BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Embriologi Payudara Payudara (mammae) sebagai kelenjar subkutan mulai tumbuh sejak minggu keenam masa embrio, yaitu berupa penebalan ektodermal sepanjang garis yang disebut sebagai garis susu, terbentang dari aksila sampai ke regio inguinal. Dua pertiga kaudal dari garis tersebut segera menghilang dan tinggal bagian dada saja yang berkembang menjadi cikal bakal payudara. Beberapa hari setelah lahir, pada bayi dapat terjadi pembesaran payudara unilateral atau bilateral diikuti dengan sekresi cairan keruh. Keadaan ini disebut dengan mastitis neonatorum, disebabkan oleh berkembangnya duktus dan tumbuhnya asinus serta vaskularisasi pada stroma yang dirangsang secara tidak langsung oleh tingginya kadar estrogen ibu di dalam sirkulasi darah bayi. Setelah lahir, kadar hormon ini menurun, dan merangsang hipofisis untuk memproduksi prolaktin. Prolaktin inilah yang menimbukan perubahan pada payudara.

1.2 Anatomi Payudara

Gambar 1. Anatomi Payudara

9

Kelenjar susu merupakan kelenjar kulit atau apendiks kulit yang terletak di fasia pektoralis. Pada bagian lateral atasnya jaringan kelenjar ini keluar dari bulatannya ke arah aksila, dan disebut penonjolan Spence atau ekor payudara. Setiap payudara terdiri dari 12 sampai 20 lobulus kelenjar yang masing-masing mempunyai saluran ke papila mammae, yang disebut duktus laktiferus. Di antara kelenjar susu dan fasia pektoralis, juga di antara kulit dan kelenjar tersebut, mungkin terdapat jaringan lemak. Di antara lobulus tersebut, terdapat jaringan ikat yang disebut ligamentum Cooper yang memberi rangka untuk payudara. Perdarahan payudara terutama berasal dari cabang A. Perforantes anterior dari A. Mammaria interna, A. Torakalis lateralis yang bercabang dari A. Aksilaris, dan A. Interkostalis. Persarafan kulit payudara oleh cabang pleksus servikalis dan N. Interkostalis. Jaringan kelenjar payudara sendiri disarafi oleh saraf simpatik. Juga terdapat N. Interkostobrakialis dan N. Kutaneus brakius medialis yang mengurus sensibilitas daerah aksila dan bagian medial lengan atas. Pada diseksi aksila, saraf ini sukar disingkirkan sehingga sering terjadi mati rasa di daerah tersebut. N. Pectoralis yang mengurus M. Pectoralis mayor dan minor, N. Torakodorsalis yang mengurus M. Latissimus dorsi, dan N. Torakais longus yang mengurus M. Serratus anterior sedapat mungkin dipertahankan pada mastektomi dengan diseksi aksila. Pengaliran limfe dari payudara kurang lebih 75% ke aksila, sebagian ke kelenjar parasternal, terutama dari bagian sentral dan medial dan ada pula pengaliran ke kelenjar interpektoralis. Di aksila terdapat 50 (berkisar dari 10 – 90) buah kelenjar getah bening yang berada di sepanjang arteri dan vena brakhialis. Saluran limfe dari seluruh payudara mengalir ke kelompok anterior aksila, kelompok sentral aksila, kelenjar aksila bagian dalam, yang lewat sepanjang V. Aksilaris dan yang berlanjut langsung ke kelenjar servikal bagian kaudal dalam di supraklavikuler. Jalur limfe lainnya berasal dari daerah sentral dan medial yang selain menuju ke kelenjar sepanjang pembuluh mammaria interna, juga menuju ke aksila

10

masa fertilitas. Gambar 2.kontralateral. Perubahan pertama adalah sejak masa hidup anak melalui pubertas. Aliran Limfe Payudara dan Sekitarnya 1. Selama beberapa hari menjelang menstruasi payudara menjadi tegang dan nyeri sehingga pemeriksaan fisik.3 Fisiologi Payudara Payudara mengalami tiga macam perubahan yang dipengaruhi hormon. 11 . Perubahan kedua adalah perubahan sesuai siklus menstruasi. terutama palpasi. Sekitar hari kedelapan menstruasi. ke M. Pada saat itu pemeriksaan mammogram tidak berguna karena kontras kelenjar terlalu besar. Begitu menstruasi mulai. semuanya berkurang. Rektus abdominis lewat ligamentum falsiparum hepatis ke hati. payudara menjadi lebih besar dan beberapa hari sebelum menstruasi berikutnya terjadi pembesaran maksimum. tidak mungkin dilakukan. sampai ke klimakterium dan menopause. ke pleura dan kemudian ke payudara kontralateral. Sejak pubertas pengaruh estrogen dan progesteron yang diproduksi ovarium dan juga hormon hipofise telah menyebabkan duktus berkembang dan timbulnya asinus. Kadang timbul benjolan yang nyeri dan tidak rata.

5%.000 wanita per tahun dengan mortalitas uang cukup tinggi 27/100. Air susu diproduksi oleh sel-sel alveolus. Diperkirakan di Indonesia mempunyai insiden minimal 20. Saat itu payudara membesar karena epitel duktus lobul dan alveous berproliferasi dan tumbuh duktus baru. stroma. sehingga mengalami pertumbuhan yang tidak normal. Grafik 1. kemudian dikeluarkan melalui duktus ke puting susu.000 kasus baru per tahun. Di Indonesia berdasarkan’’ Pathological Based Registration’’ kanker payudara mempunyai insiden relatif 11. cepat dan tidak terkendali. areola. 1. dengan kenyataan bahwa lebih dari 50% kasus masih berada dalam stadium lanjut. seperti halnya di negara barat. Kanker payudara adalah keganasan yang berasal dari parenkim.5 Epidemiologi Kanker payudara merupakan kanker dengan insiden tertinggi no. Sekresi hormon prolaktin dari hipofisis anterior memicu (trigger) laktasi. mengisi asinus.4 Definisi Kanker merupakan suatu kondisi dimana sel telah kehilangan pengendalian dan mekanisme normalnya. Angka kejadian kanker payudara di Amerika Serikat 92/100. dan papilla mammae.000 atau 18% dari kematian yang dijumpai pada wanita.2 di Indonesia dan terdapat kecenderungan dari tahun ke tahun insiden ini meningkat.Perubahan ketiga terjadi saat hamil dan menyusui. 1. Grafik insiden Ca Mammae 12 .

Hormon 13 . Patologi Displasia atau kelainan fibrokistik tertentu. Sedangkan pada usia setelah 50 tahun. Pada usia sebelum 35 tahun. Keluarga Kemungkinan untuk menderita kanker payudara 2-3 kali lebih besar pada wanita yang ibu atau saudara kandungnya menderita kanker payudara. beresiko tinggi mendapat karsinoma di mammae kontralateral. Insidensi karsinoma mammae pada laki-laki hanya 1% dari kejadian pada perempuan. yang paling sering menyebabkan benjolan pada payudara adalah fibroadenoma dan penyakit fibrokistik. Insidensi tinggi di negara Barat dan lebih banyak pada populasi kulit putih dibandingkan kulit hitam. Kanker ini jarang sekali ditemukan pada wanita usia di bawah 20 tahun.6 Faktor Resiko 1. 3. 4.Kurva insidens-usia bergerak naik sejak usia 30 tahun. Kemungkinan ini lebih besar bila keluarga itu menderita kanker bilateral atau pramenopause. Peningkatan Resiko Ca Mammae di Atas 30 tahun 2. Angka tertinggi terdapat pada usia 45-66 tahun. Usia Insiden naik dengan bertambahnya usia. 1. riwayat menderita kanker. penyebab tersering benjolan pada payudara adalah karsinoma dan kista. Grafik 2.

walaupun pendapat lain mengatakan wanita yang tidak/sebentar menyusui lebih beresiko tinggi terhadap ca mammae. 70% kanker payudara mulai tumbuh unifokal dan unicentris yaitu dari satu sel kanker pada satu tempat dalam duktus atau alveolus dan jarang (30%) mulai unifokal multicentris dari beberapa sel dari satu tempat. Sebagian besar kanker payudara berasal dari epitel duktus laktiferus (90%). sebagian kecil dari epitel lobulus (5%). Tahap inisiasi terjadi suatu perubahan dalam bahan genetik sel yang memancing sel menjadi ganas. Waktu ganda kanker payudara antara 23 – 909 hari dengan ratarata 100 hari. 1. peau d’orange. Besar sel kanker rata-rata 10 mU. Resiko terhadap karsinoma mammae lebih rendah pada wanita yang melahirkan anak pertama pada usia lebih muda dan resiko tinggi pada wanita yang melahirkan anak pertama pada usia > 30 tahun. dari areola (3%). salah satunya adalah virus. perlekatan dengan kulit. otot 14 . Perubahan ini disebabkan adanya karsinogen. dan sisanya dari stroma payudara.7. 5. Pada wanita yang diangkat ovariumnya pada usia muda lebih jarang ditemukan karsinoma mammae. Tumor sebesar 1 cm adalah besar minimal yang dapat diketahui secara klinis. Patofisiologi Transformasi sel-sel kanker dibentuk dari sel-sel normal dalam suatu proses rumit yang disebut transformasi. 6.Pertumbuhan karsinoma mammae sering dipengaruhi perubahan keseimbangan hormon. Waktu ganda adalah waktu yang diperlukan oleh suatu tumor membesar sehingga volumenya menjadi 2 kali semula. 7. Laktasi bukan merupakan faktor resiko. yang terdiri dari tahap inisiasi dan promosi. suatu sel yang telah mengalami inisiasi akan berubah menjadi ganas (karsinogenesis). Wanita nulipara beresiko 2-3 kali lebih besar. Pertumbuhan lokal kanker ini menimbulkan pendesakan dan infiltrasi jaringan sekitarnya sehingga menimbulkan pembesaran payudara. sehingga baru setelah menjalani 30X ganda terbentuk 1 miliar sel membentuk tumor dengan diameter 1 cm. Menarche lebih awal (<13 tahun) dan menopause yang lambat (>50 tahun). Tahap promosi.

Konsistensi kelainan ganas biasanya keras. Yang diperhatikan pada dasarnya sama dengan penilaian tumor di tempat lain. pasien dapat diminta duduk tegak atau berbaring. ulkus dan benjolan. 1. Adanya faktor nekrose beserta kekurangan nutrisi pada tumor akibat pertumbuhan tumor yang cepat yang tidak diimbangi oleh pertumbuhan pembuluh darah maka timbullah nekrose pada tumor yang kemudian menjadi ulkus.pektoralis atau dinding toraks. tumor mamae nyeri (11%). 1. Perubahan aksila pun lebih mudah pada posisi 15 . Reaksi tubuh terhadap pertumbuhan sel kanker adalah timbulnya fibrosis dan faktor nekrose. kadang lebih mudah ditemukan. warna kulit. lekukan. retraksi. Palpasi dilakukan dengan telapak jari tangan yang digerakkan perlahan tanpa tekanan pada setiap kuadran payudara. sehingga payudara terbentang rata. tonjolan. edema lokal (4%).9 Pemeriksaan Klinis Sebaiknya pemeriksaan payudara dilakukan di saat pengaruh hormonal seminimal mungkin (setelah 1 minggu dari hari terakhir menstruasi). benjolan yang tidak teraba ketika penderita berbaring. Pada umumnya keluhan waktu datang : tumor mamae tidak nyeri (66%). kelaianan terlihat lebih jelas. Fibrosis ini menimbulkan retraksi kulit atau papila serta pengerutan payudara. adanya kulit berbintik seperti kulit jeruk. Kemudian perhatikan bentuk kedua payudara. Dengan lengan terangkat lurus ke atas. sedangkan nyeri lebih mengarah ke kelainan fibriokistik. Pada sikap duduk. atau kedua-duanya.8 Anamnesis Benjolan di payudara biasanya mendorong penderita untuk ke dokter. perdarahan/ cairan dari puting susu (9%). Pengeluaran cairan dari puting biasanya mengarah ke papiloma atau karsinoma intraduktal. Untuk inspeksi. Palpasi lebih baik dilakukan pada pasien yang berbaring dengan bantal tipis di punggung. retraksi puting susu (3%).

berbenjol.Lunak Perubahan Kulit Kelainan Fibrokistik Lipoma Penarikan kulit/dinding dada lebih khas pada tumor daripada penyakit jinak - Bercawak Benjolan kelihatan Kulit jeruk Kemerahan Tukak Sangat mencurigakan karsinoma Kista. Gejala dan Tanda Penyakit Payudara Gejala yang Dirasakan Nyeri: Penyebab yang Mungkin Nyeri lebih khas pada infeksi daripada tumor Penyebab fisiologis. atau melekat pada kanker atau inflamasi non-infektif . kadang tumor jinak.. seperti pada tegangan . Tabel 1. pramenstruasi atau penyakit fibrokistik tidak Bisa disebabkan oleh infeksi.Pemeriksaan kelenjar getah bening regional dilakukan dengan palpasi kelompok kelenjar getah bening sekitar payudara.Kenyal . fibroadenoma membesar Di atas benjolan: kanker (tanda khas) Infeksi (jika ada tanda panas) Kanker lama (biasa pada usia lanjut) Kelainan Puting/Areola Retraksi Inversi Baru Fibrosis karena kanker Retraksi fibrosis karena kanker (kadang fibrosis karena pelebaran duktus) Eksema Unilateral: penyakit Paget (tanda khas kanker) Keluarnya Cairan Seperti susu Kehamilan atau laktasi 16 .Berubah sesuai siklus menstruasi Rasa nyeri menetap. atau tumor ganas tergantung siklus menstruasi Benjolan di Payudara . karsinoma.Keras  Permukaan licin pada fibroadenoma atau kista  Permukaan kasar.duduk.

penyakit Paget pada Papilla) T1 T1a T1b T1c T2 T3 T4a T4b T4c T4d : tumor berdiameter < 2 cm : diameter <0.5-1cm : diameter 1-2cm : diameter 2-5cm : diameter >5cm : infiltrasi pada dinding dada (fascia pektoralis) : infiltrasi pada kulit (edem.Pelebaran duktus .- Jernih Hijau Normal .10 Staging Menurut AJCC VI : Tx To Tis : tumor primer tidak dapat ditetapkan : tumor primer tidak dapat ditemukan : Ca in situ (intraduktal Ca.lesi satelit) : infiltrasi pada dinding dada dan kulit : Ca inflammatory Nx No N1 N2a : metastase lnn tidak dapat ditetapkan : metastase lnn tidak dapat ditemukan : metastase lnn axilla ipsilateral : metastase lnn axilla ipsilateral terfiksir satu sama lain atau perlekatan dengan struktur sekitarnya N2b N3a N3b : metastase lnn mamaria interna tanpa metastase ke lnn axilla : metastase lnn infraklavikula dengan atau tanpa metastasis ke lnn axilla : metastasis lnn mamaria interna dengan metastasis lnn axilla 17 . Lobular Ca in situ.5cm : diameter 0.Kelainan fibrokistik  Karsinoma  Papiloma intraduktus - Hemoragik 1.ulserasi.(Peri) menapouse .

Tumor sudah meluas dalam payudara (5-10cm).5-5 cm dan sudah ada satu atau beberapa KGB axilla yang masih bebas < 2cm Stadium IIIA : Tumor sudah meluas dalam payudara (5-10 cm) tapi masih bebas di jaringan sekitarnya.tidak ada fiksasi/infiltrasi ke kulit dan jaringan yang dibawahnya (otot).KGB axilla melekat satu sama lain atau terhadap jaringan sekitarnya Ø lebih dari 2 cm.besar tumor 2. KGB regional belum teraba.KGB axilla masih bebas satu sama lain Stadium IIIB : Local advanced. Besar tumor 1-2cm.ulserasi.fiksasi pada kulit atau dinding dada.N3c : metastasis lnn supraklavikula dengan atau tanpa metastasis ke lnn axilla Mx Mo M1 : metastasis jauh tidak dapat ditetapkan : metastasis jauh tudak dapat ditemukan : terdapat metastasis jauh Gambar 3.11. bebas dari jaringan sekitarnya. Gambaran TNM secara terstruktur 1. Klasifikasi Klasifikasi Stadium PORTMAN yang disesuaikan dengan aplikasi klinik: Stadium I : Tumor terbatas dalam payudara. Stadium II : Stadium I. belum ada metastase jauh 18 .nodul satelit.kulit merah dan ada edema (lebih dari 1/3 payudara kiri).

12. Stadium Ca mammae 1. G2 : derajat keganasan sedang 3.1 Pemeriksaan Sitologi Pemeriksaan sitologi antara lain : fine needle aspiration. needle core biopsy dengan jarum silverman. Pemeriksaan ini juga dapat menentukan perlu tidaknya segera pembedahan dengan sediaan beku atau dilanjutkan dengan pemeriksaan lain ataupun langsung dilakukan ekstirpasi. G3 : derajat keganasan tinggi Jenis histologis : 19 . G1 : derajat keganasan rendah 2.Stadium IV : Disertai dengan KGB aksia supra-klavikula dan metastase jauh lainnya. exicional biopsy dan pemeriksaan frozen section saat operasi. Pada umumnya pungsi dengan jarum halus (FNAB/Fine Needle Aspiration Biopsy) sering dipakai. Gambar 4. Penentuan derajat diferensial histologis : 1.12 Pemeriksaan Penunjang 1.

14 Terapi Sebelum merencanakan terapi karsinoma mammae. dan secara klinis tidak teraba tumor. kadang tampak kista 1-2 cm. diagnosis klinis dan histopatologik serta tingkat penyebarannya harus dipastikan dahulu. sedangkan hasil pemeriksaan positif palsu selalu dapat terjadi. Tetapi bila tindakan paliatif. Lobular (timbul dari epithelium lobular) : non invasive/invasive Hasil positif pada pemeriksaan sitologi bukan indikasi untuk bedah radikal. harus ditentukan yang mana yang keliru. Bila keduanya berbeda.1. massa radioopak dengan mikrokalsifikasi. Duktal (timbul dari epitelium duktus) : non invasive/invasive 2. 1.Mammogram pada masa pramenopause kurang bermanfaat karena gambaran kanker di antara jaringan kelenjar kurang tampak. Sebaliknya jika mammografi positif.13 Diagnosis Pasti Penilaian untuk karsinoma mammae melalui 3 langkah (triple diagnostic). maka pemeriksaan harus dilanjutkan pada pungsi atau biopsi pada tempat yang ditunjukkan pada foto tersebut. maka pemeriksaan harus dilanjutkan dengan biopsi. disusun rencana terapi. Diagnosis klinis harus sama dengan diagnosis histopatologik. maka tindakan bedah tidak bermanfaat. 20 . 1. Bila secara klinis dicurigai ada tumor dan pada mammografi tidak ditemukan apa pun. yaitu: Pemeriksaan klinis. sebab hasil negatif palsu sering terjadi.12. termasuk tingkat penyebaran penyakit. sebab sering karsinoma tidak tampak pada mammogram. 1. Tanda berupa mikrokalsifikasi tidak khas untuk kanker.2 Pemeriksaan Radiologi Pemerisaan dengan mammografi dapat ditemukan benjolan yang kecil sekalipun. radiologis dan sitologis. USG berguna terutama untuk menentukan kista. maka tindakan radikal yang berkonsekuensi mutilasi harus dikerjakan demi kesembuhan. Bila tujuannya kuratif. Pada mammografi. gambaran karsinoma mammae adalah ireguler. berspikula. Atas dasar diagnosis tersebut.

kulit mamma. maka operasi selesai. Tiga tindakan tersebut merupakan satu paket terapi yang harus dilaksanakan serentak. Dengan sediaan beku. Bedah konservatif selalu ditambah disseksi kelenjar aksila dan radio terapi pada (sisa) payudara tersebut. Secara singkat paket tindakan tersebut disebut ”Breast Conservating Surgery” (BCT/Breast Conservating Therapy) atau ”terapi dengan mempertahankan payudara” yang menurut Reinhard Hunig dkk dari University Hospital Basel tahun 1976 dapat dilakukan pada kasus-kasus kanker payudara dengan: Tumor primer tidak lebih dari 2 cm N1bkkurang dari 2 cm Belum ada metastasis jauh Tidak ada tumor primer lainnya Payudara kontralateral bebas kanker Payudara bersangkutan belum mendapat pengobatan sebelumnya (kecuali lumpektomi) Tidak dilakukan pada payudara yang kecil karena hasil kosmetiknya tidak terlalu menonjol.1 Pembedahan Untuk mendapatkan diagnosis histologi biasanya dilakukan biopsi sehingga tindakan ini dapat dianggap sebagai tindakan pertama pada pembedahan mamma. operasi dapat diulanjutkan dengan tindakan bedah kuratif.1. tetapi pada hasil yang menunjukkan tumor ganas. bedah radikal yang diubah maupun bedah konservatif yang merupakan eksisi tumor luas. Tumor primer tidak terlokasi di belakang puting Terapi kuratif dilakukan jika tumor terbatas pada payudara dan tidak ada infiltrasi ke dinding dada.14. hasil pemeriksaan histologi-patologi dapat diperoleh dalam waktu 15 menit. Bila pemeriksaan menunjukkan tanda tumor jinak. Bedah kuratif yang mungkin dilakukan ialah mastektomi radikal. Tumor disebut mampu-angkat (operable) jika dengan tindak 21 . atau infiltrasi dari kelenjar limfe ke struktur sekitarnya.

Patey. Akhir-akhir ini. Bedah radikal dikerjakan menurut Halsted (William S. biasanya dilakukan operasi radikal yang dimodifikasi oleh Patey (D. dan semua kelenjar ketiak sekaligus. Kedua operasi tadi umumnya tidak dikerjakan karena kelebihannya tidak banyak. biasanya dilakukan pembedahan kuratif dengan mempertahankan payudara. biasanya sudah ada penyebaran hematogen. Dengan demikian. Setelah tahun enam-puluhan. Syarat mutlak untuk operasi ini. tumor merupakan tumor kecil dan tersedianya sarana radioterapi khusus untuk penyinaran yang diperlukan untuk mencegah kambuhnya tumor di payudara dari jaringan tumor yang tertinggal atau dari sarang tumor lain (karsinoma multisentrik). Pektoralis minor. M.bedah radikal seluruh tumor dengan penyebarannya dikelenjar limfe dapat dikeluarkan. Pada keadaan demikian.H. segmentektomi atau kuadrantektomi dengan disseksi kelenjar aksila. Pada operasi ini dipertahankan otot sekitar jika tumor mamma jelas bebas dari otot tersebut. ahli bedah Inggris). Bila tersedia sarana penyinaran pasca bedah. Halsted. Pektoralis mayor dan M. 22 . terdiri dari bedah Halsted dengan pengeluaran kelenjar limfe pada A. Mammaria interna. Pembedahan ini merupakan pembedahan baku sejak abad ke-20 hingga tahun lima-puluhan. ahli bedah AS) yang meliputi pengangkatan payudara dengan sebagian besar kulitnya. Bedah superradikal terdiri dari bedah Urban yang diperluas dengan pengeluaran kelenjar limfe supraklavikula. dianjurkan terapi yang mempertahankan payudara yaitu berupa lumpektomi luas. pembedahan berat yang memerlukan mutilasi luas merupakan tindakan yang berlebihan. artinya operasi diperluas dengan torakotomi. Bila ada penyebaran limfe ke kelenjar mammaria interna atau ke kelenjar suprakavikula. dapat disimpulkan bahwa pada saat ini yang biasa dilakukan adalah bedah radikal yang dimodifikasi (Patey). Bedah radikal yang diperluas yaitu bedah Urban.

Lumpektomi Gambar 6. Quadrantektomi (Partial Mastektomi) Gambar 7. Simpel Mastektomi 23 .Gambar 5.

Penyulit pada mastektomi radikal. Cairan yang dihasilkan pada hari pertama bisa mencapai beberapa ratus limfe cc jernih. Karena dilakukan diseksi kelenjar. Biasanya terdapat mati rasa di kulit ketiak dan bagian medial lengan atas akibat cedera N. Jika hal ini tidak mungkin atau tidak dipilih. Kadang dilakukan amputasi kelenjar 24 . Kelumpuhan M. maka dipertimbangkan kemungkinan rekonstruksi mamma dengan implantansi prostesis atau cangkok flap muskulokutan. baik yang untuk M. maka diusahakan protesis eksterna.Gambar 8. Implantasi prostesis atau rekonstruksi mammae secara cangkok dapat dilakukan sekaligus dengan bedah kuratif atau beberapa waktu setelah penyinaran. terdiri dari hematom. Pektoralis minor harus ditangani dengan hati-hati pada bedah radikal termodifikasi. Interkostobrakialis yang tidak dapat dihindari. infeksi luka dan seroma. Latissimus dorsi. Saraf pektoralis. Bedah paliatif pada kanker payudara hampir tidak pernah dilakukan. Kadang residif lokoregional yang soliter dieksisi. Kerusakan N. kemoterapi ajuvan atau rehabiitasi penderita. sehingga pengangkatan tumor residif tersebut sering tidak berguna. Modified Radikal Mastektomi Bila dilakukan pengangkatan mamma. Bentuk dan berat disesuaikan dengan bentuk dan berat payudara di sisi lain. Serratus anterior akibat cedera N. maka harus dipasang penyalir hisap untuk mencegah seroma yang terdiri dari cairan luka dan limfe. Mobilisasi ekstremitas yang bersangkutan harus diperhatikan untuk mencegah kontraktur. Torakodorsalis mengakibatkan kelumpuhan M. Torakalis longus harus dicegah. tapi biasanya pada awal saja tampak soliter. padahal sebenarnya sudah menyebar. yaitu protesis buatan yang disangga oleh bra. Pektoralis mayor maupun untuk M.

2.mammae pada tumor yang tadinya tak mampu-angkat karena ukurannya telah diperkecil oleh radioterapi. yaitu di luar kawasan payudara dan ketiak.Metastasis ke kelenjar supraklavikuler Metastasis jauh 1. Walaupun tujuan terapi tersebut paliatif. 1. bedah payudara tidak berguna karena penderita tidak dapat sembuh.Ukuran tumor sedemikian besar sehingga tidak dapat dilakukan bedah radikal Fiksasi tumor ke dinding toraks (bukan ke M.Kelenjar aksila yang terfiksasi Adanya pembesaran kelenjar parasternal Oedema pada lengan karena bendungan kelenjar limfe M1 : . 25 . Radioterapi paliatif dapat dilakukan dengan hasil baik untuk waktu terbatas bila tumor sudah tak mampu-angkat secara lokal. tapi sebagai terapi tambahan untuk tujuan kuratif pada tumor yang relatif besar mungkin berguna. Radioterapi kuratif sebagai terapi tunggal lokoregional tidak begitu efektif. Pektoralis) atau ke kulit Oedema yang luas pada payudara Karsinoma tipe inflamasi Nodul satelit di kulit N2-3: .14. Pada penyebaran di luar daerah lokoregional. Tumor disebut tak mampu-angkat bila mencapai tingkat T4 misalnya ada perlekatan pada dinding toraks atau kulit. Kanker Payudara yang tak mampu-angkat T4 : .2 Radioterapi Radioterapi untuk kanker payudara biasanya digunakan pada terapi kuratif dengan mempertahankan mammae dan sebagai terapi tambahan atau terapi paliatif. kadang ada yang berhasil untuk waktu yang cukup berarti.

4 Terapi hormonal Indikasi pemberian terapi hormonal adalah jika penyakit telah sistemik berupa metastasis jauh.3 Kemoterapi Kemoterapi merupakan terapi sistemik yang digunakan bila ada penyebaran secara sistemik dan juga dipakai sebagai terapi ajuvan. Obat yang diberikan adalah CMF (kombinasi cyclofosfamid. antara lain CMF.14. adriamisin dan cyclofosfamid). Kadang masih dapat dipikirkan amputasi mamma setelah tumor mengecil oleh radiasi. Kemoterapi paliatif dapat diberikan pada pasien yang telah menderita metastasis secara sistemik. sedangkan pada pascamenopause diberikan terapi ajuvan hormonal berupa pil antiestrogen. Terapi hormonal biasanya diberikan secara paliatif sebelum kemoterapi. Tetapi penyulitnya adalah pembengkakan lengan karena limfudem akibat rusaknya kelenjar ketiak supraklavikula. tetapi tidak semua karsinoma mammae peka terhadap terapi hormonal. 1.14. radiasi bisa dipertimbangkan pada karsinoma mammae yang tak mampu-angkat atau jika ada metastasis. metotreksat dan 5fluorourasil) selama 6 bulan pada perempuan usia pramenopause. Tujuannya adalah menghancurkan mikrometastasis di dalam tubuh yang biasanya terdapat pada pasien yang kelenjar aksilanya sudah mengandung metastasis. Jadi. Obat yang dipakai secara kombinasi.Biasanya seluruh payudara dan kelenjar aksila serta supraklavikula diradiasi. karena efek terapinya lebih lama dan efek sampingnya kurang. VA (vinkristin dan adriamisin) atau FAC (5-fluorourasil. Hanya kurang lebih 60% yang bereaksi baik dan penderita mempunyai harapan dan memberi respon dapat diketahui dari ”uji reseptor estrogen” pada jaringan tumor. 26 . 1. Kemoterapi ajuvan diberikan pada pasien yang ditemukan metastasis di sebuah atau beberapa kelenjar pada pemeriksaan histopatologik pascabedah mastektomi.

Stadium I MRM sebagai terapi utama. Stadium II MRM sebagai terapi utama. Operable 1) simple mastektomi dan axillary toilet. Radiasi eksterna dan kemoterapi maupun hormonal bila ada metastase ke KGB axilla dapat diberikan sebagai terapi adjuvans.14. 1. hormonal dan kemoterapi. Terapi adjuvans post op 3x dan bila perlu dilakukan radiasi eksterna. Stadium IIIA MRM sebagai terapi utama Terapi adjuvans meliputi radiasi eksterna. Stadium IIIb a. 27 . 2) Kemoterapi 3x kemudian MRM. Estrogen tidak dapat diberikan karena efeksampingnya terlalu besar. Terapi adjuvans meliputi radiasi eksterna. 4.5 Protokol Pengobatan Kanker Payudara 1. 3.Terapi hormonal paliatif dapat dilakukan pada penderita yang pramenopause dengan cara ovarektomi bilateral atau dengan pemberian antiestrogen seperti tamoksifen atau aminoglutetimid. kemoterapi dan terapi hormonal. Terapi hormon diberikan sebagai ajuvan pada pasien pascamenopause yang uji reseptor estrogennya positif dan pada pemeriksaan histopatologik ditemukan kelenjar aksila yang berisi metastasis. Obat yang dipakai adalah sediaan antiestrogen tamoksifen. Bila KGB axilla tidak metastase tidak perlu radiology post operasi Bila yang dilakukan hanya mastektomi simpel/ BCT harus diikuti radiasi tumor bed dan daerah KGB regional (radiasi local dan regional) 2.

ukuran KGB yang tertekan 3. status menstruasi 7. Bila tetap inoperable. bila operabel mastektomi simpel. Fiksasi tumor primer/KGB (+) 5. Histologis : Ductal : baik medular Acinus : baik lobuler 28 . PostmenopauseTerapi hormonal dengan atau tanpa kombinasi kemoterapi. Bila Bila Terapi operablemastektomi inoperableteruskan adjuvans meliputi radiasi eksterna dan hormonal terapi. Inoperable 1) Radiasi eksterna pre operative. Terapi adjuvans dengan melanjutkan radiasi eksterna 2000-3000 c. sampai 6 kali. 5. Bila perlu dilakukan mastektomi simple atau radioterapi paliatif. lanjutkan radiasi 5000-6000cGy. Usia. tempat.b. 1. Kelambatan terapi 8. Ukuran tumor 2. derajat anaplasia 6. Stadium IV Prinsip paliatif Premenopause Oophorektomi dilanjutkan kemoterapi. Bila perlu dilakukan mastektomi simple atau radioterapi paliatif.15 Prognosis Dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain : 1. Skin involvement 4. simple. Jumlah.Gy dan bila perlu terapi hormonal dan atau kemoterapi 2) Kemoterapi neoajuvans 3x.

mual. epilepsi. Kehamilan 10. kadang tanpa keluhan Gangguan sumsum tulang Nyeri. ataksia. kelenjar terhinggapi tetapi bebas dari sekitar) III.vertebra . Stadium II 40-45% 4. Stadium I 70-95% 3. ikterus obstruksi . serta pembuluh limfe. fraktur Nyeri. muntah. T0-2N2M0 .costae . tetapi semua terbatas di lokoregional) IV.tengkorak . T2N1M0 (tumor lebih besar.T3N1-2M0 (kanker lanjut dan penyebaran ke kelenjar lanjut. Prognosis dan Tingkat Penyebaran Tumor Tingkat Penyebaran Tumor I. terbatas pada mammae) II. daerah saluran limfe dan kelenjar limfe dari struktur atau organ yang bersangkutan. T1-4N0-3M1 (telah tersebar di luar lokoregional) 10 40 Ketahanan Hidup 5 tahun (%) 85 65 Istilah lokoregional dimaksudkan untuk daerah yang meliputi struktur dan organ tumor primer.tulang panjang Nyeri. T1N0M0 (kecil. fraktur Harapan hidup 10 tahun mendatang : 1. Stadium III 10-15% 5. ER content Tabel 2. Stadium 0 95-99% 2. Metastasis hematogen kanker payudara Letak Otak Pleura Paru Hati Tulang Gejala dan Tanda Utama Nyeri kepala. paresis. Stadium IV jarang 29 . parestesia Efusi. sesak nafas Biasanya tanpa gejala Kadang tanpa gejala.9.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful