PERATURAN DAERAH PROPINSI SUMATERA UTARA NOMOR TAHUN TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI SUMATERA UTARA

TAHUN 2009 - 2029 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SUMATERA UTARA Menimbang : a. bahwa untuk mengarahkan pembangunan di Provinsi Sumatera Utara dengan memanfaatkan ruang wilayah secara serasi, selaras, seimbang, berdaya guna, berhasil guna, berbudaya dan berkelanjutan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan dan memelihara ketahanan nasional, perlu disusun Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi; b. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 20 ayat (6) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, perlu menetapkan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Daerah c. bahwa dengan berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomr 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom, maka strategi dan arahan kebijakan pemanfaatan ruang wilayah nasional perlu dijabarkan ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Sumatera Utara; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b dan c perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Sumatera Utara.

Mengingat

: 1. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945; 2. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Propinsi Aceh dan Perubahan Peraturan Pembentukan Propinsi Sumatera Utara dihubungkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Propinsi (Lembaran Negara Tahun 1956 Nomor 64 Tambahan Lembaran Negara Nomor 1103); 3. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2043); 4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3260); 5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3419); 6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3469); 7. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 27, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3470); 8. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3406);

1

9. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3647); 10. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699); 11. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1999 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3419); 12. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3888); 13. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 134, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4247); 14. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 No. 134, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3477); 15. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4411); 16. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4412); 17. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4433); 18. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4844); 19. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 444); 20. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2007 Tentang Perkeretaapian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 65, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4722); 21. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4723); 22. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); 23. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4739); 24. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2007 Tentang Energi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4746 );

2

25. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 26. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4849); 27. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 69, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4851); 28. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4956); 29. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4959); 30. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4966); 31. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban, serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3660); 32. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3776); 33. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tentang Ketelitian Peta untuk RTRW (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia 3034); 34. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952); 35. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2004 tentang Perencanaan Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 146; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4452); 36. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4490); 37. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pembinaan dan Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593); 38. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2006 tentang Irigasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4624); 39. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4655); 40. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan serta Pemanfaatan Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 22; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4696); 41. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik

3

42.

43. 44. 45. 46. 47.

Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembar Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembar Negara Republik Indonesia Nomor 4833); Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung; Keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 174 Tahun 2004 tentang Pedoman Koordinasi Penataan Ruang Daerah; Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara Nomor .......Tahun 2008 tentang Rencana Pengelolaan Sumberdaya Pesisir; Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara Nomor 7 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang; Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara Nomor 7 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun ...........

Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROPINSI SUMATERA UTARA NOMOR 17/K/2003 TANGGAL 28 AGUSTUS 2003 MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN DAERAH PROPINSI SUMATERA UTARA TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2009 - 2029

BAB I KETENTUAN UMUM Bagian Kesatu Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan : 1. Pemerintah Pusat adalah Pemerintah 2. Daerah adalah Provinsi Sumatera Utara; 3. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Provinsi Sumatera Utara; 4. Kepala Daerah adalah Gubernur Sumatera Utara; 5. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sumatera Utara; 6. Kabupaten/Kota adalah Kabupaten/Kota dalam wilayah Provinsi Sumatera Utara; 7. Pemerintah Kabupaten/Kota adalah Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota yang berada di wilayah Provinsi Sumatera Utara; 8. Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi yang selanjutnya disingkat RTRWP adalah Rencana Struktur Tata Ruang Provinsi yang mengatur struktur dan pola tata ruang wilayah provinsi; 9. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara, sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk hidup lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya; 10. Tata Ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang baik direncanakan maupun tidak; 11. Penataan ruang adalah proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang; 12. Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan tata ruang; 13. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional; 14. Kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama lindung atau budidaya;

4

15.

16. 17.

18.

19.

20.

21.

22.

23.

24.

25.

26. 27.

28. 29.

30. 31.

32.

Kawasan Lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam, sumberdaya buatan, dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan. Kawasan Budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan sumberdaya buatan. Kawasan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang menudukung prikehidupan dan penghidupan. Kawasan perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Kawasan agropolitan adalah kawasan yang terdiri atas satu atau lebih pusat kegiatan pada wilayah pedesaan sebagai sistem produksi pertanian dan pengelolaan sumber daya alam tertentu yang ditujukan oleh adanya keterkaitan fungsional dan hierarkis keruangan satuan sistem permukiman dan sistem agrobisnis. Kawasan metropolitan adalah kawasan perkotaan yang terdiri atas sebuah kawasan perkotaan yang berdiri sendiri atau kawasan perkotaan inti dengan kawasan perkotaan di sekitarnya yang saling memiliki keterkaitan fungsional yang dihubungkan dengan sistem jaringan prasarana wilayah yang terintegrasi dengan jumlah penduduk secara keseluruhan sekurang-kurangnya 1.000.000 (satu juta) jiwa. Kawasan strategis nasional adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang ditetapkan sebagai warisan dunia. Kawasan strategis provinsi adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup provinsi terhadap ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan. Kawasan Pesisir adalah wilayah pesisir tertentu yang ditunjukan dan atau ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan kriteria tertentu, seperti karakter fisik, biologi, sosial dan ekonomi untuk dipertahankan keberadaannya. Kawasan andalan adalah bagian dari kawasan budi daya, baik di ruang darat maupun ruang laut yang pengembangannya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan tersebut dan kawasan di sekitarnya. Kawasan Alur Pelayaran adalah wilayah perairan yang dialokasikan untuk alur pelayaran bagi kapal. Kawasan Pertahanan Keamanan adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk kepentingan kegiatan pertahanan dan keamanan, yang terdiri dari kawasan latihan militer, kawasan pangkalan TNI Angkatan Udara, kawasan pangkalan TNI Angkatan Laut, dan kawasan militer lainnya. Kawasan Hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap. Kawasan Hutan Lindung adalah kawasan hutan yang memiliki sifat khas yang mampu memberikan perlindungan kepada kawasan sekitarnya maupun bawahannya sebagai pengatur tata air, pencegahan banjir dan erosi serta pemeliharaan kesuburan tanah. Kawasan Resapan Air adalah kawasan yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akifer) yang berguna sebagai sumber air. Kebandarudaraan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penyelenggaraan bandar udara dan kegiatan lainnya dalam melaksanakan fungsi keselamatan, keamanan, kelancaran, dan ketertiban arus lalu lintas pesawat udara, penumpang, kargo dan/atau pos, tempat perpindahan intra dan/atau antarmoda serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah. Tatanan Kebandarudaraan Nasional adalah sistem kebandarudaraan secara nasional yang menggambarkan perencanaan bandar udara berdasarkan rencana tata ruang, pertumbuhan ekonomi, keunggulan komparatif wilayah, kondisi alam dan geografi, keterpaduan intra dan antarmoda

5

angkutan udara. yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan penerbangan. Angkutan Udara Niaga adalah angkutan udara untuk umum dengan memungut pembayaran. serta keterpaduan dengan sektor pembangunan lainnya. Angkutan Udara Perintis adalah kegiatan angkutan udara niaga dalam negeri yang melayani jaringan dan rute penerbangan untuk menghubungkan daerah terpencil dan tertinggal atau daerah yang belum terlayani oleh moda transportasi lain dan secara komersial belum menguntungkan. pesawat udara. Tatanan Kepelabuhanan Nasional suatu sistem kepelabuhanan yang memuat peran. Jaringan penerbangan adalah beberapa rute penerbangan yang merupakan satu kesatuan pelayanan angkutan udara. keselamatan dan keamanan penerbangan. bandar udara. 47. hirarki pelabuhan. 46. 48. berupa terminan dan tempat berlabuh kapal yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antarmoda transportasi. 37. fungsi. sarana. dan sumber daya manusia serta norma. Rute Penerbangan adalah lintasan pesawat udara dari bandar udara asal ke Bandar udara tujuan melalui jalur penerbangan yang telah ditetapkan. Bandar Udara adalah kawasan di daratan dan/atau perairan dengan batas-batas tertentu yang digunakan sebagai tempat pesawat udara mendarat dan lepas landas. serta fasilitas pokok dan fasilitas penunjang lainnya. Bandar Udara Domestik adalah bandar udara yang ditetapkan sebagai bandar udara yang melayani rute penerbangan dalam negeri. 34. jenis. Angkutan Udara Dalam Negeri adalah kegiatan angkutan udara niaga untuk melayani angkutan udara dari satu bandar udara ke bandar udara lain di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. bongkar muat barang.33. dan tempat perpindahan intra dan antarmoda transportasi. Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan adalah wilayah daratan dan/atau perairan serta ruang udara di sekitar bandar udara yang digunakan untuk kegiatan operasi penerbangan dalam rangka menjamin keselamatan penerbangan. Bandar Udara Internasional adalah bandar udara yang ditetapkan sebagai bandar udara yang melayani rute penerbangan dalam negeri dan rute penerbangan dari dan ke luar negeri. Perkeretaapian adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas prasarana. Angkutan Udara Bukan Niaga adalah angkutan udara yang digunakan untuk melayani kepentingan sendiri yang dilakukan untuk mendukung kegiatan yang usaha pokoknya selain di bidang angkutan udara. keselamatan dan keamanan. naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang. lingkungan hidup. 40. kelestarian lingkungan. 44. 51. 6 . 41. navigasi penerbangan. Bandar Udara Pengumpan (spoke) adalah bandar udara yang mempunyai cakupan pelayanan dan mempengaruhi perkembangan ekonomi terbatas. Bandar Udara Umum adalah bandar udara yang digunakan untuk melayani kepentingan umum. 43. 42. Bandar Udara Pengumpul (hub) adalah bandar udara yang mempunyai cakupan pelayanan yang luas dari berbagai bandar udara yang melayani penumpang dan/atau kargo dalam jumlah besar dan mempengaruhi perkembangan ekonomi secara nasional atau berbagai provinsi. 50. Angkutan Udara Luar Negeri adalah kegiatan angkutan udara niaga untuk melayani angkutan udara dari satu bandar udara di dalam negeri ke bandar udara lain di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan sebaliknya. 35. 49. serta fasilitas penunjang dan fasilitas umum lainnya. transportasi. Bandar Udara Khusus adalah bandar udara yang hanya digunakan untuk melayani kepentingan sendiri untuk menunjang kegiatan usaha pokoknya. 45. 38. kriteria. 36. 39. persyaratan dan prosedur untuk penyelenggaraan transportasi kereta api. naik turun penumpang. Pangkalan Udara adalah kawasan di daratan dan/atau di perairan dengan batas batas tertentu dalam wilayah Republik Indonesia yang digunakan untuk kegiatan lepas landas dan pendaratan pesawat udara guna keperluan pertahanan negara oleh Tentara Nasional Indonesia. Penerbangan adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas pemanfaatan wilayah udara. Pelabuhan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan/atau perairan dengan batas batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan pengusahaan yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar. rencana induk pelabuhan nasional dan lokasi pelabuhan serta keterpaduan intra dan antar moda serta keterpaduan dengan sector lain. 52.

sistematis. 56. adalah bagian dari WPN yang dapat diusahakan. yang selanjutnya disebut WP. 58. Daerah tujuan pariwisata yang selanjutnya disebut Destinasi Pariwisata adalah kawasan geografis 7 . Wilayah Usaha Pertambangan Khusus yang selanjutnya disebut WUPK. Izin Usaha Pertambangan. pengusaha. Pemerintah Daerah. yang selanjutnya disebut WPR. 68. Kegiatan pascatambang. Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat. 62. Wilayah Pertambangan Rakyat. Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian. termasuk bitumen padat.53. pengangkutan dan penjualan. di luar panas bumi. yang memiliki sifat fisik dan kimia tertentu serta susunan kristal teratur atau gabungannya yang membentuk batuan. adalah wilayah yang diberikan kepada pemegang IUPK. adalah kegiatan terencana. 66. 65. sesama wisatawan. 75. Prasarana Perkeretaapian adalah jalur kereta api. Penambangan adalah bagian kegiatan usaha pertambangan untuk memproduksi mineral dan/atau batubara dan mineral ikutannya. studi kelayakan. dan Pemerintah Daerah. dan pengusaha. dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam. Wilayah Izin Usaha Pertambangan. Wilayah Pencadangan Negara. keindahan. eksplorasi. stasiun kereta api dan fasilitas operasi kereta api agar kereta api dapat dioperasikan. yang selanjutnya disebut WIUP. pengolahan dan pemurnian. potensi. dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan. Wilayah Usaha Pertambangan. 72. 74. penambangan. penambangan. pengembangan pribadi. Pemerintah. 71. pengangkutan dan penjualan. Pertambangan Mineral adalah pertambangan kumpulan mineral yang berupa bijih atau batuan. eksplorasi. Usaha Pertambangan adalah kegiatan dalam rangka pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi tahapan kegiatan penyelidikan umum. pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum. Pemerintah. adalah bagian dari WP yang dicadangkan untuk kepentingan strategis nasional. adalah bagian dari WP tempat dilakukan kegiatan usaha pertambangan rakyat. konstruksi. adalah wilayah yang diberikan kepada pemegang IUP. yang selanjutnya disebut pascatambang. 55. baik dalam bentuk lepas atau padu. dan batuan aspal. 70. 67. 57. 69. serta pascatambang. konstruksi. budaya. Pertambangan Batubara adalah pertambangan endapan karbon yang terdapat di dalam bumi. Jaringan jalur kereta api adalah seluruh jalur kereta api yang terkait satu dengan yang lain yang menghubungkan berbagai tempat sehingga merupakan satu sistem. Mineral adalah senyawa anorganik yang terbentuk di alam. Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat. serta air tanah. adalah bagian dari WP yang telah memiliki ketersediaan data. 73. studi kelayakan. yang selanjutnya disebut IUP. 54. Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi. serta kegiatan pascatambang. gambut. yang selanjutnya disebut WUP. minyak dan gas bumi. yang selanjutnya disebut WPN. 63. Wilayah Pertambangan. Batubara adalah endapan senyawa organik karbonan yang terbentuk secara alamiah dari sisa tumbuhtumbuhan. 61. 59. Daya Tarik Wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan. Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus dalam WUPK. dan/atau informasi geologi. yang selanjutnya disebut WIUPK. pengolahan dan pemurnian. atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara. 64. 60. adalah izin untuk melaksanakan usaha pertambangan. dan berlanjut setelah akhir sebagian atau seluruh kegiatan usaha pertambangan untuk memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi sosial menurut kondisi lokal di seluruh wilayah penambangan. adalah wilayah yang memiliki potensi mineral dan/atau batubara dan tidak terikat dengan batasan administrasi pemerintahan yang merupakan bagian dari tata ruang nasional.

Kawasan Suaka Alam adalah kawasan yang mewakili ekosistem khas yang merupakan habitat alami yang memberikan perlindungan bagi perkembangan flora dan fauna yang khas dan beraneka ragam. Kawasan Pariwisata adalah kawasan dengan luas tertentu yang dibangun atau didirikan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata. fasilitas pariwisata. 82. 85. Kawasan Strategis Pariwisata adalah kawasan yang memiliki fungsi utama pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata yang mempunyai pengaruh penting dalam satu atau lebih aspek. nasional. Sempadan Pantai adalah kawasan perlindungan setempat sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian dan kesucian pantai. Wilayah sungai adalah kesatuan wilayah pengelolaan sumberdaya air dalam satu atau lebih daerah aliran sungai dan/atau pulau-pulau kecil yang luasnya kurang dari atau sama dengan 2. seperti pertumbuhan ekonomi. Kawasan Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan. Satu WS dipisahkan dari wilayah lain di sekitarnya (WS-WS lain) oleh pemisah alam topografi seperti punggung perbukitan dan pegunungan. 86. Pengelolaan WS adalah upaya manusia dalam mengendalikan hubungan timbal balik antara 8 . dan rekreasi. pemberdayaan sumber daya alam. Wilayah Prioritas adalah wilayah yang dianggap perlu diprioritaskan penanganannya serta memerlukan dukungan penataan ruang segera dalam kurun waktu perencanaan. 92. 87. Daerah Aliran Sungai/Wilayah Sungai yang selanjutnya disingkat WS adalah suatu wilayah tertentu yang bentuk dan sifat alamnya merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya yang berfungsi menampung air yang berasal dari curah hujan dan sumber air lainnya dan kemudian mengalirkannya melalui sungai utama ke laut. 81. Pusat Kegiatan Wilayah yang di promosikan oleh provinsi selanjutnya disebut PKWp adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala provinsi atau beberapa kabupaten/kota. Kawasan Pantai Berhutan Bakau adalah kawasan pesisir laut yang merupakan habitat alami hutan bakau yang berfungsi memberi perlindungan kepada kehidupan pantai dan laut. Sempadan Sungai adalah kawasan sepanjang kiri-kanan sungai. 93. 95. 88. yang berada dalam satu atau lebih wilayah administratif yang di dalamnya terdapat daya tarik wisata. keselamatan bangunan. 90. fasilitas umum. pariwisata. 89.76. 84. dan tersedianya ruang untuk lain lintas umum. 77. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan adalah tempat serta ruang di sekitar bangunan bernilai budaya tinggi dan sebagai tempat serta ruang di sekitar situs purbakala dan kawasan yang memiliki bentukan geologi alami yang khas. sosial dan budaya. Pusat Kegiatan Wilayah yang ditetapkan secara nasional selanjutnya disebut PKW adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala provinsi atau beberapa kabupaten/kota. pengembangan ilmu pengetahuan. 80. atau beberapa provinsi. Objek dan Daya Tarik Wisata Khusus. Kawasan Taman Wisata Alam adalah kawasan pelestarian alam darat maupun perairan yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam. Kawasan sekitar Danau/Waduk adalah kawasan sekeliling danau atau waduk yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi danau/waduk. rekreasi dan pendidikan. 83. termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. Pusat Kegiatan Nasional yang selanjutnya disebut PKN adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala internasional. serta pertahanan dan keamanan. jenis asli atau bukan asli. 94. Pusat Kegiatan Lokal yang selanjutnya disingkat PKL adalah adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kabupaten/kota atau beberapa kecamatan. Kawasan Sekitar Mata Air adalah kawasan sekeliling mata air yang mempunyai manfaat penting untuk kelestarian fungsi mata air. adalah segala sesuatu yang menjadi sasaran wisata dengan kekhususan pengembangan sarana dan prasarana. 79. daya dukung lingkungan hidup. kebudayaan. pariwisata. aksesibilitas. pendidikan. 91.000 km2. selanjutnya disebut ODTWK. 78. serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan. Kawasan Taman Hutan Raya adalah kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk tujuan koleksi tumbuh-tumbuhan dan satwa alami atau buatan.

Konservasi adalah pengelolaan pemanfaatan oleh manusia terhadap biosfer sehingga dapat menghasilkan manfaat berkelanjutan yang terbesar kepada generasi sekarang sementara mempertahankan potensinya untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi generasi akan datang (suatu variasi defenisi pembangunan berkelanjutan). Daya Dukung Lingkungan Hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. dan produktifitas lingkungan hidup. sumberdaya alam dengan manusia di dalam WS dan segala aktifitasnya. Mangrove adalah komunitas vegetasi pantai tropis yang tumbuh dan berkembang pada daerah air payau atau daerah pasang surut dengan substrat berlumpur dicampur dengan pasir. dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya. dengan tujuan membina kelestarian dan keserasian ekosistem serta meningkatkan kemanfaatan sumberdaya alam bagi manusia secara berkelanjutan. memiliki daerah tangkapan air yang relatif kecil dan sempit. dan ruang udara sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 97. daya. 110. kondisi sosial. Biasanya berada di mulut sungai. memiliki biota indemik. Izin pemanfaatan ruang adalah izin yang dipersyaratkan dalam kegiatan pemanfaatan Orang adalah orang perseorangan dan/ atau korporasi. budaya dan ekonomi masyarakatnya bersifat khas dan berbeda dengan pulau induk. yang penggunaannya lebih bersifat terbuka. 107. 9 . yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.000 jiwa. 102. bersifat insuler. Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan lingkungan hidup. keadaan. dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan.96. yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh. terpisah dari pulau induk. Masyarakat adalah orang perorangan. jumlah penduduk kurang dari 200. Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda. Peran serta masyarakat adalah berbagai kegiatan masyarakat yang timbul atas kehendak dan prakarsa masyarakat. kelompok orang termasuk masyarakat hukum adat atau badan hukum. 108. Lingkungan adalah sumberdaya fisik dan biologis yang menjadi kebutuhan dasar agar kehidupan masyarakat (manusia) dapat bertahan. 100. 99. 98. Habitat adalah lingkungan fisik. termasuk sumberdaya. menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan. 101. 106. stabilitas. untuk berminat dan bergerak dalam penyelenggaraan penataan ruang. Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok. 104. ruang lautan. 109. Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia yang selanjutnya disebut ZEE Indonesia adalah jalur di luar dan berbatasan dengan laut wilayah Indonesia sebagaimana ditetapkan berdasarkan undang-undang yang berlaku tentang perairan Indonesia yang meliputi dasar laut. Pulau Kecil adalah pulau dengan ukuran luas kurang atau sama dengan 10. tanah di bawahnya. tempat tumbuh tanaman. Ruang Lingkup Pasal 2 (1) Ruang lingkup rencana tata ruang wilayah provinsi mencakup struktur dan pola ruang serta strategi pemanfaatan ruang wilayah provinsi dan wilayah kabupaten/kota sampai batas ruang daratan. 111. baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. kesejahteraan. dan atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya. energi. Daya Tampung Lingkungan Hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat. 103. 105. ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan. Hutan adalah satu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya. dan air di atasnya dengan batas terluar 200 (dua ratus) mil laut diukur dari garis pangkal laut wilayah Indonesia.000 km². kimia dan biologis dengan ciri-ciri khusus yang mendukung spesies atau komunitas biologis tertentu. 112.

c. d. f. pewujudan keterpaduan. kebijakan tersebut diwujudkan melalui strategi sebagai berikut: a. penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi. Bagian Kedua Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Utara Pasal 5 (1) kebijakan pertama yaitu mengurangi kesenjangan pengembangan wilayah timur dan barat. arahan pengendalian pemanfaatan ruang provinsi. kebijakan tersebut diwujudkan melalui strategi sebagai berikut: a. pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah provinsi. mendorong kegiatan pengolahan komoditi unggulan di pusat produksi komoditi unggulan b. penetapan kawasan strategis provinsi. penataan ruang kawasan strategis provinsi. penyusunan rencana pembangunan jangka menengah provinsi. b. rencana pola ruang wilayah provinsi. mencetak kawasan pertanian lahan basah baru untuk memenuhi swasembada pangan kebijakan keempat menjaga kelestarian lingkungan dan mengembalikan keseimbangan ekosistem. dan g. d. dan keseimbangan perkembangan antarwilayah provinsi. c. serta keserasian antarsektor. meningkatkan produktivitas pertanian lahan basah c. mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah barat sesuai dengan daya dukung b. meningkatkan prasarana perhubungan dari pusat produksi komoditi unggulan menuju pusat pemasaran c. b.(2) Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini berisi : a. f. kebijakan tersebut diwujudkan melalui strategi sebagai berikut: a. kebijakan tersebut diwujudkan melalui strategi sebagai berikut: a. tujuan. merata. keterkaitan. berdaya saing dan dan berwawasan lingkungan Pasal 4 RTRW Provinsi menjadi pedoman untuk: a. menyediakan sarana dan prasarana pendukung produksi untuk menjamin kestabilan produksi komoditi unggulan d. mengembalikan ekosistem kawasan lindung (2) (3) (4) 10 . arahan pemanfaatan ruang wilayah provinsi. meningkatkan kapasitas pembangkit listrik dengan memanfaatkan sumber energi yang tersedia serta memperluas jaringan transmisi tenaga listrik guna mendukung produksi komoditas unggulan kebijakan ketiga mewujudkan ketahanan pangan melalui intensifikasi lahan yang ada dan ekstensifikasi kegiatan pertanian pada lahan non-produktif. membangun dan meningkatkan jaringan jalan poros timur dan barat kebijakan kedua mengembangkan sektor ekonomi unggulan melalui peningkatan daya saing dan diversifikasi produk. peran serta masyarakat. penyusunan rencana pembangunan jangka panjang provinsi . penataan ruang wilayah kabupaten/kota. mempertahankan luasan dan meningkatkan kualitas kawasan lindung b. kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah provinsi. mempertahankan luasan pertanian lahan basah yang ada saat ini b. mengembangkan pusat-pusat agropolitan untuk meningkatkan daya saing e. rencana struktur tata ruang wilayah provinsi. Tujuan Penataan Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Utara Pasal 3 Penataan ruang wilayah Provinsi Sumatera Utara bertujuan untuk mewujudkan wilayah Provinsi Sumatera Utara yang sejahtera. e. g. e.

Sibolga sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW). Rantau Prapat. kebijakan tersebut diwujudkan melalui strategi sebagai berikut: a. Ruas Medan . (7) menetapkan kawasan lindung nasional cagar alam Dolok Sibual-buali. b.Medan . Kisaran. Gunung Sitoli. kebijakan tersebut diwujudkan melalui strategi sebagai berikut: a. (2) menetapkan Tebingtinggi. Batang Angkola – Batang Gadis serta wilayah sungai strategis lintas provinsi adalah Batang Natal – Batang Asahan. membangun dan meningkatkan kualitas jaringan transportasi keseluruh bagian wilayah provinsi b. Padang Sidempuan. sistem jaringan telekomunikasi provinsi. c. sistem jaringan sumber daya air provinsi. sistem jaringan sarana dan prasarana lingkungan Rencana struktur ruang wilayah provinsi digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1:250.Tanjung Morawa) g.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Ruas Belmera (Belawan .Binjai (4) menetapkan Pelabuhan Belawan dan pelabuhan Sibolga sebagai pelabuhan internasional serta Tanjung Balai Asahan sebagai Pelabuhan Nasional (5) menetapkan bandar udara Kuala Namu diarahkan sebagai pusat penyebaran primer dan Silangit sebagai pusat penyebaran tersier. Pematang Siantar.Sibolga f. (3) menetapkan jalan bebas hambatan (jalan tol) meliputi : a. Ruas Binjai – Langsa e. menyediakan dan memeratakan fasilitas pelayanan sosial ekonomi (kesehatan. Balige. Rencana Struktur Ruang Wilayah Nasional Pasal 7 Kebijakan pengembangan tata ruang yang ditetapkan pada tingkat nasional dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN). BAB III RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH PROVINSI SUMATERA UTARA Bagian Kesatu Umum Pasal 6 (1) Rencana struktur ruang wilayah provinsi meliputi: a. dipertimbangkan dalam RTRWP Sumatera Utara yang meliputi : (1) menetapkan kawasan Perkotaan Medan-Binjai-Deli Serdang-Karo (Mebidangro) sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN). Sidikalang. dan e. Mendorong intensifikasi pemanfaatan ruang di kawasan perkotaan kebijakan keenam meningkatkan aksesibilitas dan memeratakan pelayanan sosial ekonomi ke seluruh wilayah provinsi. sistem jaringan transportasi provinsi. (6) menetapkan wilayah sungai strategis nasional meliputi : Belawan – Ular – Padang. Mengendalikan perkembangan fisik permukiman perkotaan b. suaka marga satwa meliputi : Karang Gading – Langkat Timur Laut. d. sistem perkotaan provinsi. Ruas Medan – Kualanamu – Tebing Tinggi b. sistem jaringan energi provinsi. pendidikan. Siranggas. f.Kisaran c.(5) (6) kebijakan kelima mengoptimalkan pemanfaatan ruang budidaya sebagai antisipasi perkembangan wilayah. Dolok Sipirok dan Sei Ledong. air bersih.Rantau Prapat d. Ruas Kisaran . Ruas Tebing Tinggi . Ruas Tebing Tinggi – Pematang Siantar – Parapat – Tarutung . Barumun. (2) 11 . Toba – Asahan. pemerintahan dan lain-lain).

Kawasan Taman Nasional Ekosistem Leuser yang berbatasan dengan Provinsi Aceh serta Kawasan Perbatasan Pulau Kecil Terluar Pulau Berhala. Gunung Sitoli. Sipirok. taman nasional adalah Batang Gadis. Barus. Aek Kanopan. Lahomi/Sirombu. Pusat Kegiatan Wilayah PKW. Paragraf Kedua Kriteria Sistem Perkotaan Provinsi Sumatera Utara Pasal 10 (1) Pusat Kegiatan Nasional PKN. dan/atau (2) (3) 12 . Kaban Jahe. Merek. Pangururan. kawasan perkotaan sedang. Lahewa/Lolu. (3) Pusat Kegiatan Lokal. Pusat pelayanan tersier ini terutama dikembangkan untuk menciptakan satuan ruang wilayah yang lebih efisien sebagai sentra pelayanan kegiatan Pasal 9 Sistem perkotaan Provinsi Sumatera Utara adalah sebagai berikut : (1) PKN mencakup kawasan Perkotaan Medan-Binjai-Deli Serdang-Karo (Mebidangro) (2) PKW meliputi kawasan perkotaan : Tebingtinggi. b. Stabat. Gunung Sitoli. yaitu pusat pelayanan tersier melayani satu atau lebih kecamatan. kawasan megapolitan. (2) Pusat Kegiatan Wilayah. Tanjung Balai. Salak. Kawasan Danau Toba dan sekitarnya. Sei Rampah. Siborong-borong. Sidikalang. Gido/Lasara. Simpang Empat. Balige. b. dan PKL Pusat Kegiatan Lokal dapat berupa: a. Dolok Sanggul. Kisaran. kawasan metropolitan. Padang Sidempuan. Teluk Dalam. PKN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a. kawasan perkotaan kecil. Pandan. yaitu : (1) Pusat Kegiatan Nasional. yaitu pusat pelayanan primer yang melayani wilayah Provinsi Sumatera Utara dan wilayah nasional/internasional yang lebih luas. taman hutan raya adalah Bukit Barisan menetapkan kawasan strategis nasional adalah Kawasan Perkotaan Medan – Binjai – Deli Serdang – Karo (Mebidangro). Kota Pinang. Sibolga (3) PKL meliputi kawasan perkotaan : Pangkalan Brandan. Natal. PKL ditetapkan dengan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Utara berdasarkan usulan pemerintah kabupaten/kota. Tiga Binanga. Pancur Batu. Rantau Prapat. Brastagi. Taman nasional gunung Leuser. Bagian Kedua Rencana Pengembangan dan Kriteria Sistem Perkotaan Provinsi Sumatera Utara Paragraf Pertama Rencana Pengembangan Sistem Perkotaan Provinsi Sumatera Utara Pasal 8 Sistem Perkotaan Provinsi Sumatera Utara diarahkan menjadi 3 (tiga) hirarki pusat pelayanan. kawasan perkotaan besar. Sibuhuan. Pematang Raya. setelah dikonsultasikan dengan Menteri. Pematang Siantar. Aek Nabara. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul utama kegiatan ekspor-impor atau pintu gerbang menuju kawasan internasional. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa skala nasional atau yang melayani beberapa provinsi. Lubuk Pakam. Parapat. Limapuluh. Tarutung. Indrapura. yaitu pusat pelayanan sekunder yang melayani satu atau lebih daerah Kabupaten/Kota dengan intensitas yang lebih tinggi untuk memacu pertumbuhan perekonomian di wilayah sekitarnya. Perdagangan. d. atau e. Gunung Tua.(8) Dolok Surungan. Panyabungan. Labuhan Bilik. c.

kawasan perkotaan kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat 2 merupakan kawasan perkotaan yang ditetapkan dengan kriteria jumlah penduduk lebih dari 50. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa yang melayani skala provinsi atau beberapa kabupaten. (2) sistem jaringan transportasi laut terdiri atas tatanan kepelabuhanan dan alur pelayaran.000 (satu juta) jiwa. kawasan metropolitan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat 2 merupakan kawasan perkotaan yang ditetapkan dengan kriteria: a. PKW sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a. (3) sistem jaringan transportasi udara terdiri atas tatanan kebandarudaraan dan ruang udara untuk penerbangan. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa yang melayani skala kabupaten atau beberapa kecamatan.(4) (5) c. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul utama transportasi skala nasional atau melayani beberapa provinsi. dan/atau b.000 (lima ratus ribu) jiwa. memiliki jumlah penduduk paling sedikit 1.000 (seratus ribu) sampai dengan 500. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul kedua kegiatan ekspor-impor yang mendukung PKN. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul transportasi yang melayani skala provinsi atau beberapa kabupaten. kesatuan pusat perkotaan. terdiri atas satu kawasan perkotaan inti dan beberapa kawasan perkotaan di sekitarnya yang membentuk satu c. terdapat keterkaitan fungsi antarkawasan perkotaan dalam satu sistem metropolitan.000 (seratus ribu) jiwa. danau. Pasal 13 (2) (3) (4) (5) 13 . kawasan perkotaan besar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat 2 merupakan kawasan perkotaan yang ditetapkan dengan kriteria jumlah penduduk lebih dari 500. Pasal 11 (1) kawasan megapolitan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat 2 merupakan kawasan yang ditetapkan dengan kriteria memiliki 2 (dua) atau lebih kawasan metropolitan yang mempunyai hubungan fungsional dan membentuk sebuah sistem. Bagian Ketiga Rencana Pengembangan dan Kriteria Sistem Jaringan Transportasi Paragraf Pertama Paragraf Pertama Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Transportasi Pasal 12 Sistem jaringan transportasi Provinsi Sumatera Utara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b terdiri atas: (1) sistem jaringan transportasi darat yang terdiri atas jaringan jalan. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul transportasi yang melayani skala kabupaten atau beberapa kecamatan.000 (lima ratus ribu) jiwa. kawasan perkotaan sedang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat 2 merupakan kawasan perkotaan yang ditetapkan dengan kriteria jumlah penduduk lebih dari 100. jaringan jalur kereta api.dan jalan bebas hambatan. PKL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria: a. dan d. b.000. dan/atau c.000 (lima puluh ribu) sampai dengan 100. b. dan jaringan transportasi penyebrangan sungai.

antar-PKN. Tanjung Pura – Binjai – Medan – Lubuk Pakam – Perbaungan –Sei Rampah –Tebing Tinggi . jaringan jalan arteri primer dikembangkan secara menerus dan berhierarki berdasarkan kesatuan sistem orientasi untuk menghubungkan: a. Padang Sidempuan – Batang toru (3) Pengembangn jaringan yang terpisah dengan jaringan jalan nasional atau pun provinsi yaitu Lingkar Pulau Nias dan Pulau Samosir (4) Peningkatan kapasitas jaringan bebas hambatan ruas Belmera (Belawan .Riniate – Batu Mundon (2) Pengembangan jaringan diagonal atau feeder road yaitu Medan – Brastagi – kabanjahe – Sidikalang.Prapat – Balige – Siborong – borong – Tarutung – Sibolga.Binjai (3) (4) 14 .Barus – Sibolga – Batang Toru . Jalur Lintas Timur merupakan muara pergerakan dari seluruh pusat kegiatan ekonomi di pantai Timur. dan/atau c. terutama pusat pelayanan primer Mebidang dan Sibolga. mengembangkan potensi ekonominya. Tebingtinggi – Pematang Siantar. jaringan jalan kolektor primer dikembangkan untuk menghubungkan antar-PKW dan antara PKW dan PKL.Pangkalan Susu.Jembatan Merah – Ranjau Batu – Muara Sipomgi – batas Sumatera Barat c. PKN dan/atau PKW dengan bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer/sekunder/tersier dan pelabuhan internasional/nasional. antara PKN dan PKW.Tanjung Morawa) (5) Pengembangan dengan pembangunan baru bebas jalan hambatan dalam dan antar kota yang mendukung perkembangan PKN Mebidangro meliputi : a. Ruas Medan . yaitu a.Medan . jalan tol/bebas hambatan dikembangkan untuk mempercepat perwujudan jaringan jalan bebas hambatan sebagai bagian dari jaringan jalan nasional yang terdiri dari Jalan bebas hambatan antar kota dan Jalan bebas hambatan dalam kota Pasal 15 Pengembangan sistim jaringan jalan di Provinsi Sumatera Utara diarahkan untuk : (1) Rencana Pengembangan Jaringan jalan arteri primer dan Kolektor Primer di Provinsi Sumatera Utara diarahkan atas tiga jalur regional. b.Tanjung Kasau –Indrapura –Lima puluh – Sei Bejangkar – Kisaran – Sp Kawat–Rantau Prapat – Aek Nabara – kota Pinang – Batas Riau b. termasuk Kawasan Perkotaan Mebidang yang merupakan pusat pelayanan primer yaitu mulai dari batas Aceh. Ruas Tebing Tinggi – Pematang Siantar – Parapat f. Ruas Kisaran .Kualanamu – Tebing Tinggi b.Rantau Prapat d. Jalur Lintas Tengah yang merupakan prasarana yang melayani pergerakan penumpang dan barang di wilayah Sumatera Utara bagian Tengah yang menghubungkan pantai Barat dan pantai Timur.Kisaran c. Ruas Binjai – Langsa e. Ruas Medan – Lubuk Pakam . Jalur Lintas Barat merupakan prasarana untuk perkuatan wilayah pantai Barat. .Sistim Transportasi di Provinsi Sumatera Utara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b diarahkan untuk sistim transportasi multi moda yang terintegrasi dari melayani Rencana dan Pengembangan Sistim Jaringan Transportasi Darat Sistim Transportasi Jaringan Jalan Pasal 14 (1) (2) jaringan jalan terdiri atas jaringan jalan arteri primer. Ruas Tebing Tinggi . jaringan jalan kolektor primer dan jalan tol/bebas hambatan. terutama untuk mendukung aksesibilitas pusat primer Sibolga yaitu batas aceh – Saragih – Manuamas. mulai dari batas Aceh Lawe Pakam – Kota Buluh – Sidikalang – Panji – Dolok Sanggul – Siborong – borong – Tarutung – Sipirok – Padang sidempuan.

NabaraNegeri Lama-Lab. R.Bilik (9) Pengembangan jalur KA menuju bandar udara Kuala Namu. Sistim Jaringan Angkutan Sungai dan Penyebrangan Pasal 18 (1) Jaringan transportasi sungai dan danau dan penyebrangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) terdiri atas: 15 .Tebing Tinggi Kisaran . pembangunan sarana olah raga.Padangsidempuan – Rantau Prapat. PKW dengan PKN.Kota Pinang ke arah Dumai dan jalur kereta api dari Medan .Tebing Tinggi Tanjungbalai .Lumut Natal ke arah Air Bangis.Rantau Prapat . Kisaran – Pelabuhan. Sistim Jaringan Kereta Api Pasal 16 (1) (2) (3) jaringan jalur kereta api di Provinsi Sumatera Utara terdiri atas: a. Kisaran.Pancur Batu dan Medan . Kisaran – Tanjung Balai. Sibolga. (7) Pengembangan simpul kereta api di stasiun KA antar kota Medan. dan b. b. Tanjung.batas Riau (4) pemantapan jalur kereta api antar kota di bagian tengah utara yang menghubungkan batas Riau – Gunung Tua – Rantau Prapat (5) pengembangan jalur kereta api antar kota di pantai barat bagian utara yang menghubungkan Kota Sibolga ke Tapak Tuan (6) pembangunan jaur trasportasi kerea api antar kota Sibolga. Bandar Tinggi – Pel. dan taman botani di sekitar Pancur Batu. atau c. Pematang Siantar dan stasiun KA kelas B di Tebing Tinggi. Kuala Tanjung. Pematang siantar Tebing – Tinggi. (10) Pengoperasian kembali jalur Medan .Stabat . antar-PKN. Sistim Jaringan Kereta Api di Provinsi Sumatera Utara Pasal 17 Pengembangan sistim jaringan jalan di Provinsi Sumatera Utara diarahkan untuk : (1) (2) (3) Pengembangan Jaringan jalur kereta api yang merupakan bagian Trans Asia Raillway meliputi : Banda Aceh – Pangkalan Susu – Medan – Rantau Prapat – Teluk Bayur Pemantapan jalur KA antar kota di pantai timur yang menhubungkan batas NAD – Medan – Lubuk Pakam – Tebing tinggi – kisaran .batas Riau Pemantapan jaur kereta api antar kota di pantai timur yang menhubungkan batas NAD – Medan – Lubuk Pakam – Tebing tinggi – kisaran . jaringan jalur kereta api antarkota.Rantau Prapat ke arah Dumai. dan b.Pangkalan Brandan ke arah Langkat dan Medan Sidikalang . Akses ke Provinsi Riau dibentuk melalui peningkatan jalur Medan . Rantau Prapat. (8) Pengembangan jalur KA menuju pelabuhan yaitu Belawan – Gabion (Pelabuhan Peti Kemas).Prapat – A.Rantau Prapat . Tiram.Perbaungan . antar-PKW Jaringan jalur kereta api perkotaan dikembangkan untuk: a. (11) Pembangunan jalan layang (fly over) pada beberapa titik pertemuan rel kereta api dengan jalan raya. jaringan jalur kereta api perkotaan.(6) (7) Pengembangan derajat aksesibilitas antara Provinsi Sumatera Utara dengan Nangroe Aceh Darussalam adalah melalui jalur Medan .Deli Tua untuk antisipasi rencana relokasi perguruan tinggi. mendukung aksesibilitas di kawasan perkotaan.ke arah Tapaktuan. Sedangkan akses dengan Provinsi Sumatera Barat dikembangkan melalui jalur Padang Sidempuan ke arah Muara Sipongi dan jalur Sibolga . menghubungkan kawasan perkotaan dengan bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer/sekunder/tersier dan pelabuhan internasional/nasional. Jaringan jalur kereta api antarkota dikembangkan untuk menghubungkan: a.

Pelabuhan regional dikembangkan untuk: a. Lintas penyeberangan terdiri atas: a. dan b. lintas pelabuhan penyeberangan dalam kabupaten/kota yang menghubungkan antarjaringan jalan kabupaten/kota dan jaringan jalur kereta api dalam kabupaten/kota. lintas penyeberangan lintas kabupaten/kota yang menghubungkan antarjaringan jalan provinsi dan jaringan jalur kereta api dalam provinsi. pelabuhan umum.Karang Gading Rencana dan Pengembangan Sistim JaringanTransportasi Laut Pasal 20 (1) tatanan kepelabuhanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) terdiri atas: a. (2) (3) (4) (5) (6) 16 . pelabuhan internasional hub dan pelabuhan internasional dikembangkan untuk: a. pelabuhan penyeberangan lintas antarprovinsi dan antarnegara. pelayaran rakyat. angkutan sungai. b. memiliki fungsi sebagai simpul jaringan transportasi laut nasional. b. dan pelabuhan lokal. dan angkutan perintis dalam jumlah menengah. lintas penyeberangan antar negara yang menghubungkan antar jaringan jalan pada kawasan perbatasan. c. Ajibata – Tomok. menjadi simpul jaringan transportasi laut internasional. menjangkau wilayah pelayanan sangat luas. dan c. dan d. pelabuhan nasional. melayani kegiatan pelayaran dan alih muat angkutan laut lokal dan regional.(2) (3) (4) a. Pelabuhan nasional dikembangkan untuk: a.Gunung Sitoli. pelabuhan penyeberangan lintas antarkabupaten/kota. pelabuhan umum terdiri atas pelabuhan internasional hub. Sistim Jaringan Angkutan Sungai dan Penyebrangan di Provinsi Sumatera Utara Pasal 19 Pengembangan sistim angkutan sungai dan penyebrangan di Provinsi Sumatera Utara diarahkan untuk : (1) Penyebrangan lintas negara yaitu Belawan – Malaysia dan Tanjung Balai – Malaysia (2) Penyebrangan lintas kabupaten/kota yaitu Sibolga. dan b. Simanindo – Tigaras. pelabuhan khusus. pelabuhan penyeberangan lintas dalam kabupaten/kota. melayani kegiatan pelayaran dan alih muat peti kemas angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah besar. Belawan Lama. b. dan angkutan perintis dalam jumlah kecil. dan c. b. angkutan sungai.Batang Sere. Belawan Lama. lintas penyeberangan antarprovinsi yang menghubungkan antarjaringan jalan nasional dan antarjaringan jalur kereta api antarprovinsi. menjangkau wilayah pelayanan terbatas. pelabuhan internasional. dan b. pelayaran rakyat. Jaringan transportasi penyeberangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) terdiri atas pelabuhan penyeberangan dan lintas penyeberangan. melayani kegiatan pelayaran dan alih muat peti kemas angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah menengah.dan c. menjangkau wilayah pelayanan menengah. alur pelayaran untuk kegiatan angkutan sungai dan alur pelayaran untuk kegiatan angkutan danau. Pelabuhan lokal dikembangkan untuk: a. menjangkau wilayah pelayanan menengah. Pelabuhan penyeberangan terdiri atas: a. pelabuhan sungai dan pelabuhan danau. melayani kegiatan pelayaran dan alih muat angkutan laut nasional dan regional. dan b. pelabuhan regional.

pelabuhan nasional direncanakan di Tanjung Balai. Sibolga ditingkatkan menjadi pusat penyebaran sekunder (4) Bandar Udara Aek Godang. Lasondre Pulau Batu sebagai pusat penyebaran tersier. dengan kriteria sebagai berikut : (2) 17 . Tapanuli Utara sebagai pusat penyebaran tersier (3) Bandara bandar udara Dr. f. b. (2) pelabuhan skala regional dan lokal di Provinsi Sumatera Utara yang dikembangkan untuk menunjang perkembangan aktifitas ekonomi wilayah pelayanannya. dan b. e. Pelabuhan Simanindo dan Pelabuhan Pangururan dikembangkan sebagai pelabuhan pengumpan lokal untuk melayani angkutan tourist/wisatawan mengunjungi objek-objek wisata di daerah tujuan wisata Danau Toba. Rencana dan Pengembangan Sistim Jaringan Transportasi Udara Pasal 22 (1) tatanan kebandarudaraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (4) terdiri atas: a. Deli Serdang sebagai pusat penyebaran primer berskala internasional (2) Bandara udara Silangit. Bandar udara Binaka di Gunung Sitoli Pulau Nias. Siborong-borong. Bandar Udara Sibisa di Toba Samosir. bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer. adalah : a. bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan tersier. Pelabuhan Ajibata. Ferdinand Lumban Tobing. pelabuhan Barus dikembangan sebagai pelabuahn pengumpan lokal untuk melayani pergerakan di wilayah pantai timur Provinsi Sumatera Utara c. sehingga komoditi setempat tidak berorientasi ke Pelabuhan Dumai di Provinsi Riau. (3) alur pelayaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (3) terdiri atas alur pelayaran internasional dan alur pelayaran nasional.dan d. b. pelabuhan Balige. bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan sekunder. bandar udara umum. c. bandar udara bukan pusat penyebaran Pasal 23 Rencana pengembangan jaringan transportasi udara terdiri dari : (1) Bandara udara Kuala Namu. bandar udara umum terdiri atas: a. pelabuhan Gunung Sitoli dan Sirambu dikembangkan sebagai pelabuhan pengumpan lokal untuk melayani angkutan penumpang dan barang dari dan menuju Pulau Nias. pelabuhan Pangkalan Brandan dikembangkan sebagai pelabuhan pengumpan lokal dengan skala pelayanan angkutan penumpang dan barang di wilayah pantai Timur Sumatera Utara d.Sistim Transportasi Laut di Provinsi Sumatera Utara Pasal 21 Pengembangan sistim transportasi laut di Provinsi Sumatera Utara diarahkan untuk : (1) Pelabuhan internasional direncanakan di Belawan dan Sibolga. pelabuhan Natal dikembangkan sebagai pelabuhan pengumpan lokal untuk melayani angkutan penumpang dan barang di wilayah pantai Barat bagian Selatan. bandar udara khusus. (5) Bandar udara perintis di Aek Nabara Labuhan Batu dan Madina. sehingga komoditi setempat tidak berorientasi ke pelabuhan Teluk Bayur di Sumatera Barat. pelabuhan Labuhan Bilik dikembangkan sebagai pelabuhan pengumpan lokal untuk melayani angkutan barang di wilayah pantai Timur bagian Selatan. di Tapanuli Selatan. Paragraf kedua Kriteria Sistem Jaringan Transportasi Pasal 24 (1) Jalan arteri primer diarahkan untuk melayani pergerakan antar kota antar provinsi.

AKDP. Rencana pengembangan pelabuhan internasional dengan fungsi pelabuhan utama ditetapkan dengan kriteria : a. d. Berupa jalan umum yang melayani angkutan pengumpul atau pembagi. b. d. dan f. Berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan AKAP. Mempunyai akses masuk atau keluar jalan dari terminal minimum 50 (lima puluh) m. Terletak di jalan arteri atau kolektor primer dengan kelas jalan minimum IIIB. Terletak di jalan arteri primer dengan kelas jalan minimum IIIA. PKW dengan PKN. Lokasi terletak di PKN dan/atau di PKW dalam jaringan trayek antar kota. e. Jumlah jalan masuk dibatasi secara berdaya guna. antar provinsi (AKAP). Berupa jalan umum yang melayani angkutan utama. dengan kriteria sebagai berikut : a. d. dan (8) 18 . e. Menghubungkan antar-PKW. Berjarak paling jauh 500 (lima ratus) mil dari alur laut kepulauan Indonesia atau jalur pelayaran internasional. Angkutan Perkotaan. Jalan strategis nasional dikembangkan berdasarkan kriteria menghubungkan PKN dan/atau PKW dengan kawasan strategis nasional. Menghubungkan antara PKW dengan PKL. Luas minimum 3 (tiga) ha. Memungkinkan untuk lalu-lintas dengan kecepatan rata-rata sedang. Menghubungkan antar-PKN b. Jarak antara terminal regional tipe A sekurang-kurangnya 20 (dua puluh) km. b. Menghubungkan PKN dan/atau PKW dengan bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer/sekunder/tersier dan pelabuhan internasional/ nasional. dan g. Jalan kolektor primer dikembangkan untuk menghubungkan antar kota dalam provinsi. b. Berada di luar kawasan lindung. dan f. c. Berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan AKDP. Jarak antara terminal regional tipe B dan/atau antara terminal regional tipe B dengan terminal regional tipe A sekurang-kurangnya 15 (lima belas) km. Luas minimum 5 (lima) ha. dan f. Berhadapan lansung dengan alur laut kepulauan Indonesia dan/atau jalur pelayaran internasional. serta Angkutan Pedesaan Pengembangan terminal regional tipe B. c. c. d. Angkutan Perkotaan. f. g. serta Angkutan Pedesaan. Membatasi jumlah jalan masuk. Melayani kegiatan pelayaran dan alih muat peti kemas angkutan laut internasional dalam jumlah besar. dengan kriteria sebagai berikut : a. Melayani perjalanan jarak jauh. Pengembangan jalan kereta api ditetapkan dengan kriteria menghubungkan antar PKN. antar PKW dan menghubungkan pusat-pusat Sentra produksi dan distribusi. Lokasi terletak di PKW dan/ atau di PKL dalam jaringan trayek antar kota. e. Menghubungkan antara PKN dan PKW c. Pengembangan terminal regional tipe A. Melayani perjalanan jarak sedang. Bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan PKN dalam sistem transportasi antar negara. Memungkinkan untuk lalu-lintas dengan kecepatan rata-rata tinggi. f. Mempunyai akses masuk atau keluar jalan dari terminal minimum 100 (seratus)m. Menjangkau wilayah pelayanan sangat luas. c. e. Menjadi simpul utama pendukung pengembangan produksi kawasan andalan ke pasar internasional. dengan kriteria sebagai berikut : a. b.(2) (3) (4) (5) (6) (7) a. e. Jalan tol dibangun untuk memperlancar lalu lintas di daerah yang telah berkembang dan meningkatkan hasil guna dan daya guna pelayanan distribusi barang dan jasa guna menunjang peningkatan pertumbuhan ekonomi. d. antar provinsi (AKAP).

Melayani kegiatan pelayaran dan alih muat peti kemas angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah menengah. b. e. angkutan sungai. dan g. (10) Rencana pengembangan pelabuhan regional dengan fungsi pelabuhan pengumpul ditetapkan dengan kriteria : a. pelayaran rakyat.5 (satu setengah) meter. termasuk pengembangan kawasan tertinggal. Merupakan bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan PKW/ PKWp atau PKL dalam sistem transportasi antar kabupaten/kota dalam satu provinsi. c. Berada pada perairan yang memiliki kedalaman paling sedikit 1. d. termasuk pengembangan kawasan tertinggal. dan angkutan perintis dalam jumlah kecil. 25 (11) Rencana pengembangan pelabuhan lokal dengan fungsi pelabuhan pengumpan ditetapkan dengan kriteria : a. Menjangkau wilayah pelayanan menengah. dan f. Berada di luar kawasan lindung. Berfungsi sebagai simpul pendukung pemasaran produk kawasan budidaya di sekitarnya ke pasar lokal. Berada di luar kawasan lindung. c. kawasan pedalaman sungai. (9) Rencana pengembangan pelabuhan nasional dengan fungsi pelabuhan pengumpul ditetapkan dengan kriteria : a.h. dan pulau-pulau kecil. mendukung aspek politik dan pertahanan negara (2) 19 . b. dan angkutan perintis dalam jumlah menengah. e. penyediaan minyak dan gas bumi. Memiliki fungsi sebagai simpul pendukung pemasaran produk kawasn andalan ke pasar nasional. Melayani kegiatan pelayaran dan alih muat angkutan laut lokal dan regional. Berada pada perairan yang memiliki kedalaman paling sedikit 12 (dua belas) meter untuk pelabuhan internasional hub dan 9 (sembilan) meter untuk pelabuhan internasional. Dapat melayani pelayaran rakyat. b. Berada pada perairan yang memiliki kedalaman paling sedikit 4 (empat) meter. c. f. Pengembangan jaringan energi bertujuan untuk mewujudkan ketersediaan daya energi yang menjangkau seluruh wilayah dalam kapasitas dan pelayanannya guna untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat. d. dan c. e. Berada pada perairan yang memiliki kedalaman paling sedikit 9 (sembilan) meter. Memberi akses bagi pengembangan kawasan andalan laut. pelayaran rakyat. Bagian Keempat Rencana Pengembangan dan Kriteria Jaringan Energi di Provinsi Sumatera Utara Paragraf Pertama Rencana Pengembangan Jaringan Energi di Provinsi Sumatera Utara Pasal 25 (1) sistem jaringan energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf c terdiri atas: a. dan f. Memberikan akses bagi pengembangan pulau-pulau kecil dan kawasan andalan laut. Merupakan bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan PKN dalam sistem transportasi antar provinsi. d. Melayani kegiatan pelayaran dan alih muat angkutan laut nasional dan regional. angkutan sungai. Merupakan bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan PKN dan PKW dalam sistem transportasi antar provinsi. jaringan transmisi tenaga listrik. Berada di luar kawasan lindung. pembangkit tenaga listrik. b. Berfungsi sebagai simpul pendukung pemasaran produk kawasan andalan ke pasar regional.

Mendukung pemanfaatan teknologi tinggi yang mampu menghasilkan energi untuk mengurangi ketergantungan sumber energi tak terbarukan.Pasal 26 Pengembangan sistem jaringan energi di Provinsi Sumatera Utara adalah : (1) pengembangan pengelolaan sistim penyediaan minyak dan gas bumi yang berasal dari Pangkalan Susu. PLTD T. PLTD G. Pengembangan sistim jaringan transmisi interkoneksi se Sumatera dan sistim energi Asean Pengembangan sistim jaringan strasmisi SUTET dan SUTUT dengan mempertimbangkan pola pemanfaatan ruang yang ada Paragraf Kedua Kriteria Jaringan Energi di Provinsi Sumatera Utara Pasal 27 (1) (2) Pengembangan prasarana energi ditujukan untuk peningkatan kapasitas pembangkit listrik dengan kriteria : a. dan pulau-pulau kecil. pertanian. Mendukung ketersediaan pasokan tenaga listrik untuk kepentingan di kawasan perkotaan. dan pulau-pulau kecil. perdesaan. Bagian Kelima Rencana Pengembangan dan Kriteria Sistem Jaringan Telekomunikasi 20 . Pasir. Kabupaten Langkat. PLTA Sipansihaporas. wilayah sungai. Dalam. dan Riau (Pertamina Sumbagut) (2) Pengembangan pembangkit tenaga listrik dengan peningkatan kapasitas pembangkit tenaga listrik antara lain PLTG/U Belawan. Tidak berada pada kawasan lindung. PLTG Paya. panas bumi. PLTP Sibayak. PLTU Labuhan Angin. tenaga surya. hutan. yaitu: No . PLTMH Batang Gadis I & II. b. Mendukung pemanfaatan teknologi tinggi yang mampu menghasilkan energi untuk mengurangi ketergantungan sumber energi tak terbarukan. Pengembangan prasarana jaringan energi listrik ditetapkan dengan kriteria : a. c. 1 2 3 4 5 6 7 (4) Nama Pembangkit PLTG Barge Maunted Asahan I Sumut Sarulla Kuala Tanjung Paluh Merbau Asahan III Jenis PLTG PLTA PLTU PLTP PLTU PLTU PLTA Jumlah Unit 1 2 2 3 2 Unit Size (MW) 60 90 Kapasitas (MW) 60 180 200 110 125 400 330 2 2 125 87 250 250 174 (5) (6) Pengembangan sistim jaringan terisolasi pada pulau-pulau kecil atau gugus pulau serta kawasan terpencil dilaksanakan dengan sistem pembangkit mikrohidro. laut. PLTMH Aek Raisan I & II (3) Pengembangan dan penyediaan pembangkit listrik baru yang berbasiskan pertambangan batu bara. b. tenaga angin dan tenaga diesel. PLTM Silang. hidro. Mendukung ketersediaan pasokan tenaga listrik untuk kepentingan di kawasan perkotaan. PLTD Titi Kuning. PLTM Kombih I & VII. PLTM Boho. PLTA Renun. d. Melintasi kawasan permukiman. perdesaan. c. PLTM Sibundong. PLTA Inalum. PLTG Glugur. Berada pada lokasi aman dari bahaya bencana alam dan aman terhadap kegiatan lain. Sitali. dan jalur transportasi.

Pengembangan jaringan sistem satelit ditetapkan dengan kriteria : a. Pengembangan jaringan telekomunikasi bertujuan untuk mewujudkan sarana komunikasi dan informasi yang menjangkau seluruh wilayah dalam kapasitas dan pelayanannya guna untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat. jaringan terestrial dan b. Pasal 32 Pengembangan prasarana sumber daya air di Provinsi Sumatera Utara bertujuan untuk : (1) Pengembangan. mendukung aspek politik dan pertahanan negara. rawa dan sumber daya air lainnya (2) Pengembangan dan pengelolaan jaringan sumberdaya air bagi penyediaan air baku di pusat – pusat pertumbuhan dan kawasan perkotaan. dan c. b. Mendukung dan melengkapi pengembangan jaringan terestrial. Pasal 29 Sistim jaringan telekomunikasi di Provinsi Sumatera Utara adalah : (1) sistim jaringan telekomunikasi teresterial dikembangkan di jaringan pusat pertumbuhan di wilayah pantai timur (2) sistim jaringan telekomunikasi teresterial dikembangkan di jaringan pelayanan di PKN Mebidangro dan di pusat pertumbuhan wilayah pantai barat (3) sistim jaringan telekomunikasi satelit dikembangkan pada kawasan tertinggal. Jaringan dikembangkan secara berkesinambungan dan terhubung dengan jaringan nasional. b. Pemanfaatan bersama menara untuk paling sedikit 3 (tiga) operator setiap menara. wilayah sungai meliputi wilayah sungai lintas provinsi. jaringan satelit termasuk yang menggunakan spektrum frekuensi radio sebagai sarana transmisi. wilayah sungai strategis nasional dan wilayah sungai strategis provinsi. (2) (2) 21 . Mendukung kawasan pengembangan ekonomi. cekungan air tanah meliputi cekungan air tanah lintas provinsi. terisolasi dan kawasan perbatasan yaitu Pulau Berhala serta pembangunan Stasiun Bumi di Kabupaten Karo Paragraf Pertama Kriteria Sistem Jaringan Telekomunikasi Pasal 30 (1) Pengembangan jaringan telekomunikasi dengan sistem terestrial ditetapkan dengan keriteria : a. Mendukung pengembangan telekomunikasi seluler. pengelolaan dan konservasi SDA antara lain sungai. dan c.Paragraf Pertama Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Telekomunikasi Pasal 28 (1) Sistem jaringan telekomunikasi Provinsi Sumatera Utara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf d terdiri atas : a. Menghubungkan antar pusat kegiatan. danau. Bagian Keenam Rencana Pengembangan dan Kriteria Sistem Jaringan Prasarana Sumber Daya Air Paragraf Pertama Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Prasarana Sumber Daya Air Pasal 31 (1) (2) (3) sistem jaringan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf e merupakan sistem sumber daya air pada setiap wilayah sungai dan cekungan air tanah.

Tempat pengolahan dan atau pengelolaan limbah industri B3 dan non B3. Sistem pengelolaan air minum (SPAM).Besitang. Pasal 33 Sistim Jaringan Sumaber Daya Air di Provinsi Sumatera Utara adalah : (1) Pengembangkan waduk/bendungan. SWS Batang Natal-Batang Batahan Sumatera Barat dan SWS Rokan dengan Riau. SWS Barumun – Kualuh. Tempat pembuangan akhir (TPA) terpadu (regional). Pasal 37 (1) Arahan pengembangan pengelolaan jaringan persampahan dimaksudkan untuk: a. Kabupaten Deli Serdang. maka perlu dikembangkan lokasi yang digunakan bersama antara kabupaten/ kota dengan sistem pengelolaan yang berwawasan lingkungan.(3) (4) Pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi. Paragraf Kedua Kriteria Sistem Jaringan Prasarana Sumber Daya Air Pasal 34 Wilayah sungai dan cekungan air tanah lintas provinsi dan lintas kabupaten/kota ditetapkan dengan kriteria melintasi dua atau lebih provinsi dan kabupaten/kota berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan embung. (3) SWS Lintas Provinsi yaitu SWS Alas Singkil dengan Provinsi NAD. (4) SWS Lintas Kabupaten Kota yaitu SWS Wampu . Bagian Ketujuh Rencana Pengembangan dan Kriteria Sistem Jaringan Prasarana Lingkungan Pasal 35 Sistem prasarana lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf f meliputi : a.Batang Toru. c. b. SWS Pulau Nias. Meningkatkan dan mempertahankan kualitas lingkungan dan sumber daya alam terutama air dari kerusakan dan penurunan kualitasnya yang disebagkan oleh pencemaran. SWS Toba – Asahan dan SWS Batang Angkola -Batang Gadis. Sistim Jaringan Persampahan terdiri dari : (2) 22 . Sarana dan prasarana lingkungan yang sifatnya menunjang kehidupan masyarakat Paragraf Pertama Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Prasarana Lingkungan Pasal 36 Rencana pengembangan sistem prasarana lingkungan sebagaimana dimaksud pasal 35 adalah upaya bersama dalam menghadapi dampak lingkungan. situ. SWS Sibundong . Waduk Lau Simeme (multi Purpose dam) di Kecamatan Sibiru-biru. rawa dan jaringan pengairan lainnya untuk mendukung ketahanan pangan Pengembangan bagi pengendalian banjir dan pengamanan pantai pada kawasan pusat pertumbuhan. Meningkatkan pengembangan pengelolaan lingkungan di permukiman baik di perkotaan maupun pedesaan yang dapat berpengaruh langsung untuk memperbaiki dan meningkatkan kesehatan individu b. d. (2) Satuan Wilayah Sungai Strategis nasiolnal adalah SWS Belawan – Ular – Padang. e. SWS Bah Bolon. Sistem Jaringan Drainase.

d. g. kawasan peruntukan hutan produksi. c. kawasan peruntukan lainnya rencana pola ruang wilayah Provinsi Sumatera Utara digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1:250. kawasan peruntukan pertambangan. Kota Tanjung Balai-Kisaran.(3) a. kawasan peruntukan permukiman. (2) (3) (4) 23 . kawasan peruntukan pariwisata. dan b. b. kawasan lindung provinsi. Penyediaan TPA Regional dan pengolahan sampah/limbah regional untuk melayani kawasan perkotaan antara lain Kawasan Mebidangro. kawasan lindung lainnya Kawasan budi daya terdiri atas: a. Revitalisasi TPA yang telah ada dari sistim open dumping menjadi control lanfill pada TPA Terjun Kota Medan. i. BAB IV RENCANA POLA RUANG WILAYAH PROVINSI SUMATERA UTARA Bagian Kesatu Umum Pasal 39 (1) Rencana pola ruang wilayah Provinsi Sumatera Utara meliputi: a. e.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. j. d. TPA Tanjung Mowawa Kabupaten Deliserdang. kawasan peruntukan peternakan. Asahan. kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis provinsi. kawasan suaka alam. f. TPA Pancur Batu. b Prasarana air minum yang dikembangkan meliputi fasilitas air bersih dan sumber air yang akan dimanfaatkan guna meningkatkan pelayanan air minum yang memenuhi standar kesehatan. e. Kota Pematang Siantar . kawasan peruntukan hutan rakyat. kawasan peruntukan industri. TPA Namo Bintang. kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya. kawasan peruntukan perikanan.Kabupaten Simalungun dan di Kabupaten Nias Arahan pengembangan sistem jaringan air minum di Provinsai Sumatera Utara adalah sebagai berikut : a Jaringan air minum dikembangkan di pusat-pusat primer dan sekunder. b. c. h. dan cagar budaya. Kota Siboga – kota Pandan.Rampah Serdang Bedagei. kawasan rawan bencana alam. Kota Tebing Tinggi . pelestarian alam. kawasan peruntukan pertanian. kawasan peruntukan perkebunan. Tapanuli Tengah. TPA Mencirim di Kota Binjai b. Paragraf Kedua Kriteria Sistem Prasarana Lingkungan Pasal 38 Sistem prasarana lingkungan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 33 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kawasan lindung provinsi terdiri atas: a. kawasan perlindungan setempat. Di kota tertentu lainnya yang memiliki potensi permintaan cukup memadai dapat dikembangkan sistem penyediaan air bersih. dan/atau k.

kecuali untuk kepentingan umum. termasuk kawasan tanah gambut dengan ketebalan 3 m yang terdapat dibagian hulu sungai/rawa dan yang ditetapkan sebagai hutan lindung (2) kawasan lahan gambut di Kabupaten Asahan. (3) kawasan sekitar danau/waduk. dengan kelerengan lebih dari 45%.Bagian Kedua Rencana Pengembangan Kawasan Lindung Paragraf Pertama Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya Pasal 40 Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) huruf a terdiri atas: (1) kawasan hutan lindung. 24 . (4) kawasan sekitar mata air. yang secara rinci kawasan tersebut akan ditetapkan oleh masing–masing kabupaten dan kota. Labuhan Batu. kawasan hutan yang mempunyai kemiringan lereng paling sedikit 40% (empat puluh persen). berbentuk jalur dan atau kombinasi keduanya. Kriteria kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya Pasal 41 (1) Kawasan hutan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasa 34 ayat (1) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a. (2) kawasan sempadan sungai meliputi daratan sepanjang kiri dan kanan sungai-sungai besar dan kecil.000 (dua ribu) meter di atas permukaan laut. meliputi dataran sepanjang tepian pantai yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 meter dihitung dari sepertiga titik pasang tertinggi ke arah daratan. (3) kawasan resapan terletak menyebar di wilayah kabupaten dan kota. kawasan hutan yang mempunyai ketinggian paling sedikit 2. organosol dan rezina) dan kelas lereng lebih besar dari 15 %. Kawasan bergambut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1) huruf b ditetapkan dengan kriteria ketebalan gambut 3 (tiga) meter atau lebih yang terdapat di hulu sungai atau rawa. b. meliputi kawasan sekurang-kurangnya dengan radius 200 meter di sekililing mata air. (5) Ruang terbuka hijau kota ditetapkan 30% dari luas wilayah dengan dominasi komunitas tumbuhan yang dapat berbentuk satu hamparan. berada pada ketinggian 2. memiiki bercurah hujan tinggi dan mampu meresapkan air ke dalam tanah. jenis tanah. (2) (3) Paragraf Kedua Kawasan perlindungan setempat Pasal 42 kawasan perlindungan setempat di Provinsi Sumatera Utara terdiri atas: (1) kawasan sempadan pantai. mempunyai skor lebih dari 175. kawasan hutan dengan faktor kemiringan lereng. atau c. mempunyai jenis tanah dengan nilai 5 (regosol. dan intensitas hujan yang jumlah hasil perkalian bobotnya sama dengan 175 (seratus tujuh puluh lima) atau lebih. litosol.p. meliputi daratan sekeliling tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk kondisi fisik danau/waduk (antara 50 – 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah daratan).000 meter d. Kawasan resapan air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1) huruf c ditetapkan dengan kriteria kawasan yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan dan sebagai pengontrol tata air permukaan. Tapanuli Tengah serta hutan mangrove di kawasan pantai timur.l.

makam batu dan permukiman tradisionil di Tomok pulau Samosir permukiman tradisional di Pulau Nias. daratan sepanjang tepian sungai bertanggul dengan lebar paling sedikit 5 (lima) meter dari kaki tanggul sebelah luar. pelestarian alam. Dolok Surungan (Toba Samosir). Dolok Sibual – buali (Tapanuli Selatan). Deleng Lancuk (Karo). berbentuk satu hamparan. Di (2) (3) (4) 25 . b. Terdapat di kawasan permukiman baik di perkotaan maupun di pedesaan antara lain. atau kombinasi dari bentuk satu hamparan dan jalur. daratan dengan jarak 50 (lima puluh) meter sampai dengan 100 (seratus) meter dari titik pasang air danau atau waduk tertinggi. Taman Nasional Batang Gadis di Mandailing Natal. berbentuk jalur. atau sepanjang tepian danau atau waduk yang lebarnya proporsional terhadap bentuk dan kondisi fisik danau atau waduk. Paragraf Ketiga Kawasan suaka alam. Sei Ledong (Labuhan Batu). daratan sepanjang tepian anak sungai tidak bertanggul di luar kawasan permukiman dengan lebar paling sedikit 50 (lima puluh) meter dari tepi sungai. Holiday Resort (Labuhan Batu). dan cagar budaya di Provinsi Sumatera Utara. terletak membentang di wilayah Pantai Timur dari pantai utara Kabupaten Langkat ke daerah selatan pantai Kabupaten Labuhan Batu. Ruang terbuka hijau kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2) huruf d ditetapkan dengan kriteria: a. didominasi komunitas tumbuhan. dan c.500 (dua ribu lima ratus) meter persegi. (6) Kawasan Pantai Berhutan Bakau atau hutan mangrove. Lubuk Raya Tapanuli Selatan (2) Kawasan Suaka margasatwa antara lain Karang Gading (Deli Serdang dan Langkat). lahan dengan luas paling sedikit 2. Dolok Sipirok (Tapanuli Selatan). atau b. Kompeks Istana Maimoon. (3) Kawasan pelestarian alam termasuk di dalamnya adalah Taman Nasional Gunung Leuser di Langkat. Taman Wisata Alam di Sibolangit (Deli Serdang). Karo. b. terdiri atas: (1) Kawasan cagar alam antara lain Sibolangit (Deli Serdang). Liang Balik dan Batu Ginurit (Labuhan Batu). daratan sepanjang tepian sungai besar tidak bertanggul di luar kawasan permukiman dengan lebar paling sedikit 100 (seratus) meter dari tepi sungai. Si Cikeh-Cikeh (Dairi). dan Muara (Tapanuli Utara). Sijaba Hutan Ginjang (Tapanuli Utara). Siranggas (Dairi). (5) Pulau-pulau kecil dengan luasan maksimal 10 km2 yang terletak di perairan pantai Barat dan di perairan Pantai Timur. Sempadan sungai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) huruf b ditetapkan dengan kriteria: a. Lau Debuk-Debuk (Karo). Kawasan sekitar danau atau waduk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2) huruf c ditetapkan dengan kriteria: a. pelestarian alam. rumah adat Lingga di Simalungun. dan cagar budaya Pasal 44 Kawasan suaka alam. Dolok Saut (Tapanuli Utara).Kriteria kawasan perlindungan setempat Pasal 43 (1) Sempadan pantai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a. dan Langkat). Taman Hutan Raya Bukit Barisan (Deli Serdang. daratan sepanjang tepian laut dengan jarak paling sedikit 100 (seratus) meter dari titik pasang air laut tertinggi ke arah darat. daratan sepanjang tepian laut yang bentuk dan kondisi fisik pantainya curam atau terjal dengan jarak proporsional terhadap bentuk dan kondisi fisik pantai. (4) Kawasan cagar budaya yaitu kawasan yang merupakan lokasi bangunan hasil budaya manusia yang bernilai tinggi maupun yang memiliki bentuk geologi alami yang khas. Simalungun. dan c. Barumun (Tapanuli Selatan) dan Pulau Nias serta kawasan pantai hutan bakau atau hutan mangrove.

dan cagar budaya Pasal 45 (1) Kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (3) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a. Suaka margasatwa dan suaka margasatwa laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (3) huruf c ditetapkan dengan kriteria: a. baik pada kawasan yang ekosistemnya masih utuh maupun kawasan yang sudah berubah. b. mempunyai fungsi utama sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman jenis biota. memiliki akses yang baik untuk keperluan pariwisata. c. memiliki keindahan alam dan/atau gejala alam. memiliki paling sedikit satu ekosistem yang terdapat di dalamnya yang secara materi atau fisik tidak boleh diubah baik oleh eksploitasi maupun pendudukan manusia. merupakan habitat alami yang memberikan tempat atau perlindungan bagi perkembangan keanekaragaman tumbuhan dan satwa. Taman hutan raya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (3) huruf g ditetapkan dengan kriteria: a. memiliki ciri khas yang merupakan satu-satunya contoh di suatu daerah serta keberadaannya memerlukan konservasi. d. c. memiliki keadaan alam yang asli untuk dikembangkan sebagai pariwisata alam. serta gejala dan keunikan alam yang terdapat di dalamnya. berhutan atau bervegetasi tetap yang memiliki tumbuhan dan satwa yang beragam. Cagar alam dan cagar alam laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (3) huruf d ditetapkan dengan kriteria: a. memiliki kondisi alam. merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migran tertentu. dari pantai selatan Kabupaten Tapanuli Kriteria kawasan suaka alam. pelestarian alam. e. atau d. dan tipe ekosistemnya. baik di lautan maupun di perairan lainnya. merupakan tempat hidup dan perkembangbiakan dari suatu jenis satwa yang perlu dilakukan upaya konservasinya. b. b. dan b. d merupakan kawasan dengan ciri khas baik asli maupun buatan. atau e. kawasan yang memiliki keanekaragaman biota. Kawasan pantai berhutan bakau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (3) huruf e ditetapkan dengan kriteria koridor di sepanjang pantai dengan lebar paling sedikit 130 (seratus tiga puluh) kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan. baik biota maupun fisiknya yang masih asli atau belum diganggu manusia. c. satwa. memiliki sumber daya alam yang khas dan unik baik berupa jenis tumbuhan maupun jenis satwa dan ekosistemnya serta gejala alam yang masih utuh. Kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (3) huruf b ditetapkan dengan kriteria: a. c. memiliki ekosistem khas. dan (2) (3) (4) (5) (6) (7) 26 . dan/atau b. serta gejala dan keunikan alam yang khas baik di darat maupun di perairan. d. dan e. diukur dari garis air surut terendah ke arah darat. d. memiliki luas dan bentuk tertentu.wilayah Pantai Barat membujur Tengah serta di daerah ke Kepulauan Nias. memiliki formasi biota tertentu dan/atau unit-unit penyusunnya. memiliki luas yang cukup sebagai habitat jenis satwa yang bersangkutan. memiliki keanekaragaman satwa yang tinggi. memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan. berhutan atau bervegetasi tetap yang memiliki tumbuhan dan/atau satwa yang beragam. ekosistem. memiliki luas yang cukup untuk menjamin kelangsungan proses ekologi secara alami. ekosistem. Taman nasional dan taman nasional laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (3) huruf f ditetapkan dengan kriteria: a. b. memiliki arsitektur bentang alam yang baik.

Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan sebagaimanadimaksud dalam Pasal 34 ayat (3) huruf i ditetapkan dengan kriteria sebagai hasil budaya manusia yang bernilai tinggi yang dimanfaatkan untuk pengembangan ilmu pengetahuan. memiliki luas yang cukup untuk menjamin pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya untuk dimanfaatkan bagi kegiatan wisata alam. terletak pada wilayah Pantai Timur dan Pantai Barat Provinsi Sumatera Utara serta wilayah pantai Pulau Nias (3) kawasan rawan banjir terletak pada kawasan perkotaan di sepanjang Pantai Timur yang dilalui oleh jalur lintas timur sumatera (4) Kawasan rawan kebakaran hutan terletak di Kriteri Kawasan Bencana Alam Geologi Pasal 48 (1) Kawasan rawan letusan gunung berapi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a. Utara Sibolga. c. e. rayapan. Asahan. f. kawasan rawan gerakan tanah. dan d. (2) kawasan rawan gelombang pasang. unik. dan g. kawasan rawan letusan gunung berapi. longsoran. f. d. bagian selatan Mandailing Natal. Tapanuli Utara. kawasan imbuhan air tanah. Taman wisata alam dan taman wisata alam laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal34 ayat (3) huruf h ditetapkan dengan kriteria: a. (2) Pasal 47 Kawasan bencana aam geologi di Provinsis sumatera utara terletak pada : (1) kawasan rawan tanah longsor. satwa dan ekosistemnya yang masih asli serta formasi geologi yang indah. kawasan rawan tsunami. Tapanuli Tengah. Sebagian besar wilayah Sumatera Utara di sekitar Bukit Barisan membujur arah Utara Selatan pada dasarnya potensial terhadap gerakan tanah. dan/atau 27 . b. memiliki akses yang baik untuk keperluan pariwisata. termasuk dalam kawasan ini sekeliling Danau Toba. kawasan rawan gempa bumi. dan b. c. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (5) huruf c terdiri atas: a. gelombang pasang dan banjir bandang. kondisi lingkungan di sekitarnya mendukung upaya pengembangan kegiatan wisata alam. Labuhan Batu. Pulau Nias bagian Selatan dan bagian Tengah. Toba Samosir. wilayah di sekitar kawah atau kaldera. kawasan yang terletak di zona patahan aktif. dan langka. Tapanuli Selatan bagian Selatan. sempadan mata air. kawasan rawan bahaya gas beracun.(8) (9) memiliki luas yang memungkinkan untuk pengembangankoleksi tumbuhan dan/atau satwa jenis asli dan/atau bukan asli. memiliki daya tarik alam berupa tumbuhan. Langkat. kawasan rawan abrasi. Paragraf Keempat Kawasan Bencana Alam Geologi Pasal 46 (1) Kawasan rawan bencana alam geologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (5) huruf b terdiri atas: a. b.

Pasal 49 (1) (2) (3) Kawasan rawan tanah longsor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (4) huruf a ditetapkan dengan kriteria kawasan berbentuk lereng yang rawan terhadap perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan. dan b. daratan di sekeliling mata air yang mempunyai manfaat untuk mempertahankan fungsi mata air. Kawasan rawan gerakan tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) huruf c ditetapkan dengan kriteria memiliki tingkat kerentanan gerakan tanah tinggi. Kawasan rawan gelombang pasang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (4) huruf b ditetapkan dengan kriteria kawasan sekitar pantai yang rawan terhadap gelombang pasang dengan kecepatan antara 10 sampai dengan 100 kilometer per jam yang timbul akibat angin kencang atau gravitasi bulan atau matahari. dan/atau d. bahan rombakan. Kawasan rawan gempa bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) huruf b ditetapkan dengan kriteria kawasan yang berpotensi dan/atau pernah mengalami gempa bumi dengan skala VII sampai dengan XII Modified Mercally Intensity (MMI). Kawasan lindung lainnya Pasal 51 Kawasan lindung lainnya di Provinsi Sumatera Utara terdiri atas . Kawasan rawan bahaya gas beracun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) huruf g ditetapkan dengan kriteria wilayah yang berpotensi dan/atau pernah mengalami bahaya gas beracun. memiliki hubungan hidrogeologis yang menerus dengan daerah lepasan. c. (4) kawasan perlindungan plasma nutfah. b.(2) (3) (4) (5) (6) (7) b. tanah. Pasal 50 (1) (2) Kawasan imbuhan air tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (3) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a. aliran lava. (2) ramsar. wilayah yang sering terlanda awan panas. Kawasan sempadan mata air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (3) huruf b ditetapkan dengan kriteria: a. memiliki jenis fisik batuan dengan kemampuan meluluskan air dengan jumlah yang berarti. (3) kawasan lindung Taman Buru Pulau Pini di kepulauan Nias . memiliki muka air tanah tidak tertekan yang letaknya lebih tinggi daripada muka air tanah yang tertekan. Kawasan rawan tsunami sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) huruf e ditetapkan dengan kriteria pantai dengan elevasi rendah dan/atau berpotensi atau pernah mengalami tsunami. atau material campuran. (5) kawasan pengungsian satwa. Kawasan rawan abrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) huruf f ditetapkan dengan kriteria pantai yang berpotensi dan/atau pernah mengalami abrasi. Kawasan yang terletak di zona patahan aktif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf d ditetapkan dengan kriteria sempadan dengan lebar paling sedikit 250 (dua ratus lima puluh) meter dari tepi jalur patahan aktif. Kawasan rawan banjir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (4) huruf c ditetapkan dengan kriteria kawasan yang diidentifikasikan sering dan/atau berpotensi tinggi mengalami bencana alam banjir. wilayah dengan jarak paling sedikit 200 (dua ratus) meter dari mata air. 28 . aliran lahar lontaran atau guguran batu pijar dan/atau aliran gas beracun. memiliki lapisan penutup tanah berupa pasir sampai lanau. (1) cagar biosfer.

memiliki luas tertentu yang memungkinkan kelangsungan proses pertumbuhan jenis plasma nutfah. memiliki keterwakilan ekosistem yang masih alami. mendukung spesies rentan. berupa kawasan yang terbentuk dari koloni masif dari hewan kecil yang secara bertahap membentuk terumbu karang. dan c. mendukung keanekaragaman populasi satwa dan/atau flora di wilayah biogeografisnya. perairan Kabupaten Tapanuli Tengah yaitu perairan pulau Poncan Godang. atau d. berupa lahan basah baik yang bersifat alami atau mendekati alami yang mewakili langka atau unit yang sesuai dengan biogeografisnya. di Pantai Timur perairan sekitar pulau Berhala Kabupaten Serdang Bedagai kawasan koridor bagi jenis satwa atau biota laut yang dilindungi Kriteria kawasan lindung lainnya Pasal 52 (1) Cagar biosfer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (6) huruf a ditetapkan dengan kriteria: a. b. kawasan yang sudah mengalami degradasi. Pulau Unggas. langka. b. terdapat satwa buru yang dikembangbiakkan yang memungkinkan perburuan secara teratur dan berkesinambungan dengan mengutamakan segi aspek rekreasi. c. atau d. merupakan tempat kehidupan satwa yang sejak semula menghuni areal tersebut. Pasal 53 (2) (3) (4) (5) (6) (7) 29 . b. mendukung alur migrasi biota laut. Pulau Sumbawa dan Pulau Kasik.(6) (7) kawasan terumbu karang terletak di pesisir pantai Kabupaten Tapanuli Selatan. dan indah. dan kelestarian satwa. dan c. langka. memiliki luas yang cukup dan tidak membahayakan untuk kegiatan berburu. b. olahraga. terdapat di sepanjang pantai dengan kedalaman paling dalam 40 (empat puluh) meter. hampir langka. dan b. di kepulauan Nias sekitar perairan Pulau Nias. biota endemik. Pulau Pasakek. atau proses-proses penunjang kehidupan. Pulau Tunggul Nasi. Kawasan perlindungan plasma nutfah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (6) huruf d ditetapkan dengan kriteria: a. b. mengalami modifikasi. Kawasan koridor bagi jenis satwa atau biota laut yang dilindungi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (6) huruf g ditetapkan dengan kriteria: a. merupakan tempat kehidupan baru bagi satwa. atau ekologi komunitas yang terancam. berupa tempat bagi pemantauan perubahan ekologi melalui penelitian dan pendidikan. Ramsar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (6) huruf b ditetapkan dengan kriteria: a. Pulau Bakal. Pulau Bansalar dan Pulau Talam. berupa kawasan memiliki ekosistem unik. Kawasan pengungsian satwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (6) huruf e ditetapkan dengan kriteria: a. dipisahkan oleh laguna dengan kedalaman antara 40 (empat puluh) sampai dengan 75 (tujuh puluh lima) meter. memiliki komunitas alam yang unik. atau kawasan binaan. c. Terumbu karang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (6) huruf f ditetapkan dengan kriteria: a. memiliki luas tertentu yang memungkinkan berlangsungnya proses hidup dan kehidupan serta berkembangbiaknya satwa. merupakan tempat perlindungan bagi satwa dan/atau flora saat melewati masa kritis dalam hidupnya. Taman buru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (6) huruf c ditetapkan dengan kriteria: a. Poncan Kecil. Pulau Masin. dan b. merupakan bentang alam yang cukup luas yang mencerminkan interaksi antara komunitas alam dengan manusia beserta kegiatannya secara harmonis. memiliki jenis plasma nutfah tertentu yang memungkinkan kelangsungan proses pertumbuhannya.

dan Pulau Tanahbala bagian Tengah. dan Pulau Nias dan sekitarnya. jenis tanah. Asahan bagian Selatan. Labuhan Batu bagian Utara dan Timur. kawasan sekitar Danau Toba (Toba Samosir). (3) kawasan peruntukan hutan produksi yang dapat dikonversi. Simalungun bagian Selatan. Pakpak Bharat . memiliki faktor kemiringan lereng. Labuhan Batu bagian Barat. Karo. Sebaran kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) dan ayat (6). Asahan. Kriteria Kawasan peruntukan hutan produksi Pasal 55 (1) kawasan peruntukan hutan produksi terbatas ditetapkan dengan kriteria memiliki faktor kemiringan lereng. dan kawasan peruntukan hutan produksi yang dapat dikonversi ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di bidang kehutanan. Dairi dan Tapanuli Selatan. serta Pasal 53 ayat (1) dengan luas paling sedikit 1. Deli Serdang. Tapanuli Selatan. Pulau Tanahmasa dan Tanahbala. Tapanuli Tengah bagian Utara. Dairi. dan intensitas hujan dengan jumlah skor paling besar 124 (seratus dua puluh empat).000 (seribu) hektar tercantum dalam Lampiran VIII yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. kawasan peruntukan hutan produksi yang dapat dikonversi ditetapkan dengan kriteria: a. Tapanuli Utara bagian Selatan. kawasan peruntukan hutan produksi tetap. jenis tanah.(1) (2) Sebaran kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) dan ayat (6). dan intensitas hujan dengan jumlah skor 125 (seratus dua puluh lima) sampai dengan 174 (seratus tujuh puluh empat). Pulau Nias bagian Utara dan Timur. Labuhan Batu. Tapanuli Selatan bagian Timur. Toba Samosir. (2) kawasan peruntukan hutan produksi tetap. Deli Serdang bagian Selatan.000 (seribu) hektar dan sebaran kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1). Mandailing Natal (di sekitar kawasan lindung). Pulau Tanahmasa bagian Selatan. berlokasi di Kabupaten Langkat sebelah Barat. kawasan peruntukan hutan produksi tetap ditetapkan dengan kriteria memiliki faktor kemiringan lereng. Mandailing Natal bagian Selatan dan Utara. (2) (3) (4) Paragraf Kedua Kawasan peruntukan hutan tanaman rakyat 30 . berlokasi di Kabupaten Asahan. ayat (2). kriteria teknis kawasan peruntukan hutan produksi terbatas. hutan Siosar (Karo) serta di Pulau Nias. Bagian Ketiga Rencana Pengembangan Kawasan Budi Daya Paragraf Pertama Kawasan peruntukan hutan produksi Pasal 54 Kawasan peruntukan hutan produksi di Provinsi Sumatera utara terdiri atas: (1) kawasan peruntukan hutan produksi terbatas. berlokasi di Kabupaten Langkat. dan ayat (4). Simalungun bagian Utara dan Barat. dan intensitas hujan dengan jumlah skor paling besar 124 (seratus dua puluh empat). dan/atau b. merupakan kawasan yang apabila dikonversi mampu mempertahankan daya dukung dan daya tampung lingkungan. serta Pasal 53 ayat (2) dan ayat (3) ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. serta Pasal 53 ayat (1) dengan luas kurang dari 1. jenis tanah.

kawasan perikanan. kecuali kota Pematangsiantar. Toba Samosir. Deli Serdang. kriteria teknis kawasan peruntukan hutan rakyat ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di bidang kehutanan. lahan kering. Tapanuli Selatan. kawasan budidaya pertanian tanaman pangan terdiri dari tanaman pangan lahan basah dan pertanian tanaman pangan lahan kering dengan jenis tanaman padi sawah dan padi ladang. kawasan budidaya peternakan diarahkan sesuai dengan lokasi kegiatan pertanian. pengembangan perkebunan diarahkan ke beberapa lokasi yang sesuai. khususnya industri pengolahan minyak kelapa sawit dan berbagai kegiatan hilir lainnya. Tapanuli Selatan. Tapanuli Utara. lokasi lahan kering yang merupakan lahan pertanian tanaman pangan yang ada tetap dipertahankan dan dilakukan pengembangan pada lahan yang sesuai. Tapanuli Tengah. Toba Samosir. dan Tapanuli Selatan. Dairi. dan Nias. Labuhan Batu. dan Mandailing Natal. Paragraf Ketiga Kawasan peruntukan pertanian Pasal 58 (1) (2) kawasan budidaya pertanian terdiri atas kawasan pertanian tanaman pangan. b. Tapanuli Utara. dan Nias. Jenis ternak kecil dikembangkan di seluruh kabupaten/kota. Dairi. Deli Serdang. lokasi pertanian lahan basah yang tersebar di seluruh kabupaten tetap dipertahankan dan untuk beberapa lokasi dilakukan pengembangan pada lahan yang sesuai dan belum dimanfaatkan untuk kegiatan lain. maupun kebun campuran. Toba Samosir. Tapanuli Tengah. kawasan pertanian tanaman perkebunan. Langkat. baik lahan basah. Pasal 60 (1) rencana pengembangan kawasan peternakan adalah: a. Labuhan Batu. dan hortikultura. dan kawasan kehutanan. Karo. Medan. c. Asahan. sedangkan untuk perkebunan besar di Kabupaten Langkat. Labuhan Batu. diantaranya : di Kabupaten Langkat. antara lain di kabupaten Tapanuli Selatan. kawasan peternakan. palawija. Tapanuli Selatan. Tapanuli Utara. b. pengembangan jenis ternak besar potensial di Kabupaten Nias. Simalungun. Tapanuli Utara. kawasan budidaya tanaman perkebunan/kegiatan perkebunan merupakan sektor hulu dari kegiatan industri pengolahan hasil perkebunan. b. Karo. Tapanuli Utara. Karo. dan kabupaten Mandailing Natal Kriteria Kawasan peruntukan pertanian Pasal 61 31 . Mandailing Natal. dan Langkat. Toba Samosir. Labuhan Batu. Simalungun. Asahan. yaitu di Langkat. Pasal 59 (1) rencana pengembangan kawasan perkebunan adalah: a.Pasal 56 Kriteria Kawasan peruntukan hutan tanaman rakyat Pasal 57 (1) (2) kawasan peruntukan hutan rakyat ditetapkan dengan kriteria kawasan yang dapat diusahakan sebagai hutan oleh orang pada tanah yang dibebani hak milik. rencana pengembangan kawasan budidaya pertanian tanaman pangan adalah : a. Labuhan Batu. Dairi.

atau gas berdasarkan peta/data geologi. memiliki kesesuaian lahan untuk perkebunan b. b. c. kriteria teknis kawasan peruntukan pertanian ditetapkan oleh instansi yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pertanian. Sibolga. perikanan laut dikembangkan di seluruh daerah kabupaten/kota yang memiliki potensi perikanan laut terutama di kabupaten Asahan. Dairi dan Tapanuli Selatan. kawasan peruntukan perkebunan ditetapkan dengan kriteria: a. wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan penangkapan. merupakan wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk pemusatan kegiatan pertambangan secara berkelanjutan. kawasan peruntukan perikanan ditetapkan dengan kriteria: a. Labuhan Batu dan Kota Medan. tidak mengganggu lingkungan sosial kemasyarakatan serta lingkungan disekitarnya kriteria teknis kawasan peruntukan peternakan ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di bidang peternakan Paragraf Keempat Kawasan peruntukan perikanan Pasal 62 (1) (2) (3) rencana pengembangan kawasan budidaya perikanan adalah: a. sedangkan pengembangan pemanfaatan ruang bagi perikanan danau di kabupaten yang memiliki kawasan danau terutama di Toba Samosir. kriteria teknis kawasan peruntukan pertambangan ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di bidang pertambangan. cair. mendukung ketahanan pangan nasional. dan industri pengolahan hasil perikanan. dan/atau b. tidak mengganggu kelestarian lingkungan hidup. dapat dikembangkan sesuai dengan tingkat ketersediaan air. Deli Serdang. terdapat pada wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan peternakan b. Tapanuli Tengah. Paragraf Kelima Kawasan peruntukan pertambangan Pasal 63 (1) (2) (3) kawasan peruntukan pertambangan yang memiliki nilai strategis nasional terdiri atas pertambangan mineral dan batubara. merupakan bagian proses upaya merubah kekuatan ekonomi potensial menjadi kekuatan ekonomi riil. serta air tanah. Mandailing Natal. memiliki lahan yang cukup untuk pengembangan kegiatan perkebunan c. memiliki sumber daya bahan tambang yang berwujud padat. Simalungun. kawasan peruntukan pertambangan ditetapkan dengan kriteria: a. Tanjung Balai.(1) (2) (3) (4) (5) (6) kawasan peruntukan pertanian lahan basah ditetapkan dengan kriteria: a. memiliki kesesuaian lahan untuk dikembangkan sebagai kawasan pertanian. 32 . b. kriteria teknis kawasan peruntukan perikanan ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di bidang perikanan. dan/atau c. pertambangan panas bumi. Tapanuli Utara. pertambangan minyak dan gas bumi. didukung oleh prasarana dan sarana yang memadai untuk pengembangannya kriteria teknis kawasan peruntukan perkebunan ditetapkan oleh instansi bertanggung jawab di bidang perkebunan . ditetapkan sebagai lahan pertanian pangan abadi. Karo. dan/atau d. budi daya. pemanfaatan lahan perikanan budidaya tersebar di seluruh kabupaten/kota. Langkat. Nias. b. kawasan peruntukan peternakan ditetapkan dengan kriteria: a.

kriteria teknis kawasan peruntukan industri ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di bidang industri. baik berupa industri pengolahan hasil pertanian maupun jenis industri rumah tangga lainnya. memiliki objek dengan daya tarik wisata. dan/atau c. di Asahan termasuk Tanjungbalai. berada di luar kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana. kawasan peruntukan permukiman ditetapkan dengan kriteria: a. Brastagi dan Tanah Karo untuk wisata alam dan budaya. dan utilitas pendukung. (1) wilayah pengembangan industri khususnya Pengembangan industri kecil diarahkan di seluruh kabupaten/kota. serta Pematangsiantar. mendukung upaya pelestarian budaya. (2) (3) (2) (3) (3) BAB IV PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS PROVINSI SUMATERA UTARA Bagian Ke satu Umum Pasal 67 33 . Padangsidimpuan untuk industri pengolahan hasil perikanan. memiliki akses menuju pusat kegiatan masyarakat di luar kawasan. budaya. kota Porsea dan Balige sebagai pusat industri dan untuk kota Sibolga serta kota lainnya di Pantai Barat. memiliki kelengkapan prasarana. Sedangkan untuk industri besar dan menengah diarahkan di Kawasan Perkotaan Mebidang sebagai pusat kegiatan industri terbesar di Sumatera Utara. kriteria teknis kawasan peruntukan permukiman ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawabnya di bidang perumahan dan permukiman. tidak mengubah lahan produktif. Bagi Kabupaten Toba Samosir. dan budaya. berupa wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan industri. b. tidak mengganggu kelestarian fungsi lingkungan hidup.Paragraf Kelima Kawasan peruntukan Industri Pasal 64 . Paragraf Keenam Kawasan peruntukan permukiman Pasal 66 (1) (2) kawasan permukiman diarahkan pada kawasan perkotaan Mebidangro serta kawasan perkotaan pada ibu kota kabupaten/kota. dan/atau c. sarana. dan minat khusus. Pengembangan kawasan wisata utama diarahkan di Danau Toba dan sekitarnya untuk wisata alam dan budaya. dan lingkungan. kriteria teknis kawasan peruntukan pariwisata ditetapkan instansi yang bertanggung jawab di bidang pariwisata. Kawasan Pantai Timur sekitar kabupaten Deli Serdang dan kawasan Pantai Barat Kabupaten Tapanuli Tengah dan Sibolga dan Mandailing Natal untuk wisata bahari dan minat khusus. b. dan/atau b. kawasan peruntukan industri ditetapkan dengan kriteria: a. kawasan peruntukan pariwisata ditetapkan dengan kriteria: a. keindahan alam. sedangkan industri besar dan menengah lainnya diarahkan di Labuhan Batu termasuk Rantau Prapat. serta Bahorok untuk wisata alam. Nias dan sekitarnya untuk wisata alam. Paragraf Keenam Kawasan peruntukan pariwisata Pasal 65 (1) kawasan pariwisata diarahkan untuk dikembangkan di kawasan yang memiliki obyek wisata yang potensial. minat khusus.

Memiliki sumber daya alam strategis nasional. atau h. g. atau c. Berfungsi sebagai lokasi penggunaan teknologi tinggi strategis. daerah latihan militer. Memiliki potensi ekonomi cepat tumbuh. Merupakan prioritas peningkatan kualitas sosial dan budaya serta jati diri bangsa. Memiliki potensi ekspor. Memiliki kegiatan ekonomi yang memanfaatkan teknologi tinggi. daerah pembuangan amunisi dan peralatan pertahanan lainnya. Memberikan perlindungan terhadap keanekaragaman budaya. Berfungsi sebagai pusat pengendalian tenaga atom dan nuklir. b. Berfungsi untuk mempertahankan tingkat produksi sumber energi dalam rangka mewujudkan ketahanan energi nasional. dan/atau kawasan industri sistem pertahanan. atau e. Diperuntukkan bagi basis militer. Merupakan tempat perlindungan peninggalan budaya nasional. dan/atau (5) fungsi dan daya dukung lingkungan hidup Pasal 68 Kawasan strategis provinsi dari sudut kepentingan pertahanan dan keamanan ditetapkan dengan kriteria: a. gudang amunisi. 34 . Memiliki potensi kerawanan terhadap konflik sosial skala nasional. b. Merupakan wilayah kedaulatan negara termasuk pulau-pulau kecil terluar yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga dan/atau laut lepas. (3) sosial dan budaya. Diperuntukkan bagi kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan lokasi sumber daya alam strategis nasional. b. f. Memiliki sektor unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi nasional. c. Pasal 71 Kawasan strategis provinsi dari sudut kepentingan pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi ditetapkan dengan kriteria: a. Didukung jaringan prasarana dan fasilitas penunjang kegiatan ekonomi. Pasal 70 Kawasan strategis provinsi dari sudut kepentingan sosial dan budaya ditetapkan dengan kriteria: a. serta tenaga atom dan nuklir. (4) pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi.Penetapan kawasan strategis di Provinsi Sumatera Utara dilakukan berdasarkan kepentingan: (1) pertahanan dan keamanan. b. Diperuntukkan bagi kepentingan pemeliharaan keamanan dan pertahanan negara berdasarkan geostrategi nasional. Merupakan tempat pelestarian dan pengembangan adat istiadat atau budaya nasional. d. pengembangan antariksa. atau f. daerah uji coba system persenjataan. Ditetapkan untuk mempercepat pertumbuhan kawasan tertinggal. d. Berfungsi sebagai pusat pengendalian dan pengembangan antariksa. c. Pasal 69 Kawasan strategis provinsi dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi ditetapkan dengan kriteria: a. Berfungsi untuk mempertahankan tingkat produksi pangan nasional dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional. c. Merupakan aset nasional atau internasional yang harus dilindungi dan dilestarikan. (2) pertumbuhan ekonomi. e. e. d.

Sangat menentukan dalam perubahan rona alam dan mempunyai dampak luas terhadap kelangsungan kehidupan. 4. c. Mendukung terciptanya struktur ruang Propinsi Sumatera Utara yang dituju. sesuai prinsip ekonomi kerakyatan. b. Memberikan perlindungan keseimbangan tata guna air yang setiap tahun berpeluang menimbulkan kerugian negara. Merupakan tempat perlindungan keanekaragaman hayati.Pasal 72 Kawasan strategis provinsi dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup ditetapkan dengan kriteria: a. f. Merupakan aset nasional berupa kawasan lindung yang ditetapkan bagi perlindungan ekosistem. Kawasan Mebidangro Kawasan Danau Toba dsk Kawasan Ekosistem Leuser dan Bahorok Kawasan Lindung Tapanuli dan sekitarnya (termasuk Taman Nasional Batang Gadis dan Hutan Lindung Batang Toru) e. 5. Kawasan Pulau Nias f. Mengembangkan Kawasan Danau Toba sekitarnya dan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang dilengkapi dengan penataan kawasan yang memikili fungsi utama melestarikan dan melindungi Bagian Kedua Penetapan Kawasan Strategis Provinsi Sumatera Utara Pasal 74 Penetapan Kawasan Strategis Provinsi Sumatera Utara sebagai berikut: a. Membangun pusat pertumbuhan ekonomi yang dapat mendorong perkembangan wilayah di sekitarnya. Tujuan Kawasan Strategis Provinsi Sumatera Utara Pasal 73 1. Meningkatkan fungsi kawasan lindung dan kawasan budidaya yang terpadu dan serasi. 2.Asahan h. d. 6. 3. b. Rawan bencana alam nasional. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pertumbuhan ekonomi yang mantap terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. atau g. Kawasan Tanjung Balai . flora dan/atau fauna yang hampir punah atau diperkirakan akan punah yang harus dilindungi dan/atau dilestarikan. Menciptakan kawasan unggulan yang potensial dikembangkan secara nasional untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Propinsi Sumatera Utara dan wilayah Sumatera bagian Utara. d. Kawasan Tebingtinggi – Siantar BAB VI ARAHAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH PROVINSI SUMATERA UTARA Pasal 75 (1) (2) Pemanfaatan ruang wilayah provinsi berpedoman pada rencana struktur ruang dan pola ruang. Memberikan perlindungan terhadap keseimbangan iklim makro. e. 35 . Kawasan Labuhan Angin – Sibolga g. c. Menuntut prioritas tinggi peningkatan kualitas lingkungan hidup. Pemanfaatan ruang wilayah provinsi dilaksanakan melalui penyusunan dan pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta perkiraan pendanaannya. Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi i.

yang terdiri atas: a. f. Kerja sama pendanaan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Bagian Kedua Indikasi Arahan Peraturan Zonasi Ruang Wilayah Provinsi Pasal 78 (1) indikasi arahan peraturan zonasi sistem provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 ayat (2) huruf a digunakan sebagai pedoman bagi pemerintah daerah kabupaten/kota dalam menyusun peraturan zonasi. arahan sanksi. sistem perkotaan provinsi. (1) (2) (3) BAB VII ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH Bagian Kesatu Umum Pasal 77 (1) (2) arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi. investasi swasta. kawasan budi daya. Pendanaan program pemanfaatan ruang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. arahan pemberian insentif dan disinsentif. Sistim jaringan persampahan g. 36 . c. indikasi arahan peraturan zonasi sistem provinsi. kawasan lindung provinsi dan h. c. indikasi arahan peraturan zonasi sistem provinsi meliputi indikasi arahan peraturan zonasi untuk struktur ruang dan pola ruang. d. Pasal 76 Program pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (2) disusun berdasarkan indikasi program utama lima tahunan yang ditetapkan dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. b. dan d. sistem jaringan transportasi provinsi. sistem jaringan energi nasional. sistem jaringan sumber daya air. (2) Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Struktur Ruang Pasal 79 Indikasi arahan peraturan zonasi untuk sistem perkotaan provinsi dan jaringan prasarana provinsi disusun dengan memperhatikan: a. b. arahan pengendalian pemanfaatan ruang terdiri atas: a. sistem jaringan telekomunikasi provinsi. dan/atau kerja sama pendanaan. pemanfaatan ruang di sekitar jaringan prasarana provinsi untuk mendukung berfungsinya sistem perkotaan nasional dan jaringan prasarana provinsi.(3) Perkiraan pendanaan program pemanfaatan ruang disusun sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. e. arahan perizinan.

pengembangan fungsi kawasan perkotaan sebagai pusat permukiman dengan tingkat intensitas pemanfaatan ruang menengah hingga tinggi yang kecenderungan pengembangan ruangnya ke arah vertikal. pembatasan intensitas pemanfaatan ruang agar tidak mengganggu fungsi sistem perkotaan provinsi dan jaringan prasarana provinsi. Peraturan zonasi untuk PKW disusun dengan memperhatikan: a. Pasal 82 Peraturan zonasi untuk jaringan jalur kereta api disusun dengan memperhatikan: a. pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi perkotaan berskala provinsi yang didukung dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya. pemanfaatan ruang di sepanjang sisi jalan nasional dengan tingkat intensitas menengah hingga tinggi yang kecenderungan pengembangan ruangnya dibatasi. pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi perkotaan berskala internasional dan nasional yang didukung dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya. ketentuan pelarangan alih fungsi lahan yang berfungsi lindung di sepanjang sisi jalan provinsi. penetapan garis sempadan bangunan di sisi jalan nasional yang memenuhi ketentuan ruang pengawasan jalan. dan c. ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang yang menyebabkan gangguan terhadap berfungsinya sistem perkotaan provinsi dan jaringan prasarana provinsi. c. Pasal 83 (2) (3) 37 . pembatasan jumlah perlintasan sebidang antara jaringan jalur kereta api dan jalan. Peraturan zonasi untuk PKL disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi berskala kabupaten/kota yang didukung dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya Paragraf Ketiga Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Sistem Jaringan Transportasi Provinsi Pasal 81 Peraturan zonasi untuk jaringan jalan provinsi disusun dengan memperhatikan: a. pengembangan fungsi kawasan perkotaan sebagai pusat permukiman dengan tingkat intensitas pemanfaatan ruang menengah yang kecenderungan pengembangan ruangnya ke arah horizontal dikendalikan. b. b. pemanfaatan ruang di sepanjang sisi jaringan jalur kereta api dilakukan dengan tingkat intensitas menengah hingga tinggi yang kecenderungan pengembangan ruangnya dibatasi. ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang pengawasan jalur kereta api yang dapat mengganggu kepentingan operasi dan keselamatan transportasi perkeretaapian. penetapan garis sempadan bangunan di sisi jaringan jalur kereta api dengan memperhatikan dampak lingkungan dan kebutuhan pengembangan jaringan jalur kereta api. d. Paragraf Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Sistem Perkotaan Provinsi Pasal 80 (1) Peraturan zonasi untuk PKN disusun dengan memperhatikan: a. dan e. dan c. dan b. pembatasan pemanfaatan ruang yang peka terhadap dampak lingkungan akibat lalu lintas kereta api di sepanjang jalur kereta api.b. dan b.

peraturan zonasi untuk alur pelayaran disusun dengan memperhatikan: a. pemanfaatan ruang di dalam dan di sekitar pelabuhan sungai. dan penyeberangan. dan penyeberangan disusun dengan memperhatikan: a. c. dan penyeberangan disusun dengan memperhatikan: a. dan c. pemanfaatan ruang di sekitar bandar udara sesuai dengan kebutuhan pengembangan bandar udara berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. ketentuan pelarangan kegiatan di ruang udara bebas di atas perairan yang berdampak pada keberadaan alur pelayaran sungai. dan penyeberangan harus memperhatikan kebutuhan ruang untuk operasional dan pengembangan kawasan pelabuhan. dan c. pemanfaatan ruang untuk kebutuhan operasional bandar udara. pembatasan pemanfaatan ruang di dalam Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan harus mendapatkan izin sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 86 (1) peraturan zonasi untuk bandar udara umum disusun dengan memperhatikan: a. ketentuan-ketentuan pelarangan kegiatan di bawah perairan yang berdampak pada keberadaan alur pelayaran sungai. pembatasan pemanfaatan perairan yang berdampak pada keberadaan alur pelayaran sungai. pemanfaatan ruang di dalam Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan harus mendapatkan izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. danau. pemanfaatan ruang untuk kebutuhan operasional dan pengembangan kawasan pelabuhan. dan penyeberangan. danau. danau. pembatasan pemanfaatan perairan yang berdampak pada keberadaan alur pelayaran sungai. batas-batas kawasan keselamatan operasi penerbangan dan batas-batas kawasan kebisingan. danau. b. pemanfaatan ruang di dalam dan di sekitar pelabuhan sungai. danau. Pasal 85 (1) (2) (3) peraturan zonasi untuk jaringan transportasi sungai. dan penyeberangan. ketentuan pelarangan kegiatan di bawah perairan yang berdampak pada keberadaan alur pelayaran sungai. danau. danau. dan d. dan penyeberangan harus memperhatikan kebutuhan ruang untuk operasional dan pengembangan kawasan pelabuhan. keselamatan dan keamanan pelayaran. keselamatan dan keamanan pelayaran. dan b. danau.(1) (2) (3) peraturan zonasi untuk jaringan transportasi sungai. dan penyeberangan. pemanfaatan ruang pada badan air di sepanjang alur pelayaran dibatasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. ketentuan pelarangan kegiatan di ruang udara bebas di atas perairan yang berdampak pada keberadaan alur pelayaran sungai. b. b. dan penyeberangan. danau. ketentuan pelarangan kegiatan di ruang udara bebas di atas badan air yang berdampak pada keberadaan jalur transportasi laut. dan d. c. danau. 38 . pemanfaatan ruang pada kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil di sekitar badan air di sepanjang alur pelayaran dilakukan dengan tidak mengganggu aktivitas pelayaran. pemanfaatan ruang di dalam Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan harus mendapatkan izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. dan penyeberangan. Pasal 84 (1) (2) peraturan zonasi untuk pelabuhan umum disusun dengan memperhatikan: a. b.

indikasi arahan untuk pemanfaatan ruang pada kawasan disekitar jaringan Sumber Daya Air disusun dengan memperhatikan: a. (2) peraturan zonasi untuk pembangkit tenaga listrik disusun dengan memperhatikan jarak aman dari kegiatan lain.(2) peraturan zonasi untuk ruang udara untuk penerbangan disusun dengan memperhatikan pembatasan pemanfaatan ruang udara yang digunakan untuk penerbangan agar tidak mengganggu sistem operasional penerbangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-perundangan. pemanfaatan ruang disepanjang jaringan telekomunikasi harus memperhatikan aspek keamanan terhadap fungsi jaringan mikro digital dan kabel serat optik. (2) 39 . Pasal 88 Peraturan zonasi untuk jaringan energi disusun dengan memperhatikan: a. pelarangan pemanfaatan ruang bebas disepanjang jalur telekomunikasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dan b. (1) (2) Paragraf Keenam Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Sistem Jaringan Prasarana Sumber Daya Air Pasal 90 (1) pemanfaatan ruang pada kawasan di sekitar jaringan sumber daya air disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang untuk menjaga kelestarian lingkungan dan fungsi lindung kawasan. Paragraf Keempat Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Sistem Jaringan Energi Pasal 87 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi Untuk Sistem Jaringan Energi disusun dengan memperhatikan: (1) peraturan zonasi untuk jaringan pipa minyak dan gas bumi disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang di sekitar jaringan pipa minyak dan gas bumi harus memperhitungkan aspek keamanan dan keselamatan kawasan di sekitarnya. pemanfaatan ruang disepanjang jaringan terinterkoneksi dibatasi hanya untuk fungsi budidaya non hunian. b. peraturan zonasi untuk jaringan telekomunikasi disusun dengan memperhatikan: a. pemanfaatan ruang disekitar jaringan wilayah sungai lintas provinsi secara selaras dengan pemanfaatan ruang pada jaringan wilayah sungai di provinsi yang berbatasan. pemanfaatan ruang di sekitar jaringan terisolasi harus memperhatikan keamanan jaringan terisolasi. Paragraf Kelima Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Sistem Jaringan Telekomunikasi Pasal 89 peraturan zonasi untuk sistem jaringan telekomunikasi disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang untuk menara pemancar telekomunikasi yang memperhitungkan aspek keamanan dan keselamatan aktivitas kawasan disekitarnya. b. c. dan d. (3) peraturan zonasi untuk jaringan transmisi tenaga listrik disusun dengan memperhatikan ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang bebas di sepanjang jalur transmisi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. pembatasan pemanfaatan ruang disekitar kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana alam. pelarangan pemanfaatan ruang bebas disepanjang jalur transmisi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. pemanfaatan ruang yang memanfaatkan energi baik energi non terbarukan maupun energi baru terbarukan harus memperhatikan jarak aman dari kegiatan lain.

peraturan zonasi untuk kawasan resapan air disusun dengan memperhatikan: (2) (3) (2) (3) 40 . pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa merubah bentang alam. Paragraf pertama Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Kawasan Lindung Provinsi Pasal 93 (1) peraturan zonasi untuk kawasan hutan lindung disusun dengan memperhatikan: a. pelarangan seluruh kegiatan yang berpotensi merubah tata air dan ekosistem unik. b. dan c. penerapan prinsip zero delta terhadap setiap kegiatan budi daya terbangun yang diajukan izinnya. peraturan zonasi untuk kawasan bergambut disusun dengan memperhatikan: a.c. dan c. peraturan zonasi untuk kawasan bergambut disusun dengan memperhatikan: a. c. Paragraf Ketujuh Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Persampahan Pasal 91 Bagian Ketiga Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Pola Ruang Pasal 92 Peraturan zonasi untuk kawasan lindung dan kawasan budi daya disusun dengan memperhatikan: a. pemanfaatan ruang secara terbatas untuk kegiatan budi daya tidak terbangun yang memiliki kemampuan tinggi dalam menahan limpasan air hujan. pembatasan pemanfaatan ruang yang menurunkan kualitas fungsi lingkungan. pembatasan pemanfaatan ruang yang menurunkan kualitas fungsi lingkungan. pengendalian material sedimen yang masuk ke kawasan bergambut melalui badan air. pembatasan pemanfaatan ruang di sekitar kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana alam. pelarangan merubah bentang alam. b. b. pelarangan merubah bentang alam. pemanfaatan ruang untuk kegiatan pendidikan dan penelitian tanpa mengubah bentang alam. pelarangan seluruh kegiatan yang berpotensi merubah tata air dan ekosistem unik. dan d. peraturan zonasi untuk kawasan resapan air disusun dengan memperhatikan: a. penyediaan sumur resapan air dan waduk pada lahan terbangun yang sudah ada. pengendalian material sedimen yang masuk ke kawasan bergambut melalui badan air. c. dan c. b. pembatasan kegiatan pertambangan tertutup. pelarangan seluruh kegiatan yang berpotensi mengurangi luasan kawasan hutan termasuk kegiatan penambangan liar. Pasal 94 (1) peraturan zonasi untuk kawasan hutan lindung disusun dengan memperhatikan: a. c. ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang yang membahayakan keselamatan umum. b. pembatasan kegiatan pertambangan tertutup. b. pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa merubah bentang alam. pelarangan seluruh kegiatan yang berpotensi mengurangi luasan kawasan hutan termasuk kegiatan penambangan liar.

pemanfaatan ruang untuk kegiatan rekreasi. pelarangan kegiatan yang dapat mengurangi daya dukung dan daya tampung lingkungan. b. dan c. pendirian bangunan yang dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan rekreasi pantai. penerapan prinsip zero delta terhadap setiap kegiatan budi daya terbangun yang diajukan izinnya. d. nilai ekologis. b. pelarangan kegiatan yang dapat merubah mengurangi luas dan/atau mencemari ekosistem bakau. dan wisata alam. peraturan zonasi untuk kawasan pantai berhutan bakau disusun dengan memperhatikan: a. Pasal 95 (1) peraturan zonasi untuk sempadan pantai disusun dengan memperhatikan: a. pemanfaatan ruang secara terbatas untuk kegiatan budi daya tidak terbangun yang memiliki kemampuan tinggi dalam menahan limpasan air hujan. pemanfaatan ruang untuk penelitian. pelarangan kegiatan budi daya di zona inti. dan e. pelarangan semua jenis kegiatan yang dapat menurunkan luas. pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa merubah bentang alam. b. penyediaan sumur resapan air dan waduk pada lahan terbangun yang sudah ada. penelitian. (2) (3) (4) (2) (3) (4) 41 . pelarangan pemanfaatan biota yang dilindungi peraturan perundang. dan estetika kawasan. peraturan zonasi untuk sempadan sungai dan sekitar kawasan danau/waduk disusun dengan memperhatikan: a. pelarangan kegiatan budi daya yang berpotensi mengurangi tutupan vegetasi atau terumbu karang di zona penyangga. dan a. pelarangan pemanfaatan kayu bakau. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau. b. dan c. peraturan zonasi untuk kawasan terbuka hijau kota disusun dengan memperhatikan: a. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang fungsi taman rekreasi. peraturan zonasi untuk taman hutan raya disusun dengan memperhatikan: a. pemanfaatan ruang untuk kegiatan pendidikan. pelarangan kegiatan yang dapat merubah bentang alam dan ekositem. pembatasan kegiatan pemanfaatan sumber daya alam. b. pelarangan pendirian bangunan kecuali bangunan yang dimaksudkan untuk pengelolaan badan air dan/atau pemanfaatan air. pelarangan pendirian bangunan selain dimaksud pada huruf c. Pasal 96 (1) peraturan zonasi untuk kawasan suaka alam laut serta suaka alam laut dan perairan lainnya disusun dengan memperhatikan: a. penetapan lebar sempadan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau. e. pelarangan kegiatan yang dapat menimbulkan pencemaran terhadap mata air. dan di bawah pengawasan ketat. pelarangan pendirian bangunan permanen selain yang dimaksud pada huruf b. pemanfaatan ruang kawasan untuk kegiatan budi daya hanya diizinkan bagi penduduk asli di zona penyangga dalam luasan tetap. pemanfaatan ruang untuk kegiatan wisata alam. tidak mengurangi fungsi lindung kawasan. d. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk bangunan penunjang kegiatan rekreasi dan fasilitas umum lainnya. pengembangan struktur alami dan struktur buatan untuk mencegah abrasi. b. dan b. peraturan zonasi untuk taman provinsi dan taman provinsi laut disusun dengan memperhatikan: a. dan wisata alam. b. c. c. peraturan zonasi untuk kawasan sekitar mata air disusun dengan memperhatikan: a. pendidikan. pelarangan kegiatan selain yang dimaksud pada huruf a. c. dan c.a. dan d.undangan. b. b.

dan c. b. Peraturan zonasi untuk taman buru disusun dengan memperhatikan: a. pembatasan pendirian bangunan kecuali untuk kepentingan pemantauan ancaman bencana dan kepentingan umum. pemanfaatan ruant untuk penelitian. peraturan zonasi untuk cagar alam dan suaka margasatwa disusun dengan memperhatikan: a. dan d. dan pariwisata. b. pemanfaatan ruang dengan mempertimbangkan karakteristik. dan ekosistem unik kawasan. pemanfaatan untuk penelitian. penentuan lokasi dan jalur evakuasi dari permukiman penduduk. dan d. pemanfaatan untuk wisata alam tanpa mengubah bentang alam. pelarangan kegiatan selain yang dimaksud pada huruf a. fauna. b.(5) (6) (7) c. pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa merubah bentang alam. pemanfaatan dataran banjir bagi ruang terbuka hijau dan pembangunan fasilitas umum dengan kepadatan rendah. pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c. pembatasan pemanfaatan sumber daya alam. Peraturan zonasi untuk kawasan pengungsian satwa disusun dengan memperhatikan: (2) (3) (4) (5) 42 . dan b. dan c. c. b. penangkaran dan pengembangbiakan satwa untuk perburuan. pendidikan. dan d. Peraturan zonasi untuk kawasan perlindungan plasma nutfah disusun dengan memperhatikan: a. c. Pasal 98 (1) Peraturan zonasi untuk cagar biosfer disusun dengan memperhatikan: a. b. Peraturan zonasi untuk ramsar disusun dengan memperhatikan peraturan zonasi untuk kawasan lindung. pendidikan. b. dan c. selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c. pelestarian flora. pemanfaatan untuk kegiatan perburuan secara terkendali. pengendalian kegiatan budi daya yang dapat merubah bentang alam dan ekosistem. dan wisata alam. pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c. pembatasan pemanfaatan sumber daya alam. ketentuan pelarangan perburuan satwa yang tidak ditetapkan sebagai buruan. jenis dan ancaman bencana. b. peraturan zonasi untuk kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan disusun dengan memperhatikan: a. penerapan standar keselamatan bagi pemburu dan masyarakat di sekitarnya. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan sebagaimana dimaksud pada huruf a. pelarangan terhadap penanaman flora dan pelepasan satwa yang bukan merupakan flora dan satwa endemik kawasan. d. untuk kawasan rawan bencana banjir. Pasal 87 (1) (2) peraturan zonasi untuk kawasan rawan bencana alam disusun dengan memperhatikan: a. pelarangan kegiatan selain yang dimaksud pada huruf a. pelarangan kegiatan dan pendirian bangunan yang tidak sesuai dengan fungsi kawasan. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan sebgaimana dimaksud pada huruf a. Dan e. peraturan zonasi untuk taman wisata alam disusun dengan memperhatikan: a. pemanfaatan untuk pariwisata tanpa mengubah bentang alam. dan c. penetapan batas dataran banjir. pelarangan pemanfaatan ruang bagi kegiatan permukiman dan fasilitas umum dengan kepadatan rendah dan fasiitas umum penting lainnya. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan sebagaimana dimaksud pada huruf a. peraturan zonasi disusun dengan memperhatikan: a. c.

pembatasan pemanfaatan sumber daya alam. dan c. selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 100 (1) peraturan zonasi untuk kawasan rawan bencana alam disusun dengan memperhatikan: a. ketentuan pelarangan penangkapan biota laut yang dilindungi peraturan perundang-undangan. untuk kawasan rawan bencana banjir. jenis dan ancaman bencana. pembatasan kegiatan pemanfaatan sumber daya kelautan untuk mempertahankan makanan bagi biota yang bermigrasi. (3) pola permukiman dapat mengelompok maupun menyebar. b. dan c. ketentuan pelarangan kegiatan penangkapan ikan dan pengambilan terumbu karang. pemanfaatan untuk pariwisata tanpa mengubah bentang alam. c. pelestarian flora dan fauna endemik kawasan. b. pelarangan pemanfaatan ruang bagi kegiatan permukiman dan fasilitas umum dengan kepadatan rendah dan fasiitas umum penting lainnya. yaitu Tipe A. Peraturan zonasi untuk terumbu karang disusun dengan memperhatikan: a. budaya.(6) (7) a. yaitu konstruksi bangunan tanah gempa dan skala industri besar. pembatasan pendirian bangunan kecuali untuk kepentingan pemantauan ancaman bencana dan kepentingan umum. penentuan lokasi dan jalur evakuasi dari permukiman penduduk. pelarangan kegiatan pemanfaatan batuan. dan c. Pasal 101 (1) (2) peraturan zonasi untuk kawasan rawan letusan Gunung Berapi diklasifikasikan berdasarkan 3 (tiga) tipologi. maupun kecil. dan c. Tipe B dan Tipe C. Pasal 99 (1) peraturan zonasi untuk kawasan keunikan batuan dan fosil disusun dengan memperhatikan: a. diizinkan untuk kegiatan industri dengan persyaratan. KLB > 200) hingga rendah (KDB < 50. sedang. b. pengawasan dan pengendalian yang ketat. b. pemanfaatan untuk pariwisata bahari. kegiatan penggalian dibatasi hanya untuk penelitian arkeologi dan geologi. acuan Peraturan Zonasi untuk kawasan Tipe A adalah: a. peraturan zonasi untuk kawasan keunikan bentang alam disusun dengan memperhatikan pemanfaatannya bagi pelindungan bentang alam yang memiliki ciri langka berupa proses geologi tertentu untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan/atau pariwisata peraturan zonasi untuk kawasan keunikan proses geologi disusun dengan memperhatikan pemanfaatannya bagi pelindungan kawasan yang memiliki ciri langka dan/atau bersifat indah untuk pengembangan ilmu pengetahuan. diizinkan untuk kegiatan perdagangan dan perkantoran dengan syarat kepadatan bangunan diperbolehkan tinggi (KDB > 70. b. pemanfaatan ruang dengan mempertimbangkan karakteristik. b. diizinkan untuk kegiatan pemukiman dengan syarat: (1) konstruksi bangunan beton bertulang maupun tidak bertulang. pemanfaatan dataran banjir bagi ruang terbuka hijau dan pembangunan fasilitas umum dengan kepadatan rendah. sedang (30-60 unit/Ha) dan rendah (<30 unit/Ha). (2) (3) (2) 43 . ketentuan pelarangan kegiatan selain yang dimaksud pada huruf b yang dapat menimbulkan pencemaran air. d. b. (2) kepadatan bangunan tinggi (>60 unit/Ha). dan c. Peraturan zonasi untuk kawasan koridor bagi jenis satwa atau biota laut yang dilindungi disusun dengan memperhatikan: a. dan/atau pariwisata. KLB < 100). pemanfaatan untuk wisata alam tanpa mengubah bentang alam. dapat dikembangkan menjadi kawasan budi daya dan berbagai infrastruktur penunjangannya. penetapan batas dataran banjir. peraturan zonasi disusun dengan memperhatikan: a.

KLB > 200) hingga rendah (KDB < 50. diizinkan untuk kegiatan pertambangan rakyat. acuan Peraturan Zonasi untuk kawasan Tipe C adalah: a. sedang dan rendah dengan pola permukiman mengelompok dan menyebar: (3) konstruksi bangunan tradisional: kepadatan bangunan tinggi. (2) kepadatan bangunan tinggi (>60 unit/Ha). untuk kawasan yang tidak konsisten dalam pemanfaatan. pertanian lahan kering. a. Diizinkan untuk kegiatan pertambangan rakyat. pengawasan dan pengendalian yang ketat. pertanian lahan kering. (3) 44 . KLB 100-200) hingga rendah (KDB < 50. diijinkan untuk kegiatan lahan usaha pertanian lahan basah. antara lain pertambangan batu dan pasir. perkebunan dengan syarat pemilihan jenis vegetasi yang sesuai serta mendukung konsep kelestarian lingkungan. (2) konstruksi bangunan semi permanen: kepadatan bangunan tinggi. antara lain pertambangan batu dan pasir. diizinkan untuk kegiatan perdagangan dan perkantoran dengan syarat kepadatan bangunan sedang (KDB 50-70. diizinkan untuk kegiatan pemukiman dengan syarat: (1) konstruksi bangunan beton bertulang: kepadatan bangunan sedang dan rendah dengan pola permukiman menyebar. d. antara lain pertambangan batu dan pasir. pengawasan dan pengendalian yang ketat. Tipe D. acuan Peraturan Zonasi untuk kawasan Tipe B adalah: a. d. g. Tipe B. c. diizinkan untuk kegiatan pertambangan rakyat. perkebunan dengan syarat pemilihan jenis vegetasi yang sesuai serta mendukung konsep kelestarian lingkungan. b. akan dikembalikan pada kondisi dan fungsi semula secara bertahap. acuan Peraturan Zonasi untuk kawasan Tipe B adalah: a. pertanian lahan kering. sedang dan rendah dengan pola permukiman mengelompok dan menyebar. yaitu konstruksi bangunan tanah gempa dan skala industri besar. Tipe C. acuan Peraturan Zonasi untuk kawasan Tipe A adalah. diizinkan untuk pariwisata dengan jenis wisata sosio-kultural dan wisata agro-kultural. yaitu konstruksi bangunan tanah gempa dan skala industri sedang. b. f. dapat dikembangkan menjadi kawasan budi daya dan berbagai infrastruktur penunjangannya. diijinkan untuk kegiatan lahan usaha pertanian lahan basah. Pasal 102 (1) (2) peraturan zonasi untuk kawasan rawan Gempa Bumi diklasifikasikan berdasarkan 6 (enam) tipologi. perkebunan dengan syarat pemilihan jenis vegetasi yang sesuai serta mendukung konsep kelestarian lingkungan. diizinkan untuk kegiatan industri dengan persyaratan. sedang dan rendah dengan pola permukiman mengelompok dan menyebar: (3) konstruksi bangunan tradisional: kepadatan bangunan tinggi. dan Tipe F. b. (2) konstruksi bangunan semi permanen: kepadatan bangunan tinggi. dapat dikembangkan menjadi kawasan budi daya dan berbagai infrastruktur penunjangannya. e. yaitu Tipe A. diijinkan untuk kegiatan lahan usaha pertanian lahan basah.(3) (4) e. diizinkan untuk kegiatan pemukiman dengan syarat: (1) konstruksi bangunan beton bertulang: kepadatan bangunan sedang dan rendah dengan pola permukiman menyebar. f. g. perikanan. diizinkan untuk kegiatan industri dengan persyaratan. sedang. sedang dan rendah dengan pola permukiman mengelompok dan menyebar. KLB < 100). diizinkan untuk pariwisata dengan jenis wisata biotis dan abiotis. sedang (30-60 unit/Ha) dan rendah (<30 unit/Ha). maupun kecil. b. f. perikanan. diizinkan untuk kegiatan perdagangan dan perkantoran dengan syarat konstruksi bangunan tahan gempa dan kepadatan bangunan diperbolehkan tinggi (KDB > 70. Tipe E. dapat dikembangkan menjadi kawasan budi daya dan berbagai infrastruktur penunjangannya. diizinkan untuk kegiatan pemukiman dengan syarat: (1) konstruksi bangunan beton bertulang maupun tidak bertulang. (3) pola permukiman dapat mengelompok maupun menyebar. antara lain kehutanan dan pariwisata dengan jenis wisata geofisik (kawasan puncak gunug berapi). c. masih dapat dimanfaatkan sebagai kawasan budi daya terbatas. h. diizinkan untuk pariwisata dengan jenis wisata sosio-kultural dan wisata agro-kultural. perikanan. e. maupun kecil. ditentukan sebagi kawasan lindung. KLB < 100). g.

diizinkan untuk kegiatan pertambangan rakyat. maupun kecil. diijinkan untuk kegiatan lahan usaha pertanian lahan basah. b. diijinkan untuk kegiatan lahan usaha pertanian lahan basah.39. KLB < 100). perikanan. diizinkan untuk kegiatan industri dengan persyaratan. KLB < 100). diizinkan untuk kegiatan industri dengan persyaratan.69. antara lain pertambangan batu dan pasir. diizinkan untuk pariwisata dengan jenis wisata sosio-kultural dan wisata agro-kultural acuan Peraturan Zonasi untuk kawasan Tipe E ditetapkan sebagai kawasan lindung. perkebunan dengan syarat pemilihan jenis vegetasi yang sesuai serta mendukung konsep kelestarian lingkungan. KLB > 200) hingga rendah (KDB < 50. pengawasan dan pengendalian yang ketat. pengawasan dan pengendalian yang ketat. kawasan dengan tingkat kerawanan sedang: merupakan kawasan dengan nilai bobot tertimbang dalam aspek fisik dan aspek aktifitas manusia/tingkat resiko berada pada kisaran 1. sedang. b. pengawasan dan pengendalian yang ketat. perikanan.00 – 1. e. d.(4) (5) (6) (7) c. c. diizinkan untuk kegiatan perdagangan dan perkantoran dengan syarat konstruksi bangunan tahan gempa dan kepadatan bangunan diperbolehkan tinggi (KDB > 70. KLB 100-200). perikanan.70 – 2. diizinkan untuk pariwisata dengan jenis wisata sosio-kultural dan wisata agro-kultural. e. yaitu Tipe A. acuan Peraturan Zonasi untuk kawasan Tipe F ditetapkan sebagai kawasan lindung. acuan Peraturan Zonasi untuk kawasan Tipe D adalah: a. kawasan dengan tingkat kerawanan rendah: merupakan kawasan dengan nilai bobot tertimbang dalam aspek fisik dan aspek aktifitas manusia/tingkat resiko berada pada kisaran 1. yaitu konstruksi bangunan tanah gempa dan skala industri kecil. diizinkan untuk kegiatan industri dengan persyaratan. pertanian lahan kering. diizinkan untuk pariwisata dengan jenis wisata sosio-kultural dan wisata agro-kultural.40 – 3. d. kawasan longsor dengan tingkat kerawanan tinggi: merupakan kawasan dengan total nilai bobot tertimbang dalam aspek fisik dan aspek aktifitas manusia/tingkat resiko berada pada kisaran 2. diizinkan untuk kegiatan perdagangan dan perkantoran dengan syarat konstruksi bangunan tahan gempa dan kepadatan bangunan sedang (KDB 50-70. f. f. g. maupun kecil. dapat dikembangkan menjadi kawasan budi daya dan berbagai infrastruktur penunjangannya. dapat dikembangkan menjadi kawasan budi daya dan berbagai infrastruktur penunjangannya. c.00. c. f. e. (3) 45 . perkebunan dengan syarat pemilihan jenis vegetasi yang sesuai serta mendukung konsep kelestarian lingkungan. pertanian lahan kering. diizinkan untuk kegiatan perdagangan dan perkantoran dengan syarat konstruksi bangunan tahan gempa dan kepadatan bangunan diperbolehkan tinggi (KDB > 70. perkebunan dengan syarat pemilihan jenis vegetasi yang sesuai serta mendukung konsep kelestarian lingkungan. acuan Peraturan Zonasi untuk kawasan Tipe C adalah: a. Tipe C. diizinkan untuk kegiatan pemukiman dengan syarat: (1) konstruksi bangunan semi permanen: kepadatan bangunan rendah dengan pola permukiman mengelompok dan menyebar: (2) konstruksi bangunan tradisional: kepadatan bangunan rendah dengan pola permukiman mengelompok dan menyebar. diizinkan untuk kegiatan pemukiman dengan syarat: (1) konstruksi bangunan semi permanen: kepadatan bangunan sedang dan rendah dengan pola permukiman mengelompok dan menyebar: (2) konstruksi bangunan tradisional: kepadatan bangunan sedang dan rendah dengan pola permukiman mengelompok dan menyebar. pertanian lahan kering. acuan Peraturan Zonasi untuk kawasan Tipe A adalah. b. Pasal 103 (1) (2) peraturan zonasi untuk kawasan rawan Longsor diklasifikasikan berdasarkan 3 (tiga) tipologi. Tipe B. yaitu konstruksi bangunan tanah gempa dan skala industri besar. klasifikasi zona berpotensi longsor berdasarkan tingkat kerawanan : a. diijinkan untuk kegiatan lahan usaha pertanian lahan basah. KLB > 200) hingga rendah (KDB < 50. yaitu konstruksi bangunan tanah gempa dan skala industri sedang. d.

. perkebunan.diizinkan untuk kegiatan pariwisata terbatas dan hutan kota/ruang terbuka hijau kota. perikanan. pertanian pangan. c. .diizinkan untuk kawasan budidaya terbatas.diizinkan untuk kegiatan pertanian dan perkebunan dengan syarat: (1) rekayasa teknis. .diperlukan pengawasan dan pengendalian. . hutan. .diizinkan untuk kegiatan hutan kota dan hutan produksi. dan amdal. (2) pemilihan jenis vegetasi yang mendukung fungsi resapan dan kelestarian lingkungan. acuan peraturan zonasi kawasan Tipe A Tingkat Kerawanan Sedang : . (2) pemilihan jenis vegetasi yang mendukung fungsi daerah resapan dan kelestarian lingkungan.diizinkan untuk kegiatan hutan kota. (2) Rekayasa teknis memperkecil lereng. tetap memelihara fungsi lindung. acuan Zonasi Untuk Kawasan Tipe C adalah : a. (2) jenis wisata alam. pemilihan tanaman yang tepat. (3) untuk jenis kegiatan penelitian.fungsi tidak berubah/diubah sebagi kawasan dengan dominasi fungsi lindung. (3) untuk jenis kegiatan penelitian. (3) jenis usaha wisata pondokan. dapat dikembangkan bersyarat. (3) Jenis wisata alam. acuan peraturan zonasi kawasan Tipe A Tingkat Kerawanan Rendah: . reklamasi lereng.tidak layak untuk kegiatan industri. daya dukung lingkungan. acuan Zonasi Utuk Kawasan Tipe B adalah : a.diizinkan untuk kegiatan pariwisata terbatas dengan syarat: (1) rekayasa teknis. camping ground.tidak diizinkan untuk kegiatan-kegiatan: hunian/permukiman.tidak diizinkan untuk dibangun dan mutlak untuk dilindungi. acuan zonasi untuk kawasan Tipe B Tingkat Kerawanan Rendah : . acuan zonasi untuk kawasan Tipe C Tingkat Kerawanan Tinggi : . (3) Jenis usaha wisata pondokan. (3) untuk jenis kegiatan penelitian . . revitalisasi kawasan. dapat untuk semua jenis kegiatan dengan persyaratan tertentu. . sistem drainase. acuan zonasi untuk Kawasan Tipe B Tingkat Kerawanan Tinggi : .diizinkan untuk kegiatan pariwisata dengan syarat : (1) Rekayasa teknis. camping ground. (3) untuk kawasan yang tidak konsisten dalam pemanfaatan dikembalikan pada kondisi dan fungsi semula secara bertahap.diperuntukan sebagai kawasan lindung .diizinkan untuk kegiatan hutan kota dengan persyaratan pembangunan serta pengawasan dan pengendalian ketat: (1) rekayasa teknis. . dan hutan produksi dengan syarat: (1) rekayasa teknis. hutan produksi.diizinkan untuk kegiatan pariwisata terbatas. kestabilan lereng. dengan syarat: (1) Analisis geologi. industri.(4) (5) a. (2) pemilihan vegetasi. . (2) jenis wisata alam. jaringan transportasi yang mengikuti kontur. terasering dan sistem drainase yang tepat. (3) jenis usaha wisata pondokan. acuan zonasi untuk kawasan Tipe B Tingkat Kerawanan Sedang : . (2) pemilihan jenis vegetasi yang mendukung fungsi daerah resapan & kelestarian lingkungan.diizinkan untuk kegiatan hutan kota. dan hutan produksi dengan syarat: (1) rekayasa teknis. camping ground. (2) pemilihan jenis vegetasi. dan peternakan. . (4) Jenis usaha wisata pondokan. . b. daya dukung lingkungan. acuan peratuan zonasi kawasan Tipe A Tingkat Kerawanan Tinggi: .layak utuk kegiatan pertambangan dengan syarat: aspek kestabilan lereng. dan pendaki gunung. pendaki gunung dan camping ground. c. (3) untuk jenis kegiatan penelitian. 46 . (3) untuk jenis kegiatan penelitian. b.diizinkan untuk kegiatan Pertanian dengan syarat: (1) rekayasa teknis.tidak diizinkan untuk kegiatan budidaya . .fungsi tidak berubah/diubah sebagai kawasan dengan dominasi fungsi lindung. (2) pemilihan vegetasi seperti karet dan kayu jati.diizinkan untuk kegiatan pertanian dan perkebunan dengan syarat: (1) Rekayasa teknis. (2) Jenis wisata alam.diizinkan untuk kegiatan hutan kota dengan persyaratan: (1) rekayasa teknis. (2) pemilihan jenis vegetasi dan teknis pengelolaan.diizinkan untuk kegiatan pariwisata terbatas dengan syarat: (1) rekayasa teknis. dengan syarat: (1) rekayasa teknis. pertambangan. . (2) pemilihan jenis vegetasi yang mendukung fungsi daerah resapan dan kelestarian lingkungan.

(3) pengendalian kegiatan pertambangan sesuai peraturan yang ada. (2) menjaga kelestarian lingkungan. . b.diizinkan untuk permukiman dengan syarat: (1) rekayasa teknis.diizinkan untuk kegiatan peternakan dengan syarat: (1) rekayasa teknis. - (2) Paragraf Kedua Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Kawasan Budidaya Provinsi Pasal 105 Peraturan zonasi untuk kawasan hutan produksi dan hutan rakyat disusun dengan memperhatikan: a. acuan zonasi untuk kawasan Tipe C Tingkat Kerawanan Sedang : . (2) menjaga kelestarian lingkungan. 47 . . dan b. dan c. (3) fungsi tidak diubah/berubah sebagai hutan lindung. pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf b. pembatasan pemanfaatan hasil hutan untuk menjaga kestabilan neraca sumber daya kehutanan.diizinkan untuk kegiatan peternakan dengan syarat: (1) rekayas teknis. (3) menjaga kelestarian lingkungan. (2) menjaga kelestarian lingkungan. pelarangan kegiatan yang dapat menimbulkan pencemaran terhadap mata air. . (2) jenis wisata air. pemanfaatan ruang secara terbatas untuk kegiatan budi daya tidak terbangun yang memiliki kemampuan tinggi dalam menahan limpasan air hujan.diizinkan untuk kegiatan pariwisata dengan syarat: (1) rekayasa teknis. penyediaan sumur resapan dan/atau waduk pada lahan terbangun yang sudah ada. (2) pemilihan tipe bangunan rendah hingga sedang. pemanfaatan ruang untuk permukiman petani dengan kepadatan rendah. b.diizinkan untuk kegiatan pertambangan dengan syarat: (1) rekayasa teknis. b. acuan zonasi untuk kawasan Tipe C Tingkat Kerawanan Rendah: . . Pasal 106 Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pertanian disusun dengan memperhatikan: a. pelarangan alih fungsi lahan menjadi lahan budi daya non pertanian kecuali untuk pembangunan sistem jaringan prasarana utama. (2) mengikuti pola kontur. (4) diperlukan pengawasan tinggi terhadap pemanfaatan ruang.diizinkan untuk transportasi dengan syarat: (1) rekayasa teknis. dan c.diizinkan untuk transportasi dengan syarat: (1) rekayasa teknis. dan d. (2) mengikuti pola kontur. c. Pasal 104 (1) Peraturan zonasi untuk kawasan imbuhan air tanah disusun dengan memperhatikan: a. penerapan prinsip zero delta Q policy terhadap setiap kegiatan budi daya terbangun yang diajukan izinnya. c. Peraturan zonasi untuk kawasan sempadan mata air disusun dengan memperhatikan: a. (3) menjaga kelestarian lingkungan. penerapan pola tanam yang sejalan dengan upaya pengendalian hama.diizinkan untuk kegiatan pertambangan dengan syarat: (1) rekayasa teknis. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau. (2) pemilihan tipe bangunan rendah hingga sedang. b.diizinkan untuk kegiatan permukiman dengan syarat: (1) rekayasa teknis/rumah panggung. pembatasan penggunaan input produksi yang dapat mengurangi produktivitas lahan. (4) diperlukan pengawasan tinggi terhadap pemanfaatan ruang. (3) untuk kawasan yang tidak konsisten dalam pemanfaatan. . dikembalikan pada kondisi dan fungsi semula secara bertahap. (3) pengendalian kegiatan tambang sesuai peraturan yang ada. . pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan pemanfaatan hasil hutan. (3) fungsi tidak diubah/berubah sebagai hutan lindung. (2) menjaga kelestarian lingkungan.

pembatasan pembangunan perumahan baru sekitar kawasan peruntukan industri. ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c. penetapan amplop bangunan. dan d. penerapan standar keselamatan untuk melindungi pekerja dan masyarakat di sekitar kawasan pertambangan. b. c. c. pelarangan penggunaan peralatan tangkap yang mengancam kelestarian sumber daya perikanan. c. Izin pemanfaatan ruang diberikan oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan kewenangannya. pembatasan pendirian bangunan hanya untuk menunjang kegiatan pariwisata. b. d. dan d. dan b. Bagian Keempat Arahan Perizinan Pasal 112 (1) Arahan perizinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (2) huruf b merupakan acuan bagi pejabat yang berwenang dalam pemberian izin pemanfaatan ruang berdasarkan rencana struktur dan pola ruang yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah ini. pengaturan pendirian bangunan agar tidak mengganggu fungsi alur pelayaran yang ditetapkan peraturan perundang-undangan. pembatasan pemanfaatan sumber daya perikanan agar tidak melebihi potensi lestari. pemanfaatan potensi alam dan budaya masyarakat sesuai daya dukung dan daya tampung lingkungan. (2) (3) 48 . Pemberian izin pemanfaatan ruang dilakukan menurut prosedur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang .undangan. potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia di wilayah sekitarnya. dan e. dan badan air.Pasal 107 Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan perikanan disusun dengan memperhatikan: a. pengelolaan lingkungan pasca kegiatan pertambangan. perlindungan terhadap situs peninggalan kebudayaan masa lampau. pemanfaatan ruang untuk permukiman petani dan/atau nelayan denan kepadatan rendah. Pasal 111 Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan permukiman disusun dengan memperhatikan: a. dan d. penetapan jenis dan syarat penggunaan bangunan yang diizinkan. pengolahan limbah agar tidak mencemari tanah. Pasal 109 Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan industri disusun dengan memperhatikan: a. pelarangan penangkapan biota yang dilindungi peraturan perundang-undangan. penetapan kelengkapan bangunan dan lingkungan. pengaturan kawasan tambang dengan memperhatikan keseimbangan antara biaya dan manfaat serta keseimbangan antara resiko dan manfaat. penetapan tema arsitektur bangunan. udara. b. b. Pasal 108 Indikasi arahan peraturan zonasi untuk kawasan pertambangan adalah: a. Pasal 110 Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pariwisata disusun dengan memperhatikan: a. pemanfaatan ruang untuk kegiatan industri baik yang sesuai dengan kemampuan penggunaan teknologi. c.

pengenaan kompensasi. c. pengenaan kompensasi. dan/atau h. Pasal 115 (1) Insentif kepada pemerintah daerah diberikan. g. urun saham. penalti. b. dalam bentuk: a. urun saham. Pasal 114 (1) (2) Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dalam pemanfaatan ruang wilayah provinsi dilakukan oleh Pemerintah kepada pemerintah daerah dan kepada masyarakat. atau dikurangi keberadaannya berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Daerah ini. c. dalam bentuk: a. penalti. b. antara lain. b. penghargaan. Disinsentif dari Pemerintah kepada masyarakat dikenakan. d. pemberian kompensasi. pembatasan penyediaan infrastruktur. dan/atau c. pembangunan serta pengadaan infrastruktur. antara lain. Insentif diberikan apabila pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana struktur ruang. kemudahan prosedur perizinan. b. Pasal 116 (1) Disinsentif kepada pemerintah daerah diberikan. Bagian Kelima Arahan Insentif dan Disinsentif Pasal 113 (1) (2) (3) Arahan pemberian insentif dan disinsentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (2) huruf c merupakan acuan bagi pemerintah dalam pemberian insentif dan pengenaan disinsentif. penghargaan. imbalan. e. antara lain. keringanan pajak.(4) Pemberian izin pemanfaatan ruang yang berdampak besar dan penting dikoordinasikan oleh Gubernur. dibatasi. pengenaan pajak yang tinggi. c. dan/atau d. dalam bentuk: a. rencana pola ruang. dan indikasi arahan peraturan zonasi yang diatur dalam Peraturan Daerah ini. Disinsentif dikenakan terhadap pemanfaatan ruang yang perlu dicegah. Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dilakukan oleh instansi berwenang sesuai dengan kewenangannya. f. pembatasan penyediaan infrastruktur. atau d. penyediaan infrastruktur. Insentif kepada masyarakat diberikan. antara lain. Pasal 117 (2) (2) 49 . pemberian kompensasi. dalam bentuk: a. sewa ruang.

f. sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan kepada orang perseorangan dan/atau korporasi yang melakukan pelanggaran sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. h. pemanfataan ruang yang menghalangi akses terhadap kawasan yang oleh peraturan perundangundangan dinyatakan sebagai milik umum.(1) (2) Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dilakukan menurut prosedur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dikoordinasikan oleh Gubernur. pemulihan fungsi ruang. f. peringatan tertulis. dan huruf g dikenakan sanksi administratif berupa: a. e. dan/atau i. c. huruf f. Bagian Keenam Arahan Pengenaan Sanksi Pasal 118 Arahan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (2) huruf d merupakan acuan dalam pengenaan sanksi terhadap: a. Pasal 120 (1) Terhadap pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 huruf a. penutupan lokasi. pemanfaatan ruang tanpa izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRWP. (2) 50 . d. penghentian sementara pelayanan umum. e. pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRWP. penghentian sementara kegiatan. dan/atau g. penghentian sementara pelayanan umum. huruf b. d. b. denda administratif. huruf e. f. pemanfaatan ruang dengan izin yang diperoleh dengan prosedur yang tidak benar. pembongkaran bangunan. d. c. Terhadap pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 huruf c dikenakan sanksi administratif berupa: a. b. penutupan lokasi. Pasal 119 (1) (2) pelanggaran terhadap Peraturan Daerah ini dapat dikenakan sanksi administratif dan/atau sanksi pidana. c. huruf d. g. dan/atau g. pencabutan izin. b. e. pembatalan izin. peringatan tertulis. penghentian sementara kegiatan. pembongkaran bangunan. pemulihan fungsi ruang. pelanggaran ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRWP. pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana struktur ruang dan pola RTRWP pelanggaran ketentuan arahan peratuan zonasi sistem Provinsi. denda administratif.

pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 500. 100. pidana yang (2) (3) (4) (1) (2) 51 . dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp.000. Pasal 123 Setiap orang yang tidak mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang. jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kematian orang.000.000.000.000.00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).000. dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. Pasal 125 setiap pejabat pemerintah yang berwenang yang menerbitkan izin tidak sesuai dengan rencana tata ruang. jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kerugian terhadap harta benda atau kerusakan barang. 500. jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kematian orang.000. pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp.00 (lima ratus juta rupiah). 1.000. pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp.000. 1. Pasal 126 (1) dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79.00 (lima miliar rupiah).000.00 (satu miliar rupiah). 500.BAB IX KETENTUAN PIDANA Pasal 121 (1) setiap orang yang tidak mentaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan. jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kerugian terhadap harta benda atau kerusakan barang. yang mengakibatkan perubahan fungsi ruang.00 (lima ratus juta rupiah). Pasal 81 dan Pasal 82 dilakukan oleh suatu korporasi.000. 1. selain sanksi pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pelaku dapat dikenai pidana tambahan berupa pemberhentian secara tidak dengan hormat dari jabatannya.000.00 (lima ratus juta rupiah). 5.500. Pasal 80. dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan perubahan fungsi ruang.000. pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp.00 (seratus juta rupiah). selain pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya. 500.00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).000. dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. 5. pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan denda paling banyak Rp.000.000.000.000.500.00 (lima ratus juta rupiah).000.000. Pasal 124 Setiap orang yang tidak memberikan akses terhadap kawasan yang oleh peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum. dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp.000. (2) (3) Pasal 122 (1) setiap orang yang memanfaatkan ruang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang dari pejabat yang berwenang.000.00 (lima miliar rupiah).000.

Pasal 81 dan Pasal 82. ruang wilayah kabupaten/kota dan rencana detail lainnya. e. menikmati pertambahan nilai ruang c. dan/atau b. Pasal Pelaksanaan kewajiban masyarakat dalam penataan ruang . memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialaminya sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan perencanaan ruang. setiap orang berhak : a. Pasal 80. Pasal 80. pencabutan izin usaha. (1) (2) BAB X PERAN SERTA MASYARAKAT Bagian Pertama Pelaksanaan Hak dan Kewajiban Masyarakat Pasal 128 Dalam kegiatan penataan ruang wilayah Provinsi Sumatera Utara. mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang. memanfaatkan ruang sesuai dengan izin pemanfaatan ruang dari pejabat yang berwenang. berperan serta dalam proses perencanaan tata ruang. kaidah. pencabutan status badan hukum. mengetahui secara terbuka perencanaan penataan ruang wilayah provinsi. memberikan akses terhadap kawasan yang oleh ketentuan peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum. setiap orang wajib : a. masyarakat dapat melihat dan mempelajari dokumen penataan ruang. f. selain pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan mengetahui dari pengumuman atau penyebarluasan atau informasi yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah.(2) dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidana denda dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79. c. Bagian Kedua Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat Pasal 130 (1) untuk mengetahui perencanaan penataan ruang. b. 52 . dan d. dilaksanakan dengan mematuhi dan menerapkan kriteria. menikmati manfaat ruang atau pertambahan nilai ruang sebagai akibat dari pembangunan dan penataan ruang. pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. tuntutan ganti kerugian secara perdata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan hukum acara pidana. Pasal 81 dan Pasal 82 dapat menuntut ganti kerugian secara perdata kepada pelaku tindak pidana. mengetahui rencana tata ruang. b. korporasi dapat dijatuhi pidana tambahan berupa: a. menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan. d. dan baku mutu sesuai dengan nilai kebenaran ilmiah serta aturan-aturan penataan ruang yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 129 Dalam kegiatan penataan ruang wilayah Provinsi Sumatera Utara. Pasal 127 setiap orang yang menderita kerugian akibat tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79.

Pasal 135 Peran serta masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang. pelaksanaan peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dikoordinasikan oleh Gubernur/Bupati/Walikota. termasuk pemberian informasi atau laporan pelaksanaan pemanfaatan ruang dimaksud. b. Pasal 131 (1) hak memperoleh penggantian yang layak atas kerugian terhadap perubahan status semula yang dimiliki oleh masyarakat sebagai akibat pelaksanaan Penataan Ruang diselenggaraan dengan cara musyawarah antara pihak-pihak yang berkepentingan. Masyarakat dapat menikmati dan memanfaatkan ruang beserta sumber daya alam yang terkandung di dalamnya yang dilaksanakan atas dasar pemilikan. dapat disampaikan secara lisan atau tertulis kepada Kepala Daerah dan pejabat yang berwenang. partisipasi dalam pemanfaatan ruang. Apabila terjadi konflik tata ruang antara pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder) maka penyelesaiannya diupayakan melalui musyawarah mufakat berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku dan apabila tidak tercapai kesepakatan antara pihak yang berkepentingan. dalam hal tidak tercapai kesepakatan mengenai penggantian yang layak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). peran serta masyarakat dapat dilakukan. (2) (2) Pasal 134 Dalam pengendalian pemanfaatan ruang. paradigma. (1) (2) BAB XII PENYELESAIAN SENGKETA Pasal 136 (1) penyelesaian sengketa penataan ruang pada tahap pertama diupayakan berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat. bantuan pemikiran atau pertimbangan berkenaan dengan penertiban pemanfaatan ruang. partisipasi dalam penyusunan rencana tata ruang. antara lain melalui: a. peran serta masyarakat dapat berbentuk : a. b. atau pemberian hak tertentu berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan ataupun atas hukum adat atau kaidah yang berlaku atas ruang pada masyarakat setempat. maka penyelesaiannya dilakukan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dengan memperhatikan tata nilai. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Pengadilan Negeri setempat. penguasaan. dan adat istiadat setempat. dan c. partisipasi dalam pengendalian pemanfaatan ruang. 53 . dapat diketahui masyarakat di kantor-kantor yang secara fungsional menangani kegiatan penataan ruang atau melalui media massa dan internet (Web Site). Pasal 132 Dalam pemanfaatan ruang di daerah.pengumuman atau penyebarluasan informasi tata ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 133 (1) tata cara peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang di daerah. pengawasan terhadap pemanfaatan ruang wilayah dan kawasan.

para pihak dapat menempuh upaya penyelesaian sengketa melalui pengadilan atau di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan. i. pemeriksaan tersangka. b. memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi. evaluasi. dilakukan pengawasan terhadap kinerja pengaturan. mengambil sidik jari dan memotret seseorang. penyidik POLRI melakukan penyidikan kejahatan pidana sebagaimana dimaksud dalam peraturan daerah ini. g. pemeriksaan saksi. melakukan tindakan lain menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan. d. pembinaan. penyitaan barang. pengawasan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan dengan melibatkan peran masyarakat.(2) dalam hal penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diperoleh kesepakatan. pemasukan rumah. mendatangkan orang ahli dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara. dan dalam pelaksanaannya dapat koordinasi dengan Penyidik POLRI. dan pelaporan. c. mengadakan penghentian penyidikan setelah mendapat petunjuk dari penyidik POLRI bahwa tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana dan selanjutnya melalui penyidik POLRI memberitahukan hal tersebut kepada Penuntut Umum. 54 . melakukan tindakan pertama pada saat itu ditempat kejadian dan melakukan pemeriksaan. pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas tindakan pemantauan. f. melakukan pemeriksaan. f. (2) (3) (4) (1) (2) (3) (4) (5) BAB XV PENGAWASAN PENATAAN RUANG Pasal 138 untuk menjamin tercapainya tujuan penyelenggaraan penataan ruang daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5. pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya. pemeriksaan tempat kejadian. e. d. penyidik Pegawai Negeri Sipil membuat berita acara setiap tindakan dalam hal: a. dalam melaksanakan tugas penyidikan. b. dan pelaksanaan penataan ruang. e. menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana. penyitaan benda dan atau surat. pemeriksaan surat. c. BAB XIV PENYIDIKAN Pasal 137 (1) penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dapat melakukan penyidikan atas tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam peraturan daerah ini. tersangka dan keluarganya. menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka. berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1). h. berwenang: a. peran masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat dilakukan dengan menyampaikan laporan dan/atau pengaduan kepada Pemerintah Daerah.

batal demi hukum. pembangunan serta pengadaan infrastruktur. dan Bupati/Walikota mengambil langkah penyelesaian sesuai dengan kewenangannya. izin pemanfaatan ruang yang dikeluarkan dan/atau diperoleh dengan tidak melalui prosedur yang benar. ketentuan lebih lanjut mengenai prosedur perolehan izin dan tata cara penggantian yang layak sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan Peraturan Pemerintah. berupa: a. dapat dimintakan penggantian yang layak kepada instansi pemberi izin. dan urun saham. kemudahan prosedur perizinan. izin pemanfaatan ruang yang diperoleh melalui prosedur yang benar tetapi kemudian terbukti tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah. subsidi silang. keringanan pajak. yang merupakan perangkat atau upaya untuk memberikan imbalan terhadap pelaksanaan kegiatan yang sejalan dengan rencana tata ruang. sewa ruang. Pasal 140 Dalam hal penyimpangan dalam penyelenggaraan penataan ruang. (3) BAB XVI ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG Pasal 141 Pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan melalui penetapan peraturan zonasi. dibatalkan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya. Gubernur mengambil langkah penyelesaian yang tidak dilaksanakan Bupati/Walikota. dalam hal Bupati/Walikota tidak melaksanakan langkah penyelesaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). pemberian insentif dan disinsentif. b. serta pengenaan sanksi.Pasal 139 (1) (2) pemantauan dan evaluasi dilakukan dengan mengamati dan memeriksa kesesuaian antara penyelenggaraan penataan ruang daerah dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. imbalan. (3) (4) (5) (6) (7) (8) (1) (2) Pasal 143 dalam pelaksanaan pemanfaatan ruang agar pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dapat diberikan insentif dan/atau disinsentif oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah. apabila hasil pemantauan dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbukti terjadi penyimpangan administratif dalam penyelenggaraan penataan ruang daerah. Pasal 142 (1) (2) ketentuan perizinan diatur oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah menurut kewenangan masingmasing sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dibatalkan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah menurut kewenangan masing-masing sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. insentif. pemberian kompensasi. terhadap kerugian yang ditimbulkan akibat pembatalan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Gubernur. perizinan. setiap pejabat pemerintah yang berwenang menerbitkan izin pemanfaatan ruang dilarang menerbitkan izin yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. c. izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai lagi akibat adanya perubahan rencana tata ruang wilayah dapat dibatalkan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah dengan memberikan ganti kerugian yang layak. pihak yang melakukan penyimpangan dapat dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dan/atau 55 .

dan b. insentif dan disinsentif diberikan dengan tetap menghormati hak masyarakat. 56 . swasta dan/atau Pemerintah Daerah. dan/atau b. disinsentif. Pasal 148 Pada saat mulai berlakunya Peraturan Daerah ini. yang merupakan perangkat untuk mencegah. koordinasi perencanaan pemanfaatan ruang oleh Kabupaten/Kota dalam upaya menciptakan keselarasan/keterpaduan pembangunan dalam wilayah Provinsi. Pemerintah Daerah Provinsi kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. pembinaan dan monitoring pelaksanaan kebijakan penataan ruang wilayah Provinsi Sumatera Utara oleh Kabupaten/Kota. membatasi pertumbuhan. (1) (2) BAB XVII KETENTUAN LAIN – LAIN Pasal 145 Pada saat mulai berlakunya Peraturan Daerah ini. insentif dan disinsentif dapat diberikan oleh: a. d. Kabupaten/Kota kepada masyarakat. maka: a. b. pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota secara operasional melakukan kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Pemerintah Provinsi melakukan : a. Pasal 144 dalam pelaksanaan penataan ruang sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Daerah ini. pembatasan penyediaan infrastruktur. semua ketentuan peraturan perundang-undangan berkaitan dengan penyelenggaraan penataan ruang provinsi dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah ini. pengenaan kompensasi. semua ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan penataan ruang daerah tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Daerah ini ini. dapat ditinjau ulang untuk dimutakhirkan atau disempurnakan setiap 5 (lima) tahun sekali. atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang. c. Pemerintah Daerah Provinsi. berupa: a. digunakan sebagai matra ruang dari Rencana Pembangunan Daerah Provinsi Sumatera Utara jangka menengah dan jangka panjang. ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk dan tata cara pemberian insentif dan disinsentif oleh Pemerintah Daerah diatur dengan Peraturan Gubernur. koordinasi pengendalian pemanfaatan ruang di Kabupaten/Kota. Pasal 147 Materi teknis Penataan Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Utara. pemberian penghargaan kepada masyarakat. semua Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota yang tidak sesuai dengan Peraturan Daerah ini harus disesuaikan paling lambat dalam waktu 2 (dua) tahun sejak berlakunya Peraturan Daerah ini. b.(3) (4) (5) (6) d. dan penalti. Pasal 146 Penataan Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Utara. pengenaan pajak yang tinggi yang disesuaikan dengan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan akibat pemanfaatan ruang. pengawasan atas pelaksanaan penataan ruang wilayah Provinsi oleh Kabupaten/Kota.

Disahkan di : MEDAN Pada Tanggal : GUBERNUR SUMATERA UTARA dto Diundangkan di Pada tanggal : : MEDAN SEKRETARIS DAERAH PROVINSI dto Lembaran Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2003 Nomor 9 Seri C 57 . sepanjang mengenai pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut oleh Keputusan Gubernur Sumatera Utara. Pasal 153 Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya. Pasal 152 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. maka Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Utara nomor 7 tahun 2003 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Sumatera Utara tahun 2003 – 2018 dinyatakan dicabut dan tidak berlaku lagi. memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Propinsi Sumatera Utara.BAB XIX KETENTUAN PENUTUP Pasal 149 Jangka waktu Penataan Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Utara adalah 20 (dua puluh) tahun sejak Peraturan Daerah ini diundangkan Pasal 150 Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini. Pasal 151 Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Daerah ini.

000 Skala 1 .000 ( 4 lbr) Skala 1: 250. 500. Peta Rencana Kawasan Andalan Provinsi Skala 1 . Peta Rencana Poa Ruang 4. 500.000 Skala 1 .000 Skala 1 . Peta Rencana Struktur Jaringan Transportasi 6.Lampiran Peta Tematik : 1.000 Skala 1 . 500. 500. Peta Rencana Struktur Jaringan Energi 7. 500. Peta Rencana Struktur Jaringan Prasarana SDA 9. 500. Peta Batas Administrasi 2.000 58 . Peta Rencana Kawasan Strategis Provinsi 10. 500. Peta Rencana Struktur Jaringan Telekomunikasi 8. Peta Rencana Struktur Ruang 3. Peta Rencana Struktur Perkotaan 5.000 Skala 1: 250.000 ( 4 lbr) Skala 1 .000 Skala 1 .000 Skala 1 . 500.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful