal ini tidak demikian. yang berwenang menangani penyelesaian barang rampasan ini. di Kejaksaan Negeri Palembang.

Idealnya di bentuk suatu lembaga pengawas yang melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan lelang. menurut peneliti lelang bahwa perlu barang kepada adanya pengawasan ini terhadap yang pelaksanaan diketahui rampasan seperti pelaksanaan lelang barang rampasan itu dilakukan oleh pihak – pihak Kejaksaan Negeri dan Jurusita. – yang seperti tentang Presiden Kapal Nomor Tahun Ikan Surat 2000 Penangkap dengan Yang Edaran Dinyatakan Kejaksaan Untuk Negara Agung RI. . dalam rangka untuk mengantisipasi terjadinya “ main mata “ di antara panitia pelaksana lelang dengan peserta lelang pada waktu proses pelelangan berlangsung. tentang Pelaksanaan Lelang Barang Rampasan.rampasan tersebut terbengkalai dan kondisi barangnya tidak layak lagi. Dengan menurut memperhatikan hal ini beberapa menunjukkan rampasan kasus bahwa yang di atas. Berdasarkan fakta yang telah diuraikan di atas. penulis terhadap tidak terhadap antara pelaksanaan berjalannya barang lelang peraturan serta barang pelaksanaan adanya lelang rampasan ketidaksesuaian peraturan perundang – undangan yang satu dengan yang lainnya undangan Keputusan Penghibahan Dirampas ( maksudnya mengatur suatu bidang 14 peraturan yang sama perundang ).

Surat izin lelang barang rampasan yang dikeluarkan oleh Kejaksaan Agung RI. Ketua Pelaksana Pelelangan Barang Rampasan. di Kejaksaan Negeri Palembang. merupakan sedangkan penghalang faktor bagi – faktor penghambat sebuah terlaksananya peraturan pada umumnya.Dari kedua peraturan perundang – undangan ini tidak menunjukkan rampasan. Pengeluaran surat izin lelang barang rampasan yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung RI. Faktor – faktor pendukung merupakan penunjang bagi terlaksananya pelaksanaan dari sebuah peraturan. Faktor – Faktor Yang Menghambat Pelaksanaan Lelang Terhadap Barang Rampasan Dalam melaksanakan suatu peraturan pada dasarnya terdapat faktor – faktor pendukung dan faktor – faktor penghambat. hari Kamis tanggal 27 Maret 2008. . pengaturan yang sama terhadap barang B. ini menjadi faktor utama penghambat pelaksanaan lelang barang rampasan karena di dalam 49 mengeluarkan keputusan terhadap suatu barang Wawancara dengan Syafei’i. Pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan ini sangat dipengaruhi oleh faktor – faktor sebagai berikut :49 1.

tidak tersebut sesuai oleh saja dengan ditetapkan ini tidak undang undang. penyelesaian terhadap barang rampasan harus diselesaikan dalam jangka waktu 4 ( empat ) bulan. sedangkan pengeluaran izin lelang barang rampasan yang dikeluarkan membutuhkan ( sinkron – ) oleh waktu Kejaksaan yang apa lama yang Agung sehingga telah RI. yang menyebutkan jangka waktu 4 ( empat ) bulan terhadap nasib barang rampasanharus sudah dapat dilaksanakan. Hal ini tidak sesuai dengan yang dikehendaki oleh undang – undang ( Surat Edaran Kejaksaan Agung RI Nomor : SE – 03 / B / B. Penjualan lelang barang itu nantinya menimbulkan kurang tertariknya peserta lelang terhadap barang . Ini berarti. baik untuk dilakukannya pelelangan atau untuk kepentingan Negara dan kepentingan sosial ataukah untuk dilakukannya pemusnahan terhadap barang rampasan tersebut membutuhkan pertimbangan yang matang dan jangka waktu yang lama. seperti yang telah dijelaskan pada point 1 dari Surat Edaran Kejaksaan Agung RI tersebut.rampasan itu.5 / 8 / 1988 tentang Penyelesaian Barang Rampasan ). tapi juga berpengaruh terhadap nilai dari barang dan pelaksanaan lelang barang rampasan nantinya. Keterlambatan menyebabkan pelaksanaan lelang barang rampasan tertunda.

50 50 Wawancara dengan Syafei’i. apabila dalam proses dicapainya harga limit yang dikehendaki maka pelaksanaan lelang barang rampasan pelelangan tersebut tertunda. di Kejaksaan Negeri Palembang. Kayu – kayu tersebut akan dirampas untuk Negara. . Ketua Pelaksana Pelelangan Barang Rampasan. dan hal ini berdasarkan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Contoh berikut ini misalnya di saat melakukan penelitian. Kondisi – kondisi inilah secara tidak langsung ikut mempengaruhi pelaksanaan lelang terhadap suatu barang rampasan.tersebut dikarenakan ada kemungkinan kondisi barang – barang itu menjadi rusak yang sehingga telah tidak dapat lagi mencapai tidak nilai limit ditentukan. hari Kamis tanggal 27 Maret 2008. selanjutnya dilakukan pelelangan. Apabila kayu – kayu seelundupan ini tidak segera diambil tindakan yang cepat dan tegas maka kondisi kayu – kayu selundupan ini akan rapuh dan berkurang nilainya. Keterlambatan pengeluaran surat izin pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan juga dapat menyebabkan nilai barang rampasan menjadi berkurang. penulis menemukan satu kasus lagi ( kasus penyelundupan kayu ). karena ketahanan dari barang rampasan terhadap cuaca tidak dapat dijamin.

pihak yang berwenang menentukan kodisi dan harga limit dari kayu tersebut adalah Departemen Kehutanan. seperti yang disebutkan di dalam Surat Edaran Kejaksaan Agung RI Nomor : SE – 03 / B / B.Untuk mengatasi barang yang belum ada putusan pengadilan. Di dalam penentuan harga limit ini pihak Kejaksaan Negeri bekerjasama dengan instansi yang terkait dengan barang rampasan tersebut.5 / 8 / 1988 tentang Penyelesaian Barang Rampasan pada point 4 dan point 5. . 2. sedangkan pada point 5 dari Surat Edaran tersebut menyebutkan bahwa penentuan harga dasar atau harga limit dimintakan kepada instasi yang berwenang. Penentuan harga limit barang rampasan. maka terhadap barang yang mudah rusak atau hancur ini atas izin ketua pengadilan barang – barang tersebut dapat dimusnahkan sebagian ( terhadap barang rampasan yang sudah tidak layak lagi atau tidak dapat dipergunakan lagi ) dan sebagian lagi digunakan sebagai alat bukti. misalnya pada kasus penyelundupan kayu seperti yang diuraikan pada halaman sebelumnya. Pada point 4 disebutkan bahwa penentuan kondisi barang rampasan ini dimintakan kepada ahli atau instasi yang terkait dengan barang rampasan tersebut.

Ketua Pelaksana Pelelangan Rampasan. apabila pada saat sekarang ini 51 dengan majunya teknologi hal tersebut bukanlah Barang Negeri Barang Negeri Wawancara dengan Syafei’i. dijelaskan bahwa penentuan harga limit suatu barang rampasan ini waktu yang dibutuhkan lebih kurang 1 ( satu ) bulan. 51 Apabila selanjutnya penentuan harga limit ini sudah terlaksana mak pihak Kejaksaan Agung harus bertindak izin dengan cepat atau dengan barang agar kata lain pengeluaran tersebut lelang terhadap rampasan harus segera dikeluarkan pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan dapat dilaksanakan. di Kejaksaan Palembang. tetapi apabila kondisi barang tersebut sudah rusak maka dalam penentuan harga limit barang rampasan itu paling lama memakan waktu 3( tiga ) minggu. hari Kamis tanggal 27 Maret 2008.52 Melihat harga limit kondisi barang barang dalam ini rangka menentukan tidak rampasan sebenarnya membutuhkan waktu yang lama. Berdasarkan dari informasi yang diberikan oleh nara sumber kepada penulis. .Dalam menentukan harga limit suatu barang rampasan juga membutuhkan jangka waktu yang lama. 52 Wawancara dengan Syafei’i. di Kejaksaan Palembang. Apabila kondisi barang rampasan tersebut masih baik maka penentuan harga limit barang rampasan itu paling lama memakan waktu 1 ( satu ) minggu. Ketua Pelaksana Pelelangan Rampasan. hari Kamis tanggal 27 Maret 2008.

Kondisi barang yang rusak. Peserta lelang ini merupakan salah satu unsur yang mempunyai peranan yang sangat penting terhadap . Kondisi barang rampasan ini juga mempengaruhi pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan. Dari kondisi inilah yang dapat mendukung terlaksananya pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan ini. Kondisi barang rampasan yang masih baik tidak ada pengaruhnya. 3. Di samping itu juga perlu adanya kerjasama dan koordinasi antar instansi yang terkait dengan pelaksanaan lelang barang rampasan. Sedikitnya peserta lelang yang menghadiri pelaksanaan lelang barang rampasan.menjadi faktor penghalang. tetapi baik terhadap kondisi barang rampasan bagi yang kurang harga akan sangat berpengaruh pencapaian limit yang diinginkan oleh penyelenggara. Di samping itu juga ketertarikkan peserta lelang terhadap barang rampasan yang kondisinya kurang baik itu menjafi berkurang. 4. Kondisi barang rampasan yang kurang baik ini disebabkan oleh tidak terawatnya barang – barang yang berada di tempat penitipa ( dalam hal ini penitipan barang rampasan di RUBASAN ).

25.00 ( dua puluh lima juta rupiah ). 1221. Himpunan Peraturan Jakarta : Kejaksaan Agung RI.53 Di dalam keempat factor ini yang menjadi kendala di dalam pelaksanaan waktu yang lelang barang rampasan adalah lamanya dibutuhkan untuk menyelesaikan barang rampasan tersebut. maka 20.000. 1988 hlm. Tentang Pembinaan.000. yang pada akhirnya berakibat 53 Kejaksaan Agung RI. .000.00 dua puluh rupiah pelaksanaan lelang barang rampasan tersebut ditunda dan untuk selanjutnya dalam jangka waktu 10 ( sepuluh ) hari dari pelelangan yang pertama itu akan diadakan lelang yang kedua untuk mencapai harga limit yang diinginkan. tetapi dari peserta lelang yang hadir dan penawaran tertinggi ( yang dicapai juta hanya sebesar ). Secara diperkirakan tidak akan langsung hal tersebut terhadap di atas mempengaruhi pencapaian harga limit yang diinginkan.000. misalkan harga limit yang diharapkan itu Rp. Rp.suksesnya yang akan pelaksanaan lelang lelang barang suatu rampasan barang diselenggarakan pelelangan rampasan tidak dapat dilakukan apabila : (1) peserta lelang yang dating itu tidak sesuai dengan oleh panitia penyelenggara dan (2) pelaksanaan lelang suatu barang rampasan itu tertunda.

dalam maka menangani penyelesaian – barang rampasan kemungkinan kemungkinan 54 Wawancara dengan Hikal. C. dan instansi yang berwenang untuk menentukan harga limit barang rampasan tersebut. . Untuk menangani masalah lamanya waktu pengeluaran izin pelaksanaan lelang dan penentuan harga limit barang rampasan perlu adanya tindakan yang cepat dan tegas dari Kejaksaan Agung RI. Jika aparat yang terkait itu bertindak dengan cepat dan tegas di ini. upaya yang ditempuh para pihak – pihak yang terkait di dalam menanggulangi hambatan – hambatan tersebut antara lain :54 1. Ketua Kasi Pidana Khusus hari Kamis tanggal 27 Maret 2008. di Kejaksaan Negeri Palembang.kepada pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan ini menjadi terlambat. Upaya Penanggulangan Terhadap Faktor – Faktor Penghambat Dari keempat factor penghambat seperti yang telah diuraikan di atas. Hal ini dimaksudkan agar barang – barang yang dilakukan perampasan ini dapat dengan segera ditentukan keberadaannya ( dilakukan pelelangan atau dirampas untuk Negara atau Sosial atau dilakukan pemusnahan).

Maksudnya adalah apabila kondisi barang rampasan yang akan dilakukan lelang itu bagus dan menarik perhatian peserta lelang. Dengan adanya perawatan yang rutin terhadap barang rampasan ini meminimalkan kerusakan – kerusakan terhadap barang – barang rampasan tersebut dan juga untuk panitia mendapatkan harapan yang diinginkan lelang oleh barang penyelenggara pelaksana rampasan ini.5 % ) darinya itu dimasukkan biaya perawatan barang rampasan.penghambatan di dalam pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan tersebut sangat kecil. 2. – seperti halaman barang pada halaman sebelumnya penanggulangan kondisi rampasan yang kurang baik. 3. mengenai biaya perawatan barang rampasan dari hasil keseluruhan pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan perlu disisihkan sedikit. upaya penanggulangannya adalah dengan dilakukannya perawatan yang rutin terhadap barang rampasan tersebut. Untuk menangani masalah kondisi barang rampasan yang kurang baik. maka yang diharapkan oleh panitia penyelenggara tercapai . Maksudnya di sini adalah dari total pendapatan hasil pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan ( 2. Untuk yang masalah telah di sedikitnya diuraikan dalam peserta lelang.

begitu

juga

sebaliknya

apabila

kondisi

barang

rampasan yang akan dilakukan pelelangan itu kurang baik maka secara tidak langsung minat peserta lelang terhadap pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan tersebut kecil. Berarti, hal ini terhadap banyak sedikitnya peserta lelang barang itu tergantung yang dari akan menarik atau tidaknya

rampasan

dilakukan

pelelangan

tersebut, atau dengan kata lain baik atau tidaknya kondisi barang rampasan ini.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan. Berdasarkan uraian di dalam pembahasan pada bab – bab terdahulu, maka dapat disimpulkan : 1. Pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan yang

dilakukan oleh Kejaksaan Negeri Palembang selama ini tidak berjalan effektif. Hal ini disebabkan oleh

lamanya waktu yang dibutuhkan oleh pihak – pihak yang terkait dalam proses penyelesaian suatu lelang terhadap barang rampasan. 2. Faktor – faktor penghambat yang menjadi penghalang dari pelaksanaan lelang barang rampasan merupakan

alas an utama bagi panitia penyelenggara lelang dan upaya yang dilakukan selama ini belum effektif serta upaya penanggulangannya pun belum optimal.

B. Saran. Berdasarkan kesimpulan yang diuraikan di atas,

maka disarankan agar : 1. Peraturan yang mengatur tentang pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan ini dapat ditinjau kembali dan direvisi agar terdapat sinkronisasi antara

peraturan yang lebih tinggi dengan peraturan yang lebih rendah. 2. Kepada pihak – pihak yang terkait agar melakukan sosialisasi kembali terhadap peraturan perundang – undangan dalam tentang – lelang barang rampasan itu baik di

instansi

instansi

terkait

sendiri,

maupun kepada masyarakat luas, dan adanya tindakan yang cepat dan tegas dari pihak – pihak yang terkait di dalam pelaksanaan dan penyelesaian pelelangan

terhadap barang rampasan dengan kata lain melakukan proses penyelesaian oleh barang rampasan, penyelesaian seperti barang

ditentukan rampasan.

peraturan

DAFTAR

PUSTAKA

A. BUKU – BUKU : Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Sinar

Grafika, Jakarta 2002. C.S.T. Kansil, Kitab Undang – Undang Kekuasaan

Kehakiman (KUKK), Bina Aksara, Jakarta 1986. Kejaksaan Agung RI, Himpunan Peraturan Tentang

Pembinaan, Kejaksaan Agung RI, Jakarta 1994. Mohammad Ali, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern, Pustaka Imani, Jakarta 1992. Permadi Pubacaraka, Soejono Soekanto, Perihal Kaidah Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung 1993. Rochmat Soemitro, Peraturan Dan Instruksi Lelang,

Eresco, Bandung 1987. Ronny Hanitijo Soemitro. Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri. Semarang, 1988. Satjipto Rahardjo, Permasalahan Hukum Di Indonesia,

Alumni, Bandung 1983. Simorangkir, J.C.T., Rudi T. Erwin, J.T. Prasetyo,

Kamus Hukum, Sinar Grafika, Jakarta 2002. Soejono Dirdjosisworo, Pengantar Ilmu Hukum, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta 2001.

29 Desember 2003. Universitas Indonesia. 07 / 2006 Tentang Pejabat Lelang Kelas I Surat Edaran Kejaksaan Agung RI No.Soerjono Soekanto. SURAT KABAR : Kompas. SE – 03/B/B. Barang Yang Dikuasai Negara dan Barang Yang Menjadi Milik Negara Pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 41 / PMK. Pengantar Penelitian Hukum. 14 Tahun 2000 Tentang Pemanfaatan Kapal Perikanan Yang Dinyatakan Dirampas Untuk Negara Keputusan Menteri Keuangan RI No. B. 04/2002 Tentang Jasa Pra Lelang Dalam Lelang Barang Yang Dinyatakan Tidak Dikuasai. Jakarta 1984. PERUNDANG – UNDANGAN : Kitab Undang – Undang Hukum Pidana ( KUHP ) Keputusan Presiden RI No.5/8/1988 Rampasan Tentang Penyelesaian Barang Undang – Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia C. . 36/KMK.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful