REFERAT

PENURUNAN KESADARAN

Disusun Oleh: Dwi Siti Wulandari 110.2005.074

Pembimbing: dr. Perwitasari Bustomi, SpS

RSUD SERANG SMF NEUROLOGI MEI 2011

saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada pembimbing saya.S yang telah banyak memberikan masukan dan meluangkan waktu untuk membimbing saya. sehingga penulisan ini dapat lebih baik sesuai dengan hasil yang diharapkan. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi proses pembelajaran di kepaniteraan neurologi. Nilamsari. Serang. Sp. 27 Mei 2011 Penulis 2 . dr.S dan dr. serta teman-teman seperjuangan yang sedang menjalani kepaniteraan klinik di RSUD Serang. Penulisan referat ini masih jauh dari kesempurnaan. Perwitasari. saya dapat menyelesaikan penulisan referat yang berjudul ³Penurunan Kesadaran´ sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian di kepaniteraan klinik Saraf di Rumah Sakit Daerah Umum Serang. Sp. Terima kasih kepada keluarga atas doa dan dukungannya. saya mengharapkan kritik dan saran. Terwujudnya referat ini adalah berkat bantuan dan dorongan berbagai pihak.KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya. Oleh karena itu. Dalam kesempatan ini.

......1 Gangguan metabolik toksik««««««««««««««««««8 II.1...4........................7 II.3 Gangguan kesadaran dengan kelainan fokal...........16 BAB III BAB IV Kesimpulan««««««««««««««««««««««««18 Daftar Pustaka ««««««««««««««««««««««........................................................1 Menentukan penurunan kesadaran secara kualitatif««««««««..........4...................................2 Klasifikasi penurunan kesadaran.....................6...2 Gangguan kesadaran tanpa disertai kelainan fokal disertai kaku kuduk........6....5 Diagnosis dan diagnosis banding penurunan kesadaran««««««««««11 II.........19 3 ...............5 II..........7 II.................................................................1.....3 Bahaya penurunan kesadaran.........................................1 Umum««««««««««««««««««««««««««16 II........4 Patofisiologi penurunan kesadaran......................16 II...........6 II................................9 II.....1 Khusus«««««««««««««««««««««««««...................................6 II.13 II..................2 Gangguan struktural intrakranial...........1 Diagnosis penurunan kesadaran««««««««««««««««........4 Tinjauan Pustaka..........2....6 II................2 Diagnosis banding penurunan kesadaran metabolik dan struktural««..1 Gangguan kesadaran tanpa disertai kelainan fokal dan kaku kuduk......................2 Menentukan penurunan kesadaran secara kuantitatif«««««««...7 II..........................................2 Daftar Isi..5.........................1 Definisi penurunan kesadaran«««««««««««««««««««.............................................................................3 BAB I BAB II Pendahuluan........11 II.............................2..........5...5 II.7 II............2............6 Tatalaksana penurunan kesadaran««««««««««««««««««...................7 II............................DAFTAR ISI Kata Pengantar.............

Ascending Reticular Activating System merupakan suatu rangkaian atau network system yang dari kaudal berasal dari medulla spinalis menuju rostral yaitu diensefalon melalui brain stem sehingga kelainan yang mengenai lintasan ARAS tersebut berada diantara medulla. Pada referat ini akan dibahas mengenai definisi penurunan kesadaran. Respon gangguan kesadaran pada kelainan di ARAS ini merupakan kelainan yang berpengaruh kepada sistem arousal yaitu respon primitif yang merupakan manifestasi rangkaian inti-inti di batang otak dan serabut-serabut saraf pada susunan saraf. diagnosis serta diagnosis penurunan kesadaran akibat metabolik dan struktural dan tatalaksana penurunan kesadaran yang terbagi atas tatalaksana baik umum maupun khusus. Korteks serebri merupakan bagian yang terbesar dari susunan saraf pusat di mana kedua korteks ini berperan dalam kesadaran akan diri terhadap lingkngan atau input-input rangsangan sensoris. pons. monoaminergik dan gamma aminobutyric acid (GABA)2. baik yang melibatkan sistem anatomi maupun fungsional akan mengakibatkan terjadinya penurunan kesadaran dengan berbagai tingkatan. thalamus dan akan menimbulkan penurunan derajat kesadaran. Neurotransmiter yang berperan pada ARAS antara lain neurotransmiter kolinergik. Berdasarkan hasil pengumpulan data Rumah Sakit Pendidikan dr. bahaya penurunan kesadaran. patofisiologi . 4 . Piringadi1. para peneliti memperkirakan bahwa terdapat 3% kasus dengan penurunan kesadaran atau koma dari 10 % jumlah kasus kegawatdaruratan neurologi di Rumah Sakit dr. mesencephalon menuju ke subthalamus. Piringadi. hal ini disebut juga sebagai awareness2.BAB I PENDAHULUAN Penurunan kesadaran merupakan kasus gawat darurat yang sering dijumpai dalam praktek sehari-hari. Jika terjadi kelainan pada kedua sistem ini. hipothalamus. Kesadaran ditentukan oleh kondisi pusat kesadaran yang berada di kedua hemisfer serebri dan Ascending Reticular Activating System (ARAS).

motorik hanya berupa gerakan primitif. masih dapat dibangunkan dengan perintah. Dalam hal menilai penurunan kesadaran. Mata tertutup dengan rangsang nyeri atau suara keras baru membuka mata atau bersuara satu-dua kata. penurunan kesadaran dapat pula dinilai secara kuantitatif. dikenal beberapa istilah yang digunakan di klinik yaitu kompos mentis. menyadari seluruh asupan panca indera (aware atau awas) dan bereaksi secara optimal terhadap seluruh rangsangan dari luar maupun dari dalam (arousal atau waspada). 5 .1. Motorik hanya berupa gerakan mengelak terhadap rangsang nyeri.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. tampak gelisah dan orientasi terhadap sekitarnya menurun.1. hanya dapat mengerang tanpa arti. somnolen. Somnolen atau drowsiness atau clouding of consciousness. Jadi. soporokoma dan koma. Terminologi tersebut bersifat kualitatif. mata tampak cenderung menutup. Semikoma atau soporokoma.1 Menentukan penurunan kesadaran secara kualitatif3 Kompos mentis berarti kesadaran normal. mata tetap tertutup walaupun dirangsang nyeri secara kuat. bila terjadi penurunan kesadaran menjadi pertanda disregulasi dan disfungsi otak dengan kecenderungan kegagalan seluruh fungsi tubuh2. Definisi Penurunan Kesadaran Penurunan kesadaran atau koma merupakan salah satu kegawatan neurologi yang menjadi petunjuk kegagalan fungsi integritas otak dan sebagai ³final common pathway´ dari gagal organ seperti kegagalan jantung. nafas dan sirkulasi akan mengarah kepada gagal otak dengan akibat kematian. II. atau dalam keadaaan awas dan waspada. Stupor atau sopor lebih rendah daripada somnolen. masih dapat menjawab pertanyaan walaupun sedikit bingung. Sementara itu. stupor atau sopor. berarti mengantuk. dengan menggunakan skala koma Glasgow3.

6 II. Pemeriksaan ini mempunyai nilai terendah 3 dan nilai tertinggi 15.Koma merupakan penurunan kesadaran yang paling rendah.2 .1. maupun reaksi motorik. bicara. II.2 Menentukan penurunan kesadaran secara kuantitatif2 Secara kuantitatif. Pemeriksaan Motorik (M) dan Verbal (V). yaitu gangguan kesadaran tanpa disertai kelainan fokal/ lateralisasi dan tanpa disertai kaku kuduk. baik dalam hal membuka mata. gangguan kesadaran tanpa disertai kelainan fokal/ lateralisasi disertai dengan kaku kuduk. kesadaran dapat dinilai dengan menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS) yang meliputi pemeriksaan untuk Penglihatan/ Mata (E). Pemeriksaan derajat kesadaran GCS untuk penglihatan/ mata: E1 tidak membuka mata dengan rangsang nyeri E2 membuka mata dengan rangsang nyeri E3 membuka mata dengan rangsang suara E4 membuka mata spontan Motorik: M1 tidak melakukan reaksi motorik dengan rangsang nyeri M2 reaksi deserebrasi dengan rangsang nyeri M3 reaksi dekortikasi dengan rangsang nyeri M4 reaksi menghampiri rangsang nyeri tetapi tidak mencapai sasaran M5 reaksi menghampiri rangsang nyeri tetapi mencapai sasaran M6 reaksi motorik sesuai perintah Verbal: V1 tidak menimbulkan respon verbal dengan rangsang nyeri (none) V2 respon mengerang dengan rangsang nyeri (sounds) V3 respon kata dengan rangsang nyeri (words) V4 bicara dengan kalimat tetapi disorientasi waktu dan tempat (confused) V5 bicara dengan kalimat dengan orientasi baik (orientated) Klasifikasi Penurunan Kesadaran2 Gangguan kesadaran dibagi 3. Dengan rangsang apapun tidak ada reaksi sama sekali. dan gangguan kesadaran disertai dengan kelainan fokal.

awareness. wakefulness) kesadaran dan gangguan isi (kualitas. dan dapat pula disebabkan oleh gangguan ARAS di batang otak. hipotalamus maupun mesensefalon4. Epilepsi II. apakah lesi supratentorial.2. alertness) kesadaran. Infark otak 4. arousal. terhadap formasio retikularis di thalamus. Radang otak II. Adanya lesi yang dapat mengganggu interaksi ARAS dengan korteks serebri.1 Gangguan kesadaran tanpa disertai kelainan fokal dan kaku kuduk 1. Infeksi sistemis 5. gangguan terbagi menjadi dua. Abses otak Bahaya Penurunan Kesadaran2 Adapun kondisi yang segera mengancam kehidupan terdiri atas peninggian tekanan intrakranial.4 Patofisiologi Penurunan Kesadaran Penurunan kesadaran disebabkan oleh gangguan pada korteks secara menyeluruh misalnya pada gangguan metabolik. 7 . Radang selaput otak 3.II.3 II.2 Gangguan kesadaran tanpa disertai kelainan fokal tapi disertai kaku kuduk 1. subtentorial dan metabolik akan mengakibatkan menurunnya kesadaran1.2. Gangguan iskemik 2. II. Tumor otak 2. Gangguan metabolik 3. Pada penurunan kesadaran. Perdarahan subarakhnoid 2.3 Gangguan kesadaran dengan kelainan fokal 1. herniasi dan kompresi otak dan meningoensefalitis/ ensefalitis. Perdarahan otak 3. yakni gangguan derajat (kuantitas. Intoksikasi 4. Hipertermia 6.2.

Adanya penurunan aliran darah otak (ADO). Glukosa merupakan satu-satunya substrat yang digunakan otak dan teroksidasi menjadi karbondioksida (CO2) dan air. Namun. Untuk memelihara integritas neuronal. Koma disebabkan kegagalan difus dari metabolisme saraf1. elektrolit. penyediaan O2 dan glukosa tidak terganggu.1 Gangguan metabolik toksik Fungsi dan metabolisme otak sangat bergantung pada tercukupinya penyediaan oksigen. Ensefalopati metabolik sekunder Koma terjadi bila penyakit ekstraserebral melibatkan metabolisme otak. yang mengakibatkan kekurangan nutrisi. gangguan keseimbangan elektrolit ataupun keracunan. kesadaran individu dapat terganggu oleh adanya gangguan asam basa darah. Ensefalopati metabolik primer Penyakit degenerasi serebri yang menyebabkan terganggunya metabolisme sel saraf dan glia. Patofisiologi penurunan kesadaran II. ataupun defisiensi vitamin3.4. O2 dan glukosa memegang peranan penting dalam memelihara keutuhan kesadaran. Proses metabolik melibatkan batang otak dan kedua hemisfer serebri. osmolalitas. Misalnya penyakit Alzheimer. 1.Gambar 1. diperlukan penyediaan ATP yang konstan untuk menjaga keseimbangan elektrolit3. 2. Pada koma metabolik ini biasanya ditandai dengan gangguan sistem 8 . Apabila ADO turun lebih rendah lagi. maka akan terjadi penurunan konsumsi oksigen secara proporsional3. akan menyebabkan terjadinya kompensasi dengan menaikkan ekstraksi oksigen (O2) dari aliran darah.

2) Lesi struktural supratentorial (hemisfer). Sedangkan koma pada gangguan metabolik terjadi karena pengaruh difus terhadap ARAS dan korteks serebri2. sedangkan batang otak tetap normal. herniasi transtentorial sentral dan herniasi unkus. Hipoglikemia.atau hipernatremia.4. terjadilah herniasi girus singuli. 1. Tabel 1. koma diensefalik dibagi menjadi dua bagian utama. abses dan hematom mengakibatkan dorongan dan pergeseran struktur di sekitarnya. gagal ginjal dan gagal hati. Adanya massa yang mengambil tempat di dalam kranium (hemisfer serebri) beserta edema sekitarnya misalnya tumor otak. Tes darah biasanya abnormal.2 Gangguan Struktur Intrakranial Penurunan kesadaran akibat gangguan fungsi atau lesi struktural formasio retikularis di daerah mesensefalon dan diensefalon (pusat penggalak kesadaran) disebut koma diensefalik. lesi otak unilateral tidak menyebabkan stupor dan koma. ialah koma akibat lesi supratentorial dan lesi infratentorial3. Penyebab Metabolik atau Toksik pada Kasus Penurunan Kesadaran5 No 1 2 3 4 5 6 7 Penyebab metabolik atau sistemik Elektrolit imbalans Endokrin Vaskular Toksik Nutrisi Gangguan metabolik Gagal organ Keterangan Hipo. 9 . Secara anatomik. ketoasidosis diabetik Ensefalopati hipertensif Overdosis obat.motorik simetris dan tetap utuhnya refleks pupil (kecuali pasien mempergunakan glutethmide atau atropin). hiperkalsemia. gas karbonmonoksida (CO) Defisiensi vitamin B12 Asidosis laktat Uremia. juga utuhnya gerakan-gerakan ekstraokuler (kecuali pasien mempergunakan barbiturat)1. Koma supratentorial1 1) Lesi mengakibatkan kerusakan difus kedua hemisfer serebri. Jika tidak ada kompresi ke sisi kontralateral batang otak lesi setempat pada otak menimbulkan koma karena terputusnya ARAS. ensefalopati hepatik II. hipoksemia.

hemiparesis) dan dibantu dengan pemeriksaan penunjang2.a. cedera kepala dan sebagainya. Herniasi ke bawah dari serebelum melalui foramen magnum dan menekan medulla oblongata. 2) Proses di luar batang otak yang menekan ARAS a. Herniasi girus singuli Herniasi girus singuli di bawah falx serebri ke arah kontralateral tekanan pada pembuluh darah serta jaringan otak. 10 . Herniasi transtentorial/ sentral Herniasi transtentorial atau sentral adalah hasil akhir dari proses desak ruang rostrokaudal dari kedua hemisfer serebri dan nukli basalis. menyebabkan mengakibatkan iskemi dan edema. b. perdarahan dan nekrosis. Herniasi unkus Herniasi unkus terjadi bila lesi menempati sisi lateral fossa kranii media atau lobus temporalis. perdarahan serebelum dan sebagainya. secara berurutan menekan disensefalon. c. mesensefalon. 1) Proses di dalam batang otak sendiri yang merusak ARAS atau/ serta merusak pembuluh darah yang mendarahinya dengan akibat iskemi. pons dan medulla oblongata melalui celah tentorium. tumor. Misalnya pada stroke. Langsung menekan pons b. Herniasi ke atas dari serebelum dan mesensefalon melalui celah tentorium dan menekan tegmentum mesensefalon. Koma infratentorial1 Ada dua macam lesi infratentorial yang menyebabkan koma. Ditentukan lateralisasi (pupil anisokor. Dapat disebabkan oleh tumor serebelum. c. lobus temporalis mendesak unkus dan girus hipokampus ke arah garis tengah dan ke atas tepi bebas tentorium yang akhirnya menekan mesensefalon. 2.

Untuk itu diperlukan riwayat perjalanan penyakit.1 Diagnosis penurunan kesadaran2 Diagnosis kesadaran menurun didasarkan atas: Anamnesis Dalam melakukan anamnesis perlu dicantumkan dari siapa anamnesis tersebut didapat. tipe pernafasannya dan perhatikan tentang sirkulasi yang meliputi: tekanan darah. meningitis Primer atau metastasis Hematoma. edema. infark batang kortikal bilateral Abses. y Bau nafas Pemeriksa harus dapat mengidentifikasi foetor breath hepatic yang disebabkan penyakit hati. riwayat trauma. Penyebab Struktural pada Kasus Penurunan Kesadaran5 No 1 2 3 4 5 6 Penyebab struktural Vaskular Infeksi Neoplasma Trauma Herniasi Peningkatan tekanan intrakranial Keterangan Perdarahan subarakhnoid. riwayat penggunaan obat-obatan. denyut nadi dan ada tidaknya aritmia. riwayat kelainan kejiwaan. Dari anamnesis ini. biasanya anamnesis yang terbaik didapat dari orang yang selalu berada bersama penderita. kontusi hemoragik Herniasi sentral. 11 .Tabel 2.5. Pemeriksaan fisik umum Dalam melakukan pemeriksaan fisik umum harus diamati: y Tanda vital Pemeriksaan tanda vital: perhatikan jalan nafas. urino smell yang disebabkan karena penyakit ginjal atau fruity smell yang disebabkan karena ketoasidosis.5 Diagnosis dan Diagnosis Banding Penurunan Kesadaran Metabolik dan Struktural II. ensefalitis. herniasi unkus. riwayat penyakit. seringkali menjadi kunci utama dalam mendiagnosis penderita dengan kesadaran menurun1. herniasi singuli Proses desak ruang II.

kelumpuhan 4 ekstremitas. trauma di daerah muka). Jika kemungkinan itu tidak ada. spasmus otot lama). Pemeriksaan fisik neurologis Pemeriksaan fisik neurologis bertujuan menentukan kedalaman koma secara kualitatif dan kuantitatif serta mengetahui lokasi proses koma. somnolen. Kualitatif (apatis. spoor dan koma) Kuantitatif (menggunakan GCS) y Pupil Diperiksa: ukuran. Pada penderita dengan trauma. y Leher Perhatikan kaku kuduk dan jangan manipulasi bila dicurigai fraktur servikal (jejas. stigmata kelainan hati dan stigmata lainnya termasuk krepitasi dan jejas suntikan. twitching otot berirama (aktivitas seizure) atau tetani (spontan. laserasi dan fraktur. delirium. harus dilakukan dengan sangat berhati-hati atau tidak boleh dilakukan jikalau diduga adanya fraktur servikal. Pemeriksaan neurologis meliputi derajat kesadaran dan pemeriksaan motorik2. perlu diamati tanda-tanda trauma. maka lakukan pemeriksaan kaku kuduk dan lakukan auskultasi karotis untuk mencari ada tidaknya bruit. reaktivitas cahaya 12 . y Level kesadaran Ditentukan secara kualitatif dan kuantitatif. y Toraks/ abdomen dan ekstremitas Perhatikan ada tidaknya fraktur. y Umum Buka kelopak mata menentukan dalamnya koma Deviasi kepala dan lirikan menunjukkan lesi hemisfer ipsilateral Perhatikan mioklonus (proses metabolik). kepala pemeriksaan leher itu.y Pemeriksaan kulit Pada pemeriksaan kulit. y Kepala Perhatikan ada tidaknya hematom.

petunjuk bahwa integritas mesensefalon baik. hipoksik-iskemi global. Pada penderita dengan penurunan kesadaran. fixed dan irregular. berguna untuk melihat oksigenasi di dalam darah. meliputi darah perifer lengkap (DPL). dari bahan urine darah dan bilasan lambung. y Funduskopi y Refleks okulosefalik (dolls eye manuevre) y Refleks okulo vestibuler y Refleks kornea y Refleks muntah y Respons motorik y Refleks fisiologik dan patologik Pemeriksaan penunjang2 y Pemeriksaan gas darah. Pupil reaksi normal. y Pemeriksaan khusus meliputi pungsi lumbal. dapat ditentukan apakah akibat kelainan struktur.2 Diagnosis banding penurunan kesadaran karena metabolik dan struktural2 Menentukan kelainan neurologi perlu untuk evaluasi dan manajemen penderita. foto toraks dan foto kepala. EEG. terjadi herniasi. faal ginjal dan elektrolit. keton. CT scan kepala. juga untuk melihat gangguan keseimbangan asam basa. pons dan mesensefalon. lesi mesenfalon fokal. dicurigai suatu koma metabolik Mid posisi (2-5 mm). toksik atau metabolik. II. y Pemeriksaan darah. pada kerusakan pons. Pupil bilateral fixed dan dilatasi. intoksikasi opiat kolinergik. faal hati. keracunan barbiturat. herniasi sentral. reflek kornea dan okulosefalik (-). Pupil reaktif pint-point. ARAS merupakan kumpulan neuron polisinaptik yang terletak pada pusat medulla. EKG. Pada koma akibat gangguan struktur mempengaruhi fungsi ARAS langsung atau tidak langsung.5. sedangkan penurunan kesadaran karena kelainan metabolik terjadi karena memengaruhi energi 13 .- Simetris/ reaktivitas cahaya normal. y Pemeriksaan toksikologi. Dilatasi unilateral dan fixed.

y Respirasi kluster Ditandai respirasi berkelompok diikuti apnoe. y Respirasi hiperventilasi neurogen sentral Pernafasan cepat dan dalam. pada pemeriksaan darah ada alkalosis respirasi. Diagnosis banding dapat ditentukan melalui pemeriksaan pernafasan. Pemberian O2 tidak akan mengubah pola pernafasan. frekuensi kira-kira 25 per menit. pola pernafasan ini dapat juga disebabkan gangguan metabolik dan gangguan jantung. Pola pernafasan Mengetahui pola pernafasan akan membantu letak lesi dan kadang menentukan jenis gangguan. evaluasi saraf kranial dan respons motorik terhadap stimuli. PCO2 arterial rendah. Ambang respirasi rendah. Kerusakan terdapat di pusat pernafasan medulla oblongata dan merupakan keadaan preterminal. Selain itu. lesi biasanya pada tegmentum batang otak (antara mesensefalon dan pons). y Respirasi ataksik (irregular) Ditandai oleh pola pernafasan yang tidak teratur. Dalam hal ini. pergerakan spontan. Biasanya terjadi pada kerusakan pons varolii. anoksia atau hipoglikemia yang melibatkan daerah ini dan kompresi mesensefalon karena herniasi transtentorial. 14 . pontin. baik dalam atau iramanya. y Respirasi cheyne stoke Pernafasan ini makin lama makin dalam kemudian mendangkal dan diselingi apnoe. Biasanya didapatkan pada infark mesensefalon. Pernafasan ini dapat merupakan gejala pertama herniasi transtentorial. pH meningkat dan ada hipoksia ringan. y Respirasi apneustik Terdapat inspirasi memanjang diikuti apnoe pada saat ekspirasi dengan frekuensi 111/2 per menit kemudian diikuti oleh pernafasan kluster.neuronal atau terputusnya aktivitas membran neuronal atau multifaktor. Keadaan seperti ini dijumpai pada disfungsi hemisfer bilateral sedangkan batang otak masih baik.

. Pernapasan abnormal . mioklonus. Pergerakan abnormal seperti twitching. tremor merupakan petunjuk gangguan toksik/ metabolik. Impending herniasi ditandai oleh pola pernafasan tidak teratur.Repons motorik terhadap stimuli Defisit fokal motorik biasanya menunjukkan kerusakan struktur. 15 .Pergerakan spontan Perlu melakukan observasi pasien waktu istirahat. Apabila tampak pergerakan spontan dengan asimetrik (tungkai bawah rotasi keluar menunjukkan defisit fokal motorik). diazepam. sedangkan dekortikasi/deserebrasi dapat terjadi pada kelainan metabolik toksik atau kerusakan struktural. Umumnya pasien koma dengan reflek brain stem normal maka menunjukkan kegagalan kortikal difus dengan penyebab metabolik. berkedip dan menguap spontan dan dapat membantu lokalisasi penyebab koma. Komponen brain stem dari ARAS masih baik bila tampak mengunyah. Gerakan-gerakan abnormal seperti tremor dan mioklonus sering terjadi pada gangguan metabolik toksik. .Gambar 2. antidepresan trisiklik dan intoksikasi etanol dapat menekan refleks okular tetapi refleks pupil tetap baik. pupil miosis dan refleks pupil menurun. diphenylhydantion. Obat-obatan seperti barbiturat.Pemeriksaan saraf kranial Jika pada pemeriksaan saraf kranial (saraf okular) tampak asimetrik dicurigai lesi struktural.

6. II.Pengobatan khusus tanpa herniasi y Ulang pemeriksaan neurologi yang lebih teliti. y Edema serebri karena tumor atau abses dapat diberikan deksametason 10 mg iv lanjutkan 4-6 mg setiap 6 jam. Berikan tiamin 100 mg iv. berikan destrosan 100 mg/kgbb. Jika dicurigai adanya overdosis opium/ morfin.Pada herniasi y Pasang ventilator lakukan hiperventilasi dengan target PCO2: 25. pasang infus sesuai dengan kebutuhan bersamaan dengan sampel darah. y Berikan manitol 20% dengan dosis 1-2 gr/ kgbb atau 100 gr iv. keluarkan isi cairan lambung untuk mencegah aspirasi. 16 . y Posisi trendelenburg baik sekali untuk mengeluarkan cairan trakeobronkhial. .30 mmHg. y Lakukan imobilisasi jika diduga ada trauma servikal.6.01 mg/kgbb setiap 5-10 menit sampai kesadaran pulih (maksimal 2 mg).2 Khusus .II. berikan nalokson 0. lakukan bilas lambung jika diduga ada intoksikasi. tepat dan akurat.6 Tatalaksana Penurunan Kesadaran2 Prinsip pengobatan kesadaran dilakukan dengan cepat.1 Umum y Tidurkan pasien dengan posisi lateral dekubitus dengan leher sedikit ekstensi bila tidak ada kontraindikasi seperti fraktur servikal dan tekanan intrakranial yang meningkat. y Pasang monitoring jantung jika tersedia bersamaan dengan melakukan elektrokardiogram (EKG). y Jika pada CT scan kepala ditemukan adanya CT yang operabel seperti epidural hematom. lakukan suction di daerah nasofaring jika diduga ada cairan. konsul bedah saraf untuk operasi dekompresi. y Pasang nasogastric tube. II. Selama 10-20 menit kemudian dilanjutkan 0. keluarkan gigi palsu jika ada. pastikan jalan nafas lapang.25-0. pengobatan dilakukan bersamaan dalam saat pemeriksaan.5 gr/kgbb atau 25 gr setiap 6 jam. Pengobatan meliputi dua komponen utama yaitu umum dan khusus.

Jika LP positif adanya infeksi berikan antibiotik yang sesuai. Jika LP positif adanya perdarahan terapi sesuai dengan pengobatan perdarahan subarakhnoid.y Jika pada CT scan tak ditemukan kelainan. 17 . lanjutkan dengan pemeriksaan pungsi lumbal (LP).

Adapun tatalaksana pada pasien dengan penurunan kesadaran terdiri atas tatalaksana umum dan khusus. pemeriksaan fisik neurologis dan pemeriksaan penunjang. Penurunan kesadaran dapat ditentukan secara kualitatif dan kuantitatif. Diagnosis dapat ditegakkan dengan anamnesis. Penurunan kesadaran disebabkan oleh kelainan metabolik dan struktural yang mempengaruhi korteks dan ARAS. 18 . pemeriksaan fisik umum.BAB III KESIMPULAN Penurunan kesadaran atau koma merupakan salah satu kegawatan neurologi yang menjadi petunjuk kegagalan fungsi integritas otak dan sebagai ³final common pathway´ dari gagal organ seperti kegagalan jantung. nafas dan sirkulasi akan mengarah kepada gagal otak dengan akibat kematian.

2001. 4. Coma and Impaired Conscious Level dalam Neurology and Neurosurgery Illustrated. FKUI. Hal. 2.BAB IV DAFTAR PUSTAKA 1. NY. 1997. Ed 80. Churchill Livingstone. 2004. KW dan Bone I.1-7 3. AS. Harris. Batubara. Thieme. Koma dalam Buku Ajar Neurologi. FK USU. Gajah Mada University Press. Hal 119-123 19 . Lindsay. 1992. 2005. Penatalaksanaan Pada Kesadaran Menurun dalam Updates in Neuroemergencies. Harsono. Greenberg. Jakarta. Koma dalam Majalah Cermin Dunia Kedokteran. UK. Hal. MS.81 5. Hal 85-87. Yogyakarta. S. 5th ed. Coma dalam Handbook of Neurosurgey.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful