SISTEM INTEGUMEN PADA IKAN DISUSUN UNTUK MEMENUHI SALAH SATU TUGAS MATA KULIAH IKHTIOLOGI

DISUSUN OLEH KELOMPOK 1 ANITA NUR AZIZAH DETA PUTRI (230110120074) IKA RAHMADHANI (230110120079) MUHAMMAD RIZKI MAULUDAN (230110120070) SATRIA RAMADHAN (230110120017) IHSAN FARIZI (230110120046) HERU PRAYOGO (230110120050) NOVEL FIRDAUS (230110120021) DONNY FERDIANSYAH (23011010090108) TRIANDA SURBAKTI (230110090056)

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS PADJAJARAN 2013

0

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang berjudul “SISTEM INTEGUMEN PADA IKAN ”

Makalah ini berisikan tentang Sistem integumen pada seluruh mahluk hidup yang merupakan bagian tubuh yang berhubungan langsung dengan lingkungan luar tempat mahluk hidup tersebut berada .

Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang “SISTEM INTEGUMEN PADA IKAN” Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini .Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Jatinangor , 12 Maret 2013

Penyusun

1

DAFTAR ISI

BAB I 1.1 PENDAHULUAN .......................................................................................................... 3 1.2 TUJUAN ......................................................................................................................... 3 BAB II 2.1 BENTUK TUBUH IKAN dan MODIFIKASINYA ....................................................... 4 2.2 SISTEM INTEGUMEN .................................................................................................. 8 2.3 STRUKTUR PENUTUP TUBUH IKAN ..................................................................... ..10 2.3.1 KULIT .......................................................................................................................... 10 2.3.2 SISIK ............................................................................................................................ 12 2.3.3 LENDIR ....................................................................................................................... 16 2.4 ORGAN CAHAYA ........................................................................................................ 17 2.5 ORGAN BERACUN ...................................................................................................... 18 BAB III KESIMPULAN ..................................................................................................................... 21 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................... 23

2

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Pengertian Ikhtiologi merupakan salah satu cabang ilmu biologi yang khusus mempelajari tentang ikan dengan segala aspek kehidupanya. Salah satu sub pokok bahasan ikhtiologi adalah sistem integumen pada ikan. Sistem integumen pada seluruh mahluk hidup merupakan bagian tubuh yang berhubungan langsung dengan lingkungan luar tempat mahluk hidup tersebut berada. Pada sistem integumen terdapat sejumlah organ atau struktur dengan fungsi yang beraneka pada bermacam-macam jenis mahluk hidup. Yang termasuk dalam sistem integumen pada ikan adalah kulit dan derivat integumen. Kulit merupakan lapisan penutup tubuh yang terdiri dari dua lapisan, yaitu epidermis pada lapisan terluar dan dermis pada lapisan dalam. Derivat integumen merupakan suatu struktur yang secara embryogenetik berasal dari salah satu atau kedua lapisan kulit yang sebenarnya.

1.2 Tujuan Ikhtiologi merupakan dasar beberapa ilmu seperti fisiologi dan reproduksi hewan air,pemanfaatan sumberdaya perairan atau teknik penangkapan ikan. Dengan mempelajari ikhtiologi diharapkan mahasiswa akan lebih mudah memahami tentang ikan dengan segala aspek kehidupanya,khususnya pada sistem integumen pada ikan.

3

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA

2.1 Bentuk tubuh ikan dan modifikasinya Bentuk tubuh pada setiap ikan sangat dipengaruhi oleh sistem rangka,sistem otot,dan habitat dimana ikan tersebut hidup. Oleh karena itu beberapa spesies ikan mengalami perubahan bentuk tubuh secara berangsur angsur mulai dari larva hingga dewasa, sehingga bentuk tubuhnya menyerupai induknya.Namun ada juga species ikan lainnya yang selama perkembangannya tidak mengalami perubahan bentuk yang tidak berarti. Secara umum bentuk ikan dibagi 2 yaitu : 1. Simetrik Bilateral Yaitu ikan yang apabila tubuh dibelah dua secara membujur atau memanjang tubuh mulai dari pertengahan ujung kepala sampai ekor akan menghasilkan dua belahan tubuh yang serupa. Bentuk tubuh seperti inin banyak dimiliki semua jenis ikan. Contohnya : ikan kerapu (Epinephelus pachyceniru), ikan mujair (Orecrhomis mossambicus).

2. Non Simetrik Bilateral Yaitu apabila ikan dibelah dua secara membujur / memanjang maka belahan tubuh sebelah kanan tidak mencerminkan/tidak sama dengan

belahan sebelah kiri. Contohnya : ikan lidah (cynoglossus lingua), ikan sebelah (psettodes erumeri).

4

Bentuk-bentuk tubuh ikan dapat dikelomppokan menjadi : 1. Bentuk tubuh pipih (Compressed)

Ikan yang berbentuk pipih atau dengan kata lain lebar tubuh jauh lebih kecil dibanding tinggi tubuh tubuh,contohnya : dan panjang ikan gurame

(Osphronemus gouramy)

2. Bentuk ikan bola (Globiform)

Ikan dengan bentuk tubuh seperti ini apabila sedang mengembang maka bentuk tubuhnya akan menyerupai bola. Contohnya : Ikan Buntal (diodon hystrix ) , ikan jebong (Abalistes stellaris)

3. Bentuk kotak (Ostrachiform)

Ikan

seperti

ini kotak.

bentuk

tubuhnya :

menyerupai

Contohnya

Whitedotted Boxfish ,yaitu ikan laut yang hidup diperairan pasifik , hindia, dan samudra pasifik.

5

4. Bentuk Panah (Sagittiform)

Tubuh

ikan

seperti

anak

panah,

kepalanya lancip/meruncing , badan memanjang kebelakang dengan

bentuk yang hampir seimbang dan ekor bercagak. Contohnya ikan alu-alu (sphyraena jello) , ikan kelah (Tor khudree), ikan kuniran (upeneus vittatis) .

5. Bentuk Ular (Anguilliform) Tubuh ikan berbentuk bulat memanjangn seperti ular dengan ukuran panjang tubuh dapat mencapai 20 kali tingginya. Contohnya : Belut (Monopterus albus) , ikan sidat (Anguilla bicolor) .

6. Bentuk Cerutu (Fusiform) Tinggi ikan hampir sama

dengan lebarnya dan kedua ujung nya hampir meruncing/ Bentukikan menyerupai cerutu dan apabila dilihat dari depan maka tubuhnya menyerupai bentuk lingkaran yang

sempurna,contohnya ikan tongkol

(Euthynnus affinis) .

6

7. Bentuk Pita (Taeniform) Tubuh ikan seperti ini berbentuk pipih mendatar dan hampir menyerupai pita. Contohnya : ikan layur (Trichiurus Savala) .

8. Bentuk kepala picak dan badan pipih (Compressed) Ikan ini bentuk kepalanya hampir pipih mendatar secara horizontal dan badannya berbetuk compressed.

Contohnya : ikan lele lokal (Clarias batrachus) , ikan lele dumbo (Clarias gariepinus).

9. Bentuk Tali (filliform) Ikan seperti ini bentuk tubuhnya menyerupai tali. Contohnya: pipefish (Pseudophallus straksii) .

7

2.2 SISTEM INTEGUMEN

Sistem integumen pada seluruh mahluk hidup merupakan bagian tubuh yang berhubungan langsung dengan lingkungan luar tempat mahluk hidup tersebut berada. Pada sistem integumen terdapat sejumlah organ atau struktur dengan fungsi yang beraneka pada bermacam-macam jenis mahluk hidup.

Yang termasuk dalam sistem integumen pada ikan adalah kulit dan derivat integumen. Kulit merupakan lapisan penutup tubuh yang terdiri dari dua lapisan, yaitu epidermis pada lapisan terluar dan dermis pada lapisan dalam. Derivat integumen merupakan suatu struktur yang secara embryogenetik berasal dari salah satu atau kedua lapisan kulit yang sebenarnya. Sistem integumen yang berhubungan langsung dengan lingkungan tempat hidup memiliki berbagai fungsi yang sangat vital pada kehidupan ikan, yaitu : 1.Pertahanan fisik Merupakan fungsi utama dari integument yaitu sebagai pertahanan pertama dari infeksi, paparan sinar ultra violet [UV] dan gesekan tubuh dengan air atau benda keras lainnya. Hal ini disebabkan karena kulit memiliki kelenjar mukosa sebagai pelindung kulit dari parasit, bakteri dan mikroorganisme merugikan lainnya serta memperkecil gesekan dengan adanya sifat mucus yang licin.

2. Keseimbangan cairan [air] Keseimbangan cairan dilakukan oleh integumen kelompok amphibian dan ikan memiliki sistem tersendiri dalam proses keseimbangan cairan yaitu dengan menggunakan insangnya.

3. Thermoregulasi Thermoregulasi dilakukan oleh vertebrata dengan jalan memasukkan dan mengeluarkan panas secara bergantian melalui aliran darah pada kulit.

4. Warna Warna yang ada pada integurnen ikan digunakan sebagai alat komunikasi, tingkah laku seksual, peringatan dan penyamaran untuk mengelabui predator. Warna yang dihasilkan akan berbeda-beda yang disebabkan karena perbedaan

8

tempat hidup dari ikan tersebut. Pada open-water fishes, warna tubuh ikan terbagi atas warna keperakan dibagian ventral dan warna iridescent biru atau hijau di bagian dorsal [countershading]. Ada tiga macam warna dominan ikan yang hidup dilautan, yaitu keperakan bagi ikan yang hidup di permukaan laut, kemerahan pada ikan yang hidup di daerah tengah perairan dan violet atau gelap pada ikan yang hidup di dasar perairan.

5. Pergerakan Pergerakan ikan dipengaruhi pula oleh keberadaan sisik yang membantu dalam meningkatkan kemampuan berenang ikan yang menghadapi halangan kuat.

6. Respirasi Respirasi ikan tidak menggunakan kulit sebagai sarananya tetapi dilakukan oleh golongan Amphibian. Hal ini dilakukan karena kulit merupakan lapisan yang relatif tipis, selalu basah dan terdapat banyak pembuluh darah sehingga pertukaranoksigen dan karbondioksida dapat berlangsung.

7. Kelenjar kulit Pada kulit terdapat kelenjar yang memungkinkan ikan dapat mengeluarkan pheromone untuk menarik pasangannya dan sebagai alat untuk menetapkan daerah teritorial. Selain itu, kelenjar kulit juga dapat menghasilkan zat-zat racun yang berguna untuk mencari mangsa ataupun untuk pertahanan diri dari predator.

8. Keseimbangan garam [homeostatis] pada ikan dilakukan pada kulit dan insang yaitu dengan pengaturan kadar garam cairan tubuh ikan [osmoregulasi] sehingga cairan dalam tubuh akan tetap stabil sesuai dengan lingkungan dimana ikan berada. Pada ikan yang hidup di laut,kulit akan menjaga pengeluaran cairan dalam tubuh yang berlebihan sedangkan pada ikan yang hidup di perairan tawar, kulit akan mengatur agar cairan dari luar tubuh tidak terlalu banyak yang masuk ke dalam tubuh. Selain itu, kulit berperan dalam proses ekskresi hasil metabolisme yang dilakukan oleh tubuh.

9

9. Organ indera Kulit memiliki sel-sel yang berfungsi sebagai reseptor dari stimulus lingkungan, misalnya panas, sakit dan sentuhan. Derivat integumen seperti barbels dan flaps memiliki sel-sel syaraf sebagai indera. Barbels berfungsi sebagai alat bantu makan dan mengandung organ-organ sensory serta sebagai alat untuk kamuflase pada ikan demikian juga flaps. Barbels ini ada yang berbentuk seperti alga. Letak dari barbels ada pada hidung, bibir, dagu, sudut mulut dengan bentuk rambut, pecut, sembulan, bulu dan lain-lain.

2.3 STRUKTUR PENUTUP TUBUH IKAN

Kulit ikan terdiri dari dua lapisan ,bagian luar adalah epidermis,dan batin,dermis/colium. Epidermis ikan mirip dalam banyak hal dalam lapisan mulut manusia,biasanya adalah komposet dangkal dari beberapa lapisan diratakan,sel-sel epitel lembab. Lapisan terdalam adalah zona pertumbuhan sel aktif dan stratum germinativum. Sel berlangsung sepanjang waktu untuk mengganti dari dalam lapisan terluar dari sel seperti yang memudar dan menyediakan untuk pertumbuhan. Sel-sel epitel dari epidermis adalah yang pertama untuk menutup luka permukaan. Lapisan derma kulit mengandung pembuluh darah, saraf,organ-organ indera kulit, dan jaringan ikat. Serat-serat jaringan ikat yang mengikat kulit ke otot dan tulang yang mendasari sangat jelas. Dermis memainkan peran utama dalam pembentukan skala dan yang berkaitan dengan struktur kulit.

2.3.1 KULIT

Kulit merupakan pembungkus luar dan berfungsi sebagai alat pertahanan pertama terhadap serangan penyakit serta juga dapat mencegah pengaruh faktorfaktor luar terhadap tubuh ikan. Kulit juga merupakan sistem pembalut tubuh yang terdiri dari kulit dan derivat-derivatnya. Derivat sisi ikan antara lain gigi

10

ikan hiu, jari-jari sirip, scute (penebalan pada linealateralis), finlet (siripkecil), keel (gerigikecil) dan beberapa keping tulang tengkorak . Dalam beberapa hal, kulit juga dapat berfungsi osmoregulasi. Kulit terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan luar yang disebut epidermis dan lapisan dalam yang disebut dermis atau corium.  Epidermis merupakan bagian tubuh yang berhubungan langsung dengan lingkungan dan sistem somatis, mempunyai sejarah evolusi yang kompleks. Integumen sekalian hewan merupakan lapisan protektif yang menjaga lalulintas air dan zat-zat yang terlarut di dalamnya secara bebas. Epidermis tidak dilengkapi dengan pembuluh-pembuluh darah, keperluan metabolisme diperoleh secara difusi, karena itu kecenderungan dari sel-sel yang paling di luar untuk menjadi mati dan lepas sangat besar sekali. Epidermis bagian dalam terdapat lapisan sel yang disebut stratum germinativum (lapisan malphigi). Lapisan ini sangat giat dalam melakukan pembelahan untuk menggantikan sel-sel bagian luar yang lepas dan untuk persediaan pengembangan tubuh. Epidermis selalu basah karena adanya lendir yang dihasilkan oleh sel-sel yang sebagai alat respirasi, alat ekskresi, dan alat

dalam terdiri dari lapisan sel yang selalu giat mengadakan pembelahan untuk mengantikan sel-sel sebelah luar yang lepas dan untuk persediaan pengembangan tubuh. Lapisan ini dinamakan stratum germinativum (lapisan Malphigi).  Lapisan dermis berperan dalam pembentukan sisik pada ikan yang bersisik, dan derivat-derivat kulit lainnya. Pada dermis ini terkandung pembuluh darah, saraf dan jaringan pengikat. Asal mula terbentuknya dermis ini belum banyak diketahui; diperkirakan bahwa jaringan ikat di bawah epidermis dulunya berubah, terutama sekali menjadi tulang pada hewan nenek moyang vertebrata, seperti yang terlihat pada fosil-fosil Ostracodermi yang mempunyai prisai-prisai tulang pada kulitnya, yang pertumbuhannya sangat baik.

11

 FungsiKulit :  a. Alat pertahanan pertama pada penyakit b. Perlindungan dan penyesuaian diri terhadap faktor lingkungan (linealateralis sebagai organ sensori) c. Alat eksresi dan osmoregulasi d. Alat pernafasan tambahan pada beberapa jenis ikan  Beberapa alat yang terdapat dalam kulit : a. Kelenjar racun, sumber pewarnaan, sumber cahaya, kelenjar mucous (lendir) sehingga licin & berbau khas. b. Alat tersebut untuk mempertahankan diri dan untuk menyerang

2.3.2 S I S I K Ikan yang bersisik keras biasanya ditemukan pada golongan ikan primitive, sedangkan pada ikan modern, kekerasan sisiknya sudah fleksibel. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh jenis bahan yang dikandungnya. Sisik dibuat di dalam dermis sehingga sering diistilahkan sebagai rangka dermis.

Di samping ikan bersisik terdapat pula ikan yang sama sekali tidak bersisik, di temukan pada ikan lajur (Trichiurus, Lepturancanthus, Demissolinea), ikan sub-ordo Siluroidea (Pegasius, Clarias, Fluta alba). Sebagai suatu kompensasi dari tidak terdapatnya lendir pada tubuhnya, mereka memiliki lendir yang lebih tebal sehingga badannya menjadi lebih licin. Ada beberapa jenis ikan yang hanya ditemukan sisik pada bagian tubuh tertentu saja. Seperti “paddle fish”, ikan yang hanya ditemukan sisik pada bagian operculum dan ekor. Dan adapula yang hanya ditemukan sepanjang linea lateralis. Ikan sidat (Anguilla) yang terlihat seperti tidak bersisik, sebenarnya bersisik tetapi sisiknya kecil dan dilapisi lendir yang tebal.

12

Berdasarkan bentuk dan bahan yang terkandung di dalamnya, sisik ikan dapat dibedakan menjadi lima jenis, yaitu Placoid, Cosmoid, Ganoid, Cycloid dan Ctenoid.

a. Sisik Placoid Jenis sisik ini karakteristik bagi golongan ikan bertulang rawan (Chondrichthyes). Bentuk sisik tersebut menyerupai bunga mawar dengan dasar yang bulat atau bujur sangkar. Sisik macam ini terdiri dari keping basal yang letaknya terbenam di bagian dermis kulit, dan suatu bagian yang menonjol berupa duri keluar dari permukaan epidermis. Sisik tersebut merupakan struktur exoskeleton yang primitive yang mempunyai titik perkembangan menuju ke lembaran sisik yang biasa terdapat pada osteichthyes yang terdiri atas lempeng dasar, tangkai sentral dan duri. Bagian yang lunak dari sisik ini (pulp) berisikan pembuluh darah dan saraf yang berasal dari dermis. Sisik placoid dibangunkan oleh dentine sehinnga sering disebut dermal denticle yang di dalamnya terdapat rongga pulpa. Pertumbuhan dari sisik placoid menyerupai pertumbuhan gigi, yaitu dimulai dengan adanya pengelompokan dari sel-sel dermis yang seterusnya akan tumbuh menjadi lebih nyata membentuk papila dermis yang mendesak epidermis yang ada di sebelah permukaan. Gigi ikan hiu merupakan derivate dari sisik.

b. Sisik Cosmoid Sisik ini hanya ditemukan pada ikan fosil dan ikan primitive yang sudah punah dari kelompok Crossopterygii dan Dipnoi. Sisik ikan ini terdiri dari beberapa lapisan, yang berturut-turut dari luar adalah vitrodentine, yang dilapisi semacam enamel, kemudian cosmine yang merupakan lapisan terkuat dan noncellular, terakhir isopedine yang materialnya terdiri dari substansi tulang. Pertumbuhan sisik ini hanya pada bagian bawah, sedangkan pada bagian atas tidak terdapat selsel hidup yang menutup prmukaan. Tipe sisik ini ditemukan pada jenis ikan Latimeria chalumnae.

13

c. Sisik Ganoid Jenis sisik ini dimiliki oleh ikan-ikan Lepidosteus (Holostei) dan

Scaphyrynchus (Chondrostei). Sisik ini terdiri dari beberapa lapisan yakni lapisan terluar disebut ganoine yang materialnya berupa garam-garam an-organik, kemudian lapisan berikutnya dalah cosmine, dan lapisan yang paling dalam adalah isopedine. Pertumbuhan sisik ini dari bagian bawah dan bagian atas. Ikan bersisik type ini adalah antara lain, Polypterus, Lepisostidae, Acipenceridae dan Polyodontidae.

d.Sisik Cycloid dan Ctenoid Sisik ini ditemukan pada golongan ikan teleostei, yang masing-masing terdapat pada golongan ikan berjari-jari lemah (Malacoptrerygii) dan golongan ikan berjari-jari keras (Acanthopterygii). Perbedaan antara sisik cycloid dengan ctenoid hanya meliputi adanya sejumlah duri-duri halus yang disebut ctenii beberapa baris di bagian posteriornya. Pertumbuhan pada tipe sisik ini adalah bagian atas dan bawah, tidak mengandung dentine atau enamel dan kepipihannya sudah tereduksi menjadi lebih tipis, fleksibel dan transparan. Penempelannya secara tertanam ke dalam sebuah kantung kecil di dalam dermis dengan susunan seperti genting yang dapat mengurangi gesekan dengan air sehingga dapat berenang lebih cepat. Sisik yang terlihat adalah bagian belakang (posterior) yang berwarna lebih gelap daripada bagian depan (anterior) karena bagian posteriornya mengandung butirbutir pigmen (chromatophore). Bagian anterior (terutama pada bagian tubuh) transparan dan tidak berwarna. Perbedaan antara tipe sisik cycloid dengan ctenoid adalah pada bagian posterior sisik ctenoid dilengkapi dengan ctenii (gerigi kecil). Focus merupakan titik awal perkembangan sisik dan biasanya berkedudukan di tengah-tengah sisik.

14

 Pigmen Warna

Ikan-ikan yang hidup di perairan bebas seperti tenggiri (Scomberomorus commersoni) dan lain-lain mempunyai warna tubuh yang sederhana, bertingkat dari keputih-putihan pada bagian perut, keperak-perakan pada sisi tubuh bagian bawah sampai kebiru-biruan atau kehijau-hijauan pada sisi atas dan

kehitamhitaman pada bagian punggungnya. Ikan yang hidup didaerah dasar, bagian dasar perutnya bewarna pucat dan bagian punggungnya bewarna gelap. Warna tubuh yang cemerlang dan cantik biasanya dimiliki oleh ikan-ikan yang hidup di sekitar karang, misalnya ikan-ikan yang termaksud kedalam familia Apogonidae, Chaetodontidae, Achanturidae, dan sebagainya. Umumnya ikan laut yang hidup dilapisan atas bewarna keperak-perakan, dibagian tengah kemerahmerahan dan dibagian bawah ungu atau hitam. Warna ikan tersebut dikarenakan oleh schemachrome (karena konfigurasi fisik) dan biochrome ( pigmen pembawa warna). Schemachrome putih terdapat pada rangka, gelembung renang sisik; biru dan ungu pada iris mata; warna-warna pelangi pada sisik, mata dan membran usus.

Yang termasuk biochrome ialah : 1. Carotenoid; berwarna kuning, merah dan corak lainnya. 2. Chromolipoid; berwarna kuning sampai coklat. 3. Indigoid; berwarna biru, merah dan hijau. 4. Melanin; kebanyakan berwarna hitam atau coklat. 5. Porphyrin atau pigmen empedu; berwarna merah, kuning, hijau, biru dan coklat. 6. Flavin; berwarna kuning tetapi sering dengan fluoresensi kehijau-hijauan 7. Purin; berwarna putih atau keperak-perakan. 8. Pterin; berwarna putih, kuning, merah dan jingga .

15

Sel khusus yang memberikan warna pada ikan ada dua macam yaitu : • Iridocyte (leucophore dan guanophore) Sel ini dinamakan juga sel cermin karena mengandung bahan yang dapat memantulkan warna di luar tubuh ikan. Bahan yang terkandung dalam sel cermin antara lain guanin kristal (warna keputih-putihan) sebagai hasil buangan metabolisme.

• Chromatophore terdapat di dalam dermis Sel ini mempunyai butir-butir pigmen yang merupakan sumber warna sesungguhnya. Butir pigmen ini dapat menyebar ke seluruh sel atau mengumpul pada suatu titik. Gerakan inilah yang menyebabkan perubahan warna pada ikan. Jika butir-butir pigmen mengumpul pada suatu titik maka warna yang dihasilkan secara keseluruhan nampak pucat. Sedangkan jika butir pigmen menyebar, maka warna akan terlihat jelas tergantung pada butir pigmen tersebut. Ummnya satu warna khas tergantung pada kombinasi chromatophore dasar yang mengandung satu warna. Chromatophore dasar ada empat jenis yaitu erythrophore (merah dan jingga), xanthophore (kuning), melanophore (hitam), dan leucophore (putih).

2.3.3 Lendir Lendir pada ikan dihasilkan oleh kelenjar lendir yang terdapat pada bagian epidermis kulit. Kelenjar ini menghasilkan mucin (glikoprotein) yang jika bercampur dengan air akan membentuk lendir. Fungsi lendir pada ikan antara lain: a. untuk mengurangi gesekan b. untuk mencegah infeksi c. untuk mencegah kekeringan d. untuk mempertahankan diri e. untuk membantu dalam proses reproduksi f. untuk osmoregulasi

16

2.4 Organ Cahaya

Cahaya yang dikeluarkan oleh jasad hidup dinamakan bioluminescens, yang umumnya bewarna biru atau biru kehijau-hijauan. Terdapat dua sumber cahaya yang dikeluarkan oleh ikan dan keduanya terdapat pada kulit, yaitu warna yang dikeluarkan oleh bakteri yang bersimbiosis dengan ikan dan cahaya yang dikeluarkan oleh ikan itu sendiri. Ikan-ikan yang dapat mengeluaran cahaya umumnya tinggal di bagian laut dalam dan hanya sedikit yang hidup diperairan dangkal. Sebagian dari padanya bergerak ke permukaan untuk ruaya makanan. Dimiliki oleh ikan yang hidup di laut dalam yang terletak antara 300 – 1000 meter dibawah permukaan laut. Sel pada kulit ikan yang dapat mengeluarkan cahaya disebut sel cahaya atau photophore (photocyt). Ini biasanya terdapat pada golongan Elasmobranchii (Sphinax, Etmopterus, Bathobathis moresbyi) dan Teleostei (Stomiatidae, Hyctophiformes, Batrachoididae). Cahaya yang dikeluarkan oleh bakteri yang hidup bersimbiosis dengan ikan, misalnya terdapat pada ikan-ikan dari famili Macroridae, Gadidae, Honcentridae, Anomalopodidae, Leiognathidae, Serranidae, dan Saccopharyngidae. Di Laut Banda ikan leweri batu (Photoblepharon palpebatrus) dan leweri air (Anomalops katoptron), yang keduanya termaksud kedalam famili Anomalopodidae, mempunyai bakteri cahaya yang terletak dibawah matanya. Kedua ikan tersebut hidup di perairan dangkal. Anomalops mengeluarkan cahaya yang berkedap-kedip secara teratur yang dikendalikan oleh organ cahaya yang keluar masuk suatu kantong pigmen hitam dibawah mata. Photoblepharon menunujukan suatu cahaya yang menyala terus, tetapi dapat pula dipadamkan oleh suatu lipatan jaringan hitam yang menutupiorgan cahayanya. Bakteri yang dapat mengeluarkan cahaya terdapat didalam kantung kelenjar di epidermis. Pemantulan cahaya yang dikeluarkan oleh bakteri diatur oleh jaringan yang berfungsi sebagai lensa. Pada bagian yang berlawanan dengan lensa banyak pigmen yang berfungsi sebagai pemantul. Ada juga kelenjar yang berisi bakteri itu dikelilingi oleh sel-sel pigmen itu seluruhnya. Pemencaran cahaya yang dikeluarkan oleh bakteri diatur oleh konstraksi pigmen yang berfungsi sebagai iris mata.

17

Pada ikan Malacocephalus (yang hidup di laut dalam), pengeluaran cahayanya mempunyai peranan dalam pemijahan. Kekuatan cahayanya dapat menerangi sejauh 10 meter dengan panjang gelombang 410 – 600 mikrometer. Pada musim pemijahan, bila ikan jantan bertemu dengan ikan betina, maka si jantan akan membimbing betinanya untuk mencari tempat yang baik untuk berpijah. Cahaya yang dikeluarkan oleh ikan jantan dipakai sebagai isyarat untuk diikuti si jantan. “Anglor fish”(Linophyrin brevibarbis), yang terdapat didasar laut, mempunyai tentakel yang bercahaya. Diduga ikan ini mempunyai kultur bakteri yang terdapat pada kulitnya. Tentakel yang ujungnya mempunyai jaringan yang membesar itu digosokan di atas kultur bakteri tersebut, sehingga bakteri yang bercahaya terbawa oleh tentakel untuk menarik perhatian mangsanya. Jadi fungsi organ cahaya pada ikan ialah sebagai tanda pengenal individu ikan sejenis untuk memikat mangsa, menerangi lingkungan sejenis, mengejutkan musuh, dan melarikan diri, sebagai penyesuaian ketidak adaan sinar di laut dalam dan diduga sebagai ciri ikan beracun.

2.5 Organ Beracun Kelenjar beracun merupakan derivat kulit yang merupakan modifikasi kelenjar yang mengeluarkan lendir. Kelenjar beracun ini bukan saja dipergunakan untuk pertahanan diri, tetapi juga untuk menyerang dan mencari makan. Studi tentang racun ikan ini dinamakan ichthyotoxisme, yang meliputi

ichthyosarcotoxisme (mempelajari berbagai macam keracunan akibat memakan ikan beracun) dan ichthyoacanthotoxisme (mempelajari sengatan ikan berbisa). Jadi ichthyotoxisme tidak terbatas mempelajari yang dikeluarkan oleh kulit saja, melainkan racun yang berasal dari organ-organ lain dan gejala keracunan dengan segala aspek-aspeknya. Ikan-ikan yang sistem integumennya mengandung kelenjar beracun antara lain ikan-ikan yang hidup disekitar karang, ikan lele dan sebangsanya (Siluroidea), dan golongan Elasmobranchii (Dasyatidae,

Chimaeridae, Myliobathidae). Beberapa jenis ikan buntal (Tetraodontidae) juga terkenal beracun, tetapi racunnya bukan berasal dari sistem integumennya, melainkan dari kelenjar empedu.

18

Ikan lepu ayam ( Pterois volitans dan Pterois russelli ) mempunyai alat beracun yang terdiri dari 13 jari-jari keras sirip punggung, 3 jari-jari keras sirip dubur dan 2 jari-jari keras sirip perut. Jari-jari kerasnya berbentuk panjang, lurus, ramping dan indah warnanya. Pada bagian sisi kiri kanan jari-jari keras tersebut terdapat celah yang terbuka sehingga membentuk saluran. Jari-jari keras ini dilapisi oleh selaput integumen. Pada ikan lepu angin (Scorpaena guttata) alat beracunnya terdiri dari12 jari-jari keras sirip punggung, 3 jari-jari keras sirip dubur dan 2 jari-jari keras sirip perut. Ikan lepu tembaga, Synanceja horrida, mempunyai racun yang dapat mematikan manusia. Racunnya ini terdapat pada 13 jari-jari keras sirip punggung, 3 jari-jari keras sirip dubur dan 2 jari-jari keras sirip perut. Ikan lepu tembaga yang paling ditakuti oleh para nelayan. Badannya berbintil-bintil dengan warna kecoklatan. Ikan lepu tembaga tinggal di dasar perairan yang dangkal berpasir atau berkarang, dan di daerah yang terdapat vegetasi umpamanya samo-samo (Enhalus acoroides ).Gerakannya lamban dan pada siang hari hanya berdiam diri dalam waktu yang lama. Permukaan tubuhnya yang mempunyai warna yang mirip benar dengan dasar perairan dan bentuknya yang mirip batu menjadikan ikan ini sukar dilihat. Kadang-kadang kulitnya ditutupi pasir atau bahan lainnya.Dibandingkan dengan lepu ayam dan lepu angin, ikan lepu tembaga mempunyai jari-jari keras beracun yang lebih pendek dan kukuh. Ikan baronang (Siganus) mempunyai kelenjar beracun yang terdapat pada 13 jari-jari keras sirip punggung, 4 jari-jari keras sirip perut dan 7 jari-jari keras sirip dubur. Kantung kelenjar pada Siluroidea umumnya terdapat pada dasar jari-jari keras sirip punggung dan dada, yang dilengkapi gerigi yang membengkok ke dalam. Bila kantung kelenjar tertekan oleh jari-jari siripnya akan mengeluarkan cairan yang beracun melalui sebuah alur yang terdapat pada jari-jari keras tersebut dan diteruskan ke dalam luka. Beberapa anggota Siluroidea misalnya: sembilang (Plotosus canius), lele (Clarias batrachus).

19

Kelenjar beracun ikan pari (Dasyatis) terdapat pada duri di ekornya. Duri ini tersusun dari bahan yang disebut vasodentino. Sepanjang kedua sisi duri tersebut terdapat gerigi yang bongkok ke belakang. Duri tersebut ditandai oleh adanya sejumlah alur yang dangkal sepanjang duri. Sepanjang tepi alur, pada bagian bawah duri, didapatkan satu celah yang dalam. Jika diamati dengan teliti maka pada celah ini akan tampak berisikan suatu jalur berupa jaringan kelabu, “spongy“, lembut meluas sepanjang celah. Racun dihasilkan oleh jaringan ini, meskipun jumlahnya lebih sedikit dari pada yang dihasilkan oleh bagian lain dari selaput integumen dan bagian khusus tertentu kulit pada ekor yang terletak didekat duri. Celah ini berfungsi melindungi jaringan kelenjar .Mengingat adanya racun pada duri ikan pari, maka para nelayan akan membuang duri tersebut segera setelah ikan tertangkap untuk mencegah halhal yang tidak diinginkan.

20

BAB 3 KESIMPULAN

Sistem Integumen adalah sistem organ yang membedakan, memisahkan, melindungi, dan menginformasikan hewan terhadap lingkungan sekitarnya. Organ integumen yang terdapat pada ikan (pisces) seperti kulit, lendir, pigmen warna, organ cahaya, kelenjar beracun. Kulit merupakan pembungkus luar dan berfungsi sebagai alat pertahanan pertama terhadap serangan penyakit serta juga dapat mencegah pengaruh faktorfaktor luar terhadap tubuh ikan. Kulit juga merupakan sistem pembalut tubuh yang terdiri dari kulit dan derivat-derivatnya. Derivat sisi ikan antara lain gigi ikan hiu, jari-jari sirip, scute (penebalan pada linealateralis), finlet (siripkecil), keel (gerigikecil) dan beberapa keping tulang tengkorak . Dalam beberapa hal, kulit juga dapat berfungsi sebagai alat respirasi, alat ekskresi, dan alat

osmoregulasi. Struktur kulit dibagi menjadi dua, yang pertama epidermis yaitu kuloit bagian luar, dan dermis kulit bagian dalam. Ikan yang bersisik keras biasanya ditemukan pada golongan ikan primitive, sedangkan pada ikan modern, kekerasan sisiknya sudah fleksibel. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh jenis bahan yang dikandungnya. Sisik dibuat di dalam dermis sehingga sering diistilahkan sebagai rangka dermis.Berdasarkan bentuk dan bahan yang terkandung di dalamnya, sisik ikan dapat dibedakan menjadi lima jenis, yaitu Placoid, Cosmoid, ganoid, Cycloid dan Ctenoid. Lendir yaitu zat (semacam glycoprotein) yang dinamakan mucin.Apabila bersentuhan dengan air membentuk lendir yang terdapat pada ikan yang tidak bersisik lebih tebal dari pada ikan yang bersisik. Sisik merupakan mmerupakan bagian dari rangka dermis karena dibuat dari lapisan dermis. Bentuk dan bahan yang dikandung sisik ikan dibedakan menjadi 5 jenis yaitu cosmoid contohnya ikan coelacanth (catemeria chalumnae), placoid hewan bertulang rawan (chondrichthyes), ganoid, cycloid, stenoid.

21

Beragamnya warna dari bermacam – macam jenis ikan diakibatkan oleh schemachrom (konfigurasi fisik), biochrome (pigmen pembawa warna), iridocyte (sel cermin karena dapat memantulkan warna dari luar tubuh), cromatophore (butiran – butiran pigmen merupakan sumber warna sesungguhnya). Organ cahaya pada jasad hidup atau disebut biolumines. Cahaya yang dikeluarkan oleh ikan terdapat dua sumber pada kulit yaitu dikeluarkan oleh bakteri yang bersimbiosis dengan ikan seperti ikan lemeri batu dan lemeri air, dan cahaya yang dikeluarkan sendiri oleh ikan contohnya ikan malacocephalus.

22

DAFTAR PUSTAKA

http://otakmuda.blogspot.com/2010/10/bentuk-bentuk-tubuh-ikan.html (diakses pada tanggal 11 Maret 2013 16.50)
http://isnanbio.blogspot.com/2009/11/sistem-integumen-padapisces.html#ixzz2MxBSc700

(diakses pada tanggal 11 maret 2013 17.00) Djamali, A., Burhanuddin, dan M. Hutomo. 1994. Fauna Ikan-ikan Laut Berbisa dan Beracun di Indonesia. Proyek Pemasyarakatan dan Pembudayaan IPTEK, Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta. Moyle, P.B. and J.J. Cech, Jr. 1988.Fishes.An Introduction to Ichthyology. Second edition. Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey.

Karl F.Lagler.1988.Ichtyology.canada

23

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful