You are on page 1of 4

Informasi Organisme Pengganggu Tanaman

Setora nitens Walker
Donnarina Simanjuntak; T. A. Perdana Rozziansha; Hari Priwiratama; Sudharto; A. Sipayung; R. Desmier de Chenon; A. E. Prasetyo; Agus Susanto

TAKSONOMI Dunia Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Animalia : Arthropoda : Insecta : Lepidoptera : Limacodidae : Setora : Setora nitens Walker

DESKRIPSI Setora nitens merupakan salah satu jenis ulat api pemakan daun kelapa sawit yang paling sering menimbulkan kerugian di perkebunan kelapa sawit. Setora nitens memiliki siklus hidup yang lebih pendek dari S. asigna yaitu 42 hari (Hartley, 1979). Telur hampir sama dengan telur S. asigna hanya saja peletakan telur antara satu sama lain tidak saling tindih. Telur menetas setelah 4-7 hari. Ulat mulamula berwarna hijau kekuningan kemudian hijau dan biasanya berubah menjadi kemerahan menjelang masa pupa. Ulat ini dicirikan dengan adanya satu garis membujur di tengah punggung yang berwarna biru keunguan. Stadia ulat dan pupa masing-masing berlangsung sekitar 50 hari dan 17-27 hari. Untuk S. nitens, selama perkembangannya, ulat berganti kulit 7-8 kali dan mampu menghabiskan helaian daun seluas 400 cm2. S. nitens berpupa pada permukaan tanah (Susanto et al., 2006). BIOLOGI Telur Telur hampir sama dengan telur S. asigna hanya saja peletakan telur antara satu sama lain tidak saling tindih. Telur menetas setelah 4-7 hari (Sudharto, 1991). Telurnya berbentuk pipih dan berwarna bening, lebarnya 3 mm, diletakkan pada permukaan bawah daun dalam 3-5 deretan, kadangkala mencapai 20 deret.

Gambar 1. Larva Setora nitens

Larva Larva mula-mula berwarna hijau kekuningan kemudian hijau dan biasanya berubah menjadi kemerahan menjelang masa pupa. Panjangnya mencapai 40 mm, mempunyai 2 rumpun bulu kasar di kepala dan dua rumpun di bagian ekor. Larva ini dicirikan dengan adanya satu garis membujur di tengah punggung yang berwarna biru keunguan (Gambar 1). Perilaku ulat ini sama dengan ulat Setothosea asigna. Stadia ulat berlangsung sekitar 50 hari (Sudharto, 1991). Populasi kritis 5-10 ekor/pelepah. Pengendalian biasanya dilakukan secara kimiawi dengan insektisida dan hayati dengan virus NPV. Pupa Pupa terletak di permukaan tanah sekitar piringan atau di bawah pangkal batang kelapa sawit. Stadia pupa berkisar antara 17-27 hari (Sudharto, 1991). pupanya bulat berdiameter 15 mm dan berwarna cokelat.

Imago Imago S. nitens berupa ngengat. Ngengat jantan dengan lebar rentang sayap sekitar 35 mm dan betina sedikit lebih lebar. Ngengat berwarna cokelat kelabu dengan garis hitam pada tepi sayap depan, dengan panjang 20 mm pada betina, dan lebih pendek pada jantan . Ngengat aktif pada senja dan malam hari, sedangkan pada siang hari hinggap di pelepah-pelepah tua atau pada tumpukan daun yang telah dibuang dengan posisi terbalik (Sudharto, 1991). GEJALA SERANGAN DAN TINGKAT SERANGAN Serangan S. nitens di lapangan umumnya mengakibatkan daun kelapa sawit habis dengan sangat cepat dan berbentuk seperti melidi (Gambar 2). Tanaman tidak dapat menghasilkan tandan selama 2-3 tahun jika serangan yang terjadi sangat berat. Umumnya gejala serangan dimulai dari daun bagian bawah hingga

PUSAT PENELITIAN KELAPA SAWIT
Jl. Brigjend Katamso No. 51, Medan 20158 Tel : +62 61 7862477, Fax : +62 61 7862488

Vol. H - 0005 November 2011

1

populasi S. Setiap pohon sampel diamati jenis dan populasi S. dan akhirnya kelompok-kelompok hama tersebut akan saling menyatu dan memenuhi hamparan tanaman kelapa sawit yang luas (Sipayung et al. Syed & Speldewinde (1974).Setora nitens Walker Gambar 2. masing-masing pada bagian tengah dan bawah tajuk daun kelapa sawit.Pengamatan efektif Pengamatan global: Dibuat titik sampel tetap pada tiap blok kelapa sawit dengan jumlah pohon sampel sebanyak satu pohon/ ha dan ditentukan secara sistematis dimulai dari pinggir blok. Setiap bulan dilakukan pengamatan global terhadap populasi hama pada pohon sampel atau 1 pohon dari 6 pohon di sekitar pohon sampel. Ulat ini sangat rakus. 1992). Semua metode tersebut meng-anjurkan agar dilakukan pengamatan populasi hama secara terus menerus. jumlah contoh yang diamati dan selang waktu pengamatan. Tingkat populasi 5-10 ulat per pelepah merupakan populasi kritis hama tersebut di lapangan dan harus segera diambil tindakan pengendalian (Sudharto. Dikenal beberapa metode monitoring populasi hama tersebut di perkebunan kelapa sawit. kemudahan dalam pelaksanaan dan akurasi hasil monitoring. Gejala serangan akhirnya helaian daun berlubang habis dan bagian yang tersisa hanya tulang daun saja.Pengamatan global . maka disarankan penerapan metode monitoring populasi yang merupakan kombinasi dari metode Purba (1962) dan Desmier de Chenon (1982) sebagai berikut : . Hasil pengamatan kemudian disusun dalam peta blok. tetapi masingmasing berbeda di dalam cara pengamatan. antara lain metode dari Purba (1962). pelepah daun terpaksa dipotong dan sebaiknya hanya dipotong satu pelepah daun per pohon atau berarti pada setiap kali pengamatan dipotong satu pelepah daun bawah pada satu pohon sampel dan satu pelepah daun tengah pada pohon sampel lain yang berada di dekatnya.. Wood (1968). kemudian akan berkembang semakin membesar pada generasi berikutnya. 1991). mampu 2 mengkonsumsi 300-500 m daun sawit per hari. nitens adalah berupa kelompok-kelompok kecil. Pada tanaman tua. Berdasarkan pertimbangan biaya.. Sipayung (1988) dan Chung et al. (1995). 2 . nitens yang ada pada dua sampel pelepah daun. MONITORING POPULASI Diketahui bahwa pada awal kehadirannya. Desmier de Chenon (1982). serta ditandai dengan cat.

3.Setora nitens Walker dan apabila Setora nitens yang dijumpai jumlahnya melebihi tingkat populasi kritis yang ditentukan (Tabel 1). Chlorocryptus purpuratus.6 kali lebih murah dibandingkan dengan penggunaan pestisida. bradleyi B. predator dan parasitoid.. Apanteles aluella. Wood et al. Oleh karena itu. thuringiensis efektif melawan Setora nitens. Gambar 3. Darna trima dan Setothosea asigna dengan tingkat kematian 90% dalam 7 hari.Turnera subulata (Gambar 6). diducta D. Pupa terinfeksi Cordyceps militaris Virus MNPV digunakan untuk mengendalikan larva ulat api (Gambar 8). Cordyceps militaris dan virus Multi-Nucleo Polyhydro Virus (MNPV). 2010). untuk menentukan perlu tidaknya dilakukan pengendalian ulang. Walaupun pengaruhnya tidak secepat pestisida. asigna (Gambar 3). S. dilakukan evaluasi hasil pengendalian dengan melaksanakan pengamatan efektif ulangan terhadap populasi Setora nitens. 1991).. Agens antagonis tersebut adalah Bacillus thuringiensis. 2. Predator Eochantecona furcellata No. Euphorbia heterophylla. Predator ulat api yang sering ditemukan adalah Eochantecona furcellata (Hemiptera: Pentatomidae) (Gambar 4) dan Sycanus leucomesus (Hemiptera: Reduviidae). Selain beberapa entomopatogen di atas. Systropus roepkei. Spinaria spinator. nitens D. Parasitoid pada larva Setora Tabel 1. PENGENDALIAN Pengendalian yang dilakukan dalam mengontrol populasi Setora nitens dengan meng-gunakan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) (Susanto et al. Pada setiap pohon sampel hanya diamati satu pelepah daun. Jamur ini dapat diaplikasikan dalam formulasi khusus atau menggunakan hasil gerusan pupa yang terinfeksi. Tingkat populasi kritis beberapa jenis ulat api Gambar 4. Konsep ini bertumpu pada monitoring dan sensus populasi hama di lapangan. Pada 3-7 hari setelah pelaksanaan pengendalian dengan insektisida (tergantung jenis dan teknik aplikasi insektisida yang digunakan). clean weeding tidak dianjurkan dan tanaman-tanaman tersebut hendak-nya tetap ditanam dan jangan dimusnahkan. Tiong (1977) juga melaporkan bahwa adanya penutup tanah dapat mengurangi populasi ulat api karena populasi musuh alami akan meningkat. Nitens dan S. Boreria alata dan Elephantopus tomentosus. Pengamatan efektif ini diperlukan untuk menentukan batas areal kelapa sawit yang harus dilakukan pengendalian. 4. Cassia tora. dan Chaetexorista javana. Jamur Cordyceps militaris efektif memparasit pupa ulat api jenis S. dengan mengambil lima pohon sampel/ha yang ditentukan secara sistematis. bisura 3 . 6. Turnera ulmifolia. Penggunaan larutan virus sebanyak 400 gram ulat terinfeksi virus per hektar cukup efektif serta 3. Fornicia ceylonica. Pengendalian populasi di bawah ambang ekonomi : Pengendalian dilakukan secara hayati Beberapa agens antagonis telah banyak digunakan untuk mengendalikan ulat api. Jenis ulat api Populasi kritis ulat api (Jumlah ulat/pelepah daun kelapa sawit ) 5-10 5-10 20-30 10-20 10-20 10-20 1. populasi ulat api dapat stabil secara alami di lapangan oleh adanya musuh alami yaitu. (1977) me-nemukan bahwa bakteri B. Dosis yang digunakan 20 gram per piringan. nitens adalah Brachimeria lasus. Pengamatan efektif Hanya dilakukan pada bagian dari blok yang dijumpai Setora nitens melebihi tingkat populasi kritis. akan tetapi kesesuaiannya sebagai metode pengendali yang ber-kesinambungan sangat tepat (Sudharto. 5. maka segera dilakukan pengamatan efektif. Parasitoid dapat diperbanyak dan dikonservasi di perkebunan kelapa sawit dengan menyediakan makanan bagi imago parasitoid tersebut seperti Antigonon leptopus (Gambar 5). Dolichogenidae metesae. trima D. asigna S. sesuai dengan kelompok Setora nitens yang dijumpai.

Team for the Ext. Pest of Oil Palm in Malaysia and their control. of Estate. Pest detection and census on oil palms.April 1982. Sudharto Ps. 4 . Kuala Lumpur 50 : 230-233. Pusat Penelitian Perkebunan Marihat. Sudharto Ps. Kuala Lumpur. Mariau D. Pola distribusi ulat api Setothosea asigna van Eecke pada perkebunan kelapa sawit. 25p. Fahridayanti. Lubis RA.Ass. Maret 1988. Desmier de Chenon R. Monitoring and Surveillance System for Integrated Pest Management of Leaf Eating Caterpillars in Oil Palm. 195 p. Purba RY. Turnera subulata Pengendalian populasi di atas ambang ekonomi: Pengendalian dilakukan secara mekanik Pemasangan Light trap untuk menarik dan memerangkap imago Setora nitens. The planter. 204p. 1992. Pengendalian untuk Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) dapat dilakukan dengan aplikasi penyemprotan yang menggunakan Mist blower. Hartley CWS. TropicalAgriculture Series. 10 p. Proj. Research Institute of the SPA. Desmier de Chenon R. Susanto A. Sistem pengawasan dini (Early warning system) terhadap perkembangan populasi hama pada perkebunan kelapa sawit. Sim SC.. The Oil Palm. Jakarta.1988. Medan. 1968. The Planter. Fadillah LA. 1991. Gen. 13 p. Utomo C. 1995. Indonesia. Metode Pemberantasan Ulat Kelapa Sawit (khusus di PNP Sumut III). 71. Field day PTP VII. Dir. sipermetrin dan lamda sihalothrin dan bahan aktif lain dari golongan pirethroid. DAFTAR PUSTAKA Chung GF. Field guide for coconut and oil palm pests and diseases and plantation sanitary protection. Kumpulan prasaran-prasaran konperensi ahli perkebunan. 1974. Spec. Syed RA& Speldewinde HV. Sipayung A. Second editions. Incorporated Society of Planter. 46 (11) : 400-476. 253-263. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kopulasi dan penyebaran serta sebagai salah satu sarana monitoring. Prasetyo AE. & Sudharto Ps. Dongoran AP. 1962. Wood BJ. Oleagineux Vol. 28-30 Januari 1992 di Yogyakarta. Hama Tanaman Kelapa Sawit dan Cara Pengendaliannya. Purba AYL. Les insectes ravageurs du palmier a huile et leurs ennemis en Asie du Sud-est. Indonesia. Sipayung A. Kongres Entomologi IV dan Seminar Ilmiah. Antigonon leptopus Gambar 6. Pematang Siantar. 1979.Setora nitens Walker Gambar 5.. Pengendalian dapat dilakukan berdasarkan umur tanaman. Km Hon & Ramli K. Golden Hope Plantation Berhad: Kuala Lumpur. Perlindungan Tanaman Kelapa Sawit. Kegiatan pemasangan Light trap dihentikan jika tangkapan ngengat per malamnya 5 ekor. Pematang Siantar. Pengendalian dilakukan secara kimiawi Insektisida yang paling banyak digunakan pada perkebunan kelapa sawit untuk ulat api saat ini adalah deltametrin. 2006. 1991. 1982. & Sudharto Ps. jilid II.