KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

STANDAR KOMPETENSI DOKTER INDONESIA

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Indonesian Medical Council Jakarta 2012

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

Edisi Kedua, 2012 Cetakan Pertama, Desember 2012 Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT) Standar Kompetensi Dokter Indonesia.-Jakarta : Konsil Kedokteran Indonesia, 2012 xx hlm.: 17,5 x 24 cm. ISBN 979-15546-4-1 1. Kedokteran – Studi dan pengajaran 610.71 Penerbit : Konsil Kedokteran Indonesia Jalan Teuku Cik Di Tiro No. 6, Menteng, Jakarta Pusat Telpon : 62-21-31923181, 31923197-99 Fax : 62-21-31923212

Standar Kompetensi Dokter Indonesia

ii

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

Kata Pengantar
Setelah 5 (lima) tahun Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) diterapkan, maka perlu dilakukan evaluasi dan revisi, untuk disesuaikan dengan tuntutan pelayanan dan kebutuhan masyarakat saat ini yang dikaitkan dengan Sistem Kesehatan dan Sistem Jaminan Sosial Nasional.

Untuk melaksanakan hal tersebut, telah dilakukan perencanaan dan persiapan yang matang, dengan membentuk Kelompok Kerja Standar Pendidikan Dokter Indonesia oleh Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia, yang dalam langkah awal evaluasi dan revisi SKDI ini, melakukan pengumpulan data dari berbagai para pemangku kepentingan melalui beberapa kali survai dan proses validasi bersama para pakar dalam bidang terkait serta para pemangku kepentingan lainnya termasuk para pimpinan institusi pendidikan kedokteran dan Konsil Kedokteran Indonesia. Setelah melalui proses yang panjang, revisi buku Standar Kompetensi Dokter Indonesia yang disusun oleh kelompok kerja Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (Prof. Rahmatina Bustami Herman, dr, Ph.D dkk), yang berkoordinasi dan berdiskusi secara intensif dengan kelompok kerja Konsil Kedokteran, kelompok kerja Ikatan Dokter Indonesia, kelompok kerja Perhimpunan Dokter Umum Indonesia, para pengguna dan pemangku kepentingan lain, yaitu Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ikatan Dokter Indonesia, Kolegium Dokter Indonesia, Kolegium-Kolegium Dokter Spesialis, Ikatan Rumah Sakit Pendidikan Indonesia, Perhimpunan Dokter Umum Indonesia., maka setelah juga melalui proses panjang pengkajian mendalam dan editing oleh kelompok kerja Konsil Kedokteran (sebelum disahkan Konsil Kedokteran Indonesia), akhirnya revisi buku ini dapat diselesaikan. Walaupun begitu, sangat disadari bahwa tidak akan ada gading yang tidak retak, karena disana-sini mungkin masih terdapat kekurangan,sehingga kritik dan saran yang membangun akan kami terima dan sangat kami hargai.

Jakarta, Desember 2012

Wawang Setiawan Sukarya, dr, Sp.OG, MARS, MH.Kes Ketua Divisi Standar Pendidikan Profesi Konsil Kedokteran - KKI

iii

Standar Kompetensi Dokter Indonesia

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

Kontributor
A. Konsil Kedokteran • Prof. Menaldi Rasmin, dr, Sp.P - Ketua Konsil Kedokteran Indonesia • Prof. Dr. Hardyanto Soebono, dr, Sp.KK - Ketua Konsil Kedokteran • Wawang S Sukarya, dr, Sp.OG, MARS, MH.Kes - Ketua Divisi Standar Pendidikan Profesi, Konsil Kedokteran • Dr.Yoga Yuniadi,dr,Sp.JP- Divisi Standar Pendidikan Profesi, Konsil Kedokteran • Daryo Soemitro, dr, Sp.BS - Ketua Divisi Registrasi, Konsil Kedokteran • Dr. Fachmi Idris, dr, M.Kes - Divisi Registrasi, Konsil Kedokteran • Muhammad Toyibi, dr, Sp.JP - Ketua Divisi Pembinaan, Konsil Kedokteran • Sumaryono Rahardjo, SE, MBA – Divisi Pembinaan, Konsil Kedokteran B. Pokja Divisi Standar Pendidikan Profesi Konsil Kedokteran • Prof. Errol Hutagalung, dr, Sp.B, Sp.OT - Anggota Pokja Divisi Standar Pendidikan Profesi • Prof. I.O.Marsis, dr, Sp.OG - Anggota Pokja Divisi Standar Pendidikan Profesi • Dr. Siti Pariani, dr, M.Sc, PhD - Ketua Pokja Divisi Standar Pendidikan Profesi • Kusmarinah Bramono, dr, Sp.KK, PhD - Anggota Pokja Divisi Standar Pendidikan Profesi • Rini Sundari, dr, Sp.PK, M.Kes - Anggota Pokja Divisi Standar Pendidikan Profesi • Jan Prasetyo, dr, Sp.KJ - Anggota Pokja Divisi Standar Pendidikan Profesi • Muzakir Tanzil, dr, Sp.M - Anggota Pokja Divisi Standar Pendidikan Profesi • Setyo Widi Nugroho,dr,Sp.BS - Anggota Pokja Divisi Standar Pendidikan Profesi C. Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia • Prof. Ali Ghufron Mukti, dr, MSc, Ph.D - Ketua Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia • Prof. Rahmatina Bustami Herman, dr, Ph.D - Ketua Pokja Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia • Wiwik Kusumawati, dr, M.Kes - Sekretaris Pokja Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia • Bethy S. Hernowo, dr, Sp.PA, Ph.D - Anggota Pokja Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia • Dhanasari V. Trisna, dr, M.Sc, CM-FM - Anggota Pokja Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia Irwin Aras, dr, M.Epid - Anggota Pokja Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia Nur Azid Mahardinata, dr - Anggota Pokja Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia Rahmad Sarwo Bekti, dr - Anggota Pokja Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia Dr. med, Setiawan, dr - Anggota Pokja Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia

Standar Kompetensi Dokter Indonesia

iv

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

Rr. Titi Savitri Prihatiningsih, dr, M.A, M.Med.Ed., Ph.D - Anggota Pokja Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia Prof. Dr. Tri Nur Kristina, dr, DMM, M.Kes - Anggota Pokja Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia Syeida Handoyo, dr - Anggota Pokja Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia Hilda Dwijayanti, dr - Anggota Pokja Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia D. Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) • Prijosidipratomo, dr, Sp.Rad – Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia • Slamet, dr, SH, MH – Sekretaris Jenderal PB Ikatan Dokter Indonesia E. Kolegium Dokter Indonesia (KDI) • Prof. Dr. Irawan Yusuf, dr, PhD – Ketua Kolegium Dokter Indonesia F. Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) • • • • • • • • Daeng M Faqih, dr, MH Tony S Natakarman, dr Fakhrurozy, dr Abraham Andi Padlan Patarai, dr, M.Kes Imelda Dataud. dr Dr. Dollar, dr, SH, MH, MM Dr. Darwis Hartono, dr, MHA Albert J Santoso, dr

G. Penunjang (Sekretariat KKI) • Astrid Satwoko, drg, MH.Kes (Sekretaris KKI) • Anggota : o Zahrotiah Akib Lukman, S.Sos, M.Kes o Cempaka Dewi, drg o Moch. Chairul, S.Sos, MAP o Agus Wihartono, SH, MH o Murtini, SE o Wahyu Winarto, S.Sos o Solihin, SKM o Wakhyu Winarni, Amd o Ninik Puspitayuli, Amd

v

Standar Kompetensi Dokter Indonesia

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

Ucapan Terima Kasih Kepada Mitra Bestari
Konsil Kedokteran Indonesia menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi tingginya kepada semua pihak yang telah membantu, dimulai dari usulan draf-1 (pertama) hingga diterbitkannya buku Standar Kompetensi Dokter Indonesia ini. A. Fakultas Kedokteran/Program Studi Kedokteran 1. Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Aceh 2. Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama, Aceh 3. Fakultas Kedokteran Universitas Malikusaleh, Aceh 4. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan 5. Fakultas Kedokteran Universitas Methodist Indonesia, Medan 6. Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara, Medan 7. Program Studi Kedokteran Universitas Muhammadiyah, Medan 8. Program Studi Kedokteran Universitas HKBP Nonmensen, Medan 9. Program Studi Kedokteran Universitas Prima Indonesia, Medan 10. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang 11. Fakultas Kedokteran Universitas Baiturahmah, Padang 12. Fakultas Kedokteran Universitas Riau, Pekanbaru 13. Program Studi Kedokteran Universitas Abdur Rab, Pekanbaru 14. Program Studi Kedokteran Universitas Batam, Batam 15. Fakultas Kedokteran Universitas Jambi, Jambi 16. Program Studi Kedokteran Universitas Bengkulu, Bengkulu 17. Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang 18. Program Studi Kedokteran Universitas Muhammadiyah, Palembang 19. Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, Lampung 20. Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati, Lampung 21. Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan, Banten 22. Program Studi Kedokteran Universitas Islam Negeri, Banten 23. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta 24. Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta 25. Fakultas Kedokteran Universitas YARSI, Jakarta 26. Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional, Jakarta 27. Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara, Jakarta 28. Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana, Jakarta 29. Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Jakarta 30. Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya, Jakarta 31. Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah, Jakarta 32. Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani, Cimahi 33. Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung 34. Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung, Bandung 35. Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, Bandung 36. Program Studi Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon 37. Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Standar Kompetensi Dokter Indonesia

vi

Surabaya 51. Semarang 41. Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. NTT 68. Samarinda 59. Palu 70. Ujungpandang 63. Semarang 39. Manado 65. Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma. Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin. Malang 55. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat. Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada. Surabaya 48. Jayapura B. Yogyakarta 46. Ambon 72. Surakarta 43. Kolegium Kedokteran 1) Ketua Kolegium Dokter Indonesia 2) Ketua Kolegium Ilmu Bedah Indonesia 3) Ketua Kolegium Ilmu Kesehatan Anak 4) Ketua Kolegium Penyakit Dalam 5) Ketua Kolegium Obstetri dan Ginekologi 6) Ketua Kolegium Paru dan Respirasi Indonesia 7) Ketua Kolegium Psikiatri Indonesia 8) Ketua Kolegium Ofthalmologi Indonesia 9) Ketua Kolegium Anestesiologi dan Reanimasi Indonesia 10) Ketua Kolegium Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin vii Standar Kompetensi Dokter Indonesia . Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah. Kendari 71. Surakarta 42. Semarang 40. Denpasar Bali 56. Surabaya 50. Fakultas Kedokteran Universitas Jember. Palu 69. Program Studi Kedokteran Universitas Palangkaraya. Program Studi Kedokteran Universitas Patimura. Yogyakarta 47. Pontianak 58. Mataram 67. Program Studi Kedokteran Universitas Nusa Cendana. Program Studi Kedokteran Universitas Muhammadiyah. Ujungpandang 62. Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana. Program Studi Kedokteran Universitas Al-Khaerat. Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 38. Lombok 66. Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah. Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia. Program Studi Kedokteran Universitas Kristen Widiyamandala. Yogyakarta 45. Malang 54. Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah. Surabaya 49. Denpasar 57. Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman. Yogyakarta 44. Fakultas Kedokteran Universitas Al-Azhar. Fakultas Kedokteran Universitas Tanjung Pura. Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah. Fakultas Kedokteran Universitas Islam. Jember 52. Program Studi Kedokteran Universitas Haluoleo. Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia. Kalteng 61. Program Studi Kedokteran Universitas Warmadewa. Banjarmasin 60. Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Malang 53. Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Program Studi Kedokteran Universitas Muhammadiyah Ujungpandang 64. Fakultas Kedokteran Universitas Mataram. Program Studi Kedokteran Universitas Tadulako.

Hidung. Tenggorokan & Kepala dan Leher 14) Ketua Kolegium Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah 15) Ketua Kolegium Patologi Klinik Indonesia 16) Ketua Kolegium Kedokteran Forensik Indonesia 17) Ketua Kolegium Bedah Anak 18) Ketua Kolegium Ilmu Bedah Thoraks dan Kardiovaskular 19) Ketua Kolegium Radiologi Indonesia 20) Ketua Kolegium Neurologi Indonesia 21) Ketua Kolegium Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik 22) Ketua Kolegium Bedah Syaraf 23) Ketua Kolegium Bedah Orthopaedi dan Traumatologi Indonesia 24) Ketua Kolegium Farmakologi 25) Ketua Kolegium Mikrobiologi Klinik 26) Ketua Kolegium Bedah Plastik Indonesia 27) Ketua Kolegium Parasitologi Klinik 28) Ketua Kolegium Andrologi Indonesia 29) Ketua Kolegium Gizi Klinik 30) Ketua Kolegium Kedokteran Okupasi 31) Ketua Kolegium Kedokteran Penerbangan 32) Ketua Kolegium Kedokteran Olah Raga 33) Ketua Kolegium Ilmu Akupunktur Indonesia 34) Ketua Kolegium Kedokteran Nuklir Indonesia 35) Ketua Kolegium Kedokteran Kelautan Indonesia 36) Ketua Kolegium Onkologi Radiasi Indonesia Standar Kompetensi Dokter Indonesia viii .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 11) Ketua Kolegium Patologi Anatomi 12) Ketua Kolegium Urologi Indonesia 13) Ketua Kolegium Telinga.

baik buruknya pelayanan kesehatan ditentukan proses dari hulu. yaitu pendidikan profesi kedokteran dan menjunjung etika kedokteran. Desember 2012 Prof.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Kata Sambutan Ketua Konsil Kedokteran Indonesia Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Kemajuan yang pesat dalam bidang ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengetahuan dan teknologi ilmu kedokteran menuntut tersedianya sumber daya manusia yang handal dan terampil serta profesional dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Semua ini tentu tidak terlepas dari bagaimana proses pendidikan yang dijalani tenaga kesehatan tersebut sehingga benar-benar memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai sebelum terjun di tengah-tengah masyarakat. Perlu kita sadari bahwa akhir-akhir ini dirasakan peningkatan keluhan masyarakat baik di media elektronik maupun media cetak terhadap tenaga dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan. Kita memahami bahwa pelayanan kesehatan merupakan proses hilir. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Jakarta. kami ucapkan selamat dan penghargaan atas dedikasi dan terbitnya buku Standar Kompetensi Dokter Indonesia ini. Kepada tim penyusun dan para kontributor. Menaldi Rasmin. Di pihak lain.P Ketua Konsil Kedokteran Indonesia ix Standar Kompetensi Dokter Indonesia . Sp. tersedianya alat dan teknologi yang canggih akan mudah memperoleh informasi dengan cepat sehingga masyarakat sebagai pengguna sadar akan hak-haknya disamping kewajiban-kewajiban yang harus ia penuhi. dr. Buku ini disusun sebagai standar dalam penyelenggaraan pendidikan dokter.

Kolegium. Dr. Hardyanto Soebono. Amanah Undang-Undang RI No. saya mengucapkan selamat dan penghargaan yang tinggi kepada Divisi Standar Pendidikan Profesi Konsil Kedokteran Indonesia. dr. buku revisi Standar Kompetensi Dokter Indonesia yang kedua di Indonesia ini dapat diselesaikan. Kelompok Kerja (POKJA) Divisi Standar Pendidikan Profesi Konsil Kedokteran. Proses penyusunannya memakan waktu yang cukup lama dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan antara lain Organisasi Profesi (IDI). 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI). Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Jakarta. Desember 2012 Prof. petunjuk dan kekuatan-Nya kepada kita. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran untuk merevisi buku Standar Kompetensi Dokter Indonesia menjadi lebih sempurna lagi. tidak terkecuali dunia kedokteran. Perkembangan dunia yang sedang memasuki era globalisasi dan era perdagangan bebas yang melibatkan hampir semua sektor kehidupan. Semoga revisi buku Standar Kompetensi Dokter Indonesia ini bermanfaat bagi kita semua dan segala upaya yang telah dilakukan ini akan bermanfaat dalam mencapai tujuan kita bersama.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Kata Sambutan Ketua Konsil Kedokteran Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat. Buku ini merupakan hasil karya dan kerja keras semua pemangku kepentingan yang difasilitasi oleh Konsil Kedokteran. serta Kementerian Kesehatan RI. dan disahkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia sesuai dengan yang diamanahkan oleh Undang-Undang RI No. Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Sebagai Ketua Konsil Kedokteran. bimbingan. dan Kementerian Kesehatan RI. menuntut kita untuk meningkatkan profesionalisme para pelaku dunia kedokteran. Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI).KK Ketua Konsil Kedokteran Standar Kompetensi Dokter Indonesia x . Kami sangat berharap agar revisi buku ini dapat dijadikan acuan bagi seluruh pemangku kepentingan dan para pengelola pendidikan kedokteran di Indonesia agar dapat menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas seperti yang kita harapkan bersama. Sp.

oleh karena itu akan selalu disempurnakan secara bertahap berdasarkan masukan yang diberikan dari berbagai pihak maupun dari bukti-bukti empiris lainnya. Peningkatan kualitas pendidikan kedokteran terutama ditujukan untuk menopang pelayanan asuhan medis dalam Sistem Pemberian Pelayanan Medis (Medical Care Delivery System) yang merupakan bagian integral dari Sistem Pemberian Pelayanan Kesehatan (Health Care Delivery System) kepada masyarakat. xi Standar Kompetensi Dokter Indonesia . Undang-Undang Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran pada pasal 26 ayat 2 (dua) huruf a menyatakan bahwa Standar Pendidikan Profesi Dokter disusun oleh Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia yang berkoordinasi dengan organisasi profesi. asosiasi rumah sakit pendidikan. Penyamaan persepsi dan penyatuan pendapat melalui penapisan berbagai masukan yang berlangsung sangat intensif. Kami menyadari sepenuhnya bahwa Standar Pendidikan Profesi Dokter dan Standar Kompetensi Dokter Indonesia ini masih jauh dari sempurna. kolegium.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Kata Sambutan Ketua Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Program Pendidikan Dokter Indonesia bagian integral dari Sistem Pendidikan Kedokteran di Indonesia. Perkembangan pendidikan kedokteran pada dasa warsa terakhir ini mengalami perkembangan. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah membantu dan ikut serta menyusun Standar Pendidikan Profesi Dokter dan Standar Kompetensi Dokter Indonesia ini. Penghargaan yang tak terhingga juga kami sampaikan kepada Tim Pokja Standar Pendidikan yang telah bekerja keras. mengorbankan waktu. sehingga hasil akhir dari proses penyusunan ini dapat mewakili berbagai komponen terkait. Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) adalah satu-satunya organisasi yang mewadahi seluruh institusi kedokteran dalam rangka mendorong dan membantu pengembangan pendidikan kedokteran. baik dari sisi teknologi maupun dari konsep pendidikannya itu sendiri. dan Departemen Kesehatan. Dari dasar itulah maka AIPKI yang menjalankan amanah Undang-Undang tersebut membentuk kelompok kerja Standar Pendidikan AIPKI untuk menyusun draf Standar Pendidikan Profesi Dokter dan Standar Kompetensi Dokter Indonesia. DepartemenPendidikan Nasional. sehingga arah pengembangan pendidikan kedokteran dapat terarah dan berkesinambungan serta memberikan daya ungkit yang nyata terhadap kesehatan di Indonesia. yaitu jenjang akademik dan jenjang profesi. dengan meminta masukan dari berbagai pihak baik dari profesi lain maupun dari pemangku kepentingan. pikiran dan keluarga demi tanggung jawab yang diberikan untuk menyelesaikan tugas ini. Kelompok kerja AIPKI dalam proses penyusunan draf Standar Pendidikan Profesi Dokter dan Standar kompetensi Dokter Indonesia tersebut telah bekerja keras dan tekun. tenaga. yang terdiri atas dua jenjang pendidikan.

serta bermanfaat bagi institusi pendidikan kedokteran. Selain itu diharapkan dapat memberikan acuan dalam memberikan kewenangan praktik. Semoga kerjasama yang baik yang telah terjalin selama ini akan memberikan kemudahan dalam proses penyusunan dimasa mendatang. Akhir kata. efisien. MSc.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Atas nama AIPKI dan Tim Pokja Standar Pendidikan kami mohon maaf apabila selama proses penyusunan draf ini terdapat hal-hal yang kurang berkenan. dr. Desember 2012 Prof. semoga Standar Pendidikan Profesi Dokter dan Standar Kompetensi Dokter Indonesia ini mampu menjawab tantangan bagi kebutuhan pelayanan kesehatan yang lebih baik. sehingga pelayanan kesehatan yang bermutu. adil dan merata dapat terwujud. efektif. Ali Ghufron Mukti. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Jakarta. PhD Ketua Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia Standar Kompetensi Dokter Indonesia xii .

.................................................................................KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Daftar Isi Kata Pengantar Kontributor ............................................... Kata Sambutan Ketua Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia .......................................... Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia ......... Daftar Kepustakaan ................................. iii iv vi ix x xi xiii xiv 1 3 5 13 14 20 30 58 Ucapan Terima Kasih Kepada Mitra Bestari ............. .................................................................................. Bab III Standar Kompetensi Dokter Indonesia ................................ Sistematika Standar Kompetensi Dokter Indonesia ................................................ Kata Sambutan Ketua Konsil Kedokteran Indonesia ............ Daftar isi ................................................................. Daftar Penyakit ............................................ Daftar Keterampilan Klinis ........ xiii Standar Kompetensi Dokter Indonesia ............................................................................................................................................................................................................... Daftar Pokok Bahasan ........................ Kata Sambutan Ketua Konsil Kedokteran ................................................................................................. Bab I Bab II Pendahuluan .......................................................................................... Daftar Masalah ...............................................

. perlu menetapkan Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia tentang Standar Kompetensi Dokter Indonesia...KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA PERATURAN KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG STANDAR KOMPETENSI DOKTER INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA. bahwa untuk menyesuaikan kompetensi dokter dengan sesuai kebutuhan pelayanan kesehatan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran. f. Mengingat . c... Standar Kompetensi Dokter Indonesia xiv . bahwa standar kompetensi dokter yang diatur dalam Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 21A/KKI/KEP/IX/2006 tentang Pengesahan Standar Kompetensi Dokter perlu disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran. huruf b. dan huruf e. Menimbang : a. bahwa telah disusun revisi standar kompetensi profesi dokter yang merupakan acuan dalam penyelenggaraan pendidikan profesi dokter. e. huruf d. b.. bahwa mempertimbangkan pelaksanaan ketentuan pasal 8 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. bahwa pendidikan kedokteran pada dasarnya bertujuan untuk menghasilkan dokter yang profesional melalui proses yang terstandardisasi masyarakat. perlu disusun kembali standar kompetensi dokter... d. huruf c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a..

4. xv Standar Kompetensi Dokter Indonesia . Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 158. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301). Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Konsil Kedokteran Indonesia (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 351). 2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5336). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063). 3. 6. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496). Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431). 7. 5.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Mengingat : 1. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072). Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116.

. Pasal 4.. Pasal 2 Setiap perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan profesi dokter.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA TENTANG STANDAR KOMPETENSI DOKTER INDONESIA. (2) Standar Kompetensi Dokter Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia ini. Pasal 1 (1) Standar Kompetensi Dokter Indonesia merupakan bagian dari Standar Pendidikan Profesi Dokter Indonesia yang disahkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 3 Pada saat peraturan ini mulai berlaku.. Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 21A/KKI/KEP/IX/2006 tentang Pengesahan Standar Kompetensi Dokter.... dalam mengembangkan kurikulum harus menerapkan Standar Kompetensi Dokter Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2).. Standar Kompetensi Dokter Indonesia xvi .

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 27 Desember 2012 KETUA KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA. Agar setiap orang mengetahuinya.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Pasal 4 Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. memerintahkan pengundangan Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. ttd MENALDI RASMIN. xvii Standar Kompetensi Dokter Indonesia .

.

SKDI pertama kali disahkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) pada tahun 2006 dan telah digunakan sebagai acuan untuk pengembangan kurikulum berbasis kompetensi (KBK). serta memiliki kemampuan manajerial dan kepemimpinan. Dalam mengimplementasikan program elektif. SKDI juga menjadi acuan dalam pengembangan uji kompetensi dokter yang bersifat nasional. SKDI harus mengantisipasi kondisi pembangunan kesehatan di Indonesia dalam kurun waktu 5 tahun ke depan. 3. yaitu profesional. Tantangan profesi kedokteran masih memerlukan penguatan dalam aspek perilaku profesional. tanpa mengesampingkan permasalahan penyakit tidak menular. Hal ini untuk memberikan arahan yang lebih jelas bagi institusi pendidikan kedokteran dalam menyusun kurikulum. Sistematika berdasarkan organ sistem ini juga mempermudah penyusun kurikulum dalam menentukan urutan tematik tujuan pembelajaran secara sistematis 2. nasional. maupun global. kompeten. Konsistensi lampiran daftar masalah. dan pengembangan diri serta komunikasi efektif sebagai dasar dari rumah bangun kompetensi dokter Indonesia. institusi pendidikan kedokteran perlu mengembangkan muatan lokal yang menjadi unggulan masing-masing institusi sehingga memberikan kesempatan mobilitas mahasiswa secara regional. Hal tersebut sesuai dengan hasil pertemuan Konsil Kedokteran se-ASEAN yang memformulasikan bahwa karakteristik dokter yang ideal. mawas diri. Sampai dengan tahun 2015. sebagai tindak lanjut hasil kajian terhadap perilaku personal dokter. fokus pencapaian kompetensi terutama dalam hal yang terkait dengan kesehatan ibu dan anak serta permasalahan gizi dan penyakit infeksi. mengingat perkembangan yang ada terkait sinergisme sistem pelayanan kesehatan dengan sistem pendidikan dokter. yaitu: Penambahan Daftar Masalah Profesi pada Lampiran Daftar Masalah. Berdasarkan pengalaman institusi pendidikan kedokteran dalam mengimplementasikan SKDI tersebut. serta mencegah terjadinya duplikasi yang tidak perlu. Millenium Development Goals (MDGs) masih menjadi tujuan yang harus dicapai dengan baik. sebagai berikut: 1. sistematika SKDI yang baru mengalami perubahan. SKDI memerlukan revisi secara berkala. perkembangan yang terjadi di masyarakat serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran. 4. ditemukan beberapa hal yang mendapatkan perhatian.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA BAB I PENDAHULUAN Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) merupakan standar minimal kompetensi lulusan dan bukan merupakan standar kewenangan dokter layanan primer. Secara teknis. penyakit dan keterampilan klinis disusun berdasarkan organ sistem. beretika. Untuk itu. sebagai tindak lanjut hasil kajian mengenai implementasi SKDI di institusi pendidikan kedokteran. 1 Standar Kompetensi Dokter Indonesia . Penambahan Lampiran Pokok Bahasan untuk Pencapaian 7 Area Kompetensi.

sarana dan prasarana serta pendanaan yang menunjang seluruh aktivitas perlu disiapkan secara efektif dan efisien serta disesuaikan dengan SPPD. tenaga kependidikan. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2 .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Agar SKDI dapat diimplementasikan secara konsisten oleh institusi pendidikan kedokteran. maka berbagai sumber daya seperti dosen.

skematis. susunan Standar Kompetensi Dokter Indonesia dapat digambarkan pada Gambar 1. Daftar Penyakit. Setiap area kompetensi ditetapkan definisinya. Fungsi utama keempat daftar tersebut sebagai acuan bagi institusi pendidikan kedokteran dalam mengembangkan kurikulum institusional. peran. Standar Kompetensi Dokter Indonesia ini dilengkapi dengan Daftar Pokok Bahasan. yang dirinci lebih lanjut menjadi kemampuan yang diharapkan di akhir pendidikan. Area Kompetensi Kompetensi Inti Komponen Kompetensi Kemampuan yang diharapkan pada akhir pembelajaran Lampiran • • • • Daftar Pokok bahasan Daftar Masalah Daftar Penyakit Daftar Keterampilan Klinis Untuk pencapaian kompetensi Gambar 1. susunan Standar Kompetensi Dokter Indonesia. dan Daftar Keterampilan Klinis. dan fungsi dokter layanan primer. yang disebut kompetensi inti. Secara skematis. Daftar Masalah. Setiap area kompetensi dijabarkan menjadi beberapa komponen kompetensi.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA BAB II SISTEMATIKA STANDAR KOMPETENSI DOKTER INDONESIA Standar Kompetensi Dokter Indonesia terdiri atas 7 (tujuh) area kompetensi yang diturunkan dari gambaran tugas. 3 Standar Kompetensi Dokter Indonesia .

sehingga memudahkan bagi institusi pendidikan kedokteran untuk menentukan kedalaman dan keluasan dari isi kurikulum. dan dipetakan sesuai dengan struktur kurikulum masingmasing institusi. Daftar Penyakit. berisikan nama penyakit yang merupakan diagnosis banding dari masalah yang dijumpai pada Daftar Masalah.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Daftar Pokok Bahasan. Oleh karena itu. Daftar Keterampilan Klinis. Daftar Masalah. Daftar Penyakit ini memberikan arah bagi institusi pendidikan kedokteran untuk mengidentifikasikan isi kurikulum. berisikan berbagai masalah yang akan dihadapi dokter layanan primer. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 4 . mahasiswa kedokteran dipaparkan pada masalah-masalah tersebut dan diberi kesempatan berlatih menanganinya. berisikan keterampilan klinis yang perlu dikuasai oleh dokter layanan primer di Indonesia. Materi tersebut dapat diuraikan lebih lanjut sesuai bidang ilmu yang terkait. Pada setiap penyakit telah ditentukan tingkat kemampuan yang diharapkan. Pada setiap keterampilan telah ditentukan tingkat kemampuan yang diharapkan. Daftar ini memudahkan institusi pendidikan kedokteran untuk menentukan materi dan sarana pembelajaran keterampilan klinis. institusi pendidikan kedokteran perlu memastikan bahwa selama pendidikan. memuat pokok bahasan dalam proses pembelajaran untuk mencapai 7 area kompetensi.

5. 4. 6.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA BAB III STANDAR KOMPETENSI DOKTER INDONESIA A. Profesionalitas yang Luhur Mawas Diri dan Pengembangan Diri Komunikasi Efektif Pengelolaan Informasi Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran Keterampilan Klinis Pengelolaan Masalah Kesehatan Gambar 2. 2. AREA KOMPETENSI Kompetensi dibangun dengan pondasi yang terdiri atas profesionalitas yang luhur. keterampilan klinis. Oleh karena itu area kompetensi disusun dengan urutan sebagai berikut: 1. serta komunikasi efektif. mawas diri dan pengembangan diri. landasan ilmiah ilmu kedokteran. Pondasi dan Pilar Kompetensi. 5 Standar Kompetensi Dokter Indonesia . 3. 7. dan pengelolaan masalah kesehatan (Gambar 2). dan ditunjang oleh pilar berupa pengelolaan informasi.

Menerapkan mawas diri 7. Melaksanakan promosi kesehatan pada individu. Berkomunikasi dengan masyarakat Area Pengelolaan Informasi 12. Mempraktikkan belajar sepanjang hayat 8. Melaksanakan pencegahan dan deteksi dini terjadinya masalah kesehatan pada individu. ilmu Humaniora. Berkomunikasi dengan mitra kerja 11. Sadar dan taat hukum 4. beretika dan disiplin 3. keluarga dan masyarakat 20. Memberdayakan dan berkolaborasi dengan masyarakat dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan 21. keluarga dan masyarakat 18. Mengembangkan pengetahuan Area Komunikasi Efektif 9. Mendiseminasikan informasi dan pengetahuan secara efektif kepada profesional kesehatan. Berke-Tuhanan Yang Maha Esa/Yang Maha Kuasa 2. Melakukan prosedur penatalaksanaan yang holistik dan komprehensif Area Pengelolaan Masalah Kesehatan 17. pasien. Area Keterampilan Klinis 15. Melakukan prosedur diagnosis 16. Bermoral. ilmu Kedokteran Klinik. Berkomunikasi dengan pasien dan keluarga 10. Menerapkan ilmu Biomedik. masyarakat dan pihak terkait untuk peningkatan mutu pelayanan kesehatan Area Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran 14. keluarga dan masyarakat 19. Melakukan penatalaksanaan masalah kesehatan individu. KOMPONEN KOMPETENSI Area Profesionalitas yang Luhur 1. efisien dan berkesinambungan dalam penyelesaian masalah kesehatan 22.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA B. dan ilmu Kesehatan Masyarakat/ Kedokteran Pencegahan/Kedokteran Komunitas yang terkini untuk mengelola masalah kesehatan secara holistik dan komprehensif. Berwawasan sosial budaya 5. Mengakses dan menganalisis serta menerapkan kebijakan kesehatan spesifik yang merupakan prioritas daerah masing-masing di Indonesia Standar Kompetensi Dokter Indonesia 6 . Mengelola sumber daya secara efektif. Mengakses dan menilai informasi dan pengetahuan 13. Berperilaku profesional Area Mawas Diri dan Pengembangan Diri 6.

Profesionalitas yang Luhur 1.dan interprofesional dalam tim pelayanan kesehatan demi keselamatan pasien Melaksanakan upaya pelayanan kesehatan dalam kerangka sistem kesehatan nasional dan global 3.2. hukum. 4. 5. dan sosial budaya. gender. 1.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA C. dan sosial-budaya-ekonomi dalam menjalankan praktik kedokteran dan bermasyarakat Menghargai dan melindungi kelompok rentan Menghargai upaya kesehatan komplementer dan alternatif yang berkembang di masyarakat multikultur Berperilaku profesional Menunjukkan karakter sebagai dokter yang profesional Bersikap dan berbudaya menolong Mengutamakan keselamatan pasien Mampu bekerja sama intra. 7 Standar Kompetensi Dokter Indonesia . Lulusan Dokter Mampu 1.1. Berke-Tuhan-an (Yang Maha Esa/Yang Maha Kuasa) Bersikap dan berperilaku yang berke-Tuhan-an dalam praktik kedokteran Bersikap bahwa yang dilakukan dalam praktik kedokteran merupakan upaya maksimal 2. beretika. disiplin. Kompetensi Inti Mampu melaksanakan praktik kedokteran yang profesional sesuai dengan nilai dan prinsip ke-Tuhan-an. etika. dan berdisiplin Bersikap dan berperilaku sesuai dengan standar nilai moral yang luhur dalam praktik kedokteran Bersikap sesuai dengan prinsip dasar etika kedokteran dan kode etik kedokteran Indonesia Mampu mengambil keputusan terhadap dilema etik yang terjadi pada pelayanan kesehatan individu. difabilitas. Bermoral. usia. moral luhur. keluarga dan masyarakat Bersikap disiplin dalam menjalankan praktik kedokteran dan bermasyarakat Sadar dan taat hukum Mengidentifikasi masalah hukum dalam pelayanan kedokteran dan memberikan saran cara pemecahannya Menyadari tanggung jawab dokter dalam hukum dan ketertiban masyarakat Taat terhadap perundang-undangan dan aturan yang berlaku Membantu penegakkan hukum serta keadilan Berwawasan sosial budaya Mengenali sosial-budaya-ekonomi masyarakat yang dilayani Menghargai perbedaan persepsi yang dipengaruhi oleh agama. PENJABARAN KOMPETENSI 1. etnis.

2. Kompetensi Inti Mampu menggali dan bertukar informasi secara verbal dan nonverbal dengan pasien pada semua usia. kolega. sosial dan budaya diri sendiri Tanggap terhadap tantangan profesi Menyadari keterbatasan kemampuan diri dan merujuk kepada yang lebih mampu Menerima dan merespons positif umpan balik dari pihak lain untuk pengembangan diri 2.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 2. mengikuti penyegaran dan peningkatan pengetahuan secara berkesinambungan serta mengembangkan pengetahuan demi keselamatan pasien.2. informed consent) dan melakukan konseling dengan cara yang santun. 3. masyarakat. Mengembangkan pengetahuan baru Melakukan penelitian ilmiah yang berkaitan dengan masalah kesehatan pada individu. Kompetensi Inti Mampu melakukan praktik kedokteran dengan menyadari keterbatasan. keluarga dan masyarakat serta mendiseminasikan hasilnya 3. Lulusan Dokter Mampu 1. anggota keluarga. Lulusan Dokter Mampu 1. Mempraktikkan belajar sepanjang hayat Menyadari kinerja profesionalitas diri dan mengidentifikasi kebutuhan belajar untuk mengatasi kelemahan Berperan aktif dalam upaya pengembangan profesi 3. Berkomunikasi dengan pasien dan keluarganya Membangun hubungan melalui komunikasi verbal dan nonverbal Berempati secara verbal dan nonverbal Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang santun dan dapat dimengerti Mendengarkan dengan aktif untuk menggali permasalahan kesehatan secara holistik dan komprehensif Menyampaikan informasi yang terkait kesehatan (termasuk berita buruk. dan profesi lain. mengatasi masalah personal.1. baik dan benar Menunjukkan kepekaan terhadap aspek biopsikososiokultural dan spiritual pasien dan keluarga Standar Kompetensi Dokter Indonesia 8 . Menerapkan mawas diri Mengenali dan mengatasi masalah keterbatasan fisik.1. Komunikasi Efektif 3. psikis. mengembangkan diri.2. Mawas Diri dan Pengembangan Diri 2.

4.2. dan ilmu Kesehatan Masyarakat/Kedokteran Pencegahan/Kedokteran Komunitas yang terkini untuk mengelola masalah kesehatan secara holistik dan komprehensif. ilmu Humaniora. keluarga. Berkomunikasi dengan masyarakat Melakukan komunikasi dengan masyarakat dalam rangka mengidentifikasi masalah kesehatan dan memecahkannya bersama-sama Melakukan advokasi dengan pihak terkait dalam rangka pemecahan masalah kesehatan individu. 5. Mengakses dan menilai informasi dan pengetahuan Memanfaatkan teknologi informasi komunikasi dan informasi kesehatan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan Memanfaatkan keterampilan pengelolaan informasi kesehatan untuk dapat belajar sepanjang hayat 2. Menerapkan prinsip-prinsip ilmu Biomedik.2. Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran 5.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 2. dan ilmu Kesehatan Masyarakat/Kedokteran Pencegahan/Kedokteran Komunitas yang berhubungan dengan promosi kesehatan individu.1. media massa dan pihak lainnya jika diperlukan Mempresentasikan informasi ilmiah secara efektif 3. ilmu Humaniora. perusahaan asuransi kesehatan.1. pasien. Lulusan Dokter Mampu 1. 4. Mendiseminasikan informasi dan pengetahuan secara efektif kepada profesi kesehatan lain. Lulusan Dokter Mampu Menerapkan ilmu Biomedik. dan masyarakat 9 Standar Kompetensi Dokter Indonesia . Berkomunikasi dengan mitra kerja (sejawat dan profesi lain) Melakukan tatalaksana konsultasi dan rujukan yang baik dan benar Membangun komunikasi interprofesional dalam pelayanan kesehatan Memberikan informasi yang sebenarnya dan relevan kepada penegak hukum. 5. ilmu Kedokteran Klinik. keluarga dan masyarakat. ilmu Kedokteran Klinik. masyarakat dan pihak terkait untuk peningkatan mutu pelayanan kesehatan Memanfaatkan keterampilan pengelolaan informasi untuk diseminasi informasi dalam bidang kesehatan. Pengelolaan Informasi 4. Kompetensi Inti Mampu menyelesaikan masalah kesehatan berdasarkan landasan ilmiah ilmu kedokteran dan kesehatan yang mutakhir untuk mendapat hasil yang optimum. Kompetensi Inti Mampu memanfaatkan teknologi informasi komunikasi dan informasi kesehatan dalam praktik kedokteran.

keluarga. dan masyarakat Menerapkan prinsip-prinsip ilmu Biomedik. Melakukan prosedur diagnosis Melakukan dan menginterpretasi hasil auto-. ilmu Humaniora. keselamatan diri sendiri. dan ilmu Kesehatan Masyarakat/Kedokteran Pencegahan/Kedokteran Komunitas yang berhubungan dengan terjadinya masalah kesehatan individu. patogenesis. dan ilmu Kesehatan Masyarakat/Kedokteran Pencegahan/Kedokteran Komunitas untuk menentukan prioritas masalah kesehatan pada individu. dan keselamatan orang lain.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Menerapkan prinsip-prinsip ilmu Biomedik. 6. dan ilmu Kesehatan Masyarakat/Kedokteran Pencegahan/Kedokteran Komunitas yang berhubungan dengan rehabilitasi medik dan sosial pada individu. ilmu Kedokteran Klinik. ilmu Kedokteran Klinik. Lulusan Dokter Mampu 1.1. ilmu Humaniora. dan ilmu Kesehatan Masyarakat/Kedokteran Pencegahan/Kedokteran Komunitas yang berhubungan dengan prevensi masalah kesehatan individu. Kompetensi Inti Mampu melakukan prosedur klinis yang berkaitan dengan masalah kesehatan dengan menerapkan prinsip keselamatan pasien. keluarga. ilmu Humaniora. ilmu Kedokteran Klinik. ilmu Kedokteran Klinik. keluarga.2. dan keterbatasan sumber daya dalam pelayanan kesehatan untuk mengambil keputusan 6. dan ilmu Kesehatan Masyarakat/Kedokteran Pencegahan/Kedokteran Komunitas Menerapkan prinsip-prinsip ilmu Biomedik. dan masyarakat Menerapkan prinsip-prinsip ilmu Biomedik. ilmu Humaniora. dan masyarakat Menggunakan data klinik dan pemeriksaan penunjang yang rasional untuk menegakkan diagnosis Menggunakan alasan ilmiah dalam menentukan penatalaksanaan masalah kesehatan berdasarkan etiologi. allo. dan patofisiologi Menentukan prognosis penyakit melalui pemahaman prinsip-prinsip ilmu Biomedik. ilmu Kedokteran Klinik. ilmu Humaniora.dan hetero-anamnesis. Melakukan prosedur penatalaksanaan masalah kesehatan secara holistik dan komprehensif Melakukan edukasi dan konseling Melaksanakan promosi kesehatan Standar Kompetensi Dokter Indonesia 10 . ilmu Humaniora. keluarga dan masyarakat Menerapkan prinsip-prinsip ilmu Biomedik. ilmu Kedokteran Klinik. Keterampilan Klinis 6. bukti ilmiah kedokteran. dan ilmu Kesehatan Masyarakat/Kedokteran Pencegahan/Kedokteran Komunitas yang berhubungan dengan kepentingan hukum dan peradilan Mempertimbangkan kemampuan dan kemauan pasien. pemeriksaan fisik umum dan khusus sesuai dengan masalah pasien Melakukan dan menginterpretasi pemeriksaan penunjang dasar dan mengusulkan pemeriksaan penunjang lainnya yang rasional 2.

dan dapat dibaca 11 Standar Kompetensi Dokter Indonesia . keluarga dan masyarakat Mengidentifikasi kebutuhan perubahan pola pikir. tepat. Melakukan penatalaksanaan masalah kesehatan individu. Melaksanakan promosi kesehatan pada individu. keluarga maupun masyarakat secara komprehensif.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Melakukan tindakan medis preventif Melakukan tindakan medis kuratif Melakukan tindakan medis rehabilitatif Melakukan prosedur proteksi terhadap hal yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain Melakukan tindakan medis pada kedaruratan klinis dengan menerapkan prinsip keselamatan pasien Melakukan tindakan medis dengan pendekatan medikolegal terhadap masalah kesehatan/kecederaan yang berhubungan dengan hukum 7. dan masyarakat 2.2. keluarga dan masyarakat Melakukan pencegahan timbulnya masalah kesehatan Melakukan kegiatan penapisan faktor risiko penyakit laten untuk mencegah dan memperlambat timbulnya penyakit Melakukan pencegahan untuk memperlambat progresi dan timbulnya komplikasi penyakit dan atau kecacatan 3. biaya. jenis kelamin. agama. sikap dan perilaku. dan berbasis bukti Mengelola masalah kesehatan secara mandiri dan bertanggung jawab (lihat Daftar Pokok Bahasan dan Daftar Penyakit) dengan memperhatikan prinsip keselamatan pasien Mengkonsultasikan dan/atau merujuk sesuai dengan standar pelayanan medis yang berlaku (lihat Daftar Penyakit) Membuat instruksi medis tertulis secara jelas. masyarakat. Melaksanakan pencegahan dan deteksi dini terjadinya masalah kesehatan pada individu. dan budaya Merencanakan dan melaksanakan pendidikan kesehatan dalam rangka promosi kesehatan di tingkat individu. etnis. lengkap. 7. holistik. Kompetensi Inti Mampu mengelola masalah kesehatan individu. Pengelolaan Masalah Kesehatan 7. serta modifikasi gaya hidup untuk promosi kesehatan pada berbagai kelompok umur.1. terpadu dan berkesinambungan dalam konteks pelayanan kesehatan primer. Lulusan Dokter Mampu 1. keluarga dan masyarakat Menginterpretasi data klinis dan merumuskannya menjadi diagnosis Menginterpretasi data kesehatan keluarga dalam rangka mengidentifikasi masalah kesehatan keluarga Menginterpretasi data kesehatan masyarakat dalam rangka mengidentifikasi dan merumuskan diagnosis komunitas Memilih dan menerapkan strategi penatalaksanaan yang paling tepat berdasarkan prinsip kendali mutu. keluarga.

dan masyarakat Melakukan rehabilitasi medik dasar dan rehabilitasi sosial pada individu. Mengidentifikasi berbagai indikator keberhasilan pengobatan. serta sesuai kondisi pasien). Standar Kompetensi Dokter Indonesia 12 . hukum. kematian. etika. lengkap. Mengakses dan menganalisis serta menerapkan kebijakan kesehatan spesifik yang merupakan prioritas daerah masing-masing di Indonesia Menggambarkan bagaimana pilihan kebijakan dapat memengaruhi program kesehatan masyarakat dari aspek fiskal. memperbaiki. keluarga. dan mengubah terapi dengan tepat Menentukan prognosis masalah kesehatan pada individu. efisien dan berkesinambungan dalam penyelesaian masalah kesehatan Mengelola sumber daya manusia. dan masyarakat Menerapkan prinsip-prinsip epidemiologi dan pelayanan kedokteran secara komprehensif. holistik. tepat frekwensi dan cara pemberian. dan berkesinambungan dalam mengelola masalah kesehatan Melakukan tatalaksana pada keadaan wabah dan bencana mulai dari identifikasi masalah hingga rehabilitasi komunitas 4. dan politik. tepat obat. keuangan. sehat. sosial. sarana. dan dapat dibaca. laporan medikolegal serta keterangan medis lain sesuai kewenangannya termasuk visum et repertum dan identifikasi jenasah Menulis resep obat secara bijak dan rasional (tepat indikasi. jelas. memonitor perkembangan penatalaksanaan. laporan kejadian luar biasa. Memberdayakan dan berkolaborasi dengan masyarakat dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan Memberdayakan dan berkolaborasi dengan masyarakat agar mampu mengidentifikasi masalah kesehatan actual yang terjadi serta mengatasinya bersama-sama Bekerja sama dengan profesi dan sektor lain dalam rangka pemberdayaan masyarakat untuk mengatasi masalah kesehatan 5.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Membuat surat keterangan medis seperti surat keterangan sakit. administrasi. dan prasarana secara efektif dan efisien Menerapkan manajemen mutu terpadu dalam pelayanan kesehatan primer dengan pendekatan kedokteran keluarga Menerapkan manajemen kesehatan dan institusi layanan kesehatan 6. Mengelola sumber daya secara efektif. keluarga. tepat dosis.

Undang-Undang Republik Indonesia Kedokteran. Quality Improvement in Basic Medical Education: WFME International Guidelines. d.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Daftar Kepustakaan a. 13 Standar Kompetensi Dokter Indonesia . Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Martin C. 2002: 77(5). Anonim. Englander R. c. Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Denmark. g. Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 045/U/2002. Academic Medicine. Cerraccio C. University of Copenhagen. Ferentz K. e. h. Wolfsthal SD. b. 2000. f. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2000 tentang Standar Nasional Pendidikan. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Shifting paradigms: From Flexner to competencies.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA STANDAR KOMPETENSI DOKTER INDONESIA Lampiran-1 DAFTAR POKOK BAHASAN Standar Kompetensi Dokter Indonesia 14 .

1. dan perhimpunan.7.2. 1. Peraturan perundang-undangan dan peraturan-peraturan lain di bawahnya yang terkait dengan praktik kedokteran 1.1. Alternatif penyelesaian masalah sengketa hukum dalam pelayanan kesehatan 1. Pengertian bioetika dan etika kedokteran (misalnya pengenalan teori-teori bioetika. 1. Sistematika Daftar Pokok Bahasan ini disusun berdasarkan masing-masing area kompetensi. 1. kewajiban. Pemahaman terhadap KODEKI.6. 1.5. dan sistem nilai lain yang terkait dengan pelayanan kesehatan 1. institusi pendidikan kedokteran.3. etika klinik) 1.13.8.9. Area Kompetensi 1: Profesionalitas yang Luhur Agama sebagai nilai moral yang menentukan sikap dan perilaku manusia Aspek agama dalam praktik kedokteran Pluralisme keberagamaan sebagai nilai sosial di masyarakat dan toleransi Konsep masyarakat (termasuk pasien) mengenai sehat dan sakit Aspek-aspek sosial dan budaya masyarakat terkait dengan pelayanan kedokteran (logiko sosio budaya) 1. prinsip-prinsip etika terapan.12. Penjelasan mengenai hubungan antara hukum dan etika (persamaan dan perbedaan) 1. Kaidah Dasar Moral dalam praktik kedokteran 1. Daftar Pokok Bahasan ini disusun berdasarkan masukan dari pemangku kepentingan yang kemudian dianalisis dan divalidasi menggunakan metode focus group discussion (FGD) dan nominal group technique (NGT) bersama dengan konsil kedokteran. Prinsip-prinsip dan logika hukum dalam pelayanan kesehatan 1.11.15. filsafat kedokteran.14.4.10. Hak dan kewajiban dokter 1. Hak. organisasi profesi. dan bukan untuk membatasi bahan atau tema pendidikan dan pengajaran. dan tanggung jawab manusia terkait bidang kesehatan 1.16. Tujuan Daftar Pokok Bahasan ini ditujukan untuk membantu institusi pendidikan kedokteran dalam penyusunan kurikulum. KODERSI. 15 Standar Kompetensi Dokter Indonesia . Teori-teori pemecahan kasus-kasus etika dalam pelayanan kedokteran 1. Permasalahan etikomedikolegal dalam pelayanan kesehatan dan cara pemecahannya 1.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Standar Kompetensi Dokter Indonesia Daftar Pokok Bahasan Pendahuluan Salah satu tantangan terbesar bagi institusi pendidikan kedokteran dalam melaksanakan Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah menerjemahkan standar kompetensi ke dalam bentuk bahan atau tema pendidikan dan pengajaran.

kerja sama tim. Persiapan ujian (test preparation) 2. hubungan interprofesional dokter dengan tenaga kesehatan yang lain) 1. Prinsip-prinsip presentasi ilmiah 3. Konsep dasar uji hipotesis dan statistik inferensial e. Dokter sebagai bagian dari masyarakat umum dan masyarakat profesi (IDI dan organisasi profesi lain yang berkaitan dengan profesi kedokteran) 1. Problem based learning 2.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 1. Prinsip pembelajaran orang dewasa (adult learning) a.5. Area Kompetensi 3: Komunikasi Efektif 3. Manajemen waktu (time management) h.4. Area Kompetensi 2: Mawas Diri dan Pengembangan Diri 2. Metodologi penelitian dan statistika a. Membaca efektif (effective reading) f. Umpan balik konstruktif d. Belajar mandiri b. Penyelenggaraan praktik kedokteran yang baik di Indonesia (termasuk aspek kedisiplinan profesi) 1.21. dan mudah dimengerti 3. Konsentrasi dan memori (concentration and memory) g.2. Berpikir kritis c.1. Prinsip komunikasi dalam pelayanan kesehatan a. pengenalan terhadap karakter profesional.1.20. Metode untuk memberikan situasi yang nyaman dan kondusif dalam berkomunikasi efektif c. Penelusuran sumber belajar secara kritis d. Dokter sebagai bagian Sistem Kesehatan Nasional 1. Mendengar aktif (active listening) e. Konsep dasar pengukuran c. Konsep dasar penulisan proposal dan hasil penelitian b.3. Refleksi diri 2. Pancasila dan kewarganegaraan dalam konteks sistem pelayanan kesehatan 2. Konsep dasar disain penelitian d. benar. Metode komunikasi oral dan tertulis yang efektif b. Pencarian literatur (literature searching) c. Penggunaan bahasa yang baik. Melingkupi biopsikososiokultural spiritual Standar Kompetensi Dokter Indonesia 16 . Dasar-dasar keterampilan belajar a.17. Telaah kritis f.2. Metode untuk mendorong pasien agar memberikan informasi dengan sukarela d.18. Metode untuk mengidentifikasi tujuan pasien berkonsultasi f. Membuat catatan kuliah (note taking) i. Pengenalan gaya belajar (learning style) b.19. Profesionalisme dokter (sebagai bentuk kontrak sosial. Problem solving 2. Metode melakukan anamnesis secara sistematis e.

Teknik negosiasi. Degeneratif 17 Standar Kompetensi Dokter Indonesia . Struktur dan fungsi pada tingkat molekular. Teknik pengisian rekam medis untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan 4. jaringan. interpersonal dan komunikasi masa b. Penyebab penyakit a. takut.4.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 3. Lingkungan: biologis.3. kontak mata. atau kondisi khusus f. fisik. tone suara.2. Bahasa tubuh. sedih. Koordinasi regulasi fungsi antarorgan atau sistem: • Integumen • Skeletal • Kardiovaskular • Respirasi • Gastrointestinal • Reproduksi • Tumbuh-kembang • Endokrin • Nefrogenitalia • Darah dan sistem imun • Saraf pusat-perifer dan indra 5. selular. dan organ b. Komunikasi lintasbudaya dan keberagaman a. Teknik fasilitasi pada situasi yang sulit. Perilaku yang tidak merendahkan atau menyalahkan pasien. cara berbicara.1. bersikap sabar. Kaidah penulisan dan laporan ilmiah 3.5. kata-kata yang digunakan atau dihindari d. Genetik c. Metode riset dan aplikasi statistik untuk menilai kesahihan informasi ilmiah 4. misalnya pasien marah. Keterampilan pemanfaatan evidence-based medicine (EBM) 4.3. dan kimia b. Teknik keterampilan dasar pengelolaan informasi 4. Psikologis dan perilaku d. Gaya dalam berkomunikasi c. Berbagai elemen komunikasi efektif a. Komunikasi intrapersonal. Komunikasi dalam public speaking 4.5. dan motivasi 3. Nutrisi e. Area Kompetensi 4: Pengelolaan Informasi 4.6.2.4. persuasi.1. dan sensitif terhadap budaya 3. Struktur dan fungsi a. Prinsip homeostasis c. Area Kompetensi 5: Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran 5. Keterampilan untuk mendengarkan aktif e. Teknik diseminasi informasi dalam bidang kesehatan baik lisan maupun tulisan dengan menggunakan media yang sesuai 5. tempo berbicara.

6. Infeksi d. 5.4. Area Kompetensi 6: Keterampilan Klinis 6.5.4. Trauma b. radiodiagnostik. Pencegahan secara aspek biomedik i. Respons imun e.9. Inflamasi c. Prinsip dasar berbagai pemeriksaan penunjang diagnostik (laboratorium sederhana. sekunder. Patomekanisme penyakit a.1. Rehabilitasi j. 5. Gangguan hemodinamik (iskemik. Sistem Kesehatan Nasional (SKN) termasuk sistem rujukan 7. infark. Lima tingkat pencegahan penyakit 7.6. Kelainan genetik j. biopsi jaringan) c.5.2. lingkungan. 6. 6.8.3. Pendokumentasian informasi medik dan nonmedik b. 5.3. Standar Pelayanan Minimal (SPM) 7. 5. 5.5. Critical appraisal dalam diagnosis dan terapi i.7. Pembiayaan kesehatan Standar Kompetensi Dokter Indonesia 18 .1. Dasar-dasar penatalaksanaan penyakit (farmakologis dan nonfarmakologis) f. Prinsip dasar praktik kedokteran dan penatalaksanaan masalah kesehatan akut. Prinsip keselamatan pasien e. emergensi.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 5. dan gangguan perilaku pada berbagai tingkatan usia dan jenis kelamin (Basic Medical Practice) a. Clinical reasoning d. 5.7. Prognosis g. Prinsip dan keterampilan anamnesis Prinsip dan keterampilan pemeriksaan fisik Prinsip pemeriksaan laboratorium dasar Prinsip pemeriksaan penunjang lain Prinsip keterampilan terapeutik (lihat daftar keterampilan klinik) Prinsip kewaspadaan standar (standard precaution) Kedaruratan klinik 7. dan tersier) Prinsip-prinsip pencegahan penyakit Prinsip-prinsip pendekatan kedokteran keluarga Mutu pelayanan kesehatan Prinsip pendekatan sosio-budaya 6. dan gaya hidup 5. Proses penyembuhan (tissue repair and healing) g.6. thrombosis. Neoplasia h. USG.4. kronik. 6. Kebijakan dan manajemen kesehatan 7.10 Etika kedokteran Prinsip hukum kedokteran Prinsip-prinsip pelayanan kesehatan (primer. Pengertian dan prinsip evidence based medicine h. 6. Area Kompetensi 7: Pengelolaan Masalah Kesehatan 7.3.2. 6. EKG. syok) f. Nutrisi.

8. 7.9. 7.7. 7.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 7.16.17.14.18. 7. 7.13.11. 7. 7. 7. 7. Penjaminan mutu pelayanan kesehatan Pendidikan kesehatan Promosi kesehatan Konsultasi dan konseling Faktor risiko masalah kesehatan Epidemiologi Faktor risiko penyakit Surveilans Statistik kesehatan Prinsip pelayanan kesehatan primer Prinsip keselamatan pasien (patient safety dan medication safety) Prinsip interprofesionalisme dalam pendidikan kesehatan Jaminan atau asuransi kesehatan masyarakat 19 Standar Kompetensi Dokter Indonesia .6. 7.12. 7.10. 7.15.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA STANDAR KOMPETENSI DOKTER INDONESIA Lampiran-2 DAFTAR MASALAH Standar Kompetensi Dokter Indonesia 20 .

pemeriksaan fisik. tetapi juga dapat bersumber dari pribadi dokter. hukum. Susunan masalah kesehatan pada Daftar Masalah ini tidak menunjukkan urutan prioritas masalah. Daftar Masalah individu berisi daftar masalah/gejala/keluhan yang banyak dijumpai dan merupakan alasan utama yang sering menyebabkan pasien/klien datang menemui dokter di tingkat pelayanan kesehatan primer. juga menjunjung tinggi profesionalisme serta etika profesi di atas kepentingan/keuntungan pribadi. misalnya masalah etika. mahasiswa perlu dipaparkan pada berbagai masalah. Draf revisi Daftar Masalah kemudian divalidasi dengan metode focus group discussion (FGD) dan nominal group technique (NGT) bersama para dokter dan pakar yang mewakili pemangku kepentingan. dan aspek medikolegal yang sering dihadapi oleh dokter layanan primer. Perspektif ini penting sebagai bahan pembelajaran dalam rangka membentuk karakter dokter Indonesia yang baik.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Standar Kompetensi Dokter Indonesia Daftar Masalah Pendahuluan Dalam melaksanakan praktik kedokteran. Sedangkan Daftar Masalah kesehatan masyarakat berisi masalah kesehatan di masyarakat dan permasalahan pelayanan kesehatan. serta dilatih cara menanganinya Setiap institusi harus menyadari bahwa masalah dalam pelayanan kedokteran tidak hanya bersumber dari pasien atau masyarakat. disiplin. keluhan/gejala tersebut. Selama pendidikan. Daftar Masalah ini bersumber dari lampiran Daftar Masalah SKDI 2006 yang kemudian direvisi berdasarkan data hasil kajian dan masukan pemangku kepentingan. • Bagian II berisikan daftar masalah yang seringkali dihadapi dokter terkait dengan profesinya. kemudian dilanjutkan dengan penelusuran riwayat penyakit. 21 Standar Kompetensi Dokter Indonesia . dan pemeriksaan penunjang. dokter harus memperhatikan kondisi pasien secara holistik dan komprehensif. Tujuan Daftar Masalah ini disusun dengan tujuan untuk menjadi acuan bagi institusi pendidikan dokter dalam menyiapkan sumber daya yang berkaitan dengan kasus dan permasalahan kesehatan sebagai sumber pembelajaran mahasiswa. dokter bekerja berdasarkan keluhan atau masalah pasien/klien. Dalam melaksanakan semua kegiatan tersebut. Sistematika Daftar Masalah ini terdiri atas 2 bagian sebagai berikut: • Bagian I memuat daftar masalah kesehatan individu dan masyarakat.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA BAGIAN I DAFTAR MASALAH KESEHATAN INDIVIDU DAN MASYARAKAT Masalah Kesehatan Individu Sistem Saraf dan Perilaku/Psikiatri 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Sakit kepala Pusing Kejang Kejang demam Epilepsi Pingsan/sinkop Hilang kesadaran Terlambat bicara (speech delay) Gerakan tidak teratur Gangguan gerak dan koordinasi Gangguan penciuman Gangguan bicara Wajah kaku Wajah perot Kesemutan Mati rasa/baal Gemetar (tremor) Lumpuh 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Perubahan perilaku (termasuk perilaku agresif) Gangguan perkembangan (mental & intelektual) Gangguan belajar Gangguan komunikasi Penyalahgunaan obat Pelupa (gangguan memori). bingung Penurunan fungsi berpikir Perubahan emosi. mood tidak stabil Gangguan perilaku seksual (nonorganik) Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif Kepercayaan yang aneh Gangguan perilaku makan Gangguan tidur Stres Depresi Cemas Pemarah Mengamuk Sistem Indra 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Mata merah Mata gatal Mata berair Mata kering Mata nyeri Mata lelah Kotoran mata Penglihatan kabur Penglihatan ganda Penglihatan silau Gangguan lapangan pandang Buta Bintit di kelopak mata Kelilipan (benda asing di mata) 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Masalah akibat penggunaan lensa kontak Mata juling Mata terlihat seperti mata kucing/ orang-orangan mata terlihat putih Telinga nyeri/sakit Keluar cairan dari liang telinga Telinga gatal Telinga berdenging Telinga terasa penuh Tuli (gangguan fungsi pendengaran) Benjolan di telinga Daun telinga merah Benda asing di dalam liang telinga Telinga gatal Gangguan penciuman Standar Kompetensi Dokter Indonesia 22 .

darah) Sakit/nyeri dada Berdebar-debar Sesak napas atau napas pendek Napas berbunyi Sumbatan jalan napas Kebiruan Sistem Gastrointestinal. berdahak. dan Pankreas 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Mata kuning Mulut kering Mulut berbau Sakit gigi Gusi bengkak Sariawan Bibir pecah-pecah Bibir sumbing Sulit menelan Cegukan/hiccup Nyeri perut Nyeri ulu hati Perut kram Perut kembung 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Perut berbunyi Benjolan di daerah perut Muntah Muntah darah Sembelit atau tidak dapat berak Diare Berak berlendir dan berdarah Berak berwarna hitam Berak seperti dempul Gatal daerah anus Nyeri daerah anus Benjolan di anus Keluar cacing Air kencing seperti teh Sistem Ginjal dan Saluran Kemih 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nyeri pinggang Peningkatan atau penurunan frekuensi buang air kecil (BAK) Berkurangnya jumlah air kencing Tidak dapat menahan/urgensi kencing Nyeri saat BAK BAK mengejan Pancaran kencing menurun (poorstream) Akhir kencing menetes (dribling) BAK tidak puas 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Kencing bercabang Waktu kencing preputium melembung/balloning Air kencing merah (hematuria) Air kencing campur udara (pnemoturia) Air kencing campur tinja Keluar darah dari saluran kencing Darah keluar bersama produk ejakulat (hemospermia) Duh (discharge) dari saluran kencing Benjolan saluran reproduksi eksternal 23 Standar Kompetensi Dokter Indonesia .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Sistem Respirasi dan Kardiovaskular 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Bersin-bersin Pilek (ingusan) Mimisan Hidung tersumbat Hidung berbau Benda asing dalam hidung Suara sengau Nyeri menelan Suara serak Suara hilang 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Tersedak Benda asing dalam kerongkongan Batuk (kering. Hepatobilier.

nyeri. dan poliuria Sistem Hematologi dan Imunologi 1 2 3 Masalah imunisasi (termasuk Kejadian Ikutan Pascaimunisasi [KIPI]) Perdarahan spontan Pucat 4 5 Gatal-gatal (alergi makanan. menstruasi sedikit.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Sistem Reproduksi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 ASI tidak keluar/kurang Benjolan di daerah payudara Puting terluka Payudara mengencang Puting tertarik ke dalam (retraksi) Payudara seperti kulit jeruk Nyeri perut waktu hamil Perdarahan vagina waktu hamil Anyang-anyangan waktu hamil Kaki bengkak waktu hamil Ambeien waktu hamil Kehamilan tidak diinginkan Persalinan prematur Ketuban pecah dini Perdarahan lewat vagina Duh (discharge) vagina 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Masalah nifas dan pascasalin Perdarahan saat berhubungan Keputihan Gangguan daerah vagina (gatal. menstruasi lama. danlain-lain Bercak merah di kulit Standar Kompetensi Dokter Indonesia 24 . menstruasi banyak. benjolan) Gangguan menstruasi (tidak menstruasi. berlebih) Berat bayi lahir rendah Kelelahan Penurunan berat badan drastis/mendadak 6 7 8 9 10 Tremor Gangguan pertumbuhan Benjolan di leher Berkeringat banyak Polifagi. rasa terbakar. alergi kontak. dan Nutrisi 1 2 3 4 5 Nafsu makan hilang Gangguan gizi (gizi buruk. polidipsi. kurang. Metabolisme. nyeri saat menstruasi) Gangguan masa menopause dan perimenopause Sulit punya anak Masalah kontrasepsi Peranakan turun Nyeri buah zakar Buah zakar tidak teraba Buah zakar bengkak Benjolan di lipat paha Gangguan fungsi ereksi (organik) Produk ejakulat sedikit atau encer Bau pada kemaluan Sistem Endokrin.

atau kuning) Kulit kering Kulit berminyak Kulit menebal Kulit menipis Kulit bersisik Kulit lecet. sayat Luka bakar Kuku nyeri Kuku berubah warna atau bentuk Ketombe Rambut rontok Kebotakan Ruam kulit Multisistem 1 2 3 Demam Lemah/letih/lesu Kelainan/ cacat bawaan 4 5 Bengkak/edema Gatal 25 Standar Kompetensi Dokter Indonesia . bengkak. kaku otot. merah. nyeri otot.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Sistem Muskuloskeletal 1 2 3 4 5 Patah tulang Terkilir Gangguan jalan Terlambat dapat berjalan Gangguan sendi (nyeri. kaku. kelainan bentuk) 6 7 8 9 10 Gerakan terbatas Nyeri punggung Bengkak pada kaki dan tangan Varises Gangguan otot. luka. hitam. tusuk. otot mengecil Sistem Integumen 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kulit gatal Kulit nyeri Kulit mati rasa Kulit berubah warna (menjadi putih. tukak Kulit bernanah 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Kulit melepuh Benjolan kulit Luka gores.

sedentary life.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Kesehatan Masyarakat/Kedokteran Komunitas/Kedokteran Pencegahan 1 2 Kematian neonatus. TB Paru. gizi masyarakat. puskesmas. serta kekerasan dalam rumah tangga) Kejahatan seksual Penganiayaan/perlukaan Kesehatan kerja Audit Medik Pembiayaan pelayanan kesehatan 29 30 31 32 14 15 16 17 18 19 33 34 35 36 37 38 Standar Kompetensi Dokter Indonesia 26 . terlalu banyak) Tidak terlaksananya audit maternal perinatal Laktasi (termasuk lingkungan kerja yang tidak mendukung fasilitas laktasi) Imunisasi Pola asuh Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada masyarakat termasuk anak usia sekolah 20 21 Kesehatan lansia Cakupan pelayanan kesehatan yang masih rendah Perilaku pencarian pelayanan kesehatan (care seeking behaviour) 3 22 4 23 Kepercayaan dan tradisi yang memengaruhi kesehatan Akses yang kurang terhadadap fasilitas pelayanan kesehatan (misalnya masalah geografi. dll. terlambat dirujuk. dan dampak pemanasan global) Kejadian wabah (endemi. alkohol.) Gaya hidup yang bermasalah (rokok. bayi dan balita Kematian Ibu akibat kehamilan dan persallinan “Tiga terlambat” pada penatalaksanaan risiko tinggi kehamilan: (terlambat mengambil keputusan. pandemi) Rehabilitasi medik dan sosial Pengelolaan pelayanan kesehatan termasuk klinik. terlambat ditangani) “Empat Terlalu” pada deteksi risiko tinggi kehamilan (terlalu muda. pola makan ) Kejadian Luar Biasa Kesehatan pariwisata (travel medicine) Morbiditas dan mortalitas penyakitpenyakit menular dan tidak menular Kesehatan lingkungan (termasuk sanitasi. kesehatan reproduksi. narkoba. terlalu tua terlalu sering. masalah ketersediaan dan distribusi tenaga kesehatan) Kurangnya mutu fasilitas pelayanan kesehatan Sistem rujukan yang belum berjalan baik Cakupan program intervensi Kurangnya pengetahuan keluarga dan masyarakat terkait program kesehatan pemerintah (misalnya KIA. air bersih. dll Rekam Medik dan Pencatatan pelaporan masalah kkejadian penyakit di masyarakat Pembiayaan pelayanan kesehatan 5 24 6 7 8 25 26 27 9 28 10 11 12 13 Anak dengan difabilitas Perilaku berisiko pada masa pubertas Kehamilan pada remaja Kehamilan yang tidak dikehendaki Kekerasan pada wanita dan anak (termasuk child abuse dan neglected.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Kedokteran Forensik dan Medikolegala 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kematian yang tidak jelas penyebabnya Kekerasan tumpul Kekerasan tajam Trauma kimia Luka tembak Luka listrik dan petir Barotrauma Trauma suhu Asfiksia 10 11 12 13 14 15 16 17 Tenggelam Pembunuhan anak sendiri Pengguguran kandungan Kematian mendadak Keracunan Jenasah yang tidak teridentifikasi Kebutuhan visum di layanan primer Bunuh diri 27 Standar Kompetensi Dokter Indonesia .

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA BAGIAN II DAFTAR MASALAH TERKAIT PROFESI DOKTER Yang dimaksud dengan permasalahan terkait dengan profesi adalah segala masalah yang muncul dan berhubungan dengan penyelenggaraan praktik kedokteran. baik dari segi profesionalisme. disiplin. atau pihak-pihak lain yang terkait dengan pelayanan kesehatan. dan hukum. peraturan kepegawaian. Permasalahan tersebut dapat berasal dari pribadi dokter. Bagian ini memberikan gambaran umum mengenai berbagai permasalahan tersebut sehingga memungkinkan bagi para penyelenggaran pendidikan kedokteran dapat mendiskusikannya dari berbagai sudut pandang. etika. dan lain-lain) Standar Kompetensi Dokter Indonesia 28 . misalnya pelecehan seksual. profesi kesehatan yang lain. dan lain-lain Meminta imbal jasa yang berlebihan Menahan pasien di rumah sakit bukan karena alasan medis Memberikan keterangan/kesaksian palsu di pengadilan Tidak menangani pasien dengan baik sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia Melakukan tindakan yang tergolong malpraktik Tidak memperhatikan keselamatan diri sendiri dalam melakukan tugas profesinya Melanggar ketentuan institusi tempat bekerja ( hospital bylaws. Masalah Terkait Profesi Dokter 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Melakukan praktik kedokteran tidak sesuai dengan kompetensinya Melakukan praktik tanpa izin (tanpa SIP dan STR) 1 Melakukan praktik kedokteran lebih dari 3 tempat Mengiklankan/mempromosikan diri dan institusi kesehatan yang tidak sesuai dengan ketentuan KODEKI Memberikan Surat Keterangan Sakit atau Sehat yang tidak sesuai kondisi sebenarnya Bertengkar dengan tenaga kesehatan lain atau dengan tenaga non-kesehatan di insitusi pelayan kesehatan Tidak melakukan informed consent dengan semestinya Tidak mengikuti Prosedur Operasional Standar atau Standar Pelayanan Minimal yang jelas Tidak membuat dan menyimpan rekam medik sesuai dengan ketentuan yang berlaku Membuka rahasia medis pasien kepada pihak yang tidak berkepentingan dan tidak sesuai denga ketentuan yang berlaku Melakukan tindakan yang tidak seharusnya kepada pasien. berkata kotor. institusi kesehatan tempat dia bekerja.

baik kepada dokter spesialis. dan lain-lain Peresepan obat tidak rasional Melakukan kolusi dengan perusahaan farmasi. klinik swasta. tindakan kriminal/perdata. meresepkan obat tertentu atas dasar keuntungan pribadi Menolak dan/atau tidak membuat Surat Keterangan Medis dan/atau Visum et Repertum sesuai dengan standar keilmuan yang seharusnya wajib dikerjakan Melanggar ketentuan Undang-Undang untuk tidak melakukan praktik dilebih dari 3 tempat praktik (3 SIP) dengan tetap memperhatikan pengecualiannya.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 1 Melakukan praktik kedokteran melebihi batas kewajaran dengan motivasi yang tidak didasarkan pada keluhuran profesi dengan tidak memperhatikan kesehatan pribadi Tidak mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran Melakukan kejahatan asuransi kesehatan secara sendiri atau bersama dengan pasien (misalnya pemalsuan hasil pemeriksaan. dan tindakan lain untuk kepentingan pribadi) 2 Pelanggaran disiplin profesi Menggantikan praktik atau menggunakan pengganti praktik yang tidak memenuhi syarat Melakukan tindakan yang melanggar hukum (termasuk ketergantungan obat. penipuan. Pelanggaran kedisiplinan profesi dijelaskan dalam buku pedoman profesi kedokteran yang dikeluarkan oleh Majelis Kehormatan dan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) 2 29 Standar Kompetensi Dokter Indonesia . dan lain-lain) Merujuk pasien dengan motivasi untuk mendapatkan keuntungan pribadi. laboratorium.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA STANDAR KOMPETENSI DOKTER INDONESIA Lampiran-3 DAFTAR PENYAKIT Standar Kompetensi Dokter Indonesia 30 .

Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan. yang kemudian direvisi berdasarkan hasil survei dan masukan dari para pemangku kepentingan. dan merujuk 3A. Daftar Penyakit ini penting sebagai acuan bagi institusi pendidikan dokter dalam menyelenggarakan aktivitas pendidikan termasuk dalam menentukan wahana pendidikan. selanjutnya menentukan rujukan yang paling tepat bagi pasien. Bukan gawat darurat Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat. dan melakukan rujukan secara tepat dalam rangka penatalaksanaan pasien. Tingkat Kemampuan 2: mendiagnosis dan merujuk Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik terhadap penyakit tersebut dan menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya. Tujuan Daftar penyakit ini disusun dengan tujuan untuk menjadi acuan bagi institusi pendidikan dokter agar dokter yang dihasilkan memiliki kompetensi yang memadai untuk membuat diagnosis yang tepat. memberi penanganan awal atau tuntas. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dan divalidasi dengan metode focus group discussion (FGD) dan nominal group technique (NGT) bersama para dokter dan pakar yang mewakili pemangku kepentingan.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Standar Kompetensi Dokter Indonesia Daftar Penyakit Pendahuluan Daftar Penyakit ini disusun bersumber dari lampiran Daftar Penyakit SKDI 2006. 31 Standar Kompetensi Dokter Indonesia . Sistematika Penyakit di dalam daftar ini dikelompokkan menurut sistem tubuh manusia disertai tingkat kemampuan yang harus dicapai pada akhir masa pendidikan. Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan. Lulusan dokter mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya. Tingkat kemampuan yang harus dicapai: Tingkat Kemampuan 1: mengenali dan menjelaskan Lulusan dokter mampu mengenali dan menjelaskan gambaran klinik penyakit. Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan. Tingkat kompetensi setiap penyakit merupakan kemampuan yang harus dicapai pada akhir pendidikan dokter. dan mengetahui cara yang paling tepat untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai penyakit tersebut. Tingkat Kemampuan 3: mendiagnosis. melakukan penatalaksanaan awal.

melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan melakukan penatalaksanaan penyakit tersebut secara mandiri dan tuntas. Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan. Lulusan dokter mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya. Tingkat Kemampuan 4: mendiagnosis. Gawat darurat Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa atau mencegah keparahan dan/atau kecacatan pada pasien. Kompetensi yang dicapai pada saat lulus dokter Profisiensi (kemahiran) yang dicapai setelah selesai internsip dan/atau Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (PKB) Dengan demikian didalam Daftar Penyakit ini level kompetensi tertinggi adalah 4A Standar Kompetensi Dokter Indonesia 32 . 4B.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 3B. 4A.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA SISTEM SARAF Tingkat Kemampuan 2 1 1 4A 2 3B 3B 3B 4A 3B 2 2 4A 3A 2 3B 3B 3A 2 2 3B 3B 2 4A 4A 1 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B No Genetik dan Kongenital 1 2 3 4 Spina bifida Fenilketonuria Daftar Penyakit Gangguan Neurologik Paediatrik Duchene muscular dystrophy Kejang demam Infeksi sitomegalovirus Meningitis Ensefalitis Malaria serebral Tetanus Tetanus neonatorum Toksoplasmosis serebral Abses otak HIV AIDS tanpa komplikasi AIDS dengan komplikasi Hidrosefalus Poliomielitis Rabies Spondilitis TB Tumor primer Tumor sekunder Ensefalopati Koma Mati batang otak Tension headache Migren Arteritis kranial Neuralgia trigeminal Cluster headache TIA Infark serebral Hematom intraserebral Perdarahan subarakhnoid Ensefalopati hipertensi Infeksi 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Tumor Sistem Saraf Pusat Penurunan Kesadaran Nyeri Kepala Penyakit Neurovaskular 33 Standar Kompetensi Dokter Indonesia .

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Lesi Kranial dan Batang Otak 34 35 36 37 38 39 40 Bells’ palsy Lesi batang otak Meniere's disease Vertigo (Benign paroxysmal positional vertigo) Cerebral palsy Demensia Penyakit Alzheimer 4A 2 3A 4A 2 3A 2 3A 1 3B 3A 3B 1 1 3B 2 3A 2 2 2 3B 3A 3A 2 2 2 3A 3A 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 1 2 3A 2 2 Gangguan Sistem Vaskular Defisit Memori Gangguan Pergerakan 41 Parkinson 42 Gangguan pergerakan lainnya Epilepsi dan Kejang Lainnya 43 Kejang 44 Epilepsi 45 Status epileptikus Penyakit Demielinisasi 46 Sklerosis multipel Penyakit pada Tulang Belakang dan Sumsum Tulang Belakang Amyotrophic lateral sclerosis (ALS) 47 Complete spinal transaction 48 49 Sindrom kauda equine Neurogenic bladder 50 51 Siringomielia 52 Mielopati Dorsal root syndrome 53 Acute medulla compression 54 Radicular syndrome 55 Hernia nucleus pulposus (HNP) 56 Trauma 57 58 59 Hematom epidural Hematom subdural Trauma Medula Spinalis Reffered pain Nyeri neuropatik Sindrom Horner Carpal tunnel syndrome Tarsal tunnel syndrome Neuropati Peroneal palsy Guillain Barre syndrome Miastenia gravis Polimiositis Neurofibromatosis (Von Recklaing Hausen disease) Amnesia pascatrauma Afasia Mild Cognitive Impairment (MCI) Nyeri 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 Penyakit Neuromuskular dan Neuropati Gangguan Neurobehaviour Standar Kompetensi Dokter Indonesia 34 .

Gangguan Waham menetap. episode manik 10 3A Gangguan bipolar. Psikosis Akut dan Skizoafektif) 5 Skizofrenia 3A 6 3A Gangguan waham 7 3A Gangguan psikotik 8 3A Gangguan skizoafektif 9 3A Gangguan bipolar. dan Gangguan Somatoform Gangguan Cemas Fobia 16 2 Agorafobia dengan/tanpa panik 17 2 Fobia sosial 18 2 Fobia spesifik Gangguan Cemas Lainnya 19 3A Gangguan panik 20 3A Gangguan cemas menyeluruh 21 Gangguan campuran cemas depresi 3A 22 Gangguan obsesif-kompulsif 2 23 Reaksi terhadap stres yg berat. episode depresif 11 2 Gangguan siklotimia 12 2 Depresi endogen. & gangguan penyesuaian 2 Post traumatic stress disorder 24 3A 25 2 Gangguan disosiasi (konversi) 26 4A Gangguan somatoform 27 3A Trikotilomania Gangguan Kepribadian dan Perilaku Masa Dewasa 28 2 Gangguan kepribadian 2 29 Gangguan identitas gender 2 30 Gangguan preferensi seksual 35 Standar Kompetensi Dokter Indonesia .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA PSIKIATRI Tingkat Kemampuan 3A 3B 3A 3A No Gangguan Mental Organik Daftar Penyakit Delirium yang tidak diinduksi oleh alkohol atau zat psikoaktif lainnya Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penggunaan zat Psikoaktif 2 Intoksikasi akut zat psikoaktif 3 Adiksi/ketergantungan Narkoba Delirium yang diinduksi oleh alkohol atau zat psikoaktif 4 lainnya 1 Psikosis (Skizofrenia. episode tunggal dan rekuran 13 2 Gangguan distimia (depresi neurosis) 14 2 Gangguan depresif yang tidak terklasifikasikan 15 Baby blues (post-partum depression) 3A Gangguan Neurotik. Gangguan berhubungan dengan Stres.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Gangguan Emosional dan Perilaku dengan Onset Khusus pada Masa Anak dan Remaja 31 2 Gangguan perkembangan pervasif 32 3A Retardasi mental Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif 33 2 (termasuk autisme) 34 Gangguan tingkah laku (conduct disorder) 2 Gangguan Makam 35 36 37 Anoreksia nervosa Bulimia Pica Gilles de la tourette syndrome Chronic motor of vocal tics disorder Transient tics disorder Functional encoperasis Functional enuresis Uncoordinated speech Parafilia Gangguan keinginan dan gairah seksual Gangguan orgasmus. termasuk gangguan ejakulasi (ejakulasi dini) Sexual pain disorder (termasuk vaginismus. diparenia) Insomnia Hipersomnia Sleep-wake cycle disturbance Nightmare Sleep walking 2 2 2 2 2 3A 2 2 2 2 3A 3A 3A 4A 3A 2 2 2 Tics 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 Gangguan Ekskresi Gangguan Bicara Kelainan dan Disfungsi Seksual Gangguan Tidur Standar Kompetensi Dokter Indonesia 36 .

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA SISTEM INDRA Tingkat Kemampuan No Daftar Penyakit MATA Konjunctiva 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Sklera 21 22 Benda asing di konjungtiva Konjungtivitis Pterigium Perdarahan subkonjungtiva Mata kering Blefaritis Hordeolum Chalazion Laserasi kelopak mata Entropion Trikiasis Lagoftalmus Epikantus Ptosis Retraksi kelopak mata Xanthelasma Dakrioadenitis Dakriosistitis Dakriostenosis Laserasi duktus lakrimal Skleritis Episkleritis Erosi Benda asing di kornea Luka bakar kornea Keratitis Kerato-konjungtivitis sicca Edema kornea Keratokonus Xerophtalmia 4A 4A 3A 4A 4A 4A 4A 3A 3B 2 4A 2 2 2 2 2 3A 3A 2 2 3A 4A 2 2 2 3A 2 2 2 3A Kelopak Mata Aparatus Lakrimalis Kornea 23 24 25 26 27 28 29 30 37 Standar Kompetensi Dokter Indonesia .

bitemporal. oklusi pembuluh darah retina Degenerasi makula karena usia Retinopati (diabetik. iritis Tumor iris Katarak Afakia kongenital Dislokasi lensa Hipermetropia ringan Miopia ringan Astigmatism ringan Presbiopia Anisometropia pada dewasa Anisometropia pada anak Ambliopia Diplopia binokuler Buta senja Skotoma Hemianopia. hipertensi. and homonymous Gangguan lapang pandang Ablasio retina Perdarahan retina. prematur) Korioretinitis Optic disc cupping Edema papil Atrofi optik Neuropati optik Neuritis optik Glaukoma akut Glaukoma lainnya Lensa 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 Akomodasi dan Refraksi Retina 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 Glaukoma 63 64 Diskus Optik dan Saraf Mata Standar Kompetensi Dokter Indonesia 38 .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Bola Mata 31 32 Endoftalmitis Mikroftalmos 2 2 3A 3A 1 3A 2 2 2 2 4A 4A 4A 4A 3A 2 2 2 4A 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 3B 3A Anterior Chamber Hifema 33 34 Hipopion Cairan Vitreous 35 Perdarahan Vitreous Iris dan Badan Silier 36 37 Iridosisklitis.

Pendengaran. dan Keseimbangan 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 Tuli (kongenital.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA TELINGA Telinga. perseptif. konduktif) Inflamasi pada aurikular Herpes zoster pada telinga Fistula pre-aurikular Labirintitis Otitis eksterna Otitis media akut Otitis media serosa Otitis media kronik Mastoiditis Miringitis bullosa Benda asing Perforasi membran timpani Otosklerosis Timpanosklerosis Kolesteatoma Presbiakusis Serumen prop Mabuk perjalanan Trauma akustik akut Trauma aurikular 2 3A 3A 3A 2 4A 4A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 2 1 3A 4A 4A 3A 3B HIDUNG Hidung dan Sinus Hidung 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 Deviasi septum hidung Furunkel pada hidung Rhinitis akut Rhinitis vasomotor Rhinitis alergika Rhinitis kronik Rhinitis medikamentosa Sinusitis Sinusitis frontal akut Sinusitis maksilaris akut Sinusitis kronik Benda asing Epistaksis Etmoiditis akut Polip Fistula dan kista brankial lateral dan medial Higroma kistik Tortikolis Abses Bezold 2 4A 4A 4A 4A 3A 3A 3A 2 2 3A 4A 4A 1 2 2 2 3A 3A Kepala dan Leher 39 Standar Kompetensi Dokter Indonesia .

bronkopneumonia Pneumonia aspirasi Tuberkulosis paru tanpa komplikasi Tuberkulosis dengan HIV Multi Drug Resistance (MDR) TB Pneumothorax ventil Pneumothorax Efusi pleura Efusi pleura masif Emfisema paru Tingkat Kemampuan 4A 4A 3B 3B 3B 4A 4A 4A 2 3A 3A 3B 2 2 2 3B 2 4A 3B 4A 3B 3A 1 2 4A 3B 4A 3A 2 3A 3A 2 3B 3A Laring dan Faring Trakea 15 16 17 Paru 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 Standar Kompetensi Dokter Indonesia 40 .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA SISTEM RESPIRASI No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Daftar Penyakit Influenza Pertusis Acute Respiratory distress syndrome (ARDS) SARS Flu burung Faringitis Tonsilitis Laringitis Hipertrofi adenoid Abses peritonsilar Pseudo-croop acute epiglotitis Difteria (THT) Karsinoma laring Karsinoma nasofaring Trakeitis Aspirasi Benda asing Asma bronkial Status asmatikus (asma akut berat) Bronkitis akut Bronkiolitis akut Bronkiektasis Displasia bronkopulmonar Karsinoma paru Pneumonia.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 Atelektasis Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) eksaserbasi akut Edema paru Infark paru Abses paru Emboli paru Kistik fibrosis Haematothorax Tumor mediastinum Pnemokoniasis Penyakit paru intersisial Obstructive Sleep Apnea (OSA) 2 3B 3B 1 3A 1 1 3B 2 2 1 1 41 Standar Kompetensi Dokter Indonesia .

kardiogenik. Aortic regurgitation.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA SISTEM KARDIOVASKULAR Tingkat Kemampuan No Daftar Penyakit Gangguan dan Kelainan pada Jantung Kelainan jantung congenital (Ventricular Septal Defect. Atrial Septal Defect. Patent Ductus Arteriosus. ventrikular 11 Fibrilasi atrial 12 Fibrilasi ventrikular 13 Atrial flutter 14 Ekstrasistol supraventrikular. Mitral 9 regurgitation. neurogenik) 4 Angina pektoris 5 Infark miokard 6 Gagal jantung akut 7 Gagal jantung kronik 8 Cardiorespiratory arrest Kelainan katup jantung: Mitral stenosis. Aortic stenosis. hipovolemik.dan Penyakit katup jantung lainnya 10 Takikardi: supraventrikular. 2 Miokarditis. Perikarditis) 3 Syok (septik. Tetralogy of Fallot) Radang pada dinding jantung (Endokarditis. ventrikular 15 Bundle Branch Block 16 Aritmia lainnya 17 Kardiomiopati 18 Kor pulmonale akut 19 Kor pulmonale kronik Gangguan Aorta dan Arteri 20 Hipertensi esensial 21 Hipertensi sekunder 22 Hipertensi pulmoner 23 Penyakit Raynaud 24 Trombosis arteri 25 Koarktasio aorta 26 Penyakit Buerger's (Thromboangiitis Obliterans) 27 Emboli arteri 28 Aterosklerosis Subclavian steal syndrome 29 30 Aneurisma Aorta 31 Aneurisma diseksi 32 Klaudikasio 33 Penyakit jantung reumatik 1 2 2 3B 3B 3B 3B 3A 3b 2 3B 3A 3B 3B 3A 2 2 2 3B 3A 4A 3A 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 2 2 Standar Kompetensi Dokter Indonesia 42 .

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Vena dan Pembuluh Limfe 34 35 36 37 38 39 40 41 Tromboflebitis Limfangitis Varises (primer. sekunder) Insufisiensi vena kronik 3A 3A 2 2 2 2 3A 3A 43 Standar Kompetensi Dokter Indonesia . sekunder) Obstructed venous return Trombosis vena dalam Emboli vena Limfedema (primer.

duodenum) Stenosis pilorik Atresia intestinal Divertikulum Meckel Fistula umbilikal. Duodenum. & PANKREAS No Mulut 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sumbing pada bibir dan palatum Micrognatia and macrognatia Kandidiasis mulut Ulkus mulut (aptosa. giardiasis) Refluks gastroesofagus Ulkus (gaster. HEPATOBILIER. femoralis. dan Hernia Lambung. Rongga Abdomen. skrotalis) reponibilis. skrotalis) strangulata. herpes) Glositis Leukoplakia Angina Ludwig Parotitis Karies gigi Atresia esofagus Akalasia Esofagitis refluks Lesi korosif pada esofagus Varises esofagus Ruptur esofagus Hernia (inguinalis. omphalocoele-gastroschisis Apendisitis akut 2 2 4A 4A 3A 2 3A 4A 3A 2 2 3A 3B 2 1 2 3B 2 3A 3B 2 2 4A 1 4A 4A 4A 3A 2 2 2 2 3B Daftar Penyakit Tingkat Kemampuan Esofagus 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Dinding. Jejunum.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA SISTEM GASTROINTESTINAL. hiatus) Hernia umbilikalis Peritonitis Perforasi usus Malrotasi traktus gastro-intestinal Infeksi pada umbilikus Sindrom Reye Gastritis Gastroenteritis (termasuk kolera. irreponibilis Hernia (inguinalis. inkarserata Hernia (diaframatika. femoralis. Ileum Standar Kompetensi Dokter Indonesia 44 .

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 Abses apendiks Demam tifoid Perdarahan gastrointestinal Ileus Malabsorbsi Intoleransi makanan Alergi makanan Keracunan makanan Botulisme Penyakit cacing tambang Strongiloidiasis Askariasis Skistosomiasis Taeniasis Pes Hepatitis A Hepatitis B Hepatitis C Abses hepar amoeba Perlemakan hepar Sirosis hepatis Gagal hepar Neoplasma hepar Kolesistitis Kole(doko)litiasis Empiema dan hidrops kandung empedu Atresia biliaris Pankreatitis Karsinoma pankreas Divertikulosis/divertikulitis Kolitis Disentri basiler. Saluran Empedu. dan Pankreas 45 Standar Kompetensi Dokter Indonesia . disentri amuba Penyakit Crohn Kolitis ulseratif Irritable Bowel Syndrome Polip/adenoma Karsinoma kolon Penyakit Hirschsprung Enterokolitis nekrotik Intususepsi atau invaginasi 3B 4A 3B 2 3A 4A 4A 4A 3B 4A 4A 4A 4A 4A 1 4A 3A 2 3A 3A 2 2 2 3B 2 2 2 2 2 3A 3A 4A 1 1 3A 2 2 2 1 3B Infestasi Cacing dan Lainnya Hepar 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 Kolon 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 Kandung Empedu.

anus Limfoma Gastrointestinal Stromal Tumor (GIST) 2 3A 3A 4A 3A 2 2 3A 2 2 Neoplasma Gastrointestinal Standar Kompetensi Dokter Indonesia 46 .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 Atresia anus Proktitis Abses (peri)anal Hemoroid grade 1-2 Hemoroid grade 3-4 Fistula Fisura anus Prolaps rektum.

ureter. uretra ) tanpa kolik Ginjal polikistik simtomatik Ginjal tapal kuda Pielonefritis tanpa komplikasi Nekrosis tubular akut Hipospadia Epispadia Testis tidak turun/ kriptorkidismus Rectratile testis Varikokel Hidrokel Fimosis Parafimosis Spermatokel Epididimitis Prostatitis Torsio testis Ruptur uretra Ruptur kandung kencing Ruptur ginjal Karsinoma uroterial Seminoma testis Teratoma testis Hiperplasia prostat jinak Karsinoma prostat Striktura uretra Priapismus Chancroid Tingkat Kemampuan 4A 3A 3A 4A 2 2 2 2 2 3A 3A 2 1 4A 2 2 2 2 2 2 2 4A 4A 2 2 3A 3B 3B 3B 3B 2 1 1 2 2 2 3B 3A Alat Kelamin Pria 47 Standar Kompetensi Dokter Indonesia .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA SISTEM GINJAL DAN SALURAN KEMIH No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 Daftar Penyakit Infeksi saluran kemih Glomerulonefritis akut Glomerulonefritis kronik Gonore Karsinoma sel renal Tumor Wilms Acute kidney injury Penyakit ginjal kronik Sindrom nefrotik Kolik renal Batu saluran kemih (vesika urinaria.

malaria Aborsi mengancam Aborsi spontan inkomplit Aborsi spontan komplit Hiperemesis gravidarum Inkompatibilitas darah Mola hidatidosa Hipertensi pada kehamilan Preeklampsia Eklampsia Diabetes gestasional Kehamilan posterm Insufisiensi plasenta Plasenta previa Vasa previa Abrupsio plasenta Inkompeten serviks Polihidramnion Kelainan letak janin setelah 36 minggu Kehamilan ganda Janin tumbuh lambat Kelainan janin Diproporsi kepala panggul Anemia defisiensi besi pada kehamilan Kehamilan 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 Gangguan pada Kehamilan Standar Kompetensi Dokter Indonesia 48 . hepatitis B.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA SISTEM REPRODUKSI Tingkat Kemampuan 3A 2 4A 2 4A 4A 3A 4A 4A 3A 4A 3B 3A 4A 3A 3B 3B 3B 4A 3B 2 2 2 3B 3B 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 2 2 4A No Infeksi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Daftar Penyakit Sifilis Toksoplasmosis Sindrom duh (discharge) genital (gonore dan nongonore) Infeksi virus Herpes tipe 2 Infeksi saluran kemih bagian bawah Vulvitis Kondiloma akuminatum Vaginitis Vaginosis bakterialis Servisitis Salpingitis Abses tubo-ovarium Penyakit radang panggul Kehamilan normal Infeksi intra-uterin: korioamnionitis Infeksi pada kehamilan: TORCH.

uretero-vagina. perimenopausal syndome Polikistik ovarium Kehamilan ektopik 2 3A 2 3A 3A 3B 2 3B 3B 3B 3B 4A 3B 3B 3B 3B 2 3B 2 2 2 2 3B 3A 4A 1 1 1 3A 3A 2 3A 3A 1 3A 2 2 1 2 1 2 Kelainan Organ Genital 49 Standar Kompetensi Dokter Indonesia . sistokel.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Persalinan dan Nifas 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 Intra-Uterine Fetal Death (IUFD) Persalinan preterm Ruptur uteri Bayi post matur Ketuban pecah dini (KPD) Distosia Malpresentasi Partus lama Prolaps tali pusat Hipoksia janin Ruptur serviks Ruptur perineum tingkat 1-2 Ruptur perineum tingkat 3-4 Retensi plasenta Inversio uterus Perdarahan post partum Tromboemboli Endometritis Inkontinensia urine Inkontinensia feses Trombosis vena dalam Tromboflebitis Subinvolusio uterus Kista dan abses kelenjar bartolini Abses folikel rambut atau kelenjar sebasea Malformasi kongenital Kistokel Rektokel Corpus alienum vaginae Kista Gartner Fistula (vesiko-vaginal. rektovagina) Kista Nabotian Polip serviks Malformasi kongenital uterus Prolaps uterus. rektokel Hematokolpos Endometriosis Hiperplasia endometrium Menopause.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Tumor dan Keganasan pada Organ Genital 81 82 83 84 85 86 87 88 Karsinoma serviks Karsinoma endometrium Karsinoma ovarium Teratoma ovarium (kista dermoid) Kista ovarium Torsi dan ruptur kista Koriokarsinoma Adenomiosis. abses Mastitis Cracked nipple Inverted nipple Fibrokista Fibroadenoma mammae (FAM) Tumor Filoides Karsinoma payudara Penyakit Paget Ginekomastia Infertilitas Gangguan ereksi Gangguan ejakulasi 2 1 1 2 2 3B 1 2 2 4A 4A 4A 2 2 1 2 1 2 3A 2 2 Payudara 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 89 90 91 Masalah Reproduksi Pria Standar Kompetensi Dokter Indonesia 50 . mioma Malpresentasi Inflamasi.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA SISTEM ENDOKRIN. DAN NUTRISI No Kelenjar Endokrin 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Diabetes melitus tipe 1 Diabetes melitus tipe 2 Diabetes melitus tipe lain (intoleransi glukosa akibat penyakit lain atau obat-obatan) Ketoasidosis diabetikum nonketotik Hiperglikemi hiperosmolar Hipoglikemia ringan Hipoglikemia berat Diabetes insipidus Akromegali. gigantisme Defisiensi hormon pertumbuhan Hiperparatiroid Hipoparatiroid Hipertiroid Tirotoksikosis Hipotiroid Goiter Tiroiditis Cushing's disease Krisis adrenal Addison's disease Pubertas prekoks Hipogonadisme Prolaktinemia Adenoma tiroid Karsinoma tiroid Malnutrisi energi-protein Defisiensi vitamin Defisiensi mineral Dislipidemia Porfiria Hiperurisemia Obesitas Sindrom metabolik 4A 4A 3A 3B 3B 4A 3B 1 1 1 1 3A 3A 3B 2 3A 2 3B 3B 1 2 2 1 2 2 4A 4A 4A 4A 1 4A 4A 3B Daftar Penyakit Tingkat Kemampuan Gizi dan Metabollisme 51 Standar Kompetensi Dokter Indonesia . METABOLIK.

Von Willebrand's disease) DIC Agranulositosis Inkompatibilitas golongan darah Tingkat Kemampuan 2 4A 3A 3A 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 1 3A 4A 3B 4A 3B 4A 2 3A 4A 3B 3A 1 3A 4A 3A 3A 2 2 2 2 Timus 12 Timoma Kelenjar Limfe dan Darah 13 Limfoma non-Hodgkin's. hemofilia.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA SISTEM HEMATOLOGI DAN IMUNOLOGI No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Daftar Penyakit Anemia aplastik Anemia defisiensi besi Anemia hemolitik Anemia makrositik Anemia megaloblastik Hemoglobinopati Polisitemia Gangguan pembekuan darah (trombositopenia. Hodgkin's 14 Leukemia akut. kronik 15 Mieloma multipel 16 Limfadenopati 17 Limfadenitis Infeksi 18 Bakteremia 19 Demam dengue. DHF 20 Dengue shock syndrome 21 Malaria 22 Leishmaniasis dan tripanosomiasis 23 Toksoplasmosis 24 Leptospirosis (tanpa komplikasi) 25 Sepsis Penyakit Autoimun 26 Lupus eritematosus sistemik 27 Poliarteritis nodosa 28 Polimialgia reumatik 29 Reaksi anafilaktik 30 Demam reumatik 31 Artritis reumatoid 32 Juvenile chronic arthritis 33 Henoch-schoenlein purpura 34 Eritema multiformis 35 Imunodefisiensi Standar Kompetensi Dokter Indonesia 52 .

18 lordosis) 19 Spondilitis. medial. drop foot 31 Claw hand. genovalgum. Fraktur dan dislokasi tulang belakang Dislokasi pada sendi ekstremitas Osteogenesis imperfekta Ricketsia. tertutup Fraktur klavikula Fraktur patologis. pes planus) Claw foot. liposarkoma 37 Lipoma 38 Fibromatosis. fibrosarkoma 53 Standar Kompetensi Dokter Indonesia .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA SISTEM MUSKULOSKELETAL Tingkat Kemampuan 3A 3B 3A 2 2 2 1 1 3A 1 1 3A 2 1 1 2 3A 2 2 2 1 1 1 2 1 1 3A 3A 2 2 2 2 4A 3B 1 1 4A 1 No Tulang dan Sendi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Daftar Penyakit Artritis. osteoarthritis Fraktur terbuka. fibroma. club 30 foot. osteomalasia Osteoporosis Akondroplasia Displasia fibrosa Tenosinovitis supuratif Tumor tulang primer. sekunder Osteosarkoma Sarcoma Ewing Kista ganglion Trauma sendi Kelainan bentuk tulang belakang (skoliosis. dan lateral 29 Instabilitas sendi tumit Malformasi kongenital (genovarum. spondilodisitis 20 Teratoma sakrokoksigeal 21 Spondilolistesis 22 Spondilolisis 23 Lesi pada ligamentosa panggul 24 Displasia panggul 25 Nekrosis kaput femoris 26 Tendinitis Achilles 27 Ruptur tendon Achilles 28 Lesi meniskus. kifosis. drop hand 32 Otot dan Jaringan Lunak 33 Ulkus pada tungkai 34 Osteomielitis 35 Rhabdomiosarkoma 36 Leiomioma. leiomiosarkoma.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA SISTEM INTEGUMEN Tingkat Kemampuan No Infeksi Virus 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Daftar Penyakit KULIT Veruka vulgaris Kondiloma akuminatum Moluskum kontagiosum Herpes zoster tanpa komplikasi Morbili tanpa komplikasi Varisela tanpa komplikasi Herpes simpleks tanpa komplikasi Impetigo Impetigo ulseratif (ektima) Folikulitis superfisialis Furunkel. karbunkel Eritrasma Erisipelas Skrofuloderma Lepra Reaksi lepra Sifilis stadium 1 dan 2 Tinea kapitis Tinea barbe Tinea fasialis Tinea korporis Tinea manus Tinea unguium Tinea kruris Tinea pedis Pitiriasis vesikolor Kandidosis mukokutan ringan Cutaneus larva migran Filariasis Pedikulosis kapitis Pedikulosis pubis Skabies Reaksi gigitan serangga 4A 3A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 3A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A Infeksi Bakteri Infeksi Jamur Gigitan Serangga dan Infestasi Parasit Standar Kompetensi Dokter Indonesia 54 .

fixed drug eruption Vitiligo Melasma Albino Hiperpigmentasi pascainflamasi Hipopigmentasi pascainflamasi Keratosis seboroik Kista epitel Squamous cell carcinoma (Karsinoma sel skuamosa) Basal cell carcinoma (Karsinoma sel basal) Xanthoma Hemangioma 4A 3A 4A 4A 3A 4A 3A 4A 4A 4A 3A 4A 4A 4A 3B 3B 4A 3A 3B 2 3A 4A 3A 3A 2 3A 3A 2 3A 2 2 2 2 Lesi Eritro-Squamosa Kelainan Kelenjar Sebasea dan Ekrin Penyakit Vesikobulosa Penyakit Kulit Alergi Penyakit Autoimun Gangguan Keratinisasi Reaksi Obat 55 56 57 58 59 60 Kelainan Pigmentasi Neoplasma 61 62 63 64 65 66 Tumor Epitel Premaligna dan Maligna Tumor Dermis 55 Standar Kompetensi Dokter Indonesia .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Dermatitis Eksim 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 Dermatitis kontak iritan Dermatitis kontak alergika Dermatitis atopik (kecuali recalcitrant) Dermatitis numularis Liken simpleks kronik/neurodermatitis Napkin eczema Psoriasis vulgaris Dermatitis seboroik Pitiriasis rosea Akne vulgaris ringan Akne vulgaris sedang-berat Hidradenitis supuratif Dermatitis perioral Miliaria Toxic epidermal necrolysis Sindrom Stevens-Johnson Urtikaria akut Urtikaria kronis Angioedema Lupus eritematosis kulit Ichthyosis vulgaris Exanthematous drug eruption.

punctum Vulnus perforatum.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Tumor Sel Melanosit 67 68 69 Lentigo Nevus pigmentosus Melanoma maligna Alopesia areata Alopesia androgenik Telogen eflluvium Psoriasis vulgaris Vulnus laseratum. penetratum Luka bakar derajat 1 dan 2 Luka bakar derajat 3 dan 4 Luka akibat bahan kimia Luka akibat sengatan listrik 2 2 1 2 2 2 2 4A 3B 4A 3B 3B 3B Rambut 70 71 72 73 Trauma 74 75 76 77 78 79 Standar Kompetensi Dokter Indonesia 56 .

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kekerasan tajam Trauma kimia Luka tembak Luka listrik dan petir Barotrauma Trauma suhu Asfiksia Tenggelam Pembunuhan anak sendiri Pengguguran kandungan Kematian mendadak Toksikologi forensik Daftar Penyakit Kekerasan tumpul Tingkat Kemampuan 4A 4A 3A 3A 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3A 57 Standar Kompetensi Dokter Indonesia .

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA STANDAR KOMPETENSI DOKTER INDONESIA Lampiran-4 DAFTAR KETERAMPILAN KLINIS Standar Kompetensi Dokter Indonesia 58 .

59 Standar Kompetensi Dokter Indonesia . Pengaturan pendidikan dan pelatihan kedua hal tersebut dibuat oleh organisasi profesi. teman sejawat. Tingkat kemampuan 1 (Knows): Mengetahui dan menjelaskan Lulusan dokter mampu menguasai pengetahuan teoritis termasuk aspek biomedik dan psikososial keterampilan tersebut sehingga dapat menjelaskan kepada pasien/klien dan keluarganya. serta profesi lainnya tentang prinsip. Tujuan Daftar Keterampilan Klinis ini disusun dengan tujuan untuk menjadi acuan bagi institusi pendidikan dokter dalam menyiapkan sumber daya yang berkaitan dengan keterampilan minimal yang harus dikuasai oleh lulusan dokter layanan primer. diskusi. demikian pula untuk kemampuan klinis lain di luar standar kompetensi dokter yang telah ditetapkan. Keterampilan ini dapat dicapai mahasiswa melalui perkuliahan. knows how. Gambar 3 menunjukkan pembagian tingkat kemampuan menurut Piramida Miller dan alternatif cara mengujinya pada mahasiswa. sedangkan penilaiannya dapat menggunakan ujian tulis. shows. Pada setiap keterampilan klinis ditetapkan tingkat kemampuan yang harus dicapai di akhir pendidikan dokter dengan menggunakan Piramid Miller (knows. does). dan belajar mandiri. Kemampuan klinis di dalam standar kompetensi ini dapat ditingkatkan melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan dalam rangka menyerap perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran yang diselenggarakan oleh organisasi profesi atau lembaga lain yang diakreditasi oleh organisasi profesi. Dalam melaksanakan praktik.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Standar Kompetensi Dokter Indonesia Daftar Keterampilan Klinis Pendahuluan Keterampilan klinis perlu dilatihkan sejak awal hingga akhir pendidikan dokter secara berkesinambungan. penugasan. dalam rangka memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan yang terjangkau dan berkeadilan (pasal 28 UU Praktik Kedokteran no. Daftar Keterampilan Klinis ini disusun dari lampiran Daftar Keterampilan Klinis SKDI 2006 yang kemudian direvisi berdasarkan hasil survei dan masukan dari pemangku kepentingan. Sistematika Daftar Keterampilan Klinis dikelompokkan menurut sistem tubuh manusia untuk menghindari pengulangan. indikasi. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dan divalidasi dengan metode focus group discussion (FGD) dan nominal group technique (NGT) bersama para dokter dan pakar yang mewakili pemangku kepentingan.29/2004). lulusan dokter harus menguasai keterampilan klinis untuk mendiagnosis maupun melakukan penatalaksanaan masalah kesehatan. dan komplikasi yang mungkin timbul.

Pengujian keterampilan tingkat kemampuan 3 dengan menggunakan Objective Structured Clinical Examination (OSCE) atau Objective Structured Assessment of Technical Skills (OSATS). serta berlatih keterampilan tersebut pada alat peraga dan/atau standardized patient. Tingkat kemampuan 3 (Shows): Pernah melakukan atau pernah menerapkan di bawah supervisi Lulusan dokter menguasai pengetahuan teori keterampilan ini termasuk latar belakang biomedik dan dampak psikososial keterampilan tersebut. Tingkat kemampuan 2 (Knows How): Pernah melihat atau didemonstrasikan Lulusan dokter menguasai pengetahuan teoritis dari keterampilan ini dengan penekanan pada clinical reasoning dan problem solving serta berkesempatan untuk melihat dan mengamati keterampilan tersebut dalam bentuk demonstrasi atau pelaksanaan langsung pada pasien/masyarakat. Pengujian keterampilan tingkat kemampuan 2 dengan menggunakan ujian tulis pilihan berganda atau penyelesaian kasus secara tertulis dan/atau lisan (oral test). Shumway dan Harden (2003). tingkat kemampuan menurut Piramida Miller dan alternatif cara mengujinya pada mahasiswa. Dikutip dari Miller (1990). Standar Kompetensi Dokter Indonesia 60 . berkesempatan untuk melihat dan mengamati keterampilan tersebut dalam bentuk demonstrasi atau pelaksanaan langsung pada pasien/masyarakat.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Gambar 3.

Metode Pembelajaran dan Metode Penilaian untuk setiap tingkat kemampuan 61 Standar Kompetensi Dokter Indonesia . logbook. langkah-langkah cara melakukan. dsb. 4A. Keterampilan yang dicapai pada saat lulus dokter Profisiensi (kemahiran) yang dicapai setelah selesai internsip dan/atau Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (PKB) Dengan demikian di dalam Daftar Keterampilan Klinis ini tingkat kompetensi tertinggi adalah 4A. prinsip. indikasi. 4B. pengujian keterampilan tingkat kemampuan 4 dengan menggunakan Workbased Assessment misalnya mini-CEX. portfolio. dan pengendalian komplikasi.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Tingkat kemampuan 4 (Does): Mampu melakukan secara mandiri Lulusan dokter dapat memperlihatkan keterampilannya tersebut dengan menguasai seluruh teori. komplikasi. Tabel Matriks Tingkat Keterampilan Klinis. Selain pernah melakukannya di bawah supervisi.

inspeksi dan penilaian sistem motorik (misalnya dengan dijulurkan keluar) Inspeksi: postur. gerakan involunter Penilaian tonus otot Penilaian kekuatan otot Inspeksi cara berjalan (gait) Shallow knee bend Tes Romberg Tes Romberg dipertajam Tes telunjuk hidung Tes tumit lutut Tes untuk disdiadokinesis Penilaian sensasi nyeri Penilaian sensasi suhu Penilaian sensasi raba halus Penilaian rasa posisi (proprioseptif) Penilaian sensasi diskriminatif (misal stereognosis) 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 3 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A Keterampilan PEMERIKSAAN FISIK Tingkat Keterampilan Sistem Motorik Koordinasi 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 Sistem Sensorik Standar Kompetensi Dokter Indonesia 62 . inspeksi saat istirahat Lidah.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA SISTEM SARAF No Fungsi Saraf Kranial 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Pemeriksaan indra penciuman Inspeksi lebar celah palpebra Inspeksi pupil (ukuran dan bentuk) Reaksi pupil terhadap cahaya Reaksi pupil terhadap obyek dekat Penilaian gerakan bola mata Penilaian diplopia Penilaian nistagmus Refleks kornea Pemeriksaan funduskopi Penilaian kesimetrisan wajah Penilaian kekuatan otot temporal dan masseter Penilaian sensasi wajah Penilaian pergerakan wajah Penilaian indra pengecapan Penilaian indra pendengaran (lateralisasi. konduksi udara dan tulang) Penilaian kemampuan menelan Inspeksi palatum Pemeriksaan refleks Gag Penilaian otot sternomastoid dan trapezius Lidah. habitus.

SPECT Angiography Duplex-scan pembuluh darah Punksi lumbal KETERAMPILAN TERAPEUTIK Therapeutic spinal tap 63 Standar Kompetensi Dokter Indonesia . tumit) Refleks abdominal Refleks kremaster Refleks anal Tanda Hoffmann-Tromner Respon plantar (termasuk grup Babinski) Snout reflex Refleks menghisap/rooting reflex menggengam palmar/ grasp reflex glabela palmomental Refleks menggengam palmar/grasp reflex Refleks glabela Refleks palmomental Inspeksi tulang belakang saat istirahat Inspeksi tulang belakang saat bergerak Perkusi tulang belakang Palpasi tulang belakang Mendeteksi nyeri diakibatkan tekanan vertikal Penilaian fleksi lumbal Deteksi kaku kuduk Penilaian fontanel Tanda Patrick dan kontra-Patrick Tanda Chvostek Tanda Lasegue 4A 4A 4A 2 2 2 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 2 2 2 1 1 1 1 1 2 2 Refleks Fisiologis. dan Primitif Tulang Belakang Pemeriksaan Fisik Lainnya PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Interpretasi X-Ray tengkorak Interpretasi X-Ray tulang belakang CT-Scan otak dan interpretasi EEG dan interpretasi EMG. platela. Patologis. pergelangan.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Fungsi Luhur 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 Penilaian tingkat kesadaran dengan skala koma Glasgow (GCS) Penilaian orientasi Penilaian kemampuan berbicara dan berbahasa. termasuk penilaian afasia Penilaian apraksia Penilaian agnosia Penilaian kemampuan belajar baru Penilaian daya ingat/memori Penilaian konsentrasi Refleks tendon (bisep. EMNG dan interpretasi Electronystagmography (ENG) MRI PET. trisep.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

PSIKIATRI
Tingkat Keterampilan
4A 4A 4A 4A 4A

No
1 2 3 4 5

Keterampilan ANAMNESIS
Autoanamnesis dengan pasien Alloanamnesis dengan anggota keluarga/orang lain yang bermakna Memperoleh data mengenai keluhan/masalah utama Menelusuri riwayat perjalanan penyakit sekarang/dahulu Memperoleh data bermakna mengenai riwayat perkembangan, pendidikan, pekerjaan, perkawinan, kehidupan keluarga

PEMERIKSAAN PSIKIATRI
6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Penilaian status mental Penilaian kesadaran Penilaian persepsi orientasi intelegensi secara klinis Penilaian orientasi Penilaian intelegensi secara klinis Penilaian bentuk dan isi pikir Penilaian mood dan afek Penilaian motorik Penilaian pengendalian impuls Penilaian kemampuan menilai realitas (judgement) Penilaian kemampuan tilikan (insight) Penilaian kemampuan fungsional (general assessment of functioning) Tes kepribadian (proyektif, inventori, dll) 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 2 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A

DIAGNOSIS DAN IDENTIFIKASI MASALAH
Menegakkan diagnosis kerja berdasarkan kriteria diagnosis multiaksial Membuat diagnosis banding (diagnosis differensial) Identifikasi kedaruratan psikiatrik Identifikasi masalah di bidang fisik, psikologis, sosial Mempertimbangan prognosis Menentukan indikasi rujuk

PEMERIKSAAN TAMBAHAN
Melakukan Mini Mental State Examination Melakukan kunjungan rumah apabila diperlukan Melakukan kerja sama konsultatif dengan teman sejawat lainnya

Standar Kompetensi Dokter Indonesia

64

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

28 29 30 31 32 33 34 35 36

TERAPITERAPI Memberikan terapi psikofarmaka (obat-obat antipsikotik, anticemas, antidepresan, antikolinergik, sedatif) Electroconvulsion therapy (ECT) Psikoterapi suportif: konselling Psikoterapi modifikasi perilaku Cognitive Behavior Therapy (CBT) Psikoterapi psikoanalitik Hipnoterapi dan terapi relaksasi GroupTherapy Family Therapy

3 2 3 2 2 1 2 1 2

65

Standar Kompetensi Dokter Indonesia

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

SISTEM INDRA

No

Keterampilan
PEMERIKSAAN FISIK DIAGNOSTIK Indra Penglihatan

Tingkat Keterampilan

Penglihatan
1 Penilaian penglihatan bayi, anak, dan dewasa Penilaian refraksi, subjektif Penilaian refraksi, objektif (refractometry keratometer) Lapang pandang, Donders confrontation test Lapang pandang, Amsler panes Inspeksi kelopak mata Inspeksi kelopak mata dengan eversi kelopak atas Inspeksi bulu mata Inspeksi konjungtiva, termasuk forniks Inspeksi sklera Inspeksi orifisium duktus lakrimalis Palpasi limfonodus pre-aurikular Penilaian posisi dengan corneal reflex images Penilaian posisi dengan cover uncover test Pemeriksaan gerakan bola mata Penilaian penglihatan binokular Inspeksi pupil Penilaian pupil dengan reaksi langsung terhadap cahaya dan konvergensi Inspeksi media refraksi dengan transilluminasi (pen light) Inspeksi kornea Inspeksi kornea dengan fluoresensi Tes sensivitas kornea Inspeksi bilik mata depan Inspeksi iris Inspeksi lensa Pemeriksaan dengan slit-lamp Fundoscopy untuk melihat fundus reflex Fundoscopy untuk melihat pembuluh darah, papil, makula 4A 4A 2 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A

Refraksi
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Lapang Pandang

Penilaian Eksternal

Posisi Mata

Pupil
17 18

Media
19 20 21 22 23 24 25 26 4A 4A 3 4A 4A 4A 4A 3 4A 4A

Fundus
27 28

Standar Kompetensi Dokter Indonesia

66

Rinne. Schwabach) Tes pendengaran. pengukuran dengan aplanasi tonometer atau non-contact-tonometer Penentuan refraksi setelah sikloplegia (skiascopy) Pemeriksaan lensa kontak fundus. pengukuran dengan indentasi tonometer (Schiötz) Tekanan intraokular. misalnya gonioscopy Pengukuran produksi air mata Pengukuran eksoftalmos (Hertel) Pembilasan melalui saluran lakrimalis (Anel) Pemeriksaan orthoptic Perimetri Pemeriksaan lensa kontak dengan komplikasi Tes penglihatan warna (dengan buku Ishihara 12 plate) Elektroretinografi Electro-oculography Visual evoked potentials (VEP/VER) Fluorescein angiography (FAG) Echographic examination: ultrasonography (USG) 4A 4A 1 1 1 2 2 2 2 2 3 4A 1 1 1 1 1 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 3 4A 2 2 2 2 4A 4A 4A 4A 4A 2 1 2 3 4A Pemeriksaan Oftamologi Lainnya Indra Pendengaran dan Keseimbangan Inspeksi aurikula. estimasi dengan palpasi Tekanan intraokular. pemeriksaan garpu tala (Weber.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Tekanan Intraokular 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 Tekanan intraokular. posisi telinga. tes berbisik Intepretasi hasil Audiometri . dan mastoid Pemeriksaan meatus auditorius externus dengan otoskop Pemeriksaan membran timpani dengan otoskop Menggunakan cermin kepala Menggunakan lampu kepala Tes pendengaran.tone & speech audiometry Pemeriksaan pendengaran pada anak-anak Otoscopy pneumatic (Siegle) Melakukan dan menginterpretasikan timpanometri Pemeriksaan vestibular Tes Ewing Indra Penciuman Inspeksi bentuk hidung dan lubang hidung Penilaian obstruksi hidung Uji penciuman Rinoskopi anterior Transluminasi sinus frontalis & maksila Nasofaringoskopi USG sinus Radiologi sinus Interpretasi radiologi sinus Indra Pengecap Penilaian pengecapan 67 Standar Kompetensi Dokter Indonesia .

ptosis) Operasi detached retina 4A 4A 4A 4A 3 3 4A 3 4A 4A 4A 3 1 2 1 1 1 1 1 1 1 2 4A 4A 4A 4A 2 1 2 4A 4A 2 1 2 2 THT Manuver Politzer Manuver Valsalva Pembersihan meatus auditorius eksternus dengan usapan Pengambilan serumen menggunakan kait atau kuret Pengambilan benda asing di telinga Parasentesis Insersi grommet tube Menyesuaikan alat bantu dengar Menghentikan perdarahan hidung Pengambilan benda asing dari hidung Bilas sinus/sinus lavage/pungsi sinus Antroskopi Trakeostomi Krikotiroidektomi Standar Kompetensi Dokter Indonesia 68 . entropion.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA KETERAMPILAN TERAPEUTIK Mata 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 Peresepan kacamata pada kelainan refraksi ringan (sampai dengan 5D tanpa silindris) untuk mencapai visus 6/6 Peresepan kacamata baca pada penderita dengan visus jauh normal atau dapat dikoreksi menjadi 6/6 Pemberian obat tetes mata Aplikasi salep mata Flood ocular tissue Eversi kelopak atas dengan kapas lidi (swab) untuk membersihkan benda asing To apply eyes dressing Melepaskan lensa kontak dengan komplikasi Melepaskan protesa mata Mencabut bulu mata Membersihkan benda asing dan debris di konjungtiva Membersihkan benda asing dan debris di kornea tanpa komplikasi Terapi laser Operasi katarak Squint. surgery Vitrectomi Operasi glaukoma dengan trabekulotomi Transplantasi kornea Cryocoagulation misalnya cyclocryocoagulation Bedah kelopak mata (chalazion. ektropion.

parotid) Palpasi nodus limfatikus brakialis Palpasi kelenjar tiroid Rhinoskopi posterior Laringoskopi. dan interpretasinya (Gram dan Ziehl Nielsen [BTA]) Pengambilan cairan pleura (pleural tap) Uji fungsi paru/spirometri dasar Tes provokasi bronkial Interpretasi Rontgen/foto toraks Ventilation Perfusion Lung Scanning Bronkoskopi FNAB superfisial Trans thoracal needle aspiration (TINA) TERAPEUTIK Dekompresi jarum Pemasangan WSD Ventilasi tekanan positif pada bayi baru lahir Perawatan WSD Pungsi pleura Terapi inhalasi/nebulisasi Terapi oksigen Edukasi berhenti merokok 69 Standar Kompetensi Dokter Indonesia .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA SISTEM RESPIRASI No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Keterampilan PEMERIKSAAN FISIK Inspeksi leher Palpasi kelenjar ludah (submandibular. direk Usap tenggorokan (throat swab) Oesophagoscopy Penilaian respirasi Inspeksi dada Palpasi dada Perkusi dada Auskultasi dada Tingkat Keterampilan 4A 4A 4A 4A 3 2 2 4A 2 4A 4A 4A 4A 4A 4A 3 4A 2 4A 1 2 2 2 4A 3 3 4A 3 4A 4A 4A PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Persiapan. pemeriksaan sputum. indirek Laringoskopi.

AF) Ekokardiografi Fonokardiografi USG Doppler RESUSITASI Pijat jantung luar Resusitasi cairan Standar Kompetensi Dokter Indonesia 70 .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA SISTEM KARDIOVASKULAR No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Keterampilan PEMERIKSAAN FISIK Inspeksi dada Palpasi denyut apeks jantung Palpasi arteri karotis Perkusi ukuran jantung Auskultasi jantung Pengukuran tekanan darah Pengukuran tekanan vena jugularis (JVP) Palpasi denyut arteri ekstremitas Penilaian denyut kapiler Penilaian pengisian ulang kapiler (capillary refill) Deteksi bruits Tingkat Keterampilan 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 3 3 3 3 3 2 4A 2 2 2 4A 4A PEMERIKSAAN FISIK DIAGNOSTIK Tes (Brodie) Trendelenburg Tes Perthes Test Homan (Homan’s sign) Uji postur untuk insufisiensi arteri Tes hiperemia reaktif untuk insufisiensi arteri Test ankle-brachial index (ABI) Exercise ECG Testing PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Elektrokardiografi (EKG): pemasangan dan interpretasi hasil EKG sederhana (VES. AMI. VT.

cacing) Endoskopi lambung Proktoskopi Biopsi hepar Pengambilan cairan asites 71 Standar Kompetensi Dokter Indonesia . & PANKREAS No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 Keterampilan PEMERIKSAAN FISIK Inspeksi bibir dan kavitas oral Inspeksi tonsil Penilaian pergerakan otot-otot hipoglosus Inspeksi abdomen Inspeksi lipat paha/inguinal pada saat tekanan abdomen meningkat Palpasi (dinding perut. lien.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA SISTEM GASTROINTESTINAL. hepar. parasit. rigiditas dinding perut) Palpasi hernia Pemeriksaan nyeri tekan dan nyeri lepas (Blumberg test) Pemeriksaan psoas sign Pemeriksaan obturator sign Perkusi (pekak hati dan area traube) Pemeriksaan pekak beralih (shifting dullness) Pemeriksaan undulasi (fluid thrill) Pemeriksaan colok dubur (digital rectal examination) Palpasi sacrum Inspeksi sarung tangan pascacolok-dubur Persiapan dan pemeriksaan tinja Tingkat Keterampilan 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 2 4A 4A 4A 4A 4A 4A 2 2 1 3 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Pemasangan pipa nasogastrik (NGT) Endoskopi Nasogastric suction Mengganti kantong pada kolostomi Enema Anal swab Identifikasi parasit Pemeriksaan feses (termasuk darah samar. kolon. aorta. HEPATOBILIER. protozoa.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA SISTEM GINJAL DAN SALURAN KEMIH No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Keterampilan PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan bimanual ginjal Pemeriksaan nyeri ketok ginjal Perkusi kandung kemih Palpasi prostat Refleks bulbokavernosus Tingkat Keterampilan 4A 4A 4A 4A 3 4A 4A 1 1 1 3 4A 3 4A 3 4A 3 2 PROSEDUR DIAGNOSTIK Swab uretra Persiapan dan pemeriksaan sedimen urine (menyiapkan slide dan uji mikroskopis urine) Uroflowmetry Micturating cystigraphy Pemeriksaan urodinamik Metode dip slide (kultur urine) Permintaan pemeriksaan BNO IVP Interpretasi BNO-IVP TERAPEUTIK Pemasangan kateter uretra Clean intermitten chateterization (Neurogenic bladder) Sirkumsisi Pungsi suprapubik Dialisis ginjal Standar Kompetensi Dokter Indonesia 72 .

perolehan bahan uji. duktus spermatik epididimis Transluminasi skrotum SISTEM REPRODUKSI WANITA GINEKOLOGI Pemeriksaan Fisik 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Pemeriksaan fisik umum termasuk pemeriksaan payudara (inspeksi dan palpasi) Inspeksi dan palpasi genitalia eksterna Pemeriksaan spekulum: inspeksi vagina dan serviks Pemeriksaan bimanual: palpasi vagina. penilaian hasil Pemeriksaan mukus serviks. testis.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA SISTEM REPRODUKSI Tingkat Keterampilan 4A 4A 4A 4A No 1 2 3 4 Keterampilan SISTEM REPRODUKSI PRIA Inspeksi penis Inspeksi skrotum Palpasi penis. dan KOH Melakukan Pap’s smear Pemeriksaan IVA Kolposkopi Pemeriksaan kehamilan USG perabdominal Kuretase Laparoskopi diagnostik Penilaian hasil pemeriksaan semen Kurva temperatur basal. penyiapan dan penilaian slide Histerosalpingografi (HSG) Peniupan tuba Fallopi Inseminasi artifisial Melatih pemeriksaan payudara sendiri Insersi pessarium Electro or crycoagulation cervix Laparoskopi. salin. uterus. instruksi. terapeutik Insisi abses Bartholini Insisi abses lainnya 4A 4A 4A 4A 3 3 4A 4A 4A 4A 2 3 3 2 4A 4A 4A 3 1 1 1 4A 2 3 2 4A 2 Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan Tambahan untuk Fertilitas Terapi dan Prevensi 73 Standar Kompetensi Dokter Indonesia . pemeriksaan dengan pewarnaan Gram. korpus uteri. pH. adneksa Pemeriksaan combined recto-vaginal Melakukan swab vagina Duh (discharge) genital: bau. serviks. Tes fern Uji pascakoitus. dan ovarium Pemeriksaan rektal: palpasi kantung Douglas.

dilatasi. presentasi janin dan penurunan) Menolong persalinan fisiologis sesuai Asuhan Persalinan Normal (APN) Pemecahan membran ketuban sesaat sebelum melahirkan Insersi kateter untuk tekanan intrauterus Anestesi lokal di perineum Anestesi pudendal Anestesi epidural Episiotomi Resusitasi bayi baru lahir Menilai skor Apgar Pemeriksaan fisik bayi baru lahir Postpartum: pemeriksaan tinggi fundus. interna. manuver Leopold. plasenta: lepas/tersisa Memperkirakan/mengukur kehilangan darah sesudah melahirkan Menjahit luka episiotomi serta laserasi derajat 1 dan 2 Menjahit luka episiotomi serta laserasi derajat 3 Menjahit luka episiotomi derajat 4 Insiasi menyusui dini (IMD) Induksi kimiawi persalinan Menolong persalinan dengan presentasi bokong (breech presentation) Pengambilan darah fetus Operasi Caesar (Caesarean section) Pengambilan plasenta secara manual Ekstraksi vakum rendah Pertolongan distosia bahu Kompresi bimanual (eksterna. aorta) 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 3 4A 4A 2 2 4A 4A 4A 2 4A 2 2 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 3 2 4A 3 3 2 2 3 3 3 4A Proses Melahirkan Normal Standar Kompetensi Dokter Indonesia 74 . pil.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Konseling 32 33 34 35 36 37 Konseling kontrasepsi Insersi dan ekstraksi IUD Laparoskopi. penilaian posisi dari luar Mengukur denyut jantung janin Pemeriksaan dalam pada kehamilan muda Pemeriksaan pelvimetri klinis Tes kehamilan CTG: melakukan dan menginterpretasikan Permintaan pemeriksaan USG obsgin Pemeriksaan USG obsgin (skrining obstetri) Amniosentesis Chorionic villus sampling Pemeriksaan obstetri (penilaian serviks. membran. sterilisasi Insersi dan ekstraksi implant Kontrasepsi injeksi Penanganan komplikasi KB (IUD. implant) 4A 4A 2 3 4A 4A OBSTETRI Kehamilan 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 51 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 Identifikasi kehamilan risiko tinggi Konseling prakonsepsi Pelayanan perawatan antenatal Inspeksi abdomen wanita hamil Palpasi: tinggi fundus. suntik.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Perawatan Masa Nifas 77 78 79 80 81 82 83 Menilai lochia Palpasi posisi fundus Payudara: inspeksi. masase Mengajarkan hygiene Konseling kontrasepsi/ KB pascasalin Perawatan luka episiotomi Perawatan luka operasi caesar 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 75 Standar Kompetensi Dokter Indonesia . manajemen laktasi.

METABOLISME. DAN NUTRISI No 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterampilan Penilaian status gizi (termasuk pemeriksaan antropometri) Penilaian kelenjar tiroid: hipertiroid dan hipotiroid Pengaturan diet Penatalaksanaan diabetes melitus tanpa komplikasi Pemberian insulin pada diabetes melitus tanpa komplikasi Pemeriksaan gula darah (dengan Point of Care Test [POCT]) Pemeriksaan glukosa urine (Benedict) Anamnesis dan konseling kasus gangguan metabolisme dan endokrin Tingkat Keterampilan 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A Standar Kompetensi Dokter Indonesia 76 .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA SISTEM ENDOKRIN.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA SISTEM HEMATOLOGI DAN IMUNOLOGI No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Keterampilan Palpasi kelenjar limfe Persiapan dan pemeriksaan hitung jenis leukosit Pemeriksaan darah rutin (Hb. Ht. Leukosit. thalasemia. Trombosit) Pemeriksaan profil pembekuan (bleeding time. clotting time) Pemeriksaan Laju endap darah/kecepatan endap darah (LED/KED) Permintaan pemeriksaan hematologi berdasarkan indikasi Permintaan pemeriksaan imunologi berdasarkan indikasi Skin test sebelum pemberiaan obat injeksi Pemeriksaan golongan darah dan inkompatibilitas Anamnesis dan konseling anemia defisiensi besi. dan HIV Penentuan indikasi dan jenis transfusi Tingkat Keterampilan 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 77 Standar Kompetensi Dokter Indonesia .

adduksi. abduksi dan rotasi Menilai atrofi otot Lutut: menilai ligamen krusiatus dan kolateral Penilaian meniskus Kaki: inspeksi postur dan bentuk Kaki: penilaian fleksi dorsal/plantar. metacarpal. sendi sakro-iliaka dan otototot punggung Percussion for tenderness Penilaian range of motion (ROM) sendi Menetapkan ROM kepala Tes fungsi otot dan sendi bahu Tes fungsi sendi pergelangan tangan. dan jari-jari tangan Pengukuran panjang ekstremitas bawah Tingkat Keterampilan 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 3 4A 3 4A 2 2 4A 3 TERAPEUTIK Reposisi fraktur tertutup Stabilisasi fraktur (tanpa gips) Reduksi dislokasi Melakukan dressing (sling.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA SISTEM MUSKULOSKELETAL No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Keterampilan PEMERIKSAAN FISIK Inspeksi gait Inspeksi tulang belakang saat berbaring Inspeksi tulang belakang saat bergerak Inspeksi tonus otot ekstremitas Inspeksi sendi ekstremitas Inspeksi postur tulang belakang dan pelvis Inspeksi posisi skapula Inspeksi fleksi dan ekstensi punggung Penilaian fleksi lumbal Panggul: penilaian fleksi dan ekstensi. inversi dan eversi Palpation for tenderness Palpasi untuk mendeteksi nyeri diakibatkan tekanan vertikal Palpasi tendon dan sendi Palpasi tulang belakang. bandage) Nail bed cauterization Aspirasi sendi Mengobati ulkus tungkai Removal of splinter Standar Kompetensi Dokter Indonesia 78 .

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA SISTEM INTEGUMEN No 1 2 3 4 5 6 7 Keterampilan PEMERIKSAAN FISIK Inspeksi kulit Inspeksi membran mukosa Inspeksi daerah perianal Inspeksi kuku Inspeksi rambut dan skalp Palpasi kulit Deskripsi lesi kulit dengan perubahan primer dan sekunder. penyebaran dan konfigurasi Tingkat Keterampilan 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 8 4A PEMERIKSAAN TAMBAHAN 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Pemeriksaan dermografisme Penyiapan dan penilaian sediaan kalium hidroksida Penyiapan dan penilaian sediaan metilen biru Penyiapan dan penilaian sediaan Gram Biopsi plong (punch biopsy) Uji tempel (patch test) Uji tusuk (prick test) Pemeriksaan dengan sinar UVA (lampu Wood) 4A 4A 4A 4A 2 2 2 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A TERAPEUTIK Pemilihan obat topikal Insisi dan drainase abses Eksisi tumor jinak kulit Ekstraksi komedo Perawatan luka Kompres Bebat kompresi pada vena varikosum Rozerplasty kuku PENCEGAHAN Pencarian kontak (case finding) 79 Standar Kompetensi Dokter Indonesia . misal ukuran. konfigurasi Deskripsi lesi kulit dengan perubahan primer dan sekunder. penyebaran. distribusi. seperti uku distribusi.

gerakan. psikososial. bahasa) Pengukuran antropometri Pengukuran suhu Tes fungsi paru Ultrasound kranial Pungsi lumbal Ekokardiografi Tes Rumple Leed Tatalaksana BBLR (KMC incubator) Tatalaksana bayi baru lahir dengan infeksi Peresepan makanan untuk bayi yang mudah dipahami ibu Tatalaksana gizi buruk Pungsi vena pada anak Insersi kanula (vena perifer) pada anak Insersi kanula (vena sentral) pada anak Intubasi pada anak Pemasangan pipa orofaring Kateterisasi jantung Vena seksi Kanulasi intraoseus 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 3 3 4A 3 4A 4A 4A 2 1 2 2 4A 4A 3 4A 4A 4A 4A 1 3 2 1 3 2 Pemeriksaan Fisik Terapeutik 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Standar Kompetensi Dokter Indonesia 80 .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA LAIN-LAIN Tingkat Keterampilan No Anamnesis 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Keterampilan ANAK Anamnesis dari pihak ketiga Menelusuri riwayat makan Anamnesis anak yang lebih tua Berbicara dengan orang tua yang cemas dan/atau orang tua dengan anak yang sakit berat Pemeriksaan fisik umum dengan perhatian khusus usia pasien Penilaian keadaan umum. tangisan Pengamatan malformasi kongenital Palpasi fontanella Respons moro Refleks menggenggam palmar Refleks mengisap Refleks melangkah/menendang Vertical suspension positioning Asymmetric tonic neck reflex Refleks anus Penilaian panggul Penilaian pertumbuhan dan perkembangan anak (termasuk penilaian motorik halus dan kasar. perilaku.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Resusitasi 37 38 39 40 41 42 43 Tatalaksana anak dengan tersedak Tatalaksana jalan nafas Cara pemberian oksigen Tatalaksana anak dengan kondisi tidak sadar Tatalaksana pemberian infus pada anak syok Tatalaksana pemberian cairan glukosa IV Tatalaksana dehidrasi berat pada kegawatdaruratan setelah penatalaksanaan syok 3 3 3 3 3 3 4A DEWASA Pemeriksaan Fisik 44 45 46 Penilaian keadaan umum Penilaian antropologi (habitus dan postur) Penilaian kesadaran Punksi vena Punksi arteri Finger prick Permintaan dan interpretasi pemeriksaan X-ray: foto polos Permintaan dan interpretasi pemeriksaan X-ray dengan kontras Pemeriksaan skintigrafi Ekokardiografi Pemeriksaan patologi hasil biopsi Artrografi Ultrasound skrining abdomen Biopsi Menasehati pasien tentang gaya hidup Peresepan rasional. dan dapat dibaca Injeksi (intrakutan. intravena. asepsis. lengkap. menggunakan baju operasi. semprot) Pemberian analgesik Vena seksi 4A 4A 4A 4A 3 4A 4A 3 1 1 1 1 3 2 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 3 4A 4A 3 4A 4A 4A 4A Penunjang 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 Terapeutik 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 KEGAWATDARURATAN Bantuan hidup dasar Ventilasi masker Intubasi Transpor pasien (transport of casualty ) Manuver Heimlich Resusitasi cairan Pemeriksaan turgor kulit untuk menilai dehidrasi 81 Standar Kompetensi Dokter Indonesia . dll) Anestesi infiltrasi Blok saraf lokal Jahit luka Pengambilan benang jahitan Menggunakan anestesi topikal (tetes. intramuskular) Menyiapkan pre-operasi lapangan operasi untuk bedah minor. subkutan. menggunakan sarung tangan steril. anestesi lokal Persiapan untuk melihat atau menjadi asisten di kamar operasi (cuci tangan. antisepsis.

nasihat dan melatih individu dan kelompok mengenai kesehatan Menyusun rencana manajemen kesehatan Konsultasi terapi Komunikasi lisan dan tulisan kepadateman sejawat atau petugas kesehatan lainnya (rujukan dan konsultasi) Menulis rekam medik dan membuat pelaporan Menyusun tulisan ilmiah dan mengirimkan untuk publikasi 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A KESEHATAN MASYARAKAT / KEDOKTERAN PENCEGAHAN / KEDOKTERAN KOMUNITAS 84 85 86 87 88 89 Perencanaan dan pelaksanaan. pelaksanaan. dan institusi kerja Menerapkan 7 langkah keselamatan pasien Melakukan langkah-langkah diagnosis penyakit akibat kerja dan penanganan pertama di tempat kerja. dan masyarakat 4A 4A 4A 4A 4A 4A 90 4A 91 92 93 94 4A 4A 4A 4A 95 4A 96 97 98 99 100 4A 4A 4A 4A 4A Standar Kompetensi Dokter Indonesia 82 . sekunder. pemeriksaan medis berkala dan dukungan sosial Melakukan pencegahan dan penatalaksanaan kecelakaan kerja serta merancang program untuk individu.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA KOMUNIKASI 77 78 79 80 81 82 83 Menyelenggarakan komunikasi lisan maupun tulisan Edukasi. lingkungan. dan masyarakat Melakukan penatalaksanaan komprehensif pasien. 2) Kesehatan Lingkungan. keluarga. keluarga. monitoring dan evaluasi upaya pencegahan dalam berbagai tingkat pelayanan Mengenali perilaku dan gayahidup yang membahayakan Memperlihatkan kemampuan pemeriksaan medis di komunitas Penilaian terhadap risiko masalah kesehatan Memperlihatkan kemampuan penelitian yang berkaitan dengan lingkungan Memperlihatkan kemampuan perencanaaan. 4) Perbaikan gizi masyarakat. 3) KIA termasuk KB. dan evaluasi suatu intervensi pencegahan kesehatan primer. dan tersier Melaksanakan kegiatan pencegahan spesifik seperti vaksinasi. Malaria 6) Pengobatan dan penanganan kegawatdaruratan Pembinaan kesehatan usia lanjut Menegakkan diagnosis holistik pasien individu dan keluarga. serta melakukan pelaporan PAK Merencanakan program untuk meningkatkan kesehatan masyarakat termasuk kesehatan lingkungan Melaksanakan 6 program dasar Puskesmas: 1) promosi kesehatan. Diare. ISPA. 5) Penanggulangan penyakit: imunisasi. dan melakukan terapi dasar secara holistik Melakukan rehabilitasi medik dasar Melakukan rehabilitasi sosial pada individu. TB. monitoring.

jampersal. mengelola. dan evaluasi asuransi pelayanan kesehatan misalnya BPJS. dll 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 102 103 104 KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL Medikolegal 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 Prosedur medikolegal Pembuatan Visum et Repertum Pembuatan surat keterangan medis Penerbitan Sertifikat Kematian Pemeriksaan selaput dara Pemeriksaan anus Deskripsi luka Pemeriksaan derajat luka Pemeriksaan label mayat Pemeriksaan baju mayat Pemeriksaan lebam mayat Pemeriksaan kaku mayat Pemeriksaan tanda-tanda asfiksia Pemeriksaan gigi mayat Pemeriksaan lubang-lubang pada tubuh Pemeriksaan korban trauma dan deskripsi luka Pemeriksaan patah tulang Pemeriksaan tanda tenggelam Pemeriksaan rongga kepala Pemeriksaan rongga dada Pemeriksaan rongga abdomen Pemeriksaan sistem urogenital Pemeriksaan saluran luka Pemeriksaan uji apung paru Pemeriksaan getah paru 4A 4A 4A 4A 3 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 4A 2 2 2 2 2 2 2 Forensik Klinik Korban Mati Teknik Otopsi 83 Standar Kompetensi Dokter Indonesia . monitoring.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA SUPERVISI 101 Mengetahui penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan pengendaliannya Mengetahui jenis vaksin beserta • cara penyimpanan • cara distribusi • cara skrining dan konseling pada sasaran • cara pemberian • kontraindikasi efek samping yang mungkin terjadi dan upaya penanggulangannya Menjelaskan mekanisme pencatatan dan pelaporan Merencanakan. jamkesmas. askes.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Teknik Pengambilan Sampel 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 Vaginal swab Buccal swab Pengambilan darah Pengambilan urine Pengambilan muntahan atau isi lambung Pengambilan jaringan Pengambilan sampel tulang Pengambilan sampel gigi Pengumpulan dan pengemasan barang bukti Pemeriksaan bercak darah Pemeriksaan cairan mani Pemeriksaan sperma Histopatologi forensik Fotografo forensik 4A 4A 4A 4A 4A 2 2 2 2 3 3 3 1 3 Pemeriksaan Penunjang / Laboratorium Forensik Standar Kompetensi Dokter Indonesia 84 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful