You are on page 1of 12

ETIKA KEDOKTERAN

Felicia Ananda Baeha Waruwu 102011410 / C5 Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jalan Dahlia III nomor 39,RT/RW 04/09,Bumi Cengkareng Permai, Jakarta Barat, 11720 fel_4nanda@yahoo.co.id KATA PENGANTAR
1

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Atas berkat rahmatnya, saya tetap diberikan anugerah dan berkatnya, sehingga makalah PBL ini dapat diselesaikan. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada dosen yang membimbing saya. Jika tanpa bapak dosen, saya tidak akan mengerti apa yang harus saya buat dalam makalah ini. Mungkin masih ada kesalahan yang saya buat dalam makalah ini. Saya mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca. Saya pasti akan memperbaikinya pada makalah yang selanjutnya.

Salam,

Penulis

2

DAFTAR ISI Judul …………………………………………………………………………………… 1

Kata Pengantar ………………………………………………………………………… 2 Daftar Isi ………………………………………………………………………………. 3 Bab I Pendahuluan …………………………………………………………………….. 4 1.1 1.2 Latar Belakang ………………………………………………………… 4 Tujuan Penelitian ……………………………………………………. .. 4

Bab II Pembahasan …………………………………………………………………… 5 2.1 2.2 Dasar Teori ……………………………………………………………. 5 Isi Pembahasan …………………………………………………………7

Bab III Penutup ……………………………………………………………………….. 11 3.1 Kesimpulan …………………………………………………………… 11

Daftar Pustaka ………………………………………………………………………… 12

3

BAB I PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG Menjadi seorang dokter membutuhkan kemampuan praktek dan otak yang sangat baik. Jika seorang dokter tidak memiliki kemampuan tersebut, apa yang nantinya akan terjadi pada pasiennya. Namun, tidak hanya faktor kemampuan kognitif dan psikomotorik saja yang dibutuhkan menjadi seorang dokter. Dokter juga harus memiliki kemampuan afeksi yang baik. Kemampuan afeksi salah satunya adalah sikap-sikap yang harus ditunjukkan seorang dokter (attitude). Seorang dokter harus punya sikap yang baik karena dirinya adalah orang yang akan dipandang oleh masyarakat. Tidak bagus jika seorang dokter memiliki sikap kasar, sombong, tidak peduli dengan orang, tidak mau berkorban, dan lain-lain. Dokter yang memiliki sifat seperti ini tidak akan disukai oleh pasienpasiennya. Karena itu seorang dokter juga harus belajar tentang etika kedokteran dan kode etik kedokteran. Ada 4 hal yang harus seorang dokter miliki, yaitu : beneficence, non-maleficence, justice, dan autonomy. Hal-hal tersebutlah yang harus dimiliki oleh seorang dokter. Tanpa 4 hal itu, seorang dokter tidak akan menjadi dokter yang sukses dan disenangi masyarakat. Dalam makalah ini pun akan membahas 4 etika kedokteran yang harus dilakukan oleh setiap dokter.

1.2

TUJUAN PENELITIAN 1.2.1 1.2.2 Mengidentifikasi kaidah dasar etika kedokteran dalam skenario kasus. Mengidentifikasi pelanggaran kaidah dasar etika kedokteran dalam

skenario kasus.

4

BAB II PEMBAHASAN

2.1

DASAR TEORI Etika berasal dari bahasa Yunani, ethos yang berarti watak, kebiasaan, dan adat

istiadat. Jadi etika adalah kebiasaan hidup yang baik. Etika itu adalah bentuk aktualisasi moralitas dalam mengambil sesuatu keputusan yang berhubungan dengan sesuatu yang baik atau buruk. Sedangkan etika menurut Kamus Kedokteran (Ramali dan Pamuncak,1987) adalah perilaku yang benar dalam satu profesi.(1) Tujuan pendidikan etika dalam pendidikan kedokteran adalah untuk menjadikan calon dokter lebih manusiawi dengan memiliki kematangan intelektual dan emosional.(1) Etika profesi kedokteran berhubungan dengan hubungan yang dilakukan antara dokter dengan pasien-pasiennya. Awalnya hanya ada etika profesi kedokteran saja yang mengatur permasalahanpermasalahan yang berkaitan dengan kehidupan seseorang, sehingga akhirnya dikembangkanlah bioetika atau etika biomedis. Bioetika berasal dari kata bios yang berarti kehidupan dan ethos yang berarti norma-norma atau nila-nilai moral.(1) Bioetika tidak hanya membahas masalah-masalah medis, tapi juga mencakup masalah kesehatan, hak pasien, moralitas penyembuhan tradisional, dan faktor budaya yang berperan dalam lingkungan kesehatan masyarakat. Bioetika pertama kali diteliti oleh Institute for the Study of Society, Ethics, and the Life Science, Hasting Centre, New york. Setelah itu, di Indonesia bioetika mulai berkembang sejak 1 dekade terakhir yang dipelopori oleh Pusat Pengembangan Etika Universitas Atma Jaya Jakarta. Dalam bioetik ada 4 macam kaidah dasar yang semuanya berisikan masalah hubungan antara dokter dan pasiennya. Empat kaidah dasar itu adalah beneficence, non-maleficence, self-determination, dan justice. Empat kaidah ini memiliki arti dan poin-poin penting tersendiri. Semuanya mengatur setiap tindakan dokter, hak pasien, dan kewajiban dokter. Beneficence adalah suatu tindakan yang dilakukan dokter hanya demi kebaikan pasiennya. Beneficence lebih mengutamakan altruisme dalam prakteknya. Altruisme adalah suatu tindakan menolong tanpa pamrih dan rela berkorban untuk kepentingan orang lain (pasien). Prinsip beneficence ini dilakukan dokter bukan hanya menghormati martabat manusia saja, tapi juga untuk mengusahakan agar pasien yang dirawatnya terjaga baik
5

kondisinya. Ada 2 prinsip dalam beneficence yaitu general beneficence dan specific beneficence. General beneficence : • • • Melindungi dan mempertahankan hak yang lain. Mencegah terjadinya kerugian pada yang lain. Menghilangkan kondisi penyebab kerugian pada yang lain.

Specific beneficence : • • Menolong orang cacat. Menyelamatkan orang dari bahaya.

Prinsip utama dari non-maleficence adalah primum non nocere. Arti dari prinsip ini adalah janganlah berbuat merugikan atau salah. Jadi konsep ini mewajibkan dokter untuk melakukan tindakan yang tidak memperburuk keadaan pasiennya. Biasanya prinsip ini dilakukan pada pasien dalam kondisi gawat darurat dan membutuhkan pertolongan cepat. Dokter harus segera melakukan tindakan untuk mencegah hal yang terburuk terjadi pada pasiennya. Contoh kasusnya adalah tindakan dokter untuk menghentikan kehamilan pada kehamilan ektopik. Self-determination atau otonomi adalah prinsip dimana dokter memberikan hak kepada pasiennya untuk menentukan yang terbaik bagi dirinya. Otonomi adalah kebebasan untuk menetapkan masa depannya tiap-tiap manusia tanpa dipengaruhi faktor-faktor eksternal. Dalam prinsip ini dokter hanya memberikan keterangan tentang penyakit pasien dan tindakan yang mungkin akan dilakukan dokter dengan persetujuan pasien. Karena itulah otonomi erat kaitannya dengan informed consent. Informed consent adalah persetujuan yang diperoleh secara bebas tanpa adanya tekanan atau bujukan setelah pasien memperoleh keterangan yang wajar, jelas, dan lengkap serta disampaikan sesuai dalam bentuk dan bahasa yang mudah dimengerti atau dipahami oleh si pasien.(2) Dulu informed consent tidak harus dilakukan oleh para dokter, namun sekarang informed consent adalah suatu keharusan etis yang harus dilakukan oleh para dokter. Justice (keadilan) adalah prinsip yang bertujuan untuk menyelenggarakan keadilan dalam transaksi dan perlakuan antarmanusia (mulai mengusahakan peningkatan keadilan terhadap individu dan masyarakat).(2) Prinsip keadilan juga berarti memberi perlakuan yang
6

sama kepada setiap pasien untuk kebahagiaannya yang bertujuan untuk menjamin nilai tak terhingga dari setiap makhluk yang berakal budi. Jenis keadilan ada 4 : 1. Tukar menukar : memberikan hak pasien yang semestinya dia terima. 2. Distributif : kebajikan dokter/sarana kesehatan untuk membagikan beban yang sama dan rata. 3. Sosial : kebajikan melaksanakan dan memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bersama. 4. Hukum : membagi semua sesuai hukum untuk mencapai kesejahteraan umum. 2.2 ISI PEMBAHASAN

Skenario : Dr. Bagus Dokter Bagus telah lama bertugas di suatu desa terpencil yang sangat jauh dari kota. Sehari-harinya ia bertugas di sebuah puskesmas yang hanya ditemani oleh seorang mantri, hal ini merupakan pekerjaan yang cukup melelahkan karena setiap harinya banyak warga desa yang datang berobat karena Puskesmas tersebut merupakan satu-satunya sarana kesehatan yang ada. Dokter Bagus bertugas dari pagi hari sampai sore hari tetapi tidak menutup kemungkinan ia harus mengobati pasien dimalam hari bila ada warga desa yang membutuhkan pertolongannya. Pada suatu pagi hari, ketika ia datang ke Puskesmas sudah ada 4 orang pasien yang sedang mengantri. Dokter Bagus memeriksa pasien sesuai nomor urut pendaftaran, hal ini dilakukannya agar pemeriksaan pasien berjalan tertib teratur. Pasien pertama adalah seoarng ibu, datang dengan keluhan batuk pilek. Setelah memeriksa pasien tersebut dr. Bagus memberikan beberapa macam obat dan vitamin serta nasihat agar istirahat yang cukup. Pasien kedua adalah seorang anak balita tampak lemah digendong oleh ibunya. Ibunya mengatakan bahwa anak tersebut sudah 2 hari buang-buang air besar. Setelah memeriksakan anak tersebut, dr.bagus menyarankan agar anak tersebut dirawat di rumah sakit yang berada dikota. Namun, ibu tersebut menolak karena tidak mempunyai uang untuk berobat. “Baiklah kalau begitu saya akan memberi ibu obat dan ORALIT untuk anak ibu, nanti ibu berikan obat tersebut sesuai dengan aturan dan usahakan anak ibu minum oralit
7

sesering mungkin, nanti sore setelah selesai tugas saya akan mampir kerumah ibu untuk melihat kondisi keadaan anak ibu,” kata dr. Bagus. “Pak mantri tolong bikinkan puyer untuk anak ibu ini dan setelah itu tolong jelaskan cara membuat air oralit pada ibu ini,” kata dr. Bagus kepada pak mantri. Pasien ketiga adalah seorang anak laik-laki. Pasien tersebut nmenderita keganasan stadium lanjut. Sebelumnya pasien tersebut pernah dilakukan pembedahan di rumah sakit. Namun keluarga pasien menghentikan pengobatannya lebih lanjut. Orangtua pasien bukanlah orang kaya sehingga mereka tak mampu membeli obat-obatan kemoterapeutik yang mahal. Tetapi orangtua pasien ingin anaknya mendapat pengobatan lebih lanjut. Dokter Bagus menjelaskan kepada orang tuanya bahwa kondisi anaknya tidak dapat ditingkatkan dan sangat sulit bagi mereka untuk membeli obat-obatan mahal tersebut. Dokter Bagus ragu apakah ia harus mengatakan pada mereka untuk tidak usah membeli obat itu. Karena berdasarkan pengetahuannya pada penyakit ini, beberapa pasien meninggal walaupun diberikan obat-obat kemoterapeutik. “ Pak, yang hanya saya dapat lakukan adalah memberi obat-obatan penunjang agar anak bapak tidak terlalu menderita “ kata dr. Bagus sambil menyerahkan obat kepada orang tua pasien. Saat mempersilahkan pasien keempatnya masuk ke ruang periksa, dr. Bagus terkejut karena serombongan orang memaksa masuk sambil mengotong seorang pemuda yang tidak sadarkan diri. Dokter Bagus meminta kesediaan pasien kempat untuk menunggu diluar karena ia akan terlebih dahulu memberi pertolongan pada pemuda tersebut. Ketika yang lain sibuk membaringkan pemuda yang tidak sadarkan diri tersebut, salah satu orang mengatakan bahwa pemuda tersebut telapak tangan sebelah kanannya masuk ke dalam mesin penggilingan padi dan setelah 15 menit kemudian telapak tangan pemuda tersebut baru dapat dikeluarkan dari mesin penggilingan padi. Pada pemeriksaan, dr. Bagus mendapatkan telapak tangan pemuda tersebut tampak bengkak dan pada pemeriksaan lebih lanjut ternyata tulang di telapak tangan tersebut hancur. Dokter Bagus bertanya kepada orang-orang yang mengantar pemuda tadi apakah diantara mereka ada keluarga dari pemuda tersebut. Dari serombongan orang tadi keluar seorang perempuan, ia mengatakan bahwa ia adalah istri dari pemuda terebut. Dokter Bagus menjelaskan keadaan telapak kanan suaminya dan tindakan yang harus dilakukan adalah amputasi. Walau dengan berat hati, istri pemuda tersebut menyetujui tindakan yang akan dilakukan dokter Bagus. Sambil bersimbah peluh, dokter Bagus akhirnya menyelesaikan tindakan amputasi telapak kanan pemuda yang mengalami kecelakaan tersebut. Melihat kondisi pasien yang tampak baik dan stabil, akhirnya pasien diperbolehkan
8

pulang dengan diberi beberapa macam obat dan anjuran agar besok datang kembali untuk kontrol. Pasien keempat adalah seorang bapak berusia 55 tahun diantar oleh anak laki-lakinya datang dengan keluhan nyeri pada ulu hati dan terasa berat pada dada serta punggungnya. Dari hasil pemeriksaan tekanan dara 150/90 dn nadi cepat tidak teratur. Dokter Bagus curiga pasien tersebut menderita penyakit jantung sehinga ia membuat surat rujukan ke rumah sakit yang berada di kota. Setelah menerima penjelasan tentang kemungkinan penyakit yang dideritanya, pasien pulang dengan membawa surat rujukan tersebut. Waktu telah memasuki siang hari, dokter Bagus melihat keluar ruangan, tampak antrian pasien yang masih banyak. “ Pak mantri tolong umumkan ke pasien, saya akan istirahat makan sejenak” kata dr. Bagus. Demikianlah kegiatan sehari-hari dr. Bagus dan tanpa terasa sudah 25 tahun dokter Bagus mengabdi di desa tersebut dan kini usianya sudah memasuki 55 tahun, namun belum ada sedikitpun dibenaknya dokter Bagus untuk mencari pendamping hidupnya, yang ada hanya bagaimana mengobati pasien-pasiennya. Hasil dari analisis skenario kasus ini adalah : Beneficence :
1. Paragraf 1 baris ke 5 : mengutamakan altruisme. 2. Paragraf

2 baris ke 4 : mengusahakan agar kebaikan/manfaatnya lebih banyak

dibandingkan keburukannya.
3. Paragraf 3 baris ke 5 : memberikan obat berkhasiat namun murah. 4. Paragraf 4 baris ke 13 :Menjamin kehidupan-baik-minimal manusia. 5. Paragraf 6 baris 4 : memandang pasien/keluarga/sesuatu tidak hanya sejauh

menguntungkan dokter.
6. Paragraf 7 baris ke 6 : mengutamakan altruisme. 7. Paragraf 7 baris ke 2 : melanggar beneficence point menerapkan Golden Rule

Priciple. Non-maleficence :
9

1. Paragraf 3 baris ke 2 : menolong pasien gawat darurat. 2. Paragraf 5 baris ke 3 : menolong pasien gawat darurat. 3. Paragraf 5 baris 12 : pasien dalam keadaan amat berbahaya (darurat).

Autonomy :
1. Paragraf 3 baris ke 2 : menghargai hak menentukan nasib sendiri, menghargai

martabat pasien.
2. Paragraf 4 baris 5 : berterus terang. 3. Paragraf 4 baris ke 10 : berterus terang. 4. Paragraf 5 baris ke 13 : melaksanakan informed consent. 5. Paragraf 5 baris ke 18 : menjaga hubungan (kontrak). 6. Paragraf 6 baris ke 5 : melaksanakan informed consent.

Justice :
1. Paragraf 2 baris ke 2 : memberlakukan segala sesuatu secara universal. 2. Paragraf 4 baris ke 12 : menghargai hak sehat pasien. 3. Paragraf 5 baris ke 4 : melanggar justice point memberi kesempatan yang

sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama.

10

BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN Seorang dokter yang baik dan berkompeten harus memiliki 4 prinsip kaidah dasar bioetika yaitu beneficence,non-maleficence,justice, dan self determination. Beneficence adalah prinsip yang mengutamakan sikap altruisme dari seorang dokter. Dokter memberikan sesuatu yang baik untuk pasiennya walaupun dokter tidak mendapatkan keuntungan dari itu. Non-maleficence adalah prinsip yang kita lakukan tidak akan merugikan bahkan memperburuk keadaan pasien. Biasanya prinsip ini kita lakukan pada kasus pasien yang butuh pertolongan darurat. Self determination adalah prinsip seorang dokter untuk tidak memaksakan kehendaknya. Dokter harus mendengarkan dan menghormati keputusan pasien. Karena pasien punya hak untuk menentukan nasibnya sendiri dalam prinsip ini. Justice adalah prinsip dokter untuk memperlakukan semua pasiennya sama. Tidak membedakan satu orang pun karena pasien mempunyai martabat dan hak-hak yang sama. Dalam hal ini dokter harus benar-benar menjunjung tinggi keadilan bagi pasien-pasiennya.

11

DAFTAR PUSTAKA

1) Hanafiah, M. Jusuf. Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan, edisi 4. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2007. 2) Daldiyono. Menuju Seni Ilmu Kedokteran Bagaimana Dokter berpikir, Bekerja, dan Menampilkan Diri. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. 2006.

12