ii

Analisis Analisis Analisis Analisis
Rangkaian Listrik Rangkaian Listrik Rangkaian Listrik Rangkaian Listrik
Jilid 2 Jilid 2 Jilid 2 Jilid 2
(Analisis Transien, Transformasi Laplace,
Transformasi Fourier, Model Sistem)
Darpublic – Edisi April 2012
Sudaryatno Sudirham


i






Analisis
Rangkaian Listrik
Jilid 2
(Analisis Transien, Transformasi Laplace, Trans-
formasi Fourier, Model Sistem)

oleh
Sudaryatno Sudirham




ii Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)






















Hak cipta pada penulis.


SUDIRHAM, SUDARYATNO
Analisis Rangkaian Listrik, Jilid 2
(Analisis Transien, Transformasi Laplace, Transformasi Fourier, Model
Sistem)
Darpublic, Kanayakan D-30, Bandung, 40135.
www.ee-cafe.org




iii

Pengantar
Buku jilid ke-dua Analisis Rangkaian Listrik ini berisi materi lanjutan,
ditujukan kepada pembaca yang telah mempelajari materi di buku jilid
pertama. Materi bahasan disajikan dalam sebelas bab. Dua bab pertama
berisi bahasan mengenai analisis transien, dengan sinyal dinyatakan
sebagai fungsi waktu. Dua bab berikutnya membahas analisis rangkaian
menggunakan transformasi Laplace, yang dapat digunakan untuk analisis
keadaan mantap maupun transien; bahasan ini mencakup dasar-dasar
transformasi Laplace sampai ke aplikasinya. Lima bab berikutnya
membahas fungsi jaringan yang dilanjutkan dengan tanggapan frekuensi,
serta pengenalan pada model sistem, termasuk persamaan ruang status.
Dua bab terakhir membahas analisis rangkaian listrik menggunakan
transformasi Fourier. Pengetahuan tentang aplikasi transformasi Fourier
dalam analisis akan memperluas pemahaman mengenai tanggapan
frekuensi, baik mengenai perilaku sinyal itu sendiri maupun
rangkaiannya.
Mudah-mudahan sajian ini bermanfaat bagi para pembaca. Penulis
mengharap saran dan usulan para pembaca untuk perbaikan dalam
publikasi selanjutnya.
Bandung, April 2012
Wassalam,
Penulis.


iv Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)













Darpublic
Kanayakan D-30, Bandung, 40135


Dalam format .pdf buku ini dapat diunduh bebas di
www.buku-e.lipi.go.id dan www.ee-cafe.org

Selain Buku-e, di
www.ee-cafe.org
tersedia juga open course
dalam format .ppsx beranimasi dan .pdf



v

Daftar Isi
Kata Pengantar iii
Daftar Isi v
Bab 1: Analisis Transien Rangkaian Orde-1 1
Rangkaian Orde-1: Contoh Rangkaian Orde-1. Tanggapan
Alami, Tanggapan Paksa, Tanggapan Lengkap. Tanggapan
Terhadap Sinyal Anak Tangga, Sinyal Sinus, Sinyal Ekspo-
nensial. Tanggapan Masukan Nol, Tanggapan Status Nol.
Bab 2: Analisis Transien Rangkaian Orde-2 31
Rangkaian Orde-2: Contoh Rangkaian Orde-2. Tiga Ke-
mungkinan Bentuk Tanggapan. Tanggapan Terhadap Sinyal
Anak Tangga, Sinyal Sinus, Sinyal Eksponensial.
Bab 3: Transformasi Laplace 55
Transformasi Laplace. Tabel Transformasi Laplace. Sifat-
Sifat Transformasi Laplace. Transformasi Balik. Solusi Per-
samaan Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace.
Bab 4: Analisis Menggunakan Transformasi Laplace 85
Hubungan Tegangan-Arus Elemen di Kawasan s. Konsep
Impedansi di Kawasan s. Representasi Elemen di Kawasan
s. Transformasi Rangkaian. Hukum Kirchhoff. Kaidah-
Kaidah Rangkaian. Teorema Rangkaian. Metoda-Metoda
Analisis.
Bab 5: Fungsi Jaringan 107
Pengertian dan Macam Fungsi Jaringan. Peran Fungsi Alih.
Hubungan Bertingkat dan Kaidah Rantai . Fungsi Alih dan
Hubungan Masukan-Keluaran di Kawasan Waktu. Tinjauan
Umum Mengenai Hubungan Masukan-Keluaran.
Bab 6: Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-1 123
Tanggapan Rangkaian Terhadap Sinyal Sinus Keadaan
Mantap. Pernyataan Tanggapan Frekuensi. Bode Plot.

vi Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

Bab 7: Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-2 143
Rangkaian Orde-2 Dengan Pole Riil. Fungsi Alih Dengan
Zero Riil Negatif . Tinjauan Umum Bode Plot dari
Rangkaian Dengan Pole dan Zero Riil. Tinjauan Kualitatif
Tanggapan Frekuensi di Bidang s. Rangkaian Orde-2 Yang
Memiliki Pole Kompleks Konjugat.
Bab 8: Pengenalan Pada Sistem 165
Sinyal. Sistem. Model Sistem. Diagram Blok. Pembentukan
Diagram Blok. Reduksi Diagram Blok. Sub-Sistem Statis dan
Dinamis. Diagram Blok Integrator.
Bab 9: Sistem Dan Persamaan Ruang Status 187
Blok Integrator dan Blok Statis. Diagram Blok Integrator,
Sinyal Sebagai Fungsi t. Membangun Persamaan Ruang
Status. Membangun Diagram Blok dari Persamaan Ruang
Status.
Bab 10: Transformasi Fourier 197
Deret Fourier. Transformasi Fourier. Transformasi Balik.
Sifat-Sifat Transformasi Fourier. Ringkasan.
Bab 11: Analisis Menggunakan Transformasi Fourier 223
Transformasi Fourier dan Hukum Rangkaian. Konvolusi dan
Fungsi Alih. Energi Sinyal.
Daftar Pustaka 237
Indeks 237



Analisis Transien Rangkaian Orde-1
1
BAB 1 Analisis Transien Rangkaian Orde-1
Yang dimaksud dengan analisis transien adalah analisis rangkaian yang
sedang dalam keadaan peralihan atau keadaan transien. Gejala transien
atau gejala peralihan merupakan salah satu peristiwa dalam rangkaian
listrik yang perlu kita perhatikan. Peristiwa ini biasanya berlangsung
hanya beberapa saat namun jika tidak ditangani secara baik dapat men-
yebabkan terjadinya hal-hal yang sangat merugikan berupa kerusakan
peralatan.
Dalam sistem penyaluran energi, pemutusan dan penyambungan rang-
kaian merupakan hal yang sering terjadi. Operasi-operasi tersebut dapat
menyebabkan terjadinya lonjakan tegangan yang biasa disebut tegangan
lebih. Tegangan lebih pada sistem juga terjadi manakala ada sambaran
petir yang mengimbaskan tegangan pada saluran transmisi. Tegangan
lebih seperti ini akan merambat sepanjang saluran transmisi berbentuk
gelombang berjalan dan akan sampai ke beban-beban yang terhubung
pada sistem tersebut. Piranti-piranti elektronik akan menderita
karenanya. Di samping melalui saluran transmisi, sambaran petir juga
mengimbaskan tegangan secara induktif maupun kapasitif pada perala-
tan-peralatan. Semua kejadian itu merupakan peristiwa-peristiwa perali-
han.
Kita mengetahui bahwa kapasitor dan induktor adalah piranti-piranti di-
namis dan rangkaian yang mengandung piranti-piranti jenis ini kita sebut
rangkaian dinamis. Piranti dinamis mempunyai kemampuan untuk meny-
impan energi dan melepaskan energi yang telah disimpan sebelumnya.
Hal demikian tidak terjadi pada resistor, yang hanya dapat menyerap
energi. Oleh karena itu, pada waktu terjadi operasi penutupan ataupun
pemutusan rangkaian, perilaku rangkaian yang mengandung kapasitor
maupun induktor berbeda dengan rangkaian yang hanya mengandung
resistor saja.
Karena hubungan antara arus dan tegangan pada induktor maupun
kapasitor merupakan hubungan linier diferensial, maka persamaan
rangkaian yang mengandung elemen-elemen ini juga merupakan
persamaan diferensial. Persamaan diferensial ini dapat berupa persamaan
diferensial orde-1 dan rangkaian yang demikian ini disebut rangkaian
atau sistem orde-1. Jika persamaan rangkaian berbentuk persamaan
diferensial orde-2 maka rangkaian ini disebut rangkaian atau sistem orde-
Analisis Transien Rangkaian Orde-1

2 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

2 maka rangkaian ini disebut rangkaian atau sistem orde-2. Perilaku
kedua macam sistem tersebut akan kita pelajari berikut ini.
Dengan mempelajari analisis transien orde-1, kita akan
• mampu menurunkan persamaan rangkaian yang
merupakan rangkaian orde-1.
• memahami bahwa tanggapan rangkaian terdiri dari
tanggapan paksa dan tanggapan alami.
• mampu melakukan analisis transien pada rangkaian orde-
1.
1.1. Contoh Rangkaian Orde-1
Rangkaian RC Seri. Salah satu
contoh rangkaian orde-1 dalam
keadaan peralihan adalah
rangkaian RC seri seperti pada
Gb.1.1. Pada awalnya saklar S
pada rangkaian ini terbuka;
kemudian pada saat t = 0 ia
ditutup sehingga terbentuk
rangkaian tertutup terdiri dari
sumber v
s
dan hubungan seri
resistor R dan kapasitor C. Jadi mulai pada t = 0 terjadilah perubahan
status pada sistem tersebut dan gejala yang timbul selama terjadinya
perubahan itulah yang kita sebut gejala perubahan atau gejala transien.
Gejala transien ini merupakan tanggapan rangkaian seri RC ini setelah
saklar ditutup, yaitu pada t > 0. Aplikasi HTK pada pada rangkaian
untuk t > 0 memberikan
0 = + + − = + + − v
dt
dv
RC v v iR v
s s
atau
s
v v
dt
dv
RC = + (1.1)
Persamaan (1.1) adalah persamaan rangkaian seri RC dengan
menggunakan tegangan kapasitor sebagai peubah. Alternatif lain untuk
memperoleh persamaan rangkaian ini adalah menggunakan arus i sebagai
peubah. Tetapi dalam analisis transien, kita memilih peubah yang
merupakan peubah status dalam menyatakan persamaan rangkaian.
Untuk rangkaian RC ini peubah statusnya adalah tegangan kapasitor, v.
Pemilihan peubah status dalam melakukan analisis transien berkaitan
dengan ada tidaknya simpanan energi dalam rangkaian yang sedang
dianalisis, sesaat sebelum terjadinya perubahan. Hal ini akan kita lihat
C
R
A
+
v

Gb.1.1. Rangkaian RC.
B
i
i
C
+

+
v
in


S
v
s
Analisis Transien Rangkaian Orde-1
3
sesaat sebelum terjadinya perubahan. Hal ini akan kita lihat pada
pembahasan selanjutnya.
Persamaan (1.1) merupakan persamaan diferensial orde-1 tak homogen
dengan koefisien konstan. Tegangan masukan v
s


merupakan sinyal
sembarang, yang dapat berbentuk fungsi-fungsi yang pernah kita pelajari
di Bab-1. Tugas kita dalam analisis rangkaian ini adalah mencari
tegangan kapasitor, v, untuk t > 0.

Rangkaian RL Seri. Contoh lain
rangkaian orde-1 adalah rangkaian
RL seri seperti pada Gb.1.2. Saklar
S ditutup pada t = 0 sehingga
terbentuk rangkaian tertutup RL
seri. Aplikasi HTK pada rangkaian
ini untuk t > 0 memberikan :

0 = − − = − −
dt
di
L Ri v v Ri v
s L s

atau

s
v Ri
dt
di
L = + (1.2)
Persamaan (1.2) adalah persamaan rangkaian RL seri dengan arus i seba-
gai peubah. Sebagaimana kita ketahui, arus merupakan peubah status
untuk induktor dan kita pilih ia sebagai peubah dalam analisis rangkaian
RL.
Rangkaian Orde-1 yang Lain. Persamaan rangkaian RC dan RL meru-
pakan persamaan diferensial orde-1 dan oleh karena itu rangkaian itu
disebut rangkaian orde-1 atau sistem orde-1. Sudah barang tentu sistem
orde-1 bukan hanya rangkaian RC dan RL saja, akan tetapi setiap rang-
kaian yang persamaannya berupa persamaan diferensial orde-1 adalah
rangkaian atau sistem orde-1.
L
R
A
Gb.1.2. Rangkaian RL seri.
B
i
i
L
+

v
s
S
Analisis Transien Rangkaian Orde-1

4 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

1.2. Tinjauan Umum Tanggapan Rangkaian Orde-1
Secara umum, persamaan rangkaian orde-1 berbentuk
) (t x by
dt
dy
a = + (1.3)
Peubah y adalah keluaran atau tanggapan dari rangkaian yang dapat
berupa tegangan ataupun arus sedangkan nilai a dan b ditentukan oleh
nilai-nilai elemen yang membentuk rangkaian. Fungsi x(t) adalah masu-
kan pada rangkaian yang dapat berupa tegangan ataupun arus dan disebut
fungsi pemaksa atau fungsi penggerak.
Kita mengetahui bahwa persamaan diferensial seperti (1.3) mempunyai
solusi total yang merupakan jumlah dari solusi khusus dan solusi ho-
mogen. Solusi khusus adalah fungsi yang dapat memenuhi persamaan
(1.3) sedangkan solusi homogen adalah fungsi yang dapat memenuhi
persamaan homogen
0 = +by
dt
dy
a (1.4)
Hal ini dapat difahami karena jika fungsi x
1
memenuhi (1.3) dan fungsi
x
2
memenuhi (1.4), maka y = (x
1
+x
2
) akan memenuhi (1.3) sebab
( )
0
) (
1
1
2
2
1
1
2 1
2 1
+ + =
+ + + = + +
+
= +
bx
dt
dx
a
bx
dt
dx
a bx
dt
dx
a x x b
dt
x x d
a by
dt
dy
a

Jadi y = (x
1
+x
2
) adalah solusi dari (1.3), dan kita sebut solusi total.
1.2.1. Tanggapan Alami, Tanggapan Paksa, Tanggapan Lengkap
Dalam rangkaian listrik, solusi total persamaan diferensial (1.3) meru-
pakan tanggapan lengkap (complete response) rangkaian, yang tidak lain
adalah keluaran (tanggapan) rangkaian dalam kurun waktu setelah terjadi
perubahan, atau kita katakan untuk t > 0. Tanggapan lengkap ini terdiri
dua komponen yaitu tanggapan alami dan tanggapan paksa, sesuai den-
gan adanya solusi homogen dan solusi khusus dari (1.3). Tanggapan
alami adalah solusi homogen dari persamaan homogen (1.4); disebut
demikian karena ia merupakan tanggapan yang tidak ditentukan oleh
fungsi pemaksa x(t) karena x(t) = 0. Komponen ini ditentukan oleh ele-
Analisis Transien Rangkaian Orde-1
5
men rangkaian dan keadaannya sesaat setelah terjadinya perubahan atau
kita katakan ditentukan oleh keadaan pada t = 0
+
. Tanggapan paksa ada-
lah solusi khusus dari persamaan rangkaian (1.3); disebut demikian kare-
na tanggapan ini merupakan tanggapan rangkaian atas adanya fungsi
pemaksa x(t).
Tanggapan Alami. Banyak cara untuk mencari solusi persamaan (1.4).
Salah satu cara adalah memisahkan peubah dan kemudian melakukan
integrasi. Di sini kita tidak menggunakan cara itu, tetapi kita akan meng-
gunakan cara pendugaan. Persamaan (1.4) menyatakan bahwa y ditambah
dengan suatu koefisien konstan kali dy/dt, sama dengan nol untuk semua
nilai t. Hal ini hanya mungkin terjadi jika y dan dy/dt berbentuk sama.
Fungsi yang turunannya mempunyai bentuk sama dengan fungsi itu
sendiri adalah fungsi eksponensial. Jadi kita dapat menduga bahwa solusi
dari (1.4) mempunyai bentuk eksponensial y = K
1
e
st
. Jika solusi dugaan
ini kita masukkan ke (1.4), kita peroleh
( ) 0 atau 0
1 1 1
= + = + b as yK e bK se aK
st st
(1.5)
Peubah y tidak mungkin bernilai nol untuk seluruh t dan K
1
juga tidak
boleh bernilai nol karena hal itu akan membuat y bernilai nol untuk selu-
ruh t. Satu-satunya cara agar persamaan (1.5) terpenuhi adalah
0 = +b as (1.6)
Persamaan (1.6) ini disebut persamaan karakteristik sistem orde-1.
Persamaan ini hanya mempunyai satu akar yaitu s = −(b/a). Jadi
tanggapan alami yang kita cari adalah
t a b st
a
e K e K y
) / (
1 1

= = (1.7)
Nilai K
1
masih harus kita tentukan melalui penerapan suatu persyaratan
tertentu yang kita sebut kondisi awal yaitu kondisi pada t = 0
+
. Yang
dimaksud dengan t = 0
+
adalah sesaat setelah terjadinya perubahan
keadaan; dalam kasus penutupan saklar S pada rangkaian Gb.1.1, t = 0
+
adalah sesaat setelah saklar ditutup. Ada kemungkinan bahwa y telah
mempunyai nilai tertentu pada t = 0
+
sehingga nilai K
1
haruslah
sedemikian rupa sehingga nilai y pada t = 0
+
tersebut dapat dipenuhi.
Akan tetapi kondisi awal ini tidak dapat kita terapkan pada tanggapan
alami karena tanggapan ini baru merupakan sebagian dari tanggapan
rangkaian. Kondisi awal harus kita terapkan pada tanggapan lengkap dan
bukan hanya untuk tanggapan alami saja. Oleh karena itu kita harus
mencari tanggapan paksa lebih dulu agar tanggapan lengkap dapat kita
Analisis Transien Rangkaian Orde-1

6 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

cari tanggapan paksa lebih dulu agar tanggapan lengkap dapat kita
peroleh untuk kemudian menerapkan kondisi awal tersebut.
Tanggapan Paksa. Tanggapan paksa dari (1.3) tergantung dari bentuk
fungsi pemaksa x(t). Seperti halnya dengan tanggapan alami, kita dapat
melakukan pendugaan pada tanggapan paksa. Bentuk tanggapan paksa
haruslah sedemikian rupa sehingga jika dimasukkan ke persamaan
rangkaian (1.3) maka ruas kiri dan ruas kanan persamaan itu akan
berisi bentuk fungsi yang sama. Jika tanggapan paksa kita sebut y
p
, maka
y
p
dan turunannya harus mempunyai bentuk sama agar hal tersebut
terpenuhi. Untuk berbagai bentuk fungsi pemaksa x(t), tanggapan paksa
dugaan y
p
adalah sebagai berikut.

. cosinus maupun sinus fungsi
umum bentuk adalah sin cos
sin cos maka , cos ) ( Jika
sin cos maka , sin ) ( Jika
al eksponensi maka al, eksponensi ) ( Jika
konstan maka konstan, ) ( Jika
0 maka , 0 ) ( Jika
t K t K y
t K t K y t A t x
t K t K y t A t x
Ke y Ae t x
K y A t x
y t x
s c
s c p
s c p
t
p
t
p
p
ω + ω =
ω + ω = ω =
ω + ω = ω =
= = = =
= = = =
= =
α α
: Perhatikan
(1.8)
Tanggapan Lengkap. Jika tanggapan paksa kita sebut y
p
, maka
tanggapan lengkap adalah
t s
p a p
e K y y y y

1
+ = + = (1.9)
Pada solusi lengkap inilah kita dapat menerapkan kondisi awal yang akan
memberikan nilai K
1
.
Kondisi Awal. Peubah y adalah peubah status, bisa berupa tegangan
kapasitor v
C
atau arus induktor i
L
. Kondisi awal adalah nilai y pada t = 0
+
.
Sebagaimana telah kita pelajari di Bab-1, peubah status harus merupakan
fungsi kontinyu. Jadi, sesaat sesudah dan sesaat sebelum terjadi
perubahan pada t = 0, y harus bernilai sama. Dengan singkat dituliskan
) 0 ( ) 0 ( ataupun ) 0 ( ) 0 ( : awal Kondisi
− + − +
= =
L L C C
i i v v (1.10)
Jika kondisi awal ini kita sebut y(0
+
) dan kita masukkan pada dugaan
solusi lengkap (1.9) akan kita peroleh nilai K
1
.
Analisis Transien Rangkaian Orde-1
7
) 0 ( ) 0 ( ) 0 ( ) 0 (
1 1
+ + + +
− = → + =
p p
y y K K y y (1.11)
Nilai y(0
+
) dan y
p
(0
+
) adalah tertentu (yaitu nilai pada t=0
+
). Jika kita
sebut
0
) 0 ( ) 0 ( A y y
p
= −
+ +
(1.12)
maka tanggapan lengkap menjadi
t s
p
e A y y

0
+ = (1.13)
1.3. Komponen Mantap dan Komponen Transien
Tanggapan lengkap rangkaian seperti yang ditunjukkan oleh (1.13),
terdiri dari dua komponen. Komponen yang pertama (ditunjukkan oleh
suku pertama) kita sebut komponen mantap. Komponen yang kedua
(ditunjukkan oleh suku kedua) kita sebut komponen transien atau
komponen peralihan. Komponen transien ini berbentuk eksponensial
dengan konstanta waktu yang besarnya ditentukan oleh parameter
rangkaian, yaitu τ = a/b. Dengan pengertian konstanta waktu ini
tanggapan rangkaian dapat kita tulis
τ −
+ =
/
0

t
p
e A y y (1.14)
Sebagaimana kita ketahui, fungsi eksponensial dapat kita anggap hanya
berlangsung selama 5 kali konstanta waktunya karena pada saat itu
nilainya sudah tinggal kurang dari 1% dari amplitudo awalnya. Jadi
komponen transien boleh kita anggap hanya berlangsung selama 5τ,
sedangkan komponen mantap tetap berlangsung walau komponen
transien telah hilang (oleh karena itulah disebut komponen mantap).
Komponen transien tidak lain adalah tanggapan alami, yang merupakan
reaksi alamiah dari rangkaian terhadap adanya perubahan. Berikut ini
kita akan melihat beberapa contoh analisis transien sistem orde-1.
Analisis Transien Rangkaian Orde-1

8 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

1.4. Tanggapan Rangkaian Tanpa Fungsi Pemaksa, x(t) = 0
Persamaan rangkaian tanpa fungsi pemaksa ini berasal dari rangkaian
tanpa masukan. Perubahan tegangan dan arus dalam rangkaian bisa
terjadi karena ada pelepasan energi yang semula tersimpan dalam
rangkaian dan tanggapan rangkaian yang akan kita peroleh hanyalah
tanggapan alami saja. Walaupun demikian, dalam melakukan analisis
kita akan menganggap bahwa fungsi pemaksa tetap ada, akan tetapi
bernilai nol. Hal ini kita lakukan karena kondisi awal harus diterapkan
pada tanggapan lengkap, sedangkan tanggapan lengkap harus terdiri dari
tanggapan alami dan tanggapan paksa (walaupun mungkin bernilai nol).
Kondisi awal tidak dapat diterapkan hanya pada tanggapan alami saja
atau tanggapan paksa saja.
CONTOH-1.1: Saklar S pada
rangkaian di samping ini
telah lama berada pada
posisi 1. Pada t = 0, saklar S
dipindahkan ke posisi 2.
Carilah tegangan kapasitor,
v, untuk t > 0.
Solusi :
Karena S telah lama pada posisi 1,
maka kapasitor telah terisi penuh, arus
kapasitor tidak lagi mengalir, dan
tegangan kapasitor sama dengan
tegangan sumber, yaitu 12 V; jadi v(0

)
= 12 V. Setelah saklar dipindahkan ke posisi 2, kita mempunyai
rangkaian tanpa sumber (masukan) seperti di samping ini, yang akan
memberikan persamaan rangkaian tanpa fungsi pemaksa. Aplikasi
HTK pada rangkaian ini memberikan : 0 = + − R i v
R
.
Karena
dt
dv
C i i
C R
− = − = maka kita dapat menuliskan persamaan
rangkaian sebagai :
10kΩ
0.1µF
i
R
+
v


+

12V
10kΩ
0.1µF
S

1 2

+
v


Analisis Transien Rangkaian Orde-1
9
0 = − −
dt
dv
RC v atau 0
1
= + v
RC dt
dv

Dengan nilai elemen seperti diperlihatkan pada gambar, maka
persamaan rangkaian menjadi :
0 1000 = + v
dt
dv

Inilah persamaan rangkaian untuk t > 0. Pada rangkaian ini tidak ada
fungsi pemaksa. Ini bisa dilihat dari gambar rangkaian ataupun dari
persamaan rangkaian yang ruas kanannya bernilai nol.
V 12 : menjadi lengkap Tanggapan
12 0 12 : memberikan
lengkap nggapan dugaan ta pada awal kondisi Penerapan
V. 12 ) 0 ( ) 0 ( : awal Kondisi
0 : lengkap ggapan Dugaan tan
pemaksa) fungsi ada tidak ( 0 : paksa ggpan Dugaan tan
: alami ggapan Dugaan tan
1000 0 1000 : tik karakteris Persamaan
1000
0 0
1000
0 0
1000
0
t
t st
p
p
t
a
e v
A A
v v
e A e A v v
v
e A v
s s

− +


=
= → + =
= =
+ = + =
=
=
− = → = +

Pemahaman :
Rangkaian tidak mengandung fungsi pemaksa. Jadi sesungguhnya
yang ada hanyalah tanggapan alami. Tanggapan paksa dinyatakan
sebagai v
p
= 0. Kondisi awal harus diterapkan pada tanggapan leng-
kap
a a p
v v v v + = + = 0 walaupun kita tahu bahwa hanya ada tang-
gapan alami dalam rangkaian ini.
CONTOH-1.2: Saklar S pada rangkaian berikut ini telah lama tertutup.
Pada t = 0 saklar dibuka. Carilah arus dan tegangan induktor untuk t
> 0.
Analisis Transien Rangkaian Orde-1

10 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)


Solusi :
Saklar S telah lama tertutup, berarti keadaan mantap telah tercapai.
Pada keadaan mantap ini tegangan induktor harus nol, karena sum-
ber berupa sumber tegangan konstan. Jadi resistor 3 kΩ terhubung
singkat melalui induktor. Arus pada induktor dalam keadaan mantap
ini (sebelum saklar dibuka) sama dengan arus yang melalui resistor 1
kΩ yaitu mA 50
1000
50
) 0 ( = =

i . Setelah saklar dibuka, rangkaian
tinggal induktor yang terhubung seri dengan resistor 3 kΩ. Untuk
simpul A berlaku 0
3000
= + i
v
A
. Karena v
A
= v
L
= L di/dt, maka per-
samaan ini menjadi 0 6 , 0
3000
1
= + |
¹
|

\
|
i
dt
di
atau
0 3000 0,6 = + i
dt
di

mA 50 : menjadi lengkap Tanggapan
50 : memberikan
lengkap nggapan dugaan ta pada awal kondisi Penerapan
. mA 50 ) 0 ( ) 0 ( : awal Kondisi
0 : lengkap nggapan Dugaan ta
pemaksa) fungsi ada (tak 0 : paksa nggapan Dugaan ta
: alami ggapan Dugaan tan
5000 0 3000 6 , 0 : tik karakteris Persamaan
5000
0
5000
0
5000
0
5000
0
t
t t
p
p
t
a
e i
A
i i
e A e A i i
i
e A i
s s

− +
− −

=
=
= =
+ = + =
=
=
− = → = +


50 V

3 kΩ

1 kΩ

i

0.6 H

+

S

A

Analisis Transien Rangkaian Orde-1
11
CONTOH-1.3: Tentukanlah tegangan kapasitor, v , dan arus kapasitor i
untuk t > 0 pada rangkaian di
samping ini jika diketahui bahwa
kondisi awalnya adalah v(0
+
) =
10 V.
Solusi :
Dalam soal ini tidak tergambar je-
las mengenai terjadinya peruba-
han keadaan (penutupan saklar
misalnya). Akan tetapi disebutkan bahwa kondisi awal v(0
+
) = 10 V.
Jadi kita memahami bahwa rangkaian ini adalah rangkaian untuk
keadaan pada t > 0 dengan kondisi awal sebagaimana disebutkan.
Persamaan tegangan untuk simpul A adalah
0
10
4
5
1
10
1
= − + |
¹
|

\
|
+
i
i v
A
atau 0 6 3 = + i v .
Karena i = C dv/dt = (1/6) dv/dt maka persamaan tersebut menjadi
0 3 = + v
dt
dv

A 5 ) 3 ( 10
6
1
: kapasitor Arus
V 10 : menjadi kapasitor) (tegangan lengkap Tanggapan
0 10 : memberikan awal kondisi Penerapan
V 10 ) 0 ( : awal Kondisi
: lengkap nggapan Dugaan ta
0 : paksa nggapan Dugaan ta
: alami nggapan Dugaan ta
3 0 3 : tik karakteris Persamaan
3 3
3
0
3
0
3
0
t t
t
t
p
p
t
a
e e
dt
dv
C i
e v
A
v
e A v v
v
e A v
s s
− −

+


− = − × × = =
=
+ =
=
+ =
=
=
− = → = +


+

4 i

i

+
v

A

10Ω

5Ω

1/6 F

Analisis Transien Rangkaian Orde-1

12 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

CONTOH-1.4: Tentukanlah arus induktor i(t) untuk t > 0 pada rang-
kaian di samping ini
jika diketahui bahwa
i(0
+
) = 2 A.
Solusi :
Sumber tegangan tak-
bebas berada di anta-
ra dua simpul yang
bukan simpul referensi A dan B, dan kita jadikan simpul super. Den-
gan mengambil i sebagai peubah sinyal, kita peroleh:
A B
B
R B A
B B
v v
v
i v v
v i v i
5
4

2
5 , 0 5 , 0
0 5 6 0
2
1
3
1

: AB Super Simpul
= → = = −
= + → = |
¹
|

\
|
+ +
→ 0 2 3 = +
A
v i
Karena v
A
= L di/dt = 0,5 di/dt maka persamaan di atas menjadi
0 3 = + i
dt
di

A 2 : menjadi lengkap Tanggapan
0 2 : memberikan awal kondisi Penerapan
A 2 ) 0 ( awal Kondisi
0 : lengkap nggapan Dugaan ta
0 : paksa nggapan Dugaan ta
: alami nggapan Dugaan ta
3 0 3 : tik karakteris Persamaan
3
0
3
0
3
0
3
0
t
t t
p
p
t
a
e i
A
i
e A e A v i
i
e A i
s s

+
− −

=
+ =
=
+ = + =
=
=
− = → = +

1.5. Tanggapan Terhadap Sinyal Anak Tangga
Fungsi anak tangga, Au(t), adalah fungsi yang bernilai 0 untuk t < 0 dan
bernilai konstan A untuk t > 0. Masukan yang berupa tegangan dengan
bentuk gelombang sinyal anak tangga dapat digambarkan dengan sebuah
+



0,5 H

3 Ω

2 Ω

0,5 i
R
i

A

B

i
R
Analisis Transien Rangkaian Orde-1
13
sumber tegangan konstan A V seri dengan saklar S yang ditutup pada t
=0 yang akan memberikan tegangan masukan v
s
=Au(t). Rangkaian sum-
ber ini dapat juga kita nyatakan dengan sebuah sumber tegangan bebas
v
s
=Au(t). Kedua cara ini sering digunakan dalam menyatakan persoalan-
persoalan rangkaian.

Jika kita hanya meninjau keadaan untuk t > 0 saja, maka masukan sinyal
anak tangga v
s
= Au(t) dapat kita tuliskan sebagai v
s
= A (konstan) tanpa
menuliskan faktor u(t) lagi.
CONTOH-1.5: Saklar S pada
rangkaian di samping ini telah
lama pada posisi 1. Pada t = 0,
S dipindahkan ke posisi 2.
Tentukan v (tegangan kapasi-
tor) untuk t > 0.
Solusi :
Saklar S telah lama pada posisi 1 dan hal ini berarti bahwa tegangan
kapasitor sebelum saklar dipindahkan ke posisi 2 adalah v(0

) = 0.
Setelah saklar pada posisi 2, aplikasi HTK memberikan persamaan
rangkaian
0 10 12
4
= + + − v i .
Karena i = i
C
= C dv/dt, maka persamaan tersebut menjadi
0 10 1 , 0 10 12
6 4
= + × × + −

v
dt
dv
atau
12 10
3
= +

v
dt
dv

t
a
e A v
s s
1000
0
3 3
: alami nggapan Dugaan ta
1000 10 / 1 0 1 10 : tik karakteris Persamaan

− −
=
− = − = → = +

Fungsi pemaksa bernilai konstan (=12). Kita dapat menduga bahwa
tanggapan paksa akan bernilai konstan juga karena turunannya akan
A V
+
v
s


+

S

+
v
s


Au(t)V

+

12V

10kΩ
+
v

S

2
1

+

0,1µF
i

Analisis Transien Rangkaian Orde-1

14 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

nol sehingga kedua ruas persamaan rangkaian tersebut di atas dapat
berisi suatu nilai konstan.
V 12 12 : menjadi lengkap Tanggapan
12 12 0 : memberikan awal kondisi Penerapan
. 0 ) 0 ( ) 0 ( : awal Kondisi
V 12 : lengkap nggapan Dugaan ta
12 12 0 : rangkaian persamaan ke ini dugaan Masukkan
: paksa nggapan Dugaan ta
1000
0 0
1000
0
t
t
p p
p
e v
A A
v v
e A v
v K v
K v

+

− =
− = → + =
= − =
+ =
= ⇒ = +
=

Pemahaman :
a). Persamaan tegangan
kapasitor ini menunjuk-
kan perubahan tegangan
pada waktu ia diisi, seba-
gaimana terlihat pada
gambar di samping ini.
b). Pemasukan suatu te-
gangan konstan ke suatu rangkaian dengan menutup saklar pada t =
0 sama dengan memberikan bentuk gelombang tegangan anak tang-
ga pada rangkaian. Pernyataan persoalan diatas dapat dinyatakan
dengan sumber sinyal anak tangga dengan tambahan keterangan
bahwa v
C
(0

) = 0.
CONTOH-1.6: Tentukanlah tegan-
gan kapasitor v untuk t > 0 pada
rangkaian di samping ini jika
v(0

) = 4 V.

Solusi :
Aplikasi HTK pada rangkaian ini memberikan
) ( 12 10 0 10 ) ( 12
3 4
t u v
dt
dv
v i t u = + ⇒ = + + −


Jika kita hanya meninjau keadaan untuk t > 0 saja, maka fungsi anak
tangga dapat kita tuliskan sebagai suatu nilai konstan tanpa menulis-
kan u(t) lagi. Jadi persamaan rangkaian di atas menjadi
12u(t)
V

10kΩ
+
v

0,1µF
i

+

v
[V]
12−12e
−1000t
t

0
12
0 0.002 0.004
Analisis Transien Rangkaian Orde-1
15
12 10
3
= +

v
dt
dv

V 8 12 : menjadi lengkap Tanggapan
8 12 4 : memberikan awal kondisi Penerapan
V. 4 ) 0 ( ) 0 ( : awal Kondisi
12 : lengkap nggapan Dugaan ta
12 12 0
konstan) pemaksa (fungsi : paksa nggapan Dugaan ta
: alami nggapan Dugaan ta
10 0 1 10 : tik karakteris Persamaan
1000
0 0
1000
0
1000
0
1000
0
3 3
t
t t
p
p
p
t
a
e v
A A
v v
e A e A v v
v K
K v
e A v
s s

− +
− −


− =
− = → + =
= =
+ = + =
= → = + →
=
=
− = → = +

CONTOH-1.7: Semula, rangkaian berikut ini tidak mempunyai
simpanan energi awal dan saklar S terbuka (tidak pada posisi 1
maupun 2). Kemudian saklar S ditutup pada posisi 1 selama
beberapa milidetik sampai arus yang mengalir pada resistor 15 Ω
mencapai 2,6 A. Segera setelah nilai arus ini dicapai, saklar dipindah
ke posisi 2. Carilah tegangan kapasitor mulai saat saklar pada posisi
2.

Solusi :
Persoalan menutup saklar ke posisi 1 adalah persoalan pengisian
kapasitor. Kita tidak membahasnya lagi, dan selain itu berapa lama
saklar ada di posisi 1 juga tidak dipermasalahkan. Informasi bahwa
saklar ditutup pada posisi 1 sampai arus mencapai 2,6 A
menunjukkan bahwa sesaat sebelum saklar dipindahkan ke posisi 2,
tegangan di simpul A (yang berarti pula tegangan pada kapasitor v),

i
C

S
15Ω
1/30 F
50 V

10 Ω
1
2

+
v


A
100 V

+

+

Analisis Transien Rangkaian Orde-1

16 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

telah mencapai nilai tertentu yaitu
V 11 6 , 2 15 50 ) 0 ( = × − =

v .
Setelah saklar ada di posisi 2, yaitu pada t > 0, persamaan tegangan
untuk simpul A adalah:
3
20
6
1
atau 0
15
100
10
1
15
1
= + = − + |
¹
|

\
|
+
C C A
i v i v
Karena i
C
= C dv/dt , maka persamaan di atas menjadi
3
20
30
1
6
1
= +
dt
dv
v atau
200 5 = + v
dt
dv

V. 29 40 : menjadi lengkap Tanggapan
29 40 11 : memberikan awal kondisi Penerapan
V 11 ) 0 ( ) 0 ( awal Kondisi
40 : lengkap nggapan Dugaan ta
40 200 5 0 : paksa nggapan Dugaan ta
: alami nggapan Dugaan ta
5 0 5 : tik karakteris Persamaan
5
0 0
5
0
5
0
5
0
t
t t
p
p p
t
a
e v
A A
v v
e A e A v v
v K K v
e A v
s s

− +
− −

− =
− = → + =
= =
+ = + =
= → = + → =
=
− = → = +

CONTOH-1.8: Semula, rangkaian berikut ini tidak mempunyai sim-
panan energi awal. Pada t = 0 saklar S ditutup di posisi 1 selama sa-
tu detik kemudian dipindah ke posisi 2. Carilah tegangan kapasitor
untuk t > 0.
Analisis Transien Rangkaian Orde-1
17


i
C

S
150Ω
1/30 F
100Ω
2
1

+
v


A
50 V

+

Analisis Transien Rangkaian Orde-1

18 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

Solusi :
Pada waktu saklar di posisi 1, persamaan tegangan simpul A adalah
0
300
100
30
1
300
5
0
150
50
100
1
150
1
= − + |
¹
|

\
|

= − + |
¹
|

\
|
+
dt
dv
v
i v
C A

atau 20 2 = +
dt
dv
v
[ ][ ] V ) 1 ( ) ( 20 20 : sebagai dituliskan dapat atau
1 0 untuk V 20 20 : menjadi lengkap Tanggapan
20 20 0 awal kondisi Penerapan
0 ) 0 ( : awal Kondisi
20 : lengkap nggapan Dugaan ta
20 0 : paksa nggapan Dugaan ta
: alami nggapan Dugaan ta
5 , 0 0 2 1 : tik karakteris Persamaan
5 . 0
1
5 . 0
1
0 0
1
5 , 0
0
5 , 0
0 1
5 , 0
0
− − − =
≤ < − =
− = → + = →
=
+ = + =
= + → =
=
− = → = +


+
− −

t u t u e v
t e v
A A
v
e A e A v v
K K v
e A v
s s
t
t
t t
p
p
t
a

Tanggapan ini berlangsung selama 1 detik, yaitu sampai saat saklar
S dipindahkan ke posisi 2. Pada saat t = 1, tegangan kapasitor adalah
V 9 , 7 1 , 12 20 20 20
5 , 0
1
= − = − =

e v
Untuk t > 1, persamaan tegangan simpul A adalah
0
30
1
300
5
0
100
1
150
1
= + |
¹
|

\
|
→ = + |
¹
|

\
|
+
dt
dv
v i v
C A
atau
0 2 = +
dt
dv
v
Analisis Transien Rangkaian Orde-1
19
[ ]
[ ]
) 1 ( 9 , 7 : menjadi lengkap Tanggapan
9 , 7 0 9 , 7 : ) 1 ( awal kondisi Penerapan
V 7,9 ) 1 ( ) 1 ( : awal Kondisi
) 1 ( 0
) 1 ( : lengkap Tanggapan
0 : paksa Tanggapan
1 ( : sebagai dituliskan dapat atau
1 untuk , 0
1 untuk , : alami nggapan Dugaan ta
5 , 0 0 2 1 : tik karakteris Persamaan
) 1 ( 5 , 0
2
01 01
1 2
) 1 ( 5 , 0
01
) 1 ( 5 , 0
01 1 2
1
) 1 ( 5 , 0
01
5 , 0
01
− =
= → + = =
= =
− + =
− + =
=
− =
< =
≥ =
− = → = +
− −
+
− +
− −
− −
− −

t u e v
A A t
v v
t u e A
t u e A v v
v
t u e A v
t v
t e A v
s s
t
t
t
p
p
t
a
a
t
a

Pernyataan tanggapan lengkap untuk seluruh selang waktu adalah
( )( ) ) 1 ( 9 , 7 ) 1 ( ) ( 20 20
) 1 ( 5 , 0 5 , 0
2 1
− + − − − = + =
− − −
t u e t u t u e v v v
t t

Pemahaman :
Gambar dari perubahan tegangan kapasitor adalah seperti di bawah
ini.

v
t
(20−20e
−0,5t
){u(t)−u(t−1)}
7,9e
−0,5(t−1)
u(t−1)
0
2
4
6
8
10
0 0.5 1 1.5 2 2.5
Analisis Transien Rangkaian Orde-1

20 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

1.5.1. Prinsip Superposisi
Prinsip superposisi berlaku juga pada analisis transien. Jika rangkaian
mengandung beberapa fungsi pemaksa, maka tanggapan total rangkaian
adalah jumlah dari tanggapan lengkap dari masing-masing fungsi pe-
maksa yang ditinjau secara terpisah.
CONTOH-1.9: Masukan pada rangkaian contoh 1.8. dapat dinyatakan
sebagai sebuah sinyal impuls yang muncul pada t = 0 dengan ampli-
tudo 50 V dan durasinya 1 detik. Carilah v untuk t > 0.
Solusi :
Sinyal impuls ini dapat dinyatakan dengan fungsi anak tangga seba-
gai
V ) 1 ( 50 ) ( 50 − − = t u t u v
s

Kita dapat memandang masukan ini sebagai terdiri dari dua sumber
yaitu
V ) 1 ( 50 dan V ) ( 50
2 1
− − = = t u v t u v
s s

Rangkaian ekivalennya dapat digambarkan seperti di bawah ini.

Untuk v
s1
persamaan rangkaian adalah
0
150
50
100
1
150
1
= − + |
¹
|

\
|
+
C A
i v ⇒ ) ( 20 2 t u
dt
dv
v = +
Tanggapan lengkap dari persamaan ini telah diperoleh pada contoh
1.8. yaitu
( ) V ) ( 20 20
5 , 0
o1
t u e v
t −
− =
Untuk v
s2
dengan peninjauan hanya pada t > 1, persamaan rangkaian
adalah

i
C

150Ω
1/30 F
100Ω
+
v


A
50u(t) V

+


+
50u(t−1) V

Analisis Transien Rangkaian Orde-1
21
0
150
50
100
1
150
1
= + + |
¹
|

\
|
+
C A
i v atau
) 1 ( 20 2 − − = + t u
dt
dv
v
( )
( ) ( ) V ) 1 ( 20 20 ) ( 20 20

: total Tanggapan
V ) 1 ( 20 20
: menjadi lengkap Tanggapan
20 20 0 0 ) 1 ( : awal Kondisi
) 1 ( 20 : lengkap nggapan Dugaan ta
20 0 : paksa nggapan Dugaan ta
) 1 ( : alami nggapan Dugaan ta
5 , 0 0 1 2 : tik karakteris Persamaan
) 1 ( 5 , 0 5 , 0
o2 o1
) 1 ( 5 , 0
o2
01 01
) 1 ( 5 , 0
01 o2
2 2 2
) 1 ( 5 , 0
01
− + − + − =
+ =
− + − =
= → + − = → =
− + − =
− = + → =
− =
− = → = +
− − −
− −
+
− −
− −
t u e t u e
v v v
t u e v
A A v
t u e A v
K K v
t u e A v
s s
t t
t
t
p
t
a

Hasil ini sama dengan yang telah diperoleh pada contoh-1.8.
1.6. Tanggapan Rangkaian Orde-1 Terhadap Sinyal Sinus
Berikut ini kita akan melihat tanggapan rangkaian terhadap sinyal sinus.
Karena tanggapan alami tidak tergantung dari bentuk fungsi pemaksa,
maka pencarian tanggapan alami dari rangkaian ini sama seperti apa yang
kita lihat pada contoh-contoh sebelumnya,. Jadi dalam hal ini perhatian
kita lebih kita tujukan pada pencarian tanggapan paksa.
Bentuk umum dari fungsi sinus yang muncul pada t = 0 adalah
) ( ) cos( t u t A y θ + ω = (1.15.a)
Jika kita hanya meninjau keadaan untuk t > 0 saja, maka u(t) pada
(1.15.a) tidak perlu dituliskan lagi, sehingga pernyataan fungsi sinus
menjadi
) cos( θ + ω = t A y (1.15.b)
Fungsi sinus umum ini dapat kita tuliskan sebagai berikut.
Analisis Transien Rangkaian Orde-1

22 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

{ } θ ω − θ ω = θ + ω = sin sin cos cos ) cos( t t A t A y
θ − = θ =
ω + ω =
sin dan cos dengan
sin cos
A A A A
t A t A y
s c
s c
(1.16)
Dengan pernyataan umum seperti (1.16), kita terhindar dari perhitungan
sudut fasa θ, karena sudut fasa ini tercakup dalam koefisien A
c
dan A
s
.
Dalam analisis rangkaian yang melibatkan sinyal sinus, kita akan
menggunakan bentuk umum sinyal sinus seperti (1.16). Koefisien A
c
dan
A
s
tidak selalu ada. Jika sudut fasa θ = 0 maka A
s
= 0 dan jika θ = 90
o

maka A
c
= 0. Jika kita memerlukan nilai sudut fasa dari fungsi sinus
yang dinyatakan dengan persamaan umum (1.16), kita menggunakan
hubungan
c
s
A
A
= θ tan (1.17)
Turunan fungsi sinus akan berbentuk sinus juga.
t A t A
dt
y d
t A t A
dt
dy
t A t A y
s c
s c s c
ω ω − ω ω − =
ω ω + ω ω − = ω + ω =
sin cos
cos sin ; sin cos
2 2
2
2
(1.18)
Oleh karena itu, penjumlahan y dan turunannya akan berbentuk fungsi
sinus juga dan hal inilah yang
membawa kita pada
persamaan (1.8).
CONTOH-1.10: Carilah
tegangan dan arus
kapasitor untuk t > 0 pada
rangkaian di bawah ini,
jika diketahui bahwa diketahui bahwa v
s
=50cos10t u(t) V dan v(0
+
) = 0.
Solusi :
Persamaan tegangan simpul untuk simpul A adalah
15 6
1
0
15 10
1
15
1
s
C
s
C
v
i v
v
i v = + → = − + |
¹
|

\
|
+
Karena i
C
= C dv/dt , persamaan di atas dapat kita tulis

i
C

A
15Ω
1/30 F
v
s

10Ω
+
v

+

Analisis Transien Rangkaian Orde-1
23
15 30
1
6
1
s
v
dt
dv
v = + atau t v
dt
dv
10 cos 100 5 = +
Faktor u(t) tak dituliskan lagi karena kita hanya melihat keadaan
pada t > 0.
t
a
e A v
s s
5
0
: alami nggapan Dugaan ta
5 0 5 : tik karakteris Persamaan

=
− = → = +

Fungsi pemaksa berbentuk sinus. Tanggapan paksa kita duga akan
berbentuk A
c
cosωt+A
s
sinωt.
t
p
s c c c c s
c s s c
s c s c
s c p
e A t t v
t t v
A A A A A A
A A A A
t t A t A t A t A
t A t A v
5
0
10 sin 8 10 cos 4 : lengkap nggapan Dugaan ta
10 sin 8 10 cos 4 : paksa Tanggapan
8 dan 4 100 5 20 2
100 5 10 dan 0 5 10
10 cos 100 10 sin 5 10 cos 5 10 cos 10 10 sin 10
: memberikan rangkaian persamaan ke ini dugaan tanggapan Substitusi
10 sin 10 cos : paksa nggapan Dugaan ta

+ + =
+ =
= = ⇒ = + → = →
= + = + − →
= + + + −
+ =

( )
A 66 , 0 10 cos 66 , 2 10 sin 33 , 1
20 10 cos 80 10 sin 40
30
1
: kapasitor Arus
V 4 10 sin 8 10 cos 4 : kapasitor tegangan Jadi
4 4 0 : awal kondisi Penerapan
0 ) 0 ( awal Kondisi
5
5
5
0 0
t
t
C
t
e t t
e t t
dt
dv
C i
e t t v
A A
v



+
+ + − =
+ + − = =
− + =
− = → + =
=

CONTOH-1.11: Carilah tegangan dan arus kapasitor pada contoh-1.10.
jika kondisi awalnya adalah v(0
+
) = 10 V.
Solusi :
Tanggapan lengkap telah diperoleh pada contoh-1.10.
Analisis Transien Rangkaian Orde-1

24 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

( )
A 10 cos 33 , 2 10 sin 33 , 1
30 10 cos 80 10 sin 40
30
1
: kapasitor Arus
V 6 10 sin 8 10 cos 4 : Jadi
6 4 10 10 ) 0 ( awal Kondisi
10 sin 8 10 cos 4 : lengkap Tanggapan
5
5
5
0 0
5
0
t
t
C
t
t
e t t
e t t
dt
dv
C i
e t t v
A A v
e A t t v



+

− + − =
− + − = =
+ + =
= → + = → =
+ + =

CONTOH-1.12: Carilah tegangan kapasitor pada contoh 1.10. jika v
s
=
50cos(10t + θ)u(t) V dan kondisi awalnya adalah v(0
+
) = 10 V.
Solusi :
t A t A v
e A v
t t
t v
dt
dv
s c p
t
a
10 sin 10 cos : paksa nggapan Dugaan ta
4.10.) contoh seperti (sama : alami Tanggapan
10 sin sin 100 10 cos cos 100
) 10 cos( 100 5 : rangkaian Persamaan
5
0
+ =
=
θ − θ =
θ + = +


t
t
s c
c c c s
c s s c
s c s c
e t t v
A
A v
e A t t v
A A
A A A A
A A A A
t t
t A t A t A t A
5
0
0
5
0
) sin 8 cos 4 10 ( ) 10 sin( 8 ) 10 cos( 4 : Jadi
) sin 8 cos 4 ( 10
sin 8 cos 4 10 10 ) 0 ( awal Kondisi
) 10 sin( 8 ) 10 cos( 4 : lengkap Tanggapan
cos 8 sin 4 dan sin 8 4cos
cos 100 5 20 sin 200 dan 2 sin 20
cos 100 5 10 dan sin 100 5 10
10 sin sin 100 10 cos cos 100
10 sin 5 10 cos 5 10 cos 10 10 sin 10
: memberikan
rangkaian persamaan ke ini dugaan paksa tanggapan Substitusi

+

θ − θ − + θ + + θ + =
θ + θ − = →
+ θ + θ = → =
+ θ + + θ + =
θ + θ − = θ + θ = ⇒
θ = + + θ − + θ − = →
θ = + θ − = + − →
θ − θ =
+ + + −

Analisis Transien Rangkaian Orde-1
25
1.7. Tanggapan Masukan Nol dan Tanggapan Status Nol
Jika suatu rangkaian tidak mempunyai masukan, dan yang ada hanyalah
simpanan energi dalam rangkaian, maka tanggapan rangkaian dalam
peristiwa ini kita sebut tanggapan masukan nol. Bentuk tanggapan ini
secara umum adalah
t a b
m
e y y
) / (
0
) 0 (
− +
= (1.19)
Sebagaimana kita ketahui y(0
+
) adalah kondisi awal, yang menyatakan
adanya simpanan energi pada rangkaian pada t = 0

. Jadi tanggapan
masukan nol merupakan pelepasan energi yang semula tersimpan dalam
rangkaian.
Jika rangkaian tidak mempunyai simpanan energi awal, atau kita katakan
ber-status-nol, maka tanggapan rangkaian dalam peristiwa ini kita sebut
tanggapan status nol. Bentuk tanggapan ini ditunjukkan oleh (1.13) yang
kita tuliskan lagi sebagai
t a b
f f s
e y y y
) / (
0
) 0 (
− +
− = (1.20)
dengan y
f
adalah tanggapan keadaan mantap atau keadaan final, yang
telah kita sebut pula sebagai tanggapan paksa. Suku kedua adalah negatif
dari nilai tanggapan mantap pada t = 0 yang menurun secara
eksponensial. Ini merupakan reaksi alamiah rangkaian yang mencoba
mempertahankan status-nol-nya pada saat muncul fungsi pemaksa pada t
= 0. Jadi suku kedua ini tidak lain adalah tanggapan alamiah dalam status
nol.
Tanggapan lengkap rangkaian seperti ditunjukkan oleh (1.12) dapat kita
tuliskan kembali sebagai
t a b t a b
f f m s
e y e y t y y y y
) / ( ) / (
0 0
) 0 ( ) 0 ( ) (
− + − +
+ − = + =
Pengertian mengenai tanggapan status nol dan tanggapan masukan nol
tersebut di atas, mengingatkan kita pada prinsip superposisi. Rangkaian
dapat kita pandang sebagai mengandung dua macam masukan; masukan
yang pertama adalah sumber yang membangkitkan fungsi pemaksa x(t),
dan masukan yang kedua adalah simpanan energi awal yang ada pada
rangkaian. Dua macam masukan itu masing-masing dapat kita tinjau se-
cara terpisah. Jika hanya ada fungsi pemaksa, kita akan mendapatkan
tanggapan status nol y
s0
, dan jika hanya ada simpanan energi awal saja
Analisis Transien Rangkaian Orde-1

26 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

maka kita akan mendapatkan tanggapan masukan nol y
m0
. Tanggapan
lengkap adalah jumlah dari tanggapan status nol dan tanggapan masukan
nol, y = y
s0
+ y
m0
. Sebagai contoh kita akan melihat lagi persoalan pada
contoh 1.11. yang akan kita selesaikan dengan menggunakan pengertian
tanggapan status nol dan tanggapan masukan nol.
CONTOH-1.13: Carilah tegangan dan arus kapasitor untuk t > 0 pada
rangkaian di samping ini,
jika diketahui bahwa
v(0
+
) = 10 V dan
v
s
=50cos10t u(t) V


Solusi :
Persamaan rangkaian ini
telah kita dapatkan untuk peninjauan pada t > 0, yaitu
t v
dt
dv
10 cos 100 5 = +
t
m s
t
st
f f s
f f
s c
c c c s
c s s c
s c s c
s c f
t
m m
m
t
m m
e t t v v v
e t t
e v v v
v t t v
A A
A A A A
A A A A
t
t A t A t A t A
t A t A v
e v K
v v
e K v
s s
5
0 0
5
0
5
0 0
0
5
0 0
6 10 sin 8 10 cos 4 : lengkap Tanggapan
4 10 sin 8 10 cos 4
) 0 ( : nol status Tanggapan
4 ) 0 ( 10 sin 8 10 cos 4 : mantap Tanggapan
8 4
100 5 20 100 5 10
2 0 5 10
10 cos 100
10 sin 5 10 cos 5 10 cos 10 10 sin 10
10 sin 10 cos : mantap nggapan Dugaan ta
10 10
10 ) 0 ( ) 0 ( : awal Kondisi
: nol masukan Tanggapan
5 0 5 : tik karakteris Persamaan


+
+

+ +

+ + = + =
− + =
− =
= → + =
= ⇒ = ⇒
= + → = +
= → = + − →
=
+ + + − →
+ =
= ⇒ = ⇒
= =
=
− = → = +


i
C

15Ω
1/30 F
v
s 10Ω
+
v

+

Analisis Transien Rangkaian Orde-1
27
1.8. Ringkasan Mengenai Tanggapan Rangkaian Orde-1
Tanggapan rangkaian terdiri dari tanggapan paksa dan tanggapan alami.
Tanggapan alami merupakan komponen transien dengan konstanta waktu
yang ditentukan oleh nilai-nilai elemen rangkaian. Tanggapan paksa
merupakan tanggapan rangkaian terhadap fungsi pemaksa dari luar dan
merupakan komponen mantap atau kondisi final.

Tanggapan rangkaian juga dapat dipandang sebgai terdiri dari tanggapan
status nol dan tanggapan masukan nol. Tanggapan status nol adalah
tanggapan rangkaian tanpa simpanan energi awal. Tanggapan masukan
nol adalah tanggapan rangkaian tanpa masukan atau dengan kata lain
tanggapan rangkaian tanpa pengaruh fungsi pemaksa.


Tanggapan Paksa :
ditentukan oleh fungsi pemaksa.
merupakan komponen mantap; tetap ada untuk t →∞.
Tanggapan Alami :
tidak ditentukan oleh fungsi pemaksa.
merupakan komponen transien; hilang pada t →∞.
konstanta waktu τ = a/b
τ −
+ =
/
0
) (
t
p
e A t y y
τ − + τ − +
+ − =
/ /
) 0 ( ) 0 ( ) (
t t
p p
e y e y t y y
Tanggapan Status Nol :
tanggapan rangkaian jika tidak ada simpanan energi awal.
Tanggapan Masukan Nol :
tanggapan rangkaian jika tidak ada masukan.
upaya rangkaian untuk melepaskan simpanan energinya.
Analisis Transien Rangkaian Orde-1

28 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

Soal-Soal
1. Carilah bentuk gelombang tegangan / arus yang memenuhi persamaan
diferensial berikut.
V 5 ) 0 ( , 0 15 b).
V 10 ) 0 ( , 0 10 . a)
= = +
= = +
+
+
v v
dt
dv
v v
dt
dv

mA 5 ) 0 ( , 0 10 d).
A 2 ) 0 ( , 0 8 . c)
4
− = = +
= = +
+
+
i i
dt
di
i i
dt
di

V 5 ) 0 ( , ) ( 10 10 f).
0 ) 0 ( , ) ( 10 10 . e)
= = +
= = +
+
+
v t u v
dt
dv
v t u v
dt
dv

mA 20 ) 0 ( , ) ( 100 10 h).
0 ) 0 ( , ) ( 100 10 . g)
4
4
− = = +
= = +
+
+
i t u i
dt
di
i t u i
dt
di

V 5 ) 0 ( , ) ( ) 5 cos( 10 10 j).
0 ) 0 ( , ) ( ) 5 cos( 10 5 . i)
= = +
= = +
+
+
v t u t v
dt
dv
v t u t v
dt
dv
A 5 , 0 ) 0 ( , ) ( ] 100 [sin 100 10 l).
0 ) 0 ( , ) ( ] 100 [sin 100 10 . k)
4
4
= = +
= = +
+
+
i t u t i
dt
di
i t u t i
dt
di

Analisis Transien Rangkaian Orde-1
29
2. Saklar S pada rangkaian di bawah ini, telah lama berada pada posisi A.
Pada t = 0, ia dipindahkan ke posisi B. Carilah v
C
untuk t > 0.

3. Saklar S pada rangkaian di bawah ini, telah lama tertutup. Pada t = 0,
ia dibuka. Carilah i
L
untuk t > 0.

4. Saklar S pada rangkaian di bawah ini, telah lama tertutup. Pada t = 0,
ia dibuka. Carilah v
C
untuk t > 0.

5. Saklar S pada rangkaian di bawah ini, telah lama terbuka. Pada t = 0,
ia ditutup. Carilah v
C
untuk t > 0.

0,6kΩ
0,5kΩ

20 V

S

2kΩ

+
v
C


0,1µF

+

2kΩ
1kΩ

18 V

S

2kΩ

+
v
C


+

1µF

2kΩ
1kΩ

20 V

S

2kΩ

1H

i
L
+

+
v
C


1kΩ
1kΩ

10µF
20 V

+

S

A
B

Analisis Transien Rangkaian Orde-1

30 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

6. Saklar S pada rangkaian di bawah ini, telah lama terbuka. Pada t = 0,
ia ditutup. Carilah v
o
untuk t > 0.

7. Saklar S pada rangkaian di bawah ini, telah lama terbuka. Pada t = 0,
ia ditutup. Carilah v
o
untuk t > 0.


8. Rangkaian di bawah ini telah lama dalam keadaan mantap dengan
saklar dalam keadaan terbuka. Pada t = 0 saklar S ditutup. Tentukan
i dan v untuk t > 0.

9. Sebuah kumparan mempunyai induktansi 10 H dan resistansi 10 Ω.
Pada t = 0, kumparan ini diberi tegangan 100 V. Berapa lama dibu-
tuhkan waktu untuk mencapai arus setengah dari nilai akhirnya ?
10. Sebuah rele mempunyai kumparan dengan induktansi 1,2 H yang
resis-tansinya 18 Ω. Jangkar rele akan terangkat jika arus di
kumparannya mencapai 50 mA. Rele ini dioperasikan dari jauh
melalui kabel yang resistansi totalnya 45 Ω dan dicatu oleh batere 12
V dengan resistansi internal 1 Ω. Hitunglah selang waktu antara saat
ditutupnya rangkaian dengan saat mulai beroperasinya rele.
1Ω

i

12Ω

4Ω

+
v
_

2 H

5A

5Ω

S

10kΩ
6kΩ

20 V

S

20kΩ

+
v
o


+

3H

3kΩ
8kΩ

20 V

S

2kΩ

+
v
o


0,1µF

+

Analisis Transien Rangkaian Orde-1
31
11. Sebuah kapasitor 20 µF terhubung paralel dengan resistor R.
Rangkaian ini diberi tegangan searah 500 V dan setelah cukup lama
sumber tegangan dilepaskan. Tegangan kapasitor menurun mencapai
300 V dalam waktu setengah menit. Hitunglah berapa MΩ resistor
yang terparalel dengan kapasitor ?
12. Pada kabel penyalur daya, konduktor dan pelindung metalnya
membentuk suatu kapasitor. Suatu kabel penyalur daya searah
sepanjang 10 km mempunyai kapasitansi 2,5 µF dan resistansi
isolasinya 80 MΩ. Jika kabel ini dipakai untuk menyalurkan daya
searah pada tegangan 20 kV, kemudian beban dilepaskan dan
tegangan sumber juga dilepaskan, berapakah masih tersisa tegangan
kabel 5 menit setelah dilepaskan dari sumber ?
13. Tegangan bolak-balik sinus dengan amplitudo 400 V dan frekuensi
50 Hz, diterapkan pada sebuah kumparan yang mempunyai
induktansi 0,1 H dan resistansinya 10 Ω. Bagaimanakah persamaan
arus yang melalui kumparan itu beberapa saat setelah tegangan
diterapkan ? Dihitung dari saat tegangan diterapkan, berapa lamakah
keadaan mantap tercapai ?



Analisis Transien Rangkaian Orde-2
33
BAB 2 Analisis Transien Rangkaian Orde-2
Dengan mempelajari analisis transien sistem orde ke-dua kita akan
• mampu menurunkan persamaan rangkaian yang merupakan
rangkaian orde-2.
• memahami bahwa tanggapan rangkaian terdiri dari tanggapan
paksa dan tanggapan alami yang mungkin berosilasi.
• mampu melakukan analisis transien pada rangkaian orde-2.
2.1. Contoh Rangkaian Orde-2
Rangkaian RLC Seri. Kita lihat rangkaian seri RLC seperti pada Gb.2.1.
Saklar S ditutup pada t =
0. Langkah pertama
dalam mencari
tanggapan rangkaian ini
adalah mencari
persamaan rangkaian.
Karena rangkaian
mengandung C dan L, maka ada dua peubah
status, yaitu tegangan
kapasitor dan arus
induktor, yang dapat kita duktor, yang dapat kita pilih untuk digunakan dalam mencari persamaan
rangkaian,. Kita akan mencoba lebih dulu menggunakan tegangan
kapasitor sebagai peubah rangkaian, kemudian melihat apa yang akan
kita dapatkan jika arus induktor yang kita pilih.
Aplikasi HTK untuk t > 0 pada rangkaian ini memberikan :
in
v v
dt
di
L Ri = + + (2.1)
Karena i = i
C
= C dv/dt, maka persamaan (2. 1) menjadi :
Gb.2.1. Rangkaian RLC seri.
R
i
C
+
v

L
v
s
+


S
+
v
in


Analisis Transien Rangkaian Orde-2

34 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

in
v v
dt
dv
RC
dt
v d
LC = + +
2
2
(2.2)
Persamaan (2.2) adalah persamaan diferensial orde-2, yang merupakan
diskripsi lengkap rangkaian, dengan tegangan kapasitor sebagai peubah.
Untuk memperoleh persamaan rangkaian dengan arus induktor i sebagai
peubah, kita manfaatkan hubungan arus-tegangan kapasitor, yaitu

= → = = idt
C
v
dt
dv
C i i
C
1

sehingga (2.1) menjadi:
in
v v idt
C
Ri
dt
di
L = + + +

) 0 (
1
atau

in
in
i
dt
dv
C i
dt
di
RC
dt
i d
LC = = + +
2
2
(2.3)
Persamaan (2.2) dan (2.3) sama bentuknya, hanya peubah sinyalnya
yang berbeda. Hal ini berarti bahwa tegangan kapasitor ataupun arus
induktor sebagai peubah akan memberikan persamaan rangkaian yang
setara. Kita cukup mempelajari salah satu di antaranya.
Rangkaian RLC Paralel. Perhatikan rangkaian RLC paralel seperti pada
Gb.2.2. Aplikasi HAK
pada simpul A mem-
berikan
s C L R
i i i i = + +
Hubungan ini dapat din-
yatakan dengan arus
induktor i
L
= i sebagai
peubah, dengan meman-
faatkan hubungan v =v
L

=L di/dt, sehingga i
R
=
v/R dan i
C
= C dv/dt .
R
i
L
= i
C
+
v

L
i
R
i
C
Gb.2.2. Rangkaian paralel RLC
A
B
i
s
Analisis Transien Rangkaian Orde-2
35
s
s
i i
dt
di
R
L
dt
i d
LC
i
dt
dv
C i
R
v
= + +
= + +
2
2
atau
(2.4)
Persamaan rangkaian paralel RLC juga merupakan persamaan diferensial
orde-2.
2.2. Tinjauan Umum Tanggapan Rangkaian Orde-2
Secara umum rangkaian orde-2 mempunyai persamaan yang berbentuk
) (
2
2
t x cy
dt
dy
b
dt
y d
a = + + (2.5)
Pada sistem orde satu kita telah melihat bahwa tanggapan rangkaian ter-
diri dari dua komponen yaitu tanggapan alami dan tanggapan paksa. Hal
yang sama juga terjadi pada sistem orde-2 yang dengan mudah dapat
ditunjukkan secara matematis seperti halnya pada sistem orde-1. Perbe-
daan dari kedua sistem ini terletak pada kondisi awalnya. Karena rang-
kaian orde-2 mengandung dua elemen yang mampu menyimpan energi
yaitu L dan C, maka dalam sistem ini baik arus induktor maupun tegan-
gan kapasitor harus merupakan fungsi kontinyu. Oleh karena itu ada dua
kondisi awal yang harus dipenuhi, yaitu
) 0 ( ) 0 ( dan ) 0 ( ) 0 (
− + − +
= =
L L C C
i i v v
Dalam penerapannya, kedua kondisi awal ini harus dijadikan satu, arti-
nya v
C
dinyatakan dalam i
L
atau sebaliknya i
L
dinyatakan dalam v
C
, ter-
gantung dari apakah peubah y pada (2.25) berupa tegangan kapasitor
ataukah arus induktor.
Sebagai contoh, pada rangkaian RLC seri hubungan antara v
C
dan i
L
ada-
lah
C
i
dt
dv
dt
dv
C i i i
C C
C L
) 0 (
) 0 ( atau ) 0 ( ) 0 ( ) 0 ( ) 0 (
+
+ + + + +
= = = =
Dengan demikian jika peubah y adalah tegangan kapasitor, dua kondisi
awal yang harus diterapkan, adalah:
Analisis Transien Rangkaian Orde-2

36 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

C
i
dt
dv
v v
L C
C C
) 0 (
) 0 ( dan ) 0 ( ) 0 (
+
+ − +
= = .
Contoh lain adalah rangkaian paralel RLC; hubungan antara v
C
dan i
L

adalah
L
v
dt
di
dt
di
L v v
C L L
L C
) 0 (
) 0 ( atau ) 0 ( ) 0 ( ) 0 (
+
+ + + +
= = =
Dengan demikian jika peubah y adalah arus induktor, dua kondisi awal
yang harus diterapkan, adalah:
L
v
dt
di
i i
C L
L L
) 0 (
) 0 ( dan ) 0 ( ) 0 (
+
+ − +
= = .
Secara umum, dua kondisi awal yang harus kita terapkan pada (2.5) ada-
lah
rangkaian hubungan dari dicari ) 0 ( ' dengan
) 0 ( ' ) 0 ( dan ) 0 ( ) 0 (
+
+ + − +
= =
y
y
dt
dy
y y
(2.6)
Tanggapan Alami. Tanggapan alami diperoleh dari persamaan rangkaian
dengan memberikan nilai nol pada ruas kanan dari persamaan (2.5), se-
hingga persamaan menjadi
0
2
2
= + + cy
dt
dy
b
dt
y d
a (2.7)
Agar persamaan ini dapat dipenuhi, y dan turunannya harus mempunyai
bentuk sama sehingga dapat diduga y berbentuk fungsi eksponensial y
a
=
Ke
st
dengan nilai K dan s yang masih harus ditentukan. Kalau solusi ini
dimasukkan ke (2.7) akan diperoleh :
( ) 0
atau 0
2
2
= + +
= + +
c bs as Ke
cKe bKse e aKs
st
st st st
(2.8)
Fungsi e
st
tidak boleh nol untuk semua nilai t . Kondisi K = 0 juga tidak
diperkenankan karena hal itu akan berarti y
a
= 0 untuk seluruh t. Satu-
satunya jalan agar persamaan ini dipenuhi adalah
Analisis Transien Rangkaian Orde-2
37
0
2
= + + c bs as (2.9)
Persamaan ini adalah persamaan karakteristik rangkaian orde-2. Secara
umum, persamaan karakteristik yang berbentuk persamaan kwadrat itu
mempunyai dua akar yaitu :
a
ac b b
s s
2
4
,
2
2 1
− ± −
= (2.10)
Akar-akar persamaan ini mempunyai tiga kemungkinan nilai, yaitu: dua
akar riil berbeda, dua akar sama, atau dua akar kompleks konjugat.
Konsekuensi dari masing-masing kemungkinan nilai akar ini terhadap
bentuk gelombang tanggapan rangkaian akan kita lihat lebih lanjut.
Untuk sementara ini kita melihat secara umum bahwa persamaan
karakteristik mempunyai dua akar.
Dengan adanya dua akar tersebut maka kita mempunyai dua tanggapan
alami, yaitu:
t s
a
t s
a
e K y e K y
2 1
2 2 1 1
dan = =
Jika y
a1
merupakan solusi dan y
a2
juga merupakan solusi, maka jumlah
keduanya juga merupakan solusi. Jadi tanggapan alami yang kita cari
akan berbentuk
t s t s
a
e K e K y
2 1
2 1
+ = (2.11)
Konstanta K
1
dan K
2
kita cari melalui penerapan kondisi awal pada
tanggapan lengkap.
Tanggapan Paksa. Tanggapan paksa kita cari dari persamaan (2.5).
Tanggapan paksa ini ditentukan oleh bentuk fungsi masukan. Cara
menduga bentuk tanggapan paksa sama dengan apa yang kita pelajari
pada rangkaian orde-1, yaitu relasi (2.8). Untuk keperluan pembahasan di
sini, tanggapan paksa kita umpamakan sebagai y
paksa
= y
p
.
Tanggapan Lengkap. Dengan pemisalan tanggapan paksa tersebut di
atas maka tanggapan lengkap (tanggapan rangkaian) menjadi
t s t s
p a p
e K e K y y y y
2 1
2 1
+ + = + = (2.12)
Analisis Transien Rangkaian Orde-2

38 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

2.3. Tiga Kemungkinan Bentuk Tanggapan
Sebagaimana disebutkan, akar-akar persamaan karakteristik yang bentuk
umumnya adalah as
2
+ bs + c = 0 dapat mempunyai tiga kemungkinan
nilai akar, yaitu:
a). Dua akar riil berbeda, s
1
≠ s
2
, jika {b
2
− 4ac } > 0;
b). Dua akar sama, s
1
= s
2
= s

, jika {b
2
−4ac } = 0;
c). Dua akar kompleks konjugat s
1
, s
2
= α ± jβ jika {b
2
−4ac } < 0.
Tiga kemungkinan nilai akar tersebut akan memberikan tiga
kemungkinan bentuk tanggapan yang akan kita lihat berikut ini, dengan
contoh tanggapan rangkaian tanpa fungsi pemaksa.
Dua Akar Riil Berbeda. Kalau kondisi awal y(0
+
) dan dy/dt (0
+
) kita
terapkan pada tanggapan lengkap (2.12), kita akan memperoleh dua
persamaan yaitu
2 2 1 1 2 1
) 0 ( ) 0 ( ' dan ) 0 ( ) 0 ( K s K s y y K K y y
p p
+ + ′ = + + =
+ + + +

yang akan menentukan nilai K
1
dan K
2
. Jika kita sebut
) 0 ( ) 0 ( dan ) 0 ( ) 0 (
0 0
+ + + +
′ − ′ = − =
p p
y y B y y A (2.13)
maka kita peroleh
0 2 2 1 1 0 2 1
dan B K s K s A K K = + = + dan dari
sini kita memperoleh
2 1
0 0 1
2
1 2
0 0 2
1
dan
s s
B A s
K
s s
B A s
K


=


=
sehingga tanggapan lengkap menjadi
t s t s
p
e
s s
B A s
e
s s
B A s
y y
2 1
2 1
0 0 1
1 2
0 0 2


+


+ = (2.14)
Berikut ini kita lihat suatu contoh. Seperti halnya pada rangkaian orde-1,
pada rangkaian orde-2 ini kita juga mengartikan tanggapan rangkaian
sebagai tanggapan lengkap. Hal ini didasari oleh pengertian tentang kon-
disi awal, yang hanya dapat diterapkan pada tanggapan lengkap. Rang-
kaian-rangkaian yang hanya mempunyai tanggapan alami kita fahami
sebagai rangkaian dengan tanggapan paksa yang bernilai nol.
Analisis Transien Rangkaian Orde-2
39
CONTOH-2.1: Saklar S
pada rangkaian di samp-
ing ini telah lama berada
pada posisi 1. Pada t = 0
saklar dipindahkan ke
posisi 2. Tentukan
tegangan kapasitor , v ,
untuk t > 0.

Solusi :
Kondisi mantap yang telah tercapai pada waktu saklar di posisi 1
membuat kapasitor bertegangan sebesar tegangan sumber, sementara
induktor tidak dialiri arus. Jadi
0 ) 0 ( ; V 15 ) 0 ( = =
− −
i v
Setelah saklar di posisi 2, persamaan rangkaian adalah :
0 = + + − iR
dt
di
L v
Karena i =− i
C
= −C dv/dt , maka persamaan tersebut menjadi
0
0
2
2
= + + →
= |
¹
|

\
|
− + |
¹
|

\
|
− + −
v
dt
dv
RC
dt
v d
LC
dt
dv
C R
dt
dv
C
dt
d
L v

Jika nilai-nilai elemen dimasukkan dan dikalikan dengan 4×10
6
maka persamaan rangkaian menjadi
0 10 4 10 5 , 8
6 3
2
2
= × + × + v
dt
dv
dt
v d

+
v



i
C

0,25 µF
15 V

8,5 kΩ
+


i
1 H
S
1 2

Analisis Transien Rangkaian Orde-2

40 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

alami). n tanggapa dari terdiri hanya (
V 16 : menjadi lengkap Tanggapan
1 15 16
8000 500
) 8000 ( 15 15

) 15 ( 0
0 ) 0 ( ) 0 ( ) 0 ( 0 ) 0 ( ) 0 ( b).
15 15 V 15 ) 0 ( ) 0 ( a).
: awal Kondisi
nol)) paksa (tanggapan
0 : lengkap nggapan Dugaan ta
berbeda). riil akar dua (
8000 , 500 4 ) 25 , 4 ( 10 4250 , : akar - akar
0 10 4 10 5 , 8 : ik karkterist Persamaan
8000 500
1 2
2 1
2
1
2 1 1 1 2 2 1 1
1 2 2 1
8000
2
500
1
2 3
2 1
6 3 2
t t
C L L
t t
e e v
K K
s s
s
K
s K s K s K s K
dt
dv
dt
dv
C i i i
K K K K v v
e K e K v
s s
s s
− −
+ + + − +
− +
− −
− =
− = − = ⇒ =
+ −
− −
=


= ⇒
− + = + = →
= → − = − = = =
− = ⇒ + = → = =
+ + =
− − = − ± − = →
= × + × +

Dua Akar Riil Sama Besar. Kedua akar yang sama besar tersebut dapat
kita tuliskan sebagai
0 dengan ; dan
2 1
→ δ δ + = = s s s s (2.15)
Dengan demikian maka tanggapan lengkap dapat kita tulis sebagai
t s st
p
t s t s
p
e K e K y e K e K y y
) (
2 1 2 1
2 1
δ +
+ + = + + = (2.16)
Kalau kondisi awal pertama y(0
+
) kita terapkan, kita akan memperoleh
0 2 1 2 1
) 0 ( ) 0 ( ) 0 ( ) 0 ( A y y K K K K y y
p p
= − = + → + + =
+ + + +

Jika kondisi awal kedua dy/dt (0
+
) kita terapkan, kita peroleh
0 2 2 1
2 1
) 0 ( ) 0 ( ) (
) ( ) 0 ( ) 0 (
B y y K s K K
s K s K y y
p
p
= ′ − ′ = δ + + →
δ + + + ′ = ′
+ +
+ +

Dari kedua persamaan ini kita dapatkan
Analisis Transien Rangkaian Orde-2
41
δ

− = →
δ

= → = δ +
s A B
A K
s A B
K B K s A
0 0
0 1
0 0
2 0 2 0


(2.17)
Tanggapan lengkap menjadi

st
t
p
st t
p
t s st
p
e
e
s A B A y
e e
s A B s A B
A y
e
s A B
e
s A B
A y y

1
) (


0 0 0
0 0 0 0
0
) ( 0 0 0 0
0
(
(
¸
(

¸

|
|
¹
|

\
|
δ
+
δ
− − + + =
(
¸
(

¸

δ

+ |
¹
|

\
|
δ

− + =
δ

+ |
¹
|

\
|
δ

− + =
δ
δ
δ +
(2.18.a)
Karena
1
lim
1
lim
0

0
t
e e
t t
=
|
|
¹
|

\
|
δ

=
|
|
¹
|

\
|
δ
+
δ

δ
→ δ
δ
→ δ
maka tanggapan lengkap
(2.18.a) dapat kita tulis
[ ]
st
p
e t s A B A y y ) (
0 0 0
− + + = (2.18.b)
Tanggapan lengkap seperti dinyatakan oleh (2.18.b) merupakan bentuk
khusus yang diperoleh jika persamaan karakteristik mempunyai dua akar
sama besar. A
0
dan B
0
mempunyai nilai tertentu yang ditetapkan oleh
kondisi awal. Dengan demikian kita dapat menuliskan (2.18.b) sebagai
[ ]
st
b a p
e t K K y y + + = (2.18.c)
dengan nilai K
a
yang ditentukan oleh kondisi awal, dan nilai K
b

ditentukan oleh kondisi awal dan s. Nilai s sendiri ditentukan oleh nilai
elemen-elemen yang membentuk rangkaian dan tidak ada kaitannya
dengan kondisi awal. Dengan kata lain, jika kita mengetahui bahwa
persamaan karakteristik rangkaian mempunyai akar-akar yang sama
besar (akar kembar) maka bentuk tanggapan rangkaian akan seperti yang
ditunjukkan oleh (2.18.c).
Analisis Transien Rangkaian Orde-2

42 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

CONTOH-2.2: Persoalan sama dengan contoh-2.1. akan tetapi resistor
8,5 kΩ diganti dengan 4 kΩ.
Solusi :
( ) ( )
( )
( ) V 30000 15 : Jadi 30000
0 ) 0 (
memberikan lengkap
n tanggapa pada 0 ) 0 ( kedua awal kondisi Aplikasi
. 15 ) 0 ( memberikan
ini lengkap n tanggapa pada pertama awal kondisi Aplikasi
. 0 karena , 0
: berbentuk akan lengkap tanggapan
itu karena oleh besar sama akar dua terdapat sini Di
2000 10 4 10 4 2000 , : akar - akar
0 10 4 4000 : tik karakteris Persamaan
0 10 4 10 4 : adalah rangkaian Persamaan
2000
6 6
2 1
6 2
6 3
2
2
t
a b
a b
st
b a
st
b
a
p
st
b a
st
b a p
e t v s K K
s K K
dt
dv
e s t K K e K
dt
dv
dt
dv
K v
v e t K K e t K K v v
s s s
s s
v
dt
dv
dt
v d

+
+
+
+ = ⇒ = − = →
+ = = → + + =
=
= =
= + + = + + =
= − = × − × ± − =
= × + +
= × + × +

Akar-Akar Kompleks Konjugat. Dua akar kompleks konjugat dapat
dituliskan sebagai
β − α = β + α = j s j s
2 1
dan
Tanggapan lengkap dari situasi ini, menurut (2.32) adalah
( )
t t j t j
p
t j t j
p
e e K e K y
e K e K y y
α β − β +
β − α β + α
+ + =
+ + =


2 1
) (
2
) (
1
(2.19)
Aplikasi kondisi awal yang pertama, y(0
+
), pada (2.19) memberikan
( )
0 2 1
2 1
) 0 ( ) 0 (
) 0 ( ) 0 (
A y y K K
K K y y
p
p
= − = + →
+ + =
+ +
+ +

Analisis Transien Rangkaian Orde-2
43
Aplikasi kondisi awal yang kedua, ) 0 ( ) 0 (
+ +
′ = y
dt
dv
, pada (2.19) mem-
berikan
( ) ( )
t t j t j t t j t j
p
e e K e K e e K j e K j
dt
dy
dt
dy
α β − β α β − β
α + + β − β + =
2 1 2 1

( ) ( )
( ) ( )
0 2 1 2 1
2 1 2 1
) 0 ( ) 0 (
) 0 ( ) 0 ( ) 0 (
B y y K K K K j
K K K j K j y y
dt
dy
p
p
= ′ − ′ = + α + − β →
α + + β − β + ′ = ′ =
+ +
+ + +

Dari sini kita peroleh
( ) ( )
β
α −
= − → = + α + − β
= +
j
A B
K K B K K K K j
A K K
0 0
2 1 0 2 1 2 1
0 2 1


2
/ ) (
;
2
/ ) (
0 0 0
2
0 0 0
1
β α − −
=
β α − +
=
j A B A
K
j A B A
K
Tanggapan lengkap menjadi
t
p
t
t j t j t j t j
p
t t j t j
p
e t
A B
t A y
e
j
e e A B e e
A y
e e
j A B A
e
j A B A
y y
α
α
β − β + β − β +
α β − β +
|
|
¹
|

\
|
β
β
α −
+ β + =
|
|
¹
|

\
|

β
α −
+
+
+ =
|
¹
|

\
| β α − −
+
β α − +
+ =
sin
) (
cos

2
) (
2


2
/ ) (
2
/ ) (
0 0
0

0 0
0
0 0 0 0 0 0
(2.20)
A
0
dan B
0
mempunyai nilai tertentu yang ditetapkan oleh kondisi awal
sedangkan α dan β ditentukan oleh nilai elemen rangkaian. Dengan
demikian tanggapan lengkap (2.53) dapat kita tuliskan sebagai
( )
t
b a p
e t K t K y y
α
β + β + = sin cos (2.21)
dengan K
a
dan K
b
yang masih harus ditentukan melalui penerapan kondi-
si awal. Ini adalah bentuk tanggapan lengkap khusus untuk rangkaian
dengan persamaan karakteristik yang mempunyai dua akar kompleks
konjugat.
Analisis Transien Rangkaian Orde-2

44 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

CONTOH-2.3: Persoalan sama dengan contoh 2.1. akan tetapi resistor
8,5 kΩ diganti dengan 1 kΩ.
Solusi :
Dengan penggantian ini persamaan rangkaian menjadi
0 10 4 10
6 3
2
2
= × + + v
dt
dv
dt
v d

( )
( )
( )
( )
( ) V ) 15 500 sin( 15 ) 15 500 cos( 15
: adalah lengkap n tanggapa Jadi
15
15 500
15 500
0 ) 0 (
sin cos
cos sin
kedua awal kondisi Aplikasi
15 ) 0 ( : memberikan pertama awal kondisi Aplikasi
sin cos 0
sin cos
berbentuk akan diduga lengkap Tanggapan
15 500 ; 500 dengan
: konjugat kompleks akar dua terdapat sini Di
15 500 500
10 4 500 500 , : akar - akar
0 10 4 1000 : tik karakteris Persamaan
500
6 2
2 1
6 2
t
a
b a b
t
b a
t
b a
a
t
b a
t
b a p
e t t v
K
K K K
dt
dv
e t K t K
e t K t K
dt
dv
K v
e t K t K
e t K t K v v
j
j
s s
dt
dv
s

+
α
α
+
α
α
+ =
=
×
=
β
α −
= → α + β = =
α β + β +
β β + β β − =
= =
β + β + =
β + β + =
= β − = α β ± α
± − =
× − ± − =
= × + +


Analisis Transien Rangkaian Orde-2
45
Contoh 2.1, 2.2, dan 2.3 menunjukkan tiga kemungkinan bentuk tangga-
pan, yang ditentukan oleh akar-akar persamaan karakteristik.
a). Jika persamaan karakteristik mempunyai dua akar yang berbeda,
tanggapan alami akan merupakan jumlah dari dua suku yang masing-
masing merupakan fungsi eksponenial. Dalam kasus seperti ini, tangga-
pan rangkaian merupakan tanggapan amat teredam.
b). Jika persamaan karakteristik mempunyai dua akar yang sama besar,
maka tanggapan alami akan merupakan jumlah dari fungsi eksponensial
dan ramp teredam. Tanggapan ini merupakan tanggapan teredam kritis.
c). Jika persamaan karakteristik mempunyai dua akar kompleks konju-
gat, maka tanggapan alami merupakan jumlah dari fungsi-fungsi sinus
teredam. Jadi tanggapan rangkaian berosilasi terlebih dulu sebelum
akhirnya mencapai nol, dan disebut tanggapan kurang teredam. Bagian
riil dari akar persamaan karakteristik menentukan peredaman; sedangkan
bagian imajinernya menentukan frekuensi osilasi. (Gambar di bawah ini
menunjukkan perubahan v pada contoh-contoh di atas.)


2.4. Tanggapan Rangkaian Orde-2 Terhadap Sinyal Anak Tangga
Bentuk umum sinyal anak tangga adalah Au(t). Jika kita hanya meninjau
keadaan pada t > 0, maka faktor u(t) tidak perlu dituliskan lagi.
v
[V]
sangat teredam (contoh 2.1)
teredam kritis (contoh 2.2)
kurang teredam (contoh 2.3)
t [s]
-10
-5
0
5
10
15
20
0 0.002 0.004 0.006 0.008 0.01
Analisis Transien Rangkaian Orde-2

46 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

CONTOH-2.4: Jika v
s
=10u(t)
V, bagaimana-kah
keluaran v
o
rangkaian di
samping ini pada t > 0
untuk berbagai nilai µ ?
Solusi :
Karena v
o
= µv
B
maka kita
mencari persamaan
rangkaian dengan kaian dengan tegangan simpul B , yaitu v
B
, sebagai peubah. Per-
samaan tegangan simpul untuk simpul A dan B adalah
( )
dt
dv
v v
v
dt
dv
v
v
i v
v v v v
dt
d
v
v v
i v
B
B A
A
B
B
A
B
B s B A A
B s
A
+ = ⇒
= − + ⇒ = − +
|
|
¹
|

\
|
= − − µ − + ⇒
= − − +
|
|
¹
|

\
|
+

0 0
10 10
1
0 2
0
10 10 10
1
10
1
6
2
6
6 6
1
6 6

Dua persamaan diferensial orde satu ini jika digabungkan akan memberi-
kan persamaan diferensial orde-2.
10 2 2
2
2
= = − µ − + + +
s B
B B B B
B
v v
dt
dv
dt
v d
dt
dv
dt
dv
v atau
10 ) 3 (
2
2
= + µ − +
B
B B
v
dt
dv
dt
v d

10
10 0 0 : paksa nggapan Dugaan ta
: lengkap nggapan Dugaan ta
2
4 ) 3 ( ) 3 (
,
0 1 ) 3 ( : tik karakteris Pers.
3 3
s
2
s
1
2
1
2
2 1
= ⇒
= + + → =
+ + =
− µ − ± µ − −
= →
= + µ − +
Bp
Bp
t t
Bp B
s
v
K K v
e K e K v v
s s
s s

1MΩ
+

1µF

µv
B
B

A

v
s
i
2
i
1
+ v
o
1MΩ

1µF

+

Analisis Transien Rangkaian Orde-2
47
( )
kritis. teredam s 1 4 ) 3 ( Jika
teredam. kurang kompleks s ,
1 4 ) 3 ( Jika
redam. sangat te s 1 4 ) 3 ( Jika
10
10 : lengkap Tanggapan
o 2 1
2
o 2 1
2
o 2 1
2
s
2
s
1 o
s
2
s
1
2 1
2 1
v s
v s
v s
e K e K v
e K e K v
t t
t t
B
⇒ = → = µ → = µ −

→ > µ → < µ −
⇒ ≠ → < µ → > µ −
+ + µ = ⇒
+ + =

Pemahaman : Bentuk tegangan keluaran ditentukan oleh nilai µ dan
nilai elemen-elemen rangkaian. Kita dapat memilih nilai-nilai yang
sesuai untuk memperoleh tanggapan rangkaian yang kita inginkan.
Untuk µ > 3 akan terjadi keadaan tak stabil karena akar-akar bernilai
riil positif; peredaman tidak terjadi dan sinyal membesar tanpa batas.
CONTOH-2.5: Carilah v
o
pada contoh 2.4 jika µ = 2 dan tegangan awal
kapasitor masing-masing adalah nol.
Solusi : Persamaan rangkaian, dengan µ = 2, adalah
10 ) 3 (
2
2
= + µ − +
B
B B
v
dt
dv
dt
v d
atau
10
2
2
= + +
B
B B
v
dt
dv
dt
v d

( )
( )
t
b a B
Bp Bp
t
b a Bp B
s
e t K t K v
v K K v
e t K t K v v
j
j s s
s s
α
α
β + β + =
= ⇒ = + + → =
β + β + =
= β − = α β ± α
± − =
− ± −
= →
= + +
sin cos 10 : lengkap Tanggapan
10 10 0 0 : paksa Tanggapan
sin cos
: berbentuk diduga lengkap Tanggapan
) 3 5 , 0 ; 5 , 0 ; : konjugat kompleks akar (dua
3 5 , 0 5 , 0
2
4 1 1
,
0 1 : tik karakteris Pers.
1
2

Analisis Transien Rangkaian Orde-2

48 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

( ) ( )
t
B
a
b a b
B
t
b a
t
b a
B
a a B
B B
B B
A B
e t t v
K
K K K
dt
dv
e t K t K e t K t K
dt
dv
K K ) ( v
dt
dv
dt
dv
v i v
v v v
5 . 0
5
2
5
o
) 3 5 , 0 sin(
3
10
) 3 5 , 0 cos( 10 10

3
10
3 5 , 0
10) ( 0,5
0 ) 0 (
sin cos cos sin
10 10 0 0 : memberikan
lengkap n tanggapa ke ini awal kondisi dua Penerapan
0 ) 0 ( 0 0 ) 0 ( 10 0
0 ) 0 ( 2 ) 0 ( 10 ) 0 (
0 ) 0 ( ) 0 ( dan 0 ) 0 (
nol. n berteganga kapasitor kedua : adalah awalnya Kondisi

+
α α
+
+ +
+ + +
+ + +
|
|
¹
|

\
|
+ − = ⇒

=
− ×
=
β
α −
= → α + β = =
α β + β + β β + β β − =
− = ⇒ + = =
= → = − + →
= − + →
= − = →

2.5. Tanggapan Rangkaian Orde-2 Terhadap Sinyal Sinus
Masukan sinyal sinus secara umum dapat kita nyatakan dengan x(t)

=
Acos(ωt+θ) u(t). Untuk peninjauan pada t > 0 faktor u(t) tak perlu ditulis
lagi. Dengan demikian persamaan umum rangkaian orde-2 dengan masu-
kan sinyal sinus akan berbentuk
) cos(
2
2
θ + ω = + + t A cy
dt
dy
b
dt
y d
a
Persamaan karakterisik serta akar-akarnya tidak berbeda dengan apa
yang telah kita bahas untuk sumber tegangan konstan, dan memberikan
tanggapan alami yang berbentuk
t s t s
a
e K e K v
2 1
2 1
+ =
Untuk masukan sinus, tanggapan paksa diduga akan berbentuk
v
p
= A
c
cosωt + A
s
sinωt
Analisis Transien Rangkaian Orde-2
49
CONTOH-2.6: Carilah v dan i untuk
t > 0 pada rangkaian di samping
ini jika v
s =
26cos3t u(t) V
sedangkan i(0) = 2 A dan v(0) =
6 V.
Solusi :
Aplikasi HTK untuk rangkaian
ini akan memberikan
3 cos 26
6
1
6
5
0 5
2
2
t v
dt
v d
dt
dv
v
dt
di
i v
s
= + + → = + + + − atau
t v
dt
dv
dt
v d
3 cos 156 6 5
2
2
= + +
( ) ( )
A 2 3 cos 5 3 sin
6
1

V 2 6 3 sin 10 3 cos 2 : lengkap Tanggapan
2 6
3 2 30 12 : kedua awal kondisi Aplikasi
8 2 6 : pertama awal kondisi Aplikasi
12 ) 0 ( ) 0 (
6
1
2 ) 0 ( dan 6 ) 0 ( : awal Kondisi
3 sin 10 3 cos 2 : lengkap Tanggapan
10
3 75
0 156 5
; 2
75 3
0 156

0 3 15 dan 156 15 3
3 cos 156 3 sin 6 15 9 3 cos 6 15 9
3 sin 3 cos : paksa nggapan Dugaan ta
: lengkap ggapan Dugaan tan
3 , 2 , : akar - akar
); 3 )( 2 ( 0 6 5 : tik karakteris Persamaan
3 2
3 2
2 1
2 1
1 2 2 1
3
2
2
1
3
2
2
1
2 1
2
t t
t t
t t
s c
s c s c
s c s c s c
s c p
t t
p
e e t t
dt
dv
i
e e t t v
K K
K K
K K K K
dt
dv
dt
dv
i v
e K e K t t v
A A
A A A A
t t A A A t A A A
t A t A v
e K e K v v
s s
s s s s
− −
− −
+ + + +
− −
− −
− − + = = ⇒
+ + + − =
= ⇒ = ⇒
− − =
− = → + + − =
= → = = =
+ + + − =
=
+
− ×
= − =
− −
+
= ⇒
= − − = + − →
= + − − + + + − →
+ =
+ + =
− − =
+ + = = + +

+

5Ω
1H
F
6
1

i
v
s
+
v


Analisis Transien Rangkaian Orde-2

50 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)


CONTOH-2.7: Pada rangkaian di samping ini, v
s
= 10cos5t u(t) V. Ten-
tukanlah tegangan kapasi-
tor v untuk t > 0, jika
tegangan awal kapasitor
dan arusawal induktor
adalah nol.
Solusi:
s B
B s
v
dt
dv
v v
v v
dt
dv
v
5 , 1 5 , 1 5 , 2
0
6 4 4
1
6
1
4
1
: A Simpul
− + = →
= − − + |
¹
|

\
|
+

0 5 , 1 5 , 1 5 , 2 6
5 , 1 5 , 1 5 , 2 0 6
0 6 0
6
) 0 (
1
6
: B Simpul
= − |
¹
|

\
|
− + +
|
¹
|

\
|
− + → = − + →
= − + → = − + +
∫ ∫
dt
dv
v
dt
dv
v
v
dt
dv
v
dt
d
dt
dv
v
dt
dv
v dt v v
v
i dt v
L
v
s
s B
B
B B L B
B

dt
dv
v v
dt
dv
dt
v d
s
s
5 , 1 9 15 5 , 10 5 , 1
2
2
+ = + + atau
dt
dv
v v
dt
dv
dt
v d
s
s
+ = + + 6 10 7
2
2

Dengan tegangan masukan v
s
= 10cos5t maka persamaan rangkaian
menjadi
-30
-20
-10
0
10
20
30
0 2 4 6 8 10
v [V]
i [A]
t [s]
v

i

v
s
4Ω

+

B

A

v
s
+
v


6Ω

0,25F

1H

Analisis Transien Rangkaian Orde-2
51
t t v
dt
dv
dt
v d
5 sin 50 5 cos 60 10 7
2
2
− = + +
t t
s
C L
t t
p
c s
c s s c
s c s
c s c
s c p
t t
p
s
e e t t v
K K
K K K K
dt
dv
K K K K v
dt
dv
dt
dv v
i i
v
e K e K t t v
t t v
A A
A A A A
t A A A
t A A A
t A t A v
e K e K v v
s s
s s
5 2
2 1
1 1 2 1
1 2 2 1
5
2
2
1
5
2
2
1
2
1
2
3 83 , 4 5 sin 93 , 0 5 cos 83 , 1 : lengkap Tanggapan
3 83 , 4
) 83 . 1 ( 5 2 35 , 5 5 2 65 , 4 10 ) 0 (
83 , 1 83 , 1 0 ) 0 (
: lengkap n tanggapa pada ini awal kondisi kedua Aplikasi
10 ) 0 (
) 0 (
4
1
5 , 2
4
10
4
) 0 (
) 0 ( 0 ) 0 ( (2)
0 ) 0 ( (1)
: awal Kondisi
5 sin 93 , 0 5 cos 83 , 1 : lengkap Tanggapan
5 sin 93 , 0 5 cos 83 , 1
83 , 1 ; 0,93
50 35 15 dan 60 35 15
50sin6t 60cos6t
6 sin ) 10 35 25 (
6 cos ) 10 35 25 (

5 sin 5 cos : paksa nggapan Dugaan ta
: lengkap nggapan Dugaan ta
. 5 , 2 10 5 , 3 5 , 3 ,
0 10 7 : tik karakteris Persamaan
− −
+
+
+
+
+
+ +
+
− −
− −
− + + − =
− = ⇒ = ⇒
− − − = → − − = =
− = → + + − = =
= ⇒
= = = = → =
=
+ + + − =
+ − = ⇒
− = = ⇒
− = − − = + − →
− =
|
|
¹
|

\
|
+ − − +
+ + −

+ =
+ + =
− − = − ± − = →
= + +



Analisis Transien Rangkaian Orde-2

52 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

Soal-Soal
1. Carilah bentuk gelombang tegangan yang memenuhi persamaan difer-
ensial berikut.
V/s 5 ) 0 ( V, 0 ) 0 (
, 0 5 4 c).
V/s 10 ) 0 ( V, 0 ) 0 (
, 0 4 4 b).
V/s 15 ) 0 ( , 0 ) 0 (
, 0 10 7 . a)
2
2
2
2
2
2
= == = = == =
= == = + ++ + + ++ +
= == = = == =
= == = + ++ + + ++ +
= == = = == =
= == = + ++ + + ++ +
+ ++ + + ++ +
+ ++ + + ++ +
+ ++ + + ++ +
dt
dv
v
v
dt
dv
dt
v d
dt
dv
v
v
dt
dv
dt
v d
dt
dv
v
v
dt
dv
dt
v d


2. Ulangi soal 1 untuk persamaan berikut.
V/s 10
) 0 (
V, 5 ) 0 (
, ) ( 100 25 8 c).
V/s 10
) 0 (
V, 5 ) 0 (
, ) ( 100 25 10 b).
V/s 25
) 0 (
, 5 ) 0 (
, ) ( 100 24 10 . a)
2
2
2
2
2
2
= == = = == =
= == = + ++ + + ++ +
= == = = == =
= == = + ++ + + ++ +
= == = = == =
= == = + ++ + + ++ +
+ ++ +
+ ++ +
+ ++ +
dt
dv
v
t u v
dt
dv
dt
v d
dt
dv
v
t u v
dt
dv
dt
v d
dt
dv
v
t u v
dt
dv
dt
v d

Analisis Transien Rangkaian Orde-2
53
3. Ulangi soal 1 untuk persamaan berikut.
V/s 0 ) 0 ( V, 0 ) 0 (
, ) ( ] 1000 [cos 100 10 2 c).
V/s 0 ) 0 ( V, 0 ) 0 (
, ) ( ] 1000 [cos 100 9 6 b).
V/s 0 ) 0 ( , 0 ) 0 (
, ) ( ] 1000 [cos 100 8 6 . a)
2
2
2
2
2
2
= == = = == =
= == = + ++ + + ++ +
= == = = == =
= == = + ++ + + ++ +
= == = = == =
= == = + ++ + + ++ +
+ ++ + + ++ +
+ ++ + + ++ +
+ ++ + + ++ +
dt
dv
v
t u t v
dt
dv
dt
v d
dt
dv
v
t u t v
dt
dv
dt
v d
dt
dv
v
t u t v
dt
dv
dt
v d

4. Saklar S pada rangkaian di bawah ini, telah berada pada posisi A da-
lam waktu yang lama. Pada t = 0, ia dipindahkan ke posisi B. Cari-
lah v
C
untuk t > 0


5. Saklar S pada rangkaian di bawah ini telah berada di posisi A dalam
waktu yang lama. Pada t = 0 , saklar dipindahkan ke posisi B. Tentu-
kan i
L
(t) untuk t > 0.

15V
10kΩ
2 H
2,5kΩ
i
L

0,02 µF
A
B
S
+

+
v
c


B
6kΩ

6kΩ

25pF

10 V

S
A
0,4H

+

Analisis Transien Rangkaian Orde-2

54 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

6. Saklar S pada rangkaian di bawah ini telah berada di posisi A dalam
waktu yang lama. Pada t = 0 , saklar dipindahkan ke posisi B. Tentu-
kan i
L
(t) untuk t > 0.

7. Saklar S pada rangkaian di bawah ini, telah lama terbuka. Pada t = 0,
ia ditutup. Carilah v
C
untuk t > 0


8. Saklar S pada rangkaian di bawah ini telah berada di posisi A dalam
waktu yang lama. Pada t = 0 , saklar dipindahkan ke posisi B. Tentu-
kan v
C
untuk t > 0.


9. Tegangan masukan v
s
pada rangkaian di bawah ini adalah v
s
= 100u(t)
V. Tentukan tegangan kapasitor untuk t>0.


+
v
c


3kΩ

3kΩ

0,1µF

10 V

S
0,4H

+

15 V
0,4kΩ
25kΩ
0,01µF
A
B
S
+

− +
15 V
10mH
+ v
C

+
v
C


4kΩ

v
s
50pF

+

50mH

15 V
0,4kΩ
25kΩ
i
L

0,01µF
A
B
S
+

+
− 15 V 10mH
Analisis Transien Rangkaian Orde-2
55
10. Setelah terbuka dalam waktu cukup lama, saklar S pada rangkaian di
bawah ini ditutup pada t = 0. Tentukan v
1
dan v
2
untuk t > 0.


11. Rangkaian berikut tidak mempunyai simpanan energi awal. Saklar S
pada rangkaian berikut ditutup pada t = 0. Carilah i untuk t > 0.



12. Rangkaian di bawah ini tidak memiliki simpanan energi awal. Tentu-
kan v untuk t > 0 jika i
s
= [2cos2t] u(t) A dan v
s
= [6cos2t] u(t) V.

13. Sebuah kapasitor 1 µF dimuati sampai mencapai tegangan 200 V.
Muatan kapasitor ini kemudian dilepaskan melalui hubungan seri in-
duktor 100 µH dan resistor 20 Ω. Berapa lama waktu diperlukan un-
tuk menunrunkan jumlah muatan kapasitor hingga tinggal 10% dari
jumlah muatan semula ?
+

i
s
v
s
− v +
10Ω

5H

10Ω

0,05F

S

+

12V

0,25F

+
v
1


+

2v
1
8Ω

i

4Ω

0,25F

+

6V

0,05F

4Ω

12V

+

S

4Ω

0,05F

+
v
2


+
v
1


Analisis Transien Rangkaian Orde-2

56 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

14. Sebuah kumparan mempunyai induktansi 9 H dan resistansi 0,1 Ω,
dihubungkan paralel dengan kapasitor 100 µF. Hubungan paralel ini
diberi tegangan searah sehingga di kumparan mengalir arus sebesar 1
A. Jika sumber tegangan diputus secara tiba-tiba, berapakah tegangan
maksimum yang akan timbul di kapasitor dan pada frekuensi berapa
arus berosilasi ?
15. Kabel sepanjang 2 kM digunakan untuk mencatu sebuah beban pada
tegangan searah 20 kV. Resistansi beban 200 Ω dan induktansinya 1
H (seri). Kabel penyalur daya ini mempunyai resistansi total 0,2 Ω
sedangkan antara konduktor dan pelindung metalnya membentuk ka-
pasitor dengan kapasitansi total 0,5 µF. Bagaimanakah perubahan te-
gangan beban apabila tiba-tiba sumber terputus? (Kabel dimodelkan
sebagai kapasitor; resistansi konduktor kabel diabaikan terhadap re-
sistansi beban).

Transformasi Laplace
55
BAB 3 Transformasi Laplace


Kita telah melihat bahwa analisis di kawasan fasor lebih sederhana di-
bandingkan dengan analisis di kawasan waktu karena tidak melibatkan
persamaan diferensial melainkan persamaan-persamaan aljabar biasa.
Akan tetapi analisis ini terbatas hanya untuk sinyal sinus dalam keadaan
mantap. Berikut ini kita akan mempelajari analisis rangkaian di kawasan
s, yang dapat kita terapkan pada analisis rangkaian dengan sinyal sinus
maupun bukan sinus, keadaan mantap maupun keadaan peralihan.
Dalam analisis di kawasan s ini, sinyal-sinyal fungsi waktu f(t), ditrans-
formasikan ke kawasan s menjadi fungsi s, F(s). Sejalan dengan itu
pernyataan elemen rangkaian juga mengalami penyesuaian yang men-
gantarkan kita pada konsep impedansi di kawasan s. Perubahan pern-
yataan suatu fungsi dari kawasan t ke kawasan s dilakukan melalui
Transformasi Laplace, yang secara matematis didefinisikan sebagai suatu
integral



=
0
) ( ) ( dt e t f s
st
F
dengan s merupakan peubah kompleks, s = σ + jω. Batas bawah integrasi
ini adalah nol yang berarti bahwa dalam analisis rangkaian di kawasan s
kita hanya meninjau sinyal-sinyal kausal.
Dengan melakukan transformasi sinyal dari kawasan t ke kawasan s,
karakteristik i-v elemenpun mengalami penyesuaian dan mengantarkan
kita pada konsep impedansi dimana karakteristik tersebut menjadi fungsi
s. Dengan sinyal dan karakteristik elemen dinyatakan di kawasan s, maka
persamaan rangkaian tidak lagi berbentuk persamaan integrodiferensial
melainkan berbentuk persamaan aljabar biasa sehingga penanganannya
menjadi lebih mudah. Hasil yang diperoleh sudah barang tentu akan me-
rupakan fungsi-fungsi s. Jika kita menghendaki suatu hasil di kawasan
waktu, maka kita lakukan transformasi balik yaitu transformasi dari
fungsi s ke fungsi t.
Di bab ini kita akan membahas mengenai transformasi Laplace, sifat
transformasi Laplace, pole dan zero, transformasi balik, solusi persamaan
diferensial, serta transformasi bentuk gelombang dasar.
Transformasi Laplace

56 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

Setelah mempelajari analisis rangkaian menggunakan transformasi La-
place bagian pertama ini, kita akan
• memahami transformasi Laplace beserta sifat-sifatnya;
• mampu melakukan transformasi berbagai bentuk gelombang
sinyal dari kawasan t ke kawasan s.
• mampu mencari transformasi balik dari pernyataan bentuk ge-
lombang sinyal dari kawasan s ke kawasan t.
3.1. Transformasi Laplace
Melalui transformasi Laplace kita menyatakan suatu fungsi yang semula
dinyatakan sebagai fungsi waktu, t, menjadi suatu fungsi s di mana s ada-
lah peubah kompleks. Kita ingat bahwa kita pernah mentransformasikan
fungsi sinus di kawasan waktu menjadi fasor, dengan memanfaatkan
bagian nyata dari bilangan kompleks. Dengan transformasi Laplace kita
mentransformasikan tidak hanya fungsi sinus akan tetapi juga fungsi-
fungsi yang bukan sinus.
Transformasi Laplace dari suatu fungsi f(t) didefinisikan sebagai




=
0
) ( ) ( dt e t f s
st
F (3.1)
dengan notasi :



= =
0
) ( ) ( )] ( [ dt e t f s t f
st
F L (3.2)
Dengan mengikuti langsung definisi ini, kita dapat mencari transformasi
Laplace dari suatu model sinyal, atau dengan kata lain mencari pern-
yataan sinyal tersebut di kawasan s. Berikut ini kita akan mengaplikasi-
kannya untuk bentuk-bentuk gelombang dasar.
3.1.1. Pernyataan Sinyal Anak Tangga di Kawasan s.
Pernyataan sinyal anak tangga di kawasan t adalah ) ( ) ( t Au t v = .
Transformasi Laplace dari bentuk gelombang ini adalah

ω + σ −




ω + σ
− = = =
∫ ∫
0
) (
0 0
) ( ] [
j
Ae
dt Ae dt e t Au Au(t)
t j
st st
L
Batas atas, dengan σ > 0, memberikan nilai 0, sedangkan batas bawah
memberikan nilai A/s.
Transformasi Laplace
57
Jadi
s
A
t Au = )] ( [ L (3.3)
3.1.2. Pernyataan Sinyal Eksponensial di Kawasan s
Transformasi Laplace bentuk gelombang eksponensial beramplitudo A,
yaitu v(t) = Ae
−at
u(t) , adalah

+ −

+ −

− −
+
− = = =
∫ ∫
0
) (
0
) (
0
) ( )] ( [
a s
Ae
Ae dt e t u e A t u Ae
t a s
t a s st -at at
L
Dengan a > 0, batas atas memberikan nilai 0 sedangkan batas bawah
memberikan A/(s+a).
Jadi
a s
A
t u Ae
at
+
=

] ) ( [ L (3.4)
3.1.3. Sinyal Sinus di Kawasan s
Transformasi Laplace bentuk gelombang sinus v(t)

= (A cos ωt) u(t)
adalah :
[ ] dt e t A dt e t u t A t u t A
st st
∫ ∫




ω = ω = ω
0 0
) cos ( ) ( ) cos ( ) ( ) cos ( L
Dengan memanfaatkan hubungan Euler 2 / ) ( cos
t j t j
e e
ω − ω
+ = ω , ruas
kanan persamaan di atas menjadi
2 2
) (
0
) (
0 0

2 2 2
ω +
=
+ =
+
− ω −

− ω



ω − ω
∫ ∫ ∫
s
As
dt e
A
dt e
A
dt e
e e
A
t s j t s j st
t j t j

Jadi [ ]
2 2
) ( ) cos (
ω +
= ω
s
s
A t u t A L (3.5)
Dengan cara yang sama, diperoleh
Transformasi Laplace

58 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

[ ]
2 2
) ( ) sin (
ω +
ω
= ω
s
A t u t A L (3.6)
3.2. Tabel Transformasi Laplace
Transformasi Laplace dari bentuk gelombang anak tangga, eksponensial,
dan sinus di atas merupakan contoh bagaimana suatu transformasi
dilakukan. Kita lihat bahwa amplitudo sinyal, A, selalu muncul sebagai
faktor pengali dalam pernyataan sinyal di kawasan s. Transformasi dari
beberapa bentuk gelombang yang lain termuat dalam Tabel-3.1. dengan
mengambil amplitudo bernilai satu satuan. Tabel ini, walaupun hanya
memuat beberapa bentuk gelombang saja, tetapi cukup untuk keperluan
pembahasan analisis rangkaian di kawasan s yang akan kita pelajari di
buku ini.
Untuk selanjutnya kita tidak selalu menggunakan notasi L[f(t)]
sebagai pernyataan dari “transformasi Laplace dari f(t)”, tetapi
kita langsung memahami bahwa pasangan fungsi t dan
transformasi Laplace-nya adalah seperti : f(t) ↔ F(s) , v
1
(t) ↔
V
1
(s) , i
4
(t) ↔ I
4
(s) dan seterusnya. Dengan kata lain kita
memahami bahwa V(s) adalah pernyataan di kawasan s dari
v(t), I(s) adalah penyataan di kawasan s dari i(t) dan
seterusnya.
CONTOH-3.1: Carilah transformasi Laplace dari bentuk gelombang
berikut:
) ( 3 ) ( c).
; ) ( ) 10 sin( 5 ) ( b). ; ) ( ) 10 cos( 5 ) ( a).
2
3
2 1
t u e t v
t u t t v t u t t v
t −
=
= =

Solusi : Dengan mnggunakan Tabel-3.1 kita peroleh :
2
3
) ( ) ( 3 ) ( c).
100 s
50
) 10 (
10 5
) ( ) ( ) 10 sin( 5 ) ( b).
100
5
) 10 (
5
) ( ) ( ) 10 cos( 5 ) ( a).
3
2
3
2 2 2
2 2
2 2 2
1 1
+
= → =
+
=
+
×
= → =
+
=
+
= → =

s
s t u e t v
s
s t u t t v
s
s
s
s
s t u t t v
t
V
V
V

Transformasi Laplace
59

Tabel 3.1. Pasangan Transformasi Laplace
Pernyataan Sinyal
di Kawasan t : f(t)
Pernyataan Sinyal di Ka-
wasan s : L[f(t)]=F(s)
impuls : δ(t)
1
anak tangga : u(t)
s
1

eksponensial : [e
−at
]u(t)
a s +
1

cosinus : [cos ωt] u(t)
2 2
ω + s
s

sinus : [sin ωt] u(t)
2 2
ω +
ω
s

cosinus teredam : [e
−at
cos ωt] u(t)
( )
2 2
ω + +
+
a s
a s

sinus teredam : [e
−at
sin ωt] u(t)
( )
2 2
ω + +
ω
a s

cosinus tergeser : [cos (ωt + θ)] u(t)
2 2
sin cos
ω +
θ ω − θ
s
s

sinus tergeser : [sin (ωt + θ)] u(t)
2 2
cos sin
ω +
θ ω + θ
s
s

ramp : [ t ] u(t)
2
1
s

ramp teredam : [ t e
−at
] u(t)
( )
2
1
a s +

Transformasi Laplace

60 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

3.3. Sifat-Sifat Transformasi Laplace
3.3.1. Sifat Unik
Sifat ini dapat dinyatakan sebagai berikut.
Jika f(t) mempunyai transformasi Laplace F(s) maka transformasi
balik dari F(s) adalah f(t).
Dengan kata lain
Jika pernyataan di kawasan s suatu bentuk gelombang v(t)
adalah V(s), maka pernyataan di kawasan t suatu bentuk
gelombang V(s) adalah v(t).
Bukti dari pernyataan ini tidak kita bahas di sini. Sifat ini memudahkan
kita untuk mencari F(s) dari suatu fungsi f(t) dan sebaliknya mencari
fungsi f(t) dari suatu fungsi F(s) dengan menggunakan tabel transformasi
Lapalace. Mencari fungsi f(t) dari suatu fungsi F(s) disebut mencari
transformasi balik dari F(s), dengan notasi L

1
[F(s)] = f(t) . Hal terakhir
ini akan kita bahas lebih lanjut setelah membahas sifat-sifat transformasi
Laplace.
3.3.2. Sifat Linier
Karena transformasi Laplace adalah sebuah integral, maka ia bersifat
linier.
Transformasi Laplace dari jumlah beberapa fungsi t adalah
jumlah dari transformasi masing-masing fungsi.
Jika ) ( ) ( ) (
2 2 1 1
t f A t f A t f + = maka transformasi Laplace-nya adalah
[ ]
) ( ) (
) ( ) ( ) ( ) ( ) (
2 2 1 1
0
2 2
0
1 1
0
2 2 1 1
s A s A
dt t f A dt t f A dt e t f A t f A s
st
F F
F
+ =
+ = + =
∫ ∫ ∫
∞ ∞ ∞

(3.7)
dengan F
1
(s) dan F
2
(s) adalah transformasi Laplace dari f
1
(t) dan f
2
(t).
CONTOH-3.2: a). Carilah transformasi Laplace dari :
) ( ) 3 1 ( ) (
2
1
t u e t v
t −
+ =
b). Jika transformasi Laplace sinyal eksponensial
Ae
−at
u(t) adalah 1/(s+a), carilah transformasi dari
v
2
(t)=Acosωt u(t).
Transformasi Laplace
61
Solusi :
2
3 1
) ( ) ( ) 3 1 ( ) ( a).
1
2
1
+
+ = → + =

s s
s t u e t v
t
V
( )
2 2 2 2
2
2
2
2
1 1
2
) (
) ( ) (
2

) (
2
) ( ) cos( b).
ω +
=
|
|
¹
|

\
|
ω +
=
|
|
¹
|

\
|
ω +
+
ω −
=
+ =
+
= ω =
ω − ω
ω − ω
s
As
s
s A
j s j s
A
s
t u e t u e
A
t u
e e
A t u t A (t) v
t j t j
t j t j
V

3.3.3. Integrasi
Sebagaimana kita ketahui karakteristik i-v kapasitor dan induktor meli-
batkan integrasi dan diferensiasi. Karena kita akan bekerja di kawasan s,
kita perlu mengetahui bagaimana ekivalensi proses integrasi dan diferen-
siasi di kawasan t tersebut. Transformasi Laplace dari integrasi suatu
fungsi dapat kita lihat sebagai berikut.
Misalkan ) ( ) (
0
1
dx x f t f
t

= . Maka
dt t f
s
e
dx x f
s
e
dt e dx x f s
st
t
st
st
t
∫ ∫ ∫ ∫








(
(
¸
(

¸

|
|
¹
|

\
|

=
|
|
¹
|

\
|
=
0
1
0
0
1
0
0
1
) ( ) ( ) ( ) ( F
Suku pertama ruas kanan persamaan di atas akan bernilai nol untuk t = ∞
karena e
−st
= 0 pada t→∞ , dan juga akan bernilai nol untuk t = 0 karena
integral yang di dalam tanda kurung akan bernilai nol (intervalnya nol).
Tinggallah suku kedua ruas kanan; jadi
s
s
dt e t f
s
dt t f
s
e
s
st
st
) (
) (
1
) ( ) (
1
0
1
0
1
F
F = =

− =
∫ ∫




(3.8)
Jadi secara singkat dapat kita katakan bahwa :
Transformasi Laplace

62 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

transformasi dari suatu integrasi bentuk gelombang f(t) di kawasan t
dapat diperoleh dengan cara membagi F(s) dengan s.
CONTOH-3.3: Carilah transformasi Laplace dari fungsi ramp
r(t)=tu(t).
Solusi :
Kita mengetahui bahwa fungsi ramp adalah integral dari fungsi anak
tangga.
2
0 0
0
1
) ( ) (
) ( ) ( ) (
s
dt e dx x u s
dx x u t tu t r
st
t
t
=
|
|
¹
|

\
|
= →
= =


∫ ∫

R

Hasil ini sudah tercantum dalam Tabel.3.1.
3.3.4. Diferensiasi
Transformasi Laplace dari suatu diferensiasi dapat kita lihat sebagai
berikut.
Misalkan
dt
t df
t f
) (
) (
1
= maka
[ ]
∫ ∫






− − = =
0
1
0
1
0
1
) )( ( ) (
) (
) ( dt e s t f e t f dt e
dt
t df
s
st st st
F
Suku pertama ruas kanan bernilai nol untuk t = ∞ karena e
−st
= 0 untuk
t→ ∞ , dan bernilai −f(0) untuk t = 0. Dengan demikian dapat kita tulis-
kan
) 0 ( ) ( ) 0 ( ) (
) (
1 1
0
1
f s s f dt e t f s
dt
t df
st
− = − =
(
¸
(

¸




F L (3.9)
Transformasi dari suatu fungsi t yang diperoleh melalui diferen-
siasi fungsi f(t) merupakan perkalian dari F(s) dengan s di-
kurangi dengan nilai f(t) pada t = 0.

Transformasi Laplace
63
CONTOH-3.4: Carilah transformasi Laplace dari fungsi cos(ωt) dengan
memandang fungsi ini sebagai turunan dari sin(ωt).
Solusi :
2 2 2 2
) 0 sin(
1
) (
) sin( 1
) cos( ) (
ω +
=
|
|
¹
|

\
|

ω +
ω
ω
= →
ω
ω
= ω =
s
s
s
s s
dt
t d
t t f
F

Penurunan di atas dapat kita kembangkan lebih lanjut sehingga kita men-
dapatkan transformasi dari fungsi-fungsi yang merupakan fungsi turunan
yang lebih tinggi.
) 0 ( ) 0 ( ) 0 ( ) ( ) (
) (
) ( jika
) 0 ( ) 0 ( ) ( ) (
) (
) ( jika
1 1 1
2
1
3
3
1
3
1 1 1
2
2
1
2
f f s f s s s s
dt
t f d
t f
f sf s s s
dt
t f d
t f
′ ′ − ′ − − = → =
′ − − = → =
F F
F F
(3.10)
3.3.5. Translasi di Kawasan t
Sifat transformasi Laplace berkenaan dengan translasi di kawasan t ini
dapat dinyatakan sebagai berikut
Jika transformasi Laplace dari f(t) adalah F(s), maka
transformasi Laplace dari f(t−a)u(t−a) untuk a > 0 adalah
e
−as
F(s).
Hal ini dapat kita lihat sebagai berikut. Menurut definisi, transformasi
Laplace dari f(t−a)u(t−a) adalah



− −
0
) ( ) ( dt e a t u a t f
st

Karena u(t−a) bernilai nol untuk t < a dan bernilai satu untuk t > a , ben-
tuk integral ini dapat kita ubah batas bawahnya serta tidak lagi menulis-
kan faktor u(t−a), menjadi
∫ ∫




− = − −
a
st st
dt e a t f dt e a t u a t f ) ( ) ( ) (
0

Transformasi Laplace

64 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

Kita ganti peubah integrasinya dari t menjadi τ dengan suatu hubungan τ
= (t−a). Dengan penggantian ini maka dt menjadi dτ dan τ = 0 ketika t =
a dan τ = ∞ ketika t = ∞. Persamaan di atas menjadi
) ( ) (
) ( ) ( ) (
0
0
) (
0
s e d e f e
d e f dt e a t u a t f
as s as
a s st
F


τ − −

+ τ −


= τ τ =
τ τ = − −

∫ ∫
(3.11)
CONTOH-3.5: Carilah transformasi Laplace
dari bentuk gelombang sinyal seperti
yang tergambar di samping ini.
Solusi :
Model bentuk gelombang ini dapat kita
tuliskan sebagai
) ( ) ( ) ( a t Au t Au t f − − = .
Transformasi Laplace-nya adalah :
s
e A
s
A
e
s
A
s
as
as
) 1 (
) (



= − = F
3.3.6. Translasi di Kawasan s
Sifat mengenai translasi di kawasan s dapat dinyatakan sebagai berikut.
Jika transformasi Laplace dari f(t) adalah F(s) , maka
transformasi Laplace dari e
−αt
f(t) adalah F(s + α).
Bukti dari pernyataan ini dapat langsung diperoleh dari definisi trans-
formasi Laplace, yaitu
) ( ) ( ) (
0
) (
0
α + = =
∫ ∫

α + −

− α −
s dt e t f dt e t f e
t s st t
F (3.19)
Sifat ini dapat digunakan untuk menentukan transformasi fungsi teredam
jika diketahui bentuk transformasi fungsi tak teredamnya.
f(t)
A
0 a →t
Transformasi Laplace
65
CONTOH-3.6: Carilah transformasi Laplace dari fungsi-fungsi ramp
teredam dan sinus teredam berikut ini :
) ( cos b). ; ) ( a).
2 1
t u t e v e t tu v
t t
ω = =
α − α −

Solusi :
2 2
2 2
2 2
2
1 1
2
) (
) ( ) ( cos ) ( jika maka
, ) ( ) ( cos ) untuk Karena b).

) (
1
) ( ) ( ) ( jika maka
,
1
) ( ) ( ) ( untuk Karena a).
ω + α +
α +
= ⇒ ω =
ω +
= → ω =
α +
= ⇒ =
= → =
α −
α −
s
s
s t u t e t v
s
s
s t u t t v
s
s e t tu t v
s
s t tu t v
t
t
V
V
V
F
(

3.3.7. Pen-skalaan (scaling)
Sifat ini dapat dinyatakan sebagai :
Jika transformasi Laplace dari f(t) adalah F(s) , maka untuk a
> 0 transformasi dari f(at) adalah |
¹
|

\
|
a
s
F
a
1
.
Bukti dari sifat ini dapat langsung diperoleh dari definisinya. Dengan
mengganti peubah t menjadi τ = at maka transformasi Laplace dari f(at)
adalah:
∫ ∫

τ −


|
¹
|

\
|
= τ τ =
0

0
1
) (
1
) (
a
s
a
d e f
a
dt e at f
a
s
st
F (3.12)
Jadi, jika skala waktu diperbesar (a > 1) maka skala frekuensi s mengecil
dan sebaliknya apabila skala waktu diperkecil (a < 1) maka skala
frekuensi menjadi besar.
3.3.8. Nilai Awal dan Nilai Akhir
Sifat transformasi Laplace berkenaan dengan nilai awal dan nilai akhir
dapat dinyatakan sebagai berikut.
Transformasi Laplace

66 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

0
0
) ( lim ) ( lim : akhir Nilai
) ( lim ) ( lim : awal Nilai
→ ∞ →
∞ → + →
=
=
s t
s t
s s t f
s s t f
F
F

Jadi nilai f(t) pada t = 0
+
di kawasan waktu (nilai awal) sama dengan
nilai sF(s) pada tak hingga di kawasan s. Sedangkan nilai f(t) pada t = ∞
(nilai akhir) sama dengan nilai sF(s) pada titik asal di kawasan s. Sifat
ini dapat diturunkan dari sifat diferensiasi.
CONTOH-3.7: Transformasi Laplace dari suatu sinyal adalah
) 20 )( 5 (
3
100 ) (
+ +
+
=
s s s
s
s V
Carilah nilai awal dan nilai akhir dari v(t).
Solusi :
Nilai awal adalah :
0
) 20 )( 5 (
3
100 lim ) ( lim ) ( lim
0
=
(
¸
(

¸

+ +
+
× = =
∞ →
∞ → + →
s s s
s
s s s t v
s
s t
V
Nilai akhir adalah :
3
) 20 )( 5 (
3
100 lim ) ( lim ) ( lim
0
0
=
(
¸
(

¸

+ +
+
× = =

→ ∞ →
s s s
s
s s s t v
s
s t
V
Tabel 3.2. memuat sifat-sifat transformasi Laplace yang dibahas di atas
kecuali sifat yang terakhir yaitu konvolusi. Konvolusi akan dibahas di
bagian akhir dari pembahasan mengenai transformasi balik.
Transformasi Laplace
67
Tabel 3.2. Sifat-sifat Transformasi Laplace
Pernyataan f(t) Pernyataan F(s) =L[f(t)]
linier : A
1
f
1
(t) + A
2
f
2
(t) A
1
F
1
(s) + A
2
F
2
(s)
integrasi :

t
dx x f
0
) (
s
s) ( F

diferensiasi :
dt
t df ) (

) 0 ( ) (

− f s sF
2
2
) (
dt
t f d

) 0 ( ) 0 ( ) (
2 − −
′ − − f sf s s F
3
3
) (
dt
t f d

) 0 ( ) 0 (
) 0 ( ) (
2 3
− −

′ ′ − −

f sf
f s s s F

linier : A
1
f
1
(t) + A
2
f
2
(t)
A
1
F
1
(s) + A
2
F
2
(s)
translasi di t: [ ] ) ( ) ( a t u a t f − −
) (s e
as
F


translasi di s : ) (t f e
at −
) ( a s + F
penskalaan : ) (at f
|
¹
|

\
|
a
s
a
F
1

nilai awal :
0
) ( lim
+ → t
t f

) ( lim
∞ → s
s sF
nilai akhir :

) ( lim
∞ → t
t f
0
) ( lim
→ s
s sF
konvolusi : dx x t f x f
t
) ( ) (
0
2 1



) ( ) (
2 1
s s F F
Transformasi Laplace

68 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

3.4. Transformasi Balik
Berikut ini kita akan membahas mengenai transformasi balik, yaitu men-
cari f(t) dari suatu F(s) yang diketahui. Jika F(s) yang ingin dicari trans-
formasi baliknya ada dalam tabel transformasi Laplace yang kita punyai,
pekerjaan kita cukup mudah. Akan tetapi dalam analisis rangkaian di
kawasan s, pada umumnya F(s) berupa rasio polinomial yang bentuknya
tidak sesederhana dan tidak selalu ada pasangannya seperti dalam tabel.
Untuk mengatasi hal itu, F(s) kita uraikan menjadi suatu penjumlahan
dari bentuk-bentuk yang ada dalam tabel, sehingga kita akan memperoleh
f(t) sebagai jumlah dari bentuk-bentuk gelombang sederhana. Dengan
perkataan lain kita membuat F(s) menjadi transformasi dari suatu gelom-
bang komposit dan kelinieran dari transformasi Laplace akan memberi-
kan transformasi balik dari F(s) yang berupa jumlah dari bentuk-bentuk
gelombang sederhana. Sebelum membahas mengenai transformasi balik
kita akan mengenal lebih dulu pengertian tentang pole dan zero.
3.4.1. Pole dan Zero
Pada umumnya, transformasi Laplace berbentuk rasio polinom
0 1
1
1
0 1
1
1
) (
a s a s a s a
b s b s b s b
s
n
n
n
n
m
m
m
m
+ + + +
+ + + +
=




L
L
F (3.13)
yang masing-masing polinom dapat dinyatakan dalam bentuk faktor
menjadi
) ( ) )( (
) ( ) )( (
) (
2 1
2 1
n
m
p s p s p s
z s z s z s
K s
− − −
− − −
=
L
L
F (3.14)
dengan K = b
m
/a
n
dan disebut faktor skala.
Akar-akar dari pembilang dari pernyataan F(s) di atas disebut zero
karena F(s) bernilai nol untuk s = z
k
(k = 1, 2, …m). Akar-akar dari
penyebut disebut pole karena pada nilai s = p
k
(k = 1, 2, …n) nilai
penyebut menjadi nol dan nilai F(s) menjadi tak-hingga. Pole dan zero
disebut frekuensi kritis karena pada nilai-nilai itu F(s) menjadi nol atau
tak-hingga.
Peubah s merupakan peubah kompleks s = σ + jω. Dengan demikian kita
dapat memetakan pole dan zero dari suatu F(s) pada bidang kompleks
dan kita sebut diagram pole-zero. Titik pole diberi tanda ″× ″ dan titik
zero diberi tanda ″o ″. Perhatikan contoh 3.8. berikut.
Transformasi Laplace
69
CONTOH-3.8: Gambarkan diagram pole-zero dari
s
s
b a s
a s A
s
s
s
1
) ( c).
) (
) (
) ( b).
1
1
) ( a).
2 2
=
+ +
+
=
+
= F F F
Solusi :
a). Fungsi ini mempunyai pole di s = −1
tanpa zero
tertentu.

b). Fungsi ini mempunyai zero di s = −a.
Pole dapat dicari dari
jb a s b a s ± − = → = + + di pole 0 ) (
2 2

c). Fungsi ini tidak mempunyai zero tertentu
sedangkan pole terletak di titik asal, s = 0 +
j0.

3.4.2. Bentuk Umum F(s)
Bentuk umum F(s) adalah seperti (3.14) yaitu
) ( ) )( (
) ( ) )( (
) (
2 1
2 1
n
m
p s p s p s
z s z s z s
K s
− − −
− − −
=
L
L
F
Jika jumlah pole lebih besar dari jumlah zero, jadi n > m, kita katakan
bahwa fungsi ini merupakan fungsi rasional patut. Jika fungsi ini mem-
iliki pole yang semuanya berbeda, jadi p
i
≠ p
j
untuk i ≠ j , maka dikata-
kan bahwa F(s) mempunyai pole sederhana. Jika ada pole yang berupa
bilangan kompleks kita katakan bahwa fungsi ini mempunyai pole
kompleks. Jika ada pole-pole yang bernilai sama kita katakan bahwa
fungsi ini mempunyai pole ganda.
σ

×
−1
σ

σ

+jb
−a
−jb
Transformasi Laplace

70 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

3.4.3. Fungsi Dengan Pole Sederhana
Apabila fungsi rasional F(s) hanya mempunyai pole sederhana, maka ia
dapat diuraikan menjadi berbentuk
) ( ) ( ) (
) (
2
2
1
1
n
n
p s
k
p s
k
p s
k
s

+ +

+

= L F (3.15)
Jadi F(s) merupakan kombinasi linier dari beberapa fungsi sederhana;
konstanta k yang berkaitan dengan setiap fungsi pembangun F(s) itu kita
sebut residu. Kita ingat bahwa transformasi balik dari masing-masing
fungsi sederhana itu berbentuk ke
−αt
. Dengan demikian maka
transformasi balik dari F(s) menjadi
t p
n
t p t p
n
e k e k e k t f + + + = L
2 1
2 1
) ( (3.16)
Persoalan kita sekarang adalah bagaimana menentukan residu. Untuk
mencari k
1
, kita kalikan kedua ruas (3.15) dengan (s − p
1
) sehingga faktor
(s− p
1
) hilang dari ruas kiri sedangkan ruas kanan menjadi k
1
ditambah
suku-suku lain yang semuanya mengandung faktor (s− p
1
). Kemudian
kita substitusikan s = p
1
sehingga semua suku di ruas kanan bernilai nol
kecuali k
1
dan dengan demikian diperoleh nilai k
1
. Untuk mencari k
2
, kita
kalikan kedua ruas (3.15) dengan (s − p
2
) kemudian kita substitusikan s =
p
2
; demikian seterusnya sampai semua nilai k diperoleh, dan transformasi
balik dapat dicari.
CONTOH-3.9: Carilah f(t) dari fungsi transformasi berikut.
) 4 )( 1 (
) 2 ( 6
) ( c).
;
) 3 )( 1 (
) 2 ( 4
) ( b). ;
) 3 )( 1 (
4
) ( a).
+ +
+
=
+ +
+
=
+ +
=
s s s
s
s
s s
s
s
s s
s
F
F F

Solusi :
a).
3 1 ) 3 )( 1 (
4
) (
2 1
+
+
+
=
+ +
=
s
k
s
k
s s
s F
Transformasi Laplace
71
2
3 1
4
1 substitusi
) 1 (
3 ) 3 (
4
) 1 ( ) (
1 1
2
1
= → =
+ −
→ − = →
+
+
+ =
+
→ + × →
k k s
s
s
k
k
s
s s F

t t
e e t f
s s
s
k k s s s
3
2 2
2 2 ) (
3
2
1
2
) (
2
1 3
4
3 substitusi dan ) 3 ( ) (
− −
− = ⇒
+

+
+
= ⇒
− = → =
+ −
→ − = + × →
F
F

b).
3 1 ) 3 )( 1 (
) 2 ( 4
) (
2 1
+
+
+
=
+ +
+
=
s
k
s
k
s s
s
s F
t t
e e t f
s s
s
k k s s s
k k s s s
3
2 2
1 1
2 2 ) (
3
2
1
2
) (
2
1 3
) 2 3 ( 4
3 substitusi dan ) 3 ( ) (
2
3 1
) 2 1 ( 4
1 substitusi dan ) 1 ( ) (
− −
+ = ⇒
+
+
+
= ⇒
= → =
+ −
+ −
→ − = + × →
= → =
+ −
+ −
→ − = + × →
F
F
F

c).
4 1 ) 4 )( 1 (
) 2 ( 6
) (
3 2 1
+
+
+
+ =
+ +
+
=
s
k
s
k
s
k
s s s
s
s F
Dengan cara seperti di a) dan b) kita peroleh
t t
s
s s
e e t f
s s s
s
s s
s
k
s s
s
k
s s
s
k
4
4
3
1
2
0
1
2 3 ) (
4
1
1
2 3
) (
1
) 1 (
) 2 ( 6

; 2
) 4 (
) 2 ( 6
; 3
) 4 )( 1 (
) 2 ( 6
− −
− =
− = =
− − = →
+

+
+

+ = ⇒
− =
+
+
=
− =
+
+
= =
+ +
+
= →
F

3.4.4 Fungsi Dengan Pole Kompleks
Secara fisik, fungsi F(s) merupakan rasio polinomial dengan koefisien
riil. Jika F(s) mempunyai pole kompleks yang berbentuk p = −α + jβ,
maka ia juga harus mempunyai pole lain yang berbentuk p* = −α − jβ;
Transformasi Laplace

72 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

sebab jika tidak maka koefisien polinomial tersebut tidak akan riil. Jadi
untuk sinyal yang memang secara fisik kita temui, pole kompleks dari
F(s) haruslah terjadi secara berpasangan konjugat. Oleh karena itu uraian
F(s) harus mengandung dua suku yang berbentuk
L L +
β + α +
+
β − α +
+ =
j s
k
j s
k
s
*
) ( F (3.17)
Residu k dan k* pada pole konjugat juga merupakan residu konjugat se-
bab F(s) adalah fungsi rasional dengan koefisien rasional. Residu ini
dapat kita cari dengan cara yang sama seperti mencari residu pada uraian
fungsi dengan pole sederhana. Kita cukup mencari salah satu residu dari
pole kompleks karena residu yang lain merupakan konjugatnya.
Transformasi balik dari dua suku dengan pole kompleks akan berupa
cosinus teredam. Tansformasi balik dari dua suku pada (3.17) adalah
) cos( 2
2
2


* ) (
) ( ) (
)) ( ( )) ( (
) ( ) (
) ( ) (
θ + β =
+
=
+ =
+ =
+ =
α −
θ + β − θ + β
α −
θ + β + α − θ + β − α −
β + α − θ − β − α − θ
β + α − β − α −
t
t j t j
t
t j t j
t j j t j j
t j t j
k
e k
e e
e k
e k e k
e e k e e k
e k ke t f
(3.18)
Jadi f(t) dari (3.17) akan berbentuk :
L L + θ + β + =
α −
) cos( 2 ) (
t
e k t f
CONTOH-3.10: Carilah transformasi balik dari
) 8 4 (
8
) (
2
+ +
=
s s s
s F
Solusi :
Fungsi ini mempunyai pole sederhana di s = 0, dan pole kompleks
yang dapat ditentukan dari faktor penyebut yang berbentuk kwadrat,
yaitu
2 2
2
32 16 4
j s ± − =
− ± −
=
Transformasi Laplace
73
Uraian dari F(s) , penentuan residu, serta transformasi baliknya ada-
lah sebagai berikut.
1
8
8
) 8 4 (
8

2 2 2 2
) 8 4 (
8
) (
0
2
1
2 2 1
2
= = ×
+ +
= →
+ +
+
− +
+ =
+ +
=
=

s
s
s s s
k
j s
k
j s
k
s
k
s s s
s F

) 4 / 3 (
2
) 4 / 3 (
2 2
2 2
2
2
2
2


2
2
8 8
8
) 2 2 (
8

) 2 2 (
) 8 4 (
8

π − ∗
π
+ − =
+ − =
= →
=
− −
=
+ +
=
− + ×
+ +
= →
j
j
j s
j s
e k
e
j j s s
j s
s s s
k

[ ]
) 4 / 3 2 cos( 2 ) (

2
2
) (
2
2
2
2
) (
2
) 2 4 / 3 ( ) 2 4 / 3 ( 2
) 2 2 ( ) 4 / 3 ( ) 2 2 ( ) 4 / 3 (
π + + =
+ + =
+ + = ⇒

+ π − + π −
+ − π − − − π
t e t u
e e e t u
e e e e t u f(t)
t
t j t j t
t j j t j j

3.4.5. Fungsi Dengan Pole Ganda
Pada kondisi tertentu, fungsi F(s) dapat mempunyai pole ganda. Pengu-
raian F(s) yang demikian ini dilakukan dengan “memecah” faktor yang
mengandung pole ganda dengan tujuan untuk mendapatkan bentuk
fungsi dengan pole sederhana yang dapat diuraikan seperti biasanya. Un-
tuk jelasnya kita ambil suatu fungsi yang mengandung pole ganda (dua
pole sama) seperti pada (3.19) berikut ini.
2
2 1
1
) )( (
) (
) (
p s p s
z s K
s
− −

= F (3.19)
Dengan mengeluarkan salah satu faktor yang mengandung pole ganda
kita dapatkan
Transformasi Laplace

74 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

(
¸
(

¸

− −


=
) )( (
) ( 1
) (
2 1
1
2
p s p s
z s K
p s
s F (3.20)
Bagian yang didalam tanda kurung dari (3.20) mengandung pole
sederhana sehingga kita dapat menguraikannya seperti biasa.
2
2
1
1
2 1
1
1
) )( (
) (
) (
p s
k
p s
k
p s p s
z s K
s

+

=
(
¸
(

¸

− −

= F (3.21)
Residu pada (3.21) dapat ditentukan, misalnya k
1
= A dan k
2
= B , dan
faktor yang kita keluarkan kita masukkan kembali sehingga (3.20)
menjadi
2
2
1 2 2 1 2
) (
) )( (
1
) (
p s
B
p s p s
A
p s
B
p s
A
p s
s

+
− −
=
(
¸
(

¸


+
− −
= F
dan suku pertama ruas kanan diuraikan lebih lanjut menjadi
2
2
2
12
1
11
) (
) (
p s
B
p s
k
p s
k
s

+

+

= F (3.22)
Transformasi balik dari (3.22) adalah
t p t p t p
Bte e k e k t f
2 2 1
12 11
) ( + + = (3.23)
CONTOH-3.11: Tentukan transformasi balik dari fungsi:
2
) 2 )( 1 (
) (
+ +
=
s s
s
s F
Solusi :
2
) 1 (
1
) 2 (

2 1 ) 2 (
1


) 2 )( 1 ( ) 2 (
1
) 2 )( 1 (
) (
2
2
1
1
2 1
2
=
+
= → − =
+
= →
(
¸
(

¸

+
+
+ +
=
(
¸
(

¸

+ + +
=
+ +
=
− = − = s s
s
s
k
s
s
k
s
k
s
k
s
s s
s
s
s s
s
s F

Transformasi Laplace
75
2
12 11
2
) 2 (
2
2 1


) 2 (
2
) 2 )( 1 (
1
2
2
1
1
) 2 (
1
) (
+
+
+
+
+
=
+
+
+ +

=
(
¸
(

¸

+
+
+

+
= ⇒
s
s
k
s
k
s
s s s s s
s F
t t t
s s
te e e t f
s
s s
s
s
k
s
k
2 2
2
2
12
1
11
2 ) (
) 2 (
2
2
1
1
1
) (
1
1
1
1
2
1

− − −
− = − =
+ + − = ⇒
+
+
+
+
+

= ⇒
=
+

= → − =
+

= →
F

3.4.6. Konvolusi
Transformasi Laplace menyatakan secara timbal balik bahwa
) ( ) ( (s) maka ) ( ) ( ) ( jika
2 1 2 1
s s t f t f t f F F F + = + =
) ( ) ( (t) maka ) ( ) ( ) ( jika
2 1 2 1
t f t f f s s s + = + = F F F
Kelinieran dari transformasi Laplace ini tidak mencakup perkalian. Jadi
) ( ) ( ) ( maka ) ( ) ( ) ( jika
2 1 2 1
t f t f t f s s s ≠ = F F F
Mencari fungsi f(t) dari suatu fungsi F(s) yang merupakan hasil kali dua
fungsi s yang berlainan, melibatkan sifat transformasi Laplace yang kita
sebut konvolusi. Sifat ini dapat dinyatakan sebagai berikut.
[ ]
∫ ∫
τ τ − τ = τ τ − τ =
=
=

t t
d t f f d t f f t f s
s s s
0
1 2
0
2 1
1
2 1
) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) (
maka ) ( ) ( ) ( jika
F
F F F
L
(3.24)
Kita katakan bahwa transformasi balik dari perkalian dua F(s) diperoleh
dengan melakukan konvolusi dari kedua bentuk gelombang yang ber-
sangkutan. Kedua bentuk integral pada (3.24) disebut integral konvolusi.
Pandanglah dua fungsi waktu f
1
(τ) dan f
2
(t). Transformasi Laplace mas-
ing-masing adalah


τ −
τ τ =
0
1 1
) ( ) ( d e f s
s
F dan



=
0
2 2
) ( ) ( dt e t f s
st
F .
Jika kedua ruas dari persamaan pertama kita kalikan dengan F
2
(s) akan
kita peroleh
Transformasi Laplace

76 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)



τ −
τ τ =
0
2 1 2 1
) ( ) ( ) ( ) ( d s e f s s
s
F F F .
Sifat translasi di kawasan waktu menyatakan bahwa e
−sτ
F
2
(s) adalah
transformasi Laplace dari [ f
2
(t−τ) ] u(t−τ) sehingga persamaan tersebut
dapat ditulis
∫ ∫
∞ ∞

τ
(
¸
(

¸

τ − τ − τ =
0 0
2 1 2 1
) ( ) ( ) ( ) ( ) ( d dt e t u t f f s s
st
F F
Karena untuk τ > t nilai u(t−τ) = 0, maka integrasi yang berada di dalam
kurung pada persamaan di atas cukup dilakukan dari 0 sampai t saja, se-
hingga
∫ ∫
∫ ∫




τ
(
¸
(

¸

τ − τ =
τ
(
¸
(

¸

τ − τ =
0 0
2 1
0 0
2 1 2 1
) ( ) (
) ( ) ( ) ( ) (
d dt e t f f
d dt e t f f s s
t
st
t
st
F F

Dengan mempertukarkan urutan integrasi, kita peroleh
(
¸
(

¸

τ τ − τ =
(
¸
(

¸

τ τ − τ =
∫ ∫ ∫


t
st
t
d t f f dt e d t f f s s
0
2 1
0 0
2 1 2 1
) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( L F F
CONTOH-3.12: Carilah f(t) dari F(s) berikut.
) (
1
) ( c).

) )( (
1
) ( b).
) (
1
) ( a).
2
2
a s s
s
b s a s
s
a s
s
+
=
+ +
=
+
=
F
F F

Solusi : a). Fungsi ini kita pandang sebagai perkalian dari dua
fungsi.
Transformasi Laplace
77
at
t
at
t
ax at ax
t
x t a ax
t
at
te dx e dx e
dx e e dx x t f x f t f
e t f t f
a s
s s s s s
− − + − −
− − −

= = =
= − = ⇒
= = →
+
= = =
∫ ∫
∫ ∫
0 0
0
) (
0
2 1
2 1
2 1 2 1

) ( ) ( ) (
) ( ) (

) (
1
) ( ) ( dengan ) ( ) ( ) ( F F F F F

b). Fungsi ini juga merupakan perkalian dari dua fungsi.
bt at
e t f e t f
b s
s
a s
s
s s s
− −
= = →
+
=
+
=
=
) ( dan ) (
) (
1
) ( dan
) (
1
) (
dengan ) ( ) ( ) (
2 1
2 1
2 1
F F
F F F

( )
b a
e e
b a
e e
b a
e
e dx e e
dx e e dx x t f x f t f
bt at t b a bt
t
x b a
bt
t
x b a bt
t
x t b ax
t
+ −

=
+ −

=
(
(
¸
(

¸

+ −
= =
= − = ⇒
− − + − −
+ −
− + − −
− − −

∫ ∫

1


) ( ) ( ) (
) (
0
) (
0
) (
0
) (
0
2 1

c). Fungsi ketiga ini juga dapat dipandang sebagai perkalian dua
fungsi.
2 2
0
2
0
0
0 0
) (
0
2 1
2 1
2
2
1 2 1
1

1 0


0

) ( ) ( ) (
) ( dan ) (
1
) ( dan
1
) ( dengan ) ( ) ( ) (
a
e at
a
e
a
te
e
a
e
a
te
e dx
a
e
a
xe
e
dx xe e dx xe dx x t f x f t f
e t f t t f
a s
s
s
s s s s
at at at
at
t
ax at
at
t
ax
t
ax
at
t
ax at
t
x t a
t
at


− −
− − −

+ −
=
(
(
¸
(

¸




=
(
(
(
¸
(

¸



=
(
(
(
¸
(

¸

− =
= = − = ⇒
= = →
+
= = =

∫ ∫ ∫
F F F F F

Transformasi Laplace

78 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

3.5. Solusi Persamaan Rangkaian Menggunakan Transformasi
Laplace
Dengan menggunakan transformasi Laplace kita dapat mencari solusi
suatu persamaan rangkaian (yang sering berbentuk persamaan
diferensial) dengan lebih mudah. Transformasi akan mengubah
persamaan diferensial menjadi persamaan aljabar biasa di kawasan s
yang dengan mudah dicari solusinya. Dengan mentransformasi balik
solusi di kawasan s tersebut, kita akan memperoleh solusi dari persamaan
diferensialnya.
CONTOH-3.13: Gunakan transformasi Laplace untuk mencari solusi
persamaan berikut.
5 ) 0 ( , 0 10 = = +
+
v v
dt
dv

Solusi :
Transformasi Laplace persamaan diferensial ini adalah
10
5
) ( 0 ) ( 10 5 ) (
atau 0 ) ( 10 ) 0 ( ) (
+
= ⇒ = + −
= + −
+
s
s s s s
s v s s
V V V
V V

Transformasi balik memberikan
t
e t v
10
5 ) (

=
Transformasi Laplace dapat kita manfaatkan untuk mencari solusi dari
persamaan diferensial dalam analisis transien. Langkah-langkah yang
harus dilakukan adalah :
1. Menentukan persamaan diferensial rangkaian di kawasan waktu.
2. Mentransformasikan persamaan diferensial yang diperoleh pada
langkah 1 ke kawasan s dan mencari solusinya.
3. Transformasi balik solusi yang diperoleh pada langkah 2 untuk
memperoleh tanggapan rangkaian.
Transformasi Laplace
79
CONTOH-3.14: Saklar S pada rangkaian di samping ini ditutup pada t =
0. Tentukan tegangan kapasitor untuk t > 0 jika sesaat sebelum S di-
tutup tegangan kapasitor 2 V.
Solusi :
Langkah pertama
adalah
menentukan
persamaan
rangkaian untuk t
> 0. Aplikasi HTK memberikan
0 2 6 atau 0 100 6 = + + − = + + −
C
C
C
v
dt
dv
v i .
Langkah kedua adalah mentransformasikan persamaan ini ke kawa-
san s, menjadi
0 ) ( 2 ) ( 2
6

atau 0 ) ( ) 0 ( ) ( 2
6
= + − + −
= + − + −
s s s
s
s v s s
s
C C
C C C
V V
V V

Pemecahan persamaan ini dapat diperoleh dengan mudah.
5 , 0
5 6
) (
5
3
dan 6
) 5 , 0 (
3
5 , 0 ) 5 , 0 (
3
) (
5 , 0
2
0
1
2 1
+
− = ⇒
− =
+
= =
+
+
= →
+
+ =
+
+
=
− =
=
s s
s
s
s
k
s
s
k
s
k
s
k
s s
s
s
C
s
s
C
V
V

Langkah terakhir adalah mentransformasi balik V
C
(s) :
V 5 6 ) (
5 , 0 t
C
e t v

− =
+

100Ω
S

12 V
i
+
v
C


0,02F
Transformasi Laplace

80 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

CONTOH-3.15: Pada rangkaian di samping ini, saklar S dipindahkan
dari posisi 1 ke 2 pada t = 0. Tentukan i(t) untuk t > 0, jika sesaat se-
belum saklar dipindah tegangan kapasitor 4 V dan arus induktor 2 A.

Solusi :
Aplikasi HTK pada rangkaian ini setelah saklar ada di posisi 2 ( t > 0
) memberikan


= + + + + −
= + + + + −
0 4 13 6 6
atau 0 ) 0 (
1
6 6
idt
dt
di
i
v idt
C dt
di
L i
C

Transformasi Laplace dari persamaan rangkaian ini menghasilkan
0
4 ) (
13 2 ) ( ) ( 6
6
atau 0
4 ) (
13 ) 0 ( ) ( ) ( 6
6
= + + − + +

= + + − + +

s s
s
s s s
s
s s
s
i s s s
s
I
I I
I
I I

Pemecahan persamaan ini adalah :
2 3 2 3 ) 2 3 )( 2 3 (
2 2

13 6
2 2
) (
1 1
2
j s
k
j s
k
j s j s
s
s s
s
s
+ +
+
− +
=
+ + − +
+
=
+ +
+
= →

I

1/13 F

+

1 H

6 Ω

6 V

+
v
C


i

S

1

2

Bagian
lain
rangkaian
Transformasi Laplace
81
2 3
2
2 3
2
) (
2 2 1 1
2 3
2 2
o o
o o
45 45
45
1
45
2 3
1
j s
e
j s
e
s
e k e j
j s
s
k
j j
j j
j s
+ +
+
− +
= ⇒
= → = + =
+ +
+
= →

− ∗
+ − =
I

Transformasi balik dari I(s) memberikan
A ) 2 sin 2 (cos 2
2 2 ) (
3
) 2 3 ( 45 ) 2 3 ( 45
o o
t t e
e e e e t i
t
t j j t j j
− =
+ = ⇒

+ − − − −




Transformasi Laplace

82 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

Soal-Soal
1. Carilah pernyataannya di kawasan s sinyal-sinyal berikut ini.
) ( ] 4 2 [ 10 ) (
); ( ] [ 10 ) (
) ( ] 4 1 [ 10 ) (
); ( ] 1 [ 10 ) (
4 2
4
4 2
3
2
2
1
t u e e t v
t u e e t v
t u t t v
t u e t v
t t
t t
t
− −
− −

− =
− =
+ =
− =

2. Carilah pernyataannya di kawasan s sinyal-sinyal berikut ini.
) ( ] 10 sin 2 1 [ 15 ) (
); ( ] 10 cos 20 [cos 15 ) (
) ( ] 20 sin 20 [cos 15 ) (
); ( )] 30 20 [sin( 15 ) (
4
3
2
o
1
t u t t v
t u t t t v
t u t t t v
t u t t v
− =
− =
− =
− =

3. Carilah pernyataannya di kawasan s sinyal-sinyal berikut ini.
) ( )] 10 sin 2 1 ( [ 20 ) (
); ( )] 10 cos 20 (cos [ 20 ) (
) ( )] 20 sin 20 (cos [ 20 ) (
); ( )] 30 20 sin( [ 20 ) (
2
4
2
3
2
2
o 2
1
t u t e t v
t u t t e t v
t u t t e t v
t u t e t v
t
t
t
t
− =
− =
− =
− =





4. Carilah pernyataannya di kawasan s sinyal-sinyal berikut ini.
) ( ] 10 sin [ 20 ) (
); ( 20 ) (
) ( )] 20 )(sin 20 [(cos 15 ) (
); ( )] 10 [cos 15 ) (
2
4
2
3
2
2
1
t u t e t v
t u te t v
t u t t t v
t u t t v
t
t


=
=
=
=

Transformasi Laplace
83
5. Berikut ini adalah pernyataan sinyal di kawasan s. Carilah pern-
yataannya di kawasan waktu t.
) 4 )( 3 )( 2 (
) (
;
) 3 )( 2 (
) (
) 3 )( 2 (
) (
;
) 3 )( 2 (
1
) (
2
4
2
3
2
1
+ + +
=
+ +
=
+ +
=
+ +
=
s s s
s
s
s s
s
s
s s
s
s
s s
s
V
V
V
V

6. Carilah pernyataan di kawasan waktu dari sinyal yang dinyatakan di
kawasan s berikut ini.
9 ) 2 (
) (
;
9 ) 2 (
) (
;
9 ) 2 (
1
) (
2
2
3
2
2
2
1
+ +
=
+ +
=
+ +
=
s
s
s
s
s
s
s
s
V
V
V

7. Berikut ini adalah pernyataan sinyal di kawasan s; carilah pern-
yataannya di kawasan waktu.
) 3 (
1
) (
;
) 3 (
1
) (
;
) 3 (
1
) (
3
2
1
+
=
+
=
+
=
s s
s
s s
s
s
s
V
V
V

Transformasi Laplace

84 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

8. Berikut ini adalah pernyataan sinyal di kawasan s; carilah pern-
yataannya di kawasan waktu.
25 6
10
) (
;
16 8
10
) (
;
16 10
10
) (
2
3
2
2
2
1
+ +
=
+ +
=
+ +
=
s s
s
s s
s
s s
s
V
V
V

9. Carilah pernyataannya di kawasan waktu sinyal-sinyal berikut ini.
) 4 )( 3 )( 2 (
46 34 6
) (
;
) 4 )( 3 )( 2 (
26 9
) (
;
) 3 )( 2 (
14 6
) (
2
3
2
1
+ + +
+ +
=
+ + +
+
=
+ +
+
=
s s s
s s
s
s s s
s
s
s s
s
s
V
V
V

10. Carilah pernyataannya di kawasan waktu sinyal-sinyal berikut ini.
) 100 )( 20 (
) 200 )( 10 (
) (
;
) 4 2 (
) 4 )( 1 (
) (
;
) 3 )( 1 2 (
2
) (
3
2 2
2
2
1
+ +
+ +
=
+ +
+ +
=
+ + +
+
=
s s
s s
s
s s s
s s
s
s s s s
s
s
V
V
V





Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace
85
BAB 4 Analisis Rangkaian Menggunakan
Transformasi Laplace

Setalah mempelajari bab ini kita akan
• memahami konsep impedansi di kawasan s.
• mampu melakukan transformasi rangkaian ke kawasan s.
• mampu melakukan analisis rangkaian di kawasan s.
Di bab sebelumnya kita menggunakan transformasi Laplace untuk me-
mecahkan persamaan rangkaian. Kita harus mencari terlebih dahulu per-
samaan rangkaian di kawasan t sebelum perhitungan-perhitungan di ka-
wasan s kita lakukan. Berikut ini kita akan mempelajari konsep im-
pedansi dan dengan konsep ini kita akan dapat melakukan transformasi
rangkaian ke kawasan s. Dengan transformasi rangkaian ini, kita lang-
sung bekerja di kawasan s, artinya persamaan rangkaian langsung dicari
di kawasan s tanpa mencari persamaan rangkaian di kawasan t lebih dulu.
Sebagaimana kita ketahui, elemen dalam analisis rangkaian listrik adalah
model dari piranti yang dinyatakan dengan karakteristik i-v-nya. Jika
analisis dilakukan di kawasan s dimana v(t) dan i(t) ditransformasikan
menjadi V(s) dan I(s), maka pernyataan elemenpun harus dinyatakan di
kawasan s.
4.1. Hubungan Tegangan-Arus Elemen di Kawasan s
4.1.1. Resistor
Hubungan arus dan tegangan resistor di kawasan t adalah
(t) Ri t v
R R
= ) (
Transformasi Laplace dari v
R
adalah
(s) R dt e t Ri dt e t v s
R
st
R
st
R R
I V
∫ ∫




= = =
0 0
) ( ) ( ) (
Jadi hubungan arus-tegangan resistor di kawasan s adalah
) ( ) ( s R s
R R
I V = (4.1)
4.1.2. Induktor
Hubungan antara arus dan tegangan induktor di kawasan t adalah
Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace
86 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

dt
(t) di
L t v
L
L
= ) (
Transformasi Laplace dari v
L
adalah (ingat sifat diferensiasi dari trans-
formasi Laplace) :
) 0 ( ) (
) (
) ( ) (
0 0
L L
st L st
L L
Li s sL dt e
dt
t di
L dt e t v s − =
(
¸
(

¸

= =




∫ ∫
I V
Jadi hubungan tegangan-arus induktor adalah
) 0 ( ) ( ) (
L L L
Li s sL s − = I V (4.2)
dengan i
L
(0) adalah arus induktor pada saat awal integrasi dilakukan atau
dengan kata lain adalah arus pada t = 0. Kita ingat pada analisis transien
di Bab-4, arus ini adalah kondisi awal dari induktor, yaitu i(0
+
) = i(0

).
4.1.3. Kapasitor
Hubungan antara tegangan dan arus kapasitor di kawasan t adalah

+ =
t
c C C
v dt t i
C
t v
0
) 0 ( ) (
1
) (
Transformasi Laplace dari tegangan kapasitor adalah
s
v
sC
s
s
C C
C
) 0 ( ) (
) ( + =
I
V (4.3)
dengan v
C
(0) adalah tegangan kapasitor pada t =0. Inilah hubungan te-
gangan dan arus kapasitor di kawasan s.
4.2. Konsep Impedansi di Kawasan s
Impedansi merupakan suatu konsep di kawasan s yang didefinisikan se-
bagai berikut.
Impedansi di kawasan s adalah rasio tegangan terhadap arus di ka-
wasan s dengan kondisi awal nol.
Sesuai dengan definisi ini, maka impedansi elemen dapat kita peroleh
dari (4.1), (4.2), dan (4.3) dengan i
L
(0) = 0 maupun v
C
(0) = 0,
Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace
87
sC s C
s
Z sL
s L
s
Z R
s
s
Z
C
C
L
L
R
R
R
1
) (
) (
;
) (
) (
;
) (
) (
= = = = = =
I
V
I
V
I
V
(4.4)
Dengan konsep impedansi ini maka hubungan tegangan-arus untuk resis-
tor, induktor, dan kapasitor menjadi sederhana, mirip dengan relasi hu-
kum Ohm.
) (
1
; (s) ) ( ; (s) ) ( s
sC
sL s R s
C C L L R R
I V I V I V = = = (4.5)
Sejalan dengan pengertian impedansi, dikembangkan pengertian admi-
tansi, yaitu Y = 1/Z sehingga untuk resistor, induktor, dan kapasitor kita
mempunyai
sC Y
sL
Y
R
Y
C L R
= = = ;
1
;
1
(4.6)
4.3. Representasi Elemen di Kawasan s
Dengan pengertian impedansi seperti dikemukakan di atas, dan hubungan
tegangan-arus elemen di kawasan s, maka elemen-elemen dapat direpre-
sentasikan di kawasan s dengan impedansinya, sedangkan kondisi awal
(untuk induktor dan kapasitor) dinyatakan dengan sumber tegangan yang
terhubung seri dengan impedansi tersebut, seperti terlihat pada Gb. 4.1.

Resistor Induktor Kapasitor
Gb.4.1. Representasi elemen di kawasan s.
) ( ) ( s R s
R R
I V = ; ) 0 ( ) ( ) (
L L L
Li s sL s − = I V ;
s
v
sC
s
s
C C
C
) 0 ( ) (
) ( + =
I
V
Representasi elemen di kawasan s dapat pula dilakukan dengan
menggunakan sumber arus untuk menyatakan kondisi awal induktor dan
kapasitor seperti terlihat pada Gb.4.2.
R

I
R
(s)
+

V
R
(s)



+
sL

Li
L
(0)
+

V
L
(s)


I
L
(s)
+

s
v
C
) 0 (

+

V
C
(s)


I
C
(s)
sC
1

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace
88 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)


Gb.4.2. Representasi elemen di kawasan s.
) ( ) ( s R s
R R
I V = ; |
¹
|

\
|
− =
s
i
s sL s
L
L L
) 0 (
) ( ) ( I V ;
( ) ) 0 ( ) (
1
) (
C C C
Cv s
sC
s + = I V
4.4. Transformasi Rangkaian
Representasi elemen ini dapat kita gunakan untuk mentransformasi
rangkaian ke kawasan s. Dalam melakukan transformasi rangkaian perlu
kita perhatikan juga apakah rangkaian yang kita transformasikan
mengandung simpanan energi awal atau tidak. Jika tidak ada, maka
sumber tegangan ataupun sumber arus pada representasi elemen tidak
perlu kita gambarkan.
CONTOH 4.1: Saklar S pada rangkaian berikut telah lama ada di posisi
1. Pada t = 0 saklar
dipindahkan ke
posisi 2 sehingga
rangkaian RLC
seri terhubung ke
sumber tegangan
2e
−3t
V.
Transformasikan rangkaian ke kawasan untuk t > 0.
Solusi :
Pada t < 0, keadaan telah mantap. Arus induktor nol dan tegangan
kapasitor sama dengan tegangan sumber 8 V.
Untuk t > 0, sumber tegangan adalah v
s
= 2e
−3t
yang transformasinya
adalah
R

I
R
(s)
+

V
R
(s)


sC
1

Cv
C
(0)
I
C
(s)
+
V
C
(s)

I
L
(s)
+
V
L
(s)

sL


s
i
L
) 0 (

1/2 F

1 H

3 Ω

2e
−3t
V

+
v
C


S

1

2

+

+

8 V

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace
89
3
2
) (
+
=
s
s
s
V
Representasi kapasitor adalah impedansinya 1/sC = 2/s seri dengan
sumber tegangan 8/s karena tegangan kapasitor pada t = 0 adalah 8
V. Representasi induktor impedansinya sL = s tanpa diserikan den-
gan sumber tegangan karena arus induktor pada t = 0 adalah nol.
Transformasi rangkaian ke kawasan s untuk t > 0 adalah

Perhatikan bahwa tegangan kapasitor V
C
(s) mencakup sumber te-
gangan (8/s) dan bukan hanya tegangan pada impedansi (2/s) saja.
Setelah rangkaian ditransformasikan, kita mengharapkan dapat langsung
mencari persamaan rangkaian di kawasan s. Apakah hukum-hukum, kai-
dah, teorema rangkaian serta metoda analisis yang telah kita pelajari da-
pat kita terapkan? Hal tersebut kita bahas berikut ini.
4.5. Hukum Kirchhoff
Hukum arus Kirchhoff menyatakan bahwa untuk suatu simpul

=
=
n
k
k
t i
1
0 ) (
Jika kita lakukan transformasi, akan kita peroleh
0 ) ( ) ( ) (
1 1
0 0
1
= =
(
¸
(

¸

=
(
(
¸
(

¸

∑ ∑
∫ ∫

= =




=
n
k
k
n
k
st
k
st
n
k
k
s dt e t i dt e t i I (4.7)
Jadi hukum arus Kirchhoff (HAK) berlaku di kawasan s. Hal yang sama
terjadi juga pada hukum tegangan Kirchhoff. Untuk suatu loop
s
2

s

3

3
2
+ s
+

+

s
8

+
V
C
(s)

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace
90 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

0 ) ( ) ( ) (
0 ) (
1 1
0 0
1
1
= =
(
¸
(

¸

=
(
(
¸
(

¸


=
∑ ∑
∫ ∫


= =




=
=
n
k
k
n
k
st
k
st
n
k
k
n
k
k
s dt e t v dt e t v
t v
V
(4.8)
4.6. Kaidah-Kaidah Rangkaian
Kaidah-kaidah rangkaian, seperti rangkaian ekivalen seri dan paralel,
pembagi arus, pembagi tegangan, sesungguhnya merupakan konsekuensi
hukum Kirchhoff. Karena hukum ini berlaku di kawasan s maka kaidah-
kaidah rangkaian juga harus berlaku di kawasan s. Dengan mudah kita
akan mendapatkan impedansi ekivalen maupun admitansi ekivalen
∑ ∑
= =
k paralel ekiv k seri ekiv
Y Y Z Z

; (4.9)
Demikian pula dengan pembagi arus dan pembagi tegangan.
) ( ) ( ; ) ( ) (

s
Z
Z
s s
Y
Y
s
total
seri ekiv
k
k total
paralel ekiv
k
k
V V I I = = (4.10)
CONTOH-4.2: Carilah V
C
(s) pada rangkaian impedansi seri RLC
berikut ini.

Solusi :
Kaidah pembagi tegangan pada rangkaian ini memberikan
) (
) 2 )( 1 (
2
) (
2 3
2
) (
2
3
/ 2
) (
2
s
s s
s
s s
s
s
s
s
s
in in in R
V V V V
+ +
=
+ +
=
+ +
=
Pemahaman :
Jika V
in
(s) = 10/s maka
s
2

s
3

+

+
V
C
(s)


V
in
(s)

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace
91
t t
C
C
s
s s
C
e e t v
s s s
s
s s
k
s s
k
s s
k
s
k
s
k
s
k
s s s
s
2
2
3
1
2
0
1
3 2 1
10 20 10 ) (

2
10
1
20 10
) (
10
) 1 (
20

; 20
) 2 (
20
; 10
) 2 )( 1 (
20
2 1 ) 2 )( 1 (
20
) (
− −
− =
− = =
+ − = ⇒
+
+
+

+ = ⇒
=
+
=
− =
+
= =
+ +
= →
+
+
+
+ =
+ +
=
V
V

Inilah tanggapan rangkaian rangkaian RLC seri (dengan R = 3Ω , L =
1H, C = 0,5 F) dengan masukan sinyal anak tangga yang amplitu-
donya 10 V.
4.7. Teorema Rangkaian
4.7.1. Prinsip Proporsionalitas
Prinsip proporsionalitas merupakan pernyataan langsung dari sifat rang-
kaian linier. Di kawasan t, pada rangkaian dengan elemen-elemen resis-
tor, sifat ini dinyatakan oleh hubungan
) ( ) ( t Kx t y =
dengan y(t) dan x(t) adalah keluaran dan masukan dan K adalah suatu
konstanta yang ditentukan oleh nilai-nilai resistor yang terlibat. Trans-
formasi Laplace dari kedua ruas hubungan diatas akan memberikan
) ( ) ( s K s X Y =
dengan Y(s) dan X(s) adalah sinyal keluaran dan masukan di kawasan s.
Untuk rangkaian impedansi,
) ( ) ( s K s
s
X Y = (4.11)
Perbedaan antara prinsip proporsionalitas pada rangkaian-rangkaian re-
sistor dengan rangkaian impedansi terletak pada faktor K
s
. Dalam rang-
kaian impedansi nilai K
s
, merupakan fungsi rasional dalam s. Sebagai
contoh kita lihat rangkaian seri RLC dengan masukan V
in
(s). Jika tegan-
gan keluaran adalah tegangan pada resistor V
R
(s), maka
Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace
92 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

) (
1
) (
) / 1 (
) (
2
s
RCs LCs
RCs
s
sC sL R
R
s
in in R
V V V
(
¸
(

¸

+ +
=
+ +
=
Besaran yang berada dalam tanda kurung adalah faktor proporsionalitas.
Faktor ini, yang merupakan fungsi rasional dalam s, memberikan
hubungan antara masukan dan keluaran dan disebut fungsi jaringan.
4.7.2. Prinsip Superposisi
Prinsip superposisi menyatakan bahwa untuk rangkaian linier besarnya
sinyal keluaran dapat dituliskan sebagai
⋅ ⋅ ⋅ + + + = ) ( ) ( ) ( ) (
3 3 2 2 1 1 o
t x K t x K t x K t y
dengan x
1
, x
2
, x
3
… adalah sinyal masukan dan K
1
, K
2
, K
3
… adalah
konstanta proporsionalitas yang besarnya tergantung dari nilai-nilai ele-
men dalam rangkaian. Sifat linier dari transformasi Laplace menjamin
bahwa prinsip superposisi berlaku pula untuk rangkaian linier di kawasan
s dengan perbedaan bahwa konstanta proporsionalitas berubah menjadi
fungsi rasional dalam s dan sinyal-sinyal dinyatakan dalam kawasan s.
⋅ ⋅ ⋅ + + + = ) ( ) ( ) ( ) (
3 3 2 2 1
1
o
s K s K s K s
s s s
X X X Y (4.12)
4.7.3. Teorema Thévenin dan Norton
Konsep mengenai teorema Thévenin dan Norton pada rangkaian-
rangkaian impedansi, sama dengan apa yang kita pelajari untuk rang-
kaian dengan elemen-elemen resistor. Cara mencari rangkaian ekivalen
Thévenin dan Norton sama seperti dalam rangkaian resistor, hanya di sini
kita mempunyai impedansi ekivalen Thévenin, Z
T
, dan admitansi ekiva-
len Norton, Y
N
, dengan hubungan sbb:
) (
) ( 1

) (
) ( ) ( ; ) ( ) ( ) (
s
s
Y
Z
Z
s
s s Z s s s
N
T
N
T
T
T
hs N T N ht T
I
V
V
I I I V V
= =
= = = =
(4.13)
Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace
93
CONTOH-4.3: Carilah rangkaian ekivalen Thevenin dari rangkaian im-
pedansi berikut ini.

Solusi :

) )( / 1 (
/
) / 1 (
/ 1
) ( ) (
2 2 2 2
ω + +
=
ω +
+
= =
s RC s
RC s
s
s
sC R
sC
s s
ht T
V V
2 2
1
) ( ) (
ω +
= =
s
s
R
s s
hs N
I I
) / 1 (
1
/ 1
/
) / 1 ( ||
RC s C sC R
sC R
RC R Z
T
+
=
+
= =



4.8. Metoda-Metoda Analisis
Metoda-metoda analisi, baik metoda dasar (metoda reduksi rangkaian,
unit output, superposisi, rangkaian ekivalen Thevenin dan Norton) mau-
pun metoda umum (metoda tegangan simpul, arus mesh) dapat kita
gunakan untuk analisis di kawasan s. Hal ini mudah dipahami mengingat
hukum-hukum, kaidah-kaidah maupun teorema rangkaian yang berlaku
di kawasan t berlaku pula di kawasan s. Berikut ini kita akan melihat
contoh-contoh penggunaan metoda analisis tersebut di kawasan s.
+

B
E
B
A
N
2 2
ω + s
s

sC
1

R

+

B
E
B
A
N
T
V
Z
T

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace
94 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

4.8.1. Metoda Unit Output
CONTOH-4.4: Dengan menggunakan metoda unit output, carilah
V
2
(s) pada rangkaian impedansi di bawah ini.

Solusi :
2
2
2
) ( ) ( ) (
/ 1
1
) ( 1 ) ( ) (
1 ) ( : Misalkan
LCs sC sL s sC s s
sC
sC
s s s
s
L C L
C C
= × = → = = →
= = → = = →
=
V I I
I V V
V

) (
1
) ( ) (

1 ) (
1
1 1
) ( ) ( ) (
1
) ( 1 ) ( ) ( ) (
1
2
1 2
2 *
1
2 2
*
1
2
2
s
RCs LCs
R
s K s
RCs LCs
R
s I
K
R
RCs LCs
sC
R
LCs
s s s
R
LCs
s LCs s s s
s
s
L R
R C L R
I I V
I I I
I V V V
+ +
= = ⇒
+ +
= = ⇒
+ +
= +
+
= + = ⇒
+
= → + = + = →

4.8.2. Metoda Superposisi
CONTOH-4.5: Dengan menggunakan metoda superposisi, carilah te-
gangan induktor v
o
(t)
pada rangkaian berikut
ini.
Solusi :
Rangkaian kita trans-
formasikan ke kawasan s menjadi
R

1/sC

sL

I
1
(s)
+
V
2
(s)

I
C
(s)
I
R
(s)
I
L
(s)
+

Bsinβt
Au(t)
R
L
+
v
o


R
Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace
95

Jika sumber arus dimatikan, maka rangkaian menjadi :


L R s
A
A
sL R
L
s
A
sL R
RLs
R
sL R
RLs
s
sL R
RLs
Z
R L
2 /
2 /
2
) (

o1
//
+
=
+
=
+
+
+
= ⇒
+
= →
V

Jika sumber tegangan dimatikan, rangkaian menjadi :

) )( 2 / (
2 2

1 1 1
/ 1
) ( ) (
2 2 2 2
2 2
o2
β + +
β
=
β +
β
×
+
=
β +
β
×
+ +
× = × =
s L R s
s RB
s
B
R sL
sRL
s
B
sL R R
sL
sL s I sL s
L
V

+

2 2
β +
β
s
B
s
A
R
sL
+
V
o


R
+

s
A

R
sL
+
V
o1


R
2 2
β +
β
s
B
R
sL
+
V
o2


R
Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace
96 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)


θ −

θ
β − =
− =
β +
= →
|
¹
|

\
| β +
= θ
β +
=
β −
=
β − +
= →
β +
− =
β +
= →
(
¸
(

¸

β −
+
β +
+
+
β
+
+
=
+ = ⇒
j
j
j s
L R s
e
L R
k
L R
e
L R
j L R j s L R s
s
k
L R
L R
s
s
k
j s
k
j s
k
L R s
k RB
L R s
A
s s s
2 2
3
1
2 2
2
2 2
2 /
2 2
1
3 2 1
o2 o1 o
4 ) / (
1
/
2
tan
,
4 ) / (
1

2 /
1
) )( 2 / (

) 2 / (
) 2 / (
) (
2 / 2 2 /
2 /

) ( ) ( ) ( V V V

( )
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

+
β +
+
β +

β
+ = ⇒
θ − β θ − β −


) ( ) (
2 2
2
2 2
2
o
4 ) / (
1
) 2 / (
) 2 / (
2 2
) (
t j t j
t
L
R
t
L
R
e e
L R
e
L R
L R
RB
e
A
t v

) cos(
4 ) / (
4
2
) (
2 2
2
2 2
2
o
θ − β
β +
β
+
(
(
¸
(

¸

β +
β
− = ⇒

t
L R
RB
e
L R
B R A
t v
t
L
R


4.8.3. Metoda Reduksi Rangkaian
CONTOH-4.6: Dengan menggunakan metoda reduksi rangkaian sele-
saikanlah persoalan pada contoh 4.5.
Solusi :
Rangkaian yang
ditransformasikan ke
kawasan s kita gambar lagi
seperti di samping ini.
+
− 2 2
β +
β
s
B

s
A

R
sL
+
V
o


R
Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace
97
Jika sumber tegangan
ditransformasikan
menjadi sumber arus,
kita mendapatkan
rangkaian dengan dua
sumber arus dan dua
resistor diparalel.
Rangkaian tersebut dapat
disederhanakan menjadi
rangkaian dengan satu
sumber arus, dan kemudian
menjadi rangkaian dengan
sumber tegangan.

Dari rangkaian terakhir ini kita diperoleh :

|
|
¹
|

\
|
+
β +
β
×
+
=
sR
A
s
B R
R sL
sL
s
2 2
o
2 2 /
) ( V
) )( 2 / (
) 2 / (
2 /
2 /
) (
2 2
o
β + +
β
+
+
=
s L R s
s RB
L R s
A
s V
Hasil ini sama dengan apa yang telah kita peroleh dengan metoda super-
posisi pada contoh 4.20. Selanjutnya transformasi balik ke kawasan t
dilakukan sebagaimana telah dilakukan pada contoh 4.20.
|
|
¹
|

\
|
+
β +
β
sR
A
s
B R
2 2
2

R/2
sL
+
V
o


+

2 2
β +
β
s
B

sR
A

R
sL
+
V
o


R
sR
A
s
B
+
β +
β
2 2

R/2
sL
+
V
o


Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace
98 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

4.8.4. Metoda Rangkaian Ekivalen Thévenin
CONTOH-4.7: Dengan menggunakan rangkaian ekivalen Thévenin
selesaikanlah persoalan pa-
da contoh 4.5.
Solusi :
Kita akan menggunakan ga-
bungan metoda superposisi
dengan rangkaian ekivalen
Thévenin.
Tegangan hubungan ter-
buka pada waktu induktor
dilepas, adalah jumlah te-
gangan yang diberikan oleh sumber tegangan dan sumber arus se-
cara terpisah, yaitu
2 2
2 2
2 / 2 /


2
1
) ( ) (
β +
β
+ =
β +
β
× × + ×
+
= =
s
RB
s
A
s
B
R
s
A
R R
R
s s
ht T
V V

Dilihat dari terminal induktor, im-
pedansi Z
T
hanyalah berupa dua resis-
tor paralel, yaitu
2
R
Z
T
=
Dengan demikian maka tegangan induktor menjadi
) )( 2 / (
) 2 / (
2 /
2 /

2 / 2 /
2 /
) ( ) (
2 2
2 2
o
β + +
β
+
+
=
|
|
¹
|

\
|
β +
β
+
+
=
+
=
s L R s
s RB
L R s
A
s
RB
s
A
R sL
sL
s
Z sL
sL
s
T
T
V V

Persamaan ini telah kita peroleh sebelumnya, baik dengan metoda
superposisi maupun metoda reduksi rangkaian.
+

Z
T
sL
+
V
o


V
T
+
− 2 2
β +
β
s
B

s
A

R
sL
+
V
o


R
+
− 2 2
β +
β
s
B

s
A

R
+
V
ht


R
Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace
99
4.8.5. Metoda Tegangan Simpul
CONTOH 4.8: Selesaikan persoalan pada contoh 4.5. dengan meng-
gunakan metoda
tegangan simpul.
Solusi :
Dengan referensi te-
gangan seperti terlihat
pada gambar di atas,
persamaan tegangan simpul untuk simpul A adalah:
0
1 1 1 1
) (
2 2
o
=
β +
β
− − |
¹
|

\
|
+ +
s
B
s
A
R sL R R
s V
Dari persamaan tersebut di atas kita peroleh
) )( 2 / (
) 2 / (
2 /
2 /


2
) (
atau
2
) (
2 2
2 2
o
2 2
o
β + +
β
+
+
=
|
|
¹
|

\
|
β +
β
+
+
=
β +
β
+ = |
¹
|

\
| +
s L R s
s RB
L R s
A
s
B
Rs
A
R Ls
RLs
s
s
B
Rs
A
RLs
R Ls
s
V
V

Hasil yang kita peroleh sama seperti sebelumnya.
Pemahaman :
Dalam analisis di kawasan s, metoda tegangan simpul untuk rang-
kaian dengan beberapa sumber yang mempunyai frekuensi berbeda,
dapat langsung digunakan. Hal ini sangat berbeda dari analisis di
kawasan fasor, dimana kita tidak dapat melakukan superposisi fasor
dari sumber-sumber yang mempunyai frekuensi berbeda.
+
− 2 2
β +
β
s
B

s
A

R
sL
+
V
o


R
A
B
Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace
100 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

4.8.6. Metoda Arus Mesh
CONTOH-4.9: Pada rangkaian berikut ini tidak terdapat simpanan en-
ergi awal. Gunakan metoda arus mesh untuk menghitung i(t).

Solusi :
Transformasi rangkaian ke kawasan s adalah seperti gambar berikut
ini. Kita
tetapkan
referensi
arus mesh
I
A
dan I
B
.
Persamaan
arus mesh dari kedua mesh adalah
( )
0 10 ) (
10
10 10 ) (
0 10 ) ( 10 01 . 0 ) (
10
4
6
4 4
4 4
= × −
|
|
¹
|

\
|
+ +
= × − + + −
s
s
s
s s s
s
A B
B A
I I
I I

Dari persamaan kedua kita peroleh:
( )
) (
10 2
) (
2
s
s
s
s
B A
I I
+
= →
Sehingga:
( (( ( ) )) )
( (( ( ) )) )
) )( (
10
10 10 02 , 0
10


10 10 10 2 02 , 0
10
) ( ) (
0 10 ) ( ) (
10 2
10 01 . 0
10
6 4 2
4 6 4 2
4
2
4
β α − −− − − −− −
= == =
+ ++ + + ++ +
= == =
− −− − + ++ + + ++ + × ×× × + ++ +
= == = = == = ⇒ ⇒⇒ ⇒
= == = × ×× × − −− −
+ ++ +
+ ++ + + ++ + − −− − ⇒ ⇒⇒ ⇒
s s
s s
s s s s
s s
s s
s
s
s
s
B
B B
I I
I I

+

10kΩ

10mH

1µF
10 u(t)
i(t)
10kΩ

s
s
10
) (
1
= V
+

10
4
10
4
0.01s
s
6
10

I(s)
I
A
I
B
Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace
101
500000
04 , 0
10 8 10 10
; 100
04 , 0
10 8 10 10
dengan
4 8 4
4 8 4
− −− − ≈ ≈≈ ≈
× ×× × − −− − − −− − − −− −
= == =
− −− − ≈ ≈≈ ≈
× ×× × − −− − + ++ + − −− −
= == =
β
α

[ ] mA 02 , 0 ) (
10 2
100
10
; 10 2
500000
10
50000 100 ) 500000 )( 100 (
10
) (
500000 100
5
500000
2
5
100
1
2 1
t t
s s
e e t i
s
k
s
k
s
k
s
k
s s
s
− −

− =

− =
− = ⇒
× − =
+
= × =
+
=
+
+
+
=
+ +
= ⇒I



Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace
102 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

Soal-Soal
1. Sebuah resistor 2 kΩ dihubungkan seri dengan sebuah induktor 2 H;
kemudian pada rangkaian ini diterapkan sinyal tegangan v(t)=10u(t)
V. Bagaimanakah bentuk tegangan pada induktor dan pada resistor ?
Bagaimanakah tegangannya setelah keadaan mantap tercapai?
2. Ulangi soal 1 jika tegangan yang diterapkan v(t) = [20sin300t] u(t) V.
3. Ulangi soal 1 jika tegangan yang diterapkan v(t) = [20cos300t] u(t) V.
4. Rangkaian seri resistor dan induktor soal 1 diparalelkan kapasitor 0.5
µF. Jika kemudian pada rangkaian ini diterapkan tegangan
v(s)=10u(t) V bagaimanakah bentuk arus induktor ? Bagaimanakah
arus tersebut setelah keadaan mantap tercapai?
5. Ulangi soal 4 dengan tegangan masukan v(t)=[20sin300t]u(t) V.
6. Ulangi soal 4 dengan tegangan masukan v(t)=[20cos300t]u(t) V.
7. Sebuah kapasitor 2 pF diserikan dengan induktor 0,5 H dan pada
hubungan seri ini diparalelkan resistor 5 kΩ. Jika kemudian pada
hubungan seri-paralel ini diterapkan sinyal tegangan v(t)=10u(t) V,
bagaimanakah bentuk tegangan kapasitor ?
8. Ulangi soal 7 dengan tegangan masukan v(t) = [20sin300t] u(t) V.
9. Sebuah resistor 100 Ω diparalelkan dengan induktor 10 mH dan pada
hubungan paralel ini diserikan kapasitor 0,25 µF. Jika kemudian pada
hubungan seri-paralel ini diterapkan tegangan v(t) = 10u(t) V, carilah
bentuk tegangan kapasitor.
10. Ulangi soal 9 dengan tegangan masukan v(t) = [20sin300t] u(t) V.
11. Carilah tanggapan status nol (tidak ada simpanan energi awal pada
rangkaian) dari i
L
pada rangkaian berikut jika v
s
=10u(t) V.

+

v
s

1kΩ
1kΩ
0.1H
i
L
Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace
103
12. Carilah tanggapan status nol dari v
C
dan i
L
pada rangkaian berikut
jika v
s
=100u(t) V.

13. Carilah tanggapan status nol dari v
C
dan i
L
pada rangkaian berikut
jika v
s
=[10cos20000t]u(t) V.

14. Carilah i pada rangkaian berikut, jika i
s
=100u(t) mA dan tegangan
awal kapasitor adalah v
C
(0) = 10 V.

15. Ulangi soal 14 untuk i
s
=[100cos400t] u(t) mA.
16. Carilah v
o
pada rangkaian berikut, jika i
s
=100u(t) mA dan arus awal
induktor adalah i
L
(0) = 10 mA.

17. Ulangi soal 16 untuk i
s
= [100cos400t] u(t) mA.
18. Carilah tanggapan status nol dari v
L
pada rangkaian berikut, jika v
s
=
10u(t) V , i
s
= [10sin400t]u(t) mA.

i
s

0,1H 0,5kΩ
+
v
L


0,5kΩ
+

v
s
i
s

+
v
o


0,1H
5kΩ
5kΩ
i
s

0,05µF
i

5kΩ
5kΩ
+

v
s

500Ω
50mH
0,05µF
i
L
+
v
C


+

v
s

5kΩ
50mH
0,05µF
i
L
+
v
C


Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace
104 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

19. Carilah tanggapan status nol dari v
2
pada rangkaian berikut jika v
s
=
[10cos(900t+30
o
)] u(t) V.

20. Ulangi soal 17 jika tegangan awal kapasitor 5 V sedangkan arus awal
induktor nol.
21. Pada rangkaian berikut carilah tanggapan status nol dari tegangan
keluaran v
o
(t) jika tegangan masukan v
s
(t)=10u(t) mV.

22. Pada rangkaian berikut carilah tanggapan status nol dari tegangan
keluaran v
o
(t) jika tegangan masukan v
s
(t)=10u(t) mV.

23. Untuk rangkaian berikut, tentukanlah v
o
dinyatakan dalam v
in
.
a).
+

10kΩ
1kΩ
100i

10kΩ
100kΩ
0,1µF

+
v
o

v
s
i

+


+
v
o

+
v
in
R
2 R
1
C
1
C
2
+

10kΩ
1kΩ
50i

10kΩ
20pF

+
v
o

v
s
i

2pF

+

v
1

10kΩ
10mH
1µF
+
v
2


10kΩ
Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace
105
b).
c).

26. Untuk rangkaian transformator linier berikut ini tentukanlah i
1
dan i
2
.

27. Pada hubungan beban dengan transformator berikut ini, nyatakanlah
impedansi masukan Z
in
sebagai fungsi dari M.

M
L
1
L
2
50Ω

Z
in
L
1
=20mH L
2
=2mH
i
1
i
2
M
L
1
L
2
+

50Ω

80Ω

50u(t) V

L
1
=0,75H L
2
=1H
M = 0,5H

+

+
v
o

+
v
in
R
2
R
1
C
1
C
2
R
2

+

+
v
o

+
v
in
10kΩ

1µF

10kΩ

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace
106 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

28. Berapakah M agar Z
in
pada soal 27 menjadi
( )
25000
25000 2 , 0 02 , 0
+
+
=
s
s s
Z
in

29. Jika tegangan masukan pada transformator soal 28 adalah
V 300 cos 10 t v
in
= , tentukan arus pada beban 50 Ω.

Fungsi Jaringan
107
BAB 5 Fungsi Jaringan

Pembahasan fungsi jaringan akan membuat kita
• memahami makna fungsi jaringan, fungsi masukan, dan fungsi
alih;
• mampu mencari fungsi alih dari suatu rangkaian melalui analisis
rangkaian;
• memahami peran pole dan zero dalam tanggapan rangkaian;
• mampu mencari fungsi alih rangkaian jika tanggapan terhadap
sinyal impuls ataupun terhadap sinyal anak tangga diketahui.
5.1. Pengertian dan Macam Fungsi Jaringan
Sebagaimana kita ketahui, prinsip proporsionalitas berlaku di kawasan s.
Faktor proporsionalitas yang menghubungkan keluaran dan masukan
berupa fungsi rasional dalam s yang disebut fungsi jaringan (network
function). Secara formal, fungsi jaringan di kawasan s didefinisikan
sebagai perbandingan antara tanggapan status nol dan sinyal masukan.
) ( Masukan Sinyal
) ( Nol Status Tanggapan
Jaringan Fungsi
s
s
= (5.1)
Definisi ini mengandung dua pembatasan, yaitu a) kondisi awal harus
nol dan b) sistem hanya mempunyai satu masukan.
Fungsi jaringan yang sering kita hadapi ada dua bentuk, yaitu fungsi
masukan (driving-point function) dan fungsi alih (transfer function).
Fungsi masukan adalah perbandingan antara tanggapan di suatu gerbang
(port) dengan masukan di gerbang yang sama. Fungsi alih adalah
perbandingan antara tanggapan di suatu gerbang dengan masukan pada
gerbang yang berbeda.
5.1.1. Fungsi Masukan
Contoh fungsi masukan adalah impedansi masukan dan admitansi
masukan, yang merupakan perbandingan antara tegangan dan arus di
terminal masukan.
) (
) (
) ( ;
) (
) (
) (
s
s
s Y
s
s
s Z
V
I
I
V
= = (5.2)
Fungsi Jaringan
108 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

5.1.2. Fungsi Alih
Dalam rangkaian pemroses sinyal, pengetahuan mengenai fungsi alih
sangat penting karena fungsi ini menentukan bagaimana suatu sinyal
masukan akan mengalami modifikasi dalam pemrosesan. Karena sinyal
masukan maupun sinyal keluaran dapat berupa tegangan ataupun arus,
maka kita mengenal empat macam fungsi alih, yaitu
) (
) (
) ( : Alih Impedansi
;
) (
) (
) ( : Alih Admitansi
) (
) (
) ( : Arus Alih Fungsi
;
) (
) (
) ( : Tegangan Alih Fungsi
o
o
o
o
s
s
s T
s
s
s T
s
s
s T
s
s
s T
in
Z
in
Y
in
I
in
V
I
V
V
I
I
I
V
V
=
=
=
=
(5.3)
T
V
(s) dan T
I
(s) tidak berdimensi. T
Y
(s) mempunyai satuan siemens dan
T
Z
(s) mempunyai satuan ohm. Fungsi alih suatu rangkaian dapat
diperoleh melalui penerapan kaidah-kaidah rangkaian serta analisis
rangkaian di kawasan s. Fungsi alih memberikan hubungan antara sinyal
masukan dan sinyal keluaran di kawasan s. Berikut ini kita akan melihat
beberapa contoh pencarian fungsi alih.
CONTOH-5.1:
Carilah
impedansi
masukan yang
dilihat oleh
sumber pada rangkaian-rangkaian berikut ini.
Solusi :
RCs
R
Z
R
RCs
Cs
R
Y
Cs
RCs
Cs
R Z
in
in in
+
= ⇒
+
= + =
+
= + =
1

1 1
b). ;
1 1
a).

a).
R

+

Cs
1

V
s
(s)
R

Cs
1

I
s
(s)
b).
Fungsi Jaringan
109
CONTOH-5.2: Carilah fungsi alih rangkaian-rangkaian berikut.

Solusi :
Kaidah pembagi tegangan untuk rangkaian a) dan kaidah pembagi
arus untuk rangkaian b) akan memberikan :
sRC sC R
R
s
s
s T
RCs Cs R
Cs
s
s
s T
in
I
in
V
+
=
+
= =
+
=
+
= =
1
1
/ 1
/ 1
) (
) (
) ( b).
;
1
1
/ 1
/ 1
) (
) (
) ( a).
o
o
I
I
V
V

CONTOH-5.3: Tentukan impedansi
masukan dan fungsi alih rang-
kaian di samping ini.
Solusi :
Transformasi rangkaian ke kawa-
san s memberikan

( ) ( )
1 ) (
) )( 1 (

/ 1
) )( / 1 (

|| / 1
2 1
2
2 1
2 1
2 1
2 1
+ + +
+ +
=
+ + +
+ +
=
+ + =
Cs R R LCs
R Ls Cs R
Ls R Cs R
R Ls Cs R
R Ls Cs R Z
in

2
2 o
) (
) (
) (
R Ls
R
s
s
s T
in
V
+
= =
V
V

R
1
R
2
Ls

1/Cs

+
V
in
(s)

+
V
o
(s)

a).
R

Cs
1

+
V
in
(s)

+
V
o
(s)

R

Cs
1

I
in
(s)
b).
I
o
(s)
R
1
R
2
L

C

+
v
in

+
v
o

Fungsi Jaringan
110 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

CONTOH-5.4: Tentukan impedansi
masukan dan fungsi alih rang-
kaian di samping ini.
Solusi :
Transformasi rangkaian ke ka-
wasan s memberikan rangkaian
berikut ini :

( )
1 / 1
/
/ 1 ||
1 1
1
1 1
1 1
1 1
+
=
+
= =
s C R
R
s C R
s C R
s C R Z
in

1
1

1
1

) / 1 ( ||
) / 1 ( ||
) (
) (
) (
2 2
1 1
1
2
1
1 1
2 2
2
1 1
2 2
1
2 o
+
+
− =
+
×
+
− =
− = − = =
s C R
s C R
R
R
R
s C R
s C R
R
s C R
s C R
Z
Z
s
s
s T
in
V
V
V


CONTOH-5.5: Tentukan
fungsi alih rangkaian
di samping ini.

Solusi :
Transformasi rang-
kaian ke kawasan s memberikan rangkaian dan persamaan berikut ini

+
R
2
+
V
in
(s)

+
V
o
(s)

R
1
1/C
1
s

1/C
2
s


+
R
2
+
v
in

+
v
o

R
1
C
1
C
2
1MΩ

1µF

µv
x
A

+
v
s


+
v
x


+ v
o
1MΩ

1µF

+

Fungsi Jaringan
111

Persamaan tegangan untuk simpul A :
( )
0
10
10 10
10 10 10
6
6 6
6 6 6
=
|
|
|
|
|
¹
|

\
|
µ −
− −
+ +

− −
− − −
x
x in
A
s
s
V
V V
V

1 ) 3 (
1

) 1 2 2 (
atau 0 ) 2 )( 1 (
) 1 (
1
1


/ 10 10
/ 10
: sedangkan
2
2
6 6
6
+ µ − +
= ⇒
= µ − − + + +
= µ − − − + + ⇒
+ = →
+
=
+
=
s s
s s s s
s s s
s
s
s
s
in
x
in x
x x in x
x A A
A x
V
V
V V
V V V V
V V V
V V

Fungsi alih :
s s
s
s
s
s
s T
s
x
s
V
1 ) 3 (
) (
) (
) (
) (
) (
2
o
+ µ − +
µ
=
µ
= =
V
V
V
V

5.2. Peran Fungsi Alih
Dengan pengertian fungsi alih sebagaimana telah didefinisikan, keluaran
dari suatu rangkaian di kawasan s dapat dituliskan sebagai
. kawasan di nol) status (tanggapan keluaran : ) (
kawasan di masukan sinyal pernyataan : ) (
alih fungsi adalah ) ( dengan ; ) ( ) ( ) (
s s
s s
s T s s T s
Y
X
X Y =
(5.4)
Fungsi alih T(s) berupa fungsi rasional yang dapat dituliskan dalam ben-
tuk rasio dari dua polinom a(s) dan b(s) :
10
6
10
6
/s
µV
x
A

+
V
x


+ V
o
(s)
10
6
10
6
/s
+

+
V
s
(s)

Fungsi Jaringan
112 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

0 1
1
1
0 1
1
1
) (
) (
) (
a s a s a s a
b s b s b s b
s a
s b
s T
n
n
n
n
m
m
m
m
+ + ⋅ ⋅ ⋅ ⋅ ⋅ +
+ + ⋅ ⋅ ⋅ ⋅ ⋅ +
= =




(5.5)
Nilai koefisien polinom-polinom ini berupa bilangan riil, karena ditentu-
kan oleh parameter rangkaian yang riil yaitu R, L, dan C. Fungsi alih
dapat dituliskan dalam bentuk
) ( ) )( (
) ( ) )( (
) (
2 1
2 1
n
m
p s p s p s
z s z s z s
K s T
− ⋅ ⋅ ⋅ ⋅ ⋅ − −
− ⋅ ⋅ ⋅ ⋅ ⋅ − −
= (5.6)
Dengan bentuk ini jelas terlihat bahwa fungsi alih akan memberikan zero
di z
1
…. z
m
dan pole di p
1
…. p
n
. Pole dan zero dapat mempunyai nilai
riil ataupun kompleks konjugat karena koefisien dari b(s) dan a(s) adalah
riil. Sementara itu sinyal masukan X(s) juga mungkin mengandung zero
dan pole sendiri. Oleh karena itu, sesuai dengan persamaan (5.6), sinyal
keluaran Y(s) akan mengandung pole dan zero yang dapat berasal dari
T(s) ataupun X(s). Pole dan zero yang berasal dari T(s) disebut pole
alami dan zero alami, karena mereka ditentukan semata-mata oleh
parameter rangkaian dan bukan oleh sinyal masukan; sedangkan yang
berasal dari X(s) disebut pole paksa dan zero paksa karena mereka
ditentukan oleh fungsi pemaksa (masukan).
CONTOH-5.6: Jika sinyal masukan pada rangkaian dalam contoh-5.5
adalah v
in
= cos2t u(t) , carilah pole dan zero sinyal keluaran V
o
(s)
untuk µ = 0,5.
Solusi :
Pernyataan sinyal masukan di kawasan s adalah :
4
) (
2
+
=
s
s
s
in
V
Fungsi alih rangkaian telah diperoleh pada contoh 5.5; dengan µ =
0,5 maka
s s s s
s T
V
1 5 , 2
5 , 0
1 ) 3 (
) (
2 2
+ +
=
+ µ − +
µ
=
Dengan demikian sinyal keluaran menjadi
) 2 )( 2 ( ) 5 , 0 )( 2 (
5 , 0


4 1 5 , 2
5 , 0
) ( ) ( ) (
2 2
o
j s j s
s
s s
s
s
s s
s s T s
in V
− + + +
=
+ + +
= = V V

Pole dan zero adalah :
Fungsi Jaringan
113

5.2.1. Rangkaian Dengan Masukan Sinyal Impuls
Sinyal masukan yang berbentuk gelombang impuls dinyatakan dengan
x(t) = δ(t). Pernyataan sinyal ini di kawasan s adalah X(s) = 1. Dengan
masukan ini maka bentuk sinyal keluaran V
o
(s) akan sama dengan bentuk
fungsi alih T(s).
) ( 1 ) ( ) ( ) ( ) (
o
s s T s s T s H X V = × = = (5.7)
V
o
(s) yang diperoleh dengan X(s) = 1 ini kita sebut H(s) agar tidak rancu
dengan T(s). Karena X(s) = 1 tidak memberikan pole paksa, maka H(s)
hanya akan mengandung pole alami.
Kembali ke kawasan t, keluaran v
o
(t) = h(t) diperoleh dengan transfor-
masi balik H(s). Bentuk gelombang h(t) terkait dengan pole yang di-
kandung oleh H(s). Pole riil akan memberikan komponen eksponensial
pada h(t); pole kompleks konjugat (dengan bagian riil negatif ) akan
memberikan komponen sinus teredam pada h(t) dan pole-pole yang lain
akan memberikan bentuk-bentuk h(t) tertentu yang akan kita lihat me-
lalui contoh berikut.
CONTOH-5.7: Jika sinyal masukan pada rangkaian dalam contoh-5.5
adalah v
in
= δ(t) , carilah pole dan zero sinyal keluaran untuk nilai µ
= 0,5 ; 1 ; 2 ; 3 ; 4, 5.
Solusi :
Fungsi alih rangkaian ini adalah :
1 ) 3 (
) (
2
+ µ − +
µ
=
s s
s T
V

Dengan masukan v
in
= δ(t) yang berarti V
in
(s) = 1, maka keluaran
rangkaian adalah :
1 ) 3 (
) (
2
+ µ − +
µ
=
s s
s H
5 , 0 dan 2 di riil dua

) 5 , 0 )( 2 (
5 , 0
1 5 , 2
5 , 0
) ( 5 , 0
2
− = − = ⇒
+ +
=
+ +
= ⇒ = µ
s s pole
s s
s s
s H

riil alami : 5 . 0
riil alami : 2
pole s
pole s
− =
− =
imajiner paksa : 2
imaginer paksa : 2
riil paksa satu : 0
pole j s
pole j s
zero s
+ =
− =
=
Fungsi Jaringan
114 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

1 di riil dua
) 1 (
5 , 0
1 2
1
) ( 1
2 2
− = ⇒
+
=
+ +
= ⇒ = µ s pole
s s s
s H
2 / 3 5 , 0 di konjugat kompleks dua

) 2 / 3 5 , 0 )( 2 / 3 5 , 0 (
2
1
2
) ( 2
2
j s pole
j s j s s s
s
± − = ⇒
+ + − +
=
+ +
= ⇒ = µ H

1 di imajiner dua

) 1 )( 1 (
3
1
3
) ( 3
2
j s pole
j s j s
s
s
± = ⇒
− +
=
+
= ⇒ = µ H

2 / 3 5 , 0 di konjugat kompleks dua
) 2 / 3 5 , 0 )( 2 / 3 5 , 0 (
4
1
4
) ( 4
2
j s pole
j s j s s s
s
± = ⇒
+ − − −
=
+ −
= ⇒ = µ H
1 di riil dua
) 1 (
5
1 2
5
) ( 5
2 2
= ⇒

=
+ −
= ⇒ = µ s pole
s s s
s H
Contoh-5.7 ini memperlihatkan bagaimana fungsi alih menentukan ben-
tuk gelombang sinyal keluaran melalui pole-pole yang dikandungnya.
Berbagai macam pole tersebut akan memberikan h(t) dengan perilaku
sebagai berikut.
µ = 0,5 : dua pole riil negatif tidak sama besar; sinyal keluaran
sangat teredam.
µ = 1 : dua pole riil negatif sama besar ; sinyal keluaran teredam
kritis.
µ =2 : dua pole kompleks konjugat dengan bagian riil negatif ;
sinyal keluaran kurang teredam, berbentuk sinus teredam.
µ = 3 : dua pole imaginer; sinyal keluaran berupa sinus tidak te-
redam.
µ = 4 : dua pole kompleks konjugat dengan bagian riil positif ;
sinyal keluaran tidak teredam, berbentuk sinus dengan
amplitudo makin besar.
µ = 5 : dua pole riil posistif sama besar; sinyal keluaran ekspo-
nensial dengan eksponen positif; sinyal makin besar den-
gan berjalannya t.
Fungsi Jaringan
115
Gambar berikut menjelaskan posisi pole dan bentuk tanggapan rangkaian
di kawasan t yang berkaitan.

Gb.5.3. Posisi pole dan bentuk gelombang keluaran.
5.2.2. Rangkaian Dengan Masukan Sinyal Anak Tangga
Transformasi sinyal masukan yang berbentuk gelombang anak tangga
x(t) = u(t) adalah X(s) = 1/s. Jika fungsi alih adalah T(s) maka sinyal
keluaran adalah
s
s T
s s T s
) (
) ( ) ( ) ( = = X Y (5.8)
Jika kita bandingkan (5.8) ini dengan (5.7) dimana tanggapan terhadap
sinyal impuls dinyatakan sebagai H(s), maka tanggapan terhadap sinyal
anak tangga ini dapat kita sebut
s
s
s
s T
s
) ( ) (
) (
H
G = = (5.9)
Karena H(s) hanya mengandung pole alami, maka dengan melihat bentuk
ini kita segera mengetahui bahwa tanggapan terhadap sinyal anak tangga
di kawasan s akan mengandung satu pole paksa disamping pole-pole
-1 . 2
0
1 . 2
0 20





σ

× ×× ×
× ×× ×
× ×× ×
× ×× ×
× ×× ×
× ×× ×
× ×× ×
× ×× × × ×× ×
pole di 0+j0
(lihat pembahasan berikut)
pole riil positif
pole di + α ± jβ
pole riil negatif
pole di − α ± jβ
pole di ± jβ
Fungsi Jaringan
116 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

alami. Pole paksa ini terletak di s = 0 + j0; pole inilah yang ditambahkan
pada Gb. 5.3.
Mengingat sifat integrasi pada transformasi Laplace, maka g(t) dapat
diperoleh jika h(t) diketahui, yaitu

=
t
dx x h t g
0
) ( ) ( (5.10)
Secara timbal balik, maka
kontinyu. tidak ) ( dimana
di kecuali titik semua di berlaku ,
) (
) (
t g
t
dt
t dg
t h =
(5.11)
CONTOH-5.8: Dalam contoh-5.7, jika µ = 2 dan sinyal masukan
berupa sinyal anak tangga, carilah pole dan zero sinyal keluaran.
Solusi :
Dengan µ = 2 fungsi alihnya adalah
1
2
) (
2
+ +
=
s s
s T
V

Dengan sinyal masukan X(s) = 1/s , tanggapan rangkaian adalah
s j s j s
s
s s
s
) 2 / 3 5 , 0 )( 2 / 3 5 , 0 (
2 1
) 1 (
2
) (
2
+ + − +
=
+ +
= G
Dari sini kita peroleh :
0 0 di paksa satu : 0
negatif riil bagian dengan
konjugat kompleks dua : 2 / 3 5 , 0
j pole s
pole j s
+ =
± − =

5.3. Hubungan Bertingkat dan Kaidah Rantai
Hubungan masukan-keluaran melalui suatu fungsi alih dapat kita gam-
barkan dengan suatu diagam blok seperti Gb.5.4.a.

Gb.5.4. Diagram blok
Suatu rangkaian pemroses sinyal seringkali merupakan hubungan
bertingkat dari beberapa tahap pemrosesan. Dalam hubungan bertingkat
ini, tegangan keluaran dari suatu tahap menjadi tegangan masukan dari
T(s)
X(s) Y(s)
a).
T
1
(s)
Y
1
(s)
b).
T
2
(s)
Y(s) X(s)
Fungsi Jaringan
117
tahap berikutnya. Diagram blok dari hubungan bertingkat ini ditunjukkan
oleh Gb.5.4.b. Untuk hubungan bertingkat ini berlaku kaidah rantai yaitu
apabila suatu rangkaian merupakan hubungan bertingkat dari tahapan-
tahapan yang masing-masing mempunyai fungsi alih tegangan T
V1
(s),
T
V2
(s) ….dst. maka fungsi alih tegangan total rangkaian menjadi
) ( ) ( ) ( ) (
1 1
s T s T s T s T
Vk V V V
⋅ ⋅ ⋅ ⋅ = (5.12)
Kaidah rantai ini mempermudah kita dalam melakukan analisis dari suatu
rangkaian yang merupakan hubungan bertingkat dari beberapa tahapan.
Namun dalam hubungan bertingkat ini perlu kita perhatikan agar suatu
tahap tidak membebani tahap sebelumnya. Jika pembebanan ini terjadi
maka fungsi alih total tidak sepenuhnya menuruti kaidah rantai. Untuk
menekan efek pembebanan tersebut maka harus diusahakan agar im-
pedansi masukan dari setiap tahap sangat besar, yang secara ideal adalah
tak hingga besarnya. Jika impedansi masukan dari suatu tahap terlalu
rendah, kita perlu menambahkan rangkaian penyangga antara rangkaian
ini dengan tahap sebelumnya agar efek pembebanan tidak terjadi. Kita
akan melihat hal ini pada contoh berikut.
CONTOH-5.9: Carilah fungsi alih kedua rangkaian berikut; sesudah itu
hubungkan kedua rangkaian secara bertingkat dan carilah fungsi alih
total.

Solusi : Fungsi alih kedua rangkaian berturut-turut adalah
1
1
/ 1
/ 1
) (
1 1
1
+
=
+
=
Cs R Cs R
Cs
s T
V
dan
Ls R
R
s T
V
+
=
2
2
2
) (
Jika kedua rangkaian dihubungkan maka rangkaian menjadi seperti
di bawah ini.

Fungsi alih rangkaian gabungan ini adalah:

R
1
+
V
in


1/Cs

R
2
Ls

+
V
o


R
1
+
V
in


1/Cs

+
V
o


R
2
Ls

+
V
o


+
V
in


Fungsi Jaringan
118 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

|
|
¹
|

\
|
+ + + +
+
+
=
|
|
¹
|

\
|
+
+ +
+
+ +
+
+
=
|
|
¹
|

\
|
+ +
+
+
=
) ( ) (


/ 1
) ( / 1
/ 1
) ( / 1

) ( || / 1
) ( || / 1
) (
2 1 2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
1 2
2
2
2
R R s C R L LCs
Ls R
Ls R
R
R
Ls R Cs
Ls R Cs
Ls R Cs
Ls R Cs
Ls R
R
R Ls R Cs
Ls R Cs
Ls R
R
s T
V

Pemahaman :
Fungsi alih dari rangkaian yang diperoleh dengan menghubungkan
kedua rangkaian secara bertingkat tidak merupakan perkalian fungsi
alih masing-masing. Hal ini disebabkan terjadinya pembebanan
rangkaian pertama oleh rangkaian kedua pada waktu mereka di-
hubungkan. Untuk mengatasi hal ini kita dapat menambahkan rang-
kaian penyangga di antara kedua rangkaian sehingga rangkaian men-
jadi seperti di bawah ini.

Diagram blok rangkaian ini menjadi :

Contoh-5.9. di atas menunjukkan bahwa kaidah rantai berlaku jika suatu
tahap tidak membebani tahap sebelumnya. Oleh karena itu agar kaidah
rantai dapat digunakan, impedansi masukan harus diusahakan sebesar
mungkin, yang dalam contoh diatas dicapai dengan menambahkan rang-
kaian penyangga. Dengan cara demikian maka hubungan masukan-
keluaran total dari seluruh rangkaian dapat dengan mudah diperoleh jika
hubungan masukan-keluaran masing-masing bagian diketahui.
Pengembangan dari konsep ini akan kita lihat dalam analisis sistem.
5.4. Fungsi Alih dan Hubungan Masukan-Keluaran di Kawasan
Waktu
Dalam pembahasan di atas dapat kita lihat bahwa jika kita bekerja di
kawasan s, hubungan masukan-keluaran diberikan oleh persamaan
) ( ) ( ) ( s s T s X Y =
V
o
(s)
V
in
(s)
T
V1

T
V1

1
V
o1

V
o1

R
1
+
V
in


1/Cs

R
2
Ls

+
V
o


+

Fungsi Jaringan
119
Bagaimanakah bentuk hubungan masukan-keluaran di kawasan waktu?
Menurut (5.9) T(s) = H(s), sehingga kita dapat menggunakan konvolusi
untuk melakukan transformasi balik dari hubungan di atas dan kita da-
patkan hubungan masukan-keluaran di kawasan waktu, yaitu
∫ ∫
τ τ − τ = τ τ − τ =
t t
d t h x d t x h t y
0 0
) ( ) ( ) ( ) ( ) ( (5.13)
dengan h(t) adalah tanggapan impuls dari rangkaian.
Persamaan (5.13) ini memberikan hubungan di kawasan waktu, antara
besaran keluaran y(t), besaran masukan x(t), dan tanggapan impuls rang-
kaian h(t). Hubungan ini dapat digunakan langsung tanpa melalui trans-
formasi Laplace. Hubungan ini sangat bermanfaat untuk mencari ke-
luaran y(t) jika h(t) ataupun x(t) diperoleh secara experimental dan sulit
dicari transformasi Laplace-nya. Konvolusi berlaku untuk rangkaian
linier invarian waktu. Jika batas bawah adalah nol (seperti pada 5.13),
maka sinyal masukan adalah sinyal kausal, yaitu x(t) = 0 untuk t < 0.
5.5. Tinjauan Umum Mengenai Hubungan Masukan-Keluaran
Dari pembahasan mengenai fungsi alih diatas dan pembahasan mengenai
hubungan masukan-keluaran pada bab-bab sebelumnya, kita dapat
mengetahui bahwa hubungan antara sinyal keluaran dan sinyal masukan
di suatu rangkaian dapat kita peroleh dalam beberapa bentuk. Di kawasan
s, hubungan tersebut diperoleh melalui transformasi Laplace. Hubungan
tersebut juga dapat kita peroleh di kawasan t melalui konvolusi. Di
samping itu kita ingat pula bahwa hubungan antara sinyal keluaran dan
sinyal masukan dapat pula diperoleh dalam bentuk persamaan
diferensial, seperti yang kita temui pada waktu kita membahas analisis
transien. Jadi kita telah mempelajari tiga macam bentuk hubungan antara
sinyal keluaran dan sinyal masukan, yaitu
• transformasi Laplace,
• konvolusi,
• persamaan diferensial.
Kita masih akan menjumpai satu lagi bentuk hubungan sinyal keluaran
dan sinyal masukan yaitu melalui transformasi Fourier. Akan tetapi sebe-
lum membahas transformasi Fourier kita akan melihat lebih dulu tangga-
pan frekuensi dalam bab berikut ini.
Fungsi Jaringan
120 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

Soal-Soal
1. Terminal AB rangkaian berikut adalah terminal masukan, dan terminal
keluarannya adalah CD. Tentukanlah admitansi masukannya (arus /
tegangan masukan di kawasan s) jika terminal keluaran terbuka.

2. Jika tegangan masukan v
1
(t)=10u(t) V, gambarkan diagram pole-zero
dari arus masukan dan sebutkan jenis pole dan zero yang ada
3. Tegangan keluaran v
2
(t) rangkaian soal 1 diperoleh di terminal CD.
Tentukan fungsi alih tegangannya (tegangan keluaran / tegangan ma-
sukan di kawasan s).
4. Jika tegangan masukan v
1
(t) = 10 u(t) V Gambarkan diagram pole-zero
tegangan keluaran.
5. Ulangi soal 2 dengan tegangan masukan v
1
(t) = 10[sin100t]u(t) V.
6. Ulangi soal 4 dengan tegangan masukan v
1
(t) = 10[sin100t]u(t) V.
7. Tentukan fungsi alih pada rangkaian berikut dan gambarkan digram
pole-zero dari tegangan keluaran V
o
(s)dan sebutkan jenis pole dan
zeronya.
a). b).
c). d).
1kΩ
1kΩ
1H
0,5µF
D
A
B
C
+

R
1 C

u(t)

+
v
o


+

R
2
+

L

R

C

u(t)

+
v
o

+

R
2
R
1
C

cos1000t

+
v
o

+

L

R
1
R
2
u(t)
+
v
o

C

Fungsi Jaringan
121
e). f).
g). h),
8. Carilah fungsi alih, g(t), dan h(t) dari rangkaian berikut.
a). b).
c), d).
9. Carilah fungsi alih dari rangkaian hubungan bertingkat yang
merupakan gabungan rangkaian-rangkaian pada soal nomer 8.
Pilihlah sendiri mana yang menjadi tahap pertama dan mana yang
menjadi tahap ke-dua.
+

R
1
C

u(t)

+

v
o


+


R
2

L
100kΩ

1µF

+
v
o


+

10kΩ

+
v
in

10kΩ

1µF

+
v
o

+


10kΩ

+
v
in

1kΩ
1kΩ
1H
0,5µF
+
v
in


+
v
o


10kΩ
1kΩ
0,5H +
v
in


+
v
o


+

R
1
C

u(t)

+

v
o


+


R
2

L
+

R
1
C

u(t)

+

v
o


+


R
2
+

R
1
C

u(t)

+

v
o


+


R
2
Fungsi Jaringan
122 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

13. Carilah fungsi alih dari suatu rangkaian jika diketahui bahwa
tanggapannya terhadap sinyal anak tangga adalah :
( )
( )
( ) ); ( ) ( d).
); ( 5 1 ) ( c).
); ( 1 ) ( b).
); ( ) ( a).
2000 1000
5000
5000
5000
t u e e t g
t u e t g
t u e t g
t u e t g
t t
t
t
t
− −



− =
+ − =
− =
− =

( )
( ) ) ( 2000 sin ) ( f).
); ( ) ( e).
1000
2000 1000
t u t e t g
t u e e t g
t
t t

− −
=
− =

( )
) ( 2000 ) ( ) ( j).
; ) ( 1000 ) ( ) ( i).
); ( 1000 ) ( h).
; ) ( 2000 sin ) ( g).
1000
1000
1000
1000
t u e t t h
t u e t t h
t u e t h
t u t e t g
t
t
t
t




− δ =
− δ =
− =
=

( )
( ) ) ( 2000 cos ) ( l).
); ( 2000 sin ) ( k).
1000
1000
t u t e t h
t u t e t h
t
t


=
=

14. Dengan menggunakan integral konvolusi carilah tegangan kapasitor
pada rangkaian seri RC jika tegangan masukannya: (a) v
1
(t) = tu(t) ;
(b) v
1
(t) = A e
−α t
u(t).



Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-1
123
BAB 6 Tanggapan Frekuensi Rang-
kaian Orde-1

Sebagaimana kita ketahui, kondisi operasi normal rangkaian pada
umumnya adalah kondisi mantap dan dalam operasi tersebut banyak
digunakan sinyal sinus baik pada pemrosesan energi maupun pemrosesan
sinyal listrik. Dalam teknik energi listrik, tenaga listrik dibangkitkan,
ditransmisikan, serta dimanfaatkan dalam bentuk sinyal sinus dengan
frekuensi yang dijaga konstan yaitu 50 atau 60 Hz. Dalam teknik teleko-
munikasi, sinyal sinus dimanfaatkan dalam selang frekuensi yang lebih
lebar, mulai dari beberapa Hz sampai jutaan Hz. Untuk hal yang kedua
ini, walaupun rangkaian beroperasi pada keadaan mantap, tetapi fre-
kuensi sinyal yang diproses dapat bervariasi ataupun mengandung ban-
yak frekuensi (gelombang komposit), misalnya suara manusia ataupun
suara musik. Karena impedansi satu macam rangkaian mempunyai nilai
yang berbeda untuk frekuensi yang berbeda, maka timbullah persoalan
bagaimanakah tanggapan rangkaian terhadap perubahan nilai frekuensi
atau bagaimanakah tanggapan rangkaian terhadap sinyal yang tersusun
dari banyak frekuensi. Dalam bab inilah persoalan tersebut akan kita ba-
has.
6.1. Tanggapan Rangkaian Terhadap Sinyal Sinus Keadaan Mantap
Pernyataan di kawasan s dari sinyal masukan berbentuk sinus x(t) =
Acos(ωt+θ) adalah (lihat Tabel-3.1.) :
2 2
sin cos
) (
ω +
θ ω − θ
=
s
s
A s X (6.1)
Jika T(s) adalah fungsi alih, maka tanggapan rangkaian adalah
) (
) )( (
sin cos

) (
sin cos
) ( ) ( ) (
2 2
s T
j s j s
s
A
s T
s
s
A s s T s
ω + ω −
θ ω − θ
=
ω +
θ ω − θ
= = X Y
(6.2)
Sebagaimana telah kita bahas di bab sebelumnya, T(s) akan memberikan
pole-pole alami sedangkan X(s) akan memberikan pole paksa dan pern-
yataan (6.2) dapat kita uraikan menjadi berbentuk
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-1
124 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

n
n
p s
k
p s
k
p s
k
j s
k
j s
k
s

+ ⋅ ⋅ ⋅ +

+

+
ω +
+
ω −
=
2
2
1
1
*
) ( Y (6.3)
yang transformasi baliknya akan berbentuk
t p
n
t p t p t j t j
n
e k e k e K e k ke t y + ⋅ ⋅ ⋅ + + + + =
ω − ω
2 1
2 1
*
) ( (6.4)
Di kawasan t, pole-pole alami akan memberikan komponen transien yang
biasanya berlangsung hanya beberapa detik (dalam kebanyakan
rangkaian praktis) dan tidak termanfaatkan dalam operasi normal. Kom-
ponen mantaplah yang kita manfaatkan untuk berbagai keperluan dan
komponen ini kita sebut tanggapan mantap yang dapat kita peroleh
dengan menghilangkan komponen transien dari (6.4), yaitu :
t j t j
tm
e k ke t y
ω − ω
+ =
*
) ( (6.5)
Nilai k dapat kita cari dari (6.2) yaitu

) (
2
sin cos

) (
) (
sin cos
) ( ) (
ω
θ + θ
=
ω +
θ ω − θ
= ω − =
ω =
ω =
j T
j
A
s T
j s
s
A s j s k
j s
j s
Y
(6.6)
Faktor T(jω) dalam (6.6) adalah suatu pernyataan kompleks yang dapat
kita tuliskan dalam bentuk polar sebagai |T(jω)|e

dimana |T(jω)| adalah
nilai mutlaknya dan ϕ adalah sudutnya. Sementara itu menurut Euler
(cosθ + jsinθ) = e

. Dengan demikian (6.6) dapat kita tuliskan
ϕ
θ
ω =
j
j
e j T
e
A k ) (
2
(6.7)
Dengan (6.7) ini maka tanggapan mantap (6.5) menjadi
) cos( ) (

2
) (
) (
2
) (
2
) (
) ( ) (
ϕ + θ + ω ω =
(
(
¸
(

¸

+
ω =
ω + ω =
ϕ + θ + ω − ϕ + θ + ω
ω − ϕ −
θ −
ω ϕ
θ
t j T A
e e
j T A
e e j T
e
A e e j T
e
A t y
t j t j
t j j
j
t j j
j
tm
(6.8)
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-1
125
Persamaan (6.8) ini menunjukkan bahwa tanggapan keadaan mantap dari
suatu rangkaian yang mempunyai fungsi alih T(s) dengan masukan sinyal
sinus, akan :
• berbentuk sinus juga, tanpa perubahan frekuensi
• amplitudo berubah dengan faktor |T(jω)|
• sudut fasa berubah sebesar sudut dari T(jω), yaitu ϕ.
Jadi, walaupun frekuensi sinyal keluaran sama dengan frekuensi sinyal
masukan tetapi amplitudo maupun sudut fasanya berubah dan perubahan
ini tergantung dari frekuensi. Kita akan melihat kejadian ini dengan suatu
contoh.
CONTOH-6.1: Carilah sinyal keluaran
keadaan mantap dari rangkaian di samping
ini jika masukannya adalah v
s
= 10√2cos(50t
+ 60
o
) V.
Solusi :
Transformasi rangkaian ke kawasan s
memberikan rangkaian impedansi seperti
di samping ini.
Fungsi alih rangkaian ini adalah
50
50
100 2
100
) (
+
=
+
=
s s
s T
V
.
Karena frekuensi sinyal ω = 50 , maka
o
1
45
) 50 / 50 ( tan 2 2
2
1
50 50
50
50 50
50
) 50 (
j
j
V
e
e
j
j T

=
+
=
+
=


Keluaran keadaan mantap adalah :
) 15 50 cos( 10 ) 45 60 50 cos(
2
2 10
) (
o o o
o
+ = − + = t t t v
Pemahaman :
Frekuensi sinyal keluaran sama dengan sinyal masukan, yaitu ω = 50
rad/sec.
Amplitudo sinyal masukan V 2 10 =
maks
v , sedangkan
+
v
o


+

2H
100Ω
v
s

+
V
o


+

2s
100
V
s

Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-1
126 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

2
1
) 50 ( ) ( = = ω j j
V V
T T .
Amplitudo sinyal keluaran
V 10
2
1
2 10 ) (
o
= × = ω = j T v v
smaks maks

Sudut fasa sinyal masukan θ = 60
o
, sedang sudut |T(jω)| = −45
o
.
Sudut fasa sinyal keluaran : θ + ϕ = 60
o
− 45
o
= 15
o
.
6.2. Pernyataan Tanggapan Frekuensi
6.2.1. Fungsi Gain dan Fungsi Fasa
Faktor pengubah amplitudo, yaitu |T(jω)| yang merupakan fungsi
frekuensi, disebut fungsi gain yang akan menentukan bagaimana gain
(perubahan amplitudo sinyal) bervariasi terhadap perubahan frekuensi.
Pengubah fasa ϕ yang juga merupakan fungsi frekuensi disebut fungsi
fasa dan kita tuliskan sebagai ϕ(ω); ia menunjukkan bagaimana sudut
fasa sinyal berubah dengan berubahnya frekuensi. Jadi kedua fungsi
tersebut dapat menunjukkan bagaimana amplitudo dan sudut fasa sinyal
sinus berubah terhadap perubahan frekuensi atau dengan singkat disebut
sebagai tanggapan frekuensi dari rangkaian. Pernyataan tanggapan ini
bisa dalam bentuk formulasi matematis ataupun dalam bentuk grafik.
CONTOH-6.2: Selidikilah perubahan gain dan sudut fasa terhadap
perubahan frekuensi dari rangkaian orde-1 di bawah ini.

Solusi :
Setelah di transformasikan ke kawasan s, diperoleh
+
v
o


+

1 H
500Ω
v
s

500Ω
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-1
127
1000
tan ) ( : fasa fungsi

1000
500
) ( : fungsi
1000
500
) (

1000
500
) ( : rangkaian alih fungsi
1
2 2
ω
− = ω ϕ ⇒
ω +
= ω ⇒
+ ω
= ω ⇒
+
=

j T gain
j
j T
s
s T
V
V
V

Untuk melihat dengan lebih jelas bagaimana gain dan fasa berubah
terhadap frekuensi, fungsi gain dan fungsi fasa di plot terhadap ω.
Absis ω dibuat dalam skala logaritmik karena rentang nilai ω sangat
besar. Hasilnya terlihat seperti gambar di bawah ini.

Kurva gain menunjukkan bahwa pada frekuensi rendah terdapat gain
tinggi yang relatif konstan, sedangkan pada frekuensi tinggi gain menu-
run dengan cepat. Kurva fungsi fasa menujukkan bahwa pada frekuensi
rendah sudut fasa tidak terlalu berubah tetapi kemudian cepat menurun
mulai suatu frekuensi tertentu.
Gain tinggi di daerah frekuensi rendah pada contoh di atas menunjuk-
kan bahwa sinyal yang berfrekuensi rendah mengalami perubahan am-
-90
-45
0
1 10 100 1000 10000 1E+05
ϕ [
o
]
Gain
passband
stopband
0
0.5
1 10 100 1000 10000 1E+05
0.5/√2
ω
ω
C
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-1
128 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

plitudo dengan faktor tinggi, sedangkan gain rendah di frekuensi tinggi
menunjukkan bahwa sinyal yang berfrekuensi tinggi mengalami peruba-
han amplitudo dengan faktor rendah. Daerah frekuensi dimana terjadi
gain tinggi disebut passband sedangkan daerah frekuensi dimana terjadi
gain rendah disebut stopband. Nilai frekuensi yang menjadi batas antara
passband dan stopband disebut frekuensi cutoff , ω
C
. Nilai frekuensi
cutoff biasanya diambil nilai frekuensi dimana gain menurun dengan
faktor 1/√2 dari gain maksimum pada passband.
Dalam contoh-6.2 di atas, rangkaian mempunyai satu passband yang
terentang dari frekuensi ω = 0 (tegangan searah) sampai frekuensi cut-
toff ω
C
, dan satu stopband mulai dari frekuensi cutoff ke atas. Dengan
kata lain rangkaian ini mempunyai passband di daerah frekuensi rendah
saja sehingga disebut low-pass gain. Inilah tanggapan frekuensi rang-
kaian pada contoh-6.2.
Kebalikan dari low-pass gain adalah high-pass gain, yaitu jika passband
berada hanya di daerah frekuensi tinggi saja seperti pada contoh 6.3.
berikut ini.
CONTOH-6.3: Selidikilah tanggapan frekuensi rangkaian di bawah ini.

Solusi :
Fungsi alih rangkaian adalah
2
1 o
4 2
2 2 5
10
tan 90 ) ( ;
10
5 , 0
) (
10
5 , 0
) (
10
5 , 0
1000 / 10
500
) (
ω
− = ω ϕ ⇒
+ ω
ω
= ω ⇒
+ ω
ω ×
= ω →
+
=
+
=

j T
j
j
j T
s
s
s
s T
V
V V

+
v
o


+

500
v
s

500
10
5
/s
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-1
129
Kurva gain dan fasa terlihat seperti pada gambar di bawah ini.
Stopband ada di daerah frekuensi rendah sedangkan passband ada di
daerah frekuensi tinggi. Inilah karakteristik high-pass gain

6.2.2. Decibel
Dalam meninjau tanggapan frekuensi, gain biasanya dinyatakan dalam
decibel (disingkat dB) yang didefinisikan sebagai
) ( log 20 dB dalam Gain ω = j T (6.9)
Gain dalam dB dapat bernilai nol, positif atau negatif. Gain dalam dB
akan nol jika |T(jω)| bernilai satu, yang berarti sinyal tidak diperkuat
ataupun diperlemah; jadi gain 0 dB berarti amplitudo sinyal keluaran
sama dengan sinyal masukan. Gain dalam dB akan positif jika |T(jω)| >1,
yang berarti sinyal diperkuat, dan akan bernilai negatif jika |T(jω)| < 1,
yang berarti sinyal diperlemah.
Frekuensi cutoff adalah frekuensi dimana gain telah turun 1/√2 = 0.707
kali nilai gain maksimum dalam passband. Jadi pada frekuensi cutoff,
nilai gain adalah
dB 3 ) (
2 log ) ( log 20 ) (
2
1
log 20
dB
− ω =
− ω =
|
|
¹
|

\
|
ω
maks
maks maks
j T
j T j T
(6.10)
0
45
90
1 10 100 1000 10000 100000
ϕ [
o
]
0.5/√2
ω
C
0
0.5
1 10 100 1000 10000 1E+05
ω
Gain
stopband passband

Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-1
130 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

Dengan demikian dapat kita katakan bahwa frekuensi cutoff adalah fre-
kuensi di mana gain telah turun sebanyak 3 dB.
Untuk memberikan gambaran lebih jelas, mengenai satuan decibel terse-
but, berikut ini contoh numerik gain dalam dB yang sebaiknya kita ingat.
CONTOH-6.4: Berapa dB-kah nilai gain sinyal yang diperkuat K kali ,
jika K = 1; √2 ; 2 ; 10; 30; 100; 1000 ?
Solusi :
Untuk sinyal yang diperkuat K kali,
( ) ( ) ( ) K j T j T K gain log 20 ) ( log 20 ) ( log 20 + ω = ω =
Jadi pertambahan gain sebesar 20log(K) berarti penguatan sinyal K
kali.
dB 60 1000 log 20 : 1000
dB 40 100 log 20 : 100
dB 30 30 log 20 : 30
dB 20 10 log 20 : 10
dB 6 2 log 20 : 2
dB 3 2 log 20 : 2
dB 0 1 log 20 : 1
= ⇒ =
= ⇒ =
≈ ⇒ =
= ⇒ =
≈ ⇒ =
≈ ⇒ =
= ⇒ =
gain K
gain K
gain K
gain K
gain K
gain K
gain K

Jika faktor K tersebut di atas bukan penguatan akan tetapi perle-
mahan sinyal maka gain menjadi negatif.
dB 60 : 1000 / 1
dB 40 : 100 / 1
dB 30 : 30 / 1
dB 20 : 10 / 1
dB 6 : 2 / 1
dB 3 : 2 / 1
− ⇒ =
− ⇒ =
− ⇒ =
− ⇒ =
− ⇒ =
− ⇒ =
gain K
gain K
gain K
gain K
gain K
gain K

Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-1
131
6.2.3. Kurva Gain Dalam Decibel
Kurva gain dibuat dengan absis (frekuensi) dalam skala logaritmik (ka-
rena rentang frekuensi yang sangat lebar); jika gain dinyatakan dalam dB
yang juga merupakan bilangan logaritmik sebagaimana didefinisikan
pada (6.9), maka kurva gain akan berbentuk garis-garis lurus.
Low-pass gain. Dengan menggunakan satuan dB, kurva low-pass gain
pada contoh-6.2 adalah seperti terlihat pada ganbar di bawah ini. Gain
hampir konstan −6 dB di daerah frekuensi rendah, sedangkan di daerah
frekuensi tinggi gain menurun dengan kemiringan yang hampir konstan
pula.

High-pass gain. Dalam skala dB, high-pass gain pada contoh-6.3 adalah
seperti terlihat pada ganbar di bawah ini. Gain hampir konstan −6 dB di
daerah frekuensi tinggi sedangkan di daerah frekuensi rendah gain men-
ingkat dengan kemiringan yang hampir konstan pula

Band-pass gain. Apabila gain meningkat di daerah frekuensi rendah
dengan kemiringan yang hampir konstan, dan menurun di daerah fre-
kuensi tinggi dengan kemiringan yang hampir konstan pula, sedangkan
gain tinggi berada di antara dua frekuensi cutoff kita memiliki karakter-
istik band-pass gain.
Gain
[dB]
-40
-20
0
1 10 100 1000 10000 1E+05
ω
−6
ω
C
−9
-40
-20
0
1 10 100 1000 10000 1E+05
Gain
[dB]
ω
−6
ω
C
−9
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-1
132 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)


Band-pass gain kita peroleh pada rangkaian orde-2 yang akan kita pela-
jari lebih lanjut di bab selanjutnya. Walaupun demikian kita akan melihat
rangkaian orde-2 tersebut sebagai contoh di bawah ini.
CONTOH-6.5: Selidikilah perubahan gain dari rangkaian orde-2 di
samping ini. Gain belum dinyatakan dalam dB.

Solusi :
Fungsi alih rangkaian ini adalah
) 1000 )( 100 (
1100

10 1100
1100
/ 10 1100
1100
) (
5 2 5
+ +
=
+ +
=
+ +
=
s s
s
s s
s
s s
s T
V
2 2 2 2
1000 100
1000
) (
) 1000 )( 100 (
1100
) (
+ ω × + ω
ω
= ω ⇒
+ ω + ω
ω
= ω
j T
j j
j
j T
V
V

Kurva gain terlihat seperti gambar di bawah ini. Di sini terdapat satu
passband , yaitu pada ω antara 100 ÷ 1000 dan dua stopband di
daerah frekuensi rendah dan tinggi.
+

+
V
o
(s)

V
in
(s)
1100
s
10
5
/s
-40
-20
0
1 10 100 1000 10000 1E+05
Gain
[dB]
ω
−3
ω
C
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-1
133

Apabila kurva gain dibuat dalam dB, kurva yang akan diperoleh
adalah seperti diperlihatkan di atas.
CONTOH-6.6: Selidikilah perubahan
gain dari rangkaian orde-2 di
samping ini. Gain belum din-
yatakan dalam dB.
Solusi :
Fungsi alih rangkaian ini adalah

2 8 2 2 6
6 2
6 4 2
6 2
6 4 2
6 2
5
5
10 ) 10 (
10
) (
10 10
10
) (
10 10
10
/ 10 1 , 0
/ 10 1 , 0
10
10
) (
ω ω
ω
ω
ω ω
ω
ω
+ ++ + − −− −
+ ++ + − −− −
= == = ⇒ ⇒⇒ ⇒
+ ++ + + ++ + − −− −
+ ++ + − −− −
= == =
+ ++ + + ++ +
+ ++ +
= == =
+ ++ +
× ×× ×
+ ++ +
= == =
j T
j
j T
s s
s
s s
s s
s T
V
V
V

Kurva gain adalah seperti gambar di bawah ini.

passband stopband
passband
ω
0
0.7
1.4
1 100 10000 1000000
1
1/√2
Gain
0
0.7
1.4
1 10 100 1000 10000
Gain
1
1/√2
ω
passband
stopband stopband
+
V
o
(s)

V
in
(s)
10
0,1s
10
5
/s
+

Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-1
134 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

Kurva ini menunjukkan bahwa ada satu stopband pada ω antara 100
÷ 10000 dan dua passband masing-masing di daerah frekuensi ren-
dah dan tinggi.
Karakteristik gain seperti pada contoh-6.5. disebut band-pass gain se-
dangkan pada contoh-6.6 disebut band-stop gain. Frekuensi cutoff pada
band-pass gain ada dua; selang antara kedua frekuensi cutoff disebut
bandwidth (lebar pita).
6.3. Bode Plot
Bode plots adalah grafik gain dalam dB ( |T(jω|
dB
) serta fasa (ϕ(ω) )
sebagai fungsi dari frekuensi dalam skala logaritmik. Kurva-kurva ini
berbentuk garis-garis lengkung. Walaupun demikian kurva ini mendekati
nilai-nilai tertentu secara asimtotis, yang memungkinkan kita untuk me-
lakukan pendekatan dengan garis lurus dengan patahan di titik-titik be-
lok. Melalui pendekatan ini, penggambaran akan lebih mudah dilakukan.
Bila kita ingin mendapatkan nilai yang lebih tepat, terutama di sekitar
titik belok, kita dapat melakukan koreksi-koreksi pada kurva pendekatan
ini.
Manfaat Bode plots dapat kita lihat misalnya dalam proses perancangan
rangkaian; kurva-kurva pendekatan garis lurus tersebut merupakan cara
sederhana tetapi jelas untuk menyatakan karakteristik rangkaian yang
diinginkan. Dari sini kita dapat menetapkan maupun mengembangkan
persyaratan-persyaratan perancangan. Selain dari pada itu, tanggapan
frekuensi dari berbagai piranti, perangkat maupun sistem, sering
dinyatakan dengan menggunakan Bode plots. Pole dan zero dari fungsi
alih peralatan-peralatan tersebut dapat kita perkirakan dari bentuk Bode
plots yang diberikan. Berikut ini kita akan mempelajari tahap demi tahap
penggambaran Bode plots dengan pendekatan garis lurus. Kita akan
mulai dari rangkaian orde-1 disusul dengan rangkaian orde-2.
6.3.1. Low-Pass Gain
Bentuk fungsi alih rangkaian orde-1 dengan karakteristik low-pass gain
adalah
α +
=
s
K
s T
V
) ( (6.11)
K dapat bernilai riil positif ataupun negatif. Jika K positif berarti K
mempunyai sudut θ
K
= 0
o
dan jika negatif mempunyai sudut θ
K
= ±180
o
.
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-1
135
Pole fungsi alih ini haruslah riil negatif karena hanya pole negatif (di
sebelah kiri sumbu imajiner dalam bidang s) yang dapat membuat
rangkaian stabil; komponen transiennya menuju nol untuk t →∞. Hanya
rangkaian yang stabil sajalah yang kita tinjau dalam analisis mengenai
tanggapan frekuensi.
Dari (6.11) kita dapatkan :
( ) α ω + α
=
α + ω
= ω
/ 1
) (
j
K
j
K
j T (6.12)
Fungsi gain dan fungsi fasa dapat kita tuliskan
) / ( tan ) ( dan
) / ( 1
/
) (
1
2
α ω − θ = ω ϕ
α ω +
α
= ω

K V
K
j T (6.13)
Fungsi gain dalam satuan dB, menjadi
( )
|
¹
|

\
|
α ω + − α = ω
2
dB
) / ( 1 log 20 / log 20 ) ( K j T
V
(6.14)
Fungsi gain ini terdiri dari dua komponen, yang ditunjukkan oleh suku
pertama dan suku kedua ruas kanan (6.14). Komponen pertama bernilai
konstan untuk seluruh frekuensi. Komponen kedua tergantung dari
frekuensi dan komponen inilah yang menyebabkan gain berkurang
dengan naiknya frekuensi. Komponen ini pula yang menentukan
frekuensi cutoff, yaitu saat (ω/α) =1 dimana komponen ini mencapai
nilai −20log√2 ≈ −3 dB. Jadi dapat kita katakan bahwa frekuensi cutofff
ditentukan oleh komponen yang berasal dari pole fungsi alih, yaitu
α = ω
C
(6.15)
Gb.6.1. memperlihatkan perubahan nilai komponen kedua tersebut
sebagai fungsi frekuensi, yang dibuat dengan α = 1000. Dengan pola
perubahan komponen kedua seperti ini maka gain total akan tinggi di
daerah frekuensi rendah dan menurun di daerah frekuensi tinggi, yang
menunjukkan karakteristik low-pass gain. Kurva ini mendekati nilai
tertentu secara asimtotis yang memungkinkan dilakukannya pendekatan
garis lurus sebagai berikut.
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-1
136 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)


Gb.6.1. Pola perubahan−log√((ω/α)
2
+1); α=1000 ; dan pendekatan garis
lurusnya.
Untuk frekuensi rendah, (ω/α) << 1 atau ω << α , komponen kedua dapat
didekati dengan.
( ) 0 1 log 20 ) / ( 1 log 20
2
= − ≈
|
¹
|

\
|
α ω + − (6.17)
yang akan memberikan kurva garis lurus horisontal di 0 dB.
Untuk frekuensi tinggi, (ω/α)>>1 atau ω>>α, komponen kedua tersebut
didekati dengan
( ) α ω − ≈
|
¹
|

\
|
α ω + − / log 20 ) / ( 1 log 20
2
(6.18)
sehingga kurvanya berupa garis lurus menurun terhadap log(ω). Untuk
setiap kenaikan frekuensi 10 kali, yang kita sebut satu dekade, penurunan
itu adalah
( ) ( ) dB 20 10 log 20 / log 20 / 10 log 20 − = − = α ω − α ω −
Jadi pendekatan garis lurus untuk komponen kedua ini adalah garis nol
untuk 1<ω<α dan garis lurus −20 dB per dekade untuk ω>α. Titik belok
terletak pada perpotongan kedua garis ini, yaitu pada (ω/α) =1, yang ber-
arti terletak di frekuensi cutoff, seperti terlihat pada Gb.6.1.
Tanggapan fasa kita peroleh dari fungsi fasa (6.13) yaitu
) / ( tan ) (
1
α ω − θ = ω ϕ

K
(6.16)
Komponen pertama fungsi ini bernilai konstan. Komponen kedua mem-
beri pengurangan fasa yang juga menjadi penentu pola perubahan tang-
gapan fasa. Lengkung komponen kedua ini terlihat pada Gb.6.2.
dB
ω
[rad/s]
-60
-40
-20
0
1
1
0
1
0
0
1
0
0
0
1
0
0
0
0
1
E
+
0
5
1
E
+
0
6
−log√((ω/α)
2
+1)
pendekatan
garis lurus
ω
C
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-1
137

Gb.6.2. Pola perubahan−tan
−1
(ω/α); α=1000 ; dan pendekatan garis lu-
rusnya.
Seperti halnya kurva pada Gb.6.1. kurva inipun mendekati nilai-nilai
tertentu secara asimtotik yang juga memungkinkan kita untuk melaku-
kan pendekatan garis lurus. Pendekatan garis lurus untuk komponen
kedua fungsi fasa ini kita lakukan dengan memperhatikan bahwa pada
(ω/α)=1, yaitu pada frekuensi cutoff, nilai −tan
−1
(ω/α) adalah −45
o
.
Pada ω=0.1ω
C
, nilai −tan
−1
(ω/α) kecil dan dianggap 0
o
; pada ω=10ω
C
,
nilai −tan
−1
(ω/α) mendekati −90
o
dan dianggap −90
o
; untuk ω>10ω
C
,
nilai −tan
−1
(ω/α) adalah −90
o
. Jadi untuk daerah frekuensi 0.1ω
C


< ω <
10ω
C
perubahan fasa dapat dianggap linier −45
o
per dekade, seperti ter-
lihat pada Gb.6.2.
Dengan pendekatan garis lurus seperti di atas, baik untuk fungsi gain
maupun untuk fungsi fasa, maka tanggapan gain dan tanggapan fasa
dapat digambarkan dengan nilai seperti tercantum dalam dua tabel di
bawah ini. Perhatikanlah bahwa nilai komponen pertama konstan untuk
seluruh frekuensi sedangkan komponen ke-dua mempunyai nilai hanya
pada selang frekuensi tertentu.

ω
[rad/s]
-90
-45
0
1
1
0
1
0
0
1
0
0
0
1
0
0
0
0
1
E
+
0
5
1
E
+
0
6
ω
C
ϕ [
o
]
−tan
−1
(ω/
pendekatan
garis lurus
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-1
138 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)


Frekuensi
ω
C
= α
Gain
ω=1 1<ω<α ω>α
Komponen 1
20log(|K|/α) 20log(|K|/α) 20log(|K|/α)
Komponen 2 0 0
−20dB/dek
Total
20log(|K|/α) 20log(|K|/α) −20dB/dek

Frekuensi
ω
C
= α
ϕ
ω=1 0,1α<ω<10α ω>10α
Komponen 1
θ
K
θ
K
θ
K

Komponen 2 0
−45
o
/dek
0
Total
θ
K
θ
K
−45
o
/dek θ
K

Kurva pendekatan garis lurus tanggapan gain dan tanggapan fasa ini,
dengan mengambil α = 1000, diperlihatkan pada Gb.6.3.a. dan Gb.6.3.b.

Gb.6.3. Pendekatan garis lurus tanggapan gain dan
tanggapan fasa − lowpass gain. ω
C
= α = 1000 rad/s.
Karena kurva garis lurus adalah kurva pendekatan, maka untuk mengeta-
hui gain sebenarnya, diperlukan koreksi-koreksi. Sebagai contoh, pada
ω [rad/s] a).

-40
-20
0
20
1
1
0
1
0
0
1
0
0
0
1
0
0
0
0
1
E
+
0
5
1
E
+
0
6
Gain [dB]
20log(|K|/α
−20dB/dek
ω
C
= α
ω
[rad/s]
b).

-135
-90
-45
0
45
1
1
0
1
0
0
1
0
0
0
1
0
0
0
0
1
E
+
0
5
1
E
+
0
6
ϕ [
o
]
−45
o
/dek
0.1ω
C 10ω
C
θ
K
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-1
139
Gb.6.3.a. gain pada frekuensi cutoff sama dengan gain maksimum dalam
pass-band; seharusnya gain pada frekuensi cutoff adalah gain maksimum
dalam pass-band dikurangi 3 dB.
6.3.2. High-Pass Gain
Fungsi alih rangkaian orde-1 dengan karakteristik high-pass gain ini ber-
bentuk
( (( ( ) )) ) α ω α
ω
ω
α / 1
) ( sehingga ) (
j
K j
j T
s
Ks
s T
+ ++ +
= == =
+ ++ +
= == = (6.19)
Berbeda dengan fungsi alih low-pass gain, fungsi alih ini mempunyai
zero pada s = 0. Fungsi gain dan fungsi fasa-nya adalah
( )
) / ( tan 90 ) ( dan
) / ( 1
/
) (
1 o
2
α ω − + θ = ω ϕ
α ω +
ω α
= ω

K
K
j T
(6.20)
( ) ) / ( 1 log 20 log 20 / log 20 ) (
2
dB
α ω + − ω + α = ω ⇒ K j T (6.21)
Dengan hanya menggunakan pendekatan garis lurus, nilai fungsi gain
dan fungsi fasa adalah seperti dalam tabel berikut.

Frekuensi Gain
ω
C
= α

ω=1 1<ω<α ω>α
Komponen 1
20log(|K|/α) 20log(|K|/α) 20log(|K|/α)
Komponen 2 0 +20dB/dek
20log(α/1)+20dB/dek
Komponen 3 0 0
−20dB/dek
Total
20log(|K|/α) 20log(|K|/α)
+20dB/dek
20log(|K|/α)
+20log(α/1)

Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-1
140 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)


Frekuensi
ϕ(ω)
ω
C
= α

ω=1 0,1α<ω<10α ω>10α
Komponen 1
θ
K
θ
K
θ
K

Komponen 2 90
o
90
o
90
o

Komponen 3 0
o
−45
o
/dek −90
o
Total
θ
K
+90
o
θ
K
+90
o

−45
o
/dek θ
K

Pendekatan garis lurus dari tanggapan gain dan tanggapan fasa dengan
α=100, diperlihatkan pada Gb.6.4.a.dan Gb.6.4.b.

Gb.6.4. Pendekatan garis lurus tanggapan gain dan
tanggapan fasa – highpass gain. ω
C
= α = 100 rad/s.
CONTOH-6.7: Gambarkan pendekatan garis lurus tanggapan gain dari
dua rangkaian yang masing-masing mempunyai fungsi alih
100
20
dan
100
20
) (
2 1
+
=
+
=
s
s
(s) T
s
s T
Solusi:
Fungsi gain rangkaian pertama adalah
20log(|K|/α)
+20dB/dek
ω
C
= α
-40
-20
0
20
40
1
1
0
1
0
0
1
0
0
0
1
0
0
0
0
1
E
+
0
5
1
E
+
0
6
Gain [dB]
ω [rad/s]
a).

-45
0
45
90
1
1
0
1
0
0
1
0
0
0
1
0
0
0
0
1
E
+
0
5
1
E
+
0
6
ϕ [
o
]
ω [rad/s]
−45
o
/dek
0.1ω
C
10ω
C
θ
K
b).

θ
K
+90
o
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-1
141
( )
2
1
dB
1
2
1 1
) 100 / ( 1 log 20 ) 2 . 0 log( 20 ) ( log 20 ) (
) 100 / ( 1
2 . 0
) (
100 / 1
2 . 0
100
20
) (
ω + − = ω = ω ⇒
ω +
= ω ⇒
ω +
=
+ ω
= ω
j T j T
j T
j j
j T

Frekuensi dan nilai tanggapan gain rangkaian pertama terlihat pada
tabel berikut ini.
Frekuensi Gain
ω
C
= 100 rad/s

ω=1 1<ω<100 ω>100
Komponen 1
−14 dB −14 dB −14 dB
Komponen 2 0 0
−20dB/dek
Total
−14 dB −14 dB −14 dB −20dB/dek
Fungsi gain rangkaian kedua adalah:
2
dB
2
2
2 2
) 100 / ( 1 log 20 ) log( 20 ) 2 . 0 log( 20 ) (
) 100 / ( 1
2 . 0
) (
100 / 1
2 , 0
100
20
) (
ω + − ω + = ω ⇒
ω +
ω
= ω ⇒
ω +
ω
=
+ ω
ω
= ω
j T
j T
j
j
j
j
j T

Frekuensi dan nilai tanggapan gain rangkaian kedua terlihat pada ta-
bel berikut ini.
Frekuensi Gain
ω
C
= 100 rad/s

ω=1 1<ω<100 ω>100
Komponen 1
−14 dB −14 dB −14 dB
Komponen 2 0 20 dB/dek 40+20 dB/dek
Komponen 3 0 0
−20 dB/dek
Total
−14 dB −14 dB +20 dB/dek
26 dB
Gambar tanggapan gain ke-dua rangkaian adalah sebagai berikut.

Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-1
142 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)



6.3.3. Band-Pass Gain
Rangkaian dengan karakteristik band-pass gain dapat diperoleh dengan
menghubungkan secara bertingkat dua rangkaian orde-1 dengan menjaga
agar rangkaian yang di belakang (rangkaian kedua) tidak membebani
rangkaian di depannya (rangkaian pertama). Rangkaian pertama mem-
punyai karakteristik high-pass gain sedangkan rangkaian kedua mem-
punyai karakteristik low-pass gain. Hubungan kaskade demikian ini akan
mempunyai fungsi alih sesuai kaidah rantai dan akan berbentuk
β +
×
α +
= × =
s
K
s
s K
T T T
2 1
2 1
(6.22)
( ) ( )
{ }
( ) ( )
2 2
2 1
2 1 2 1
/ 1 / 1
/
) (
/ 1 / 1
) ( ) (
) (
β ω + × α ω +
ω αβ
= ω ⇒
β ω + β
×
α ω + α
ω
=
β + ω
×
α + ω
ω
= ω
K K
j T
j
K
j
j K
j
K
j
j K
j T

( )
) / ( 1 log 20 ) / ( 1 log 20
log 20 / log 20 ) (
2 2
2 1
dB
β ω + − α ω + −
ω + αβ = ω ⇒ K K j T

Dengan membuat β >> α maka akan diperoleh karakteristik band-pass
gain dengan frekuensi cutoff ω
C1
= α dan ω
C2
= β. Sesungguhnya
fungsi alih (6.22) berbentuk fungsi alih rangkaian orde-2. Kita akan
melihat karakteristik band-pass gain rangkaian orde-2 di bab berikut.
-60
-40
-20
0
20
40
1
1
0
1
0
0
1
0
0
0
1
0
0
0
0
ω [rad/s]
Gain [dB]
(Rangkaian 1)
ω
C
Komp-1
Komp-2
Gain
ω [rad/s]
-60
-40
-20
0
20
40
1
1
0
1
0
0
1
0
0
0
1
0
0
0
0
Gain [dB]
(Rangkaian 2)
Komp-2
Komp-1 Komp-3
Gain
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-2
143
BAB 7 Tanggapan Frekuensi Rang-
kaian Orde-2

7.1. Rangkaian Orde-2 Dengan Pole Riil
Pole dari fungsi tansfer rangkaian orde-2 bisa riil ataupun kompleks kon-
jugat. Pembahasan berikut ini akan dikhususkan untuk fungsi alih dengan
pole riil
7.1.1. Band-Pass Gain
Fungsi alih rangkaian orde-2 dengan satu zero dan dua pole riil dapat
ditulis sebagai
( )
) / 1 )( / 1 (
/
) )( (
) (
sehingga
) )( (
) (
β ω + α ω +
ω × αβ
=
β + ω α + ω
ω ×
= ω
β + α +
=
j j
j K
j j
j K
j T
s s
Ks
s T
(7.1)
Fungsi gain adalah
( )

) / ( 1 ) / ( 1
/
) (
2 2
β ω + × α ω +
ω αβ
= ω
K
j T (7.2)
yang dalam satuan dB menjadi
( )
2
2
dB
) / ( 1 log 20
) / ( 1 log 20 log 20 / log 20 ) (
β ω + −
α ω + − ω + αβ = ω K j T
(7.3)
Fungsi gain ini terdiri dari komponen-komponen yang bentuknya telah
kita kenal pada pembahasan rangkaian orde-1. Komponen pertama (suku
pertama ruas kanan (7.3)) bernilai konstan. Komponen kedua berbanding
lurus dengan logω dengan perubahan gain +20 dB per dekade;
komponen ketiga pengurangan gain −20 dB per dekade; komponen ke-
empat juga pengurangan gain −20 dB / dekade. Frekuensi cutoff ω
C1
= α
diberikan oleh komponen ke-tiga sedangkan komponen ke-empat
memberikan frekuensi cutoff ω
C2
= β.
Nilai fungsi gain dengan pendekatan garis lurus untuk β > α adalah
seperti dalam tabel di bawah ini. Mengenai fungsi fasa-nya akan kita
lihat pada contoh-contoh.
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-2
144 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

Gain Frekuensi

ω
C1
= α rad/s ω
C2
= β rad/s

ω=1 1<ω<α α<ω<β ω>β
Komp.1 20log(|K|/αβ) 20log(|K|/αβ) 20log(|K|/αβ) 20log(|K|/αβ)
Komp.2 0 +20 dB/dek +20log(α/1)
+20 dB/dek
+20log(β/1)
+20 dB/dek
Komp.3 0 0 −20 dB/dek −20log(β/α)−20 dB/dek
Komp.4 0 0 0 −20 dB/dek
Total 20log(|K|/αβ) 20log(|K|/αβ)
+20 dB/dek
20log(|K|/αβ)
+20log(α/1)
20log(|K|/αβ)
+20log(α)
−20 dB/dek
CONTOH-7.1: Gambarkan Bode plots pendekatan garis lurus
(tanggapan gain dan tanggapan fasa) rangkaian yang diketahui
fungsi alihnya adalah :
) 10000 )( 10 (
50000
) (
+ +
=
s s
s
s T
Solusi :
2 2
) 10000 / ( 1 ) 10 / ( 1
5 , 0
) (

) 10000 / 1 )( 10 / 1 (
0,5
) 10000 )( 10 (
50000
) (
ω + × ω +
ω
= ω →
ω + ω +
ω
=
+ ω + ω
ω ×
= ω
j T
j j j j
j
j T
) 10000 / ( tan ) 10 / ( tan 90 0 ) (
) 10000 / ( 1 log 20
) 10 / ( 1 log 20 log 20 5 , 0 log 20 ) (
1 1 o
2
2
dB
ω − ω − + = ω ϕ ⇒
ω + −
ω + − ω + = ω ⇒
− −
j T

Nilai frekuensi dan kurva fungsi gain adalah sebagai berikut.
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-2
145

Frekuensi
ω
C1
= 10 rad/s ω
C2
= 10000 rad/s
Gain
ω=1 1<ω<10 10<ω<10
4
ω>10
4
Komponen 1 −6 dB −6 dB −6 dB −6 dB
Komponen 2 0 +20 dB/dek 20+20 dB/dek 80+20 dB/dek
Komponen 3 0 0 −20 dB/dek −60−20 dB/dek
Komponen 4 0 0 0 −20 dB/dek
Total −6 dB −6 dB
+20 dB/dek
14 dB 14 dB
−20 dB/dek

Untuk menggambarkan tanggapan fasa, kita perhatikan fungsi fasa
) 10000 / ( tan ) 10 / ( tan 90 0 ) (
1 1 o
ω − ω − + = ω ϕ
− −

Untuk ω = 1 maka ϕ(ω)≈(0+90
o
−0−0)=90
o
. Mulai dari 0,1ω
C1
sam-
pai 10ω
C1
(atau dari 1sampai 100) terjadi perubahan fasa −45
o
per
dekade. Mulai dari 0,1ω
C2
sampai 10ω
C2
(atau 1000 sampai 100000)
terjadi perubahan fasa −45
o
per dekade. Perhatikan bahwa dalam
contoh ini 10ω
C1
< 0,1ω
C2
, sehingga ada selang frekuensi di mana
tanggapan fasa konstan yaitu antara 100 sampai 1000 rad/s.
Tabel berikut ini memuat nilai-nilai ϕ(ω) dan dari tabel ini kita gam-
barkan kurva pendekatan garis lurus tanggapan fasa.
ω [rad/s]
Gain
[dB]
Gain
ω
C1
ω
C2
−6
14
-40
-20
0
20
40
1 10 100 1000 10000 100000
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-2
146 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)


Frekuensi
ω
C1
= 10 rad/s ω
C2
= 10
4
rad/s
ϕ(ω)
ω=1 1<ω<100 10
3
<ω<10
5
ω>10
5
Komponen 1 0
o
0
o
0
o
0
o

Komponen 2 90
o
90
o
90
o
90
o

Komponen 3 0
o
−45
o
/dek −90
o
−90
o

Komponen 4 0
o
0
o
0
o
−45
o
/dek −90
o

Total 90
o
90
o
−45
o
/dek 0
o
−45
o
/dek −90
o


Pemahaman :
Karena frekuensi cutoff pertama ω
C1
=10, maka perubahan fasa
−45
o
/dekade terjadi pada selang frekuensi 1<ω<100. Karena fre-
kuensi cutoff kedua ω
C2
= 10000, maka perubahan fasa −45
o
/dekade
yang kedua terjadi pada selang frekuensi 1000<ω<100000. Di luar
ke-dua selang frekuensi ini fasa tidak berubah, sehingga terlihat
adanya kurva mendatar pada selang frekuensi 100<ω<1000.
7.1.2. High-Pass Gain
Karakteristik high-pass gain dapat diperoleh dari rangkaian orde-2 yang
fungsi alihnya mengandung dua zero di s = 0.
CONTOH-7.2: Gambarkan tanggapan gain dan tanggapan fasa jika
diketahui fungsi alihnya adalah
-90
-45
0
45
90
1 10 100 1000 10000 1E+05
ϕ [
o
]
ω [rad/s]
ω
C1
ω
C2
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-2
147
) 200 )( 40 (
10
) (
2
+ +
=
s s
s
s T
Solusi :
Gain dari sistem ini adalah
( )( ) 200 / 1 40 / 1 800
1
) 200 )( 40 (
) ( 10
) (
2 2
ω + ω +
ω −
× =
+ ω + ω
ω
= ω
j j j j
j
j T
( )
1 ) 200 / ( log 20
1 ) 40 / ( log 20 log 20 2 800 / 1 log 20 ) (
) 200 / ( 1 ) 40 / ( 1
800
1
) (
2
2
dB
2 2
2
+ ω −
+ ω − ω × + = ω
ω + × ω +
ω
× = ω
j T
j T

Komponen pertama tanggapan gain adalah konstan 20log(1/800) =
−58 dB. Komponen kedua berbanding lurus dengan log(ω) dengan
kenaikan 2×20 dB per dekade. Pengurangan gain oleh komponen ke-
tiga mulai pada ω
C1
= 40 dengan −20 dB per dekade. Pengurangan
gain oleh komponen ke-empat mulai pada ω
C2
= 200 dengan −20 dB
per dekade. Kurva tanggapan gain adalah sebagai berikut.

Fungsi fasa adalah :
) 200 / ( tan ) 40 / ( tan 90 2 0 ) (
1 1 o
ω − ω − × + = ω ϕ
− −

Pada ω = 1, ϕ(ω) ≈ 0
o
+ 2× 90
o
=180
o
. Pada ω=(ω
C1
/10)=4, kompo-
nen ke-tiga mulai memberikan perubahan fasa −45
o
per dekade dan
-60
-40
-20
0
20
1 10 100 1000 10000 100000
ω [rad/s]
Gain
[dB]
+40dB/dek
+20dB/dek
−58
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-2
148 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

akan berlangsung sampai ω=10ω
C1
=400. Pada ω = 0.1ω
C2
=20, kom-
ponen ke-empat mulai memberikan perubahan fasa −45
o
per dekade
dan akan berlangsung sampai ω=10ω
C2
=2000.

Pemahaman :
Penggambaran tanggapan gain dan tanggapan fasa di sini tidak lagi
melalui langkah antara yang berupa pembuatan tabel peran tiap
komponen dalam berbagai daerah frekuensi. Kita dapat melakukan
hal ini setelah kita memahami peran tiap-tiap komponen tersebut da-
lam membentuk tanggapan gain dan tanggapan fasa. Melalui latihan
yang cukup, penggambaran tanggapan gain dan tanggapan fasa da-
pat dilakukan langsung dari pengamatan formulasi kedua macam
tanggapan tersebut.
Kita perhatikan penggambaran tanggapan fasa. Dalam contoh ini
0,1ω
C2
< 10ω
C1
dan bahkan 0,1ω
C2
< ω
C1
. Oleh karena itu, penu-
runan fasa −45
o
per dekade oleh pole pertama, yang akan berlang-
sung sampai ω=10ω
C1
, telah ditambah penurunan oleh pole kedua
pada ω=0,1ω
C2
sebesar −45
o
per dekade. Hal ini menyebabkan ter-
jadinya penurunan fasa −2×45
o
mulai dari ω=0,1ω
C2
sampai dengan
ω=10ω
C1
karena dalam selang frekuensi tersebut dua pole berperan
menurunkan fasa secara bersamaan. Pada ω=10ω
C1
peran pole per-
tama berakhir dan mulai dari sini penurunan fasa hanya disebabkan
oleh pole kedua, yaitu −45
o
per dekade.
0
45
90
135
180
225
1 10 100 1000 10000 100000
ω [rad/s]
ϕ [
o
]
0,1ω
C2
0,1ω
C1
10ω
C1
10ω
C2
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-2
149
7.1.3. Low-pass Gain
Karakteristik low-pass gain dapat diperoleh dari rangkaian orde-2 yang
fungsi alihnya tidak mengandung zero.
CONTOH-7.3: Gambarkan Bode plots pendekatan garis lurus rangkaian
yang fungsi alihnya adalah :
) 1000 )( 100 (
10 5
) (
4
+ +
×
=
s s
s T
Solusi :
) 1000 / ( tan ) 100 / ( tan 0 ) (
) 1000 / ( 1 log 20 ) 100 / ( 1 log 20 5 , 0 log 20 ) (
) 1000 / ( 1 ) 100 / ( 1
5 , 0
) (
) 1000 / 1 )( 100 / 1 (
5 , 0
) 1000 )( 100 (
10 5
) (
1 1
2 2
dB
2 2
4
ω − ω − = ω ϕ
ω + − ω + − = ω
ω + × ω +
= ω
ω + ω +
=
+ ω + ω
×
= ω
− −
j T
j T
j j j j
j T

Komponen pertama tanggapan gain adalah 20log(0,8) ≈ −6 dB.
Komponen kedua memberikan perubahan gain −20 dB per dekade
mulai pada ω = ω
C1
= 100. Komponen ke-tiga memberikan per-
ubahan gain −20 dB per dekade mulai pada ω = ω
C2
= 1000,
sehingga mulai ω = 1000 perubahan gain adalah −40 dB per dekade.

Fungsi fasa adalah
-60
-40
-20
0
1 10 100 1000 10000 100000
Gain
[dB]
ω [rad/s]
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-2
150 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

) 1000 / ( tan ) 100 / ( tan 0 ) (
1 1
ω − ω − = ω ϕ
− −

Pada ω = 1, ϕ(ω) ≈ 0. Mulai pada ω = 10 , komponen kedua
memberikan perubahan fasa −45
o
per dekade sampai ω = 1000.
Mulai pada ω = 100 , komponen ke-tiga memberikan perubahan fasa
−45
o
per dekade sampai ω = 10000. Jadi pada selang 100<ω<1000
perubahan fasa adalah −90
o
per dekade.

7.2. Fungsi Alih Dengan Zero Riil Negatif
Dalam contoh-contoh sebelumnya, fungsi alih mempunyai zero di s = 0.
Fungsi alih dalam contoh berikut ini mempunyai zero di s ≠ 0.
CONTOH-7.4: Gambarkan tanggapan gain dan tanggapan fasa jika
diketahui fungsi alihnya adalah
) 1000 )( 100 (
) 20 ( 10 4
) (
4
+ +
+ ×
=
s s
s
s T
Solusi :
2 2
2
4
) 1000 / ( 1 ) 100 / ( 1
1 ) 20 / ( 8
) (
) 1000 / 1 )( 100 / 1 (
) 20 / 1 ( 8
) 1000 )( 100 (
) 20 ( 10 4
) (
ω + × ω +
+ ω
= ω
ω + ω +
ω +
=
+ ω + ω
+ ω ×
= ω
j T
j j
j
j j
j
j T

ϕ [
o
]
ω [rad/s]
-180
-135
-90
-45
0
45
1 10 100 1000 10000 100000
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-2
151
) 1000 / ( tan ) 100 / ( tan ) 20 / ( tan 0 ) (
) 1000 / ( 1 log 20 ) 100 / ( 1 log 20
) 20 / ( 1 log 20 8 log 20 ) (
1 1 1
2 2
2
dB
ω − ω − ω + = ω ϕ
ω + − ω + −
ω + + = ω
− − −
j T

Komponen pertama dari tanggapan gain adalah 20log8 = 18 dB.
Komponen kedua memberikan perubahan gain +20 dB per dekade,
mulai pada ω = 20. Komponen ke-tiga memberikan perubahan −20
dB per dekade mulai pada ω = 100. Komponen ke-empat
memberikan perubahan −20 dB per dekade mulai pada ω = 1000.

Fungsi fasa adalah:
) 1000 / ( tan ) 100 / ( tan ) 20 / ( tan 0 ) (
1 1 1
ω − ω − ω + = ω ϕ
− − −

Pada ω = 1, ϕ(ω) ≈ 0. Komponen kedua memberikan perubahan fasa
+45
o
per dekade mulai dari ω = 2 sampai ω = 200. Komponen ketiga
memberikan perubahan fasa −45
o
per dekade mulai dari ω = 10
sampai ω = 1000. Komponen keempat memberi-kan perubahan fasa
−45
o
per dekade mulai dari ω = 100 sampai ω = 10000. Kurva
tanggapan fasa adalah seperti di bawah ini.
0
10
20
30
40
1 10 100 1000 10000 100000
ω [rad/s]
Gain
[dB]
18
+20dB/dek −20dB/dek
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-2
152 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)


Pemahaman :
Zero tetap berperan sebagai peningkat gain dan fasa. Zero riil
negatif meningkatkan gain dan fasa mulai pada frekuensi yang sama
dengan nilai zero.
7.3. Tinjauan Umum Bode Plot dari Rangkaian Yang Memiliki Pole
dan Zero Riil
Bode plots terutama bermanfaat jika pole dan zero bernilai riil, yaitu pole
dan zero yang dalam diagram pole-zero di bidang s terletak di sumbu riil
negatif. Dari contoh-contoh fungsi alih yang mengandung zero dan pole
riil yang telah kita bahas di atas, kita dapat membuat suatu ringkasan
mengenai kaitan antara pole dan zero yang dimiliki oleh suatu fungsi alih
dengan bentuk kurva gain dan kurva fasa pada Bode plots dengan
pendekatan garis lurus. Untuk itu kita lihat fungsi alih yang berbentuk
( )
( )( )
3 2
1
) (
α + α +
α +
=
s s
s Ks
s T (7.4)
yang akan memberikan
( )
( ) ( )
3 2
1
3 2
1
/ 1 / 1
/ 1
) (
α ω + α ω +
α ω + ω
α α
α
= ω
j j
j j K
j T
(7.5)
Dari (7.5) terlihat ada tiga macam faktor yang akan menentukan bentuk
kurva gain maupun kurva fasa. Ke-tiga faktor tersebut adalah:
ω [rad/s]
-135
-90
-45
0
45
1 10 100 1000 10000 100000
ϕ [
o
]
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-2
153
1. Faktor
3 2
1
0
α α
α
=
K
K yang disebut faktor skala. Kontribusi faktor
skala ini pada gain dan fasa berupa suatu nilai konstan, tidak
tergantung pada frekuensi. Kontribusinya pada gain sebesar 20log
|K
0
| akan bernilai positif jika |K
0
| > 1 dan bernilai negatif jika |K
0
| <
1. Kontribusinya pada sudut fasa adalah 0
o
jika K
0
> 0 dan 180
o
jika
K
0
< 0.
2. Faktor jω. Faktor ini berasal dari pole atau zero yang terletak di titik
(0,0) dalam diagram pole-zero di bidang s. Kontribusinya pada gain
adalah sebesar ± 20log(ω) dan kontribusinya untuk sudut fasa adalah
± 90
o
; tanda plus untuk zero dan tanda minus untuk pole. Jika fungsi
alih mengandung pole ataupun zero ganda (lebih dari satu) maka
kontribusinya pada gain adalah sebesar ± 20nlog(ω) dan pada sudut
fasa adalah ±n90
o
dengan n adalah jumlah pole atau zero. Dalam
pendekatan garis lurus, faktor ini memberikan perubahan gain
sebesar ±20n dB per dekade mulai pada ω = 1; tanda plus untuk zero
dan tanda minus untuk pole.
3. Faktor 1 + jω/α. Faktor ini berasal dari pole ataupun zero yang
terletak di sumbu riil negatif dalam diagram pole-zero di bidang s.
Faktor ini berkontribusi pada gain sebesar
|
¹
|

\
|
α ω + ±
2
) / ( 1 log 20 dan berkontribusi pada sudut fasa sebesar
) / ( tan
1
α ω ±

; tanda plus untuk zero dan tanda minus untuk pole.
Dalam pendekatan garis lurus, faktor ini memberikan perubahan
gain sebesar ±20dB per dekade mulai pada ω = α; untuk frekuensi di
bawahnya kontribusinya nol. Perubahan fasa yang dikontribusikan
adalah sebesar ±45
o
per dekade dalam selang frekuensi 0,1α < ω <
10α; di luar selang itu kontribusinya nol.
Koreksi-koreksi untuk memperoleh nilai yang lebih tepat, terutama di
sekitar titik belok, dapat kita lakukan dengan kembali pada formulasi
kontribusi pole ataupun zero pada gain yaitu sebesar
|
¹
|

\
|
α ω + ±
2
) / ( 1 log 20 . Nilai perubahan gain yang lebih tepat
diperoleh dengan memasukkan nilai ω yang kita maksudkan pada
formulasi tersebut sehingga kita akan memperoleh:
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-2
154 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

• perubahan gain di ω = α adalahsebesar
dB 3 ) / ( 1 log 20
2

|
¹
|

\
|
α α + ± .
• perubahan gain di ω = 2α adalah sebesar
dB 7 ) / 2 ( 1 log 20
2

|
¹
|

\
|
α α + ± .
• perubahan gain di ω = 0.5α adalah sebesar
dB 1 ) / 5 . 0 ( 1 log 20
2

|
¹
|

\
|
α α + ± .
7.4. Tinjauan Kualitatif Tanggapan Frekuensi di Bidang s
Pembahasan kuantitatif mengenai tanggapan frekuensi dari rangkaian
dengan fungsi alih yang mengandung pole riil di atas, telah cukup lanjut.
Berikut ini kita akan sedikit mundur dengan melakukan tinjauan secara
kualitatif mengenai tanggapan frekuensi ini, untuk kemudian
melanjutkan pembahasan tanggapan frekuensi rangkaian dari rangkaian
dengan fungsi alih yang mengandung pole kompleks konjugat.
Tinjaulah sistem orde-1 dengan fungsi alih yang mengandung pole riil
α +
=
s
K
s T ) (
Diagram pole-zero dari fungsi alih ini adalah seperti terlihat pada
Gb.7.5.a. Dari gambar ini kita dapatkan bahwa fungsi gain :
) (
| | | |
) (
2 2 ω
=
ω + α
=
α + ω
= ω
A
K K
j
K
j T (7.6)
dengan A(ω) adalah jarak antara pole dengan suatu nilai ω di sumbu
tegak. Makin besar ω akan makin besar nilai A(ω) sehingga |T(jω)| akan
semakin kecil.
Jika kita gambarkan kurva |T(jω)| terhadap ω dengan skala linier, kita
akan mendapatkan kurva seperti terlihat pada Gb.7.5.b. Akan tetapi jika
dalam penggambaran itu kita menggunakan skala logaritmis, baik untuk
absis maupun ordinatnya, kita akan mendapatkan kurva seperti terlihat
pada Gb.7.5.c. Inilah bentuk karakteristik low-pass gain dari rangkaian
orde satu yang telah kita kenal.
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-2
155


Gb.7.5. Diagram pole-zero sistem orde-1 dan kurva |T(jω)| terhadap ω
Kita lihat rangkaian orde-1 dengan fungsi alih yang mengandung zero di
(0,0)
α +
=
s
Ks
s T ) (
Fungsi gain adalah
) (
| | | |
) (
2 2 ω
ω
=
ω + α
ω
=
α + ω
ω
= ω
A
K K
j
Kj
j T (7.7)
Jika kita plot |T(jω)| terhadap ω dengan skala linier, kita akan
mendapatkan kurva seperti terlihat pada Gb.7.6.a. Akan tetapi jika kita
plot |T(jω)| terhadap ω dengan skala logaritmis, baik untuk absis maupun
ordinatnya, kita akan mendapatkan kurva seperti terlihat pada Gb.7.6.b.
Inilah bentuk karakteristik high-pass gain dari rangkaian orde satu yang
telah kita kenal.
σ

×
α
A(ω)
ω
(a)
0
low-pass gain|

0
12
0 500 1000
|T(jω)|
(b)
ω
0 500 10
3
(c)
ω
|T(jω)|
1
10
1 10 100 1000
1 10
10
2
10
3
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-2
156 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)


Gb.7.6. Diagram pole-zero sistem orde-1 dan kurva |T(jω)| terhadap ω.
Fungsi alih rangkaian orde-2 dengan fungsi transfer yang mengandung
dua pole riil, berbentuk
) ( ) (
) (
2 1
α + α +
=
s s
K
s T
Diagram pole-zero dari fungsi alih ini adalah seperti terlihat pada
Gb.7.6.a. Dari diagram ini terlihat bahwa fungsi gain dapat dituliskan
sebagai
) ( ) (
| |

| |

) ( ) (
| |
) (
2 1
2 2 2
1
2
2 1
ω × ω
=
α + ω α + ω
=
α + ω α + ω
= ω
A A
K
K
j j
K
j T
(7.8)
dengan A
1
(ω)dan A
2
(ω) adalah jarak masing-masing pole ke suatu nilai
ω. Dengan bertambahnya ω, A
1
(ω)dan A
2
(ω) bertambah secara
bersamaan. Situasi ini mirip dengan apa yang dibahas di atas, yaitu
bahwa |T(jω)| akan menurun dengan naiknya frekuensi; perbedaannya
adalah bahwa penurunan pada rangkaian orde-2 ini ditentukan oleh dua
faktor yang berasal dari dua pole. Dalam skala linier bentuk kurva
|T(jω)| adalah seperti Gb.7.7.b. Dalam skala logaritmik kita memperoleh
karakteristik low-pass gain seperti terlihat pada Gb.7.7.c. yang sudah
kita kenal.
high-pass gain|

1
10
100
1000
1 10 100 1000 10000
|T(jω)|
(b)
ω
1
10
2
10

10
3
10
4
0
12 24
36
48 60
72 84
96
108 120
132
144 156
168
180 192
204 216
228
240 252
264
276 288
300
312 324
336 348
360
372 384
396
408 420
432
444 456
468 480
492
504 516
528
540 552
564
576 588
600 612
624
636 648
660
672 684
696
708 720
732 744
756
768 780
792
804 816
828
840 852
864 876
888
900 912
924
936 948
960
972 984
996 1008
1020
1032 1044
1056
0 500 1000
ω
0 500
10
3
|T(jω)|
(a)
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-2
157



Gb.7.7. Diagram pole-zero sistem orde-2 dan kurva
|T(jω)| terhadap ω
Jika fungsi alih mengandung satu zero di (0,0) kurva |T(jω)| dengan
skala linier akan terlihat seperti Gb.7.8.a. dan jika dibuat dengan skala
logaritmik akan seperti Gb.7.8.b. yang telah kita kenal sebagai
karakteristik band-pass gain. Jika fungsi alih mengandung dua zero di
(0,0) kita memperoleh kurva |T(jω)| dalam skala linier seperti pada
Gb.7.9.a. dan jika digunakan skala logaritmik akan kita peroleh
karakteristik high-pass gain seperti Gb.7.9.b.

Gb.7.8. Diagram pole-zero sistem orde-2 dan kurva |T(jω)| terhadap ω
1
10
100
1 10 100 1000 10000
(b)
ω
|T(jω)|
1 10
10
2
10
3
10
4
band-pass gain|

0
12
24
36
48
60
72
84
96
0 2000 4000 6000 8000
|T(jω)|
ω
0 4000 8000

(a)
low-pass gain|

0
2
4
6
8
10
12
0 2000 4000 6000 8000
8000

4000 0
|T(jω)|
ω
(b)
1
10
1 10 100 1000 10000
|T(jω)|
1 10
2
10

10
3
10
4
(c)
× ×
α
1
α
2
A
1
(ω)
A
2
(ω)
ω



σ

0

(a)

Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-2
158 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)


Gb.7.9. Diagram pole-zero sistem orde-2 dan kurva |T(jω)| terhadap ω
Keadaan yang sangat berbeda terjadi pada rangkaian orde dua dengan
fungsi alih yang mengandung pole kompleks konjugat yang akan kita
lihat berikut ini.
7.5. Rangkaian Orde-2 Yang Memiliki Pole Kompleks Konjugat
Rangkaian orde ke-dua yang memiliki pole kompleks konjugat
dinyatakan oleh fungsi alih yang berbentuk
) ( ) (
) (
β − α + β + α +
=
j s j s
K
s T (7.9)
yang memberikan fungsi gain
) ( ) (
) ( ) (

) ( ) (
) (
2 1
2 2 2 2 ω × ω
=
α + β − ω × α + β + ω
=
β − α + ω β + α + ω
= ω
A A
K K
j j j j
K
j T

Gb.7.10. memperlihatkan diagram pole-zero rangkaian orde-2 dengan
fungsi alih yang mengandung pole kompleks konjugat dalam tiga
keadaan yaitu frekuensi ω
1
< ω
2
< ω
3
.
high-pass gain|

1
1000000
1 10 100 1000 10000
|T(jω)|
(b)
ω 1
10
2
10

10
3
10
4
0
200000
400000
600000
800000
1000000
1200000
0 2000 4000 6000 8000
ω
0
4000
|T(jω)|
(a)
8000
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-2
159

Gb.7.10. Diagram pole-zero sistem orde-2 dengan pole kompleks konju-
gat.
Dari Gb.7.10. terlihat bahwa peningkatan ω akan selalu diikuti oleh
bertambahnya nilai A
1
(ω). Akan tetapi tidak demikian halnya dengan
A
2
(ω). Pada awalnya peningkatan ω diikuti oleh turunnya nilai A
2
(ω)
sampai mencapai nilai minimum yaitu pada saat ω = ω
2
= β seperti pada
Gb.7.10.b. Setelah itu A
2
(ω) meningkat dengan meningkatnya ω.
Hasilnya adalah fungsi gain |T(jω)| meningkat pada awal peningkatan ω
sampai mencapai nilai maksimum dan kemudian menurun lagi. Puncak
tanggapan gain disebut resonansi.
Untuk mempelajari tanggapan frekuensi di sekitar frekuensi resonansi,
kita tuliskan fungsi alih rangkaian orde-2 dalam bentuk
c bs s
Ks
s T
+ +
=
2
) ( (7.10)
yang dapat kita tuliskan
c
b
c
s s
Ks
s T
2
dan
dengan

2
) (
2
0
2
0 0
2
= ζ = ω
ω + ζω +
=
(7.11)
Bentuk penulisan penyebut seperti pada (7.11) ini disebut bentuk
normal. ζ disebut rasio redaman dan ω
0
adalah frekuensi alami tanpa
redaman atau dengan singkat disebut frekuensi alami. Frekuensi alami
adalah frekuensi di mana rasio redaman ζ = 0.
Fungsi alih (7.11) dapat kita tuliskan
σ

×
A
1
(ω)
ω
2
0
×
A
2
(ω)
(b)
σ

×
A
1
(ω)
ω
3
0
×
A
2
(ω)
(c) (a)
σ

×
A
1
(ω)
ω
1
0
×
A
2
(ω)
α
β
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-2
160 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

( ) ( ) 1 / 2 /

2
) (
0
2
0
2
0
2
0 0
2
+ ω ζ + ω
×
ω
=
ω + ζω +
=
s s
s K
s s
Ks
s T
(7.12)
dan dari sini kita peroleh
( ) ( )
( ) ( ) ( )
( )
( )
2
0
0 1 o
2
0
2
2
0
2
0
0
2
0
2
0
/ 1
/ 2
tan 90 ) (

/ 2 / 1
) (
1 / 2 /
) (
ω ω −
ω ζω
− + θ = ω ϕ ⇒
ω ζω + ω ω −
ω
×
ω
= ω ⇒
+ ω ζω + ω ω −
ω
×
ω
= ω

K
K
j T
j
j K
j T
(7.13)
Fungsi gain dalam dB adalah
( ) ( ) ( )
2
0
2
2
0
2
0
dB
/ 2 / 1 log 20
log 20 log 20 ) (
ω ζω + ω ω − −
ω +
ω
= ω
K
j T
(7.14)
Rasio redaman akan mempengaruhi perubahan nilai gain oleh pole
seperti ditunjukkan oleh komponen ketiga dari fungsi gain ini.
Untuk frekuensi rendah komponen ketiga ini mendekati nilai
( ) ( ) ( ) 0 0 1 log 20 / 2 / 1 log 20
2
0
2
2
0
= + − ≈ ω ζω + ω ω − − (7.15)
Untuk frekuensi tinggi komponen ketiga mendekati
( ) ( ) ( )
( ) ( )
2
0
2 2
0 0
2
0
2
2
0
) / log( 20 2 / ) / log( 20
/ 2 / 1 log 20
ω ω − ≈ ζ + ω ω ω ω − ≈
ω ζω + ω ω − −
(7.16)
Pendekatan garis lurus untuk menggambarkan tanggapan gain
mengambil garis horizontal 0 dB untuk frekuensi rendah dan garis lurus
−20log(ω/ω
0
)
2
untuk frekuensi tinggi yang memberikan kemiringan −40
dB per dekade. Kedua garis ini berpotongan di ω = ω
0
yang merupakan
titik beloknya. Gb.7.11. memperlihatkan pengaruh nilai rasio redaman
pada tanggapan gain ini di sekitar titik belok.
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-2
161

Gb.7.11. Pengaruh rasio redamaan pada perubahan gain oleh pole.
Fungsi fasa adalah
( )
( )
2
0
0 1 o
/ 1
/ 2
tan 90 ) (
ω ω −
ω ζω
− + θ = ω ϕ

K
(7.17)
Untuk frekuensi rendah pengurangan fasa oleh pole mendekati nilai
( )
( )
( )
0
1
/ 2
tan
/ 1
/ 2
tan
0 1
2
0
0 1

ω ζω
− ≈
ω ω −
ω ζω

− −
(7.18)
dan untuk frekuensi tinggi mendekati
( )
( )
( )
( )
o
2
0
0 1
2
0
0 1
180
/
/ 2
tan
/ 1
/ 2
tan − ≈
ω ω −
ω ζω
− ≈
ω ω −
ω ζω

− −
(7.19)
Gb.7.12. memperlihatkan pengaruh rasio redaman terhadap perubahan
fasa yang disebabkan oleh pole.

Gb.7.12. Pengaruh rasio redaman pada perubahan fasa oleh pole.
-180
-135
-90
-45
0
10 100 1000 10000 100000
ϕ(ω) [
o
]
ω[rad/s]
ζ=0,05
ζ=0,1
ζ=0,5
ζ=1
pendekatan
linier
ω
0
-40
-20
0
20
100 1000 10000
dB
ω[rad/s]
ζ=1
ζ=0,1
ζ=0,5
ζ=0,05
pendekatan
linier
ω
0
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-2
162 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

CONTOH-7.5: Gambarkan tanggapan gain dan tanggapan fasa untuk
fungsi alih berikut ini dan selidiki pengaruh rasio redaman terhadap
tanggapan gain.
4 2
10 4 100
80000
) (
× + +
=
s s
s
s T
Solusi :
Kita tuliskan fungsi alih dengan penyebutnya dalam bentuk normal
menjadi
2 2
200 200 25 , 0 2
80000
) (
+ × × +
=
s s
s
s T . Dari sini kita peroleh
ω
0
= 200, dan ζ = 0,25.
( )
( )

) 200 / 2 ( ) 200 / ( 1
2
) (
1 200 / 2 ) 200 / (
2
) (

1 ) 200 / 2 ( 200 /
2
) (
2
2
2
2
2
ζω + ω −
ω
= ω ⇒
+ ζω + ω −
ω
= ω ⇒
+ ζ +
=
j T
j
j
j T
s s
s
s T

( ) ) 200 / 2 ( ) 200 / ( 1 log 20 log 20 2 log 20 ) (
2
2
2
dB
ζω + ω − − ω + = ω j T
Komponen pertama konstan 20log2 = −6 dB. Komponen kedua
memberikan penambahan gain 20 dB per dekade, mulai frekuensi
rendah. Pengurangan gain oleh komponen ketiga −40 dB per
dekade mulai pada ω = ω
0
.
Fungsi fasa adalah :
2000 20
o o o
| dek / 90 90 0 ) (
< ω <
− + = ω ϕ

-135
-90
-45
0
45
90
135
1
1
0
1
0
0
1
0
0
0
1
0
0
0
0
1
E
+
0
5
ϕ [
o
]
rad/s
-40
-20
0
20
40
60
1
1
0
1
0
0
1
0
0
0
1
0
0
0
0
1
E
+
0
5
rad/s
dB
Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-2
163
Soal-Soal
1. Tentukanlah tanggapan frekuensi dan tentukan gain tertinggi dan fre-
kuensi cutoff dari rangkaian di bawah ini.

2. Tentukanlah tanggapan frekuensi dan tentukan gain tertinggi dan fre-
kuensi cutoff dari rangkaian di bawah ini.

3. Tentukanlah tanggapan frekuensi dan tentukan gain tertinggi dan fre-
kuensi cutoff dari rangkaian-rangkaian di bawah ini.


4. Tentukanlah tanggapan frekuensi dan tentukan gain tertinggi dan fre-
kuensi cutoff dari hubungan bertingkat dengan tahap pertama rang-
kaian ke-dua dan tahap kedua rangkaian pertama.
5. Tentukanlah tanggapan frekuensi dan tentukan gain tertinggi dan fre-
kuensi cutoff dari hubungan bertingkat dengan tahap pertama rang-
kaian ke-tiga dan tahap ke-dua rangkaian pertama.
9kΩ
1kΩ
0,5H +
v
in


+
v
o


1µF
10kΩ
10kΩ
+
v
in


+
v
o


100kΩ

1µF

+
v
o


+

10kΩ

+
v
in

10kΩ

1µF

+
v
o

+


10kΩ

+
v
in

1kΩ
1kΩ
1H
0,5µF
+
v
in


+
v
o


Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde-2
164 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

6. Tentukanlah tanggapan frekuensi dari suatu rangkaian jika diketahui
tanggapannya terhadap sinyal anak tangga adalah sebagai seperti di
bawah ini. Tentukan gain tertinggi dan frekuensi cutoff.
( ) ) ( 5 1 ) ( b).
); ( ) ( a).
5000
5000
t u e t g
t u e t g
t
t


− =
− =

7. Ulangi soal 6 jika diketahui :
( )
( ) ) ( 2000 sin ) ( b).
) ( ) ( a).
1000
2000 1000
t u t e t g
t u e e t g
t
t t

− −
=
− =

8. Tentukanlah tanggapan frekuensi dari suatu rangkaian jika diketahui
tanggapannya terhadap sinyal impuls adalah seperti di bawah ini.
Tentukan gain tertinggi dan frekuensi cutoff.
) ( 2000 ) ( ) ( b).
) ( 1000 ) ( a).
1000
1000
t u e t t h
t u e t h
t
t


− δ =
− =

9. Gambarkan Bode plot (pendekatan garis lurus) jika diketahui fungsi
alihnya
) 1 5 . 0 )( 1 05 . 0 (
) 1 005 . 0 )( 1 5 (
10 ) (
+ +
+ +
=
s s
s s
s T
10. Gambarkan Bode plots (pendekatan garis lurus) jika diketahui fungsi
alihnya
) 1 4 . 0 )( 1 001 . 0 (
) 1 02 . 0 (
50 ) (
+ +
+
=
s s
s s
s T


Pengenalan Pada Sistem
165
BAB 8 Pengenalan Pada Sistem

Pengenalan pada sistem ini bertujuan agar kita
• memahami sinyal dalam pengertian yang lebih luas;
• memahami pengertian tentang sistem;
• mampu membangun diagram blok suatu sistem;
• mampu mereduksi diagram blok suatu sistem.

8.1. Sinyal
Di awal buku ini kita telah mempelajari bentuk gelombang sinyal yang
merupakan suatu persamaan yang menyatakan sinyal sebagai fungsi dari
waktu. Dalam analisis rangkaian listrik, sinyal-sinyal yang kita tangani
biasanya berupa tegangan ataupun arus listrik. Pengertian ini dapat kita
perluas menjadi suatu pengertian yang tidak hanya mencakup sinyal lis-
trik saja tetapi juga mencakup sinyal-sinyal non-listrik yang juga meru-
pakan fungsi waktu. Dengan perluasan pengertian ini maka kita mem-
punyai definisi untuk sinyal sebagai,
Sinyal adalah suatu fungsi yang menyatakan variasi terhadap
waktu dari suatu peubah fisik.
Fungsi yang kita tetapkan untuk menyatakan suatu sinyal kita sebut rep-
resentasi dari sinyal atau model sinyal dan proses penentuan representasi
sinyal itu kita sebut pemodelan sinyal. Suatu sinyal yang tergantung dari
peubah riil t dan yang memodelkan peubah fisik yang berevolusi dalam
waktu nyata disebut sinyal waktu kontinyu. Sinyal waktu kontinyu ditulis
sebagai suatu fungsi dengan peubah riil t seperti misalnya x(t). Sebagai-
mana telah disebutkan di awal buku ini, sinyal jenis inilah yang sedang
kita pelajari.
Untuk memberi contoh dari sinyal non-listrik, kita bayangkan suatu ben-
da yang mendapat gaya. Benda ini akan bergerak sesuai dengan arah
gaya., posisinya akan berubah dari waktu ke waktu. Dengan mengambil
suatu kooordinat referensi, perubahan posisi benda akan merupakan
fungsi waktu dan akan menjadi salah satu peubah fisik dari benda terse-
but dan merupakan suatu sinyal. Selain perubahan posisi, benda juga
Pengenalan Pada Sistem
166 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

mempunyai kecepatan yang juga merupakan fungsi dari waktu; kece-
patan juga merupakan suatu sinyal.
Jika posisi benda dalam contoh di atas merupakan suatu sinyal, apakah ia
dapat dijadikan suatu masukan (input) pada sebuah “rangkaian” ? Ba-
yangkanlah benda yang bergerak itu adalah sebuah pesawat terbang. Kita
ingin mengamatinya dengan menggunakan sebuah teropong, dan untuk
itu teropong kita arahkan pada pesawat. Setiap saat pesawat berubah po-
sisi, kedudukan teropong kita sesuaikan sedemikian rupa sehingga ba-
yangan pesawat selalu terlihat oleh kita melalui teropong. Kita katakan
bahwa posisi pesawat merupakan masukan pada kita untuk mengubah
arah teropong; dalam hal ini kita dan teropong menjadi sebuah “rang-
kaian”. Apakah dari “rangkaian” ini ada suatu keluaran (output)? Ke-
luaran dari “rangkaian” ini adalah berupa perubahan arah teropong. Je-
laslah bahwa ada hubungan tertentu antara arah teropong sebagai ke-
luaran dengan posisi pesawat sebagai masukan, dan hubungan keluaran-
masukan demikian ini sudah biasa kita lihat pada rangkaian listrik. Kalau
kita yang meneropong pesawat tersebut digantikan oleh sebuah mesin
penggerak otomatis dan teropong diganti dengan sebuah meriam, maka
jadilah sebuah “rangkaian” mesin penembak pesawat. Mesin penembak
ini dapat kita sebut sebagai suatu perangkat yang mampu menetapkan
arah meriam jika mendapatkan masukan mengenai posisi pesawat (istilah
“perangkat” di sini kita beri pengertian sebagai gabungan dari banyak
piranti untuk menjalankan fungsi tertentu). Dengan kata lain antara sin-
yal keluaran dengan sinyal masukan terdapat hubungan yang sepenuhnya
ditentukan oleh perilaku perangkat; hal ini berarti bahwa perangkat
“memiliki aturan” yang menetapkan bagaimana bentuk keluaran untuk
sesuatu masukan yang ia terima.
8.2. Sistem
Dengan contoh di atas, kita sampai pada pengertian mengenai sistem yai-
tu :
sistem merupakan aturan yang menetapkan sinyal keluaran
dari adanya sinyal masukan.
atau
sistem membangkitkan sinyal keluaran tertentu dari adanya
sinyal masukan tertentu.
Jika kita ingat mengenai pengertian elemen sebagai model piranti dalam
rangkaian listrik, maka sistem dapat dipandang sebagai model dari per-
Pengenalan Pada Sistem
167
angkat. Dengan demikian rangkaian-rangkaian listrik yang sudah pernah
kita pelajari, yang juga menetapkan hubungan antara keluaran dan masu-
kan, dapat kita pandang sebagai suatu sistem. Kalau rangkaian tersebut
merupakan bagian lain dari rangkaian (dalam hubungan kaskade misal-
nya) kita dapat memandangnya sebagai sub-sistem. Hubungan keluaran-
masukan dari suatu sistem dapat kita nyatakan sebagai
[ ] ) ( ) ( t x H t y = (8.1)
dengan y(t) sinyal keluaran dan x(t) sinyal masukan. Hubungan ini dapat
kita gambarkan dengan diagram berikut.

Perhatikanlah bahwa sistem didefinisikan menurut sinyal keluaran dan
masukannya. Jadi kita memandang sistem dari sudut pandang sinyal ma-
sukan dan keluaran. Selain dari pada itu, Gb.8.1. mempelihatkan bahwa
arah propagasi sinyal adalah sesuai dengan arah anak panah. Jadi sinyal
berasal dari masukan menuju ke keluaran. Penggambaran ini sesuai den-
gan definisi kita yaitu bahwa suatu sistem membangkitkan sinyal ke-
luaran dari sinyal masukan.
Suatu sistem dapat mempunyai satu masukan atau lebih; demikian juga
keluarannya bisa hanya satu atau lebih. Sistem dengan satu masukan dan
satu keluaran disebut single-input-single-output (SISO) system atau kita
terjemahkan dengan sistem masukan-tunggal-keluaran-tunggal (MTKT).
Jika masukan dan keluarannya lebih dari satu disebut multi-input-multi-
output (MIMO) system atau kita terjemahkan sistem masukan-ganda-
keluaran-ganda (MGKG).
8.3. Model Sistem
Pernyataan matematis secara eksplisit dari suatu sistem seperti pada (8.1)
disebut representasi sistem atau model sistem. Proses untuk memperoleh
model sistem kita sebut pemodelan sistem. Ada dua cara yang dapat
ditempuh untuk membangun model sistem. Cara pertama adalah
menurunkan langsung dari hukum-hukum fisika dan cara kedua adalah
melalui observasi empiris. Cara pertama dapat digunakan apabila proses-
proses fisiknya terdefinisi dengan jelas dan difahami. Model sistem yang
diturunkan haruslah cukup sederhana untuk keperluan analisis dan simu-
lasi.
H
sinyal
masukan
sinyal
keluaran
x(t)
y(t)
Gb.8.1. Diagram suatu sistem.
Pengenalan Pada Sistem
168 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

Cara kedua digunakan untuk sistem yang sangat kompleks dan sangat
sulit untuk dianalisis langsung, dan perilaku dinamiknya tidak difahami
secara baik. Untuk melakukan observasi empiris diperlukan sinyal
masukan yang harus dipilih secara cermat, dan sinyal keluarannya
diamati. Model sistem diperoleh dengan melakukan perhitungan balik
dari kedua sinyal tersebut. Pembangunan model sistem melalui cara
observasi sinyal masukan dan keluaran ini disebut identifikasi sistem.
Kita telah melihat bahwa ada empat macam cara untuk menyatakan
hubungan antara sinyal keluaran dan sinyal masukan, yaitu persamaan
diferensial, transformasi Laplace, konvolusi, dan transformasi Fourier.
Sejalan dengan itu, kita mengenal empat macam representasi sistem atau
model sistem sebagai berikut.
1. Persamaan Diferensial. Bentuk ini kita kenal misalnya sistem orde-2
) ( ) (
) ( ) (
2
2
t f t by
dt
t dy
a
dt
t y d
= + +
Bentuk umum dari model ini dinyatakan dalam persamaan diferensial
:
) ( ) ( ) (
) ( ) ( ) ( ) (
0
) 1 (
1
) (
0 1
) 1 (
1
) (
t x b t x b t x b
t y a t y a t y a t y
m
m
m
m
n
n
n
+ + +
= + + +




L
&
L

. ) 0 ( , ) 0 (
, , ) 0 ( , ) 0 (
0 1
2
) 2 (
1
) 1 (
y y y y
y y y y
n
n
n
n
= =
= =




&
L
(8.2)
Dalam (8.2) kita menganggap bahwa koefisien a
k
dan b
k
adalah bilan-
gan riil (konstan tidak tergantung waktu). Kita juga menganggap m ≤
n. Masukan sistem adalah x(t) dan keluarannya adalah y(t). Orde dari
persamaan diferensial ini adalah n.
Pengenalan Pada Sistem
169
2. Fungsi Alih Laplace
) ( ) (
) (
) (
0 1
1
1
0
1
1
s H s T
a s a s a s
b s b s b
s
s
n
n
n
m
m
m
m
= =
+ + + +
+ + +
=




L
L
X
Y
(8.3)
Di sini sinyal keluaran dan masukan dinyatakan di kawasan s, yaitu
Y(s) dan X(s). T(s) adalah fungsi alih Laplace, yang untuk selanjutnya
akan kita gunakan sebagai representasi sistem di bab ini dan kita
tuliskan sebagai H(s).
3. Integral Konvolusi



λ λ λ − =
0
) ( ) ( ) ( d x t h t y (8.4)
dengan { } ) ( ) (
1
s t h H

= L .
4. Fungsi Alih Fourier
) ( ) ( ) ( ω ω = ω X Y H (8.5)
dengan { } ) ( ) ( t h H F = ω adalah fungsi alih Fourier.
Untuk selanjutanya, kita akan menggunakan cara representasi sistem
yang ke-dua, yaitu menggunakan fungsi alih Laplace.
8.4. Diagram Blok
8.4.1. Penggambaran Sistem Dengan Diagram Blok
Diagram blok adalah representasi dari fungsi alih dengan menggunakan
gambar. Diagram blok sangat bermanfaat untuk menggambarkan
struktur sistem, terutama jika sistem tersusun dari banyak sub-sistem
(penjelasan pengertian sub-sistem akan diberikan kemudian).
Diagram ini juga bermanfaat untuk melakukan analisis sistem. Di sub-
bab ini kita mengambil model sistem dengan transformasi Laplace (di
kawasan s). Hubungan masukan- keluaran sistem akan berbentuk :
) ( ) ( ) ( atau ) (
) (
) (
s s H s s H
s
s
X Y
X
Y
= = (8.6)
Pengenalan Pada Sistem
170 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

Diagram blok dari sistem
ini adalah seperti terlihat
pada Gb.8.2. Diagram blok
seperti ini telah kita kenal
dalam analisis rangkaian
listrik. Hanya di sini kita mempunyai pengertian H(s) sebagai
representasi dari sistem. Diagram blok ini ekivalen dengan persamaan
aljabar (8.6). Jadi susunan diagram blok merupakan pernyataan operasi-
operasi matematis. Hal ini berbeda dengan Gb.8.1. yang hanya
merupakan diagram untuk memperjelas definisi tentang sistem.
Suatu sistem yang kompleks tersusun dari sistem-sistem yang lebih
sederhana. Diagram blok dapat kita gunakan untuk menyatakan
hubungan dari sistem-sistem yang lebih sederhana tersebut untuk
membentuk sistem yang kompleks. Diagram blok akan mempelihatkan
struktur dari sistem yang kompleks yaitu interkoneksi dari komponen-
komponen sistem. Lebih dari itu, diagram blok juga dapat dimanfaatkan
sebagai alat untuk melakukan perhitungan-perhitungan; fungsi alih
sistem diturunkan dari diagram blok yang tersusun dari banyak
komponen tersebut.
8.4.2. Hubungan-Hubungan Sistem
Berikut ini kita akan melihat hubungan-hubungan sederhana dari sistem
yang akan menjadi dasar bagi kita untuk memandang sistem yang lebih
kompleks. Kita akan meninjau dua sistem yaitu H
1
(s) dan H
2
(s). Untuk
menghubungkan dua sistem, atau dua blok, harus ada titik-titik hubung.
Titik Hubung. Ada dua macam titik hubung yang perlu kita perhatikan
yaitu titik pencabangan (pickoff point) dan titik penjumlahan. Titik
pencabangan adalah titik tempat terjadinya duplikasi sinyal; sinyal-sinyal
yang meninggalkan titik pencabangan sama dengan sinyal yang
memasuki titik pencabangan. Hal ini digambarkan pada Gb.8.3.a. Pada
titik penjumlahan, beberapa sinyal dijumlahkan. Sinyal yang keluar dari
titik penjumlahan adalah jumlah dari sinyal yang masuk ke titik
penjumlahan. Jika sinyal yang masuk bertanda “+” maka ia dijumlahkan
dan jika bertanda “−” ia dikurangkan. Untuk titik penjumlahan ini ada
konvensi, yaitu bahwa hanya ada satu sinyal saja yang meninggalkan
titik penjumlahan. Hal ini digambarkan pada Gb.8.3.b.
H(s)
X(s)
Y(s)
Gb.8.2. Diagram blok.
Pengenalan Pada Sistem
171

a). titik pencabangan b). titik penjumlahan
Gb.8.3. Titik-titik hubung.
Hubungan Kaskade atau Hubungan Seri. Hubungan seri antara dua
sistem terjadi jika keluaran dari sistem yang satu merupakan masukan
pada sistem berikutnya seperti terlihat pada Gb.8.4. Fungsi alih dari
hubungan kaskade, yang merupakan fungsi alih total, adalah hasil kali
dari fungsi alih sistem yang menyusunnya. Jadi hubungan kaskade sistem
H
1
(s) dan H
2
(s) dapat digantikan oleh satu sistem H
1
(s)H
2
(s). Hal ini
sesuai dengan kaidah rantai yang telah kita pelajari dalam analisis
rangkaian di kawasan s.

Gb.8.4. Hubungan seri
Hubungan Paralel. Hubungan paralel antara dua sistem terjadi jika
kedua sistem mendapat masukan yang sama sedangkan keluarannya
merupakan jumlah dari keluaran kedua sistem tersebut, seperti terlihat
pada Gb.8.4.b. Jadi hubungan paralel antara dua sistem H
1
(s) dan H
2
(s)
dapat digantikan oleh satu sistem dengan fungsi alih H
1
(s)+H
2
(s).

Gb. 8.5. Hubungan paralel.
Hubungan Umpan Balik. Pada hubungan umpan balik, keluaran dari
sistem pertama menjadi masukan pada sistem kedua dan keluaran sistem
kedua menjadi pengurang pada sinyal dari luar R(s); sinyal hasil
H
1
(s)
H
2
(s)
X(s)
Y(s)
+
+
H
1
(s)+H
2
(s)
Y(s)
X(s)
H
1
(s) H
2
(s)
X(s)
Y(s)
H
1
(s)H
2
(s)
Y(s)
X(s)
X(s) X(s)
X(s)
titik pencabangan
X
1
(s)−X
2
(s)+ X
3
(s)
X
1
(s)
X
2
(s)
X
3
(s)
+
+

Pengenalan Pada Sistem
172 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

pengurangan ini menjadi masukan pada sistem pertama. Hubungan ini
diperlihatkan pada Gb.8.6.

Gb.8.6. Hubungan umpan balik .
Dari diagram blok pada Gb.8.6. diperoleh persamaan berikut.
[ ]
[ ] ) ( ) ( ) ( ) ( ) (
) ( ) ( ) ( ) (
) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) (
2 1 1
2 1 1
2 1 1 1
s s H s H s s H
s s H s s H
s s s H s s H s
Y R
Y R
Y R X Y
− =
− =
− = =

[ ]
) ( ) ( 1
) (
) (
) (
) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) (
2 1
1
1 2 1
s H s H
s H
s
s
s s H s s H s H s
+
= ⇒
= + ⇒
R
Y
R Y Y

Dengan hubungan umpan balik seperti pada Gb.8.6. fungsi alih sistem
keseluruhan menjadi
) ( ) ( 1
) (
2 1
1
s H s H
s H
+

Fungsi alih H
1
(s) adalah fungsi alih dari suatu sistem yang disebut sistem
loop terbuka sedangkan
) ( ) ( 1
) (
2 1
1
s H s H
s H
+
adalah fungsi alih dari sistem
yang disebut sistem loop tertutup. Jika pada titik penjumlahan terdapat
tanda negatif pada jalur umpan balik maka sistem ini disebut sistem
dengan umpan balik negatif. Jika fungsi alih H
2
(s) = − 1 maka sistem
menjadi sistem dengan umpan balik negatif satu satuan.
Sub-Sistem. Jika kita memisahkan salah satu bagian dari diagram blok
suatu sistem yang tersusun dari banyak bagian dan bagian yang kita
pisahkan ini merupakan suatu sistem juga maka bagian ini kita sebut sub-
sistem. H
2
(s) dalam contoh hubungan paralel di atas merupakan salah
satu sub-sistem.
H
1
(s)
H
2
(s)
R(s) Y(s)
− −− −
+
X
1
(s)
X
2
(s)
Y
2
(s)
Y(s)
R(s)
) ( ) ( 1
) (
2 1
1
s H s H
s H
+

Pengenalan Pada Sistem
173
8.5. Pembentukan Diagram Blok
Berikut ini kita akan melihat contoh penggambaran diagram blok dan
penyederhanaan diagram blok. Sebagaimana telah disebutkan, walaupun
kita telah mengembangkan pengertian sistem akan tetapi dalam contoh-
contoh yang akan kita lihat di sini kita membatasi diri pada sistem listrik.
8.5.1. Diagram Blok Elemen Rangkaian
Definisi sistem menyatakan bahwa dari sinyal masukan tertentu suatu
sistem akan memberikan sinyal keluaran tertentu. Definisi ini dipenuhi
oleh elemen-elemen rangkaian seperti R, L, dan C, karena elemen-elemen
ini akan memberikan sinyal keluaran (tegangan atau arus) tertentu jika
diberi sinyal masukan (arus atau tegangan) tertentu yang kita kenal
sebagai karakteristik i-v dalam analisis rangkaian listrik. Jika sistem
dapat divisualisasikan menggunakan diagram blok, maka elemen-elemen
rangkaian listrik dapat pula digambarkan dengan diagram blok.
Resistor. Gb.8.7. memperlihatkan diagram blok dari resistor. Hubungan
tegangan-arus resistor adalah ) ( ) ( s R s I V = atau ) ( ) / 1 ( ) ( s R s V I = .
Kedua relasi memberikan diagram blok seperti ditunjukkan pada gambar.

Gb.8.7 Diagram blok resistor.
Kapasitor. Gb.8.8. memperlihatkan diagram blok dari kapasitor.
Hubungan tegangan-arus kapasitor adalah ) ( ) / 1 ( ) ( s sC s I V = atau
) ( ) ( ) ( s sC s V I = . Kedua relasi memberikan diagram blok seperti
ditunjukkan pada gambar.
R

I(s)
+
V(s)

R
1

I(s) V(s)
I(s)
V(s) R
Pengenalan Pada Sistem
174 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)


Gb.8.8. Diagram blok kapasitor.
Berbeda dengan resistor, kapasitor adalah elemen dinamik. Hubungan
yang pertama mengambil peubah status, yaitu tegangan kapasitor,
sebagai keluaran dan dapat ditulis sebagai ) ( ) / 1 )( / 1 ( ) ( s s C s I V = dan
diagram bloknya menjadi :
I(s)→ →→ →
C
1
→ →→ →
s
1
→ →→ →V(s)
Di kawasan t hubungan tersebut adalah

= idt C t v ) / 1 ( ) ( . Oleh karena
itu blok
s
1
disebut sebagai blok integrator.
Induktor. Gb.8.9. memperlihatkan diagram blok dari induktor.
Hubungan tegangan-arus induktor adalah ) ( ) ( ) ( s sL s I V = atau
) ( ) / 1 ( ) ( s sL s V I = . Kedua relasi memberikan diagram blok seperti
ditunjukkan pada gambar.

Gb.8.9. Diagram blok induktor.
Seperti halnya kapasitor, induktor adalah elemen dinamik. Hubungan
yang kedua mengambil peubah status, yaitu arus induktor, sebagai
keluaran dan dapat ditulis sebagai ) ( ) / 1 )( / 1 ( ) ( s s L s V I = . Dengan blok
integrator diagram bloknya menjadi :
I(s)
+
V(s)

sC
1

I(s)
V(s)
sC
1
I(s) V(s) sC
I(s)
+
V(s)

sL
I(s)
V(s)
sL
I(s)
V(s)
sL
1
Pengenalan Pada Sistem
175
V(s)→ →→ →
L
1
→ →→ →
s
1
→ →→ →I(s).
8.5.2. Pembentukan Diagram Blok
Dalam contoh-contoh berikut ini kita akan melihat bagaimana diagram
blok dibentuk. Kita menggabungkan pemahaman mengenai rangkaian
listrik dengan pemahaman hubungan-hubungan sistem.
CONTOH-8.1: Gambarkan diagram blok rangkaian-rangkaian berikut.

Solusi :
a). [ ]
(
¸
(

¸

− = − = =
1
2 1 2 2 2
) (
) ( ) ( ) ( ) ( ) (
R
s
s R s s R s R s
V
I I I I V
Diagram blok rangkaian ini adalah:

b). [ ]
(
¸
(

¸

− = − = =
1
1 2
) (
) ( ) ( ) ( ) ( ) (
R
s
s sL s s sL s sL s
V
I I I I V
Diagram blok rangkaian ini adalah:

R
2
I(s)
+
V(s)

R
1
I
2
(s)
I
1
(s)
(a)
I(s)
+
V(s)

R
1
I
2
(s)
I
1
(s)
sL
(b)
sC
1

I(s)
+
V(s)

R
1
I
2
(s)
I
1
(s)
(c)
sL

I(s)
V(s)
+

1
1
R


R
2
I(s)
V(s)
+

1
1
R


Pengenalan Pada Sistem
176 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

c). [ ]
(
¸
(

¸

− = − = =
1
1 2
) (
) (
1
) ( ) (
1
) (
1
) (
R
s
s
sC
s s
sC
s
sC
s
V
I I I I V
Diagram blok rangkaian ini adalah:

CONTOH-8.2: Gambarkan diagram blok rangkaian-rangkaian berikut.

Solusi :
a). [ ]
(
¸
(

¸

− = − = =
sL
s
s R s s R s R s
) (
) ( ) ( ) ( ) ( ) (
1 1 1 2 1
V
I I I I V
Diagram blok:

b). [ ] [ ] ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) (
1 1 1 2 1
s sC s R s s R s R s V I I I I V − = − = =
Diagram blok:

I(s)
V(s)
+


R
1
sC

I(s)
+
V(s)

R
1
I
2
(s)
I
1
(s)
sL
(a)
+
V(s)

sC
1

I(s)
R
1
I
2
(s)
I
1
(s)
(b)
sC
1
I(s)
V(s)
+


1
1
R
sL
1
I(s)
V(s)
+


R
1
Pengenalan Pada Sistem
177
Tegangan V(s) pada contoh 8.1.b. dan 8.1.c. haruslah identik dengan
tegangan pada contoh 8.2. karena tegangan ini adalah tegangan pada
hubungan paralel dari dua elemen. Walaupun demikian kita mendapatkan
diagram blok yang berbeda pada kedua contoh tersebut. Kita akan
menguji apakah kedua diagram blok tersebut identik dengan mencari
fungsi alih masing-masing. Untuk itu kita akan memanfaatkan formulasi
hubungan blok paralel.
Untuk rangkaian R-L paralel di kedua contoh tersebut di atas kita peroleh
:


Untuk rangkaian R-C paralel kita peroleh :

sC
1

I(s)
V(s)
+

1
1
R


) (
) (
) / 1 (
/
) / 1 )( / 1 ( 1
/ 1
) (
1
1
1
3
s
s
sC R
sC R
R sC
sC
s H
I
V
=
+
=
+
=
sL

I(s)
V(s)
+

1
1
R


) (
) (
) / 1 )( ( 1
) (
1
1
1
1
s
s
sL R
sLR
R sL
sL
s H
I
V
=
+
=
+
=
I(s)
V(s)
+


R
1
sL
1

) (
) (
) / 1 )( ( 1
) (
1
1
1
1
2
s
s
R sL
sLR
sL R
R
s H
I
V
=
+
=
+
=
Pengenalan Pada Sistem
178 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)


Fungsi alih dari kedua hubungan paralel terserbut ternyata sama yang
tidak lain adalah impedansi total rangkaian R-L dan R-C paralel. Jadi
diagram blok yang diperoleh pada kedua contoh di atas adalah identik.
CONTOH-8.3: Bangunlah diagram blok dari rangkaian listrik yang telah
ditransformasikan ke kawasan s di bawah ini.

Solusi :
Dalam membangun diagram blok rangkaian ini, kita akan
menempuh langkah-langkah yang kita mulai dari tegangan keluaran
dan mencari formulasinya secara berurut menuju ke arah masukan.
Tegangan V
o
(s) dapat dinyatakan sebagai ) (
5 2
s R I ataupun
(1/sC
2
) I
4
(s). Kita ambil yang kedua.
1. ) (
1
) (
4
2
o
s
sC
s I V =

2. ) (
1
) ( ) ( ) (
o
2
3 5 3 4
s
R
s s s V I I I I − = − =
2
1
sC

1
1
sC
R
2
+
V
o
(s)

R
1
sL
I
2
(s)
I
3
(s)
I
1
(s)
+
V
i
(s)

I
4
(s)
I
5
(s)
V
1
(s)
2
1
sC
I
4
(s) V
o
(s)
I(s)
V(s)
+


R
1
sC

) (
) (
) / 1 (
/
) )( ( 1
) (
1
1
1
1
4
s
s
R sC
sC R
sC R
R
s H
I
V
=
+
=
+
=
Pengenalan Pada Sistem
179

3. [ ] ) ( ) (
1
) (
o 1 3
s s
sL
s V V I − =

4. [ ] ) ( ) (
1
) (
1
) (
3 1
1
2
1
1
s s I
sC
s
sC
s I I V − = =

5. [ ] ) ( ) (
1
) (
1
1
1
s s
R
s
i
V V I − =

Pada langkah ke-5 ini terbentuklah diagram blok yang kita cari.
Walaupun diagram ini terlihat cukup rumit, tetapi sesungguhnya setiap
blok menggambarkan peran dari setiap elemen. Perhatikan pula bahwa
dalam diagram blok ini digunakan blok-blok integrator.
2
1
sC
V
o
(s)
2
1
R

I
3
(s)
− −− −
+
I
4
(s)
2
1
sC
V
o
(s)
2
1
R

V
1
(s)
− −− −
+
sL
1

− −− −
I
4
(s) I
3
(s)
2
1
sC

V
o
(s)
2
1
R
I
1
(s)
− −− −
+
sL
1
− −− −
I
4
(s)
I
3
(s)
1
1
sC
+
− −− −
V
1
(s)
2
1
sC
V
o

2
1
R
I
1
(s)
− −− −
+
sL
1
− −− −
I
4
(s)
I
3
(s)
1
1
sC
+
− −− −
V
1
(s)
1
1
R
V
i
(s)
+
− −− −
Pengenalan Pada Sistem
180 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

8.6. Reduksi Diagram Blok
Dalam Contoh-8.3 kita melihat bagaimana diagram blok dibentuk.
Diagram blok ini cukup panjang. Dengan menggunakan relasi-relasi
ekivalensi sistem terhubung seri dan paralel kita dapat menyederhanakan
diagram blok tersebut. Penyederhanaan diagram blok ini disebut reduksi
diagram blok. Karena diagram blok ekivalen dengan persamaan
rangkaian, maka penyederhanaan diagram blok akan menuju pada
diperolehnya fungsi alih.
Selain ekivalensi seri dan paralel, dalam melakukan reduksi diagram
blok kita memanfaatkan juga kaidah-kaidah pemindahan titik
pencabangan sebagai berikut.
Keluaran Y
2
(s) tidak akan berubah jika pemindahan titik
pencabangannya ke depan melampaui blok H(s) diikuti dengan
penambahan satu blok seri yang ekivalen dengan blok H(s).
Keluaran Y
3
(s) tidak akan berubah jika pemindahan titik
pencabangannya ke belakang melampauai blok H(s) diikuti
dengan penambahan satu blok seri 1/H(s).
Perhatikanlah Gb.8.10. Gambar b) diperoleh dengan jalan memindahkan
titik pencabangan di gambar a). Pencabangan keluaran Y
2
(s) di pindah ke
depan melewati blok H(s) dan pencabangan keluaran Y
3
(s) ke belakang
melewati blok H(s).

Gb.8.10. Pemindahan titik pencabangan.
X(s) H(s)
Y
2
(s)
Y
1
(s)
Y
3
(s)
X(s)
Y
2
(s)
Y
1
(s)
Y
3
(s)
) (
1
s H

H(s)
H(s)
a).
b).
Pengenalan Pada Sistem
181
CONTOH-8.4: Lakukanlah reduksi pada diagram blok berikut ini.

Solusi :
1. Hubungan paralel dari blok 1 dan
1

s
dapat digantikan
dengan
) / 1 )( 1 ( 1
/ 1
) (
1
s
s
s H
+
= =
1
1
+ s
sehingga diagram blok
menjadi:

2. Titik pencabangan A dapat dipindahkan ke belakang dan terjadi
hubungan seri
1

s
dan
1
1
+ s
yang dapat diganti dengan
) 1 (
1
+ s s
.
Diagram blok menjadi :

3. Umpan balik langsung dari V
o
(s) pada blok
) 1 (
1
+ s s
sama
dengan memparalel blok ini dengan blok 1 walaupun tidak
tergambarkan dalam diagram. Hubungan paralel ini dapat
diganti
V
o
(s)
− −− −
+
− −− −
V
i
(s)
+
− −− −
) 1 (
1
+ s s

s
1

2
s+1
V
o
(s)
− −− −
+
− −− −
+
− −− −
V
i
(s)
+
− −− −
1
s
1
s
1
s
1
2
V
o
(s
− −− −
+
− −− −
V
i
(s
+
− −− −
1
1
+ s

s
1
s
1
2
A
Pengenalan Pada Sistem
182 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

dengan
{ }
=
+ +
+
=
) 1 ( / 1 ) 1 ( 1
) 1 ( / 1
) (
2
s s
s s
s H
1 ) 1 (
1
+ + s s
.
Diagram blok menjadi

4. Titik pencabangan B dapat dipindahkan ke belakang yang akan
menyebabkan terjadinya hubungan seri antara blok

1

s
dan
1 ) 1 (
1
+ + s s
yang dapat diganti dengan
s s s + + ) 1 (
1
2

Diagram blok menjadi :



5. Selanjutnya 1 + s paralel dengan
s s s + + ) 1 (
1
2

=
+ + + +
+ +
=
) ) 1 ( ( ) 1 ( 1
) ) 1 ( ( 1
) (
2
2
3
s s s s
s s s
s H
) 1 ( ) ) 1 ( (
1
2
+ + + + s s s s
=
1 2
1
2 3
+ + + s s s

V
o
(s)
+
− −− −
V
i
(s)
+
− −− −
1 ) 1 (
1
+ + s s

s
1

2
s+1
B
V
o
(s)
+
− −− −
V
i
(s)
+
− −− −
s s s + + ) 1 (
1
2

2
s+1
1 ) 1 ( + + s s
Pengenalan Pada Sistem
183
dan H
3
(s) seri dengan 2 sehingga diagram blok menjadi :

6. Diagram blok paralel terakhir ini memberikan
3 4 3
2
) 1 2 /( ) 1 ( 2 1
) 1 2 /( 2
) (
2 3 2 3 2
2 3
4
+ + +
=
+ + + + + +
+ + +
=
s s s s s s s s
s s s
s H
dan diagram blok menjadi

Reduksi diagram blok pada akhirnya akan memberikan fungsi alih
dari sistem yaitu H
4
(s).
8.7. Sub-Sistem Statis dan Dinamis
Perhatikanlah bahwa dalam diagram blok yang diperoleh pada contoh
8.3. terdapat blok-blok yang berisi nilai konstan dan ada yang berisi
fungsi s atau lebih tepat blok yang menggambarkan fungsi alih bernilai
konstan dan blok yang menggambarkan fungsi alih yang merupakan
fungsi dari peubah Laplace s. Blok yang berisi nilai konstan berasal dari
elemen statis resistor, dan yang berisi fungsi s berasal dari elemen
dinamik C ataupun L. Suatu sub-sistem disebut dinamis jika fungsi
transfernya merupakan fungsi peubah Laplace s. Jika fungsi alihnya
bernilai konstan (gain kontan) maka sub-sistem itu disebut statis.
8.8. Diagram Blok Integrator
Suatu diagram blok yang seluruh blok-blok dinamisnya berupa blok
integrator disebut diagram blok integrator. Sebagaimana telah dibahas,
blok integrator berasal dari elemen dinamik apabila kita mengambil
peubah status sebagai keluaran. Untuk kapasitor ) ( ) / 1 )( / 1 ( ) ( s s C s I V =
dan untuk induktor ) ( ) / 1 )( / 1 ( ) ( s s L s V I = .
V
o
(s)
V
i
(s)
3 4 3
2
2 3
+ + + s s s

V
o
(s)
V
i
(s)
+
− −− −
1 2
2
2 3
+ + + s s s

1 ) 1 ( + + s s
Pengenalan Pada Sistem
184 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

Pembentukan diagram blok integrator dari suatu fungsi alih dapat
dilakukan karena fungsi alih H(s) yang berbentuk rasio polinomial dapat
kita uraikan menjadi suku-suku :
) ( ) ( ) (

) ( ) )( (
) ( ) )( (
) (
2
2
1
1
2 1
2 1
n
n
n
m
p s
k
p s
k
p s
k
p s p s p s
z s z s z s
K s H

+ +

+

=
− − −
− − −
=
L
L
L

Hal ini telah kita lihat pada waktu kita membahas transformasi Laplace.
Selanjutnya, setiap suku dari fungsi alih H(s) yang berbentuk
b s
a
+

dapat ditulis sebagai
) / 1 ( 1
) / 1 (
s b
s b
b
a
+
|
¹
|

\
|
yang diagram bloknya merupakan
hubungan seri antara blok statis
b
a
dengan blok berumpan balik
s
1

yang jalur umpan-balik-nya berisi blok statis b . Dengan demikian
maka diagram blok dari H(s) dapat dibuat hanya terdiri dari blok statis
dan blok integrator saja.

Pengenalan Pada Sistem
185
Soal-Soal
1. Susunlah diagram blok dari rangkaian-rangkaian berikut, lakukan
reduksi diagram blok, tentukan fungsi alihnya.
a). b).
c). e).
f).
g).
2. Lakukan reduksi diagram blok dan carilah fungsi alih dari diagram
blok berikut.
a).
b).

1

s

1

s

+
X(s)
Y(s)
ω
2
10
1

s
X (s)
Y(s)
+
− −− −
k
+
+
+
v
o


i
in
2µF
1kΩ 5mH
+
v
o


i
in
1µF
1kΩ
1kΩ
0.1H
v
in
+
v
o


+

1kΩ
1kΩ
1µF
1kΩ
100m
+
v
in


10Ω
10Ω
1H
+
v
o


+

1µF
10µ
F
5kΩ
10k

1kΩ
1kΩ
+
v
o


v
in
v
in
+
v
o


+

1µF
1kΩ 1kΩ
1µF
Pengenalan Pada Sistem
186 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

c).
c).
d).
e).


1

s
+
X(s)
Y(s)
4

− −− −

1

s
+
+
− −− −
+
+
− −− −
5


1

s

1

s

1

s
+
X(s)
Y(s)
3

− −− −
+
+
− −− −
+

1

s
+
4

− −− −

1

s

1

s
+
X(s)
Y(s)
3

− −− −
4


1

s
+
+
− −− −
+
+
X(s)
Y(s)
2 + s
− −− − 1
1

+ s

Sistem dan Persamaan Ruang Status
187
BAB 9 Sistem Dan Persamaan Ruang Status

Persamaan ruang status (state space equations) atau representasi
ruang keadaan (state space reprentation) merupakan satu alternatif
untuk menyatakan sistem dalam bentuk persamaan diferensial.
Persamaan ini dapat diturunkan dari diagram blok integrator.
9.1. Blok Integrator dan Blok Statis
Kita lihat lebih dulu blok integrator X(s)→
1

s
→Y(s) yang
menunjukkan hubungan ) (
1
) ( s
s
s X Y = . Hubungan ini di kawasan t
adalah

= ) ( ) ( t x t y yang dapat kita tuliskan sebagai ) ( ) ( t y t x
&
=
Hubungan terakhir di kawasan t ini dapat kita baca sebagai : sinyal
masukan adalah turunan dari sinyal keluaran.
Sekarang blok
1

s
kita pandang sebagai integrator dan bukan sebagai
gambaran dari fungsi alih 1/s. Dengan pandangan ini maka jika keluaran
integrator adalah q(t) masukannya adalah ) (t q
&
. Kita dapat
menggambarkan hubungan keluaran dan masukan di kawasan t dari
integrator sebagai
) (t q
&

1

s
→ ) (t q
Perhatikan: Secara teknis penggambaran di atas tidak benar.
Akan tetapi kita harus mengartikan gambar tersebut sebagai
diagram sub-sistem yang mempunyai sinyal masukan ) (t q
&
dan
sinyal keluarannya q(t) dan bukan q(t) sama dengan (1/s) kali
) (t q
&
.
Sistem dan Persamaan Ruang Status
188 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

Berbeda dengan blok integrator, blok statis X(s)→ a →Y(s)
memberikan hubungan ) ( ) ( s a s X Y = yang di kawasan t memberikan
hubungan
) ( ) ( t ax t y =
Jadi kita dapat menggambarkan hubungan ) ( ) ( t ax t y = dengan
menggunakan blok statis, yaitu
x(t)→ a →y(t).
9.2. Diagram Blok Integrator, Sinyal Sebagai Fungsi t
Berikut ini kita akan melihat contoh suatu diagram blok integrator yang
sinyal masukan dan keluaran dari setiap integrator dinyatakan sebagai
fungsi t.
CONTOH-9.1: Dalam diagram blok di bawah ini nyatakanlah sinyal
masukan dan keluaran pada setiap blok integrator sebagai fungsi t.

Solusi :
Dalam diagram blok ini terdapat dua blok integrator. Jika sinyal
masukan setiap blok integrator adalah ) (t q
i
&
dan sinyal keluarannya
adalah q
i
(t) maka diagram blok di atas dapat kita gambarkan seperti
di bawah ini, di mana masukan dua blok integrator adalah
) (
1
t q
&
dan ) (
2
t q
&

sedangkan keluarannya adalah
q
1
(t) dan q
2
(t).
Y(s)
− −− −
+
− −− −
a
s
1

s
1

b
c
X(s)
d
+
Sistem dan Persamaan Ruang Status
189
Dengan diagram ini keluaran sistem adalah
) ( ) ( ) (
2
t dx t q t y + = .

9.3. Membangun Persamaan Ruang Status
Dari diagram blok di atas, kita dapat memperoleh satu set persamaan di
kawasan t yang akan memberikan hubungan antara sinyal masukan dan
sinyal keluaran sistem, yaitu x(t) dan y(t). Dengan perkataan lain kita
dapat memperoleh persamaan sistem di kawasan t. Set persamaan
tersebut kita peroleh dengan memperhatikan masukan blok-blok
integrator, dan keluaran sistem. Dalam contoh ini set persamaan tersebut
adalah :
) ( ) ( ) (
) ( ) ( ) (
) ( ) ( ) (
2
2 1 2
2 1
t dx t q t y
t aq t q t q
t cx t bq t q
+ =
− =
+ − =
&
&
(9.1)
Dengan cara ini set persamaan yang kita peroleh, yaitu persamaan (9.1),
akan terdiri dari dua kelompok. Kelompok pertama adalah persamaan
yang ruas kirinya berisi ) (t q
&
, yang merupakan masukan blok integrator,
dan kelompok kedua adalah yang ruas kirinya berisi y(t), yaitu keluaran
sistem. Kelompok pertama dapat kita tuliskan dalam bentuk matriks
) (
0
1
) (
) (

1
0
) (
) (
2
1
2
1
t x
t q
t q
a
b
t q
t q
(
¸
(

¸

+
(
¸
(

¸

(
¸
(

¸



=
(
¸
(

¸

&
&
(9.2)
) ( ) ( ) (
2
t dx t q t y + =
) (
1
t q
&

) (
1
t q
− −− −
+
− −− −
a
s
1

s
1

) (
2
t q
&
) (
2
t q
+ +
b
c
) (t x
d
+
+
) (t y
Sistem dan Persamaan Ruang Status
190 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

Dengan mendefinisikan vektor
(
¸
(

¸

=
) (
) (
2
1
t q
t q
q
&
&
&
r
dan
(
¸
(

¸

=
) (
) (
2
1
t q
t q
q
r
maka
(9.2) dapat kita tuliskan
[ ] [ ] ) (
0
1
) (
1
0
) ( t x t q
a
b
t q
(
¸
(

¸

+
(
¸
(

¸



=
r
&
r
(9.3)
Kelompok kedua dari (9.1) adalah ) ( ) ( ) (
2
t dx t q t y + = dan dengan
definisi untuk vektor q(t) maka ia dapat kita tuliskan dalam bentuk
matriks
[ ][ ] [ ] ) ( ) ( 1 0 ) ( t x d t q t y + =
r
(9.4)
Dengan demikian maka set persamaan (9.1) dapat kita tuliskan sebagai
[ ] [ ]
[ ][ ] [ ] ) ( ) ( 1 0 ) (
) (
0
1
) (
1
0
) (
t x d t q t y
t x t q
a
b
t q
+ =
(
¸
(

¸

+
(
¸
(

¸



=
r
r
&
r
(9.5)
Secara umum bentuk persamaan (9.5) dapat kita tulis sebagai
[ ] [ ][ ] [ ]
[ ][ ] [ ] ) ( ) ( ) (
) ( ) ( ) (
t x D t q C t y
t x B t q A t q
+ =
+ =
r
r
&
r
(9.6)
Set persamaan (9.6) ini disebut representasi ruang status dari sistem.
Sebutan lain dari representasi ini adalah model ruang status atau juga
persamaan peubah status atau persamaan ruang status.
CONTOH-9.2: Carilah representasi ruang status dari sistem berikut.

2
q
&

2
q
1
q
&

− −− −
3
q
3
q
&

1
q
+
− −− −
c
3
s
1

s
1

) (t y
+
+
a
1
) (t x
b
+
+
ω
2
a
2
+
s
1

c
2
d
Sistem dan Persamaan Ruang Status
191
Solusi:
Dari diagram blok di atas, masukan blok-blok integrator dan
keluaran sistem memberi kita persamaan berikut.
) ( ) (
) (
) (
2 2 3 3
1 3
2 2 2
3
2
1 1
t dx q c q c t y
q q
bq t x a q
q t x a q
+ + =
=
− =
ω − =
&
&
&

Persamaan ini kita tuliskan dalam bentuk matriks, menjadi
[ ] [ ] ) (
) (
) (
) (
0 ) (
) (
0 ) (
) (
) (

0 0 1
0 0
0 0
) (
) (
) (
) (
3
2
1
3 2
2
1
3
2
1
2
3
2
1
t x d
t q
t q
t q
c c t y
t x a
a
t q
t q
t q
b
t q
t q
t q
t q
+
(
(
(
¸
(

¸

=
(
(
(
¸
(

¸

+
(
(
(
¸
(

¸

(
(
(
(
¸
(

¸


ω −
=
(
(
(
¸
(

¸

=
&
&
&
&
r

Inilah representasi ruang status dari sistem yang kita cari
9.4. Membangun Diagram Blok dari Persamaan Ruang Status
Melalui contoh berikut ini kita akan melihat bagaimana diagram blok
dari suatu sistem dapat dibangun jika persamaan ruang statusnya
diketahui.
CONTOH 9.3: Bangunlah diagram blok sistem yang persamaan ruang
statusnya adalah sebagai berikut.
[ ] ) ( ) (

1
0
0
) (
) (
) (
1 0 0
0 1 0
) (
3 2 1
3
2
1
3 2 1
t q b b b t y
x(t)
t q
t q
t q
a a a
t q
r
&
r
=
(
(
(
¸
(

¸

+
(
(
(
¸
(

¸

(
(
(
¸
(

¸

− − −
=

Solusi :
Langkah pertama adalah melakukan pengembangan dari persamaan
yang diketahui sehingga diperoleh set persamaan berikut.
Sistem dan Persamaan Ruang Status
192 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

) ( ) ( ) ( ) (
) ( ) ( ) ( ) ( ) (
) ( ) (
) ( ) (
3 3 2 2 1 1
3 3 2 2 1 1 3
3 2
2 1
t q b t q b t q b t y
t x t q a t q a t q a t q
t q t q
t q t q
+ + =
+ − − − =
=
=
&
&
&

Langkah berikutnya adalah menggambarkan blok-blok integrator
dengan masukan dan keluaran masing-masing. Langkah ini
memberikan diagram blok integrator sebagai berikut

Langkah berikutnya adalah melakukan penghubungan blok-blok ini
sesuai dengan persamaan yang diketahui, yaitu
persamaan ) ( ) (
2 1
t q t q = & berarti bahwa masukan blok
integrator nomer-1 adalah keluaran dari blok integrator
nomer-2.
persamaan ) ( ) (
3 2
t q t q =
&
berarti masukan blok
integrator nomer-2 adalah keluaran blok integratir
nomer-3. Kita mendapatkan hubungan:

Selanjutnya kita membuat pencabangan-pencabangan dan
penjumlahan dengan blok-blok statis, sesuai dengan persamaan
yang diketahui, yaitu
) ( ) ( ) ( ) ( ) (
3 3 2 2 1 1 3
t x t q a t q a t q a t q + − − − =
&

Hasil yang kita peroleh adalah:
3
q
&

2
q
1
q
&

1
q
s
1

2
q
&

s
1

3
q
s
1

2
q
2
q
&

s
1

3
q
3
q
&

s
1

1
q
&

1
q
s
1

Sistem dan Persamaan Ruang Status
193

Satu persamaan lagi yang harus kita penuhi, yaitu persamaan
keluaran
) ( ) ( ) ( ) (
3 3 2 2 1 1
t q b t q b t q b t y + + =
Dengan pencabangan dan penjumlahan persamaan ini kita penuhi.


− −− −

a
2
) (t x
a
3
3
q
&

2
q
1
q
&

1
q
s
1

2
q
&

s
1

3
q
s
1

a
1
− −− −
− −− −
+
− −− −

a
2
) (t x
a
3
3
q
&

2
q
1
q
&

1
q
s
1

2
q
&

s
1

3
q
s
1

a
1
− −− −
− −− −
+
b
1
b
2
b
3
+
+
+
) (t y
Sistem dan Persamaan Ruang Status
194 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

Soal-Soal
1. Carilah persamaan ruang status dari sistem-sistem dengan diagram
blok di bawah ini.
a).
b).
c).
d).
10
1

s
X (s)
Y(s)
+
− −− −
k
+
+

1

s

1

s

+
X(s)
Y(s)
ω
2
+
X(s)
Y(s)
2 + s
− −− −

1
1

+ s


1

s

1

s

+
X(s)
Y(s)
3

− −− −
4


1

s

+
+
− −− −
+
Sistem dan Persamaan Ruang Status
195
e).
f).
2. Gambarkan diagram blok dari sistem dengan persamaan status berikut
ini.
a).
[ ] ) ( 10 ) ( 0 0 9 ) (
) (
5
3
) (
4 6 0
5 3 7
0 1 2
) (
t x t q t y
t x t q t q
+ =
(
¸
(

¸

+
(
(
(
¸
(

¸

=
r
r
&
r

b).
[ ] ) ( 5 ) ( 0 0 5 ) (
) (
0
1
0
) (
0 0 2
1 0 4
2 0 0
) (
t x t q t y
t x t q t q
+ =
(
(
(
¸
(

¸

+
(
(
(
¸
(

¸

− =
r
r
&
r


1

s
+
X(s)
Y(s)
3

− −− −
+
+
− −− −
+

1

s
+
4

− −− −
X(s)

1

s
+
Y(s)
4

− −− −

1

s
+
+
− −− −
+
+
− −− −
5


1

s

1

s
Sistem dan Persamaan Ruang Status
196 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

c).
[ ] ) ( 1 1 ) (
) (
1
1
) ( ) (
t q t y
t x t q t q
r
r
&
r
=
(
¸
(

¸

+
(
¸
(

¸

σ − ω −
ω σ −
=

d).
[ ] ) ( 0 1 ) (
) (
1
0
) (
2
1 0
) (
2
t q t y
t x t q t q
r
r
&
r
=
(
¸
(

¸

+
(
¸
(

¸

ζω − ω −
=


e).
[ ] ) ( 1 0 ) (
) (
1
0
) (
2
1 0
) (
2
t q t y
t x t q t q
r
r
&
r
=
(
¸
(

¸

+
(
¸
(

¸

ζω − ω −
=


Transformasi Fourier
197
BAB 10 Transformasi Fourier
Kita telah mempelajari tanggapan frekuensi dari suatu rangkaian.
Analisis dengan menggunakan transformasi Fourier yang akan kita
pelajari berikut ini akan memperluas pemahaman kita mengenai
tanggapan frekuensi, baik mengenai perilaku sinyal itu sendiri mau-
puan rangkaiannya. Selain dari pada itu, pada rangkaian-rangkaian
tertentu dijumpai keadaan dimana model sinyal dan piranti tidak
dapat dinyatakan melalui transformasi Laplace akan tetapi dapat
dilakukan melalui transformasi Fourier. Topik-topik yang akan kita
bahas meliputi: deret Fourier, transformasi Fourier, sifat-sifat trans-
formasi Fourier, dan analisis rangkaian menggunakan transformasi
Fourier. Dalam bab ini kita mempelajari tiga hal yang pertama, se-
dangkan hal yang terakhir akan kita pelajari di bab berikutnya.
Dengan mempelajari deret dan transformasi Fourier kita akan
• memahami deret Fourier.
• mampu menguraikan bentuk gelombang periodik men-
jadi deret Fourier.
• mampu menentukan spektrum bentuk gelombang
periodik.
• memahami transformasi Fourier.
• mampu mencari transformasi Fourier dari suatu
fungsi t.
• mampu mencari transformasi balik dari suatu trans-
formasi Fourier.
10.1. Deret Fourier
10.1.1. Koefisien Fourier
Kita telah melihat bahwa sinyal periodik dapat diuraikan menjadi
spektrum sinyal. Penguraian suatu sinyal periodik menjadi suatu
spektrum sinyal tidak lain adalah pernyataan fungsi periodik ke-
dalam deret Fourier. Jika f(t) adalah fungsi periodik yang memenuhi
persyaratan Dirichlet, maka f(t) dapat dinyatakan sebagai deret Fou-
rier :
Transformasi Fourier
198 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

[ ]


=
ω + ω + =
1
0 0 0
) sin( ) cos( ) (
n
n n
t n b t n a a t f (10.1)
yang dapat kita tuliskan sebagai (lihat sub-bab 3.2)
( )


=
(
¸
(

¸

θ − ω + + =
1
0
2 2
0
) cos( ) (
n
n n n
t n b a a t f (10.2)
Koefisien Fourier a
0
, a
n
, dan b
n
ditentukan dengan hubungan berikut.






> ω =
> ω =
=
2 /
2 /
0
0
2 /
2 /
0
0
2 /
2 /
0
0
0
0
0
0
0
0
0 ; ) sin( ) (
2
0 ; ) cos( ) (
2
) (
1
T
T
n
T
T
n
T
T
n dt t n t f
T
b
n dt t n t f
T
a
dt t f
T
a
(10.3)
Hubungan (10.3) dapat diperoleh dari (10.1). Misalkan kita mencari
a
n
: kita kalikan (10.1) dengan cos(kω
o
t) kemudian kita integrasikan
antara −T
o
/2 sampai T
o
/2 dan kita akan memperoleh



∫ ∫

=


− −
(
(
(
(
¸
(

¸

ω ω +
ω ω
+
ω = ω
1
2 /
2 /
o 0
2 /
2 /
o 0
2 /
2 /
o 0
2 /
2 /
o
o
o
o
o
o
o
o
o
) cos( ) sin(
) cos( ) cos(

) cos( ) cos( ) (
n
T
T
n
T
T
n
T
T
T
T
dt t k t n b
dt t k t n a
dt t k a dt t k t f

Dengan menggunakan kesamaan tigonometri
) sin(
2
1
) sin(
2
1
sin cos
) cos(
2
1
) cos(
2
1
cos cos
β + α + β − α = β α
β + α + β − α = β α

maka persamaan di atas menjadi
Transformasi Fourier
199
( )
( )



∫ ∫

=


− −
(
(
(
(
¸
(

¸

ω + + ω − +
ω + + ω −
+
ω = ω
1
2 /
2 /
o 0
2 /
2 /
o 0
2 /
2 /
o 0
2 /
2 /
o
o
o
o
o
o
o
o
o
) ) sin(( ) ) sin((
2
) ) cos(( ) ) cos((
2

) cos( ) cos( ) (
n
T
T
n
T
T
n
T
T
T
T
dtdt t k n t k n
b
dt t k n t k n
a
dt t k a dt t k t f

Karena integral untuk satu perioda dari fungsi sinus adalah nol, maka
semua integral di ruas kanan persamaan ini bernilai nol kecuali satu
yaitu
( ) k n
a
dt t k n
a
n
T
T
n
= = ω −


jika terjadi yang
2
) ) cos((
2
2 /
2 /
0
o
o

oleh karena itu


ω =
2 /
2 /
0
o
o
o
) cos( ) (
2
T
T
n
dt t n t f
T
a
Pada bentuk-bentuk gelombang yang sering kita temui, banyak dian-
tara koefisien-koefisien Fourier yang bernilai nol. Keadaan ini diten-
tukan oleh kesimetrisan fungsi f(t) yang pernah kita pelajari di Bab-
3; kita akan melihatnya sekali lagi dalam urain berikut ini.
10.1.2. Kesimetrisan Fungsi
Simetri Genap. Suatu fungsi dikatakan mempunyai simetri genap
jika f(t) = f(−t). Salah satu contoh fungsi yang memiliki simetri ge-
nap adalah fungsi cosinus, cos(ωt) = cos(−ωt). Untuk fungsi se-
macam ini, dari (10.1) kita dapatkan
[ ]
[ ]



=

=
ω − ω + = −
ω + ω + =
1
0 0 0
1
0 0 0
) sin( ) cos( ) (
dan ) sin( ) cos( ) (
n
n n
n
n n
t n b t n a a t f
t n b t n a a t f

Kalau kedua fungsi ini harus sama, maka haruslah b
n
= 0, dan f(t)
menjadi
[ ]


=
ω + =
1
0 o
) cos( ) (
n
n
t n a a t f (10.4)
Transformasi Fourier
200 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

CONTOH-10.1: Tentukan
deret Fourier dari bentuk
gelombang deretan pulsa
berikut ini.

Solusi :
Bentuk gelombang ini memiliki simetri genap, amplitudo A,
perioda T
o
, lebar pulsa T.
(
(
¸
(

¸

|
|
¹
|

\
|
π
π
=
(
(
¸
(

¸

|
|
¹
|

\
|
π
π
=
ω
ω
= ω =
= = = =






o o
2 /
2 /
o
o o
2 /
2 /
o
o
o
2 /
2
o
2 /
2 /
o
o
sin
2
sin 2
sin
2
) cos(
2
; 0 ;
1
T
T n
n
A
T
T n
n
A
t n
n T
A
dt t n A
T
a
b
T
AT
T
At
Adt
T
a
T
T
T
T
n
n
T
T/
T
T

Untuk n = 2, 4, 6, …. (genap), a
n
= 0; a
n
hanya mempunyai
nilai untuk n = 1, 3, 5, …. (ganjil).
( ) ) cos( 1
2

) cos( sin
2
) (
o
, 1
2 / ) 1 (
o
o
, 1
o o
t n
n
A
T
AT
t n
T
T n
n
A
T
AT
t f
ganjil n
n
ganjil n
ω −
π
+ =
ω
(
(
¸
(

¸

|
|
¹
|

\
|
π
π
+ =



=


=

Pemahaman :
Pada bentuk gelombang yang memiliki simetri genap, b
n
= 0.
Oleh karena itu sudut fasa harmonisa tanθ
n
= b
n
/a
n
= 0 yang be-
rarti θ
n
= 0
o
.
Simetri Ganjil. Suatu fungsi dikatakan mempunyai simetri ganjil
jika f(t) = −f(−t). Contoh fungsi yang memiliki simetri ganjil adalah
fungsi sinus, sin(ωt) = −sin(−ωt). Untuk fungsi semacam ini, dari
(10.1) kita dapatkan
[ ]


=
ω + ω − + − = − −
1
0 0 0
) sin( ) cos( ) (
n
n n
t n b t n a a t f
−T/2 0 T/2
v(t)
A
T
T
o
Transformasi Fourier
201
Kalau fungsi ini harus sama dengan
[ ]


=
ω + ω + =
1
0 0 0
) sin( ) cos( ) (
n
n n
t n b t n a a t f
maka haruslah
[ ] ) sin( ) ( 0 dan 0
1
0 0


=
ω = ⇒ = =
n
n n
t n b t f a a (10.5)
CONTOH-10.2: Carilah deret Fou-
rier dari bentuk gelombang
persegi di samping ini.
Solusi:
Bentuk gelombang ini memiliki
simetri ganjil, amplitudo A,
perioda T
o
= T. rioda T
o
= T.
; 0 ; 0
o
= =
n
a a

( ) ) cos( 2 ) ( cos 1
) cos( ) cos(
2

) sin( ) sin(
2
2
2 /
o
2 /
0
o
o
2 /
o
2 /
0
o
π − π +
π
=
|
¹
|

\
|
ω + ω −
ω
=
|
|
¹
|

\
|
ω − + ω =
∫ ∫
n n
n
A
t n t n
Tn
A
dt t n A dt t n A
T
b
T
T
T
T
T
T
n

Untuk n ganjil cos(nπ) = −1 sedangkan untuk n genap cos(nπ)
= 1. Dengan demikian maka
( )
( ) genap untuk 0 2 1 1
ganjil untuk
4
2 1 1
n
n
A
b
n
n
A
n
A
b
n
n
= − +
π
=
π
= + +
π
=


=
ω
π
= ⇒
ganjil n
t n
n
A
t v
, 1
o
) sin(
4
) (
Pemahaman:
Pada bentuk gelombang dengan semetri ganjil, a
n
= 0. Oleh ka-
rena itu sudut fasa harmonisa tanθ
n
= b
n
/a
n
= ∞ atau θ
n
= 90
o
.
v(t)
t
T

A

−A

Transformasi Fourier
202 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

Simetri Setengah Gelombang. Suatu fungsi dikatakan mempunyai
simetri setengah gelombang jika f(t) = −f(t−T
o
/2). Fungsi dengan
sifat ini tidak berubah bentuk dan nilainya jika diinversi kemudian
digeser setengah perioda. Fungsi sinus(ωt) misalnya, jika kita kita
inversikan kemudian kita geser sebesar π akan kembali menjadi
sinus(ωt). Demikain pula halnya dengan fungsi-fungsi cosinus,
gelombang persegi, dan gelombang segitiga.
[ ]
[ ]



=

=
ω − − ω − − + − =
π − ω − π − ω − + − = − −
1
0 0 0
1
0 0 0 o
) sin( ) 1 ( ) cos( ) 1 (
)) ( sin( )) ( cos( ) 2 / (
n
n
n
n
n
n
n n
t n b t n a a
t n b t n a a T t f

Kalau fungsi ini harus sama dengan
[ ]


=
ω + ω + =
1
0 0 0
) sin( ) cos( ) (
n
n n
t n b t n a a t f
maka haruslah a
o
= 0 dan n harus ganjil. Hal ini berarti bahwa
fungsi ini hanya mempunyai harmonisa ganjil saja.
10.1.3. Deret Fourier Bentuk Eksponensial
Deret Fourier dalam bentuk seperti (10.1) sering disebut sebagai
bentuk sinus-cosinus. Bentuk ini dapat kita ubah kedalam cosinus
(bentuk sinyal standar) seperti (10.2). Sekarang bentuk (10.2) akan
kita ubah ke dalam bentuk eksponensial dengan menggunakan
hubungan
2
cos
α − α
+
= α
j j
e e
.
Dengan menggunakan relasi ini maka (10.2) akan menjadi
Transformasi Fourier
203
( )
∑ ∑



=
θ − ω −

=
θ − ω

=
θ − ω − θ − ω

=
(
(
(
¸
(

¸

+
+
(
(
(
¸
(

¸

+
+ =
(
(
¸
(

¸

+
+ + =
(
¸
(

¸

θ − ω + + =
1
) (
2 2
1
) (
2 2
0
1
) ( ) (
2 2
0
1
0
2 2
0
0 0
0 0
2 2

2

) cos( ) (
n
t n j n n
n
t n j n n
n
t n j t n j
n n
n
n n n
n n
n n
e
b a
e
b a
a
e e
b a a
t n b a a t f
(10.6)
Suku ketiga (10.6) adalah penjumlahan dari n = 1 sampai n =∞. Jika
penjumlahan ini kita ubah mulai dari n = −1 sampai n = −∞, dengan
penyesuaian a
n
menjadi a
−n
, b
n
menjadi b
−n
, dan θ
n
menjadi θ
−n
,
maka menurut (10.3) perubahan ini berakibat
tan
) sin( ) (
2
) sin( ) (
2
) cos( ) (
2
) cos( ) (
2
2 /
2 /
0
0
2 /
2 /
0
0
2 /
2 /
0
0
2 /
2 /
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
n n
n
n
n
n
n
T
T
T
T
n
n
T
T
T
T
n
a
b
a
b
b dt t n t f
T
dt t n t f
T
b
a dt t n t f
T
dt t n t f
T
a
θ − = θ ⇒

= = θ
− = ω − = ω − =
= ω = ω − =




− −

− −

∫ ∫
∫ ∫
(10.7)
Dengan (10.7) ini maka (10.6) menjadi
∑ ∑
∞ −
− =
θ − ω

=
θ − ω
(
(
¸
(

¸

+
+
(
(
¸
(

¸

+
=
1
) (
2 2
0
) (
2 2
0 0
2 2
) (
n
t n j n n
n
t n j n n
n n
e
b a
e
b a
t f
(10.8)
Suku pertama dari (10.8) merupakan penjumlahan yang kita mulai
dari n = 0 untuk memasukkan a
0
sebagai salah satu suku
penjumlahan ini. Dengan cara ini maka (10.8) dapat ditulis menjadi

∑ ∑
∞ +
−∞ =
ω
∞ +
−∞ =
ω θ −
=
|
|
|
¹
|

\
|
+
=
n
t n j
n
t n j j n n
e c e e
b a
t f
n
) (
n
) (
2 2
0 0

2
) ( (10.9)
Inilah bentuk eksponensial deret Fourier, dengan c
n
adalah koefisien
Fourier yang mungkin berupa besaran kompleks.
Transformasi Fourier
204 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

2 2
2 2
n n j n n
n
jb a
e
b a
c

=
+
=
θ −
(10.10)
0 jika tan ; 0 jika tan
dengan dan
2
1
n
1
n
2 2
>
|
|
¹
|

\
|
= θ <
|
|
¹
|

\
|

= θ
θ = ∠
+
=
− −
n
n
n
n
n
n
n n
n n
n
a
a
b
a
a
b
c
b a
c
(10.11)
Jika a
n
dan b
n
pada (10.3) kita masukkan ke (10.10) akan kita
dapatkan


ω −
=

=
2 /
2 /
0
0
0
) (
1
2
T
T
t jn
n n
n
dt e t f
T
jb a
c
n
(10.12)
dan dengan (10.12) ini maka (10.9) menjadi



+∞
−∞ =
ω

ω −
+∞
−∞ =
ω
|
|
¹
|

\
|
= =
n
t n j
T
T
t jn
n
t n j
e dt e t f
T
e c t f
) (
2 /
2 /
0
) (
n
0
0
0
o 0
) (
1
) (
(10.13)
Persamaan (10.11) menunjukkan bahwa 2|c
n
| adalah amplitudo dari
harmonisa ke-n dan sudut fasa harmonisa ke-n ini adalah ∠c
n
.
Persamaan (10.10) ataupun (10.12) dapat kita pandang sebagai
pengubahan sinyal periodik f(t) menjadi suatu spektrum yang terdiri
dari spektrum amplitudo dan spektrum sudut fasa seperti telah kita
kenal di Bab-1. Persamaan (10.9) ataupun (10.13) memberikan f(t)
apabila komposisi harmonisanya c
n
diketahui. Persamaan (10.12)
menjadi cikal bakal transformasi Fourier, sedangkan persamaan
(10.13) adalah transformasi baliknya.
CONTOH-10.3: Carilah koefisien Fourier c
n
dari fungsi pada con-
toh-10.1.
Solusi :
( ) 2 / sin
2


1
o
o o
2 / 2 /
o o
2 /
2 /
o o
2 /
2 /
o
o o
o
o
T n
T n
A
j
e e
T n
A
jn
e
T
A
dt e A
T
c
T jn T jn
T
T
t jn
T
T
t jn
n
ω
ω
=
|
|
¹
|

\
|

ω
=
|
|
¹
|

\
|
ω −
= =
ω − ω

ω −

ω −


Transformasi Fourier
205
10.2. Transformasi Fourier
10.2.1. Spektrum Kontinyu
Deret Fourier, yang koefisiennya diberikan oleh (10.12) hanya ber-
laku untuk sinyal periodik. Sinyal-sinyal aperiodik seperti sinyal
eksponensial dan sinyal anak tangga tidak dapat direpresentasikan
dengan deret Fourier. Untuk menangani sinyal-sinyal demikian ini
kita memerlukan transformasi Fourier dan konsep spektrum konti-
nyu. Sinyal aperiodik dipandang sebagai sinyal periodik dengan pe-
rioda tak-hingga.
Jika diingat bahwa ω
0
= 2π/T
0
, maka (10.13) menjadi





−∞ =
ω

ω −

−∞ =
ω

ω −
ω
|
|
¹
|

\
|
π
=
|
|
¹
|

\
|
=
n
t jn
T
T
t jn
n
t jn
T
T
t jn
e dt e t f
e dt e t f
T
t f
0
0
0
0
0
0
0
0
) (
2
1

) (
1
) (
0
2 /
2 /
2 /
2 /
0
(10.14)
Kita lihat sekarang apa yang terjadi jika perioda T
0
diperbesar. Ka-
rena ω
0
= 2π/T
0
maka jika T
0
makin besar, ω
0
akan makin kecil. Be-
da frekuensi antara dua harmonisa yang berturutan, yaitu
0
0 0 0
2
) 1 (
T
n n
π
= ω = ω − ω + = ω ∆
juga akan makin kecil yang berarti untuk suatu selang frekuensi ter-
tentu jumlah harmonisa semakin banyak. Oleh karena itu jika pe-
rioda sinyal T
0
diperbesar menuju ∞ maka spektrum sinyal menjadi
spektrum kontinyu, ∆ω menjadi dω (pertambahan frekuensi infini-
tisimal), dan nω
0
menjadi peubah kontinyu ω. Penjumlahan pada
(10.14) menjadi integral. Jadi dengan membuat T
0
→ ∞ maka
(10.14) menjadi
∫ ∫ ∫

∞ −
ω

∞ −
ω

∞ −
ω −
ω ω
π
= ω
|
|
¹
|

\
|
π
= d e F d e dt e t f t f
t j t j t j
) (
2
1
) (
2
1
) (
(10.15)
dengan F(ω) merupakan sebuah fungsi frekuensi yang baru,
sedemikian rupa sehingga
Transformasi Fourier
206 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)



∞ −
ω −
= ω dt e t f
t j
) ( ) ( F (10.16)
dan F(ω) inilah transformasi Fourier dari f(t), yang ditulis dengan
notasi
[ ] ) ( ) ( ω = F t f F
Proses transformasi balik dapat kita lakukan melalui persamaan
(10.15).
) ( ) (
1
ω =

F t f
CONTOH-10.4: Carilah transformasi
Fourier dari bentuk gelombang pulsa
di samping ini.
Solusi :
Bentuk gelombang ini adalah aperio-
dik yang hanya mempunyai nilai antara −T/2 dan +T/2, sedang-
kan untuk t yang lain nilainya nol. Oleh karena itu integrasi yang
diminta oleh (10.16) cukup dilakukan antara −T/2 dan +T/2 saja.
2 /
) 2 / sin(

2 2 /
) (
2 / 2 /
2 /
2 /
2 /
2 /
T
T
AT
j
e e A
e
j
A
dt e A
T j T j
T
T
t j
T
T
t j
ω
ω
=
(
(
¸
(

¸


ω
=
ω
− = = ω
ω − ω

ω −

ω −

F

Kita bandingkan transformasi Fourier (10.16)


∞ −
ω −
= ω dt e t f
t j
) ( ) ( F
dengan koefisien Fourier


ω −
=

=
2 /
2 /
0
0
0
) (
1
2
T
T
t jn n n
n
dt e t f
T
jb a
c
n

(10.17)

Koefisien Fourier c
n
merupakan spektrum sinyal periodik dengan
perioda T
0
yang terdiri dari spektrum amplitudo |c
n
| dan spektrum
sudut fasa ∠c
n
, dan keduanya merupakan spektrum garis (tidak kon-
−T/2 0 T/2
v(t)
A
Transformasi Fourier
207
tinyu, memiliki nilai pada frekuensi-frekuensi tertentu yang diskrit).
Sementara itu transformasi Fourier F(ω) diperoleh dengan mengem-
bangkan perioda sinyal menjadi tak-hingga guna mencakup sinyal
aperiodik yang kita anggap sebagai sinyal periodik yang periodenya
tak-hingga. Faktor 1/T
0
pada c
n
dikeluarkan untuk memperoleh F(ω)
yang merupakan spektrum kontinyu, baik spektrum amplitudo
|F(jω)| maupun spektrum sudut fasa ∠ F(ω).
CONTOH-10.5: Gambarkan spektrum amplitudo dari sinyal pada
contoh 10.4.
Solusi :
Spektrum amplitudo sin-
yal aperiodik ini meru-
pakan spektrum konti-
nyu |F(jω)|.
2 /
) 2 / sin(
) (
T
T
AT
ω
ω
= ω F

Pemahaman:
Sinyal ini mempunyai simetri genap. Sudut fasa harmonisa ada-
lah nol sehingga spektrum sudut fasa tidak digambarkan. Per-
hatikan pula bahwa |F(ω)| mempunyai spektrum di dua sisi, ω
positif maupun negatif; nilai nol terjadi jika sin(ωT/2)=0 yaitu
pada ω = ±2kπ/T (k = 1,2,3,…); nilai maksimum terjadi pada ω
= 0, yaitu pada waktu nilai sin(ωT/2)/(ωT/2) = 1.
CONTOH-10.6: Carilah transformasi Fourier dari f(t) = [A e
−αt
] u(t)
dan gambarkan spektrum amplitudo dan fasanya.
Solusi :
-5
0
|F(ω)|

T
π −2
T
π −4
T
π −6
T
π 2
T
π 4
T
π 6 0 ω
Transformasi Fourier
208 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

0 untuk
) ( ) (
0
) (
0
) (
> α
ω + α
=
ω + α
− =
= = ω

ω + α −

ω + α −

∞ −
ω − α −
∫ ∫
j
A
j
e
A
dt Ae dt e t u Ae
t j
t j t j t
F

α
ω
− = ω ∠ = ω θ ⇒
ω + α
= ω ⇒
−1
2 2
tan ) ( ) (
| |
) (
j F
A
F


Pemahaman:
Untuk α < 0, tidak ada transformasi Fourier-nya karena inte-
grasi menjadi tidak konvergen.
10.3. Transformasi Balik
Pada transformasi Fourier transformasi balik sering dilakukan den-
gan mengaplikasikan relasi formalnya yaitu persamaan (10.15). Hal
ini dapat dimengerti karena aplikasi formula tersebut relatif mudah
dilakukan
CONTOH-10.7: Carilah f(t) dari
) ( 2 ) ( ω πδ = ω F
Solusi
1 ) 1 )( (
) ( 2
2
1
) ( 2
2
1
) (
0
0
= ω ω δ =
ω ω πδ
π
= ω ω πδ
π
=

∫ ∫
+

+

α
α
ω

∞ −
ω
d
d e d e t f
t j t j

+90
o
−90
o
θ(ω)
90
|F(ω)
|
ω
A/α
25
Transformasi Fourier
209
Pemahaman :
Fungsi 2πδ(ω) adalah fungsi di kawasan frekuensi yang hanya
mempunyai nilai di ω=0 sebesar 2π. Oleh karena itu e
jωt
juga
hanya mempunyai nilai di ω=0 sebesar e
j0t
=1. Karena fungsi
hanya mempunyai nilai di ω=0 maka integral dari −∞ sampai
+∞ cukup dilakukan dari 0

sampai 0
+
, yaitu sedikit di bawah
dan di atas ω=0. Contoh ini menunjukkan bahwa transformasi
Fourier dari sinyal searah beramplitudo 1 adalah 2πδ(ω).
CONTOH-10.8: Carilah f(t) dari
) ( 2 ) ( α − ω πδ = ω j F

Solusi :
t j t j
t j t j
e d e
d e d e t f
α
α
α
α
α
α
ω

∞ −
ω
= ω α − ω δ =
ω α − ω πδ
π
= ω α − ω πδ
π
=

∫ ∫
+

+

) (
) ( 2
2
1
) ( 2
2
1
) (

Pemahaman :
Fungsi 2πδ(ω−α) adalah fungsi di kawasan frekuensi yang han-
ya mempunyai nilai di ω=α sebesar 2π. Oleh karena itu e
jωt
juga
hanya mempunyai nilai di ω=α sebesar e
jαt
. Karena fungsi hanya
mempunyai nilai di ω=α maka integral dari −∞ sampai +∞ cu-
kup dilakukan dari α

sampai α
+
, yaitu sedikit di bawah dan di
atas ω=α.
CONTOH-10.9: Carilah f(t) dari
[ ] ) ( ) ( ) ( α − ω − α + ω
α
π
= ω u u
A
F

Solusi :
Transformasi Fourier
210 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

[ ]
[ ]
t
t
A
j
e e
t
A
jt
e e A
jt
e A
d e
A
d e u u
A
t f
t j t j t j t j
t j
t j
t j
α
α
=

α
=

α
=
α
= ω
α
π
π
=
ω α − ω − α + ω
α
π
π
=
α − α α − α
α
α −
ω

∞ −
ω

∞ −
ω


) sin(

2 2

2
1
2
1

) ( ) (
2
1
) (

Pemahaman:
Dalam soal ini F(ω) mempunyai nilai pada selang −α<ω<+α
oleh karena itu e
jωt
juga mempunyai nilai pada selang frekuensi
ini juga; dengan demikian integrasi cukup dilakukan antara −α
dan +α.
Hasil transformasi balik f(t) dinyatakan dalam bentuk sin(x)/x
yang bernilai 1 jika x→0 dan bernilai 0 jika x→∞. Jadi f(t) men-
capai nilai maksimum pada t = 0 dan menuju nol jika t menuju
∞ baik ke arah positif maupun negatif. Kurva F(ω) dan f(t) di-
gambarkan di bawah ini.

10.2.3. Dari Transformasi Laplace ke Transformasi Fourier
Untuk beberapa sinyal, terdapat hubungan sederhana antara trans-
formasi Fourier dan transformasi Laplace. Sebagaimana kita ketahui,
transformasi Laplace didefinisikan melalui (6.1) sebagai



=
0
) ( ) ( dt e t f s
st
F (10.18)
F(ω)
ω
+β −β 0
f(t)
A
t
Transformasi Fourier
211
dengan s = σ + jω adalah peubah frekuensi kompleks. Batas bawah
integrasi adalah nol, artinya fungsi f(t) haruslah kausal. Jika f(t) me-
menuhi persyaratan Dirichlet maka integrasi tersebut di atas akan
tetap konvergen jika σ = 0, dan formulasi transformasi Laplace ini
menjadi


ω −
=
0
) ( ) ( dt e t f s
t j
F (10.19)
Sementara itu untuk sinyal kausal integrasi transformasi Fourier cu-
kup dilakukan dari nol, sehingga transformasi Fourier untuk sinyal
kausal menjadi


ω −
= ω
0
) ( ) ( dt e t f
t j
F (10.20)
Bentuk (10.20) sama benar dengan (10.19), sehingga kita dapat sim-
pulkan bahwa
0
) ( ) (
berlaku integrasi - di dapat dan kausal ) ( sinyal untuk
= σ
= ω s
t f
F F
(10.21)
Persyaratan “dapat di-integrasi” pada hubungan (10.21) dapat dipe-
nuhi jika f(t) mempunyai durasi yang terbatas atau cepat menurun
menuju nol sehingga integrasi |f(t)| dari t=0 ke t=∞ konvergen. Ini
berarti bahwa pole-pole dari F(s) harus berada di sebelah kiri sumbu
imajiner. Jika persyaratan-persyaratan tersebut di atas dipenuhi, pen-
carian transformasi balik dari F(ω) dapat pula dilakukan dengan
metoda transformasi balik Laplace.
CONTOH-10.10: Dengan menggunakan metoda transformasi La-
place carilah transformasi Fourier dari fungsi-fungsi berikut
(anggap α, β > 0).
[ ] ) ( sin ) ( c)
) ( ) ( b).
) ( ) ( a).
3
2
1
t u t e A t f
t t f
t u e A t f
t
t
β =
δ =
=
α −
α −

Solusi:
Transformasi Fourier
212 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

α + ω
= ω →
α − = →
α +
= →
→ =
α −
j
p
s
A
s F
t u Ae t f
t
1
) (
imag) sumbu kiri (di pole ) (
integrasi - di dapat dan kausal fungsi ) ( ) ( a).
1
1
F
1 ) ( 1 ) (
integrasi - di dapat dan kausal fungsi ) ( ) ( b).
2
= ω → = →
→ δ =
F s F
t t f

[ ]
αω + ω − β + α
=
β + α + ω
= ω →
β ± α − = →
β + α +
= →
→ β =
α −
2 ) (
) (
im) sumbu kiri (di pole
) (
) (
integrasi - di dapat kausal, fungsi ) ( sin ) ( c).
2 2 2 2 2
2 2
3
j
a
j
A
j p
s
A
s
t u t e A t f
t
F
F

CONTOH-10.11: Carilah f(t) dari
) 4 )( 3 (
10
) (
+ ω + ω
= ω
j j
F
Solusi :
Jika kita ganti jω dengan s kita dapatkan
) 4 )( 3 (
10
) (
+ +
=
s s
s F
Pole dari fungsi ini adalah p
1
= −3 dan p
2
= −4, keduanya di se-
belah kiri sumbu imajiner.
4
10
3
10
) (
10
3
10
; 10
4
10


4 3 ) 4 )( 3 (
10
) (
4
2
3
1
2 1
+

+
= ⇒
− =
+
= =
+
= →
+
+
+
=
+ +
=
− = − =
s s
s
s
k
s
k
s
k
s
k
s s
s
s s
F
F

Transformasi balik dari F(ω) adalah :
[ ] ) ( 10 10 ) (
4 3
t u e e t f
t t − −
− =
Transformasi Fourier
213
10.4. Sifat-Sifat Transformasi Fourier
10.4.1. Kelinieran
Seperti halnya transformasi Laplace, sifat utama transformasi Fourier
adalah kelinieran.
[ ] [ ]
[ ] ) ( ) ( ) (
2
) (
1
: maka
) ( ) ( dan ) ( ) ( : Jika
2 1
2 1
ω + ω = +
ω = ω =
F F
F F
B A t Bf t Af
t f t f
F
F F
2 1
(10.22)
CONTOH-10.12: Carilah transformasi Fourier dari v(t) = cosβt.
Solusi:
Fungsi ini adalah non-kausal; oleh karena itu metoda transfor-
masi Laplace tidak dapat di terapkan. Fungsi cosinus ini kita tu-
liskan dalam bentuk eksponensial.
[ ] [ ] [ ]
t j t j
t j t j
e e
e e
β − β
β − β
+ =
(
(
¸
(

¸

+
= β F F F F t cos
2
1
2
1
2

Dari contoh 10.8. kita ketahui bahwa ) ( 2 β − ω πδ =
(
¸
(

¸
ωt j
e F
Jadi [ ] ) ( ) ( β + ω πδ + β − ω πδ = βt cos F
10.4.2. Diferensiasi
Sifat ini dinyatakan sebagai berikut
) (
) (
ω ω =
(
¸
(

¸

F j
dt
t df
F (10.23)
Persamaan (10.15) menyatakan
( )
) (
) (
) (
2
1

) (
2
1
) (
2
1 ) (
) (
2
1
) (
ω ω =
(
¸
(

¸


ω ω ω
π
=
(
¸
(

¸

ω ω
π
=
|
|
¹
|

\
|
ω ω
π
= →
ω ω
π
=

∫ ∫


∞ −
ω

∞ −
ω

∞ −
ω

∞ −
ω
F j
dt
t df
d e F j
d e F
dt
d
d e F
dt
d
dt
t df
d e F t f
t j
t j t j
t j
F

Transformasi Fourier
214 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

10.4.3. Integrasi
Sifat ini dinyatakan sebagai berikut.
) ( ) 0 (
) (
) ( ω δ π +
ω
ω
=
(
¸
(

¸


∞ −
F
F
j
dx x f
t
F (10.24)
Suku kedua ruas kanan (10.24) merupakan komponen searah jika
sekiranya ada. Faktor F(0) terkait dengan f(t); jika ω diganti dengan
nol akan kita dapatkan


∞ −
= dt t f ) ( ) 0 ( F
CONTOH-10.13: Carilah transformasi Fourier dari f(t) = Au(t).
Solusi:
Metoda transformasi Laplace tidak dapat diterapkan untuk
fungsi anak tangga. Dari contoh (10.10.b) kita dapatkan bahwa
[ ] 1 ) ( = δ t F . Karena fungsi anak tangga adalah integral dari
fungsi impuls, kita dapat menerapkan hbungan (10.24) tersebut
di atas.
[ ] ) (
1
) ( ) ( ω πδ +
ω
= δ =

∞ − j
dx x t u
t
F F
10.4.4. Pembalikan
Pembalikan suatu fungsi f(t) adalah mengganti t dengan −t. Jika kita
membalikkan suatu fungsi, maka urutan kejadian dalam fungsi yang
baru berlawanan dengan urutan kejadian pada fungsi semula. Trans-
formsi Fourier dari fungsi yang dibalikkan sama dengan kebalikan
dari transformasi Fourier fungsi semula. Secara formal hal ini dapat
dituliskan sebagai
[ ] [ ] ) ( ) ( maka ) ( ) ( Jika ω − = − ω = F F t f t f F F (10.25)
Menurut (10.16)
Transformasi Fourier
215
[ ]
[ ] [ ]
) ( ) (
) ( ) ( ) (
Misalkan ; ) ( ) (
ω − = τ τ =
τ τ − = τ = − →
τ = − − = −




∞ −
ωτ −
∞ −

ωτ

∞ −
ω −
F d e f
d e f f t f
t dt e t f t f
j
j
t j
F F
F

Sifat pembalikan ini dapat kita manfaatkan untuk mencari transfor-
masi Fourier dari fungsi signum dan fungsi eksponensial dua sisi.
CONTOH-10.14: Carilah transformasi Fourier dari fungsi signum
dan eksponensial dua sisi breikut ini.

Solusi :
Contoh 10.13. memberikan [ ] ) (
1
) ( ω πδ +
ω
=
j
t u F maka
[ ] [ ]
ω
= − − =
j
t u t u t
2
) ( ) ( ) sgn( F F
Contoh 10.10.a memberikan [ ]
ω + α
=
α −
j
t u e
t
1
) ( F maka
[ ] [ ]
2 2
) ( | |
2
) (
1 1

) ( ) (
ω + α
α
=
ω − + α
+
ω + α
=
− + =
− α − α − α −
j j
t u e t u e e
t t t
F F

10.4.5. Komponen Nyata dan Imajiner dari F(ω ωω ω)
Pada umumnya transformasi Fourier dari f(t), F(ω), berupa fungsi
kompleks yang dapat kita tuliskan sebagai
t 0
v(t)
1
−1
−u(−t)
u(t)
signum : sgn(t) = u(t) −
u(−t)
0
t 0
eksponensial dua sisi :
e
−α| t |
= e
−αt
u(t) + e
−α(−t)
u(−t)
e
−αt
u(t)
v(t)
1
e
−α(−t)
Transformasi Fourier
216 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

ω
θ

∞ −

∞ −

∞ −
ω −
ω = ω + ω =
ω − ω = = ω
∫ ∫ ∫
j
t j
e jB A
dt t s t f j dt t c t f dt e t f
) ( ) ( ) (
in ) ( os ) ( ) ( ) (
F
F

dengan
∫ ∫

∞ −

∞ −
ω − = ω ω = ω dt t t f B dt t t f A sin ) ( ) ( ; cos ) ( ) ( (10.26)
|
|
¹
|

\
|
ω
ω
= ω θ ω + ω = ω

) (
) (
tan ) ( ; ) ( ) ( ) (
1 2 2
A
B
B A F (10.27)
Jika f(t) fungsi nyata, maka dari (10.26) dan (10.27) dapat kita sim-
pulkan bahwa
1. Komponen riil dari F(ω) merupakan fungsi genap, karena
A(−ω) = A(ω).
2. Komponen imajiner F(ω) merupakan fungsi ganjil, karena
B(−ω) =− B(ω).
3. |F(ω)| merupakan fungsi genap, karena |F(−ω)| = |F(ω)|.
4. Sudut fasa θ(ω) merupakan fungsi ganjil, karena θ(−ω) =−
θ(ω).
5. Kesimpulan (1) dan (2) mengakibatkan : kebalikan F(ω)
adalah konjugat-nya, F(−ω) = A(ω) − jB(ω) = F
*
(ω) .
6. Kesimpulan (5) mengakibatkan : F(ω) × F(−ω) = F(ω) ×
F
*
(ω) = |F(ω)|
2
.
7. Jika f(t) fungsi genap, maka B(ω) = 0, yang berarti F(ω) riil.
8. Jika f(t) fungsi ganjil, maka A(ω) = 0, yang berarti F(ω)
imajiner.
10.4.6. Kesimetrisan
Sifat ini dinyatakan secara umum sebagai berikut.
[ ] [ ] ) ( 2 ) ( maka ) ( ) ( Jika ω − π = ω = f t F t f F F F (10.28)
Sifat ini dapat diturunkan dari formulasi transformasi balik.
Transformasi Fourier
217

∫ ∫

∞ −
ω −

∞ −
ω −

∞ −
ω
ω = ω − π ω
ω ω = − π → ω ω = π
d e t f t
d e t f d e t f
t j
t j t j
) ( ) ( 2 : maka kan dipertukar dan Jika
) ( ) ( 2 ) ( ) ( 2
F
F F

10.4.7. Pergeseran Waktu
Sifat ini dinyatakan sebagai berikut.
[ ] [ ] ) ( ) ( maka ) ( ) ( Jika ω = − ω =
ω −
F F
T j
e T t f t f F F (10.29)
Sifat ini mudah diturunkan dari definisinya.
10.4.8. Pergeseran Frekuensi
Sifat ini dinyatakan sebagai berikut.
[ ] [ ] ) ( ) (
1
maka ) ( ) (
1
Jika t f e t f
t jβ
= β − ω

= ω

F F F F (10.30)
Sifat ini juga mudah diturunkan dari definisinya.
10.4.9. Penskalaan
Sifat ini dinyatakan sebagai berikut.
[ ] [ ] |
¹
|

\
| ω
= ω =
a a
at f t f F F
| |
1
) ( maka ) ( ) ( Jika F F (10.31)
10.5. Ringkasan
Tabel-10.1 berikut ini memuat pasangan transformasi Fourier se-
dangkan sifat-sifat transformasi Fourier termuat dalam Tabel-10.2.
Transformasi Fourier
218 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

Tabel 10.1. Pasangan transformasi Fourier.
Sinyal f(t)
F(ω)
Impuls
δ(t)
1
Sinyal searah (konstan) 1
2π δ(ω)
Fungsi anak tangga u(t)
) (
1
ω πδ +
ω j

Signum sgn(t)
ω j
2

Exponensial (kausal)
( ) ) (t u e
t α −

ω + α j
1

Eksponensial (dua sisi)
| |t
e
α −

2 2
2
ω + α
α

Eksponensial kompleks
t j
e
β

) ( 2 β − ω δ π
Kosinus
cosβt
[ ] ) ( ) ( β + ω δ + β − ω δ π
Sinus
sinβt
[ ] ) ( ) ( β + ω δ − β − ω δ π − j
Tabel 10.2. Sifat-sifat transformasi Fourier.
Sifat Kawasan Waktu Kawasan Frekuensi
Sinyal f(t)
F(ω)
Kelinieran A f
1
(t) + B f
2
(t)
AF
1
(ω) + BF
2
(ω)
Diferensiasi
dt
t df ) (

jωF(ω)
Integrasi

∞ −
t
dx x f ) (
) ( ) 0 (
) (
ω δ π +
ω
ω
F
F
j

Kebalikan
f (−t) F(−ω)
Simetri F (t)
2π f (−ω)
Pergeseran waktu
f (t − T)
) (ω
ω −
F
T j
e
Pergeseran frekuensi
e
j β t
f (t) F(ω − β)
Penskalaan
|a| f (at)
|
¹
|

\
| ω
a
F
Transformasi Fourier
219
Soal-Soal
Deret Fourier Bentuk Sinus-Cosinus.
1. Tentukan deret Fourier dari gelombang segitiga berikut ini.
a).
b).
c).
d).
e).
2. Siklus pertama dari deretan pulsa dinyatakan sebagai
) 3 ( ) 2 ( ) 1 ( 2 ) ( 2 ) ( − − − + − − = t u t u t u t u t v
Gambarkan siklus pertama tersebut dan carilah koefisien Fourier-
nya serta gambarkan spektrum amplitudo dan sudut fasanya.
v

1ms



t
10V
−5V
v

t

20ms

150V

v

t

20ms

150V

t
v
10V
1ms
t
v
5V
−5V
1ms
Transformasi Fourier
220 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

3. Suatu gelombang komposit dibentuk dengan menjumlahkan te-
gangan searah 10V dengan gelombang persegi yang amplitudo
puncak ke puncak-nya 10 V. Carilah deret Fouriernya dan gam-
barkan spektrum amplitudonya.
Deret Fourier Bentuk Eksponensial.
4. Carilah koefisien kompleks deret Fourier bentuk gelombang beri-
kut.
a).
b).
c).
d).
e).
v

1ms



t
10V
−5V
v

20ms



t
150V
v

10V

−5V

1ms

2ms

t

t
v
10V
1ms
t
v
5V
−5V
1ms
Transformasi Fourier
221
Transformasi Fourier
5. Carilah transformasi Fourier dari bentuk-bentuk gelombang beri-
kut:
a).
[ ] ) ( ) ( ) ( T t u t u
T
At
t v − − =
;
b).
(
¸
(

¸

|
¹
|

\
|
− − |
¹
|

\
|
+ |
¹
|

\
| π
=
4 4
2
cos ) (
T
t u
T
t u
T
t
A t v

c).
(
¸
(

¸

|
¹
|

\
|
− − |
¹
|

\
|
+
(
¸
(

¸

|
¹
|

\
| π
+ =
2 2
2
cos 1
2
) (
T
t u
T
t u
T
t A
t v

d). ) ( 2 2 ) ( t u t v + = ;
e). ) ( 6 ) sgn( 2 ) ( t u t t v + − =
f). [ ] ) 2 ( ) sgn( 2 ) ( 2 ) (
2
+ δ + =

t t t u e t v
t

g). ) 2 ( 2 ) 2 ( 2 ) (
) 2 ( 2 ) 2 ( 2
+ + − =
+ − − −
t u e t u e t v
t t

6. Tentukan transformasi balik dari fungsi-fungsi berikut:
a).
| |
) (
ω α −
α
π
= ω e F ;
b). [ ] ) ( ) ( ) ( β − ω − β + ω
β
π
= ω u u
A
F
c).
) 50 ( ) 20 (
1000
) (
+ ω + ω
= ω
j j
F ;
d).
) 50 ( ) 20 (
) (
+ ω + ω
ω
= ω
j j
j
F
e).
) 50 ( ) 20 (
) (
2
+ ω + ω
ω −
= ω
j j
F ;
f).
) 50 ( ) 20 (
1000
) (
+ ω + ω ω
= ω
j j j
F
Transformasi Fourier
222 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

g).
) 50 ( ) 50 (
500
) (
+ ω + ω −
ω
= ω
j j
j
F ;
h).
) 50 ( ) 50 (
5
) (
+ ω + ω
ω
= ω
j j
j
F
i).
) 50 ( ) 50 (
5000
) (
+ ω + ω − ω
= ω
j j j
F ;
j).
2500 200
) ( 5000
) (
2
+ ω + ω −
ω δ
= ω
j
F
k).
ω −
+ ω δ π = ω
2
) ( 4 ) ( e F ;
l).
ω
− ω δ π
= ω
ω −
j
e
j2
) 4 ( 4
) ( F
m).
) 2 (
) 1 ( 4 ) ( 4
) (
ω + ω
+ ω + ω δ π
= ω
j j
j
F ;
n).
ω −
+ ω δ π = ω
2
) ( 4 ) ( e F
o). ) 2 ( 4 ) 2 ( 4 ) ( 4 ) ( + ω δ π + − ω δ π + ω δ π = ω F

Analisis Menggunakan Transformasi Fourier
223
BAB 11 Analisis Rangkaian Menggunakan
Transformasi Fourier

Dengan pembahasan analisis rangkaian dengan menggunakan transfor-
masi Fourier, kita akan
• mampu melakukan analisis rangkaian menggunakan trans-
formasi Fourier.
• mampu mencari tanggapan frekuensi.
11.1. Transformasi Fourier dan Hukum Rangkaian
Kelinieran dari transformasi Fourier menjamin berlakunya relasi hukum
Kirchhoff di kawasan frekuensi. Relasi HTK misalnya, jika ditransfor-
masikan akan langsung memberikan hubungan di kawasan frekuensi
yang sama bentuknya dengan relasinya di kawasan waktu.
0 ) ( ) ( ) ( : masikan ditransfor jika
0 ) ( ) ( ) ( : HTK relasi Misalkan
3 3 1
3 2 1
= ω − ω + ω
= − +
V V V
t v t v t v

Hal inipun berlaku untuk KCL. Dengan demikian maka transformasi
Fourier dari suatu sinyal akan mengubah pernyataan sinyal di kawasan
waktu menjadi spektrum sinyal di kawasan frekuensi tanpa mengubah
bentuk relasi hukum Kirchhoff, yang merupakan salah satu persyaratan
rangkaian yang harus dipenuhi dalam analisis rangkaian listrik.
Persyaratan rangkaian yang lain adalah persyaratan elemen, yang dapat
kita peroleh melalui transformasi hubungan tegangan-arus (karakteristik
i-v elemen). Dengan memanfaatkan sifat diferensiasi dari transformasi
Fourier, kita akan memperoleh relasi di kawasan frekuensi untuk resistor,
induktor, dan kapasitor sebagai berikut.
) ( ) ( : Kapasitor
) ( ) ( : Induktor
) ( ) ( : Resistor
ω ω = ω
ω ω = ω
ω = ω
C C
L L
R R
C j
L j
R
V I
I V
I V

Relasi diatas mirip dengan relasi hukum Ohm. Dari relasi di atas kita
dapatkan impedansi elemen, yaitu perbandingan antara tegangan dan arus
di kawasan frekuensi
Analisis Menggunakan Transformasi Fourier

224 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)
C j
Z L j Z R Z
C L R
ω
= ω = =
1
; ; (11.1)
Bentuk-bentuk (11.1) telah kita kenal sebagai impedansi arus bolak-
balik.
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa transformasi Fourier sua-
tu sinyal akan tetap memberikan relasi hukum Kirchhoff di kawasan fre-
kuensi dan hubungan tegangan-arus elemen menjadi mirip dengan relasi
hukum Ohm jika elemen dinyatakan dalam impedansinya. Dengan dasar
ini maka kita dapat melakukan transformasi rangkaian, yaitu menyatakan
elemen-elemen rangkaian dalam impedansinya dan menyatakan sinyal
dalam transformasi Fouriernya. Pada rangkaian yang ditransformasikan
ini kita dapat menerapkan kaidah-kaidah rangkaian dan metoda-metoda
analisis rangkaian. Tanggapan rangkaian di kawasan waktu dapat
diperoleh dengan melakukan transformasi balik.
Uraian di atas paralel dengan uraian mengenai transformasi Laplace,
kecuali satu hal yaitu bahwa kita tidak menyebut-nyebut tentang kondisi-
awal. Hal ini dapat difahami karena batas integrasi dalam mencari trans-
formasi Fourier adalah dari −∞ sampai +∞. Hal ini berbeda dengan trans-
formasi Laplace yang batas integrasinya dari 0 ke +∞. Jadi analisis rang-
kaian dengan menggunakan transformasi Fourier mengikut sertakan selu-
ruh kejadian termasuk kejadian untuk t < 0. Oleh karena itu cara analisis
dengan transformasi Fourier tidak dapat digunakan jika kejadian pada t
< 0 dinyatakan dalam bentuk kondisi awal. Pada dasarnya transformasi
Fourier diaplikasikan untuk sinyal-sinyal non-kausal sehingga metoda
Fourier memberikan tanggapan rangkaian yang berlaku untuk t = −∞
sampai t = +∞.
CONTOH-11.1: Pada rangkaian seri antara
resistor R dan kapasitor C diterapkan
tegangan v
1
. Tentukan tanggapan
rangkaian v
C
.
Solusi:
Persoalan rangkaian orde-1 ini telah pernah kita tangani pada anal-
isis transien di kawasan waktu maupun kawasan s (menggunakan
transformasi Laplace). Di sini kita akan menggunakan transformasi
Fourier.
R

+
v
1

C

+
v
C

Analisis Menggunakan Transformasi Fourier
225
Transformasi Fourier dari rangkaian ini
adalah : tegangan masukan V
1
(ω), im-
pedansi resistor R terhubung seri den-
gan impedansi kapasitor
C jω
1
. Den-
gan kaidah pembagi tegangan kita dapatkan tegangan pada kapasi-
tor adalah
) (
) / 1 (
/ 1
) (
) / 1 (
/ 1
) ( ) (
1 1 1
ω
+ ω
= ω
ω +
ω
= ω
+
= ω V V V V
RC j
RC
C j R
C j
Z R
Z
C
C
C

Tegangan kapasitor tergantung dari V
1
(ω). Misalkan tegangan ma-
sukan v
1
(t) berupa sinyal anak tangga dengan amplitudo 1. Dari tabel
10.1. tegangan ini di kawasan frekuensi adalah ) (
1
) (
1
ω δ π +
ω
= ω
j
V .
Dengan demikian maka
( ) ( ) RC j
RC
RC j j
RC
j RC j
RC
C
/ 1
/ ) (
/ 1
/ 1
) (
1
) / 1 (
/ 1
) (
+ ω
ω δ π
+
+ ω ω
=
|
|
¹
|

\
|
ω δ π +
ω + ω
= ω V

Fungsi impuls δ(ω) hanya mempunyai nilai untuk ω = 0, sehingga
pada umumnya F(ω)δ(ω) = F(0)δ(ω). Dengan demikian suku kedua
ruas kanan persamaan di atas
( )
) (
/ 1
/ ) (
ω δ π =
+ ω
ω δ π
RC j
RC
. Suku pertama
dapat diuraikan, dan persamaan menjadi
) (
/ 1
1 1
) ( ω δ π +
+ ω

ω
= ω
RC j j
C
V
Dengan menggunakan Tabel 11.1. kita dapat mencari transformasi
balik
[ ] [ ] ) ( 1
2
1
) ( ) sgn(
2
1
) (
) / 1 ( ) / 1 (
t u e t u e t t v
t RC t RC
C
− −
− = + − =
Pemahaman :
Hasil yang kita peroleh menunjukkan keadaan transien tegangan ka-
pasitor, sama dengan hasil yang kita peroleh dalam analisis transien
di kawasan waktu di Bab-4 contoh 4.5. Dalam menyelesaikan per-
soalan ini kita tidak menyinggung sama sekali mengenai kondisi
awal pada kapasitor karena transformasi Fourier telah mencakup
keadaan untuk t < 0.
R

+
V
1

1/jωC

+
V
C

Analisis Menggunakan Transformasi Fourier

226 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)
CONTOH-11.2: Bagaimanakah v
C
pada contoh 11.1. jika tegangan
yang diterapkan adalah v
1
(t) = sgn(t) ?
Solusi:
Dari Tabel 10.1. kita peroleh [ ]
ω
=
j
t
2
) sgn( F . Dengan demikian
maka V
C
(ω) dan uraiannya adalah
RC j j j RC j
RC
C
/ 1
2 2 2

/ 1
/ 1
) (
+ ω

ω
=
ω
(
¸
(

¸

+ ω
= ω V
Transformasi baliknya memberikan
) ( 2 ) sgn( ) (
) / 1 (
t u e t t v
t RC
C

− =
Pemahaman:
Persoalan ini melibatkan sinyal non-kausal yang memerlukan solusi
dengan transformasi Fourier. Suku pertama dari v
C
(t) memberikan
informasi tentang keadaan pada t < 0, yaitu bahwa tegangan kapasi-
tor bernilai −1 karena suku kedua bernilai nol untuk t < 0. Untuk t >
0, v
C
(t) bernilai 1 − 2e
−(1/RC) t
u(t) yang merupakan tegangan transien
yang nilai akhirnya adalah +1. Di sini terlihat jelas bahwa analisis
dengan menggunakan transformasi Fourier memberikan tanggapan
rangkaian yang mencakup seluruh sejarah rangkaian mulai dari −∞
sampai +∞. Gambar v
C
(t) adalah seperti di bawah ini.

-2
-1
0
1
2
-40 -20 0 20 40
−2e
−(1/RC) t
u(t)
−1
−2
+1
sgn(t)
sgn(t)−2e
−(1/RC) t
u(t)
v
C
t
Analisis Menggunakan Transformasi Fourier
227
11.2. Konvolusi dan Fungsi Alih
Jika h(t) adalah tanggapan rangkaian terhadap sinyal impuls dan x(t) ada-
lah sinyal masukan, maka sinyal keluaran y(t) dapat diperoleh melalui
integral konvolusi yaitu
) ( ) ( ) (
0

τ τ − τ =
t
d t x h t y (11.2)
Dalam integral konvolusi ini batas integrasi adalah τ = 0 sampai τ = t
karena dalam penurunan formulasi ini h(t) dan x(t) merupakan bentuk
gelombang kausal. Jika batas integrasi tersebut diperlebar mulai dari τ =
−∞ sampai τ = +∞, (11.2) menjadi


+∞
−∞ = τ
τ τ − τ = d t x h t y ) ( ) ( ) ( (11.3)
Persamaan (11.3) ini merupakan bentuk umum dari integral konvolusi
yang berlaku untuk bentuk gelombang kausal maupun non-kausal.
Transformasi Fourier untuk kedua ruas (11.3) adalah
[ ]
∫ ∫


−∞ =
ω −
∞ +
−∞ = τ
+∞
−∞ = τ
(
¸
(

¸

τ τ − τ =
(
¸
(

¸

τ τ − τ = ω =
t
t j
dt e d t x h
d t x h t y
) ( ) (
) ( ) ( ) ( ) ( F F Y
(11.4)
Pertukaran urutan integrasi pada (11.4) memberikan
∫ ∫
∫ ∫

−∞ = τ
∞ +
−∞ =
ω −

−∞ = τ
+∞
−∞ =
ω −
τ
(
¸
(

¸

τ − τ =
τ
(
¸
(

¸

τ − τ = ω
) ( ) (
) ( ) ( ) (
d dt e t x h
d dt e t x h
t
t j
t
t j
Y
(11.5)
Mengingat sifat pergeseran waktu pada transformasi Fourier, maka
(11.5) dapat ditulis

) ( ) ( ) ( ) (
) ( ) ( ) (
ω ω = ω
(
¸
(

¸

τ τ =
τ ω τ = ω



−∞ = τ
ωτ −

−∞ = τ
ωτ −
X H X
X Y
d e h
d e h
j
j
(11.6)
Analisis Menggunakan Transformasi Fourier

228 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)
Persamaan (11.6) menunjukkan hubungan antara transformasi Fourier
sinyal keluaran dan masukan. Hubungan ini mirip bentuknya dengan
persamaan yang memberikan hubungan masukan-keluaran melalui
fungsi alih T(s) di kawasan s yaitu Y(s) = T(s) X(s). Oleh karena itu H(ω)
disebut fungsi alih bentuk Fourier.
CONTOH-11.3: Tanggapan impuls suatau sistem adalah
| |
2
) (
t
e t h
α −
α
= . Jika sistem ini diberi masukan sinyal signum,
sgn(t), tentukanlah tanggapan transiennya.
Solusi:
Dengan Tabel 10.1. didapatkan H(ω) untuk sistem ini
2 2
2
2 2
| |
2
2 2
) (
ω + α
α
=
ω + α
α α
=
(
¸
(

¸
α
= ω
α − t
e F H
Sinyal masukan, menurut Tabel 10.1. adalah
[ ]
ω
= = ω
j
F X
2
sgn(t) ) (
Sinyal keluaran adalah
) )( (
2 2
) ( ) ( ) (
2
2 2
2
ω − α ω + α ω
α
=
ω
ω + α
α
= ω ω = ω
j j j j
X H Y
yang dapat diuraikan menjadi
ω − α
+
ω + α
+
ω
= ω
j
k
j
k
j
k
3 2 1
) ( Y
1
) (
2
) (
2
) ( ) (
1
) (
2
) (
2
) ( ) (
2
) )( (
2
) (
2 2
3
2 2
2
0
2
0
1
+ =
α + α α
α
=
ω + α ω
α
= ω ω − α =
− =
α + α α −
α
=
ω − α ω
α
= ω ω + α =
=
ω − α ω + α
α
= ω ω =
α = ω
α = ω
α − = ω
α − = ω
= ω
= ω
j
j
j
j
j
j
j j
j k
j j
j k
j j
j k
Y
Y
Y

Analisis Menggunakan Transformasi Fourier
229
Jadi
) (
1 1 2
) (
ω − + α
+
ω + α

+
ω
= ω
j j j
Y sehingga
)] ( ] 1 [ ) ( ] 1 [
) ( ) ( ) sgn( ) (

) (
t u e t u e
t u e t u e t t y
t t
t t
− + − + − =
− + − =
α α −
− α − α −

Gambar dari hasil yang kita peroleh adalah seperti di bawah ini.

CONTOH-11.4: Tentukan tanggapan frekuensi dari sistem pada contoh-
11.3.
Solusi :
Fungsi alih sistem tersebut adalah
2 2
2
) (
ω + α
α
= ω H .
Kurva |H(ω)| kita gambarkan dengan ω sebagai absis dan hasilnya
adalah seperti gambar di bawah ini.

0
1
-20 -10 0 10 20
|H(ω)|
ω
0
1
-1
0
1
-40 0 40
y(t)
+1
−1
[−1+e
α t
] u(t)
[1−e
−α t
]

u(t)
t
Analisis Menggunakan Transformasi Fourier

230 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)
Pada ω =0, yaitu frekuensi sinyal searah, |H(ω)| bernilai 1 sedangkan
untuk ω tinggi |H(ω)| menuju nol. Sistem ini bekerja seperti low-
pass filter. Frekuensi cutoff terjadi jika
2
| ) 0 ( |
| ) ( |
H
H = ω
α = α − α = ω ⇒ =
ω + α
α
644 . 0 2
2
1
2 2
2 2
2
c
c

11.3. Energi Sinyal
Energi total yang dibawa oleh suatu bentuk gelombang sinyal didefinisi-
kan sebagai

+∞
∞ −
= dt t p W
total
) (
dengan p(t) adalah daya yang diberikan oleh sinyal kepada suatu beban.
Jika beban berupa resistor maka
R
t v
R t i t p
) (
) ( ) (
2
2
= = ; dan jika be-
bannya adalah resistor 1 Ω maka
egangan ataupun t arus berupa ) ( dengan
) (
2
1
t f
dt t f W

+∞
∞ −

=
(11.7)
Persamaan (11.7) digunakan sebagai definisi untuk menyatakan energi
yang dibawa oleh suatu bentuk gelombang sinyal. Dengan kata lain, en-
ergi yang diberikan oleh suatu gelombang sinyal pada resistor 1 Ω men-
jadi pernyataan kandungan energi gelombang tersebut.
Teorema Parseval menyatakan bahwa energi total yang dibawa oleh sua-
tu bentuk gelombang dapat dihitung baik di kawasan waktu maupun ka-
wasan frekuensi. Pernyataan ini dituliskan sebagai
∫ ∫
+∞
∞ −
+∞
∞ −

ω ω
π
= = d dt t f W
2 2
1
| ) ( |
2
1
) ( F (11.8)
Karena |F(ω)|
2
merupakan fungsi genap, maka (11.8) dapat dituliskan

+∞

ω ω
π
=
0
2
1
| ) ( |
1
d W F (11.9)
Analisis Menggunakan Transformasi Fourier
231
Jadi di kawasan waktu energi gelombang adalah integral untuk seluruh
waktu dari kuadrat bentuk gelombang, dan di kawasan frekuensi ener-
ginya adalah (1/2π) kali integrasi untuk seluruh frekuensi dari kuadrat
besarnya (nilai mutlak) transformasi Fourier dari sinyal.
Penurunan teorema ini dimulai dari (11.7).
∫ ∫ ∫
+∞
∞ −

∞ −
ω
+∞
∞ −
Ω (
¸
(

¸

ω ω
π
= = dt d e t f dt t f W
t j
) (
2
1
) ( ) (
2
1
F
Integrasi yang berada di dalam tanda kurung adalah integrasi terhadap ω
dan bukan terhadap t. Oleh karena itu f(t) dapat dimasukkan ke dalam
integrasi tersebut menjadi
∫ ∫
+∞
∞ −

∞ −
ω
Ω (
¸
(

¸

ω ω
π
= dt d e t f W
t j
) ( ) (
2
1
1
F
Dengan mempertukarkan urutan integrasi, akan diperoleh
∫ ∫
∫ ∫
∫ ∫
∞ +
∞ −
∞ +
∞ −
∞ +
∞ −

∞ −
ω − −
+∞
∞ −

∞ −
ω

ω ω
π
= ω ω − ω
π
=
ω
(
¸
(

¸

ω
π
=
ω
(
¸
(

¸

ω
π
=
d d
d dt e t f
d dt e t f W
t j
t j
2
) (
1
| ) ( |
2
1
) ( ) (
2
1

) ( ) (
2
1

) ( ) (
2
1
F F F
F
F

Teorema Parseval menganggap bahwa integrasi pada persamaan (11.8)
ataupun (11.9) adalah konvergen, mempunyai nilai berhingga. Sinyal
yang bersifat demikian disebut sinyal energi; sebagai contoh: sinyal
kausal eksponensial, eksponensial dua sisi, pulsa persegi, sinus teredam.
Jadi tidak semua sinyal merupakan sinyal energi. Contoh sinyal yang
mempunyai transformasi Fourier tetapi bukan sinyal energi adalah sinyal
impuls, sinyal anak tangga, signum, dan sinus (tanpa henti). Hal ini bu-
kan berarti bahwa sinyal ini, anak tangga dan sinyal sinus misalnya, tidak
dapat digunakan untuk menyalurkan energi bahkan penyaluran energi
akan berlangsung sampai tak hingga; justru karena itu ia tidak disebut
sinyal energi melainkan disebut sinyal daya.
Analisis Menggunakan Transformasi Fourier

232 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)
CONTOH-11.5: Hitunglah energi yang dibawa oleh gelombang
[ ] ) ( 10 ) (
1000
t u e t v
t −
= V
Solusi:
Kita dapat menghitung di kawasan waktu
[ ] [ ]
J
20
1
2000
100

100 10
0
2000
0
2000
0
2
1000
1
= − =
= =







∫ ∫
t
t t
e
dt e dt e W

Untuk menghitung di kawasan frekuensi, kita cari lebih dulu
V(ω)=10/(jω+1000).
J
20
1

2 2 20
1

1000
tan
) 1000 ( 2
100
10
100
2
1
1
2
6 2
1
=
(
¸
(

¸

|
¹
|

\
| π
− −
π
π
=
ω
π
= ω
(
¸
(

¸

+ ω
π
=

∞ −


∞ −


d W

Pemahaman: Kedua cara perhitungan memberikan hasil yang sama.
Fungsi |F(ω)|
2
menunjukkan kerapatan energi dalam spektrum sinyal.
Persamaan (11.9) adalah energi total yang dikandung oleh seluruh spek-
trum sinyal. Jika batas integrasi adalah ω
1
dan ω
2
maka kita memperoleh
persamaan

ω
ω
ω ω
π
=
2
1
2
12
| ) ( |
1
d W F (11.10)
yang menunjukkan energi yang dikandung oleh gelombang dalam selang
frekuensi ω
1
dan ω
2
.
Jika hubungan antara sinyal keluaran dan masukan suatu pemroses sinyal
adalah ) ( ) ( ) ( ω ω = ω X H Y maka energi sinyal keluaran adalah



ω ω ω
π
=
0
2 2
1
| ) ( | | ) ( |
1
d W X H (11.11)
Dengan hubungan-hubungan yang kita peroleh ini, kita dapat menghi-
tung energi sinyal langsung menggunakan transformasi Fouriernya tanpa
harus mengetahui bentuk gelombang sinyalnya.
Analisis Menggunakan Transformasi Fourier
233
CONTOH-11.6: Tentukan lebar pita yang diperlukan agar 90% dari
total energi gelombang exponensial [ ] ) ( 10 ) (
1000
t u e t v
t −
= V dapat
diperoleh.
Solusi:
Bentuk gelombang
[ ] ) ( 10 ) (
1000
t u e t v
t −
= →
1000
10
) (
+ ω
= ω
j
V
Energi total :
J
20
1
0
2 10
1


1000
tan
) 1000 (
100
10
100 1
0
1
0
2
6 2
1
=
(
¸
(

¸


π
π
=
ω
π
= ω
(
¸
(

¸

+ ω
π
=





d W

Misalkan lebar pita yang diperlukan untuk memperoleh 90% energi
adalah β, maka
1000
tan
10
1

1000
tan
) 1000 (
100
10
100 1
1
0
1
0
2
6 2
% 90
β
π
=
ω
π
= ω
(
¸
(

¸

+ ω
π
=

β

β

d W

Jadi
rad/s 6310
20
9
tan
1000 20
1
9 . 0
1000
tan
10
1
1
= β ⇒
|
¹
|

\
| π
=
β
⇒ × =
β
π




Analisis Menggunakan Transformasi Fourier

234 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)
Soal-Soal
1. Saklar S pada rangkaian berikut telah berada di posisi 1 mulai t =
−∞. Pada t = 0 ia dipindahkan keposisi 2 dan tetap pada posisi 2
sampai t = + ∞. Jika v
1
= −10 V, v
2
= 10 V, tentukan v
in
, V
in
(ω) ,
V
o
(ω) , v
o
.

2. Saklar S pada rangkaian berikut telah berada di posisi 1 mulai t =
−∞. Pada t = 0 ia dipindahkan keposisi 2 dan tetap pada posisi 2
sampai t = + ∞. Tentukan v
in
, V
in
(ω) , V
o
(ω) , v
o
, jika v
1
= −10 V,
v
2
= 5 V.

3. Saklar S pada rangkaian berikut telah berada di posisi 1 mulai t =
−∞. Pada t = 0 ia dipindahkan keposisi 2 dan tetap pada posisi 2
sampai t = + ∞. Tentukan v
in
, V
in
(ω) , V
o
(ω) , v
o
, jika v
1
= 10e
100t

V, v
2
= 10e
−100t
V.

4. Saklar S pada rangkaian berikut telah berada di posisi 1 mulai t =
−∞. Pada t = 0 ia dipindahkan keposisi 2 dan tetap pada posisi 2
sampai t = + ∞. Tentukan v
in
, V
in
(ω) , V
o
(ω) , v
o
, jika v
1
= 10e
100t

V, v
2
= −10e
−100t
V.
− +
− +
1 µf
10 kΩ
+
v
in

+
v
o

v
1

v
2

1
2
S
− +
− +
1 µf
10 kΩ
+
v
in

+
v
o

v
1

v
2

1
2
S
− +
− +
1 H
+
v
in

+
v
o

v
1

v
2

1
2
S
0,5 kΩ
Analisis Menggunakan Transformasi Fourier
235

5. Saklar S pada rangkaian berikut telah berada di posisi 1 mulai t =
−∞. Pada t = 0 ia dipindahkan keposisi 2 dan tetap pada posisi 2
sampai t = + ∞. Tentukan v
in
, V
in
(ω) , V
o
(ω) , v
o
, jika v
1
= 10 V,
v
2
= 10e
−100t
V.

6. Pada sebuah rangkaian seri L = 1 H, C = 1µF, dan R = 1 kΩ, dit-
erapkan tegangan v
s
= 10sgn(t) V. Tentukan tegangan pada resis-
tor.
7. Tanggapan impuls sebuah rangkaian linier adalah h(t) = sgn(t).
Jika tagangan masukan adalah v
s
(t) = δ(t)−10e
−10t
u(t) V, tentukan
tegangan keluarannya.
8. Tentukan tanggapan frekuensi rangkaian yang mempunyai tang-
gapan impuls
h(t) = δ(t)−20e
−10t
u(t).
9. Tentukan tegangan keluaran rangkaian soal 8, jika diberi masukan
v
s
(t) = sgn(t).
10. Jika tegangan masukan pada rangkaian berikut adalah
t v 100 cos 10
1
= V, tentukan tegangan keluaran v
o
.


+

1µF

10kΩ
10kΩ
+
v
1
+
v
o
− +
− +
+
v
in

+
v
o

v
1

v
2

1
2
S
0,5 kΩ
1 H
− +
− + +
v
in

+
v
o

v
1

v
2

1
2
S
100 Ω
1 H
Analisis Menggunakan Transformasi Fourier

236 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)
11. Ulangi soal 10 untuk sinyal yang transformasinya
400
200
) (
2
1
+ ω
= ω V
12. Tentukan enegi yang dibawa oleh sinyal
V ) ( 500 ) (
100
t u e t t v
t −
= . Tentukan pula berapa persen energi
yang dikandung dalam selang frekuensi −100 ≤ ω ≤ +100 rad/s .
13. Pada rangkaian filter RC berikut ini, tegangan masukan adalah
V ) ( 20
5
1
t u e v
t −
= .

Tentukan energi total masukan, persentase energi sinyal keluaran
v
o
terhadap energi sinyal masukan, persentase energi sinyal ke-
luaran dalam selang passband-nya.
14. Pada rangkaian berikut ini, tegangan masukan adalah
V ) ( 20
5
1
t u e v
t −
= .

Tentukan energi total masukan, persentase energi sinyal keluaran
v
o
terhadap energi sinyal masukan, persentase energi sinyal ke-
luaran dalam selang passband-nya.



+

1µF

10kΩ
10kΩ
+
v
1
+
v
o
+
v
o


+

100kΩ
1µF

v
1
100kΩ

Daftar Pustaka 237
Daftar Pustaka
1. P. C. Sen, “Power Electronics” McGraw-Hill, 3rd Reprint, 1990,
ISBN 0-07-451899-2.
2. Ralph J. Smith & Richard C. Dorf : “Circuits, Devices and Systems”
; John Wiley & Son Inc, 5
th
ed, 1992.
3. David E. Johnson, Johnny R. Johnson, John L. Hilburn : “Electric
Circuit Analysis” ; Prentice-Hall Inc, 2
nd
ed, 1992.
4. Vincent Del Toro : “Electric Power Systems”, Prentice-Hall
International, Inc., 1992.
5. Roland E. Thomas, Albert J. Rosa : “The Analysis And Design of
Linier Circuits”, . Prentice-Hall Inc, 1994.
6. Douglas K Lindner : “Introduction to Signals and Systems”,
McGraw-Hill, 1999.
7. Sudaryatno Sudirham, “Analisis Rangkaian Listrik”, Penerbit ITB
2002.
8. Sudaryatno Sudirham, “Pengembangan Metoda Unit Output Untuk
Perhitungan Susut Energi Pada Penyulang Tegangan Menengah”,
Monograf, 2005, limited publication.
9. Sudaryatno Sudirham, “Pengantar Rangkaian Listrik”, Catatan
Kuliah El 1001, Penerbit ITB, 2007.
10. Sudaryatno Sudirham, “Analisis Harmonisa Dalam Permasalahan
Kualitas Daya”, Catatan Kuliah El 6004, 2008.




238 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)




Biodata Penulis
Nama: Sudaryatno Sudirham
Lahir: 26 Juli 1943, di Blora.
Istri: Ning Utari
Anak: Arga Aridarma, Aria Ajidarma.
Pendidikan & Pekerjaan:
1971 : Teknik Elektro, Institut Teknologi Bandung.
1982 : DEA, l’ENSEIHT, INPT, Perancis.
1985 : Doktor, l’ENSEIHT, INPT, Perancis.
1972−2008 : Dosen Teknik Elektro, ITB.
Training & Pengalaman lain:
1974 : TERC, UNSW, Australia; 1975 − 1978 : Berca Indonesia PT,
Jakarta; 1979 : Electricité de France, Perancis; 1981 : Cour d”Ete,
Grenoble, Perancis; 1991 : Tokyo Intitute of Technology, Tokyo,
Jepang; 2005 : Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand;
2005 − 2009 : Tenaga Ahli, Dewan Komisaris PT PLN (Persero);
2006 − 2011 : Komisaris PT EU – ITB.



Indeks 239
Indeks

a
akar kompleks konjugat 40
akar riil berbeda 36
akar riil sama besar 38
anak tangga 12, 43, 56, 115
arus mesh 100
b
band-pass gain 133, 144, 145
blok integrator 189
blok statis 189
Bode plot 136
d
decibel 131, 133
deret Fourier 199, 204
diagram blok 171, 175, 177,
182, 190, 193
e
eksponensial 57
energi sinyal 232
f
fungsi alih 108, 111, 118, 229
fungsi fasa 128
fungsi gain 128
fungsi jaringan 107
fungsi masukan 107
h
high-pass gain 133, 141, 148
hubungan bertingkat 116
hukum Kirchhoff 89
i
impedansi 86
impuls 113
induktor 85, 176
integrator 185
k
kaidah rangkaian 90
kaidah rantai 116
kapasitor 86, 175
koefisien Fourier 199
komponen imajiner F(ω) 217
komponen mantap 7
komponen nyata F(ω) 217
komponen transien 7
kondisi awal 6
konvolusi 75, 229
l
low-pass gain 133, 136, 151
m
masukan nol 24, 26
model sistem 169
o
orde-1 2, 20
orde-2 31
p
penskalaan 219
pergeseran frekuensi 219
pergeseran waktu 219
persamaan ruang status 189,
191, 193
pole 68, 70, 71, 73,
pole kompleks konjugat 160
proporsionalitas 91
r
rangkaian ekivalen Thévenin
98
reduksi rangkaian 96
resistor 85, 175


240 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)
s
sifat transformasi Fourier 215,
220
sifat transformasi Laplace 60,
67
sinus 20, 46, 57, 125
sinyal 167
sistem 168
spektrum kontinyu 207
status nol 24, 26
sub-sistem dinamis 185
sub-sistem statis 185
superposisi 19, 92, 94
t
tanggapan alami 5, 34
tanggapan frekuensi 125
tanggapan lengkap 6, 35
tanggapan paksa 6, 35
tegangan simpul 99
teorema Thévenin 92
transformasi balik 68, 210
transformasi Fourier 207, 212,
220, 225
transformasi Laplace 56, 58,
59, 78, 85
transformasi rangkaian 88
u
unit output 94
z
zero 68, 152



Sign up to vote on this title
UsefulNot useful