P. 1
Anjelia New Appendicitis REFRAT

Anjelia New Appendicitis REFRAT

|Views: 21|Likes:
Published by Corry Nazara

More info:

Published by: Corry Nazara on Mar 21, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/14/2013

pdf

text

original

APENDISITIS

REFRAT
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Persyaratan Dalam Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Bedah Rumah sakit dr.Soedjono Magelang

Oleh :

Anjelia Paramita
01.208.5605

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG 2012

1

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb Dengan segala puji bagi Allah Yang Maha Esa atas segala rahmat, nikmat dan petunjuk-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Refrat ini yang berjudul “Apendisitis” sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas dan melengkapi persyaratan dalam menempuh program pendidikan Profesi Dokter di bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung di Rumah Sakit Tentara dr. Soedjono Kota Magelang. Pada kesempatan ini penulis ini ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Dr. Dadiya, Sp.B selaku pembimbing kepaniteraan Klinik 2. Teman-teman sekelompok Co-ass Bedah Unissula. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa banyak kekurangan dalam penyusunan Refrat ini, untuk itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang dapat memperbaiki kekurangan Refrat ini. Akhir kata, penulis berharap semoga Refrat ini dapat bermanfaat sebagaimana yang diharapkan.

Wassalamualaikum wr.wb Semarang, September 2012

Penulis

2

BAB I PENDAHULUAN Appendiks disebut juga umbai cacing. 3 . Peradangan akut dari appendiks (appendicitis akut) memerlukan tindak bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya. Dahulu disebut dengan typhlitis (inflamasi dari caeceum). Sumbangan terbesar pada terapi appendicitis adalah Charles McBurney. Hal ini dikemukakan oleh Baron Guillaume Dupuytren. Istilah usus buntu yang sering dipakai di masyarakat awam adalah kurang tepat. agar setidaknya dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas penderita. Appendicitis adalah suatu peradangan pada appendiks. Appendektomi pertama kali dikerjakan oleh seorang ahli bedah. Makalah ini disusun dengan harapan sebagai bekal calon dokter umum agar mampu mendiagnosa dan mampu melakukan pengelolaan cepat dan tepat sebelum dilakukan tindakan yang lebih lanjut. Claudius Amyand pada tahun 1736. karena usus buntu tersebut sebenarnya adalah caecum.

Mortalitas meningkat 20% pada pasien dengan usia lebih dari 70 tahun.2 – 0. Perforasi lebih tinggi terjadi pada pasien usia dibawah 18 tahun dan pada pasien diatas 50 tahun. Rata-rata kematian akibat komplikasi appendicitis sebesar 0. mengalami appendektomi.  DEFINISI Appendicitis adalah peradangan pada appendiks dahulu disebut dengan typhlitis (inflamasi dari caecum) oleh dupuytren. Appendiktomi pertama dilakukan tahun 1736 oleh Claudius amyand. Appendiks baru diketahui menyebabkan penyakit pada abad 19.BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. jarang terjadi di Asia dan Afrika. 4 . insidens terjadinya appendicitis di Indonesia merupakan urutan negara ke-3 setelah Cina dan India. angka kematian untuk appendicitis akut < 1%. Pada benua Asia. Pada tahun 1886. II. Appendicitis diasosiasikan dengan kurangnya diet tinggi protein.  EPIDEMIOLOGI Peradangan pada appendiks merupakan salah satu masalah operasi Satu dari setiap 2000 orang di dunia pernah yang paling sering ditemukan. Paling sering terjadi di Amerika dan Inggris (dunia barat). Sekarang ini.8%. Reginald Fitz melaporkan angka kematian yang berhubungan dengan appendicitis yang tidak dioperasi sebesar 67%. Kejadian ini diduga disebabkan oleh meningkatnya penggunaan makanan berserat dalam menu sehari-hari. Titik Mc burney diperkenalkan pertama kali oleh Charles McBurney (1889).

di belakang colon ascendens. Appendiks merupakan organ berbentuk tabung. Mesenterika superior dan a. appendiks terletak retroperitoneal.  ANATOMI DAN FISIOLOGI APPENDIKS Appendiks mulai terbentuk pada minggu kedelapan perkembangan Selama embriologi sebagai protuberensia dari bagian akhir caecum. Persarafan parasimpatis berasal dari cabang n.III. 5 . panjangnya bervariasi dari < 1 cm sampai > 30 cm (rata-rata 6 – 9 cm). pada bayi. Pada 65% kasus. Namun demikian. perkembangan antenatal dan postnatal. Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar di bagian distal. Pada kasus selebihnya. atau di tepi lateral colon ascendens. Ketiga taenia coli menjadi satu pada persambungan antara caecum dan appendiks. appendiks berbentuk kerucut. lebar pada pangkalnya dan menyempit pada ujungnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insiden appendicitis pada usia itu. Kedudukan tersebut memungkinkan appendiks bergerak dan ruang geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks penggantungnya. yaitu di belakang caecum. dan dapat menjadi tanda yang sangat berguna untuk mengidentifikasi appendiks. pertumbuhan caecum jauh melebihi appendiks sehingga appendiks menjadi terdorong ke arah medial dari katup ileocaecal. Vagus yang mengikuti a. appendiks terletak intraperitoneal.

Lendir tersebut secara normal dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke caecum. 65% kasus adalah appendicitis gangrenosa tanpa disertai ruptur. IV. tumor. sedangkan persarafan simpatis berasal dari n. Perdarahan apendiks berasal dari a. Fekalit adalah penyebab paling sering terjadinya obstruksi appendiks.Apendikularis. Penyebab lainnya adalah hipertrofi jaringan limfe. misalnya karena trombosis pada infeksi. dan hampir 90% kasus adalah appendicitis gangrenosa dengan ruptur. ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO Obstruksi lumen merupakan penyebab paling sering terjadinya appendicitis akut. Apendikularis yang merupakan arteri tanpa kolateral. sayuran dan biji buah. Karena itu nyeri visceral pada appendicitis bermula di sekitar umbilikus. appendiks akan mengalami gangren. Ileocolica yang berasal dari a. Appendiks menghasilkan lendir oleh sel goblet pada mukosa sebanyak 1 – 2 ml per hari. Fekalit ditemukan pada 40% kasus appendicitis akut sederhana. A. 6 . Torakalis X. serta parasit usus yang menyebabkan erosi mukosa seperti E. Frekuensi obstruksi meningkat dengan adanya proses inflamasi. Jika arteri ini tersumbat. terutama imunoglobulin A (Ig A). Hambatan aliran lendir di muara apendiks tampaknya berperan atas terjadinya appendicitis. Imunoglobulin tersebut sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. histolytica. Appendiks merupakan organ dengan fungsi imunologi yang berperan aktif dalam mensekresi imunoglobulin. Appendikularis ini merupakan cabang dari a. Mesenterika superior.

Dengan meningkatnya tekanan dalam rongga appendiks. Proses inflamasi ini akan mengenai lapisan serosa appendiks sampai peritoneum parietalis. rasa nyeri yang tumpul dan merata pada midabdomen atau epigastrium bawah. Kapiler dan venula tertutup. tekanan vena menjadi besar. Bila tidak 7 . dan produksi sekresi normal yang terus menerus dari mukosa appendiks menyebabkan distensi. dan terjadi dalam 24 – 48 jam pertama. Mukosa traktus gastrointestinal. termasuk appendiks. Distensi terus bertambah akibat sekresi mukosa yang terus menerus dan multiplikasi dari bakteri appendiks yang cepat. Hal ini dikarakteristikan dengan adanya perpindahan rasa sakit ke kuadran kanan bawah. Peristaltik juga distimulasi sehingga rasa seperti kram perut sering menyertai. Distensi yang besar ini biasanya menimbulkan reflek mual dan muntah. Nekrosis dari dinding appendiks dapat menyebabkan translokasi dari bakteri. PATOGENESIS Obstruksi proksimal dari lumen appendiks merupakan close-loop obstruction. Hal ini mengakibatkan mudah Karena pertumbuhan bakteri yang berlebihan dan reaksi inflamsi (edem).5 mL meningkatkan tekanan intraluminal menjadi 60 cm H2O. Normalnya kapasitas lumen appendiks hanya 0. Sekresi sebanyak 0.V.1 mL. dapat menyebabkan appendiks menjadi semakin edem dan iskemi. mudah terpengaruh akibat kerusakan aliran darah. terjadinya invasi bakteri. Distensi appendiks menstimulasi saraf visceral afferen sehingga menyebabkan rasa tidak enak. tapi aliran masuk arteriola tetap sehingga menghasilkan pembesaran dan kongesti. Hal ini yang disebut sebagai appendicitis gangrenosa.

Keluhan ini sering disertai mual dan kadang ada 8 . Usaha pertahanan tubuh adalah membatasi proses radang dengan menutup appendiks dengan omentum. usus halus. Di dalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses (appendiceal abses) yang dapat mengalami perforasi. appendicitis akan sembuh dan massa periappendikular akan menjadi tenang untuk selanjutnya mengurai diri secara lambat. Pada suatu ketika.ditangani. tetapi akan membentuk jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitarnya. disertai maupu tidak disertai rangsang peritoneum local. Perlengketan ini dapat menimbulkan keluhan berulang di perut kanan bawah. Appendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna. atau adneksa sehingga terbentuk massa periappendikular yang secara salah dikenal dengan istilah infiltrat appendiks. organ ini dapat meradang akut lagi dan dinyatakan sebagai mengalami eksaserbasi akut (appendicitis kronik eksaserbasi akut). Gejala klasik apendisitis akut ialah nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri visceral didaerah epigastrium disekitar umbilicus. VI. appendiks yang mengalami gangren tersebut akan pecah (appendicitis perforasi) dan mengeluarkan isi appendiks ke cavum peritoneal. APPENDISITIS AKUT Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh radang mendadak umbai cacing yang memberikan tenda setempat. KLASIFIKASI VI.I. Jika tidak terbentuk abses.

Perubahan tanda-tanda vital yang bermakna biasanya mengindikasikan adanya komplikasi atau adanya penyakit lain. tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita memerlukan obat pencahar.5oC) dan nadi normal atau sedikit meningkat. Hal ini mengindikasikan adanya iritasi lokal peritoneum. Apabila diperintahkan untuk bergerak. Hal ini mengindikasikan adanya iritasi peritoneum.5 – 38. Disini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehinggamerupakan nyeri somatik setempat. karena adanya gerakan meningkatkan rasa nyeri. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah kekanan ketitik McBurney. • TANDA Pemeriksaan fisik menentukan posisi anatomik dari appendiks dan apakah appendiks sudah mengalami ruptur ketika pasien pertama kali di periksa. Blumberg sign : Nyeri di kuadran kanan bawah ketika tekanan pada kuadran kiri bawah (daerah kontralateralnya) dilepaskan. Kenaikan suhu jarang melebihi 1oC (sekitar 37. Umumnya nafsu makan menurun. Tanda-tanda vital hanya mengalami sedikit perubahan pada appendicitis tanpa komplikasi.muntah. Kadang tidak nyeri epigastrium. Rovsing’s sign : Nyeri di kuadran kanan bawah ketika di tekan pada kuadran kiri bawah (pada daerah kontralateralnya). Pasien dengan appendicitis biasanya lebih enak dengan posisi supine (telentang) dengan tungkai atas ditarik. mereka akan melakukannya dengan perlahan-lahan dan dengan hati-hati. Tanda ”klasik” kuadran kanan bawah muncul bila appendiks terdapat pada posisi anterior. Rasa nyeri terutama pada titik Mc Burney atau sekitar Mc Burney. Hal ini juga 9 .

000 – 18. Pemeriksaan laboratorium lain yang mendukung diagnosa appendicitis adalah C-reaktif protein. Psoas sign : Mengindikasikan adanya fokus iritatif yang dekat dengan otot tersebut. Dunphy’s sign : Adanya rasa nyeri yang tajam pada kuadran kanan bawah bila sengaja dibatukkan (cough sign). Pasien berbaring pada sisi kiri. Obturator sign : Mengindikasikan iritasi pada pelvis. Hal ini biasanya terdapat pada pasien dengan akut appendicitis dan appendicitis tanpa komplikasi. dan melihat apakah appendiks yang meradang kontak dengan muskulus tersebut. Pasien dalam posisi telentang. netrofil (shift to the left) pada 90% pasien. Psoas. Prinsipnya dengan meregangkan m. Obturator internus.000 / mm3 meningkatkan kemungkinan terjadinya perforasi appendiks dengan / tanpa abses. Iliopsoas. CRP merupakan reaktan fase akut terhadap infeksi bakteri yang dibentuk di hepar. Sedangkan leukosit > 18. Test (+) bila ekstensi menimbulkan rasa sakit karena appendiks yang meradang menempel di m.mengindikasikan adanya iritasi peritoneum. Kadar serum mulai meningkat pada 6 – 12 jam 10 . • PEMERIKSAAN PENUNJANG o LABORATORIUM Pada laboratorium darah terdapat leukositosis ringan (10. paha kanan dalam posisi fleksi lalu dilakukan rotasi interna secara pasif.000 / mm3) yang didominasi > 75% oleh sel polimorfonuklear (PMN). pemeriksa pelan-pelan mengekstensikan paha kanan yang mengakibatkan peregangan dari m.

tidak invasif. o ULTRASONOGRAFI Sonografi merupakan pemeriksaan yang akurat untuk mendiagnosis appendicitis. Pemeriksaan urinalisa sering dilakukan dalam mengevaluasi pasien dengan keluhan nyeri perut. peningkatan densitas jaringan lunak pada kuadran kanan bawah. Spesifisitasnya hanya mencapai 50 – 87% dan hasil dari CRP tidak dapat membedakan tipe dari infeksi bakteri. Walaupun demikian. dapat dilakukan dengan cepat. perubahan bayangan psoas line. pemeriksaan ini jarang digunakan karena tidak spesifik. Pemeriksaan ini mungkin berguna pada pasien dengan gejala dan tanda-tanda yang tidak khas. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan kemungkinan adanya infeksi saluran kemih (ISK). tidak membutuhkan kontras dan dapat digunakan pada pasien yang 11 . Tetapi pada umumnya. dan free air (jarang) bila terjadi perforasi.setelah inflamasi jaringan. tapi hal ini tidak spesifik. Tekniknya tidak mahal. Ditemukannya fekalit dapat mendukung diagnosa. foto polos abdomen bukanlah sesuatu yang rutin atau harus dikerjakan dalam mengevaluasi pasien dengan nyeri abdomen yang akut. o RADIOLOGI Foto Polos Abdomen Foto polos abdomen dapat digunakan untuk menyingkirkan diagnosa banding. Pada appendicitis akut dapat terlihat abnormal ”gas pattern” dari usus. Dapat ditemukan pula adanya local air fluid level.

Kriteria appendiks diidentifikasi sebagai ”blind end”. CT-scan khususnya digunakan pada pasien yang mengalami penanganan gejala klinis yang telat (48 – 72 jam) sehingga dapat berkembang menjadi phlegmon atau abses.sedang hamil karena tidak menggunakan paparan radiasi. Appendiks normal akan terlihat sebagai struktur tubular tipis pada kuadran kanan bawah yang dapat menjadi opak dengan kontras. penebalan fascia lokalis. kumpulan cairan. dan phlegmon. dan cairan atau massa periappendiceal. Sedangkan yang termasuk inflamasi periappendiceal antara lain adalah abses. o CT-Scan CT-scan sangat berguna pada pasien yang dicurigai mengalami proses inflamasi pada abdomen dan adanya gejala tidak khas untuk appendicitis. Appendiks dikatakan abnormal apabila terdistensi atau menebal dan membesar > 5 – 7 mm. Inflamsi periappendiceal atau edem terlihat sebagai perkaburan dari lemak mesenterium (”dirty fat”). dan terlihat pada 25% populasi. Secara sonografi. edem. dan peningkatan densitas jaringan lunak pada kuadran kanan bawah. o DIAGNOSIS 12 . adanya appendicolith. sonografi untuk mendiagnosis appendicitis akut adalah adanya noncompressible appendiks sebesar 7 mm atau lebih pada diameter anteroposterior. tanpa peristaltik usus. Appendicitis akut dapat didiagnosa berdasarkan CT-scan apabila didapatkan appendiks yang abnormal dengan inflamasi pada periappendiceal. Appendicolith terlihat sebagai kalsifikasi homogenus berbentuk cincin. interupsi pada kontinuitas jaringan submukosa.

standar terapi untuk appendicitis akut adalah operatif Open appendectomy Incisi dapat dilakukan dengan beberapa cara. inisial kesuksesan terapi dengan medikamentosa sebesar 95%. dan torsio kista ovarium. Terapi Medikamentosa Menurut Eriksson dan Granstrom. yaitu : 13 . • Intususepsi • Gangguan saluran kemih seperti pyelonefritis akut dan batu ureter kanan. Laparoskopi dapat digunakan sebagai diagnosis dan terapi pada pasien dengan acute abdominal pain dan dicurigai appendicitis. Karena adanya rekurensi yang tinggi inilah. diagnosis klinis appendicitis akut masih mungkin salah pada sekitar 15 – 20% kasus. • Adenitis mesenterik akut • Penyakit urogenital pria seperti torsio testis. • Pada wanita harus dipikirkan adanya pelvic inflamatory disease (PID). dan jenis kelamin pasien. dan seminal vesikulitis. epididimitis akut. akan tetapi dengan follow up yang singkat didapatkan angka rekurensi sebesar 35%. stadium dari prosesnya (simple / ruptur).Meskipun pemeriksaan dilakukan dengan cermat dan teliti. o DIAGNOSIS BANDING Diagnosis banding tergantung lokasi anatomik dari appendiks yang inflamasi. kehamilan ektopik terganggu (KET). usia pasien.

hanya sayatannya langsung menembus otot dinding perut tanpa memperdulikan arah serabut sampai tampak peritoneum. trauma operasi minimum pada alat-alat tubuh dan masa istirahat pasca bedah yang lebih pendek karena penyembuhan lebih cepat.1. Sayatan ini mengenai cutis. dan mudah. Incisi ini dilakukan pada bagian tengah dari garis midclavicula. Kerugiannya adalah lapangan operasi terbatas. subcutis. Incisi Roux (muscle cutting incision) Lokasi dan arah sayatan sama dengan Mc Burney. dan fascia. Setelah itu akan tampak peritoneum parietal yang disayat secukupnya untuk meluksasi caecum. 3. sederhana. sulit diperluas. Sedangkan kerugiannya adalah mudah diperluas. dan Lapangan operasi dapat diperluas dengan waktu operasi lebih lama. memotong otot secara tajam. masa istirahat pasca bedah lebih lama karena adanya benjolan yang 14 . Teknik inilah yang paling sering dikerjakan karena keuntungannya tidak terjadi benjolan dan tidak mungkin terjadi herniasi. Incisi Mc Burney (incisi oblique) 2. diagnosis yang harus tepat sehingga lokasi dapat dipastikan. Otot-otot dinding perut dibelah secara tumpul menurut arah serabutnya. lebih banyak memotong saraf dan pembuluh darah sehingga perdarahan menjadi lebih banyak. Incisi Rocky – Davis (incisi transversal) Keduanya dilakukan dengan memisahkan serat-serat otot sesuai dengan arahnya (muscle splitting incision / grid incision). Keuntungannya adalah lapangan operasi lebih luas.

nyeri pasca operasi lebih sering terjadi. atas epigastrium. Appendektomi laparoskopi dilakukan dengan anestesi umum. Biasanya memerlukan 3 lubang masuk – 4 lubang masuk pada appendiks retrocaecal. Tetapi jenis incisi ini jarang dilakukan. biasanya bisa di dan kuadran kuadran kiri kanan bawah. teknik ini dapat dipakai pada kasus-kasus appendiks yang belum pasti dan kalau perlu sayatan dapat diperpanjang dengan mudah. Incisi paramedian / pararektal. 4. dan masa penyembuhan lebih lama. Dilakukan sayatan pada garis batas lateral m.mengganggu pasien. dan trocar III (5 mm) dapat diletakkan bervariasi. Rectus abdominis dextra secara vertikal dari kranial ke kaudal sepanjang 10 cm. Trocar I (10 mm) diletakkan di umbilicus. trocar II (10 – 12 mm) diletakkan di suprapubic. Sedangkan kerugiannya. kadang-kadang ada hematoma yang terinfeksi. kemungkinan memotong saraf dan pembuluh darah lebih besar. tergantung lokasi dari appendiks. dan untuk menutup luka operasi diperlukan jahitan penunjang. Keuntungannya. 15 . sayatan ini tidak secara langsung mengarah ke appendiks atau caecum. Appendektomi laparoskopi Pertama kali dikerjakan oleh Semm pada tahun 1983.

Biasanya infeksi terjadi pada bekas luka operasi. 16 . maka lebih baik dilakukan open appendektomi.Kontraindikasi relatif untuk dilakukan appendektomi laparoskopi antara lain : • • • • • • Infeksi dan / atau abses yang ekstensif Appendiks yang mengalami perforasi Obesitas Adanya riwayat operasi pada abdomen yang meninggalkan bekas Tidak dapat melihat jelas organ-organ abdomen Ada masalah perdarahan selama operasi Bila hal-hal tersebut tejadi. kondisi tubuh dan tipe dari penutupan luka. Tabel 3. Perbandingan Open Appendectomy dan Appendektomi Laparoskopi Lama operasi Alat yang dibutuhkan Harga Infeksi luka operasi Abses intraabdominal Nyeri post operasi Reaktivitas Open appendectomy Butuh waktu sebentar Lebih sedikit Lebih murah Lebih sering Lebih jarang Lebih lama Lebih lama Appendektomi laparoskopi Lebih lama Lebih banyak Lebih mahal Lebih jarang 3x lebih sering Lebih cepat Lebih cepat Sumber : Jaffe & Berger. Infeksi dapat mengenai subkutaneus dan rongga abdomen. 2005 KOMPLIKASI POST OPERATIF Infeksi merupakan komplikasi paling sering setelah tindakan operasi dari appendicitis. Insidens terjadinya komplikasi tersebut tergantung pada beratnya suatu appendicitis. umur pasien.

dan infeksi pada luka. abses. mempunyai rata-rata tertinggi.9 / 100. rata-rata terjadinya perforasi dari Anak usia < 5 tahun dan orang tua > 65 tahun appendiks adalah 25. PROGNOSIS Mortalitas akibat appendicitis menurun dari 9.2 / 100. Secara keseluruhan.000 tahun 1939 menjadi 0. Adanya yang mengatakan lebih baik untuk melakukan delayed primary wound closure. 17 .000 pada tahun 1986.2 . Morbiditas terjadi pada 3% pasien tanpa perforasi dan 47% pada pasien dengan perforasi. VI.Pada umumnya pasien dengan appendicitis akut tanpa perforasi. Komplikasi serius yang dapat terjadi antara lain sepsis. Sedangkan untuk abses intraabdominal dilakukan drainage percutaneus dan antibiotik intravena. Mortalitas dapat terjadi apabila terjadi ruptur sebelum operasi (± 3%). insidens terjadinya infeksi < 5% dan pembentukan abses abdominal < 1%.8%. Penanganan dari luka pada appendicitis dengan komplikasi masih merupakan kontroversi. Ada juga yang mengatakan bahwa penutupan luka operasi dengan jahitan subkutikuler dapat dilakukan dan disertai dengan pemberian antibiotik. APPENDICITIS PERFORASI Tindakan appendektomi segera sudah sejak lama direkomendasikan untuk mengobati appendicitis akut karena telah diketahui resikonya besar untuk terjadinya ruptur. Infeksi post operatif masih dapat terjadi sekitar 30% pada kasus appendicitis gangrenosa atau appendicitis perforasi.

mulai dari terjadinya peritonitis umum sampai pembentukan abses kecil yang dapat mengubah gejala dan tanda dari appendicitis. Konsekuensi dari terjadinya ruptur ini dapat bervariasi. tetapi terapi non operatif meningkatkan morbiditas dan mortalitas yang berhubungan dengan ruptur appendiks. rasa nyeri yang lebih parah. Ruptur appendiks terutama terjadi pada distal dari obstruksi lumen. Keterlambatan dalam mencari perawatan medis. dan arteriosklerosis. adanya fekalit dalam lumen. • GEJALA DAN TANDA Ruptur ini harus dicurigai bila ada demam yang > 39oC. Perforasi yang terjadi pada wanita muda akan meningkatkan resiko infertilitas tuba sekitar 4 kali lipat.• FAKTOR RESIKO Tidak ada cara yang akurat untuk membedakan kapan dan appendiks yang bagaimana yang akan mengalami ruptur karena proses inflamasi. keterlambatan berobat. Biasanya ruptur jarang terjadi dalam 12 jam pertama. dan leukosit > 18. Walaupun disarankan observasi dan terapi antibiotik saja untuk mengobati appendicitis akut. Faktor yang mempengaruhi tingginya insidens perforasi pada orang tua adalah adanya gejala yang samar. 18 . anak kurang komunikatif sehingga memperpanjang waktu diagnosis dan proses pendindingan yang kurang sempurna akibat perforasi berlangsung cepat dan omentum anak belum berkembang. dan umur (orang tua atau anak muda) merupakan faktor yang dapat menyebabkan terjadinya ruptur / perforasi. adanya perubahan anatomi appendiks berupa penyempitan lumen.000 / mm3. Sedangkan insidens tertinggi pada anak disebabkan oleh dinding appendiks yang masih tipis.

dan peristaltik yang berkurang terlihat pada pasien yang mengalami peritonitis. dan kehilangan integritas lapisan submukosa. ♣ Adanya gambaran free air (jarang) Sedangkan kriteria USG untuk mendiagnosis appendicitis yang sudah mengalami perforasi adalah adanya cairan. distensi abdomen. ♣ Tanda-tanda obstruksi usus seperti garis-garis permukaan cairan-cairan akibat paralisis usus-usus lokal di daerah proses infeksi.• PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah dengan foto polos abdomen. ♣ Penebalan dinding usus di sekitar letak appendiks. seperti caecum dan ileum. sedangkan peritonitis umum biasanya terjadi karena perforasi besar sehingga isi lumen masuk ke dalam rongga peritoneum. • KOMPLIKASI Peritonitis Peritonitis lokal diakibatkan oleh perforasi mikroskopik dari appendiks gangrenosa. 19 . Gambaran foto polos pada appendicitis dengan perforasi adalah : ♣ Gambaran perselubungan lebih jelas dan dapat tidak terbatas di kuadran kanan bawah. massa periappendiceal. Gejala-gejala seperti peningkatan kekakuan otot abdomen. ♣ Skoliosis ke kanan. ♣ Garis lemak pra peritoneal menghilang.

♣ Adanya riwayat serangan akut appendicitis yang hanya ditangani dengan obatobatan. Inflamasi lokal ringan setelah serangan appendicitis akut dapat mengakibatkan rasa tidak enak yang kronik pada kuadran kanan bawah. penanganannya hampir sama dengan appendicitis gangrenosa. hal ini dapat terjadi.• TERAPI Pada appendicitis yang mengalami perforasi. Pasien dengan appendicitis perforasi sudah mengalami peritonitis dan membutuhkan antibiotik spektrum luas secara intravena yang harus diberikan sesegera mungkin. bisa 7 sampai 10 hari atau setelah pasien bebas panas dengan leukosit yang normal. Kebanyakan dari pasien-pasien ini mengalami penurunan volume cairan sehingga membutuhkan waktu 2 jam atau lebih untuk resusitasi cairan sebelum operasi. • GEJALA DAN TANDA Gejala klinisnya dikarakteristikan dengan : ♣ Rasa nyeri lebih lama (bisa 3 minggu atau lebih) dan intensitasnya lebih rendah daripada appendicitis akut tetapi gejala berada pada lokasi yang sama. APPENDICITIS KRONIK Adanya kronik atau appendicitis rekuren adalah hal yang kontroversial.3. dan walaupun jarang. Obstruksi intermiten dari lumen appendiks dengan remisi spontan dicuragai sebagai penyebabnya. Perawatannya membutuhkan waktu lebih lama. VI. 20 . Insidensnya antara 1 – 5%.

Adanya riwayat serangan rasa sakit pada abdomen kuadran kanan bawah yang lebih dari 1 bulan dengan 3 kali serangan atau lebih. gejalanya menghilang dan pada pemeriksaan histologinya didapatkan bahwa appendiksnya abnormal. muntah. malaise • PEMERIKSAAN PENUNJANG Computed Tomography CT-scan dari pasien dengan rekuren atau appendicitis kronik memberikan gambaran yang mirip dengan appendicitis akut. 2. Rasa tidak enak pada abdomen kuadran kanan bawah tanpa adanya tandatanda iritasi atau inflamasi peritoneal. adanya jaringan parut dan ulkus lama di mukosa.♣ Insidens muntah berkurang ♣ Anoreksia. 21 . sumbatan parsial atau total lumen appendiks. Pasien yang telah melakukan appendektomi. nyeri dengan gerakan. 3. non filling atau partial filling dari appendiks setelah 24 jam atau non emptying appendiks setelah 72 jam. Sedangkan kriteria mikroskopik untuk appendicitis kronik adalah fibrosis menyeluruh dinding appendiks. Pada pemeriksaan barium enema didapatkan irregular filling. • DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan bila memnuhi 3 kriteria : 1. dan infiltrasi sel inflamsi kronik.

22 . Sensitivitasnya mencapai 78% dan spesifisitas 94%. Dengan appendektomi.Diagnosis pasti dengan operatif. gejala menghilang 82 – 93%. Untuk terapi dilakukan appendektomi.

23 .

Kartono. Available at : http:// www. In Doherty. Jakarta. J W (Ed). Edisi ketiga. In Reksoprodjo. Appendicitis. A. Appendix. 2005. 112. Apendisitis Akuta. Available at : http://pathologyoutlines.com/emerg/topic41. 1995. G M (Ed). Page 648 – 52. D H. Jaffe.emedicine.htm. Media Aesculapius. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2005). Jakarta. W D. Jakarta. Acute.com/appendix. Available at : http://digestive.34. dan Anorektum. S (Ed).niddk.htm. Current Surgical Diagnosis and Treatment. Way. Dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. 2006. The appendix.. 8th Edition. Suprohaita.nih. L W.com/appendicitis/article. Page 110. Craig. McGraw Hill. United States of America. Appendicitis and Appendectomy. (Last updated : May 26th. Appendix. W I. 2000. Wardhani.gov/ddiseases/pubs/ appendicitis/index. Penerbit Buku Kedokteran EGC.php?doc=PI08. 24 . 1997. Sjamsuhidajat.DAFTAR PUSTAKA Appendicitis.medicinenet. United States of America. In Schwartz’s Principles of Surgery. D.org/sages publication. Kolon. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Page 1119 . Lee. 12th Edition.html#normal anatomy. Berger. S. International Edition. Available at : http://www. 2006. Apendiks. Hal 865 . Edisi Revisi. 2006. McGraw Hill.. A Lange Medical Book. Apendisitis.htm.sages. Available at : http://www. Mansjoer. 2006. D.. B M. Bagian Bedah Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. UsusHalus. In Kapita Selekta Kedokteran. Laparoscopic Appendectomy. Jong. In Marks. R. 2006. Setiowulan W.75. Jilid 2. Page 310.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->