ENVIRO 2 (2): 35-41, September 2002, ISSN: 1411-4402  2002 PPLH-Lemlit UNS Surakarta.

Isolasi dan Seleksi Mikroorganisme Amilolitik serta Pemanfaatannya dalam Pengolahan Limbah Cair Industri Tapioka
Isolation and selection of amylolitical microorganisms as well as their functions in waste water processing of the tapioca industry
DWI PRIYANTO, WIRYANTO, RATNA SETYANINGSIH
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta 57126. Diterima: 13 September 2002. Disetujui: 30 September 2002.

Abstract. The aims of this research was to isolate and to select amylum microorganisms found in the waste water of tapioca industry as well as to find out their ability to improve the efficiency of waste water processing, especially in decreasing the COD and BOD and in neutralizing the pH. Amylolitical microorganisms were isolated and selected by enrichment culture methods. The starch medium was used as the selected medium to get the pure isolate of amylolitical microorganisms. The isolates can be tested by using them as inoculum in treatment of wastewater processing of tapioca industry in order to recognize their ability to improve the efficiency of wastewater processing. The parameters measured were COD, BOD and pH. The result of the research shows that there are 11 amylolitical microorganism isolates, five of which have a great amylolitical capability. Based on the test of waste water processing in laboratory scale, it can be concluded that isolate 8 which used as inoculum on waste water processing of tapioca industry in this research has highest capability on improving the efficiency of waste water processing, especially on the decrease of COD and BOD. On the decrease of COD, isolate 8 has 92,4% efficiency and control has 76,6%. On the decrease of BOD isolate 8 has 92,86% efficiency at 6 days and the efficiency of control is 78,31%. The result of the characterization shows that amylolitical microorganism isolate 8 is categorized into yeast, in the form of short rod with ± 2 x 5 micron and ascus with 4 spores in each ascus, the oval spores. The proliferation is by fission and sporing. Key word: amylolitical microorganisms, waste water, tapioca industry.

PENDAHULUAN Industri tapioka merupakan salah satu industri pangan yang terdapat di Indonesia. Bahan baku industri ini adalah umbi ketela pohon (Manihot uttilissima) yang diolah menjadi tepung tapioka. Menurut Pranoto

(2000), tepung tapioka merupakan salah satu bahan baku maupun bahan pembantu untuk keperluan industri makanan, industri tekstil, industri kertas, dan lain-lain. Sedangkan Syarifah (1996) menyatakan limbah industri tapioka banyak mengandung amilum yang bila terlarut dalam air akan menyebabkan turunnya jumlah oksigen terlarut dan menimbulkan bau busuk yang berasal dari proses degradasi bahan organik yang kurang sempurna. Meskipun Instalasi Pengolahan Limbah sudah dimiliki oleh suatu industri, namun air limbah yang dilepas ke badan air seringkali masih kurang memenuhi persyaratan. Proses purifikasi air limbah di dalam Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) memerlukan biaya operasional yang tinggi di samping lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mendegradasi bahan organik di dalam air limbah tersebut. Limbah cair industri tapioka banyak mengandung pati terlarut, asam hidrosianat yang mudah terurai menjadi sianida, nitrogen dan fosfor, juga mengandung senyawa organik yang cukup tinggi (Wiryanto, 1993). Bahan-bahan organik tersebut akan mengalami proses pembusukan oleh berbagai mikroorganisme di dalam air, sehingga terbentuk senyawa-senyawa lain yang lebih sederhana. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengolahan air limbah dari industri tapioka, perlu dicari metode baru dan atau pengembangan dari metode lama sehingga penanganan limbah berlangsung lebih cepat dan lebih baik. Menurut Mahida (1984), pada prinsipnya penanganan limbah industri pangan adalah mereduksi kandungan bahan organik yang terlarut berdasarkan penanganan secara biologis.

36

ENVIRO 2 (2): 35-41, September 2002

Dalam penanganan air limbah, mikroorganisme merupakan dasar fungsional untuk sejumlah proses pengolahan. Hal utama dalam penanganan air limbah adalah pengembangan dan pemeliharaan kultur yang cocok (Irianto dan Machbub, 1995). Menurut Mason (1991), kultur untuk mendegradasi limbah dapat dibuat dengan cara kultur diperkaya (enrichment culture). Inokulan diambil dari habitat terbuka yang mengandung bahan limbah bersangkutan, kemudian dikultur dan dibiakkan sehingga dapat digunakan sebagai organisme pendegradasi air limbah. BAHAN DAN METODE Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi bahan untuk isolasi mikroorganisme amilolitik yaitu medium pati cair dan medium pati agar dan sampel air limbah industri tapioka. Bahan untuk pengukuran nilai BOD dan COD yaitu larutan buffer fosfat, larutan MgSO4, larutan CaCl2, larutan ferri chlorida, larutan K2Cr2O7, H2SO4, Ag2SO4, indikator feroin dan larutan Fe(NH4)2(SO4)2. Cara kerja Pengambilan sampel air limbah Limbah cair industri tapioka diambil dari kolam penampungan limbah PT Cahaya Surya Tunas Tapioka Sonoharjo, Wonogiri. Isolasi dan purifikasi mikrobia amilolitik Kultur diperkaya. Air limbah sampel diinouasikan ke dalam medium pati cair yang mengandung amilum sebagai satu-satunya sumber karbon dan energi. Inkubasi dilakukan pada suhu 34 ºC selama 48 jam (Bangun, 1989). Isolasi bakteri amilolitik dari kultur diperkaya. Mikroorganisme diisolasi dengan metode taburan (cawan tuang) dengan menggunakan medium pati agar. Inkubasi dilakukan pada suhu 34 ºC selama 48 jam. Untuk memilih mikroorganisme yang bersifat amilolitik, medium yang telah ditumbuhi mikroorganisme tersebut dituangi larutan JKJ. Koloni mikroorganisme yang di sekelilingnya nampak terang adalah mikroorganisme amilolitik, koloni-koloni tersebut dipindahkan ke medium agar miring dan diinkubasi pada suhu 34ºC selama 24 jam (Bangun, 1989).

Uji aktivitas amilolitik untuk seleksi isolat mikroorganisme. Isolat mikroorganisme amilolitik diambil dari koloni yang terdapat pada medium agar miring, dipindahkan ke medium pati cair dan ditaburkan ke medium pati agar, kemudian diinkubasi pada suhu kamar selama 48 jam. Uji aktivitas daya amilolitik dilakukan dengan cara menuangkan larutan JKJ ke masing-masing koloni mikroorganisme yang telah diisolasi. Koloni mikroorganisme diseleksi untuk mendapatkan mikroorganisme yang mampu memecah amilum paling banyak dengan cara dipilih koloni yang di sekelilingnya nampak terang dengan diameter yang paling besar. Koloni mikroorganisme yang mempunyai daya amilolitik yang tinggi dipindahkan ke medium agar miring dan diinkubasi pada suhu 34 ºC selama 48 jam (Sembiring, 1991). Pengolahan limbah cair industri tapioka dengan isolat terseleksi Masing-masing isolat mikroorganisme ditumbuhkan dalam kultur cair dengan medium pati cair sebanyak 100 ml pada suhu 34 ºC selama 96 jam. Kultur mikroorganisme sebanyak 25 ml dari masing-masing isolat diinokulasikan ke dalam sampel air limbah sebanyak 225 ml. Nilai COD dan BOD air limbah sampel sebelum diinokulasi ditetapkan terlebih dahulu. Sampel air limbah yang telah diinokulasi isolat mikroorganisme diinkubasi pada suhu kamar dan tiap 48 jam dihitung nilai COD dan BOD serta nilai pH sampel air limbah tersebut. Kontrol perlakuan dilakukan dengan menginkubasikan air limbah sampel pada suhu kamar tanpa diinokulasi dengan isolat mikroorganisme. Efisiensi penurunan COD dan BOD pada masing-masing perlakuan dihitung dengan rumus:

a−b × 100% = c a

a : Nilai COD/BOD awal b : Nilai COD/BOD akhir c : Efisiensi pengolahan limbah (Sembiring, 1991) Karakterisasi isolat terseleksi. Preparat dari isolat yang terseleksi dibuat dan diamati dengan mikroskop mulai dari perbesaran lemah sampai perbesaran sedang, pengamatan awal difokuskan pada bentuk dan ukuran sel. Pengukuran terhadap sel dilakukan dengan

PRIYANTO dkk. – Mikroorganisme amilolitik limbah tapioka

37

menggunakan mikrometer (Jutono, dkk., 1973). Karakterisasi pada tahap berikutnya disesuaikan dengan golongan mikroorganisme yang ditemukan berdasarkan bentuk dan ukuran sel isolat terseleksi. Analisis hasil. Perlakuan diberikan dengan inokulan kultur murni dan dihitung perubahan nilai COD dan BOD serta pH tiap selang waktu 48 jam untuk mengetahui kecepatan perombakan dari pengolahan air limbah dengan masing-masing perlakuan tersebut. Efisiensi penurunan nilai COD dan BOD antar perlakuan dan selang waktu dianalisis dengan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dan apabila ada beda nyata maka dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test. Karakterisasi dilakukan terhadap isolat yang mempunyai efektivitas paling tinggi dalam perbaikan kualitas limbah cair industri tapioka. HASIL DAN PEMBAHASAN

jernih di sekitar koloni menunjukkan bahwa medium jernih tersebut sudah tidak mengandung amilum. Koloni-koloni yang mampu membentuk zona jernih setelah penetesan larutan JKJ diambil dan dibiakkan sebagai kultur murni pada medium agar miring. Seleksi mikroorganisme amilolitik dilakukan berdasarkan luas zona jernih yang terbentuk di sekitar koloninya setelah ditetesi dengan larutan JKJ. Pada proses seleksi ini diambil lima isolat yang mempunyai daya amilolitik lebih tinggi dibanding isolat lainnya yaitu isolat 1, isolat 5, isolat 6, isolat 8 dan isolat 10. Selanjutnya kelima isolat ini digunakan sebagai perlakuan dalam tahap pengolahan limbah cair industri tapioka skala laboratorium. Perlakuan dalam tahap ini merupakan proses seleksi secara kuantitatif yang dilakukan berdasarkan pada pengaruh masing-masing isolat dalam meningkatkan efisiensi pengolahan limbah cair industri tapioka, khususnya dalam menetralkan keasaman dan penurunan nilai COD dan BOD-nya.

Isolasi dan seleksi mikrobia amilolitik Menurut Mason (1991), kultur untuk Pengolahan limbah cair industri tapioka mendegradasi limbah dapat dibuat dengan dengan perlakuan isolat terseleksi cara kultur diperkaya (enrichment culture), inokulan diambil dari habitat terbuka yang Nilai COD dan BOD mengandung bahan limbah yang bersangPengaruh perlakuan penambahan isolat kutan. Parameter yang digunakan pada mikroorganisme amilolitik dan waktu terhadap proses isolasi adalah kemampuan isolat kadar COD limbah cair industri tapioka mikroorganisme amilolitik dalam membentuk disajikan pada Tabel 1. Uji jarak berganda zona jernih pada medium pati agar setelah Duncan taraf 5% menunjukkan bahwa ditetesi dengan larutan JKJ. Menurut perlakuan penambahan mikroorganisme Hadioetomo (1990), JKJ merupakan larutan amilolitik isolat 8 memberikan nilai COD ratayang bereaksi dengan amilum secara cepat rata yang terendah yaitu 590,31 mg/liter. membentuk kompleks warna biru atau ungu. Sedangkan nilai COD rata-rata tertinggi Dari proses isolasi didapatkan 11 koloni mikroorganisme amilolitik yang Tabel 1. Nilai COD limbah cair industri tapioka dengan perlakuan pada tahap selanjutnya penambahan isolat mikroorganisme amilolitik dan waktu. koloni-koloni ini dianggap Nilai COD sampel limbah cair tapioka (mg/liter) sebagai isolat. Kandungan Jenis Isolat Hari ke-0 Hari ke-2 Hari ke-4 Hari ke-6 Rata-rata amilum dalam medium pati 827,48 C Kontrol 1280 1122 609 299 agar digunakan oleh mikro830,96 C Isolat 1 1280 1032 600 412 organisme amilolitik Isolat 5 836,11 C 1280 1062 705 297 sebagai sumber energi dan Isolat 6 756,18 C 1280 942 561 242 karbon, sehingga setelah Isolat 8 590,31 A 1280 672 312 97 diinkubasi selama bebe- Isolat 10 725,63 B 1280 982 456 185 rapa waktu, kandungan Rata-rata 1280 d 968.67 c 540.5 b 255,28 a amilum di sekitar koloni akan habis terdegradasi Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak oleh aktivitas mikroorganis- berbeda nyata pada uji jarak berganda Duncan taraf 5%. Huruf besar me ini. Pembentukan zona notasi untuk faktor jenis isolat. Huruf kecil notasi untuk faktor waktu.

38

ENVIRO 2 (2): 35-41, September 2002

terdapat pada perlakuan dengan isolat 5 yaitu 836,11 mg/liter. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan dengan menggunakan isolat 8 memberikan hasil yang paling efektif dalam menurunkan nilai COD. Hari ke 6 memberikan nilai COD rata-rata paling rendah yaitu 255,28 mg/liter. Hal ini diduga karena mikroorganisme amilolitik telah mendegradasi kandungan bahan organik terlarut dalam limbah cair industri tapioka seiring dengan waktu.
Tabel 2. Prosentase penurunan nilai COD limbah cair industri tapioka selama perlakuan dengan isolat mikroorganisme amilolitik Perlakuan Kontrol Isolat 1 Isolat 5 Isolat 6 Isolat 8 Isolat 10 Hari ke-2 (%) 12,3 19,4 17,0 26,4 47,5 23,3 Hari ke-4 (%) 52,4 76,2 44,9 56,2 75,6 64,4 Hari ke-6 (%) 76,6 88,3 76,8 81,1 92,4 85,6

selama masa perlakuan. Tabel 4 menunjukkan bahwa mikroorganisme amilolitik isolat 8 mempunyai efisiensi tertinggi dalam menurunkan nilai BOD limbah cair industri tapioka selama perlakuan enam hari yaitu 92,86%. Efisiensi penurunan nilai BOD limbah cair industri tapioka pada kontrol perlakuan hari ke 6 merupakan yang paling rendah yaitu 78,31%.
Tabel 3. Nilai BOD limbah cair industri tapioka dengan perlakuan penambahan isolat mikroorganisme amilolitik dan waktu. Nilai BOD dalam sampel limbah cair industri tapioka (mg/liter) Hari Hari Hari Hari Rata-rata ke-0 ke-2 ke-4 ke-6 500,2 430,1 304,4 108,5 335,79 D 321 D 500,2 423,5 271,2 95,3 500,2 403,6 264,7 82,1 312,63 C 311 C 500,2 410,3 251,5 82,1 500,2 363,9 205,1 35,7 276,24 A 500,2 390,4 231,6 55,6 294.43 B

Jenis Isolat

Tabel 2 menunjukkan bahwa mikroorganisme amilolitik isolat 8 mempunyai efisiensi paling tinggi dalam menurunkan nilai COD pada proses pengolahan limbah cair industri tapioka yaitu 92,4% pada waktu akhir perlakuan. Pada kontrol perlakuan, efisiensi penurunan nilai COD limbah cair industri tapioka pada hari ke 6 merupakan yang paling rendah yaitu 76,6%. Pengaruh perlakuan penambahan isolat mikroorganisme amilolitik dan waktu terhadap nilai BOD limbah cair industri tapioka disajikan pada Tabel 4. Hasil uji jarak berganda Duncan taraf 5% pada Tabel 4 menunjukkan bahwa perlakuan dengan isolat mikroorganisme amilolitik isolat 8 memperlihatkan nilai BOD rata-rata yang paling rendah yakni 276,24 mg/liter. Nilai BOD rata-rata paling tinggi terdapat pada kontrol perlakuan yaitu 335,79 mg/liter. Hasil ini menunjukkan bahwa perlakuan dengan menggunakan isolat 8 memberikan hasil paling efektif dalam pengolahan limbah cair industri tapioka. Proses pengolahan limbah pada hari ke 6 memberikan nilai BOD rata-rata paling rendah 76,56 mg/liter dan nilai paling tinggi pada hari ke 0 yaitu 500,2 mg/liter. Hal ini menunjukkan bahwa seiring dengan waktu maka kualitas limbah cair industri tapioka akan semakin membaik. Proses ini disebabkan adanya aktivitas dari mikroorganisme amilolitik yang mendegradasikan amilum terlarut

Kontrol Isolat 1 Isolat 5 Isolat 6 Isolat 8 Isolat 10 Rata500,2 d 403,6 c 254,74 b 76,56 a rata

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak beda nyata pada uji jarak berganda Duncan taraf 5%. Huruf besar notasi untuk faktor jenis isolat. Huruf kecil notasi untuk faktor waktu. Tabel 4. Prosentase penurunan nilai BOD limbah cair industri tapioka selama perlakuan dengan isolat mikroorganisme amilolitik Perlakuan Kontrol Isolat 1 Isolat 5 Isolat 6 Isolat 8 Isolat 10 Hari ke-2 Hari ke-4 Hari ke-6 (%) (%) (%) 14,01 39,14 78,31 15,34 45,77 82,27 19,31 47,09 83,59 17,98 49,73 83,60 27,75 58,99 92,86 21,96 53,70 88,89

Mikroorganisme yang terdapat dalam limbah menggunakan limbah tersebut untuk mensintesis bahan seluler baru dan menyediakan energi untuk sintesis. Mikroorganisme tersebut memetabolisme limbah untuk melangsungkan proses kehidupannya (Jenie dan Rahayu, 1993). Pada air limbah, mikroorganisme terdapat sebagai campuran dari berbagai macam

PRIYANTO dkk. – Mikroorganisme amilolitik limbah tapioka

39

spesies yang semuanya berinteraksi secara alami. Proses kompetisi membuat mikroorganisme yang dominan akan lebih mampu bertahan hidup (Mason, 1991). Pada penelitian ini limbah cair industri tapioka diberi perlakuan penambahan isolat murni mikroorganisme amilolitik. Hal ini bertujuan agar isolat murni tersebut menjadi lebih dominan aktivitasnya sehingga mampu mempercepat laju degradasi limbah. Hal utama dalam penanganan air limbah adalah pengembangan dan pemeliharaan kultur mikroorganisme yang cocok (Jenie dan Rahayu, 1993). Dari hasil uji jarak berganda Duncan dapat disimpulkan bahwa perlakuan dengan menggunakan isolat 8 menghasilkan proses pendegradasian limbah cair industri tapioka yang paling cepat. Ini berarti pemberian isolat 8 ke dalam limbah cair industri tapioka memberikan pengaruh yang paling besar dalam mempercepat proses pendegradasian limbah. Kultur murni ini mampu memetabolisme pati terlarut dalam limbah untuk digunakan sebagai sumber energi dan karbon dalam waktu yang lebih cepat dibanding jenis mikroorganisme lain yang secara alami terdapat di dalam limbah cair industri tapioka. Dengan adanya bahan limbah, metabolisme mikroorganisme akan menghasilkan energi dan nutrien sehingga dapat digunakan untuk memproduksi sel-sel baru. Tingginya nilai COD dan BOD mengindikasikan bahwa dalam sistem perairan tersebut banyak terlarut zat-zat organik. Jadi nilai COD dan BOD berbanding lurus dengan banyaknya zat organik yang terlarut (Mahida, 1984). Mikroorganisme menggunakan zat organik terlarut tersebut sebagai sumber makanan, sehingga aktivitasnya dalam memetabolisme makanan dapat mengurangi konsentrasi zat organik terlarut. Hal ini berarti nilai COD dan BOD akan menurun seiring dengan kecepatan mikroorganisme dalam mendegradasikan zat organik terlarut dalam air limbah. Zat organik spesifik yang terlarut dalam limbah cair industri tapioka adalah pati (Wiryanto, 1993). Pati atau amilum ini dapat digunakan sebagai sumber karbon dan energi oleh jenis mikroorganisme tertentu yang disebut mikroorganisme amilolitik. Tingginya konsentrasi pati terlarut dalam limbah cair industri tapioka menyebabkan nilai COD dan

BOD yang tinggi pula. Secara alamiah limbah ini akan didegradasi dengan sendirinya oleh mikroorganisme yang ada dalam penampungan limbah. Pada penelitian ini, kontrol perlakuan juga memberikan hasil yang signifikan pada hari yang bertambah. Ini menunjukkan meskipun tidak diberi inokulum isolat murni mikroorganisme amilolitik, proses pendegradasian limbah tetap berlangsung. Menurut Gordon dkk (1971), proses purifikasi alami tidak pernah berlangsung cepat. Hal ini juga terjadi pada penelitian ini, kontrol tanpa perlakuan memberikan efisiensi perbaikan limbah yang lebih rendah. Perubahan Nilai pH Hasil pengamatan perubahan nilai pH limbah cair industri tapioka terdapat pada Tabel 5.
Tabel 5. Nilai pH limbah cair industri tapioka selama perlakuan penambahan isolat mikroorganisme amilolitik dan waktu Nilai pH sampel limbah cair industri tapioka Hari ke-0 Hari ke-2 Hari ke-4 Hari ke-6 4,15 a 4,85 c 4,91 c 5,29 e 4,15 a 4,25 a 4,20 a 4,05 a 4,20 a 4,77 c 4,73 b 4,81 c 4,87 c 4,94 c 5,29 e 5,28 d 5,34 e 5,49 f 5,60 f 5,33 e 5,38 e 5,32 e 5,56 f 5,51 f

Perlakuan Kontrol Isolat 1 Isolat 5 Isolat 6 Isolat 8 Isolat 10

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji jarak berganda Duncan taraf 5%.

Hasil uji jarak berganda Duncan menunjukkan bahwa perlakuan waktu hari ke6 pada semua perlakuan dengan isolat mikroorganisme amilolitik maupun pada kontrol menunjukkan hasil perubahan nilai pH yang paling besar. Hal ini terjadi karena pada air limbah terjadi proses purifikasi alami. Sampel air limbah yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari kolam penampungan limbah yang kedua, sehingga dimungkinkan terdapat mikroorganisme yang mampu hidup dan menggunakan bahan organik terlarut di dalamnya sebagai sumber karbon dan energinya. Aktivitas mikroorganisme yang secara alami terdapat di dalam air limbah

40

ENVIRO 2 (2): 35-41, September 2002

menyebabkan proses perbaikan kualitas air limbah. Mikroorganisme dalam air limbah mempunyai keterbatasan dalam hal menguraikan bahan-bahan organik terlarut sehingga proses alami tidak berlangsung secara cepat. Seiring dengan waktu, kandungan bahan organik terlarut dalam air limbah semakin berkurang sehingga kualitas air limbah semakin meningkat. Limbah cair industri tapioka mempunyai nilai pH yang rendah karena di dalamnya terlarut senyawa-senyawa organik yang bersifat asam. Asam hidrosianat (HCN) yang terkandung dalam umbi ketela pohon merupakan senyawa utama dan paling dominan yang berpotensi menyebabkan rendahnya nilai pH limbah cair industri tapioka. Menurut Pranoto (2000), terdapat beberapa mikroorganisme yang secara alami ada di dalam limbah cair industri tapioka yang mampu menguraikan sianida dalam arti menggunakan senyawa ini sebagai sumber karbon dan energinya. Mikroorganisme tersebut antara lain Escherichia coli, Pseudomonas maltophila dan Enterobacter aerogenes. Berkurangnya konsentrasi senyawa asam dalam limbah cair industri tapioka karena didegradasi oleh mikroorganisme inilah yang menyebabkan nilai pHnya berangsur-angsur naik mendekati nilai pH netral. Karakterisasi isolat terseleksi Isolat 8 dalam media pati agar miring dibuat preparat dan difiksasi di atas nyala api bunsen kemudian diamati di bawah mikroskop. Tampak sel-sel dari isolat tersebut berbentuk batang pendek. Dari morfologi dan ukuran selnya ( ± 2 x 5 mikron), diketahui bahwa mikroorganisme amilolitik isolat 8 tersebut adalah khamir. Karakter dari isolat 8 tersebut tercantum dalam Tabel 8.
Tabel 7. Karakterisasi amilolitik isolat 8. Karakter Isolat Bentuk sel Ukuran sel Bentuk spora Jumlah spora dalam askus Cara perkembangbiakan sifat mikroorganisme

Pati adalah poliglukosida berbobot molekul tinggi. Pati dapat dihidrolisis oleh enzim amilase menghasilkan campuran maltosa dan glukosa (Stanley dkk., 1988). Menurut Schleigel dan Schmidt (1985), fungi dan bakteri mampu memproduksi α-amilase sehingga mampu menghidrolisis pati menjadi bentuk yang lebih sederhana. Enzim α-amilase merupakan enzim hidrolitik yang bekerja di luar sel, bekerja pada banyak ikatan α-1,4 serta yang berada di bagian dalam makromolekul. Reaksi hidrolisis amilum menghasilkan maltosa dan oligomeroligomer yang terdiri dari 3-7 buah sisa glukosa (Schleigel dan Schmidt, 1985). Khamir merupakan fungi uniseluler yang mikroskopik dan tidak membentuk percabangan permanen. Ukuran khamir 4-20 kali lebih besar daripada ukuran bakteri yaitu berkisar antara 1-9 mikron x 2-20 mikron tergantung pada spesiesnya (Jenie dan Rahayu, 1993). Menurut Jutono dkk. (1971), beberapa khamir tertentu dapat mengalami dimorfisme yaitu mengalami fase Y (yeast, khamir, bentuk sel tunggal) dan fase F (filamen, bentuk benang). Khamir tidak mempunyai flagella sehingga tidak mampu bergerak aktif. Menurut Jenie dan Rahayu (1993), bakteri dan khamir dapat memetabolisme bahan organik dari jenis yang sama. Kondisi lingkungan akan menentukan kelompok organisme yang akan dominan di suatu habitat. Khamir banyak terdapat pada limbah yang mempunyai nilai pH rendah, kadar nitrogen rendah dan bila nutrien tertentu tidak ada. Sebagian besar khamir tumbuh pada pH 4-5, dalam kondisi ini bakteri sulit untuk berkompetisi. Limbah tapioka bersifat asam sehingga memungkinkan khamir terdapat lebih dominan daripada bakteri. Proses isolasi menghasilkan isolat khamir sebagai mikroorganisme pendegradasi amilum dalam limbah cair industri tapioka. Pada penelitian ini khamir isolat 8 mempunyai aktivitas amilolitik paling besar dalam pengolahan limbah cair industri tapioka. KESIMPULAN Terdapat 11 isolat mikroorganisme yang mampu mendegradasi amilum dalam limbah cair industri tapioka. Isolat 8 yang digunakan sebagai inokulum dalam pengolahan limbah

Keterangan Batang Pendek ± 2 x 5 mikron Bulat 4 - Spora - Membelah diri

PRIYANTO dkk. – Mikroorganisme amilolitik limbah tapioka

41

cair industri tapioka dalam penelitian ini memiliki kemampuan paling tinggi dalam meningkatkan efisiensi penurunan COD dan BOD. Pada penurunan nilai COD, perlakuan dengan isolat 8 pada hari ke 6 mempunyai efisiensi 92,4% sedangkan pada kontrol perlakuan efisiensinya adalah 76,6%. Pada penurunan nilai BOD, perlakuan dengan isolat 8 pada hari ke 6 mempunyai efisiensi 92,86% sedangkan efisiensi pada kontrol perlakuan adalah 78,31%. Mikroorganisme amilolitik isolat 8 tergolong sebagai khamir berbentuk ± 2x5 batang pendek, ukuran selnya mikronmeter, menghasilkan askus dengan 4 spora tiap askus, spora berbentuk bulat. Cara perkembangbiakan sel adalah dengan spora dan membelah diri. DAFTAR PUSTAKA
Alaerts, G. dan S.S. Santika. 1984. Metode Penelitian Air. Surabaya: Penerbit Usaha Nasional. Bangun, A. 1989. Isolasi dan Identifikasi. Yogyakarta: PAU-Bioteknologi Universitas Gadjah Mada. Carlile, M.J. and S.C. Watkinson. 1995. The Fungi. London: Academic Press Inc, Hartcourt Brace and Company, Publishers. Gordon, M.K., J.K. Geyer and D.A. Okun. 1971. Elements of Water Supply and Waste Water Disposal. New York: John Wiley and Sons, Inc. Hadioetomo, R.S. 1990. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta: Penerbit PT Gramedia. Irianto, E.W. dan B. Machbub. 1995. “Pengolahan Air Limbah Industri Secara Gabungan Pada Daerah Industri Cimahi Selatan”. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pengairan No.34 Th. 10- Kw. I. Jenie, B.S.R. dan Rahayu, W.P. 1993. Penanganan Limbah Industri Pangan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Jutono, Joedoro, S., Sri Hartadi, Siti Kabirun, S., Suhadi, D. dan Soesanto. 1973. Pedoman Praktikum Mikrobiologi Umum. Yogyakarta: Departemen Mikrobiologi Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Mahida, U.N. 1984. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. Jakarta: Penerbit CV. Rajawali. Mason, C.F. 1991. Biology of Freshwater Pollution. Second Edition. Singapore: Longman Scientific of Technical. Odum, E.P. 1993. Dasar-dasar Ekologi (diterjemahkan oleh Tjahyono Samingan dan Srigandono). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Pelczar, M.J. and E.C.S. Chan. 1988. Dasar-dasar Mikrobiologi (diterjemahkan oleh R.S. Hadioetomo, Teja Imas, S.S. Tjitrosomo dan Sri Lestari Angka). Jakarta: Penerbit UI-Press. Pranoto. 2000. Metode Alternatif Meminimalisasi Limbah Sianida (CN ) Pada Pabrik Tapioka. Surakarta: Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Sebelas Maret. Schleigel, H.G. and K. Schmidt. 1985. Mikrobiologi Umum (diterjemahkan oleh R.M. Tedjo Baskoro) Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Sembiring, L. 1991. Pemanfaatan Isolat Bakteri Amilolitik Dalam Pengolahan Air Limbah Industri Tekstil. Yogyakarta: Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada. Stanley, H.P., J.B. Hendrickson, D.J. Cram and G.S. Hammond. 1988. Kimia Organik 2 (diterjemahkan oleh Roehyati, J. dan Susanti, W.P.H.). Bandung: Penerbit ITB Bandung. Syarifah, I. 1996. Uji Hayati Limbah Cair Industri Tapioka terhadap Ikan Nila. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. Wainwright, M. 1992. An Introduction to Fungal Biotechnology. Chicester, England: John Wiley and Sons, Ltd. Wardhana, W.A. 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset. Wiryanto. 1993. Industri Tepung Tapioka dan Upaya Pencegahan Pencemaran Lingkungan Oleh Limbah Industri Tapioka. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.