You are on page 1of 214

FISIKA ZAT PADAT

Oleh DRS. P A R N O, M.Si

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

JURUSAN FISIKA
Pebruari 2006

Ralat fisika zat padat 2006 hal 10 13 18 25 27 35 41 42 48 57 ralat Gambar 1.9 CsCl c/a = (2/3) akar 6 Baris ke-8 dalam table: . berikutnya Pers (1.30) fkr,hkl KBR seharusnya adalah KBr interaksi seharusnya Interaksi Baris ke-2 dr bw: dobel + 03.b. primitip adalah; 06. 2.1 dan 2.3 Letak Pers 2.34

KATA PENGANTAR
Puji syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Mahaesa atas segala rahmat-Nya sehingga penulisan buku FISIKA ZAT PADAT ini dapat diselesaikan. Buku ini disusun atas dasar deskripsi matakuliah FIU 437 FISIKA ZAT PADAT di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang dan dengan maksud agar perkuliahan matakuliah tersebut dapat berlangsung lebih efektif dan efisien. Disamping itu, buku ini diharapkan dapat melengkapi pilihan pustaka mahasiswa dalam memahami konsep dan gejala mendasar dalam zat padat. Isi buku ini dirancang untuk kuliah satu semester dengan tiga sampai empat kredit pada semester kedua tahun ketiga. Dengan demikian mahasiswa diharapkan sudah menempuh matakuliah prasyaratnya, yaitu FISIKA KUANTUM dan FISIKA STATISTIK. Dalam setiap bab buku ini disajikan urutan subbab sedemikian rupa sehingga memahami subbab sebelumnya menjadi bekal yang cukup baik untuk memahami subbab sesudahnya. Oleh karena itu dalam mempelajari setiap bab buku ini mahasiswa diharapkan membaca dan memahaminya mulai dari awal sampai akhir secara berturutan. Diucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga buku FISIKA ZAT PADAT ini dapat diselesaikan. Saran dan kritik membangun dari para pembaca sangat diharapkan demi lebih sempurnanya buku ini. Semoga buku ini berguna. Amin! Malang, Pebruari 2006 Penyusun,

DAFTAR ISI
halaman

BAB I

STRUKTUR KRISTAL
2 2 2 3 4 4 5 6 9 9 10 11 12 12 13 13 14 16 18 18 19 19 20 23 24 28 28 30 30 32 34 35 37 38 41

1.1 SIMETRI DAN STRUKTUR KRISTAL 1.1.1 Pengertian Pokok 1.1.1.1.Zat padat Kristal 1.1.1.2 Kisi Kristal 1.1.1.3 Vektor Basis 1.1.1.4 Sel Satuan Primitip dan Non-Primitip 1.1.1.5 Tiga Dimensi 1.1.2 Macam Dasar Kisi kristal 1.1.3 Beberapa Kristal dengan Struktur Sederhana 1.1.3.1 Struktur NaCl 1.1.3.2 Struktur CsCl 1.1.3.3 Struktur Intan 1.1.3.4 Struktur ZnS 1.1.3.5 Struktur HCP 1.1.4 Geometri Kristal 1.1.4.1 Arah kristal 1.1.4.2 Bidang Kristal dan Indek Miller 1.1.4.3 Jarak antar Bidang Sejajar 1.1.4.4 Fraksi Kepadatan 1.2 DIFRAKSI KISI KRISTAL 1.2.1 Hamburan Sinar-X oleh Kisi Kristal 1.2.1.1 Hukum Bragg 1.2.1.2 Teori Hamburan 1.2.1.3 Kisi Resiprok 1.2.1.4 Difraksi Sinar-X 1.3 IKATAN ATOMIK DALAM KRISTAL 1.3.1 Gaya Antaratom 1.3.2 Jenis Ikatan Kristal 1.3.2.1 Ikatan Ionik 1.3.2.2 Ikatan Kovalen 1.3.2.3 Ikatan Logam 1.3.2.4 Ikatan Van Der Walls 1.3.2.5 Ikatan Hidrogen RINGKASAN LATIHAN SOAL BAB I

ii

B A B II

DINAMIKA KISI KRISTAL


47 47 52 53 56 58 58 58 63 66 66 68

2.1. GETARAN DALAM ZAT PADAT 2.1.1 Getaran Elastik dan Rapat Moda Getar 2.1.2 Kuantisasi Energi Getaran dalam Zat Padat 2.1.2.1 Model Einstein tentang Cv Zat Padat 2.1.2.2 Model Debye tentang Cv Zat Padat 2.2 GETARAN DALAM KISI KRISTAL 2.2.1 Getaran dalam Kisi Linier 2.2.1.1 Kisi Monoatomik Satu Dimensi 2.2.1.2 Kisi Diatomik Satu Dimensi 2.2.1.3 Kisi Tiga Dimensi RINGKASAN LATIHAN SOAL BAB II

BAB III ELEKTRON DALAM LOGAM I (MODEL ELEKTRON BEBAS)


3.1 MODEL ELEKTRON BEBAS KLASIK 3.1.1 Teori Drude tentang Elektron dalam Logam 3.1.2 Model Elektron Bebas Klasik 3.2 MODEL ELEKTRON BEBAS TERKUANTISASI 3.2.1 Sumbangan Elektron Bebas pada Harga CV 3.2.2 Paramagnetik Pauli 3.2.3 Konduktivitas Listrik dalam Logam 3.3 PERILAKU ELEKTRON DALAM LOGAM 3.3.1 Hukum Matthiessen 3.3.2 Efek Hall 3.3.3 Resonansi Siklotron 3.3.4 Pancaran Termionik 3.4 KEBERATAN TERHADAP MODEL ELEKTRON BEBAS TERKUANTISASI RINGKASAN LATIHAN SOAL BAB III 73 73 76 78 80 82 83 87 87 88 90 91 93 94 96

BAB IV LOGAM II (TEORI PITA ENERGI)


4.1 TEORI PITA ENERGI UNTUK ZAT PADAT 4.1.1 Teorema Bloch 4.1.2 Model Kronig-Penney 4.1.3 Pita Energi dan Energi Elektron dalam Atom 4.1.4 Refleksi Bragg dan Celah Energi 4.1.5 Logam, Isolator dan Semikonduktor 4.1.6 Metode LCAO iii 99 100 101 105 108 110 115

4.2 DINAMIKA ELEKTRON DALAM KRISTAL 4.2.1 Kecepatan Kelompok dan Massa Efektif Elektron dalam Kristal 4.2.2 Pengaruh Medan Listrik pada Kecepatan Elektron dalam Kristal 4.2.3 Konduktivitas listrik 4.2.4 Dinamika Elektron dalam Medan Magnet 4.2.4.1 Efek Hall 4.2.4.2 Resonansi Siklotron RINGKASAN LATIHAN SOAL BAB IV

119 119 125 127 129 129 130 133 136

BAB V SEMIKONDUKTOR
5.1 KLASIFIKASI SEMIKONDUKTOR 5.2 SEMIKONDUKTOR INTRINSIK 5.3 SEMIKONDUKTOR EKTRINSIK 5.3.1 Ketidakmurnian Donor dan Akseptor 5.3.1.1 Donor 5.3.1.2 Aseptor 5.4 PENGUKURAN CELAH ENERGI DENGAN METODE OPTIK RINGKASAN LATIHAN SOAL BAB V 140 140 144 145 145 147 149 150 152

BAB VI BAHAN DIELEKTRIK


6.1 RUMUSAN DASAR POLARISASI BAHAN 6.2 KONSTANTA DIELEKTRIK BAHAN (PANDANGAN MAKROSKOPIS) 6.3 POLARISABILITAS BAHAN (PANDANGAN MIKROSKOPIS) 6.3.1 Persamaan Clausius-Mosotti 6.3.2 Sumber Polarisabilitas 6.3.2.1 Polarisabilitas Polar 6.3.2.1.1 Polarisabilitas Polar Statik 6.3.2.1.2 Polarisabilitas Polar Bolak-balik 6.3.2.2 Polarisabilitas Ionik 6.3.2.3 Polarisabilitas Elektronik 6.3.2.3.1 Polarisabilitas Elektronik Statik 6.3.2.3.2 Polarisabilitas Elektronik Bolak-balik 6.4 GEJALA PIEZOELEKTRIK 6.5 GEJALA FERROELEKTRIK RINGKASAN LATIHAN SOAL BAB VI iv 154 156 157 157 161 163 163 164 167 170 170 171 172 173 173 178

BAB VII BAHAN MAGNETIK


7.1 SUSEPTIBILITAS MAGNETIK BAHAN 7.2 GEJALA DIAMAGNETIK LANGEVIN 7.3 GEJALA PARAMAGNET 7.4 GEJALA MAGNETIK DALAM LOGAM 7.5 GEJALA FERROMAGNETIK 7.5.1 Gejala Ferromagnetik pada Isolator 7.5.1.1 Teori Medan Molekuler 7.5.1.2 Magnetisasi Spontan dan Hukum Curie-Weiss 7.5.2 Gejala Ferromagnetik pada Logam 7.6 GEJALA ANTIFERROMAGNETIK DAN FERRIMAGNETIK RINGKASAN LATIHAN SOAL BAB VII 183 184 186 190 193 193 193 194 197 198 199 201

DAFTAR RUJUKAN

BAB I STRUKTUR KRISTAL

Zat padat, yang terlihat sebagai benda tegar padat, secara mikro terdiri dari atom. Atom-atom zat padat tidaklah diam, melainkan bervibrasi dengan amplitudo kecil di sekitar titik kesetimbangannya. Karena posisinya yang relatif tetap, maka atom-atom tersebut cenderung membentuk struktur tertentu. Hal ini berbeda dengan cairan atau gas, yang mana atom-atomnya bergerak pada jarak yang lebih besar sehingga strukturnya tidak tertentu. Distribusi setimbang atom-atom mendefinisikan struktur padatan, yang terdiri dari tiga bagian besar, yaitu kristalin, amorf, dan polikristal. Dalam zat padat kristal, atom tersebut terdistribusi teratur relatif terhadap yang lain. Terdapat beberapa jenis struktur kristal yang bergantung pada geometri susunan atom. Pemahaman tentang struktur kristal bahan adalah hal penting dalam fisika zat padat, karena, umumnya, struktur kristal mempengaruhi sifat zat padat. Zat padat polikristal dibentuk oleh sejumlah besar kristal-kristal kecil, yang disebut kristalin. Atom-atom membentuk pola dalam suatu kristal, tetapi orientasinya akan lenyap pada batas kristalin. Sedangkan dalam zat padat amorf, terjadi distribusi atom secara acak. Bahan-bahan zat padat dapat berbentuk kristalin, polikristal atau amorf, bergantung pada bagaimana bahan tersebut dipreparasi. Selanjutnya, dalam diktat ini hanya dibahas zat padat kristal saja.

I STRUKTUR KRISTAL

Bagian awal bab ini menyajikan pengertian struktur kristal beserta perluasannya melalui rumusan dasar matematika. Kemudian dibahas jenis struktur yang mungkin, dan dikenalkan konsep indek Miller. Struktur kristal dapat ditentukan dengan menggunakan difraksi sinar-X. Bab ini ditutup oleh bahasan gaya antaratom yang menyebabkan terjadinya ikatan dalam kristal.

1.1 SIMETRI DAN STRUKTUR KRISTAL 1.1.1 Pengertian Pokok 1.1.1.1 Zat Padat Kristal
Suatu benda padat berbentuk kristal, apabila atom, ion, atau molekulnya (selanjutnya disebut atom saja) teratur dan periodik dalam rentang yang panjang dalam ruang. Kristal sempurna mempunyai keperiodikan tak berhingga. Namun, kenyataannya, tidak mungkin mempreparasi kristal sempurna karena berbagai keterbatasan fisis, yaitu (a) adanya permukaan kristal, (b) cacat geometrik, (c) ketakmurnian, dan (d) pada suhu T>0 K atom dalam kristal bergetar harmonik di sekitar titik setimbangnya. Gambar 1.1 berikut menyajikan geometri kristal dua dimensi.

G b
G a

G R

Gambar 1.1 Zat padat kristal. Seluruh atom tersusun periodik.

Kedudukan dalam ruang dua dimensi di atas merupakan kedudukan atomnya. Setiap titik di dalamnya terletak pada ujung vektor kisi G G G R = n1 a + n2 b

(1.1)

G G dengan (n1, n2) adalah pasangan bilangan bulat; dan a dan b adalah vektor basis.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

Bahan kristal memiliki simetri translasi, artinya seluruh kristal itu digeser G sejauh vektor R di atas (yang menghubungkan dua buah atomnya), maka keadaannya tetap sama. Dengan kata lain kristal bersifat invarian terhadap translasi semacam itu.

1.1.1.2 Kisi Kristal


Dalam kristalografi (bahasan geometri kristal), setiap atom dalam kristal dianggap sebagai suatu titik, tepat pada kedudukan setimbang tiap atom itu di dalam ruang. Pola geometrik yang diperoleh dinamakan kisi kristal. Terdapat dua kelas kisi, yaitu Bravais dan non-Bravais. Dalam kisi Bravais, seluruh titik kisi adalah ekivalen, artinya kisi bersifat invarian terhadap operasi simetri translasi. Dengan demikian semua atom dalam kristal haruslah sejenis. Sedangkan dalam kisi non-Bravais terdapat beberapa titik kisi yang tidak

ekivalen.
Gambar 1.2 berikut menyajikan kisi non-Bravais.

Gambar 1.2 Kisi non-Bravais dengan basis A dan A

Tempat kisi A, B dan C adalah ekivalen, begitu juga A, B dan C. Tetapi, dua tempat kisi A dan A tidak ekivalen karena kisi tidak invarian terhadap translasi sepanjang AA. Kisi non-Bravais seringkali disebut sebagai kisi dengan suatu

basis. Basis yang dimaksud adalah kumpulan atom yang ditempatkan di sekitar
titik kisi Bravais. Dalam Gambar 1.2 di atas basisnya adalah A dan A. Kisi non-Bravais dapat dipandang sebagai kombinasi dari dua atau lebih kisi Bravais yang saling menembus dengan orientasi tertentu.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

1.1.1.3 Vektor Basis


Lihat kembali Gambar 1.1. Posisi semua titik kisi dinyatakan oleh G G G G G persamaan (1.1), yakni R = n1 a + n2 b . Perhatikanlah bahwa a dan b , yang dinamakan vektor basis, (a) bersifat tidak unik, dan (b) haruslah tidak kolinier.

1.1.1.4 Sel Satuan Primitip dan non-Primitip


Luas daerah jajaran genjang (paralelogram) yang sisinya dibatasi oleh vektor basis disebut sel satuan, seperti luasan daerah bayang-bayang dalam Gambar 1.3 berikut.

G b

G R
G a

Gambar 1.3 Vektor a dan b membentuk sel satuan

Sel satuan merupakan dasar pola elementer karena berulang secara periodik dan membentuk struktur kisi suatu kristal. Bila sel satuan tersebut dilakukan translasi G oleh vektor kisi R di atas, maka seluruh kisi kristal tercakup olehnya. Luas daerah G G G G paralelogram dengan sisi a dan b adalah a b =ab sin , dimana adalah sudut
G G antara a dan b .

Perhatikanlah bahwa sel satuan itu (a) tidak unik, (b) setiap sel satuan mempunyai luasan yang sama, dan (c) dalam contoh di atas sel satuan mengandung satu titik kisi. Yang dibicarakan di atas adalah sel primitip, yakni sel satuan yang hanya mengandung satu titik kisi perselnya. Sedangkan sel non-primitip memiliki lebih dari satu titik kisi perselnya. Vektor basis yang membentuk sel satuan primitip disebut vektor basis primitip; dan sel satuan non-primitip disebut vektor basis
non-primitip. Gambar 1.4 berikut memperjelas perbedaan keduanya.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

5 3 4

Gambar 1.4 Sel primitip (3, 4 dan 5) dan non-primitip (1 dan 2 dengan dua titik kisi persatuan sel)

Perhatikanlah bahwa jika sel satuannya adalah sel primitip, maka titik-titik kisi hanya ada pada tiap-tiap pojok jajaran genjang, yaitu sebanyak 4 titik kisi. Setiap titik kisi menjadi milik bersama antara 4 buah sel, sehingga jumlah total titik kisi dalam sel satuan primitip sebanyak 4x=1. Hal demikian tidak terjadi pada sel satuan nonprimitip. Beberapa hal penting yang berkaitan dengan sel satuan adalah (a) sel nonprimitip menunjukkan simetri lebih besar, (b) luas sel non-primitip merupakan kelipatan bulat dari luas sel primitip, dan (c) sel primitip dan non-primitip berkait dengan pemilihan vektor basis dalam kisi Bravais.

1.1.1.5 Tiga Dimensi


Bahasan kristal dalam tiga dimensi sama dengan dalam dua dimensi, hanya keadaannya ditambah dengan satu dimensi lagi. Disamping itu, hal yang perlu diperhatikan adalah (a) ungkapan vektor basis menjadi G G G G R = n1 a + n2 b + n3 c G G G dengan vektor basis (a , b , c ) yang tidak koplanar,

(1.2)

(b) vektor basis membentuk sel satuan volume berbentuk paralelepipidum,

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

(c) antarvektor basis satu sama lain membentuk sudut , dan seperti terlihat pada Gambar 1.5 berikut.

(d) volume paralelepipidum dengan sisi G G G a , b dan c adalah luas bagian G G dasar berbentuk paralelogram a b
G yang dikalikan dengan komponen c

sepanjang sumbu yang tegak lurus


Gambar 1.5 Kisi tiga dimensi dengan vektor basis (a , b , c ) dan sudut , , antaranya

G G G

terhadap bagian dasar tersebut, yaitu G G G V = c a b .

Perhatikanlah bahwa sel satuan pada Gambar 1.5 adalah sel satuan primitip, yaitu titik-titik kisi berjumlah 8 hanya ada pada tiap pojok paralelepipidum. Setiap titik kisi menjadi milik bersama sebanyak 8 sel satuan, sehingga jumlah total titik kisi dalam sel satuan primitip tersebut sebanyak 8x 1 8 =1. Hal demikian tidak terjadi pada sel satuan nonprimitip.

1.1.2 Macam Dasar Kisi Kristal


Kondisi simetri translasi dalam kristal mempunyai konsekwensi terhadap terbatasnya kemungkinan jenis kisi Bravais yang dapat terjadi, baik dalam kisi kristal dua maupun tiga dimensi. Dalam dua dimensi, kisi kristal yang mungkin sebanyak lima jenis, seperti terlihat dalam Tabel 1.1 dan Gambar 1.6 berikut. Tabel 1.1 Macam kisi dua dimensi No 1 2 3 4 5 Kisi Genjang Persegi Heksagonal Empat persegi panjang P Empat persegi panjang I Sel Satuan Jajaran genjang Bujur sangkar Belah ketupat Empat persegi panjang Empat persegi panjang Sisi dan Sudut ab 900 a=b = 900 a=b = 1200 ab = 900 ab = 900

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

a a

a a

b a

b a

b a

Gambar 1.6 Lima jenis dasar kisi Bravais dua dimensi Tampak bahwa hanya kisi empat persegi panjang I yang memiliki sel satuan nonprimitip

Untuk kasus tiga dimensi ternyata ada 14 buah kisi Bravais yang terlingkupi dalam 7 buah sistem kristal. Hal ini sebagai konsekuensi dari simetri rotasi sebuah kristal, yakni rotasi-1, 2, 3, 4, dan 6, seperti disajikan dalam Tabel 1.2 dan Gambar 1.7 berikut. Tabel 1.2 Macam kisi tiga dimensi
No 1 2 3 4 5 6 7 Sistem Kristal Triklinik Monoklinik Ortorombik Tetragonal Trigonal Heksagonal Kubik Kisi Bravais P P , C I Geometri Kristal abc a b c = = 900 900 a b c = = = 900 a = b c = = = 900 a = b = c = = < 1200 tetapi bukan 900 a = b c = = 900 = 1200 a = b = c = = = 900 Simetri Khas Tidak ada Sebuah sumbu rotasi-2 Tiga sumbu rotasi-2 ortogonal Sebuah sumbu rotasi-4 Sebuah sumbu rotasi-3 Sebuah sumbu rotasi-3 Empat sumbu rotasi-3 sepanjang diagonal kubus

P , C, I, F P , R P P, I,F

Kisi Bravais P, C, I, F, dan R, masing-masing mengandung jumlah titik kisi persel satuannya adalah 1, 2, 2, 4, dan 1.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

Gambar 1.7 Empat belas kisi Bravais berdimensi tiga dan distribusinya dalam 7 sistem kristal P = primitip C = base centered I = body Centered F = face centered R = rombohedral primitip

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

1.1.3 Beberapa Kristal dengan Struktur Sederhana 1.1.3.1 Struktur Sodium Khlorida (NaCl)
Na Cl mempunyai struktur FCC dengan basis satu atom Na dan satu atom Cl yang terpisah sepanjang setengah diagonal ruang kubus. Sepanjang ketiga arah sumbu utama kubiknya terdapat alternasi atom Na dan Cl, seperti ditunjukkan oleh Gambar 1.8 berikut.

Gambar 1.8 Struktur NaCl tiga dimensi

Setiap sel satuan memiliki 4 perangkat NaCl yang atomya berkedudukan di Cl : Na: 000 0 00 0 00 0 00

Jika sisi kubik adalah a, maka kedua atom dalam basis terpisah sejauh 3a, dan setiap atom memiliki 6 atom tetangga terdekat yang berbeda jenis dengan jarak pisah masing-masing a. Nilai konstanta a untuk NaCl berharga 5,63 . NaCl dapat pula dipandang sebagai struktur non-Bravais, yang terdiri dari
dua subkisi FCC, masing-masing untuk Na dan Cl, yang saling menembus. Kedua

subkisi tersebut terpisah sejauh a satu sama lain.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

10

Beberapa kristal yang memiliki struktur NaCl adalah LiH, MgO, MnO, AgBr, PbS, KCl, dan KBr dengan konstanta kisi masing-masing 4,08; 4,20; 4,43; 5,77; 5,92; 6,29; dan 6,59 .

1.1.3.2 Struktur Sesium Khlorida (CsCl)


CsCl memiliki struktur SC dengan basis satu atom Cs dan satu atom Cl. Alternasi atom Cs dan Cl terdapat sepanjang diagonal ruang kubik, seperti terlihat pada Gambar 1.9 berikut.

Gambar 1.9 Struktur CsCl

Setiap sel satuan mengandung satu molekul CsCl, dengan posisi atom Cs : 000 Cl : CsCl dapat pula dipandang sebagai struktur non-Bravais yang terdiri dari
dua subkisi SC (kubik sederhana), yang masing-masing dibentuk oleh atom-atom

Cs dan Cl, yang keduanya terpisah sejauh 3a (setengah diagonal ruang). Jumlah titik terdekat setiap atom adalah 8 atom yang berbeda jenis. CsCl memiliki konstanta kisi 4,11 . Beberapa kristal yang memiliki struktur CsCl adalah BeCu, AlNi, CuZn, CuPd, AgMg, LiHg, NH4Cl, TlBr, dan TlI dengan konstanta kisi masing-masing 2,70; 2,88; 2,94; 2,99; 3,28; 3,29; 3,87; 3,97; dan 4,20 .

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

11

1.1.3.3 Struktur Intan


Struktur intan dapat dilihat sebagai struktur yang sel satuannya adalah sel
FCC dengan suatu basis, yakni dua atom C yang posisinya

000

dan

seperti terlihat pada Gambar 1.10 dan 1.11 berikut.

Gambar 1.10 Struktur kristal intan dengan ikatan tetrahedralnya

Gambar 1.11 Proyeksi posisi atom dalam struktur intan sel kubik pada salah satu sisi kubik. Bilangan pecahan menunjukkan ketinggian di atas bidang dasar

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

12

Dalam setiap sel satuan terdapat 8 atom C dan bilangan koordinasinya adalah 4. Keempat atom terdekat membentuk suatu tetrahedral, dengan pusat atom yang bersangkutan. Konfigurasi semacam itu sering dijumpai pada semikonduktor, dan dinamakan ikatan tetrahedral. Struktur intan merupakan contoh ikatan kovalen dalam unsur-unsur kolom IV tabel periodik. Struktur intan dapat pula dipandang sebagai gabungan dari dua subkisi
FCC yang saling menembus dengan titik asal, masing-masing 000 dan .

Beberapa kristal yang memiliki struktur intan adalah Ge, Si, C, timah putih dengan konstanta kisi masing-masing 5,65; 5,43; 3,56; dan 6,46 .

1.1.3.4 Struktur Seng Sulfida (ZnS)


Struktur ZnS sama dengan struktur intan, tetapi dengan basis yang terdiri dari dua atom berbeda, yakni Zn dan S. Setiap sel satuan memiliki 4 molekul ZnS dengan posisi atom Zn : 000 0 0 0 S: Setiap atom memiliki jarak yang sama terhadap keempat atom yang berbeda terdekatnya yang menempati pojok-pojok tetrahedron regular. ZnS memiliki konstanta kisi 5,41 . Beberapa kristal yang memiliki struktur ZnS adalah CuF, SiC, CuCl, AlP, GaP, ZnSe, GaAs, AlAs, CdS, InSb, dan AgI dengan konstanta kisi masingmasing 4,26; 4,35; 5,41; 5,45; 5,45; 5,65; 5,65; 5,66; 5,82; 6,46; dan 6,47 .

1.1.3.5 Struktur HCP (hexagonal close-packed structure)


Banyak cara untuk menyusun bola identik dengan jumlah tak berhingga secara tertentu sehingga menghasilkan susunan teratur yang memiliki fraksi
kepadatan maksimum atau ruang kosong antarbola minimum. Gambar 1.12

berikut melukiskan susunan satu lapis bola identik dengan pusat titik A, yang mana tiap bola bersinggungan dengan enam bola tetangga terdekatnya. Lapisan kedua yang identik ditempatkan paralel di atasnya (lapisan pertama) dengan pusat titik B. Penempatan lapisan ketiga memiliki dua kemungkinan, yakni

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

13

Gambar 1.12 Lapisan bola terkemas rapat dengan pusat titik A

(a) dengan pusat titik A, sehingga terdapat urutan lapisan ABABAB, dan menghasilkan struktur HCP, dan (b) dengan pusat titik C, sehingga terdapat urutan ABCABC, dan menghasilkan
struktur FCC.

Lapisan pertama A merupakan bidang dasar untuk struktur HCP atau bidang (111) untuk struktur FCC. Struktur HCP memiliki sel primitip kisi heksagonal, tetapi dengan basis dua atom. Sedangkan sel primitip FCC berbasis satu atom. Baik HCP maupun FCC mempunyai perbandingan c/a= 2 6 =1,633 dan 3 jumlah tetangga terdekat 12 buah atom, serta energi ikatan yang hanya bergantung pada jumlah ikatan tetangga terdekat peratom. Beberapa kristal yang memiliki struktur HCP adalah He, Be, Mg, Ti, Zn, Cd, Co, Y, Zr, Gd, dan Lu dengan nilai c/a masing-masing adalah 1,633; 1,581; 1,623; 1,586; 1,861; 1,886; 1,622; 1,570; 1,594; 1,592; dan 1,586.

1.1.4 Geometri Kristal 1.1.4.1 Arah Kristal


Telah dikemukakan bahwa arah tertentu dalam kisi dinyatakan oleh vektor G G G G G kisi (1.2), yaitu R = n1 a + n 2 b + n3 c . Arah vektor R dinyatakan dengan [n1 n2 n3], yang lazimnya dalam perbandingan bilangan bulat terkecil. Semua arah yang

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

14

sejajar memiliki indek yang sama. Perhatikanlah beberapa arah dalam kristal ortorombik seperti Gambar 1.13 berikut.
c D C B

O b a A

Gambar 1.13 Indek arah satuan sel ortorombik OA: [110] OB: [111] OC: [112] OD: [001]

Apabila sel satuan yang ditinjau mempunyai simetri rotasi, maka seringkali ada arah nonparalel yang karena kesimetriannya merupakan arah yang ekivalen. Arah [n1 n2 n3] yang ekivalen menggunakan notasi <n1 n2 n3>. Misalnya, pada suatu kubik sumbu X, Y dan Z masing-masing memiliki arah [100], [010] dan [001] yang ekivalen, dinotasikan dengan <100>. Secara sepenuhnya <100> mencakup arah [100], [010], [001], [ 1 00], [0 1 0] dan [00 1 ] dimana makna dari
1 adalah 1; dan <111> menunjukkan semua diagonal ruang suatu kubik.

Satu arah dengan indeks Miller besar, misalnya [157], memiliki jumlah atom persatuan panjang yang lebih sedikit daripada indeks yang kecil, misalnya [111].

1.1.4.2 Bidang Kristal dan Indek Miller


Representasi suatu bidang datar dalam suatu kisi kristal diungkapkan oleh

indek Miller (hkl). Perhatikanlah Gambar 1.14 berikut.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

15

G G G Bidang memotong sepanjang sumbu vektor basis a , b dan c masing-masing pada x y z x, y dan z. Didapatkan perangkat tiga bilangan . Lalu, diambil a b c a b c kebalikannya, yaitu x y z . Indek Miller didapatkan dengan menyatakan
perangkat tiga bilangan terakhir sebagai perbandingan bilangan bulat terkecil, dan dinyatakan dengan notasi

Gambar 1.14 Bidang (233)

(h

a k l) = m x

b y

c m z

(1.3)

dengan m adalah bilangan bulat untuk mereduksi indek menjadi bilangan bulat terkecil. Dengan demikian, kumpulan bidang paralel mempunyai representasi indek Miller yang sama. Pada Gambar 1.14 di atas x=3a, y=2b dan z=2c, sehingga jika dianggap a=b=c=1, maka bidang yang dimaksud memiliki indek Miller (hkl)=(233). Pada kasus lain, misalnya x=2a, y=(3/2)b, dan z=c memiliki indeks Miller (hkl)=(346). Dalam satuan sel yang memiliki simetri rotasi, beberapa bidang nonparalel (hkl) adalah ekivalen karena kesimetriannya, dan dinotasikan dengan {hkl}. Misalnya dalam sistem kubik indek {100} menunjukkan enam bidang, yaitu (100), (010), (001), ( 1 00), (0 1 0) dan (00 1 ).
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

16

Berikut adalah beberapa contoh bidang (hkl) dalam sistem kubik.

Gambar 1.15 Bidang (100), (110), (111), (200) dan ( 1 00) dalam sistem kubik

Dalam koordinat Kartesis bidang (hkl) = (mnox mnoy mnoz) memberikan vektor arah yang tegak G . + noy no = nox i j + noz k lurus terhadap bidang tersebut, yakni

1.1.4.3 Jarak Antarbidang Sejajar Miller


Bahasan ini dibatasi pada sistem dengan sumbu ortogonal, dengan abc. Perhatikanlah Gambar 1.16 berikut.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

17

Z z

Garis normal

x X

Gambar 1.16 Cara mendapatkan jarak antarbidang Miller

Jarak dari titik O ke titik potong P dinayatakan dengan dhkl. Jika x, y dan z merupakan titik potong bidang (hkl) dengan sumbu a, b dan c maka dhkl=x cos =y cos =z cos . Secara geometri, pada gambar di atas didapatkan hubungan cos2+ cos2 + cos2 =1 sehingga didapatkan
d hkl = 1 1 1 1 x2 + y2 + z 2
1/ 2

(1.4)

Harga x, y dan z berkaitan dengan bilangan h, k dan l melalui ungkapan h=m a x ; k=m b y ; l=m c z (1.5)

sehingga jarak antarbidang (1.4) menjadi


d hkl = m h2 k 2 l 2 a2 + b2 + c2
1/ 2

(1.6)

Misalnya, pada sistem kubik dengan sisi a didapatkan d111=(1/3)3a; d110=2a dan d020=a. Pada umumnya bidang yang indek Millernya rendah memiliki jarak antarbidang lebih besar, tetapi memiliki kerapatan atom persatuan luas yang lebih besar.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

18

1.1.4.4 Fraksi Kepadatan


Fraksi kepadatan, didefinisikan sebagai proporsi maksimum dari volume

yang ada yang dapat diisi oleh bola atom dalam sebuah sel satuan, diungkapkan dalam bentuk rumusan
F=N

(4 / 3)
V

r3

(1.7)

dengan N= jumlah atom dalam sel satuan r = jari-jari bola atom V = volume sel satuan Jarak kesetimbangan antara pusat dua atom berdekatan dapat dipandang sebagai jumlah jari-jari kedua atom tersebut. Tabel 1.3 berikut menunjukkan hubungan antara struktur kristal dengan ukuran geometrik sel satuan. Tabel 1.3 Ukuran geometrik dan struktur kristal No Parameter 1 Jari-jari atom 2 Atom persel satuan 3 Volume sel satuan 4 5 6 7 8 Fraksi kepadatan Jumlah tetangga terdekat Jarak terhadap tetangga terdekat Jumlah tetangga terdekat berikutnya Jarak terhadap tetangga terdekat berikutnya SC BCC FCC a/2 a2/4 a3/4 1 2 4 3 3 a a a3 /6 3/8 2/6 (=0,524) (=0,68) (=0,74) 6 a 12 a2 8 12 Intan a3/8 8 a3 3/16 (=0,34) 4 ()a3 12 ()a13 HCP a/2 6 3a32 2/6 (=0,74) 12 a 6 a3

()a3 ()a2 6 a 6 a

Tampak bahwa intan memiliki struktur yang relatif kosong (hanya terisi 0,34) dan FCC atau HCP relatif padat (terisi 0,74).

1.2 DIFRAKSI KISI KRISTAL


Struktur kristal dapat dipelajari melalui difraksi foton, netron dan elektron. Panjang gelombang optik, misalnya 5000 , menghasilkan gelombang terhambur

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

19

elastis dengan atom-atom kristal sehingga terjadi refraksi optik biasa. Tetapi, jika panjang gelombang radiasi sebanding atau lebih kecil daripada konstanta kisi (orde angstrom), maka didapatkan berkas difraksi yang arahnya sangat berbeda dengan arah berkas datang.

1.2.1 Hamburan Sinar-X oleh Kisi Kristal 1.2.1.1 Hukum Bragg


W.L. Bragg menjelaskan gejala berkas difraksi kristal dengan model sederhana. Jika sinar-X mengenai permukaan suatu kristal, maka terjadi refleksi. Model disajikan pada Gambar 1.17, yakni kristal direpresentasikan oleh kumpulan bidang paralel yang bersesuaian dengan bidang atom. Bidang tersebut berperan sebagai cermin. Setiap bidang hanya merefleksikan 10-3 sampai 10-5 radiasi yang datang sehingga diperlukan 103 sampai 105 bidang untuk menghasilkan berkas refleksi Bragg yang sempurna. Hamburan ini dianggap elastik, yakni energi sinarX tidak mengalami perubahan sebelum dan sesudah refleksi.

Gambar 1.17 (a) Refleksi sinar-X dari suatu kristal. Sinar hampir paralel karena posisi detektor jauh dari kristal. (b) Intensitas refleksi kristal KBr. Pada gambar ditunjukkan bidang-bidang refleksi yang menghasilkan difraksi

(a)

(b)

Beda lintasan untuk kedua sinar refleksi adalah =AB + BC AC = 2 AB AC karena AB=BC. Mengingat jarak antarbidang d, maka AB = d/sin dan AC = AC cos = (2d/tg ) cos

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

20

dimana adalah sudut pantul antara berkas datang dan bidang refleksi, sehingga = 2 d sin . Interferensi maksimum (konstruktif) terjadi hanya jika =n sehingga diperoleh hukum Bragg untuk refleksi oleh bidang kristal (hkl) n = 2 dhkl sin (1.9) Harga ditentukan secara bebas dan sin diukur secara langsung dari refleksi eksperimen, sehingga jarak antarbidang dhkl dapat dihitung. Hal lain adalah difraksi hanya mungkin terjadi jika <2d. Oleh karena itu dalam hal ini tidak dapat digunakan cahaya tampak. Model yang dikemukakan di atas terlalu sederhana. Fakta menunjukkan bahwa hamburan berkas sinar-X disebabkan oleh atom diskrit kristal yang bersangkutan. Oleh karena itu bahasan berikut menelaah hukum Bragg melalui proses hamburan. (1.8) dimana n = 1, 2, 3, . (ordo refleksi) dan = panjang gelombang sinar-X,

1.2.1.2 Teori Hamburan


Hamburan radiasi elektromagnet oleh suatu elektron disajikan oleh Gambar 1.18 berikut. Dalam proses ini diandaikan hamburan bersifat elastik (hamburan Thomson).

Gambar 1.18 Hamburan oleh elektron tunggal

Gelombang datar G G G (r , t ) = Ae i (ko r t ) oleh

(1.10)

mengenai elektron. Gelombang sferik terhambur pada jarak radial D dinyatakan

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

21

' (D , t ) = f e

A i (kD t ) e D

(1.11)

dengan fe adalah panjang hamburan elektron. Terlihat bahwa penurunan amplitudo gelombang terhambur sebanding dengan 1/D. Hamburan oleh sistem dua elektron, yang masing-masing berkedudukan di P1 dan P2 disajikan pada Gambar 1.19 berikut.

k 2

ko

Gambar 1.19 Hamburan oleh dua elektron. r adalah vektor posisi elektron-1 terhadap elektron-2

Gambar 1.20 Vektor hamburan s . Sudut 2 adalah sudut hamburan

G Didefinisikan vektor hamburan s , seperti pada Gambar 1.20, yaitu G G G s = k ko (1.12) G G Karena hamburan bersifat elastik k o = k = k , maka terlihat dari Gambar 1.20

bahwa
G s = s = 2k sin

(1.13)

G G Beda panjang lintasan sinar terhambur =P1M- P1N. Jika S o dan S , masing-

G G 1 G G masing merupakan vektor satuan dalam arah k o dan k , maka = (r s ) . Beda k

fasa antara gelombang terhambur dalam radial

G G 2 = k = r s

(1.14)

Superposisi dari dua gelombang terhambur dalam fungsi ruang

T = fe

G G A ikD A e + e ik ( D + ) = f e e ikD 1 + e is r D D

(1.15)

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

22

G G Secara umum, bila vektor posisi r1 untuk elektron-1 dan r2 untuk elektron-2

relatif terhadap pusat tertentu, maka

T = fe

G G G G A ikD is e e r1 + e is r2 D

(1.16)

Bila yang ditinjau atom dengan l buah elektron, masing-masing dengan G vektor posisi rl , dengan l = 1, 2, 3, , n, maka bentuk umum gelombang untuk G (1.16) dalam arah terhambur s tertentu

T = f
dengan

A ikD e D

(1.17)

f = f e e is rl
l =1

G G

(1.18)

disebut panjang hamburan total. Intensitas parsial gelombang terhambur I sebanding dengan kuadrat besarnya medan. Oleh karena itu
I f
2 2

= f e2 e is rl
l =1

G G

(1.19)

G Jika atom dalam kristal, misalnya, terletak pada posisi Rl , maka faktor

hamburan kristal fkr


f kr = f al e is Rl
l =1 N G G

(1.20)

Ungkapan faktor hamburan kristal (1.20) di atas mengambil bentuk analogi dari G G atom. Posisi atom dapat ditinjau dalam sel satuannya, yaitu Rl = Rlc' + j , dimana G Rlc' adalah posisi sel satuan ke-l, dan j adalah posisi atom dalam sel satuan, sehingga faktor hamburan kristal (1.20) di atas dapat dinyatakan dalam bentuk faktorisasi fkr = F S dengan F = f aj e
j G G is j

(1.21)
dan S = e
l' G G is Rlc'

(1.22)

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

23

F dan S, masing-masing mengungkapkan faktor struktur geometri dan kisi. Faktor struktur kisi hanya bergantung pada sistem kristal. Sedangkan faktor struktur geometri bergantung pada bentuk geometri dan isi sel satuan.

1.2.1.3 Kisi Resiprok


Setiap struktur kristal memiliki 2 kisi, yaitu kisi kristal dan resiprok. Saat kristal dikenai sinar-X, akan dihasilkan pola difraksi yang merupakan peta kisi resiprok kristal tersebut. Kedua kisi ini memiliki relasi sebagai berikut. G G G Andaikanlah vektor basis dalam kisi nyata adalah a , b dan c , maka dapat didefinisikan vektor basis dalam kisi resiprok, yakni G G G G G G G G G b xc c xa axb a = 2 G G G b = 2 G G G c = 2 G G G a b xc b c xa c axb Hal ini berarti vektor basis resiprok a. memiliki satuan m-1, yang sama dengan angka gelombang, G G G b. bahwa a tegak lurus terhadap bidang b , c , dan demikian pula permutasi

(1.23)

( )

siklisnya, dan G G G G G G G G G c. bahwa a b xc = b c xa = c axb merepresentasikan volume sel satuan dengan G G G rusuk vektor a , b dan c . Vektor basis resiprok mendefinisikan vektor kisi resiprok G G G G Gn = n1 a + n2 b + n3 c dengan n1, n2 dan n3 adalah bilangan bulat. Kisi resiprok memiliki hubungan dengan kisi nyata sebagai berikut. G G G G G G a. a a = b b = c c = 2 b. V
o 3 ( 2 ) = ,

(1.24)

Vo

G G G G G G dengan Vo = a b xc dan Vo = a b xc

G G G G c. Setiap vektor dari kisi resiprok Ghkl = ha + kb + lc tegak lurus terhadap bidang kisi (hkl) dalam ruang nyata. d. Kisi nyata merupakan resiprok dari kisi resiprok. G e. Jarak antarbidang dhkl dan Ghkl direlasikan oleh

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

24 (1.25)

G d hkl Ghkl = 2

Perhatikanlah perbandingan kisi nyata dan resiproknya pada Gambar 1. 21 berikut.


120

d100
010

G G110

d010
G b

G b* O

G a*

100

G a
Gambar 1.21 Perbandingan kisi nyata dan resiproknya

Dari Gambar 1.21 di atas jelaslah bahwa G G G G a. a tegak lurus terhadap b ; dan b tegak lurus terhadap a
G 2 2 a = G = a d100 G 2 b = d 010

b. setiap titik (hkl) dalam ruang resiprok terkait dengan perangkat bidang (hkl) dalam ruang nyata, dan c. simetri kelompok titik dalam ruang resiprok sama dengan simetri ruang nyata. Dapat pula dibuktikan bahwa terdapat hubungan sebagai berikut. a. Kisi resiprok kisi SC adalah kisi SC juga. b. Kisi resiprok kisi BCC adalah kisi FCC; dan sebaliknya.

1.2.1.4 Difraksi Sinar-X


Kisi resiprok berguna dalam menentukan besarnya faktor struktur. Ternyata
G

e iARl ' = N AG ,GG


c

(1.26)
n

l =1

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

25

G Dalam hal ini A adalah vektor sebarang dan penjumlahan dilakukan sepanjang G vektor kisi nyata yang mengandung N buah total sel dan vektor kedudukan Rlc' . Dengan demikian faktor struktur kisi S (1.22) berharga nol untuk setiap nilai G vektor hamburan s , kecuali G G (1.27) s = Ghkl G Hal ini berarti s harus tegak lurus terhadap bidang (hkl). Dengan menginat bahwa k=2/, maka substitusi persamaan (1.13) dan (1.25) ke dalam persamaan (1.27), dalam teori hamburan ini, menghasilkan bentuk hukum Bragg 2 dhkl sin = (1.28) Dapatlah dikatakan bahwa gambaran Bragg tentang difraksi yang terjadi karena pemantulan oleh bidang kristal, secara konseptual lebih sederhana daripada melihatnya sebagai interferensi konstruktif berkas terhambur oleh atom kristal dari teori hamburan. Gambar 1.22 berikut menjelaskan syarat terpenuhinya hukum Bragg menurut teori hamburan.

Gambar 1.22 Vektor hamburan sama dengan vektor kisi resiprok

Saat kondisi Bragg (127) terpenuhi, maka faktor struktur kisi S0, tetapi bernilai S=N, seperti tampak pada (1.26), sehingga Shkl = N menjadi fkr,hkl = N Fhkl dan intensitas I menjadi (1.30) (1.29) Substitusi (1.29) ke dalam (1.21) menghasilkan faktor hamburan kristal fkr

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

26 (1.31)

I hkl f kr ,hkl Fhkl

Setiap berkas terdifraksi bersesuaian dengan suatu perangkat bidang (hkl). Tetapi untuk suatu perangkat bidang (hkl) tertentu kadang intensitas berkas terdifraksi menjadi nol. Hal ini terjadi karena faktor struktur geometri Fhkl=0, meskipun bidang (hkl) yang bersesuaian memenuhi kondisi Bragg. Misalnya, semua atom identik, kedudukan atom ke-j dalam sel satuan G G G G j = u j a + v jb + w jc dan kondisi Bragg terpenuhi G G G G G s = Ghkl = ha + kb + lc maka
Fhkl = f a e
j 2i hu j + kv j + lw j

(1.32)

Contoh menghitung faktor struktur geometri Fhkl. a. Sel satuan primitip (P). Atomnya terletak di 000 sehingga (1.32) menjadi Fhkl = fa b. Sel satuan base centered C. Atomnya terletak di 000 dan 0 sehingga (1.32) menjadi Fhkl = fa (1 + ei(h + k)) Dengan demikian Fhkl0 hanya jika h+k=2n dengan n=0, 1, 2, c. Sel satuan body centered I. Atomnya terletak di 000 dan sehingga (1.32) menjadi Fhkl = fa (1 + ei(h + k+ l)) Dengan demikian Fhkl0 hanya jika h+k+l=2n dengan n=0, 1, 2, d. Sel satuan face centered F. Atomnya terletak di 000, 0, 0 dan 0 sehingga (1.32) menjadi Fhkl = fa (1 + ei(h + k) + ei(h + l) + ei(k + l)) Dengan demikian Fhkl0 hanya jika h+k=2n dan k+l=2n dengan n=0, 1, 2, Dengan kata lain Fhkl0 hanya jika semua indek genap atau semua indek ganjil.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

27

Berikut ini diberikan contoh kurva intensitas refleksi sinar-X dan sudut hamburan (I vs 2) hasil eksperimen difraksi sinar-X dari bubukan KCl dan KBr.

Gambar 1.23 Perbandingan refleksi sinar-X antara bubukan KCl dan KBr

KCl dan KBr, keduanya, memiliki struktur FCC. Dalam KCl, jumlah elektron pada K+ dan Cl- sama banyak sehingga faktor hamburan atom fa keduanya hampir sama sehingga ia terlihat oleh sinar-X sebagai kristal SC monoatomik dengan konstanta kisi a/2. Adanya refleksi indek-indek yang genap bulat menunjukkan bahwa kristal tersebut adalah SC dengan konstanta kisi a. Sedangkan dalam KBr,

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

28

faktor hamburan atomnya berbeda sehingga ia tetap terlihat sebagai struktur FCC oleh difraksi sinar-X. Kondisi Bragg (1.27) masih dapat ditulis dalam bentuk lain. Substitusi (1.12) ke dalam (1.27) menghasilkan G G G k ko = G Mengalikan kedua ruas (1.33) dengan menghasilkan G G G =k o = =k = G Persamaan ini dapat dipandang sebagai kekekalan momentum, dan difraksinya sebagai proses tumbukan antara foton sinar-X dan kristal. Momentum sebelum G G tumbukan hanya momentum linier foton yang datang p o = =k o , dan setelah G G tumbukan adalah momentum linier foton terhambur p = =k dan momentum linier G kristal =G . Dengan demikian perubahan momentum linier foton G G G G p = p p o = = G Energi kinetik seluruh kristal Ek=(Ghkl)2/2M, dengan M adalah massa seluruh kristal. Karena M sangat besar relatif terhadap massa atom, maka Ek sangat kecil dan diabaikan. Dengan demikian dalam proses hamburan foton sinar-X tidak ada energi yang hilang
G G E o = E =c k o = = c k G G ko = k

(1.33)

Jelaslah bahwa proses hamburan tersebut di atas bersifat elastik.

1.3 IKATAN ATOMIK DALAM KRISTAL 1.3.1 Gaya Antaratom


Dalam suatu kristal letak atom relatif jauh satu sama lain sehingga gaya inti tidak berperan. Dengan demikian formasi kristal terjadi karena gaya antaratom. Dalam kristal, gaya antaratom bersifat listrik. Energi kristal lebih rendah daripada energi atom bebasnya. Hal ini menyebabkan kristal lebih stabil daripada atom-atom bebas penyusunnya. Misalnya, kristal NaCl lebih stabil daripada kumpulan atom-atom Na dan Cl bebas. Perbedaan energi ini, disebut energi ikat (energi kohesi), besarnya sama
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

29

dengan energi yang diperlukan untuk memecah kristal tersebut menjadi atom bebas bagiannya. Energi kohesi berkisar antara 0,02 eV peratom untuk ikatan terlemah (ikatan Van der Walls) dan 10 eV peratom untuk ikatan terkuat (ikatan kovalen). Ikatan logam terletak di antara dua harga ekstrim tersebut. Molekul adalah sekelompok atom bermuatan listrik netral, terikat kuat bersama dan berperilaku sebagai partikel tunggal. Suatu jenis molekul tertentu memiliki komposisi dan struktur tertentu pula. Energi potensial yang merepresentasikan interaksi antara dua atom dalam suatu molekul sebagai fungsi jarak diperlihatkan pada Gambar 1.24 berikut.

Gambar 1.24 Energi potensial sebagai fungsi jarak dari ikatan dua atom

Posisi setimbang ditandai oleh energi terendah Vo, yang terjadi pada jarak Ro yang berordo beberapa angstrom. Pada R>Ro, potensial naik secara bertahap sehingga mencapai nol pada R (dua atom bebas). Sedangkan pada R<Ro, potensial naik secara tajam menuju . Gaya antaratom dapat dirumuskan G F (R ) = V (R )

(1.34)

Terlihat bahwa F(R)<0 untuk R>Ro, sehingga terjadi tarik-menarik; dan F(R)>0 untuk R<Ro, sehingga terjadi tolak-menolak antara dua atom tesebut. Kedua gaya ini saling meniadakan satu sama lain pada titik setimbang Ro. Tetapi, umumnya, energi tarikan mendominansi energi tolakan pada titik setimbang Ro.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

30

1.3.2 Jenis Ikatan Kristal 1.3.2.1 Ikatan Ionik


Ikatan ini terjadi antara ion positip dan negatip sehingga sering disebut ikatan heteropolar. Setelah terjadi perpindahan elektron, konfigurasi elektron ion menyerupai gas mulia. Oleh karena itu sebaran muatan elektronnya mempunyai simetri bola. Contohnya adalah ikatan yang terjadi pada alkalihalida. Biasanya, ikatan ionik tidak menghasilkan pembentukan molekul yang berpasangan, tetapi merupakan kumpulan ion positip dan negatip yang tersusun dalam struktur tertentu. Misalnya, struktur FCC NaCl, dalam setiap bentuk dan ukuran apapun selalu berisikan jumlah ion Na+ dan ion Cl- yang sama banyak. Apabila Uij adalah energi interaksi antara ion ke-i dan ke-j, maka energi total ion ke-i adalah

U i = U ij
j

(1.35)

dimana penjumlahan dilakukan untuk semua ion kecuali j=i. Energi Uij berasal dari potensial tolak-menolak medan sentral empirik eksp (-rij/), dimana (tetapan) dan (panjang karakteristik) merupakan parameter empirik; dan tarik-

menarik Coulomb q2/4orij. Dengan demikian

U ij = e

rij /

q2 4 o rij

(1.36)

Potensial tolak-menolak terjadi karena penerapan prinsip eksklusi Pauli saat jarak antarion berkurang (lebih kecil dari jarak kesetimbangan). Berkurangnya jarak antarion menyebabkab orbit elektron tumpang-tindih. Hal ini melanggar prinsip eksklusi Pauli karena sel terluar ion sudah komplit. Akibatnya elektron harus menempati tingkat energi yang lebih tinggi sehingga energi potensial naik secara tajam. Sedangkan potensial Coulomb terjadi antara ion sejenis (tanda +) atau tidak sejenis (tanda -). Energi kisi kristal total yang terdiri dari N buah molekul atau 2N buah ion Utot = N Ui

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

31

Ungkapan ini menunjukkan bahwa setiap pasangan atau setiap ikatan hanya dihitung sekali. Andaikanlah r kita tulis sebagai rij=pijR, dengan R adalah jarak terdekat antara dua atom terdekat dan interaksi tolak-menolak hanya terjadi antartetangga terdekat saja, maka q2 R / e (te tan gga terdekat ) 4 o R U ij = 2 1 q (bukan te tan gga terdekat ) pij 4 o R sehingga energi total
q2 R / U tot = NU i = N z e 4 o R

(1.37)

(1.38)

dengan z = jumlah tetangga terdekat suatu ion

=
j

1 adalah konstanta Madelung (termasuk j=i) pij

Dalam menghitung konstanta Madelung, jika ion referensi bermuatan negatip, maka tanda (+) digunakan untuk ion positip dan tanda (-) untuk ion negatip. Jika diambil syarat bahwa
Ro2 e Ro / =
dU tot dR = 0 , maka diperoleh
R = Ro

q 2 4 o z

(1.39)

Dengan menggunakan (1.38) dan (1.39), maka energi kisi kristal total dengan 2N buah ion pada jarak setimbang Ro
U tot
R = Ro

Nq 2 4 o Ro

1 R o

(1.40)

Bentuk

Nq 2 disebut energi Madelung. Harga berorde 0,1Ro sehingga 4 o Ro

interaksi tolak-menolak mempunyai rentang yang amat pendek dan sedikit sekali pengaruhnya terhadap energi kisi. Sebagai contoh disajikan data tentang energi permolekul dalam kristal KCl, yaitu energi Madelung (energi Coulomb) sebesar (25,2)/R eV dan energi

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

32

tolak menolak (2,4.104)exp(-R/0,30) eV dimana R berorde 10-8 cm. Harga konstanta Madelung bergantung pada struktur kristal ionik, misalnya untuk NaCl, CsCl dan ZnS, masing-masing berharga 1,747565 , 1,762675 dan 1,6381. Ikatan ionik tergolong lebih kuat daripada ikatan lain, dengan energi ratarata 5 eV setiap pasangan atom. Oleh karena itu kristal ionik mempunyai titik leleh yang tinggi. Misalnya titik leleh NaCl adalah 8010C, sedangkan untuk logam Na dan K, masing-masing adalah 97,80C dan 630C.

1.3.2.2 Ikatan Kovalen


Andaikanlah ada dua atom hidrogen yang terpisah pada jarak yang cukup jauh satu sala lainnya sehingga tidak ada interaksi di antara elektronnya, maka masing-masing atom memiliki orbit 1s. Jika kedua atom saling mendekat dan membentuk molekul H2, maka orbital molekulnya merupakan kombinasi linier dari kedua orbital atom 1s. Orbital molekul tersebut mempunyai dua kemungkinan, yaitu

genap = 1 + 2

dan

ganjil = 1 2

(1.41)

dimana 1 dan 2 merepresentasikan keadaan 1s pada dua proton. Orbital molekular genap dan ganjil secara grafik diperlihatkan pada Gambar 1.25 berikut.

Gambar 1.25 Fungsi gelombang (a) genap dan (b) ganjil

Sedangkan distribusi muatan untuk kedua orbital tersebut adalah |genap|2 dan |ganjil|2 seperti ditunjukkan oleh Gambar 1.26 berikut.

Gambar 1.26 Propil distribusi muatan dan representasi kontur

(a)

(b)

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

33

(a) genap dan (b) ganjil

Tampak bahwa genap mengandung elektron terutama pada daerah antara dua proton, sedangkan ganjil mengandung elektron di sekitar masing-masing proton yang bersangkutan dan jauh dari daerah antara dua proton. Kedua orbital molekul di atas mempunyai energi yang berbeda seperti ditunjukkan oleh Gambar 1.27 berikut.

Gambar 1.27 Energi keadaan dasar dan eksitasi molekul hidrogen sebagai fungsi jarak antarinti

Orbital genap berenergi lebih rendah daripada orbital ganjil. Bahkan orbital genap mempunyai energi negatip. Dengan demikian orbital genap merupakan orbital stabil (orbital bonding) dan orbital ganjil merupakan orbital tidak stabil (orbital antibonding). Pada gambar di atas tampak bahwa molekul hidrogen memiliki keadaan setimbang pada 0,74 dan energi ikat 4,48 eV (relatif terhadap keadaan dasar dua atom hidrogen yang terpisah pada jarak tak terhingga). Sesuai dengan prinsip eksklusi Pauli, kedua elektron dalam orbital bonding memiliki spin antiparalel. Keberadaan sepasang elektron di antara atom hidrogen di atas menyebabkan terjadinya ikatan yang kuat dalam molekul hidrogen. Ikatan yang terjadi karena pemakaian bersama sepasang elektron oleh atom untuk mencapai konfigurasi gas mulia dalam suatu molekul disebut ikatan kovalen. Hal ini

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

34

merupakan bukti bahwa semua atom adalah identik sehingga transfer elektron dari satu atom ke yang lain tidak menimbulkan akibat apapun. Keadaan fisis ikatan kovalen dalam kristal sama dengan dalam molekul. Gaya tarikan terjadi antara elektron dan proton di sepanjang garis yang menghubungkan inti berturutan. Sedangkan gaya tolaknya terjadi karena interaksi prinsip eksklusi Pauli saat inti saling merapat. Gaya tarikan elektron-proton lebih dari cukup untuk mengimbangi penolakan langsung elektron-elektron ataupun proton-proton. Ikatan kovalen juga kuat, seperti ditunjukkan oleh intan yang tingkat kekerasannya tinggi dan titik leleh di atas 30000C. Ikatan dua atom karbon dalam struktur intan memiliki energi kohesi 7,3 eV peratom.

1.3.2.3 Ikatan Logam


Model ikatan logam menggambarkan adanya suatu susunan ion teratur dan suatu lautan elektron valensi ion tersebut yang dapat bergerak bebas di antara susunan ion. Dengan demikian elektron valensi atom berubah menjadi elektron konduksi logam. Ikatan logam terjadi bila tarikan antara ion positip dan gas elektron melebihi penolakan antarelektron dalam gas tersebut. Gaya tolak Coulomb antarion positip menjadi tidak efektif karena gas elektron melingkupi ion secara kuat sehingga menjadi ion noninteraksi yang netral. Atom logam bersatu sehingga terbentuk kristal logam yang stabil karena energi sistem kristal lebih rendah daripada energi atom bebasnya. Dalam atom bebas terisolasi, elektron dimodelkan sebagai sebuah partikel dalam kotak potensial. Dengan demikian gerakan elektron dibatasi dalam volume yang kecil sehingga, menurut prinsip ketidaktentuan Heisenberg, energi kinetiknya besar. Dengan menggunakan persamaan Scrodinger, dimana potensial interaksi nol, dan syarat batas periodik diperoleh energi kinetik elektron E V-2/3 (1.42) Dimana V adalah volume kotak tempat elektron bergerak. Sedangkan dalam kristal, elektron secara bebas bergerak dalam keseluruhan volume kristal yang sangat besar. Akibatnya, energi kinetik elektron turun secara tajam dan

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

35

mengkontribusi pengurangan energi total sistem. Penurunan energi inilah yang menjadi sumber ikatan logam. Ikatan logam lebih lemah daripada ikatan kovalen dan ionik. Contohnya, logam Na memiliki titik leleh pada 97,80C. Energi kinetik yang kecil menyebabkan ikatannya lemah. Susunan kristal logam cenderung untuk memiliki susunan dimana setiap atom atau ion memiliki banyak tetangga (struktur tersusun padat), misalnya HCP (seng), FCC (tembaga), BCC (lithium dan natrium) dan lain-lain.

1.3.2.4 Ikatan Van der Walls


Ikatan ionik, kovalen dan logam terjadi karena pengaturan elektron valensi. Hal demikian tidak bisa terjadi pada gas mulia yang sangat stabil karena sel terluarnya penuh. Distribusi elektronnya mempunyai simetri bola sehingga potensial listrik berharga nol di luar jari-jari atom. Demikian juga momen multipol listriknya. Jika hal ini benar, maka atom gas mulia tidak memiliki energi kohesi dan tidak dapat terkondensasi menjadi cairan. Tetapi, terjadinya kondensasi dan pembekuan pada suhu yang sangat rendah membuktikan bahwa terdapat energi ikat yang lemah pada gas ini. Gaya yang lemah antaratom dalam padatan gas mulia ditandai oleh titik lelehnya yang rendah, yaitu -272,20C, 248,70C dan -189,20C, masing-masing untuk He, Ne dan Ar. Meskipun secara rata-rata semua momen multipol listriknya sama dengan nol, tetapi di setiap suatu waktu momen dipol listrik tidak sama dengan nol sebagai akibat adanya kelebihan elektron di bagian tertentu. Ketidaksimetrisan ini tidak permanen, tetapi selalu berfluktuasi. Momen dipol listrik sesaat ini dapat menginduksi atom atau molekul tetangganya sehingga terjadi interaksi antara keduanya. Interaksi antara momen dipol listrik sesaat inilah yang memberikan ikatan antara atom gas mulia. Interaksi tarik-menarik dipol induksi antara dua dipol berjarak R telah dirumuskan oleh Van der Walls London melalui energi U = A R6 (1.43)

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

36

Interaksi tolak-menolaknya bersumber dari interaksi prinsip eksklusi Pauli. Secara empirik didapatkan potensial tolak-menolak U = B R 12 (1.44)

A dan B adalah parameter empirik. Sehingga, biasanya, energi potensial total dua atom berjarak R adalah
12 6 U (R ) = 4 R R (1.45)

dimana dan adalah parameter baru, dengan 46=A dan 412=B. Potensial (1.45) di atas dikenal dengan nama potensial Lennard-Jones. Gaya antara dua atom ditentukan melalui dU/dR. gaya ini sangat cepat berubah dengan jarak R sehingga atom dalam kristal cenderung untuk serapat mungkin. Biasanya, struktur yang dimiliki oleh gas mulia adalah FCC (cubic close-packed). Energi kinetik atom gas mulia dapat diabaikan. Oleh karena itu energi kohesi kristal gas mulia didapatkan dengan menjumlahkan potensial LennardJones (1.45) di atas terhadap semua pasangan atom dalam kristal. Jika terdapat N buah atom dalam kristal, maka energi tersebut U tot
6 12 = N (4 ) p R pij R j ij 1 2

(1.46)

dimana pijR adalah jarak antara atom ke-i dan j. Faktor muncul karena hitungan dilakukan dua kali pada setiap pasangan atom. Untuk struktur FCC, dimana terdapat 12 tetangga terdekat, perhitungan menghasilkan

p
j

12 ij

= 12,13188

p
j

6 ij

= 14,45392

(1.47)

Pada posisi setimbang Ro, energi total sistem berharga minimum sehingga dU tot dR 12 6 = 0 = 2 N (12 )(12,13) 13 (6)(14,45) 7 R R (1.48)

R = Ro

dan menghasilkan harga

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

37 (1.49)

Ro/ = 1,09

Nilai Ro/ hasil pengamatan menunjukkan untuk Ne, Ar, Kr dan Xe adalah 1,14; 1,11; 1,1 dan 1,09 yang tidak berbeda jauh dengan (1.49). Dengan demikian energi kohesi kristal gas mulia pada suhu nol mutlak dan tekanan nol diperoleh dengan mensubstitusikan (1.47) dan (1.49) ke dalam (1.46). Hasilnya diperoleh
12 6 U tot (R ) = 2 N (12,13) (14,45) R R

(1.50)

dan pada posisi setimbang Ro Utot(Ro) = - (2,15) (4N) (1.51) Perhitungan energi kohesi ini berlaku jika atom-atom dalam keadaan diam. Jika dilakukan koreksi mekanika kuantum, maka energi tersebut harus direduksi sebesar 28; 10; 6 dan 4 %, masing-masing untuk Ne, Ar, Kr dan Xe.

1.3.2.5 Ikatan Hidrogen


Molekul air (H2O) terisolasi berikatan kovalen sehingga atom penyusunnya terikat secara kuat. Tetapi, dalam kristal es, yang tersusun atas molekul air, ikatannya jauh lebih lemah. Hal ini ditandai oleh adanya titik leleh air pada 00C. Sifat listrik sebuah molekul air terisolasi adalah netral. Tetapi, dalam kristal es distribusi muatan internal sedemikian rupa sehingga menghasilkan interaksi antarmolekul. Elektron lebih ditarik ke arah atom oksigen sehingga bermuatan negatip; dan dalam waktu bersamaan atom hidrogen menjadi bermuatan positip. Keadaan ini menghasilkan dipol listrik dalam molekul air. Gaya tarik-menarik antardipol listrik inilah yang menghasilkan ikatan hidrogen sehingga terbentuk kristal. Hal ini dijelaskan dalam Gambar 1.28 berikut.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

38

Gambar 1.28 (a) Molekul air; dan (b) Susunan molekul air sebagai akibat adanya ikatan hidrogen

Tetapi, gaya antarmolekul ini jauh lebih lemah daripada gaya internal yang mengikat molekul itu sehingga molekul tetap dapat mempertahankan identitasnya salam kristal. Ikatan hidrogen mempunyai orde 0,1 eV.

RINGKASAN
01. Suatu benda padat berbentuk kristal, apabila atom, ion, atau molekulnya teratur dan periodik dalam rentang yang panjang dalam ruang. Bahan kristal memiliki simetri translasi, artinya bila seluruh kristal itu digeser sejauh vektor G G G translasi kisi R = n1 a + n2 b , maka keadaannya tetap sama. 02. Pola geometrik dari kedudukan setimbang tiap atom sebagai suatu titik dinamakan kisi kristal. Terdapat dua kelas kisi, yaitu Bravais dan nonBravais. Kisi non-Bravais seringkali disebut sebagai kisi dengan suatu basis dan dapat dipandang sebagai kombinasi dari dua atau lebih kisi Bravais yang saling menembus dengan orientasi tertentu. 03. Luas daerah jajaran genjang yang sisinya dibatasi oleh vektor basis disebut sel satuan. Terdapat dua jenis sel satuan, yaitu sel primitip (satu titik kisi perselnya) dan sel non-primitip (lebih dari satu titik kisi perselnya). Hubungan antara keduanya adalah (a) sel non-primitip menunjukkan simetri lebih besar, dan (b) luas sel non-primitip merupakan kelipatan bulat dari luas sel primitip. 04. Dalam dua dimensi, kisi kristal Bravais yang mungkin sebanyak lima jenis, yaitu Genjang, Persegi, Heksagonal, Empat persegi panjang P, dan Empat persegi panjang I. Sedangkan untuk tiga dimensi ternyata ada 14 buah kisi Bravais yang terlingkupi dalam 7 buah sistem kristal, yaitu Triklinik (P), Monoklinik (P, C), Ortorombik (P, C, I, F), Tetragonal (P, I), Trigonal (R), Heksagonal (P), dan Kubik (P, I, F). 05. Beberapa kristal dengan struktur sederhana, di antaranya NaCl, CsCl, intan, ZnS dan HCP G G G G 06. Arah kristal, yakni vektor R = n1 a + n 2 b + n3 c , dinyatakan dengan [n1 n2 n3], yang lazimnya dalam perbandingan bilangan bulat terkecil. Sedangkan

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

39

bidang kristal dinyatakan sebagai indek Miller (hkl). Jarak antarbidang Miller, khusus untuk sumbu ortogonal dengan abc dinyatakan oleh persamaan d hkl = 1 1 1 1 x2 + y2 + z 2
1/ 2

07. Fraksi kepadatan, didefinisikan sebagai proporsi maksimum dari volume yang ada yang dapat diisi oleh bola atom dalam sebuah sel satuan, diungkapkan dalam bentuk rumusan F=N

(4 / 3)
V

r3

08. Menurut Bragg kristal direpresentasikan oleh kumpulan bidang paralel yang bersesuaian dengan bidang atom, yang berperan sebagai cermin. Interferensi maksimum (konstruktif) yang terjadi memenuhi hukum Bragg n = 2 dhkl sin Dengan menggunakan hukum Bragg, secara eksperimen, jarak antarbidang dhkl dapat dihitung. 09. Fakta menunjukkan bahwa hamburan berkas sinar-X disebabkan oleh atom diskrit kristal yang bersangkutan. Oleh karena itu bahasan berikut menelaah hukum Bragg melalui proses hamburan elastik (hamburan Thomson) sinar-X oleh elektron dalam setiap atom dalam kristal. Dalam teori ini ditemukan bahwa intensitas parsial gelombang terhambur sebanding dengan kuadrat faktor hamburan kristal, yaitu Fkr = F S, dimana S dan F, masing-masing
G G 10. Faktor struktur kisi S berharga tidak nol, yakni S=N, hanya untuk s = Ghkl ,

adalah faktor struktur geometri dan kisi.

yakni vektor hamburan sama dengan vektor kisi resiprok (syarat Bragg). Dari hubungan ini dapatlah diturunkan hukum Bragg 2dhklsin = . 11. Jika syarat Bragg terpenuhi dan semua atom identik, maka untuk kedudukan G G G G atom ke-j dalam sel satuan j = u j a + v j b + w j c , didapatkan faktor struktur kisi Fhkl = f a e
j 2i hu j + kv j + lw j

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

40

12. Dalam suatu kristal letak atom relatif jauh satu sama lain sehingga gaya inti tidak berperan. Dengan demikian formasi kristal terjadi karena gaya
antaratom (bersifat listrik). Pada titik setimbang, energi potensial terendah dan

didominansi oleh energi tarik-menarik, serta resultan gaya nol. Pada jarak lebih kecil dari titik setimbang, potensial naik secara tajam menuju tak berhingga dan terjadi gaya tolak-menolak; sedangkan pada jarak yang lebih besar, potensial naik secara bertahap sehingga mencapai nol pada jarak tak berhingga dan terjadi gaya tarik-menarik. 13. Ikatan ion terjadi antara ion positip dan negatip karena terjadi perpindahan elektron sehingga menyerupai kofigurasi gas mulia. Energi ikatan berasal dari
potensial tolak-menolak medan sentral empirik dan tarik-menarik Coulomb. Di
Nq 2 4 o Ro 1 R o

titik setimbang energi tersebut adalah U tot

R = Ro

14. Ikatan yang terjadi karena pemakaian bersama sepasang elektron oleh atom untuk mencapai konfigurasi gas mulia dalam suatu molekul disebut ikatan
kovalen. Sepasang elektron tersebut lebih banyak terdistribusi di antara inti-

inti. Gaya tarikan terjadi antara elektron dan proton di sepanjang garis yang menghubungkan inti berturutan. Sedangkan gaya tolaknya terjadi karena interaksi prinsip eksklusi Pauli saat inti saling merapat. Gaya tarikan elektronproton lebih dari cukup untuk mengimbangi penolakan langsung elektronelektron ataupun proton-proton. 15. Model ikatan logam menggambarkan adanya suatu susunan ion teratur dan suatu lautan elektron valensi (elektron konduksi) ion tersebut yang dapat bergerak bebas di antara susunan ion. Ikatan logam terjadi bila tarikan antara ion positip dan gas elektron melebihi penolakan antarelektron dalam gas tersebut. Gaya tolak Coulomb antarion positip menjadi tidak efektif karena gas elektron melingkupi ion secara kuat sehingga menjadi ion noninteraksi yang netral. 16. Terdapat energi ikat yang lemah pada gas mulia. Meskipun secara rata-rata semua momen multipol listriknya sama dengan nol, tetapi di setiap suatu waktu momen dipol listrik terjadi secara fluktuatif sebagai akibat adanya kelebihan
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

41

elektron di bagian tertentu. Momen dipol listrik sesaat ini dapat menginduksi atom atau molekul tetangganya sehingga terjadi interaksi antara keduanya.
Interaksi antara momen dipol listrik sesaat inilah yang memberikan ikatan

antara atom gas mulia. Energi ikatan Van der Walls ini adalah
U tot
6 12 ( ) =1 2 N 4 p R j pij R ij

17. Contoh ikatan hidrogen adalah kristal air. Sifat listrik sebuah molekul air terisolasi adalah netral. Tetapi, dalam kristal es distribusi muatan internal sedemikian rupa sehingga menghasilkan interaksi antarmolekul. Elektron lebih ditarik ke arah atom oksigen sehingga bermuatan negatip; dan dalam waktu bersamaan atom hidrogen menjadi bermuatan positip. Keadaan ini menghasilkan dipol listrik dalam molekul air. Gaya tarik-menarik antardipol

listrik inilah yang menghasilkan ikatan hidrogen sehingga terbentuk kristal.

LATIHAN SOAL BAB I


G G G , , b = b 01. Diketahui vektor basis primitip suatu kisi adalah a = ai j , c = ck

adalah tiga vektor satuan dalam koordinat Kartesian. , j dan k dengan i a. Gambarlah kisi tersebut! b. Membentuk kisi Bravais jenis apakan vektor basis tersebut? c. Berapakah volume sel satuan primitip tersebut? 02.a. dengan soal 01), tetapi untuk vektor G G G ) dan c +i + ) ! a = (a / 2)(i j ), b = (a / 2)( j+k = (a / 2)(k Sama basis primitip

sebagai kombinasi linier , b. Buktikan bahwa ungkapan vektor satuan i j dan k dari vektor basis primitip ialah G G G G G G G G G = a =a ai b + c , aj = a + b c dan ak +b +c
, a( i ), a( ) +k , a + c. Posisi kedelapan pojok sel adalah 0, a i j , ak j ), a( i j+k G G G ). Nyatakan posisi-posisi tersebut dalam a + j+k , b dan c ! dan a( i

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

42

), +k d. Sama dengan (c), tetapi untuk 6 titik pada pusat muka, yaitu ()a( i

), ()a( i ), ()a( 2i ), dan + + +2 ()a( j+k j ), ()a( i j+k j+k ) ! (Nyatalah bahwa, berdasarkan (c) dan (d) semua posisi + j + 2k ()a( i

atom dapat dinyatakan sebagai kombinasi linier dari vektor kisi primitip dengan koefisien bilangan bulat) 03.a. Sama dengan soal 02), tetapi untuk vektor basis primitip G G G i ), b = ( a / 2)( +i ) dan c + a = (a / 2)(i jk j+k = (a / 2)(k j) ! sebagai kombinasi linier , b. Buktikan bahwa ungkapan vektor satuan i j dan k G G G G G G =b +c =a ! + c , aj = a + b dan ak dari vektor basis primitip adalah ai

04. Sama dengan soal (1), tetapi untuk vektor basis primitip
1 2

1 2

, + a (i j) 1 ck 2

+ a (i j) + 1 2 ck , dan

1 2

a (i j) + 1 2 ck dimana a adalah sisi bujursangkar dan

c adalah sisi yang tegak lurus terhadap bujursangkar tersebut ! 05. Kisi kristal dapat dipetakan ke dalam dirinya sendiri oleh simetri translasi kisi, pencerminan dan rotasi di sekitar suatu sumbu. Kisi kristal memiliki simetri rotasi derajat-1, 2, 3, 4 dan 6 atau 2; 2/2; 2/3; 2/4; dan 2/6. Tetapi, misalnya, kisi kristal tidak memiliki simetri rotasi 2/5 karena tidak memungkinkan untuk mengisi seluruh ruang secara periodik dengan bentuk bangun pentagon. Tunjukkan bahwa kisi dua dimensi tidak mempunyai simetri putar 2/5 ! 6 =1,633 ! 06. Buktikan bahwa struktur HCP memiliki rasio sumbu c/a= 2 3 07. Pada suhu 1190 K besi memiliki struktur FCC dengan parameter kisi a=3,647 ; dan pada suhu 1670 K berstruktur BCC dengan a=2,932 . Jika berat atom besi adalah 55,85 sma, maka tentukan kerapatan massa pada masing-masing suhu tersebut! 08. Diketahui padatan Al berstruktur FCC dengan a=4,04 dan berat atom 26,98 sma. Hitunglah massa jenisnya! 09. Gambarlah bidang dan arah berikut dalam sel satuan kubik: (122), [122], (1 1 2) dan [1 1 2]!

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

43

10. Kristal Cu mempunyai struktur FCC dengan jari-jari atom 1,278 . Berapakah kerapatan atom yang terdapat pada bidang (100)? 11. Sama dengan soal 08), tetapi untuk kristal Fe yang berstruktur BCC dengan konstanta kisi 2,86 ! 12. Buktikan bahwa dalam koordinat Kartesis bidang (hkl)=(mnox+mnoy+mnoz) memberikan vektor arah yang tegak lurus bidang tersebut, yakni G ! + noy no = nox i j + noz k 13. Buktikan harga jari-jari atom dan fraksi kepadatan dari berbagai struktur kristal dalam Tabel 5.1! 14. Suatu kristal kubik mempunyai konstanta kisi 2,62 . Berapakah sudut Bragg yang sesuai untuk terjadi refleksi oleh bidang (100), (110), (111), (200), (210) dan (211), jika berkas sinar-X monokhromatik yang digunakan mempunyai panjang gelombang 1,54 ? 15. Sudut Bragg untuk refleksi kristal besi BCC pada bidang (110) adalah 220, dengan sinar-X yang panjang gelombangnya 1,54 . a. Berapakah konstanta kisinya? b. Jika berat atom Fe adalah 55,8 sma, maka berapakah kerapatan massanya? 16. Buktikan bahwa persamaan (1.21) dapat diturunkan dari persamaan (1.20), dengan mengingat definisi (1.22)! 17. Gambarkan kisi resiprok untuk kisi dua dimensi yang mana a=1,25 , b=2,50 dan =120o!
G G G G 18.a. Buktikan bahwa vektor kisi resiprok G = ha1 + ka 2 + la3 tegak lurus

terhadap bidang (hkl) dalam kisi kristal! b. Buktikan bahwa jarak antara dua bidang paralel berturutan dalam kisi adalah G dhkl=2/ G ! 19. Suatu sel satuan berukuran a=4 , b=6 , c=8 dan ==900, =1200. Tentukan a. vektor basis a*, b* dan c* untuk kisi resiprok! b. jarak antar bidang (210)!

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

44

c. sudut Bragg untuk bidang (210), jika diketahui panjang gelombang sinar-X yang dipakai 1,54 ! 20. Buktikan bahwa a. kisi resiprok suatu kisi SC adalah kisi SC juga! b. kisi resiprok suatu kisi FCC adalah kisi BCC, dan sebaliknya! 21. Diketahui bahwa vektor basis primitip kisi ruang heksagonal adalah G G G + (1 , a 2 = ( 1 + (1 , a3 = cz a1 = ( 1 a 3) x a) y a 3) x a) y 2 2 2 2 a. Tunjukkan bahwa volume sel primitipnya adalah (31/2/2)a2c! b. Tunjukkan bahwa vektor basis primitip kisi resiproknya adalah
G 2 2 G G 2 2 2 + , b2 = + y , b3 = , sehingga kisi b1 = x z y x c a 3 a a 3 a

merupakan resiprok dirinya sendiri, tetapi dengan merotasikan 30o sumbusumbunya terhadap sumbu a3! 22. Buktikan persamaan (1.26)! 23.a. Pada bidang yang mana dalam kisi BCC berikut yang tidak menimbulkan refleksi Bragg: (100), (110), (111), (200), (210) dan (211)! b. Sama dengan soal a), tetapi dalam kisi FCC! 24. Hitunglah faktor struktur geometri F100 untuk kristal CsCl yang berstruktur BCC, jika diasumsikan bahwa fCs=3fCl! 25. Teori ikatan kristal ionik model Born-Meyer menyebutkan bahwa energi potensial total suatu sistem kristal ionik adalah E = N N adalah jumlah pasangan ion

q2 A N , dengan 4 0 R Rn
Suku pertama

positip-negatip.

merepresentasikan potensial tolak-menolak, dengan A dan n adalah konstanta yang ditentukan melalui eksperimen. Suku kedua merepresentasikan potensial tarik-menarik Coulomb, dengan adalah konstanta Madelung yang hanya bergantung pada struktur kristal. a. Tunjukkan bahwa jarak kesetimbangan antarion adalah R0n 1 =
4 0 A n! q2

b. Tunjukkan bahwa energi ikatan pada titik kesetimbangan adalah

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

45

E0 =

Nq 2 1 1 ! 4 0 R0 n

c. Jika kristal NaCl mempunyai konstanta kisi 5,63 , energi ikat terukur 7,95 eV/molekul dan konstanta Madelung 1,75, maka tentukan konstanta n! 26. Berikut disajikan data eksperimen tentang pembentukan molekul NaCl Na (gas) + 5,14 eV (energi ionisasi) Na+ (gas) + e- (elektron) e (elektron) + Cl (gas) Cl- (gas) + 3,61 eV (afinitas elektron) Na+ (gas) + Cl- (gas) NaCl (kristal) + 7,9 eV (energi kohesif) Hitunglah energi permolekul kristal NaCl tersebut! (Energi permolekul ini lebih kecil daripada energi kohesif/ikat permolekul (7,9 eV). Energi ikat molekul adalah energi yang diperlukan untuk memecahkan molekul tersebut menjadi ion-ion penyusunnya) 27. Dalam kristal NaCl didapatkan data eksperimen tentang harga jarak suatu ion positip terhadap ion negatip terdekatnya adalah 2.81.10-8 cm. Tentukan energi tarik menarik Coulomb sebagai bagian dari energi potensial antara dua ion tersebut! (Harga ini masih seorde dengan data eksperimen tentang energi ikat 7,9 eV/molekul) 29. Buktikan bahwa konstanta Madelung a. berharga 2 ln 2 untuk kristal ionik alternasi satu dimensi! b. berharga 1,747565 , 1, 762675 dan 1,6381 , masing-masing untuk kristal NaCl, CsCl dan ZnS! 30. Untuk gas He, yang berstruktur FCC, hasil pengukuran menunjukkan bahwa parameter Lennard-Jones =50.10-16 erg dan =2,96 . Hitunglah energi kohesifnya dalam kJ/mol! (Nilai pengamatan energi kohesif 0,751 kJ/mol, jauh lebih kecil daripada hasil perhitungan sehingga koreksi kuantum sangat penting) 31. Dengan menggunakan potensial Lennard-Jones, hitunglah perbandingan energi kohesi Ne dalam struktur BCC dan FCC! Diketahui bahwa untuk kisi BCC harga

p
j

12 ij

= 9,11418 ;

p
j

6 ij

= 12,2533 .

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

I STRUKTUR KRISTAL

46

32. Sama dengan soal 26), tetapi untuk struktur HCP dan FCC! Diketahui bahwa untuk kisi HCP harga

p
j

12 ij

= 12,13229 ;

p
j

6 ij

= 14,45489 .
6 12

a a 33. Energi total untuk 2 atom argon adalah E = C o + B o relatif R R

terhadap keadaan keduanya pada jarak tak terhingga. Harga B= 2,35.103 eV, C= 1,69.108 eV dan ao adalah radius Bohr. Suku pertama merepresentasikan energi tarik menarik antara elektron-elektron terluar; dan kedua adalah energi tolak menolak antara ion-ion teras. Hitunglah a. posisi setimbang ! b. Buktikan bahwa di posisi setimbang energinya didominansi oleh energi tarik menarik! (harga mutlak energi tarik menarik lebih besar daripada energi tolak menolak, dan energi totalnya berharga negatip)

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

B A B II DINAMIKA KISI KRISTAL


Bahasan struktur kristal pada bab lalu menganggap bahwa atom bersifat statik pada masing-masing titik kisinya. Sebenarnya, atom tidaklah statik, melainkan berosilasi di sekitar titik setimbangnya sebagai akibat energi termal. Bab ini membahas vibrasi kisi secara agak rinci. Bab ini mula-mula membahas vibrasi kristal dalam batasan panjang gelombang elastik, yang mana kristal dapat dianggap medium kontinu. Kapasitas panas bahan dikemukakan dalam beberapa model, dan yang sesuai dengan eksperimen adalah hanya yang menggunakan konsep fisika kuantum. Akhirnya, bab ini ditutup oleh bahasan vibrasi kisi kristal, yang dikaitkan dengan sifat diskrit kisi.

2.1 GETARAN DALAM ZAT PADAT 2.1.1 Getaran Elastik dan Rapat Moda Getar
Padatan terdiri dari atom diskrit. Atom tidaklah diam, tetapi berosilasi di sekitar titik setimbangnya sebagai akibat adanya energi termal. Namun, saat gelombang yang merambat mempunyai panjang gelombang yang jauh lebih besar daripada jarak antaratom, sifat atomik dapat diabaikan dan padatan dapat dianggap sebagai medium kontinu. Dengan demikian persoalan fisisnya menyangkut lingkup makro. Gelombang yang demikian disebut gelombang elastik. Misalnya, gelombang suara elastik longitudinal merambat dalam suatu batang isotropik, yang mempunyai penampang A, massa jenis dan modulus Young Y, antara x dan (x+dx) menurut hukum Newton mempunyai persamaan gerak

II DINAMIKA KISI KRISTAL

48

A dx

2u = [S ( x + dx) S ( x)]A t 2

(2.1)

dimana u adalah simpangan terhadap titik setimbang dan S adalah tekanan. Regangan e=du/dx dan tekanan S dihubungkan oleh hukum Hooke S=Yu Untuk bagian yang kecil sesungguhnya S = S(x+dx) S(x) = (S/x) dx sehingga persamaan gerak gelombang (2.1) di atas menjadi (2.2)

2u 2u =0 x 2 Y t 2 yang dikenal sebagai persamaan gelombang satu dimensi. Diambil solusi berbentuk propagasi gelombang bidang, yaitu u = Ao ei(kx - t)

(2.3)

(2.4)

Dimana Ao, k dan adalah amplitudo, bilangan gelombang dan frekuensi radial gelombang. Substitusi solusi (2.4) ke dalam persamaan gelombang (2.3) menghasilkan = vs k dengan vs = (Y/)1/2 (2.6) adalah kecepatan fasa gelombang. Hubungan (2.5) antara frekuensi dan bilangan gelombang disebut relasi dispersi. Dalam hal ini hubungan tersebut adalah linier, dengan kemiringan kecepatan fasa, seperti disajikan pada Gambar 2.1 berikut. =vsk (2.5)

Gambar 2.1 Kurva dispersi gelombang elastik

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

II DINAMIKA KISI KRISTAL

49

Relasi dispersi linier (dengan kecepatan suara vs sebagai kemiringannya) dimiliki oleh beberapa gelombang, antara lain gelombang optik dalam vakum, dan gelombang suara dalam cairan dan gas. Penyimpangan terhadap sifat linier di atas disebut dispersi. Ketidaklinieran terjadi karena, khususnya, panjang gelombang yang relatif kecil jika dibandingkan dengan jarak antar atom. Hal ini akan dipelajari pada getaran dalam kisi kristal. Persamaan (2.6) dapat digunakan untuk menentukan modulus Young. Misalnya, pengukuran menunjukkan untuk suatu padatan tertentu vs= 5.105 cm/s dan = 5 gr/cm3 sehingga didapatkan nilai Y = 1,25.1012 gr/cm s2. Apabila gelombang elastik satu dimensi di atas hanya diperhatikan solusi domain ruangnya saja, yakni u = Ao eikx memiliki syarat batas periodik u (x=0) = u (x=L) menghasilkan kondisi eikL = 1 sehingga kn = (2/L) n, dimana n=0, 1, 2, (2.10) Setiap nilai n di atas memberikan satu harga k sebagai representasi sebuah moda getar. Jika L besar sekali, maka kn hampir kontinu (pandangan makro). Dalam domain k, jarak antartitik adalah (2/L), sehingga jumlah moda getar antara k dan (k+dk) sebesar dN = (L/2) dk (2.11) Dalam domain frekuensi, dN di atas terletak antara dan (+d). Rapat keadaan g() didefinisikan sedemikian sehingga bentuk g()d memberikan jumlah moda getar yang mempunyai frekuensi antara dan (+d) seperti di atas. Oleh karena itu didapatkan
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

(2.7)

dan ujung batang sebelah kanan berosilasi sama dengan sebelah kiri sehingga (2.8)

dengan L adalah panjang batang, maka substitusi (2.7) ke dalam (2.8) (2.9)

II DINAMIKA KISI KRISTAL

50

g ( ) =

L 1 2 d / dk

Ungkapan ini hanya berlaku untuk gerakan dalam satu arah positip saja. Dengan demikian g() yang mencakup gelombang ke kiri dan ke kanan adalah

g ( ) =

1 d / dk L

(2.12)

Terlihat bahwa rapat keadaan g() bergantung pada relasi dispersi. Untuk hubungan linier (2.5), dimana d/dk=vs, maka didapatkan
g ( ) = L 1 vs (2.13)

yang konstan tidak bergantung pada . Bahasan tiga dimensi kubik dengan rusuk L memberikan syarat bahwa
e
i kx L+k y L+kz L)

=1

sehingga (kx , ky , kz) = [ n (2/L) , m (2/L) , l (2/L) ] (2.14) dimana n, m, l = 0, 1, 2, . Representasi dalam ruang k menunjukkan bahwa sebuah titik mempunyai volume (2/L)3 dan merepresentasikan satu moda getar, seperti Gambar 2.2 berikut. ky kontur (+d) kontur

kx d k
Gambar 2.2 Nilai diskrit k untuk gelombang yang merambat tiga dimensi

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

II DINAMIKA KISI KRISTAL

51

Semua moda getar dengan k tertentu direpresentasikan oleh satu titik yang terletak pada permukaan bola dalam ruang k, dengan jari-jari k dan berpusat di (kx , ky , kz) = (0,0,0). Semua moda getar dengan vektor gelombang antara k dan (k+dk) terletak dalam elemen volume 4k2dk yang dibataskan oleh bola berjari-jari k dan (k+dk). Dengan demikian, jumlah moda getar dalam selang vektor gelombang di atas dN = 4k 2 dk k2 = V dk 2 2 (2 / L )3 (2.15)

dimana V=L3 adalah volume sampel. Rapat keadaan g() diperoleh dengan menggunakan hubungan dispersi (k). Apabila digunakan hubungan dispersi linier (2.5), maka didapatkan
g ( ) = V 2 2 2 v s3 (2.16)

yang dilukiskan dalam Gambar 2.3 berikut.

Gambar 2.3 Rapat keadaan dalam medium elastik

Ternyata bahwa bertambahnya g() berbanding lurus dengan 2, tidak seperti dalam kasus satu dimensi dimana g() berharga konstan. Hal ini terjadi karena kenaikan elemen volume permukaan bola yang berbanding lurus dengan k2; dan karena itu berbanding lurus juga dengan 2 karena sebanding dengan k. Ungkapan g() di atas bersesuaian dengan moda tunggal untuk setiap nilai G G k . Sebenarnya, dalam tiga dimensi untuk setiap nilai k mengandung tiga moda
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

II DINAMIKA KISI KRISTAL

52

berbeda, yaitu satu moda longitudinal dan dua moda transversal. Hubungan dispersinya juga berbeda. Dengan demikian rapat keadaan (2.16) menjadi
g ( ) = V

2 2 2

1 1 v3 + v3 T L

(2.17)

dimana vL dan vT, masing-masing merupakan kecepatan gelombang longitudinal dan transversal. Jika vL=vT, maka ungkapan (2.17) menjadi g ( ) = 3V 2 2 2 v s3 (2.18)

2.1.2 Kuantisasi Energi Getaran dalam Zat Padat


Teori klasik kinetik gas menganggap bahwa energi dalam untuk suatu gas tersimpan sebagai energi kinetik atom tersebut. Hukum ekipartisi menyatakan bahwa besaran fisis energi yang besarnya berbanding lurus dengan kuadrat jarak atau momentum, maka untuk setiap derajat kebebasan pada suhu T memiliki energi sama, yaitu ()k0T, dengan k0 adalah konstanta Boltzmann. Hal ini berarti energi kinetik setiap atom gas memiliki energi ()k0T. Gas monoatomik memiliki tiga derajat kebebasan, sehingga pada suhu T energi dalam untuk gas sebanyak 1 kilomol U = NA (3/2) k0T = (3/2) RT Dengan demikian, kapasitas panas pada volume konstan
3 U CV = = R T V 2 (2.20)

(2.19)

Sesungguhnya, kapasitas panas permol didefinisikan sebagai panas Q yang diperlukan tiap satu mol untuk menaikkan suhu T, yakni C=Q/T. Jika proses berlangsung pada volume tetap, maka Q=U, dimana U adalah kenaikan energi dalam sistem. Dalam hal persamaan di atas, NA adalah bilangan Avogadro dan R adalah tetapan gas. Menurut (2.20) teori ini menghasilkan nilai CV=12,47 J/0K kmol. Harga ini sesuai untuk gas He dan Ar pada suhu kamar. Setiap atom dalam kristal, disamping memiliki 3 derajat kebebasan untuk geraknya di sekitar kedudukan setimbangnya (energi kinetik), juga memiliki energi potensial atom dalam gerak harmoniknya. Pada gerak selaras sederhana,

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

II DINAMIKA KISI KRISTAL

53

energi kinetik rata-rata sama dengan energi potensial rata-rata, sehingga energi total sistem atom dalam kristal menurut hukum ekipartisi
3 3 U = N A k oT + k oT = 3RT 2 2 adalah CV = (U/T)V = 3R untuk hampir semua zat padat pada suhu ruang atau yang lebih tinggi. Selanjutnya, eksperimen menunjukkan bahwa nilai CV menurun apabila T menurun, dan mendekati nol apabila T menuju 0 K. Disamping itu, terdapat indikasi yang sangat kuat bahwa pada suhu yang sangat rendah mendekati nol mutlak CV T3 Penyempurnaan bahasan kapasitas panas ini, selanjutnya menggunakan teori mekanika kuantum. (2.22) Harga (2.22) sesuai dengan penemuan empirik Dulong-Petit (1819), yang berlaku (2.21)

Ungkapan ini menunjukkan bahwa kapasitas panas kristal pada volume konstan

2.1.2.1 Model Einstein tentang CV Zat Padat


Diilhami oleh keberhasilan Planck dalam menerangkan radiasi benda hitam, maka konsep kuantisasi energi itu juga diterapkan Einstein dalam teorinya tentang CV zat padat. Model Einstein tentang getaran kisi mengambil andaian sebagai berikut. a. Atom kristal merupakan osilator independen, yang masing-masing memiliki frekuensi sama dan energi diskrit n = n , n = 0, 1, 2, (2.23) dengan adalah frekuensi osilator. Jarak antartingkat energi ini sebesar . b. Sebaran energi osilator pada harga energi yang diperbolehkan mengikuti distribusi Boltzmann

f ( n ) = e n / koT rata

(2.24)

Sebuah osilator dengan satu derajat kebebasan mempunyai energi rata-

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

II DINAMIKA KISI KRISTAL

54

n=0 n=0

f ( n )
n

f (
=

Substitusi (2.23) dan (2.24) ke persamaan di atas menghasilkan

= / k o T

(2.25)

Gambar 2.4 berikut menyajikan perbandingan energi kuantum rata-rata osilator dan energi klasik kristal untuk satu derajat kebebasan.

klasik kuantum O T

Gambar 2.4 Energi kuantum rata-rata dan energi klasik rata-rata kristal

Tampak bahwa pada suhu tinggi, sehingga koT>>, osilator berada dalam keadaan kuantum tereksitasi tinggi. Pada keadaan demikian sifat kuantum spektrum dapat diabaikan, sehingga dihasilkan energi klasik rata-rata = k oT . Pada suhu rendah, koT<<, dan energi koT tidak cukup untuk mengeksitasikan osilator ke tingkat eksitasi pertama. Dalam hal ini energi osilator jauh lebih kecil daripada koT. Oleh karena itu, pada suhu rendah ini, sifat kuantum gerakan lebih dominan. Bila zat padat sebanyak 1 kmol dan setiap atom mempunyai 3 derajat kebebasan, maka energi totalnya
E = 3N A = 3N A e
E = E / k o T

(2.26)

dimana E adalah frekuensi Einstein (frekuensi bersama osilator). Kapasitas panas pada volume konstan
e E / T E CV = = 3 R E / T 2 T V T e E 1
2

(2.27)

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

II DINAMIKA KISI KRISTAL

55

dimana E=(E/ko) adalah suhu karakteristik Einstein. Secara grafik CV di atas ditunjukkan dalam Gambar 2.5 berikut.

Gambar 2.5 Kapasitas panas tembaga. Titik-titik merupakan hasil eksperimen. Kurva mengungkapkan teori Einstein untuk suhu E=240 K

Secara teori dapat dibuat kurva CV terhadap T/E yang bentuknya sama untuk berbagai macam kristal. Data eksperimen (CV,T) suatu kristal tertentu, dapat dicari kesesuaiannya yang terbaik, sehingga E dapat ditentukan. Selanjutnya, frekuensi Einstein E pun dapat diperoleh. Untuk E= 240 K didapatkan E = 2,5.1013/s dalam daerah inframerah. Ungkapan CV di atas menunjukkan hal-hal sebagai berikut. a. Pada suhu yang sangat tinggi, dimana T>>E, bentuk e E / T dapat diekspansikan dalam deret pangkat E/T, sehingga menghasilkan CV 3 R seperti hasil teori klasik. b. Pada suhu yang sangat rendah, dimana T<<E, bentuk e E / T jauh lebih besar daripada satu, sehingga
CV 3R E e E / T B(T ) e E / T T
2

(2.28)

dimana B(T) adalah fungsi yang relatif tidak peka terhadap suhu. Karena bentuk eksponensial e E / T , maka kapasitas panas ini terus berkurang sehingga mendekati nol dengan cepat sekali. Jadi CV 0 saat T0. Hal ini sesuai dengan eksperimen.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

II DINAMIKA KISI KRISTAL

56

Saat mendekati nol mutlak, penurunan CV model Einstein yang secara eksponensial di atas, ternyata, jauh lebih cepat daripada yang terjadi secara eksperimen, yakni CV T3 Hal ini merupakan kelemahan yang mendasar bagi model Einstein. Kesimpulan yang dapat ditarik dari model Einstein adalah sebagai berikut. a. Pada suhu tinggi, osilator tereksitasi sempurna, yang memerlukan energi ratarata sebesar koT, sehingga CV 3 R. b. Pada suhu rendah, osilator membeku (tidak berosilasi) dalam tingkat energi dasar sehingga CV=0.

2.1.2.2 Model Debye tentang CV Zat Padat


Untuk menerangkan kebergantungan CV terhadap T, Debye memodelkan getaran kisi dengan mengambil anggapan sebagai berikut. a. Atom kristal merupakan osilator yang berkait erat satu sama lain, dengan daerah frekuensi =0 sampai suatu frekuensi maksimum D yang ditentukan oleh jumlah moda getar yang diperkenankan. Dengan demikian pada kristal terjadi gerakan kisi secara keseluruhan sehingga terdapat moda kisi bersama. Kristal merupakan medium elastik kontinu. b. Gelombang suara dalam padatan merupakan contoh moda bersama. Oleh karena itu moda kisi mempunyai hubungan dispersi linier kontinu (2.5) dan rapat keadaan (2.18) yang sama dengan bahasan gelombang elastik yang lalu. Setiap modus getaran merupakan osilator harmonik tunggal ekivalen yang mempunyai energi rata-rata (2.25) seperti osilator model Einstein. Oleh karena itu
energi total getaran seluruh kisi E = ( ) g ( ) d =

3V = 2 = / k0T d 2 3 2 v s 1 e

(2.29)

dimana integrasi dilakukan terhadap semua frekuensi yang diperkenankan. Frekuensi batas bawah, tentunya, adalah =0. Sedangkan frekuensi batas atas ditetapkan oleh debye dengan batasan bahwa jumlah moda yang dicakup

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

II DINAMIKA KISI KRISTAL

57

dalam rentang frekuensi tersebut haruslah sama dengan jumlah derajat kebebasan untuk keseluruhan padatan. Jadi
D
0

g ( ) d = 3N

(2.30)

dimana frekuensi atas D disebut frekuensi Debye. Hasil integrasi di atas, setelah mensubstitusikan (2.18) memberikan nilai D = vs (62n)1/3 dimana n=NA/V adalah konsentrasi atom dalam padatan. Energi total (2.29) dapat ditulis kembali
E= 3V 2 2 v s3
D
0

(2.31)

= 3 1

= / k 0T

(2.32)

dan kapasitas panas pada volume konstan 3V =2 E CV = = 2 3 2 T V 2 v s k o T


D
0

(e

4 e = / k T
o

= / k oT

(2.33)

Apabila x=(/koT) dan suhu Debye didefinisikan sebagai D=(/ko), maka persamaan (2.33) dapat ditulis dalam bentuk
T CV = 9 R D
3 /T D

(e
0

x 4e x
x

dx

(2.34)

Suhu Debye D dapat diperoleh dengan mencocokkan kurva eksperimen dari data (CV,T) suatu kristal dengan kurva universal teoritis CV terhadap T/D. Untuk suatu zat tertentu, sudu Debye D adalah suhu yang dipilih sedemikian rupa sehingga kurva eksperimen akan berimpit dengan kurva universal teoritis. Bahan berikut ini Li, Na, K, Cu, Ag, Au, Al, Ga, Pb, Ge, Si, C, NaCl, KCl, CaF2, LiF dan SiO22 pada suhu kamar 300 K, masing-masing memiliki suhu Debye 335; 156; 91,1; 343; 226; 162; 428; 325; 102; 378; 647; 1860; 280; 230; 470; 680; dan 255 K. Ungkapan CV di atas menunjukkan hal-hal sebagai berikut. a. Pada suhu tinggi, T>>D, didapatkan CV 3 R

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

II DINAMIKA KISI KRISTAL

58

yang sesuai dengan hukum Dulong-Petit. Dalam keadaan demikian, setiap moda getar tereksitasi penuh, dan memiliki energi klasik rata-rata = k oT . Jika kita substitusikan energi klasik rata-rata tersebut ke dalam (2.29) akan didapatkan E = 3RT dan CV=3R. b. Pada suhu rendah, T<<D, dengan menggunakan hubungan analitik

(e
0

x 4e x
x

1)

dx =

4 2 15

didapatkan 12 4 T CV = R 5 D
3

(2.35)

Kebergantungan CV terhadap T3 ini sesuai dengan hasil pengamatan. Dalam keadaan demikian, hanya sedikit moda tereksitasi, yakni moda yang memiliki energi kuantum , yang lebih kecil daripada kT.

2.2 GETARAN DALAM KISI KRISTAL


Telah dibahas rambatan gelombang dalam padatan sebagai medium kontinu, yaitu kediskritan kisi dapat diabaikan. Saat panjang gelombang jauh lebih besar daripada jarak antar atom, yaitu k0, maka dihasilkan relasi linier =vsk. Tetapi, saat panjang gelombang menurun dan k membesar, maka kediskritan kisi menjadi berperan karena atom-atom mulai menghamburkan gelombang. Akibatnya kecepatan menurun, dan dalam hal ini menyebabkan kurva relasi dispersi tidak lagi linier melainkan mengalami penurunan kemiringan.

2.2.1 Getaran dalam Kisi Linier 2.2.1.1 Kisi Monoatomik Satu Dimensi
Perhatikanlah kisi monoatomik satu dimensi dengan konstanta kisi a dalam Gambar 2.6 berikut.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

II DINAMIKA KISI KRISTAL

59

A-2

A-1

A+1

a xA-2=(A-2)a xA-1=(A-1)a xA=Aa xA+1=(A+1)a


, xA-1, xA, xA+1,

Gambar 2.6 Kisi monoatomik satu dimensi

Posisi setimbang atom dinyatakan pada koordinat kisi

Sedangkan simpangan dari titik setimbang, masing-masing dinyatakan dengan , A-1, A, A+1, Getaran kisi adalah longitudinal. Andaikan interaksi atom hanya terjadi antartetangga terdekat, gaya yang bekerja mengikuti hukum Hooke (pendekatan harmonik) dengan konstanta gaya , dan massa setiap atom m, maka, sesuai dengan hukum Newton, persamaan gerak atom ke-A adalah
m

2 l = ( l l +1 ) ( l l 1 ) = (2 l l +1 l 1 ) t 2

(2.36)

Kisi di atas mempunyai simetri translasi, yakni massa atom sama dengan interval tertentu. Oleh sebab itu diambil bentuk solusi gelombang berjalan

l = Ao e i (kla t )

(2.37)

Solusi (2.37) menunjukkan bahwa semua atom bergetar dengan frekuensi dan amplitudo sama. Getaran yang demikian disebut getaran modus normal. Substitusi (2.37) ke dalam (2.36) dan penghilangan besaran-besaran yang sama, yaitu A, e i t dan menghasilkan bentuk

e ikla , serta pemakaian rumus Euler eiy+e-iy=2 cos y

= o sin

ka 2

(2.38)

dimana o=(4/m)1/2 dan hanya diambil harga positip (yang memiliki arti fisis). Ungkapan ini tidak lain adalah hubungan dispersi (k), yang berbentuk sinusoida

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

II DINAMIKA KISI KRISTAL

60

dengan perioda 2/a dan frekuensi maksimum o dalam ruang k, seperti disajikan dalam Gambar 2.7 berikut. (k) o kontinu

-2/a

-/a

/a

2/a

Gambar 2.7 Kurva dispersi (k) kisi satu dimensi dengan interaksi tetangga terdekat

Interpretasi fisis yang dapat dikemukakan dari model ini adalah sebagai berikut. a. Nilai k kecil menyebabkan (2.38) menjadi hubungan dispersi linier, yaitu oa k 2

(2.39)

Dalam batas ini, kisi berkelakuan sebagai medium kontinu elastik (pegas kontinu). Harga k kecil, berarti k<<(/a) atau >>2a. Dengan kata lain, panjang gelombang jauh lebih besar daripada jarak antaratom (sistem makro). Atom bergerak dalam fasa yang sama satu sama lain. Hal ini menyebabkan gaya pulih setiap atom menjadi kecil, sehingga kecil juga. Kecepatan fasa v=/k sama dengan kecepatan kelompok vg=/k, yaitu sebesar v= vg=(oa)/2=

a
m

(2.40)

Kecepatan fasa v adalah kecepatan perambatan gelombang yang berfrekuensi dan angka gelombang k. Sedangkan kecepatan kelompok vg adalah kecepatan pulsa gelombang yang berfrekuensi dan angka gelombang rata-rata dan k. Seringkali vg lebih berperan karena yang ditransmisikan gelombang adalah energi dan momentum. Kecepatan fasa v tidak lain adalah kecepatan suara (2.6) dalam bahasan gelombang elastik dahulu. Karena m/a adalah kerapatan massa satu dimensi
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

II DINAMIKA KISI KRISTAL

61

dan a dapat diinterpretasikan sebagai tegangan dalam rantai kisi, maka hal ini sama dengan bahasan kecepatan rambat gelombang transversal dalam kawat Melde. Dari (2.40) dan (2.6) dapat dicari hubungan tetapan gaya dan modulus Young Y, yaitu =aY (2.41) yang dapat digunakan untuk memprediksi harga . Untuk nilai a= 5.10-8cm dan Y= 1011 gr/cm s2 didapatkan nilai = 5.103 dyne/cm. Kasus dengan k<</a, atau >>a dinamakan batas gelombang panjang. b. Saat k membesar terjadi deviasi secara signifikan terhadap bentuk linier. Pada k=/a terdapat nilai frekuensi maksimum. Nilai k=/a, berarti =2a, menyebabkan atom yang bertetangga bergetar dengan fasa berlawanan, sehingga gaya pulih dan frekuensi menjadi maksimum. Karena adanya fasa berlawanan pada dua atom berdekatan, maka terjadi gelombang pantulan. Akibatnya terjadi superposisi antara gelombang datang dan pantul oleh semua atom dalam kristal, dan menghasilkan gelombang berdiri. Dalam kasus ini kecepatan kelompok vg=0. Kasus dengan k=/a dinamakan kondisi refleksi Bragg. Frekuensi maksimum o=(4/m)1/2 yang bergantung pada konstanta pegas dan massa atom adalah memang sifat untuk osilator harmonik. Dengan mensubstitusikan nilai = 5.103 dyne/cm dan m= 22.10-24 gr (untuk hidrogen) didapatkan nilai o= 2.1013/s dalam daerah inframerah. c. Nilai k=0, berarti =, menyebabkan keseluruhan bagian kristal bertranslasi, sehingga gaya pulih menjadi nol. Hal ini berarti =0 untuk k=0. Lihat kembali kurva dispersi (Gambar 2.7) di atas. Tampak bahwa kurva tersebut periodik dalam ruang k, dan simetri terhadap pencerminan di sekitar titik asal k=0. Oleh karena itu daerah yang penting adalah 0<k</a. Hanya frekuensi dalam rentang 0<<o yang ditransmisikan dalam kisi. Frekuensi di atas o mengalami atenuasi tajam. Dalam hal ini, kisi berperan sebagai filter mekanik lolos rendah. Periodisitas (k) dalam ruang k mempunyai perioda 2/a. Oleh karena itu
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

II DINAMIKA KISI KRISTAL

62 (2.42)

(k + 2/a) = (k) Perhatikanlah contoh sederhana dalam Gambar 2.8 berikut.

Gambar 2.8 Gelombang transversal dengan =4a dan =(4/5)a

Angka gelombang keduanya, masing-masing k=/2a dan k=(k+2/a). Terlihat bahwa keduanya merepresentasikan gerakan fisis yang sama. Oleh karena itu dua moda tersebut haruslah mempunyai frekuensi yang sama. Secara umum, hal ini berlaku untuk dua titik sebarang k dan k, dimana k=(k + n 2/a) untuk n bilangan bulat. Hal inilah yang menyebabkan frekuensi merupakan fungsi periodik dari k dengan perioda 2/a. Dalam kisi diskrit, panjang gelombang suatu gelombang bukanlah besaran unik. Begitu juga nilai k, masing-masing nilai k yang ekivalen ditranslasikan sejauh n(2/a) satu terhadap yang lain dalam ruang k. Pilihan interval tertentu dalam ruang k, yakni sama dengan periodanya sebesar 2/a, diperlukan untuk membuat representasi k maupun menjadi unik. Panjang gelombang terpendek dari gelombang dalam kristal linier yang masih memiliki makna fisis adalah =2a yang bersesuaian dengan k=/a. Oleh karena itu semua getaran, =0 sampai =, yang memiliki makna fisis berada dalam interval 0 < |k| < /a Daerah antara (-/a < k < /a) dinamakan Zona Brillouin Pertama, yang merepresentasikan semua gelombang yang masih memiliki makna fisis dalam kristal. Jumlah moda getar dalam zona ini sama dengan jumlah total atom dalam kisi.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

II DINAMIKA KISI KRISTAL

63

Simetri refleksi terhadap titik nol dalam ruang k, berarti (-k) = (k) (2.43) Moda k merepresentasikan gelombang yang merambat ke arah kanan dan k ke arah kiri dalam kisi. Karena kisi ekivalen dalam kedua arah tersebut, maka frekuensinyapun harus sama seperti di atas.

2.2.1.2 Kisi Diatomik Satu Dimensi


Model ini terdiri dari dua jenis atom, masing-masing bermassa M1 pada koordinat ganjil, dan M2 pada koordinat genap. Jarak setimbang atom bertetangga sebesar a. a x2A-3 x2A-2 M1 x2A-1 M2 x2A

Gambar 2.9 Kisi diatomik satu dimensi

Asumsi yang digunakan sama dengan bahasan kisi monoatomik. Persamaan gerak untuk masing-masing massa
2 2l +1 = (2 2l +1 2l 2l + 2 ) t 2 2 M 2 2 2l + 2 = (2 2l + 2 2l +1 2l +3 ) t M1

(2.44)

Diambil solusi berbentuk

2l +1 = A1e i [ka (2l +1)t ] 2l + 2 = A2 e i [ka (2l + 2 )t ]


persamaan yang ekivalen persamaan matrik
2 M 1 2 2 cos(ka ) A1 =0 2 cos(ka ) 2 M 2 2 A2

(2.45)

Substitusi bentuk solusi (2.45) ke dalam persamaan (2.44) menghasilkan dua

(2.46)

Solusi nontrivial persamaan homogen (2.46) ada hanya jika harga determinan matrik sama dengan nol. Oleh karena itu persamaan sekularnya
2 M 1 2 2 cos(ka ) =0 2 cos(ka ) 2 M 2 2

(2.47)

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

II DINAMIKA KISI KRISTAL

64

yang merupakan persamaan kuadrat dalam 2, dan memberikan solusi untuk 2, yakni

2 1, 2

1 1 = M + M 2 1

1 1 M + M 2 1

2 4 sin 2 (ka ) M 1M 2

1/ 2

(2.48)

Tanda menyebabkan terdapat dua hubungan dispersi, yang masing-masing kurvanya, dengan asumsi M1< M2, disajikan dalam Gambar 2.10 berikut.

Gambar 2.10 Dua cabang dispersi kisi diatomik M1< M2

Kurva bawah, bersesuaian dengan tanda minus, dinamakan cabang akustik. Kurva ini memiliki ciri sama dengan kisi monoatomik. Sedangkan kurva atas dinamakan cabang optik karena dihasilkan frekuensi optik dalam spektrum elektromagnet. Variasi cabang ini tidak begitu besar, sehingga sering dianggap tetap. Pada gambar di atas terdapat daerah tanpa getaran, yaitu daerah frekuensi antara (2/M2)1/2 sampai (2/M1)1/2. Untuk harga = 5.103dyne/cm dan M=10-23 gr didapatkan frekuensi =(2/M)1/2= 3.1013/s dalam daerah inframerah. Daerah terlarang ini, dimana kisi tidak dapat mentransmisikan gelombang, disebut celah frekuensi. Oleh karena itu, kisi diatomik berperan sebagai filter mekanik lolos pita. Perbedaan dinamika getaran antara kedua cabang di atas dapat dipelajari dari perbandingan amplitudo A1/ A2 pada nilai k=0 (atau =).

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

II DINAMIKA KISI KRISTAL

65

Cabang akustik. Substitusi 1=0 ke dalam persamaan matrik (2.46) menghasilkan ungkapan A1 = A 2 (2.49) Hal ini berarti dua atom dalam sel, atau molekul, mempunyai amplitudo dan fasa yang sama. Keseluruhan kisi bergetar seperti benda tegar, dengan pusat massa bergerak bolak-balik, seperti Gambar 2.11 berikut.

Gambar 2.11 Getaran cabang akustik pada k=0

1 1 Cabang optik. Substitusi 2 = 2 M + M 2 1 (2.46) di atas menghasilkan ungkapan M1 A1 + M2 A2 = 0

1/ 2

ke dalam persamaan matrik

(2.50)

Hal ini berarti cabang optik berosilasi dengan pusat massa atom tidak berubah. Dua atom dalam sel bergetar dalam fasa berlawanan, seperti pada Gambar 2.12 berikut.

Gambar 2.12 Getaran cabang optik pada k=0

Lihat kembali kurva dispersi kisi diatomik (Gambar 2.10) di atas. Tampak bahwa kurva tersebut periodik dalam ruang k dengan perioda /a dan mempunyai simetri refleksi di sekitar titik k=0. Zona Brillouin Pertama terletak pada daerah (/2a<k</2a). Hal ini berkaitan dengan perioda kisi riilnya sebesar 2a. Dalam

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

II DINAMIKA KISI KRISTAL

66

zona ini, jumlah nilai k yang diperkenankan sebanyak jumlah atom total N. Karena terdapat dua cabang, maka jumlah moda getar totalnya adalah 2N.

2.2.1.3 Kisi Tiga Dimensi


Misalnya, terdapat kisi Bravais tiga dimensi dengan satu atom persel satuan. Diandaikan bentuk solusi gelombang yang merambat dalam kristal G GG G (2.51) n = Ae i (k r t ) G Vektor amplitudo A menunjukkan arah getaran atom yang sesuai dengan G G G G polarisasi gelombang (longitudinal [ A paralel k ], transversal [ A tegak lurus k ] atau keduanya). Substitusi solusi (2.51) ke dalam persamaan gerak, menghasilkan perangkat tiga persamaan yang melibatkan Ax, Ay dan Az, sehingga diperoleh persamaan sekular dengan determinan matrik 3x3. Akhirnya diperoleh 3 buah harga 2 yang semuanya melalui titik asal k=0 (cabang akustik). Fungsi dispersi termaksud tidak perlu isotropik dalam ruang k untuk arah yang berbeda dalam kristal. Kisi non-Bravais tiga dimensi, dalam tiap sel satuannnya mengandung dua atau lebih atom. Misalnya, terdapat r atom persel, maka akan terdapat 3r kurva dispersi, yang terdiri dari 3 cabang akustik, dan (3-r) cabang optik.

RINGKASAN
01. Padatan terdiri dari atom diskrit yang berosilasi di sekitar titik setimbangnya sebagai akibat adanya energi termal. Jika gelombang yang merambat mempunyai panjang gelombang yang jauh lebih besar daripada jarak

antaratom, maka sifat atomik dapat diabaikan dan padatan dapat dianggap
sebagai medium kontinu (lingkup makro). Gelombang yang demikian disebut

gelombang elastik. Bahasan ini menghasilkan hubungan dispersi linier = vs

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

II DINAMIKA KISI KRISTAL

67

k, dimana vs = (Y/)1/2 adalah kecepatan fasa gelombang. Bila dikenai syarat

batas periodik, maka diperoleh rapat keadaan g ( ) =

3V 2 2 2 v s3

02. Menurut teori klasik setiap atom dalam kristal, disamping memiliki 3 derajat kebebasan untuk geraknya di sekitar kedudukan setimbangnya (energi kinetik), juga memiliki energi potensial atom dalam gerak harmoniknya; sehingga

energi total sistem atom dalam kristal menurut hukum ekipartisi U = 3RT .
Dengan demikian kapasitas panas kristal pada volume konstan adalah CV=3R, yang sesuai dengan penemuan empirik Dulong-Petit (1819), yang berlaku untuk hampir semua zat padat pada suhu ruang atau yang lebih tinggi. Tetapi, hal ini tidak sesuai dengan hasil eksperimen. 02. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa nilai CV berharga 3R pada suhu tinggi, menurun apabila T menurun, dan mendekati nol apabila T menuju 0 K. Disamping itu, terdapat indikasi yang sangat kuat bahwa pada suhu yang sangat rendah mendekati nol mutlak CV T3. 03. Model Einstein tentang CV zat padat mengandaikan bahwa atom kristal merupakan osilator independen, yang masing-masing memiliki frekuensi sama dan energi diskrit n=n , n = 0, 1, 2, , dan sebaran energi osilator pada harga energi yang diperbolehkan andaian mengikuti ini

distribusi

Boltzmann
panas

f ( n ) = e n / koT .
2

Berdasarkan

diperoleh

kapasitas

e E / T , yang hanya cocok untuk suhu tinggi dan CV = 3R E 2 T e E / T 1

mendekati 0 K 04. Model Debye tentang CV zat padat mengandaikan bahwa atom kristal merupakan osilator yang berkait erat satu sama lain, dengan daerah frekuensi =0 sampai suatu frekuensi maksimum D yang ditentukan oleh jumlah moda getar yang diperkenankan. Dari andaian ini diperoleh kapasitas panas
T CV = 9 R D
3 /T D

(e
0

x 4e x
x

dx , yang sesuai dengan hasil eksperimen.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

II DINAMIKA KISI KRISTAL

68

05. Getaran kisi monoatomik satu dimensi menghasilkan hubungan dispersi

= o sin

ka . Kisi hanya bisa merambatkan frekuensi di bawah o. Oleh 2

karena itu kisi ini dapat berperan sebagai filter mekanik lolos rendah. Pada nilai k kecil terjadi hubungan dispersi linier, yang mengakibatkan panjang gelombang jauh lebih besar daripada jarak antaratom (sistem makro) atau atom bergerak dalam fasa yang sama satu sama lain. Pada nilai k=/a, berarti =2a, menyebabkan atom yang bertetangga bergetar dengan fasa berlawanan (terjadi gelombang berdiri), sehingga gaya pulih dan frekuensi menjadi maksimum. Sedangkan pada nilai k=0, berarti =, menyebabkan keseluruhan bagian kristal bertranslasi, sehingga gaya pulih menjadi nol. Hal ini berarti =0 untuk k=0. 06. Getaran kisi diatomik satu dimensi menghasilkan dua hubungan dispersi, yakni cabang
1 1 M + M 2 1

optik
2 4 sin 2 (ka ) M 1M 2 1/ 2

dan . Pada

akustik getaran ini

2 1, 2

1 1 = M + M 2 1

terdapat daerah tanpa getaran, yang disebut celah frekuensi. Oleh karena itu, kisi diatomik berperan sebagai filter mekanik lolos pita. Pada nilai k=0, untuk cabang akustik didapatkan bahwa A1=A2, yang artinya dua atom dalam sel, atau molekul, mempunyai amplitudo dan fasa yang sama. Keseluruhan kisi bergetar seperti benda tegar, dengan pusat massa bergerak bolak-balik. Sedangkan untuk cabang optik menghasilkan M1 A1 + M2 A2 = 0, yang artinya bahwa cabang optik berosilasi dengan pusat massa atom tidak berubah. Dua atom dalam sel bergetar dalam fasa berlawanan.

LATIHAN SOAL BAB II


01. Hasil pengukuran dalam suatu jenis padatan menunjukkan bahwa kecepatan gelombang vs=5.105 cm/s dan rapat massa =5 gr/cm3. Berapakah modulus Young padatan tersebut?

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

II DINAMIKA KISI KRISTAL

69

02. Dengan menggunakan distribusi Maxwell-Boltzmann dan hukum ekipartisi energi, tunjukkan bahwa osilator harmonis satu dimensi pada kesetimbangan termal mempunyai energi rata-rata = k o T ! 03. Jika harga konstanta gas umum R2 kal/mol K, maka hitunglah kapasitas panas pada volume tetap padatan pada suhu tinggi! 04. Tunjukkan penurunan persamaan (2.25)! 05. Tembaga mempunyai suhu Einstein E=240 K. Berapa dan terletak di daerah optik mana frekuensi Einstein tersebut? 06. Jika diketahui bahwa suatu padatan mempunyai konsentrasi atom n=1022 atom/cm3 dan kecepatan gelombang vs=5.105 cm/s, maka hitunglah frekuensi Debye D! 07. Kemukakan sampai sejauh mana kesesuaian (terhadap rentang suhu) kapasitas panas padatan ramalan (a) Dulong-Petit, (b) Einstein, dan (c) Debye dengan hasil pengamatan! 08. Tunjukkan penurunan persamaan (2.41)! 09.a. Jika konstanta kisi a=5 dan modulus Young Y=1011 gr/cm s2, maka tentukan konstanta gaya ! b. Dengan menggunakan harga dari soal a), dan massa m=2.10-24 gr (untuk hidrogen), maka tentukan frekuensi maksimum o! 10. Anggaplah bahwa kisi kristal satu dimensi merupakan medium kontinu dan mempunyai syarat batas periodik. Buktikan bahwa jumlah moda getar dalam Zona Brillouin Pertama (ZBP) adalah sama dengan jumlah total atom, atau jumlah sel satuan dalam kisi! 11. Semua getaran yang memiliki makna fisis berada dalam interval ZBP k < + . Sesuai dengan soal nomor (10), maka jika terdapat N a a atom, maka nilai k yang diperbolehkan akan sebanyak N pula, yang terentang dari 2 1 2 1 N . Misalnya terdapat vibrasi gelombang yang 2 N hingga + Na Na 2

merambat dalam kristal monoatomik satu dimensi dengan jarak setimbang

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

II DINAMIKA KISI KRISTAL

70

antaratom a=5 . Jika kristal mengandung 6,00.108 atom, maka tentukan rentang angka gelombang k yang diperbolehkan! 12. Tunjukkan bahwa untuk harga ka kecil, maka dari persamaan (2.48) dapat diperoleh
1 1 a. dua harga frekuensi 2 = 2 M + M 2 1 2 2 2 dan = M + M (ka) 1 2

b. kecepatan fasa bunyi v =

2 a 2 (Tampak bahwa dengan (M1+M2)/a M1 + M 2

adalah kerapatan massa satu dimensi, maka hal ini sama dengan bahan pegas/kawat kontinu dengan tegangan 2a) 13. Tunjukkan bahwa untuk harga k=/2a, maka dari persamaan (2.48) diperoleh dua harga frekuensi 2 = 2 / M 1

dan 2 = 2 / M 2

14. Kemukakan yang terjadi pada Gambar 2.10, jika diasumsikan bahwa M1>M2! 15. Tunjukkan bahwa celah frekuensi dalam vibrasi kisi diatomik satu dimensi a. semakin tajam bila kedua massa semakin tidak sama! b. lenyap bila kedua massa sama besar! 16. Buktikan bahwa pada k=/2a dalam kisi diatomik satu dimensi a. cabang akustik menunjukkan bahwa hanya atom berat yang bervibrasi! b. cabang optik menunjukkan bahwa hanya atom ringan yang bervibrasi! 17. Sama dengan soal (10), tetapi untuk kisi kristal diatomik satu dimensi. Buktikan bahwa jumlah moda getarnya dua kali lebih besar karena masingmasing angka gelombang k bersesuaian dengan dua moda, yaitu moda akustik dan optik! 18. Harga kecepatan fasa bunyi dalam padatan berorde 3.103 m/s daan jarak antaratomnya berorde 3 . Jika padatan diasumsikan sebagai sebuah kisi linier, maka berapakah harga frekuensi maksimumnya? 19. Kecepatan kelompok bunyi suatu rantai linier monoatomik adalah 1,08.104 m/s. Jika massa tiap atom 6,81.10-26 kg dan jarak setimbang antaratom 4,85 , maka a. berapakah konstanta gaya?

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

II DINAMIKA KISI KRISTAL

71

b. berapakah frekuensi angular maksimum? 20. Tunjukkan penurunan persamaan (2.49) dan (2.50)! 21. Tunjukkan bahwa untuk panjang gelombang yang jauh lebih besar daripada jarak antaratom, maka persamaan gerak (2.36) dapat direduksi menjadi persamaan gelombang elastik kontinum kecepatan fasa bunyi! 22. Getaran kisi bujursangkar Diasumsikan terdapat getaran transversal pada kisi bidang bujursangkar monoatomik. Ambillah uA,m pergeseran yang normal terhadap bidang kisi dari atom dalam kolom ke-A dan baris ke-m. Setiap atom bermassa m dan konstanta gaya untuk interaksi tetangga terdekat. a. Buktikan bahwa persamaan geraknya adalah m (d2 uA,m/dt2) = [(uA+1,m + uA-1,m - 2 uA,m) + (uA,m+1 + uA,m-1 - 2 uA,m) ! b. Ambillah solusi berbentuk uA,m = u(0) exp[I(Akxa + mkya - t)], dimana a adalah jarak antara tetangga terdekat atom. Buktikan bahwa relasi dispersi yang sesuai adalah 2 m = 2 (2 - cos kxa - cos kya) ! c. Buktikan untuk ka << 1 dipenuhi =(a2/m)1/2 (kx2+ ky2)1/2= (a2/m)1/2 k, sehingga memiliki kecepatan yang konstan!
2 2 2 v l , dengan v adalah = l t 2 x 2

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

B A B III ELEKTRON DALAM LOGAM I (MODEL ELEKTRON BEBAS)


Logam memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, misalnya besi dalam produksi otomobil, tembaga untuk penghantar listrik dan lain-lain. Umumnya, logam memiliki sifat kekuatan fisik tinggi, kerapatan tinggi, konduktivitas listrik dan termal baik, dan daya refleksi tinggi. Sifat ini berkaitan dengan struktur mikroskopis bahan, yang dapat diasumsikan bahwa suatu logam mengandung elektron bebas, dengan konsentrasi besar, yang dapat bergerak dalam keseluruhan volume kristal. Saat atom bebas membentuk logam, semua elektron valensi menjadi elektron konduksi dalam logam. Elektron konduksi bergerak bebas di antara ion, sehingga keadaannnya berubah tajam. Berbeda dengan elektron cores yang tetap terlokalisasi sehingga karakternya relatif tidak berubah. Dengan demikian, gambaran sederhana tentang kristal logam adalah suatu kisi ion teratur dalam ruang, dan elektron bebas bergerak di antara ion tersebut. Gambaran lebih lengkapnya, bahwa ion bergetar secara termal di sekitar titik setimbang, dan demikian pula elektron bebas bergerak termal di antara ion kristal dan merubah arah geraknya setiap kali menumbuk ion (kemungkinan besar) atau elektron lain (kemungkinan kecil). Dalam logam Na, proporsi volume yang terisi oleh ion cores hanya sekitar 15%. Hal ini terjadi karena radius ion Na+ adalah 0,98 ; sedangkan setengah jarak antartetangga terdekat atom adalah 1,83 . Konsentrasi elektron konduksi dapat dihitung dari valensi dan kerapatan logam. Jika m dan ZV, masing-masing adalah kerapatan bahan dan valensi atom, maka konsentrasi elektronnya adalah
n = ZV

m N A
M

(3.1)

3 MODEL ELEKTRON BEBAS

73

dengan NA adalah bilangan Avogadro dan M adalah berat atom. Logam memiliki konsentrasi elektron yang besar, yakni n = 1029/m3. Misalnya, logam Na, K, Cu, Ag dan Au adalah monovalen; dan logam Be, Mg, Zn dan Cd adalah divalen. Bagian awal bab ini membahas perkembangan model elektron bebas. Bahasan kapasitas panas dan suseptibilitas magnetik dari sumbangan elektron menunjukkan bahwa yang sesuai dengan eksperimen adalah hanya jika elektron mengikuti prinsip eksklusi Pauli. Kemudian, dikenalkan konsep tingkatan Fermi dan permukaan Fermi, yang dapat digunakan untuk memperjelas deskripsi konduktivitas listrik dalam logam. Dalam bab ini juga dibahas pengaruh medan magnet terhadap gerakan elektron bebas, yakni efek Hall dan resonansi siklotron. Bahasan kedua hal ini menghasilkan informasi yang mendasar tentang logam. Dalam model elektron bebas ini elektron mengalami tumbukan dengan fonon dan ketidakmurnian. Hal ini menghasilkan ungkapan hukum Matthiessen. Selain itu, elektron dapat melepaskan diri dari permukaan logam sehingga terjadi emisi thermionik. Akhirnya, bab ini ditutup dengan dikemukakannya beberapa kegagalan model elektron bebas dalam membahas sifat logam.

3.1 MODEL ELEKTRON BEBAS KLASIK 3.1.1 Teori Drude tentang Elektron dalam Logam
Drude (1900) mengandaikan bahwa dalam logam terdapat elektron bebas, yang membentuk sistem gas elektron klasik, yang bergerak acak dalam kristal dengan kecepatan random vo karena energi termal dan berubah arah geraknya setelah bertumbukan dengan ion logam. Karena massanya yang jauh lebih besar, maka ion logam tidak terpengaruh dalam tumbukan ini. Kehadiran medan listrik dalam logam hanya mempengaruhi gerak keseluruhan electron karena ion-ion tertata berjajar dan bervibrasi di sekitar titik kisi sehingga tidak memiliki neto gerak translasi. Misalnya, terdapat medan listrik dalam arah sumbu-X. Percepatan elektron yang timbul
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

3 MODEL ELEKTRON BEBAS

74

ax =

e m*

(3.2)

dengan e dan m*, masing-masing adalah muatan dan massa efektif elektron. Jika waktu rata-rata antara dua tumbukan elektron dan ion adalah , maka kecepatan hanyut dalam selang waktu tersebut
v hanyut = vo e m* (3.3)

Oleh karena itu rapat arus yang terjadi e J x = e vo m * (3.4)

dimana penjumlahan dilakukan terhadap semua elektron bebas setiap satuan volume. Elektron bergerak secara acak, sehingga vo=0. Oleh sebab itu ungkapan (3.4) menjadi Jx = e 2 n m* (3.5)

Karena hubungan Jx=, maka menurut (3.5) konduktivitas listrik memiliki ungkapan

e 2 n m*

(3.6)

Pengukuran menunjukkan bahwa nilai rata-rata logam sekitar 5.107(m)-1. Dengan menganggap masa efektif m* sama dengan massa bebas mo=9,1.10-31kg, maka didapatkan nilai berorde 10-14 s. Contoh analisa lain adalah konduktivitas termal. Misalnya, sepanjang sumbuX terdapat gradien suhu T/x, maka akan terjadi aliran energi persatuan luas perdetik (arus kalor) Qe. Berdasarkan eksperimen arus kalor Qe tersebut sebanding dengan gradien suhu T/x Qe = -K T/x (3.7) dengan K adalah konduktivitas termal. Dalam isolator, panas dialirkan sepenuhnya oleh fonon. Sedangkan dalam logam dialirkan oleh fonon dan elektron. Tetapi karena konsentrasi elektron dalam logam sangat besar, maka konduktivitas termal fonon jauh
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

3 MODEL ELEKTRON BEBAS

75

lebih kecil daripada elektron, yakni Kfonon10-2Kelektron, sehingga konduktivitas fonon diabaikan. Dari pendekatan teori kinetik gas diperoleh ungkapan konduktivitas termal K = (1/3) CV v A (3.8)

dimana CV, v dan A masing-masing adalah kapasitas panas elektron persatuan volume, kecepatan partikel rata-rata dan lintas bebas rata-rata partikel. Karena CV=(3/2)nk, (1/2)mv2=(3/2)kT dan A=v, maka konduktivitas (3.8) menjadi 3 nk 2T K= 2 mo Perbandingan konduktivitas termal (3.9) dan listrik (3.6) adalah
3k = T 2 e K kadang perbandingan (3.10) di atas dinyatakan sebagai bilangan Lorentz L= K T (3.11)
2

(3.9)

(3.10)

Hal ini sesuai dengan penemuan empirik oleh Wiedemann-Frans (1853). Kadang-

Ternyata, hukum Wiedemann-Frans sesuai dengan pengamatan untuk suhu tinggi (termasuk suhu kamar) dan suhu sangat rendah (beberapa K). Tetapi, untuk suhu intermediate, K/T bergantung pada suhu. Dalam teori drude, lintas bebas rata-rata elektron bebas, A=vo, tidak bergantung suhu. Namun, karena voT1/2, maka keadaan mengharuskan T-1/2 Hal ini didukung fakta eksperimen bahwa T-1, sehingga dari ungkapan konduktivitas listrik didapatkan n T-1 atau n T-1/2 Ungkapan terakhir ini menunjukkan bahwa bila T naik, maka n menurun. Hal ini tidak sesuai dengan fakta, dan menyebabkan teori Drude tidak memadai.
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

3 MODEL ELEKTRON BEBAS

76

3.1.2 Model Elektron Bebas Klasik


Model elektron bebasa klasik tentang logam mengambil andaian berikut. a. Kristal digambarkan sebagai superposisi dari jajaran gugus ion positip (yang membentuk kisi kristal) dan elektron yang bebas bergerak dalam volume kristal. b. Elektron bebas tersebut diperlakukan sebagai gas, yang masing-masing bergerak secara acak dengan kecepatan termal (seperti molekul dalam gas ideal tidak ada tumbukan, kecuali terhadap permukaan batas) c. Pengaruh medan potensial ion diabaikan, karena energi kinetik elektron bebas sangat besar. d. Elektron hanya bergerak dalam kristal karena adanya penghalang potensial di permukaan batas. Misalnya, setiap atom memberikan ZV elektron bebas, maka jumlah total elektron tersebut perkilomol n = ZV NA Bila elektron berperilaku seperti dalam gas ideal, maka energi kinetik totalnya U = n (3/2) k T = (3/2) ZV R T sehingga kapasitas panas sumbangan elektron bebas (CV)el = (3/2) ZV R CV = (CV)f + (CV)el = [3 + (3/2) ZV) R (3.13) (3.14) Kapasitas panas total dalam logam, termasuk sumbangan oleh fonon, adalah Jadi, setidaknya kapasitas panas logam harus 50% lebih tinggi daripada isolator. Tetapi, eksperimen menunjukkan bahwa untuk semua bahan padatan (logam dan isolator) nilai CV mendekati 3R pada suhu tinggi. Pengukuran yang akurat menunjukkan bahwa sumbangan elektron bebas terhadap kapasitas panas total adalah reduksi harga klasik (3/2)R oleh factor 10-2. Oleh karena itu model elektron bebas klasik tidak memberikan hasil ramalan CV yang memadai. Suseptibilitas magnetik mengkaitkan momen magnetik M dan kuat medan magnetik H melalui ungkapan
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

(3.12)

3 MODEL ELEKTRON BEBAS

77

G G M = H

(3.15)

Dalam hal ini hanya dibahas untuk bahan isotropik, sehingga skalar. Pengaruh G G medan magnet luar H terhadap elektron bebas menyebabkan setiap momen dipol , yang acak arahnya, memperoleh energi magnetik G G E = H

(3.16)

Jika distribusi momen dipol elektron bebas memenuhi statistik Maxwell-Boltzmann, yakni f(E)=e-E/kT, maka momen dipol rata-rata dalam arah medan memenuhi

cos e
0

E / kT

2 sin d

(3.17)
2 sin d

e
0

E / kT

dimana adalah sudut antara dan H. Hasil dari persamaan (3.17) adalah

= L( x)
dengan L(x)=coth x (1/x) = fungsi Langevin x = (H/kT) Dengan menggunakan deret coth x = 1 x x3 2x5 + + + ... , untuk x 3 45 945 0< x <

(3.18)

maka untuk medan H tidak kuat, yakni H<<kT momen dipol rata-rata tersebut berharga 1H 3 kT N 2 H 3kT

(3.19)

Jika jumlah momen dipol magnet adalah N, maka magnetisasinya M = N = (3.20)

Dengan membandingkan (3.20) dan (3.15) diperoleh suseptibilitas magnetik N 2 = 3kT (3.21)

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

3 MODEL ELEKTRON BEBAS

78

Tetapi, eksperimen tidak menunjukkan adanya kebergantungan terhadap T. Hal ini berarti model elektron bebas klasik tidak dapat menerangkan tentang mengapa untuk paramagnet elektron tidak bergantung pada T.

3.2 MODEL ELEKTRON BEBAS TERKUANTISASI


Untuk memperbaiki kegagalan model elektron bebas klasik dalam menelaah sifat listrik dan magnet bahan, ditawarkan model elektron bebas yang terkuantisasi. Model ini menggunakan prinsip kuantisasi energi elektron dan prinsip eksklusi Pauli untuk elektron yang melibatkan distribusi Fermi-Dirac. Model elektron bebas, dimana pengaruh dari semua elektron bebas yang lain dan semua ion positip direpresentasikan oleh potensial V sama dengan nol sehingga gaya yang bekerja pada elektron juga sama dengan nol, secara kuantum mengambil persamaan Schrodinger

G =2 2 G (r ) = E (r ) 2mo

(3.22)

dengan solusi fungsi elektron

(r ) = Ao e ik r
dan energi elektron Ek =

G G

(3.23)

= 2k 2 2mo

(3.24)

Harga k tidak dibatasi sehingga energi elektron tidak terkuantisasi. Tetapi bila elektron bebas tersebut bergerak dalam suatu kubus dengan rusuk L, maka haruslah dipenuhi
2 2 2 2 k =k +k +k = nx + n y + nz L n x = n y = n z = 0, 1, 2, ...
2 2 x 2 y 2 z 2

(3.25)

Dalam ruang k, setiap keadaan elektron direpresentasikan oleh volume sebesar (2/L)3, yaitu masing-masing untuk nx=ny=nz=1. Semua keadaan
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

3 MODEL ELEKTRON BEBAS

79

elektron yang berenergi E k = berkari-jari k yang memenuhi


2 k 2 = k x2 + k y + k z2 =

=2 2 ( k x2 + k y + k z2 ) terletak pada permukaan bola 2mo

2mo Ek =2

Sedangkan semua keadaan elektron yang berenergi antara E dan E+dE terletak dalam kulit bola dengan jari-jari antara k dan k+dk dan volume 4k2dk. Dengan demikian, jumlah keadaan elektron
4 k 2 dk L3 k 2 = dk 2 2

(2 L)
2

Apabila diperhitungkan dua spin elektron, maka jumlah tersebut menjadi L3 k 2 dk

Mengingat ungkapan E=2k2/2mo, maka jumlah keadaan elektron persatuan volume yang berenergi antara E dan E+dE adalah
1 2 mo g ( E ) dE = 2 dk = 2 2 = 2 k2
3/ 2

E 1 / 2 dE

(3.26)

Prinsip Pauli menyatakan bahwa dalam satu sistem fisis tidak boleh terdapat dua elektron atau lebih yang mempunyai perangkat bilangan kuantum yang tepat sama. Prinsip larangan ini dipenuhi oleh elektron yang mengikuti fungsi distribusi Fermi-Dirac f (E) = 1+ e
( E E F ) / kT

(3.27)

Pada suhu T=0 K, energi Fermi diungkapkan dalam bentuk EF(0); dan fungsi distribusi Fermi-Dirac untuk E < EF(0) f ( E ) = untuk E > EF(0) f ( E ) = 1 =1 1 + e 1 =0 1 + e
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

3 MODEL ELEKTRON BEBAS

80

Dengan kata lain, pada suhu T=0 K semua tingkat energi E<EF(0) terisi penuh elektron dan E>EF(0) kosong. Sedangkan pada suhu T>0 K berlaku untuk E < EF f(E) < 1 untuk E = EF f(E) = 1/2 untuk E > EF f(E) > 0 Hal ini berarti pada T>0 K tingkat energi di atas EF sudah terisi sebagian dan di bawah EF menjadi kosong sebagian. Model elektron bebas terkuantisasi mengambil andaian sebagai berikut. a. Kristal logam digambarkan sebagai superposisi dari jajaran gugus ion positip (yang membentuk kisi kristal) dan elektron bebas yang bergerak dalam volume kristal. b. Elektron bebas tersebut memenuhi kaidah fisika kuantum, yaitu mempunyai energi terkuantisasi dan mematuhi larangan Pauli, yang secara menyatu dirangkum dalam ungkapan rapat elektron dn = n(E) dE = f(E) g(E) dE sebagai fungsi dari energi elektron dan suhu sistem
1 2mo dn = 2 2 = 2
3/ 2

(3.28)

Dengan mensubstitusikan (3.27) dan (3.26) diperoleh ungkapan rapat elektron

E1/ 2 dE 1 + e ( E EF ) / kT

(3.29)

c. Pengaruh medan ion positip dapat diabaikan karena energi kinetik elektron bebas sangat besar. d. Pada permukaan batas antara logam dan vakum yang mengelilinginya terdapat suatu potensial penghalang yang harus diloncati oleh elektron bebas paling energetik pada suhu T=0 K (energi EF) untuk dapat meninggalkan permukaan batas logam.

3.2.1 Sumbangan Elektron Bebas pada Harga CV


Rapat elektron pada suhu T=0 K
E Fo 1 n = n( E )dE = f ( E ) g ( E )dE = 2 0 0 0 2 2m o 2 = 3/ 2 2m E (0) 1 o F E 1 / 2 dE = 2 2 = 3 3/ 2

(3.30)

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

3 MODEL ELEKTRON BEBAS

81

dan rapat energi pada suhu T=0 K


E Fo 1 U o = Edn = Ef ( E ) g ( E )dE = E 2 2 0 0 0 2m o 2 = 3/ 2 E 1 / 2 dE = 2m 1 o 5 2 = 2 3/ 2
5/2 EF (0) (3.31)

Bila dinyatakan dalam rapat elektron (3.30) di atas, maka Uo = 3 nE F (0) 5


3/ 2

(3.32)

Sedangkan rapat energi elektron pada suhu T>0 K U = Ef ( E ) g ( E )dE = E


0 0

1+ e

( E E F ) / kT

1 2mo 2 2 = 2

E 1 / 2 dE (3.32)

1 2mo = 2 2 = 2

3/ 2

E 3/ 2 ( E E F ) / kT dE o 1+ e

Untuk menyelesaikan integral dalam (3.32) digunakan bentuk integral


F j ( yo ) =

yj dy ( y yo ) e 1 + o

yang mempunyai bentuk asymtotik untuk yo besar dan berharga positip


y oj +1 2 j ( j + 1) 1 + F j ( yo ) + ... 2 j +1 6 yo

(3.33)

Diketahui bahwa ungkapan energi Fermi sebagai fungsi suhu adalah


( kT )2 1 E F = E F (0) 12 E 2 (0) F (3.34)

2 Karena bentuk [( kT ) 2 / E F (0)] sangat kecil dibandingkan dengan satu, maka EF

selalu dapat diganti dengan EF(0). Dengan memakai bentuk (3.33), (3.34) dan deret binomial (1+x)p, serta memperhatikan ungkapan (3.31) dan (3.30), maka rapat energi (3.32) di atas dapat dihitung dan hasilnya adalah U Uo + n 2 k 2T 2 4EF (3.35)

sehingga kapasitas panas elektron bebas

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

3 MODEL ELEKTRON BEBAS

82

(CV )el

= U / T =

n 2 k 2T 2EF
'

(3.36)

Apabila kapasitas panas elektron bebas model klasik (CV )el (persamaan (3.13)), maka ungkapan (3.36) untuk satu mol zat menjadi (CV ) el =

2 kT
3E F

(CV ) 'el

(3.37)

Tampak bahwa sumbangan elektron bebas pada harga CV untuk kristal diperkecil dengan faktor [2kT/3EF] dari harga klasiknya. Untuk harga EF=5 eV dan T=300 K, maka hal ini sesuai dengan hasil pengukuran bahwa faktor pengecil tersebut kira-kira berorde 10-2. Dapatlah disimpulkan bahwa sumbangan elektron bebas pada harga CV suatu logam sangatlah kecil, terutama pada suhu yang sangat tinggi. Tetapi sumbangan tersebut akan dominan pada suhu yang cukup rendah. Pada suhu jauh di bawah suhu Debye D dan suhu Fermi TF, kapasitas panas suatu logam dapat ditulis sebagai jumlah sumbangan elektron bebas dan fonon, yakni CV = T + A T3 dibuat grafik CV/T terhadap T2 sehingga dan A bisa ditentukan. (3.38) dimana dan A merupakan konstanta karakteristik bahan. Secara eksperimen dapat

3.2.2 Paramagnetik Pauli


Apabila terdapat suatu medan magnet luar H, maka spin elektron bebas akan menyesuaikan diri terhadap H. Energi total elektron bebas karena pengaruh medan Etot = Ekin B o H (3.39) Tanda positip untuk spin antiparalel dan negatip untuk spin paralel terhadap medan. Pengaruh medan terhadap rapat keadaan g(E) digambarkan di bawah ini. Rapat keadaan g(E) dibagi menjadi dua bagian, yaitu spin ke atas dan ke bawah. Tanpa medan magnet luar H, keduanya simetris terhadap sumbu E. Bila terdapat medan magnet luar H, maka secara total lebih banyak elektron yang antiparalel terhadap H. Magnetisasi yang terjadi adalah
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

3 MODEL ELEKTRON BEBAS

83

g(E)

g(E)

BoH Ekin+mag

Ekin

Gambar 3.1 Variasi tingkat energi karena aplikasi medan magnet luar H
1 M = B dn = B f ( E ){1 dE 2 g ( E + B o H ) 2 g ( E B o H )} 0 0

(3.40)

Bila diambil kasus untuk T=0 K, maka diperoleh M = Perhitungan


2 3n o B

2 E Fo di

H menggunakan relasi

(3.41) g(EoBH)=g(E)oBH(dg/dE)

atas

berdasarkan ekspansi Taylor; dan g(EF)=3n/2 EF yang diperoleh dengan menggabungkan persamaan (3.26) dan (3.30). Dengan demikian suseptibilitas magnetiknya
2 3n o B

2 E Fo

(3.42)

Terlihat bahwa suseptibilitas di atas tidak bergantung secara kuat terhadap suhu. Dengan harga EFo=2 eV didapatkan =5.10-6 yang sesuai dengan hasil eksperimen. Meskipun perhitungan di atas diambil pada suhu nol mutlak, tetapi hasilnya valid dalam rentang suhu yang cukup besar.

3.2.3 Konduktivitas Listrik dalam Logam


Elektron yang mempunyai mobilitas besar untuk pindah ke keadaan elektron yang lain adalah elektron yang berenergi E sedemikian sehingga f(E)<1. Hal ini terjadi di daerah EEF. Elektron yang demikian akan mengalir bila dikenai medan listrik. Hubungan rapat arus J dan medan listrik dinyatakan oleh hukum Ohm

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

3 MODEL ELEKTRON BEBAS

84

G G J =

(3.43)

dimana adalah konduktivitas listrik. Bila rapat elektron n dan kecepatan hanyut elektron vd, maka rapat arus dapat juga diungkapkan dalam bentuk J = n e vd Dalam kesetimbangan termal, distribusi elektron berada dalam keadaan G mapan (steady state) no (v ) , yang tidak bergantung waktu. Dalam ruang kecepatan, G distribusi no (v ) mempunyai simetri bola, dan dinamakan bola Fermi (dengan radius laju Fermi vF), serta permukaannya disebut permukaan Fermi. Kecepatan elektron bersifat acak, dan berkaitan dengan energi melalui ungkapan E = m v2 direpresentasikan oleh semua titik dalam bola. Arus total nol karena setiap elektron yang berkecepatan v selalu berpasangan dengan yang berkecepatan v. Kecepatan elektron sangat besar di permukaan Fermi. Permukaan Fermi tidak begitu dipengaruhi oleh suhu. Bila suhu naik, hanya sedikit elektron yang melintasinya. Perlu diketahui bahwa pengukuran eksperimen menunjukkan bahwa permukaan Fermi berbentuk bola terdistorsi, sebagai akibat dilibatkannya interaksi elektron dan kisi. Hal ini akan dijelaskan dalam bab selanjutnya. Bila terdapat medan listrik, misalnya, X searah sumbu-X, maka distribusi G elektron berubah menjadi n(v ) . Perubahan ini mempunyai komponen posisi dan waktu. Dalam hal ini bola Fermi bergeser ke arah (-X), seperti ditunjukkan oleh Gambar 3.2 berikut.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

3 MODEL ELEKTRON BEBAS

85

Gambar 3.2 a. Bola Fermi saat setimbang b. Pergeseran bola Fermi saat dikenakan medan

Diambil asumsi bahwa kecepatan pergeseran titik pusat oleh kehadiran medan luar ini sangat kecil bila dibandingkan dengan vrms. Bila homogen (besar dan arahnya), maka perubahan distribusi elektron hanya dipengaruhi oleh komponen waktu. Proses yang terjadi adalah adanya perubahan distribusi elektron karena pengaruh medan luar dan adanya proses hamburan yang ingin memulihkannya ke keadaan semula. Penggabungan kedua proses ini menghasilkan persamaan kontinuitas G G G G G n ( v ) n o (v ) n(v ) e + V n(v ) + =0 mo t

(3.44)

dengan adalah waktu relaksasi. Ungkapan ini sering disebut persamaan transport G Boltzmann. Dalam keadaan mapan ( n(v ) / t = 0 ) persamaan (3.44) menjadi

G G eG G n(v ) = n o (v ) V n(v ) mo

(3.45)

G sehingga persamaan (3.45) menjadi Dalam kasus di atas diambil = X i G G G e X n(v ) (3.46) n(v ) = n o (v ) mo v X Rapat arus listrik yang terjadi G J X = ev X n(v )dv X dv y dv z

G G e X n(v ) = ev X no (v ) dv X dv y dv z mo v X

(3.47)

Integral suku pertama persamaan (3.47) menghasilkan nol karena kecepatan rata-rata G v X = 0 dalam no (v ) . Dengan demikian rapat arus (3.47) menjadi JX e 2 X = mo
G n(v ) v X v X dv X dv y dv z

(3.48)

Mengingat bahwa a. =A/v, dimana A adalah lintas bebas rata-rata antara dua tumbukan,
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

3 MODEL ELEKTRON BEBAS


2 2 2 b. v 2 = v X + vY + vZ , dan

86

2 2 c. gerak elektron secara acak sehingga v X =1 3v

maka ungkapan rapat arus 3.48) berubah menjadi G 4e 2 X no (v ) JX = A v dv 3mo v 0

(3.49)

G Dari rapat elektron (3.29), setelah mengganti variabel E menjadi v , diperoleh G distribusi elektron no (v ) tidak lain adalah G m no (v ) = 2 o f ( E ) h
3

(3.50)

Substitusi persamaan (3.50) dan setelah diadakan perubahan variabel v menjadi E, maka rapat arus (3.49) menjadi
JX
16e 2 mo f ( E ) = X AE dE E 3h 0

(3.51)

Dengan demikian, mengingat hubungan (3.43) diperoleh konduktivitas listrik

16e 2 mo f ( E ) AE dE E 3h 0

(3.52)

Untuk suhu T=0 K, harga (-f(E)/E) berupa fungsi delta Dirac sehingga integral dalam (3.52)

AE
0

f ( E ) dE = A EF E F E

dan dengan menggunakan ungkapan rapat elektron (3.30), maka ungkapan konduktivitas listrik (3.52) di atas menjadi ne 2 A EF mo v E F ne 2 F mo

(3.53)

dimana F adalah waktu relaksasi sebuah elektron pada bola Fermi. Ungkapan konduktivitas listrik di atas, ternyata, bentuknya sama dengan hasil teori Drude yang lalu.
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

3 MODEL ELEKTRON BEBAS

87

Baik teori Drude maupun model elektron bebas terkuantisasi mengemukakan bahwa konduktivitas listrik hanya berbanding lurus dengan konsentrasi elektron. Namun beberapa logam dengan konsentrasi elektron lebih tinggi, justru menunjukkan nilai konduktivitas lebih rendah. Disamping itu, sebenarnya fakta menunjukkan nahwa konduktivitas listrik bergantung pada suhu, dan juga arah.

3.3 PERILAKU ELEKTRON DALAM LOGAM 3.3.1 Hukum Matthiessen


Konduktivitas listrik logam bergantung pada suhu biasanya dibahas dalam bentuk perilaku resistivitas terhadap suhu T. diketahui bahwa =--1 sehingga berdasarkan konduktivitas (3.53), maka resistivitas dapat ditulis m* 1 = 2 ne (3.54)

Elektron mengalami suatu tumbukan hanya karena ketidaksempurnaan keteraturan kisi. Ketidaksempurnaan tersebut dapat berupa (a) vibrasi kisi (fonon) dari ion di sekitar titik setimbang karena eksitasi termalnya, dan (b) semua ketidaksempurnaan statik, seperti ketidakmurnian atau cacat kristal. Jika mekanisme keduanya dianggap saling bebas satu sama lain, maka dapatlah diungkapkan 1/ = 1/f + 1/i (3.55) dimana suku pertama ruas kanan disebabkan oleh fonon dan suku kedua oleh ketakmurnian. Dengan demikian, substitusi (3.55) ke dalam (3.34) menghasilkan ungkapan resistivitas

(T ) = f (T ) + i =

m* 1 m* 1 + ne 2 f ne 2 i

(3.56)

Ungkapan ini disebut hukum Matthiessen. Tampak bahwa terdiri dari dua bentuk, yaitu a. resistivitas ideal f(T) karena hamburan elektron oleh fonon, sehingga bergantung pada suhu, dan

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

3 MODEL ELEKTRON BEBAS

88

b. resistivitas residual i karena hamburan elektron oleh ketakmurnian (yang tidak bergantung pada suhu). Pada suhu sangat rendah, hamburan oleh fonon dapat diabaikan karena amplitudo sangat kecil; dalam hal ini f dan f=0 sehingga (T)=i berharga konstan dan nilainya sebanding dengan konsentrasi ketidakmurnian. Pada suhu yang cukup besar, hamburan oleh fonon menjadi dominan sehingga (T)f(T). Pada suhu tinggi (termasuk suhu ruang), f(T) naik secara linier terhadap T sampai logam mencapai titik leleh. Tetapi, pada suhu rendah resistivitasnya sebanding dengan T5. Keadaan di atas sesuai dengan data eksperimen untuk logam Na berikut.

Pada T=0 K, berharga kecil konstan; sedangkan untuk suhu di atasnya naik secara perlahan pada awalnya dan berikutnya secara linier terhadap T. Pada gambar disamping (290 K) = 2,1.10-8 m.
Gambar 3.3 Resistivitas (T)/(290) terhadap T logam Na untuk suhu rendah

Gejala penyimpangan terhadap hukum Matthiessen disebut efek Kondo. Misalnya, memiliki harga minimum pada suhu rendah pada sejumlah ketidakmurnian Fe yang dilarutkan dalam Cu. Sifat anomali ini terjadi karena hamburan tambahan elektron oleh momen magnet dari pusat ketidakmurnian.

3.3.2 Efek Hall


Efek Hall dapat dibahas dengan pendekatan model elektron bebas klasik. Perhatikanlah Gambar 3.4 berikut. Pada suatu balok logam bekerja dua medan yang saling tegak lurus, yaitu medan listrik X dan medan magnet BZ.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

3 MODEL ELEKTRON BEBAS

89

Arus IX mengalir searah X. akibat pengaruh medan BZ, lintasan elektron membelok ke bawah, sehingga terkumpul banyak elektron di bagian bawah logam. Dalam waktu bersamaan, terjadi muatan positip di bagian atas karena kekurangan elektron. Dengan demikian terjadilah medan listrik Hall Y. apabila keadaan sudah stasioner, maka Y konstan dan elektron bergerak dalam arah vX. Y Z X + + + + + + + y - - - - - - Bz
Gambar 3.4 Efek Hall

vx=kec elektron

Dalam keadaan setimbang resultan gaya yang bekerja pada elektron (gaya Coulomb dan Lorentz) sama dengan nol
e Y ev X BZ = 0

Y = v X BZ

rapat arus dalam arah X JX = - n e vX sehingga diperoleh harga konstanta Hall


RH =

Y
J X BZ

1 ne

(3.57)

Dengan mengukur Y, JX dan BZ, maka rapat elektron konduksi n dapat ditentukan. Efek Hall dapat dipergunakan untuk menentukan a. macam rapat pembawa muatan (positip atau negatip), dan b. rapat elektron konduksi yang berperan dalam proses penghantaran muatan. Ungkapan koefisien Hall di atas menunjukkan nahwa RH berharga negatip dan hanya bergantung pada rapat elektron. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pada suhu kamar logam-logam Li, Na, Cu, Ag, dan Au berturut-turut memiliki konstanta Hall 1,7.10-10, 2,5.10-10, 0,55.10-10, 0,84.10-10, dan 0,72.10-10 volt.m3/A.
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

3 MODEL ELEKTRON BEBAS

90

Tetapi fakta lain menunjukkan bahwa terdapat beberapa logam mempunyai RH positip, dan bahwa RH, umumnya, bergantung pada suhu, waktu relaksasi dan besar medan magnet. Misalnya, logam Zn, dan Cd, masing-masing memiliki konstanta Hall sebesar +0,3.10-10, dan +0,6.10-10 volt.m3/A. Hal ini menunjukkan bahwa pembawa muatan dalam keduanya adalah lubang (hole). Mobilitas elektron didefinisikan sebagai besarnya kecepatan rambat elektron persatuan medan listrik =v/. Dari rapat arus J=nev=ne sehingga dapat dibentuk hubungan RH = ne 1 = ne (3.58)

Jadi secara eksperimen dengan mengukur konduktivitas listrik dan koefisien Hall RH, maka mobilitas elektron dapat ditentukan.

3.3.3 Resonansi Siklotron


Perhatikanlah Gambar 3.5 berikut.

B sinyal elektromagnet
Gambar 3.5 Gerakan siklotron

Medan magnet menyebabkan elektron bergerak melingkar berlawanan arah jarum jam dalam bidang normal medan. Frekuensi gerak siklotron yang terjadi

C =

eB m*

(3.59)

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

3 MODEL ELEKTRON BEBAS

91

Jika sinyal elektromagnet diarahkan tegak lurus B, maka elektron menyerap energinya. Kecepatan absorbsi terbesar terjadi saat frekuensi sinyal benar-benar sama dengan frekuensi siklotron = C (3.60) Masing-masing elektron bergerak sempurna sepanjang lingkaran sehingga absorbsi terjadi secara kontinu sepanjang lintasan. Kondisi ini disebut resonansi siklotron. Jika C, maka absorbsi sinyal hanya terjadi pada sebagian gerak elektron. Agar gerakan elektron tetap melingkar, maka elektron harus mengembalikan energi yang telah diserapnya. Bentuk kurva absorbsi ditunjukkan dalam Gambar 3.6 berikut.

Gambar 3.6 Sketsa koefisien absorbsi terhadap frekunsi

Dari kurva absorbsi dapat diperoleh frekuensi siklotron C. Dengan demikian massa elektron m* dapat diukur.

3.3.4 Pancaran Thermionik


Model elektron bebas terkuantisasi memiliki skema tingkat energi berikut. elektron e

EF

Gambar 3.7 Pancaran thermionik

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

3 MODEL ELEKTRON BEBAS

92

Pada T=0 K semua tingkatan terisi sampai tingkat energi Fermi EF. Di atas tingkat EF terdapat tingkat energi penghalang e sampai permukaan, yang dikenal sebagai fungsi kerja logam. Dengan demikian untuk dapat meninggalkan logam, misalkan dalam arah-X, elektron harus memiliki energi
2 pX E F + e 2mo

(3.61)

Dalam statistik Fermi-Dirac, rapat elektron yang berkecepatan antara (vX,vY,vZ) sampai (vX+dvX, vY+dvY, vZ+dvZ) adalah sama dengan ungkapan distribusi (3.50), yaitu
3 2 2 2 mo v X + vY + vZ mo n(v X , vY , v Z ) dv X dvY dv Z = 2 dv X dvY dv Z (3.62) 1 + eksp h kT 2

Pancaran thermionik hanya mungkin terjadi pada energi yang sangat tinggi, sehingga angka satu dalam penyebut persamaan (3.62) di atas dapat diabaikan. Oleh karena itu distribusi rapat elektron (3.62) menjadi
2 2 2 ) o (v X + vY + vZ m n(v X , vY , v Z ) dv X dvY dv Z = 2 o e EF / kT e kT dv X dvY dv Z h

(3.63)

Rapat elektron dalam arah-X yang berkecepatan antara vX dan (vX+dvX)


dv X ( , , ) n(v X ) dv X = n v v v dv dv X Y Z Y Z
2 o 2 vX 4 mo kT EF / kT 2 kT = e e dv X 3 h m

(3.64)

Untuk dapat meninggalkan batas permukaan, berdasarkan ungkapan (3.61) elektron harus memiliki kecepatan awal minimal
vX = 2 E F + 2e mo

(3.65)

Disamping itu, pada permukaan batas kemingkinan terjadi proses pemantulan kembali sebanyak r. Oleh karena itu rapat arus total dalam arah-X

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

3 MODEL ELEKTRON BEBAS

93

JX =

2 o v2 4 mo kT X E F / kT 2 kT ( 1 r ) e ev e dv X X 3 h vX m

(3.66)

= A(1 r )T 2 e e / kT dengan A=(4mok2e)/(h3)=1,2.106 Amp/m2 K2. Ungkapan ini dikenal sebagai persamaan Richardson-Dushman untuk pancaran thermionik. Jika persamaan di atas ditulis dalam bentuk logaritma-natural ln (JX/T2) = ln A + ln (1-r) - e/kT maka dengan membuat grafik ln(JX/T2) terhadap 1/T akan diperoleh harga dan (1-r). Harga fungsi kerja beberapa logam yang diperoleh dari pengukuran emisi termionik adalah 4,5; 4,2; 4,6; 4,8; 1,8; dan 5,3 eV, masing-masing untuk W, Ta, Ni, Ag, Cs dan Pt. Secara eksperimental pancaran thermionik ini dilakukan dalam tabung hampa, dimana terdapat anoda yang mengumpulkan elektron yang dipancarkan oleh katoda.

3.4 KEBERATAN TERHADAP MODEL ELEKTRON BEBAS TERKUANTISASI


Gejala fisis yang diprediksi oleh model elektron bebas, ternyata, ada yang menyimpang dari data pengamatan. Kelemahan ini telah dikemukakan secara singkat dalam masing-masing bahasannya, yaitu antara lain sebagai berikut. a. Konduktivitas listrik yang hanya bergantung pada konsentrasi elektron. Padahal fakta menunjukkan bahwa logam divalent (Be, Cd, Zn, dan lain-lain), dan bahkan logam trivalent (Al, dan In) memiliki konduktivitas lebih rendah daripada logam monovalen (Cu, Ag, dan Au) meskipun konsentrasi elektron lebih banyak. b. Koefisien Hall selalu berharga negatip. Padahal beberapa logam menunjukkan konstanta Hall positip, seperti Be, Zn, dan Cd. c. Permukaan Fermi mempunyai simetri bola. Padahal pengukuran kadang-kadang menunjukkan permukaan Fermi berbentuk non-simetri bola. Model elektron bebas mengandaikan elektron berada dalam kotak potensial sederhana V(x) yang sama untuk seluruh logam (biasanya V(x)=0), dan hanya pada
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

3 MODEL ELEKTRON BEBAS

94

permukaan batas ada potensial penghalang yang menghindarkan semua elektron bebas untuk meninggalkan permukaan logam. Dengan pengandaian ini, maka interaksi antara elektron dan ion dianggap sebagai benturan mekanis elastik. Tidak ada interaksi listrik antara ion dan elektron, karena interaksi ini telah termaksud dalam potensial V(x)=tetap di atas. Model pengandaian benturan elastik di atas, memberikan suatu nilai A (lintas bebas rata-rata) yang panjang dibandingkan dengan jarak rata-rata antarion dalam kristal logam. Hal inilah yang, barangkali, menyebabkan bahasan aliran elektron dalam logam kurang bisa memprediksi kenyataan.

RINGKASAN
01. Logam mengandung elektron bebas (konduksi), dengan konsentrasi besar, yang dapat bergerak dalam keseluruhan volume kristal. Jika m dan ZV, masing-masing adalah kerapatan bahan dan valensi atom, maka konsentrasi elektron bebas tersebut adalah n = Z V

m N A
M

02. Teori Drude (1900) tentang elektron dalam logam adalah bahwa dalam logam terdapat elektron bebas, yang membentuk sistem gas elektron klasik, yang bergerak acak dalam kristal dengan kecepatan random vo karena energi termal dan berubah arah geraknya setelah bertumbukan dengan ion logam. Karena massanya yang jauh lebih besar, maka ion logam tidak terpengaruh dalam tumbukan ini. Teori Drude menghasilkan ungkapan konduktivitas listrik = K= e 2 n dan termal mo

3 nk 2T . Hal lain yang didapat adalah bahwa konsentrasi elektron 2 mo

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

3 MODEL ELEKTRON BEBAS

95

berbanding terbalik dengan akar suhu mutlak n T-1/2. Ungkapan terakhir ini tidak sesuai dengan fakta, dan menyebabkan teori Drude tidak memadai. 03. Model elektron bebasa klasik tentang logam mengambil andaian bahwa elektron bebas diperlakukan sebagai gas, yang masing-masing bergerak secara acak dengan kecepatan termal, pengaruh medan potensial ion diabaikan, karena energi kinetik elektron bebas sangat besar, dan lektron hanya bergerak dalam kristal karena adanya penghalang potensial di permukaan batas. Teori ini gagal menerangkan kapasitas panas sumbangan elektron bebas pada suhu tinggi dan Suseptibilitas magnetik. 04. Model elektron bebas yang terkuantisasi menggunakan prinsip kuantisasi energi elektron dan prinsip eksklusi Pauli, pengaruh medan ion positip dapat diabaikan karena energi kinetik elektron bebas sangat besar dan pada permukaan batas antara logam dan vakum yang mengelilinginya terdapat suatu potensial penghalang yang harus diloncati oleh elektron bebas paling energetik pada suhu T=0 K (energi EF) untuk dapat meninggalkan permukaan batas logam. 05. Menurut model elektron bebas yang terkuantisasi, ungkapan kapasitas panas elektron bebas adalah n 2 k 2T yang sesuai dengan hasil eksperimen. 2E F
2 o B 3n

(CV )el

Sedangkan untuk suseptibilitas magnetik diperoleh =

2 E Fo

yang cocok juga

dengan hasil eksperimen. Model ini juga menghasilkan ungkapan konduktivitas listrik yang sama dengan yang diperoleh teori Drude. 06. Hukum Matthiessen membahas resistivitas elektron dalam logam dikarenakan dua hal, yaitu hamburan elektron oleh fonon (bergantung pada suhu) dan oleh ketakmurnian (tidak bergantung pada suhu). Pada suhu sangat rendah, hamburan oleh fonon dapat diabaikan. Sedangkan pada suhu yang cukup besar, hamburan oleh fonon menjadi dominan. 07. Efek Hall dapat dipergunakan untuk menentukan macam rapat pembawa muatan (positip atau negatip), dan rapat elektron konduksi yang berperan dalam proses
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

3 MODEL ELEKTRON BEBAS

96

penghantaran muatan. Eksperimen efek Hall menggunakan sampel yang dialirkan arus dan medan magnet secara tegak lurus. Karena adanya gaya Coulomb dan Lorentz, maka pada keadaan kesetimbangan terjadi beda potensial Hall. 08. Resonansi siklotron digunakan untuk mencari massa efektif elektron. Pada sampel dikenakan sinyal elektromagnet dan medan magnet B, yang saling tegak lurus. Elektron menyerap energi gelombang elektromagnet. Kecepatan absorbsi terbesar terjadi saat frekuensi sinyal benar-benar sama dengan frekuensi siklotron. 09. Pancaran thermionik adalah gejala keluarnya arus elektron dari bahan karena suhu. Kegunaan pancaran thermionik adalah untuk menentukan fungsi kerja logam dan koefisien pantul elektron pada permukaan bahan. 10.Gejala fisis yang diprediksi oleh model elektron bebas, yang menyimpang dari data pengamatan, antara lain konduktivitas listrik yang hanya bergantung pada konsentrasi elektron, koefisien Hall selalu berharga negatip, dan permukaan Fermi mempunyai simetri bola. Penyimpangan ini akan diperbaiki oleh bahasan teori Pita Energi, bab selanjutnya, yaitu manakala potensial inti berpengaruh terhadap perilaku elektron konduksi.

LATIHAN SOAL BAB III


01. Jelaskan perbedaan antara elektron terlokalisasi dan terdelokalisasi dalam padatan! 02. Tembaga memiliki kerapatan massa m=8,95 gr/cm3 dan resistivitas listrik =1,55.10-8 m pada suhu kamar. Jika diasumsikan massa efektif m*=mo, maka hitunglah a. konsentrasi elektron konduksi n! b. waktu bebas rata-rata ! c. energi Fermi EF! d. suhu Fermi TF! e. kecepatan Fermi vF!

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

3 MODEL ELEKTRON BEBAS

97

f. jalan bebas rata-rata pada tingkat Fermi AF! g. persentase elektron yang mengalami eksitasi di atas tingkat Fermi pada suhu kamar! 03. Natrium memiliki koefisien ekspansi volume 15.10-5/K. Hitunglah persentase perubahan energi Fermi EF jika suhu dinaikkan dari 0 K sampai 300 K! 04. Tembaga mempunyai suhu Einstein E=240 K. Dengan menggunakan harga energi Fermi soal 02), hitunglah perbandingan kapasitas panas elektron terhadap kisi pada suhu T=0,3 K, T=4 K, T=20 K, T=77 K dan T=300 K! 05. Anggaplah bahwa energi Fermi EF=5 eV dan tidak bergantung suhu. Berapakah harga energi untuk fungsi Fermi-Dirac f(E)=0,5 , f(E)=0,7 , f(E)=0,9 dan f(E)=0,95 pada suhu kamar! 06.a. Buktikan bahwa kapasitas panas kisi dan elektronik berharga sama pada suhu TC =
3 5 D ! 24 2TF

b. Hitunglah suhu soal a) untuk logam Ag yang mempunyai suhu Debye D=225 K dan suhu Fermi TF=6,4.104 K! c. Tunjukkan bahwa pada suhu T<TC kapasitas panas elektronik lebih besar daripada kapasitas panas kisi; dan sebaliknya pada T>TC! 07. Jika padatan natrium mempunyai energi Fermi EF=3,12 eV, maka berapakah suseptibilitas paramagnet Paulinya? 08. Tembaga mempunyai konstanta Hall RH=-0,55.10-10 Vm3/A. Hitunglah konsentrasi elektronnya! 09. Dalam suatu sampel tembaga didapati kecepatan hanyut elektron 2,16 m/s dalam medan listrik 500 V/m. Hitunglah a. mobilitas elektron! b. waktu relaksasi (anggaplah m*=mo)!

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

3 MODEL ELEKTRON BEBAS

98

10. Resistivitas listrik suatu sampel tembaga adalah 1,77.10-8 m. Tembaga berstruktur FCC dengan sisi kubus 3,61 dan masing-masing atom menyumbangkan satu elektron bebas. Tentukanlah a. waktu relaksasi! b. kecepatan rata-rata elektron dalam medan 100 V/m! 11. Logam emas mempunyai kerapatan massa 19,3.103 kg/m3. Jika masing-masing atomnya menyumbangkan satu elektron untuk menghasilkan arus, maka hitunglah koefisien Hall dalam logam tersebut! 12. Pengamatan resonansi siklotron dalam tembaga terjadi pada frekuensi 24 GHz. Jika untuk tembaga m*=mo, maka hitunglah medan magnet yang digunakan! 13. Sesium mempunyai fungsi kerja 1,8 eV. Hitunglah rapat arus emisi thermionik pada suhu 500 K, 1000 K, 1500 K dan 2000 K! (anggaplah tidak ada elektron yang terpantul di permukaan) 14.a. Buktikan bahwa emisi thermionik mencapai maksimum bila suhu T=e/2k! b. Berapakah suhu soal a) untuk logam Cs dengan fungsi kerja 1,8 eV?

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

B A B IV ELEKTRON DALAM LOGAM II (TEORI PITA ENERGI)


Bahasan gerakan elektron dalam logam dengan menggunakan model elektron bebas, seperti bab sebelumnya, adalah terlalu sederhana karena potensial kristal tidak diperhitungkan. Model elektron bebas tidak bisa menjelaskan beberapa gejala fisis, seperti membedakan antara logam, semilogam, semikonduktor dan isolator; koefisien Hall berharaga positip; hubungan elektron konduksi dalam logam dengan elektron valensi atom bebas; dan berbagai gejala transport. Oleh karena itu, bab ini menelaah pengaruh potensial kristal terhadap elektron dalam padatan. Bagian awal bab ini menyajikan teori pita energi secara agak rinci. Perilaku elektron dalam pengaruh potensial periodik kristal memenuhi teorema Bloch. Bahasan teori ini menunjukkan bahwa spektrum energi merupakan pita kontinu. Hal ini berbeda dengan spektrum energi atom yang bersifat diskrit. Di antara pita energi terdapat celah energi yang merupakan daerah terlarang bagi perilaku gelombang elektron. Disamping itu, teori ini mampu menunjukkan perbedaan antara logam dan isolator. Elektron dalam kristal selalu dalam keadaan bergerak. Berdasarkan ungkapan energi, maka dapat dibahas kecepatan dan massa efektif elektron. Juga, dibahas pengaruh medan listrik pada gerakan elektron sehingga menghasilkan rumusan konduktivitas listrik elektron yang lebih umum. Apabila pengaruh medan potensial kristal terhadap elektron diabaikan, maka rumusan konduktivitas umum ini dapat direduksi menjadi konduktivitas seperti bab yang lalu. Akhirnya, bab ini menyajikan perilaku elektron dalam medan magnet. Bahasan ini mencakup efek Hall dan resonansi siklotron.

4 TEORI PITA ENERGI

99

4.1 TEORI PITA ENERGI UNTUK ZAT PADAT


Apabila deretan ion tersusun teratur dan membentuk kisi kristal, maka energi potensial kristalnya berubah secara periodik sesuai dengan periodisitas kisi tersebut. Dilihat oleh elektron, potensial kristal tersebut seperti disajikan pada Gambar 4.1 berikut.

Gambar 4.1 Potensial sebagai fungsi jarak sepanjang garis inti atom

Elektron yang dapat bergerak bebas di antara ion adalah elektron yang berada di atas potensial penghalang. Teori pita energi zat padat mengajukan model tentang elektron dalam kristal dengan asumsi sebagai berikut.

G a. Terdapat energi potensial V (r ) yang tidak sama dengan nol di dalam kristal

dengan keberkalaan kisi kristal. G b. Fungsi gelombang (r ) dibuat berdasarkan kisi sempurna dan dimana dianggap bahwa kisi tidak bervibrasi secara termal. c. Teori pita energi dikembangkan dari bahasan perilaku elektron tunggal di bawah G pengaruh suatu potensial periodik V (r ) yang merepresentasikan semua interaksi, baik dengan ion kristal maupun dengan sesama elektron lain. d. Bahasan elektron tunggal dapat menggunakan persamaan Schrodinger untuk satu elektron
G G G =2 2 G (r ) + V (r ) (r ) = E (r ) 2mo

(4.1)

dengan ketentuan bahwa pengisian keadaan elektron yang diperoleh menganut distribusi Fermi-Dirac.
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

100

4.1.1 Teorema Bloch


Menurut Bloch, persamaan Schrodinger untuk suatu potensial dengan periodisitas translasi kisi G G G V r + R = V (r ) (4.2) G dimana R adalah vektor kisi, mempunyai solusi berbentuk G G GG k ( r ) = u k ( r ) e ik r (4.3) G dengan u k (r ) merupakan suatu fungsi yang juga mempunyai simetri translasi kisi G G G u k r + R = u k (r ) (4.4)

Fungsi Bloch merupakan gelombang bidang berjalan yang dimodulasi oleh medan potensial periodic, dan ungkapan teorema Bloch, yaitu Fungsi eigen dari persamaan gelombang untuk suatu potensial periodik G G adalah hasilkali antara suatu gelombang bidang berjalan eksp (ik r ) dan G suatu fungsi modulasi u k (r ) dengan periodisitas kisi kristal G Fungsi Bloch (r ) merupakan orbital kristal, yakni bersifat delokalisasi di seluruh
volume kristal. Kemampuan elektron bergerak dalam keseluruhan kristal ditandai G G oleh adanya bentuk gelombang bidang berjalan eksp (ik r ) dalam fungsi Bloch

sehingga seperti partikel bebas. Sedangkan gerakan elektron di sekitar inti G 2 dideskripsikan oleh fungsi periodic. Distribusi probabilitas elektron (r ) bersifat
periodik dalam kristal. Misalnya, kisi kristal satu dimensi dalam arah-X dengan perioda a, maka dapatlah dikemukakan beberapa hal sebagai berikut. a. Mengingat V(x+a)=V(x), maka disamping (x), juga (x+a) merupakan solusi persamaan Schrodinger dengan energi E. Apabila tidak ada degenerasi, maka terdapat hubungan
2 n , n = 0,1,2,3,... dimana Na N = titik kisi identik k=
Fisika Zat Padat

(x+a) = e

ika

(x)

(4.5)

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

101

b. Mengingat V(x) riil, maka V*(x)=V(x). Karenanya setiap E senantiasa ada dua fungsi gelombang yang memenuhi persamaan Schrodinger, yaitu *(x) dan (x);
G c. Mengingat hubungan antara vektor kisi resiprok G dan periodisitas kisi a adalah

dan E(k)=E(-k).

G a = m 2

m = 0, 1, 2,

maka suatu keadaan elektron dengan vektor gelombang G memenuhi (4.6) G G G Sedangkan suatu keadaan elektron dengan vektor gelombang k ' = G + k memenuhi

G(x+a) = G(x)

k ' ( x + a ) = e ika k ' ( x)

(4.7)

Hal ini berarti k ' ( x) memenuhi teorema Bloch seolah-olah dengan vektor gelombang k. Dengan demikian suatu keadaan elektron tertentu mempunyai vektor gelombang tidak unik. Mengingat hubungan

k'= G + k =

2 m+k a

maka kita bataskan saja daerah k . Ternyata semua harga k yang a a

lain dapat dikembalikan ke dalam daerah tersebut, sehingga daerah ini disebur
Zona Brillouin Pertama.

4.1.2 Model Kronig-Penney


Model Kronig-Penney menelaah gerak elektron dalam suatu potensial persegi periodik, seperti Gambar 4.2 berikut. V(x) Vo ion

-b

a+b

2a+b 2a+2b

Gambar 4.2 Potensial persegi periodik yang dikenalkan Kronig-Penney


Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

102

Terlihat bahwa perioda potensial sebesar (a+b) dan


0 , untuk 0 < x < a V = V0 , untuk b < x < 0

Oleh karena itu persamaan Schrodinger yang sesuai


=2 d 2 ( x) = E ( x) , untuk 0 < x < a 2m0 dx 2

(4.8) (4.9)

=2 d 2 ( x) + Vo ( x) = E ( x) , untuk b < x < 0 2m0 dx 2

Jika kita bataskan E<Vo dan dua besaran riil

2 = 2 =

2mo E =2 2mo (Vo E ) =2

(4.10) (4.11)

maka solusi persamaan di atas adalah untuk 0<x<a, untuk b<x<0,

= Ae ix + Be ix = Ce x + De x

(4.12) (4.13)

Solusi sempurna, yakni yang memenuhi fungsi Bloch (4.3), didapatkan dengan merelasikan solusi untuk a<x<(a+b) dan b<x<0 dengan teorema Bloch
(a<x<(a+b)) = (-b<x<0) eik(a+b)

(4.14)

Tetapan A, B, C dan D dipilih sedemikian sehingga dan d/dt kontinu di x=0 dan x=a. Syarat batas di x=0 menghasilkan A+B=C+D i (A B) = (C D) dan syarat batas di x=a menghasilkan A eia + B e-ia = (C e-b + D eb) eik(a+b) i (A eia - B e-ia = (C e-b - D eb) eik(a+b) (4.17) (4.18) (4.15) (4.16)

Perangkat empat persamaan (4.15) sampai (4.18) di atas memberikan solusi hanya jika determinan dari koefisien A, B, C dan D sama dengan nol. Hal ini menghasilkan

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

103

2 2 sinh ( b )sin ( a ) + cosh ( b ) cos( a ) = cos k (a + b ) 2

(4.19a)

Hasil di atas menjadi lebih sederhana apabila potensial periodik merupakan fungsi delta Dirac, yakni Vo dan b0, tetapi Vobberhingga. Dalam kasus ini >> dan b<<1 sehingga persamaan (4.19a) di atas menjadi
moVo b 2 sin ( a ) + cos( a ) = cos ka = m V b Apabila dibataskan P = o 2o , maka persamaan (4.19b) menjadi = P sin ( a ) + cos( a ) = cos ka a (4.19c)

(4.19b)

Secara grafik, untuk P=3/2 persamaan ini dapat digambarkan dalam sketsa berikut.

Gambar 4.3 Sketsa fungsi

P sin ( a ) + cos( a ) = cos ka untuk P=3/2 a

= daerah a yang meberikan solusi persamaan Schrodinger

Tampak

bahwa
1/ 2

nilai

energi

yang

diperkenankan,

dalam

ungkapan

a=

2mo E 2 =

a , untuk fungsi (4.19c) di atas, terletak antara 1. Sedangkan

daerah lain, yang tidak mengandung solusi, merupakan harga energi yang terlarang.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

104

Secara singkat dari gambar di atas dapatlah dikemukakan hal-hal berikut. a. Spektrum energi elektron terdiri dari beberapa pita energi (daerah energi) yang diperkenankan dan beberapa yang terlarang. b. Lebar pita energi yang diperkenankan bertambah lebar dengan meningkatnya harga a, atau dengan energi elektron yang meningkat. c. Lebar pita energi tertentu yang diperkenankan mengecil apabila P bertambah, artinya mengecil bila energi ikatan makin naik. Apabila P, maka persamaan (4.19c) mempunyai solusi hanya bila Sin a = 0 a = n , dengan n = 1, 2, 3, Oleh karena itu berdasarkan persamaan (4.10) diperoleh harga energi E=

= 2 2 2= 2 2 = n 2mo 2mo a 2

(4.20)

Ungkapan (4.20) ini sama dengan energi elektron dalam kotak potensial. Energi elektron bersifat diskrit. Apabila P0, maka persamaan (4.19c) haruslah memenuhi Cos a = cos (ka) =k sehingga berdasarkan persamaan (4.10) diperoleh harga energi

=2k 2 E= 2mo
kontinu. d. Ketidaksinambungan dalam lengkung E=E(k) terjadi pada harga cos (ka) = 1 atau k= n/a, dengan n = 1, 2, 3,

(4.21)

Ungkapan (4.21) ini sama dengan energi elektron bebas. Energi elektron bersifat

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

105

Berikut disajikan gambar sketsa energi E untuk berbagai harga P. a. P = 0 (elektron bebas) V(x) E(k)

b. 0<P< (elektron dalam potensial berkala) V(x) Vo E(k)

x c. P= (elektron terikat) V(x)

k -3/a -2/a -/a 0 /a 2/a 3/a

E3 E2 x E1

Gambar 4.4 Sketsa energi E terhadap berbagai harga P

Dapatlah disimpulkan bahwa pola harga energi elektron untuk sistem potensial berkala adalah keadaan antara model elektron bebas dan kotak potensial.

4.1.3 Pita Energi dan Energi Elektron dalam Atom


Dalam suatu susunan atom terisolasi, kumpulan atom di dalamnya mempunyai jarak antaratom yang tidak berhingga besarnya. Energi elektron dalam
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

106

setiap atom bersifat diskrit, dan sesungguhnya atom dalam keseluruhannya bukanlah merupakan suatu sistem fisis. Tingkat energi atom yang diskrit tersebut dinamakan tingkat 1s, 2s, 2p dan seterusnya. Setiap atom merupakan sistem tersendiri, tanpa interaksi dengan atom lain. Atom yang terisolasi ini, masing-masing memiliki banyak keadaan elektron yang sama energinya. Apabila kemudian jarak antaratom berkurang, maka mulai terjadi interaksi antaratom dan fungsi gelombang elektron mulai saling bertindihan. Interaksi tersebut menyebabkan harga energinya berubah. Secara keseluruhan atom tersusun menjadi satu sistem fisis dan harus mengikuti kaidah yang menyangkut sistem fisis. Misalnya, prinsip Pauli yang melarang dua elektron atau lebih mempunyai harga energi yang tepat sama. Oleh karena itu terjadi pelebaran dari harga diskrit energi elektron (atom terisolasi) menjadi harga pita energi elektron. Berdasarkan prinsip larangan, tiap tingkat energi tersedia bagi dua elektron dengan spin berlawanan. Oleh karena itu pita energi suatu zat padat yang terdiri dari N atom akan tersedia N tingkat energi atau paling banyak boleh berisikan 2N elektron. Karena N besar sekali, yakni 1023, maka tingkat-tingkat energi tersebut saling merapat satu sama lain membentuk pita energi. Pita energi terdiri dari kumpulan tingkat energi yang memiliki jarak antartingkat berdekatan sangat kecil sehingga distribusinya kontinu. Misalnya, lebar pita energi 5 eV memiliki jarak antartingkat berdekatan 5.10-23 eV. Jadi pada suatu kristal terdapat banyak pita energi yang masing-masing sesuai dengan tingkat energi atom penyusun kisi tersebut. Misalnya, tingkat energi 1s, 2s, dan 2p masing-masing menimbulkan pita 1s, 2s, dan 2p. Perhatikanlah contoh kristal Lithium dalam gambar berikut. Setiap atom Li mengandung tiga elektron, yaitu 2 elektron mengisi sel 2s dan 1 elektron dalam sel 2s (tidak penuh). Pita 2s dan 2p masing-masing mempunyai kapasitas 2N dan 6N elektron. Terlihat bahwa lebar pita bertambah saat konstanta kisi mengecil. Juga, untuk a<6ao (dimana ao adalah radius Bohr seharga 0,53 ) pelebaran pita 2s dan 2p mulai overlap, dan celah antara keduanya melenyap sehingga terbentuk pita tunggal dengan kapasitas 8N. Tetapi pita tunggal ini hanya berisikan N elektron yang berasal
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

107

dari pita 2s saja, atau hanya seperdelapan dari kapasitasnya. Karena pita valensinya hanya terisi sebagian, maka kristal Li termasuk kelompok logam.

Gambar 4.5 Pelebaran tingkat energi 2s dan 2p menjadi pita energi dalam kristal

Pita-pita energi memang berkecenderungan overlap satu sama lain. Selain pita 2s dan 2p seperti di atas, pita yang berkecenderungan overlap adalah 3s dan 3p yang berkapasitas 8N; 4s, 3d dan 4p yang berkapasitas 18N; 5s, 4d dan 5p yang berkapasitas 18N; 6s, 4f, 5d dan 6p yang berkapasitas 32N; serta 7s, 5f, 6d dan7p yang berkapasitas 32N. Sebagai contoh berikut disajikan unsur wolfram (W). Dalam sistem periodik unsur W termasuk golongan VIA dan memiliki nomor atom 74 dengan konfigurasi elektron [Xe]4f145d46s2. Hal ini berarti semua elektron sudah memiliki spin yang sudah berpasang-pasangan sehingga tidak ada yang menjadi elektron bebas. Tetapi, faktanya tidak demikian. Wolfram termasuk konduktor yang baik. Ternyata, antara satu pita energi dengan yang lain dimungkinkan terjadi tumpang-tindih. Untuk konduktor W tersebut, tumpang tindih terluar terjadi pada pita energi 6s, 4f, 5d dan 6p yang secara total memerlukan 32 elektron. Sedangkan, di luar sel [Xe], wolfram hanya memiliki 20 elektron. Hal ini berarti masih terdapat 12 tempat kosong elektron, yang bisa berperan sebagai hole. Meskipun pada dasarnya bentuk solusi fungsi gelombang menuruti teorema Bloch, namun dalam memecahkan persamaan Schrodinger, dengan pendekatan

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

108

tentang model potensial berkala, memberikan berbagai metode, antara lain sebagai berikut. a. Metode LCAO (linear combination of atomic orbitals), dimana spektrum energi elektron dalam zat padat diperoleh dengan mengandaikan adanya sedikit tumpang-tindih dari potensial atom yang terpisah. Potensial atom yang begitu kuat menyebabkan elektron hanya bergerak di sekitar atom yang bersangkutan. Model ini merupakan pendekatan kasar terhadap pita sebelah dalam, yaitu pita 3d logam transisi. b. Model elektron hampir bebas, dimana diandaikan bahwa potensial berkala agak rendah; atau dimana tumpang-tindih dari potensial atom sangat besar. Karena potensial begitu lemah, maka elektron berperilaku seperti elektron bebas dan model ini dibahas dengan metode perturbasi. Model ini merupakan pendekatan kasar terhadap pita valensi logam sederhana, seperti Na, K, Al dan lain-lain. c. Metode sel (cellular method) yang dikembangkan oleh Wigner-Seitz. Dalam buku ini hanya akan disajikan metode LCAO saja.

4.1.4 Refleksi Bragg dan Celah Energi


Bahasan moda getar kisi kristal linier diatomik yang lalu menunjukkan bahwa pada batas zona (k=/2a) besar kecepatan kelompok vg=0, baik pada cabang akustik maupun optik, sehingga pada titik ini terjadi gelombang tegak. Kondisi ini menimbulkan refleksi Bragg. Gerakan elektron dalam potensial berkala model Kronig-Penney menunjukkan bahwa celah energi terjadi pada harga k=n/a, dimana n=1, 2, Pada harga batas inipun, fungsi Bloch merupakan gelombang tegak. Gerakan elektron dalam kisi dapat dianalogikan dengan propagasi gelombang elektromagnet G G dalam kristal. Jika k dan k ' , masing-masing adalah merupakan vektor gelombang G asal dan terhambur, dan G adalah vektor kisi resiprok, maka syarat difraksi Bragg harus memenuhi (1.37), yaitu G G G k ' = Ghkl + k

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

109

G G Karena k ' = k , maka syarat Bragg menjadi


G G G G G G + 2k G = 0

Untuk kristal monoatomik linier dengan jarak antaratom a, hal ini menjadi

k =

G = a 2

(4.22)

Pada saat kondisi (4.22) terpenuhi, gelombang yang merambat ke kanan mengalami refleksi Bragg ke kiri, dan sebaliknya. Oleh karena itu terjadilah gelombang yang tidak merambat ke kanan maupun ke kiri. Gelombang ini disebut gelombang tegak. Dalam hal ini ungkapan gelombang tegak dapat berbentuk
i x x i x a genap ( x) = u genap ( x)e + e a = 2u genap ( x) cos a

(4.23)

Rapat muatan listriknya e genap ( x) = e 2u genap ( x) cos 2


2

x
a

yang berharga maksimum pada setiap saat x=am, dimana m adalah bilangan bulat; jadi pada setiap lokasi atom dalam kristal. Disamping itu, gelombang tegak termaksud di atas dapat pula disusun dari dua fungsi ganjil

ganjil ( x) = u ganjil ( x)e


Rapat muatan listriknya

i x a

i x a

x = 2iu ganjil ( x) sin a

(4.24)

e ganjil ( x) = e 2iu ganjil ( x) sin 2

x
a

yang berharga nol pada setiap lokasi atom dalam kristal linier. Oleh karena itu elektron dengan harga k=/a dapat direpresentasikan sebagai a. fungsi gelombang yang selama sebagian besar dari waktunya berada di dekat inti atom (x=ma), atau b. fungsi gelombang yang selama sebagian besar dari waktunya berada dalam ruang di antara inti atom (jauh dari inti atom).

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

110

Dari Gambar 4.1 dan 4.2 terlihat bahwa energi potensial elektron di dekat inti atom lebih rendah daripada di dalam ruang antara inti atom. Oleh karena itu energi yang diperlukan untuk elektron yang direpresentasikan oleh genap(x) lebih rendah daripada untuk elektron yang direpresentasikan oleh ganjil(x). Beda energi elektron antara keduanya pada batas k==/a ini merupakan celah energi.

4.1.5 Logam, Isolator dan Semikonduktor


Daerah energi yang diperkenankan sesungguhnya merupakan keadaan elektron yang tersedia bagi elektron dalam kristal. Terisi atau tidak terisi keadaan elektron tersebut oleh elektron masih bergantung pada jumlah dan statistika elektron dalam kristal. Ada dua hal, dimana medan listrik luar tidak menghasilkan arus elektron dalam kristal, yaitu a. pita energi yang diperkenankan sama sekali tidak dihuni elektron, dan b. pita energi yang diperkenankan terisi penuh oleh elektron, atau semua keadaan elektron terisi penuh oleh elektron. Hal pertama mudah dipahami, yakni karena tidak ada elektron dalam pita energi, G maka arus elektronpun sama dengan nol. Hal kedua, misalnya kuat medan listrik G berpengaruh pada distribusi kecepatan elektron v . Andaikanlah kecepatan masingG masing elektron adalah vi , maka kecepatan rata-rata untuk elektron dengan kerapatan no pada volume kristal V adalah v= 1 noV

v
i

(4.25)

Penjumlahan dilakukan terhadap semua elektron dalam pita yang ditinjau. Rapat arus elektron yang terjadi J = no ev = e V

v
i

(4.26)

Misalnya, pita yang ditinjau seperti Gambar 4.6 berikut.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

111

E(k)

-/a

/a

Gambar 4.6 Pita energi yang diperkenankan

Dalam hubungannya dengan frekuensi radial , energi elektron dapat dinyatakan E== sehingga kecepatan kelompok vg dapat dinyatakan vg = d 1 dE = dk = dk (4.28) (4.27)

Pada gambar di atas, vg sama dengan kemiringan fungsi E=E(k). Sedangkan fungsi E=E(k) simetri terhadap sumbu k=0. Pada harga k=-k, kecepatan elektron sama besar, tetapi berlawanan tanda, sehingga vi=0. Dengan demikian, jelaslah bahwa rapat arus sama dengan nol untuk suatu pita energi yang kosong (elektron) atau pita energi yang penuh. Hanya pita energi yang terisi sebagian (atau yang kosong sebagian) dapat memberikan sumbangan pada arus listrik. Misalnya, sebuah elektron A berada dalam suatu pita energi yang kosong, seperti Gambar 4.7 berikut.

E(k) A A -/a 0 /a k A

Gambar 4.7 Sebuah elektron dalam suatu pita energi kosong

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

112

Posisi setimbang elektron berada pada kedudukan paling rendah. Medan listrik menyebabkan gaya sebesar -e bekerja pada elektron, dan menggerakkannya secara terus-menerus ke arah keadaan elektron dengan momentum linier (negatip) yang makin besar sampai akhirnya mencapai titik A pada posisi k=-/a. Pada titik ini terjadi refleksi Bragg, dan elektron muncul di titik A pada posisi k=+/a; dan kemudian menempuh lagi siklus yang sama. Proses pengulangan ini disebut osilasi Zener. Adanya ketidaksempurnaan kisi menyebabkan hamburan terjadi sebelum osilasi Zener sempat muncul. Misalnya, dalam pita yang ditinjau terdapat keadaan elektron total sebanyak

A, yang terisi elektron sebanyak i, dan yang kosong sebanyak s. Jika masing-masing
dianggap mempunyai distribusi kecepatan, maka

v = v + v
A

(4.29)

karena

v
A

=0 , yakni semua keadaan elektron dianggap terisi penuh eleh elektron,

maka rapat arus elektron dapat dinyatakan seperti halnya persamaan (4.26), yakni J = e V

v
i

(4.30)

dan dapat juga ditulis dalam bentuk J =+ e V

v
s

(4.31)

ungkapan rapat arus (4.30) menunjukkan bahwa pembawa muatannya adalah elektron yang bermuatan e. Umumnya, ungkapan ini digunakan bila keadaan elektron di pita energi yang diperkenankan hanya terisi elektron sedikit saja, seperti Gambar 4.8 berikut.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

113

E(k)

-/a

/a

Gambar 4.8 Pita energi yang diperkenankan dengan sedikit elektron di dalamnya

Ungkapan rapat arus (4.31) menunjukkan bahwa pembawa muatannya mempunyai muatan +e (sering disebut hole) dan menempati keadaan elektron yang kosong. Umumnya, ungkapan ini digunakan bila pita energinya hampir penuh elektron. Hole menempati pita energi bagian atas, seperti Gambar 4.9 berikut. E(k)

-/a

/a

Gambar 4.9 Pita energi yang diperkenankan dengan hole pada bagian atasnya

Berdasarkan uraian tentang pengisian keadaan elektron dalam pita energi yang diperkenankan seperti di atas, dapatlah dibedakan antara konduktor, isolator, semikonduktor dan semilogam.
Isolator. Semua energi terisi penuh oleh elektron atau sama sekali kosong, sehingga

tidak dapat terjadi konduksi listrik. Pita energi tertinggi yang terisi penuh elektron disebut pita valensi. Celah energi E cukup besar, sehingga elektron dari pita energi

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

114

EF

Gambar 4.10 Pengisian elektron dalam pita energi bahan isolator : pita energi terisi elektron : pita energi kosong

yang penuh tidak dapat melompat (karena energi termal) ke pita energi yang kosong. Tingkat energi Fermi EF melalui daerah energi yang kosong. Contoh isolator adalah intan (karbon) yang memiliki celah energi 6 eV. Hal ini dijelaskan oleh Gambar 4.10 di atas.
Konduktor. Tingkat energi Fermi EF melewati pita energi yang diperkenankan,

sehingga pita tersebut setengahnya (atau sebagiannya) terisi oleh elektron. Pita energi tertinggi yang terisi elektron sebagian disebut pita konduksi. Ada sebagian elektron di atas EF (apabila T>0 K), tetapi masih berada dalam daerah pita energi yang sama, dengan meninggalkan keadaan elektron kosong (hole) di bawah EF. Konduksi listrik terutama terjadi aliran elektron. Contoh konduktor adalah logam alkali (Li, K dan lain-lain) dan logam mulia (Cu, Ag, Au dan lain-lain). Hal ini dijelaskan dalam Gambar 4.11 berikut.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

115

EF

Gambar 4.11 Pengisian elektron dalam pita energi bahan konduktor : hole : elektron yang melompati EF

Semikonduktor. Tingkat energi Fermi EF melewati daerah harga energi terlarang,

sehingga pada T=0 K hanya ada pita yang sama sekali penuh, dan di atasnya pita energi yang kosong sama sekali. Celah energi E tidak tinggi, sehingga pada T>0 K sebagian elektron dapat melompatinya, dan berpindah ke pita konduksi yang masih kosong. Sementara tempat yang ditinggalkan elektron menjadi hole dalam pita valensi. Dengan demikian, pembawa muatannya adalah elektron dan hole. Makin tinggi suhu, makin banyak elektron yang melampaui E sehingga konduktivitas zat makin meningkat. Contoh semikonduktor adalah Si dan Ge, dengan celah energi masing-masing 1,1 eV dan 0,7 eV. Umumnya, pada suhu kamar celah energi semikonduktor kurang dari 2 eV. Sketsa pengisian elektron dalam pita energi ditunjukkan dalam Gambar 4.12 berikut.

EF

Gambar 4.12 Pengisian elektron dalam pita energi bahan semikonduktor

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

116

Semilogam. Celah energi lenyap seluruhnya, atau bahkan kedua pita energi terjadi

overlap tipis. Contoh semilogam adalag Bi, As, Sb dan Sn putih.

4.1.6 Metode LCAO


Dalam menghitung tingkat energi elektron dalam kristal, metode LCAO menganggap bahwa elektron terikat kuat pada atom. Metode LCAO termasuk pendekatan ikatan kuat (tight binding approximation). Energi potensial elektron merupakan bagian yang dominan dari energi totalnya, sedangkan harga energi elektron yang diperkenankan merupakan pita sempit bila dibandingkan dengan daerah harga yang tidak diperkenankan. Fungsi gelombang elektron didasarkan pada fungsi gelombang elektron dalam atom yang terisolasi, dan disusun dari fungsi gelombang elektron termaksud. Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan elektron bebas. Misalnya, orbital masing-masing atom adalah o. Bila sejumlah atom tersusun menjadi susunan kristal dengan potensial periodik, tetapi sedemikian rupa sehingga o tidak terlalu banyak dipengaruhinya, maka fungsi gelombang elektron di dalam kristal secara keseluruhan dapat ditulis sebagai kombinasi linier dari seluruh fungsi gelombang atom dalam kristal G G G G G k (r ) = e ik rn o (r rn )
n

(4.32)

G Penjumlahan dilakukan atas semua posisi atom rn dalam kristal. Bila potensial G G G periodik kristal V (r ) dan potensial atom terisolasi di r=rn adalah Vo (r rn ) , maka
persamaan Schrodinger dapat ditulis G G H k (r ) = E k (r ) dengan Hamiltonian H =

(4.33)

G =2 2 + V (r ) 2mo
(4.34)

=2 2 G G G G G = + Vo (r rn ) + { V (r ) Vo (r rn )} 2mo = Ho + H'
Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

117

dengan demikian Ho adalah Hamiltonian untuk sebuah atom terisolasi di r=rn, dan H untuk semua atom lainnya. Harga ekspektasi energi diperoleh dari E =

G 1 * G k (r ) E k (r )d N G G 1 1 * G * G = k (r ) H o k (r )d + k (r ) H ' k (r )d N N

(4.35)

Integral pertama dalam (4.35) adalah energi sebuah atom terisolasi Eo. Untuk menghitung integral kedua, permasalahannya disederhanakan, yakni hanya meperhitungkan interaksi antartetangga terdekat atom saja. Oleh karena itu integral kedua dapat dipecah menjadi dua bagian, yakni yang hanya meliputi n=m saja dan yang hanya meliputi interaksi antartetangga terdekat saja dengan indek j.
G 1 * G k (r ) H ' k (r )d N G G G G G G 1 * G = e ik ( rn rm ) o (r rm ) H ' o (r rn )d N n m G G G G G G G G G 1 ik ( r r ) * G * G = o (r rn ) H ' o (r rn )d + e n j o (r r j ) H ' o (r rn )d N n j G G G G G G G G G G ik ( r r ) * * G o (r rn ) H ' o (r rn )d + e n j o (r r j ) H ' o (r rn )d
j

e
j

G G G ik ( rn r j )

dengan batasan bahwa integral Coulomb G G G * G o (r rn ) H ' o (r rn )d = dan integral overlap G G G * G o (r r j ) H ' o (r rn )d =

(4.36)

(4.37)

Dengan demikian energi elektron (4.35) dalam kristal di atas dapat ditulis E = Eo dengan

e
j

G G G ik ( rn r j )

(4.38)

G r j = kedudukan atom di sekitar atom rn dan = besaran positip, karena H negatip

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

118

Ungkapan energi (4.38) mengasumsikan bahwa orbital atom o mempunyai simetri bola sehingga faktor overlap berharga sama untuk semua pasangan tetangga terdekat. Dalam kisi kubik sederhana dengan rusuk a, setiap titik kisi mempunyai 6 tetangga terdekat, sehingga G G , a y , a z (rn r j ) = a x Oleh karena itu pita energinya E(k) = Eo - - 2 (cos kxa + cos kya + cos kza) Persamaan (4.39a) dapat juga ditulis dalam bentuk E(k) = Ev + 4 [sin2 (kxa/2) + sin2 (kya/2) + sin2 (kza/2)] dimana Ev=Eo--2 merupakan energi dasar pita. Dari ungkapan pita energi (4.39) ini dapatlah dikemukakan hal-hal berikut. a. E(k) periodik terhadap k b. E(k) = E(-k) c. E(k)max = Eo - + 6 dan E(k)min = Eo - - 6 E(k)max dan E(k)min, masing-masing adalah harga energi elektron pada puncak dan dasar pita energi. Beda antara keduanya merupakan pita energi, yang besarnya sebanding dengan integral overlap. Rentang energi dalam pita energi ini berperan sebagai energi kinetik elektron, sehingga elektron mampu bergerak ke bagian seluruh kristal. G d. Untuk harga k sangat kecil, yakni di dekat dasar pita energi elektron menjadi E(k) Eo - - 6 + a2 k2 bebas. Gambar 4.13 berikut menyajikan kurva dispersi sepanjang arah [100] dan [111]. (4.40) (4.39b) (4.39a)

Terlihat bahwa harga energi ini sama dengan hubungan dispersi untuk elektron

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

119

Gambar 4.13. Kurva dispersi sepanjang arah [100] dan [111] untuk kisi kubik sederhana dalam model ikatan kuat

Model ikatan kuat di atas memperlihatkan bahwa setiap tingkatan energi atomik meluas menjadi sebuah pita energi sebagai akibat adanya interaksi antaratom dalam padatan. Setiap pita energi menggambarkan karakter tingkatan energi atom mula-mula. Energi tetap elektron dalam kisi kubik sederhana di atas dapat dibuat konturnya. Untuk ka<<1, energi tersebut, yakni persamaan (4.40) dapat dinyatakan sebagai
2 k x2 + k y + k z2 =

E (k ) Eo 6 = tetap a2 a2

yang merupakan persamaan bola dalam ruang k. Sedangkan energi maksimum terjadi apabila cos kxa = cos kya = cos kza = -1 kx = ky = kz = /a Titik ini merupakan titik ujung Zona Brillouin Pertama. Bila dilihat dari titik ujung (dekat E(k)max) dengan melakukan transformasi dari k ke k=(/a)-k, maka dengan menggunakan persamaan (4.39b) didapatkan E(k) Emaks = - a2 (k)2, yakni bentuk permukaan energi tetap juga merupakan bola dengan ujung Zona Brillouin tersebut sebagai pusatnya. Dalam bidang kz=0, kontur energi elektron dalam kisi kubik sederhana ditunjukkan oleh Gambar 4.14 berikut.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

120

Gambar 4.14 Kontur energi kisi kubik sederhana dalam model ikatan kuat

4.2 DINAMIKA ELEKRON DALAM KRISTAL 4.2.1 Kecepatan Kelompok dan Massa Efektif Elektron dalam Kristal
Gerak elektron dalam kristal dapat divisualisasikan sebagai suatu paket gelombang yang merupakan superposisi gelombang dari berbagai frekuensi . Paket gelombang ini mempunyai kecepatan kelompok sama seperti persamaan (4.28) yang secara vektor dinyatakan oleh G G v g = k (k ) Karena energi elektron E==, maka G G 1 v g = k E (k ) = kubik sederhana, sehingga energi (3.39) dapat dinyatakan E(kx) = Eo 2 cos kxa dengan Eo adalah konstanta. Kecepatan kelompok dalam arah-X
(v g ) x = 1 E (k x ) 2 a = sin k x a = k x =

(4.41a)

(4.41b)

Simak kembali elektron yang hanya bergerak dalam arah sumbu-X dalam kisi (4.42)

(4.43)

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

121

Sketsa E(kx) dan (vg)x dalam (4.42) dan (4.43) di atas disajikan pada Gambar 4.15 berikut.

Gambar 4.15 a. Struktur pita energi kisi kubik sederhana arah-X b. Kecepatan elektron dalam pita energi yang bersangkutan. Garis putus-putus menunjukkan kecepatan elektron bebas

Terlihat bahwa di dekat pusat zona kecepatan elektron sebanding dengan vektor gelombang. Di daerah ini elektron berperilaku seperti elektron bebas. Di dekat batas zona, kecepatan elektron menurun drastis, dan akhirnya nol tepat pada batas zona. Di titik ini terjadi gelombang tegak. Disamping itu, telah dijelaskan bahwa untuk pita energi yang terisi penuh elektron tidak dapat menunjukkan arus listrik. Hal ini terlihat pada gambar di atas bahwa G G G G v ( k ) = v ( k ) sehingga kecepatan total elektron sama dengan nol. Ungkapan (4.41b) menunjukkan bahwa kecepatan kelompok sebanding dengan gradien energi. Hal ini berarti gerak elektron sangat ditentukan oleh permukaan energi tetap. Apabila permukaan energi tetap tersebut berupa permukaan G bola (daerah dekat pusat zona), maka arah v g adalah radial. Di dekat batas zona, G kontur energi mengalami distorsi (dari permukaan bola) sehingga v g tidak radial. Hal ini ditunjukkan oleh Gambar 4.16 berikut.
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

122

Gambar 4.16 Kecepatan elektron dan perubahan bentuk permukaan Fermi saat konsentrasi elektron valensi atau konduksi meningkat

Bentuk permukaan Fermi ditentukan oleh geometri kontur energi dalam pita energi karena sesungguhnya permukaan Fermi itu sendiri adalah sebuah kontur energi dengan E(k)=EF pada T=0 K. Gambar 4.16 di atas juga menunjukkan perubahan bentuk permukaan Fermi saat konsentrasi elektron valensi n meningkat. Populasi n kecil hanya mengisi daerah dekat dasar pita pada pusat zona sehingga volumenya berbentuk bola yang dibatasi oleh permukaan bola Fermi. Saat n naik, volume Fermi mengembang, dan kontur energi mulai terdistorsi. Distorsi menjadi besar saat permukaan Fermi memotong garis batas zona. Perubahan kecepatan kelompok terhadap waktu t adalah G G dv g 1 d = k E (k ) = dt dt G Untuk suatu vektor A tertentu berlaku G G G dk dA = ( k A) dt dt

(4.44a)

Oleh karena itu G G dv g 1 dk = k ( k E ) (4.44b) dt = dt G Gaya luar F pada elektron menyebabkan perubahan momentum G G dk (4.45) F == dt G Substitusi dk / dt dari (4.45) ke dalam (4.44b) menghasilkan ungkapan percepatan

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

123

G G G dv g 1 = 2 k ( k E ) F a= dt = Dalam koordinat Kartesis, ungkapan percepatan (4.46a) ini berbentuk


ai = 1 2E Fj = 2 k i k j dengan i, j = x, y, z

(4.46a)

(4.46b)

Hubungan ini analogi dengan hukum II Newton, sehingga massa efektif m* didefinisikan sebagai 1 1 = 2 k ( k E ) m* = atau dalam koordinat Kartesis
1 2E 1 = 2 m * ij = k i k j (4.47b)

(4.47a)

Dari hubungan (4.47) di atas terlihat bahwa massa efektif adalah tensor rank-dua dan simetrik 1 1 = m * ij m * ji (4.48)

Massa efektif elektron m* tidak perlu sama dengan massa sesungguhnya mo. Hal ini disebabkan oleh adanya dua gaya yang bekerja sekaligus pada elektron, yakni gaya medan kristal (dalam penetapan E(k)) dan gaya luar F. Elektron bebas dalam ruang mempunyai energi kinetik sama seperti persamaan (3.24) , yang dapat dituliskan G =2 2 E (k ) = (k x2 + k y + k z2 ) 2mo Menurut teori di atas diperoleh 1 2E 1 1 = = 2 m * xx = k x k x mo 1 2E 1 dan =0 = 2 m * xy = k x k y (4.49)

Simetri ruang dimana elektron berada menyebabkan indek xx=yy=zz dan xy=yz=zx=yx=xz=zy, sehingga

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

124

0 0 1 / m o 1 1 / mo 0 = 0 m * xx 0 1 / mo 0

(4.50)

Persamaan Newton yang dapat disusun


ax 1 0 0 Fx 1 ay = 0 1 0 Fy a mo 0 0 1 F z z

(4.51)

G G 1 G F . Artinya arah percepatan a sesuai dengan merupakan hubungan vektor a = mo G arah gaya F . Jelas bahwa untuk elektron bebas berlaku m*=mo, karena tidak ada
gaya kisi yang bekerja pada elektron.

G Untuk gerak elektron dalam suatu kristal kubik sederhana, khususnya bila k
sangat kecil terhadap 1/a, maka persamaan (4.40) dapat dituliskan
2 E (k ) = E o 6 + a 2 (k x2 + k y + k z2 )

(4.52)

Dengan cara yang sama hasilnya terlihat bahwa tensor (1/m*) tidak nol hanya untuk elemen diagonalnya, yakni masing-masing besarnya 2 a 2 =2 Oleh karena itu massa efektifnya isotropik, dan dapat direpresentasikan dengan skalar
m* =
=2 1 2a 2

(4.53)

Terlihat bahwa dalam daerah ini elektron berperilaku seperti elektron bebas dengan massa efektif yang berbanding terbalik dengan integral overlap . Makin besar overlap, makin mudah elektron menerobos dari satu atom ke atom yang lain sehingga (massa) inersia elektron lebih kecil, dan sebaliknya. Dalam model ikatan kuat ini overlap kecil sehingga massa efektif besar. Di dekat puncak pita elektron memperlihatkan perilaku yang lain. Misalnya, elektron dalam kisi kubik sederhana satu dimensi dalam arah-X. Jika didefinisikan
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

125

kx=(/a)-kx dan energi kinetik E(kx) persamaan (4.42) dideretkan dekat titik maksimum, maka didapatkan E(kx) = Ex,max a2 (k)2 negatip
=2 1 m* = 2 2a

(4.54)

Jadi elektron berperilaku seperti partikel bebas yang mempunyai massa efektif

(4.55)

Gambar 4.17 berikut menyajikan struktur pita dan massa efektif dalam kisi kubik sederhana satu dimensi arah-X

Gambar 4.17 a. Struktur pita, dan b. Masa efektif elektron sebagai fungsi kx dalam kisi kubik sederhana

Massa efektip negatip di daerah yang lebih besar dari titik perubahan kc, menandakan adanya percepatan negatip elektron karena menurunnya kecepatan. Di daerah ini kisi mengenakan gaya pemerlambat yang sangat besar pada elektron.

4.2.2 Pengaruh Medan Listrik pada Kecepatan Elektron dalam Kristal


Pengaruh gaya luar F terhadap momentum elektron dalam kristal diungkapkan oleh persamaan (4.45), yakni

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

126

G Hal ini berarti vektor gelombang k terus meningkat terhadap naiknya waktu t,

G G dk = =F dt

(4.56)

seperti ditunjukkan dalam Gambar 4.18 berikut. kx /a 0 -/a


Gambar 4.18 Vektor gelombang elektron Bloch sebagai fungsi waktu saat dikenai gaya luar F (satu dimensi)

Terlihat bahwa karena pengaruh Fx, momen kristal kx senantiasa meningkat sampai mencapai batas Zona Brillouin Pertama. Pada saat itu terjadi UMKLAPP dan gerak elektron mulai lagi dari batas baru zona. Misalnya, medan luar x menyebabkan gaya Fx=-ex bekerja pada elektron, sehingga vektor gelombang kx berubah terhadap waktu. Gerakan elektron dalam repeated-zone scheme, disajikan dalam Gambar 4.19 berikut. Elektron bergerak sepanjang lintasan OABC dan seterusnya. Sedangkan dalam reduced-zone scheme, saat elektron sampai di batas zona A, kemudian segera muncul di titik ekivalensinya, yaitu A, sehingga terjadi gerakan elektron sepanjang OA(A)OA dan seterusnya. Karena sifat simetri translasi, maka terlihat bahwa titik A, A dan C, C adalah ekivalen; begitu pula O dan B.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

127

Gambar 4.19 a.Gerakan sebuah elektron karena kehadiran medan listrik b. Kecepatan elektron

Pada Gambar 4.19b di atas terlihat bahwa kecepatan elektron (mulai k=0) meningkat mencapai maksimum, tetapi kemudian turun dan akhirnya nol pada batas zona. Kemudian elektron berbalik sehingga mempunyai kecepatan negatip, begitu seterusnya. Bahasan ini terjadi dalam ruang nyata, seperti ditunjukkan oleh Gambar 4.20 berikut. t D C B A 0

xo

Gambar 4.20 Gerak elektron dalam ruang nyata-X sebagai fungsi waktu

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

128

Terlihat bahwa gerak elektron hanya bolak-balik antara x=0 sampi x=xo. Setiap kali elektron berada di x=xo, energinya berada di puncak pita konduksi dimana kemudian terjadi refleksi Bragg. Gerakan osilasi periodik elektron Bloch ini sangat berbeda dengan perilaku elektron bebas. Apabila x cukup besar, maka dapat terjadi loncatan elektron ke pita di atasnya, seperti ditunjukkan oleh Gambar 4.21 berikut. Apabila elektron di A dan memperoleh energi sebesar celah energi E, maka elektron tidak dipantulkan kembali, tetapi mampu melompat ke pita energi di atasnya(titik A). Misalnya, jarak kedua titik AA adalah d, maka haruslah d E e x E(k) (4.57)

A E A

/a

2/a

Gambar 4.21 Gerakan elektron karena medan listrik yang melintasi celah energi

Hal ini dinamakan tunneling, dengan syarat bahwa d jauh lebih kecil dari panjang gelombang de Broglie dan juga kecil terhadap konstanta kisi.

4.2.3 Konduktivitas Listrik


Dalam sistem setimbang, permukaan Fermi berpusat di titik asal. Akibatnya G G G arus netto nol, karena setiap elektron dalam keadaan k yang berkecepatan v (k ) G selalu berpasangan dan saling menghapus dengan elektron di keadaan k yang G G G G berkecepatan v (k ) = v (k ) .

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

129

Bila dikenakan medan listrik x, terjadi perpindahan kx selama interval waktu t, yang memenuhi persamaan
e x t = e x =

kx =

(4.58a)

Karena elektron bertahan dalam interval waktu tumbukan , maka

kx =

(4.58b)

Akibatnya permukaan Fermi berpindah sejauh kx, seperti ditunjukkan oleh Gambar 4.22 berikut.

Gambar 4.22 Permukaan Fermi: a. dalam keadaan setimbang, dan b. dalam kehadiran medan listrik x

Perpindahan menyebabkan terdapat beberapa elektron (dalam daerah bayangbayang) tidak mempunyai pasangan untuk menghapusnya, sehingga terjadi arus netto. Pada T=0 K arus netto tersebut
E J x = ev F , x g ( E F ) E = ev F , x g ( E F ) k x k x

(4.59)

dengan v F , x

= kecepatan Fermi rata-rata dalam arah-X

g(EF)E = konsentrasi elektron yang tidak berpasangan g(EF) E = rapat keadaan pada permukaan Fermi = energi medan yang diserap elektron

Mengingat E/kx==vF,x dan harga kx dalam (4.58b) di atas, maka didapatkan


2 J x = e 2vF , x F g ( E F ) x

(4.60)

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

130

sehingga konduktivitas listrik


2 = e 2vF , x F g ( E F )

(4.61)

Ungkapan (4.61) adalah bentuk umum konduktivitas listrik untuk suatu permukaan Fermi tertentu. Tampak bahwa bergantung pada kecepatan Fermi vF dan waktu tumbukan F, serta pada rapat keadaan pada permukaan Fermi g(EF). Tingkat EF suatu logam berada di tengah pita energi, dimana g(EF) besar, sehingga konduktivitas besar. Sedangkan tingkat EF pada isolator berada pada puncak pita, dimana g(EF)=0, sehingga konduktivitas nol, meskipun kecepatan Fermi sangat besar.
2 1 2 Permukaan Fermi sferik menyebabkan v F , x = 3 v F sehingga ungkapan (4.61)

menjadi

2 2 =1 3 e vF F g (E F )

(4.62a)

Dengan menggunakan hubungan rapat keadaan (3.26) dan (3.30) untuk elektron bebas, yakni 1 2m * g (E) = 2 2 = 2
3/ 2

/2 F

EF = m * v
1 2

2 F

=2 2 3/ 2 EF = 2m * (3 n)

maka didapatkan ungkapan konduktivitas listrik (4.62a) menjadi

ne 2 F m*

(4.62b)

yang hanya berlaku untuk model elektron bebas.

4.2.4 Dinamika Elektron dalam Medan Magnet 4.2.4.1 Efek Hall


Dalam logam terdapat hole dan elektron. Bila dua pita mengalami overlap satu terhadap yang lain, maka elektron berada pada pita bagian atas dan hole di bagian yang lebih rendah. Konstanta Hall saat elektron dan hole ada dalam waktu bersamaan diungkapkan oleh R=
2 Re e2 + Rh h

( e + h )2

(4.63)

dimana Re = konstanta Hall untuk elektron Rh = konstanta Hall untuk hole


Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

131

e = konduktivitas listrik elektron h = konduktivitas listrik hole Jika konsentrasi elektron sama dengan hole, ne=nh, maka besarnya Re sama dengan Rh, dan tanda R ditentukan oleh harga relatif konduktivitas e terhadap h. Harga e>h berarti bahwa elektron memiliki massa lebih kecil dan waktu hidup panjang, sehingga sumbangan elektron yang dominan dan R berharga negatip, dan sebaliknya. Jika pembawa muatan hanya elektron, maka Rh dan h berharga nol, sehingga R=Re. Hal ini didapat pada model elektron bebas.

4.2.4.2 Resonansi Siklotron


Dinamika elektron dalam medan magnet diungkapkan oleh G G G G dk = = e v ( k ) B dt

(4.64)

Momentum kristal berubah terhadap waktu karena kehadiran gaya Lorentz. G Perpindahan k dalam waktu t dituliskan dalam bentuk e G G G v (k ) B t (4.65) = G G G G Perpindahan k tegak lurus terhadap bidang yang dibentuk oleh v (k ) dan B . G G Mengingat v adalah normal kontur energi dalam ruang k (Gambar 4.16), maka

k =

berarti k terjadi pada sepanjang kontur energi, seperti ditunjukkan oleh Gambar 4.23 berikut.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

132

Gambar 4.23 Lintasan elektron sepanjang kontur energi dalam ruang k karena adanya medan magnet

Karena elektron bergerak sepanjang kontur energi tetap, maka tidak terjadi proses penyerapan energi terhadap medan magnet. Gerakan elektron yang demikian G G bersifat siklis. Bila v normal terhadap B , maka gerak elektron mempunyai perioda
T = t =
= k G eB v(k )

(4.66)

G dimana integrasi dilakukan sepanjang orbit tertutup elektron dalam ruang k . Dengan

demikian, ungkapan umum frekuensi siklotron untuk elektron Bloch ini adalah 2 eB

c =

G v(k )

(4.67)

Eksperimen resonansi siklotron dilakukan dengan mendatangkan berkas radiasi elektromagnetik pada daerah gelombang radio pada permukaan logam, yang sebelumnya telah dikenakan medan magnet B dalam arah tegak lurus berkas elektromagnetik, seperti disajikan oleh Gambar 4.24 berikut. Gelombang radio

Medan magnet
Gambar 4.24 Eksperimen resonansi siklotron

Radiasi elektromagnetik ini hanya mampu menembus sedalam skin depth pada permukaan logam. Elektron menyerap energi sinyal elektromagnetik. Resonansi G terjadi antara gerak putar elektron karena B dan energi gelombang radio yang

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

133

diserapnya, serta elektron berada dalam daerah skin depth. Apabila frekuensi gelombang radio o, maka o = n c dengan n adalah bilangan bulat. Apabila energi elektron mempunyai bentuk E=(=2k2/2m*), maka orbit (4.68)

G elektron berupa lingkaran, v(k ) = =k / m * dan k keduanya besarnya konstan


sepanjang kontur energi. Oleh karena itu dari (4.67) diperoleh ungkapan frekuensi

c =

eB m*

yang sama dengan yang diperoleh oleh model elektron bebas. Resonansi siklotron, umumnya, digunakan untuk mengukur massa efektif elektron. Umumnya, frekuensi o besarnya tertentu dan medan magnet divariasi sehingga terjadi kondisi resonansi. Percobaan yang dilakukan oleh Azbel-Kaner (untuk bahan Cu) menyajikan data impedansi riil permukaan bahan terhadap medan magnet (dZ/dB) sebagai fungsi medan magnet (B), seperti Gambar 4.25 berikut.

Gambar 4.25 Spektrum resonansi siklotron Azbel-Kaner untuk bahan tembaga pada suhu T=4,2 K

Absorbsi maksimum pada elektron dengan orbit terbesar terjadi pada permukaan Fermi yang penampang lintangnya tegak lurus B. Oleh karena itu dengan mengubah orientansi B, dapatlah diukur orbit elektron dalam berbagai arah, sehingga rekonstruksi permukaan Fermi dapat dibuat. Percobaan ini, umumnya, dilakukan pada suhu yang sangat rendah (sekitar 4 K) pada sampel yang murni dan berbentuk kristal tunggal, dan pada medan magnet yang sangat besar (sekitar 100 kG). Kondisi
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

134

ini menyebabkan waktu tumbukan cukup panjang, dan frekuensi siklotron c cukup tinggi (daerah gelombang mikro), sehingga c>>1 terpenuhi dan skin depth cukup dalam.

RINGKASAN
01. Apabila deretan ion tersusun teratur dan membentuk kisi kristal, maka energi potensial kristalnya berubah secara periodik sesuai dengan periodisitas kisi tersebut. Teori pita energi zat padat mengajukan model tentang elektron dalam G kristal dengan asumsi sebagai berikut. (a). Terdapat energi potensial V (r ) yang tidak sama dengan nol di dalam kristal dengan keberkalaan kisi kristal, (b). Fungsi G gelombang (r ) dibuat berdasarkan kisi sempurna dan dimana dianggap bahwa kisi tidak bervibrasi secara termal, (c). Teori pita energi dikembangkan dari bahasan perilaku elektron tunggal di bawah pengaruh suatu potensial periodik G V (r ) yang merepresentasikan semua interaksi, baik dengan ion kristal maupun dengan sesama elektron lain, (d). Bahasan elektron tunggal dapat menggunakan persamaan Schrodinger untuk satu elektron, dan dengan ketentuan bahwa pengisian keadaan elektron yang diperoleh menganut distribusi Fermi-Dirac. 02. Elektron dalam potensial periodik logam memenuhi teorema Bloch, yaitu Fungsi eigen (fungsi Bloch) dari persamaan gelombang untuk suatu potensial G G periodik adalah hasilkali antara suatu gelombang bidang berjalan eksp (ik r ) dan G suatu fungsi modulasi u k (r ) dengan periodisitas kisi kristal. 03. Untuk menyelesaikan perilaku elektron Bloch digunakanlah Model KronigPenney, yang menelaah gerak elektron dalam suatu potensial persegi periodik, sebagai penyederhanaan bentuk potensial sebenarnya. Hasil model ini adalah P sin ( a ) + cos( a ) = cos ka . Ungkapan energi elektron, yang tersirat dalam , a memiliki karakter (a). Spektrum energi elektron terdiri dari beberapa pita energi (daerah energi) yang diperkenankan dan beberapa yang terlarang, (b). Lebar pita energi yang diperkenankan bertambah lebar dengan meningkatnya energi

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

135

elektron, (c). Lebar pita energi tertentu yang diperkenankan mengecil apabila energi ikatan makin naik, (d). Celah energi terjadi pada harga k= n/a, dengan n = 1, 2, 3, 04. Pada titik k= n/a terjadi gelombang tegak dan memenuhi kondisi refleksi Bragg. Pada titik ini, elektron dapat direpresentasikan sebagai fungsi gelombang yang selama sebagian besar dari waktunya berada (a) di dekat inti atom (x=ma), atau (b) dalam ruang di antara inti atom (jauh dari inti atom). Energi di kidua tempat ini berbeda dan beda energi elektron antara keduanya pada batas k==/a ini merupakan celah energi. 05. Ada dua hal, dimana medan listrik luar tidak menghasilkan arus elektron dalam kristal, yaitu (a). pita energi yang diperkenankan sama sekali tidak dihuni elektron, dan (b). pita energi yang diperkenankan terisi penuh oleh elektron, atau semua keadaan elektron terisi penuh oleh elektron. Berarti, hanya pita energi yang terisi sebagian (atau yang kosong sebagian) dapat memberikan sumbangan pada arus listrik. Hal ini menghasilkan dua jenis pembawa muatan, yaitu elektron (negatip) dan hole (positip). 06. Ciri isolator adalah semua energi terisi penuh oleh elektron atau sama sekali kosong, sehingga tidak dapat terjadi konduksi listrik. Celah energi E cukup besar, sehingga elektron dari pita energi yang penuh tidak dapat melompat (karena energi termal) ke pita energi yang kosong. Tingkat energi Fermi EF melalui daerah energi yang kosong. Ciri konduktor adalah tingkat energi Fermi EF melewati pita energi yang diperkenankan, sehingga pita tersebut setengahnya (atau sebagiannya) terisi oleh elektron. Ciri semikonduktor adalah tingkat energi Fermi EF melewati daerah harga energi terlarang, sehingga pada T=0 K hanya ada pita yang sama sekali penuh, dan di atasnya pita energi yang kosong sama sekali. Celah energi E tidak tinggi, sehingga pada T>0 K sebagian elektron dapat melompatinya, dan berpindah ke pita konduksi yang masih kosong. Sementara tempat yang ditinggalkan elektron menjadi hole dalam pita valensi. Dengan demikian, pembawa muatannya adalah elektron dan hole. Sedangkan ciri semilogam adalah
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

136

celah energi lenyap seluruhnya, atau bahkan kedua pita energi terjadi overlap tipis. 07. Metode LCAO menganggap bahwa elektron terikat kuat pada atom. Fungsi gelombang elektron didasarkan pada fungsi gelombang elektron dalam atom yang terisolasi, dan disusun dari fungsi gelombang elektron termaksud. Hasil metode ini adalah ungkapan energi elektron E = E o

e
j

G G G ik ( rn r j )

. Untuk

kisi kubik sederhana dengan rusuk a, ungkapan energinya E(k)=Eo--2(cos kxa+ cos kya+cos kza). Hal ini berarti (a). E(k) periodik terhadap k, (b). E(k) = E(-k), (c). E(k)max=Eo-+6 pada puncak pita, dan E(k)min=Eo--6 pada dasar pita, sehingga beda antara keduanya merupakan pita energi, yang besarnya sebanding dengan integral overlap. Rentang energi dalam pita energi ini berperan sebagai energi kinetik elektron, sehingga elektron mampu bergerak ke bagian seluruh G kristal, (d). Untuk harga k sangat kecil, yakni di dekat dasar pita energi elektron menjadi E(k) Eo - - 6 + a2 k2. Terlihat bahwa harga energi ini sama dengan hubungan dispersi untuk elektron bebas. 08. Kecepatan dan massa efektif elektron, masing-masing dinyatakan sebagai G G 1 1 1 v g = k E (k ) dan = 2 k ( k E ) . Misalnya untuk kisi kubik sederhana = m* = dan elektron bebas dapat dicari ungkapan keduanya. 09. Pengaruh gaya luar F terhadap elektron adalah adanya perubahan momentum. Karena bentuk E(k) dan kecepatan elektron yang sebanding dengan gradien energi, maka gerak elektron hanya bolak-balik antara x=0 sampi x=xo. Setiap kali elektron berada di x=xo, energinya berada di puncak pita konduksi dimana kemudian terjadi refleksi Bragg. 10. Teori pita energi menghasilkan ungkapan umum konduktivitas listrik
2 = e 2vF , x F g ( E F ) . Bila didekati dengan permukaan Fermi sferik, maka

didapatkan ungkapan konduktivitas yang hanya berlaku untuk model elektron bebas.
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

137 Hall

11.

Teori R=

pita

energi

menghasilkan

ungkapan

umum

konstanta

2 Re e2 + Rh h

( e + h )2

. Jika pembawa muatan hanya elektron, maka Rh dan h

berharga nol, sehingga R=Re. Hal ini didapat pada model elektron bebas. 12. Teori pita energi menghasilkan ungkapan umum frekuensi siklotron untuk 2 eB elektron Bloch ini adalah

c =

G v(k )

= . Bila didekati dengan bentuk

E=(=2k2/2m*), maka ungkapan frekuensi yang sama dengan yang diperoleh oleh model elektron bebas.

LATIHAN SOAL BAB IV


01.a. Fungsi Bloch satu dimensi mempunyai bentuk k(x)=eikxuk(x). Jika fungsi tersebut dikenai syarat batas periodik, maka buktikanlah bahwa jumlah (keadaan) orbital dalam suatu pita energi dalam Zona Brillouin Pertama sama dengan jumlah sel satuan primitip dalam kristal! b. Sama dengan soal a), tetapi untuk soal SC dalam tiga dimensi! 02.a. Diketahui bahwa kristal BCC memiliki 8 tetangga terdekat dengan posisi
1 2 1 2

+ y k ax

( ) ) y +k a (x

1 2 1 2

+ y k ax

( ) ) y +k a ( x

1 2 1 2

y k ax

( ) ) + y +k a (x

1 2 1 2

y k ax

( ) ) + y +k a ( x

(1) Dengan menggunakan ungkapan energi elektron (4.38) dan pendekatan interaksi tetangga terdekat, buktikan bahwa ungkapan energi untuk kristal BCC adalah E(k) = Eo - - 8 cos kxa cos kya cos kza (2) Tentukan lebar pita energinya! (3) Gambarkan kontur energi tersebut dalam bidang kx-ky!

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

138

b. Sama dengan soal a), tetapi untuk kristal FCC! Diketahui bahwa kristal FCC memiliki 12 tetangga terdekat dengan posisi
1 2 1 2 1 2

k ay

(
(

1 2 1 2 1 2

k ay

1 2 1 2 1 2

+k ay

1 2 1 2 1 2

+k ay

+ y ) a(x
k ax

y ) a(x
+k ax

y ) a( x
+k ax

+ y ) a( x k ax

Buktikan bahwa ungkapan energi untuk kristal FCC adalah E(k) = Eo - - 4 [cos kya cos kza + cos kza cos kxa + cos kxa cos kya] 03.a. Dengan menggunakan model ikatan kuat, hitunglah massa efektif elektron dalam kisi dimensi satu! Gambarkan massa m* terhadap k, dan tunjukkan bahwa massa tersebut tidak bergantung pada k hanya di dekat pusat dan di dekat ujung zona! b. Hitunglah massa efektif pada pusat zona dalam suatu kisi SC! c. Sama dengan soal b), tetapi pada ujung zona sepanjang arah [111]! 04. Dengan menggunakan model ikatan kuat, hitunglah massa efektif elektron pada kristal SC! Isotropkah massa tersebut? 05.a. Hitunglah kecepatan elektron untuk kristal satu dimensi dalam model ikatan kuat dan buktikan bahwa kecepatan tersebut nol pada batas zona! b. Sama dengan soal a), tetapi untuk kisi bujursangkar! Tunjukkan bahwa kecepatan pada batas zona adalah paralel terhadap batas tersebut! Jelaskan hasil ini dengan menggunakan refleksi Bragg! c. Sama dengan soal a), tetapi untuk kisi SC tiga dimensi, dan tunjukkan bahwa kecepatan elektron pada permukaan zona adalah paralel terhadap permukaan tersebut! Jelaskan hal ini dengan menggunakan refleksi Bragg! Kemukakan pernyataan umum tentang arah kecepatan pada permukaan zona tersebut! 06. Semikonduktor Si dan Ge mempunyai relasi dispersi berkontur ellips G 2 E (k ) = 1 k x2 + 2 k y + 3 k z2 a. Buktikanlah bahwa bahan tersebut mempunyai massa elektron anisotrop!
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

4 TEORI PITA ENERGI

139

b. Apa yang akan terjadi jika i dalam ungkapan relasi dispersi di atas berharga negatip? 07. Elektron Bloch berosilasi periodik dalam pengaruh medan listrik. a. Tuliskan ungkapan perioda gerakan dalam reduced-zone scheme! b. Jika perioda tersebut berorde 10-5 s dan waktu tumbukan elektron berorde 10-14s, maka hitunglah jumlah tumbukan yang dialami elektron selama satu putaran geraknya! Apakah konsekuensi dari jumlah tumbukan tersebut? 08. Medan listrik statik dikenakan pada sebuah elektron pada waktu t=0 saat elektron berada di dasar pita energi. a. Tunjukkan bahwa dalam satu dimensi posisi elektron dalam ruang sebenarnya pada saat t adalah X = X o + F=-e adalah gaya listrik! b. Apakah gerakan dalam soal a) periodik? Jelaskan! 09.a. Tentukan harga k yang mana kecepatan elektron mencapai maksimum pada kisi kristal satu dimensi! b. Bagaimana ungkapan m* pada harga k soal a)? 10. Turunkan ungkapan konstanta Hall (4.63) untuk sistem elektron-hole! 1 F E k = t , dengan Xo adalah posisi awal dan = F

G =2 2 =2 2 k + k y . Jika medan 11. Suatu kristal mempunyai kontur energi E (k ) = * x * 2m1 2m 2


magnet tegak lurus terhadap bidang kontur, maka buktikan bahwa frkuensi siklotron adalah C = e2 B ! * * m1 m2

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

BAB V SEMIKONDUKTOR

Semikonduktor, umumnya, diklasifikasikan berdasarkan harga resistivitas listriknya pada suhu kamar, yakni dalam rentang (10-2 sampai 109) m. Resistivitas yang lebih tinggi dimiliki oleh bahan isolator, dan yang lebih rendah oleh bahan konduktor. Resistivitas listrik dipengaruhi oleh suhu, cahaya yang menyinari, medan listrik dan medan magnet. Semikonduktor sangat luas pemakaiannya, terutama, sejak ditemukannya transistor pada akhir tahun 1940-an. Oleh karena itu semikonduktor dipelajari secara intensif dalam fisika zat padat. Namun, dalam bab ini, hanya dibahas sifat fisis dasar semikonduktor saja. Permulaan bab ini menyajikan pengelompokan semikonduktor berdasarkan unsur pembentuknya, beserta jenis struktur kristal dan ikatannya. Berdasarkan murni atau tidak murninya bahan, semikonduktor dibedakan menjadi dua jenis, yaitu semikonduktor intrinsik dan ekstrinsik. Semikonduktor intrinsik adalah semikonduktor murni, yang sifat kelistrikannya ditentukan oleh sifat alam yang melekat pada unsur yang bersangkutan. Sedangkan semikonduktor ekstrinsik adalah semikonduktor tidak murni, yang sifat kelistrikannya dikendalikan oleh sifat dan jumlah pengotor yang diberikan pada bahan itu. Dalam menyajikan sifat fisis dasar semikonduktor, bab ini membahas rapat elektron dan hole, yakni partikel pembawa muatan dalam semikonduktor. Umumnya, jarang ditemukan semikonduktor murni, melainkan dalam keadaan dengan

5 SEMIKONDUKTOR

140

ketidakmurnian. Bab ini juga membahas pengaruh ketakmurnian pada rapat elektron dan hole. Disamping itu, juga dibahas konduktivitas listrik dalam semikonduktor. Akhirnya, bab ini ditutup oleh bahasan metode optik yang dapat digunakan untuk mengukur celah energi.

5.1 KLASIFIKASI SEMIKONDUKTOR


Dilihat dari unsur pembentuknya, semikonduktor diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok berikut. a. Semikonduktor elemental kelompok IV, misalnya Ge dan Si. Kelompok ini memiliki struktur kristal intan dan ikatan kovalen homopolar. b. Senyawa kelompok III-V, misalnya GaAs, GaP, InSb, InAs dan GaSb. Senyawa ini memiliki struktur seng sulfida. Ikatannya berbentuk kovalen heteropolar, karena distribusi elektron sepanjang ikatan lebih banyak menuju ke arah atom yang elektronegativitasnya lebih tinggi, sehingga tidak simetri. Karena sifat polar inilah kisi senyawa III-V dapat dipolarisasikan oleh pemakaian medan listrik. c. Senyawa kelompok II-VI, misalnya CdS dan ZnS yang berstruktur seng sulfida dan berikatan kovalen heteropolar. d. Senyawa kelompok IV-VI, misalnya PbTe.

5.2 SEMIKONDUKTOR INTRINSIK


Pada T=0 K, pita valensi semikonduktor terisi penuh elektron, sedangkan pita konduksi kosong. Kedua pita tersebut dipisahkan oleh celah energi kecil, yakni dalam rentang (0,18 3,7) eV. Pada suhu kamar, Si dan Ge masing-masing memiliki celah energi 1,11 eV dan 0,66 eV. Pita konduksi dan pita valensi semikonduktor, masingmasing sebagai pita antibonding dan bonding dari keadaan elektron valensi atom yang bersangkutan. Bila mendapat cukup energi, elektron dapat melepaskan diri dari ikatan kovalen dan tereksitasi menyeberangi celah energi. Elektron ini bebas bergerak di antara atom. Sedangkan tempat kekosongan elektron disebut hole, segera terisi elektron ikatan kovalen lainnya. Holepun berpindah, begitu seterusnya. Dengan
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

5 SEMIKONDUKTOR

141

demikian dasar pita konduksi dihuni oleh elektron, dan puncak pita valensi dihuni hole. Sekarang, kedua pita terisi sebagian, dan dapat menimbulkan arus netto bila dikenakan medan listrik. Elektron dan hole, masing-masing sebagai pembawa muatan bebas negatip dan positip dalam semikonduktor, mengikuti distribusi Fermi-Dirac. Dalam semikonduktor murni, elektron dan hole mempunyai konsentrasi sama. Semikonduktor yang demikian disebut semikonduktor intrinsik. Distribusi elektron dalam pita konduksi mengikuti distribusi Fermi-Dirac sama seperti persamaan (3.27), yaitu

f e (E) =

1 1+ e
E EF kT

(5.1a)

Dengan mengandaikan bahwa (E-EF)>>kT, maka distribusi (5.1a) di atas menjadi


f e (E) e
EF E kT

(5.1b)

Tampak bahwa probabilitas orbital elektron konduksi untuk terisi elektron sangat kecil fe(E)<<1. Energi elektron dalam pita konduksi adalah
=2k 2 E (k ) = E c + 2me

(5.2)

dengan Ec = tingkat energi dasar pita konduksi me = massa efektif elektron Oleh karena itu rapat keadaan elektron, dengan mengacu pada persamaan (3.26), adalah
g e (E) = 1 2me 2 2 = 2
3/ 2

(E Ec )1 / 2

(5.3)

dengan tingkat energi referensi diambil pada dasar pita konduksi Ec. Dengan mengggunakan (5.1b) dan (5.3) diperoleh rapat elektron di pita konduksi
3/ 2 EF E kT

ne =

Ec

1 2me f e ( E ) g e ( E ) dE = 2 2 = 2

Ec

1/ 2 (E E c ) e

dE

(5.4)

Dengan mengubah variabel, dan menggunakan bentuk

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

5 SEMIKONDUKTOR

142

x
0

1/ 2

e x dx =

maka konsentrasi elektron (5.4) dapat direduksi menjadi


2 me kT ne = 2 2 h 2 me kT Faktor 2 2 h
3/ 2 3/ 2

Ec E F kT

(5.5)

menyatakan rapat keadaan efektif dalam pita konduksi.

Dalam hubungan (5.5) di atas, energi Fermi EF belum diketahui. Distribusi hole dalam pita valensi dapat dituliskan
f h (E) = 1 f e (E) = 1 1+ e
EF E kT E EF kT

(5.6)

apabila dianggap bahwa (EF-E)>>kT. Energi hole dalam pita valensi E (k ) = E v + =2k 2 2mh (5.7)

dengan Ev = tingkat energi puncak pita valensi mh = massa efektif hole Oleh karena itu rapat keadaan hole
1 2m h g h (E) = 2 2 = 2
3/ 2

(E

1/ 2

(5.8)

dengan mengambil tingkat referensi puncak pita valensi Ev. Dengan menggunakan (5.6) dan (5.8) diperoleh rapat hole di pita valensi
nh =
Ev

( E ) g h ( E ) dE
3 / 2 Ev

1 2m h = 2 2 = 2

3/ 2

(E
e

1/ 2

E EF

kT

dE

(5.9)

2 mh kT = 2 2 h

E F Ev kT

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

5 SEMIKONDUKTOR

143

2 m h kT Faktor 2 2 h

3/ 2

menyatakan rapat keadaan efektif dalam pita valensi. Energi

Fermi EF dalam hubungan inipun belum diketahui. Sebenarnya, dalam menurunkan ungkapan rapat elektron dan hole di atas tidak dinyatakan bahwa bahan tersebut semikonduktor intrinsik atau ekstrinsik. Dengan demikian ungkapan di atas berlaku agak umum. Bila rapat elektron (5.5) dikalikan dengan rapat hole (5.9) diperoleh
3

2 kT 3/ 2 ne nh = 4 2 (me mh ) e kT h
Eg

(5.10)

karena celah energi Eg=Ec-Ev. Hubungan ini disebut hukum Aksi-Massa. Ungkapannya tidak bergantung pada EF, dan jenis bahan murni atau didoping. Pada suhu tertentu T, perkalian nenh berharga konstan dan rapat pembawa muatan yang satu dapat dihitung bila rapat pembawa muatan lainnya diketahui. Semikonduktor intrinsik harus memenuhi hubungan ne = nh energi Fermi EF relatif terhadap energi puncak pita valensi Ev Ec E F = Eg 2 + m 3 kT ln e 4 mh (5.12) (5.11) Substitusi ne dari (5.5) dan nh dari (5.9) ke dalam (5.11) menghasilkan ungkapan

Karena kT<<Eg, maka suku kedua dapat diabaikan, sehingga EF tepat di tengahtengah antara Ev dan Ec. Karena persamaan (5.11), maka dari persamaan (5.10) dapat diperoleh rapat elektron atau hole dalam semikonduktor intrinsik
2 kT ne = nh = 2 2 h
3/ 2 Eg 2 kT

(me mh )3 / 4 e

(5.13)

Tampak bahwa n naik secara tajam (secara eksponensial) terhadap suhu T. Pada Gambar 5.1 berikut disajikan sketsa pita konduksi dan valensi, fungsi distribusi dan rapat keadaan elektron dan hole.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

5 SEMIKONDUKTOR

144

Gambar 5.1 a. Pita valensi dan konduksi b. Fungsi distribusi c. Rapat keadaan elektron dan hole

Ungkapan konsentrasi (5.13) di atas dapat dipergunakan untuk menetapkan Eg bagi bahan semikonduktor intrinsik. Jika e dan h, masing-masing menyatakan mobilitas elektron dan hole, maka dengan menggunakan (5.13) diperoleh konduktivitas total

= e ne e + e n h h
2 kT = 2e 2 h = f (T ) e
Eg 2 kT 3/ 2

(me mh )

3/ 4

Eg 2 kT

( e + h )

(5.14)

dengan f(T) adalah fungsi yang bergantung lemah terhadap suhu. Dengan membuat grafik ln sebagai fungsi 1/T, dari data eksperimen, maka didapatkan kemiringan kurva Eg/2k. Dengan demikian celah energi Eg dapat ditentukan. Pada awal perkembangan semikonduktor, cara ini merupakan prosedur standard dalam menentukan celah energi Eg.

5.3 SEMIKONDUKTOR EKSTRINSIK


Ketidakmurnian dalam semikonduktor dapat menyumbangkan elektron maupun hole dalam pita energi. Dengan demikian, konsentrasi elektron dapat menjadi
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

5 SEMIKONDUKTOR

145

tidak sama dengan konsentrasi hole, namun masing-masing bergantung pada konsentrasi dan jenis bahan ketidakmurnian. Semikonduktor yang didoping dengan ketidakmurnian disebut semikonduktor ekstrinsik.

5.3.1 Ketidakmurnian Donor dan Aseptor


Dalam aplikasi, kadang hanya diperlukan bahan dengan pembawa muatan elektron saja, atau hole saja. Hal ini dilakukan dengan doping ketidakmurnian ke dalam semikonduktor.

5.3.1.1 Donor
Misalnya, Si didoping dengan As. Atom As menempati titik kisi yang sebelumnya ditempati tuan rumah Si secara acak. As adalah pentavalen, sedangkan Si tetravalen. Kelebihan sebuah elektron dari setiap atom As, yang tidak turut dalam ikatan tetrahedral Si, bebas bergerak dalam kristal sebagai elektron konduksi dalam pita konduksi. Oleh karena itu, ketidakmurnian menjadi ion positip As+. Hal ini berarti ketidakmurnian As menyumbangkan elektron ke dalam pita konduksi, dan disebut donor. Orbit elektron bebas di sekitar donor tersebut ternyata menyerupai atom hidrogen model Bohr. Dengan demikian, interaksi yang terjadi adalah interaksi Coulomb. Dengan memakai model Bohr, maka jari-jari elektron donor
mo rd = r m e ao

(5.15)

dengan r = konstanta dielektrik kristal ao = radius Bohr (=0,53 ) mo= massa bebas elektron me= massa efektif elektron Si memiliki konstanta dielektrik r=11,7 dan (me/mo)=0,2. Oleh karena itu, harga rd untuk Si kira-kira 60 kali lebih besar daripada ao. Karena itu orbit elektron donor melingkupi banyak atom tuan rumah Si, seperti ditunjukkan oleh Gambar 5.2 berikut.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

5 SEMIKONDUKTOR

146

Gambar 5.2 Orbit elektron mengelilingi donor

Sedangkan energi ikat yang bersesuaian dengan keadaan dasar energi


Ed = + 1 me r2 mo Eo

(5.16)

dengan Eo adalah energi dasar atom hidrogen (-13,6 eV). Hal ini berarti, untuk Si, harga Ed kira-kira 700 kali lebih kecil daripada Eo. Dengan demikian, tingkatan energi donor dalam semikonduktor berada dalam celah energi sedikit di bawah dasar pita konduksi, seperti ditunjukkan oleh Gambar 5.3 berikut.

Gambar 5.3 Tingkat energi donor Ed dalam semikonduktor

Pada suhu kamar (kT=0,025 eV), sebagian besar donor terionisasi dan elektronnya tereksitasi ke dalam pita konduksi. Jika semua donor terionisasi, maka konsentrasi elektron dalam pita konduksi hampir sama dengan jumlah donor.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

5 SEMIKONDUKTOR

147

5.3.1.2 Aseptor
Misalnya, kristal Si didoping dengan atom Ga. Karena atom Ga trivalen, maka pada salah satu ikatan elektronnya terjadi hole. Hole segera terisi oleh elektron dari ikatan yang lain sehingga terjadi hole pada ikatan yang lain tadi. Pada akhirnya, hole tersebut secara bebas bergerak ke seluruh bagian kristal. Karena cenderung menerima elektron untuk melengkapi ikatan tetrahedralnya, ketidakmurnian Ga menjadi ion negatip dan disebut aseptor. Orbit hole di sekitar aseptor juga menyerupai atom hidrogen model Bohr. Energi ikat hole pada aseptor juga sangat kecil harga numeriknya, dan terletak dalam celah energi, sedikit di atas pita valensi, seperti ditunjukkan dalam Gambar 5.4 berikut.

Gambar 5.4 Tingkat energi aseptor Ea dalam semikonduktor

Saat aseptor terionisasi (karena hole terisi elektron yang tereksitasi dari puncak pita valensi), hole jatuh ke puncak pita valensi, dan menjadi pembawa muatan bebas. Tingkat energi donor dan aseptor dalam celah energi (pita energi terlarang) merupakan konsekuensi dari ketidaksempurnaan kristal. Kedua tingkatan ini terlokalisasi dan tidak bisa menghantarkan listrik.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

5 SEMIKONDUKTOR

148

Umumnya, tidak ada semikonduktor yang benar-benar murni, melainkan mengandung donor maupun aseptor. Elektron dalam pita konduksi dapat tercipta melalui eksitasi antarpita atau ionisasi termal donor. Hole dalam pita valensi dapat terbentuk melalui eksitasi antarpita atau eksitasi termal elektron dari pita valensi ke dalam tingkatan aseptor. Dapat juga, elektron jatuh dari tingkat donor ke tingkat aseptor. Semikonduktor intrinsik diperoleh bila doping ketidakmurnian kecil. Dengan demikian, konsentrasi pembawa muatan sangat ditentukan oleh transisi antarpita secara induksi termal, sehingga diperoleh pendekatan ne=nh (persamaan (5.11)) dan konsentrasi elektron atau hole sama seperti persamaan (5.13), yaitu 2 kT ne = nh = ni = 2 2 h
3/ 2

(me mh )

3/ 4

Eg 2 kT

(5.17)

Pada suhu yang cukup tinggi, semua semikonduktor berada dalam keadaan intrinsik, yaitu ni naik secata tajam (secara eksponensial) terhadap suhu T (kecuali konsentrasi ketidakmurnian tinggi sekali). Semikonduktor ekstrinsik diperoleh bila doping ketidakmurnian cukup besar, sehingga konsentrasi intrinsik sudah jauh lebih kecil pada suhu kamar. Daerah ekstrinsik terbagi menjadi dua kelompok berikut.
a. Konsentrasi donor Nd jauh lebih besar daripada aseptor Na

Dianggap semua donor terionisasi, sehingga diperoleh pendekatan ne = Nd (5.18)

Bila hukum Aksi-Massa dikaitkan dengan konsentrasi intrinsik, maka diperoleh ne nh = ni2 (5.19)

Substitusi konsentrasi donor (5.18) ke dalam (5.19) menghasilkan konsentrasi hole nh = ni2 Nd (5.20)

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

5 SEMIKONDUKTOR

149

Di daerah ekstrinsik berlaku ni<<Nd, sehingga nh<<Nd. Dengan demikian, konsentrasi elektron (dari donor) jauh lebih besar daripada hole. Semikonduktor yang demikian disebut semikonduktor jenis-n.
b. Konsentrasi aseptor Na jauh lebih besar daripada donor Nd

Analisa yang sama dengan di atas memberikan pendekatan nh = Na Konsentrasi elektron kecil, yang diungkapkan oleh ni2 ne = Na Semikonduktor yang demikian disebut semikonduktor jenis-p. (5.22) (5.21)

5.4 PENGUKURAN CELAH ENERGI DENGAN METODE OPTIK


Nilai terendah kurva dispersi pita konduksi semikonduktor, ternyata, tidak hanya satu nilai pada k=0, melainkan bisa juga terjadi beberapa nilai pada k0. hal ini ditunjukkan oleh sketsa dalam Gambar 5.5 berikut. pita konsuksi Eg pita valensi a pita valensi b Eg

Gambar 5.5 a. Semikonduktor celah-langsung b. Semikonduktor celah-tidak langsung

Pada semikonduktor celah-langsung, misalnya GaAs dan InSb, elektron mengabsorbsi foton dan langsung melompat ke dalam pita konduksi. Energi foton harus sama atau lebih besar dari celah energi. Koefisien absorbsi =() mencapai
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

5 SEMIKONDUKTOR

150

harga maksimum pada panjang gelombang ambang foton 0. Dengan demikian celah energi dapat ditentukan melalui hubungan

Eg =

hc

(5.23)

Pada semikonduktor celah-tidak langsung, misalnya Si dan Ge, elektron mengabsorbsi foton dan fonon sekaligus. Proses ini memenuhi hukum kekekalan energi Efoton + Efonon = Eg (5.24)

Karena Efonon(=0,05 eV) sangat kecil bila dibandingkan dengan Efoton(=1 eV), maka

E g = E foton =

hc

(5.25)

sehingga dalam hal ini sama dengan kasus transisi langsung pada semikonduktor celah-langsung.

RINGKASAN
01. Dilihat dari unsur pembentuknya, semikonduktor diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok berikut: (a). elemental kelompok IV, yang berstruktur kristal intan dan ikatan kovalen homopolar, (b). kelompok III-V, yang berstruktur seng sulfida dan ikatannya berbentuk kovalen heteropolar, (c). kelompok II-VI, yang berstruktur seng sulfida dan berikatan kovalen heteropolar, dan (d). kelompok IVVI. 02. Pada T=0 K, pita valensi semikonduktor terisi penuh elektron, sedangkan pita konduksi kosong. Kedua pita tersebut dipisahkan oleh celah energi kecil, yakni dalam rentang (0,18 3,7) eV. Dasar pita konduksi dihuni oleh elektron, dan

puncak pita valensi dihuni hole. Sekarang, kedua pita terisi sebagian, dan dapat
menimbulkan arus netto bila dikenakan medan listrik. Keduanya mengikuti

distribusi Fermi-Dirac. Dalam semikonduktor murni, elektron dan hole

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

5 SEMIKONDUKTOR

151 disebut

mempunyai

konsentrasi

sama.

Semikonduktor

yang

demikian
3/ 2

semikonduktor intrinsik.
2 me kT 03. Konsentrasi elektron dalam pita valensi adalah ne = 2 2 h 2 mh kT Sedangkan hole di pita valensi adalah n h = 2 2 h
3/ 2

Ec E F kT

E F Ev kT

. Hukum Aksi-

Massa adalah perkalian antara rapat elektron dengan rapat hole


04. Letak tingkat energi Fermi EF relatif terhadap energi puncak pita valensi Ev untuk semikonduktor intrinsik adalah tepat di tengah-tengah antara Ev dan Ec. 05. Konduktivitas sebagai fungsi suhu dinyatakan oleh = f (T ) e

Eg
2 kT

. Dengan

membuat grafik ln sebagai fungsi 1/T, dari data eksperimen, maka didapatkan kemiringan kurva Eg/2k. Dengan demikian celah energi Eg dapat ditentukan. 06. Semikonduktor yang didoping dengan ketidakmurnian disebut semikonduktor

ekstrinsik. Semikonduktor yang tetravalen, didoping dengan atom pentavalen.


Akibatnya, kelebihan sebuah elektron dari setiap atom donor, bebas bergerak dalam kristal sebagai elektron konduksi dalam pita konduksi. Tetapi, jika didoping dengan atom trivalen, maka pada salah satu ikatan elektronnya terjadi

hole sehingga atom pendoping tersebut menjadi aseptor.


07. Orbit elektron bebas di sekitar donor dan hole di sekitar aseptor tersebut, ternyata, menyerupai atom hidrogen model Bohr. Dengan demikian, interaksi yang terjadi adalah interaksi Coulomb. Jari-jarinya kira-kira 60 kali lebih besar daripada radius Bohr sehingga melingkupi banyak atom tuan rumah. Tingkat energi donor dalam semikonduktor berada dalam celah energi sedikit di bawah dasar pita konduksi. Sedangkan energi ikat hole pada terletak dalam celah energi, sedikit di atas pita valensi. 08. Dalam semikonduktor ekstrinsik, jika konsentrasi donor Nd jauh lebih besar daripada aseptor Na, konsentrasi elektron (dari donor) jauh lebih besar daripada hole. Semikonduktor yang demikian disebut semikonduktor jenis-n. Tetapi sebaliknya, jika konsentrasi aseptor Na jauh lebih besar daripada donor Nd, maka
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

5 SEMIKONDUKTOR

152

konsentrasi elektron kecil. Semikonduktor yang demikian disebut semikonduktor

jenis-p.
09. Pengukuran celah energi dengan menggunakan metode optik memenuhi rumus hubungan E g =

hc

LATIHAN SOAL BAB V


01. Model sederhana menunjukkan bahwa Ge memiliki pita valensi dan pita konduksi tunggal dengan celah energi 0,670 eV. Sedangkan massa efektifnya mh=0,370mo dan me=0,550mo. Hitunglah a. energi Fermi relatif terhadap puncak pita valensi! b. probabilitas terisinya keadaan dasar pita konduksi pada suhu 300 K! c. probabilitas kosongnya keadaan puncak pita valensi pada suhu 300 K! d. konsentrasi elektron dalam pita konduksi pada suhu 300 K! 02. Suatu bahan semikonduktor mempunyai struktur intan dengan sisi kubus 5,4 , massa efektif me=0,88mo dan mh=0,42mo serta celah energi antara pita valensi dan konduksi sebesar 0,82 eV. Diandaikan bahan tersebut murni, maka hitunglah a. energi Fermi! b. rapat elektron dalam pita konduksi pada suhu 300 K! c. rapat elektron dalam pita valensi pada suhu 300 K! d. Buktikan bahwa rapat elektron dalam pita konduksi sama dengan rapat hole dalam pita valensi pada suhu 300 K! 03.a. Hitunglah konsentrasi elektron dan hole dalam sampel murni Si pada suhu kamar! Ambillah harga me=0,7mo; mh=mo dan Eg=1,1 eV! b. Tentukan posisi tingkat energi Fermi dalam keadaan ini! 04. Diketahui bahwa rapat keadaan efektif elektron dalam pita konduksi 1,1.1019 cm-3 dan rapat keadaan efektif hole dalam pita valensi 0,51.1019 cm-3 dalam Ge pada suhu kamar. Jika diambil harga Eg=0,7 eV, maka hitunglah
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

5 SEMIKONDUKTOR

153

a. massa efektif me dan mh untuk elektron dan hole! b. konsentrasi pembawa muatan pada suhu kamar! c. konsentrasi pembawa muatan pada suhu 77 K, jika dianggap energi celah tidak bergantung pada suhu! 05. Galium Arsenit mempunyai konstanta dielektrik 10,4, massa efektif elektron me=0,07mo dan hole mh=0,09mo. a. Tentukan energi ionisasi donor dan aseptor! b. Hitunglah radius Bohr untuk ikatan elektron donor dan hole aseptor! 06. Suatu sampel silikon didoping dengan donor arsen 1,0.1023 m-3. Sampel disimpan dalam keadaan suhu kamar. Data untuk Si adalah Eg=1,1 eV, me=0,7mo dan mh=mo. a. Hitunglah konsentrasi elektron intrinsik, dan tunjukkan bahwa harga tersebut dapat diabaikan bila dibandingkan dengan konsentrasi elektron sumbangan donor! b. Jika dianggap semua ketidakmurnian mengalami ionisasi, maka tentukan posisi tingkat energi Fermi! c. Bagaimana pengaruhnya terhadap tingkat energi Fermi jika terhadap sampel di atas didopingkan aseptor sebanyak 6,0.1021 m-3? 07. Data untuk Si adalah e=1350 cm2/Vs, h=475 cm2/Vs, Eg=1,1 eV, me=0,7mo dan mh=mo. Hitunglah konduktivitas intrinsik pada suhu kamar! 08. Turunkan persamaan (5.15) dan (5.16)! 09. Untuk Ge didapatkan r=15,8 dan me/mo=0,1. Hitunglah jari-jari orbit keadaan dasar dan energi ionisasi donor yang didopingkan ke dalam Ge!

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

B A B VI BAHAN DIELEKTRIK

Bab ini membahas sifat dielektrik bahan, yang disertai dengan sifat optik dan perubahan fasa bahan. Sifat tersebut meliputi rentang frekuensi yang sangat lebar, yakni mulai dari daerah statik sampai ultraviolet, dan memberikan informasi penting yang berkaitan dengan struktur bahan. Bab ini diawali oleh bahasan rumusan dasar sifat dielektrik bahan. Selanjutnya, dibahas konstanta dielektrik bahan sebagai besaran makroskopis, dan merelasikannya dengan polarisabilitas molekul sebagai besaran mikroskopis. Sumber polarisasi molekul adalah polarisabilitas polar, ionik dan elektronik. Akhirnya, bab ini ditutup oleh bahasan gejala piezoelektrik dan ferroelektrik, dimana keduanya berkaitan dengan polarisabilitas ionik

6.1 RUMUSAN DASAR POLARISASI BAHAN


Dua muatan listrik berlawanan, tetapi besarnya sama, yakni q dan +q, membentuk dipol listrik yang momennya G G p = qd (6.1) G dengan d adalah vektor posisi dari muatan negatip ke positip, seperti ditunjukkan oleh Gambar 6.1 berikut.

Gambar 6.1 Sebuah dipol listrik

6 BAHAN DIELEKTRIK

155

Suatu dipol listrik menimbulkan medan listrik di sekitarnya, yaitu G G G G G 1 3( p r )r r 2 p r = (6.2) 4 o r5 G dengan r adalah vektor jarak yang menghubungkan dipol dengan titik medan yang ditinjau. Ungkapan medan (6.2) di atas mengasumsikan bahwa r>>d. G Menempatkan suatu dipol dalam medan listrik eksternal o , menyebabkan timbulnya torsi pada dipol, yaitu G G G = p o seperti ditunjukkan oleh Gambar 6.2 berikut.

(6.3)

Gambar 6.2 Torsi pada suatu dipol yang ditimbulkan oleh medan listrik luar

Torsi berusaha membawa dipol menjadi searah medan. Disamping itu, interaksi antara dipol dan medan menimbulkan energi potensial G G V = p o = p o cos (6.4)

Tampak bahwa dipol memiliki energi potensial minimum bila orientasinya paralel medan. Hal ini sesuai dengan kecenderungan torsi pada dipol seperti di atas.

G Dalam bahan dielektrik, kumpulan momen dipol membentuk polarisasi P ,

yakni jumlah momen dipol persatuan volume. Untuk suatu kristal, polarisasi merupakan jumlah momen dipol dalam suatu sel satuan dibagi dengan volume sel. Jika bahan mengandung jumlah molekul persatuan volume sebanyak N, dan masingG masing memiliki momen p , serta momen tersebut searah, maka polarisasinya G G P=N p (6.5)

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

6 BAHAN DIELEKTRIK

156

6.2

KONSTANTA DIELEKTRIK MAKROSKOPIS)

BAHAN

(PANDANGAN

G Bahan dielektrik yang ditempatkan dalam suatu medan listrik eksternal o

mengalami perpindahan listrik


G G D =o o

(6.6)

dengan o adalah permitivitas vakum. Disamping itu, bahan menjadi terpolarisasi, sehingga sifat elektromekaniknya berubah melalui ungkapan G G G D =o + P (6.7) G dengan adalah medan listrik dalam bahan. Gabungan kedua persamaan (6.6) dan (6.7) di atas menghasilkan

= o

1 G P o

(6.8)

Tampak bahwa polarisasi bahan menyebabkan terjadinya induksi medan. Hal ini dijelaskan dalam Gambar 6.3 berikut. G

+ + + + + +
G
G

'
+ + + + + + + + + +
G

+ + + + +

+ + + + +

Gambar 6.3 Medan ' melawan medan luar o . Resultan medan internal adalah

Polarisasi menyebabkan terjadinya muatan polarisasi pada permukaan bahan, yakni muatan positip di sebelah kanan dan negatip di kiri. Muatan ini menimbulkan medan G G listrik ' yang arahnya ke kiri melawan medan luar o . Akibatnya medan internal G G resultan, yakni lebih kecil daripada o .
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

6 BAHAN DIELEKTRIK

157

Suseptibilitas listrik bahan didefinisikan oleh hubungan G G P =o

(6.9)

Hubungan (6.9) berlaku untuk bahan dielektrik linier isotropik, misalnya bahan kubik dan amorf. Substitusi polarisasi (6.9) ke dalam perpindahan listrik (6.7) di atas menghasilkan G G G G G G D =o + o =o (1 + ) =o r = dengan = permitivitas listrik (mutlak)
r = permitivitas listrik relatif (terhadap o ) = konstanta dielektrik

(6.10)

Konstanta dielektrik r dan suseptibilitas listrik merupakan besaran karakteristik makroskopis bahan.

6.3 POLARISABILITAS BAHAN (PANDANGAN MIKROSKOPIS) 6.3.1 Persamaan Clausius-Mosotti


Polarisasi bahan, yakni pensejajaran momen dipol molekul, terjadi karena G medan listrik. Oleh karena itu diambil asumsi bahwa momen dipol molekul p G sebanding dengan medan listrik lokal l pada molekul yang bersangkutan G G p = l (6.11) dengan adalah polarisabilitas molekul. G Untuk memperoleh l dipergunakan perumusan Lorentz, yaitu suatu dipol tertentu dibayangkan dikelilingi oleh rongga bola yang berjari-jari R cukup besar sehingga titik-titik di permukaan bola luar dapat dianggap sebagai medium kontinu. Medan lokal yang bekerja pada dipol di pusat bola G G G G G l = o + 1 + 2 + 3 (6.12)

dimana G o = medan eksternal G 1 = medan yang terjadi karena muatan polarisasi pada permukaan eksternal bahan G 2 = medan yang terjadi karena muatan polarisasi pada permukaan bola Lorentz G 3 = medan yang terjadi karena semua dipol dalam bola Lorentz
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

6 BAHAN DIELEKTRIK

158

Bagian antara bola dan permukaan eksternal menghasilkan muatan total nol karena muatan polarisasinya saling menetralkan satu sama lain. Pada ungkapan (6.12) di G G atas, o dan 1 merupakan medan makroskopis. Hal di atas ditunjukkan oleh Gambar 6.4 berikut.

+ + + + + + +

- + - + - + + G

+ + + + + + + + +

Gambar 6.4 Prosedur menghitung l pada dipol yang terletak pada pusat bola Lorentz

G Medan 1 . Medan ini dikenal sebagai medan depolarisasi karena arahnya melawan G medan eksternal o . Untuk bahan berbentuk keping tak berhingga, dengan

menggunakan hukum Gauss, nilai medan ini

1 =

1 G P o

(6.13)

G Medan 2 . Karena bola cukup besar, maka muatan polarisasi pada permukaan

rongga Lorentz dapat dianggap memiliki distribusi kontinu dengan kerapatan G P = P cos n
adalah normal (arah keluar) permukaan bola. Elemen luas permukaan bola dengan n

dS = R2 sin d d. Medan yang ditimbulkan oleh muatan ini adalah

2 =

1 4 o


=0

P cos 2 cos R sin d d 2 R =0

(6.14)

G Faktor cos muncul karena integrasi hanya mengambil medan sepanjang arah P

(komponen lain lenyap karena simetri). Hasil integrasi di atas

2 =

1 G P 3 o

(6.15)

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

6 BAHAN DIELEKTRIK

159

G Medan 3 . Dipol dalam bola berdistribusi secara diskrit dan masing-masing menimbulkan medan listrik (persamaan (6.2)) di sekitarnya. Oleh karena itu medan total diperoleh dengan menjumlahkan seluruhnya. Medan total ini bergantung pada struktur kristal bahan. Untuk bahan berstruktur kubik, nilai medan total ini adalah nol. Jadi G

3 = 0

(6.16)

Dengan demikian substitusi medan (6.13), (6.15) dan (6.16) ke dalam (6.12) menghasilkan medan lokal G G 2 G P 3 o

l = o

(6.17)

G Bila ditulis dalam bentuk medan makroskopis bahan dielektrik , dengan

menggunakan persamaan (6.8), maka ungkapan medan lokal (6.17) di atas menjadi

l = +

1 G P 3 o

(6.18)

G G Tampak bahwa medan lokal 1 lebih besar dari medan rata-rata . Ungkapan (6.18)

sering dinamakan hubungan Lorentz. G Medan Maxwell, , merupakan besaran makroskopis dan medan konstan G rata-rata dari seluruh jumlah molekul. Sedangkan medan Lorentz, 1 , merupakan besaran mikroskopis yang nilainya berfluktuasi, yaitu sangat besar pada tempat di G sekitar molekul. Oleh sebab itu, molekul akan lebih efektif terpolarisasi dalam 1 G daripada dalam . Hal ini dilukiskan dalam Gambar 6.5 berikut.

Gambar 6.5 Perbedaan antara medan Maxwell dan medan Lorentz 1 . Bulatan padat adalah molekul
Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

6 BAHAN DIELEKTRIK

160

Substitusi medan lokal (6.18) ke dalam persamaan (6.5) melalui persamaan (6.11) menghasilkan polarisasi bahan dielektrik
G P= N N 1 3 o

(6.19)

Sedangkan substitusi polarisasi (6.19) ke dalam perpindahan listrik (6.7) menghasilkan ungkapan konstanta dielektrik
1+ 2 N 3 o N 1 3 o

r =

(6.20)

Hasil ini menunjukkan bahwa besaran makroskopis r dapat diungkapkan dalam bentuk besaran mikroskopis . Ungkapan konstanta dielektrik (6.20) di atas seringkali ditulis dalam bentuk
r 1 N = r +2 3 o

(6.21)

dan disebut sebagai hubungan Clausius-Mosotti. Bentuk (6.21) di atas dapat juga ditulis menjadi
W r 1 N A = r +2 3 o

(6.22)

Hal ini menunjukkan bahwa polarisabilitas dapat ditentukan asalkan besaran berat molekul W, rapat massa , dan konstanta dielektrik r diketahui. Ungkapan ruas kanan (dan ruas kiri) dalam (6.22) di atas dinamakan polarisabilitas molar. Persamaan Clausius-Mosotti cukup valid untuk bahan muatan dan cairan. Untuk gas, dimana N kecil, penyebut (6.20) menunjukkan
N A << 1 sehingga dapat 3 o

dideretkan. Bila dari deret tersebut diambil orde pertama, maka diperoleh ungkapan konstanta dielektrik r = 1 + N o
Fisika Zat Padat

(6.23)
Parno Fisika FMIPA UM

6 BAHAN DIELEKTRIK

161

G Hal ini berarti, untuk gas, medan lokal 1 lebih kurang berharga sama dengan medan G rata-rata bahan.

6.3.2 Sumber Polarisabilitas


Sehubungan dengan proses polarisasi bahan, struktur molekul/atom yang membangun suatu bahan dapat dikelompokkan menjadi berikut. a. Molekul polar, yakni molekul yang mempunyai resultan momen dipol permanen tidak sama dengan nol. Contohnya H2O. b. Molekul nonpolar, yakni molekul yang mempunyai resultan momen dipol permanen sama dengan nol. Contohnya CO2. c. Molekul ionik, yakni molekul yang berikatan ionik. Contohnya NaCl. d. Atom kristal kovalen bersifat nonpolar dan nonionik. Contohnya Si dan Ge. Berdasarkan jenis molekul/atom di atas dan perilakunya saat dikenakan medan, maka polarisabilitas bahan dapat terdiri dari beberapa jenis sebagai berikut. a. Polarisabilitas polar/orientasional (p) Momen dipol permanen bahan terdistribusi secara acak sehingga polarisasi sama dengan nol. Saat dikenakan medan momen dipol cenderung mensejajarkan diri terhadap arah medan sehingga polarisasi tidak sama dengan nol. b. Polarisabilitas ionik (i) Medan menyebabkan ion positip bergerak searah medan dan ion negatip bergerak berlawanan arah medan, sehingga panjang ikatan antarion menjadi longgar. Perpindahan relatif ion bermuatan ini menghasilkan momen dipol dalam satuan sel, yang sebelumnya tidak ada. c. Polarisabilitas elektronik (e) Masing-masing ion atau atom dalam molekul terdiri dari inti (nukleus) dan elektron. Bila dikenakan medan, maka ion atau atom individual tersebut menjadi terpolarisasi karena elektron mengalami perpindahan relatif terhadap inti ke arah yang berlawanan dengan arah medan. Hal yang sama terjadi juga pada atom netral. Dari uraian di atas, umumnya, polarisabilitas total suatu bahan dapat ditulis

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

6 BAHAN DIELEKTRIK

162

= e + i + p bahan ionik. Pada bahan polar dapat terjadi proses ketiga polarisasi di atas.

(6.24)

Bentuk e terjadi pada semua jenis bahan. Sedangkan bentuk i hanya terjadi pada Terdapat ciri khusus yang membedakan satu sama lain dari ketiga polarisasi di atas, yakni sebagai berikut. a. Polarisasi polar menunjukkan kebergantungan yang kuat terhadap suhu, sedangkan dua yang lain tidak. Konstanta dielektrik bahan polar mengalami penurunan dengan naiknya suhu. b. Perilaku polarisabilitas bolak-balik, yakni saat pada bahan dikenakan medan listrik bolak-balik, seperti ditunjukkan pada Gambar 6.6 berikut.

Gambar 6.6 Sketsa polarisabilitas total terhadap frekuensi dalam bahan polar

Terlihat bahwa pada >p (p=polar), sumbangan p menghilang karena dipol tidak mampu mengikuti gerakan medan yang berosilasi sedemikian cepatnya sehingga dipol dalam keadaan stasioner. Pada daerah >i (i=ionik), ion dengan massa yang berat tidak sanggup untuk mengikuti osilasi medan yang sangat cepat sehingga polarisabilitas i sama dengan nol; dan pada daerah ini hanya terdapat polarisabilitas elektronik e saja. Tetapi pada >e (e=elektronik), e sama dengan nol karena elektron terlalu berat untuk mengikuti medan yang berosilasi

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

6 BAHAN DIELEKTRIK

163

sangat cepat. Dengan demikian konstanta dielektrik bahan polar menurun dengan kenaikan frekuensi dari daerah statik sampai ke optik.

6.3.2.1 Polarisabilitas Polar 6.3.2.1.1 Polarisabilitas Polar Statik


Semula, momen dipol mempunyai orientasi acak sehingga resultan polarisasi rata-rata bahan sama dengan nol. Bila pada bahan dikenakan medan listrik, misalnya , maka energi potensial dipol sama seperti persamaan (6.4), yakni G G V = p = p cos (6.25)

dengan adalah sudut antara arah dipol dan medan. Medan menyebabkan adanya torsi dan distribusi dipol tidak lagi acak, melainkan cenderung mensejajarkan diri dalam arah medan. Probabilitas untuk mendapatkan dipol dalam arah memenuhi fungsi distribusi Maxwell-Boltzmann f ( ) = e V / koT = e p cos / koT Terlihat bahwa dipol lebih menyukai arah =0o, yakni searah medan. Harga rata-rata dipol dalam arah-X
px =

(6.26)

p f ( )d f ( )d
x

(6.27)

dimana integrasi dilakukan atas semua arah dipol dalam sudut ruang . Dalam hal ini px = p cos = (0 s/d ) Hasil integrasi di atas adalah p x = p L(u ) (6.28) d = sin d d dan
= (0 s/d 2)

dengan L(u) = coth u 1/u dan u = p/koT. Fungsi Langevin L(u) mempunyai bentuk sketsa seperti ditunjukkan dalam Gambar 6.7 berikut.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

6 BAHAN DIELEKTRIK

164

L(u) 1

u= 3
Gambar 6.7 Fungsi Langevin L(u) terhadap u

p k oT

Pada suhu kamar dan medan yang sedang, u<<1 dan fungsi naik secara linier dan dengan mengekspansikan coth (u) dapat diperoleh L(u)(1/3)u. Sedangkan untuk suhu tinggi dan medan yang sangat besar, u>>1 fungsi mempunyai harga saturasi, yakni L(u)=1, sehingga semua dipol berdistribusi searah medan. Untuk kebanyakan eksperimen, diambil pendekatan medan yang sedang, sehingga px = p2 3k oT (6.29)

Terlihat bahwa momen berbanding lurus dengan medan dan berbanding terbalik dengan suhu. Dengan demikian polarisabilitas polarnya p2 3k oT

p =

(6.30)

Substitusi harga polarisabilitas polar (6.30) ke dalam persamaan Clausius-Mosotti (6.22) menghasilkan
W r 1 N A p2 = ei + 3k T o r +2 3 o

(6.31)

dengan ei adalah kombinasi polarisabilitas elektronik dan ionik yang tidak bergantung suhu. Dengan menggrafikkan polarisabilitas molar (ruas kiri) terhadap G kebalikan suhu 1/T, maka dapat ditentukan momen dipol permanen molekul polar p dan polarisabilitas nonpolar ei suatu bahan. Untuk molekul nonpolar, grafik tersebut berbentuk horisontal.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

6 BAHAN DIELEKTRIK

165

6.3.2.1.2 Polarisabilitas Polar Bolak-balik


Dalam mengikuti osilasi medan listrik, dipol mengalami gesekan karena bertumbukan dengan molekul lain dalam sistem. Penyerapan energi medan ini menimbulkan panas. Hal ini sering disebut dielectric loss. Gerakan polarisasi polar digambarkan oleh persamaan
dp d (t ) 1 = {p ds (t ) p d (t )} dt

(6.32)

dengan pd(t) = momen dipol polar pada saat t pds(t) = momen dipol saturasi (setimbang)

= waktu relaksasi

Misalnya, medan listrik statik dikenakan pada t=0. Dalam hal ini pds(t) =p=po, dimana p adalah polarisabilitas polar statik dan po adalah momen dipol permanen molekul. Oleh karena itu persamaan di atas menjadi
dp d (t ) p d (t ) p o + = dt

(6.33)

yang mempunyai solusi pd(t) = po (1 e-t/) (6.34) Jika medan listrik statik dikenakan cukup lama pada bahan sehingga dicapai nilai setimbang po, dan tiba-tiba medan dihentikan pada t=0, maka pds=0 dalam persamaan (6.32) sehingga solusinya adalah pd(t) = po e-t/ Untuk medan listrik bolak-balik
(t) = A e-it

(6.35) (6.36) (6.37)

keadaan setimbangnya dinyatakan oleh pds(t) = p(0) (t) oleh dp d (t ) p d (t ) p (0) + = (t ) dt


Fisika Zat Padat

dengan p(0) adalah polarisabilitas polar statik; dan persamaan geraknya dinyatakan

(6.38)

Parno Fisika FMIPA UM

6 BAHAN DIELEKTRIK

166

Diambil solusi berbentuk ps(t) = p() (t) = p() A e-it dalam persamaan gerak (6.38) menghasilkan (6.39) dengan p() adalah polarisabilitas bolak-balik. Substitusi bentuk solusi (6.39) ke

p ( ) =

p (0) 1 i

(6.40)

Terlihat bahwa polarisabilitas p() merupakan besaran komplek, artinya polarisasi tidak sefasa dengan medan. Hal ini berarti terjadi absorbsi energi. Bila kontribusi ionik cukup kecil sehingga dapat diabaikan, maka konstanta dielektrik r ( ) dapat ditulis
r ( ) = 1 + e ( ) + p ( )

dengan e ( ) dan p ( ) , masing-masing adalah suseptibilitas elektronik dan polar. Dalam dispersi polar, yakni daerah gelombang mikro, suseptibilitas elektronik relatif konstan, sehingga kontribusi polar dapat ditulis
r ( ) = n 2 + p ( )

(6.41)

dengan n 2 = 1 + e ( ) = konstanta dielektrik optik n = indek bias Kontribusi polar p ( ) tidak sepenuhnya mampu mengikuti osilasi medan sehingga terjadi keterlambatan fasa. Karena p sebanding dengan p, maka p ( ) merupakan besaran komplek yang bentuknya sama dengan p() dalam (6.40) sehingga konstanta dielektrik (6.40) dapat ditulis
r ( ) = n 2 +

p (0) 1 i

(6.42)

dengan p (0) =r (0) n 2 adalah suseptibilitas polar statik. Terlihat bahwa konstanta dielektrik (6.42) di atas bergantung pada frekuensi. Hal ini berarti bahan menunjukkan gejala dispersi. Dalam bentuk bagian riil dan imaginer, konstanta dielektrik r ( ) dapat ditulis
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

6 BAHAN DIELEKTRIK

167

r ( ) ='r ( ) + i " r ( )

(6.43)

dengan
'r ( ) = n 2 +
" r

r (0) n 2 1 + 2 2

(6.44a) (6.44b)

r (0) n 2 ( ) = 1 + 2 2

Ungkapan (6.44) ini disebut persamaan Debye, yang secara grafik ditunjukkan oleh Gambar 6.8 berikut.

Gambar 6.8 Sketsa bagian riil r ( ) dan bagian imaginer r ( )


' "

terhadap ln untuk bahan polar

Terlihat bahwa grafik 'r ( ) ln merupakan kurva dispersi; dan " r ( ) ln


kurva absorbsi. Bagian riil 'r (0) berharga konstan, yakni r (0) pada daerah
<<1/, dan berharga n2 (konstanta dielektrik frekuensi tinggi) pada daerah >>1/.

Besaran 1/ sering disebut frekuensi tumbukan, yang mencakup semua frekuensi sampai dengan daerah gelombang mikro. Sedangkan bagian imaginer " r ( ) mencapai harga maksimum, yakni
1 2

(0) n 2 , pada =1/.

6.3.2.2 Polarisabilitas Ionik


Kristal ionik diatomik satu dimensi ditunjukkan dalam Gambar 6.9 berikut.
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

6 BAHAN DIELEKTRIK

168

2n M2

2n+1 + M1

Gambar 6.9 Kisi ionik diatomik satu dimensi

Dalam satuan sel terdapat dua atom, masing-masing dengan massa M1 dan M2 dan muatan listrik e* dan e*. Muatan efektif e* lebih kecil daripada muatan elektron e karena transfer elektron dalam ikatan ionik molekul tidak sempurna. Jika medan listrik bolak-balik dikenakan terhadap kristal, persamaan gerak masing-masing ion adalah
2U 2 n +1 M1 = {2U n +1 U 2 n U 2 n + 2 } + e * t 2 2U 2 n M2 = {2U 2 n U 2 n 1 U 2 n +1 } e * t 2

(6.45) (6.46)

Terlihat bahwa kristal mengalami gaya interaksi antaratom dan gaya listrik. Hal ini berarti kisi mengalami vibrasi yang dipaksakan. Misalnya, medan berbentuk gelombang bidang
= x ei(kx - t)

(6.47)

Jika diasumsikan >>d (atau k0), maka semua atom sejenis mempunyai perpindahan yang sama. Dalam keadaan mapan, M1 dan M2 masing-masing mempunyai perpindahan U+ dan U- yang berbentuk sama seperti medan gaya (6.47) U+ = Uo+ e-it U- = Uo- e-it (6.46) di atas menghasilkan perpindahan ionik
e* U o+ = 2 2 M ( ) x 1 t e* U o = M 2 2 2 t

(6.48a) (6.48b)

Dengan harga k=0. Substitusi (6.47) dan (6.48) ke dalam persamaan gerak (6.45) dan

(6.49)

x
Fisika Zat Padat

(6.50)

Parno Fisika FMIPA UM

6 BAHAN DIELEKTRIK

169

1 1 dengan t2 = 2 M + M 2 1

. Tampak bahwa t adalah frekuensi fonon optik

transversal pada k=0. Perbedaan perpindahan kedua ion ini menyebabkan timbulnya
momen dipol listrik molekul. Dengan demikian polarisasi ionik Pi yang terjadi

Pi = N e* (Uo+ -Uo-) Selain itu, pada kristal terjadi juga polarisasi elektronik Pe.

(6.51)

Polarisasi total Pie (ionik dan elektronik) disubstitusikan ke dalam persamaan (6.7) sehingga menghasilkan konstanta dielektrik
r ( ) = 1 + Pe N (e*) 2 + o o t2 1

2 1 2 t

(6.52)

dengan =

M 1M 2 adalah massa tereduksi kedua ion. Pada ruas kanan, suku M1 + M 2

kedua merupakan kontribusi elektronik, dan suku ketiga kontribusi ionik. Untuk <<t, kedua kontribusi ada dan membentuk fungsi dielektrik statik r (0) . Untuk >>t, kontribusi ionik menjadi nol. Konstanta dielektrik pada frekuensi tinggi, yang hanya terdiri dari kontribusi elektronik, disimbolkan dengan r () = n 2 , dengan n adalah indek bias optik. Dengan demikian ungkapan konstanta dielektrik (6.52) di atas dapat ditulis dalam bentuk
r ( ) = n 2 + r (0) n 2

2 1 2 t

(6.53)

Suku kedua ruas kanan merupakan polarisabilitas ionik bolak-balik, dan besaran
r (0) n 2 = i (0) merupakan suseptibilitas ionik statik. Sketsa r ( ) terhadap

disajikan dalam Gambar 6.10 berikut.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

6 BAHAN DIELEKTRIK

170

r ( )

r (0)

n2 0 t l

Gambar 6.10 Sketsa konstanta dielektrik r ( ) terhadap molekul ionik

Pada gambar di atas tampak bahwa r ( ) <0 dalam rentang t<<l, dengan l adalah frekuensi dimana r ( ) =0. Fungsi konstanta dielektrik dapat digunakan untuk mempelajari sifat optik medium. Jika indek bias optik berbentuk komplek, maka konstanta dielektrik dapat dituliskan dalam bentuk
r = (n + i )
2

(6.54)

dengan adalah koefisien pemadaman. Refleksivitas R dan absorbsi medium ab diungkapkan melalui hubungan
R=

(n 1)2 + 2 (n + 1)2 + 2

(6.55) (6.56)

ab = 2k

Jika r ( ) <0, maka menurut (6.54) haruslah n=0 dan 0 , sehingga refleksivitas (6.55) berharga R = 1. Hal ini berarti gelombang datang dengan frekuensi dalam rentang t<<l mengalami refleksi total, dan tidak dapat merambat dalam kristal. Daerah ini disebut celah terlarang. Pada gambar di atas tampak pula bahwa r ( ) menunjukkan dispersi yang kuat ( r ( ) ) di dekat frekuensi fonon optik t. Di daerah ini, disamping terjadi absorbsi maksimum, juga terjadi kondisi resonansi, yakni dimana frekuensi sinyal sama dengan frekuensi alami sistem ionik sehingga respon sistem menjadi tak

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

6 BAHAN DIELEKTRIK

171

berhingga. Absorbsi dan refleksi optik secara kuat di atas terjadi dalam daerah inframerah.

6.3.2.3 Polarisabilitas Elektronik 6.3.2.3.1 Polarisabilitas Elektronik Statik


Dengan asumsi distribusi elektron uniform di sekitar atom, dikenakannya medan pada atom, melalui hukum elektrostatik, menyebabkan inti mengalami perpindahan terhadap pusat atom sebesar
4 o ra3 x= Ze

(6.57)

dengan ra adalah radius atom dan Ze adalah muatan inti. Dengan demikian atom terpolarisasi dengan momen dipol P=Zex sehingga polarisasi elektronik yang terjadi

e = 4 o ra3

(6.58)

6.3.2.3.2 Polarisabilitas Elektronik Bolak-balik


Dalam hal ini diasumsikan bahwa elektron dalam atom mengalami gaya pulih elastik yang bersesuaian dengan frekuensi resonansi o. Persamaan gerak elektron saat dikenakan medan bolak-balik dengan polarisasi dalam arah-X m d 2x 2 + m o x = e dt 2 (6.59)

Jika medan = x e-it, maka dapat ditentukan solusi untuk perpindahan x dan polarisasi P. Polarisabilitas elektronik yang diperoleh e2 / m e ( ) = 2 o 2 listriknya (6.60)

Jika terdapat Z elektron peratom dan N atom persatuan volume, maka suseptibilitas

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

6 BAHAN DIELEKTRIK

172

e ( ) =

NZe 2 1 2 o m o 2

(6.61)

dan indek refraksi n 2 ( ) = 1 + NZe 2 1 2 o m o 2 (6.62)

Secara grafik n2() terhadap disajikan dalam Gambar 6.11 berikut. n 2 ( )

n 2 (0) 1

Gambar 6.11 Sketsa kuadrat indek bias n2() terhadap

Tampak bahwa dispersi tajam terjadi pada frekuensi resonansi o (daerah ultraviolet). Jika kita memulai o=0, maka elektron berperilaku sebagai partikel bebas. Pada frekuensi tinggi, o<<, harga n2()1, seperti halnya untuk vakum. Pada frekuensi ini elektron tidak mampu mengikuti osilasi medan yang kuat.

6.4 GEJALA PIEZOELEKTRIK


Gejala piezoelektrik berkait dengan polarisasi ionik. Efek langsung piezoelektrik menunjukkan bahwa bila pada kristal terjadi regangan, maka akan terjadi pula medan listrik. Sedangkan efek balik, pemakaian medan listrik menghasilkan regangan . Dengan demikian, gejala piezoelektrik dapat digunakan untuk mengkonversikan energi listrik menjadi energi mekanik, atau sebaliknya, seperti yang terjadi pada transduser.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

6 BAHAN DIELEKTRIK

173

Gejala piezoelektrik hanya terjadi pada bahan nonsentrosimetri. Pada bahan sentrosimetri, distorsi yang terjadi juga bersifat sentrosimetri sehingga polarisasi nol, seperti ditunjukkan oleh Gambar 6.12 berikut.

Gambar 6.12 Kristal sentrosimetri tidak menunjukkan efek piezoelektrik

Sedangkan dalam bahan nonsentrosimetri, distorsi menghasilkan polarisasi. Distorsi menyebabkan terjadinya perpindahan muatan ionik dalam kristal, yang semula berimpit, karena dikenakannya tekanan, seperti ditunjukkan oleh Gambar 6.13 berikut.

Gambar 6.13 Gejala piezoelektrik pada kwarsa

6.5 GEJALA FERROELEKTRIK


Umumnya, suseptibilitas ionik tak bergantung pada suhu. Tetapi, pada kelompok bahan ferroelektrik konstanta dielektrik berubah terhadap suhu melalui hubungan hukum Curie-Weiss r = C T TC
Fisika Zat Padat

(6.63)

Parno Fisika FMIPA UM

6 BAHAN DIELEKTRIK

174

dengan C adalah konstanta Curie dan TC adalah suhu Curie. Hal ini ditunjukkan dalam Gambar 6.14 berikut.
r

TC

Gambar 6.14 Sketsa konstanta dielektrik r terhadap suhu T dalam bahan ferroelektrik

Hubungan di atas berlaku bila T>TC. Dalam daerah ini, bahan berada dalam fasa paraelektrik, yang mana polarisasi hanya dapat terjadi jika pada bahan dikenakan medan eksternal dan polarisasinya lenyap bila medan dihilangkan. Dalam daerah T<TC, bahan menjadi terpolarisasi secara spontan. Dalam daerah ini bahan berada dalam fasa ferroelektrik. Dengan demikian, suhu Curie TC merupakan tempat transisi fasa. Polarisasi spontan PS semakin naik bila suhu turun, seperti ditunjukkan dalam Gambar 6.15 berikut. PS

TC

Gambar 6.15 Sketsa polarisasi spontan PS terhadap suhu T dalam bahan ferroelektrik

Dalam fasa ferroelektrik, pusat muatan positip kristal tidak berimpit dengan pusat muatan negatip. Gejala ferroelektrik hanya terjadi pada kelas nonsentrosimetri polar. Arah polarisasi spontan ferroelektrik tidak sama dalam keseluruhan bagian bahan. Oleh karena itu bahan terdiri dari sejumlah domain, yakni daerah dimana
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

6 BAHAN DIELEKTRIK

175

polarisasinya konstan. Domain berbeda mempunyai polarisasi berbeda pula sehingga polarisasi total bahan menjadi nol saat setimbang. Pensejajaran domain terjadi bila dikenakan medan listrik eksternal; yakni domain yang polarisasinya searah medan bertambah banyak, dan sebaliknya. Polarisasi ini dapat dibalik oleh medan listrik dalam arah sebaliknya. Dengan demikian bahan ferroelektrik menunjukkan loop histerisis, seperti ditunjukkan oleh Gambar 6.16 berikut.

Gambar 6.16 Loop histerisis bahan ferroelektrik

Contoh bahan ferroelektrik adalah jenis perovskit, misalnya barium titanat (BaTiO3). Di atas suhu Curie (TC=120oC), BaTiO3 berstruktur kubik, seperti ditunjukkan oleh Gambar 6.17 berikut.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

6 BAHAN DIELEKTRIK

176

=Ba2+ =O2=Ti4+

Gambar 6.17 Struktur BaTiO3 dalam fasa kubik

Tetapi, di bawah suhu Curie strukturnya berubah menjadi tetragonal. Dalam fasa ini, ion Ti4+ dan O2- bergeser terhadap ion Ba2+, seperti ditunjukkan oleh Gambar 6.18 berikut. a=b=0,398 nm =Ti4+ c=0,403 nm =O20,006 nm 0,006 nm

Gambar 6.18 Pergeseran Ti4+ dan O2- terhadap Ba2+ pada tetragonal BaTiO3

Akibatnya, terjadilah pemisahan pusat muatan positip dan negatip sejauh 0,012 nm, sehingga terjadi polarisasi spontan.

RINGKASAN

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

6 BAHAN DIELEKTRIK

177

01. Dua muatan listrik berlawanan, tetapi besarnya sama, yakni q dan +q, membentuk dipol listrik yang momennya p. Suatu dipol listrik menimbulkan medan listrik di sekitarnya. Jika suatu dipol dalam medan listrik eksternal, maka timbul torsi dan energi potensial pada dipol. Dalam bahan dielektrik, kumpulan momen dipol membentuk polarisasi, yakni jumlah momen dipol persatuan volume.

G 02. Bahan dielektrik yang ditempatkan dalam suatu medan listrik eksternal o
mengalami perpindahan listrik D, bahan menjadi terpolarisasi P, dan terjadi induksi medan . Hubungan antara P dan melahirkan suseptibilitas listrik , dan antara D dan melahirkan konstanta dielektrik r . Kedua besaran ini merupakan besaran karakteristik makroskopis bahan. 03. Polarisasi bahan terjadi karena medan listrik. Diambil asumsi bahwa momen G G dipol molekul p sebanding dengan medan listrik lokal l pada molekul yang

G G bersangkutan, yakni p = l

, dengan adalah polarisabilitas molekul.

G Untuk memperoleh l dipergunakan perumusan Lorentz, yaitu suatu dipol


tertentu dibayangkan dikelilingi oleh rongga bola yang berjari-jari R cukup besar sehingga titik-titik di permukaan bola luar dapat dianggap sebagai medium kontinu. Jika jumlah dipol molekul adalah N, maka didapatkan ungkapan hubungan besaran makroskopis konstanta dielektrik r dan besaran mikroskopis polarisabilitas molekul , yaitu Clausius-Mosotti. 04. Sehubungan dengan proses polarisasi bahan, struktur molekul/atom yang membangun suatu bahan dapat dikelompokkan menjadi molekul polar, nonpolar, ionik, dan atom kristal kovalen bersifat nonpolar dan nonionik. Berdasarkan jenis molekul/atom di atas dan perilakunya saat dikenakan medan, maka polarisabilitas bahan dapat terdiri dari beberapa jenis, yaitu polarisabilitas polar/orientasional (p), ionik (i), dan elektronik (e). Oleh karena itu polarisabilitas total suatu
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

r 1 N = , yang disebut sebagai hubungan r +2 3 o

6 BAHAN DIELEKTRIK

178

bahan dapat ditulis = e + i + p. Bentuk e terjadi pada semua jenis bahan. Sedangkan bentuk i hanya terjadi pada bahan ionik. Pada bahan polar dapat terjadi proses ketiga polarisasi di atas. 05. Polarisabilitas polar terdiri dari dua macam, yaitu statik dan bolak-balik. Jenis yang pertama menghasilkan p = p2 ; dan yang kedua menghasilkan 3k oT

p ( ) =

p (0) yang merupakan besaran komplek, artinya polarisasi tidak 1 i p (0) . 1 i

sefasa dengan medan (terjadi absorbsi energi). Pada jenis yang kedua juga didapatkan konstanta dielektrik r ( ) = 1 + e ( ) + p ( ) = n 2 +

06. Pada frekuensi tinggi, yang hanya terdiri dari kontribusi elektronik, ungkapan konstanta dielektrik dapat ditulis dalam bentuk r ( ) = n 2 +
r (0) n 2

2 1 2 t

. Suku

kedua ruas kanan merupakan polarisabilitas ionik bolak-balik. 07. Polarisabilitas elektronik terdiri dari dua macam, yaitu statik dan bolak-balik. Jenis yang pertama menghasilkan polarisasi elektronik e = 4 o ra3 . Sedangkan e2 / m jenis yang kedua menghasilkan polarisabilitas elektronik e ( ) = 2 . o 2 08. Gejala piezoelektrik berkait dengan polarisasi ionik dan hanya terjadi pada bahan nonsentrosimetri. Gejala piezoelektrik dapat digunakan untuk mengkonversikan energi listrik menjadi energi mekanik (efek balik), atau sebaliknya (efek langsung), seperti yang terjadi pada transduser. 09. Pada kelompok bahan ferroelektrik konstanta dielektrik berubah terhadap suhu melalui hubungan hukum Curie-Weiss r = C . Bila T>TC, polarisasi hanya T TC

dapat terjadi jika pada bahan dikenakan medan eksternal dan polarisasinya lenyap bila medan dihilangkan (fasa paraelektrik); dan bila T<TC, bahan menjadi
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

6 BAHAN DIELEKTRIK

179

terpolarisasi secara spontan (fasa ferroelektrik). Dalam fasa ferroelektrik juga terdapat domain dan loop histerisis.

LATIHAN SOAL BAB VI


01. Bertolak dari medan lokal dalam persamaan (6.18), maka a. Buktikan bahwa untuk bahan dielektrik linier isotropik medan lokal tersebut dapat ditulis

l = 1 +

b. Dari soal (a) buktikan bahwa suseptibilitas listrik bahan adalah

N / o N 1 3 o

(Ungkapan ini disebut hubungan Clausius-Mosotti antara suseptibilitas listrik

dan polarisabilitas molekul )


c. Jika medan lokal sama dengan medan rata-rata dalam bahan, maka buktikan bahwa suseptibilitas listrik soal (b) dapat ditulis

= N / o
02. Di antara kedua plat kapasitor diisikan selenium amorf dengan konstanta dielektrik 6,0 dan konsentrasi 3,67.1028 atom/m3. a. Hitunglah polarisabilitas atomnya! b. Hitunglah medan lokal pada atomnya, jika muatan plat menghasilkan medan 1500 V/m! c. Hitunglah momen dipol atomnya dalam medan soal (b)! d. Berapakah harga konstanta dielektriknya, jika medan lokal sama dengan medan makroskopis? 03. Andaikanlah bahwa titik asal sistem koordinat bertempat pada pusat bola Lorentz dan polarisasi dalam arah sumbu-Z, maka buktikan bahwa komponen medan 2 (karena muatan polarisasi pada permukaan bola Lorentz) dalam arah sumbu-X dan sumbu-Y berharga nol!
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

6 BAHAN DIELEKTRIK

180

04. Momen dipol untuk distribusi muatan secara umum didefinisikan sebagai G G G p = qi ri , dengan qi dan ri , masing-masing adalah muatan dan vektor posisi
i

dari muatan ke-i, dan penjumlahan dilakukan atas semua muatan yang ada. Pengambilan titik asal adalah sebarang. a. Tunjukkan bahwa ungkapan di atas akan menjadi (6.1) bila hanya ada dua muatan yang sama besar dan berlawanan tanda! b. Buktikan bahwa jika muatan listrik sistem secara keseluruhan netral, maka momen dipol tidak bergantung pada pengambilan titik asal! 05. Turunkanlah persamaan (6.13)! 06. Konstanta gaya untuk atom berdekatan dalam NaCl berharga 36 N/m. Jarak setimbang kristal ini 2,82 . a. Jika besar masing-masing muatan adalah e, maka hitunglah momen dipol pada jarak setimbangnya! b. Hitunglah perubahan jarak pisahnya karena medan listrik lokal 1500 V/m! c. Hitunglah perubahan momen dipolnya! d. Taksirlah polarisabilitas ionik statiknya! 07. Suatu kristal berstruktur kubik sederhana (dengan rusuk a) dan masing-masing G atomnya memiliki momen dipol sama, yaitu p . a. Tunjukkan bahwa medan listrik pada suatu atom tertentu karena semua atom yang berjarak a bernilai nol! b. Ulangi soal (a) untuk medan dari semua atom yang berjarak a2. c. Ulangi soal (a) untuk medan dari semua atom yang berjarak a3. 08. Suatu kristal berstruktur tetragonal sederhana (dengan sisi bujursangkar a dan G ketinggian c) dan masing-masing atomnya memiliki momen dipol p . a. Tunjukkan bahwa medan listrik pada suatu atom tertentu karena semua atom yang berjarak a adalah
G p1 = G 1 p 3 pZ z 2 o a3

adalah sumbu derajat-4 (tetrad)! dengan z


Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

6 BAHAN DIELEKTRIK

181

b. Tuliskan ungkapan medan yang dihasilkan semua atom yang berjarak c! c. Tunjukkan bahwa resultan medan dari soal (a) dan (b) berharga nol bila c=a! 09. Polarisabilitas elektronik statik Na+ dan Cl-, masing-masing adalah 3,47.10-41 C2m/N dan 3,41.10-40 C2m/N. Sedangkan polarisabilitas ionik statik pasangan ion NaCl adalah 3,56.10-40 C2m/N. NaCl berstruktur FCC dengan sisi 5,64 . a. Dengan menggunakan hubungan Clausius-Mosotti, hitunglah konstanta dielektrik NaCl! b. Jika medan listrik 1500 V/m diarahkan tegak lurus sisi kubus, maka hitunglah medan lokal pada pasangan ion! Hitung pula medan makroskopis dan medan polarisasi dalam sampel! 10. Suatu bahan polar mempunyai konsentrasi molekul polar 1,6.1028 molekul/m3 dan tiap molekul mempunyai momen dipol permanen 3,5.10-26 Cm. Dengan menggunakan formulasi Langevin a. hitunglah polarisasi saturasi! b. hitunglah polarisasi pada 300 K dalam medan listrik 2,5.104 V/m! c. Abaikan efek medan lokal dan hitunglah suseptibilitasnya pada 300 K! 11. Cahaya 500 nm diarahkan tegak lurus pada sampel dengan indek bias n=1,653 dan koefosien pemadaman =2,35.10-2. a. Hitunglah kecepatan gelombang dalam sampel! b. Hitunglah panjang gelombang dalam sampel! c. Hitunglah jarak dalam sampel sehingga intensitas gelombang tinggal setengahnya, jika fraksi intensitas gelombang yang diteruskan I = I o e 2 kz dengan k = vektor gelombang datang z = jarak tempuh gelombang dalam sampel d. Hitunglah refleksivitasnya! e. Hitunglah bagian riil dan imaginer konstanta dielektriknya!

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

6 BAHAN DIELEKTRIK

182

G 12. Medan 3 dalam persamaan (6.12) karena dipol dalam rongga bola bergantung
pada simetri kristal, dan umumnya berharga tidak nol dalam kristal nonkubik. Anggaplah bahwa medan ini berharga

3 =

b G P o

dengan b adalah konstanta, hitunglah konstanta dielektrik r dalam bahan tersebut! 13. a. Deretkanlah fungsi Langevin L(u) persamaan (6.28) dalam pangkat u, dan tunjukkan bahwa L(u) = u/3 u3/45 + , dimana u<<1 b. Hitunglah medan yang diperlukan untuk menghasilkan polarisasi dalam air sebesar 10% polarisasi saturasi pada suhu kamar, jika diketahui polarisasi air p=1,9.10-29 Cm! 14. Polarisabilitas molar air naik dari 4.10-5 menjadi 6,8.10-5 m3 jika suhu diturunkan dari 500 K menjadi 300 K. Hitunglah momen permanen molekul air! 15. Ion Na+ dan Cl- dalam NaCl, masing-masing mempunyai polarisabilitas elektronik 0,20.10-40 dan 2,65.10-40 farad m2. NaCl berstruktur FCC. a. Hitunglah jarak terdekat antara atom Na dan Cl! b. Hitunglah konstanta kisi NaCl! 16. Hitunglah polarisabilitas statik untuk atom hidrogen, jika diasumsikan bahwa muatan pada elektron terdistribusi seragam dalam keseluruhan bola dengan jarijari Bohr!

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

B A B VII BAHAN MAGNETIK

Bahan magnetik mempunyai banyak aplikasi, mulai dari teras penstransfer dalam bidang kelistrikan sampai pada pita magnetik dalam bidang komputer. Oleh karena itu, pengetahuan tentang sifat magnetik bahan banyak menarik minat para ahli fisika, kimia dan teknik. Bagian awal bab ini membahas perilaku magnetik dari atom bebas, dan kemudian dilanjutkan dengan sifat magnetik elektron konduksi dalam logam. Bahasan gejala ferromegnetik dibagi menjadi dua kelompok, yakni pada isolator dan logam. Namun keduanya menitikberatkan pada bahasan medan magnet (internal) molekuler yang berperan dalam gejala ferromagnetik. Akhirnya, bab ini ditutup oleh bahasan tentang gejala antiferromagnetik dan ferrimagnetik.

7.1 SUSEPTIBILITAS MAGNETIK BAHAN


Pada bahan yang ditempatkan dalam medan magnet luar yang berintensitas G G H , terjadi magnetisasi M , yakni momen dipol magnet persatuan volume. Untuk kristal, magnetisasi merupakan momen dipol total dalam sel satuan tunggal dibagi G volume sel. Pada bahan, juga, terjadi induksi magnet B yang memenuhi hubungan G G G B = o H + o M (7.1) G Dengan demikian, induksi magnet dalam bahan terdiri dari dua bagian, yakni o H G karena sumber luar dan o M karena magnetisasi bahan. G Magnetisasi timbul karena medan luar. Untuk medan lemah M sebanding G dengan H (bahan isotropik linier)

7 BAHAN MAGNETIK

184 (7.2)

G G M = H

dengan suseptibilitas magnetik sebagai tetapan pembandingnya. Asumsi tersebut mengabaikan medan demagnetisasi, koreksi medan lokal dan lain-lain karena M sangat kecil terhadap harga H (harga =M/H=10-5). Tetapi dalam bahasan ferromagnetik, dimana M berharga besar, pengabaian ini ditiadakan. Dengan mensubstitusikan M ke dalam (7.1) diperoleh G G G B = o (1 + ) H = H

(7.3)

dengan =o(1+) disebut permeabilitas bahan. Seringkali digunakan besaran

permeabilitas relatif

r =

= 1+ o

(7.4)

Berdasarkan tanda dan besar nilai suseptibilitas magnet suatu bahan dikelompokkan menjadi sebagai berikut. a. Bahan paramagnet, yang mempunyai harga positip dengan order 10-5 cm-3. G G Berarti M paralel terhadap H . Contohnya, ion transisi dan ion tanah-jarang. Ion ini mempunyai sel atomik yang tidak komplit. b. Bahan diamagnet, yang mempunyai harga negatip dengan order 10-5 cm-3. G G Berarti M berlawanan arah dengan H . Contohnya, kristal kovalen, ionik dan atom gas mulia yang mempunyai sel penuh. Perilaku diamagnetiknya muncul karena medan magnet menyebabkan distorsi gerakan orbitalnya. c. Bahan ferromagnet, yang mempunyai harga besar sekali dengan order 105 cm-3 dan mengalami magnetisasi spontan di bawah suhu tertentu. Contohnya, logam Fe, Co dan Ni.

7.2 GEJALA DIAMAGNETIK LANGEVIN


Perhatikanlah sebuah elektron beredar mengelilingi inti atom dalam medan G magnet B , seperti ditunjukkan dalam Gambar 7.1 berikut.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

7 BAHAN MAGNETIK

185

B FL Fo velektron

inti

Gambar 7.1 Gejala awal diamagnetik atomik

Sebelum medan dikenakan, pada elektron bekerja gaya Coulomb


2 Fo = m o r

(7.5)

dan terjadi momen magnetik elektron

o = IA =

e e r 2 = or 2 T 2

(7.6)

Setelah medan dikenakan, pada elektron bekerja gaya lain, yakni gaya Lorentz G G G FL = e(v B) yang melawan arah gaya Coulomb. Dengan demikian, persamaan

gerak (7.5) berubah menjadi


Fo eBr = m 2 r

(7.7)

yang merupakan persamaan kuadrat dalam . Jika medan kecil, maka bentuk solusinya

= o

eB 2m

(7.8)

Tampak bahwa rotasi elektron lebih pelan. Reduksi frekuensi ini menimbulkan perubahan momen magnetik, bertolak dari (7.6), yaitu
e2r 2 = 4m B

(7.9)

Tampak bahwa momen induksi berlawanan arah dengan medan. Dengan kata lain, respon elektron terhadap kehadiran medan adalah diamagnetik.
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

7 BAHAN MAGNETIK

186

Dalam atom, orbit elektron berada dalam permukaan sferik. Tetapi, respon diamagnetik efektif hanyalah pada penampang yang tegak lurus terhadap medan. Dengan demikian, rata-rata r2 dalam ungkapan perubahan momen (7.9) di atas harus diganti menjadi (2/3)r2, sehingga
e2r 2 = 6m B

(7.10)

dengan r adalah radius bola. Apabila atom mempunyai Z elektron dan dalam satuan volume terdapat N atom, maka suseptibilitas magnetik

e2 M NZ NZ r 2 = = o H B / o 6m

(7.11)

dengan r 2 adalah rata-rata kuadrat jari-jari elektron. Perata-rataan dilakukan atas semua orbital elektron dalam atom. Tampak bahwa suseptibilitas tidak bergantung pada suhu. Respon diamagnetik ini terjadi pada padatan yang sel atomiknya terisi penuh. Seringkali digunakan ungkapan suseptibilitas molar yang didefinisikan molar=NA/N.

7.3 GEJALA PARAMAGNET


G G Momentum angular orbital total suatu atom didefinisikan sebagai L = Li .
i

G G Sedangkan momentum angular spin totalnya S = S i . Pada keduanya, penjumlahan


i

dilakukan terhadap semua elektron, dan berharga tidak nol hanya untuk suatu sel yang tidak penuh. Momentum angular momentum angular total G G G J = L+S

G L

dan

G S

berinteraksi, sehingga menimbulkan

(7.12) G G G yang relatif konstan. Dengan demikian, L dan S berpresisi mengelilingi J , seperti

ditunjukkan dalam Gambar 7.2 berikut.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

7 BAHAN MAGNETIK

187

Gambar 7.2 Interaksi spin-orbit

G G e G e G Momen dipol orbital L = L dan spin S = S , juga berpresisi di sekitar 2m m G G G G G J . Momen dipol totalnya = L + S tidak segaris dengan J , dan juga berpresisi G di sekitar J dengan sudut . Karena frekuensi presisi yang cukup tinggi, maka yang G G teramati hanyalah kompnen dari sepanjang J , yakni

rata rata = cos = g


dengan g = 1+

e G J 2m

j ( j + 1) + s ( s + 1) l (l + 1) 2 j ( j + 1)

(7.13)

adalah faktor Lande. Penentuan l, j dan s suatu atom memenuhi aturan Hund, yakti (1). bilangan spin s cenderung mengambil harga maksimum dengan tetap berpegang pada prinsip Pauli, (2). demikian pula l, dan

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

7 BAHAN MAGNETIK

188

(3). jika sel kurang dari separoh maksimum, maka j=|l-s|, dan jika sel sama atau lebih dari separoh maksimum, maka j=l+s. Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa suatu atom yang selnya tidak penuh mempunyai suatu momen magnetik permanen, yang terjadi dari kombinasi gerakan orbital dan spin elektronnya.
Teori Klasik

G G Selanjutnya, untuk sederhananya, rata rata disingkat saja. Energi potensial dipol magnet dalam suatu medan magnet G G V = B

(7.14)

Dengan analisa yang sama dengan bahasan polarisasi listrik polar (subbab 6.3.2.1.1), didapatkan momen dipol rata-rata dalam arah medan (misalnya, sumbu-Z)

Z =

2B
3k oT

(7.15)

Magnetisasinya M = N Z = N dan suseptibilitasnya

2B
3k o T

(7.16)

2 M =N o H 3k oT

(7.17)

Tampak bahwa berbanding terbalik terhadap T. Hubungan ini disebut hukum Curie dan suseptibilitasnya disebut suseptibilitas paramagnet Langevin.
Teori Kuantum

Saat medan magnet (misalnya, dalam arah sumbu-Z) dikenakan pada atom, terjadilah Zeeman splitting G G E = B = g B B m j dengan B = e= =9,3.10-24 Jm2/N disebut magneton Bohr. 2m

(7.18)

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

7 BAHAN MAGNETIK

189

Misalnya, untuk j=1/2 dihasilkan tingkatan energi yang terpisah menjadi dua, yang masing-masing bersesuaian dengan momen dipol paralel dan antiparalel dengan arah medan, seperti ditunjukkan oleh Gambar 7.3 berikut. mj=+1/2 E=gBB mj=-1/2
Gambar 7.3 Zeeman splitting untuk j=1/2

Magnetisasinya M = g B (N1 N2) Dengan g B = komponen momen dalam arah-Z N1 = konsentrasi atom di tingkat energi bawah N2 = konsentrasi atom di tingkat energi atas Perbandingan antara kedua konsentrasi memenuhi distribusi Boltzmann
N1 = e E / koT N2

(7.19)

(7.20)

dan hubungan N1+N2=N, dengan N adalah jumlah total konsentrasi. Oleh karena itu magnetisasi (7.19) menjadi M = Ng B dengan x = e X eX = Ng B tanh( x) e X + eX (7.21)

g B B . Sketsa M terhadap x ditunjukkan dalam Gambar 7.4 berikut. k oT

M NgB

x
Gambar 7.4 Sketsa M terhadap x untuk sistem j=1/2
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

7 BAHAN MAGNETIK

190

Tampak bahwa M sebanding dengan x untuk medan lemah dan M mencapai saturasi saat medan listrik besar. Bila diambil kasus medan lemah, x<<1 dan tanh (x) x, maka substitusi ke dalam (7.21) didapatkan suseptibilitas

o N ( g B ) 2
k oT

(7.22)

Ungkapan ini sama dengan hasil teori klasik, tetapi dengan mengasumsikan momen efektif atom ef=gB3. Bentuk yang lebih umum, suatu atom dengan j tertentu akan mengalami pembelahan tingkat energi sebanyak (2j+1) buah. Sedangkan suseptibilitasnya

=
dengan

2 o N ef

3k oT

(7.23)

ef = p B

dan

p = g (j[j+1])1/2

(7.24)

Bilangan p disebut bilangan efektif magneton Bohr untuk suatu atom. Eksperimen menunjukkan bahwa kristal ion tanah-jarang memenuhi hukum Curie, dengan bilangan efektif magneton Bohr p seperti yang dijelaskan dalam teori interaksi spin-orbit di atas. Dalam ion ini (La s/d Lu), sel 4f, yang menunjukkan perilaku magnetik, terisi tidak penuh. Sel yang lebih luar, yaitu 5p terisi penuh, 5d dan 6s berperan dalam pembentukan ion. Karena letaknya yang jauh lebih dalam, maka elektron dalam sel 4f tidak dipengaruhi oleh ion lain dalam kristal. Perilaku G G magnetiknya seperti ion bebas, sehingga momentum angular L dan S berkopel sangat kuat. Sedangkan untuk ion logam transisi, eksperimen menunjukkan bahwa j=s. Dalam hal ini, sel terluar 3d terisi tidak penuh. Elektron dalam sel 3d ini berinteraksi sangat kuat dengan ion tetangga, sehingga gerakan orbitalnya hanyut, dan tinggal momen spin yang mengkontribusi terhadap proses magnetisasi. Gejala demikian disebut quenching.

7.4 GEJALA MAGNETIK DALAM LOGAM


Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

7 BAHAN MAGNETIK

191

Kebanyakan logam bersifat paramagnet. Elektron konduksi dalam logam mempunyai dua kontribusi, yaitu sifat paramagnet karena spinnya dan sifat diamagnetik karena gerakan orbital yang diinduksikan oleh medan magnet. Suseptibilitas elektronik nettonya adalah resultan dari kontribusi keduanya elektron = spin + orbital
Paramagnetik Pauli

(7.25)

Apabila hanya memperhitungkan spin elektron saja, yakni j=s=1/2 dan g=2, maka suseptibilitas bahan paramagnet (7.23) menjadi
2 o N B

k oT

(7.26)

Terlihat bahwa berbanding terbalik dengan T. Tetapi, eksperimen menunjukkan bahwa suseptibilitas spin dalam logam, pada pokoknya, tidak bergantung pada suhu. Disamping itu, nilai pengamatan menunjukkan harga yang lebih kecil daripada ungkapan di atas. Perlu diketahui bahwa elektron konduksi dalam logam bersifat delokalisasi dan mengikuti distribusi Fermi-Dirac. Sehubungan dengan paramagnetisme spin ini, perhatikanlah Gambar 7.5 berikut. s=1/2

EFo s=-1/2 g(E) a

B g(E) b 2BB c 2BB

Gambar 7.5 Variasi tingkat energi karena pemakaian medan magnet a. Distribusi elektron pada keadaan energi dimana medan nol b. Perubahan tingkat energi saat medan baru dikenakan c. Penyusunan kembali elektron ke dalam keadaan energi terendah saat medan setimbang H
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

7 BAHAN MAGNETIK

192

Ketika medan belum dikenakan, sebagian elektron berspin dalam arah-Z positip dan sebagian lagi dalam arah-Z negatip sehingga resultan magnetisasi M=0. Tetapi, ketika medan B dikenakan, tingkat energi spin yang paralel B mengalami penurunan sebesar BB; dan tingkat energi spin yang antiparalel B naik sebesar BB. Kondisi yang tidak stabil ini menyebabkan beberapa elektron dengan spin antiparalel B di dekat tingkat Fermi berpindah ke spin paralel B sehingga magnetisasinya M0. Banyaknya elektron yang sanggup berpindah (T=0 K) tersebut
n =
E Fo + B B

E Fo

1 1 g ( E )dE g ( E Fo ) B B 2 2

Karena masing-masing spin mengalami perubahan sebesar 2B (dari -B ke +B), maka magnetisasi yang terjadi
2 M n 2 B = B g ( E Fo ) B

sehingga suseptibilitasnya
2 spin = o B g (EF )
o

(7.27)

Tampak bahwa suseptibilitas bergantung pada rapat keadaan pada tingkat energi Fermi; dan tidak bergantung pada suhu. Pengaruh suhu terhadap distribusi elektron Fermi-Dirac memang kecil. Mengingat bahwa harga g ( E Fo ) = 3 N (lihat persamaan (3.26) dan (3.30)) 2 E Fo

untuk pita energi standard (Ek2) dan EFo=koTF , maka suseptibilitas logam

spin

3 T 2 TF

(7.28)

dengan adalah suseptibilitas klasik (Boltzmann) (7.26). Karena harga suhu Fermi TF=30.000 K, maka harga spin lebih kecil daripada dengan faktor pengecil 10-2, yang sesuai pula dengan hasil eksperimen. Pada logam transisi, suseptibilitas paramagnet besar sekali. Hal ini terjadi karena g(EF) besar sebagai akibat sempit dan tingginya pita 3d.
Diamagnetik
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

7 BAHAN MAGNETIK

193

Elektron konduksi dalam logam menunjukkan pula sifat diamagnetisme karena gerakan siklotronnya di bawah pengaruh kehadiran medan magnet. Pendekatan klasik menunjukkan kontribusi diamagnetisme total seluruh elektron sama dengan nol. Tetapi, pendekatan kuantum menunjukkan bahwa kontribusi suseptibilitas diamagnetik 1 3

orbital = spin

(7.29)

Dengan demikian, suseptibilitas elektronik netto merupakan respon paramagnet. Dalam membandingkan hasil teoritis dengan eksperimen, harus disertakan efek diamagnetik ion core (diamagnetik Langevin). Misalnya, bila dalam eksperimen diperoleh total dan core, maka suseptibilitas elektronik konduksi logam elektron =total - core

7.5 GEJALA FERROMAGNETIK


Gejala ferromagnetik adalah gejala terjadinya magnetisasi secara spontan pada suatu bahan magnet. Ferromagnetik menyangkut pensejajaran sebagian besar momen magnetik molekuler ke dalam suatu arah tertentu yang disukai dalam kristal. Gejala ini terjadi pada elemen transisi dan tanah-jarang, yang mana sel 3d dan 4f tidak terisi penuh. Contoh bahan ini adalah logam transisi, seperti Fe, Co dan Ni; logam tanah-jarang, seperti Gd dan Dy; dan oksida logam transisi isolator CrO2. Ferromagnetisme terjadi hanya di bawah suhu tertentu, yakni suhu Curie. Di atas suhu Curie, momen berorientasi secara acak sehingga magnetisasinya nol dan bahan menjadi paramagnet. Seperti halnya ferroelektrik, bahan ferromagnetik juga menunjukkan adanya domain dan kurva histerisis.

7.5.1 Gejala Ferromagnetik pada Isolator 7.5.1.1 Teori Medan Molekuler


Antara momen yang berdekatan terjadi interaksi model Heisenberg, yang bergantung pada spin, satu sama lain. Misalnya, interaksi antara atom i dan j, yang G G masing-masing berspin si dan s j , menimbulkan energi pertukaran
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

7 BAHAN MAGNETIK

194

G G Vex = J ' s i s j

(7.30)

dengan J adalah konstanta pertukaran. Agar terjadi gejala ferromagnet, maka spin si G G dan sj harus paralel, si = s j . Dengan demikian, agar energinya minimal, maka konstanta J haruslah positip. Jika diasumsikan bahwa interaksi pertukaran dipol hanya terjadi antartetangga terdekat saja (konstanta J menurun tajam terhadap bertambahnya jarak antardipol), maka energi pertukaran total dipol Vex = - Z J s2 Dengan Z adalah jumlah tetangga terdekat dipol. Ekivalensi energi ini terhadap medan magnet molekuler HW adalah melalui hubungan Z J s2 = (g s B) (o HW) (7.31) Dengan (gsB) adalah momen dipol magnet. Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa interaksi pertukaran spin dipol dalam kristal terjadi karena adanya medan molekuler; atau medan internal molekuler HW inilah yang menyebabkan terjadinya magnetisasi spontan.
Weiss mengasumsikan bahwa medan internal sebanding dengan magnetisasi

HW = M

(7.32)

dengan adalah konstanta Weiss. Nimal maksimum HW, yakni sama dengan
M(0)=NgsB, terjadi pada T=0 K. Substitusi HW maksimum ke dalam (7.31)

menghasilkan
J '=

o N ( g B ) 2
Z

(7.33)

Tampak bahwa J sebanding dengan dan masing-masing memiliki nilai 0,1 eV dan 104.

7.5.1.2 Magnetisasi Spontan dan Hukum Curie-Weiss


Magnetisasi spontan hanya disebabkan oleh adanya medan internal molekuler HW. Bila diambil kasus untuk j=1/2, dengan analisa yang sama dengan bahasan gejala paramagnet secara kuantum, maka dari persamaan (7.21) diperoleh magnetisasi
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

7 BAHAN MAGNETIK

195

o g B M M = N g B tanh k oT o g B M tanh k oT

(7.34)

Solusi ungkapan ini dapat diselesaikan dengan metode grafik. Bila diambil
= tanh ( x)

maka didapatkan dua ungkapan magnetisasi, yakni


M = k oT x o g B

(7.35) (7.36)

M = N g B tanh ( x )

Keduanya diplot bersamaan dalam grafik M terhadap x untuk mendapatkan titik perpotongan sebagai solusinya, seperti ditunjukkan dalam Gambar 7.6 berikut. M T>TC T=TC Mx T<TC A Mtanh(x) x
Gambar 7.6 Kurva garis lurus Mx dan Mtanh(x) terhadap x. Titik perpotongan A merepresentasikan magnetisasi spontan (keadaan ferromagnetik)

Suhu kritik (Curie) TC adalah suhu dimana garis lurus (grafik Mx) merupakan tangensial kurva hiperbolik pada titik asal. Tampak bahwa untuk T<TC, dua kurva berpotongan di titik A, yang berarti bahwa magnetisasi spontan terjadi pada bahan (karena adanya medan molekuler HW). Pendekatan tanh(x)x, untuk x kecil, menjadikan kesamaan M dalam dua persamaan (7.35) dan (7.36) menghasilkan ungkapan konstanta Weiss

o N ( g B )2

k oTC

(7.37)

Bila harga TC=103 K dan N=1029m-3, maka didapatkan pendekatan harga 104.
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

7 BAHAN MAGNETIK

196

Dari grafik terlihat bahwa magnetisasi maksimum Ms(0)=NgB terjadi jika T0 K. Dengan mengingat ungkapan konstanta Weiss (7.37), maka persamaan (7.34) juga dapat ditulis dalam bentuk
T M = tanh T M ( 0) C

(7.38)

yang secara grafik disajikan pada Gambar 7.7 berikut. M/M(0) 1

T/TC

Gambar 7.7 Sketsa M(T)/M(0) terhadap T/TC untuk j=1/2

Grafik di atas adalah kurva universal untuk semua bahan magnet dengan nilai j=1/2. Dalam daerah paramagnet, T>TC, medan total Htotal = H + HW Dengan H adalah medan eksternal yang dipasang. Bila diambil kasus untuk j=1/2 dalam medan total kecil, dengan analisa yang sama dengan bahasan gejala paramagnet secara kuantum, maka dari persamaan (7.21) diperoleh
M = M ( 0)

o g B
k oT

(H + M )

(7.39)

Dengan mengingat ungkapan dalam (7.37), maka diperoleh magnetisasi


M = C H T TC TC

(7.40) disebut konstanta Curie. Dengan demikian

dengan

C=

o N ( g B ) 2
k oT

suseptibilitas dalam daerah paramagnet

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

7 BAHAN MAGNETIK

197

C T TC

(7.41)

Ungkapan suseptibilitas ini sering disebut hukum Curie-Weiss.

7.5.2 Gejala Ferromagnetik pada Logam


Bahan ferromagnetik isolator tidak dapat digunakan secara langsung pada logam. Misalnya, bilangan efektif magneton Bohr p untuk logam transisi adalah p=gs. Tetapi, eksperimen menunjukkan bahwa bilangan tersebut adalah 2,22; 1,72 dan 0,54 masing-masing untuk Fe, Co dan Ni. Kegagalan ini terjadi karena bahasan ferromagnetik isolator mengasumsikan bahwa elektron terlokalisasi di sekitar titik kisi dan mengikuti distribusi Boltzmann. Sedangkan untuk elektron konduksi dalam
logam bersifat delokalisasi di seluruh ruang kristal dan mengikuti distribusi Fermi-

Dirac. Bahasan ferromagnetik dalam menggunakan model elektron-itinerant yang dikembangkan oleh Stoner. Perhatikanlah Gambar 7.8 berikut.

B=oH a b

Gambar 7.8 Proses magnetisasi dalam model itinerant

Pita dibagi menjadi dua subpita, masing-masing dengan orientasi spin up dan down. Keadaan nonmagnetik (Gambar 7.8.a) ditandai oleh populasi sama dalam dua subpita sehingga resultan magnetisasi nol. Karena interaksi pertukaran, momen berusaha dalam arah up (energi yang lebih rendah). Untuk itu, elektron harus berpindah dari daerah down ke up; dan hal ini menimbulkan magnetisasi. Akibatnya, energi kedua subpita tidak sama lagi. Kedua pita mengalami perpindahan relatif satu sama lain (Gambar 7.8.b). Dengan

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

7 BAHAN MAGNETIK

198

demikian, magnetisasi bergantung pada perpindahan relatif subpita (atau interaksi pertukaran) dan bentuk pita. Energi pertukaran yang hilang dari sebuah elektron yang berpindah dari arah down (-B) ke up (+B)
1 2

BW M =

1 2

( o H W )M

2 2 =1 = 2 o B 2 o M

karena M=2B. Ternyata, tidak semua elektron dalam arah down dapat berpindah, melainkan hanya elektron yang berada di dekat energi Fermi EF. Misalnya, E merupakan rentang energi dalam subpita up yang hendak ditempati elektron yang berpindah, maka jumlah elektron yang berpindah tersebut
n= 1 2 g ( E Fo ) E

dengan g(EFo) adalah rapat keadaan pada tingkat Fermi. Jika n=1, maka diperoleh
E =

2 g ( E Fo )

Dengan demikian, syarat agar terjadi gejala ferromagnetik adalah


2 > 2 o B

2 g ( E Fo )

(7.42))

Untuk memenuhi syarat tersebut, maka konstanta pertukaran harus besar, yakni jika sel atomik beradius kecil. Juga, g(EFo) harus besar, yang berarti menuntut pita sempit. Sel beradius lebih kecil mempunyai kemungkinan overlap fungsi gelombang lebih kecil dan karenanya pita menjadi lebih sempit. Hal ini dipenuhi oleh pita 3d dalam Fe, Co dan Ni; dan pita 4f dalam Gd dan Dy. Nilai g(EFo) besar menyebabkan pita dapat menampung elektron lebih banyak dalam rentang energi kecil. Tetapi, g(EFo) kecil menyebabkan pita melebar, seperti pita 4s, yang tidak menunjukkan gejala ferromagnetik.

7.6 GEJALA ANTIFERROMAGNETIK DAN FERRIMAGNETIK

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

7 BAHAN MAGNETIK

199

Berkaitan dengan keteraturan magnetik pada bahan, maka perhatikanlah Gambar 7.9 berikut.

Gambar 7.9 Susunan magnetik a. ferromagnetik, b. antiferromagnetik, dan c. ferrimagnetik

Ferromagnetik

Semua dipol disejajarkan dalam arah yang sama sehingga bahan berada dalam keadaan termagnetisasi penuh.
Antiferromagnetik

Masing-masing dipol mempunyai momen yang sama. Tetapi dipol yang berdekatan berlawanan arahnya. Dengan demikian, masing-masing dipol saling meniadakan satu sama lain, sehingga magnetisasi netto sama dengan nol. Gejala ini banyak ditunjukkan oleh senyawa logam transisi, seperti kristal MnF2.
Ferrimagnetik

Dipol yang berdekatan berlawanan arah. Tetapi karena masing-masing momen tidak sama, maka terdapat magnetisasi netto yang tidak sama dengan nol. Bahan ferrimagnetik sering disebut ferrit, yakni kristal oksida ionik Xfe2O4, dimana X adalah logam divalen. Contoh ferrit adalah magnetit (lodestone) Fe3O4.

RINGKASAN
G 01. Pada bahan yang ditempatkan dalam medan magnet luar yang berintensitas H , G G G G terjadi magnetisasi M , dan juga, terjadi induksi magnet B . M dan H G G direlasikan oleh suseptibilitas magnetik ; sedangkan B dan H direlasikan oleh

permeabilitas bahan . Berdasarkan tanda dan besar nilai suseptibilitas magnet

suatu bahan dikelompokkan menjadi (a). paramagnet, (b). diamagnet, dan (c).
ferromagnet.

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

7 BAHAN MAGNETIK

200

G 02. Elektron yang beredar mengelilingi inti atom dalam medan magnet B mengalami
gejala diamagnetik Langevin, yakni momen induksi berlawanan arah dengan medan. Respon diamagnetik ini terjadi pada padatan yang sel atomiknya terisi penuh. 03. Momentum angular orbital dan spin total suatu atom, masing-masing adalah L dan S berinteraksi membentuk momentum angular total J, sehingga L dan S berpresisi mengelilingi J. L dan S berharga tidak nol hanya untuk suatu sel yang tidak penuh. Demikian pula, momen dipol orbital L dan spin S berpresisi G G G G terhadap J, tetapi momen dipol totalnya = L + S tidak segaris dengan J . G Karena itu dicari momen dipol total rata-rata sepanjang J , yaitu

rata rata = cos = g


faktor Lande.

j ( j + 1) + s ( s + 1) l (l + 1) e G adalah J dengan g = 1 + 2 j ( j + 1) 2m

04. Hasil bahasan teori klasik adalah bahwa suseptibilitas paramagnet Langevin berbanding terbalik terhadap T. Sedangkan teori kuantum memperoleh suseptibilitas =
2 o N ef

3k oT

dengan ef = p B dan p = g (j[j+1])1/2. Bila gerakan

orbitalnya hanyut, dan tinggal momen spin yang mengkontribusi terhadap proses magnetisasi, maka disebut quenching. 05. Elektron konduksi dalam logam mempunyai dua kontribusi, yaitu sifat paramagnet karena spinnya dan sifat diamagnetik karena gerakan orbital yang diinduksikan oleh medan magnet. Oleh karaean itu gejala magnetik dalam logam meliputi dua hal, yaitu Paramagnetik Pauli dan diamagnetik. Bahasan Paramagnetik Pauli memperoleh suseptibilitas
2 spin = o B g ( E F ) , yang
o

bergantung pada rapat keadaan pada tingkat energi Fermi; dan tidak bergantung pada suhu. Sedangkan bahasan diamagnetik, melalui pendekatan kuantum menunjukkan bahwa kontribusi suseptibilitas diamagnetik 1 3

orbital = spin

sehingga suseptibilitas elektronik netto merupakan respon paramagnet.


Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

7 BAHAN MAGNETIK

201

06. Gejala ferromagnetik adalah gejala terjadinya magnetisasi secara spontan pada suatu bahan magnet dan terjadi hanya di bawah suhu tertentu, yakni suhu Curie. Bahan ferromagnetik juga menunjukkan adanya domain dan kurva histerisis. Bahasan gejala ferromagnetik meliputi dua hal, yaitu pada isolator dan logam. 07. Gejala ferromagnetik dalam isolator memakai teori medan molekuler. Teori ini menghasilkan suseptibilitas dalam daerah paramagnet = disebut hukum Curie-Weiss. 08. Gejala ferromagnetik dalam logam menasumsikan bahwa elektron konduksi dalam logam bersifat delokalisasi di seluruh ruang kristal dan mengikuti distribusi Fermi-Dirac. Bahasan ini menggunakan
model elektron-itinerant C , yang sering T TC

yang

dikembangkan oleh Stoner. Model ini memiliki syarat agar terjadi gejala
2 ferromagnetik, yaitu 2 o B >

2 . Berarti sel atomik harus beradius kecil. g ( E Fo )

Juga, g(EFo) harus besar, yang berarti menuntut pita sempit. 09. Berkaitan dengan keteraturan magnetik pada bahan, maka terdapat (a) ferromagnetik, (b) antiferromagnetik, dan (c) ferrimagnetik.

LATIHAN SOAL BAB VII


01. Sebuah elektron yang bergerak melingkar beraturan mempunyai momen dipol magnetik seperti persamaan (7.6). Jika momentum angular elektron tersebut adalah L, maka buktikan bahwa
G

e G L 2m

02. Pada suhu 4 K padatan Argon mempunyai konsentrasi 2,66.1028 atom/m3. Jika jarak kuadrat rata-rata sebuah elektron terhadap inti terdekat 0,62 , maka a. hitunglah suseptibilitasnya!

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

7 BAHAN MAGNETIK

202

b. hitunglah magnetisasinya dalam medan induksi 2,0 T! 03. Hitunglah faktor Lande g untuk keadaan dasar a. ion Praseodymium 59Pr yang mempunyai 2 elektron pada subkulit f! b. ion Erbium 68Er yang mempunyai 11 elektron pada subkulit f! 04. Nikel mempunyai 8 elektron dalam sel 3d. a. Hitunglah bilangan efektif magneton Bohr ion Nikel bila (1). Momentum angular orbital tidak quenching! (2). Terjadi quenching! b. Nilai eksperimen menunjukkan bahwa harga p=3,2. Apa komentar Anda? 05. Kontribusi teras (core) diamagnetik natrium terhadap suseptibilitas molar adalah sebesar -6,1.10-12 m3/mol. a. Hitunglah jarak rata-rata elektron teras terhadap inti terdekat! b. hitunglah momen dipol teras dalam medan magnet induksi 0,5 T! 06. Dengan menggunakan aturan Hund, hitunglah bilangan kuantum l, s, j, faktor Lande g dan momen dipol magnet untuk ion Vanadium dalam sel 3d, bila dianggap momentum angular orbital a. tidak mengalami quenching! b. mengalami quenching! 07. Dengan menggunakan aturan Hund, hitunglah faktor Lande a. untuk setiap bilangan yang mengisi sel d (1 s/d 10)! Anggaplah bahwa atom berada dalam keadaan dasar dan momentum angular orbital tidak quenching. b. untuk bilangan berapakah momen dipol magnetnya nol? Atom apakah itu? c. untuk bilangan berapakah momen dipol magnetnya terbesar? Atom apakah itu? d. Ulangi soal (b) dan (c) bila momentum angular orbital mengalami quenching. 08. Ion magnetik paramagnetik dalam pengaruh medan magnet akan memperoleh energi seperti persamaan (7.18). Bila bahan paramagnet tersebut mempunyai
23V

dengan 3 elektron

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

7 BAHAN MAGNETIK

203

momentum angular total , faktor Lande g=2 dan medan magnet induksi 0,7 T serta memenuhi distribusi Maxwell-Boltzmann, maka a. hitunglah fraksi atom dengan JZ=+, dengan JZ=0 dan dengan JZ=- pada suhu 300 K! b. hitunglah momen dipol atomik rata-rata! 09. Pada suhu kamar Oksigen merupakan gas paramagnetik dengan suseptibilitas molar 4,33.10-8 m3/mol. a. Hitunglah bilangan efektif magneton Bohr peratom! b. Tunjukkan bahwa soal (a) sesuai dengan sel s dengan 2 elektron! 10. Dua bahan ferromagnetik mempunyai struktur kristal dan ukuran sel satuan yang identik. Spin atomnya identik, tetapi koefisien pertukaran J yang satu berharga dua kali yang lain. Bandingkan konstanta Weiss , konstanta Cuire C, magnetisasi saturasi M(0) dan suhu Cuire TC antara keduanya! 11. Suseptibilitas diamagnetik karena ion teras (cores) dalam logam Tembaga adalah -0,2.10-6. Jika diketahui bahwa kerapatan Cu adalah 8,93 gr/cm3 dan berat atomnya 63,5 gr/mol, maka hitunglah jari-jari rata-rata ion tersebut! 12. Germanium mempunyai kerapatan 5,38 gr/cm3 dan berat atom 72,6 gr/mol. a. Jika diketahui bahwa suseptibilitasnya -0,8.10-5 dan radius ion teras (core) 0,44 , maka hitunglah persentase dari kontribusi ikatan kovalen terhadap suseptibilitasnya! b. Jika dikenakan medan H=5.104 A/m, maka hitunglah magnetisasi dan induksi magnetnya! 13. Suatu sistem dengan spin j=s=1/2 ditempatkan dalam suatu medan magnet H=5.104 A/m,. Hitunglah a. fraksi ion yang paralel terhadap medan pada suhu kamar! b. komponen rata-rata momen dipol searah medan pada suhu kamar! c. medan untuk u Z =0,5B! d. Ulangi soal (a) dan (b) pada suhu sangat rendah 1 K! 14. Turunkanlah persamaan (7.23)!
Fisika Zat Padat Parno Fisika FMIPA UM

7 BAHAN MAGNETIK

204

15. Buktikanlah bahwa momen dipol rata-rata auatu atom, yang mengandung efek interaksi spin-orbit, mempunyai ungkapan
e u rata rata = g J 2m

dengan g adalah faktor Lande (7.13)! 16. a. Suseptibilitas spin elektron konduksi pada T=0 K diberikan oleh persamaan (7.27). Nyatakalah hasil ini dalam bentuk konsentrasi elektron untuk pita energi standard! b. Hitunglah suseptibilitas spin logam K, bila diketahui kerapatan 0,87 gr/cm3 dan berat atom 39,1 gr/mol! c. Hitunglah suseptibilitas diamagnetik elektron konduksi logam K! d. Hitung jari-jari rata-rata ion K dalam keadaan logam! 17. Data untuk Fe: magnetisasi saturasi M(0)=1,74.106 A/m, suhu Fermi TF=1043 K, kerapatan m=7,92 gr/cm3 dan berat atom M=55,6 gr/mol. a. Buktikanlah bahwa momen dipol sebuah atom Fe adalah 2,22 B! b. Hitunglah konstanta pertukaran Weiss dan medan molekuler HW! c. hitunglah konstanta Curie! d. Hitunglah energi pertukaran untuk suatu interaksi dipol antartetangga terdekat!

Fisika Zat Padat

Parno Fisika FMIPA UM

DAFTAR RUJUKAN
Alonso, M., Finn, EJ. 1972. Fundamental University Physics III: Quantum and Statistical Physics. California: Addison Wesley Publishing Company Ashcroft, NW,. Mermin, ND. 1976. Solid State Physics. Philadelphia: Sounders College Chrisman, FR. 1984. Fundamental of Solid State Physics. Singapura: John Wiley & Sons, Inc Kittel, C. 1991. Introduction to Solid State Physics. Singapura: John Wiley & Sons, Inc Omar, MA. 1975. Elementary Solid State Physics. Reading-Massachusetts: Addison Wesley Publishing Company Pointon, AJ. 1976. An Introduction to Statistical Physics for Student. London: Longman Supangkat, H. Diktat Matakuliah Susunan Zat. Bandung: Jurusan Fisika FMIPA ITB Suwitra, N. 1989. Pengantar Fisika Zat Padat. Jakarta: Depdikbud Dirjendikti P2LPTK