Penyebab Kecelakaan Lalu Lintas Cara Kematian Mekanisme Cedera Kepala Berdasarkan mekanisme, pada kasus ini merupakan

cedera kepala tumpul (karena penyebabnya kecelakaan motor-pejalan kaki). Cidera kepala perlambatan (Deselarasi) karena cedera kepala yang terjadi bila kepala membentur objek yang secara relatif tidak bergerak seperti tanah atau aspal yag terjadi pada kasus ini Beratnya cedera Beratnya cedera dilihat dari GCS ( Pada kasus dimana CKB maka GCS < 8) Dilakukan dengan memeriksa respon dari 3 area : membuka mata, respon verbal dan respon motorik. No 1 RESPON Membuka Mata : -Spontan -Terhadap rangsangan suara -Terhadap nyeri -Tidak ada 2 Verbal : -Orientasi baik -Orientasi terganggu -Kata-kata tidak jelas -Suara tidak jelas -Tidak ada respon 3 Motorik : - Mampu bergerak 6 5 4 3 2 1 4 3 2 1 NILAI

ottorhea) dan -Parese nervus facialis ( N VII ) Sebagai patokan umum bila terdapat fraktur tulang yang menekan ke dalam.-Melokalisasi nyeri -Fleksi menarik -Fleksi abnormal -Ekstensi -Tidak ada respon Total 5 4 3 2 1 3-15 Morfologi Cedera Secara Morfologi cedera kepala dibagi atas : a. b. biasanya memeerlukan tindakan pembedahan. Fraktur dasar tengkorak biasanya merupakan pemeriksaan CT Scan untuk memperjelas garis frakturnya. lebih tebal dari tulang kalvaria. dan dapat terbentuk garis atau bintang dan dapat pula terbuka atau tertutup.Fraktur kranium Fraktur kranium dapat terjadi pada atap atau dasar tengkorak. Adanya tanda-tanda klinis fraktur dasar tengkorak menjadikan petunjuk kecurigaan untuk melakukan pemeriksaan lebih rinci. Tanda-tanda tersebut antara lain : -Ekimosis periorbital ( Raccoon eye sign) -Ekimosis retro aurikuler (Battle`sign ) -Kebocoran CSS ( rhonorrea. walaupun kedua jenis lesi sering terjadi bersamaan.Lesi Intrakranial Lesi ini diklasifikasikan dalam lesi local dan lesi difus. Termasuk lesi lesi local . -Perdarahan Epidural .

kontusio klasik. jika terjadi dioksiput akan menimbulkan gangguan kesadaran. Perdarahan subdural biasanya menutupi seluruh permukaan hemisfer otak dan kerusakan otak dibawahnya lebih berat dan prognosisnya jauh lebih buruk daripada perdarahan epidural. Perdarahan epidural difossa posterior dengan perdarahan berasal dari sinus lateral. Kemudian gejala neurology timbul secara progresif berupa pupil anisokor. 3)Kontusio dan perdarahan intracerebral Kontusio cerebral sangat sering terjadi di frontal dan lobus temporal. maka cedera otak difus dikelompokkan menurut kontusio ringan. Cirri perdarahan epidural berbentuk bikonveks atau menyerupai lensa cembung 2)Perdarahan subdural Perdarahan subdural lebih sering terjadi daripada perdarahan epidural( kira-kira 30 % dari cedera kepala berat). Berdasarkan pada dalamnya koma dan lamanya koma. 1) Perdarahan Epidural Hematoma epidural terletak diantara dura dan calvaria. nyeri kepala. namun dapat terjadi juga akibat laserasi pembuluh arteri pada permukaan otak.-Perdarahan Subdural -Kontusio (perdarahan intra cerebral) Cedera otak difus umumnya menunjukkan gambaran CT Scan yang normal. Kontusio cerebri dapat saja terjadi dalam waktu beberapa hari atau jam mengalami evolusi membentuk perdarahan intracerebral. Umumnya terjadi pada regon temporal atau temporopariental akibat pecahnya arteri meningea media ( Sudiharto 1998). hemiparese. papil edema dan gejala herniasi transcentorial. termasuk batang otak dan cerebellum. Perdarahan ini sering terjadi akibat robeknya vena-vena jembatan yang terletak antara kortek cerebri dan sinus venous tempat vena tadi bermuara. dan Cedera Aksona Difus ( CAD). namun keadaan klinis neurologis penderita sangat buruk bahkan dapat dalam keadaan koma. Manifestasi klinik berupa gangguan kesadaran sebentar dan dengan bekas gejala (interval lucid) beberapa jam. muntah ataksia serebral dan paresis nervi kranialis. Keadaan ini disusul oleh gangguan kesadaran progresif disertai kelainan neurologist unilateral. Apabila lesi meluas dan terjadi penyimpangan neurologist lebih lanjut . walau terjadi juga pada setiap bagian otak.

itupun bila bertahan hidup. Keadaan ini selalu disertai dengan amnesia pasca trauma dan lamanya amnesia ini merupakan ukuran beratnya cedera. namun terjadi disfungsi neurologist yang bersifat sementara dalam berbagai derajat.mual. pusing . bentuk yang paling ringan dari kontusio ini adalah keadaan bingung dan disorientasi tanpa amnesia retrograd. Gejala-gejala ini dikenal sebagai sindroma pasca komosio yang dapat cukup berat. Cedera ini sering terjadi. amnesia dan depresi serta gejala lainnya. amnesia integrad ( keadaan amnesia pada peristiwa sebelum dan sesudah cedera) Komusio cedera klasik adalah cedera yang mengakibatkan menurunya atau hilangnya kesadaran. Defisit neurologist itu misalnya : kesulitan mengingat. Banyak penderita dengan komosio cerebri klasik pulih kembali tanpa cacat neurologist. Penderita sering menunjukkan gejala disfungsi otonom seperti hipotensi. penderita sering menunjukkan gejala dekortikasi atau deserebasi dan bila pulih sering tetap dalam keadaan cacat berat. hiperhidrosis dan hiperpireksia dan dulu diduga akibat cedera batang otak primer.4)Cedera Difus Cedera otak difus merupakan kelanjutan kerusakan otak akibat akselerasi dan deselerasi. Hilangnya kesadaran biasanya berlangsung beberapa waktu lamanya dan reversible.DAI) adalah dimana penderita mengalami coma pasca cedera yang berlangsung lama dan tidak diakibatkan oleh suatu lesi masa atau serangan iskemi. Dalam definisi klasik penderita ini akan sadar kembali dalam waktu kurang dari 6 jam. dan ini merupakan bentuk yang lebih sering terjadi pada cedera kepala. Cedera Aksonal difus ( Diffuse Axonal Injuri. Biasanya penderita dalam keadaan koma yang dalam dan tetap koma selama beberapa waktu. pada kasus ini tidak dapat ditentukan penyebab kematian secara pasti karena tidak dilakukan pemeriksaan dalam . Hanya saja. namun karena ringan sering kali tidak diperhatikan. Komosio Cerebro ringan akibat cedera dimana kesadaran tetap tidak terganggu. namun pada beberapa penderita dapat timbul deficit neurogis untuk beberapa waktu.

Patofisiologi .

pasien mengalami cedera kepala berat.v. Setelah itu diduga korban terjatuh dengan bahu kanan menyentuh aspal terlebih dahulu sehingga tampak luka lecet pada bahu kanan.v.. injeksi piracetam 3 gr i.. dan injeksi kalnex 500 mg i. Setelah kejadian.Penegakan Proses terjadinya trauma (biomekanika trauma) Menurut keterangan penyidik.v. Menurut dokter jaga RS Panti Nugroho yang menangani korban.10 pasien dinyatakan apneu dan meninggal dunia. Diduga korban tersebut ditabrak motor di bagian kanan korban. injeksi ketorolac 30 mg i. Pada tanggal 20 Januari 2013 jam 07. dan mendapatkan perawatan berupa infuse RL. korban adalah seorang pejalan kaki yang sedang berjalan kaki dari arah selatan menuju arah utara. sehingga korban terpuntir kearah berlawanan jarum jam yang akhirnya menyebabkan bagian 1/3 distal tibia fibula sinistra fraktur sebagai akibat kaki kiri tidak kuat menahan torsi. korban dan pengendara sepeda motor segera dibawa ke RS Panti Nugroho untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. yang kemudian ditabtrak oleh sepeda motor dari arah belakang. . kemudian bagian occipital terantuk aspal sehingga tampak luka robek dengan tepi tidak rata pada bagian occipital.