Penegakan Diagnosis Angina Ludwig Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. 1.

Anamnesa Gejala awal biasanya merupakan nyeri pada area gigi yang terinfeksi. Dagu terasa tegang dan nyeri saat menggerakkan lidah. Penderita mungkin akan mengalami kesulitan membuka mulut, berbicara, dan menelan, yang mengakibatkan keluarnya air liur teus-menerus serta kesulitan bernapas. Penderita juga dilaporkan mengalami kesulitan makan dan minum. Dapat dijumpai demam dan rasa menggigil. 2. Pemeriksaan Fisik Dasar mulut akan terlhat merah dan membengkak. Saat infeksi menyebar ke belakang mulut, peradangan pada dasar mulut akan menyebabkan lidah terdorong ke atas-belakang sehingga menyumbat jalan napas. Jika laring ikut membengkak, saat bernapas akan terdengar suara tinggi (stridor). Biasanya penderita akan mengalami dehidrasi akibat kurangnya cairan yang diminum maupun makanan yang dimakan. Demam tinggi mungkin ditemui, yang mengindikasikan adanya infeksi sistemik. 3. Pemeriksaan Penunjang Meskipun diagnosis angina ludwig dapat diketahui berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik, beberapa metode pemeriksaan penunjang seperti laboratorium, radiografi, USG, CT Scan, dan MRI dapat berguna untuk menegakkan diagnosis. 1. Laboratorium  Pemeriksaan darah : tampak leukositas yang mengindikasikan adanya infeksi akut. Pemeriksaan waktu bekuan darah penting untuk dilakukan tindakan insisi drainase.  Pemeriksaan kultur dan sensitivitas : untuk menentukan bakteri yang menginfeksi (aerob dan/atau anaerob) serta menentukan antibiotik dalam terapi. 2. Radiografi Walaupun radiografi foto polos daroi leher kurang berperan dalam mendiagnosis atau menilai dalamnya abses leher, foto polos ini dapat menunjukkan luasnya pembengkakan jaringan lunak. Radiografi dada dapat menun jukkan perluasan proses infeksi ke mediastinum dan paru-paru. Foto

panoramik rahang dapat membantu menentukan letak fokal infeksi atau abses. serta metastasis dari abses. USG dapat membantu diagnosis pada anak karena bersifat noninvasif dan nonradiasi. Gambar 1. serta struktur tulng rahang yang terinfeksi. . Radiografi menunjukkan adanya pembengkakan supraglotik (tanda panah) (2). CT-Scan CT-Scan dapat memberikan evaluasi radiologik terbaik pada abses leher dalam. 3. 4. penyebaran infeksi serta derajat obstruksi jalan napas sehingga dapat membantu dalam memutuskan kapan dibuthkannya pernapasan buatan. CT-Scan dapat mendeteksi akumulasi cairan. USG USG dapat menunjukkan lokasi dan ukuran pus. USG juga membantu pengarahan aspirasi jarum untuk menentukan letak abses.

Hospital Phisician. 2. 1. p. CT-Scan menunjukkan adanya pembengkakan supraglotik dan adanya udara yang terjebak pada soft tissue. MRI MRI menyediakan resolusi lebih baik untuk jaringan lunak dibandingkan dengan CT-Scan. (2) 5. . Vol. 31-37. Lemonick. December 2003. Journal of the American Academy of Nurse Practitioners. 15. DM. Namun.Gambar 2. Angina ludwigs : Diagnosis and treatment. MRI memilik kekurangan dalam prosesnya yang lebih lama sehingga membahayakan bagi pasien yang mengalami kesulitan dalam bernapas. S. 2002. Winters. A review of ludwig’s angina for nurse practitioners.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful