I.

Pengalaman Pasien umur 11 tahun datang ke poliklinik THT dengan keluhan merasa amandel besar dan terasa mengganjal pada tenggorokan yang dirasakan sejak 1 HSMRS, rasa mengganjal ini juga pernah dirasakan 1 bulan SMRS. Pasien juga mengeluhkan rasa tidak nyaman saat menelan, batuk, pilek, sejak 3 HSMRS dan sering demam sejak 1 tahun terakhir ini. Keluhan dirasakan kambuh-kambuhan. Nyeri tenggorokan, nyeri menelan, gangguan suara, dan sesak nafas tidak dikeluhkan oleh pasien. Nenek pasien mengatakan sudah 3 tahun terakhir ini ketika pasien tidur mendengkur, sudah pernah diperiksakan ke dokter, keluhan membaik namun kemudian tidak lama kambuh lagi. Adanya telinga berdengung, cairan yang keluar dari telinga, gangguan pendengaran serta rasa tidak enak di telinga disangkal. Riwayat sering makan pedas (+), minum es (+), terpapar asap rokok (+) dari kakek. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, kesadaran compos mentis. Pemeriksaan vital sign nadi 112 x/menit (isi dan tegangan cukup, reguler), respirasi 16 x/menit, suhu 37,2 oC. Pemeriksaan status lokalis THT tenggorokan memperlihatkan pembesaran tonsil bilateral T4T4 tidak hiperemis, permukaan tidak rata, kripte yang melebar. Uvula tampak cenderung menempel ke arah tonsil kiri. Mukosa kavum oris dan faring dalam batas normal. Terdapat pembesaran limfonodi submandibula

1

Tonsilitis kronis dengan pembengkakan tonsil yang terlalu besar. Masalah yang dikaji Apakah bahaya dari tonsilitis kronis hipertrofi? III. Adapun komplikasi yang dapat timbul dari tonsilitis kronik dapat terjadi secara perkontinuitatum ke daerah sekitar atau secara hematogen/limfogen ke organ yang jauh dari tonsil. II. dapat mengakibatkan sakit tenggorokan kronis atau berulang. nyeri tekan (-). Tonsilitis kronis yang terjadi pada anak dapat disebabkan karena sering menderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) atau karena tonsilitis akut yang tidak diobati dengan tepat atau dibiarkan saja. ini yang dapat membahayakan pasien ataupun dapat memunculkan komplikasi. yang biasanya diperlukan pembedahan atau operasi untuk mengangkat tonsil. Penanganan tonsilitis kronik harus dilakukan secara tepat dan cepat agar tidak menimbulkan komplikasi yang lebih lanjut. Pembahasan Tonsilitis kronis merupakan peradangan kronis tonsila palatina lebih dari 3 bulan.dextra. Pemeriksaan rhinoskopi anterior dalam batas normal. gangguan menelan. 2 . setelah serangan akut yang terjadi berulang-ulang atau infeksi subklinis. terganggunya / tersumbatnya jalan pernapasan bagian atas yang ditandai dengan dengkuran hingga terhentinya jalan pernapasan saat tidur. bau mulut.

Dijumpai nyeri lokal dan disfagia yang bermakna. Penatalaksanaan yaitu dengan pemberian antibiotika dan drainase abses jika diperlukan. Abses dapat dievakuasi melalui insisi servikal . c. indurasi atau pembengkakan di sekitar angulus mandibula. Abses biasanya terdapat pada daerah antara kapsul tonsil dan otot-otot yang mengelilingi faringeal bed. Abses parafaring Gejala utama adalah trismus.1. odinofagi yang berat dan trismus. Abses intratonsilar. Merupakan akumulasi pus yang berada dalam substansi tonsil. 3 . Gejala penderita adalah malaise yang bermakna. b. Hal ini paling sering terjadi pada penderita dengan serangan berulang. selanjutnya dilakukan tonsilektomi. demam tinggi dan pembengkakan dinding lateral faring sehingga menonjol kearah medial. Tonsil terlihat membesar dan merah. Di sekitar tonsil a. Abses peritonsil Infeksi dapat meluas menuju kapsul tonsil dan mengenai jaringan sekitarnya. Diagnosa dikonfirmasi dengan melakukan aspirasi abses. Biasanya diikuti dengan penutupan kripta pada Tonsilitis Folikular akut.

2. Batu tersebut dapat membesar secara bertahap dan kemudian terjadi ulserasi dari tonsil.d. Tonsilolith (kalkulus tonsil) Tonsilolith dapat ditemukan pada tonsilitis kronis apabila kripta diblokade oleh sisa-sisa debris. Kista tonsilar Disebabkan oleh blokade kripta tonsil dan terlihat sebagai pembesaran kekuningan diatas tonsil. Keadaan ini lebih sering terjadi pada orang dewasa dan menambah rasa tidak nyaman lokal atau foreign body sensation. Komplikasi ke organ jauh yang dapat menyebar secara hematogen dan limfogen. Hal ini didiagnosa dengan melakukan palpasi atau ditemukannya permukaan yang tidak rata pada perabaan. e. Sangat sering terjadi tanpa disertai gejala. Demam rematik dan penyakit jantung rematik Adanya peradangan baik pada tonsil maupun faring yang kebanyakan disebabkan oleh streptokokkus hemolitikus yang terjadi antara 2-3 minggu akan menyebabkan kadar antibody antigen streptokokkus tinggi (antistreptolisin O. a. anti-Dnase. antihialuronidase) hal ini akan menyebabkan respon 4 . Dapat dengan mudah didrainasi. Garam inorganik kalsium dan magnesium kemudian tersimpan yang memicu terbentuknya batu.

b. Glomerulonefritis Dalam suatu penelitian dilaporkan bahwa anti streptokokkal antibodi meningkat pada 43% penderita glomerulonefritis dan 33% diantaranya mendapatkan kuman streptokokkus beta hemolitikus pada swab tonsil yang merupakan kuman terbanyak pada tonsil dan faring. poliartritis. IV. hal inilah yang dapat menjadi salah satu faktor penyebab demam reumatik yang nantinya dapat memunculkan tanda-tanda seperti nodul rematik subkutan. Hasil tersebut mengindikasikan kemungkinan infeksi tonsil menjadi patogenesis terjadinya penyakit glomerulonefritis. c. DA : 11 tahun : Pelajar kelas 5 SD : Temanggung 5 Pada sendi dapat terjadi artritis Pada mata dapat terjadi iriditis . dan karditis. erytema marginatum. korea. Dokumentasi 1. d.immunoglobulin dan komplemen terdapat pada membran sel-sel miokardium yang terkena. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Pekerjaan Alamat : An.

minum es (+). cairan yang keluar dari telinga. Riwayat Penyakit Dahulu: 6 . dan sesak nafas tidak dikeluhkan oleh pasien.Tanggal Periksa : 19 September 2012 A. Adanya telinga berdengung. sejak 3 HSMRS dan sering demam sejak 1 tahun terakhir ini. gangguan pendengaran serta rasa tidak enak di telinga disangkal. Keluhan dirasakan kambuhkambuhan. ANAMNESIS Keluhan Utama: Amandel membesar dan terasa mengganjal Riwayat Penyakit Sekarang: Merasa amandel besar dan terasa mengganjal pada tenggorokan yang dirasakan sejak 1 HSMRS. dada berdebar. pilek. gangguan suara. Riwayat sering makan pedas (+). batuk. keluhan membaik namun kemudian tidak lama kambuh lagi. terpapar asap rokok (+) dari kakek. Pasien juga mengeluhkan rasa tidak nyaman daat menelan. sudah pernah diperiksakan ke dokter. nyeri menelan. Nenek pasien mengatakan sudah 3 tahun terakhir ini ketika pasien tidur mendengkur. Nyeri tenggorokan. rasa mengganjal ini juga pernah dirasakan 1 bulan SMRS. gusi berdarah.

pilek. edema (-/-).Pasien pernah mengalami keluhan yang sama satu bulan yang lalu.20C 7 . Pasien sering terserang batuk. Riwayat Penyakit Keluarga: Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan serupa. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Kesadaran Vital Sign Respirasi Nadi Suhu Status Lokalis THT: 1. Riwayat operasi sebelumnya dan alergi disangkal. B. Palpasi AD/AS : hematom (-/-). dan demam. Riwayat pengobatan dengan obat warung. Telinga Inspeksi. : Baik : Compos Mentis : : 16 x/menit : 112x/menit : 37.

CAE (+/+). nyeri mastoid(-/-).otorrhea (-/-). limfonodi submandibularis (+/-). nyeri (-/-). massa (-/-). krepitasi (-). discharge (-). Otoskopi : AD/AS : CAE hiperemis (-/-). cerumen (sedikit/sedikit). SPN : edema nasal (-). NT pangkal hidung(-). discharge (-/-). 8 . mukosa pucat (-/-). nyeri tragus (-/-). Palpasi Deviasi nasal (-). NT pipi/kelopak bawah (-). otorrhea (-/-). Rhinoskopi Anterior : Septum letak sentral. 2. mukosa tidak hiperemis. deformitas os nasal (-). edema concha (-/-). vimbrissae (+/+). membrana timpani utuh. ND/NS : Mukosa hiperemis (-/-). daun telinga (+/+). massa (-). nyeri tekan (-). Hidung dan Paranasal Inspeksi.

abses peritonsiler (-). dalam Pedoman Diagnosa dan terapi Ilmu Penyakit THT RSUP Denpasar. edema (-). gld. papil lidah dalam batas normal. penerbit Media Aesculapius. kripte melebar. Denpasar. A. Diagnosis: Adenotonsilitis kronik hipertrofi V. FKUI. uvula cenderung menempel dengan tonsil sinistra. Lab/UPF THT FK UNUD RSUP. thyroid tak teraba. NT (-). detritus (+). Daftar pustaka Mansjoer. retraksi (-). edisi ke3.3. Tenggorokan dan Laring (Leher) Inspeksi. Jilid pertama. massa (-). Masna. Cavum oris : karies (-). (1992) Tonsilitis Kronis. Jakarta. massa (-) Faring Tonsil : mukosa hiperemis (-). Palpasi Trakhea letak sentral.W. dkk (2001) Kapita Selekta Kedokteran. lnn submandibularis (+/-). lidah mobile. 9 . mukosa mulut dalam batas normal. massa (-) : pembesaran (T4-T4). permukaan tidak rata. P.

2007.Soepardi. Tonsillitis and Peritonsillar Abscess. www. Arlen D.medscape. dkk. 10 . 2012. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Efiaty Arsyad. Jakarta : FK UI.com. Shah. Udayan and Meyers.