You are on page 1of 111

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tinjauan Umum Kabupaten Nunukan

4.1.1 Administrasi dan Geografi Wilayah Kabupaten Nunukan terletak di daerah khatulistiwa sehingga

dipengaruhi iklim tropis basah dengan karakteristik yang khas, yakni curah hujan cukup tinggi dengan penyebaran merata sepanjang tahun. Di Wilayah Kabupaten Nunukan tidak terdapat pergantian musim yang jelas antara musim kemarau dan musim hujan. Berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan, Wilayah Kabupaten Nunukan termasuk dalam 2 (dua) wilayah utama, yaitu: − Wilayah hujan bagian barat dengan curah hujan maksimum yang umumnya terjadi pada Januari atau Mei. Curah hujan rata-rata lebih dari 266,5 mm. Hujan maksimum sekunder terjadi pada April-Juni, sedangkan hujan minimum terjadi pada Februari. Kecamatan yang termasuk dalam wilayah ini yaitu Kecamatan Krayan, Krayan Selatan, dan sebagian wilayah Kecamatan Lumbis, Sebuku, dan Sembakung. − Wilayah hujan bagian timur dengan curah hujan maksimum terjadi pada bulan April atau Mei. Hujan minimum umumnya terjadi pada bulan Juli-Agustus dengan curah hujan rata-rata 188,95 mm, tetapi curah hujan rata-rata tahunan lebih kecil dibandingkan curah hujan pada bagian kawasan pesisir, yaitu sebesar 199,5 mm. Kecamatan yang termasuk dalam wilayah ini adalah Kecamatan Nunukan, Sebatik, sebagian Kecamatan Sebuku, Lumbis, serta Sembakung.

Secara administratif wilayah Kabupaten Nunukan dibagi sembilan wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Nunukan, Kecamatan Nunukan Selatan, Kecamatan Sebatik, Kecamatan Sebatik Barat, Kecamatan Sebuku, Kecamatan Sembakung, Kecamatan Lumbis, Kecamatan Krayan, dan Kecamatan Krayan Selatan. Berdasarkan hasil penataan wilayah desa/kelurahan di Kabupaten Nunukan, telah terjadi pemekaran kecamatan. Sebelum pemekaran, Sebuku masuk ke dalam Kecamatan Nunukan dan saat ini sudah menjadi kecamatan sendiri. Selain itu, Kecamatan Krayan mengalami pemekaran menjadi Kecamatan Krayan dan Kecamatan Krayan Selatan.

49 Kabupaten Nunukan memiliki luas 14.263,68 km2. Pada tahun 2007 (Kabupaten Nunukan dalam Angka, 2008) Kabupaten Nunukan dihuni oleh 125.585 jiwa dengan kepadatan penduduk 8 jiwa per kilometer persegi. Kabupaten Nunukan sendiri terletak pada posisi 1150 33’ - 1180 3’ Bujur Timur serta 30 15’ 00’’ - 40 24’ 55’’ Lintang Utara. Persentase luas wilayah per kecamatan dapat dilihat pada Gambar 6.

Krayan Selatan 12,31% Krayan 12,88% Sebatik 0,73%

Sebatik Barat 1,00%

Lumbis 25,56%

Sebuku 21,91%

Nunukan 11,19%

Sembakung 14,41%

Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka, 2008

Gambar 6. Persentase luas wilayah per kecamatan Kabupaten Nunukan merupakan wilayah paling utara dari Provinsi Kalimantan Timur. Posisinya yang berada di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia

menjadikan Kabupaten Nunukan sebagai daerah yang strategis dalam peta lalu lintas antarnegara. Peta administrasi dapat dilihat pada Gambar 7. Wilayah Kabupaten Nunukan terdiri dari dataran tinggi dan pegunungan. Sebagian besar didominasi oleh satuan fisiografi dataran tinggi dan pegunungan dengan luas 679.457 ha atau 47,63% dari luas wilayah. Dataran tinggi dengan kelerengan yang bervariasi merupakan wilayah paling luas yaitu mencapai 488.962 ha atau 34,28% dari luas wilayah. Peta fisiografis Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 8.

50

Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan, 2008

Gambar 7. Administrasi Kabupaten Nunukan

Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan, 2008

Gambar 8. Peta fisiografis Kabupaten Nunukan

000 m 0. Persentase penyebaran dan luas ketinggian daerah Kabupaten Nunukan Kelerengan wilayah daratan Kabupaten Nunukan bervariasi. Kawasan di bagian utara dan selatan Kabupaten Nunukan lebih didominasi oleh kawasan dengan kelerengan rendah yaitu di bawah 15%. 1. Sebatik.808 ha atau 50. Jenis tanah yang luasnya paling kecil yaitu alluvial/gambut sebesar 50. sedangkan kawasan yang memiliki tingkat kelerengan di atas 15% banyak terdapat di kawasan barat dan tengah Kabupaten Nunukan.2.02% 1.2 Ketinggian dan Kemiringan Wilayah daratan Kabupaten Nunukan terletak pada ketinggian antara 0 hingga 1.500 mdpl (meter di atas permukaan laut) ketinggian 0 sampai 100 mdpl meliputi areal seluas 716.1. Jenis tanah Kabupaten Nunukan yaitu tanah alluvial yang hampir seluruhnya terdapat di Kecamatan Nunukan. .25% 500 .02%.3 Jenis Tanah Jenis tanah yang terdapat di Wilayah Kabupaten Nunukan hanya delapan jenis tanah dan yang paling luas adalah podsolik/regosol sebesar 410.000 m 19. sedangkan di Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan tidak terdapat sama sekali. Sebuku. 4.896 ha atau sebesar 3. dan Sembakung.1.51 4. dan Lumbis.79%.25% dari luas Wilayah Kabupaten Nunukan.000 .1. 2008 Gambar 9.500 . Krayan Selatan.486 atau 28.7% dari luas wilayah.87% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. Persentase penyebaran dan luas ketinggian daerah di Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 9. Tanah alluvial/gambut hanya terdapat di Kecamatan Lumbis dengan luasan 837 ha.500 mdpl hanya seluas 246 ha atau sebesar 0. Wilayah yang terletak pada ketinggian lebih dari 1.100 m 50.500 m 10.1.500 m 18.98% 100 .87% 0 . Jenis tanah ini umumnya terdapat di Kecamatan Krayan.

442 ha atau 37. sedang.66% dari luas wilayah kecamatan. dan kasar. Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Wilayah Kabupaten Nunukan dengan kedalaman tanah antara 30 . dengan luas 1. Penyebaran dan luas masing-masing kelas tekstur tanah wilayah daratan di Kabupaten Nunukan untuk Kecamatan Sebatik dengan luas wilayah 27.642 ha atau 9.68% dari total luas kecamatan. tekstur sedang dengan luas 17.24% dari total luas wilayah Kabupaten Nunukan. Sebagian besar wilayah Kabupaten Nunukan memiliki kedalaman tanah 30 60 cm dan >90 cm.67% dan gambut 2. 2008 Gambar 10.52% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan. Tekstur tanah adalah perbandingan partikel liat.52 Kabupaten Nunukan memiliki kedalaman efektif tanah yang bervariasi antara kurang dari 30 cm sampai lebih dari 90 cm. Wilayah Kabupaten Nunukan yang memiliki kedalaman tanah >90 cm seluas 711.489 ha atau 67.60 cm seluas 600.383 ha atau 63. Kedalaman efektif tanah merupakan kedalaman tanah yang menyebabkan akar tanaman masih bisa tumbuh dengan baik.545 ha atau 12. debu. dan pasir yang terdapat pada suatu gumpalan tanah. Peta jenis tanah Kabupaten Nunukan .25% dari total luas wilayah Kabupaten Nunukan. wilayah Kabupaten Nunukan mempunyai tekstur tanah halus. Peta jenis tanah Kabupaten Nunukan dapat dilihat di Gambar 10. Ditinjau dari tekstur tanah.097.303 ha dengan kelas tekstur tanah halus seluas 7.278 ha atau 26. Tekstur tanah di Kabupaten Nunukan sebagian besar mempunyai tekstur tanah sedang.

dari hutan nonproduksi (hutan alam) menjadi lahan pertanian. dan bantaran sungai. . Di sektor pertanian dan perkebunan hampir merata di semua kecamatan.084 ton pada tahun 1997 menjadi 44. Sebagian besar pemukiman penduduk di Kabupaten Nunukan yang berada di kawasan pesisir menempati daerah dataran rendah. Hasil pengamatan terhadap pola pemanfaatan lahan di Kecamatan Nunukan menunjukkan bahwa sebagian besar lahan dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.4 Pola Penggunaan Lahan Persebaran penduduk di Kabupaten Nunukan tidak merata.1. Hal ini disebabkan oleh adanya aktivitas manusia. Kegiatan pertanian yang berkembang dapat dilihat dari peningkatan lonjakan kenaikan produksi padi dan palawija dari 20.436 ton pada tahun 2007 (BPS Kabupaten Nunukan 2008). Kecenderungan lonjakan produksi pertanian ini besar kemungkinannya diperoleh melalui perluasan lahan pertanian dalam jumlah yang besar. perikanan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam periode hampir sepuluh tahun. dan perikanan terkonsentrasi pada pada Kecamatan Nunukan dan Sebatik. dan pelayanan jasa. Peta pola penggunaan lahan berdasarkan RTRW disajikan pada Gambar 11. telah terjadi perubahan fungsi lahan. perdagangan. sebagian besar penduduk mendiami wilayah pesisir. lahan konsesi untuk kegiatan pertambangan minyak dan gas bumi. Perkembangan penggunaan tanah di wilayah Kabupaten Nunukan dari waktu ke waktu mengalami perubahan. kehutanan. Jumlah penduduk yang relatif besar cenderung mengelompok di daerah perkotaan. Jenis mata pencaharian penduduk di kawasan pesisir Kabupaten Nunukan bervariasi dengan kecenderungan pada aktivitas kehutanan.53 4. perikanan. di tepi pantai. Jenis-jenis penggunaan lahan terdiri atas pemukiman. serta lahan untuk fasilitas umum. Mata pencaharian di sektor perdagangan. pertanian (meliputi penggunaan lahan untuk perkebunan dan persawahan). muara-muara sungai kecil. pertanian. terutama daerah yang mempunyai aktivitas ekonomi yang cukup tinggi yang ditandai dengan adanya sarana transportasi dan keadaan ekonomi masyarakatnya yang memadai. pelayanan jasa.

426. Hutan lindung jaraknya relatif jauh dari permukiman yang ada.1.1 Kehutanan Hutan yang terdapat di Kabupaten Nunukan seluas 1. Kabupaten Nunukan memiliki kawasan hutan lindung seluas 167. sedangkan hutan sejenis berupa hutan reboisasi tanaman industri dari pemegang HPH.428 ha atau 11.54 POLA PENGGUNAAN LAHAN Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Hutan produksi pada umumnya telah diusahakan/ditebang oleh pemegang HPH maupun bekas ladang penduduk yang telah ditinggalkan. Sebagian besar wilayah hutan merupakan kawasan budi daya nonkehutanan seluas 470.368 ha yang terdiri dari hutan taman nasional.01% dari kawasan hutan seluruhnya.4. hutan lindung. . dan hutan produksi (kawasan hutan dan kawasan budi daya nonkehutanan).7% dari luas wilayahnya. Peta pola penggunaan lahan 4. 2008 Gambar 11.914 ha atau 33. Peta kesesuaian lahan untuk hutan lindung di Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 12.

58% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan. tegalan. dan padi gunung. pisang.2 Pertanian Kelompok pertanian lahan kering meliputi kebun campuran. Kebun campuran adalah penggunaan lahan kering yang sifatnya menetap atau kombinasi tanaman semusim dan tanaman keras. Luas penggunaan untuk pertanian lahan kering 8.55 Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. dan ladang. Tegalan adalah pertanian lahan kering dengan jenis tanaman semusim seperti tanaman ketela pohon.304 ha atau 0. tetapi sifatnya hanya sementara antara satu hingga tiga kali musim panen. ditanami dengan jenis tanaman semusim. nangka. dan lain-lain. Peta kesesuaian lahan pertanian di Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 13.1.4. Ladang seperti halnya tegalan. durian. Peta kesesuaian lahan untuk hutan lindung 4. Penggunaan lahan pertanian lainnya pada umumnya merupakan campuran tanaman kopi. 2008 Gambar 12. rambutan. .

4 Perikanan Kabupaten Nunukan selain mempunyai potensi perikanan tangkap. Dalam rangka pengembangan sektor perkebunan di Kabupaten Nunukan. Di samping itu. sedangkan akhir-akhir ini berkembang pola kemitraan dengan komoditas unggulan yaitu sawit. Peta kesesuaian lahan untuk pertanian 4. PIR/NES.56 Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan.1. juga perikanan budi daya seperti tambak/kolam berupa areal dengan penggenangan permanen yang telah mendapat campur tangan manusia baik itu berupa kolam air tawar maupun air laut atau yang telah dikenal dengan tambak. kelapa. aren. 2008 Gambar 13. dan perkebunan besar baik oleh negara maupun swasta. dan jambu mete. lada.3 Perkebunan Perkebunan yang dimaksud yaitu perkebunan dengan jenis tanaman keras monokultur.24% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan. baik perkebunan rakyat. pala. diterapkan pembinaan dengan menggunakan pola partial/swadaya. kelapa sawit. Budi daya tanaman perkebunan utama yang mendapat pembinaan secara khusus antara lain budi daya tanaman karet.1. maupun perkebunan swasta. Luas penggunaan lahan perkebunan yaitu 17. budi daya lainnya bersifat introduksi dan dikembangkan secara diversifikasi seperti vanili. kakao.4. perkebunan besar.731 ha atau 1. 4. Rawa-rawa yang merupakan areal penggenangan permanen dan dasarnya yang dangkal ditumbuhi . kopi. dan cengkeh.4.

dan Sungai Krayan.Emas. Minyak bumi terdapat di Kecamatan Krayan. Krayan Selatan. terdapat di Sungai Nyamuk. Pulau Nunukan. Muara Bukat (Kecamatan Nunukan). .57 tumbuh-tumbuhan besar yang umumnya berupa rerumputan rawa dan semak belukar. terdapat juga di Kecamatan Krayan. terdapat di Kecamatahn Krayan.Andesit. Pulau Nunukan.05%. belum terdapat studi terperinci tentang jumlah kandungan cadangan mineral yang ada. terdapat di Pasir Putih. Luas penggunaan lahan kolam/tambak/rawa seluas 16.5 Pertambangan Pengembangan pertambangan di Kabupaten Nunukan hingga saat ini belum termanfaatkan secara optimal. terdiri dari: . dan Sembakung. terdapat di Kecamatan Nunukan . Kandungan batu bara yang terdapat di Simenggaris sedang diuji kandungannya oleh perusahaan swasta P. batu bara juga terdapat di Kecamatan Krayan. Pulau Sebatik.Gamping.295 ha atau 1. . 2. .4. yaitu minyak bumi dan batu bara. Hulu Sungai Sembakung (Kecamatan Lumbis). Krayan Selatan. Selain itu.Pasir kuarsa. Selain di Simenggaris. terdapat di sekitar Sungai Sedadap. padahal Kabupaten Nunukan memiliki beberapa potensi pertambangan yang dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan. Bahan Galian golongan vital (golongan B).1.Gips. Sembakung. Bahan galian golongan strategis (golongan A). Bahan Galian Golongan C. dan Kecamatan Sembakung. dan Sebatik. dengan kandungan CaO kandungan CaO 55.T. Anugerah Jati Mulya. terdapat di Hulu Sungai Sebuku (Kecamatan Nunukan). terdiri dari: . tetapi jumlah cadangan yang ada diperkirakan tidak banyak. yaitu: 1.Bahan galian setengah permata (half precious probing material) di Sungai Bilal.2% dan MgO 0. 4. Minyak bumi yang terdapat di Muara Bukat dan Muara Sungai Sembakung telah dieksploitasi oleh Pertamina. dan Muara Sungai Sembakung (Kecamatan Sembakung). Pulau Nunukan. Walaupun demikian. . 3.Batu gunung.14% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan. .

Perumahan Perkotaan Berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan. Sembakung. tempat olahraga. Peta kesesuaian lahan untuk permukiman a.1. perkantoran. Kecamatan Lumbis.4. di pengembangan Sebatik kawasan permukiman juga akan dikembangkan Pulau (dua kecamatan). demikian juga permukiman transmigrasi. dan Krayan Selatan merupakan bagian dari wilayah perbatasan negara di Kabupaten Nunukan. 2008 Gambar 14.15%) − Tidak berada pada daerah banjir . kuburan baik yang di perkotaan maupun pedesaan. Luas penggunaan untuk permukiman ini adalah 7. Kesesuaian lahan untuk permukiman dapat dilihat pada Gambar 14.58 4. Krayan Induk. Pengembangan kawasan permukiman tersebut mendorong terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah perbatasan negara yang berbasis potensi SDA wilayah. deliniasi kawasan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan menggunakan kriteria-kriteria sebagai berikut: − Kemiringan lereng relatif landai (0 .6 Permukiman Penggunaan lahan permukiman meliputi perumahan.05% dari luas wilayah Kabupaten.130 ha atau sekitar 0. Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Selain dikembangkan di Pulau Nunukan sebagai kawasan perkotaan dengan pusat pemerintahan. taman.

Pengembangan permukiman perkotaan harus didasarkan pada sistem prasarana dasar yang artinya pengembangan permukiman perkotaan harus didasarkan pada penataan bangunan dan lingkungan yang serasi dan seimbang.59 − Tidak berada pada daerah resapan air − Tersedia air baku yang cukup − Bebas dari bahaya gangguan geologi lingkungan − Mempunyai tingkat aksesibilitas dan dapat dijangkau − Tidak berada pada daerah rawan gempa − Berada dekat pusat kota − Tidak berada dalam kawasan lindung Berdasarkan kriteria tersebut. Sehubungan dengan potensi pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan. dan perumahan. serta kota-kota kecamatan lainnya. air kotor.Harus mempertimbangkan badan sungai yang ada sebagai saluran penerima . meliputi sistem drainase. jalan lingkungan. di bagian Pulau Sebatik. air sungai juga dimanfaatkan sebagai bahan baku air bersih harus melalui pengelolaan sehingga memenuhi kelayakan sebagai air bersih yang siap untuk dikonsumsi masyarakat. Pengembangan permukiman minimal harus menghindari lahan-lahan pertanian yang produktif. areal potensial dikembangkan untuk kegiatan permukiman perkotaan terletak di Pulau Nunukan atau Kota Nunukan. Dapat dibangun akomodasi perkotaan serta sarana sosial-ekonomi yang dapat memfungsikan kota tersebut sebagai pendorong pengembangan kawasan sekitarnya atau daerah hinterland-nya. air bersih. 2. persampahan. 6. Pembangunan unit-unit permukiman diwajibkan untuk menyediakan lahan kuburan. Pemanfaatan air tanah sebagai sumber air bersih untuk kebutuhan penduduk perkotaan dan sistem aktivitas. tata ruang. Sistem prasarana drainase: . 5. 4. Selain itu. minimum 5% dari luas areal pengembangan perkotaan. diperlukan pengaturan ruang sebagai berikut: 1. Pengembangan sarana dan prasarana ekonomi yang ada disesuaikan dengan potensi daerah belakangnya. 3.

.

erosi. . Pada lereng atau tanah yang peka terhadap erosi harus ada rekayasa teknis sehingga kekeruhan drainase tidak semakin pekat . dan organosol dengan kemiringan <15%. rezina. dan longsoran tidak terdapat di Kabupaten Nunukan. Bukan daerah kritis/bahaya lingkungan beraspek geologi. 6. Adapun permukiman desa yang terletak di daerah bahaya geologi lingkungan. Untuk meningkatkan recharge air tanah. b.000 mdpl. 2.000 mdpl. Tidak berada dalam kawasan berfungsi lindung. seperti patahan aktif. Kemiringan lereng relatif landai 0 . 7. 4. Sistem air bersih: Pengambilan air baku diutamakan dari air permukaan (sungai) dengan melakukan pengelolaan sehingga layak untuk dijadikan air minum dan kebutuhan air bersih lainnya.- Koefisien aliran permukaan (run off) tidak lebih dari 25%. Kapasitas kemampuan pelayanan didasarkan pada perhitungan kebutuhan air bersih rata-rata 100 liter/orang/hari. 7.Perhitungan drainase berdasarkan banjir 10 sampai 25 tahun. Kemiringan tanah <30%. 3. Kedalaman efektif tanah > 30 cm. seperti daerah patahan aktif. kecuali desa-desa yang sudah ada di atas ketinggian 1. dianjurkan untuk membuat sumur resapan terutama pada tanah yang stabil dan mempunyai daya serap tinggi. Ketinggian <1.15%. sesuai dengan standar hidup perkotaan. delineasi pengembangan kawasan permukiman pedesaan di Kabupaten Nunukan menggunakan kriteria-kriteria sebagai berikut: 1. Mempunyai sistem dan atau potensi pengembangan pengairan dan drainase. litosol. erosi. dan longsoran.500 mdpl. 5. Perumahan Pedesaan Berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan. kecuali jenis tanah regosol. Permukiman desa yang tidak sesuai dengan kriteria di atas tetap dipertahankan terutama di desa yang terdapat pada kawasan Taman Nasional Krayan Mentarang yang terletak di ketinggian di atas 1.

2. 4.96% dan Kecamatan Sebatik sebesar 16. kesehatan.Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada desa-desa di daerah kritis. Namun. Pada desa-desa yang berada di daerah aliran sungai perlu dikembangkan pelabuhan sungai yang berskala lingkungan. selain sarana prasarana sosial lainnya. digunakan akses sungai sebagai pintu keluar masuk desa. 6. 4. Pengembangan jalan lainnya dapat diintegrasikan dengan pengembangan lahan usaha masyarakat. Diperkenankan bangunan yang menunjang fungsi kawasan/kegiatan utama untuk kepentingan umum. Permukiman penduduk lokal/desa-desa yang berada pada kawasan lindung tetap dipertahankan. melalui pengembangan kawasan budi daya. Berdasarkan potensi pengembangan permukiman perdesaan di Kabupaten Nunukan. dan sarana budaya. . Perlu disesuaikan secara dini agar permukiman perdesaan yang berbasis sentra pertanian tidak berubah menjadi permukiman perkotaan agar pertanian produktif tetap dapat dipertahankan serta konservasi tanah dan air tanah dapat dilakukan dengan baik. Pengembangan jalan sesuai dengan kebutuhan dan juga disesuaikan dengan karakteristik masing-masing desa. jumlah terbesar di Kecamatan Nunukan sebesar 42. peribadatan. Bagi desa-desa yang terletak di daerah aliran sungai. Secara keseluruhan distribusi berdasarkan kecamatan terlihat pada Gambar 15. perlu dilakukan pengaturan ruang sebagai berikut: 1. diusahakan untuk dimukimkan kembali ke dalam kawasan yang sesuai untuk permukiman. dan tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat) atau usaha tani.5 Kondisi Penduduk di Kabupaten Nunukan Keadaan penduduk di Kabupaten Nunukan berdasarkan distribusi menurut kecamatan. Permukiman pedesaan memiliki kepadatan maksimum lima rumah/hektar dan KDB maksimum 5%. seperti fasilitas pendidikan. 3. Dapat dibangun sarana sosial-ekonomi berdasarkan kebutuhan sesuai dengan karakteristik tiap desa. 2008).15% (Kabupaten Nunukan dalam Angka. 5. tetapi desa-desa berada dalam kawasan lindung.1. baik budi daya pertanian maupun budi daya kehutanan.

33.72% Krayan Selatan 1.90 1.29 .90 104.19 14.52 jiwa/keluarga dengan jumlah rumah tangga sebanyak 2.81% Lumbis 7.78% Krayan 6.54 1.2 jiwa/km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 20.596.951 11. Tabel 5.24 77.503 53.46 3.77 3.380 8.56 8. Luas wilayah.15% Sebuku 9.57 4.283 11.42 142.42 km2.14 33.645.271 9.6 jiwa/km2.68 Jumlah Penduduk (Jiwa) 8.124. kepadatan penduduk yang ada hanya berkisar antara 1. Kepadatan Kecamatan Sebatik Barat yaitu 77.438 2.731 jiwa.80 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. yaitu 194. 2008 Rata-rata jiwa per rumah tangga terbanyak terjadi di Kecamatan Sebuku dengan jumlah rata-rata sebanyak 4.585 Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km²) 4. jumlah penduduk dan kepadatan penduduk tahun 2007 Kecamatan Krayan Krayan Selatan Lumbis Sembakung Nunukan Sebuku Sebatik Sebatik Barat Jumlah Luas Wilayah (km²) 1.59 1.028 125.96% Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.Sebatik Barat 8.283 jiwa dan luas wilayah 104.34% Nunukan 42.79 jiwa/km2. Distribusi penduduk Kabupaten Nunukan menurut kecamatan 2007 Berdasarkan kepadatan penduduk dari delapan kecamatan yang ada terlihat bahwa Kecamatan Sebatik memiliki kepadatan penduduk tertinggi. .055.77% Sebatik 16.79 3.837. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5. Di kecamatan lainnya.75 194.29 2.50 2.756.47% Sembakung 6.263.731 20.593 KK dan jumlah penduduk sebanyak 11. 2008 Gambar 15.

baik dalam bidang ekonomi. Kelancaran perhubungan antarkecamatan.Tabel 6.028 3. Lancang – Mamolo . dan keamanan. dengan jarak ± 51.323 19.60 km.1.951 14.283 5. .17 Lumbis 9.707 30.503 2.380 2.527 19. rumah tangga dan rata-rata jiwa per rumah tangga tahun 2007 Rata-Rata Jiwa/ Penduduk Rumah Tangga Kecamatan (jiwa) (kk) Keluarga Krayan 8. Peranan perhubungan sangat vital dalam menunjang kegiatan pembangunan terutama darat.68 Sebuku 11.653 3.702 3. 2008 4.Aji Kuning . Program pembangunan jalan Kabupaten Nunukan untuk pertumbuhan ekonomi yaitu: Pembangunan Jalan Lingkar Pulau Nunukan antara lain sebagai berikut: Binusan – Sungai.41 Jumlah 125.Binusan.93 Sebatik Barat 11.235 3. Pembangunan Jalan Lingkar Pulau Sebatik antara lain sebagai berikut Bambangan – Setabu – Sungai.alun-alun – Sedadap – Sungai. Jumlah penduduk.81 Nunukan 53.50 km. dengan jarak ± 58. kota kecamatan.271 545 4.895 3.163 3.56 2003 106.398 18.44 2002 97.731 2. Jepun – Tanjung.1. dan subsektor perhubungan udara.585 32.1 Jalan dan Angkutan Sungai Prasarana dan sarana perhubungan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menunjang kegiatan pembangunan.593 4.6 Kondisi Prasarana dan Sarana 4. dan pedalaman/kawasan pedesaan akan mempercepat jalanya roda pembangunan.860 5.16 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.6.438 1.210 32. Prasarana jalan menjadi faktor utama dalam mendukung lancarnya mobilisasi kegiatan pembangunan di daerah. Prasarana perhubungan meliputi subsektor perhubungan darat.52 Sebatik 20. Aru – Sungai. subsektor perhubungan air. subsektor perhubungan laut.40 Krayan Selatan 2. Pancang Sungai Nyamuk . sosial. Harapan – Sungai. Bilal .230 3.917 4.366 3. Fatimah – Sungai.96 Sembakung 8.685 5.50 2004 109. Taiwan – Tanjung.84 2006 118. kabupaten.546 5.92 2005 115.Bambangan.245 3.

Kecamatan Lumbis (Mansalong).43 km. - Pembangunan jalan lintas kecamatan. Jaringan jalan ke lokasi rencana PPN untuk daerah Sungai Mensapa dapat langsung dijangkau oleh kendaraan roda empat dengan baik karena keberadaan .Kecamatan Sembakung (Atap). dan jalan tanah. dengan jarak ± 235 km.79 km. jalan provinsi. Hubungan antaribukota kecamatan di dalam kabupaten sebagian besar masih menggunakan jalur angkutan laut dan sungai. Jaringan jalan kabupaten relatif masih terbatas dibandingkan dengan luas wilayah administrasi Kabupaten Nunukan. dengan jarak ± 65. . semua ibukota kecamatan maupun desa-desa yang ada dapat dijangkau dengan jalan darat.Long Padi – Binuang . dengan jarak ± 87. yang menghubungkan kecamatankecamatan di Kabupaten Nunukan melalui: . Jaringan jalan yang ada di Kabupaten Nunukan terbagi atas jalan negara.60 km.63 km.Wa Yagung Long Bawan. masih diusulkan penetapannya ke tingkat provinsi/pusat.Kecamatan Krayan (Long Bawan). jalan berbatu/diperkeras.Kecamatan Lumbis (Mansalong) .Kecamatan Lumbis (Mansalong) .Kabupaten Malinau . Layu . Berdasarkan jenis permukaannya. Belawit – Lembudud – Long.Kecamatan Sebuku (Pembeliangan) . dan jalan kabupaten. jaringan jalan darat dibagi menjadi jalan aspal.Kecamatan Sebuku (Pembeliangan) .Kecamatan Malinau Utara (Salap).Ba Liku – Bungayan . . sehingga memudahkan penduduk untuk berinteraksi dan beraktivitas walaupun sebagian besar jalan tersebut belum beraspal. dengan jarak ± 22. Pada jalan negara dan jalan provinsi. Meskipun demikian.- Pembangunan Jalan Lingkar Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan melalui Long Bawan – Kuala. dengan jarak ± 125 km. - Pembangunan jalan lintas negara yang menghubungkan Kabupaten Malinau dan Nunukan ke batas negara sejauh ± 180.Tang Laan – Tanjung. - Pembangunan jalan lintas kabupaten yang menghubungkan Kabupaten Nunukan dan Malinau yaitu Kecamatan Sebuku (Pembeliangan) . Pasir .

Sedadap.lokasi yang berdekatan dengan jalan lingkar Pulau Nunukan. Peta kesesuaian lahan untuk keterlintasan jalan dapat dilihat pada Gambar 17. dan Kampung Buton sudah tersedia jalan agregat yang dapat dilalui oleh mobil sampai ke rencana lokasi. dan tanah). termasuk wilayah perkotaannya. batu. Persentase panjang jalan disajikan pada Gambar 16. Aspal 16% Tanah 49% Kerikil 35% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. . Membuka isolasi daerah melalui pembangunan dan peningkatan jalan desa. Melanjutkan pembangunan ruas jalan baru dengan melengkapi kebutuhan rambu-rambu lalu lintas untuk keamanan dan ketertiban pemakai jalan. mencapai 816. Kondisi jaringan jalan di Nunukan dapat dilihat berdasarkan jenis permukaan jalan maupun kelas jalan. Pemeliharaan secara periodik dan rutin serta peningkatan jalan menuju ibukota kecamatan dengan konstruksi hotmix. Meningkatkan kelas jalan. Sebagian besar (53. 2. Jaringan jalan menuju Sungai Jepun.90 km. 3. 2008 Gambar 16. 4.5%) jaringan jalan yang ada masih merupakan jalan berpermukaan campuran (agregat antara jalan aspal. Pemerintah Kabupaten Nunukan merencanakan pengembangan prasarana jalan yang meliputi: 1. Persentase panjang jalan menurut jenis permukaan 2007 (km) Jumlah panjang jalan di wilayah Kabupaten Nunukan.

Tawau (setiap hari) Angkutan udara Tarakan . 3. alat angkutan utama yang digunakan adalah kapal laut dan udara. tidak hanya sebatas pada daerah pedalaman. 2008 Gambar 17.Nunukan Angkutan Kapal Laut Nunukan Toli – Makassar – Balikpapan . dan enam bandar udara air strip. 4. Tersedia jadwal rute angkutan sungai.Surabaya PP Angkutan sungai di Kabupaten Nunukan memegang peranan penting. Selain itu. Berdasarkan data Kantor Badan Statistik Kabupaten Nunukan tahun 2002. tetapi juga sangat berperan pada daerah yang sudah berkembang di sekitar pantai. Angkutan Sungai Tarakan . yakni sebagai berikut : 1. 2. untuk keperluan lokal (dalam kota) digunakan angkutan darat. dan udara yang melintasi Kabupaten Nunukan. sepanjang Sungai Sembakung yang menghubungkan daerah yang tersebar di sepanjang sungai mulai dari hulu ke hilir dan sepanjang sungai di Lumbis serta Krayan Selatan yang ada di wilayah pedalaman Kabupaten Nunukan. laut. Sistem angkutan sungai ini berkembang di sepanjang Sungai Sebuku (Sungai Tulid dan Sungai Tikung).66 Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan.Nunukan Terjadwal (setiap hari) Angkutan Sungai Antarnegara Nunukan . Peta kesesuaian lahan untuk keterlintasan jalan Pelayanan mobilisasi penduduk dan barang antarpulau. . dua bandar udara perintis. tercatat satu pelabuhan laut.

.Sesuai dengan sifat-sifat sungai. Sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan di Kabupaten Nunukan ini sebelumnya sangat potensial.6. 14 unit hidran. maupun penumpang ke dan dari pedalaman. peranan angkutan sungai demikian pentingnya untuk kelancaran arus barang.6. dan masih tingginya tingkat kebocoran air. seperti mata air dan air permukaan sebagai sumber air bersih.1. Bahan-bahan ini dapat menambah ambang total petroleum hidrokarbon di dalam air. Dalam hal ini. dan 289 unit sambungan nonrumah tangga. Sumber daya air tersebut terdiri dari air permukaan dan air tanah dalam.2 Angkutan Udara Bandar udara Kabupaten Nunukan merupakan bandar perintis yang melayani daerah di Kabupaten Nunukan. Selain itu. Ketersediaan Prasarana dan Sarana Air Bersih Sumber air baku bagi kebutuhan air bersih diambil dari Sungai Bolong dan Sungai Bilal. dan oli. Namun. di lain pihak adanya kegiatan angkutan sungai yang dilengkapi dengan prasarana dermaga dapat mempengaruhi ekosistem yang ada di dalamnya. Jumlah sambungan aktif mencapai 1. terdiri 1.049 unit sambungan rumah (SR). Hal ini disebabkan masih terbatasnya prasarana dermaga perairan darat. adanya jaringan distribusi yang belum menjangkau ke seluruh wilayah. Perkembangan penduduk menyebabkan peningkatan kebutuhan air bersih. sedangkan kecamatan lain masih memanfaatkan sumber air lainnya.1. bahkan antarkota yang ada di Provinsi Kalimantan Timur dengan jenis pesawat baling-baling kecil dan sedang. Permasalahan yang ada dalam penyediaan air bersih di Kabupaten Nunukan ini yaitu sebagian besar daerah belum memilik sambungan air PDAM sebagai badan yang dapat mengolah dan menyediakan air bersih.348 unit. Kapasitas air bersih yang ada belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena permasalahan distribusi dan kualitas air yang belum sesuai dengan kebutuhan. 4. kapasitas yang tersedia belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. ekosistem perairan dapat tercemar oleh bahan organik yang berasal dari pengguna angkutan dan bahan organik seperti bahan bakar. Kondisi yang sama juga terlihat pada perpaduan dengan angkutan lainnya untuk dapat menjangkau wilayah pedalaman dan perbatasan dengan penerbangan perintis. 4. Kecamatan Nunukan telah memiliki PDAM.3 Air Bersih a.

2008) mencapai 1.912 pelanggan atau dengan kata lain mengalami peningkatan masing sebesar 9. Penyediaan air yang bersih dan layak digunakan untuk keperluan sehari-hari dapat dipenuhi dengan tersedianya Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).496 1.500 2. 2008 Gambar 18.68 Pembangunan dan pemanfaatan embung-embung yang berasal dari sungai-sungai dapat sangat bermanfaat dalam mengatasi keterbatasan air baku untuk air minum pada musim kering. tingkat pelayanan air bersih penduduk Kabupaten Nunukan sebesar 18%. PDAM yang beroperasi di Kabupaten Nunukan berada di Kecamatan Nunukan dan Sebatik. Jumlah pelanggan PDAM Nunukan pada tahun 2007 (Kabupaten Nunukan dalam Angka.573 1. Banyaknya pelanggan pada PDAM Nunukan 2002—2007 .000 500 0 2002 2003 2004 2005 2006 2007 1.510 1. maupun air hujan. Tingkat Pelayanan Air Bersih Perkotaan Berdasarkan sistem sambungan perpipaan. Selengkapnya data perkembangan pelanggan dari tahun ke tahun dapat dilihat pada Gambar 18. air permukaan.500 1.744 Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka. Sisanya.63% dibanding tahun sebelumnya.000 1. sebanyak 82% penduduk di wilayah Kota Nunukan masih menggunakan sumber air baku yang berasal dari tanah. 2. b.496 1.912 1.

Factory Badan Sosial. 1.000 900. terdapat 1.912 orang dengan jumlah pelanggan terbanyak dari rumah tangga (tempat tinggal).000 100. Perusahaan Hotel.41%. Instansi/Kantor Pemerintah Household. Industry. instansi/kantor pemerintah. Industri.632 2007 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.000 700.832 385. Banyaknya pelanggan air minum menurut jenis pelanggan 2007 Jenis Pelanggan Rumah Tangga (Tempat Tinggal).000 500.179 470. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 7. Market. Tabel 7.484 390 12 26 1. Government Hotel/Objek Wisata. 2008 Nunukan 1.006 887.000 0 2002 2003 2004 2005 2006 468.000. Di Kecamatan Nunukan.000 600. Rumah Sakit.484 pelanggan. Rumah Ibadah dsb Social. 2008 Gambar 19.418 756. Banyaknya air minum yang disalurkan 2002-2007 (m3) . Hospital Sarana (Fasilitas) Umum Public Facilities Hydran Pelabuhan Hydran Port Lainnya/Industri Others Jumlah Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.000 300.339 514.912 Sebatik 219 90 4 2 1 316 Lumbis 229 63 1 3 296 Seiring dengan peningkatan jumlah pelanggan. Data selengkapnya mengenai perkembangan banyaknya air minum yang disalurkan terlihat pada Gambar 19. terdapat 1.000 200. banyaknya air minum yang disalurkan oleh PDAM Nunukan juga mengalami peningkatan sebesar 17. Toko.Berdasarkan data tahun 2007.000 800.

235 MWH. dan sosial masing-masing sebesar 4. industri.1.80%. wilayah Kabupaten Nunukan memiliki sektor ekonomi andalan berupa pertambangan.33% dari tahun sebelumnya. 40. dan 870 MWH.38% dengan migas dan 17.4 Listrik dan Telekomunikasi Prasarana listrik dan telekomunikasi merupakan fasilitas dasar yang sangat dibutuhkan untuk mendorong perkembangan kabupaten.070 31.7 Kondisi Ekonomi Daerah Secara umum.000 10. Otomatis tenaga listrik yang terjual juga mengalami peningkatan sebesar 26.550 MWH.000 0 2004 Diproduksi Terjual 25.29% pada tahun 2007. Adapun untuk kepentingan publik.672. Peningkatan ini diiringi dengan meningkatnya tenaga listrik yang terpasang sebesar 16 MWH atau terjadi peningkatan sebesar 33. Produksi tenaga listrik Kabupaten Nunukan mengalami peningkatan sebesar 28.1.921.37% tanpa migas. Data perkembangan banyaknya tenaga listrik yang diproduksi dapat dilihat pada Gambar 20. 1. 2008 Gambar 20. Pelayanan listrik di Kabupaten Nunukan menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang dikelola oleh PLN wilayah VI.103 2005 29. Banyaknya tenaga listrik yang diproduksi Tahun 2004-2007 (MWH) 4. kemudian kegiatan usaha sebesar 9.553 26.6. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 sebesar 1.557 24.000 20.70 4. .248 MWH.556 23.129 2006 26.000 30. Tenaga listrik yang terjual sebesar 35. di mana sebagian besar digunakan oleh rumah tangga sebesar 18. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tambah dari sektor pertambangan dan penggalian yang memberikan bagian terbesar terhadap nilai PDRB.145 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.562 2007 34.

78 0.24 0.06 100 2006 21. nilai distribusi PDRB atas dasar harga berlaku yang masih didominasi oleh sektor pertambangan penggalian dan pertanian masing-masing sebesar 51.46 3. Malaysia.37 2.82 100 2004 33.44% dan 24. Hal ini menunjukkan perlu adanya dorongan dalam proses transformasi ekonomi Kabupaten Nunukan dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier. 2008 .01 0. Tabel 8. Perlu dicermati bahwa ada usaha-usaha perdagangan ilegal yang berlangsung secara lintas batas antara negara Malaysia dan Indonesia di sekitar wilayah perkotaan Kecamatan Nunukan.28 9.27 1.49 4. Hotel dan Restoran Angkutan dan Komunikasi Keuangan. maupun perdagangan lintas batas dengan wilayah Negara Bagian Sabah di Malaysia Timur.33 11. Struktur perekonomian Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 terlihat masih bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam.Perkembangan ekonomi di Kabupaten Nunukan banyak dipengaruhi oleh sektor perdagangan.08 38.06 0. Selain itu.13 4.04 0.16 4.40 0.28 2.41 100 2005 21.68 0.77 9. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB 2003 37.65 6.84 2.18 100 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.14 5.11 3.84%. baik yang dapat diperbaharui maupun tidak dapat diperbaharui. baik regional (dalam wilayah kabupaten).17 4. Gas dan Air Minum Bangunan Perdagangan.08 2.60 6.84 51.03 0.34 0.30 0.44 0.03 0.27 43.03 62.04 0.19 10.03 0.26 100 2007*) 24.95 7. Hal ini tercermin pada tabel 8.49 4.85 0. terdapat pula perdagangan barang-barang yang berasal dari wilayah Sabah. Struktur perekonomian menurut lapangan usaha tahun 2003 – 2007 (%) Sektor/Sub Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.01 57.

Secara lebih rinci kebijakaan pengembangan prasarana yaitu sebagai berikut: 1.8 Kebijakan Pembangunan Kabupaten Nunukan Kebijakan struktur tata ruang dalam RTRW Kabupaten Nunukan adalah sebagai berikut: 1.1. Meningkatkan keseimbangan dan keserasian perkembangan ruang secara serasi. peningkatan dan pembangunan prasarana wilayah didasarkan pada rencana struktur tata ruang serta rencana pemanfaatan ruang wilayah. Mengembangkan sistem kota atau sistem pusat-pusat permukiman yang sesuai dengan daya dukung dan daya tampung serta fungsi kegiatan dominan.72 4. 2. 3. 3. dan berkelanjutan. Pengembangan pasokan energi listrik diarahkan untuk memenuhi kebutuhan di sentra produksi dan permukiman. selaras. 2. Pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan. menjaga keseimbangan ekosistem. seimbang. dan meningkatkan daya dukung lingkungan buatan guna mendukung proses pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat. Pengembangan prasarana pengairan diarahkan untuk mendukung pengembangan pertanian lahan basah (sawah) dan tambak. pusat pengumpul. Meningkatkan kualitas lingkungan hidup serta mencegah timbulnya kerusakan fungsi dan tatanan lingkungan hidup. Mengembangkan prasarana wilayah yang mampu mendukung terwujudnya sistem kota-kota (sistem pusat-pusat permukiman) di Kabupaten Nunukan. 2. Pengembangan prasarana transportasi diarahkan untuk menghubungkan antara sentra produksi. dan distribusi serta pasar. . 3. Mengembangkan kawasan-kawasan potensial di Kabupaten Nunukan dan mendukung terwujudnya struktur tata ruang yang diinginkan. Kebijakan pemanfaatan ruang Kabupaten Nunukan yang bertujuan mewujudkan kelestarian fungsi lingkungan hidup. 1. Pengembangan prasarana wilayah diarahkan untuk mendukung terwujudnya prasarana wilayah yang diarahkan untuk mendukung terwujudnya struktur tata ruang dan pemanfaatan ruang yang sesuai dengan yang telah direncanakan. meningkatkan daya dukung lingkungan. Oleh karena itu.

− Ketersediaan fasilitas sosial dan sarana ekonomi yang lengkap. dalam RTRW.4. Ciri-ciri pusat pertumbuhan ini ditandai oleh antara lain sebagai berikut: − Pola penggunaan lahan yang didominasi oleh kegiatan nonpertanian. Mansalong. − Adanya pemusatan lokasi kegiatan sosial ekonomi yang mencirikan kegiatan perkotaan. terminal agribisnis. Malaysia sehingga sangat strategis untuk pengembangan perdagangan antarnegara. pergudangan. antara lain adanya kegiatan campuran (permukiman dan kegiatan lainnya). dan Tau Lumbis. industri. dan faslitas sosial-ekonomi yang berorientasi pelayanan antarpulau dan antarnegara. disebutkan rencana pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan. Pengembangan prasarana penyediaan air bersih diarahkan pada pusat permukiman dan daerah yang rawan air bersih. dan Atap. Pembeliangan. Pengembangan prasarana industri perkebunan dan perikanan skala besar. Selanjutnya. Tanjung Karang. Pengembangan permukiman perkotaan dilakukan melalui peningkatan fungsi pusat-pusat ekonomi perkotaan dan pusat-pusat permukiman desa yaitu di Kecamatan Nunukan. Long Bawan. Rencana pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan akan diarahkan pada permukiman perkotaan Nunukan. Kecamatan Nunukan dan Sebatik merupakan pusat pertumbuhan hierarki I di Kabupaten Nunukan. Mansalong. Pembeliangan. Tau Lumbis. Hal ini berdasarkan kegiatan sosial-ekonomi yang berada dan berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sabah. Rencana pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan diarahkan pada pengembangan permukiman perkotaan yang dapat memenuhi kebutuhan lingkungan hunian yang serasi dan selaras. Long Bawan. − Mudah diakses dari segala penjuru wilayah di Kabupaten Nunukan. . Kecamatan Nunukan sebagai Ibukota Kabupaten merupakan pusat kegiatan ekonomi skala regional dan skala internasional. lokasi pangkalan niaga. Atap. 5. Sesuai dengan fungsi pertumbuhan. Tanjung Karang. pemukiman.

Tam an Nas ional 25. kawasan hutan. serta penyerapan tenaga kerja bagi masyarakat. Sebagian besar wilayah hutan adalah kawasan budi daya nonkehutanan.02% Kaw as an Budidaya Non Ke hutanan 33.01% Hutan Lindung 11. Selain itu.914 ha atau 33. Luas kawasan hutan menurut tata hutan kesepakatan 2007 (Ha) . baik dalam kawasan hutan maupun masyarakat di sekitar hutan. Pembangunan kehutanan mencakup aspek pelestarian fungsi lingkungan hidup. yakni seluas 470. Pengelolaan hutan sebagai sumber daya alam perlu ditingkatkan dan disempurnakan agar memberikan manfaat besar bagi kesejahteraan rakyat.58 m3.1.034. Selain itu. Luas kawasan hutan disajikan pada Gambar 21. usaha perlindungan dan pengamanan flora dan fauna. hutan lindung. dan kesejahteraan sosial. areal tanah kritis.911. Produksi kayu bulat tahun 2007 mengalami penurunan sebesar 71. pembangunan ekonomi.9 Potensi Sumber Daya Alam dan Wilayah 4. kegiatan kehutanan perlu memperhatikan tata guna hutan.1 Kehutanan Pembangunan kehutanan mencakup semua upaya untuk memanfaatkan dan memantapkan fungsi sumber daya alam hutan dan sumber daya hayati. Luas kawasan hutan di Kabupaten Nunukan seluas 1.368 ha yang terdiri dari taman nasional.9.73% dibanding tahun sebelumnya yaitu dari 123. hutan tanam industri. dan kawasan budi daya nonkehutanan.23% Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.37 m3 menjadi 35.01% dari kawasan hutan seluruhnya.426.74 4.1. 2008 Gambar 21.74% Kaw as an Hutan 30. dapat pula memantapkan fungsi ekosistem sebagai pelindung sistem penyangga kehidupan dan pelestari keanekaragaman hayati maupun sebagai sumber daya pembangunan.

1. Persentase produksi padi disajikan pada Gambar 22.83% dari total produksi.9.75 4. Peningkatan luas tanam yang pesat dibandingkan tahun sebelumnya dan diiringi dengan peningkatan hasil produksi dari masing-masing tanaman. yakni sebesar 4. yaitu 38.28%. Kecamatan Krayan adalah daerah yang mempunyai luas panen dan jumlah produksi padi ladang yang lebih besar dibandingkan kecamatan yang lain. perkebunan. Pertanian yang meliputi pertanian tanaman pangan.. Produksi tanaman padi juga mengalami kenaikan. Tanaman bawang daun merupakan komoditas tanaman sayur-sayuran yang mengalami penurunan hasil produksi.11% dari total luas panen serta 40. kehutanan. yaitu menjadi 48.65%. Pengembangan di bidang pertanian perlu ditingkatkan agar memberikan hasil yang lebih baik dari segi kuantitas dan kualitas. Sebuku 4% Sebatik 21% Krayan 41% Nunukan 11% Sembakung 3% Lumbis 6% Krayan Selatan 14% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. Persentase produksi padi menurut kecamatan 2007 . 2008 Gambar 22.2 Pertanian Pertanian merupakan sektor primer yang mendominasi aktivitas perekonomian di Kabupaten Nunukan.127 ton atau dengan kata lain terjadi peningkatan produktivitas padi sebesar 9. Pada tahun 2007 luas panen padi (sawah dan ladang) di Kabupaten Nunukan mengalami peningkatan. perikanan dan peternakan terus diupayakan untuk menunjang pertumbuhan dan stabilitas ekonomi.

9. Dilihat dari rata-rata produksi yang dihasilkan oleh setiap komoditas perkebunan. 2008 2007 Gambar 23.71 kelapa 2006 Tahun Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.32 7686. Lumbis.1.4 Perikanan Produksi perikanan pada tahun 2007 tercatat 4. Sebagian besar luas areal kelapa sawit terdapat di Kecamatan Sebatik. bukan disebabkan peningkatan oleh jumlah tetapi disebabkan penangkap ikan sebesar 30. Sebuku. dapat disimpulkan bahwa meningkatnya peningkatan produksi produktivitas ikan di lokasi penelitian perairan.4% dibandingkan dengan tahun 2006. Persentase produksi perikanan disajikan pada Gambar 24.76 4.26 persen dibandingkan tahun 2006 (Gambar 25). Dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sembakung dan Nunukan.8% dibandingkan tahun 2006.947. Persentase produksi komoditas kakao dan kelapa disajikan pada Gambar 23 20000 Hasil 15000 10000 5000 0 17702 18903.31%.9.1 kakao 7458.903.585. Pada tahun 2007. yang terdiri atas 4. Produksi komoditas kakao dan kelapa 2006-2007 (ton) 4.3 Perkebunan Luas areal komoditas kelapa sawit pada tahun 2007 mengalami peningkatan sebesar 25. produksi perikanan tahun 2006 naik 9.1.57 ton. Berdasarkan data tersebut.21 ton perikanan budi daya. jumlah rumah tangga perikanan penangkapan tercatat 2.26%.273 rumah tangga atau naik sebesar 30. produksi terbesar dihasilkan oleh tanaman kakao sebesar 18.10 ton atau meningkat 6. .36 ton produksi perikanan penangkapan dan 362. Sebatik Barat.

16% Se batik 37.937. 2000000 Ton/BBL 1500000 1000000 500000 0 1670048 1165287 1846937 1362304 Batubara Minyak bumi 2006 Tahun Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka. Kemudian pada tahun 2007 menjadi 1.37% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. 2008 2007 Gambar 25. Produksi minyak bumi di Kabupaten Nunukan selama tahun terakhir ini mengalami penurunan jumlah produksi.846.59% dibandingkan tahun sebelumnya.T. Produksi pertambangan batubara dan minyak bumi 2006-2007 .37% Nunuk an 25.77 Krayan 1. Persentase produksi perikanan menurut kecamatan 2007 4.5 Pertambangan Hasil tambang batu bara mengalami peningkatan yang sangat pesat. 2008 Gambar 24. Perkasa Equatorial Sembakung Ltd. yakni pada tahun 2006 jumlah produksi sebanyak 1.304 BBL atau menurun sebesar 22.09% Lum bis 0. pada tahun 2007 sebesar 1.94% Se m bak ung 19.9.1.165.17% Se buk u 0.129 ton.362.287 ton.87% Krayan Se latan 0. Produksi pertambangan batu bara dan minyak bumi 2006—2007 dapat dilihat pada Gambar 25. Dinas pertambangan mencatat produksi minyak bumi dari P.03% Se batik Barat 15.

.000 mdpl.1. Pengembangan kawasan permukiman selain dikembangkan di Pulau Nunukan sebagai kawasan perkotaan dengan pusat pemerintahan juga akan dikembangkan di Pulau Sebatik (dua kecamatan). lahan untuk permukiman adalah 7. Kawasan tambang batubara dan minyak bumi 4. Hasil analisis menunjukkan tidak ada desa yang berada di daerah kritis. Sembukung. 2008 Gambar 26. Adapun permukiman desa yang terletak pada daerah bahaya geologi lingkungan. seperti permukiman transmigrasi baik lokal maupun antarwilayah di Indonesia cukup luas.9. Selain itu. dan Krayan yang merupakan bagian wilayah perbatasan negara di Kabupaten Nunukan. Demikian juga permukiman lain. dikembangkan juga di Kecamatan Lumbis. Potensi Pengembangan Lahan Permukiman Potensi pengembangan kawasan permukiman meliputi perumahan. Rencana andalan pengembangan tersebut dimaksudkan untuk mendorong tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan baru di perbatasan negara yang berbasis potensi SDA wilayah yang prospektif dan potensial mendukung keberlanjutan kawasan permukiman. perkotaan.6 Permukiman A.130 ha atau sekitar 0. dan longsoran tidak terdapat di Kabupaten Nunukan.05% dari luas wilayah kabupaten. Permukiman desa yang tidak sesuai dengan kriteria di atas tetap dipertahankan terutama di desa-desa yang terdapat pada kawasan Taman Nasional Krayan Mentarang yang terletak di ketinggian diatas 1.Sumber : Survei Lapangan. erosi. seperti patahan aktif. dan perdesaan. tetapi ada desa yang berada dalam kawasan lindung. Berdasarkan arahan RTRW kabupaten.

masuk dalam kategori sangat tinggi. B. . Pengembangan jalan lainnya dapat diintegrasikan dengan pengembangan lahan usaha masyarakat.07/2010 tentang Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah dalam Rangka Perencanaan Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan Tahun Anggaran 2011. konservasi tanah dan air tanah dapat dilakukan dengan baik. Nilai indeks fiskal dapat menunjukkan kemampuan daerah dalam pendampingan pembiayaan bersama dengan pemerintah pusat. Akan tetapi. Selain itu. perlu adanya pengaturan ruang seperti permukiman penduduk lokal/desa-desa yang berada pada kawasan lindung. penyediaan prasarana dan sarana. Permukiman perdesaan yang berbasis sentra pertanian perlu disesuaikan secara dini agar tidak berubah menjadi permukiman perkotaan agar pertanian produktif tetap dapat dipertahankan. Tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat) atau usaha tani. Potensi Kemampuan Pembiayaan Pembangunan Kemampuan daerah dalam sharing pembiayaan pembangunan kawasan permukiman dilihat dari kemampuan indikator nilai indeks fiskal daerah. Pada desa-desa yang berada di daerah aliran sungai perlu dikembangkan pelabuhan sungai yang berskala lingkungan. Kementerian Pekerjaan Umum. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Permukiman perdesaan memiliki kepadatan maksimum lima rumah/hektar dan KDB maksimum 5%. Fasilitas sosial dan ekonomi dapat dibangun sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik msing-masing desa. berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK. Pemerintah Kabupaten Nunukan telah memperlihatkan adanya potensi kemampuan sharing pembiayaan pada program-program stimulan pembangunan perumahan dari pemerintah pusat seperti dari Kementerian Perumahan Rakyat.79 Berdasarkan potensi pengembangan permukiman perdesaan di Kabupaten Nunukan. Untuk Kabupaten Nunukan. Bangunan yang menunjang fungsi kawasan/kegiatan utama diperkenankan dibangun untuk kepentingan umum. perlu diusahakan pemukiman kembali kawasan yang sesuai untuk permukiman. serta fasilitas sosial dan ekonomi. Bagi desa-desa yang terletak pada daerah aliran sungai dan menggunakan akses sungai sebagai pintu keluar masuk desa dapat dibangun jalan akses dan menempatkan prasarana dan sarana sosial lainnya.

Tabel 9.335 1 Sangat Tinggi Kab. Berau 2.971 1. Nilai indeks fiskal di Kalimantan Timur terlihat pada Tabel 9.300 4 Tinggi Kota Bontang 3.248 1. Bulungan 4. DDUB yang harus disediakan oleh daerah dengan rincian sebagai berikut: − Daerah yang termasuk dalam kelompok 1 menyediakan DDUB sangat tinggi.421 4 Tinggi Kota Tarakan 1. Nunukan 3.07/2010 tentang Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah dalam rangka Perencanaan Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan tahun anggaran 2011 Kab / Kota Penentuan tingkat besaran penyediaan dana daerah untuk urusan bersama (DUUB) adalah dengan pertimbangan sebagai berikut: a. Daftar daerah berdasarkan indeks fiskal dan kemiskinan daerah di Kalimantan Timur No.796 1. Penajam Paser Utara 2. Tana Tidung 30.829 0.416 1 Sangat Tinggi Kota Balikpapan 1.999 0. .175 1. − Daerah yang termasuk dalam kelompok 3 menyediakan DDUB rendah.800 1 Sangat Tinggi Kab.303 4 Tinggi Kota Samarinda 1. Kutai Barat 3.886 4 Tinggi Kab.450 1 Sangat Tinggi Sumber : Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK.935 0.550 1 Sangat Tinggi Kab. Kutai Kartanegara 4.195 0.067 1.993 4 Tinggi Kab. b. − Daerah yang termasuk dalam kelompok 4 menyediakan DDUB tinggi.134 1 Sangat Tinggi Kab. − Daerah yang termasuk dalam kelompok 2 menyediakan DDUB sedang.928 1. Penentuan batas persentase terendah dan tertinggi DDUB yang harus disediakan oleh daerah dengan mempertimbangkan hasil keputusan rapat koordinasi instansi yang terkait dengan program penanggulangan kemiskinan nasional. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Indeks Ruang Indeks Persentase Tingkatan Fiskal Daerah Penduduk Miskin Kelompok Penyediaan (IRFD) Daerah (IPPMD) DUUB Kab. Kutai Timur 4. DDUB yang harus disediakan oleh daerah disesuaikan dengan katagori kelompok.464 0.450 1 Sangat Tinggi Kab.Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal. Malinau 8.426 1.698 4 Tinggi Kab. dan kementerian lain yang terkait. Pasir 2.062 0.721 4 Tinggi Kab.185 0. c.

Mengingat kedudukan Kabupaten Nunukan sebagai kawasan strategis nasional (KSN) di wilayah perbatasan dapat menjadi pertimbangan tersendiri untuk tetap mendapat prioritas bantuan pembiayaan pengembangan. Berdasarkan data indeks fiskal tersebut.81 d. Hasil perhitungan rincian penyediaan DDUB digunakan oleh pusat (tingkat nasional) sebagai bahan penetapan besaran DDUB pada masing-masing daerah. Hal ini bertujuan agar arah kecenderungan pengembangan dapat diketahui. Arah kecenderungan pengembangan meliputi aspek keselarasan antara kawasan budi daya dengan kawasan lindung. diharapkan kondisi ini dapat terus dipertahankan. Kriteria mensyaratkan indeks fiskal harus dievaluasi secara periodik untuk menentukan besaran bantuan pembiayaan dari pemerintah pusat. dapat dilihat bahwa Kabupaten Nunukan masuk pada kategori kelompok sangat tinggi. Prioritas ini dapat berupa peningkatan dana alokasi khusus (DAK). Oleh karena itu. Menarik masuknya investasi baru sektor unggulan daerah untuk mendorong percepatan pembangunan wilayah perbatasan. Menteri Keuangan c. perlu dipahami profil pelaksanaan pembangunan di daerah yang sesuai dengan pemenuhan kebutuhan pengembangan. penguatan pola interaksi orientasi ekonomi yang berbasis potensi sumber daya alam wilayah menjadikan kemauan politik (political will) pemerintah pusat dan daerah (Rosentraub 1996). keterkaitan antara pusat-pusat pertumbuhan baru dengan pusat-pusat kegiatan (kota). Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan menyiapkan bahan perhitungan rincian penyediaan DDUB untuk masingmasing daerah berdasarkan batas persentase terendah dan tertinggi. e. f. khususnya sektor permukiman dan infrastruktur wilayah perbatasan. Dalam rangka mewujudkan keterpaduan dalam pembangunan di wilayah Perbatasan khususnya dalam sektor permukiman. .q. Hasil perhitungan rincian penyediaan DDUB disampaikan oleh direktur jenderal perimbangan keuangan atas nama menteri keuangan kepada tim nasional paling lambat bulan Maret sebelum penyusunan rencana kerja Kementerian Negara/Lembaga.

terpencar. Oleh karena itu. Ilmu ekistics dikembangkan oleh CA Doxiadis pada tahun 1967 (Winarso 2001). baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan (live) dan penghidupan (livelihoods). Adapun . Elemen-elemen permukiman terdiri atas alam. subsektor sektor pertambangan. perlu memerhatikan daya dukung dan lahan untuk pengembangan permukiman. dan jaringan infrastruktur (Sastra dan Marlina 2006). Permukiman merupakan suatu kesatuan wilayah tempat suatu perumahan berada. Permukiman diartikan sebagai tempat manusia hidup dan berkehidupan. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. lokasi dan lingkungan perumahan tersebut tidak akan pernah dapat lepas dari permasalahan dan lingkup keberadaan suatu permukiman yang seharusnya memberikan kenyamanan kepada penghuninya (termasuk orang yang datang ke tempat tersebut). nomaden. Adapun potensi SDA wilayah berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan terdiri dari subsektor pangan. dan sosial. yaitu tempat fisik manusia tinggal yang meliputi elemen alam dan buatan manusia). permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung. masyarakat. subsektor pertanian tanaman perikanan. kumuh. perkebunan.2. Menurut Undang-Undang No. manusia. Aspek lain yang kesesuaian juga harus diperhatikan khususnya dalam pengembangan ekonomi adalah sektor unggulan wilayah yang potensial dikembangkan sehingga akan menjamin peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat agar keberlanjutan kawasan permukiman di wilayah perbatasan dapat terlaksana. Suatu permukiman terdiri atas the content (isi. subsektor kehutanan. ekonomi. Secara ekologi. yaitu manusia) dan the container (wadah. dan sektor industri 4. subsektor pariwisata. dan tidak terkelola dengan baik.1 Kondisi dan Permasalahan Permukiman Perbatasan Permukiman dalam istilah ini merupakan padanan kata human settlements. Pengetahuan mengenai permukiman disebut ekistics (istilah Yunani). mempunyai dampak langsung terhadap keberlanjutan aspek ekologi.4.2 Analisis Kondisi Permukiman Perbatasan Kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara dengan kondisi umum yang tidak tertata. perumahan.

Persebaran penduduk yang mengelompok dan terpencar terlihat dari distribusi pusat-pusat permukiman yang ada di masing-masing kecamatan. Kondisi lingkungan permukiman terdiri dari perumahan yang kumuh (slum area). Kawasan permukiman perbatasan di Kabupaten Nunukan. yang dimaksud kawasan permukiman perbatasan padanannya adalah kawasan perumahan dan permukiman khusus untuk menunjang kegiatan berbagai fungsi di wilayah perbatasan negara. Hal ini disebabkan oleh pengelolaan yang tidak baik dan kurangnya kegiatan terkait program/proyek pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara.653 KK. Kawasan permukiman adalah kawasan budi daya yang ditetapkan dalam rencana tata ruang dengan fungsi utama untuk permukiman (Permenpera 2006). tidak tertata.83 perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Kecamatan Sebatik Barat terdiri 3.366 KK di bagian tengah wilayah daratan. (Permenpera 2006). Terkait dengan fenomena kawasan permukiman perbatasan negara. sarana. Kecamatan Nunukan sebanyak 14. dan minim prasarana. Kecamatan kelompok wilayah kepulauan seperti Kecamatan Sebatik terdapat kawasan permukiman yang terdiri 5. Persebaran penduduk di wilayah perbatasan pada umumnya tidak merata sehingga kawasan permukimannya terlihat mengelompok dan terpencar. Kelompok wilayah daratan adalah Kecamatan Krayan Selatan 545 KK lokasinya di ujung barat wilayah administrasi kabupaten dan Kecamatan Lumbis 2.235 KK yang lokasinya di ujung barat pulau.163 KK yang lokasinya di ujung timur pulau. Dari beberapa pengertian tersebut. kondisinya (existing condition) sangat dipengaruhi oleh persebaran penduduk di masing-masing kecamatan yang berada di wilayah perbatasan kabupaten. dan fasum lingkungan. . dapat disimpulkan bahwa permukiman memiliki pengertian yang lebih luas dibandingkan dengan perumahan. fasos.

Kawasan permukiman yang berada di atas batas wilayah perbatasan Masyarakat wilayah perbatasan yang memiliki karakteristik lingkungan sosial yang spesifik. . dan Krayan.84 Sumber : Dokumentasi Survei. Kawasan permukiman yang berkelompok dan terpencar Pola perkembangan kawasan permukiman yang mengelompok dan terpencar di wilayah perbatasan berdampak negatif terhadap keutuhan wilayah NKRI karena berpeluang dimanfaatkan negara tetangga untuk menggeser patok-patok perbatasan untuk memperluas wilayah negaranya. transaksi jual beli. seperti kegiatan pelintas batas. 2009 Gambar 27. Sumber : Dokumentasi Survei. Penggeseran patok-patok perbatasan negara dilakukan pada lokasi yang tidak terdapat permukiman sebagai tempat hunian dan aktivitas penduduk/masyarakat perbatasan. Pergeseran batas wilayah di Pulau Sebatik sudah jauh ke dalam wilayah tertorial Indonesia. kehilangan wilayah teritorial negara terus terjadi dan semakin meluas. Kebutuhan tersebut pada umumnya belum terpenuhi atau memadai. dan kegiatan ekonomi bersama baik legal maupun yang ilegal memerlukan kemudahan berkomunikasi dan aksesibilitas yang baik. 2009 Gambar 28. untuk memenuhi kebutuhannya. Sebuku. dari tahun ke tahun. belum lagi yang terjadi di wilayah perbatasan lain di Kecamatan Lumbis. Oleh karena itu. Oleh karena itu.

Kawasan permukiman yang berada di muara sungai dan kumuh Kondisi kawasan permukiman perbatasan di Kabupaten Nunukan tersebut mencerminkan bahwa pemerintah pusat dan pemerintah daerah kurang memberikan perhatian pengembangan wilayah dan masyarakat perbatasan. Untuk memudahkan masyarakat dalam akses ke laut. membangun perumahan di sepanjang bantaran sungai dan sampai melanggar batas wilayah perbatasan negara lain. Misalnya. berkelanjutan. . banyak bangunan rumah dengan ruang tamu wilayah di Indonesia dan dapur di Malaysia atau yang dikenal dengan rumah Malaysia-Indonesia (Malindo). Oleh karena itu. khususnya dalam pengembangan kawasan permukiman. perkotaan maupun perdesaan. termasuk kegiatan permukiman lain seperti.2 Pengembangan Lahan Permukiman Potensi pengembangan kawasan permukiman meliputi perumahan. Pengembangan kawasan permukiman akan dikembangkan di Pulau Nunukan. permukiman transmigrasi baik lokal maupun antarwilayah di Indonesia cukup luas tersedia.85 masyarakat melakukan upaya sendiri yang umumnya tidak sesuai dengan peratuaran dan perundang-undangan yang berlaku. antara lain dalam membangun perumahan dan fasilitas tidak memperhatikan batas-batas wilayah negara.2. 2009 Gambar 29. Kondisi masyarakat perbatasan dengan karakteristik lingkungan yang spesifik menjadi fenomena tersendiri. 4. digunakan sampan/perahu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang penting dan mendesak ke negara tetangga. Pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan harus tertata. Sumber: Dokumentasi Survei. dan dikelola dengan baik melalui kebijakan dan strategi pengembangan kawasan permukiman perbatasan.

05% dari luas wilayah kabupaten (RTRW Kabupaten Nunukan 2005). Kecamatan-kecamatan tersebut berada di klaster III. akan dikembangkan lahan seluas 1. Sebuku.130 Ha atau sekitar 0. Kecamatan Lumbis.000 mdpl. Luas lahan untuk pengembangan kawasan permukiman. perlu adanya pengaturan ruang. dan longsoran tidak terdapat di Kabupaten Nunukan. Luas penggunaan lahan untuk pengembangan permukiman adalah 7. Permukiman desa yang terletak pada daerah rawan bencana geologi lingkungan. Sebuku.86 Pulau Sebatik. dan Krayan sebagai kawasan perkotaan dan pusat pemerintahan. Pengembangan kawasan permukiman sesuai dengan arahan RTRW kabupaten. taman.850 Ha sebagai kawasan permukiman perdesaan dan pusat desa pertumbuhan berbasis potensi SDA wilayah. dan kuburan. Penggunaan lahan permukiman meliputi perumahan. Adapun di Kecamatan Sebatik Timur akan dikembangkan kawasan permukiman perkotaan. khususnya sektor perkebunan. pusat pertumbuhan baru Pulau Sebatik. baik yang di perkotaan maupun pedesaan. di Kecamatan Nunukan dan Nunukan Timur akan dikembangkan lahan seluas 1. ± 60 % diperuntukkan untuk kawasan permukiman klaster-klaster di kecamatan yang berada di sepanjang wilayah perbatasan. serta permukiman transmigrasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada permukiman di daerah kritis. seperti patahan aktif. khususnya desa-desa untuk mendukung kegiatan pelestarian kawasan Taman Nasional Krayan Mentarang yang terletak di ketinggian di atas 1. Adapun di Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan yang berada di klaster I akan dikembangkan lahan seluas 750 ha sebagai kawasan . Di Kecamatan Lumbis. Rencana pengembangan kawasan permukiman tersebut dimaksudkan untuk mendorong tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan baru di perbatasan negara yang berbasis potensi SDA wilayah. dan Sebatik Barat yang berada di klaster II. dan pengelolaan yang lebih baik. erosi. Sehubungan dengan potensi pengembangan permukiman perdesaan di Kabupaten Nunukan. pengembangan. Permukiman-permukiman perdesaan yang tidak sesuai dengan kriteria kebutuhan akan tetap dipertahankan.700 ha sebagai kawasan permukiman perkotaan dan pusat pemerintahan. tetapi terdapat permukiman di desa-desa yang berada dalam kawasan lindung. tempat olahraga. perkantoran.

Peta pengembangan permukiman di setiap klaster terlihat pada Gambar 30. Pada kecamatan yang berada di daerah aliran sungai perlu dikembangkan pelabuhan sungai. seperti fasilitas pendidikan. 2008 dan Hasil Analisis Gambar 30. dan sarana budaya. serta tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat). selain sarana prasarana sosial lainnya. sarana. peribadatan. KLUSTER II: 1850 Ha KLUSTER I: 750 Ha KLUSTER III: 1700 Ha Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Pada permukiman perkotaan kepadatan maksimum 80 rumah/hektar dan KDB maksimum 40%. Pengembangan jaringan jalan dapat diintegrasikan dengan pengembangan lahan usaha masyarakat. Peta pengembangan permukiman di setiap klaster Pengembangan prasarana. fasos. khususnya sektor pertambangan. Permukiman perdesaan memiliki kepadatan maksimum 25 rumah/hektar dan KDB maksimum 20%. Penataan dan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan ke depan akan mendorong perkembangan wilayah perdesaan yang berbasis sentra . Bangunan yang menunjang fungsi kawasan/kegiatan utama diperkenankan untuk kepentingan umum. dan fasum sebagai pendukung kegiatan sosial-ekonomi di kawasan permukiman dapat dibangun sesuai kebutuhan dan karakteristik wilayah kecamatan. kesehatan. Tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat) atau usaha pertanian.87 permukiman perdesaan dan permukiman perkotaan untuk pusat pertumbuhan baru berbasis potensi SDA wilayah.

Hal ini bertujuan agar lahan pertanian produktif dapat dipertahankan dan konservasi tanah serta air dapat dilakukan dengan baik. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Data indeks fiskal menunjukkan bahwa Kabupaten Nunukan masuk pada kategori kelompok sangat tinggi.248 dan skor indeks persentase penduduk miskin daerah (IPPMD) 1. Kementerian Pembangunan Daeah Tertinggal. dan investasi sektor unggulan untuk mendorong percepatan pembangunan wilayah perbatasan. wilayah perbatasan dapat menjadi pertimbangan tersendiri untuk tetap mendapat prioritas bantuan pembiayaan pengembangan. Kriteria mensyaratkan agar secara periodik indeks fiskal harus dievaluasi untuk menentukan besaran bantuan pembiayaan dari pemerintah pusat. Nilai indeks fiskal dapat menunjukkan kemampuan daerah dalam pendampingan pembiayaan bersama dengan pemerintah pusat. khususnya bidang permukiman perbatasan. 4. diharapkan kondisi ini dapat terus dipertahankan. dan kementerian lain yang terkait.pertanian menjadi desa kota (sub urban) sebagai pusat pertumbuhan baru (Wacker 2002).2. Adapun untuk menjaga kawasan permukiman yang sudah dibangun agar tetap berkelanjutan perlu dilakukan pengendalian dan penyesuaian sejak dini agar tidak berubah menjadi permukiman perkotaan yang tidak terarah (urban sprawl). Dengan demikian. infrastruktur. Mengingat kedudukan Kabupaten Nunukan sebagai kawasan strategis nasional (KSN). Prioritas bantuan pembiayaan pembangunan dapat berupa peningkatan dana alokasi khusus (DAK). Kementerian Pekerjaan Umum.3 Kemampuan Pembiayaan Pembangunan Permukiman Kemampuan pengembangan daerah kawasan (kabupaten/kota) permukiman dalam khususnya sharing dalam pembiayaan pembangunan permukiman berdasarkan indikator nilai indeks fiskal daerah. Pemerintah Kabupaten Nunukan telah memperlihatkan adanya potensi kemampuan sharing pembiayan pada program-program stimulan pembangunan perumahan dari pemerintah pusat seperti dari Kementerian Perumahan Rakyat. dengan skor indeks ruang fiskal daerah (IRFD) 3. berupa dana pendamping . Kemampuan sharing Pemda Kabupaten Nunukan ditunjukkan pada setiap mendapatkan bantuan stimulan oleh pemerintah pusat. Kabupaten Nunukan termasuk dalam kategori sangat tinggi.800.

perikanan. Klaster II meliputi Kecamatan Lumbis. dan Sebatik Barat 3. ekonomi. Klaster III meliputi Kecamatan Nunukan. Kesediaan pemda bersama-sama dengan pemerintah pusat mengalokasikan dana APBD dalam mengembangkan nelayan perbatasan berkorelasi dengan membuktikan kemampuan kawasan permukiman bahwa indeks fiskal yang sangat baik daerah dalam menyiapkan dana untuk pembiayaan pembangunan permukiman. akses transportasi. produktivitas. jumlah tenaga kerja. dan Sebatik Dalam penetapan klaster sesuai dengan kondisi potensi sumber daya alam kawasan pada kecamatan-kecamatan yang berada di wilayah perbatasan. Kriteria tersebut berkorelasi positif dalam meningkatkan potensi pasar di wilayah perbatasan (Hanson 1998). Pada 2006 kemenpera memberikan bantuan stimulan pembangunan kawasan permukiman nelayan senilai kurang lebih Rp 4 miliar. pertanian. 4. kehutanan. lokasi startegis. yaitu kesesuaian lahan. Dalam menganalisis sektor-sektor potensial dan prospektif dengan menggunakan metode perbandingan eksponensial (MPE). akses komunikasi. di kecamatan wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan dibuat 3 (tiga) klastering subkawasan. Klaster I meliputi Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan 2. jangkauan pasar. Kabupaten Nunukan secara geografis dapat terlihat pada Gambar 31. pertambangan. Sektor-sektor potensial yang mempunyai peranan penting terhadap pengembangan kawasan permukiman tersebut antara lain adalah perkebunan. pariwisata.3 Analisis Komparatif Sektor Unggulan Kawasan Kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara mempunyai dampak langsung baik secara ekologi. . dan industri. Pemda menglokasikan dana untuk pembuatan kanal dan sarana air bersih senilai Rp 9 miliar serta biaya pembebasan tanah untuk pembangunan kawasan permukiman nelayan seluas 100 ha. nilai produk. yaitu: 1. Nunukan Selatan. Sebuku.dan usulan dana program pembangunan melalui APBD dari masing-masing dinas terkait. dan sosial. Kriteria yang menjadi pertimbangan di setiap sektor tersebut ada delapan.

Pembagian klaster di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan 4.KLUSTER II KLUSTER I KLUSTER III Gambar 31.3. Tabel 10. Adapun pembobotan kriteria terhadap sektor unggulan dengan metode MPE dapat disajikan pada Tabel 10. Penilaian bobot kriteria terhadap sektor unggulan klaster I Klaster I Pertambangan Perkebunan Kehutanan Pariwisata 5 5 6 5 6 6 5 5 Perikanan Pertanian Industri 6 7 6 5 7 7 6 6 No Kriteria Bobot 1 Kesesuaian Lahan 2 Produktivitas 3 Lokasi Strategis 4 Jumlah Tenaga Kerja 5 Nilai Produk 6 Jangkauan Pasar 7 Akses Transportasi 8 Akses Komunikasi Sumber: Hasil Analisis 8 8 7 6 9 6 7 7 7 6 6 6 7 7 6 6 9 8 7 7 8 9 7 7 5 4 6 7 5 5 5 5 4 4 6 6 4 5 4 4 5 5 6 5 6 5 6 6 .1 Sektor Unggulan Subkawasan Klaster I Kecamatan yang termasuk dalam klaster I adalah Kecamatan Krayan dan Kecamatan Krayan Selatan.

Jumlah produksi minyak bumi pada tahun 2007 sebanyak 1.746 dan perikanan dengan nilai MPE yaitu 768.106.004.802. Hasil tersebut disajikan dalam Tabel 11. Urutan dari posisi ke-4 sampai ke-7. prioritas ketiga adalah industri dengan nilai MPE 48.384 2.771.137.Berdasarkan hasil perhitungan dengan teknik MPE.161. Data BPS (2007) menunjukkan bahwa produk pertambangan unggulan adalah minyak bumi dan batu bara. terlihat urutan atau prioritas sektor yang potensial di Klaster I Kabupaten Nunukan.304 ton.357.357. .106 Sumber: Hasil Analisis Berdasarkan tabel 11 di atas dapat disimpulkan bahwa sektor yang paling menentukan pada klaster I adalah sektor pertambangan dengan nilai 197. Tabel 11.978.161.802.978. Nilai sektor unggulan klaster I Klaster I No 1 2 3 4 5 6 7 Perkebunan Pertambangan Pertanian Perikanan Kehutanan Pariwisata Industri Sektor Nilai MPE 48.413 48. Perkebunan menempati urutan kedua dengan nilai MPE yaitu 48.730.384. kehutanan dengan nilai MPE yaitu 11.746 768.771.730. Jumlah produksi minyak terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun seperti yang terlihat pada Gambar 32.004 11.362.137 197. pariwisata dengan nilai MPE yaitu 11. pertanian dengan nilai MPE yaitu 2.201.201 11.413.

000 30.556 23.165. .562 2007 34.2007 (BBL) Produk batu bara pada klaster I juga merupakan produk unggulan.000 20.000 10. Produksi minyak bumi (MMSTB) 2000 .40. lokasi klaster I merupakan pegunungan dan perbukitan yang tidak teratur serta mempunyai kelerengan >40%. sektor tambang menjadi unggul pada klaster I dan didukung juga oleh daya dukung sumber daya alam yang ada pada kawasan klaster I.287 ton. Jumlah produksi bahan tambang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dari tahun sebelumnya sebesar 1. 2008 Gambar 32.557 24. kawasan Klaster I sangat sesuai untuk pertambangan (Gambar 33).145 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.103 2005 29.000 0 Diproduksi Terjual 2004 25.553 26.937. Data BPS (2007) menunjukkan jumlah produksi batu bara di Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 sebesar 1.129 ton. Oleh karena itu.846.070 31. Berdasarkan peta kesesuaian lahan.129 2006 26. Berdasarkan peta kesesuaian lahan yang menunjukkan di atas 90%.

2008 Gambar 33.3.2 Sektor Unggulan Subkawasan Klaster II Kecamatan yang termasuk klaster II adalah Kecamatan Lumbis. Peta kesesuaian lahan untuk perkebunan menunjukkan klaster I yang di atas 55% cocok untuk lahan perkebunan. Sebuku. dan Sebatik Barat. Kesesuaian lahan untuk pertambangan Urutan kedua adalah sektor perkebunan. 4. Hal ini didukung oleh kesesuaian lahan serta jenis tanah yang mendukung kegiatan perkebunan sehingga dapat mencegah erosi pada wilayah-wilayah yang berlereng. . Adapun pembobotan nilai dengan metode MPE dapat dilihat pada Tabel 12.Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan.

957.111 Sumber: Hasil Analisis Berdasarkan tabel 13 di atas. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel 13.583 44.761 53.171.345. dapat disimpulkan bahwa sektor yang paling menentukan adalah sektor perkebunan dengan nilai 450.403.300.970. dan pariwisata dengan nilai MPE 2.643.343.761.345.171 2.643.848.970.300. Tabel 13.343 10.094. Posisi ke-4 sampai ke-7 berturut-turut pertambangan dengan nilai MPE 49.111.403. Prioritas ketiga adalah industri dengan nilai MPE 53. Pertanian menempati urutan kedua dengan nilai MPE 63. perikanan dengan nilai MPE 10.094.744 63.848 49.583.Tabel 12.744.957. Penilaian bobot kriteria terhadap sektor unggulan klaster II Klaster II Pertambangan Perkebunan Kehutanan Pariwisata 5 5 5 6 5 4 5 4 Perikanan Pertanian Industri 7 7 6 7 7 7 7 5 No Kriteria Bobot 1 Kesesuaian Lahan 2 Produktivitas 3 Lokasi Strategis 4 Jumlah Tenaga Kerja 5 Nilai Produk 6 Jangkauan Pasar 7 Akses Transportasi 8 Akses Komunikasi Sumber: Hasil Analisis 8 8 7 6 9 6 7 7 9 8 7 8 9 7 7 7 7 6 7 7 7 6 6 6 8 7 6 7 7 5 5 4 5 4 6 6 6 5 5 4 8 8 7 5 6 5 5 5 Hasil perhitungan dengan teknik MPE memperlihatkan urutan atau prioritas sektor yang potensial di Klaster II Kabupaten Nunukan. Nilai sektor unggulan klaster II Klaster II No Sektor 1 2 3 4 5 6 7 Perkebunan Pertambangan Pertanian Perikanan Kehutanan Pariwisata Industri Nilai MPE 450. . kehutanan dengan nilai MPE 44.

termasuk dalam kelompok punggung gunung batuan metamorfik yang tidak teratur yang menyebabkan klaster II sangat cocok untuk perkebunan. Selain itu. berdasarkan peta land system.71 ton. Produksi kelapa sebanyak 7. berdasarkan peta kesesuaian lahan untuk perkebunan. Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Peta kesesuaian lahan untuk perkebunan Data BPS (2008) menunjukkan produksi kakao di Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 sebanyak 18.10 ton.903. 2008 Gambar 34. hampir di atas 90%. Produksi kakao dan kelapa terus mengalami peningkatan dari 2002 sampai tahun 2007 seperti terlihat pada Gambar 35 berikut. .686. Kedua kecamatan tersebut sangat sesuai untuk tanaman perkebunan (gambar 34).Klaster II. Jenis komoditas unggulan perkebunan pada klaster II adalah kakao dan kelapa sawit.

Nunukan Selatan.32 6430. Adapun hasil pembobotan nilai dengan metode MPE dapat dilihat pada Tabel 14.32 6407.6 17073.32 7686.71 18903.3.6 7458.35 15889. Produksi komoditas tanaman perkebunan 2002-2007 (ton) 4.20000 18000 16000 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 17702 15257. Penilaian terhadap alternatif kegiatan penunjang pusat-pusat pertumbuhan terdapat di Kabupaten Nunukan berdasarkan sektor unggulan dengan pembagian klaster.8 7406. Tabel 14.35 13592. 2008 Gambar 35.3 6407. Penilaian bobot kriteria terhadap sektor unggulan klaster III Klaster III Pertambangan Perkebunan Kehutanan Pariwisata Perikanan Pertanian Industri No Kriteria Bobot 1 2 3 4 5 6 7 8 Kesesuaian Lahan Produktivitas Lokasi Strategis Jumlah Tenaga Kerja Nilai Produk Jangkauan Pasar Akses Transportasi Akses Komunikasi 8 8 7 6 9 6 7 7 7 7 8 6 7 7 7 7 5 5 8 5 5 7 7 7 8 8 9 7 7 8 7 7 9 9 9 8 8 9 7 7 7 6 8 6 5 5 7 7 5 7 8 5 5 5 7 7 7 7 8 6 6 7 7 7 Sumber: Hasil Analisis . dan Kecamatan Sebatik.1 2002 2003 2004 kelapa 2005 kakao 2006 2007 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.3 Sektor Unggulan Subkawasan Klaster III Kecamatan yang termasuk dalam klaster III adalah Kecamatan Nunukan.

pariwisata. Sektor pertanian menempati urutan kedua yang dapat mendukung pusat pertumbuhan dalam pengembangan wilayah perbatasan dengan nilai MPE 80. kehutanan.534.515.841 Sumber: Hasil Analisis Berdasarkan tabel 15 di atas dapat di lihat bahwa sektor unggulan yang paling mendukung pusat pertumbuhan dalam pengembangan wilayah perbatasan adalah sektor perikanan dengan nilai 227.534.887 227.039 25.717.887.810.791.204. Posisi ke-4 sampai ke-7 adalah industri.Hasil perhitungan dengan analisis MPE memperlihatkan urutan atau prioritas metode pengembangan wilayah perbatasan yang potensial dalam rangka meningkatkan pusat-pusat pertumbuhan. Tabel 15.791. Nilai sektor unggulan klaster III No 1 2 3 4 5 6 7 Sektor Klaster III Perkebunan Pertambangan Pertanian Perikanan Kehutanan Pariwisata Industri Nilai MPE 55.810 13. ditampilkan kondisi topografi pada klaster III yang didominasi oleh tingkat kelerengan 0 . prioritas ketiga sektor perkebunan dengan nilai MPE 55.884. .061 11. Alternatif pertama yang harus lebih diperhatikan dalam pengembangan wilayah perbatasan pada klaster III yang meliputi Kecamatan Nunukan dan Kecamatan Sebatik yaitu peningkatan sektor perikanan.717. dan pertambangan. Pada gambar. Keadaan berpotensi menyebabkan longsor dan tidak memungkinkan untuk adanya budi daya perikanan darat.752.887 80. Perikanan tangkap dan budi daya perikanan laut merupakan kegiatan yang paling potensial dan telah mendukung pendapatan Kabupaten Nunukan selama ini.8% dan 15 25%. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel 15.752 6.611. Hal tersebut mengandung arti bahwa budi daya perikanan darat di klaster III tidak disarankan karena kondisi topografi Kabupaten Nunukan yang berlerenglereng seperti yang ditunjukkan pada Gambar 36.

Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. kebutuhan setiap orang setiap tahun adalah 150 kg. Kebutuhan pangan Kabupaten Nunukan selama setahun sebagai berikut: a. dan palawija. Kebutuhan pangan yang dimaksud adalah kebutuhan beras sebagai bahan makanan pokok. Peta Kabupaten Nunukan berdasarkan kelerengan Sumber daya alam pertanian. Setiap 1 kg beras dihasilkan dari 1. jumlah penduduk 5 dan 10 tahun yang akan datang membutuhkan areal pertanian basis.54 kg gabah kering giling dan setiap hektar lahan menghasilkan 4. Lahan Sawah Sawah adalah lahan penghasil padi yang selanjutnya diolah menjadi beras sebagai makanan pokok masyarakat Kabupaten Nunukan. yakni budi daya tanaman pangan terutama padi sawah yang produktivitasnya terus meningkat (Kabupaten Nunukan dalam Angka 2008). sayur-sayuran. Adanya asumsi bahwa lahan efektif adalah 60% dari total lahan. Kebutuhan cadangan lahan sawah di Kabupaten . Berdasarkan tiga perkiraan skenario.9 ton gabah kering giling per tahun. 2008 Gambar 36. maka jumlah kebutuhan total adalah jumlah kebutuhan dasar ditambah 67% (Tabel 15). Sebagai dasar perhitungan. terutama lahan dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dasar Kabupaten Nunukan.Di urutan kedua diikuti sektor pertanian dengan komoditas unggulan yang dapat mendukung pusat pertumbuhan.

kebutuhan lahan untuk kegiatan peternakan tersebut membutuhkan lahan seluas 185 hektar pada tahun 2007 dan berkembang menjadi 236 hektar pada tahun 2012. tingkat produktivitas 10. c.1 kg/orang/tahun dan tingkat produktivitas 0.25 kg/orang/tahun. terperinci dengan tingkat konsumsi dan produktivitas sebagai berikut: Jagung.350 ekor ayam buras. Dengan asumsi pertumbuhan 5% per tahun.182. 4. jagung dan lain-lain.968 ekor itik.530 ekor ayam ternak. Kedelai. konsumsi 1. kebutuhan konsumsi 57.124 ekor kerbau. seperti kacang-kacangan. ubi.7 kg dan produktivitas 2.821 ekor babi. tingkat produktivitas 1. kebutuhan konsumsi 3. Kacang tanah. Ubi jalar.6 ton/hektar/tahun.3 ton/ha/tahun.099 ekor sapi. b.481 ton gabah kering giling per tahun. .Nunukan sebesar 16. produktivitas 0.09 kg/orang/tahun. Lahan Palawija Untuk kebutuhan bahan pangan lainnya. dan 5. Ubi kayu.3 ton/ha/tahun. kebutuhan konsumsi 11.35 kg/orang/tahun. populasi ternak di Kabupaten Nunukan adalah 2. untuk memenuhi kebutuhan beras sebanyak 47. 225. Kacang hijau.9 ton/ha/tahun. konsumsi 7. tingkat produktivitas 16. 57.2 ton/ha/tahun.52 kg/orang/tahun. 2. kebutuhan konsumsi per orang per tahun adalah 26.9 ton/hektar/tahun. 449 ekor kambing.37 ha. Lahan Peternakan Rakyat Pada tahun 2000.

528 23.435.840 163.393. sedangkan Lumbis dan Sebuku berada pada klaster II.37 Berdasarkan peta ketinggian lahan pada Gambar 37. Alternatif ketiga dalam pengembangan wilayah perbatasan pada klaster III adalah sektor perkebunan.338.69 6.83 8.35 19.182. Hal ini didukung dengan peningkatan luas areal komoditas kelapa sawit pada tahun 2007 sebesar 25.15 6.100.698 30. Hal ini juga didukung dengan peningkatan luas panen padi (sawah+ladang) di Kabupaten Nunukan pada tahun 2007.768.54 21.64 30.47 4.072.979. Perhitungan kebutuhan lahan sawah (RTRW Kabupaten Nunukan 2004-2014) Skenario Index Pesimis 2009 2014 Optimis 2009 2014 Ambisius 2009 2014 Sumber: Hasil Analisis 96.334.40 15.50 16. Nunukan yang berada pada klaster III.42 10. yaitu menjadi 48.35 Keperluan Gabah (ton) 1.053 116.05 19.97 30.55 16.100 mdpl yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman padi.09 8.190.28% (Kabupaten Nunukan dalam Angka.690. di mana tanaman padi naik sebesar 4. Sebatik Barat.337.961 107.750.Tabel 16.850. .264. Sebagian besar dari luas areal kelapa sawit terdapat di Kecamatan Sebatik.462. Produksi tanaman padi juga mengalami kenaikan. pada klaster III didominasi ketinggian lahan berkisar antara 0 .21 Keperluan Dasar 4.832.03 10.933.434.04 Kebutuhan Lahan (Ha) 67% 7.171 239.65%.481.90 24.784 144.051.4% dibandingkan dengan tahun 2006 (Kabupaten Nunukan dalam Angka 2008).127 ton atau dengan kata lain terjadi peningkatan produktivitas padi sebesar 9.90 4.72 9.53 47.696.751 Tahun Jumlah Penduduk Keperluan Beras (ton) 150 13.80 5. 2008).

Sebuku. 2008 Gambar 37. 4 tahun 1992 memuat amanat tentang pengembangan permukiman khusus. dan Sebatik Barat) sektor perkebunan. Nunukan Selatan. 4. Pengembangan permukiman (permukiman khusus) menjadi salah satu program prioritas pembangunan wilayah perbatasan dalam upaya pengembangan potensi ekonomi dan sumber daya alam. Peta Kabupaten Nunukan berdasarkan wilayah ketinggian Kesimpulan hasil analisis MPE yang dilakukan untuk sektor-sektor yang potensial dalam mendukung pengembangan permukiman perbatasan di Kabupaten Nunukan untuk klaster I (Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan) adalah sektor pertambangan.Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Adanya keterbatasan infrastruktur dan permukiman di wilayah perbatasan baik yang berada dalam kawasan perkotaan maupun perdesaan yang kurang berkembang menyebabkan aktivitas sosioekonomi banyak berorientasi ke negara tetangga. dan Sebatik) sektor perikanan. klaster II (Kecamatan Lumbis. dan klaster III (Kecamatan Nunukan.4 Analisis Strukturisasi Permasalahan dan Komponen Dominan Kebijakan Pengembangan permukiman di wilayah perbatasan dalam Undang-Undang No. dan kesadaran masyarakat perbatasan terhadap identitas nasional. hal ini berkaitan juga dengan keamanan. Selain menyebabkan ketergantungan negara tetangga. . kehormatan.

(2) dapat mengoptimalkan penggunaan lahan. Apabila tidak terkendali akan dapat menjadi hambatan dalam pengembangan potensi pertumbuhan sebagai penggerak pengembangan sosial.Pengembangan perbatasan pusat-pusat pertumbuhan baru (border city) di wilayah ruang terbuka terdapat enam kategori. ekonomi. dan peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan di wilayahnya (Canales 1999).4. . (3) mengurangi dan efisiensi pembiayaan pembangunan infrastruktur. dan (5) memastikan transisi penggunan lahan perdesaan menuju perkotaan berjalan secara alamiah dan terarah (Seong 2006). disusunlah struktur permasalahan untuk keberhasilan pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan yang terbagi atas lima elemen pada permasalahan yang terdiri dari 24 subelemen kendala. Berdasarkan hal tersebut kiranya perlu dibuat desain kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. Secara lengkap elemen permasalahan dan subelemen kendala terlihat pada tabel 17. kependudukan.1 Elemen Permasalahan dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Menurut Saxena (1994) yang dikutip Marimin (2005) berdasarkan hasil kajian pendapat pakar. 4. Dinamika kegiatan ekonomi perkotaan di wilayah perbatasan merupakan kondisi yang dapat meningkatkan pertumbuhan kota-kota (pusat pertumbuhan baru) perbatasan negara. yaitu (1) melindungi hijau/konservasi dan sumber daya alam. (4) mendorong sinergitas hubungan kota dan desa.

pada setiap elemennya dijabarkan menjadi sejumlah subelemen yang rinci. Berikut ini adalah hasil hubungan . Asia-Australia & Australia.Tabel 17. kumuh & tidak dikelola dengan baik Rencana Tata Ruang Wilayah yang tidak sesuai dengan kebutuhan Minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman Terbatasnya fasum & fasos Terbatasnya pelayanan publik Terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan perkim Perkembangan infrastruktur & permukiman yang tidak terencana Rendahnya kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan lahan sesuai peruntukan Penegakan hukum dan peraturan masih lemah Adanya privatisasi lahan oleh pemerintah & swasta Belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan Terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan Pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal 5 Dari lima elemen hasil kajian ini. berpencar.Eropa Banyak pemukiman berada di batas wilayah perbatasan Kondisi lingkungan tidak tertata. Elemen permasalahan pengembangan kawasan permukiman perbatasan No 1 Elemen (Masalah) Pengelolaan SDA wilayah perbatasan masih kurang No 1 2 3 4 5 6 7 8 2 Pengembangan dan Penataan kawasan permukiman kurang optimal 9 10 11 12 13 3 Pembangunan infrastruktur wilayah & permukiman belum sejalan 14 15 16 17 18 19 4 Kelembagaan belum mendukung pengembangan permukiman Pembiayaan belum mendukung pengembangan permukiman 20 21 22 23 24 Sub elemen (Kendala) Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan Perbedaan karakteristik antara wilayah darat dan laut Pengembangan dan pengelolaan SDA belum optimal Rendahnya kesejahteraan masyarakat Aktivitas sosial ekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga Kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional Persepsi wilayah perbatasan merupakan wil dan pintu belakang negara Pemanfaatan dan pengendalian tata ruang masih lemah Letak geografis Indonesia di titik silang benua EropaAsia. Subelemen ini berupa indikator-indikator keberlanjutan yang mempunyai nilai tinggi yang telah dipilah-pilah sesuai dengan konteks kelima elemen program tersebut.

sedangkan yang memiliki nilai driver power terendah adalah 2 atau perbedaan karakteristik antara wilayah darat dan laut. nilai driver power elemen masalah tertinggi pada subelemen 7 atau kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional dan subelemen 4 atau rendahnya kesejahteraan masyarakat. 12.00 2.00 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 Sub Elemen (Kendala) Gambar 38. pemerintah daerah.00 4. Hasil yang digunakan dalam model ISM adalah kajian dari pendapat pakar melalui wawancara mendalam seperti yang tertuang pada matriks interaksi tunggal terstruktur (structural self interaction matrix/SSIM).00 10. Pakar yang terlibat dalam proses ini adalah pakar dari kalangan pemerintah pusat.00 8. pengalaman di bidang pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan. di mana terkandung suatu arahan pada hubungan tersebut (Eriyatno dan Sofyar 2007). Gambaran dari masing-masing elemen masalah mengenai peringkat berdasarkan nilai driver power yang ada dapat dilihat pada gambar 38.00 6. swasta dan masyarakat yang terpilih berdasarkan pengetahuan.104 kontekstual antarsubelemen pada setiap elemen yang digambarkan dalam bentuk terminologi subordinat yang mengacu pada perbandingan berpasangan antar subelemen. Peringkat elemen masalah berdasarkan nilai driver power Berdasarkan gambar 38 di atas. Masyarakat di wilayah perbatasan yang bersebelahan dengan wilayah negara tetangga yang jauh lebih maju pada umumnya memiliki orientasi sosial .

(2) terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan. Interpretasi dalam bentuk hierarki disajikan pada Gambar 39. Hal ini menyebabkan prasarana dan sarana wilayah minim. (3) rendahnya kesejahteraan masyarakat. Kemiskinan dan ketertinggalan masyarakat merupakan salah satu permasalahan utama di wilayah perbatasan. (6) kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan. linkage. dependent. diperlukan percepatan pembangunan di wilayah perbatasan dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan. Oleh karena itu. (9) minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman. pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu meningkatkan upaya sosialisasi peningkatan wawasan kebangsaan melalui program-program pembangunan yang selaras dengan pengembangan permukiman dan penyediaan prasarana dan sarana. (11) penegakan hukum dan peraturan masih lemah. (7) aktivitas sosial ekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga. (10) terbatasnya pelayanan publik. (5) terbatasnya fasos dan fasum. dan (12) pemanfaatan dan pengelolaan dana . (4) terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman. (8) kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga. Hasil analisis ini menggambarkan pendapat para ahli bahwa elemen masalah dalam strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara diawali oleh (1) kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional. fasilitas umum dan sosial terbatas. serta kesejahteraan masyarakat rendah. Dalam rangka memenuhi hak-hak masyarakat sebagai warga negara dalam memperoleh pelayanan publik dan kesejahteraan sosial serta membuka keterisolasian wilayah. Analisis data ISM dapat terlihat pada Lampiran 3.ekonomi yang berorientasi kepada wilayah negara tetangga. Keterbatasan pelayanan publik di wilayah perbatasan menyebabkan orientasi aktivitas sosial-ekonomi masyarakat tertarik ke wilayah negara tetangga. Penggunaan alat tukar dan akses informasi serta komunikasi nasional yang terbatas dikhawatirkan dalam jangka panjang akan melunturkan rasa kebangsaan dan bela negara masyarakat. Hal ini disebabkan sentralisasi pembangunan pada masa lalu dan kecenderungan penggunaan pendekatan keamanan dalam pengelolaan wilayah perbatasan. dan independent. Subelemen dikelompokkan ke dalam empat sektor yakni autonomous.

Dengan Dua belas elemen masalah tersebut berada pada demikian. sektor independent. strategi pengembangan kawasan merupakan elemen yang berperan sebagai peubah bebas berkekuatan penggerak besar.106 pembangunan belum optimal. tetapi tidak tergantung kepada sistem. Kemudian diikuti oleh elemen masalah wilayah perbatasan yang menjadi pintu belakang negara dan adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan. belum .

Level 1 Perbedaan karakteristik antara wilayah darat dan laut Banyak pemukiman berada di batas wilayah perbatasan Dependent Level 2 Pemanfaatan dan pengendalian tata ruang masih lemah Letak geografis Indonesia di titik silang benua Kondisi lingkungan tidak tertata. berpencar. Diagram hierarki dari subelemen masalah dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara . kumuh & tidak dikelola dengan baik RTRW yang tidak sesuai dengan kebutuhan Level 3 Pengembangan dan pengelolaan SDA belum optimal Perkembangan infrastruktur & permukiman yang tidak terencana Rendahnya kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan lahan sesuai peruntukan Adanya privatisasi lahan oleh pemerintah & swasta Level 4 Persepsi Wilayah Perbatasan merupakan wilayah dan pintu belakang negara Belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan Level 5 Aktivitas sosek masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga Kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga Minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman Terbatasnya pelayanan publik Independent Penegakan hukum dan peraturan masih lemah Pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal Level 6 Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan Terbatasnya fasos dan fasum Terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman Level 7 Rendahnya kesejahteraan masyarakat Terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan Level 8 Kurangnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional Gambar 39.

(c) Matriks driver power-dependence untuk elemen sektor masyarakat yang terpengaruh program. 20. Dalam strategi pengembangan kawasan posisinya akan mengikuti elemen lainnya yang berada di sektor independent. 12. Berdasarkan hasil analisis. 11 2 1 0 Linkage Autonomus Dependent Gambar 40. Matriks DP-D untuk subelemen masalah dalam strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara Perlu dicermati bahwa posisi masalah persepsi wilayah perbatasan merupakan wilayah dan pintu belakang negara serta masalah belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan dalam upaya pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan berada di dekat sektor linkage. (b) Diagram model struktural ISM dari elemen sektor masyarakat yang terpengaruh program seperti disajikan pada Gambar 39. 23 22 21 1. 20 21 19. Hasil kajian subelemen pada analisis ISM berupa (a) Matriks reachability dan interpretasi dari elemen masalah yang terpengaruh program yang disajikan pada Lampiran 3. 1918. 10. 18 24 17 16 15 14 13 12 8. disajikan pada Gambar 40. 14. 13 5 4 3 2. 6.22 2123 24 25 9 8 7 6 9. Independent 25 24 7 23 4.Hasil analisis ini memberikan makna bahwa kedua belas elemen faktor kunci masalah yang berada di sektor dependent sangat tergantung pada sistem dan tidak mempunyai kekuatan penggerak yang besar. 17 20 19 5. dua belas faktor kunci prioritas penggerak elemen tolok ukur yang sangat memengaruhi faktor lain dalam keberhasilan strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yaitu subelemen-subelemen yang terletak pada sektor I . 22 11 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 10 12 13 14 15 16 17 18 3. Hal ini berarti faktor kunci dapat berubah menjadi sektor linkage apabila faktor-faktor yang lain mendukung subelemen tersebut. 16. 15.

masyarakat. Pakar yang terlibat dalam proses ini adalah pakar dari kalangan pemerintah. 4. Adapun hasil yang digunakan dalam model ISM adalah kajian dari pendapat pakar melalui wawancara mendalam seperti yang tertuang pada matriks interaksi tunggal terstruktur (structural self interaction matrix/SSIM) pada Lampiran 4. tidak terdapat faktor-faktor kunci yang berperan sebagai peubah linkage. setiap tindakan meningkatkan peranan sektor-sektor independent. pemerintah daerah. swasta. dan LSM yang terpilih berdasarkan pengetahuan. disusunlah struktur tolok ukur untuk menuju keberhasilan pengembangan kawasan permukiman yang terbagi atas lima elemen pada tolok ukur yang terdiri dari 16 subelemen kendala.4. legislatif. pengalaman di bidang pengembangan kawasan permukiman. sedangkan lemahnya perhatian terhadap sektor-sektor tersebut akan menyebabkan kegagalan program. Tindakan meningkatkan peranan terhadap sektor-sektor tersebut akan menghasilkan terwujudnya program menuju sistem pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan. . tetapi dengan peningkatan peranan secara optimal dari faktor-faktor kunci seperti persepsi wilayah perbatasan merupakan wilayah dan pintu belakang negara (8) dan persepsi belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan akan berdampak terhadap peningkatan faktor-faktor kunci tersebut sebagai peubah linkage. Berdasarkan hasil analisis. perguruan tinggi.2 Elemen Tolok Ukur dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Berdasarkan hasil kajian dan pendapat pakar.(independent). Secara lengkap elemen tolok ukur dan subelemen kendala terlihat pada Tabel 18. lembaga profesi. Dalam desain kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara.

SDA. Elemen tolok ukur pengembangan kawasan permukiman perbatasan No Elemen (Tolok Ukur) 1 Otimalisasi pengelolaan SDA kawasan No 1 2 3 Sub elemen (Kendala) Penataan dan pembukaan isolasi serta ketertinggalan wilayah perbatasan Peningkatan kegiatan pengembangan pemukiman. sarana. budaya. dan antar stakeholders di wilayah perbatasan Pembuatan kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan Penyusunan kebijakan tingkat makro dan mikro. sarana. dan prasarana Partisipasi horison & vertikal pusat dan daerah Pendekatan pengelolaan wilayah perbatasan pada aspek keamanan. dan kelembagaan pendukung pusat pertumbuhan Penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan Evaluasi kegiatan untuk penganggaran dana pada kegiatan selanjutnya 4 5 2 Peningkatan pengembangan dan penataan kawasan permukiman 6 7 8 3 Pengembangan infrastruktur wilayah dan permukiman terpadu 9 10 11 4 Pengembangan kelembagaan 12 13 14 5 Alokasi dana untuk pengelolaan wilayah perbatasan 15 16 . lingkungan. dan prasarana wilayah Pengembangan kawasan khusus dengan pemanfaatan ruang spesifik sesuai dinamika wilayah perbatasan Pengelolaan SDA darat dan laut secara seimbang Peningkatan kesejahteraan masyarakat. pendapatan daerah. investasi. sosial ekonomi. antarpemerintahan.Tabel 18. dan kesejahteraan secara seimbang Sinergi/keterpaduan dan keseimbangan pembangunan berdasarkan potensi wilayah Peningkatan kerjasama pembangunan antar negara. dan pendapatan negara Pembangunan wilayah perbatasan melalui pengembangan permukiman sebagai pusat pertumbuhan baru sebagai dan embrio kegiatan ekonomi Penataan ruang wilayah Pembangunan infrastruktur.

Elemen tolok ukur tersebut diawali oleh peningkatan kesejahteraan masyarakat.00 1. sedangkan yang memiliki nilai driver power terendah adalah 3 (pengembangan kawasan khusus dengan pemanfaatan ruang spesifik sesuai dinamika wilayah perbatasan). Peringkat elemen tolok ukur berdasarkan nilai driver power Berdasarkan Gambar 41 di atas. penataan dan pembukaan isolasi serta ketertinggalan wilayah perbatasan. dependent. kesejahteraan secara seimbang. linkage dan independent.00 2.111 Gambaran dari masing-masing elemen tolok ukur mengenai peringkat berdasarkan nilai driver power yang ada disajikan pada Gambar 41. gambar tersebut menjelaskan pendapat para ahli tentang elemen tolok ukur dalam strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan.00 4.00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Driver Power Elemen (Tolok Ukur) Gambar 41. penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan.00 3. dan pendapatan negara) dan 15 (penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan). prasarana dan sarana. Analisis data ISM disajikan pada Lampiran 4. pendapatan daerah dan pendapatan negara. nilai driver power elemen tolok ukur tertinggi pada subelemen 5 (peningkatan kesejahteraan masyarakat.00 6. pendekatan pengelolaan wilayah perbatasan pada aspek sosekbudhankam dan lingkungan. pendapatan daerah. Selain itu.00 5. pembangunan infrastruktur.00 8. Interpretasi dalam bentuk hierarki disajikan pada Gambar 38 dan pada Gambar 39 subelemen dikelompokkan kedalam empat sektor yakni autonomous. peningkatan kerja sama pembangunan antarnegara antarpemerintahan dan antar-stakeholders di wilayah . Berdasarkan Gambar 42.00 7. 9.

disajikan pada Gambar 42. dan antar stakeholders di wilayah perbatasan Level 5 Peningkatan kesejahteraan masyarakat. sarana dan prasarana Pendekatan pengelolaan Wilayah Perbatasan pada aspek sosekbudhankam dan lingkungan serta kesejahteraan secara seimbang Independent Peningkatan kerjasama pembangunan antar negara. yang disajikan pada lampiran 4. investasi.perbatasan merupakan elemen tolok ukur tersebut. (c) Matriks driver power-dependence untuk elemen tolok ukur yang terpengaruh program. SDA dan kelembagaan pendukung pusat pertumbuhan Evaluasi kegiatan untuk penganggaran dana pada kegiatan Level 3 Peningkatan kegiatan pengembangan pemukiman. Hasil kajian subelemen pada analisis ISM berupa (a) Matriks reachability dan interpretasi dari elemen tolok ukur yang terpengaruh program. antar pemerintahan. sarana dan prasarana wilayah Pembangunan Wilayah Perbatasan Penataan ruang wilayah Sinergi dan keseimbangan pembangunan Linkage Pembuatan kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan Level 4 Penataan dan pembukaan isolasi serta ketertinggalan wilayah perbatasan Pembangunan infrastruktur. Diagram hierarki dari subelemen tolok ukur dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara . pendapatan daerah dan pendapatan negara Penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan Gambar 42. Level 1 Pengembangan kawasan khusus dengan pemanfaatan ruang spesifik sesuai dinamika wilayah Dependent Level 2 Pengelolaan SDA darat dan laut secara seimbang Partisipasi horison & vertikal pusat dan daerah Penyusunan kebijakan tingkat makro dan mikro. (b) Diagram model struktural ISM dari elemen tolok ukur yang terpengaruh program seperti disajikan pada Gambar 38.

113 Berdasarkan hasil analisis terdapat 6 faktor kunci prioritas penggerak elemen tolok ukur yang sangat memengaruhi program menuju strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yaitu subelemen-subelemen yang terletak pada sektor I (independent). 12 13 12 11 10 9 8 6 7 7 8 9 6 5 4 3 2 1 0 Linkage 2. . 1 1 0 4 . Independent 5.3 Komponen-komponen Dominan dalam Kebijakan Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Kabupaten Nunukan A. sedangkan lemahnya perhatian terhadap sektor-sektor tersebut akan menyebabkan kegagalan program. KLH. 16 0 1 2 3 4 5 3 Autonomus Dependent Gambar 43. 15 17 16 15 1. 8. Departemen PU. Setiap tindakan yang meningkatkan peranan dari sektor-sektor tersebut akan menghasilkan sukses program menuju sistem pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. masyarakat. dan LSM. Gambar 39 merupakan diagram hirarki AHP yang telah didiskusikan dan merupakan pendapat pakar melalui wawancara yang mendalam. 14. 7. Hasil Pembobotan pada Setiap Komponen Dalam menganalisis komponen yang dominan dalam kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan wilayah perbatasan negara di Kabupaten Nunukan. Departemen Dalam Negeri. DPR RI. Menpera. pemda.4. swasta. digunakan model AHP untuk memilih arahan kebijakan yang tepat dan penting dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan. Matriks DP-D untuk subelemen tolok ukur dalam pengembangan strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara 4. 11. lembaga profesi. Pakar yang terlibat antara lain dari Bappenas. 6. 9. 13 10 11 12 13 14 15 16 17 4. perguruan tinggi.

337 Pemerintah Daerah 0.158 Pengembangan Prasarana Kawasan 0. swasta.130 Strategi Pengembangan (Pembiayaan) 0. pemerintah daerah. dan BKM/LSM setempat.120 Pendanaan Pembangunan 0. prasarana. peningkatan kesejahteraan.313 Pemulihan Ekosistem 0.624 Strategi Pengembangan (Kelembagaan) 0. dan sarana. pakar. pengaruh.222 Swasta 0. Aktor tersebut terkait dengan pengembangan kawasan permukiman dan masing-masing aktor mempunyai peran. Level 2 adalah faktor yang terdiri atas kebijakan pemerintah. Diagram hierarki AHP pada pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara Hierarki AHP disusun dengan lima level yang memperlihatkan tahapan proses penetapan prioritas yang dimulai dari penetapan fokus pada level l yaitu fokus pada pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara.087 Sasaran Strategi Pengembangan (Kawasan) 0.191 Stakeholders Pemerintah 0.133 Pakar 0.091 BKM / LSM 0. Level 5 adalah sasaran yang terdiri atas strategi pengembangan kawasan.246 Gambar 44. strategi pengembangan pembiayaan. masyarakat.068 Tujuan Pengembangan Dan Penataan Kawasan 0.271 Prasarana dan Sarana 0. dan kekuatan terhadap kebijakan-kebijakan pengembangan kawasan. tingkat pendapatan. Hasil pengisian kuesioner matriks perbandingan berpasangan yang disampaikan kepada . pendanaan pembangunan. pengelolaan SDA dan ekosistem kawasan. pengembangan prasarana kawasan dan minimalisasi konflik. dan strategi pengembangan kelembagaan. Level 3 adalah aktor terdiri atas pemerintah pusat. Level 4 adalah tujuan untuk pengembangan kawasan permukiman yang terdiri atas pengembangan dan penataan kawasan.116 Minimalisasi Konflik 0.150 Masyarakat 0.326 Peningkatan Kesejahteraan 0.418 Tingkat Pendapatan 0.Fokus Permukiman PerbatasanNegara Faktor Kebijakan Pemerintah 0.

Hasil analisis AHP pada setiap level dari heirarki desain pengembangan kawasan berkelanjutan. Urutan prioritas faktor dalam pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan Berdasarkan gambar 45. kawasan pusat pertumbuhan maupun pada kawasan yang sangat terperinci di wilayah perbatasan negara. dan BKM/LSM. Pembobotan Kriteria Faktor dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Perbatasan Negara Berkelanjutan Berdasarkan hasil dari pendapat pakar tersusun faktor-faktor yang menjadi pengaruh utama dalam pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan. Penyiapan perangkat kebijakan dan pendanaan pembangunan diperlukan guna pengembangan kawasan permukiman di tingkat kabupaten. pakar perguruan tinggi.271.418 dan 0.115 pakar dari kalangan pemerintah pusat. masyarakat. Dalam kaitan dengan kebijakan pemerintah diperlukan kebijakan ekonomi yang meliputi intervensi pemerintah . swasta. hasil analisis AHP yang merupakan faktor (level 2) kebijakan pemerintah dan pendanaan pembangunan menjadi prioritas utama dengan masing-masing bobot nilai adalah 0. pemerintah daerah. Kebijakan pemerintah akan membantu membangun pusat-pusat pertumbuhan baru kegiatan ekonomi dan perdagangan. kemudian diolah dengan perangkat lunak Expert Choice. Bobot dan prioritas yang dianalisis adalah hasil kombinasi (combined) dari pendapat para pakar pada setiap matriks berpasangan. B. Gambar 45 menunjukkan urutan prioritas faktor-faktor tersebut. Keterangan : KBPM = Kebijakan Pemerintah PDPB = Pendanaan Pembangunan PSSR = Prasarana dan Sarana TKPM = Tingkat Pendapatan Gambar 45.

dan LSM. (4) Perilaku mengindikasikan kegiatan dari pelaku yang terlibat. Hasilnya adalah model pola pentahapan dan proses penyusunan kebijakan. Pengelolaan pembangunan perumahan harus memperhatikan ketersediaan sumber daya pendukung serta keterpaduannya dengan aktivitas lain. memahami tiap tingkat harus mempertimbangkan tingkat yang paling atas dan paling bawah sebagai perbandingan hubungan yang paling dekat. Pola merupakan gambaran sementara dari proses dan perilaku merupakan sumber dari proses pengambilan keputusan (Cheng 1999). serta pembangunan permukiman yang kontributif terhadap rencana tata ruang. dan pemberian stimulan bagi kegiatan pembangunan yang memerlukannya. dan tersedianya fasilitas sosial dan umum. strategi yang ditempuh adalah partisipasi masyarakat. Hal tersebut dilakukan agar segenap tujuan pembangunan berkelanjutan ini dapat tercapai. penciptaan kesempatan kerja. . (Permenpera 1999). diperlukan upaya pengembangan perencanaan dan perancangan. stakeholders. Oleh karena itu. Lokasi permukiman perlu memperhatikan keserasian dengan lingkungannya. Memahami kecenderungan pertumbuhan kawasan perkotaan di wilayah perbatasan (pusat pertumbuhan baru) sangat terkait dengan 4 faktor: kebijakan. swasta. Konsekuensinya untuk memahami proses adalah harus melihat pola dan perilaku yang terkandung di dalamnya. (3) Proses dapat mengindikasikan dinamika pertumbuhan kota. Aturan dalam teori hierarki. kesehatan lingkungan.116 secara terarah. (1) Kebijakan merupakan faktor paling penting untuk mengontrol pertumbuhan suatu kota pada skala makro. Kebijakan pengembangan permukiman di Indonesia tahun 2000—2020 antara lain pengembangan lokasi kawasan permukiman dengan memerhatikan jumlah penduduk dan penyebarannya. pola tata guna lahan. Adapun. perilaku masyarakat. (2) Pola pertumbuhan merupakan cerminan dapat dilihat secara langsung hasilnya. Kuswara (2004) dalam kajiannya mengungkapkan bahwa permukiman merupakan tempat aktivitas yang memanfaatkan ruang terbesar dari kawasan budi daya. LKM. pemerataan pendapatan. proses dan pola pertumbuhan. hal tersebut sering terabaikan sehingga tidak berfungsi secara optimal dalam mendukung suksesnya perkembangan suatu kawasan/kota. Dalam kenyataannya. dalam konteks hubungan antara tujuan sosial dan ekologi.

(iii) marjinalisasi sektor lokal oleh sektor nasional dan global. Gambar 46 menunjukkan urutan prioritas stakeholder tersebut.120. Pembobotan Kriteria Stakeholder dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Perbatasan Negara Berkelanjutan Berdasarkan hasil dari pendapat pakar.117 Permasalahan perumahan saat ini menurut Kirmanto (2005) telah terjadi: (i) alokasi tanah dan tata ruang yang kurang tepat. (iv) masalah lingkungan dan eksploitasi sumberdaya alam. Rencana tapak kawasan ini penting karena akan menentukan bentuk dan pola kawasan yang dapat menciptakan suatu kawasan permukiman yang tertata sehingga kemudahan dan kenyamanan para penghuni dapat tercipta serta dapat mempengaruhi perilaku penghuni di mana pun kawasan permukiman berada termasuk di wilayah perbatasan negara. perlu dibuat rencana tapak kawasan (site planning) agar dalam jangka panjang perumahan tersebut tidak menimbulkan dampak negatif dalam arti luas. tersusun stakeholder yang menjadi pengaruh utama dalam pengelolaan pengembangan kawasan permukiman tersebut perbatasan negara berkelanjutan. sehingga akan memberikan keuntungan kepada pemerintah dan mensejahterakan masyarakat di sekitar kawasan tersebut. Tantangan pengembangan kawasan permukiman yang akan datang antara lain (i) urbanisasi yang tumbuh cepat merupakan tantangan bagi pemerintah untuk berupaya agar pertumbuhan lebih merata. . Setelah lokasi kawasan permukiman ditentukan berdasarkan pilihan yang optimal. (ii) perkembangan tak terkendali di daerah yang memiliki potensi untuk tumbuh. dan perumahan. Adanya peningkatan prasarana dan sarana serta peningkatan tingkat pendapatan. pelayanan perkotaan. dan (v) komunitas lokal tersisih. (iii) konflik kepentingan dalam penentuan lokasi perumahan. dan (iv) kegagalan implementasi dan kebijakan penentuan lokasi perumahan (Kirmanto 2005). Hasil analisis AHP selanjutnya yang menjadi prioritas adalah peningkatan prasarana dan sarana dengan bobot nilai 0. (ii) ketimpangan pelayanan infrastruktur.191 dan yang menjadi prioritas yang terakhir adalah tingkat pendapatan dengan bobot nilai 0. Diharapkan program pembangunan yang menyeluruh dan terpadu dapat dilaksanakan di wilayah perbatasan negara Kabupaten Nunukan. C. di mana orientasi pembangunan terfokus pada kelompok masyarakat mampu serta menguntungkan.

Pola penanganan tersebut dapat dijabarkan melalui penyusunan kebijakan dari tingkat makro sampai tingkat mikro .222. pengembangan wilayah perbatasan memerlukan suatu pola atau kerangka penanganan yang menyeluruh meliputi berbagai sektor dan kegiatan pembangunan serta koordinasi dan kerjasama yang efektif dari mulai pemerintah pusat sampai ke tingkat kabupaten/kota. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) 2000-2004. Oleh karena itu. Hal tersebut disebabkan kenyataan di lapangan maupun pada tingkat kebijakan sangat ditentukan oleh pengaruh dan peran dari aktor pemerintah pusat dan pemerintah daerah sesuai dengan Undang-undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. pemerintah mempunyai kewenangan penuh untuk mendorong percepatan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan kabupaten Nunukan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN). Pemerintah pusat dan pemerintah daerah mempunyai tingkat kepentingan yang tinggi terhadap penetapan alternatif kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan. 32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah. bobot nilai masing-masing stakeholder adalah 0. dan UU No. Secara umum. Undang-undang No.337 dan 0.118 Keterangan : PP = Pemerintah Pusat PD = Pemerintah Daerah ST = Swasta MY = Masyarakat PK = Pakar Gambar 46. Urutan prioritas stakeholder dalam pengembangan permukiman perbatasan negara berkelanjutan kawasan Berdasarkan gambar 46 hasil analisis AHP yang merupakan stakeholder (level 3) menunjukkan bahwa pemerintah pusat dan daerah mempunyai peran utama dalam pengembangan kawasan permukiman. 4 tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. Undang-Undang No.

dan kesadaran masyarakat perbatasan akan identitas nasional. masyarakat. . Tanggung jawab sosial swasta di antaranya peningkatan kesejahteraan dapat memberikan masyarakat. Pembangunan permukiman sangat penting dilakukan di wilayah perbatasan tersebut menyangkut keamanan. Swasta memiliki bobot nilai sebanyak 0. Keberadaan tanah ulayat secara sesungguhnya memiliki permasalahan secara administratif karena terkadang keberadaannya melintasi batas negara di dua wilayah negara. Walaupun demikian. tetapi sebaliknya perlu diakui dan diatur secara jelas.dan disusun berdasarkan proses yang partisipatif baik secara horisontal di pusat maupun vertikal dengan pemerintah daerah.133. Stakeholder selanjutnya adalah pakar dan BKM/LSM masing-masing stakeholder tersebut mempunyai bobot nilai 0.91 dan 0.150. Swasta merupakan salah satu stakeholder yang mempunyai peran terhadap pengembangan kawasan permukiman. dan swasta atau dunia usaha berdasarkan prinsip kemitraan dan kerjasama. Stakeholder selanjutnya adalah masyarakat yang mempunyai bobot nilai 0. keberadaanya tidak dapat dihapuskan. Masyarakat berperan penting untuk menjaga wilayah perbatasan. memperkuat investasi dunia usaha sehingga dapat meningkatkan dan menguatkan jaringan kemitraan serta kerja sama antara masyarakat. pemerintah dengan swasta. Hak-hak ulayat masyarakat perbatasan perlu diakui dan diatur keberadaannya. kehormatan. implikasi positif terhadap meringankan beban pembiayaan pembangunan. seperti pernyataan Direktorat Jendral Pemberdayaan Sosial (2005) mengemukakan bahwa tanggung jawab sosial dunia usaha telah menjadi suatu kebutuhan yang dirasakan bersama antara pemerintah. Kedua stakeholder tersebut mempunyai peran dalam hal melakukan pemantauan dan pengawasan di lapangan terhadap sosial ekonomi masyarakat di sekitar wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan dan usaha-usaha penegakan hukum jika ada suatu pelanggaran dalam setiap kegiatan pembangunan. Swasta mempunyai peran sebagai penggalian sumber dana untuk investasi pembangunan yang berkaitan dengan pengembangan kawasan permukiman. sedangkan jangkauan pelaksanaannya bersifat strategis sampai dengan operasional. karena hak-hak ulayat ini secara tradisional menjadi aset penghidupan sehari-hari masyarakat tersebut.68.

Amanat GBHN ini telah dijabarkan dalam Undang-Undang No. Pengembangan kawasan menjadi prioritas sesuai dengan GBHN 1999 tertinggal mengamanatkan yang harus bahwa wilayah perbatasan dalam merupakan kawasan mendapat prioritas pembangunan. Penanganan pengembangan kawasan permukiman sesuai dengan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.120 D. Urutan prioritas tujuan dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara Berdasarkan gambar 47 hasil analisis AHP yang merupakan tujuan (level 4) menunjukkan pengembangan dan penataan kawasan dan peningkatan kesejahteraan mendapat priotitas utama dalam kriteria tujuan dengan masingmasing bobot nilai 0. Keterangan : PPK = Pengembangan dan Penataan Kawasan PKS = Peningkatan Kesejahteraan PE = Pengembangan SDA dan Ekosistem Kawasan PRK = Pengembangan Prasarana Kawasan MK = Minimasi Konflik Gambar 47.313. gambar 47 menunjukkan urutan prioritas tujuan tersebut. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) dan dalam Undang-Undang No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman pada pasal 2 memuat penjelasan bahwa lingkup pengaturan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) yang .326 dan 0. mengamanatkan bahwa wilayah perbatasan negara sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) dan menyiapkan berbagai kebijakan dan langkah serta program pembangunan yang menyeluruh dan terpadu sehingga akan terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan. Pembobotan Kriteria Tujuan dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Berdasarkan hasil dari pendapat pakar tersusun tujuan yang menjadi capaian utama.

Malaysia khususnya di wilayah perbatasan dengan Indonesia menggunakan pola cascade (ditarik ke dalam tidak linier di sepanjang jalan). meliputi kegiatan pembangunan baru. serta dengan menggunakan asumsi bahwa setiap keluarga terdiri dari 5 orang. serta rendahnya kesejahteraan masyarakat. meliputi kegiatan pemeliharaan. pemeliharaan.640 20.264 41. Tabel 19.784 144. pemanfaatannya. Berdasarkan asumsi pertumbuhan penduduk berdasarkan pada tiap-tiap skenario yang direncanakan.579 21. dan pemanfaataannya.751 Kebutuhan Rumah (unit) 18.110 Kemiskinan dan ketertinggalan masyarakat merupakan permasalahan utama di wilayah perbatasan.429 26. terbatasnya fasilitas umum dan sosial. dan Pengembangan pembangunan yang menyangkut penataan permukiman baru. Konsep penataan dan pengembangan permukiman di Indonesia berbeda dengan di Malaysia. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari perkembangan permukiman berpola linier/ribbon development (Departemen PU 2002). kebutuhan permukiman sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia ikut meningkat pula.578 26. perumahan perluasan. perluasan. Kebutuhan rumah di Kabupaten Nunukan tahun 2009 dan 2014 Kawasan Perumahan Skenario Pesimis 2009 2014 Optimis 2009 2014 Ambisius 2009 2014 Sumber: Hasil Analisis Jumlah Penduduk 96. peremajaan. Dalam mengembangkan kawasan permukiman. Hal ini disebabkan sentralisasi pembangunan di masa lalu dan kecenderungan penggunaan pendekatan keamanan dalam pengelolaan wilayah perbatasan sehingga menyebabkan minimnya prasarana dan sarana wilayah.961 107.171 239.menyangkut pemugaran. perbaikan.840 163. penataan perbaikan. maka perkiraan kebutuhan minimum rumah pada tahun 2009 dan tahun 2014 berdasarkan tiap skenario dapat ditentukan seperti tertera pada Tabel 19. Seiring meningkatnya jumlah penduduk.053 116. Keterbatasan pelayanan publik di wilayah perbatasan menyebabkan orientasi .

Kebijakan pengembangan wilayah perbatasan negara ke depan adalah dengan peningkatan keberpihakan terhadap wilayah perbatasan sebagai daerah tertinggal dan terisolir dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan dan keamanan secara seimbang. Paradigma pengelolaan wilayah perbatasan pada masa lampau berbeda dengan pradigma saat ini. Oleh karena itu. dan mengejar ketertinggalan pembangunan dari wilayah negara tetangga. Untuk masyarakat sebagai warga negara dalam memperoleh pelayanan publik dan kesejahteraan sosial serta membuka keterisolasian wilayah. meningkatkan sumber pendapatan negara. Prioritas selanjutnya adalah pengelolaan SDA dan ekosistem wilayah dengan bobot nilai 0. sosial. sedangkan saat ini kondisi keamanan regional relatif stabil sehingga pengembangan wilayah perbatasan perlu pula menekankan kepada aspek ekonomi. Pada masa lalu pengelolaan wilayah perbatasan lebih menekankan kepada aspek keamanan (security approach). pengembangan wilayah perbatasan melalui pendekatan kesejahteraan sekaligus pendekatan keamanan secara serasi perlu dijadikan landasan dalam penyusunan berbagai program dan kegiatan di wilayah perbatasan pada masa yang akan datang. Kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara mempunyai dampak langsung terhadap kualitas lingkungan seperti fakta adanya kawasan permukiman yang liar dan tidak tertata yang keberadaannya juga dapat mengganggu ekosistem air tanah. para pekerja . masyarakat dan pekerja di wilayah perbatasan banyak kekurangan rumah sehingga untuk memenuhi kebutuhan rumah. kegiatan-kegiatan pembangunan perlu direncanakan secara terpadu berdasarkan pada pengelolaan secara optimal potensi-potensi SDA dan ekosistem wilayah. Pengelolaan SDA dan ekosistem wilayah sangat penting untuk dilaksanakan sehingga SDA dan wilayah tidak terdegradasi akibat adanya pembangunan di kawasan tersebut. Di lain pihak. diperlukan percepatan pembangunan di wilayah perbatasan dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan.122 aktivitas memenuhi sosial-ekonomi hak-hak masyarakat ke wilayah negara tetangga. Pengelolaan wilayah perbatasan dengan pendekatan kesejahteraan (prosperity approach) sangat diperlukan untuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. budaya. Oleh karena itu.158. dan lingkungan.

maupun regional dalam berbagai bidang pengelolaan perbatasan tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan internasional maupun regional. Hal ini didukung meningkatnya hubungan masyarakat perbatasan baik dari segi sosial-budaya maupun ekonomi. Prioritas selanjutnya yaitu pengembangan prasarana dan sarana dengan bobot nilai 0. Forum ini mengadakan pertemuan setahun sekali dengan pergantian tempat antara Indonesia dan Malaysia. maupun regional diharapkan dapat menciptakan keterbukaan dan saling pengertian sehingga dapat menghindari terjadinya konflik perbatasan.116 yang sangat penting dilakukan untuk pengembangan potensi ekonomi dan sumber daya alam di kawasan tersebut. sosial-budaya. antarnegara sangat diperlukan untuk meningkatkan investasi dan optimalisasi pemanfaatan SDA di wilayah perbatasan. subregional. Permasalahan perbatasan yang ada saat ini terjadi pada sembilan titik. (3) . ekonomi. (2) Batu Aum. politik. Peningkatan kerja sama bilateral. yaitu masalah (1) Tanjung Datu. Permasalahan ini sangat kompleks dan menyangkut kepastian hukum wilayah NKRI atau Malaysia. setiap negara di saling tergantung satu sama lain. Prioritas terakhir adalah minimalisasi konflik dengan bobot nilai 0. dan masyarakat dengan pemerintah provinsi/pusat. subregional. Oleh karena itu. Apabila para pekerja dapat dipenuhi kebutuhan rumahanya oleh para stakeholders terkait. Selain itu kerja sama. dan pertahanan keamananan. serta untuk menanggulangi berbagai permasalahan hukum yang terjadi di wilayah perbatasan.087 yang penting dilakukan agar tidak terjadi konflik di wilayah perbatasan antara masyarakat dengan masyarakat negara tetangga. Hal ini dapat mendatangkan keuntungan bagi pemerintah daerah maupun masyarakat.menyewa tempat tinggal dengan tarif setengah dari gajinya. maka gajinya akan lebih besar untuk kebutuhan kesejahteraan sehingga etos kerja para pekerja akan semakin meningkat (Gilbreath 2002). Kelembagaan untuk menyelesaikan masalah-masalah perbatasan RI - Malaysia yang ada saat ini adalah General Border Committee (GBC) yang diketuai oleh Panglima TNI. peningkatan kerja sama dengan negara tetangga baik secara bilateral. Di era globalisasi seperti saat ini. Adanya saling ketergantungan dalam masyarakat internasional berpengaruh dalam bidang-bidang ideologi. masyarakat dengan pemerintah daerah.

624. (c) melaksanakan pertukaran informasi mengenai proyekproyek pembangunan sosial-ekonomi di wilayah perbatasan bersama. (6) Nanga Badau.Semilau. Urutan prioritas sasaran dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara Berdasarkan gambar 48 hasil analisis AHP yang merupakan sasaran (level 5) menunjukkan strategi pengembangan kawasan menjadi prioritas utama dengan bobot nilai 0. Hal tersebut disebabkan adanya dukungan ketersediaan infrastruktur dasar yang memadai untuk dilakukan pengembangan wilayah . (b) merumuskan hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan pembangunan sosial ekonomi di wilayah perbatasan. (4) Sungai Sinapad. Sosek Malindo di tingkat provinsi/negeri ditujukan untuk (a) menentukan proyekproyek pembangunan sosial ekonomi yang digunakan bersama. (5) Sungai Semantipal. E. dan (d) menyampaikan laporan kepada KK Sosek Malindo tingkat pusat mengenai pelaksanaan kerja sama pembangunan sosial-ekonomi di daerah perbatasan. Gambar 48 menunjukkan urutan prioritas sasaran tersebut. dan (9) Pulau Sebatik. Kerja sama di bidang sosial-ekonomi daerah perbatasan Malaysia (Sarawak dan Sabah) dengan Indonesia (Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur) yang disebut Sosek Malindo telah dilengkapi dengan kelompok kerja (KK). Pembobotan Kriteria Sasaran dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Perbatasan Negara Berkelanjutan Hasil dari pendapat pakar tersusun sasaran yang menjadi prioritas utama dalam keberhasilan pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan. Keterangan : SPKW = Strategi Pengembangan Kawasan SPPM = Strategi Pengembangan Pembiayaan SPKL = Strategi Pengembangan Kelembagaan Gambar 48. (8) Gunung Raya. (7) Sungai Buan.

Hal tersebut didukung oleh adanya dukungan pembiayaan dari pemerintah untuk melakukan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan. Adapun program pembangunan berupa penyusunan rencana pengembangan wilayah perbatasan dengan program kegiatan sebagai berikut: Penetapan arah kebijakan pembangunan wilayah perbatasan dengan orientasi mendukung pergerakan aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga. Peningkatan kualitas sumber daya manusia agar lebih berpotensi dan profesional. Dengan demikian.130. Peningkatan sarana dan prasarana pendukung terhadap aktivitas sosial ekonomi masyarakat setempat serta guna membantu pengamanan kawasan perbatasan. Prioritas yang terakhir adalah strategi pengembangan kelembagaan dengan bobot nilai 0. sosialisasi dan program advokasi berkelanjutan. Strategi Pengembangan Kawasan Arah pembangunan jangka panjang nasional yang berkaitan dengan attachment). Pengembangan wilayah perbatasan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi strategis dengan pemanfaatan sumberdaya alam setempat. pembangunan wilayah perbatasan merupakan wilayah perbatasan dikembangkan dengan mengubah arah kebijakan pembangunan yang selama ini cenderung berorientasi inward looking menjadi outward looking. a. Prioritas kedua yaitu pengembangan pembiayaan dengan bobot nilai 0. Penetapan garis batas negara secara jelas dan benar. Penetapan fungsi lembaga pengelola wilayah perbatasan sesuai dengan kapasitas. kawasan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pintu gerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga.246. pembentukan pengelolaan community-based permukiman organization (CBO). pelembagaan aktivitas sosialkultural.125 perbatasan di Kabupaten Nunukan. Hal tersebut disebabkan adanya dukungan perencanaan tata ruang yang partisipatif. bantuan teknis pengembangan desain rumah dan lingkungan. peningkatan kelengkapan lingkungan (neighbourhood peningkatan investasi publik. .

wilayah pedesaan. serta kecamatan. Pengawasan sumber daya alam di daerah perbatasan dan pencurian oleh pihak-pihak yang kurang bartanggung jawab serta pengawasan pemindahan patok-patok batas negara di perbatasan Indonesia dengan Malaysia. Bagian dokumen perencanaan daerah ini yang memuat salah satu prioritas pembangunan daerah perbatasan dengan program prioritas: Pembangunan sarana dan prasarana jalan darat yang menghubungkan pusat pusat pertumbuhan ekonomi di daerah kota dan pantai dengan wilayah di perbatasan termasuk jalan tembus menuju ke daerah Malaysia. Mengoptimalkan pemanfaatan pendapatan yang berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui dengan prinsip pembangunan yang berkelanjutan. Meningkatkan investasi dan peran wisata untuk mendorong penguatan ekonomi rakyat. Pembukaan sarana dan prasarana perintis dan air strip yang sudah ada di daerah perbatasan dan bantuan subsidi penerbangan ke daerah perbatasan. membuka wilayah pedalaman. Perlu dibuka pos-pos imigrasi di wilayah perbatasan untuk melegalkan arus barang yang masuk dan keluar dari wilayah Indonesia. Pengembangan potensi ekonomi yang tersedia di daerah perbatasan melalui . Mengembangkan antarwilayah dan menyerasikan laju pertumbuhan antarsektor pembangunan ekonomi. dan kawasan tertinggal lainnya. Perlu dibangun pelabuhan laut yang khusus melayani arus keluar-masuk barang dari Indonesia di Wilayah Nunukan Kepulauan.126 Arah kebijakan pemanfaatan ruang di wilayah perbatasan Provinsi Kalimantan Timur adalah: Perlu dibuka jalur transportasi yang menghubungkan wilayah perbatasan dengan daerah-daerah lainnya. Rencana Strategi Daerah Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2003--2008. Mempercepat tercapainya kemandirian masyarakat dan pemerintah Kabupaten Nunukan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. wilayah yang terisolasi. perbatasan. baik yang menuju Indonesia maupun Malaysia untuk memudahkan pemasaran hasil-hasil bumi setempat.

adil. serta pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah dan pemerintahan daerah diatur secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. b. Studi pengembangan Kawasan Strategis Nasional perbatasan Provinsi Kalimantan Timur yang menyangkut pula pemerintahan 4 kabupaten merupakan masalah nasional yang perlu mendapat perhatian khusus. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah dimaksudkan untuk mendukung penyerahan urusan kepada pemerintahan daerah yang diatur dalam Undang-Undang No. Strategi Pengembangan Pembiayaan Pada pasal 18 A ayat (2) UUD Negara Republik Indonesia 1945 mengamanatkan agar hubungan keuangan. Wilayah perbatasan berkaitan dengan pemerintah pusat sehingga pendanaan pembangunan wilayah perbatasan juga dapat bersumber dari RAPBN. kondisi. Daerah. atau yang ditugaskan dan/atau desa dalam rangka tugas pembantuan. Peningkatan kerja sama sosial-ekonomi antara pemerintah dan masyarakat perbatasan antarkedua negara malalui payung kerja sama-SOSEK MALINDO dan kerja sama bidang lainnya yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Pendanaan atau pembiayaan tersebut menganut prinsip "Money Follow's Function".127 pola agribisnis dan agroindustri dengan tujuan ekspor ke negara tetangga. pendapatan lain yang syah. pelayanan. serta permasalahan daerah. UndangUndang No. daerah Pinjaman daratan perbatasan Kalimantan Sumber-sumber terdiri Daerah atas dan pendanaan/pembiayaan pendapatan Asli pelaksanaan Dana pemerintahan Perimbangan. Jangan sampai kasus Sepadan. yang mengandung makna pendanaan mengikuti fungsi pemerintahan yang menjadi tanggung jawab masing-masing tingkat pemerintahan. dan transparan dengan memperhatikan potensi. dan Ambalat Timur terulang dengan kembali Serawak di daerah (Malaysia). keuangan pusat yang dikonsentrasikan kepada gubernur. dan dana . Legitan. dana alokasi umum (DAU). demokratis. Perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah mencakup pembagian keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah secara proporsional. kebutuhan. Dana perimbangan merupakan pendanaan daerah yang bersumber dari APBN yang terdiri dari dana bagi hasil (DBH).

7 Tahun 2000 dan pada pasal 21 sektor pertambangan. Dalam Undang-Undang No. Dana alokasi umum (DAU) digunakan untuk pemerataan kemampuan keuangan antardaerah melalui penerapan formula yang mempertimbangkan kebutuhan dana potensi daerah. Dana alokasi khusus (DAK) digunakan untuk membantu membiayai kegiatan-kegiatan khusus di daerah tertentu yang menjadi prioritas nasional karena membangun wilayah perbatasan merupakan masalah daerah dan masalah nasional. c. Sumber dana yang lain yaitu dana dekonsentrasi yang bertujuan untuk menjamin tersedianya dana untuk pelaksanaan kewenangan pemerintah yang dilimpahkan pada gubernur sebagai wakil pemerintah. badan/lembaga internasional dalam bentuk devisa/rupiah. 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi. 33 Tahun 2004 juga mengatur hibah yang berasal dari pemerintah negara asing. Dana bagi hasil (DBH) diatur dalam Undang-Undang No. Wilayah perbatasan berkaitan dengan empat kabupaten sehingga ada peluang peningkatan DAU untuk membangun wilayah perbatasan. bentuk barang dan jasa. terdapat sumber-sumber pembiayaan lain yaitu pinjaman daerah yang digunakan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan pelayanan masyarakat. panas bumi sesuai dengan undang-undang No. termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang tidak perlu dibayar lagi. Strategi Pengembangan Kelembagaan Pengembangan strategi nasional perbatasan Provinsi Kalimantan Timur berkaitan dengan Kabupaten Nunukan sehingga sesuai dengan amanat Undangundang No. Dalam . Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. Dana perimbangan ini digunakan untuk membantu daerah dalam mendanai kewenangannya untuk menghindari ketimpangan sumber pendanaan pemerintahan antara pusat dan pemerintahan daerah. kecuali urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintah pusat. dan termasuk dana reboisasi. pelaksanaan. Sumber dana/biaya dan kekayaan sumber daya alam yang ada di Provinsi Kalimantan Timur dan keempat kabupaten yang termasuk wilayah perbatasan cukup besar apabila dana tersebut dapat dimanfaatkan dengan kebijakan. perencanaan. dan pengawasan yang baik. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. badan/lembaga asing.128 alokasi khusus (DAK). Selain itu.

akuntabilitas. Penyelenggaraan desentralisasi memberikan syarat terhadap pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. pemerintah daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas perbantuan. moneter dan fiskal nasional. ditetapkan kriteria pembagian urusan pemerintahan yang meliputi eksternalitas. Pembagian urusan pemerintahan yang bersifat konkuren harus proporsional antara pemerintah. Urusan pemerintahan yang dapat dikelola secara bersama antartingkatan dan susunan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi urusan pemerintah pusat. Kriteria tersebut yaitu tingkat pemerintah yang paling berwenang menyelenggarakan urusan pemerintahan tersebut adalah yang paling dekat dari dampak yang timbul. Dalam setiap bidang urusan pemerintahan yang bersifat konkuren terdapat bagian urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat. Urusan pemerintah terdiri dari urusan pemerintahan yang dikelola secara bersama antartingkatan dan susunan pemerintah atau konkuren. dan efisien. Oleh karena itu.Hal ini sesuai dengan prinsip demokrasi yang mendorong akuntanbilitas pemerintah kepada rakyat. Seluruh tingkat pemerintahan wajib mengedepankan pencapaian efisiensi dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya dalam . Urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah yaitu urusan dalam bidang politik luar negeri. Kriteria efisiensi didasarkan pada penyelenggaraan urusan pemerintahan harus ekonomis. Untuk mencegah teradinya tumpang tindih pengakuan atau klaim atas dampak maka ditentukan kriteria akuntanbilitas. dan pemerintah daerah kabupaten/kota. Penggunaan ketiga kriteria tersebut diterapkan secara kumulatif sebagai satu kesatuan dengan mempertimbangkan keserasian dan keadilan hubungan antarkegiatan dan susunan pemerintahan. pertahanan keamanan. pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten. pemerintah daerah propinsi.129 menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah tersebut. Kriteria eksternalitas didasarkan atas pemikiran bahwa tingkat pemerintahan yang berwenang atas suatu urusan pemerintahan ditentukan oleh jangkauan dampak yang diakibatkan dari penyelenggaraan urusan pemerintahan. yustisi dan agama.

dan kriteria tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk menilai kemampuan apakah suatu urusan . Agar pelaksanaan urusan pemerintahan yang bersifat wajib dan pilihan memiliki payung hukum yang kuat. Ketiga kriteria ini dapat disinergikan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan demokratisasi sebagai esensi dasar dari kebijakan desentralisasi. potensi. seperti pendidikan dasar. kesehatan. Keterbatasan sumber daya dan sumber dana yang dimiliki oleh daerah membuat prioritas penyelenggaraan urusan pemerintahan harus difokuskan pada urusan wajib dan urusan pilihan yang benar-benar mengarah pada penciptaan kesejahteraan masyarakat. Di luar urusan pemerintahan yang bersifat wajib dan pilihan. dan kekhasan daerah yang bersangkutan. maka urusan wajib dan pilihan yang diselenggarakan oleh daerah harus dituangkan ke dalam peraturan daerah yang menjadi acuan dalam penentuan penyelenggaraan pemerintah daerah. Urusan pemerintahan yang bersifat pilihan yaitu urusan pemerintahan yang diprioritaskan oleh pemerintahan daerah yang terkait dengan upaya pengembangan potensi unggulan (core competence). Pemerintah berkewajiban menyusun norma. Ketentuan tersebut meliputi penentuan struktur organisasi perangkat daerah. prosedur. standar. Pedoman yang memuat norma. Urusan kewenangan daerah terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. serta semangat ekonomis diwujudkan melalui kriteria efisiensi. Urusan pemerintahan di luar urusan wajib dan urusan pilihan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang bersangkutan tetap harus diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang bersangkutan. Penerapan kriteria eksternalitas. Hal ini menjadi kewenangan pemerintah yang bersangkutan sesuai dengan dasar prinsip penyelenggaraan urusan sisa. akuntanbilitas. personil. perhubungan. dan kriteria yang dijadikan pedoman dalam mengatur hubungan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dan antara pemerintah daerah provinsi dengan pemerintah daerah kabupaten/kota. lingkungan hidup. Urusan pemerintahan wajib adalah urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang terkait dengan pelayanan dasar (basic services) bagi masyarakat. kependudukan dan sebagainya. standar. dan anggaran. Hal ini tentu harus disesuaikan dengan kondisi.130 menghadapi globalisasi. tiap tingkat pemerintahan harus melaksanakan urusan pemerintahan berdasarkan kriteria pembagian urusan pemerintahan. prosedur.

pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah mampu diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang bersangkutan. Berdasarkan hal tersebut. Oleh karena itu. Bagi pemerintahan daerah yang belum memenuhi norma. standar. Pemberdayaan pemerintah daerah sangat penting dilakukan untuk meningkatkan kapasitas daerah sehingga mampu memenuhi norma. penataan hubungan kerja baik secara horisontal maupun secara vertikal. standar. Untuk melaksanakan urusan pemerintah yang belum mampu dilaksanakan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota dilimpahkan kepada gubernur selaku wakil pemerintah dilaksanakan pusat. dan kriteria sebagai prasyarat penyelenggaraan urusan pemerintah yang efisien sesuai dengan kewenangannya. Urusan pemerintah yang ditugaskan kepada pemerintah daerah didasarkan pada asas tugas pembantuan yang secara bertahap dapat diserahkan kepada urusan pemerintah daerah yang bersangkutan. Urusan pemerintahan ini diserahkan apabila pemerintah daerah benar-benar telah menunjukkan kemampuan untuk memenuhi norma. prosedur. prosedur. dan kriteria yang dipersyaratkan untuk penyelenggaraan urusan pemerintahan. standar. Selain itu. peningkatan kapasitas dan fungsi kelembagaan dalam pengelolaan perbatasan dilakukan melalui optimalisasi fungsi dan peran kelembagaan antarinstansi pemerintah. prosedur. dan kriteria yang ditentukan. Dengan demikian. dan kriteria wajib dalam mengikutsertakan pemangku kepentingan (stakeholders) terkait termasuk pemerintahan daerah. departemen/LPND bertanggung jawab menyusun norma. oleh Pelaksanaan pemerintah urusan daerah pemerintah provinsi yang belum mampu kepada dilimpahkan departemen/LPND yang membidangi urusan pemerintahan tersebut. tugas pembantuan dapat dimanfaatkan sebagai instrumen peningkatan kemampuan pemerintah daerah sebelum urusan pemerintahan tersebut benar-benar diserahkan kepada daerah yang bersangkutan. standar. peningkatan koordinasi. prosedur. kewenangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan tersebut dapat ditunda sampai dengan pemerintahan daerah yang bersangkutan mampu memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh pemerintah. peningkatan juga dilakukan melalui pengembangan database informasi wilayah perbatasan yang dapat dijadikan acuan bersama oleh seluruh . dan konsultasi antarlembaga.

diketahui tiga masalah yang paling berpengaruh terhadap strategi dan rekomendasi kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. Perkiraan kondisi (state) dipengaruhi potensi hubungan antarkomponen terkait untuk penyusunan kebijakan dan strategi pengembangan kawasan (Cadenasso 2003).stakeholder terkait. Penyusunan Strategi Pengembangan Kawasan Interpretasi kondisi masalah dalam peubah skenario dilakukan melalui keterkaitan strategi yang disusun dalam suatu skenario. a. beberapa perubahan dilakukan pada peubah tertentu sehingga strategi yang bersangkutan dapat disimulasikan. kebijakan dan peraturan-peraturan antara pemerintah pusat dan daerah. Berdasarkan dominasi responden mengenai kondisi masalah di masa yang akan datang. antara lain (1) Strategi Pengembangan Kawasan. Sistem yang belum berkelanjutan menyebabkan perlunya perumusan berbagai strategi dan rekomendasi kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. (2) Strategi Pengembangan Pembiayaan. tata hubungan yang jelas.4. Pemahaman yang baik terhadap fungsi dan peran. Dari kombinasi antarkondisi masalah didapatkan dua skenario yaitu (1) Strategi optimis dan (2) Strategi pesimis.4.1 Penyusunan Strategi Pengembangan Berdasarkan hasil analisis keterkaitan dan kinerja pengembangan kawasaan permukiman menunjukkan. disusun analisis kebijakan yang dilakukan melalui tiga kajian strategi pilihan. 4. Berdasarkan hasil AHP.4 Rekomendasi Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara 4.4. . dan (3) Strategi Pengembangan Kelembagaan. hal yang harus dilakukan yaitu kombinasi antarkondisi masalah dengan membuang kombinasi yang tidak sesuai (incompatible). serta tingkat pengetahuan dan persepsi yang sama. koordinasi yang intensif. sistem yang ada saat ini masih belum berkelanjutan. Dari analisis tersebut. diharapkan dapat menyelaraskan berbagai kewenangan. Perkiraan permasalahan pengembangan kawasan pada kondisi di masa yang akan datang disajikan pada tabel 20. Dalam hal ini.

melakukan koordinasi. Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan 1A Menurun. karena pembangunan terarah dan terencana 3 1. karena adanya pembangunan yang tetap berjalan namun dalam jumlah yang masih minim . Perkiraan responden mengenai permasalahan pengembangan kawasan pada kondisi masa yang akan datang No 1 Masalah 5 Kesadaran masyarakat akan identitas nasional 7A Menurun. Kesejahteraan Masyarakat 4B Tetap. karena Kondisi letak geografis kurang mendukung untuk peningkatan kerjasama luar negeri antar negara 14B Tetap. yang penting aman dan tidak diakui oleh pihak lain 1B Tetap.Minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman 14A Menurun. Terbatasnya fasos dan fasum 15C Meningkat. dan ada sosialisasi yang baik dari pemerintah tentang pemanfaatan lahan yang baik 14C Meningkat. karena pemerintah melakukan pembangunan sosial ekonomi. karena kawasan perumahan dan permukiman di wilayah perbatasan tidak didukung pembangunan infrastruktur lingkungan yang terpadu dengan infrastruktur primer kota 4A Menurun. karena masyarakat tidak peduli dengan pemanfaatan lahan.Tabel 20. karena pembangunan fasos dan fasum di wilayah perbatasan mulai dilakukan oleh instansi terkait. karena kurang perhatian pemerintah terhadap wilayah perbatasan 5 14. karena banyak pengusahaan lahan di lakukan segelintir masyarakat (spekulan tanah) 15B Tetap. karena tidak ada sosialisasi yang baik. karena pemerintah menganggap bahwa pembangunan sosial ekonomi wilayah perbatasan tidak penting Keadaan (State) 7B Tetap. karena pengadaan infrastruktur wilayah perbatasan dilakukan seadanya 7C Meningkat. karena pembangunan tidak terkoordinasi dengan baik 4C Meningkat. hanya sedikit penjelasan 4 15. karena SDA dikelola kurang optimal dan kondisi perekonomian dan pemerataan pembangunan menurun 15A Menurun. dan melibatkan sektor swasta 1C Meningkat. karena pembangunan infrastruktur mendukung pertumbuhan kawasan 2 4.

6 6. Kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga

6A Menurun, karena pembangunan belum merata di segala bidang

6B Tetap, karena ada perhatian pemerintah akan pentingnya wilayah perbatasan, namun implementasinya belum dilakukan

6C Meningkat, karena karena pembangunan yang dilakukan di wilayah perbatasan negara tetangga lebih intens dan lebih fokus pada upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat

Tabel 21 . Strategi dan kombinasi kondisi faktor pengembangan kawasan No. Strategi 1. Skenario 1 2. Skenario 2 Kombinasi Kondisi Faktor 7A/4A/1A/15A/14A/6A 7C/4B/1C/15C/14C/6C

Skenario satu dibangun berdasarkan keadaan faktor kunci dengan kondisi pengembangan kawasan yakni kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional (7A) karena kawasan perumahan dan permukiman di wilayah perbatasan tidak didukung pembangunan infrastruktur yang terpadu dengan infrastruktur primer kota. Selain itu, pengadaan infrastruktur wilayah perbatasan dilakukan seadanya. Rendahnya kesejahteraan masyarakat (4A) karena pemerintah

menganggap bahwa pembangunan sosial-ekonomi wilayah perbatasan tidak penting dan pembangunan tidak terkoordinasi dengan baik. Kesenjangan

pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1A) karena SDA dikelola kurang optimal, kondisi perekonomian dan pemerataan pembangunan tidak merata, serta banyak pengelolaan lahan dilakukan segelintir masyarakat (spekulan tanah). Terbatasnya fasos dan fasum (15A) karena masyarakat tidak peduli dengan pemanfaatan lahan. Dalam pemanfaatan lahan bagi masyarakat yang penting adalah keamanan dan lahan tersebut tidak diakui pihak lain. Hal ini terjadi karena tidak ada sosialisasi yang baik dari pemda mengenai pentingnya pemanfaatan lahan. Kurangnya infrastruktur kawasan dan permukiman (14A) karena letak geografis tidak mendukung peningkatan kerja sama luar negeri antarnegara sehingga perlu adanya pembangunan infrastruktur dan permukiman. Kondisi sosial dan ekonomi negara tetangga lebih baik (6A) karena pemerintah memperhatikan perbatasan. pembangunan di segala bidang dan pentingnya wilayah

Skenario dua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan kawasan yaitu, meningkatnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional (7C). Kesadaran masyarakat akan identitas sosial meningkat karena kawasan perumahan dan permukiman di wilayah perbatasan didukung pembangunan infrastruktur yang terpadu dengan infrastruktur primer kota secara bertahap dan terencana. Kesejahteraan masyarakat relatif tetap (4B) karena pemerintah melihat tingkat kesejahteraan di wilayah perbatasan cukup baik sehingga tidak menjadi prioritas utama. Menurunnya kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1C) karena SDA dikelola dengan sangat baik. Bukan hanya itu, kondisi perekonomian dan pemerataan

pembangunan juga meningkat serta meningkatnya pembangunan fasos dan fasum (15C) karena masyarakat mengoptimalkan pemanfaatan lahan sesuai dengan peruntukannya dan berkoordinasi dengan pemda. Kondisi sosial dan ekonomi di negara tetangga lebih baik (6C) karena pembangunan di wilayah perbatasan lebih difokuskan pada aspek peningkatan keamanan melalui law enforcement, dengan pembangunan perbatasan. b. Penyusunan Strategi Pengembangan Pembiayaan Strategi yang disusun dalam skenario dikaitkan melalui interpretasi kondisi masalah ke dalam peubah skenario. Beberapa perubahan dilakukan pada peubah tertentu di dalam skenario sehingga strategi yang bersangkutan dapat sosial-ekonomi disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat

disimulasikan. Berikut ini perkiraan permasalahan pengembangan pembiayaan pada kondisi di masa yang akan datang. Tabel 22. Perkiraan responden mengenai permasalahan pengembangan

pembiayaan pada kondisi masa yang akan datang
No 1 Masalah 23.Terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan Keadaan (State) 23A 23B Menurun, karena kondisi sharing Tetap, karena pendanaan pusat, provinsi, kota kondisi sharing meningkat, alokasi dana khusus pendanaan untuk pengembangan dan pusat, provinsi, pengelolaan kawasan kota dari tahun permukiman perbatasan ke tahun tidak meningkat seiring kebijakan mengalami prioritas pembangunan di peningkatan wilayah perbatasan 23C Meningkat, karena menganggap pembangunan permukiman wilayah perbatasan tidak penting,

2 17. Terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan perkim

17A Menurun, karena keberpihakan dan perhatian pemerintah terhadap pembangunan kawasan semakin besar, adanya kesadaran bahwa pembangunan wilayah sangat penting

17B Tetap, karena pendekatan diproyeksikan dan tidak transparan

17C Meningkat, karena pemerintah menganggap bahwa pembangunan di wilayah perbatasan kurang penting 24C Meningkat, karena tidak adanya pengendalian terhadap pengelolaan dana pembangunan, adanya anggapan bahwa perbatasan hanya sekedar batas

3 24. Pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal

24A Menurun, karena kondisi aturan tentang tatacara penggunaan anggaran akan jelas ditingkatkan

24B Tetap, karena sudah ada perhatian pada infrastruktur dan permukiman

Tabel 23 . Strategi dan kombinasi kondisi faktor pengembangan pembiayaan No. Strategi 1. Skenario 1 2. Skenario 2 Kombinasi Kondisi Faktor 23A/17A/24A 23C/17B/24C

Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan pembiayaan karena terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23A). Hal ini dilakukan karena kondisi sharing pendanaan pusat, provinsi, kabupaten/kota tidak seimbang. Dana alokasi khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan

permukiman perbatasan meningkat seiring kebijakan prioritas pembangunan di wilayah perbatasan. Pendanaan dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota dari tahun ke tahun juga mengalami peningkatan. Dana untuk pengembangan, pengelolaan infrastruktur, dan perkim (17A) berkurang karena keberpihakan dan perhatian pemerintah terhadap pembangunan wilayah perbatasan masih rendah. Rendahnya pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan (24A) terjadi karena kondisi pengatuaran tata cara penggunaan anggaran belum jelas sehingga perlu adnay peningkatan kinerja agar penggunaan dana pembangunan dapat optimal. Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan pembiayaan yaitu meningkatnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23C)

karena kondisi sharing pendanaan pusat. karena penegakan hukum dan peraturan masih lemah dan cenderung menurun. c. karena pemerintah menganggap kebijakan dan pedoman tidak diperlukan 20B Tetap. karena Pemda membiarkan infrastruktur permukiman apa adanya 5C Meningkat. Alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan meningkat seiring kebijakan prioritas pembangunan di wilayah perbatasan. tetapi belum dilakukan secara baik.karena rencana pemda asal jadi tanpa pemikiran matang. karena kondisi pembiayaan sudah optimal melalui lembaga pemerintah/swasta Keadaan (State) 16B Tetap. Tabel 24.karena wilayah perbatasan hanya menjadi pintu belakang menjadi penting 20C Meningkat. Penegakan hukum dan peraturan 3 5. Dalam hal ini. karena tidak ada terobosan berarti dalam upaya penegakan hukum 16C Meningkat. kabupaten/kota meningkat. Perkiraan responden mengenai permasalahan pengembangan kelembagaan pada kondisi masa yang akan datang No 1 Masalah 16. karena Law enforcement meningkat 2 20. dilakukan beberapa perubahan pada peubah tertentu di dalam skenario sehingga strategi yang bersangkutan dapat disimulasikan. seperti belum optimalnya pemanfaatan serta pengelolaan dana pembangunan infrastruktur dan permukiman kondisinya tetap (24B) atau belum meningkat. Aktivitas sosial ekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga 5B Tetap.dibukanya beberapa pintu . Pelayanan publik 16A Menurun. Berikut ini perkiraan permasalahan pengembangan kelembagaan pada kondisi di masa yang akan datang. provinsi. Ini terlihat oleh banyaknya pelanggaranpelanggaran yang tidak menjalani proses hukum 5A Menurun. karena pembangunan belum diimbangi dengan peningkatan terhadap pelayanan publik 20A Menurun. Penyusunan Strategi Pengembangan Kelembagaan Strategi pengembangan kelembagaan yang disusun dalam skenario dilakukan dengan menginterpretasikan kondisi masalah ke dalam peubah skenario. Pendanaan untuk pengembangan serta pengelolaan infrastruktur dan permukiman tetap (17B) karena keberpihakan dan perhatian pemerintah terhadap pembangunan kawasan semakin besar.

Strategi dan kombinasi kondisi faktor pengembangan kelembagaan No. pembangunan SDA di sektor perkebunan. pelayanan publik tetap (16B) karena pembangunan tidak diimbangi dengan peningkatan terhadap pelayanan publik. Aktivitas sosial-ekonomi masyarakat dengan wilayah negara tetangga berkurang (5C) karena kondisi pembiayaan pembangunan di wilayah perbatasan meningkat melalui lembaga pemerintah/swasta.No Masalah 16A Keadaan (State) 16B 16C penyeberangan antar wilayah. . Dalam skenario ini dapat dilihat terbatasnya pelayanan publik (16A) karena pembangunan tidak diimbangi dengan peningkatan pelayanan publik dan pemerintah menganggap kebijakan terkait pelayanan publik belum mendesak. Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan faktor kunci dengan kondisi pengembangan kelembagaan. Penegakkan hukum dan peraturan masih lemah (20A) dan cenderung menurun. Aktivitas sosial-ekonomi masyarakat rendah (5A) karena kondisi pembiayaan melalui lembaga pemerintah/swasta masih rendah. Kondisi ini terlihat dari banyaknya pelanggaran yang tidak diproses secara hukum dan tidak ada terobosan berarti dalam upaya penegakkan hukum. Pada skenario kedua. pertambangan dan pertanian belum dapat menyerap tenaga lokal dan menjadi kegiatan penunjang perkembangan wilayah perbatasan Tabel 25. Skenario 1 2. tetapi pemda membiarkan pembangunan infrastruktur dan permukiman masih apa adanya. Strategi 1. Penegakkan hukum dan peraturan meningkat (20C) yang dapat dilihat dari berkurangnya pelanggaran yang dilakukan masyarakat perbatasan negara. Skenario 2 Kombinasi Kondisi Faktor 16A/20A/5A 16B/20C/5C Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan faktor kunci dengan kondisi pengembangan kelembagaan.

(3) efisiensi pembiayaan pembangunan infrastruktur. terutama wilayah perbatasan. serta (5) memastikan transisi penggunan lahan perdesaan menuju perkotaan berjalan secara alamiah dan terarah (Seong 2006). ekonomi. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Percepatan pembangunan wilayah. keterbatasan infrastruktur dan permukiman di wilayang perbatasan juga menyangkut kondisi keamanan. Oleh karena itu. infrastruktur wilayah masih terbatas dan permukiman di wilayah perbatasan baik yang berada dalam kawasan perkotaan maupun perdesaan kurang berkembang. kehormatan.5. Dalam GBHN tahun 1999—2004 pada Bab IV butir G dinyatakan bahwa perlu peningkatan pembangunan di seluruh daerah termasuk wilayah perbatasan dengan tetap berlandaskan pada prinsip desentralisasi dan otonomi daerah. Kondisi ini disebabkan adanya ketimpangan pembangunan antara wilayah perbatasan dengan wilayah nonperbatasan. Pengembangan perbatasan pusat-pusat pertumbuhan yaitu baru (border city) di wilayah (1) melindungi ruang terbuka terdapat enam kategori hijau/konservasi dan sumber daya alam. Dinamika kegiatan ekonomi perkotaan di wilayah perbatasan merupakan kondisi yang dapat meningkatkan pertumbuhan kota-kota (pusat pertumbuhan baru) di perbatasan negara. hingga saat ini peningkatan pembangunan wilayah perbatas belum memperlihatkan hasil yang nyata. Pada prinsipnya. dan . Dampak dari hal ini yaitu aktivitas sosioekonomi banyak yang berorientasi ke negara tetangga. Selain menyebabkan ketergantungan terhadap negara tetangga. sangat memerlukan keberpihakan pemerintah terhadap pembangunan wilayah di perbatasan tersebut. komitmen pemerintah untuk mempercepat pembangunan wilayah perbatasan telah tercermin dalam kebijakan pembangunan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) sejak tahun 1993 yang masih konsisten dengan GBHN tahun 1999--2004. Namun. (4) mendorong sinergisitas hubungan kota dan desa. maka dapat menjadi hambatan pengembangan potensi pertumbuhan yang selama ini berfungsi sebagai penggerak pengembangan sosial. dan kesadaran masyarakat perbatasan terhadap identitas nasional.4. kependudukan. (2) dapat mengoptimalkan penggunaan lahan. Apabila hal ini tidak ditangani dengan baik.

4. yaitu analisis kondisi permukiman. membangun skenario yang mungkin terjadi. koordinasi masing-masing instansi terkait baik di pusat maupun daerah masih lemah.1 Desain Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Kajian pengembangan strategi dilakukan pada tiga peubah yang dianggap menentukan dan menjadi rekomendasi kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yaitu (1) Pengembangan kawasan. analisis potensi sektor unggulan wilayah dengan menggunankan model perbandingan eksponensial (MPE). dan AHP.5. belum diatur dan diarahkan melalui kebijakan dan strategi pengembangan kawasan yang bersifat nasional dan menyeluruh.1 Desain Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Penanganan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. analisis faktor penting dengan interpretative structural modelling (ISM). Penyusunan kebijakan dan strategi tersebut dilakukan melalui lima tahapan analisis. baik perbatasan darat maupun perbatasan laut. dan (3) Pengembangan kelembagaan. maupun swasta. dan menentukan implikasi dari skenario tersebut.peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan di wilayah perbatasan (Canales 1999). Berdasarkan hal paparan di atas. hasil analisis ISM. (2) Pengembangan pembiayaan. Di samping itu. Permodelan interpretasi struktural interpretative structural modelling (ISM) merumuskan alternatif kebijakan di masa yang akan datang. masyarakat. . desain kebijakan pengembangan dengan analytical hierarchy process (AHP). Selanjutnya pengklasifikasian subelemen dan desain kebijakan melalui deskripsi analisis kebijakan yang sesuai dengan keadaan di lapangan. Pembuatan desain kebijakan pendekatan pengembangan analytical kawasan hierarchy permukiman process perbatasan menggunakan dibuat (AHP). serta skenario pengembangan dan rekomendasi kebijakan.5. Tahapan tersebut menentukan keadaan (state) suatu faktor. 4.1. perlu dibuat desain kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. Penanganan beberapa kasus atau masalah permukiman di wilayah perbatasan negara yang terjadi selama ini disebabkan belum melibatkan semua stakeholders baik pemerintah daerah.

termasuk di dalamnya pengembangan kawasan permukiman. serta fungsi pertahanan dilakukan bersama-sama dan seimbang sehingga dapat meningkatkan stabilitas wilayah perbatasan. antara lain: a. Pengembangan dapat mendorong terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah perbatasan sebagai tempat aktivitas dan usaha penduduk wilayah serta berfungsi untuk meminimalisasi konflik di wilayah perbatasan. dan global. ekonomi. dan atau memiliki tempat usaha. Pengembangan kawasan permukiman perbatasan ini diharapkan mampu mengantisipasi berbagai tantangan dan peluang yang tercipta akibat adanya perubahan lingkungan strategis baik lokal. hanya berpedoman pada kebutuhan yang telah diamanatkan dalam GBHN 1999. Pengembangan didukung dengan penyediaan prasaran dan sarana serta lingkungan yang memadai. regional. dan sesuai dengan kebijakan sektor masing-masing.141 Pelaksanaan berbagai kegiatan pembangunan di wilayah perbatasan negara. Penyusunan kebijakan dan strategi telah diupayakan oleh beberapa instansi pemerintah baik pusat maupun daerah melalui kajian dan studi. Hasil analisis data dengan metode ISM memperlihatkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional menjadi permasalahan yang paling krusial . Hingga saat ini. d. Pengembangan kawasan permukiman perbatasan disusun berdasarkan faktor lingkungan yang strategis dan diperkirakan akan memengaruhi perkembangan wilayah perbatasan di masa yang akan datang. Adapun beberapa faktor kunci. Pengembangan kawasan permukiman yang mengedepankan peningkatan kesejahteraan. b. upaya tersebut belum menghasilkan suatu peraturan yang dapat dijadikan acuan dan arahan dalam pelaksanaan pembangunan. Upaya penyusunan kebijakan dan strategi pengembangan kawasan permukiman perbatasan sudah pernah dilakukan sebelumnya. maupun bekerja di wilayah perbatasan. Pengembangan diarahkan pada wilayah yang memiliki potensi SDA sektor unggulan agar keberlanjutan kawasan permukiman dapat didukung. Strategi pengembangan kawasan permukiman perbatasan bertumpu pada masyarakat yang menjadi subjek kegiatan yang tinggal di wilayah perbatasan. Propenas 2000—2004. c.

Lapangan pekerjaan tidak akan terwujud tanpa dukungan pemerintah dalam menciptakan kegiatan melalui pembuatan kebijakan-kebijakan pendukung oleh pemerintah pusat. Orientasi seluruh kegiatan lebih banyak diupayakan dengan basis pemberdayaan masyarakat sebagai subjek pembangunan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat. Sumber dana pembangunan permukiman di wilayah perbatasan baik dana rutin maupun dana alokasi khusus akan menentukan jenis penanganan pembangunan. Hasil analisis MPE memperlihatkan hasil dari tiga klaster berbasis potensi sektor unggulan yang dapat mendorong percepatan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan apabila didukung oleh semua stakeholders. Tolok ukur peningkatan kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional yang paling nyata ditandai dari peningkatan kesejahteraan masyarakat. aktivasi pasar lebih ramai di wilayah Malaysia. kemudahan pengurusan KTP dan pembelian tanah di wilayah Malaysia. Selama ini dana kegiatan-kegiatan dalam upaya percepatan pertumbuhan pembangunan di wilayah perbatasan relatif belum memadai karena hanya bersumber dari anggaran rutin setiap tahunnya. tayangan televisi dengan dominasi acara-acara dari Negeri Malaysia. serta adanya anggaran dana alokasi khusus (DAK) untuk pengembangan kawasan permukiman perbatasan oleh pemerintah. Pada Gambar 38 memperlihatkan bahwa penganggaran dana perlu dilakukan pemerintah secara berkala agar upaya peningkatan kesejahteraan dan peningkatan pendapatan masyarakat dapat dicapai. Hal-hal yang berkembang di masyarakat yang berpotensi menurunkan nilai identitas bangsa di wilayah perbatasan antara lain penggunaan mata uang ringgit sebagai alat pembayaran yang sah. Pemerintah bekerja sama dengan LSM dan pakar-pakar terkait yang berasal dari perguruan tinggi dan lembaga penelitian dalam mewujudkan kemandirian masyarakat melalui pengadaan pelatihan dan penyuluhan.142 di wilayah perbatasan. Kenyataan ini dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang menyebabkan rasa nasionalisme masyarakat berkurang daripada rasa untuk mempertahankan identitas nasional. dan lain sebagainya. . Salah satu solusi yang harus segera dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan identitas nasional yaitu dengan menciptakan lapangan kerja padat karya seluas-luasnya untuk masyarakat di wilayah perbatasan. pendapatan daerah dan pendapatan negara. provinsi. dan kabupaten/kota di wilayah perbatasan.

Dalam pelaksanaan pembangunan permukiman akan mengubah bentang alam di lokasi tersebut. dan klaster 3 sektor perikanan. Adapun salah satu hal yang dapat dilakukan dalam melakukan kajian terhadap kelayakan dari segi lingkungan yakni melakukan analisis terhadap dampak lingkungan (AMDAL) di lokasi yang akan dibangun. sehingga dapat diharapkan kualitas . dan ekosistem karang. Terjaganya ekologi akan tetapmemungkinkan lestarinya lingkungan. kajian terhadap lingkungan harus dilakukan secara seksama. sedangkan sektor unggulan perikanan yaitu pembangunan baru (PB) dan peningkatan kualitas (PK). potensi sektor unggulan klaster 1 yaitu pertambangan. sektor unggulan perkebunan yaitu pembangunan baru (PB). AMDAL menjadi semakin penting apabila suatu wilayah berhadapan atau di dalamnya terdapat ekosistem fragile di wilayah pesisir seperti ekosistem padang lamun. Ketentuan tersebut dapat digunakan dalam menentukan bentuk penanganan pembangunan di setiap jenis kegiatan usaha yang disesuaikan dengan karakteristik kebutuhan permukiman masingmasing tenaga kerja atau masyarakat yang bersangkutan. Dalam hal ini. Dengan kata lain. Bentuk penanganan pembangunan permukiman sektor unggulan pertambangan yaitu pembangunan baru (PB) dan peningkatan kualitas (PK). Berdasarkan hal tersebut. kelestarian lingkungan akan tetap terjaga dengan baik walaupun di lokasi tersebut dilakukan pembangunan kawasan permukiman. ekosistem di kawasan tersebut dibuat menjadi ekosistem nonalami yang dapat mengubah total ekosistem alami. 4 tahun 1992 tentang perumahan dan permukiman. Adanya AMDAL yang dilakukan secara serius akan dapat menyelesaikan berbagai masalah seperti masalah ekologi. bentuk penanganan pembangunan perumahan dan permukiman memiliki dua kategori yaitu bentuk pembangunan baru (PB) dan peningkatan kualitas (PK).143 Jenis penanganan pembangunan disesuaikan dengan karakteristik tenaga kerja dan masyarakat setempat yang didukung dengan potensi sektor unggulan yang tersedia di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan. Dalam hal ini pelaku harus membuat AMDAL sebagai kriteria pembangunan permukiman yang dilakukan agar tidak mengakibatkan kerusakan lingkungan. Sesuai hasil analisis MPE di masingmasing klaster subkawasan. ekosistem mangrove. klaster 2 perkebunan. Berdasarkan ketentuan pada pasal 2 ayat 2 Undang-undang No.

Ketebalan hutan yang difungsikan sebagai lapisan penyangga (buffer zone) menurut RTRW Kabupaten Nunukan (2005) adalah 130 kali tinggi pasang surut. Wilayah pesisir Kabupaten Nunukan pada umumnya berpotensi untuk pengembangan permukiman baik nelayan maupun permukiman lainnya.144 udara. pengendalian limbah dan pencemaran. padang lamun dan terumbu karang akan terpelihara dengan baik karena berbagai hal yang dapat diminimalkan. Selain itu. karena jauh dari ancaman bencana tsunami. Namun demikian adanya potensi pengembangan permukiman di wilayah pesisir tersebut dapat mengancam keberadaan hutan mangrove yang selama ini masih terjaga kelestariannya dengan baik. Dalam penanganan pembangunan permukiman tetap memperhatikan kriteria AMDAL kegiatan pembangunan permukiman terpadu yaitu dengan mempertahankan dan memperkaya ekosistem yang ada. Hutan mangrove yang baik akan dapat . menjaga kelanjutan sistem sosialbudaya lokal. tanah & air yang baik. dan berbagai aspek sosial lainnya yang mungkin dapat luntur akibat terjadinya pembangunan kawasan permukiman. AMDAL juga akan menjaga aspek sosial terpelihara dengan baik mengingat dalam AMDAL akan ada petunjuk untuk mengantisipasi terjadinya konflik sosial. dan peningkatan pemahaman konsep lingkungan (Kepmen KLH 2000). ekosistem yang fragile sekalipun seperti mangrove. melunturnya budaya. penggunaan energi yang minimal. Terkait dengan penanganan pembangunan kawasan permukiman terpadu dengan lingkungan khususnya bagi permukiman di pesisir dan nelayan. Kondisi tersebut perlu dijaga tanpa menghambat kebijakan pemda dalam pengembangan permukiman di wilayah pesisir dalam hal ini pembangunan permukiman tersebut hendaknya diterapkan persyaratan sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku seperti. harus memperhatikan dan menjaga kelestarian dan keberlanjutan ekosistem hutan mangrove dalam pelaksanaannya. Kabupaten Nunukan yang mempunyai wilayah pesisir yang luas dan pulau-pulau kecil terluar yang strategis. perlindungan pantai dengan mangrove yang ketebalan hutannya tetap dijaga tidak kurang dari 50 .1000 meter. sesuai kondisi hidro-oseanografi di wilayah tersebut. sehingga ekosistem tersebut tidak terganggu walau di sekitarnya dibangun kawasan permukiman.

sebaliknya hutan mangrove menahan erosi. Mangrove memiliki sistem akar yang kuat. Kawasan pertambakan dapat ditata ulang dengan sistem wanamina (silvofishery). tajuknya rapat dan lebat sehingga dapat berfungsi sebagai pelindung pantai alami dan menahan intrusi air laut. ekosistem tetap dalam kondisi prima sehingga dapat menjamin masyarakat yang hidup di dalamnya lebih sejahtera karena selalu mendapat hasil tangkapan dalam jumlah banyak. c. Penanganan abrasi lebih murah dibanding dengan membuat bangunan laut lain dan mangrove dapat memberi dampak ikutan yang menguntungkan kualitas perairan di sekitarnya. Pembangunan kawasan permukiman juga harus dapat menjaga kelestarian lingkungan sehingga sumber daya alam tetap lestari. hal ini disebabkan oleh: a. persediaan sumber air baku untuk air minum masyarakat penghuni permukiman pesisir tetap terjaga kualitasnya. pada saat pelaksanaan hingga pembangunan dihuni permukiman. Dengan demikian. d. dan Upaya pascapembangunan permukiman mempertahankan ekosistem hutan mangrove pada masyarakat yang sudah menghuni di kawasan permukiman dilakukan melalui pendekatan sistem sosialbudaya lokal. yaitu perpaduan antara hutan mangrove dan perikanan sehingga biota laut di sekitarnya dapat tumbuh dengan baik. e. masyarakat. Bangunan laut dapat menyebabkan erosi dan sedimentasi di tempat lain. Secara estetika mangrove lebih baik daripada bangunan laut lainnya. Mangrove dapat menetralisasi lahan yang telah tercemar oleh logam berat sehingga pemanfatan lahan di wilayah pesisir baik untuk permukiman dan kegiatan bangunan lainnya tidak meluas dan efisien. f. Salah satu aspek lingkungan yang harus diperhatikan dalam pembangunan kawasan permukiman yaitu harus dimulai dari sebelum pembangunan dilakukan (persiapan pembangunan). selain berfungsi sebagai ekosistem pesisir juga mempunyai vegitasi yang beragam dengan panorama indah dan hijau. b.145 menjaga permukiman di wilayah pesisir karena berperan sebagai perangkat analisis mitigasi alami dalam menjaga keberlanjutan. Hal bertujuan agar masyarakat mampu berpartisipasi dalam .

2 1 3 1 Kluster 1 : Pembangunan Baru & Peningkatan Kualitas Kluster 2 : Pembangunan Baru Kluster 3 : Pembangunan Baru & Peningkatan Kualitas 2 3 Gambar 49.1. Peran pemerintah . Bentuk penanganan pembangunan permukiman 4.5.2 Desain Strategi Pengembangan Pembiayaan Strategi pengembangan pembiayaan dalam percepatan pembangunan di wilayah perbatasan sangat dipengaruhi oleh kebijakan dan peran pemerintah terutama pemerintah provinsi dan pemerintah daerah. Adapun bentuk penanganan pembangunan permukiman di masingmasing klaster sesuai dengan potensi SDA pendukung pengembangan permukiman berkelanjutan dapat dilihat pada gambar 49.146 pengendalian limbah dan pencemaran sehingga pemahaman masyarakat terhadap konsep lingkungan terus meningkat. Selama ini pemerintah membuat dan menerima alokasi dana yang belum memadai untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman di wilayah perbatasan. Peningkatan pemahaman masyarakat penghuni terhadap konsep keberlanjutan lingkungan dapat mendorong usaha perbaikan kerusakan hutan mangrove yang dilakukan melalui kegiatan penanaman kembali. Masyarakat bersama pemda melakukan kegiatan rehabilitasi hutan mangrove di pesisir wilayah Kabupaten Nunukan.

3 Desain Strategi Pengembangan Kelembagaan Secara umum. Pendekatan pengelolaan wilayah perbatasan yang dilakukan yaitu pengelolaan yang menyeluruh dan terpadu dengan aspek sosial. pertahanan. dan antarstakeholders di wilayah perbatasan. Pemerintah juga menjadi fasilitator untuk penguatan kerja sama dengan stakeholders lainnya dalam mengupayakan pembanguann permukiman dan infrastruktur serta fasilitas sosial dan fasilitas umum lainnya.5. Sedangkan. 4. antarpemerintah. peningkatan pendapatan daerah dan negara di wilayah perbatasan dapat tercapai melalui pengembangan pembiayaan.1. Pola penanganan tersebut dapat dijabarkan melalui penyusunan kebijakan dan strategi dari tingkat makro sampai tingkat mikro yang disusun berdasarkan proses yang partisipatif baik secara horisontal di pusat maupun vertikal dengan pemerintah daerah. Dukungan dalam pencapaian pengembangan pembiayaan pun dilakukan bersama-sama dengan kegiatan peningkatan kerja sama pembangunan antarnegara. budaya. ekonomi. maupun jangka panjang. serta kesejahteraan secara seimbang. keamanan. pengembangan kawasan permukiman perbatasan memerlukan suatu pola atau kerangka penanganan yang menyeluruh meliputi berbagai sektor dan kegiatan pembangunan serta koordinasi dan kerja sama yang efektif dari pemerintah pusat sampai ke tingkat kabupaten/kota. . jangkauan pelaksanaannya bersifat strategik sampai dengan operasional baik jangka pendek. Desain strategi pengembangan kelembagaan yang berlaku bagi seluruh wilayah perbatasan baik darat maupun laut. Tujuan peningkatan pendapatan.147 yang besar dapat mengintervensi lembaga keuangan dengan mengeluarkan kebijakan penganggaran untuk memudahkan biaya pembangunan rumah dan melindungi hak masyarakat di wilayah perbatasan. lingkungan. Faktor-faktor pengembangan yang mengindikasikan yaitu tolok ukur keberhasilan isolasi dalam serta pembiayaan penataan dan pembukaan ketertinggalan wilayah perbatasan dengan cara pembangunan infrastruktur serta prasarana dan sarana dalam jangka waktu yang sama. Adapun lembaga keuangan berperan dalam mengupayakan kemudahan kredit perumahan dengan biaya yang terjangkau bagi masyarakat yang diawasi oleh lembaga masyarakat lokal. menengah. perlu dijabarkan dalam suatu strategi. kesejahteraan masyarakat.

baik antara instansi terkait maupun antara pemerintah pusat dengan daerah. b. c. Meningkatkan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat. Hal ini untuk menghindari terjadinya tumpang tindih kewenangan pengelolaan maupun adanya ketidaksinkronan peraturan yang ada. termasuk lembaga adat. Pemberian dukungan dan fasilitas pengembangan kawasan permukiman perbatasan oleh instansi pusat dan pihak swasta dalam maupun luar negeri.148 Kebijakan di atas perlu dilaksanakan melalui upaya-upaya: a. Penyelarasan kegiatan-kegiatan pemerintah pusat dan pemerintah daerah melalui anggaran pembangunan sektoral dan daerah yang diarahkan bagi pengembangan kawasan pertumbuhan baru. Namun. d. Selain itu diperlukan adanya basis data (database) mengenai wilayah perbatasan yang dapat menjadi referensi bersama. Keberpihakan dan perhatian yang lebih besar dari sektor-sektor terkait di pusat terhadap kawasan permukiman perbatasan. 32 Tahun 2004 yang menjelaskan bahwa pengelolaan kawasan permukiman perbatasan sejauh mungkin perlu dikelola oleh pemerintah daerah. kondisi kelembagaan pemerintah daerah dan partisipasi masyarakat di beberapa wilayah perbatasan masih perlu ditingkatkan. Sinkronisasi kewenangan pengelolaan dan peraturan perundangan-undangan. Penguatan dan pembentukan lembaga pengembangan kawasan permukiman perbatasan yang bertugas untuk menyusun kebijakan dan pengkoordinasian berbagai kegiatan terkait di tingkat pusat dan daerah. f. . Keterlibatan masyarakat dan pemerintah daerah dalam kegiatan pengembangan kawasan permukiman perbatasan termaktub dalam UU No. Program peningkatan dan pengembangan kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat. Pelaksanaan otonomi daerah perlu diiringi dengan sinkronisasi antara kewenangan dan peraturan-peraturan yang dibuat. e. akan sangat membantu dalam proses pengembangan yang partisipatif. dan pengembangan wilayah secara terpadu di perbatasan. Upaya ini dilakukan untuk memudahkan antarinstansi terkait sehingga meningkatkan terjadinya pertukaran informasi koordinasi serta menciptakan kesepahaman yang sama dalam pengelolaan kawasan permukiman perbatasan.

serta tidak adanya kerja sama dari stakeholders lainnya. Kelompok- kelompok usaha ini memiliki posisi yang lebih kuat karena adanya kerja sama antaranggota mengupayakan sesuai kapasitas dan bermitra dengan pihak lain dalam keuntungan usaha. Pemerintah pun memfasilitasi upaya peningkatan kelembagaan masyarakat dengan mendatangkan pakar untuk memberikan pelatihan maupun penyuluhan sehingga tolok ukur keberhasilan pembangunan dari peningkatan kesejahteraan masyarakat pun tercapai. Pemerintah memfasilitasi peningkatan aktivitas perekonomian di wilayah perbatasan dengan upaya-upaya pemberdayaan masyarakat. Peningkatan kesejahteraan masyarakat perbatasan dapat mendorong peran dan partisipasi masyarakat dalam setiap kegiatan yang terkait dengan pengembangan kawasan permukiman. Pemerintah juga berperan untuk meneruskan kebijakan tersebut pada penyelenggara setempat yaitu pemerintah provinsi. Pemerintah sebagai penyelenggara menekakan untuk lebih mengedepankan kualitas pelayanan publik serta kontinuitas penegakkan hukum dan peraturan untuk menghidupkan aktivitas ekonomi masyarakat di negeri sendiri. dilindungi. Hal ini dapat berdampak positif pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan terbukanya peluang-peluang usaha yang dibantu dalam memperoleh modal/kredit usaha dan dari lembaga-lembaga keuangan. dan pemerintah kabupaten untuk diaplikasikan dan dilaksanakan di wilayah perbatasan. badan kerja sama antarnegara. Pemberdayaan mayarakat di wilayah perbatasan dibutuhkan agar masyarakat dapat mandiri sesuai potensi sektor unggulan pada setiap klaster dan membentuk kelompok-kelompok tani menuju kelompok-kelompok usaha. Dalam pengembangan kelembagaan kemandirian masyarakat tidak akan terlaksana bila tidak didukung. .149 Strategi pengembangan kelembagaan ditujukan pada masyarakat agar memperoleh posisi kemandirian (bargaining) dari posisi tawar sebelumnya sebagai objek pembangunan. khususnya penguatan dan pembentukan lembaga-lembaga yang ada agar program kegiatan penyuluhan dan pelatihan keterampilan dapat berjalan dengan lancar dan baik.

terbatasnya fasos dan fasum (15A). tidak mengutamakan faktor-faktor penting yang seharusnya terlebih dahulu dilakukan sehingga tidak memiliki prospek kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yang berpandangan jauh ke depan. Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan kawasan yaitu kurangnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional (7A). Skenario I Skenario pertama dibangun atas dasar kondisi dan permasalahan saat ini (existing condition) dari kawasan permukiman yang ada di wilayah perbatasan negara.1. kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga (6A). dan (3) Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan berkurang. Akan tetapi.4 Arahan Kebijakan Pengembangan Kawasan Perilaku strategi ternyata menunjukkan perbedaan pada berbagai faktor yang dikaji yang diakibatkan adanya perbedaan kombinasi faktor penting di wilayah perbatasan.150 4.5. Skenario ini mengandung pengertian bahwa skenario yang dirumuskan perlu dilaksanakan berdasarkan konsep walaupun mengandung usaha pengembangan dan pengelolaan. kurangnya infrastruktur kawasan dan permukiman (14A). Pada skenario pertama para pelaku pembangunan (stakeholder) dalam kebijakan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara beranggapan bahwa faktor-faktor yang dikaji merupakan faktor yang potensial untuk meminimalisasi permasalahan pengembangan wilayah perbatasan di masa yang akan datang. Penerapan skenario pertama ini akan memberikan implikasi berupa (1) Meningkatnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional. Kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini direkomendasikan upaya yang dapat mendorong percepatan pengembangan kawasan permukiman berbasis potensi sektor unggulan wilayah seperti hal-hal berikut: . rendahnya kesejahteraan masyarakat (4A). ditetapkan dua skenario pengembangan yang dapat dibangun dalam kebijakan sebagai berikut: a. Oleh karena itu. kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1A). (2) meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kemudahan akses informasi dan pasar Pembuatan informasi terpadu Promosi berkala untuk hasil-hasil sektor unggulan wilayah Peningkatan pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan usaha yang berbasis potensi masyarakat dan kearifan lokal 6. swasta/investor. 5. maka . Pembuatan klaster permukiman berbasis potensi sektor unggulan wilayah berikut akses menuju dan keluar wilayah klaster 2. Pemeliharaan fasos dan fasum oleh pemda dengan melibatkan masyarakat sebagai pengguna dengan pemberian reward pada daerah dengan fasos dan fasum yang terpelihara baik Skenario pertama yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan pembiayaan yaitu terbatasnya alokasi dana khusus (DAK) untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23A). Pembangunan pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah perbatasan 11. Pembangunan terpadu infrastruktur dengan kawasan permukiman beserta pusat-pusat kegiatan di sepanjang perbatasan 10. Untuk mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini. masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan dalam peningkatan keterampilan masyarakat 7. 4. Penguatan kerja sama antara pemda. Pembangunan fasos dan fasum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat secara bertahap 13. 3. kurangnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman (17A). pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal (24A). 8. Pembangunan terminal-terminal berbasis sektor unggulan wilayah sebagai showroom yang dapat diakses secara mudah 12. Pembukaan lapangan pekerjaan padat karya di wilayah perbatasan negara Pembuatan pemetaan penggunaan lahan untuk perencanaan dan penataan kawasan permukiman yang disepakati oleh semua stakeholder yang terkait termasuk masyarakat pengguna dan dapat diakses oleh stakeholder yang terkait 9.151 1.

penegakan hukum dan peraturan masih lemah (20A). Kemudahan pembiayaan usaha oleh lembaga-lembaga keuangan Menerapkan subsidi silang pada kegiatan usaha bersama masyarakat Kemudahan kepemilikan rumah bekerja sama dengan lembaga keuangan dengan biaya terjangkau 4. 6.152 pada komponen pengembangan pembiayaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. Pembuatan kebijakan penganggaran dana alokasi khusus (DAK) untuk pembangunan wilayah perbatasan jangka pendek. Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan kelembagaan yaitu. . Dalam rangka mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini maka pada pengembangan kelembagaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. terbatasnya pelayanan publik (16A). Kemudahan birokrasi pembuatan sertifikasi legalitas lahan usaha dan permukiman. aktivitas sosial ekonomi masyarakat rendah (5A). Evaluasi dan pembuatan kebijakan terkait wilayah perbatasan. 3. Pelatihan dan penyuluhan sumber daya masyarakat yang diprakarsai pemda bekerja sama dengan lembaga pendidikan untuk kebutuhan tenaga kerja industri 4. jangka menengah dan jangka panjang yang dievaluasi penggunaannya. Pembuatan dan penguatan kerja sama dan kelompok usaha bersama di wilayah perbatasan 2. Pengawasan dan penegakkan hukum terkait kegiatan di wilayah perbatasan negara 3. 2. Pembuatan lembaga inti-plasma kegiatan usaha sektor unggulan dengan kelompok usaha yang dibina oleh pemda dan swasta/investor 5.

153 b. kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga (6C). 4. Rekomendasi kebijakan dan strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara dapat seimbang antara lingkungan. meningkatnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23C). Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan kawasan yaitu. meningkatnya pembangunan infrastruktur kawasan dan permukiman. Kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini dalam pengembangan kawasan maka harus didukung dengan rekomendasi berikut ini: 1. masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan dalam peningkatan keterampilan masyarakat 5. Pemeliharaan fasos dan fasum oleh pemda dengan melibatkan masyarakat dengan pemberian reward pada daerah apabila kondisi fasos dan fasum yang terpelihara secara baik Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan pembiayaan yaitu. meningkatnya pembangunan fasos dan fasum (15C). pengusaha/investor. Skenario II Skenario kedua mengandung pengertian bahwa keadaan masa depan yang mungkin terjadi diperhitungkan dapat dipertimbangkan sesuai dengan keadaan dan kemampuan sumberdaya yang dimiliki. 2. menurunnya kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1C). kesejahteraan masyarakat relatif tetap (4B). Pembuatan informasi terpadu Promosi berkala untuk hasil-hasil sektor unggulan wilayah Pembangunan terpadu infrastruktur dengan kawasan permukiman Penguatan kerjasama antara pemda. dan ekonomi dari masyarakat. meningkatnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional (7C). 3. sosial. optimalisasi pemanfaatan dan pengelolaan dana . peningkatan dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman tetap (17B). Pembangunan terminal-terminal berbasis sektor unggulan daerah sebagai showroom yang dapat diakses secara mudah 6.

Evaluasi dan pembuatan kebijakan terkait pengembangan wilayah perbatasan 3. aktivitas sosialekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga berkurang (5C). maka pada pengembangan kelembagaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. Dalam rangka mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini maka untuk pengembangan pembiayaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. Pelatihan dan penyuluhan sumber daya masyarakat yang diprakarsai pemda bekerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan untuk kebutuhan pengembangan tenaga kerja industri sektor unggulan wilayah (pertambangan. dan teratur. setiap warga negara mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk ikut serta dalam pembangunan permukiman. Pengawasan dan penegakan hukum terkait kegiatan di wilayah perbatasan 2. dan perikanan) 4. serasi. Setiap warga negara mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk ikut serta dalam pembangunan . jangka menengah dan jangka panjang Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan kelembagaan yaitu. perkebunan. Kemudahan pembiayaan usaha oleh lembaga-lembaga keuangan 2. pelayanan publik tetap (16B). Untuk mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini. penegakkan hukum dan peraturan meningkat (20C). Selain itu.2 Rekomendasi Kebijakan Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Arahan kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara diperlukan kaitannya dengan adanya hak dan kewajiban dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 bahwa setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan/atau menikmati dan/atau memiliki rumah yang layak dan terjangkau dalam lingkungan yang sehat.154 pembangunan tetap (24B). Evaluasi penganggaran dana alokasi khusus (DAK) untuk pembangunan wilayah perbatasan jangka pendek. aman.5.

standar. Hal ini bertujuan agar hak setiap warga untuk mendapatkan rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat. manual (NSPM) bidang permukiman yang berbasis pemberdayaan masyarakat. dan teratur bisa terpenuhi dengan upaya dilakukan oleh masyarakat dibantu oleh stakeholders. Pemerintah memfasilitasi penyelenggaraan dan pembinaan dalam bidang permukiman secara terpadu dan berkelanjutan dilaksanakan oleh stakeholders terkait 2. Keterpaduan pengembangan kawasan permukiman dapat terselenggara jika memenuhi 3 indikator. panduan. Mendorong terciptanya peraturan dan perundang-undangan di bidang permukiman perbatasan berbasis potensi SDA wilayah 4. dan lingkungan 6. Meningkatkan peran pemerintah daerah dalam pembangunan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan . Dalam rangka mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. aman. Penguatan dan pembentukan lembaga kerjasama pembangunan di wilayah perbatasan negara 5. peran serta masyarakat baik sebagai individu maupun komunitas wajib dilakukan. direkomendasikan upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan mendorong percepatan pertumbuhan wilayah melalui seperti hal-hal sebagai berikut: 1.155 permukiman. kearifan lokal. serasi. Mendorong terciptanya pengembangan klaster-klaster kawasan permukiman sebagai pusat pertumbuhan baru (border city) di wilayah perbatasan negara 3. Berlangsung proses investasi dan pembiayaan pengembangan kawasan permukiman secara terpadu dan berkelanjutan berbasis potensi SDA wilayah kawasan permukiman layak huni secara terpadu dan Dalam pembangunan permukiman. yaitu: 1. Terwujudnya berkelanjutan 3. Terwujudnya koordinasi/kerja sama antar-stakeholders dalam setiap tahapan penyelenggaraan pengembangan permukiman berikut prasarana dan sarana secara terpadu dalam suatu kelembagaan 2. Menyusun norma.

teknologi. Mendorong peran serta swasta/masyarakat dalam pembangunan dan perbaikan rumah dalam rangka pemenuhan kebutuhan perumahan yang layak huni dan terjangkau 11. Meningkatkan kapasitas SDM dan pelaku pembangunan permukiman berbasis kawasan 8. dan sektor perikanan yaitu sektor pertambangan. permukiman. Mengembangkan kredit mikro perumahan bagi pembangunan dan perbaikan rumah dalam rangka pemenuhan kebutuhan rumah yang layak dan terjangkau 12. Toleransi ekploitasi kegiatan pertambangan tidak lebih dari 60% luas kawasan potensial pengembangan sektor pertambangan. sarana. 4. Meningkatkan penyediaan prasarana. dalam pengembangannya diperlukan persyaratan-persyaratan yang dapat mendukung keberlanjutan suatu kegiatan baik dalam pemanfatan ruang dan lahan adalah sebagai berikut: Sektor Pertambangan: 1. Mendorong pelaksanaan penataan ruang kawasan permukiman berbasis potensi SDA wilayah prospektif dan partisipatif 10. 2. Ekploitasi kegiatan pertambangan dengan menggunakan sistem 3 fit (3 lubang penambangan secara bersamaan). Mendorong berkembangnya inovasi. dalam pengembangan sektor unggulan kawasan Kabupaten sektor Nunukan dari hasil dan pembahasan perkebunan. 3.156 7. dan penghijauan. dan utilitas (PSU) kawasan permukiman perbatasan Sedangkan. dan investasi pembangunan kawasan permukiman perbatasan 9. Pengembangan teknologi ekploitasi dari penggalian ke sistem pengeboran menyamping sehingga dapat meminimalkan sisa lubang-lubang galian yang . Reklamasi dilakukan secara kontinyu untuk mengembalikan unsur hara tanah agar memudahkan dalam pemulihan fungsi kawasan melalui dimanfatkan untuk pengembangan fungsi lain seperti reboisasi atau perkebunan.

Pemberdayaan masyarakat melalui penyuluhan dan pelatihan dalam hal peilihan benih. dan laut yang terjaga agar keberlanjutan kawasan dapat terwujud. inti-plasma. Pengembangan sektor perikanan dengan memanfaatkan sumber daya laut sesuai dengan kemampuan daya dukung perairan (fishing ground) baik dari ketersediaan sumber daya (tidak over fishing) maupun kemampuan dalam menghindari penggunaan bahan pencemar 2. Pengembangan ekonomi sektor pertambangan benefit) melalui harus berorientasi manajemen pada manfaat dengan (economic pengelolaan komposisi perbandingan sharing 70% untuk perusahaan (investor) dan 30% dialokasikan masyarakat. penanaman benih. pantai. 2. 3. untuk biaya rehabilitasi lingkungan dan pemberdayaan Sektor Perkebunan: 1.157 dapat merusak dan mendorong terjadinya degradasi lahan secara luas dalam waktu yang lama. Komoditas sektor perkebunan yang akan dikembangkan selain berdasarkan potensi sektor unggulan kawasan juga memperhatikan kecenderungan pasar regionalnya dan animo masyarakat agar prospek pengembangannya dapat berkelanjutan. Sektor Perikanan: 1. Mengembangkan sektor perikanan secara optimal dengan mengupayakan pelestarian ekosistem lingkungan pesisir. perusahaan negara (PTPN). Pemanfaatan sumber daya laut dengan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan dan pengembangan kemampuan dalam pemanfaatan teknologi baru bidang perikanan 3. Pengembangan sektor perkebunan dilakukan dengan pendekatan pengembangan perkebunan inti rakyat (PIR). 5. panen. dan kegiatan pascapanen. pemeliharaan. dan swasta. .