BAB I Pendahuluan Latar belakang Upaya peningkatan sdm yang berkwalitas di mulai dengan cara penanganan pertumbuhan anak

sebagai bagian dari keluarga dengan asupan gizi dan perawatan yang baik. Secara makro,di butuhkan ketegasan,kebijakan,strategi regulasi,dan koordinasi lintas sector dari pemerintah dan semua stakeholder untuk menjamin terlaksananya poin poin penting saeperti pemberdayaan masyarakat,pemberantasan kemiskinan,ketahanan pangan dan pendidikan yang secara tidak langsung akan megubah budaya buruk dan paradigma . Selain itu keberhasilan pembangunan nasional yang di upayakan oleh pemerintah dan masyarakat sangat di tentukan oleh ketersedian SDM. Indicator yang digunakan untuk mengukur tinggi rendahnya kualitas SDM antara lain:indek kualita hidup/yang lebih di kenal dengan indek pembangunan manusia(IPM)dan indek kemiskinan manusia (IKM)

tujuan
Dari perbaikan status gizi adalah berkurangnya kematian bayi dan anak balita, berkurangnya biaya perawatan untuk neonatus, bayi dan balita, produktivitas meningkat karena berkurangnya anak yang menderita kurang gizi dan adanya peningkatan kemampuan intelektualitas, berkurangnya biaya karena penyakit kronis serta meningkatnya manfaat “intergenerasi” melalui peningkatan kualiatas gizi. periode yang sangat menentukan kualitas SDM di masa depan, karena tumbuh kembang anak sangat ditentukan oleh kondisinya saat masa janin dalam kandungan. Akan tetapi perlu diingat bahwa keadaan kesehatan dan status gizi ibu hamil ditentukan juga jauh sebelumnya, yaitu pada saat remaja atau usia sekolah. Disampaikan pada Pertemuan Advokasi Program Perbaikan Gizi Menuju Keluarga Sadar United Nations (Januari, 2000) memfokuskan usaha perbaikan gizi dalam kaitannya dengan upaya peningkatan SDM pada seluruh kelompok umur, dengan mengikuti siklus kehidupan.

.balita.tetutama pada bayi. cerdas. pertama berkurangnya biaya berkaitan dengan kematian dan kesakitan dan di sisi lain akan meningkatkan produktivitas. Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun.wanita usia subur  Mengurai masalah kurang zat gizi mikro termaksud zat besi  Meningkatkan ketahanan pangan tingkat rumah tangga  Mempromosikan gizi seimbang dan hidup sehat  Memantau. Secara umum dapat dikatakan bahwa peningkatan ekonomi sebagai dampak dari berkurangnya kurang gizi dapat dilihat dari dua sisi.menilai dan menganalisis situasi gizi secara terus menerus BAB II PEMBAHASAN 2.Tujuan yang akan di capai dalam penanggulangan gizi buruk :  Menghilangkan kelaparan dan kematian akibat kelaparan  Menghilangkan berbagai jenis kelaparan dan penyakit yang berhubungan dengan kurang gizi sebagai akibat dari bencana alam  Menghilangkan masalah kurang yodium dan vitamin A  Mengurai kelaparan kronis  Mengurai gizi kurang. dan produktif. Analisa situasi Tantangan utama dalam pembangunan suatu bangsa adalah membangun sumberdaya manusia yang bekualitas yang sehat.1. Beberapa penelitian di banyak negara menunjukkan bahwa proporsi bayi dengan BBLR berkurang seiring dengan peningkatan pendapatan nasional suatu negara. kematian bayi dan anak balita disebabkan oleh buruknya status gizi anak balita. Kemiskinan dan kurang gizi merupakan suatu fenomena yang saling terkait. oleh karena itu meningkatkan status gizi suatu masyarakat erat kaitannya dengan upaya peningkatan ekonomi.

Ada kemungkinan provinsi lain yang belum berhasil mencakup >80% kapsul vitamin A akan menemukan kembali kasus xeropthalmia dan meningkatnya morbiditas pada balita. Masalah gizi lainnya yang dihadapi pada anak usia balita adalah kurang zat gizi mikro seperti Kurang Vitamin A. dan hal ini merupakan indikasi gangguan kurang gizi kronis. Perkembangan Situasi Gizi di Indonesia 1. Gambaran keadaan gizi balita diawali dengan cukup banyaknya bayi dengan berat lahir rendah (BBLR). pergeseran perubahan penyakit . terlebih pada periode 2 tahun pertama merupakan masa emas untuk pertumbuhan dan perkembangan otak yang optimal. Masalah gizi lain pada anak balita adalah anemia gizi besi Sedangkan Keadaan Gizi Anak Sekolah Tingginya bayi BBLR dan gizi kurang pada balita akan berdampak pada gangguan pertumbuhan pada anak usia baru masuk sekolah. Munculnya kasus xeropthalmia sangat mungkin apabila penyuluhan konsumsi sayur dan buah tidak efektif dan cakupan kapsul Vitamin kurang dari 80%.1986. diperkirakan ada 350 000 bayi dengan berat lahir rendah di bawah 2500 gram. Hal ini terbukti dengan laporan dari beberapa propinsi (NTB. Lebih dari sepertiga (36. Status Gizi Pada Balita Masa balita sering dinyatakan sebagai masa kritis dalam rangka mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Prevalensi anak pendek ini semakin meningkat dengan bertambahnya usia. Setiap tahun. Sumsel) pada tahun 2000 lalu yang masih menemukan kasus xeropthalmia.1%) anak Indonesia tergolong pendek ketika memasuki usia sekolah.2.laki maupun perempuan Dalam 15 tahun terakhir telah terjadi transisi epidemiologi ( SKRT. sebagai salah satu penyebab utama tingginya kurang gizi pada dan kematian balita. Vitamin A.2. baik pada anak laki. yang ditandai oleh adanya pergeseran proporsi kematian yang tinggi dari kelompok usia muda (<4 tahun) ke kelompok umur umur tua (>55 tahun).2001).masalah kesehatan B.

2% atau sekitar 38 juta penduduk (BPS. Masih ada 75% kabupaten di Indonesia dengan prevalensi gizi kurang pada balita >20%.  Ketahanan pangan tingkat rumah tangga ini berkaitan erat dengan kemiskinan.penyebab kematian. kesehatan dan kemiskinan. lemak dan garam serta rendah serat serta rendahnya aktivitas fisik yang dilakukan sehari-hari. neoplasma serta endokrin meningkat 2-3 kali lipat. lingkungan. proporsi kematian karena penyakit degeneratif dan pembuluh darah.  Pemberian ASI terutama ASI eksklusif sampai usia 6 bulan masih rendah.  Adanya ketidak seimbangan antar wilayah baik kecamatan maupun kabupaten berdasarkan prevalensi masalah gizi. Hal ini berkaitan dengan kurang baiknya pola pengasuhan anak. perubahan pola makan ke arah tinggi karbohidrat. rendahnya pendidikan dan kurang memadainya pelayanan dan kesehatan lingkungan. proporsi kematian karena penyakit infeksi menurun. 2002) serta sebaran penduduk miskin yang bervariasi. memberi dampak pada gangguan pertumbuhan dan munculnya beberapa penyakit infeksi. waktu pemberian yang tidak tepat. di mana proporsi penduduk miskin 18. masalah dalam pengolahan makanan. masih rendahnya pengetahuan dan tingkat pendidikan terutama wanita  Masih tingginya prevalensi anak pendek yang menunjukkan masalah gizi di Indonesia merupakan masalah kronis yang berkaitan dengan kemiskinan. . sertaMP-ASI untuk bayi di atas 6 bulan yang belum baik dalam hal jumlah dan mutu. Kecenderungan Masalah Gizi kedepan Beberapa faktor mendasar yang perlu dipertimbangkan dalam memperbaiki kualitas SDM melalui upaya perbaikan gizi adalah:. dan pelayanan kesehatan yang tidak memadai. disertai dengan cakupan program yang belum maksimal. C.  Masih tingginya angka penyakit infeksi yang berkaitan dengan sanitasi. Kegemukan dan obesitas merupakan salah satu faktor risiko timbulnya penyakit degeneratif sebagai akibat dari perubahan gaya hidup.

Berdasarkan besaran masalah gizi yang dikemukakan diatas serta faktor. Penggulangan masalah gizi buruk dilakukan dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat yaitu dengan meningkatkan akses untuk memperoleh informasi dan kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan .faktor yang berpengaruh diperkirakan kecendrungan masalah gizi seperti berikut: 1.” maka diperlukan kebijakan dan strategi” baru perbaikan gizi di setiap siklus kehidupan. Proyeksi KEK pada Wanita Usia Subur 4. Mengingat besaran dan sebaran gizi buruk yang ada di semua wilayah dampaknya terhadap sumber daya manusia 2. Penanggulangan maslah gizi buruk di selenggarakan secara demogratis dan transparan melalui kemitraan. Tantangan dan Pemikiran Program Perbaikan Gizi pada Masa yang Akan Datang Besar dan luasnya masalah gizi pada setiap kelompok umur menurut siklus kehidupan dan saling berpengaruhnya masalah gizi kepada siklus kehidupan (intergenerational impact). Penanggulangan masalah gizi buruk dilaksanakan dengan pendekatan komprehensif dengan mengutamakan upaya pencegahan dan upaya peningkatan yang di dukung dengan upaya pengobatan 3. Penanggulangan masalah gizi buruk di laksanakan secara terus menerus dengan kordinasi lintas instansi 4. Proyeksi Masalah Gizi Mikro D.00/kapita/tahun).00/kapita/tahun). Proyeksi Prevalensi Gizi Kurang (Stunting/pendek) Pada Anak Baru Masuk Sekolah 3. demikian juga pembiayaan untuk gizi (Tahun 2003 Rp 200. Masih rendahnya dukungan pembiayaan kesehatan dan gizi dari sector pemerintah dan non-pemerintah (Tahun 2000 Rp 147. Proyeksi Prevalensi Gizi Kurang Pada Balita 2. Masalah. 5. Kebijakan 1.

Intervensi yang dipilih dengan mempertimbangkan beberapa aspek penting seperti: target yang spesifik tetapi membawa manfaat yang besar. ketahanan fisik dan produktivitas kerja meningkat. Dibutuhkan adanya kebijakan khusus untuk mempercepat laju percepatan peningkatan status gizi. Pencegahan dan penanggulangan gizi buruk dilaksanakan dengan kewenangan wajib dan dan standar pelayanan minimal(SPM) 2. bagaimana pembangunan berbagai sektor memberi dampak kepada perbaikan status gizi. sehingga hambatan peningkatan ekonomi dapat diminimalkan. waktu yang tepat misalnya pemberian Yodium pada wanita hamil di daerah endemis berat GAKY dapat mencegah cacat permanen baik pada fisik maupun intelektual bagi bayi yang dilahirkan. Oleh karena itu tujuan pembangunan beserta target yang ditetapkan di bidang perbaikan gizi memerlukan keterlibatan seluruh sektor terkait. 3.2 strategi 1. Berbagai pihak terkait perlu memahami problem masalah gizi dan dampak yang ditimbulkan begitu juga sebaliknya. Menanggulangi secara langsung masalh gizi yang terjadi pada kelompok masyarakat Berdasarkan pemikiran tersebut di atas beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam upaya perbaikan gizi kedepan adalah sebagai berikut: 1. Mengembalikan fungsi posyandu dan meningkatkan kembali partisipasi masyarakatdan keluarga dalam memantau tumbuh kembang balita. Pada keluarga miskin upaya . Pelaksanaan program gizi hendaknya berdasarkan kajian ‘best practice’ (efektif dan efisien) dan lokal spesifik. Membiarkan penduduk menderita masalah kurang gizi akan menghambat pencapaian tujuan pembangunan dalam hal pengurangan kemiskinan. Meningkatkan kemampuan petugas dalam manajemen dan melakukan tata laksana gizi buruk untuk untuk mendukung fungsi posyandu yang di kelola oleh masyarakat 4. Upaya perbaikan gizi akan lebih efektif jika merupakan bagian dari kebijakan penangulangan kemiskinan dan pembangunan SDM. 3. 2. Dengan peningkatan status gizi masyarakat diharapkan kecerdasan.

Masalah Gizi Menurut Daur Kehidupan: Kekurangan gizi biasanya terjadi secara tersembunyi dan sering luput dari pengamatan biasa. Mengembangkan kemampuan (capacity building) dalam upaya penanggulangan masalah gizi. oleh karena itu diperlukan beberapa aspek yang saling mendukung sehingga terjadi integrasi yang saling sinergi. upaya pencegahan gizi buruk Upaya perbaikan gizi di Indonesia secara nasional telah dilaksanakan sejak tiga puluh yaitu: Kurang Energi Protein (KEP). pertanian. atau seorang bayi yang terganggu pertumbuhannya atau seorang anak sekolah yang lemah tidak mampu mengikuti proses belajar karena kekurangan zat gizi tertentu seperti iodium atau zat besi. Anemia Gizi Besi (AGB) dan Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY). baik kemampuan teknis maupun kemampuan manajemen. Meningkatkan upaya penggalian dan mobilisasi sumber daya untuk melaksanakan upaya perbaikan gizi yang lebih efektif melalui kemitraan dengan swasta. 6. LSM dan masyarakat. tepat waktu dan akurat. 4 Pengambil keputusan di setiap tingkat menggunakan informasi yang akurat dan evidence base dalam menentukan kebijakannya. Dengan terjadinya transisi demografi. Kurang Vitamin A (KVA). epidemiologi dan perubahan gaya hidup telah . Disamping pelaksanaan monitoring dan evaluasi yang baik dan kajian-kajian intervensi melalui kaidah-kaidah yang dapat dipertanggung jawabkan.pemenuhan gizi diupayakan melalui pembiayaan publik. Kondisi ini secara langsung menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu negara. Tidaklah mudah untuk mengetahui seorang ibu hamil yang menderita kekurangan zat gizi besi (anemia). 5. Upaya tersebut telah berhasil menurunkan keempat masalah gizi utama namun penurunannya dinilai kurang cepat. misalnya kesehatan. pendidikan diintegrasikan dalam suatu kelompok masyarakat yang paling membutuhkan. Diperlukan sistem informasi yang baik. Gizi bukan satu-satunya faktor yang berperan untuk pembangunan sumber daya manusia.

0 SD Gemuk:>2. WUS KEKUMILA EMAJASIA SEKOLAH Masalah gizi disebabkan oleh banyak faktor yang saling terkait baik secara langsung maupun tidak langsung. 2. sehingga untuk mengatasi masalah gizi diperlukan penanganan faktor–faktor tersebut secara terintegrasi.3. masyarakat. LSM dan swasta.menurut tinggi badan : Berat badan /umur (bb/u) • • • • • • • • • Gizi lebih :>2.0 SD Gizi buruk. gizi lebih sudah menunjukkan peningkatan.0 SD baku Pendek/stunted:<-2. sinergi dan memerlukan dukungan lintas sektor.<-3. Keadaan ini menyebabkan Indonesia mengalami beban ganda masalah gizi yaitu gizi kurang belum sepenuhnya diatasi.0 SD s/d +2. Untuk lebih jelas mengetahui faktor penyebab masalah gizi seperti: menunjukkan secara sistimatis determinan yang berpengaruh pada masalah gizi yang dapat terjadi pada masyarakat.0 SD baku Gizi baik:-2. Sebagai pokok masalah di masyarakat adalah rendahnya pendidikan.terjadi peningkatan masalah gizi lebih dan penyakit degeneratif.0 SD baku Normal:-2. pengetahuan dan keterampilan serta tingkat pendapatan masyarakat.kategori status gizi Untuk mengetahui status gizi anak di pelurkan terlebih dahulu pengetahuan mengategorikan pada keadaan mana anak tersebut berada pada dasarnya perhitunganberat badan menurut umur dan berat badan .tinggi badan /umur (TB/U) Berat badan /tinggi badan (BB/TB) .0 SD s/d+2SD Gizi kurang:<-2.0 SD 2.0 SD Kurus/wasted:<-2.0 SD Normal:e”-2.

Revitalisasi puskesmas bertujuan meningkatkan fungsi dan kinerja puskesmas pokok kegiatan revitalisasi puskesmas meliputi: .• Sangat kurus:<-3.PROGRAM PEMERINTAH Program gizi yang dapat dilaksanakan saat ini dijabarkan dalam rangka aksi nasional pencegahan dan penanggulangan gizi buruk: a.6 Rencana kerja operasional 1.Revitalisasi posyandu bertujuan untuk meningkatkan fungsi dan kinerja posyandu terutama dalam pemantauan pertumbuhan balita.0 SD 2.pokok kegiatan revetalisasi posyandu meliputi:  Pelatihan /orientasi petugas puskesmas  Pelatihan ulang petugas dan kader  Pembinaan dan pendamping kader  Menyediakan sarana terutama dacin b. .4 Penyebab Masalah Gizi • • • • • • • • Makan Tidak Seimbang Penyakit Infeksi Tidak Cukup Persediaan Pangan Pola Asuh Anak Tidak Memadai Sanitasi dan Air Bersih/Pelayanan Kesehatan Dasar Tidak Memadai Kurang Pendidikan. 2. kurang pemanfaatan sumberdaya masyarakat. Pengetahuan dan Keterampilan Kurang pemberdayaan wanita dan keluarga..

tokoh masyarakat.Promosi keluarga sadar gizi Pokok kegiatan sadr gizi meliputi  Menyusun strategi(pedoman)promosi keluarga sadar gizi  Mengembangkan .pemuka adapt dan media massa Pokok kegiatan advokasi dan pendampingan sbb:  Diskusi dan rapat kerja dgn DPR. 5.padat karya untuk pangan dan beras untuk keluarga miskin.upaya peningkatan pendapatan keluarga dan peningkatan pendapatan petani kecil Pemberdayaan di bidang kesehehatan meliputi penyelenggaraan pos gizi .DPD.DPRD secara berkala .dan mentebar luaskan materi promosi pada masyarakat  Melakukan kampanye secara bertahap  Menyelenggarakan diskusi kelompo terarah melalui dasawisma dengan dukungan petugas 4.menyediakan.Intrvensi gizi kesehatan Pokok kegiatan intervensi kesehatan adalah sbb:  Perrawatan atau pengobatan gratis di rumah sakit dan puskesmas  Pemberian makanan tambahan (pmt)  Pemberian suplementasi gizi 3.serta penyedianan percontohan sarana air minum dan jamban keluarga Pemberdayaan di bidang ketahanan pangan meliputi pemanfaatan pekarangan dan lahan tidur.Memperdayakan keluarga Pokok kegiatan pemberdayakan keluarga adalh sbb: Pemberdayaan di bidang ekonomi meliputi usaha industri kecil.Advokasi dan pendampingan Ada 2 tujuan dari kegiatan advokasi dan pendampingan Meningkatkan komitmen para penentu kebijakan termaksudlegislatif.lumbung pangan.tokoh agama. Pelatihan manajemen program gizi di puskesmas  Penyedian biaya operasional  Pemenuhan sarana antropometrik 2.

 Melakukan pendampingan di kabupaten  Revitalisasi system kewaspadaan pangan dan gizi(SKPG) 6. Dan evaluasi akhir(summative evalution) bertujuan untuk menilai keberhasilan pelaksanaan rencana aksi secara keseluruhan .Evaluasi program Evaluasi di lakukan dengan 2 tahap Yaitu dengan pertengahan(midterm evaluation) bertujuan untuk menilai jalannya kegiatan yang telah di lakukan.Perencanaan program Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian instansi dalam penyusunan rencana strategic adalah sbb: Masalah gizi adalh masalah kesehatan masyarakat yang penanggulangan tidak dapat di lakukan dengan pendekatan dan pelayanan kesehatan Masalah gizi merupakan sindrom kemiskinan yang erat kaitannya dengan masalah ketahan pangan di tingkat rumah tangga Masalah gizi dapat di sebabkan oleh kesadaran gizi masyarakat belum memadai 7.

kategori status gizi Untuk mengetahui status gizi anak di pelurkan terlebih dahulu pengetahuan mengategorikan pada keadaan mana anak tersebut berada pada dasarnya perhitunganberat badan menurut umur dan berat badan . Pengetahuan dan Keterampilan.tinggi badan /umur (TB/U) Berat badan /tinggi badan (BB/TB) 2.Promosi keluarga sadar gizi .6 Rencana kerja operasional 1. 2.menurut tinggi badan : 1.Intrvensi gizi kesehatan 3.PROGRAM PEMERINTAH 2.Kesimpulan Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun Tujuan yang akan di capai dalam penanggulangan gizi buruk :  Menghilangkan kelaparan dan kematian akibat kelaparan  Menghilangkan berbagai jenis kelaparan dan penyakit yang berhubungan dengan kurang gizi sebagai akibat dari bencana alam  Menghilangkan masalah kurang yodium dan vitamin A  Mengurai kelaparan kronis 2.Berat badan /umur (BB/U) 2.4 Penyebab Masalah Gizi • • • • • • • Makan Tidak Seimbang Penyakit Infeksi Tidak Cukup Persediaan Pangan Pola Asuh Anak Tidak Memadai Sanitasi dan Air Bersih/Pelayanan Kesehatan Dasar Tidak Memadai Kurang Pendidikan.3.

2004 .jakarta.4.gizi dalam daur kehidupan.Perencanaan program Daftar pustaka Arisman MB.Advokasi dan pendampingan 6.penerbit buku kedokteran EGC.Memperdayakan keluarga 5.

// www.gizi.di ambil dalam http.gizi.net.jakarta.net.2005 Penanggulangan masalah gizi buruk.2004 Program perbaikan gizi makro.Atmarita dan fallah “analisis situasi gizi dan kesehatan masyarakat”.diambil dalam http://www.2005 .