Anestesi Spinal Pada Pasien yang Menjalani Operasi Debridemen Ulkus Pedis Pada Penderita Diabetes Melitus

Abstrak Anestesi spinal ialah pemberian obat anestesi lokal kedalam ruang subarachnoid. Anestesi spinal diperoleh dengan cara menyuntikkan anestesi lokal kedalam ruang subarachnoid. Untuk mencapai cairan serebrospinal maka jarum suntik akan menembus kutis-subkutis-lig. Supraspinosum-lig. Interpinosum-lig. Flavum-ruang epidural-duramater-ruang subarachnoid. Anestesi spinal dilakukan untuk pembedahan pada ektremitas bawah seperti operasi debridement ulkus pedis. Kata kunci : anestesi spinal, debridement, ulkus pedis Isi Ibu S, 46 tahun didiagnosis dengan ulkus diabetes. Ny, S menyangkal mempunyai riwayat asma, gangguan jantung maupun pernah menjalani pembedahan sebelumnya. Hipertensi (+), diabetes mellitus (+). Pada tanggal 30 juni Ny S menjalani tindakan debridemen dengan spinal anestesi. Tensi dan nadi awal sebelum di induksi adalah 188/91 mmHg dan nadi 111x/menit. Mulai pembiusan jam 12.30 menggunakan buvanest (bupivakain) 4ml dan morfin 0,2 ml. Diagnosis Debridement ulkus pedis Terapi Spinal anestesi dengan bupivacaine Diskusi Anestesi spinal ialah pemberian obat anestesi lokal kedalam ruang subarachnoid. Anestesi spinal diperoleh dengan cara menyuntikkan anestesi lokal kedalam ruang subarachnoid. Kelebihan utama tehnik ini adalah kemudahan dalam tindakan, peralatan yang minimal, efek samping yang minimal pada biokimia darah, menjaga level optimal dari analisa gas darah, pasien tetap sadar selama operasi dan menjaga jalan nafas, serta membutuhkan penanganan post operatif dan analgesia yang minimal.

Untuk mencapai cairan serebrospinal maka jarum suntik akan menembus kutis-subkutis-lig. Supraspinosum-lig. Interpinosum-lig. Flavum-ruang epidural-duramater-ruang subarachnoid. Medulla spinalis berada didalam kanalis spinalis dikelilingi oleh cairan serebrospinal dibungkus oleh meningens (duramater, lemak dan pleksus venosus). Pada dewasa berahir setinggi L1, pada

Teknik analgesia spinal dilakukan dengan posisi duduk atau tidur lateral dekubitus dengan tusukan pada garis tengah adalah posisi yang paling sering dikerjakan. 3. Tusukkan introduser sedalam kira 2 cm agak sedikit kearah sefal.anak L2 dan pada bayi L3. misalnya ada kelainan anatomis tulang punggung atau pasien gemuk sekali sehingga tidak teraba tonjolan prosesus spinosus. terdapat infeksi pada tempat suntikan. . menderita penyakit jantung. bakteremi ). 23 G atau 25 G dapat langsung digunakan. Buat pasien membungkuk maksimal agar procesus spinosus mudah teraba. bedah obstetri ginekologi. bedah panggul. Cara tusukkan median atau paramedian. Beri anestesik lokal pada tempat tusukan misalnya dengan lidokain 1-2% 2-3 ml. tindakan sekitar rektum-perineum. lemak dan pleksus venosus). 5. kelainan neurologis. hipovolemia berat sampai syok. Tusukkan pada L1-2 diatas berisiko trauma medula spinalis. Untuk jarum spinal besar 22 G. 4. Jika menggunakan jarum tajam irisan jarum harus sejajar dengan serat duramater. Menderita infeksi sistemik ( sepsis. Sedangkan untuk jarum 27 G dan 29 G dianjurkan penuntun jarum. L3-4 atau L4-5. Persiapan anestesi spinal seperti persiapan pada anestesi umum. kemudian masukkan jarum spinal berikut mandrinnya kelubang jarum tersebut. Perubahan posisi berlebihan dalam 30 menit pertama akan menyebabkan menyebarnya obat 1. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua crista iliaka dengan tulang punggung ialah L2-3. Pada dewasa berakhir setinggi L1. Kontra indikasi pasien seperti menolak untuk dilakukan anestesi spinal. kelainan psikis. Daerah disekitar tempat tusukan diteliti apakah akan menimbulkan kesulitan. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium.dibungkus oleh meningens (duramater. Kalau LCS tidak keluar putar jarum 90o. Anestesi spinal dilakukan pada bedah ekstremitas bawah. Medulla spinalis berada didalam kanalis spinalis dikelilingi oleh cairan serebrospinal. Sterilkan tempat tusukan dengan betadin atau alkohol. bedah urologi dan bedah abdomen bawah. 2. pada anak L2 dan pada bayi L3. Setelah dimonitor posisikan pasien. Selain itu harus pula dilakukan informed consent. menderita koagulopati dan sedang mendapat terapi antikoagulan.

bradikardi. hipoventilasi. Kab. Petunjuk Praktis Anestesiologi. RSUD Tidar. muntah. Bagian ilmu Anestesi dan Reanimasi. trauma pembuluh darah. Penulis Zaki Saidi. Muhardi et al (1989). Magelang. meningitis dan retensio urin. Persiapan anestesi spinal seperti persiapan pada anestesi umum. Daerah disekitar tempat tusukan diteliti apakah akan menimbulkan kesulitan. misalnya ada kelainan anatomis tulang punggung atau pasien gemuk sekali sehingga tidak teraba tonjolan prosesus spinosus. Jawa Tengah . Rainy. Kartini (2001). Referensi    Said. Kesimpulan Anestesi spinal ialah pemberian obat anestesi lokal kedalam ruang subarachnoid.Komplikasi yang ditemui pada anestesi seperti hipotensi. Anestesi lokal dan regional. Anestesiologi. (2011). Anestesi spinal diperoleh dengan cara menyuntikkan anestesi lokal kedalam ruang subarachnoid. trauma saraf. gangguan pendengaran.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful