TENTANG KAWASAN BERIKAT

Kawasan berikat

I. PENGERTIAN
Kawasan Berikat adalah suatu bangunan, tempat atau kawasan dengan batas-batas tertentu yang didalamnya dilakukan kegiatan usaha industri pengolahan barang dan bahan, kegiatan rancang bangun, perekayasaan, penyortiran, pemeriksaan awal, pemeriksaan akhir, dan pengepakan atas barang dan bahan asal impor atau barang dan bahan dari dalam Daerah Pabean Indonesia lainnya (DPIL), yang hasilnya terutama untuk tujuan ekspor. Penyelenggara Kawasan Berikat (PKB)adalah perseroan terbatas, koperasi yang berbentuk badan hukum atau yayasan yang memiliki, menguasai, mengelola dan menyediakan sarana dan prasarana guna keperluan pihak lain di KB yang diselenggarakannya berdasarkan ijin untuk menyelenggarakan KB. Pengusaha Di Kawasan Berikat (PDKB)adalah perseroan terbatas, koperasi yang melakukan kegiatan usaha pengolahan di Kawasan Berikat.

II. KETENTUAN UMUM Penetapan suatau bangunan, tempat atau kawasan sebagai Kawasan Pabean serta pemberian ijin PKB dilakukan dengan KEPPRES. Perusahaan yang dapat diberikan ijin sebagai PKB adalah : Dalam rangka penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Dalam rangka Penanaman Modal asing (PMA), baik sebagian atau seluruh modal sahamnya dimiliki oleh peserta asing Non PMA/PMDN yang berbentuk Perseroan Terbatas Koperasi yang berbentuk badan hukum, atau Yayasan Untuk mendapatkan ijin PKB, perusahaan harus telah memiliki kawasan yang berlokasi di kawasan industri Dalam hal kawasan yang dimiliki perusahaan berada di dalam daerah yang tidak mempunyai kawasan industri, maka kawasan tersebut harus termasuk dalam kawasan peruntukkan industri yang ditetapkan Pemda TK II. Dalam hal suatu perusahaan telah memiliki industri sebelum ditetapkan keputusan ini, perusahaan industri yang bersangkutan. dapat ditetapkan menjadi PKB yang merangkap sebagai PDKB. III. KEWAJIBAN PKB: Membuat pembukuan/ catatan serta menyimpan dokumen impor atas barang modal dan peralatan yang dimasukkan untuk keperluan pembangunan/konstruksi dan peralatan perkantoran KB Menyelenggarakan pembukuan sesuai denagn Standar Akuntansi Keuangan Indoensia (SAKI) Memberikan ijin PDKB atau persetujuan berusaha kepada pengusaha yang melakukan kegiatan usaha di KB yang dikelolanya Memasang tanda nama perusahaan dan No./tanggal ijin PKB yang dimiliki ditempat yang dapat dilihat umum dengan jelas. Melaporkan kepada Kepala Kantor apabila terdapat PDKB yang tidak beroperasi. dalam proses dan IV. KEWAJIBAN PDKB : Setelah mendapatkan ijin PDKB/ persetujuan usaha di KB dari PKB, memberitahukan kepada Direktur Jenderal BC melalui PKB dalam waktu 14 (empat belas) hari sebelum memulai kegiatan. Membuat pembukuan/catatan serta menyimpan dokumen atas pemasukan, pemindahan dan

barang barang jadi.3 yang dilampiri dokumen pendukung Pengeluaran barang hasil olahan PDKB ditujukan untuk : Ekspor Kawasan berikat lainnya Sesama PDKB dalam satu Kawasan Berikat Entrepot Tujuan Pameran. perluasan. PEMASUKAN DAN PENGELUARAN Pemasukan barang impor berupa barang modal/peralatan yang dipergunakan untuk pembangunan/konstruksi. TANGGUNG JAWAB PKB/PDKB : PKB/PDKB bertanggung jawab terhadap : Bea Masuk Cukai Pajak Pertambahan Nilai Pajak Penjualan Barang Mewah Pajak Penghasilan Ps.22 impor yang terutang atas barang yang dimasukkan atau dikeluarkan dari Kawasan Berikat. LARANGAN : PDKB dilarang memindahkan barang modal atau peralatan pabrik asal impor yang berhubungan langsung dengan kegiatan produksi PDKB tanpa persetujuan Direktur Jenderal Bea dan Cukai. V. barang/bahan ke KB dapat berasal dari : Tempat Penimbunan Sementara Gudang Berikat Kawasan Berikat lainnya PDKB dalam satu Kawasan Berikat Produsen pengguna fasilitas Bapeksta Keuangan Daerah Pabean Indonesia Lainnya (DPIL) Pemasukan barang modal/peralatan pabrik yang digunakan secara langsung dalam proses produksi : tidak diperbolehkan atas barang yang terkena peraturan larangan impor ke Kawasan Berikat tidak dilakukan pemeriksaan fisik kecuali terdapat hasil intelijen tentang adanya pelanggaran yang dinyatakan dalam surat perintah tertulis dari Direktur Jenderal tidak diberlakukan ketentuan tata niaga di bidang impor harus menggunakan dokumen BC 2. VII. penyelenggaraan kantor KB diberlakukan ketentuan tatalaksana kepabeanan di bidang impor Pemasukan barang modal/peralatan pabrik yang dipergunakan secara langsung dalam proses produksi. VI. atau Daerah Pabean Indonesia Lainnya. pemindahan. maksimal 25 % dari nilai realisasi ekspor/pengeluaran ke PDKB lainnya yang telah dilaksanakan Sub Kontrak sebagian pekerjaan dapat dilimpahkan pada : Perusahaan industri yang berada di KB lainnya DPIL. dan pengeluaran barang/bahan ke dan dari KB sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Indonesia (SAKI) Memberi kode untuk setiap jenis barang sesuai denan sistem pembukuan perusahaan secara konsisten Menyimpan dan memelihara dengan baik pada tempat usahanya buku dan catatan serta dokumen yang berkaitan dengan kegiatan usahanya dalam kurun waktu 10 (sepuluh) tahun Menyediakan ruangan dan sarana kerja untuk Pejabat Bea dan Cukai Meyerahkan dokumen yang berkaitan dengan kegiatan KB apabila dilakukan audit oleh DJBC/DJP Membuat dan mengirim laporan 3 (tiga) bulanan kepada Kepala Kantor paling lambat 10 bulan berikutnya tentang persediaan bahan baku. Menyelenggarakan pembukuan tentang pemasukan. dengan dilakukan pemeriksaan dan dipertaruhkan jaminan oleh perusahaan yang tergolong dalam Daftar Putih Pekerjaan Sub Kontrak paling lama 60 hari .ppengeluaran barang/bahan di KB.

PPnBM dan PPh Pasal 22 berdasarkan harga penyerahan Pemeriksaan pabean di KB dilaksanakan oleh DJBC XI. IX. cukai dan pajak dalam rangka impor diberikan pembebasan BM.Cukai. alat kantor untuk dipakai PKB/PDKB diberi penangguhan bea masuk. bebas cukai. AUDITING DJBC melakukan auditing atas pembukuan. Bila terdapat selisih kurang atau adanya penggunaan yang tidak sesuai dengan peruntukannya. PPnBM dan PPh Pasal 22 dengan dasar perhitungan : bea masuk. PPh Pasal 22 yang terutang dan sanksi administrasi berupa denda 100% dari pungutan yang terutang Bila selisih lebih dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. XIII. PPN. MESIN/PERALATAN PABRIK Dapat dipinjamkan kepada PDKB lainnya atau SubKontraktor di DPIL paling lama 12 bulan (dapat diperpanjang 2x12 bulan) dengan pemeriksaan fisik dan mempertaruhkan jaminan Dapat direparasi di luar negeri paling lama 12 bulan dengan menggunakan PEBT Dapat direparasi di DPIL dengan pemeriksaan fisik dan mempertaruhkan jaminan Dapat diganti dan dilakukan reekspor atau dipindahtangankan kepada PDKB lain. berdasarkan tarif bahan baku dengan pembebanan yang berlaku pada saat impor untuk dipakai dan Nilai Pabean yang terjadi pada saat barang dimasukkan ke KB Cukai berdasarkan ketentuan tentang cukai PPN. PEMBEKUAN IJIN PKB Menteri Keuangan atas saran Direktur Jenderal membekukan ijin PKB dalam hal : Hasil audit kepabeanan menunjukkan adanya pelanggaran yang mengakibatkan kerugian negara .VIII. catatan dan dokumen yang berkaitan dengan pemasukan/pengeluaran/pemindahan/ pencacahan barang. DAFTAR PUTIH PDKB dapat dimasukkan di dalam daftar Putih apabila : selama 12 bulan berturut-turut tidak melakukan pelanggaran selalu memenuhi klewajiban pabean dan perjakan dengan baik dan tepat waktu hasil post audit menunjukkan profil perusahaan baik Daftar Putih bagi perusahaan baru berdiri atas permohonan yang bersangkutan dan dicabut apabila dikemudian hari melanggar salah satu syarat di atas XII. PPnBM dan PPh Pasal 22 Pemasukan Barang Kena Pajak dari DPIL untuk pengolahan lebih lanjut tidak dipungut PPN dan PPnBM Pengeluaran barang/bahan ke perusahaan industri di DPIL/PDKB lainnya dalam rangka Sub Kontrak tidak dipungut PPN dan PPnBM Penyerahan kembali barang kena pajak hasil Sub Kontrak oleh Pengusaha Kena Pajak di DPIL/PDKB lainnya kepada PDKB asal tidak dipungut PPN dan PPnBM Peminjaman mesin/peralatan pabrik dalam rangka Sub Kontrak kepada perusahaan industri di DPIL/PDKB lainnya dan pengembalian pinjaman ke PDKB asal tidak dipungut PPN dan PPnBM Pemasukan Barang Kena Cukai dari DPIL untuk diolah lebih lanjut diberikan pembebasan cukai Penyerahan barang hasil olahan produsen pengguna fasilitas Bapeksta Keuangan dari DPIL untuk diolah lebih lanjut oleh PPKB diberikan perlakuan perpajakan yang sama dengan perlakukan terhadap barang yang diekspor Pengeluaran yang ditujukan kepada orang yang memperoleh fasilitas pembebasan/penangguhan BM. atau dimasukkan ke DPIL dengan membayar bea masuk dan pajak sesuai tatalaksana kepabeanan di bidang impor atau dimusnahkan. PPnBM dan PPh Pasal 22 Impor barang/bahan untuk diolah di PDKB diberi penangguhan BM. peralatan. PPnBM serta PPh Pasal 22 impor X. tidak dipungut PPN. PDKB bertanggung jawab atas pelunasan BM. cukai. cukai dan tidak dipungut PPN. PUNGUTAN NEGARA Pengeluaran barang yang telah diolah oleh PDKB ke DPIL dikenakan BM. PPN. tidak dipungut PPN. FASILITAS-FASILITAS : Impor barang modal. PPnBM.

Karena bagaimanapun pasar lokal juga merupakan bagian dari pasar global (pasar international). PPN.elunasi BM. PPN.PKB berada dalam pengawasan kurator sehubungan dengan hutang PKB menunjukkan ketidakmampuan menyelenggarakan KB Pembekuan ijin PKB dapat diubah menjadi pencabutan ijin atau dapat diberlakukan kembali Pembekuan ijin PKB diubah menjadi Pencabutan Ijin apabila : PKB tidak mampu melunasi utangnya dalam jangka waktu yang telah ditetapkan PKB tidak mampu lagi mengusahakan Kawasan Berikat Pembekuan Ijin PKB dapat diberlakukan kembali apabila PKB telah melunasi utangnya PKB telah mampu kembali mengusahakan Kawasan Berikat XIV. PDKB wajib : Mereekspor dan atau Memusnahkan di bawah pengawasan Kepala Kantor BC Memasukkan untuk dipakai berdasarkan harga penyerahan Barang sisa/potongan dari PDKB dapat : Mengeluarkan ke DPIL dengan m. Meskipun orientasinya untuk ekspor. Memusnahkan di bawah pengawasan Pejabat BC yang mengawasi Kawasan Berikat yang bersangkutan Posted by Sekretariat IEI at 5:03 AM 0 comments PENGELUARAN HASIL PRODUKSI KAWASAN BERIKAT KE DAERAH PABEAN INDONESIA LAINNYA (DPIL) Batasan Pengeluaran Hasil Produksi Kawasan Berikat Ke Daerah Pabean Indonesia Lainnya (DPIL) Fasilitas Kawasan Berikat diberikan antara lain kepada perusahaan industri yang orientasi pengeluaran (penjualan) produknya adalah untuk tujuan ekspor dan/atau untuk dijual ke Kawasan Berikat (PDKB) lainnya. PENCABUTAN IJIN PKB Presiden RI menetapkan pencabutan ijin PKB dalam hal : PKB tidak melakukan kegiatan selama 12 bulan berturut-turut Ijin usaha industri tidak berlaku lagi Dinyatakan pailit berdasarkan keputusan pengadilan bertindak tidak jujur dalam usahanya Tidak melaksanakan kewajibannya setelah proses pembekuan ijin Atas permohonan PKB sendiri Barang modal. peralatan dan peralatan kantor milik PKB yang dicabut ijinnya dalam waktu 30 hari sejak tanggal pencabutan. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. harus : Diekspor kembali Dipindahtangankan ke PKB lain Dikeluarkan ke DPIL dengan membayar BM. . PPnBM dan PPh Pasal 22 sesuai tatalaksana kepabeanan di bidang impor Dimusnahkan di bawah pengawasan DJBC Lewat dari 30 hari barangnya dinyatakan sebagai Barang Tidak Dikuasai Barang/Bahan yang rusak atau busuk. cukai. Meskipun demikian PDKB tidak dapat sembarangan menjual produknya ke DPIL. PDKB tetap dapat melakukan penjualan hasil produksinya untuk pasar lokal Indonesia atau Daerah Pabean Indonesia Lainnya (DPIL). PPnBM dan PPh Pasal 22 sepanjang memenuhi ketentuan kepabeanan menggunakan Pemberitahuan Pabean. Disamping itu penjualan atau pengeluaran produk dari KB ke DPIL juga dibatasi jumlah atau nilainya.

sebanyak-banyaknya 50% dari jumlah nilai hasil produksi tahun berjalan. dan memperbaiki kondisi ekonomi nasional. Adapun maksud dari diberikannya batasan pengeluaran ke DPIL yang lebih besar (100 %) untuk barang hasil produksi PDKB yang memerlukan proses lebih lanjut adalah karena barang tersebut menunjang industri dalam negeri. kain untuk membuat baju. meubel.05/1997 tentang Kawasan Berikat. b. b. sebanyak-banyaknya berjumlah 25 % (dua puluh lima persen).Barang-barang tersebut dapat berupa peralatan elektronik.1.01/1997 tentang Penyempurnaan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 291/KMK. untuk barang yang tidak memerlukan proses lebih lanjut. Barang-barang yang dapat dikeluarkan dari PDKB ke DPIL dalam jumlah 100% adalah barang-barang yang tujuannya untuk diolah lebih lanjut (barang yang memerlukan proses lebih lanjut. tidak dapat berfungsi sendiri tanpa bantuan barang lainnya dan bukan digunakan oleh konsumen akhir).Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan (Kep. b. Barang-barang yang dapat dikeluarkan dari PDKB ke DPIL dalam jumlah 50% adalah barang-barang yang tujuannya bukan untuk diolah lebih lanjut. barang selain sebagaimana dimaksud dalam huruf b. setelah realisasi ekspor dan/atau pengeluaran ke PDKB lainnya dalam jumlah: b.250.000 maka PDKB tersebut dapat mengeluarkan barang hasil produksinya ke DPIL sebanyakbanyaknya senilai US $ 1. Selanjutnya dengan Kep.04/2005 tentang Perubahan Ketujuh Atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 291/KMK. melainkan untuk tujuan lain misalnya dijual ke pasar atau kepada konsumen akhir. Pengeluaran ke DPIL. untuk barang selain sebagaimana dimaksud dalam huruf a. Perubahan Persentase Pengeluaran ke DPIL Berdasarkan Kep.2.1. sehingga dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja. danb. pengeluaran barang hasil produksi PDKB ke DPIL kembali mengalami perubahan sehingga menjadi sebagai berikut: a. spare part untuk dirakit.dari nilai realisasi ekspor dan/atau pengeluaran ke PDKB lainnya. dan barang jadi lainnya. Dengan demikian. Pengeluaran barang ke DPIL sebanyak-banyaknya 75% darijumlah nilai hasil produksi tahun berjalan.05/1997. Pengeluaran ke DPIL untuk perusahaan-perusahaan yang menggunakan fasilitas Bapeksa Keuangan (sekarang fasilitas Kemudahan Impor untuk Tujuan Ekspor / KITE) diperlakukan sama dengan pengeluaran untuk ekspor.. Adapun jumlah pengeluaran ke DPIL tersebut dibatasi nilainya sebanyak-banyaknya 25% (dua puluh lima persen) dari nilai realisasi ekspor dan/atau pengeluaran ke PDKB lainnya.1. Lebih lanjut Direktorat Teknis Kepabeanan menjelaskan bahwa perbedaan antara barang yang dapat dikeluarkan dari PDKB ke DPIL dalam jumlah 50% dengan 100% adalah sebagai berikut : a. Menkeu) Nomor 291/KMK. sebanyak-banyaknya berjumlah 50 % (lima puluh persen). mengurangi pengangguran.dari nilai realisasi ekspor dan/tau pengeluaran ke PDKB lainnya. untuk barang yang tidak memerlukan proses lebih lanjut dan dapat berfungsi sendiri tanpa bantuan barang lainnya serta dugunakan oleh konsumen akhir a.2. sebesar 100%. untuk komponen. untuk barang lainnya. c. batasan penjualan barang hasil produksi KB ke DPIL mengalami perubahan kembali yaitu a. diatur bahwa PDKB dapat menjual hasil produksinya ke DPIL setelah ada realisasi ekspor dan/atau pengeluaran ke PDKB lainnya. Menkeu Nomor 349/KMK. b. Pengeluaran barang ke DPIL diberikan dalam jumlah : a.Barangbarang tersebut dapat berupa benang untuk membuat kain. umpamanya suatu PDKB telah melakukan ekspor dan/atau pengeluaran ke PDKB lain senilai US $ 5.1. Kemudian dengan terbitnya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK. batasan pengeluaran barang hasil produksi PDKB ke DPIL mengalami penyempurnaan menjadi sebagai berikut: a. diberikan khusus kepada PDKB yang hasil produksinya digunakan untuk mensuplai perusahaan . pakaian jadi. sebanyak-banyaknya 60% dari jumlah nilai hasil produksi tahun berjalan.01/1999 tentang Perubahan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 291/KMK.05/1997 tentang Kawasan Berikat.05/1997. Menkeu Nomor 547/KMK. dapat berfungsi sendiri tanpa bantuan barang lainnya dan digunakan oleh konsumen akhir sebanyak-banyaknya 50%. yaitu barang atau bahan yang akan dirangkai dan/atau digabungkan dengan barang atau bahan lain dalam perkaitan atau pembuatan suatu barang yang lebih tinggi derajatnya yang sifat hakikinya berbeda dari produksi semula. makanan kaleng. dan barang ´setengah jadi lainnyaµ.

Namun jumlah nilai hasil produksi dapat ditafsirkan sebagai total Harga Pokok Produksi (HPP) barang yang diproduksi PDKB. dan sisanya dapat diekspor. Selisih nilai hasil produksi dari barang yang dikeluarkan sebagaimana tersebut butir a dan b. PDKB yang baru berdiri dapat diberikan walaupun belum diketahui past performancenya karena fasilitas daftar putih ini akan mengikat perusahaan yang baru berdiri untuk menunjukkan kredibilitasnya selama menggunakan fasilitas KB. dijual kepada perusahaan pengguna fasilitas KITE. dikeluarkan untuk diekspor. customs bond. Namun sampai saat artikel ini ditulis belum ada petunjuk pelaksanaan dari Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK. PERSYARATAN: Bagi PDKB yang telah beroperasi : (1) Fotokopi Surat Menteri Keuangan tentang Persetujuan PDKB atau Keputusan Menteri Keuangan tentang Persetujuan PKB merangkap PDKB.(3) Rekomendasi dari Direktorat Jenderal Pajak berkaitan dengan performance perusahaan tentang kepatuhan memenuhi kewajiban perpajakan dan memasukkan SPT tahunan. minyak dan gas. Dengan demikian ada dorongan bagi PDKB yang baru berdiri tersebut untuk menjadi PDKB bonafid sejak pertama kali beroperasi. Yang artinya akan menghemat cash flow perusahaan. maka jaminan tersebut dapat berupa Surat Sanggup Bayar (SSB) sehingga tidak perlu mempertaruhkan jaminan tunai.04/2005.(2) Rekomendasi dari Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai berkaitan dengan performance perusahaan selama menggunakan fasilitas KB dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan berturut-turut. Misalkan PDKB dapat memproduksi barang dengan HPP senilai 1 juta USD.(4) Rekomendasi dari Direktorat Verifikasi dan Audit berkaitan dengan hasil post audit perusahaan yang bersangkutan. dan/atau ke PKB/PDKB lain atau dimusnahkan di bawah pengawasan DJBC. 291/KMK. c. perkapalan di dalam negeri dan industri oleochemical. Posted by Sekretariat IEI at 4:51 AM 0 comments DAFTAR PUTIH DASAR HUKUM: Pasal 18 KMK No. Namun terhadap PDKB yang baru berdiri ini tidak langsung saja disetujui masuk dalam daftar putih namun harus memberikan surat pernyataan (janji) bahwa yang bersangkutan akan menjadi PDKB yang patuh dan taat.05/1997 tanggal 26 Juni 1997 tentang Kawasan Berikat jo. Pasal 41 KEP DJBC No. selalu memenuhi kewajiban pabean dan perpajakan dengan baik dan tepat waktu. URAIAN: Daftar putih merupakan fasilitas yang diberikan kepada Pengusaha Di Kawasan Berikat (PDKB) yang dianggap baik oleh karenanya harus memenuhi persyaratan : dalam jangka waktu satu tahun tidak pernah melakukan pelanggaran. batasan penjualan barang hasil produksi dari KB ke DPIL tidak lagi didasarkan pada realisasi ekspor. maka PDKB tersebut dapat menjual ke DPIL barang hasil produksi senilai 500 ribu USD.(6) Susunan para pemegang saham perusahaan dan jumlah modal yang dimiliki perusahaan. dan/atau kepada PDKB lainnya. Daftar putih ini dapat diberikan kepada PDKB yang sudah beroperasi maupun yang baru berdiri. SE-10/BC/1998 tanggal 18 Maret 1998. KEP-63/BC/1997 tanggal 25 Juli 1997 jo. serta PDKB yang bergerak di bidang industri perminyakan dan gas.04/2005 tersebut sehingga belum dapat dilaksanakan.pertambangan. jaminan bank dan lainnya. tetapi berdasarkan jumlah nilai hasil produksi. Jadi dengan terbitnya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK. serta hasil post audit menujukkan profil perusahaan baik. Untuk PDKB yang baru berdiri dan belum beroperasi : . Surat Edaran DJBC No. Manfaat dari fasilitas daftar putih ini adalah apabila PDKB diwajibkan untuk mempertaruhkan jaminan (misalnya untuk melakukan pemberian pekerjaan sub kontrak kepada perusahaan di DPIL). diolah lebih lanjut ke perusahaan-perusahaan yang menggunakan fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE).(5) Data perolehan devisa ekspor dan impor berkaitan dengan kegiatan pemasukan dan pengeluaran barang selama 12 bulan terakhir.

· atas impor barang dan atau bahan untuk diolah di PDKB. . dan kecil melaui pola kegiatan sub kontrak. (6) Susunan para pemegang saham perusahaan dan jumlah modal yang dimiliki perusahaan. · atas pengeluaran barang dan atau bahan ke perusahaan industri di DPIL atau PDKB lainnya dalam rangka sub kontrak. · atas pemasukan Barang Kena Cukai (BKC) dari DPIL untuk diolah lebih lanjut. Disamping itu perusahaan yang mendapatkan fasilitas Kawasan Berikat masih bisa memperoleh kemudahan seperti: Barang modal berupa mesin asal impor apabila telah melampaui jangka waktu 2 (dua) tahun sejak pengimporannya atau sejak menjadi aset perusahaan dapat dipindahtangankan dengan tanpa kewajiban membayar Bea Masuk yang terutang. Posted by Sekretariat IEI at 4:48 AM 0 comments FASILITAS DAN MANFAAT KAWASAN BERIKAT Fasilitas Kepabeanan dan Perpajakan Fasilitas Kawasan Berikat merupakan fasilitas yang "mewah" bagi perusahaan industri / manufaktur yang berorientasi ekspor karena mendapatkan fasilitas kepabeanan dan perpajakan sebagai berikut : Penangguhan Mea Masuk dan tidak dipungut PPN. maka manfaat yang bisa dipetik oleh pengusaha dengan mendapatkan fasilitas Kawasan Berikat antara lain: Efisiensi waktu pengiriman barang dengan tidak dilakukannya pemeriksaan fisik di Tempat Penimbunan Sementara (TPS / Pelabuhan). Pembebasan cukai: · atas impor barang dan atau bahan untuk diolah lebih lanjut. (5) Profile Perusahaan. (4) Surat pernyataan tentang kesediaan perusahaan untuk memberikan data-data yang sebenarnya apabila dilakukan audit oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. PDKB yang termasuk dalam Daftar Putih dapat mempertaruhkan jaminan berupa Surat Sanggup Bayar (SSB) kepada KPBC yang bersangkutan atas pemasukan dan pengeluaran barang ke dan dari PDKB yang dipersyaratkan untuk mempertaruhkan jaminan. (2) Surat pernyataan tentang kesediaan perusahaan untuk memenuhi kewajiban kepabeanan selama menggunakan fasilitas Kawasan Berikat. (7) Perkiraan perolehan devisa ekspor dan impor berkaitan dengan kegiatan pemasukan dan pengeluaran barang untuk jangka waktu satu tahun. · atas pengiriman barang hasil produksi PDKB ke PDKB lainnya untuk diolah lebih lanjut. Membantu usaha pemerintah dalam rangka mengembangkan program keterkaitan antara perusahaan besar. Manfaat Kawasan Berikat Dengan fasilitas yang diperoleh tersebut diatas. PPnBM dan PPh Pasal 22: · atas impor barang modal atau peralatan dan peralatan perkantoran yang semata-mata dipakai oleh PKB termasuk PKB merangkap PDKB.(1) Fotokopi Surat Menteri Keuangan tentang Persetujuan PDKB atau Keputusan Menteri Keuangan tentang persetujuan PKB merangkap PDKB. Cash Flow Perusahaan serta Production Schedule lebih terjamin. (3) Surat pernyataan tentang kesediaan perusahaan untuk memenuhi kewajiban perpajakan dan memasukkan SPT tahunan tepat waktu. menengah. · atas impor barang modal atau peralatan pabrik yang berhubungan langsung dengan kegiatan produksi PDKB. Tidak dipungut PPN dan PPnBM · atas pemasukan Barang Kena Pajak (BKP) dari DPIL untuk diolah lebih lanjut. · atas peminjaman mesin dan atau peralatan pabrik dalam rangka sub kontrak. Fasilitas perpajakan dan kepabeanan memungkinkan PDKB dapat menciptakan harga yang kompetitif di pasar global serta dapat melakukan penghematan biaya perpajakan. · atas penyerahan kembali BKP hasil pekerjaan sub kontrak oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) di DPIL atau PDKB lainnya kepada PKP PDKB asal.

Pengertian 1. 2. Non PMA/PMDN yang berbentuk Perseroan Terbatas d.04/2005. Fotokopi Surat Pemberitahuan Registrasi (SPR) 3. Koperasi yang berbentuk badan hukum e. Pasal 7 dan 8 Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 1996 tanggal 4 Juni 1996 tentang Tempat Penimbunan Berikat sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 1997. Syarat Pendirian Kawasan Berikat 1. penyortiran. baik sebagian atau seluruh modal sahamnya dimiliki oleh peserta asing c. Pasal 3. 4. 3. kegiatan rancang bangun. penetapan sebagai PKP dan SPT tahunan PPh tahun terakhir bagi perusahaan yang sudah wajib menyerahkan SPT. Pasal 44 Undang-undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan.Posted by Sekretariat IEI at 4:47 AM 0 comments PENDIRIAN KAWASAN BERIKAT I.n penanggung jawab perusahaan dan fotokopi surat ijin kerja tenaga kerja asing (apabila penanggung jawab adalah WNA) i.d Pasal 15 Keputusan DJBC No. Fotokopi surat izin usaha dari instansi teknis terkait. KEP-63/BC/1997 tanggal 25 Juli 1997 tentang Tatacara Pendirian dan Tatalaksana Pemasukan dan Pengeluaran Barang ke dan dari Kawasan Berikat. mengelola dan menyediakan sarana dan prasarana guna keperluan pihak lain di KB yang diselenggarakannya berdasarkan persetujuan untuk meyelenggarakan KB 3. dan pengepakan atas barang dan bahan asal impor atau barang dan bahan dari dalam Daerah Pabean Indonesia Lainnya (DPIL). d. Yayasan 2. Dalam rangka PMDN b. e. Fotokopi bukti kepemilikan/penguasaan lokasi/tempat yang akan dijadikan KB (jika berdasarkan kontrak sewa menyewa. pemeriksaan awal. SE-07/BC/2004 tanggal 7 April 2004 tentang Ketentuan Terhadap Penyelenggara dan/atau Pengusaha Tempat Penimbunan Berikat (TPB) Yang Menguasai Lokasi TPB Berdasarkan Perjanjian Sewa Menyewa. Berita Acara Pemeriksaan lokasi dari Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) yang mengawasi disertai lampiran berupa peta lokasi/tempat/ denah/tata letak dan foto-foto lokasi yang akan dijadikan KB yang telah ditandasahkan oleh KPBC yang mengawasi. II. 5. Dokumen yang dipesyaratkan untk mendapatkan persetujuan beroperasinya sebagai PDKB . pemeriksaan akhir. h. c. g. perekayasaan. SE DJBC No. minimal dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun). Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) atau. f. menguasai. Surat Keputusan dari instansi Pemda terkait / Perda yang menetapkan area calon KB merupakan Kawasan Industri / Kawasan Peruntukan Industri (Kedepannya ijin KB hanya akan diberikan untuk perusahaan di dalam KAWASAN INDUSTRI). Fotokopi NPWP. Penyelenggara Kawasan Berikat (PKB) adalah Perseroan Terbatas. yang hasilnya terutama untuk tujuan ekspor 2. b. Kawasan Berikat adalah suatu bangunan. 4 dan 5 Keputusan Menteri Keuangan Nomor 291/KMK. Perusahaan yang dapat diberikan Izin sebagai PKB dan atau PDKB : a. UPL & UKL. Pasal 7 s. Dokumen yang dipesyaratkan untk mendapatkan izin sebagai PKB / PKB merangkap PDKB a. Pengusaha Di Kawasan Berikat (PDKB) adalah Perseroan Terbatas atau Koperasi yang melakukan kegiatan usaha industri di KB III. Fotokopi akte pendirian perusahaan yang telah disahkan oleh Departemen Hukum & HAM RI (d/h Departemen Kehakiman).01/1997 tanggal 26 Juni 1997 tentang Kawasan Berikat sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturanan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK. Dalam rangka PMA. Koperasi yang berbentuk badan hukum atau yayasan yang memiliki. tempat atau kawasan dengan batas-batas tertentu yan didalamnya dilakukan kegiatan usaha industri pengolahan barang dan bahan. Fotokopi KTP/ KITAS a. Dasar Hukum 1.

bahan dalam proses. penetapan sebagai PKP dan SPT tahunan PPh tahun terakhir bagi perusahaan yang sudah wajib menyerahkan SPT. b.a Rekomendasi dari PKB. d Fotokopi bukti kepemilikan lokasi/tempat yang akan dijadikan KB (jika berdasarkan kontrak sewa menyewa. V. f Berita Acara Pemeriksaan lokasi dari Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) yang mengawasi disertai lampiran berupa peta lokasi/tempat/ denah/tata letak dan foto-foto lokasi yang akan dijadikan KB yang telah ditandasahkan oleh KPBC yang mengawasi. dan/atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya. Penetapan perijinan Kawasan Berikat a. untuk persetujuan beroperasi sebagai PDKB ditetapkan oleh Direktur Jenderal up. b Surat izin usaha industri dari instansi teknis terkait. bahan baku. g Saldo awal bahan baku. Kegiatan Dalam Kawasan Berikat Kegiatan yang utama yang dilakukan di dalam KB adalah kegiatan pengolahan (industri / manufactur / bukan hanya perakitan) yaitu kegiatan yang memproses bahan mentah. barang jadi.n penanggung jawab perusahaan dan fotokopi surat ijin kerja tenaga kerja asing (apabila penanggung jawab adalah WNA) i Fotokopi Surat Pemberitahuan Registrasi (SPR) VI. Direktur Teknis Kepabeanan atas nama Menteri Keuangan.01/1996 tentang Gudang Berikat. h Fotokopi KTP/ KITAS a. barang modal dan peralatan pabrik. c Fotokopi akte pendirian perusahaan yang telah disahkan oleh Departemen Hukum & HAM RI (d/h Departemen Kehakiman). Disamping itu di dalam KB dapat dilakukan kegiatan usaha pergudangan atau penimbunan barang. PDKB dalam melakukan pengolahan sebagaimana dimaksud diatas dapat memberikan atau menerima subkontrak kepada/dari PDKB lain atau perusahaan industri di DPIL. Syaratnya barang yang ditimbun tidak sama dengan barang yang dihasilkan / diproduksi oleh KB yang bersangkutan. Tatacara pendirian dan tatalaksana pemasukan barang ke dan dari pergudangan atau penimbunan di KB tersebut dilakukan sesuai Keputusan Menteri Keuangan Nomor 399/KMK. barang setengah jadi. Disamping itu barang yang ditimbun akan berfungsi untuk mendukung kegiatan industri KB itu sendiri atau perusahaan industri lainnya (Supporting Industries). misalnya untuk menimbun bahan baku. Posted by Sekretariat IEI at 4:46 AM 0 comments Home . e Fotokopi NPWP. minimal dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun) . untuk izin PKB atau PKB merangkap PDKB ditetapkan oleh Menteri Keuangan untuk mendapatkan keputusan tentang Penetapan sebagai KB serta Persetujuan PKB merangkap PDKB.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful