BAB I.

PENDAHULUAN

Appendisitis merupakan penyakit abdomen yang sering kita dapatkan. Appendicitis pada
umumnya dapat didiagnosa dengan pemeriksaan klinis, laboratorium dan radiologis. Tapi juga dapat merupakan suatu penyakit yang sulit didiagnosa. Tidak jarang pembedahan terhadap appendicitis dilakukan, ternyata didapatkan appendiks yang normal. Insiden gangrene dan perforasi appendicitis dalam sejumlah laporan memperlihatkan hanya sedikit fluktuasi dalam 30 tahun terakhir, stabil pada 25-30%. Appendicitis dengan masa teraba terdapat pada 1-13% dari penderita appendicitis. Belum ada kesepakatan pendapat diantara para ahli dalam pengelolaan appendicitis dengan massa, sehingga didapatkan pendapat yang kontroversial. 1. Melakukan operasi sito Vikili (1976), Jordan dkk (1982) menyatakan bahwa operasi segera dapat dikerjakan dengan aman, morbiditas tidak lebih tinggi dari appendicitis perforasi, dengan keuntungan

memperpendek rawat tinggal. Kerugiannya adalah kemungkinan penyebaran infeksi pada saat manipulasi, adanya kesulitan saat deseksi yang menimbulkan trauma usus yang sudah rapuh dengan kemungkinan timbulnya ristula. 2. Melakukan operasi hanya pada appendiks infiltrate yang mobil, dengan pertimbangan operasi dapat lebih mudah dikerjakan karena proses “walling off” belum sempurna. 3. Melakukan terapi konservatif terhadap appendicitis infiltrate yang fixed, dengan pemberian antibiotic dan observasi ketat bila gagal dan terbentuk abses maka dilakukan drainase dengan atau tanpa appendiktomi. Bila berhasil penderita dipulangkan dengan pesan datang kembali untuk appendiktomi interval.

Didapatkan perbedaan pandangan, apakah appendiktomi interval eprlu dilakukan pada
penderita dengan tanpa keluhan. Pertimbangan dilakukan nya appendiktomi interval ialah : tinggi nya angka kekambuhan setelah serangan yang pertama, bahaya hilangnya diagnose yang benar pada keadaan yang mirip dengan appendicitis infiltrate.

1

Pendapat lain menyebutkan bahwa appendiktomi

interval merupakan prosedur yang

berlebihan oleh karena serangan apendisitis akut jarang, adanya laporan appendiktomi negative atau appendiks sudah dalam keadaan rusak/obliterasi setelah serangan yang pertama kali. Kesalahan diagnosis terjadi karena sampai saat ini belum ada satu carapunn yang dapat membantu kita untuk menegakkan diagnosis appendicitis secara pasti. teknik-teknik diagnosis dari yang non invasive seeprti USG, semi invasive seperti BNO dan foto kontras bahkan yang invasive seperti laparoskopi dalam rangka menunjang diagnosis tapi belum memberikan hasil yang menggembirakan. Menurut para ahli kesalahan diagnose sebesar 5-25% dapat dianggap kesalahan yang dapat diterima.

2

muskularis eksterna/propria (otot longitudinal dan sirkuler) dan serosa.BAB II. Lapisan submukosa terdiri dari jaringan ikat kendor dan jaringan elastic membentuk jaringan saraf. TINJAUAN PUSTAKA APPENDISITIS INFILTRAT I. Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar dibagian distal. Apendiks mungkin tidak terlihat karena adanya membran Jackson yang merupakan lapisan peritoneum yang menyebar dari bagian lateral abdomen ke ileum terminal. Anatomi Appendiks merupakan suatu organ limfoid seperti tonsil. payer patch (analog dengan BursaFabricus) membentuk produk immunoglobulin. GAMBAR 1. submukosa. Apendiks vermiformis disangga oleh mesoapendiks (mesenteriolum) yang bergabung dengan mesenterium usus halus pada daerah ileum terminale. Ketiga taenia caecum bertemu pada basis appendiks. Basis appendiks terletak pada bagian posteromedial caecum. Struktur apendiks mirip dengan usus mempunyai 4 lapisan yaitu mukosa. di bawah katup ileocaecal. pembuluh darah dan lymphe.5 cm dari katup ileocecal. dan berpangkal di sekum.ileocolica). Mesoapendiknya merupakan jaringan lemak yang mempunyai pembuluh appendiceal dan terkadang juga memiliki limfonodi kecil. Orificiumnya terletak 2. berbentuk tabung. Apendikularis (cabang a.5-1 cm. panjangnya kira-kira 10 cm (kisaran 3-15 cm) dengan diameter 0. Antara Mukosa dan 3 . menutup caecum dan appendiks. Mesenteriolum berisi a.

Gejala klinis apendisitis ditentukan oleh letak apendiks. Dinding dalam sama dan berhubungan dengan sekum (inner circular layer). Dinding luar (outer longitudinal muscle) dilapisi oleh pertemuan ketiga taenia colli pada pertemuan caecum danapendiks. nyerivisceral pada apendisitis bermula disekitar umbilikus. apendiks akan mengalami gangren. Taenia anterior digunakan sebagai pegangan untuk mencari apendiks. Pada bayi. atau di tepi lateral kolon asendens. Pada kasus selebihnya. pertumbuhan dari sekum yang berlebih akan menjadi apendiks. di belakang kolon asendens. apendiks terletak intraperitoneal. sedangkan persarafan simpatis berasal dari n. Apediks terletak retroperitoneal. Persarafan parasimpatis berasal dari cabang n.submukosa terdapat lymphonodes. Mukosa terdiri dari satulapis collumnar epithelium dan terdiri dari kantong yang disebut crypta lieberkuhn. Antecaecal : appendiks berada di depan caecum.apendikularis. misalnya karena trombosis pada infeksi. Pada saat antenatal dan postnatal.apendikularis yang merupakan arteri tanpa kolateral. Appendiks pertama kali tampak saat perkembangan embriologi minggu ke-8 yaitu bagian ujungdari protuberans sekum. yaitu di belakang sekum. Pendarahan apendiks berasal dari a. Oleh karena itu. Pada 65 %kasus. lebar pada pangkalnya dan menyempit kearah ujungnya. Jika arteri ini tersumbat. Paracaecal : appendiks terletak horizontal di belakang caecum.mesenterika superior dana. 4 . apendiks berbentuk kerucut. yang akan berpindah dari medial menuju katup ileosekal. Pelvic descenden : appendiks menggantung ke arah pelvis minor Retrocaecal : intraperitoneal atau retroperitoneal. Jenis posisi: Promontorik : ujung appendiks menunjuk ke arah promontoriun sacri Retrocolic : appendiks berada di belakang kolon ascenden dan biasanya retroperitoneal.vagus yang mengikuti a. appendiks b e r p u t a r k e a t a s ke belakang caecum.torakalis X. Kedudukan itu memungkinkan apendiks bergerak dan ruang geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks penggantungnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insiden apendisitis pada usia itu.

Jaringan lymphoid pertama kali muncul pada apendiks sekitar 2 minggu setelah lahir. Fisiologi Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. dan menetap saat dewasa dan kemudian berkurang mengikuti umur. III. Umumnya massa apendiks terbentuk pada hari ke-4 sejak peradangan mulai apabila tidak terjadi peritonitis umum. Setelah usia 60 tahun. tidak ada jaringan lymphoid lagi di apendiks dan terjadi penghancuran lumen apendiks komplit. Lendir di muara apendiks tampaknya berperan pada patogenesis apendisitis. Massa apendiks lebih sering dijumpai pada 5 . Definisi Apendisitis infiltrat adalah proses radang apendiks yang penyebarannya dapat dibatasi olehomentum dan usus-usus dan peritoneum disekitarnya sehingga membentuk massa (appendicealmass). Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (Gut associated Lymphoid tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk apendiks.GAMBAR 2. Namun demikian. Imunoglobulin ini sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. ialah IgA. Letak Variasi Appendik II. Jumlahnya meningkat selama pubertas. pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi system imun tubuh karena jumlah jaringan limfe disini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan diseluruh tubuh.

yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa. atau neoplasma. sisa barium dari pemeriksaan roentgen. terjadi ulserasi mukosa dan invasi bakteri.8 Frekuensi obstruksimeningkat dengan memberatnya proses inflamasi.1 ml. dan cacing usus termasuk ascaris. striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya. Manusia merupakan salah satu dari sedikit binatang yang dapat mengkompensasi peningkatan sekresi yang cukup tinggi sehingga menjadi gangrene atau terjadi perforasi. benda asing. 2Penyebab lain yang diduga dapat menyebabkan apendisitis adalah erosi mukosa apendiks karena parasit seperti E. V. Trauma tumpul atau trauma karena colonoscopy dapat mencetuskan inflamasi pada apendiks. Obstruksi lumen yang tertutup disebabkan oleh hambatan pada bagian proksimalnya dan berlanjut pada peningkatan sekresi normal dari mukosa apendiks yang distensi.pasien berumur lima tahunatau lebih karena daya tahan tubuh telah berkembang dengan baik dan omentum telah cukup panjang dan tebal untuk membungkus proses radang. Jika sekresi sekitar 0. Fekalit ditemukan pada 40% dari kasusapendisitis akut. fekalit. Semuanya akan mempermudah terjadinya apendisits akut. Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makanmakanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. 2. Fekalit merupakan penyebab terseringdari obstruksi apendiks. sekitar 65% merupakan apendisitis gangrenous tanpa rupture dan sekitar 90%kasus apendisitis gangrenous dengan rupture. Konstipasi akan meningkatkan tekanan intrasekal.5 dapat meningkatkan tekanan intalumen sekitar 60 cmH20. Kapasitas lumen apendiks normal hanya sekitar 0. Tekanan yang meningkat tersebut akan menyebabkan apendiks mengalami hipoksia. namun elastisitas dinding appendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan intralumen. Infeksi menyebabkan pembengkakan apendiks bertambah (edema) dan semakin iskemik karena terjadi trombosis pembuluh darah intramural 6 . menghambat aliran limfe. Histolytica. Patofisiologi Appendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hyperplasia folikel limfoid. Obstruksi tersebut menyebabkan mucus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Penyebab lainnya adalah hipertrofi jaringan limfoid. Etiologi Obstruksi lumen merupakan penyebab utama apendisitis. diet rendah serat. Makin lama mucus tersebut makin banyak. IV. Post operasi apendisitis juga dapat menjadi penyebab akibat adanya trauma atau stasis fekal.

Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut.(dinding apendiks). Bila dinding yang telah rapuh itu pecah. GAMBAR. Bila semua proses diatas berjalan lambat. Peradangan timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri didaerah kanan bawah. Bila sekresi mukus terus berlanjut. usus halus. Infiltrat apendikularis merupakan tahap patologi apendisitis yang dimulai dimukosa dan melibatkan seluruh lapisan dinding apendiks dalam waktu 24-48 jam pertama. apendisitis akan sembuh dan massa peri apendikular akan menjadi tenang untuk selanjutnya akan mengurai diri secara lambat. tapi waktu tersebut dapat berbeda-beda setiap pasien karena ditentukan banyak faktor. karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. edema bertambah. dan bakteri akan menembus dinding. Jika tidak terbentuk abses. Bila kemudian arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangrene. ini merupakan usaha pertahanan tubuh dengan membatasi proses radang dengan menutup apendiks dengan omentum. dinding apendiks lebih 7 . Didalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi. tekanan akan terus meningkat. 3. Appendisitis Akut Gangren dan perforasi khas dapat terjadi dalam 24-36 jam. omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak kearah apendiks hingga timbul suatu massa local yang disebut infiltrate apendikularis. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang. Pada saat inilah terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium. Pada anak-anak. atau adneksa sehingga terbentuk massa peri apendikular. akan terjadi apendisitis perforasi.

yang akan menetap dan diperberat bila berjalan atau batuk. VI. Walaupun proses melokalisir sudah selesai tetapi masih belum cukup kuat menahan tahanan atau tegangan dalam cavum abdominalis. dan demam yang tidak terlalu tinggi. Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna. Terdapat juga keluhan anoreksia. oleh karena itu pendeita harus benar. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi. Manifestasi klinis Appendisitis infiltrat didahului oleh keluhan appendisitis akut yang kemudian disertai adanya massa periapendikular. daya tahan tubuh. mencoba membatasi dan melokalisir proses peradangan ini. Pada suatu ketika organ ini dapat meradang akut lagi dan dinyatakan mengalami eksaserbasi akut. tetapi akan membentuk jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitarnya. Gejala klasik apendisitis akut biasanya bermula dari nyeri di daerah umbilikus atau periumbilikus yang berhubungan dengan muntah. omentum. fibrosis pada dinding apendiks. Perlengketan ini dapat menimbulkan keluhan berulang diperut kanan bawah. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah. malaise. peritoneum parietale dan juga organ lain seperti vesika urinaria. GAMBAR 4. uterus tuba. Dalam 2-12 jam nyeri beralih kekuadran kanan.tipis. Bila proses melokalisir ini belum selesai dan sudah terjadi perforasi maka akan timbul peritonitis. usus yang lain.benar istirahat (bedrest). Kecepatan rentetan peristiwa tersebut tergantung pada virulensi mikroorganisme. Biasanya juga terdapat 8 .

80-90 % apendisitis baru diketahui setelah terjadi perforasi. Anak sering tidak bisa melukiskan rasa nyerinya dalam beberapa jam kemudian akan timbul muntahmuntah dan anak akan menjadi lemah dan letargik. dapat terjadi peningkatan frekuensi kencing. Karena gejala yang tidak khas tadi. karena kontraksi otot psoas mayor yang menegang dari dorsal. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ke kanan bawah ketitik McBurney. Pada permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang menetap. disertai maupun tidak disertai rangsang peritoneum lokal. mual.konstipasi tetapi kadang-kadang terjadi diare. keluhan utama apendisitis adalah nyeri perut. 9 . apendisitis agak sulit didiagnosis sehingga tidak ditangani pada waktunya dan terjadi komplikasi. pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan berulang-ulang. Kadang tidak ada nyeri epigastrium tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Akibatnya lebih dari separo penderita baru dapat didiagnosis setelah perforasi. sering apendisitis diketahui setelah perforasi. Namun dalam beberapa jam nyeri abdomen kanan bawah akan semakin progresif. karena letaknya terlindung sekum maka tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada rangsangan peritoneal. Pada beberapa keadaan. Pada bayi. Apendiks yang terletak di rongga pelvis. Tindakan itu dianggap berbahaya karena bias mempermudah terjadinya perforasi. Bila terdapat perangsangan peritoneum biasanya pasien mengeluh sakit perut bila berjalan atau batuk. tidak jarang terlambat diagnosis. Yang perlu diperhatikan ialah. karena rangsangan dindingnya. Bila letak apendiks retrosekal di luar rongga perut. Disini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan somatik setempat. Pada orang berusia lanjut gejalanya juga sering samar-samar saja. Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh radang mendadak apendiks yang memberikan tanda setempat. Rasa nyeri lebih ke arah perut sisi kanan atau nyeri timbul pada saat berjalan. Pada kehamilan. Umunya nafsu makan menurun. pada kehamilan trimester pertama sering juga terjadi mual dan muntah. Gejala apendisitis akut pada anak tidak spesifik. Jika apendiks tadi menempel ke kandung kemih. dan muntah. mual dan muntah. Pada kehamilan lanjut sekum dengan apendiks terdorong ke kraniolateral sehingga keluhan tidak dirasakan di perut kanan bawah tetapi lebih ke regio lumbal kanan. dapat menimbulkan gejala dan tanda rangsangan sigmoid atau rektum sehingga peristaltik meningkat. Gejala awalnya sering hanya rewel dan tidak mau makan. bila meradang.

Pemeriksaan colok dubur menyebabkan nyeri bila daerah infeksi bisa dicapai dengan jari telunjuk. 10 . Bila apendiks yang meradang menempel di m. Pada apendisitis retrosekal atau retroileal diperlukan palpasi dalam untuk menentukan adanya rasa nyeri.VII. Pasien dimiringkan kekiri. Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri di perut kanan bawah yang disebut tanda Rovsing. pada saat itu ada hambatan pada pinggul / pangkal paha kanan (tanda bintang). Pemeriksa menggerakkan tungkai bawah kelateral. Peristalsis usus sering normal. Apendiks yang mengalami peradangan kontak dengan otot psoas yang meregang saat dilakukan manuver (pemeriksaan).psoas. Pada apendisitis pelvika tanda perut sering meragukan. Uji psoas dilakukan dengan rangsangan m. psoas lewat hiperekstensi atau fleksi aktif. Appendisitis infiltrat atau adanya abses apendikuler terlihat dengan adanya penonjolan di perut kanan bawah. Colok dubur pada anak tidak dianjurkan. Pemeriksaan A.obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil. Jika apendiks intrapelvinal maka massa dapat diraba pada RT (Rectal Touche) sebagai massa yang hangat. Nyeri tekan perut kanan bawah ini merupakan kunci diagnosis. Pemeriksa meluruskan paha kanan pasien. Jika sudah terbentuk abses yaitu bila ada omentum atau usus lain yang dengan cepat membendung daerah apendiks maka selain ada nyeri pada fossa iliaka kanan selama 3-4 hari (waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan abses) juga pada palpasi akan teraba massa yang fixed dengan nyeri tekan dan tepi atas massa dapat diraba. tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri. pada saat itu ada tahanan pada sisi samping dari lutut (tanda bintang). maka kunci diagnosis adalah nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur. Nyeri pada rotasi kedalam secara pasif saat paha pasien difleksikan. Tes Obturator. peristalsis dapat hilang karena ileus paralitik pada peritonitis generalisata akibat apendisitis perforata. Dengan gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang. Defans muskuler menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietale. Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator merupakan pemeriksaan yang lebih ditujukan untuk mengetahui letak apendiks. Pada palpasi didapatkan nyeri yang terbatas pada regio iliaka kanan. bisa disertai nyeri lepas. misalnya pada apendisitis pelvika. Dasar anatomi dari tes psoas. Psoas sign. Uji obturator digunakan untuk melihat apakah apendiks yang meradang kontak dengan m. pada apendisitis pelvika akan menimbulkan nyeri. Nyeri pada saat paha kanan pasien diekstensikan. Pemeriksaan Fisik Kembung sering terlihat pada penderita dengan komplikasi perforasi.

Pada pemeriksaan urin. Pemeriksaan Radiologi. diverticulitis cecal. 2. Lebih dari 13. Tanda-tanda peritonitis kuadran kanan bawah. Gambaran perselubungan mungkin terlihat ´ilealatau caecal ileus´ (gambaran garis permukaan air-udara disekum atau ileum). 11 . Kondisi penyakit lain pada kuadran kanan bawah seperti inflammatory bowel desease. Tidak adanya leukositosis tidak menyingkirkan apendisitis. B.menghasilkan rotasi femur kedalam.000/mm3 umumnya pada apendisitis perforasi. GAMBAR 5. Hitung jenis leukosit terdapat pergeseran ke kiri. USG dilakukan khususnya untuk melihat keadaan kuadran kanan bawah atau nyeri pada pelvis pada pasien anak atau wanita. C. sedimen dapat normal atau terdapat leukosit dan eritrosit lebih dari normal bila apendiks yang meradang menempel pada ureter atau vesika. pada darah lengkap didapatkan leukosit ringan umumnya padaapendisitis sederhana. divertikulummeckel’s. Dasar Anatomi dari tes obturator : Peradangan apendiks dipelvis yang kontak dengan otot obturator internus yang meregang saat dilakukan manuver. Patognomonik bilaterlihat gambar fekalit. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Laboratorium. 1. Foto Polos Foto polos abdomen dikerjakan apabila hasil anamnesa atau pemeriksaan fisik meragukan. Radiografi gambar perut menyingkap appendicolith (panah) di kuadran kanan bawah. USG atau CT Scan. Adanya peradangan pada apendiks menyebabkan ukuran apendiks lebih dari normalnya (diameter 6mm).

lebih akurat dibanding USG. GAMBAR 6. struktur tubular non compressible (lampiran meradang) dengan appendicolith membayangi (panah). pandangan benar.endometriosis dan pelvic Inflammatory Disease (PID) dapat menyebabkan positif palsu pada hasil USG. Pemeriksaan Barium enema dan Colonoscopy merupakan pemeriksaan awal untuk menyingkirkan kemungkinan adanya karsinoma colon. dari kuadran kanan bawah abdomen (tampilan kiri. noncompressed. 12 . dikompresi) mengungkapkan berdinding tebal. Selain dapat mengidentifikasi apendiks yang mengalami inflamasi (diameter lebih dari 6 mm) juga dapat melihat adanya perubahan akibat inflamasi pada periapendik. Pada CT Scan khususnya apendiceal CT. dan (bawah) gambar USG longitudinal yang mengungkapkan berdinding tebalmeradang usus buntu dan appendicolith (panah) dan pengumpulan cairan kecil periappendiceal. Tetapi untuk apendisitis akut pemeriksaan barium enema merupakan kontraindikasi karena dapat menyebabkan ruptureapendiks.

GAMBAR 7. Hal ini perlu dipastikan dengan colon in loop dan benzidin test. Tomografi aksial dihitung gambar lampiran meradang diisi dengan cairan danappendicolith (panah). Laboratorium masih terdapat lekositosis dan pada hitung jenis terdapat pergeseran ke kiri. klinisnya antara lain keluhan nyeri yang tidak begitu hebat disebelah kanan perut. suhu tubuh masih tinggi. Penegakan diagnosis didukung dengan pemeriksaan fisik maupun penunjang. kadangkadang teraba massa. Pemeriksaan lokal pada abdomen kuadran kanan bawah masih jelas terdapat tandatanda peritonitis. enteritis tuberkulosa. 3. Adneksitis dan Kista Ovarium terpuntir . leukositosis sedang. mengarahkan diagnosis ke massa atau abses apendikuler.dan kelainan ginekolog seperti Kehamilan Ektopik Terganggu (KET). biasanya terjadi pada orang tua dengan tanda keadaan umum jelek. penyakit Crohn. amuboma dan Lymphoma maligna intra abdomen. Keadaan umum pasien masih terlihat sakit. 13 . Pada apendisitis tuberkulosa.dengan atau tanpa muntah dan waktu serangan dapat timbul panas badan. Massa apendiks dengan proses radang yang masih aktif ditandai dengan: 1. yang diikuti dengan adanya massa yang nyeri di region iliakakanan dan disertai demam. Kadang keadaan ini sulit dibedakan dengan karsinoma sekum. anemia dan turunnya berat badan. Pada anakanak tumor caecum yang sering adalah sarcoma dari kelenjar mesenterium. Perlu juga disingkirkan kemungkinan aktinomikosis intestinal. biasanya terdapat nyeri tekan dan rigiditas pada kuadran lateral bawah kanan. VIII. Diagnosis Riwayat klasik apendisitis akut. 2. Tumor caecum. Kunci diagnosis biasanya terletak pada anamnesis yang khas.

Jika peradangan pada apendiks tidak dapat mengatasi rintanganrintangan sehingga penderita terus mengalami peritonitis umum. Masalah ini adalah bilamana penderita ditemui lewat sekitar 48 jam. sehingga membuat operasi berbahaya maka harus menunggu pembentukan abses yang dapat mudah didrainase. Pemeriksaan lokal abdomen tenang. Pasien dewasa dengan massa periapendikular yang terpancang dengan pendindingan sempurna. massa tadi menjadi terisi nanah. suhu tubuh tidak tinggi lagi. tidak terdapat tanda-tanda peritonitis dan hanya teraba massa dengan batas jelas dengan nyeri tekan ringan. Selain itu. akan terbentuk abses apendiks. dan teraba pembengkakan massa. dan bilamana karena massa ini telah menjadi lebih terfiksasi dan vascular. ahli bedah akan mengoperasi untuk membuang apendiks yang mungkin gangrene dari dalam massa perlekatan ringan yang longgar dan sangat berbahaya. penderita boleh pulang dan apendiktomi elektif dapat dikerjakan 2-3 bulan kemudian agar perdarahan akibat perlengketan dapat ditekan sekecil mungkin. 2. serta bertambahnya angka leukosit. dianjurkan untuk dirawat dahulu dan diberi antibiotik sambil diawasi suhu tubuh. 3. Pada massa periapendikular yang pendindingannya belum sempurna. Oleh karena itu. IX. Urut-urutan patologis ini merupakan masalah bagi ahli bedah. bertambahnya nyeri. Bila sudah tidak ada demam. massa periapendikular yang masih bebas disarankan segera dioperasi untuk mencegah penyulit tersebut. Keadaan umum telah membaik dengan tidak terlihat sakit. Bila terjadi perforasi. ukuran massa. dipersiapkan untuk operasi dalam waktu 2-3 hari saja. dapat terjadi penyebaran pus keseluruh rongga peritoneum jika perforasi diikuti peritonitis purulenta generalisata. serta luasnya peritonitis. Laboratorium hitung lekosit dan hitung jenis normal. tetapi segera menjadi abses yang jelas batasnya. massa yang terbentuk tersusun atas campuran membingungkan bangunan-bangunan ini dan jaringan granulasi dan biasanya dapat segera dirasakan secara klinis. semula dalam jumlah sedikit. Massa apendiks terjadi bila terjadi apendisitis gangrenosa atau mikroperforasi ditutupi atau dibungkus oleh omentum dan atau lekuk usus halus. massa periapendikular hilang. Massa apendiks dengan proses 14 . Hal ini ditandai dengan kenaikan suhu dan frekuensi nadi. operasi lebih mudah.Massa apendiks dengan proses radang yang telah mereda dengan ditandai dengan : 1. Mula-mula. dan leukositnormal. Pada anak. Penatalaksanaan Perjalanan patologis penyakit dimulai pada saat apendiks menjadi dilindungi oleh omentum dan gulungan usus halus didekatnya.

Abses dicapai secara ekstraperitoneal. dilakukan apendiktomi. Total bed rest posisi fawler agar pus terkumpul di cavum douglassi. dapat dipertimbangkan membatalakan tindakan bedah. Pembedahan dilakukan segera bila dalam perawatan terjadi abses dengan atau pun tanpa peritonitis umum. Baru setelah keadaan tenang. dianjurkan drainase saja dan apendiktomi dikerjakan setelah 68 minggu kemudian. Terapi konservatif pada periapendikular infiltrat : 1. Bila gejala menghebat.radang yang masih aktif sebaiknya dilakukan tindakan pembedahan segera setelah pasien dipersiapkan. jika secara konservatif tidak membaik atau berkembang menjadi abses. Caranya dengan membuat insisi pada dinding perut sebelah lateral dimana nyeri tekan adalah maksimum (incisi grid iron). Biasanya pada hari ke5-7 massa mulai mengecil dan terlokalisir. Observasi suhu dan nadi. Bila massa tidak juga mengecil. Jika ternyata tidak ada keluhan atau gejala apapun. dan pemeriksaan jasmani dan laboratorium tidak menunjukkan tanda radang atau abses. Biasanya 48 jam gejala akan mereda. lebih baik diambil karena apendik ini akan menjadi sumber infeksi. Pada anak kecil. bila apendiks mudah diambil. Bila apendiks sukar dilepas. dilarang keras membuka perut. Bila pada waktu membuka perut terdapat periapendikular infiltrat maka luka operasi ditutup lagi. yaitu sekitar 6-8 minggu kemudian. Diet lunak bubur saring 3. Persiapan dan pembedahan harus dilakukan sebaik-baiknya mengingat penyulit infeksi luka lebih tinggi daripada pembedahan pada apendisitis sederhana tanpa perforasi. Antibiotika parenteral dalam dosis tinggi. dan penderita usia lanjut. antibiotik kombinasi yang aktif terhadap kuman aerob dan anaerob. Terapi sementara untuk 8-12 minggu adalah konservatif saja. Kalau sudah terjadi abses. karena dikuatirkan akan terjadi abses apendiks dan peritonitis umum. Batas dari massa hendaknya diberi tanda (demografi) setiap hari.dianjurkan operasi secepatnya.apendiks dibiarkan saja. tandanya terjadi perforasi maka harus dipertimbangkan appendiktomy. lebih-lebih bila massa apendiks telah terbentuk lebih dari satu minggu sejak serangan sakit perut. tandanya telah terbentuk abses dan massa harus segera dibuka dan didrainase. 2. tindakan bedah apabila dilakukanakan lebih sulit dan perdarahan lebih banyak. maka apendiks dapat dipertahankan karena jika dipaksakan akan ruptur 15 . Analgesik diberikan hanya kalau perlu saja. wanita hamil. Pada periapendikular infiltrat.

Antibiotik sistemik dilanjutkan sampai minimal 5 hari post operasi.Keadaan umum penderita baik. Pemeriksaan fisik . Tidak didapatkan leukositosis 3. tidak terdapat kenaikan suhu tubuh (diukur rectal dan aksiler) .drai dapat diputar dan ditarik sedikit demi sedikit sepanjang 1 inci tiap hari. Bila LED tetap tinggi . bila pus sudah kurang dari 100 cc/hari. Leukosit normal Kebijakan untuk operasi periapendikular infiltrat : 1.Tanda-tanda apendisitis sudah tidak terdapat . Periapendikular infiltrat dianggap tenang apabila : 1.maka perlu diperiksa o Apakah penderita sudah bed rest total 16 .Laboratorium : LED kurang dari 20. Tidak didapatkan massa atau pada pemeriksaan berulang massa sudah tidak mengecil Lagi .Massa sudah mengecil atau menghilang. Massa. Anamesa : penderita sudah tidak mengeluh sakit atau nyeri abdomen 2. atau massa tetap ada tetapi lebih kecil dibanding semula. Untuk mengecek pengecilan abses tiap hari penderita di RT. Bila LED telah menurun kurang dari 40 2. . Jumlah leukosit. Penderita periapendikular infiltrat diobservasi selama 6 minggu tentang : LED. dan dikeluarkan lewat samping perut.dan infeksi dapat menyebar. Pipa drainase didiamkan selama 72 jam. Abses didrainase dengan selang yang berdiameter besar.

dan lekuk usus halus. Tanda-tanda terjadinya suatu perforasi adalah : ‡ nyeri lokal pada fossa iliaka kanan berganti menjadi nyeri abdomen menyeluruh ‡ Suhu tubuh naik tinggi sekali. Bila dalam 8-12 minggu masih terdapat tanda-tanda infiltrat atau tidak ada perbaikan. operasitetap dilakukan. ‡ Nadi semakin cepat. X. baik berupa perforasi bebas maupun perforasi pada apendiks yang telah mengalami pendindingan berupa massa yang terdiri atas kumpulan apendiks. ‡ Defance Muskular yang menyeluruh ‡ Bising usus berkurang ‡ Perut distended 17 . sekum. Bila ada massa periapendikular yang fixed.o Pemberian makanan penderita o Pemakaian antibiotik penderita o Kemungkinan adanya sebab lain. Perforasi dapat menyebabkan timbulnya abses lokal ataupun suatu peritonitis generalisata. ini berarti sudah terjadi abses dan terapi adalah drainase. Komplikasi Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah perforasi.

Pelvic Abscess 2. Intra peritoneal abses lokal. dapat menyebabkan kegagalan organ dan kematian. Subphrenic absess 3. Peritonitis merupakan infeksi yang berbahaya karena bakteri masuk kerongga abdomen. 18 .Akibat lebih jauh dari peritonitis generalisata adalah terbentuknya : 1.

pemeriksaan fisik dan penunjang yang mendukung. Etiologi dan patofisiologi appendisitis infiltrat diawali oleh adanya apendisitis akut. acute suppurative appendicitis. Diagnosis apendisitis infiltrat dapat dibingungkan dengan penyakit lain pada kuadran kanan abdomen dengan massa diantaranya tumor cekum. apendisitis tuberkulosa. merupakan serangan ulang apendisitis yang telah sembuh. o terjadi apendisitis infiltrat jika pertahanan tubuh baik (massa lama kelamaan akan mengecil dan menghilang) o apendisitis kronis. dan juga kelainan ginekolog seperti KET. Apendisitis infiltrat adalah proses radang apendiks yang penyebarannya dapat dibatasi oleh omentum dan usus-usus dan peritoneum disekitarnya sehingga membentuk massa (appendiceal mass). 19 . terjadi penyebaran kontaminasi didalam ruang atau rongga peritoneumakan menimbulkan peritonitis generalisata. 2.BAB III. penyakit crohn. Apendisitis infiltrat merupakan komplikasi dari apendisitis akut. lymfoma maligna intra abdomen. PENUTUP KESIMPULAN 1. Massa apendiks lebih sering dijumpai pada pasien berumur lima tahun atau lebih karena daya tahan tubuh telah berkembang dengan baik dan omentum telah cukup panjang dan tebal untuk membungkus proses radang. Dimulai dari acute focal gangrenous appendicitis. Appendicitis dapat (tahap pertama dari apendisitis yang mengalami komplikasi) terjadi 3 kemungkinan : o perforated apendicitis. Umumnya massa apendiks terbentuk pada hari ke-4 sejak peradangan mulai apabila tidak terjadi peritonitis umum. amuboma. 3. Appendisitis infiltrat dapat didiagnosis dengan didasari anamnesis adanya riwayat apendisitis akut dengan tanda khasnya. adneksitis ataupun kista ovarium terpuntir.

Apabila massa mengecil pembedahan dapat dibatalkan tetapi apabila massa tetap dan nyeri perut pasien bertambah berarti sudah terjadi abses dan massa harus segera dibuka dan dilakukan drainase.4. 20 . Komplikasi terjadi biasanya akibat keterlambatan diagnosa apendisitis akut. Komplikasi yang dapat terjadi yaitu perforasi apendisitis yang dapat mengakibatkan peritonitis yang pada akhirnya akan terjadi kegagalan organ dan kematian. 5. Terapi appendisitis infiltrat adalah operasi elektif appendiktomy jika massa dianggap tenang dengan sebelumnya diberikan terapi konservatif dengan kombinasi antibiotik dosis tinggi untuk kuman aerob dan anaerob selama 6-8 minggu.

R. Jakarta.G. 2004.M.23 No. Appendicitis. 2005. EGC. 1999. NationalInstitute of Health.ht m file:///C:/Documents%20and%20Settings/USER/My%20Documents/indra/Referat%20Appendicitis. Emerg Med 36 (10): 10-15. 1918.http://www.htm Anonim. dkk. Principles of Surgery sevent edition.03 September 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. 2004. Department Of Health and Human Services. 2000. Mc-Graw Hilla Division of The McGraw-Hill Companies. http://www. 2006. U. NIH Publication No.PDF#search=periappendiceal %20 mass Anonim.www. Periappendiceal Mass. Anatomy of The Human Body.htm. Appendix. 04±4547.meddean.net/titolugo/PSU23304. Lugo.DAFTAR PUSTAKA Mansjoer. .gpnotebook.(1826-1861).digestive.www. Bratajaya Fakultas Kedokteran UNAIR. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid Kedua. S.Appendicitis. S. GP Note Book http://www.nih.. De Jong. Jones.S. http://home. Appendicitis... Anonim..co.coqui. D. PathologyOutlines. Itskowiz. Jakarta.H.Bartleby. Schwartz.lun. Spencer.. V.S. Vol. Fisher.June 2004 www.com Gray. Penerbit Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Surabaya.niddk. Pediatric Surgery Update.A.com Anonim.htm 21 .uh/cache/1738145813.gov file:///C:/Documents%20and%20Settings/USER/My%20Documents/indra/APENDISITIS%20INFILTRAT. M.edu/lumen/Meded/Radio/Nuc_med?Appen dicitis/Natural. H. Sjamsuhidajat.patholoyoutlines..com Anonim. 2004... Ilmu Bedah dan Teknik Operasi. 2004. Appendix Mass...emedmag. Enigma an Enigma Electronic Publication.W.2006.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful