You are on page 1of 49

Laporan Sistem Blok Komunitas III Program Pemberantasan dan Penanggulangan Flu Burung

Di susun Oleh : • • • • • • • • • • • Abdu Rahim Kamil Aldes Sagita Badrina Alfi Dwi Rahmawati Edeng Heri Kiswanto Jamiaturidha Nety Kurnia Novina Indrianingrum Rahayu Ningtyasaputri Riry Farissa

• •

Sri Nurbaeti Ulfah Dzakkiyah

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadyah Jakarta 201/2013 KATA PENGANTAR Alhamdulillahirabbil’alamin tiada kata yang paling indah dan paling bermakna, kecuali Puji dan syukur kami kepada Allah SWT, atas segala rahmat dan karuniaNya yang telah diberikan kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan tugas laporan kelompok di Blok Sistem Komunitas III tentang “Program Pemberantasan dan Penanggulangan Flu Burung” . Rasa terimakasih juga tak lupa kami sampaikan kepada semua pihak yang telah bersedia membantu kami dalam pembuatan makalah ini. Terutama kepada Bapak Syamsul Anwar,Mkep,Sp.Kom sebagai Kordinator Blok Sistem Komunitas III yang telah membimbing kami dengan sepenuh hati, kepada Orang tua kami yang selalu memberikan dukungan moril kepada kami, dan kepada teman-teman yang dengan ikhlas memberi support kepada kami. Kami menyadari dalam laporan ini masih banyak terdapat kekurangan, oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangatlah kami butuhkan untuk memperbaiki kesalahan kami di masa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat membantu pembaca untuk menambah pengetahuan tentang “Program Pemberantasan dan Penanggulangan Flu Burung”.

Jakarta, 16 November 2012

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Penyakit flu burung atau Avian Influenza disebabkan oleh virus Influenza A dari family Orthomyxoviridae. Virus dibagi dalam subtipe berdasarkan antigen permukaan Haemaglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA) yang dimilikinya. Saat ini, 15 jenis HA telah dikenali, mulai H1 sampai H15 dan 9 jenis NA, mulai N1 sampai N9. Di antara 15 subtipe HA, hanya H5 dan H7 yang bersifat ganas pada unggas. Penyakit flu burung mulai merebak di Indonesia untuk pertama kalinya pada ayam tahun 2003. Departemen Pertanian (Deptan) secara resmi menginformasikan adanya penyakit flu burung pada bulan januari 2004 dan menyatakan penyakit disebabkan oleh virus influenza subtipe H5N1. Serangan flu burubg mencapai puncaknya pada kuartal pertama tahun 2004. Setelah itu, serangan virus mematikan tampaknya mereda dan pada tahun 2005 kembali mewabah. Virus tidak hanya menyerang ayam, tetapi juga babi, kalkun, dan manusia. Berdasarkan pemeriksaan laboratorium, Deptan menetapkan bahwa virus Avian Influenza yang menyerang tidak mengalamin perubahan , yaitu subtipe H5N1. Penyakit flu burung umumnya menyerang unggas muda serta dapat menimbulkan gejala yang ringan sampai berat dan fatal, yaitu menimbulkan kematian. Namun, kadangkadang unggas yang terserang penyakit, terutama unggas liar seperti itik dan burung liar, tidak menunjukkan gejala klinis, tetapi dapat menyebarkan pada hewan lain maupun manusia. Gejala klinis yang terjadi adalah kerontokan bulu, penurunan produksi telur, pembngkakan di daerah kepala, kelemahan, dan gangguan respirasi. Gejala penyakit flu burung pada manusia mirip dengan influenza yang biasa terjadi pada manusia, antara lain seseorang akan mengalami infeksi pada manusia, antara lain seseorang akan mengalami

infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dengan gejala demam 38oC atau lebih, batuk, pilek, sakit tenggorokan, badan lemas, pegal linu, nyeri otot, pusing, peradangan selaput mata (mata memerah), serta kadang-kadang disertai mencret dan muntah. Keadaan ini bisa berlanjut menjadi gejala sesak nafas yang jarang terjadi pada seseorang dengan flu manusia biasa. Dugaan penyakit flu burung dapat mengarah pada yang bersangkutan apabila dalam seminggu terakhir ia mengunjungi peternakan yang sedang terjangkit penyakit flu burung, kontak dengan unggas yang dicurigai menderita flu burung, maupun bekerja pada suatu laboraturium yang sedang memproses spesimen (sampel) manusia atau hewan yang dicurigai menderita flu burung. 2. Tujuan Penulisan Setelah menyelesaikan makalah ini diharapkan mahasiswa mampu mengetahui tentan Program Pemberantasan dan Penanggulangan Flu Burung, yaitu : a. Mahasiswa dapat menjelaskan Pengertian Flu Burung b. Mahasiswa dapat menjelaskan Penyebab Flu Burung c. Mahasiswa mampu menjelaskan Cara Penyebaran dan Penularan Flu Burung d. Mahasiswa mampu menjelaskan Gejala Klinik Flu Burung e. Mahasiswa mampu menjelaskan Pengobatan dan Perawatan pada untuk penderita Flu Burung f. Mahasiswa mampu menjelaskan Cara Pencegahan Virus Flu Burung g. Mahasiswa mampu menjelaskan Kebijakan Pemerintah Dalam Menanggulangi Wabah Flu Burung

dalam hal ini ayam. Sebenarnya penyakit flu burung adalah penyakit pada hewan (zoonosis).BAB II PEMBAHASAN 1. dalam perkembangannya virus penyebab penyakit mengalami perubahan pada struktur genetisnya (mutasi) yang mengakibatkan virus ini dapat ditularkan kepada manusia. Akan tetapi. Pengertian Penyakit flu burung atau flu unggas (bird flu atau avian influenza) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus influenza yang ditularkan oleh unggas. Flu . burung angsa. bebek. atau unggas sejenis. kalkun.

Contoh virus yang termasuk dalam HPAIV adalah H5N1. manusia . Virus terdiri dari atas 3 tipe antigenic yang berbeda . bentuk yang “ sangat ganas/mematikan” dikenal dengan Highly Pathogenic Avian Influenza Viruses / HPAIV menimbulkan gejala yang sangat hebat. Variasi antigenic virus influenza sering ditemukan sering ditemukan melalui drift dan Shift antigenic. 15 jenis HA telah di kenali . hanya H5 dan H7 yang bersifat ganas pada unggas. mulai H1 sampai H15 jenis HA telah dikenali. Drift antigenic terjadi kerana adanya perubahan struktur antigenic yang bersifat minor pada permukaan antigen H dan atau N . minsalnya cerpelai . yang hanya menyebabkan gejala ringan dan biasanya tidak terdeteksi. Bentuk penyakit yang berpatogenisitas rendah atau “kurang ganas” dan tidak mematikan sering disebut dengan Low Pathogenic Avian Influenza Viruses / LPAIV. Pada unggas ternak atau piaraan. Tingkat kematian mencapai 100 % hanya dalam kurun waktu 48 jam (pada unggas). virus influenza B dan C hanya ditemukan pada manusia . penyakit flu burung yang disebut pula Avian Influenza disebabkan oleh virus influenza A . virus influenza A terdapat pada unggas . yaitu bentuk yang berpatogenisitas rendah atau “kurang ganas” (low pathogenic) dan bentuk yang sangat patogen / “ganas” (high pathogenic). permukaan Haemaglutinin (HA ). dan ikan paus.burung dapat menyerang seluruh bangsa atau benua dan menimbulkan pandemi dalam waktu 2-3 tahun. Namun .B. dan Neuramminidase (NA). pengaturan kembali struktur genetic virus pada unggas dan manusia diperkirakan merupakan suatu penyebab . dan kadang –kadang mamalia yang lain. virus ini merupakan virus RNA dan mempunyai aktivitas haemaglutinin (HA). Diantara 15 subtipe HA.yaitu A. kuda.saat ini.dan C. mulai H1 sampai H15 dan N9. sebenarnya horpes alaminya adalah unggas liar. pembagian subtype virus berdasarkan permukaan antigen .babi. Penyebab Virus merupakan influenza tergolong family orthomyxoviridae. mudah menular dan menyebabkan penyakit pada organ-organ tubuh unggas. dan Neuraminidase (NA ) yang dimilikinya. sedangan Shift antigenic terjadi karena adanya perubahan yang bersifat dominan pada struktur antigenic . Sementara itu. infeksi oleh virus flu burung menyebabkan timbulnya dua bentuk penyakit. anjing laut. Sebaiknya . 2. Penyakit ini ditularkan dari unggas pembawa virus virus flu burung ke unggas ternak yang rentan.

• Berbagai penyakit unggas termasuk berbagai jenis ayam:brung laut .timbulnya strain baru virus pada manusia yang bersifat pandemic (meluas berbagai Negara). di dalam tinja unggas dan dalam tubuh unggas yang sakit . kuda. wallet. dinegara lain pernah pula ditemukan kejadian flu burung. dan sebagnsanya.virus flu burung mampu bertahan hidup dalam air samapi 4 hari pada suhu 22 derajat celcius dan lebih dari 30 hari pada 0 derajat celcius . merak.namun akan mati pada pemanasan 60 derajat celcius selama 30 menit atau 90 derajat celcius selama 1 menit . burung burung liar seperti pelican. Sebelum terjadinya flu burung dihongkong .flu burung dapat menyeranga. Penyebab flu burung pada unggas yang sangat ganas dan menular kemanusia pada wabah akhir akhir ini dinyatakan virus influenza A subtype H5N1. virus mempunyai masa inkubasi (jarak antara masuknya virus hingga terlihat gejala pada penderita)yang pendek . kakatua. namun penyakit tidak hanya menyerang burung mau pun unggas saja . burung laut . Itik . Table kejadian flu burung di dunia no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama atau Negara Spanish Flu Amerika serikat Asean flu Hongkong Flu Indonesia Hongkong hongkong Vietnam Tailand Tahun 1918-1919 1983dan 1986 1957 -1958 1968. • Babi. Dalam hal ini .cerpelai. Unggas yang menderita flu burung dapat mengeluarkan virus berjumlah besar dalam kotoran (feses) mau pun sekreta yang dikeluarkan nya. dan beo.1969 1982 1998 2003 2004 2004 Penyebab Influenza A H1N1 Influenza A H5N2 Influenza H2N2 Influenza A H3N2 Influenza A H4 NN2 Influenza A H9N1 Influenza A H5N1 Influenza A H5N1 Influenza A H5N1 Meskipun diberi nama flu burung (avian Influenza). kalkun . yaitu antara . macan ikan paus . demikan pula burung liar yang kini sudah menjadi burung peliharaan seperti burung parkit . sama seperti yang ditemukan pada ayam dan manusia pada wabah flu burung di hongkong tahun 1997.virus pada unggas dapat berperan pada perubahan struktur genetic virus influenza pada manusia dengan menyumbangkan gen pada virus galur manusia.dan diduga berbagai jenis mamalia yang lain diduga dapat pula tertular flu burung. virus dapat bertahan lama .

sedangkan virus influenza C relatif stabil. dan spesies unggas yang terserang. tergantung pada jumlah virus yan masuk . Sejak dulu diduga kondisi yang memudahkan terjadinya antigenic shift adalah adanya penduduk yang bermukim di dekat daerah peternakan unggas dan babi.beberapa jam sampai 3 hari. Bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa setidak . sehingga keadaan ini dapat menyebabkan terjadinya infeksi sistemik yang berat karena sistem imun host baik seluler maupun humoral belum sempat terbentuk. Akhir-akhir ini diketahui adanya kemungkinan mekanisme sekunder untuk terjadinya perubahan ini. sehingga menyebabkan terbentuknya subtipe virus yang baru. Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa adanya proses antigenic shift akan memungkinkan terbentuknya virus baru yang lebih ganas. Virus akan mati dengan detergen. Karena babi bersifat rentan terhadap infeksi baik oleh avian maupun human virus maka hewan tersebut dapat berperan sebagai lahan pencampur (mixing vessel) untuk penysunan kembali gen-gen yang berasal dari kedua virus tersebut. Bila perubahan antigen permukaan yang terjadi hanya sedikit.tidaknya ada beberapa dari 15 subtipe virus influenza yang terdapat pada populasi burungg di mata manusia dapat berfungsi sebagai lahan pencampur. Bukti yang . Antigenic shift hanya terjadi pada virus influenza B. Teori yang mendasari terjadinya antigenic shift adalah adanya penysunan kembali dari gen-gen pada H dan N diantara human dan avian influenza viruses melalui perantara host ketiga. Salah satu ciri yang penting dari virus influenza adalah kemampuannya untuk mengubah antigen permukaannya (H dan N) baik secara cepat / mendadak maupun lambat (bertahun-tahun). disebut antigenic drift. rute kontak . Peristiwa terjadinya perubahan besar dari struktur antigen permukaan yang terjadi secara singkat disebut antigenic shift. desinfektan misalanya formalin. 3. cairan yang mengandung iodin 70%. Sifat – sifat Virus Influenza Virus influenza pada unggas mempunyai sifat dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 22 oC dan lebih dari 30 hari di suhu 0 oC. Di dalam tinja unggas dan dalam tubuh unggas sakit dapat hidup lama. tetapi mati pada pemanasan 60 oC selama 30 menit atau 560C selama 3 jam dan pemanasan 80 oC selama 1 menit.

dan burung kuau. Sementara itu. Hal ini disebabkan virus H5 dan H7 yang terdapat didalam unggas tersebut bersifat kurang ganas dan berpatogenesitas rendah sehingga disebut LPAIV. unggas air liar tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda sakit. seperti bebek dan angsa yang merupakan anggota Ordo Anseriformes serta burung camar dan burung laut dari Ordo Charadriiformes adalah pembawa (Carrier) virus influenza A subtipe H5 dan H7. unggas air liar.nyata akan peristiwa ini adalah terjadinya pandemi pada tahun 1957 oleh subtipe virus H2N2. dan tahun 1968 oleh pandemi virus H3N2.burung puyuh. HPAIV . 4.highly pathogenic avian influenza virus . garis putus-putus dengan tanda panah menunjukkan pertahanan spesies. seperti ayam. spesies unggas yang sensitif atau rentan terinfeksi virus H5 atau H7 adalah jenis-jenis unggas ternak. Gambar Skema patogenesis dan epidemiologi flu burung Keterangan Gambar : HPAIV . Sebagian pembawa virus flu burung subtipe H5 atau H7.low pathogenic avian influenza virus HA – haemagglutinin protein. kalkun. . Penyebaran dan Penularan Flu Burung Penyebaran virus flu burung (H5N1) melalui unggas yang sedang bermigrasi belum sepenuhnya dipahami. Hanya saja. Virus yang dibawa oleh unggas ini umumnya bersifat kurang ganas (LPAIV). unggas guinea. Unggas air liar ini jugamenjadi reservoir alami untuk semua virus influenza A.

pakaian. sepatu yang telah terpapar pada vrus flu burung (H5N1) juga pekerja peternakan itu sendiri. seperti babi. dan kotoran unggas yang sakit. virus influenza A akan beradaptasi dan bermutasi menjadi bentuk yang ganas . Setelah masuk dan bersirkulasi di dalam tunuh unggas ternak. penularan dapat terjadi secara mekanis melalui peralatan kandang. dari unggas ke manusia. • Penularan Antar unggas Penyakit flu burung dapat menular melalui udara yang tercemar virus H5N1 Yang berasal dari kotoran unggas yang sakit.2%) • Kereta/lori yang digunakan untuk mengangkut makanan. yakni mengapa adanya virus H5 atau H7 pada unggas ternak perlu diwaspadai. karena virus ini dapat hidup didalam tubuh manusia dan mamalia. bulu-bulu mengerut. dll (21.6%) • Penularan dari unggas ke manusia . lendir dari hidung. dan secara terbatas dari manusia ke manusia meskipun belum ada sampai sekarang melalui kontak langsung dan mungkin kontak tidak langsung dengan air liur.kucing dan kuda.  Bagaimana manusia dapat tertular flu burung Penyakit flu burung menular dari unggas ke unggas. Juga. Jalur penularanantarunggas di peternakan. minuman unggas.5%) • Lingkungan sekitar (tetangga) dalam radius 1 km (26.Virus jenis ini hanya menyebabkan penurunan produksi telur. secara berurutan dari yang kurang beresiko sampai yang paling beresiko adalah melalui: • Pergerakan unggas yang terinfeksi (1%) • Kontak langsung selama perjalanan unggas ke tempat pemotongan (8. Di peternakan unggas. Penularan juga bisa terjadi melalui air minum dan pasokan makanan yang telah terkontaminasi oleh kotoran yang terinfeksi flu burung.3%) • Kontak tidak langsung saat pertukaran pekerja dan alat-alat kerja (9.Inilah yang harus diperhatikan. yaitu HPAIV dalam waktu beberapa bulan saja. atau berat badan ayam pedaging tidak naik-naik.

atau dengan permukaan atau benda-benda yang terkontaminasi oleh kotoran unggas sakit yang mengandung virus H5N1. Banyak pula yang kandangnya berada di tempat di mana anak-anak biasa bermain.penjualan unggas ternak/telur.pembersihan bulu. khususnya di daerah dimana unggas biasa dipelihara. Sampai saat ni kasus flu burung pada amanusia lebih banyak terjadi di daerah perdesaan/perkampungan ataupun pinggiran kota yang padat penduduknya. kebanyakan unggas yang dipelihara dilepas begitu saja atau tidak dimasukkan dalam kandang.  Yang Beresiko Tinggi Tertular Flu Burung • • • Pekerja di peternakan ayam Pemotongan ayam Orang yang berkontak langsung dengan unggas hidup yang sakit atau terinfeksi flu burung • • • Orang yang menyentuh produk unggas yang terinfeksi flu burung Lingkungan sekitar dalam radius yang terinfeksi flu burung Lingkungan sekitar dalam radius 1km dari lokasi terjadinya kematian unggas akibat flu burung  Apakah virus H5N1 mudah menyebar dari unggas ke manusia ? Tidak. Jumlah kasus infeksi flu burung pada manusia bila dibandingkan dengan jumlah burung ataupun ayam ternak yang terinfeksi sangatlah kecil. Dengan kondisi seperti ini sangat mungkin terjadi penularan dari unggas sakit ke manusia. seperti dikebun atau halaman rumah. Aktivitas yang termasuk dalam paparan resiko adalah bagian dari kegatan pemotongan ayam. dan penyajian makanan yang mengandung ayam/telur. Virus H5N1 tdak mudah menyebar dari unggas ke manusia ataupun dari manusia ke manusia. bahkan terkadang menyatu dengan rumah.Penularan virus flu burung dari unggas ke manusia bersinggungan langsung dengan unggas yang terinfeksi flu burung . . karena di dalam kotoran unggas yang sakit terkandung banyak sekali virus H5N1. Di daerahdaerah semacam ini. Infeksi pada manusia berkaitan dengan peluang paparan.

seperti ibu ke anak yang tidak melakukan tindakan pencegahan yang semestinya.mamalia yang hidup di laut.Para ilmuwan sadar bahwa suatu saat virus H5N1 dapat menyebar dengan mudahnya dari orang ke orang. seperti tinggal dalam satu keluarga/rumah melalui kontak yang sangat dekat. pandemi flu burung dapat terjadi. model penularan ini dapat terjadi oleh karena ketahanan virus H5N1 di alam atau lingkungan.tidak ada yang dapat memperkirakan kapan pandemi akan muncul.  Berkenaan dengan penularan flu burung. Menurut penelitian yang telah dilakukan. Penularan Antarmanusia Sampai saat ini. familia felidae (singa.kkuda. dan Organisai Kesehatan Dunia (WHO) mengamati perkembangan H5N1 dengan cermat danmelakukan berbagai persiapan untuk menghadapi segala kemungkinan yang bisa terjadi. biasanya kotoran ayam yang digunakan sebagai pupuk.  Penularan dari Lingkungan ke Manusia Secara teoritis. penularan flu burung (H5N1) dari manusia ke manusia belum terjadi.untuk itu para ahli dari seluruh dunia. kita harus mewaspadai hal .harimau. Model penularan ini sangat mungkin terjadi meskipun tidak efisien. karena semua virus influenza mempunyai kemampuan untuk berubah-ubah secara genetis. Penularan terjadi karena air yang terkontaminasi masuk kedalam mulut selama berenang (didanau atau sungai) atau melalui penularan langsung ke mata atau lubang hidung akibat terpapar air yang terkontaminasi oleh kotoran unggas yang terinfeksi virus H5N1.  Penularan ke Mamalia lain Virus flu burung (H5N1) dapat menyebar secara langsung pada beberapa mamalia yang berbeda. Penularan yang terjadi dalam lingkungan satu kelas atau satu kantor juga disebut cluster. pemerintah dari lima benua. menjadi salah satu faktor resiko penyebaran flu burung.kucing) serta musang. babi tidak berperan penting pada wabah flu burung yang disebabkan oleh virus H5N1 di Asia. yaitu babi. Kotoran unggas. Apabila terjadi penyebaran antarmanusia.Penularan virus influenza A (H5N1) antarmanusia ditandai dengan terinfeksinya orang0orang dalam satu kelompok.

meskipun sudah masak.  Ketiga. baik hewan maupun manusia. serta pelikan termasuk burung burung migrant dan burung peliharaan seperti jalak . lakukan biosekuriti ketat dan diusahakan selalu menjaga kebersihan kandang dengan melakukan desinfeksi secara teratur pada semua peratatan kandang.  Kelima. nuri. Mungkin sebagian dari kita sering bertanya Tanya mengapa jika dalam suatu peternakan terdapat kasus flu burung .merpati.alasan karena mutasi dan “perkawinan “virus flu burung mungkin terjadi dan akan menyebabkan virus menular dari manusia kemanusia. virus influenza mungkin dapat ditularkan antara speises satu dengan yang lain atau hewan dan manusia dan sebaliknya. perkutut. kakaktua . dan diperkirakan virus influenza pada babi dapat ditularkan secara kontak langsung dengan manusia atau babi. maka unggas yang lain termasuk yang sehat dalam radius 1 km harus mengalami pemusnahan dengan dibunuh . dan ikan yang dipelihara pada lokasi yang sama dapat menimbulkan strain baru virus influenza. Mereka mengira flu burung dapat ditularkan dengan mengkonsumsi unggas. hal ini yang sering tidak diketahui oleh masyarakat.tetapi dapat menularkannya pada hewan lain mau pun manusia. unggas liar seperti itik . Pertama. angsa . dan sekitarnya. dibakar .lebih baik dibunuh . babi .  Kedua. bertenak dengan mencampur berbagai hewan tidak dianjurkan sebab dilaporkan virus yang khusus ditemukan pada unggas dapat berasal dari letupan penyakit pada mammalia.dan dikubur . Pemusnahan dan pembakaran unggas . mereka kadang kadang tidak menunjukan gejala klinis bila terserang penyakit ini . unggas yang sembuh dari penyakit flu burung bertindak sebagai carier . sehingga masih dapat menular penyakit dalam waktu lama sebab tubuhnya masih mengandung firus flu burung.kontak langsung antara itik . kita harus selalu melakukan prosedur higienis saat melakukan kontak langsung maupun tidak langsung dengan penderita maupun yang diduga flu burung. lalu dibakar dan ditimbun dalam tanah. Oleh karena itu .  Keempat. seperti anjing laut dan ikan paus.kita tidak dapat dianjurkan memlihara unggas yang pernah terserang flu burung . Selanjutnya . Adanya reservoir pada hewan lair merupakan suatu faktor penting dalam penularan virus flu burung . Artinya . sehingga menimbulkan ketakutan masyarakat untuk mengkonsumsi daging unggas.

jika dalam suatu peternakan ada unggas yang terserang flu burung . Mengeluarkan unggas dari lokasi peternakan akan menimbulkan resiko yang sangat tinggi karena akan menimbulkan penyebaran lewat udara saat pemindahannya dan akan meluas sepanjang alur yang dilewati.mengkonsumsi unggas mau pun telur yang sudah benar benar masak tidak berbahaya. tetapi yang berbahaya adalah ketika menangani unggas yang masih hidup maupun unggas mati yang sudah terserang flu burung . kita sudah meminimalisasi tertular flu burung. memakan daging dan telur unggas yang sudah masak tidak akan menularkan flu burung. sedangkan untuk telur unggas minimal dimasak pada suhu 64 derajat celcius selama 5 menit. Kita tidak perlu khawatir mengkonsumsinya dengan syarat daging unggas hendaknya dimasak minimal pada suhu 80 derajat celcius selama 1 menit. dengan memasaknya.bukan karena unggas tertular berbahaya untuk dikonsumsi . baik melalui kontak langsung maupun lewat udara yang sudah tercemar virus. Pemasakan dengan cara yang benar bertujuan mengantisipasi seandainya ada unggas yang menderita flu burung lolos dipasarkan. Dengan demikian untuk memutuskan rantai penyebaran virus . meskipun belum menunjukan gejala klinis . karena virus flu burung dapat menyebar lewat udara. Sebenarnya . Sekali lagi. maka kita melakukan pemusnahan dan pembakaran . Oleh karena itu. .unggas unggas yang dikeluarkan dari peternakan umumnya adalah unggas sehat. tetapi belum menunjukan gejala klinis . sehingga penularan akan berlangsung bergitu cepat karena kotoran (feses) dan secret unggas kandang menimbulkan penularan yang sangat cepat . tetapi untuk memutuskan rantai penyebaran virus influenza H5N1 yang sangat berbahaya. maka pemusnahan unggas pun dilaksanakan dalam radius 1 km dari daerah yang terjangkit flu burung karena diasumsikan unggas dalam radius 1 km dari daerah terjangkit flu burung pun sudah tertular flu burung. unggas makan dan minum pada tempat serta dalam kandang yang sama. maka diasumsikan bahwa semua unggas yang ada dalam peternakan sudah terserang flu burung . Pemerintah sudah melakukan program pemeriksaan flu burung dan pemusnahan unggas yang terserang flu burung dengan kompensasi yang sudah disediakan untuk peternak agar dapat meminimalisasi lolosnya unggas yang terserang flu burung kepasaran.

4. Pekerja peternakan unggas seperti anak kandang. mantra hewan . 10. sejumlah subtype virus influenza A dapat menimbulkan penyakit parah pada spesies ungas tertentu . Pekerja kebun binatang yang langsung menangani binatang terutama unggas 5. Semua orang yang pernah melakukan kontak langsung dengan unggas 5. tetapi pada spesies ungas lain tidak menimbulkan penyakit . Orang yang tinggal didekat peternak atau komplek pemukiman padat unggas dengan system peternakan atau pemeliharaan yang tidak benar. Gejala Klinis Tingkat kesehatan (morbiditas) dan tingkat kematian (mortilitas) yang ditimbulkan oleh virus flu burung sangat bervariasi tergantung galur virus yang menyerang . Orang yang berisiko tinggi terkena virus flu burung adalah : 1. dokter hewan . maupun petugas kesehatan hewan lain yang sering melakukan kontak dengan unggas 3. Pekerja rumah potong unggas (RPU)terutama yang berhubungan langsung dengan unggas yang dipotong. Orang yang bekerja di laboratorium untuk memeriksa specimen (sampel ) hewan yang diduga menderita penyakit flu burung atau melakukan penelitian tentang flu burung. lingkungan (kadar anomiak dan ventilasi). Tukang masak yang bertugas mengolah unggas yang masih mentah 8. Penjual unggas dan orang yang berkeja dipasar burung 7. spesies ungags yang terserang umur. 2. terutama jika dalam situasi wabah flu burung. dan darah untuk dijadikan pupuk. bulu. dan adanya infeksi skunder. maupun pegawai perkebunan pupuk dari produk sisa peternak unggas 9. Orang yang bekerja menangani produk yang dikeluarkan dari peternak seperti orang yang mengolah kotoran unggas. Pemilik unggas dan keluarga atau pegawainya yang bertugas mengurus unggas atau siapa pun yang tersering melakukan kontak langsung dengan unggas 6.

Pada burung liar misalnya itik. hewan tersebut sebagai reservoir yang dapat menularkan virus pada hewan lain atau manusia. ketika pemerintah melakukan program pemberantasan flu burung dengan pemunahan. HPAI) ditandai oleh proses penyaklit yang cepat dan disertai tingkat kematian tinggi.atau hanya menimbulkan gejala yang sangat ringan. masyarakat yang memiliki unggas masih dalam keadaan sehat merasa keberatan dan tidak menyadari bahwa ada di sekitarnya dan melarang unggas miliknya dimusnahkan. Virus flu burung yang ganas ( Highly pathogenic Avian Influenza. Selain H5 dan H7 dan Mayoritas Hanya sebagian kecil Virus H5 dan Virus LP H5 atau H7 Pasa H7. dan burung camar demikian pula berbagai burung peliharaan seperti jalak. virus flu burung umumnya tidak menyebabkan sakit . Merupakan penyakit sistemik pada saluran berbagai jenis unggas dan beberapa pada mamalia pernafasan unggas ternak maupun unggas liar. Tabel Perbedaan bentuk virus flu burung LPAI HPAI Menyebabkan berkembang pencernaan dan infeksi biak dalam subklinis. Dengan demikian. seperti ayam dan kalkun. namun. nuri. kemudian morbiditas dan . Hal inilah yang mengakibatkan pemberantasan flu burung menjadi makin sulit karena masyarakat yang memelihara sejumlah ungags tidak menyadari bahwa unggas mereka terserang flu burung. kejadian penyakit kemungkinan berlangsung sangat cepat dan unggas maatii mendadak tanpa didahului gejala tertentu. virus influenza A subtype H5N1 lebih sering menyerang ayam muda dari pada yang lebih tua. H5 dan H7 adalah HPAI. parkit yang sebenarnya dulupun merupakan burung liar. mulai gangguan pernafasan ringan yang bersifat tidak pathogen sampai penyakit berrsifat fatal yang tidak pathogen. angsa. virus HPAI muncul dari virus LPAI H% atau H7 dengan struktur protein H yang mengalami mutasi Virus flu burung dapat menimbulkan gejala yang bervariasi pada unggas ternak.

• • • Mengalami gangguan pernafasan seperti batuk.bersin. sehingga produksi telur terhenti sama sekali. • • Diare Gangguan syaraf yang ditandai unggas kadang membentur-benturkan kepalanya serta gangguan keseimbangan seperti berdiri dan berjalan sempoyongan. Peradangan pada sinus atau lubang hidung Pembengkakan di daerah kepala dan muka Kerontokan bulu Perdarahan dibawah kulit diikuti kebiruan pada kulit. kepala ddan pial. LPAI) seperti H4N2 menimbulkan gejala lebih ringan.mortalitas mencapai 100%. Penyakit flu burung karena virus flu burung yang termasuk Low pathogenic Avian Influenza (bentuk ringan. • • • • • Lakrimasi atau mengeluarkan leleran dari mata secara berlebihan. produksi telur menurun secara drastic disertai penurunan daya tetas telur. • Tingkat kematian tinggi sering terjdi kematian mendadak. dan ngorok. kurang ganas. antara lain :    Penurunan produksi telur sampai terhenti sama sekali Gangguan pernafasan Penurunan nafsu makan . Gejala yang dapat terjadi pada unggas yang terserang Avian Fluenza jenis akut adalah : • Terjadi gangguan produksi telur seperti penurunan produuksi telur secara drastic. Pada ayam bibit. terutama di daerah kaki. Jengger kebiruan Kaki berwarna kemerah-merahan sepert ‘dikerokin’ dan jiika dibuka terdapat perdarahan.

kadang-kadang disertai mencret dan muntah. seseorang yang menunjukan gejala ISPA hendaknya meningkatkan kewaspadaan apabila sebelumnya telah mengalami kontak dengan unggas terutama burung peliharaan seperti nuri. Infeksi sekunder oleh bakteri dilaporkan mempunyai peranan yang penting pada kejadian flu burung.   Defresi Peradangan sinus Tingkat kematian rendah. pegal linu. kakaktua. Namun. namun cenderung meningkat.. merpati. Keadaan diatas bisa lanjut menjadi gejala sesak nafas yang terjadi pada seseorang yang terserang flu manusia biasa. nyeri otot. Namun demikian . Dugaan penyakit flu burung dapat mengarah pada yang bersangkutan apabila dalam seminggu terakhir mengunjungi peternakan yang sedang terjangkit flu burung . pusing. Oleh karena itu hewan-hewan di atas sangat tampak sehat. kontak dengan unggas yang dicurigai menderita flu burung. flu burung bentuk ringan jika diikuti infeksi skunder oleh bakteri atau ayam dalam keadaan stress akibat lingkungan. walaupun tubuhnya mengandung Virus influenza H5N1 yang siap tertular pada manusia maupun hewan lainnya. yakni: 1. angsa dan pelikan karena seringkali virus flu burung bersifat tidak pathogen pada hewan-hewan tersebut.maupun bekerja pada laboraturium yang sedang memproses specimen manusia atau hewan yang dicurigai menderita flu burung. Kasus Observasi Mengalami demam 38ºC atau lebih disertai salah satu keadaan berikut: . hal ini karena bakteri menghasilkan enzim yang mampu memotong hemaglutinin (H) dri virus influenza sehinga virus dapat melakukan perbanyakan dan penyebar secara luas di dalam tubuh hewan atau manusia yang terserang. perkutut. antara lain seseorang akan mengalami infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dengan gejala badan lemas . Gejala flu burung pada manusia mirip dengan influenza yang bisa terjadi pada manusia. maupun burung-burung liar seperti itik. peradangan selaput mata(mata merah) . maka gejala klinis yang di timbulkan dapat lebih parah. khusus flu burung pada manusia terbagi menjadi empat macam kasus.

Kasus Suspek atau Possible Mengalami infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) seperti demam lebih dari 38ºC. • Kontak dengan penderita influenza subtype A (H5N1) • Merupakan petugas laboraturium yang menderita flu burung atau orang atau hewan yang diduga menderita flu burung A (H5N1).serta dengan salah satu keadaan: • Seminggu terakhir mengunjungi peternakan yang terjangkit wabah flu burung. Kasus Probable Kasus suspek disertai salah satu kejadian berikut : • Dalam waktu singkat. pilek. batuk. • Tidak ada bukti penyebab lain 4. . Kasus Confrim Merupakan kasus suspek atau probable dan diduga oleh salah satu hasil pemeriksaan laboraturium: • • • Kultur virus influenza subtype A (H5N1) positif PCR influenza (H5) positif Terjadi peningkatan titer antibody H5 sebesar empat kali.• Batuk • Radang Tenggorokan • Sesak Nafas Dengan pemeriksaan klinis dan laboraturium masih berlangsung. 3.sakit tenggorokan. terjadi pneuomia gagal pernafasan atau meninggal • Tes laboraturium mengarah ke virus influenza subtype A (H5N1) positif (H1 tes atau IFA menggunakan antibody monoclonal). 2.

Kita bisa melakukan Uji dengan PCR atau isolasi virus . Pada pemeriksaan laboraturium sampel. jantung dan usus. Uji dilaksanakan saat ini umumnya adalah: . hati. pembengkakan muka di bawah paruh. kita membutuhkan darah (serum). Diagnosis dengan melihat patologi anatomis yaitu dengan pemeriksaan bangkai untuk melihat perubahan jaringan setelah kematian. lesi yang dapat terjadi antara lain perdarahan pada kaki (cakar). bilas tenggorokan. Pemeriksaan Diagnostik Diagnosis Flu Burung  Teknis Diagnosis Diagnosis terhadap flu burung dapat dilakukan dengan melihat gejala klinis yang terjadi. sehingga perubahan yang terjadi seringkali desebabkan kombinasi lesi karena bakteri dank arena virus. peradangan dapat pula terjadi pada trachea. baik secara mikroskopis maupun makrokopis. unggas yang mati dalam waktu singkat tidak meninggalkan perunahan pada jaringan karena lesi pada jaringan lesi jaringan belum sempat terbentuk. tetapi umumnya perdarahan pada kaki disertai kebiruan pada jengger cukup spesifik untuk flu burung atau tidak.6. terutama yang disebabkan oleh bakteri. apus tenggorokan. kombinasi lesi dengan bakteri inilah yang sering menimbulkan kesalahan diagnosis. maupun kotoran (feses). sehingga harus dikomfirmasikan dengan pemeriksaan laboraturium untuk memastikan penyebabnya. dan melakukan pemeriksaan laboraturium. Akibatnya adalah flu burung sering keliru dengan penyakit lain. flu burung sering diikutiinfeksi skunder ( sampingan) oleh bakteri. proventikulus (lambung depan). umur unggas dan kondisi peternakan. Namun umumnya pemeriksaan secara patologi anatomis hanya dilakukan pada hewan bukan pada manusia. Jika bangkai ayam yang terserang flu burung dilakukan nekrobsi (bedah bangkai) untuk pemeriksaan patologi anatomis. melihat perubahan patologi anatomi. dan adanya cairan kekuning-kuningan yang jernih pada pada jaringan bawah kulit. maka akan menimbulkan penyakit.

meskipun membutuuhkan waktu yang lebih lama. Tes ini sering diragukan kebenarannya karena hasilnya sering bertentangan dengan PCR. sejumlah unggas yang dinyatakan positif flu burung dengan rapid test ternyata tidak mengandung virus H5N1 penyebeb flu burung ketika dicek dengan alat pengetes yang lebih sensitive flu burung dengan rapid test memerlukan virus dalam jumlah banyak untuk menunjukan hasil positif dan tidak bisa membedakan terserang flu burung karena H5N1 atau subtype lain. 2. uji yang lebih sensitive adalah HI test dan PCR. uji ini tidak dapat menunjukan tingkat pathogenesis( kemampuan menyebabkan sakit) virus. meskipun membutuhkan waktu lebih lama( sekitar 3 hari ). Rapid Test Alat ini terbentuk kontak plastic kecil yang ddi dalamnya terdapat kertas putih dengan kode C (control) dan T(test) yang sudah ditetesi antibody virus flu burung yang berperan mendeteksi antigen virus. Dari hasil penelitian. AGP ( Agar Gel presiptation ) Alat ini untuk melihat antibody terhadap neuraminidase (N) . 3. tetapi rapid test paling sering digunakan di Indonesia. HI (Hemaglutinasi Inhibisi) Alat ini untuk melihat antibody terhadap hemaglutinin (H). uji in I lebih sensitive daripada test dan cukup murah. sehingga akan memunculkan dua garis vertical pada area C dan T . jika unggas terkena flu burung. yaitu uji yang dinilai sangat akurat untuk mendeteksi adanya virus flu burung.1. meskipun masih diragukan kualitasnya. antigen virus pada unggas terikat dengan antibody yang ada dalam kertas. kemudian. kelebihan metode adalah kecepatan karena kita langsung dapat mengetahui hasilnya.

trombosit. manusia pasien flu burung melakukan pula foto toraks./IF.Pada manusia. lanju endap darah. ELISA dan pemeriksaan antigen (HI. pada awalnya pemerintah pun mengira penyakitini adalah VVND (tetelo). SGOT. tetapi mungkin karena membutuhkan biaya mahal.4. globulin. uji ini sebenarnya sensitive dan akurasinya tinggi. hitung jenis leukosit. table berikut menunjukan perbedaan keduanya : Perbedaan antara VVND dengan Flu burung Tanda –tanda Penyakit VVND Flu Burung . VN (Virus Netralisasi) Alat ini untuk mengetahui pembentukan antibody 5. ada pula pemeriksaan laboratoris meliputi: • Pemeriksaan darah lengkap meliputi pemeriksaan Hb. metode masih jarang digunakan pada hewan. serta analisa gas darah. hitung total leukosit. • Pasien pemeriksaan mikrobiologi meliputi Rapid test. PCR (Polimerase Chain Reaction) Alat ini untuk memastikan adanya virus infkluenza A subtype H5N1. selai pemeriksaan laboratoris di atas. albumin. yaitu pemotretan pada daerah dada. Lebih lanjut. ureum kreatinin. SGPT. Isolasi Virus 6.FA).  Diagnosis Banding Flu burung sering dikeluarkan dengan infeksi saluran pernafasan yang lain terutama dengan VVND atau tetelo sehubungan dengan tingkat kematian mendadak. krear=tinin kinase. sehingga masih jarang dipergunakan. adanya tortikulis serta perdarahan pada organ dalam.

+ + Tingginya morbiditas + + Tingginya Mortalitas + + Perdarahan Organ Dalam + + Tortikolis + Kebiruan Pada Jengger + Perdarahan Pada Kaki Dengan melihat gejala klinis dan perubahan paskamati. Uji netralisasi : didapatkan kenaikan titer antibody spesifik influenza A/H5N1 sebanyak 4 kali dalam paired serum dengan uji netralisasi. Uji Real Time Nested PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk H5. untuk lebih memastikannya. .  Uji Konfirmasi:    Kultur dan informasi virus H5N1. untuk mencegah penyebaran flu burung. lalu setelah dibuka terdapat perdarahan. 7. hanya langkah pencegahan yang terbaik untuk penyebaran flu burung. perbedaan antara tetelo dan flu burung adalah pada unggas yang menderita flu burung terdapat kebiruan pada jengger dan disertai warna kaki yang terjadi merah-merah seperti habis “dikeroki”. unggas atau hewan yang terserang flu burung tidak diobati. pada hewan. ketiga gejala merupakan perbedaan yang menciri antara flu burung dan tetelo. Pengobatan dan Perawatan Perlu ditekankan bahwa belum ada obat yang efektiff untuk penyakit flu burung. lalu dikubur. . baik pada hewan lain maupun manusia. Uji Serologi: Imunofluorescence (IFA) test: ditemukan antigen positif dengan menggunakan antobodi monoklonal Influenza A H5N1. tetapi harus dibunuh dan bangkainya dibakar. kita perlu melakukan isolasi virus maupun uji dengan PCR.

Pasien dirawat dalam ruang isolasi selama kurang lebih 7 hari untuk menghindari penularan lewat udara. Amantadin dan rimantadin sebagai penghambat hemaglutinin pada awal infeksi (48 jam pertama) selama 3 sampai 5 hari 5 mg/kg BB perhari dibagi 2 dosis. 25% sembuh. obat antiviral (amantadine.Penelitian terhadap obat yang diberikan pada penderita flu burung masih terus dilakukan. oseltamivir (Tamiflu). rimantadin. berat badan lebih dari 15-23 kg sebanyak 45 mg 2 kali sehari. Pengobatan terhadap gejala flu seperti pemberian penurunan panas dan penghilang pusing. namun ternyata Tamiflu tidak efektif untuk mengobati flu burung karena hanya berfungsi mencegah perbanyaknya virus tetapi tidak dapat mematikannya kemudian. saat ini pasien yang terserang flu burung di Indonesia umumnya mendapatkan obat antiviral Tamiflu. selain diberikan Tamiflu. Meskipun sampai saat ini belum ada bukti kuat bahwa flu burung dapat menular dari manusia ke manusia. berat badan lebih dari . 6. 5. dan zanamivir) sering digunakan pada pasien flu burung tetapi sejumlah virus flu burung yang terbukto terserang subtype H5N1 di asia tahun 2004 dan 2005 dinyatakan resistensi terhadap amantadine. penelitian yang dipublikasikan dijurnal kedokteran New England “ journal of Medicine “ menunjukan pasien yang diobati Tamiflu. Jika penderita mengalami penurunan fungsi hati dan ginjal. tetapi kita tetap harus mewaspadai penyebaran virus dan kemungkinan virus melakukan mutasi maupun “perkawinan” dengan virus flu burung subtype lain dan dapat menular antarmanusia. Pemberian oksigen jika terdapat sesak nafas yang mengarah kepada gagal nafas. obat hanya berfungsi jika flu burung baru terjadi selama 48 jam saat virus flu burung mengalami perbanyakan. 3. tindakan yang dilakukan pada pasien yang menderita flu burung antara lain : 1. dekongestan. 2. dengan demikian system kekebalan alamai dapat berfungsi maksimal agar mampu bertahan menghadapi penyakit flu burung. maka dosis harus diturunkan. Pemberian oseltamivir pada 48 jam pertama selama 5 hari untuk anak kurang dari 15 kg sebanyak 30 mg 2 kali sehari. 4. Pemberian infus dan minum yang banyak. berat badan lebih dari 23-40 kg 60 mg 2 kali sehari. pasien yang diduga menderita flu burung mendapatkan perawatan suportif untuk menangani kondisi tubuh agar tetap baik. dan antitusif.

 Biosekuriti Biosekuriti adalah cara menangani ternak secara higienis. dan alas kandang. yaitu ditutup dengan plastic atau bahan lain yang tidak tembus air seperti kayu atau bahan lain yang tidak mudah tercemar dan tidak boleh disemayamkan lebih dari 4 hari. Satu minggu setelah pulang. Para pekerja dan semua orang yang ada di lokasi peternakan harus dalam keadaan kondisi sehat. terdapat perbaikan foto toraks. tidak batuk. Pasien penderita flu burung dapat pulang setelah tidak mengalami demam. sedangkan untuk penderita lebih dari 13 tahun 75 mg 2 kali sehari. Pencegahan Pencegahan flu burung pada manusia disampaikan dalam tip aman di kala wabah menyerang pada bab terakhir. pada hewan pencegahan dapat dilakukan dengan 3 jalan.40 kg 75 mg 2 kali sehari. pasien harus melakukan control ke rumah sakit yang ditunjuk. Tindakan meliputi : Melakukan pengawasan lalu lintas dan tindakan karentina atau isolasi lokasi peternakan tertular dan lokasi penampungan unggas yang tertular serta membatasi secara ketat lalu lintas kontaminan yang meliputi hewan atau unggas. produk unggas. Sebaliknya. 8. pemberian vaksinasi. Cara meliputi semua tindakan yang merupakan pertahanan pertama untuk mengendalikan wabah dengan mencegah semua kemungkinan kontak atau penularan dengan peternakan yang tertular dan penyebaran penyakit. Membatasi lalu lintas orang atau pekerja dan kendaraan yang keluar masuk lokasi peternakan. dan pemeriksaan laboratorium yang sebelumnya tidak normal menjadi normal. Penanganan jenazah penderita flu burung harus secara khusus pula. yakni dengan peningkatan biosekuriti. . dan depopulasi serta stamping out.

asam parasetat. tanpa terkecuali yang keluar masuk lokasi peternakan. Vaksin terbaru akan diluncurkan mulai April 2006. Banyak peternak takut melakukan vaksinasi pada unggasnya dengan alasan takut unggasnya mati. Tujuannya adalah merangsang tubuh membentuk antibody untuk melawan virus flu burung apabila suatu saat menyerang. dan bahan lain yang tercemar termasuk bangunan kandang yang bersentuhan dengan unggas. tikus. Desinfektan yang dapat dipergunakan misalnya formalin 2. . alas kaki. lalat. harus didesinfeksi. kendaraan. hidroksiperoksida.- Untuk keamanan petugas maupun unggas. Dekontiminasi atau desinfeksi adalah tindakan untuk mensucihamakan secara tepat dan cermat terhadap pakan. dan hewan lainnya.  Vaksinasi Vaksinasi merupakan program pengebalan dengan memasukkan virus flu burung yang sudah dilemahkan atau dimatikan. masker. masker. kacamata. kandang. Hal itu kurang benar karena vaksin yang beredar saat ini (2006) adalah vaksin inaktif yang berasal dari virus flu burung yang sudah dimatikan dan tingkat keamanannya lebih baik.5%. air minum. semua peralatan. sepatu pelindung. - Mencegah kontak antara unggas denagn burung liar atau burung air. pelindung (penutup) rambut. dan harus melakukan tindakan desinfeksi serta sanitasi. para pekerja dan semua orang yang ada di lokasi peternakan atau penampungan unggas tertular harus menggunakan pakaian pelindung. iodine. fenol. atau natrium hipoklorit. Lokasi jalan menuju area peternakan tertular atau area sekitar kandang atau tempat penampungan unggas dan semua kendaraan. Dalam melakukan dekontaminasi atau desinfeksi. sarung tangan. sepatu pelindung. permukaan jalan menuju peternakan. pakaian pekerja kandang. Para pekerja peternakan dan semua orang yang mengunjungi lokasi peternakan tertular harus menggunakan pakaian pelindung. maka bahan-bahan terkontaminasi atau tercemar harus dimusnahkan dan dikubur di lokasi peternakan. semua peralatan atau bahanbahan seperti di atas yang bersentuhan dengan unggas meliputi limbah padat maupun limbah cair. Apabila pelaksanaannya tidak dapat berjalan secara efektif. maupun tempat penampungan unggas. Mereka dapat memasuki ke area peternakan setelah melalui tindakan desinfeksi dan sanitasi.

Vaksin dibuat dari virus H5N1 lokal dengan metode reverse genetic. baik pemerintah maupun swasta masih terus melakukan berbagai penelitian untuk meningkatkan kualitas vaksin agar semakin aman dan efektif. sehingga sebagai jalan tengah beberapa Negara berkembang yang terjangkit flu burung melakukan kombinasi antara depopulasi. maka akan terlambat dan mungkin menimbulkan bahaya pada ayam atau unggas sakit yang divaksin flu burung. Kesulitan dilakukannya vaksinasi untuk unggas adalah . stamping out. metode memang lebih menjanjikan karena virus yang digunakan telah dimatikan. Di Negara maju. tetapi jika sudah terlanjur sakit sebaiknya jangan divaksin karena keamanannya tidak bisa dijamin.yaitu merupakan vaksin rekombinan inaktif produksi perusahaan farmasi yang didirikan Institut Pertanian Bogor dan perusahaan Jepang Shigeta. terutama dana karena depopulasi serta stamping out secara penuh memerlukan dana yang cukup besar. tindakan depopulasi dan stamping out secara penuh masih menemui kendala yang besar. Pemilik sebaiknya melakukan program vaksinasi secara rutin dan tidak usah menunggu ada ayam yang sakit baru divaksin karena antibody untuk melawan flu burung tidak langsung timbul seketika. Pemerintah pun sedang mengusahakan supaya program vaksinasi flu burung bisa berjalan seperti Pekan Imunisasi Nasional (PIN) agar bisa didapatkan secara gratis dan menjangkau semua unggas secara nasional untuk menciptakan kesehatan masyarakat yang lebih baik. Pada umumnya. program vaksinasi flu burung memang sudah tidak dilakukan karena jika ada unggas yang menderita flu burung. sehingga lebih aman bagi unggas maupun vaksinator. maka mereka segera melakukan depopulasi maupun stamping out dan berlanjut dengan sanitasi lingkungan sebelum peternakan baru dimulai serta selalu melakukan biosekuriti secara ketat dalam beternak. kita sudah bisa mendapatkan vaksinasi lu burung secara gratis di sebagian besar wilayah Indonesia yang pernah terjangkit penyakit flu burung dan semoga akan semakin meluas agar dapat menjangkau semua unggas di Indonesia. dan vaksinasi. Sampai saat ini. unggas akan membentuk antibody 2 minggu setelah divaksin. Di Negara-negara berkembang yang terjangkit wabah flu burung. Dari segi keamanan. Jadi. Saat ini pun. kalau menunggu ada ayam yang sakit. desinfeksi. Vaksin flu burung memang cukup aman untuk hewan sehat.

maka vaksinasi semakin tidak merata. pemerintah perlu melakukan sosialisasi yang lebih intensif pada masyarakat tentang vaksinasi flu burung. sebaiknya system peternakan di Indonesia harus diubah. telur. di Indonesia orang memelihara unggas sering dilepas. yaitu memusnahkan seluruh unggas yang sakit maupun sehat pada peternakan tertular dan semua unggas yang berada dalam radius 1 km dari peternakan tertular. Sejak . juga menyerang ternak ayam di Indonesia. semua unggas harus dikandangkan. pupuk. alas kandang.  Stamping Out Stamping out merupakan tindakan pemusnahan secara menyeluruh. Untuk menanggulangi kurangnya kesadaran masyarakat melakukan vaksinasi. sebelum memulai vaksinasi.  Depopulasi Pemusnahan selektif (depopulasi) adalah suatu tindakan mengurangi populasi unggas yang menjadi sumber penularan penyakit. sehingga menyulitkan vaksinasi karena ada yang terlewat. dan pakan ternak yang tercemar serta bahan dan peralatan lain yang tercemar. Jadi.pemilik keberatan karena takut unggasnya mati jika divaksinasi dan jumlah unggas sangat banyak. Apalagi kalau pemilik rumah pergi. Kemudian. tetapi tidak dapat didesinfeksi secara efektif. dan jangan ada yang berkeliaran. Disposal adalah prosedur untuk melakukan pembakaran dan penguburan terhadap bangkai unggas. bulu.  Wabah Flu Burung pada Unggas dan Implikasinya di Indonesia Virus flu burung (pada unggas) yang sejak akhir 2003 menyerang di kawasan Asia Timur dan Asia Selatan. sehingga vaksinasi akan mudah dilakukan dan hasilnya lebih baik. kotoran (feses).  Depopulasi dan Stamping Out Tindakan depopulasi dan stamping out merupakan cara mencegah meluasnya penyakit flu burung dengan memutus rantai penyebaran virus flu burung. Tindakan ini dilanjutkan dengan prosedur disposal.

dan Gorontalo. Jawa Barat. Pada umumnya. yang tersebar di sejumlah daerah di Jambi. sampai dengan 6 Februari 2004. jika mengambil kasus pada Januari 2012. Jawa Tengah. jumlah kematian manusia di Indonesia pada awal tahun ini tergolong tinggi dibandingkan dengan negara lain. Pada awal tahun. virus flu burung tidak langsung menyerang manusia. Di Asia Tenggara. menjadi lebih ganas.Oktober 2003 sampai Februari 2004. Kematian akibat flu burung (H5N1) sebanyak tiga orang dan satu orang meninggal akibat flu babi (H1N1). didapat 20 orang terserang flu burung (15 orang di Vietnam dan 5 orang di Thailand). Laporan dari sejumlah daerah. seperti yang terjadi satu abad yang lalu. Di Vietnam dan Kamboja masing-masing hanya satu orang yang meninggal hingga laporan pekan lalu. ada kecenderungan jumlah kasus lebih tinggi dibandingkan dengan bulan-bulan lain. Ia menyebutkan. Secara keseluruhan. sementara pada Januari 2010 terdapat 284 kasus dan pada Januari 2011 sebanyak 174 kasus. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran mengenai apakah penderita flu burung akan meningkat dan menjadi pandemic. Sulawesi Selatan.7 juta ayam mati tetapi virus tersebut sampai saat ini belum secara efektif menyerang manusia. dan mampu menyerang manusia. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro mengatakan. hanya terdapat 39 kasus. Tapi belakangan terbukti beberapa tipe virus dapat menyerang manusia di mana virus tersebut telah terlebih dahulu bermutasi. sekitar Januari-April. DI Yogyakarta. Namun. Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan . Jumlah kasus flu burung pada unggas tahun 2012 yang dilaporkan ke Kementerian Pertanian telah mencapai 50 kasus. menunjukkan bahwa sejumlah kasus flu burung terus terjadi. Jawa Timur. jumlah kasus pada awal tahun ini masih lebih rendah dibandingkan pada tahun lalu dan tahun 2010. di Indonesia telah dilaporkan sebanyak 4. 2005). Enam belas di antaranya meninggal dunia (11 orang di Vietnam dan 5 orang di Thailand) dengan Case Fatality Rate sebesar 80%. Berikut ini disajikan kembali secara kronologis perlangsungan epidemic tersebut (laporan Ditjen P2M/PLP Depkes RI. Indonesia masih berada di peringkat teratas dalam jumlah orang yang meninggal akibat flu burung.

flu ini hanya menyerang burung. : Kantor kesehatan pelabuhan Tanjung Priok. Berikut kilasnya : 1968 : Penularan virus influenza asal unggas ke manusia sudah sejak 1968 1997 : Flu burung pertama kali melewati “halangan spesies” dari unggas ke manusia. penyakit ini merupakan penyakit eksotis (penyakit yang belum pernah ada) di Indonesia. bukan manusia. flu burung sudah terjadi sejak tahun 1960-an. 40. Tipe yang diketahui menjangkit manusia adalah virus influenza tipe A subtype H5NI 1999 : Satu varian dari H5N1 yang disebut H9N2. di Indonesia. penyakit tersebut juga telah mewabah di Belanda. menyusul merebaknya wabah flu burung. memeriksa secara ketat semua jenis unggas dan bahan makanan hasil olahan . jumlah orang meninggal akibat flu burung adalah 152 orang. Pemerintah setempat meminta penjualan dan impor ayam dihentikan. Penyebaran penyakit flu burung jelas melintasi batas Negara(pandemi) tapi walau mewabah di Benua Asia. April 2003 15 April 2003 : Penyakit flu burung mewabah di Belanda.000 ekor ayam dimusnahkan di Hongkong dengan menggunakan karbon dioksida 7 Februari 2002 : Ratusan ribu ekor ayam dan itik dimusnahkan di Hongkong. Sebelumnya. kemudian menyebar ke Vietnam dan Korea. Bisa terlihat sejarahnya. 19 Januari lalu. Pada tahun 2003 selain di Asia. H5N1 mulai menyebar di luar tutorialnya. 20 Mei 2001 : Untuk mencegah penyebaran flu burung. Jakarta. Pertama kalinya di Hongkong dengan 18 orang dirawat di Rumah Sakit dan 6 orang di antaranya meninggal dunia. Sejak saai itu pula. Penyakit yang menjangkiti pekerja atau orang yang hidup di lingkungan peternakan unggas ini merupakan penyakit mematikan. kembali mengguncang Hongkong dengan menginfeksi dua orang.Dunia (WHO).

Kasus flu burung pertama di Korsel ini ditemukan di peternakan itik dekat Eumseong. Instruksi itu dikeluarkan oleh Dirjen PEmberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Depkes RI.000 ekor ayam dan itik akibat menyebarnya virus H5N1. Sepanjang 2003 : Ditemukan dua kasus di Hongkong dan satu diantaranya meninggal dunia. dan Thailand dengan satu identifikasi yaitu mereka menyebar dari Kamboja.daging unggas yang berasal dari Belanda. Virus yang dapat mematikan manusia tersebut muncul diantara ayam-ayam di kandang peternakan sekitar 80 km (50 mil) sebelah tenggara Seoul. Desember 2003 : Virus ini menunjukkan aksinya di Hongkong dan memakan satu korban jiwa. Sekitar 4. Hongkong dan Taiwan. Ditemukan 83 kasus pada pekerja peternakan di Belanda. 24 Desember 2003 : Pemerintah Korsel memusnahkansekitar 60. Januari 2004 : Penyakit flu burung mnenyebar sampai Jepang. 22 Desember 2003 : Virus flu burung menyerang unggas di Korea Selatan (Korsel). . Virus yang ditemukan adalah avian influenza tipe A subtype H5N1. Vietnam. termasuk keluarganya dan satu diantaranya meninggal. Kedua kasus itu mempuyai riwayat perjalanan dari Cina. November 2003 : Tujuh juta ekor ayam dimusnahkan di Thailand. Korsel. Korsel yang sedang berusaha mengatasi penyakit flu burung (bird flu) dengan tingkat penyebaran yang tinggi. Di Hongkong ditemukan seorang anak terinfeksi virus avian influenza tipe A subtipe H9N2 tetapi tanpa kematian. Virus yang ditemukan adalah avian influenza tipe A subtipe H7N7. Peraturan itu diberlakukan hingga Negeri Kincir Angin itu bebas dari penyakit flu burung.7 juta ayam di Indonesia mati. 40% diantaranya terkena virus flu burung dan virus New Castle. menyutujui langkah-langkah untuk menahan perkembangan penyakit tersebut dan membatasi dampakny apada industry peternakan.

Sementara itu. Badan Penyakit Hewan Sedunia (OIE) mengirim tim peneliti ke Asia untuk menyelidiki penyakit flu burung yang telah menghancurkan industri peternakan ayam di sejumlah negara Asia. 6. OIE mengatakan. Enam ribu ekor ayam di kawasan itu mati akibat virus dan 30. Wabah flu burung menyebar cepat di Vietnam. 16 Januari 2004 : Empat orang tewas di Vietnam dan dikonfirmasikan terkena flu burung. tidak ada bukti flu burung menyebar dari orang ke orang. Cina menyatakan mereka telah bebas dari flu burung. Jalur Pantura-Indonesia. transmisi penyakit ini berasal dari burung ke manusia dan bukan dari manusia ke manusia. WHO menegaskan. wabah flu burung telah menewaskan dua orang anak dan seorang dewasa. Tapi dilaporkan virus itu belum menyebar ke manusia.13 Januari 2004 : Flu burung menewaskan jutaan ayam di Korsel.000 ayam tewas karena virus flu burung dan ribuan ayam akan dibasmi. para pejabat di jepang mengatakan. Para peternak Vietnam pun diperintahkan untuk membunuh semua ayam yang sakit. khususnya kabupaten Indramayu bisa saja masuk daerah yang rawan terhadap berjangkitnya virus berbahaya penyebab flu burung. Para peternak di Thailand mengatakan. Hongkong dan kamboja telah melarang impor ayam dari negara-negara yang telah terkena wabah itu. penelitian dilakukan di Vietnam dimana badan kesehatan dunia atau WHO menyatakan.000 ekor lainnya terpaksa dibinasakan pada hari-hari mendatang. Vietnam. dan Jepang. Hal itu disebabkan wilayah udaranya selama . Tapi sampai sekarang. Ribuan ayam juga mati karena virus flu burung di Korsel. 14 Januari 2004 : Penyebaran flu burung juga sudah mencapai Jepang dan merajalela di kawasan 800 km sebelah barat daya Tokyo. seperti kasus virus SARS. belum dikonfirmasikan apakah peristiwa itu disebabkan flu burung. 15 Januari 2004 : WHO mengatakan. ribuan ayam telah tewas karena sakit. ketik asatu juta ayam tewas. Kebanyakan ahli meyakini. Flu burung yang menyebar di peternakan ayam di Asia telah menewaskan sedikitnya tiga orang di Vietnam.

mengambil kepulauan Rakit sebagai tempat peristirahatan atau transit. 17 Januari 2004 : Dua juta unggas di Vietnam dimusnahkan akibat terjangkit virus flu burung. Di pulau-pulau itu. dan banyak juga yang sampai menetaskan telurnya. 18 Januari 2004 : WHO mengumumkan empat orang tewas akibat virus flu burung.3 juta unggas dari total 245 hewan unggas kebanyakan ayam di seluruh negeri itu. dalam perjalanan migrasinya yang menepuh ribuan kilometer. Berita ini membuat harga saham perusahaan eksportir ayam di bursa Thailand turun sekitar 7%. WHO mengerjakan vaksin baru untuk melindungi penduduk dari flu burung. 20 Januari 2004 : Karena kekhawatiran yang terus meningkat atau kasus ini. 21 Januari 2004 : Tiga orang di Thailand diperiksa untuk mengetahui apakah mereka terkena virus AI. Wabah itu telah menginfeksi sekitar 2. Gosong. yang menewaskan sedikitnya lima orang di Vietnam. kawin.ini jadi jalur lintas migrasi jutaan burung setiap pergantian musim. Sehingga . meski tetap melakukan pemusnahan unggas. Rakit Selatan. Pulau Rakit Utara. Selama berhari-hari Thailand besikeras. 60 mil selatan Hanoi. atau pulau Biawak menjadi tempat persinggahan burung-burung itu. jutaan ekor burung-burung bereproduksi. Delapan belas kota dan provinsi di wilayah selatan dan utara Vietnam telah terjangkit wabah flu burung. Jepang bergerak cepat dengan memberlakukan larangan sementara untuk mengimpor ayam dari Thailand dengan menyebutnya sebagai langkah pencegahan dalam memastikan keamanan makanan. Burung dari Australia atau Eropa. penyakit yang melanda unggas di negara itu bukan disebabkan virus AI. jumlah korban akibat virus itu menjadi enam belas orang salah satunya adalah bocah lima tahun asal Nam Dinh. . Kementerian Kesehatan Thailand membenarkan bahwa di dalam wilayahnya terdapat tiga kasus flu burung. Vietnam.

kedua anak laki-laki itu masing-masing berusia enam dan tujuh tahun. karena kemampuan virus ini dalam membangkitkan hamper keseluruhan respon “bunuh diri” dalam sistem imunitas tubuh manusia. Lima belas negara Uni Eropa dan Jepang. Sejak November 2003. 22 Januari 2004 : Perdana menteri Thailand mengatakan. Korsel. dan Taiwan juga termasuk negara yang melarang impor. pemerintah Thailand sudah mengundang berbagai negara yang terserang wabah flu burung dan dalam waktu dekat berencana menyelenggarakan pertemuan multilateral di Bangkok . 24 Januari 2004 : PBB memperingatkan. Dikabarkan. saat ini di Thailand masih terdapat sedikitnya empat penderita flu burung tercurigai yang dikarantina dan diobati. Juru bicara kantor perdana menteri Thailand mengumumkan. Kedua anak itu sebelumnya pernah mengadakan kontak dengan unggas. Dikatakannya. kedua penderita itu sudah dikarantina lembaga bersangkutan di Thailand. Pejabat Kementerian Kehutanan dan Perikanan Kamboja mengatakan. flu burung lebih berbahaya dari SARS.WHO menyatakan khawatir karena virus tersebut bisa bermutasi menjadi bentuk yang lebih berbahaya saat menyebar. yang dipastikan akan mengurangi pendapatan peternak Thailand. Singapura. Departemen Kesehatan Thailand mengakui sedang menyelidiki apakah tiga orang diantaranya seorang anak berusia tujuh tahun dan seorang peternak ayam menderita flu burung. Di Thailand ditemukan lagi dua kasus baru flu burung yang tercurigai. menahan pengirimam ayam dari Thailand. sebuah perkebunan di luar Phnom Penh telah terjangkit webah flu burung. Komisi Uni Eropa mengumumkan larangan impor unggas dar Thailand beserta produk terkait. ayam dalam jumlah besar mati di Thailand. 23 Januari 2004 : Menteri Kesehatan Thailand menginformasikan bahwa dua anak laki-laki telah didiagnosis terkana virus flu burung H5N1. tapi pemerintah Thailand selalu meyangkal berjangkitnya flu burung di negerinya. di wilayah Thailand kemungkinan besar terdapat penderita flu burung.

pertanian. Sampah penghidupan di alat-alat pengangkutan tersebut harus diproses sampai tidak membahayakan di bawah pengawasan badan pemeriksaan dan karantina keluar masuk wilayah. Pemerintah Vietnam dalam waktu dekat akan mengirim tim ke beberapa daerah guna menyelidiki kemungkinan penularan penyakit flu burung pada manusia. termasuk Amerika dan Uni Eropa. Pertemuan di Bangkok itu dihadiri oleh pakar terkait WHO. atau produk terkait di kapal atau pesawat terbang yang melewati atau singgah di Cina.mengenai cara mengontrol penyebaran epidemic flu burung tersebut. Tiga ribu lima ratus ekor ayam di daerah itu telah disembelih dan dikuburkan. 26 Januari 2004 : Pemerintah Indonesia melakukan tes Hemagglutinasi Inhibisi (H) atau pemeriksaan dengan antiserum pada unggas untuk mengetahui subtipe virus avian influenza (AI) yang telah menyebabkan . Biro Umum Pengawasan. Pemeriksaan Mutu dan Karantina Cina. Jika ditemukan unggas. burung. serta tidak boleh dibuang sembarangan. maka barang-barang tersebut harus disegel. flu burung kembali berjangkit di sebuah peternakan ayam pada kota tersebut. Jepang. Pemerintah Thailand mengundang pejabat-pejabat Vietnam. Jawatan Kesehatan Vietnam mengumumkan. dan pakar dari negara-negara besar pengimpor daging ayam. 25 Januari 2004: Departemen Pertanian membenarkan adanya flu burung yang masuk ke Indonesia. Korsel. dan Kamboja yang menangani urusan kesehatan. seorang anak laki-laki berumur tiga belas tahun meninggal dunia akibat terinfeksi flu burung. dan luar negeri untuk berkonsultasi mengenai cara menghadapi krisis flu burung yang terjadi di beberapa negar aAsia itu. Pihak kesehatan dan karantina Chungcheongnam-do Korsel mengatakan. Organisasi Bahan Pangan dan Pertanian (FAO) PBB. dan Kementerian Pertanian Cina bersama-sama mengeluarkan pemberitahuan darurat dan meminta berbagai daerah meningkatkan pencegahan masuknya wabah flu burung dari Thailand dan Kamboja ke wilayah Cina.

27 Januari 2004 : Para pejabat kesehatan Kamboja melaporkan dua warganya dinyatakan positif terjangkit virus flu burung.kematian 4. Tes dilakukan untuk membuktikan apakah virus AI termasuk tipe yang bisa menular pada manusia atau yang dikenal dengan sebutan flu burung yang kini sedang mewabah di sejumlah negara Asia. . 29 Januari 2004 : Pemerintah Indonesia menetapkan flu burung sebagai bencana darurat nasional dan meminta persetujuan DPR untuk pengucuran dan sebesar Rp 212 miliar untuk penanggulangannya. membuat peternak unggas di Bali mengisolasi diri. Ribuan ayam dipotiong dan dibakar di Pulau Bali. Pemerintah melalui Departemen Pertanian akan mengimpor 40 juta dosis vaksin dari Inggris dan Australia untuk membuktikan bahwa kematian 4. Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (FKH-IPB) ternyata sudah mampu memproduksi vaksin antivirus avian influenza (AI) atau flu burung sejak 2002. Pemerintah juga akan memusnahkan hewan dan unggas lain yang positif terkena virus avian influenza.7 jutya ayam di Indonesia. Penyebab wabah penyakit tersebut adalah virus avian influenza (AI) tipe A dan dinyatakan pula telah membunuh 4. Jepang menghentikan impor unggas dan produk terkait dari Indonesia dikarenakan sudah terjadi epidemi flu burung di Indonesia. tiga orang yang sebelumnya dilaporkan positif terkena virus flu burung. Flu burung juga terdekat di Pakistan.7 juta ekor ayam tersebut dikarenakan terjangkit flu burung atau tidak.7 juta ekor ayam di Indonesia sejak Agustus 2003. Empat orang dinyatakan meninggal dunia akibat wabah flu burung yang melanda Vietnam. dinyatakan bebas dari infeksi virus tersebut. slah satu daerah yang paling parah dilanda wabah flu burung. Wabah penyakit flu burung yang sesungguhnya telah menyerang perunggasan nasional sejak Agustus 2003 lalu dan kini telah resmi diakui oleh pemerintah. Namun. Merebaknya flu burung.

Bali. Walau belum teriodentifikasi adanya serangan virus dari unggas kepada manusia tetapi tetap perlu waspada dengan menyelenggarakan suatu surveilans khusus di daerah yang dilaporkan sedang berjangkit KLB unggas “flu burung” sampai keadaan kembali normal. Kalimantan Selatan. Para peternak terpaksa membeli vaksin tersebut karena khawatir dengan meluasnya wabah flu burung sementara vaksin resmi dari pemerintah sulit diperoleh. dan Kalimantan Barat. Untuk memastikan serangan virus tidak terjadi ke manusia.30 Januari 2004 : Dalam dua pecan terkahir di bulan ini. . beredar vaksin illegal untuk burung atau avian influenza di kalangan peternak ayam di Banyumas. Amerika Serikat (Pedoman Pengambilan dan Pengiriman Spesimen yang Berhubungan dengan Flu Burung oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI). Jawa Tengah. menerima spesimen-spesimen untuk divertifikasi dan dikirimkan ke laboratorium rujukan di Atlanta. Kalimantan Tengah. Untuk mengidentifikasi adanya penularan virus flu burung dari unggas ke manusia. harus didapatkan gambaran epidemologi KLB flu burung dan harus dibuktikan tidak ada penularan virus flu burung dari unggas dan harus dibuktikan tidak ada penularan virus flu burung dari unggas ke manusia di setiap daerah di Indonesia. Daerah di Indonesia yang sedang berjangkit KLB unggas “flu burung” itu adalah seluruh Jawa. badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan bekerja sama dengan US NAMRU-2. terjadi KLB unggas di beberapa daerah di Indonesia yang ditandai dengan banyaknya ternak unggas terserang flu burung dengan resiko kematian. oleh karena itu pemerintah melakukan surveilans epidemologi. Jelas tampak pada Januari 2004. Lampung.

Kegagalan pada satu sisi bisa menimbulkan kegagalan program . pemerintah telah menetapkan strategi untuk melakukan pencegahan. Prinsip pencegahan. sehingga kesembilannya harus dilaksanakan secara bersama-sama tanpa terpisah-pisah untuk mencapai tujuan yang diinginkan. menghilangkan sumber penularan virus. menghentikan produksi virus flu burung oleh unggas tertular. Daerah terancam ialah daerah yang tidak ada kasus. Pencegahan. yaitu tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang. pemerintah melakukan 9 tindakan yang merupakan satu kesatuan satu sama lain. yakni: mencegah kontak antara hewan yang peka dengan virus flu burung. sedangkan tujaun jangka panjangnya adalah melaksanakan pemberantasan flu burung dengan arah pembebasan kembali daerah tertular secara bertahap. Daerah bebas ialah daerah propinsi atau pulau yang tidak pernah tertular atau tidak pernah dilaporkan adanya flu burung atau adanya batasan alam bagi propinsi atau pulau (kepulauan) yang menjamin daerah itu sulit terjadi penularan penyakit flu burung. Kemudian. Kebijakan Pemerintah Dalam Menanggulangi Wabah Flu Burung Melalui keputusan Direktur Jenderal Bina Produksi Peternakan teratnggal 4 Februari 2004. dan meningkatkan kesadaran masyarakat. Sayang sekali. pengendalian. dan dikonfirmasi secara laboratoris (dilakukan penegasan diagnosis dengan pemeriksaan laboratorium). dan pemberantasan penyakit flu burung mempunyai dua tujuan. pengendalian. dan pemberantasan flu burung (Avian Influenza). epidemiologis (melihat kejadian penyakitnya). tetapi berbatasan langsung sedaratan dan tanpa batasan alam dengan daerah tertular. dan pemberantasan flu burung yang dilakukan pemerintah meliputi 5 hal. meningkatkan resistansi hewan (pengebalan terhadap hewan peka) dengan cara vaksinasi. tidak semua orang mengetahuinya. Tujuan jangka panjang program adalah mempertahankan daerah-daerah bebas flu burung dan melaksanakan pengendalian di daerah tertular. daerah tertular ialah daerah yang dijumpai kasus flu burung yang didiagnosis secara klinis. patologi anatomis (pemeriksaan bangkai dengan atau tanpa mikroskop). pengendalian. Dalam melaksanakan prinsip dasar.

pengendalian. Tindakan biosekuriti meliputi: 1. Tindakan dilakukan di peternakan tertular pada semua unggas hidup yang sakit (tertular) mauoun unggas sehat yang sekandang dengan menyembelihnya sesuai prosedur pemotongan unggas yang berlaku. Pengawasan lalu lintas dan tindakan karentina atau isolasi lokasi peternakan tertular dan lokasi penampungan unggas yang tertular. dan hewan lainnya. Tindakan depopulasi dilakukan terhadap semua peternakan yang tertular flu burung dan ditetapkan melalui diagnosis secara klinis dan patologi anatomis oleh dokter hewan. Tindakan dilanjutkan dengan prosedur disposal.iputi hewan atau unggas. dan alas kandang. 2. Para pekerja dan semua yang ada di lokasi peternakan harus dalam keadaan kondisi sehat. Mencegah kontak antara unggas dengan burung liar atau burung air. e. dan harus melakukan tindakan desinfeksi dan sanitasi. Akibat atas kebijakan adalah adanya dana kompensasi bagi peternak. Dekontaminasi atau desinfeksi • Tindakan Pemusnahan Selektif Unggas (Depopulasi) Di Daerah tertular Depopulasi atau pemusnahan selektif merupakan tidakan untuk mengurangi populasi unggas yang menjadi sumber penularan penyakit. a. produk unggas. Berikut adalah kesembilan tindakan: • Pelaksanaan Biosekuriti Secara Ketat Biosekuriti adalah cara menangani ternak secara higienis. tikus. b. Disposal adalah prosedur untuk melakukan . sepatu pelindung. Membatasi lalu lintas orang atau pekerja dan kendaraan yang keluar masuk lokasi peternakan. dan pemberantasan penyakit flu burung. Para pekerja dan semua orang yang ada di lokasi peternakan atau penampungan unggas tertular harus menggunakan pakaian pelindung. masker. c.pencegahan. d. Membatasi secara ketat lalu lintas kontaminan yang me. kacamata.

bulu. telur. Pelaksanaan vaksinasi. umur 4-7 minggu sebanyak 0.2 ml di bawah kulit pada pangkal leher. Tindakan vaksinasi hanya boleh dilakukan di daerah tertular secara masal terhadap seluruh unggas sehat terancam (100%) dengan cara penyuntikan satu per satu dan apabila perlu. • Pengebalan (Vaksinasi) Vaksin yang dipergunakan adalah vaksin inaktif produksi dalam negri atau impor yang strain virusnya homolog dengan subtipe virus isolate lokal (strain H5) dan telah mendapatkan rekomendasi (nomor registrasi) dari pemerintah. Pembakaran hendaknya dilakukan dalam lubang yang telah dipersiapkan untuk penguburan atau menggunakan incinerator untuk mencegah polusi.pembakaran dan penguburan terhadap bangkai unggas.5 ml di bawah kulit pada pangkal leher atau pada otot dada. Unggas yang telah dibakar ditutup dengan tanah secepat mungkin dan ditaburi kapur serta disinfektan. alas kandang. • Program vaksinasi pada unggas lain disesuaikan dengan petunjuk yang tercantum pada etiket masing-masing produksi vaksin. kotoran (feses). Dosis vaksin sebagai berikut: • Ayam petelur: umur 4-7 hari sebanyak 0. serta stumping out diulang 0. dilakukan booster (penyuntikan ulang). Pemberian vaksin yang selama ini dilakukan adalah vaksinator berkeliling dari rumah ke rumah di kampung-kampung dengan dipandu petugas dari desa . • Ayam pedaging: dilaksanakan pada umur 4-7 hari dengan dosis 0. Lubang penguburan sebaiknya mempunyai kedalaman minimal 1.5 ml di bawah kulit pada pangkal leher. maka harus terlebih dahulu mendapat persetujuan dari dinas peternakan setempat.2 ml di bawah kulit pada pangkal leher. pupuk. tetapi tidak dapat didesinfeksi secara efektif.5 ml pada otot dada setiap 3-4 bulan. depopulasi. umur 12 minggu sebanyak 0.5 meter. dan pakan ternak tercemar serta bahan dan peralatan lain yang tercemar. Lokasi pelaksanaan pembakran atau penguburan harus dalam lokasi peternakan daerah tertular dengan jarak minimal 20 meter dari kandang terdekat dan jauh dari penduduk untuk mencegah polusi maupun penyebaran penyakit. Apabila tempat pembakaran dilakukan di luar area peternakan.

Kelemahan lain vaksinasi yang dilakukan selama ini adalah petugas tidak mengenakan pakaian yang diisyaratkan seperti penggunaan masker dan sarung tangan. seperti ayam hias dan ayam aduan. Vaksinasi AI yang selama ini dilakukan memiliki banyak kendala antara lain belum adanya kesadaran masyarakat tentang pentingnya vaksinasi AI. untuk kampung-kampung yang hanya memiliki sedikit ayam petugas vaksinator menunggu di suatu tempat. sehingga kadang-kadang pemilik tidak mengizinkan vaksinasi pada unggas yang bagus. Kendala lain program adalah keterbatasan petugas dan beberapa peternak yang kurang memperhatikan instruksi petugas di desanya. • Pengendalian Lalu Lintas Pengaturan ketat terhadap pengeluaran dan pemasukan unggas hidup. Untuk keadaan yang demikian. lebih lanjut. tetapi pemberian vaksin dalam adjuvan minyak tidak mudah. vaksin ditinggal di tempat peternak dan peternak memberikannya sendiri sore harinya ketika unggasnya terkumpul. produk unggas (karkas dan daging unggas serta olahannya). pada sistem yang kedua di mana petugas menunggu. Jika diberikan. telur (tetas dan konsumsi). Akibatnya tingkat keberhasilan vaksinasi menurun karena tidak ada jaminan bahwa peternak mau menyuntikkan vaksin. maka timbul keraguan apakah cara pemberian dan jumlahnya tepat. Selanjutnya. pemilik cukup melaporkan dan petugas akan datang ke rumahnya. Hal ini menimbulkan resiko yang sangat besar bagi petugas. pemilik unggas darang membawa unggasnya atau jika memiliki banyak unggas. karena malah takut akan mati setelah dilakukan vaksinasi. Kemudian. Buktinya adalah sering ada keluhan pemilik unggas bahwa belum ada vaksinasi gratis di kampungnya. sehingga ketepatan pemberian vaksin diragukan. Meskipun petugas sudah memandu sebelumnya. masyarakat malas datang. sehingga acara vaksinasi kurang mendapat sambutan baik dari masyarakat. sehingga pada waktu kegiatan vaksinasi dilakukan unggas dilepas dan sulit mengumpulkannya.untuk daerah yang memiliki banyak ayam. sedangkan petugas dari kampung sebelumnya telah memberikan pengumuman adanya vaksinasi flu burung (AI). Sebaliknya. tampaknya sosialisasi yang dilakukan sangat kurang. serta limbah peternakan harus memenuhi syarat sebagai berikut: .

Pengangkutan DOC di atas hanya dapat dilakukan untuk satu kali tujuan dan setelah sampai di tempat tujuan. sedangkan dari daerah tertular ke daerah tertular lainnya diizinkan mengeluarkan unggas dewasa yang telah mendapatkan tindakan vaksinasi. sebelum dikeluarkan. telur harus didesinfeksi terlebih dahulu. Dari daerah tertulat ke daerah bebas atau terancam maupun ke daerah tertular lainnya diizinkan mengeluarkan telur konsumsi maupun telur tetas dari peternakan yang bebas atau tidak terjadi kasus flu burung sekurang-kurangnya 30 hari terakhir. Surat menerangkan bahwa DOC berasal dari peternakan pembibitan yang tidak tertular flu burung setidak-tidaknya 30 hari terakhir. Dari daerah tertular ke daerah tertular lain diizinkan mengeluarkan anak unggas umur sehari parent stock dan atau final stock dari peternakan pembibitan yang tidak terjadi kasus flu burung sekurang-kurangnya 30 hari terakhir. Pengiriman harus menyertakan surat keterangan dari dokter hewan pemerintah kota atau kabupaten asal dengan tembusan direktur kesehatan hewan dan kepala dinas peternakan atau dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan propinsi. Unggas dewasa DILARANG dikeluarkan dari daerah tertular ke daerah bebas atau terancam. Kemudian. Kotak atau boks telur harus pula didesinfeksi terlebih dahulu sebelum dikeluarkan. Dari daerah tertular ke daerah bebas atau terancam DILARANG mengeluarkan anak unggas umur sehari (DOC) kecuali anak unggas umur sehari bibit induk (parent stock) dari peternakan pembibitan (breeding farm) yang tidak terjadi kasus flu burung sekurang-kurangnya 30 hari terakhir. depopulasi.1. Kemudian. serta stamping out minimal 21 hari sebelum tanggal pengeluaran. Pengiriman harus menyertakan pula surat keterangan mengenai jenis DOC parent stock atau final stock. boks pembawanya harus segera dimusnahkan. unggas dewasa tersebut harus berasal dari peternakan yang bebas atau tidak terjadi kasus flu burung sekurang-kurangnya 30 hari terakhir. harus segera dimusnahkan. 4. 3. Keranjang (boks) unggas dewasa setelah selesai pengiriman harus segera didesinfeksi di tempat tujuan. . Kotak telur hanya dapat digunakan untuk satu kali tujuan dan setelah sampai di tempat tujuan. 2.

8. penyebaran virus flu burung dapat diminimalisasi. 7. Walaupun demikian. Di sinilah peran serta semua pihak diharapkan. Pengawasan lalu lintas antar-area secara ketat terhadap unggas hidup dan produk unggas dilakukan oleh badan karatina pertanian melalui jajarannya di pintu-pintu pengeluaran dan pemasukan di darat. 6. laut. • Surveillans Dan Penelusuran Surveillans dan penelusuran dilakukan pada semua unggas yang rentan (berisiko tinggi) terhadap penyakit dan sumber penyakit flu burung.5. Apabila di sekitar industri pakan ternak ada peternakan unggas yang sedang. Surveillans . pakan ternak telah mengalami prosedur desinfeksi dan sanitasi secara cermat di tempat tujuan serta di bawah pengawasan dinas peternakan dan kesehatan hewan setempat. Dengan aturan di atas. 9. dari daerah tertular ke daerah bebas atau terancam maupun ke daerah tertular lainnya DILARANG mengeluarkan semua jenis limbah. Pemerintah berfungsi membuat aturan beserta pengawasannya. Dari daerah tertular ke daerah bebas atau terancam maupun ke daerah tertular lainnya diizinkan untuk mengeluarkan pakan unggas (poultry feed) sepanjang pakan berasal dari lokasi industri pakan ternak dan diangkut langsung ke tempat tujuan. sedangkan setiap warga masyarakat hendaknya menaati aturan yang sudah ditetapkan untuk mewujudkan kesehatan kita bersama. maka pada jarak radius 1 km sedang tidak terjadi kasus flu burung sekurang-kurangnya 30 hari terakhir. perbaikan di sana-sini masih perlau dilakukan karena penyelundupan mungkin masih terjadi. Dari daerah tertular ke daerah bebas atau terancam maupun daerah tertular lainnya diizinkan mengeluarkan karkas dan daging unggas yang tidak tertular maupun tidak terjangkit kasus flu burung setidak-tidaknya 14 hari. Pengawasan terhadap pelanggaran maupun pembatasan lalu lintas dilakukan oleh dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan setempat. Sebelum pengeluaran. maupun udara.

dan pemasangan spanduk agar masyarakat tidak panik. menetapkan sumber penyebaran atau perluasan penyakit di daerah tertular. technical service. baik secara ekonomis maupun kesehatan masyarakat. bulu. . produk daging. dan daerah tertular penyakit.. maupun pengunjung peternakan. dan lain lain. pengunjung. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam kegiatan penelusuran adalah asal dan jenis unggas. unggas. darah. Tindakan sosialisasi dilakukan melalui media elektronik. Penelusuran dilakukan paling cepat 14 hari sebelum timbulnya gejala penyakit sampai tindakan karantina mulai diberlakukan. tindakan dilakukan pula dengan membuat Pusat Krisis (Crisis Centre) dan adanya jalur khusus (hotline) informasi mengenai flu burung di direktorat kesehatan hewan. media massa.bertujuan menetapkan sumber infeksi di daerah yang baru tertular. Bahan perantara seperti semua kendaraan pengangkut pakan. daerah terancam. dan lain-lain. demikian pula. telur. memantau epidemiologi dan dinamika penyakit untuk mengetahui perkembangan pengendalian dan pemberantasan penyakit. dan masing-masing daerah propinsi maupun kabupaten atau kota. maupun penyebaran brosur (leaflet). serta mendeteksi tingkat kekebalan kelompok (herd immunity) setelah vaksinasi. telur. pedagang ternak. penjual pakan. tulang. dan material terkontaminasi kotoran (feses) harus diperhatikan pula. semua orang yang berhubungan dengan unggas seperti peternak atau petugas kandang. • Peningkatan Kesadaran Masyarakat (Public Awareness) Program ini merupakan program sosialisasi atau kampanye tentang penyakit flu burung kepada masyarakat dan peternak mengingat dampak kerugian yang ditimbulkan akibat flu burung. Pelaksanaan surveillans dan penelusuran dilakukan oleh balai penelitian veteriner Bogor. menetapkan perwilayahan (zoning) daerah bebas. yaitu Balai Penyelidikan dan Pengujian Veteriner Regional (BPPVR) masing-masing wilayah dengan mengoptimalkan sumber daya manusia yang dimiliki serta berkoordinasi dengan instansi terkait. Kemudian. peralatan. Penelusuran (tracing) dilaksanakan bersama dengan surveilan. Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan jakarta. Penelusuran dilakukan untuk menentukan sumber infeksi dan menahan secara efektif penyebaran penyakit.

Dan Evaluasi . dan epidemiologis serta dikonfirmasi secara laboratoris. • Batasan jumlah unggas yang akan dimusnahkan masih dianggap ekonomis oleh peternak. Tindakan dapat dilaksanakan apabila timbul kasus flu burung di daerah bebas atau terancam dan telah didiagnosis secara klinis. • Pemusnahan Unggas Secara Menyeluruh (Stamping Out) Tindakan stamping out merupakan tindakan pemusnahan secara menyeluruh.Sosialisasi dapat pula diwujudkan sebagai program pendidikan kepada masyarakat (Educational Programme) melalui seminar dan pelatihan dengan bekerjasama dengan industri perunggasan dan asosiasi bidang peternakan. Tindakan dapat dilaksanakan apabila dalam kondisi: • Kejadian penyakit masih dapat dilokalisasi dan tidak berpotensi menyebar secara cepat ke peternakan atau daerah lain. Pelaporan. yaitu tindakan memusnahkan seluruh unggas yang sakit maupun yang sehat pada peternakan tertular dan semua unggas yang berada dalam radius 1 km dari peternakan tertular. • Pengisian Kembali (Restocking) Unggas Pengisian kembali (restocking) unggas ke dalam kandang dapat dilaksanakan paling cepat 1 bulan setelah pengosongan kandang dilakukan dan semua tindakan desinfeksi dan disposal selesai dilaksanakan sesuai prosedur. • Monitoring. • Pelaksanaan surveillans dan penelusuran untuk mengidentifikasi sumber penularan oleh BPPV Regional di wilayah tersebut. Apabila stamping out terlambat dilaksanakan dan penyebaran penyakit sudah semakin luas. patologi anatomis. maka tindakan tidak dapat dilaksanakan dan diganti dengan tindakan vaksinasi dan pemusnahan selektif (depopulasi). • Peningkatan biosekuriti dan pembatasan lalu lintas secara ketat harus diberlakukan terhadap peternakan tertular.

obat. maupun peralatan. kasus terakhir. dan permasalahan yang timbul di lapangan. serta situasi penyakit (sakit.Kegiatan monitoring bertujuan mengetahui keberhasilan suatu kegiatan dan dampak serta permasalahan yang timbul saat kegiatan dilaksanakan agar dalam perkembangan lebih lanjut dapat disempurnakan kekurangannya. produsen. berkonsultasi dengan direktur kesehatan hewan untuk segera menurunkan tim diagnostik. mati. pengamatan. Pelaporan meliputi laporan situasi penyakit dan perkembangan pelaksanaan pengendalian dan pemberantasan penyakit. serta nama vaksin yang digunakan dan pendistribusiannya. stamping out. Laporan dimulai dari petugas lapangan peternakan atau kesehatan hewan kepada dinas peternakan atau dinas yang melaksanakan fungsi peternakan atau kesehatan hewan di kabupaten atau kota. Kemudian. pengendalian. dan lain-lain). BAB III . dampak keberhasilan. serta melaporkan kepada direktur kesehatan hewan yang bersangkutan. kepala dinas yang bersangkutan menindaklanjuti laporan kepada bupati atau walikota dengan tembusan kepada kepala dinas peternakan atau dinasyang melaksanakan fungsi peternakan atau kesehatan hewan propinsi dan Direktur Jenderal Bina Produksi Peternakan. diagnosis. Hal-hal yang dievaluasi antara lain penyediaan dan distribusi sarana seperti vaksin. Evaluasi dilaksanakan pada akhir kegiatan oleh pemerintah pusat dan daerah di akhir tahun anggaran. Kemudian. Selanjutnya. tindakan yang telah diambil. Kegiatan dilaksanakan oleh pusat. daerah. serta laboratorium BPPV Regional selama pelaksanaan di lapangan masih berlangsung. kepala dinas peternakan atau dinas yang melaksanakan fungsi peternakan atau kesehatan hewan propinsi menindaklanjuti dengan mengevaluasi dan menganalisis laporan yang diterima. Evaluasi pelaksanaan pencegahan. evaluasi dilaksanakan untuk mengetahui realisasi pelaksanaan kegiatan seperti vaksinasi. direktur kesehatan hewan dengan menggunakan format laporan format yang berlaku. dan pemberantasan flu burung bertujuan mengetahui pencapaian target kegiatan.

PENUTUP 1. Saran . Pengisian Kembali (Restocking) unggas. Kegagalan pada satu sisi bisa menimbulkan kegagalan program pencegahan. menghilangkan meningkatkan kesadaran masyarakat. sumber penularan virus. Laos. Cina. Wabah penyakit flu burung yang disebabkan oleh virus avian influenza tipe H5N1 pada unggas dikonfirmasikan telah terjadi di Korea Selatan. Kesimpulan Penyakit flu burung atau flu unggas (bird flu / avian influenza ) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus avian influenza tipe A dan ditularkan oleh unggas. dan 2. Pemusnahan unggas secara menyeluruh (Stamping Out). meliputi : Pelaksanaan biosekuriti secara ketat. dan pemberantasan flu burung yang dilakukan pemerintah meliputi 5 hal. pengendalian. yakni: mencegah kontak antara hewan yang peka dengan virus flu burung. Kamboja. Sembilan tindakan itu . Taiwan. Indonesia. Dalam hal ini peran Pemerintah sangatlah penting. peningkatan kesadaran masyarakat (Public Awareness). Surveillans dan penelusuran. Pengendalian lalu lintas. dan Pakistan. sehingga kesembilannya harus dilaksanakan secara bersama-sama tanpa terpisah-pisah untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Sumber virus diduga berasal dari migrasi burung dan transportasi unggas terinfeksi. Vietnam. Pelaporan dan Evaluasi. pengendalian. Tindakan pemusnahan selektif unggas (Depopulasi) di daerah tertular. meningkatkan resistansi hewan (pengebalan terhadap hewan peka) dengan cara vaksinasi. Jepang. Dalam melaksanakan prinsip dasar. serta Monitoring. menghentikan produksi virus flu burung oleh unggas tertular. dan pemberantasan penyakit flu burung. Pengebalan (Vaksinasi). pemerintah melakukan 9 tindakan yang merupakan satu kesatuan satu sama lain. adapun Prinsip pencegahan. Thailand.

Oleh karena itu. kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca agar makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi.Demikianlah makalah ini kami buat untuk meningkatkan ilmu pengetahuan kita tentang Program Pemberantasan dan Penanggulangan Flu Burung. Kami selaku penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. . Terima Kasih.

Yogyakarta : C. Jakarta : Salemba Medika. Nurheti Yuliarti.kompas. Flu Burung : Aspek Klinis dan Epidemiologis. 2006. 2006. 2008.Burung.V Andi Offset.com/read/2012/02/13/01433393/Kasus. Flu Burung : Cara Mewaspadai dan Mencegahnya. Menyikapi Rahasia Penyakit Flu Burung.Merebak .Kembali. http://regional. Tamher dan Noorkasiani.Flu.DAFTAR PUSTAKA Cucunawangsih. Jakarta :PT Bhuana Ilmu Populer.