SKENARIO C BLOK 16

Bulan, perempuan, 20 tahun, seorang mahasiswi di salah satu universitas di Palembang, merupakan anak pertama dari 3 bersaudara. Adiknya masih bersekolah SMP dan SMA dan tinggal bersama kedua orang tuanya di Baturaja, ibukota Kabuaten OKU. Sebulan yang lalu ayah Bulan dirawat inap di Bagian Neurologi RSMH Palembang selama seminggu, sembuh sempurna dan diperbolehkan pulang. Kata dokter, haya mengalami stroke ringan. Untuk kelanjutan kontrol dan pengobatannya, dokter RSMH yang merawatnya sudah menulis surat petunjuk ke dokter keluarga yang merujuknya. Sekitar dua minggu setelah ayahnya sembuh, dokter keluarga mengizinkannya bekerja kembali. Setelah ayahnya mulai bekerja kembali, setiap Minggu pagi Bulan menelpon menanyakan kesehatan ayahnya. Ayahnya menjawab bahwa dia sehat-sehat saja, semua nasihat dokter diikutinya agar tetap sehat dan penyakitnya tidak kambuh. Kata Ayah, dia dan ibunya baru saja pulang dari mengikuti olahraga senam jantung sehat di alun-alun kabupaten. Setelah sebulan berlalu, Bulan semakin sering menelpon ayahnya, dalam seminggu 2 sampai 3 kali untuk menanyakan kesehatan ayahnya itu. Sering pula ia menanyakan hal itu kepada ibunya. Jawaban ibunya sama saja, bahwa ayahnya sehat-sehat saja. Makin hari, Bulan makin sering, bahkan menjadi setiap hari, menelpon ayah dan ibunya untuk menanyakan kesehatan ayahnya itu. Bulan mencoba mempercayai jawaban ayah dan ibunya itu. Akal sehatnya mengatakan bahwa seharusnya ia mempercayai jawaban ayah dan ibunya itu. Tapi, ketika dia mulai percaya, segera timbul keraguan, jangan-jangan ayah dan ibunya berbohong karena tidak ingin Bulan menjadi susah dan terganggu studinya. Bulan berusaha keras untuk membuang pikiran negatif itu dan untuk tegang, dan hal ini memaksanya untuk kembali menelpon. Setelah selesai menelpon, rasa cemasnya mereda, tapi tidak berlangsung lama. Kecemasannya memuncak. Pikirannya mengatakan bahwa mungkin saja ayahnya sekarang sedang dirawat di rumah sakit di Baturaja, karena stroke ringan, jadi cukup ditangani oleh dokter keluarga atas saran dokter RSMH. Dia harus mudik sekarang juga untuk memastikan kondisi kesehatan ayanya, di satu sisi, akal sehatnya mengatakan bahwa sikap dan tindakannya ini tidak logis dan tidak reaistis. Bulan mencarter mobil rental, meluncur ke Baturaja. Data Tambahan

1

Ayah dan ibu Bulan adalah tipe orang yang perfeksionis. Dalam mengasuh anakanaknya selalu menekankan ketelitian, kerapian, serta disiplin yang kaku dengan harapan agar anak-anaknya menjadi orang yang sukses. Dalam kehidupan sehari-harinya Bulan memang menjadi anak yang selalu teliti, rapi dan disiplin. Setiap selsesai melakukan pekerjaan, dia selalu melakukan cek dan recek sesuai dengan harapan orangtuanya.

I.

Klarifikasi Istilah 1. Perfeksionis 2. Stroke ringan : orang yang ingin segala-galanya sempurna1 : Stroke didefiniskan sebagai serangan mendadak2. Stroke ringan, atau nama lainnya TIA (transcient ischemic attack) adalah kondisi terjadinya deficit ischemic yang cepat teratasi.3 3. Cemas : ketegangan, rasa tak aman dan kekhawatiranyang timbul karena dirasakan akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan tanpa stimulus yang jelas, kaku, terasa mencekam1 4. Tegang 5. Akal sehat 6. Pikiran negatif : perasaan mencekam, biasa disertai palpitasi : pikiran normal atau logika yang dapat diterima orang. : merasa kurang percaya atau sangsi terhadap kebenaran atau kejujuran seseorang (takut dikhianati dan sebagainya)1

II. Identifikasi Masalah 1. Bulan, wanita, 20 tahun, mahasiswi, anak pertama dari 3 bersaudara, setiap minggu pagi menelpon menanyakan kesehatan Ayahnya setelah Ayahnya jatuh sakit sebulan yang lalu, tindakan ini semakin hari semakin sering. 2. Bulan mulai timbul keraguan dan mulai merasa bahwa orangtuanya berbohong padanya. 3. Setiap kali Bulan berusaha membuang pikiran negatif dan tidak menelpon lagi, timbul rasa cemas dan tegang. 4. Akal sehatnya Bulan mengatakan bahwa sikap dan tindakannya ini tidak logis dan tidak realistis, tetapi ia tetap melakukannya. 5. Orang tua Bulan adalah tipe orang yang perfeksionis, selalu menekankan ketelitian, kerapian, serta disiplin yang kaku. 6. Dalam kehidupan sehari-hari Bulan anak yang selalu teliti, rapi, disiplin, setiap selesai melakukan perkerjaan selalu melakukan cek dan recek sesuai harapan orangtuanya.
2

III. Analisis Masalah 1. Mengapa Bulan semakin hari semakin sering menelpon Ayahnya yang sakit sebulan yang lalu? 2. Bagaimana hubungan urutan kelahiran dengan kondisi yang dialami saat ini? 3. Mengapa Bulan mulai merasa ragu dan tidak percaya kepada orangtuanya? 4. Bagaimana mekanisme pertahanan yang diterapkan oleh Bulan? 5. Mengapa ia masih merasa cemas dan tegang walaupun ia sudah berusaha membuang pikiran negatif itu? 6. Mengapa walaupun ia sudah menyadari hal yang dilakukan salah, ia tetap melakukannya? 7. Bagaimana pengaruh orang tua yang perfeksionis terhadap kepribadian anaknya? 8. Apa hubungan kehidupan sehari-hari Bulan dengan kondisi yang dialaminya? 9. Bagaimana differential diagnosis kasus ini? 10. Bagaimana cara diagnosis dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan? 11. Bagaimana diagnosis multiaksial, dan diagnosis kerja kasus 12. Apa saja etiologi dan faktor resiko kasus ini? 13. Bagaimana epidemiologi kasus 14. Bagaimana patogenesis dan patofisiologi kasus ini 15. Apa saja manifestasi klinis yang timbul? 16. Bagaimana tatalaksana, terapi, dan upaya preventif kasus ini? 17. Apa prognosis pada kasus? 18. Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi? 19. Apa KDU kasus?

IV. Hipotesis Bulan, wanita, 20 tahun, selalu mengkhawatirkan Ayahnya pasca sakit karena mengalami gangguan neurotik yaitu obsesif-kompulsif dengan kepribadian premorbid gangguan kepribadian anankastik.

3

GANGGUAN OBSESI-KOMPULSIF VI. Ketika terjadi konflik di antara kekuatan-kekuatan ini. termasuk juga instinginsting organisme. Kerangka Konsep Orang tua yang perfeksionis Bulan menjadi pribadi yang teliti dan selalu melakukan cek dan recek Bulan sering menelpon ayahnya Ayah Bulan menderita stroke ringan yang telah sembuh sempurna Muncul pikiran negative bahwa orang tuanya berbohong Semakin hari semakin sering menelpon Bulan sadar bahwa sikap dan tindakannya tidak logis dan tidak realistis. Mekanisme Pertahanan Status internal manusia selalu diselimuti dengan kecemasan sebagai produk dari konflik antar struktur kepribadian yaitu Id. dan Super Ego. ego merasa terjepit dan terancam. 4 . Ego. sebagai tanda bagi ego bahwa sedang berada dalam bahaya dan berusaha tetap bertahan. Ego berdiri di tengah-tengah kekuatan dahsyat kebutuhan biologis dan norma.V. Perasaan terjepit dan terancam ini disebut kecemasan (anxiety). Id berisi hal-hal yang dibawa sejak lahir (unsur-unsur biologis).5 Id (Das Es) adalah aspek biologis dan merupakan sistem original. libido seksualitas. Kemudian termanifes ke dalam perilaku konkrit dalam mekanisme pertahanan diri atau mekanisme pertahanan ego (ego defense mechanism). Sintesis A. serta merasa seolah-olah akan lenyap dan tidak berdaya digilas kedua kekuatan tersebut. suatu realitas psikis yang sesungguhnya (the true psychic reality) dunia batin atau subyektif manusia dan tidak memiliki koneksi secara langsung dengan realitas obyektif.

kurang sistematik. Ketiga. Namun ketika kecemasan begitu menguasai. Super Ego (Das Ueber Ich) adalah aspek sosiologis yang merupakan nilai-nilai tradisional sebagaimana ditafsirkan orang tua kepada anak-anaknya berupa perintahlarangan. Namun pertahanan akan tertuju terhadap dorongan naluri. Kedua.6 a. seseorang akan bertahan dengan cara memblokir seluruh dorongan-dorongan atau dengan menciutkan dorongan-dorongan tersebut menjadi wujud yang lebih dapat diterima konsepsi dan tidak terlalu mengancam. Ego bertugas untuk menyelesaikan rangsangan lapar dengan kenyataan tentang objek makanan. merupakan defense yang lebih archaik (primitif). namun lebih memainkan peranan. ego harus berusaha mempertahankan diri. Mekanisme Pertahanan Gangguan Obsesif Kompulsif Sigmund Freud menjelaskan tiga mekanisme pertahanan psikologis utama yang menentukan bentuk dan kualitas gejala dan sifa karakter obsesif-kompulsif. rasa takut mendapat sanksi. dan pembentukan reaksi. Di bawah kondisi pada umumnya 5 . ganjaran-hukuman. isolasi. Dorongan naluri disisihkan karena sesungguhnya setiap penyisihan merupakan defensi terhadap afek.4 1. sehingga prinsip Ego adalah realitas dunia obyektif. baik-buruk. kecemasan moral. rasa berdosa. contohnya melihat seekor ular berbisa dihadapan. ancaman datang dari dunia Super Ego yang telah terinternalisasi. dan pertahanan tersebut bersifat lebih tersusun dan terorganisasi. Cara ini disebut mekanisme pertahanan diri atau mekanisme pertahanan ego (ego defensemechanism). perasaan takut jenis ini muncul akibat impuls-impuls id. Pertahanan langsung terhadap afek. Istilah mekanisme pertahanan umum digunakan dalam usaha penyisihan (warding off) dan ditujukan terhadap dorongan naluri. kecemasan realistik. Isolasi Isolasi adalah mekanisme pertahanan yang melindungi seseorang dari afek dan impuls yang mencetuskan kecemasan. Secara tidak sadar. Ego berusaha sekuat mungkin menjaga kestabilan hubungannya dengan id dan superego. Ada tiga jenis kecemasan tersebut: Pertama. contohnya rasa malu.Ego (Das Ich) adalah aspek psikologis karena adanya kebutuhan sinkronisasi (gateway) antara kebutuhan Id dengan realitas dunia eksternal. meruntuhkan (undoing). dan umumnya lebih penting dalam hal terjadinya patogenesa neurosa. Prinsip Super Ego adalah internalisasi normanorma lingkungan yang berupaya untuk menekan dorongan Id. kecemasan neurotik.

operasi pertahanan sekunder adalah diperlukan untuk melawan impuls dan menenangkan kecemasan yang mengancam keluar kesadaran.6 c. Pembentukan Reaksi (Reaction Formation) Baik isolasi maupun meruntuhkan adalah tindakan pertahanan yang terlibat erat dalam menghasilkan gejala klinis.seseorang mengalami secara sadar afek dan khayalan dari suatu gagasan yang mengandung emosi (emotion-laden). pembentukan reaksi yang bermanifestasi dan sikap yang secara sadar dialami yang jelas berlawanan dengan impuls dasar. dan pasien secara sadar hanya menyadari gagasan yang tidak memiliki afek yang berhubungan dengannya. Penjelasan Keterkaitan Kasus Bulan: 6 . Tindakan kompulsif menyumbangkan manifestasi permukaan operasi defensif yang ditujukan untuk menurunkan kecemasan dan mengendalikan impuls dasar yang belum diatasi secara memadai oleh isolasi. bukannya gejala.6 Pembentukan reaksi adalah karakterisitik neurosis obsesional namun dapat juga terjadi dalam bentuk neurosis lain. Jika isolasi berhasil sepenuhnya. Operasi pertahanan sekunder yang cukup penting adalah mekanisme meruntuhkan. pola yang terlihat oleh pengamat adalah sangat dilebih-lebihkan dan tidak sesuai. meruntuhkan adalah suatu tindakan kompulsif yang dilakukan dalam usaha untuk mencegah atau meruntuhkan akibat yang secara irasional akan dialami pasien akibat pikiran atau impuls obsesional yang menakutkan. Seperti yang dinyatakan olehnya. ini bisa menjadi suatu sifat yang permanen seperti dalam karakter obsesif. Jika sikap ini sering digunakan pada tahap awal perkembangan ego. Meruntuhkan (Undoing) Karena adanya ancaman terus-menerus bahwa impuls mungkin dapat lolos dari mekanisme primer isolasi dan menjadi bebas. impuls dan afek yang terkait seluruhnya terepresi. Jika terjadi isolasi.8 2.6 b. afek dan iimpuls yang didapatkan darinya adalah dipisahkan dari komponen ideasional dan di keluarkan dari kesadaran. terlepas apakah ini berupa fantasi atau ingatan terhadap suatu peristiwa. Sering kali. Pembentukan gejala menyebabkan pembentukan sifat karakter. Seperti yang diungkapkan istilahnya.

memperingatkan adanya bahaya yang 7 .6 Ketika Bulan tidak bisa menghadapi stres dengan mekanisme pertahanan isolasi dan undoing. Hal ini menunjukkan kepribadian premorbid Bulan adalah perfeksionisme dan menunjang penegakan diagnosis gangguan kepribadian anankastik atau obsesif kompulsif dengan ciri utama perfeksionisme dan keteraturan (ketertiban. Kecemasan adalah sinyal yang menyadarkan.6 Dan hal tersebut dapat menjadi faktor risiko berkembangnya gangguan obsesif-kompulsif. baik menimpa dirinya sendiri maupun orang dicintainya. maka mekanisme selanjutnya ialah pembentukan reaksi(reaction formation). Gangguan obsesif kompulsif merupakan salah satu dari gangguan kecemasan. rapi dan disiplin.6 Isolasi ditunjukkan dengan Bulan yang telah berusaha untuk membuang pikiran negatif tersebut namun ia gagal dan akhirnya tetap menelpon Ayahnya. kata stroke merupakan momok yang sangat menakutkan. Dalam mengasuh anak-anaknya selalu menekankan ketelitian. kerapian. Akan tetapi tindakan kompulsifnya tidak bisa sepenuhnya menghilangkan kecemasana. hanya dapat menurunkan kadar kecemasan. kerapian)5 Gangguan ini memang dipengaruhi oleh pola asuh atau pola didik orang tua. Sifat karakter yang terbentuk ialah pikiran obsesif yang membuat Bulan terus menerus menjadi cemas dan mendorong untuk terus menelpon orang tuanya sebagai tindakan kompulsif. dan pembentukan reaksi. setiap selesai melakukan pekerjaan.Berdasarkan data tambahan. serta disiplin yang kaku dengan harapan agar anak-anaknya menjadi orang yang sukses. Dan pikiran obsesif dan tindakan kompulsif tetap timbul secara berulang-ulang. Pada pembentukan reaksi akan terbentuk sifat karakter atau pola perilaku Bulan dalam menghadapi masalah. meruntuhkan (undoing). bagi kebanyakan orang. Dan hal tersebut dapat menjadi stressor atau pencetus kecemasan Bulan. Sebenarnya Bulan yang memiliki gangguan obsesif-kompulsif berusaha mengatasi stres tersebut dengan mekanisme pertahanan isolasi. menunjukkan tindakan kompulsif yang telah dilakukan Bulan untuk meredakan kecemasannya. ayah dan ibu Bulan adalah tipe orang yang perfeksionis.6 Pada skenario dijelaskan bahwa Ayah Bulan menderita stroke ringan. Akhirnya Bulan menjadi anak yang selalu teliti. Orang dengan gangguan kepribadian anankastik sangat rentan terhadap perubahan yang tidak diharapkan. dia selalu melakukan cek dan recek sesuai dengan harapan orangtuanya. Dengan tindakan menelpon Ayahnya.

sebagai jumlah tertentu regresi yang esensial untuk relaksasi. dll. tremor. Bertindak keluar melibatkan secara kronik pemberian 2) Perilaku pasif–aggresif Mengekspresikan agresi terhadap lainnya secara tidak langsung melalui pasif. atau pikiran dihambat 4) Regresi Mencoba untuk kembali ke fase awal libidinal berfungsi untuk menghindari ketegangan dan bangkitan konflik pada tingkat sekarang pembangunan. gelisah. hipertensi. dan penyakit yang mempengaruhi orang lain lebih dari diri sendiri 3) Hambatan (Blocking) Hambatan pikiran secara sementara atau singkat. Pertahanan yang Imatur 1) Bertindak keluar (Acting out) Mengekspresikan suatu keinginan yang tidak disadari atau impuls melalui tindakan untuk menghindari kesadaran dari dampak yang menyertainya. hiperhidrosis. 8 . dan pada dorongan untuk menghindari ketegangan yang akan dihasilkan dari penundaan ekspresi. daripada larangan terhadapnya. Manifestasi dari perilaku pasif-aggresive termasuk kegagalan. Kecemasan segera mengarahkan seseorang untuk mengambil langkah yang diperlukan untuk mencegah ancaman atau meringankan akibatnya. regresi adalah fenomena normal juga. penundaan. tidak menenangkan. masokisme dan perubahan dirinya. itu mencerminkan kecenderungan dasar untuk memperoleh kepuasan instingtual pada periode yang kurang berkembang.6 Mekanisme inilah yang dapat mempengaruhi tindakan Bulan mencarter mobil rental untuk langsung menemui dan memastikan kondisi Ayahnya. perasaan. seringkali disertai oleh gejala otonomik seperti palpitasi.mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman. sehingga memuaskan dorongan. 3. takikardi. Afek dan impuls juga mungkin terlibat. Hambatan menyerupai represi tetapi berbeda dalam ketegangan yang muncul ketika dorongan. Perasaan tersebut ditandai oleh rasa ketakutan yang difus. tidur. Fantasi bawah sadar dihidupkan keluar menuruti kata hati dalam perilaku. Sensasi kecemasan sering dialami oleh hampir semua manusia. Klasifikasi Mekanisme Pertahanan a.

suatu contoh klasik adalah identifikasi dengan korban juga terjadi. dan neurasthenia. orang tersebut tidak sepenuhnya percaya pada fantasi dan tidak menuntut akting mereka keluar 6) Hipokondriasis Melebih-lebihkan atau terlalu menekankan penyakit untuk tujuan penghindaran dan regresi. Meskipun penting untuk pengembangan. Keintiman interpersonal adalah menghindari. atau impuls agresif yang tidak dapat diterima terhadap lainnya diubah menjadi celaan diri dan keluhan nyeri. dimana kualitas hukuman diri objek yang diambil alih dan didirikan dalam diri seseorang sebagai suatu ciri gejala atau karakter 8) Somatisasi Mengkonversi derivatif psikis menjadi gejala tubuh dan cenderung untuk bereaksi dengan manifestasi somatik.orgasme dalam intercouse seksual. itu dapat melenyapkan perbedaan antara subjek dan objek. rasa bersalah dapat dielakkan. Bila digunakan sebagai pertahanan. dalam resomatization. daripada manifestasi psikis. sehingga menempatkan agresi di bawah kontrol sendiri. kesadaran yang menyakitkan dari keterpisahan atau ancaman kehilangan dapat dihindari. Pada Hipokondriasis. tanggapan somatik infantil digantikan oleh melalui dan efek. Melalui introyeksi objek yang dicintai. pertanggungjawaban dapat dihindari. kesepian. juga melayani fungsi defensif spesifik. regresi juga dianggap sebagai concominant essensial dari proses kreatif 5) Fantasi Skizoid Terlibat dalam pengunduran autistik dalam rangka untuk menyelesaikan konflik dan untuk memperoleh kepuasan. Karena introyeksi hipokondriakal yang ego-alien. orang yang menderita mengalami disforia dan rasa penderitaan 7) Introyeksi Internalisasi kualitas suatu obyek. dan dorongan naluriah yang dihindari. dan eksentrisitas berfungsi untuk mengusir orang lain. Celaan yang timbul dari kehilangan. Introjeksi dari suatu objek yang ditakuti melayani untuk menghindari kecemasan ketika karakteristik agresif objek yang diinternalisasikan. orang regresi untuk membentuk somatik sebelumnya dalam menghadapi konflik yang tak terselesaikan 9 . Pada desomatisasi. penyakit somatik.

Alasan ini umumnya ditentukan secara naluriah 4) Disosiasi Bersifat sementara. Pembentukan reaksi adalah karakteristik neurosis obsesional. sikap dan gaya berpikir. termasuk impuls naluriah. 2) Penggantian (displacement) Mengubah emosi dari sebuah ide atau objek lain yang menyerupai aslinya dalam beberapa aspek atau kualitas. superego. tetapi secara drastis mengubah karakter seseorang atau identitas pribadi untuk menghindari tekanan emosional. untuk menghindari kecemasan yang timbul dari konflik dengan impuls insting. gangguan identitas disosiatif dan penggunaan farmakologis yang berlebihan 5) Eksternalisasi cenderung untuk melihat dunia luar dan unsur-unsur obyek eksternal dari kepribadiannya. Disosiasi juga dapat ditemukan dalam perilaku counterphobic. sendiri atau dalam kombinasi.b. konflik. Jika mekanisme ini sering digunakan pada tahap awal perkembangan ego. Pertahanan Neurotik 1) Pengendalian (controlling) mencoba untuk mengelola atau mengatur peristiwa atau objek di lingkungan untuk meminimalkan kecemasan dan menyelesaikan konflik internal. Offset memungkinkan representasi simbolis dari gagasan asli atau objek yang kurang sangat cathected atau membangkitkan kecemasan kurang 3) Rasionalisasi Memberikan penjelasan yang rasional dalam upaya untuk membenarkan sikap. Fugue negara dan konversi menjadi reaksi histeris adalah manifestasi umum dari disosiasi. atau kekuatan lingkungan atau tokoh 10 . ini bisa menjadi suatu sifat yang permanen. Eksternalisasi adalah istilah yang lebih umum dibandingkan proyeksi 6) Pembentukan reaksi (reaction formation) mengubah impuls yang tidak dapat diterima menjadi kebalikannya. seperti dalam karakter obsesif 7) Inhibisi Secara sadar membatasi atau menolak beberapa ego. namun juga dapat terjadi dalam bentuk neurosis lain. suasana hati. keyakinan atau perilaku yang mungkin tidak dapat diterima.

Represi primer berarti menahan ide-ide dan perasaan sebelum mereka mendapatkan kesadaran: represi sekunder menghilangkan kegelisahan atas apa yang pernah dirasakan pada keadaan sadar. Isolasi sosial terjadi karena tidak adanya hubungan antar objek 11) Isolasi Penekanan tidak semestinya terfokus pada benda mati untuk menghindari keintiman dengan orang. Pertahanan Matur 1) Altruisme menggunakan layanan konstruktif dan intuitif yang memuaskan kepada orang lain yang pengalaman tersebut seolah-olah ikut dirasakan. Pertahanan ini berbeda dari supresi akibat penghambatan impuls sadar dan tidak hanya menunda tujuan yang berharga. di mana pengiriman kepuasan segera atau kebutuhan naluriah terjadi dalam mendukung kebutuhan orang lain untuk menyakiti dirinya sendiri. Intellectualisasi erat kaitannya dengan rasionalisasi c. Penekanan tidak sepenuhnya terlupakan dalam perilaku simbolis yang mungkin hadir.8) Represi Menolak atau menahan ide-ide atau perasaan secara sadar. dan kepuasan hanya bisa dinikmati melalui introyeks 2) Humor menggunakan komedi untuk membuka perasaan dan pikiran mereka tanpa ketidaknyamanan pribadi atau imobilisasi dan tanpa menghasilkan efek tidak 11 . 10) Seksualisasi menyediakan suatu obyek atau fungsi dengan signifikansi seksual yang sebelumnya tidak dimiliki tingkat yang lebih rendah untuk menghindari kecemasan yang terkait dengan impuls dilarang atau turunannya membagi atau memisahkan ide dari efek yang menyertai. Persepsi sadar naluri dan perasaan terblokir pada represi 9) Intelektualisasi Penggunaan proses intelektual yang berlebihan untuk menghindari ekspresi atau pengalaman afektif. perhatian diberikan pada realitas eksternal untuk menghindari ekspresi perasaan batin. Altruisme dibedakan dari pasrah altruistik. Ini termasuk pembentukan reaksi yang ramah dan konstruktif. dan stres yang berlebihan ditempatkan pada rincian yang tidak relevan.

tetapi dorongan untuk mengubah tujuan atau objek ke dapat diterima secara sosial. dan kepuasan naluriah sederhana terjadi 5) Ascetisme menghilangkan efek dari pengalaman menyenangkan. Preokupasi dengan hal-hal yang rinci / details. daftar. tetapi fokus pada apa yang terlalu mengerikan untuk terjadi. Mekanismenya adalah tujuan yang diarahkan dan menyiratkan perencanaan secara hati-hati atau khawatir dan prematur tetapi realistis untuk mengantisipasi afek yang berbahaya atau berpotensial berbahaya 4) Sublimasi Mencapai kepuasan dan tujuan yang bertahan.menyenangkan pada orang lain. Ketidaknyamanan diakui tetapi diminimalkan B. Kepuasan berasal dari penolakan. tapi berbeda dari intelijen. Ada unsur moral dalam membangun nilai untuk kesenangan tertentu. urutan. organisasi. dan ascetisim diarahkan terhadap semua kesenangan yang dirasakan secara sadar. 6) Supresi Secara sadar atau semisadar menunda perhatian atas impulse atau konflik. daripada diblokir atau dialihkan. atau jadwal c. Kepribadian Anankastik Penegakan Diagnosis Untuk diagnosis paling sedikit dibutuhkan 3 dari : a. peraturan. Hal ini memungkinkan orang untuk mentolerir. Ketelitian yang berlebihan. Perasaan ragu-ragu dan hati-hati yang berlebihan b. dan diarahkan menuju objek yang signifikan atau tujuan. yang melibatkan bentuk perpindahan dari gangguan masalah afektif. 3) Antisipasi Mengantisipasi atau berencana secara realistis atas ketidaknyamanan di masa depan. Sublimasi memungkinkan naluri untuk didistribusikan. Perasaan diakui. terlalu hati-hati dan keterikatan yang tidak semestinya pada produksivitas sampai mengabaikan kepuasan dan hubungan interpersonal 12 . Perfeksionisme yang mempengaruhi penyelesaian tugas d. Masalahnya mungkin sengaja ditahan. tetapi mereka tidak dihindari. dimodifikasi.

atau keengganan yang tak beralasan untuk mengizinkan orang lain mengerjakan sesuatu h. Diagnosis Banding a. Kaku dan keras kepala g. dan sebanak dua prtiganya memenuhi kriteria diagnosis untuk gangguan obsesif kompulsif. Gangguan Obsessif Kompulsif b. c. Mencampuradukan pikiran atau dorongan yang memaksa dan yang enggan C.6 Gejala utamanya ialah gerakan tic (spontan) dan suara tidak terkendali yang bermanifes awal pada masa anka.e.9 Karena tidak ada informasi mengenai kondisi kesehatan pasien. gangguan ini dapat disingkirkan. Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif Pada gangguan kepribadian obsesif kompulsif tidak terdapat gangguan fungsi (function impairment). Gangguan Obsesif Kompulsif 1. Pemaksaan yang tak beralasan agar orang lain mengikuti persis caranya mengerjakan sesuatu. Kira-ira 90% pasien dengan gangguan Tourette memiliki gejala kompulsif. 13 . Keterpakuan dan keterikatan yang berlebihan pada kebiasaan sosial f. Gangguan Kecemasan karena Kondisi Medis Umum 1) Gangguan Tourette Gangguan touretete dan gangguan obsesif kompulsif memiliki onset usia yang sama dan gejala yang mirip. gerakan tersebut dapat berupa kedipan mata berulang yang tidak disadari (gerakan tic ringan).

gejala obsesif atau tindakan kompulsif atau kedua-duanya. bayangan pikiran. 2) Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan. Cara Diagnosis Pedoman diagnosis menurut PPDGJ:10 a.2. Untuk menegakan diagnosis pasti. tidak dianggap sebagai kesenangan seperti dimaksud diatas). 3) Pikiran untuk melakukan tindakan tsb diatas bukan merupakan hal yang memberi kepuasan atau kesenangan (sekedar perasaan lega dari ketegangan atau anxietas. 1) Harus disadari sebagai pikiran atau impuls dari diri sendiri . meskipun ada lainnya yang tidak lagi dilawan oleh penderita. 4) Gagasan. harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya 2 minggu berturut-turut. atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan (unpleasantly repetitive) 14 .

menghitung. tetapi perilaku atau tindakan mental tsb tidak dihubungkan dengan cara yang realistic dengan apa merka anggap untuk menetralkan atau mencegah. atau gangguan mental organic. Gejala. Pada suatu waktu dalam perjalanan gangguan. dan menyebabkan kecemasan dan penderitaan yang jelas. berdoa. Gejala obsesif ’sekunder’ yang terjadi pada gangguan skizophrenia. mencuci tangan. terutama pikiran obsesif dengan depresi. 2). dan 4) : 1) Pikiran. sebagai intrusive dan tidak sesuai. atau jelas berlebihan. mengurutkan. memeriksa) atau tindakan mental (misalnya. 4) Orang menyadari bahwa pikiran. harus dianggap sebagai bagian dari kondisi tersebut Kriteria diagnosis menurut DSM-IV:6 a. impuls atau bayangan-bayangan yang rekuren dan persisten yang dialami. 2) Perilaku (misalnya. e. Hal tersebut merupakan sumber penderitaan (distres) atau mengganggu aktivitas penderita. 2) Pikiran. 3). impuls atau bayangan-bayangan tsb untuk menetralkan dengan pikiran atau tindakan lain. Kompulsi seperti yang didefinisikan 1) dan 2) : 1) Perilaku berulang yang dirasakan mendorong untuk melakukannya sebagai respon terhadap suatu obsesi atau menurut dengan aturan yang harus dipatuhi secara kaku. Salah satu obsesi atau kompulsi : Obsesi seperti yang didefinisikan oleh 1). impuls atau bayangan-bayangan tidak semata-mata kekhawatiran yang berlebihan tentang masalah kehidupan yang nyata. mengulangi kata-kata dalam hati ) ditujukan untuk mencegah suatu kejadian atau situasi menakutkan . b. 3) Orang berusaha untuk mengabaikan atau menekan pikiran. pada suatu saatselama gangguan. Ada kaitan erat antara gejala obsesif. c. sindrom Tourette.b.gejala obsesif harus mencakup hal-hal berikut : d. impuls atau bayangan-bayangan obsesional adalah keluar dari pikirannya sendiri (tidak disebabkan dari luar seperti penyisipan pikiran. Catatan : tidak berlaku untuk anak-anak 15 . orang telah menyadari bahwa obsesi atau kompulsi adalah berlebihan atau tidak beralasan.

The Positive Symptomp Distress Index (PSDI). atau secara bermakna mengganggu rutinitas normal orang. norma B (974 bukan 16 .80 dengan signifikansi p < 0. bisa dilakukan dengan: a. selama sebagian besar waktu selama episode terakhir. Anxiety (ANX). atau aktivitas. orang tidak menyadari bahwa obsesi dan kompulsi adalah berlebihan atau tidak beralasan Reportcard Symptom distress Scale. Sebutkan jika : dengan tilikan buruk: jika.15 Diagnosa biasanya ditegakkan berdasarkan penuturan penderita mengenai perlakunya. menghabiskan waktu (menghabiskan waktu lebih dari 1 jam sehari). and the Possitive Symptomp Total (PST) 2) Norma yang digunakan berdasarkan spesifik gender terbagi 4 kelompok: norma A (1002 pasien psikiatrik dewasa rawat jalan). atau hubungan social yang biasanya. medikasi ) atau kondisi umum. Obsessive compulsive (O-C). d. Tidak disebabkan oleh efek langsung suatu zat (misalnya. aitem dari 1 sampai 6 mengukur tingkat ke obsesifan dan 7 sampai 10 mengukur tingkat ke kompulsifan seseorang 5) Alat ini mengukur tingkat dan tipe-tipe dari gangguan obsesif kompulsif tersebut pada diri individu 6) Koefisien reliabilitasnya r= 0.c. isi obsesi atau kompulsi tidak terbatas padanya (misalnya menarik rambut pada trikotilomania. The symptom checklist 90 1) Skala ini mengukur somatization (SOM). and Additional Aitem. obat yang disalahgunakan. fungsi pekerjaan (atau akademik). Phobic Anxiety (PHOB). Hostility (HOS). preokupasi obat jika terdapat gangguan penggunaan zat) e. Interpersonal sensivity (I-S).05 7) Validitas konvergen dari Y-B OCD baik b. The Global severity Index (GSI). Psychotism (PSY). Jika terdapat gangguan aksis I lainnya. permasalahan pada penampilan jika terdapat dismorfik tubuh. Obsesi atau kompulsi menyebabkan penderitaan yang jelas. The Yale-Brown Obsessive Compulsive Scale 1) Alat tes ini pernah diujikan kepada 81 pasien obsesif kompulsif 2) Item tesnya sebanyak 10 aitem dengan rating klinis 3) Pengukuran dalam skalanya dari rentang 0 sampai 4 tiap aitemnya 4) Dari 10 aitem. Deppression (DEP). Paranoid Ideation (PAR).

dan ia dipaksa untuk melakukan tindakan tertentu berulang-ulang.5 Gangguan Kepribadian Anankastik : Belum Dapat Ditentukan : Masalah berkaitan dengan kondisi kesehatan ayahnya. dll. dirasakan mengganggu dan tidak sesuai.2 Gangguan Obsesif-Kompulsif Campuran : F. Diagnosis Multiaksial Aksis I Aksis II Aksis III Aksis IV Aksis V : F. Pikiran. atau bayangan yang berulang-ulang dan menetap yang dialami. impuls. 17 . atau bayangan tersebut untuk menetralkannya dengan pikiran atau tindakan lain. Pikiran. sekolah.7 Obsesi kompulsi adalah suatu kondisi heterogen yang melibatkan pikiran distress yang tidak diinginkan dan ritual kompulsif mengenai satu atau beberapa tema-tema umum seperti kontaminasi. Beberapa telah menyarankan bahwa skala klasifikasi tersebut mungkin telah digunakan dalam memahami fenomenologi GOK dan meramalkan respon pengobatan Dalam DSM-IV TR obsesi didefinisikan sebagai berikut:6 a. 80 sampai 0. dimana pikiran seseorang dipenuhi oleh gagasan-gagasan yang menetap dan tidak terkontrol. norma C (423 pasien psikiatrik dewasa yang rawat inap). pkerejaan. pada suatu saat selama gangguan. Temuan penelitian umumnya bergabung untuk menyarankan bahwa pasien dengan gangguan obsesif kompulsif (GOK) dipercaya dapat dikelompokkan menjadi subkelompok berdasarkan gejala konten. disanilitas ringan dalam sosial. 3. impuls. atau bayangan tidak hanya kekhawatiran berlebihan tentang masalah kehidupan yang nyata c.60. agama. Orang berusaha untuk mengabaikan atau menekan pikiran. impuls. norma E (806 pasien remaja psikiatrik rawat jalan) 3) Reliabilitas alat tes ini berkisarrentang 0. sehingga menimbulkan stress dan mengganggu fungsinya dalam kehidupan sehari-hari.42.pasien dewasa psikiatrik). b. Definisi Gangguan obsesif kompulsif adalah gangguan cemas. dan menyebabkan kecemasan dan penderitaan yang jelas. simetri. 4. : GAF Scale 70-61 : beberapa gejala ringan dan menetap.90 4) Validitas alat ini masih rendah karena belum ada komparasi dengan alat tes lain.

Fungsi serotonin di otak ditentukan oleh lokasi system proyeksinya. serta individu merasakannya sebagai hal yang tidak rasional dan tidak dapat dikontrol.7 Sedangkan kompulsi adalah perilaku atau tindakan mental yang berulang. dimana individu merasa didorong untuk menampilkannya agar mengurangi stres. khususnya kurangnya jumlah serotonin. Etiologi a.6 18 . b. Data menunjukkan bahwa obat serotonergik adalah lebih efektif dibandingkan obat yang mempengaruhi sistem neurotransmitter lain. atau bayangan obsesional adalah hasil dari pikirannya sendiri (tidak disebabkan dari luar seperti penyisipan pikiran) Pengertian obsesi adalah pikiran. Faktor Biologis 1) Neurotransmitter Salah satu penjelasan yang mungkin tentang gangguan obsesifkompulsif adalah keterlibatan neurotransmitter di otak. mengulangi kata-kata dalam hati) yang dirasakannya mendorong untuk melakukan sebagai respon terhadap suatu obsesi. atau menurut dengan aturan yang harus dipenuhi secara kaku. 5. Perilaku berulang (misalnya.d. perilaku atau tindakan mental tersebut tidak dihubungkan dengan cara yang realistik dengan apa yang mereka maksudkan untuk menetralkan atau mencegah. ide atau sensasi yang muncul secara berulang-ulang. melainkan sebagai pembentuk dari gangguan ini. atau secara jelas berlebihan. mengurutkan.7 Dalam DSM-IV TR mendefinisikan kompulsi sebagai berikut:6 a. Proyeksi pada konteks frontal diperlukan untuk pengaturan mood. Keterlibatan serotonin ini belum sebagai penyebab individu mengalami gangguan obsesif kompulsif. impuls. Orang menyadari bahwa pikiran.6 Dan hal-hal tersebut muncul tanpa dapat dicegah. menghitung. akan tetapi. memeriksa) atau tindakan mental (misalnya berdoa. mencuci tangan. proyeksi pada ganglia basalis bertanggung jawab pada gangguan obsesi kompulsi11 Banyak uji coba klinis yang telah dilakukan terhadap berbagai obat mendukung hipotesis bahwa suatu disregulasi serotonin adalah terlibat di dalam pembentukan gejala obsesi dan kompulsi dari gangguan. Perilaku atau tindakan mental ditujukan untuk mencegah atau mengurangi penderitaan atau mencegah suatu kejadian atau situasi yang menakutkan.

stimulus yang relative netral menjadi disertai dengan ketakutan atau kecemasan.6 4) Data biologi lain Suatu insidensi kelainan EEG nonspesifik yang lebih tinggi dari biasanya telah ditemukan pada pasien gangguan obsesif kompulsif. obsesi adalah stiuli yang dibiasakan.6 a) Fungsional (PET.Beberapa peneliti telah mengatakan bahwa sisstem neurotransmitter kolinergik dan dopaminergik pada pasien gangguan obsesif-kompulsif adalah dua bidang penelitian riset untuk di masa depan. seperti nonsupresi pada dexamethason suppression test pada kira-kira 1/3 pasien dan penurunan sekresi hormin pertumbuhan pada impuls clonidine. positron emission tomography) peningkatan aktivitas metabolism dan aliran darah di lobus frontalis. ganglia basalis (khususnya kaudata) dan singulum pada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif b) Struktural (CT dan MRI) penurunan ukuran kaudata secara bilateral. Penelitian neuroendocrine juga telah menemukan beberapa kemiripan dengan gangguan depresif. Fusi antara pikiran dan tindakan ini dapat disebabkan 19 .6 2) Penelitian pencitraan otak. Penelitian EEG tidur telah menemukan kelainan yang mirip dengan yang terlihat pada gangguan depresif.6 b.6 Strategi menghindar yang aktif dalam bentuk perilaku kompulsif atau ritualistic yang dikembangkan untuk menghilangkan kecemasan. Peningkatan pada kembar monozigot dibandingkan kembar dizigot. Faktor perilaku Menurut ahli teori belajar. seperti penurunan latensi REM. peningkatan relaksasi T1 di korteks frontalis) 3) Genetika Penelitian keluarga pada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif telah menemukan bahwa 35% sanak saudara derajat pertama pasien juga menderita gangguan. Ini disebut “thought-action fusion” (fusi pikiran dan tindakan).9 Pasien juga menyetarakan pikiran dengan tindakan atau aktifitas tertentu yang dipresentasikan oleh pikiran tersebut.

13 2) Perspektif behavioristik Para ahli tingkah laku mengemukakan bahwa obsesif kompulsif adalah perilaku yang dipelajari. dimana pikiran jahat diasosiasikan dengan niat jahat. Teori Behavioral menganggap kompulsi sebagai perilaku yang dipelajari yang dikuatkan oleh redukasi yang kuat.oleh sikap-sikap tanggung jawab yang berlebih-lebihan yang menyebabkan timbulnya rasa bersalah seperti yang berkembang selama masa kanak-kanak. dan diperkuat dengan berkurangnya rasa takut.12 c. obsesif-kompulsif timbul dari dayadaya instinktif seperti seks dan agresivitas. Sedangkan Adler memandang obsesif kompulsif sebagai hasil dari perasaan tidak kompeten. 2) Faktor psikodinamik Adanya 3 mekanisme pertahanan psikologis utama tang menentukan bentuk.13 3) Perspektif kognitif Ide lain yang muncul adalah kompulsi memeriksa terjadi karena defisit ingatan. Faktor psikososial6 Menurut Sigmund Freud. 4) Pikiran magis Regresi yang mngungkapkan cara pikiran awal ketimbang impuls d. Ketidakmampuan untuk mengingat beberapa tindakan dengan akurat. gangguan obsesif-kompulsif bisa disebabkan karena regresi dari fase anal dalam perkembangannya. yang tidak berada di bawah kontrol individu karena toilet-training yang kasar. kualitas dari gejala dan sifat karekter obsesif kompulsif. Mekanisme pertahanan psikologis mungkin memegang peranan pada beberapa manifestasi pada gangguan obsesif-kompulsif. Perspektif menurut aliran-aliran 1) Perspektif psikoanalisis Menurut pandangan psikoanalisa. Represi perasaan marah terhadap seseorang mungkin menjadi alasan timbulnya pikiran berulang untuk menyakiti orang tersebut. 3) Ambivalensi Akibat perubahan langsung dalam karakteristik kehidupan impuls. 20 pasien gangguan obsesif kompulsif memiliki sifat obsesional .6 1) Faktor kepribadian 15-35% premorbid.

Kecemasan terhadap suatu objek tadi sudah meluas menjadi perasaan tidak enak atau tidak menentu.13 Tahap kedua. Tahap pertama adalah adanya rangsangan yang menimbulkan kecemasan. Sebagai kompensasinya penderita menentukan strategi perilaku yang enak baginya dan perilaku ini menetap menjadi kompulsif akibat negative reinforcement. akhirnya menimbulkan persepsi kecemasan. gagasan-gagasan atau bayangan-bayangan bahkan objek-objek lain. Prinsip menakutkan. Penyebarluasan ini mengaburkan asal-usul rangsangan tadi. Umumnya gangguan 21 . Teori ini mengatakan bahwa gangguan obsesi kompulsif pada oran-orang tertentu di “kreasi” oleh dirinya sendiri. Sedangkan pemikiran obsesif muncul karena ketidakmampuan atau kesulitan untuk mengabaikan stimulus 7.atau untuk membedakan antara perilaku yang benar-benar dilakukan dan imajinasi seseorang memeriksa berkali-kali. banyak berkurangnya tetapi sedikitnya dapat menerangkan kenapa kompulsi bertahan sebagai alat mengurangi rasa cemas. Prevalensi Prevalensi penderita gangguan ini adalah sekitar 1-2 % dari populasi. Tahap berikutnya adalah upaya menetralisasi kecemasan yang masih ada dengan rangkaian kata-kata.13 6. yang salah. Respon-respon ini menimbulkan negative reinforcement akibat berkurangnya rasa cemas. Gangguan obsesi kompulsi ini didapat secara dua tahap. 6) Cognitive behavior therapy Oleh Carr tahun 1971 dan dikembangkan oleh McFall dan Wollensheim tahun 1979. yang keliru dan Pencetusnya bisa menambahkan disebabkan oleh kejadaian sehari-hari.11 4) Teori belajar (Learning theory) Gabungan dari teori dan pengalaman dalam aplikasi terapi perilaku timbul beberapa konsep terjadinya gangguan obsesi kompulsi13 5) Mowre’s two stage theory Mowrer mengajukan teori ini di tahun 1939 dan dikembangkan oleh Dollard dan Miller di tahun 1950. dengan jumlah penderita perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Reaksi yang timbul adalah menghindari (escape) atau menolak (avoidance).

Onset rata-rata adalah kira-kira 20 tahun. dan lebih 22 . laik-laki lebih sering terkena gangguan obsesif kompulsif dibandingkan dengan perempuan. Prevalensi seumur hidup gangguan obsesif kompulsif pada populasi umum diperkirakan adalah 2 samai 3 persen. 7. fobia spesifik. Usia : Umumnya usia rata-rata penderita obsesif-kompulsif adalah antara 22-36 tahun. sedangkan pada perempuan berhubungan dengan kompulsi membersihkan13. Pada laki-laki berhubungan dengan kompulsi memeriksa. Anak sulung : Anak sulung cenderung lebih teliti.terjadi pada masa dewasa muda. lebih kuat. Walaupun lakilaki memiliki onset yang lebih awal (rata-rata 19 tahun) dibandingkan wanita (rata-rata 22 tahun). Prevalensi seumur hidup untuk gangguan obsesif kompulsif adalah kira-kira 67 persen dan untuk fobia sosial kira-kira 25 persen. gangguan berhubungan zat. Secara keseluruhan. gangguan panic dan gangguan makan. Gangguan obsesif-kompulsif dapat memiliki onset pada masa remaja atau masa anak-anak.11 c. Hanya 15 % yang muncul pada usia diatas 35 tahun. Beberapa peneliti telah memperkirakan bahwa gangguan obsesif kompulsif ditemukan sebanyak 10 persen pasien rawat jalan di klinik psikiatri. laki-laki dan wanita memiliki peluang yang sama untuk menderita gangguan obsesif gangguan obsesif kompulsif.6 Penderita kompulsif yang lebih banyak adalah perempuan dengan kemungkinan karena pencetus terbanyak terjadinya gangguan obsesif kompulsif adalah kehamilan.6 b. Diagnosis psikiatrik komorbid lainnya pada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif adalah gangguan alkohol. Onset Kaitan dengan kasus: a.13 Namun untuk remaja. kira-kira per tiga dari pasien memilki onset gejala sebelum 25 tahun. mempunyai ambisi. dan gangguan depresi berat. Angka tersebut menyebabkan gangguan obsesif kompulsif sebagai diagnosis psikiatri tersering yang keempat adalah fobia. Jenis Kelamin : Untuk dewasa. dan agresif dibandingkan adik-adiknya. dan seringkali mengikuti serangkaian peristiwa yang menimbulkan stres besar. Secara insting orangtua biasanya memberi tanggung jawab lebih besar kepada anak sulung karena dianggap lebih tua.

Objek yang ditakuti biasanya sulit untuk dihindari. d. atau implus tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan (unpleasantly repetitive). b. c. b. Harus disadari sebagai pikiran atau implus dari diri sendiri. urine. bayangan pikiran. Kontaminasi Obsesi akan kontaminasi biasanya diikuti oleh pembersihan atau kompulsi menghindar dari objek yang dirasa terkontaminasi. Manifestasi Klinis Gejala-gejala obsesif-kompulsif menurut PPDGJ-III. atau kuman. Gagasan. tidak dianggap sebagai kesenangan seperti dimaksud di atas). debu. Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut di atas bukan merupakan hal yang memberi kepuasan atau kesenangan (sekedar perasaan lega dari ketegangan atau anxietas. Pemikiran yang Mengganggu Obsesi ini biasanya meliputi pikiran berulang tentang tindakan agresif atau seksual yang salah oleh pasien. Simetri Kebutuhan untuk simetri atau ketepatan akan menimbulkan kompulsi kelambanan. harus mencakup hal-hal sebagai berikut:10 a. Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan. Keraguan Patologis Obsesi ini biasanya diikuti oleh kompulsi pemeriksaan berulang. Pasien memiliki keraguan obsesif dan merasa selalu merasa bersalah tentang melupakan sesuatu atau melakukan sesuatu. meskipun ada lainnya yang tidak lagi dilawan oleh penderita.berpengalaman. Pasien membutuhkan waktu berjam – jam untuk menghabiskan makanan atau bercukur. Gejala pasien gangguan obsesif – kompulsif mungkin berubah sewaktu – waktu tetapi gangguan ini mempunyai empat pola gejala yang paling sering ditemui. c. misalnya feces. yaitu : a.14 Hal ini mungkin berkaitan dengan kepribadian Bulan yang perfeksionis (gangguan kepribadian anankastik) 8. Beberapa gejala yang berhubungan dengan gangguan obsesif – kompulsif adalah sebagai berikut : 23 . d.

feces. kontaminasi) Perhatian terhadap ketepatan Perhatian terhadap peralatan rumah tangga (piring. Karena clomipramine adalah suatu obat trisiklik. Tatalaksana a. mencuci dan membersihkan yang berlebihan Ritual mengatur posisi berulang – ulang Memeriksa berulang – ulang dan membuat inventaris peralatan Ritual menghindari kontak dengan sekret tubuh. sendok) Perhatian terhadap sekresi tubuh (ludah. kompor. memainkan alat musik dengan suatu ritual yang beragam Pendekatan standar adalah memulai dengan obat spesifik serotonin (sebagai contoh clomipramine (Anafranil) atau inhibitor ambilan kembali spesifik serotonin (SSRI) seperti fluoxetine (Prozac) dan selanjutnya pindah ke farmakologis lainnya apabila tidak respon terhadap obat spesifik serotonin).OBSESI Perhatian terhadap kebersihan (kotoran. berbicara. obat ini disertai dengan efek samping yang biasanya dari obat tersebut. termasuk sedasi. disfungsi seksual. diet yang terbatas. Clomipramine. menghindari sentuhan Ritual keagamaan yang berlebihan (berdoa sepanjang hari) Ritual berhubungan seksual yang kaku Rituall berulang (pemeriksaan tanda vital berulang. urine) Obsesi religius Obsesi seksual (nafsu terlarang atau tindakan seksual yang agresif) Obsesi terhadap kesehatan (sesuatu yang buruk akan terjadi dan menimbulkan kematian) Onsesi ketakutan (menyakiti diri sendiri atau orang lain) Pemikiran mengganggu tentang suara. Obat standar untuk pengobatan gangguan obsesif kompulsif adalah clomipramine. dan efek samping antikolinergik (sebagai contohnya mulut kering). Clomipramine biasanya dimulai dengan dosis 25 sampai 50 mg sebelum tidur dan dapat ditingkatkan dengan peningkatan 25 mg sehari setiap 2 sampai 3 hari. hipotensi. kata – kata atau musik 9. kuman. Kemanjuran clomipramine dalam gangguan obsesif-kompulsif didukung oleh banyak uji coba klinis. gembok dan rem darurat berulang – ulang Menghitung. mencari informasi tentang kesehatan dan kematian Pemeriksaan pintu. menulis. suatu obat trisiklik spesifik serotonin yang juga digunakan untuk pengobatan gangguan depresif.6 24 . Farmakoterapi KOMPULSI Ritual mandi. sampai dosis maksimum 250 mg sehari atau tampaknya efek samping yang membatasi dosis.

sakit kepala. dizziness 75 375 Dizziness. Beberapa uji coba klinis telah menunjukkan manfaat fluoxetine dan sertraline dalam gangguan obsesif kompulsif. disfungsi seksual. kadang-kadang digunakan sebagai obat lini pertama dalam pengobatan gangguan obsesif-kompulsif. lemah) b.SSRI. peningkatan BB.6 Pengobatan Selective Serotonin Reuptake Inhibitor Fluoxetine (prozac) Fluvoxamine (luvox) Sertraline (paxil) Paroxetine (paxil) Citalopram (celexa) Escitalopram (lexapro) Clomipramine (anafranil.6 Obat lain. mual. Obat lain yang dapat dicoba dalam pengobatan gangguan obsesif kompulsif adalah inhibitor monoamin oksidase (MAOI) khususnya phenelzine. disfungsi seksual Gangguan akomodasi. sedasi. mulut kering. tricyclic antidepressant) Venlafaxine (effexor) Dosis Inisial Harian mg 20 50 20 20 20 10 25 . sedasi. penurunan libido. dan paroxetine mungkin juga efektif. mual dan efek samping gastrointestinal. mual. Walaupun SSRI adalah disertai dengan overstimulasi. terapi perilaku adalah sama efektifnya dengan farmakoterapi pada gangguan obsesif-kompulsif. mual. insomnia. sakit kepala. withdrawl syndrome (dizziness. Terapi Perilaku6 Walaupun beberapa perbandingan telah dilakukan. Penelitian tentang fluoxetine dalam gangguan obsesif-kompulsif telah menggunakan dosis sampai 80 mg setiap hari untuk mencapai manfaat terapeutik. SSRI sebagai suatu kelompok adalah ditoleransi dengan lebih baik daripada obat trisiklik dan dengan demikian. banyak ahli terapi memperkuat obat pertama dengan menambahkan Lithium. Jika pengobatan dengan clomipramine atau sesuatu SSRI tidak berhasil. penurunan BB. insomnia. kegelisahan. dan 25 . Fluvoxamine juga telah terbukti efektif dalam mengobati gangguan obsesif kompulsif. nyeri kepala.50 Dosis Target Harian mg 80 300 200 60 60 Tidak diketahui 250 Efek Samping Anxietas. diare. pandangan kabur. parastesia.

beberapa data menyatakan bahwa efek bermanfaat adalah berlangsung lama dengan terapi perilaku. dan pembiasaan tegas juga telah digunakan pada pasien gangguan obsesif-kompulsif. Jika rangsangan kompulsif muncul maka pasien secara aktif diberanikan untuk melawan tingkah laku kompulsif. terapi implosi. banyak klinisi mempertimbangkan terapi perilaku sebagai terapi terpilih untuk gangguan obsesif kompulsif.6 Terapi perilaku pada penderita OCD. Dalam terapi perilaku pasien harus benar-benar menjalankannya untuk mendapatkan perbaikan. 26 . 3) Penurunan kecemasan Tujuan dari terapi ini untuk menghilangkan kecemasan yang menimbulkan gejala obsesif dan kompulsif. Teknik terapi perilaku yang dianjurkan pada anak dan remaja: 1) Latihan relaksasi Pasien diminta untuk berpikir dan bersikap rileks dan kemudian pasien diminta untuk memikirkan pikiran obsesi masuk dalam alam sadar. isyarat faktor internal dan fakto eksternal. sering dengan mengalihkan perhatian pasien sehingga tindakan kompulsif tidak mungkin dilakukan misalnya dengan memukul meja. misalnya dengan cara memukul maja. Dengan demikian. Pendekatan perilaku utama pada pada gangguan obsesif-kompulsif adalah pemaparan dan pencegahan respon. awalnya mengumpulkan informasi yang lengkap mengenai riwayat timbulnya gejala OCD. 2) Response prevention technique Mula-mula didapatkan dulu rangsangan (stimulus) atau pencetus yang menyebabkan dorongan untuk melakukan tindakan kompulsif. menghentikan pikiran. Kemudian mengawasi tingkah laku pasien dala menghindari situasi yang menimbulkan kecemasan. Ketika pikiran obsesi muncul. Desensitisasi. Terapi perilaku dapat dilakukan pada situasi rawat inap maupun rawat jalan. serta faktor pencetus akan timbulnya gejala OCD. pembanjiran. atau menarik tali elastic yang diikatkan pada tangan. menghindari timbulnya gejala kompulsif dan tingkat kecemasan pasien saat timbul gejala OCD harus diperiksa secara teliti. Hal ini dilakukan di rumah atau di mana saja. maka terapi akan meminta pasien untuk menghentikan pemikiran itu.

Dengan kontak teratur terhadap profesional. hal-hal yang kotor. d.Hal ini dilakukan dengan desensitisasi secara sistematik yakni dengan menghadapkan anak atau remaja pada situasi yang menakutkan (misalnya pisau. penjelasan. Kadang. atau bahwa hasil pekerjaan harus selalu 27 . Namun karena pikiran-pikiran yang mengganggu dan perilaku kompulsif bersifat melindungi ego dari konflik yang direpres. Rational-Emotive Behavior Therapy Menurut Davison & Neale terapi ini digunakan dengan pemikiran untuk membantu pasien menghapuskan keyakinan bahwa segala sesuatu harus terjadi menurut apa yang mereka inginkan. Pendekatan Psikoanalisa Terapi yang dilakukan adalah mengurangi represi dan memungkinkan pasien untuk menghadapi hal yang benar-benar ditakutinya. c. Exposure and Response Prevention Terapi ini (dikenal pula dengan sebutan flooding) diciptakan oleh Victor Meyer (1966). support. diberi dorongan. nasihat tentang bagimana menangani dan merespon pasien tersebut. masukan. dan terapi psikoanalisa tidak terlalu efektif untuk menangani gangguan obsesif-kompulsif. pegangan pintu dan sebagainya) secara pelan-pelan samapai ketakutan dan kecemasan hilang atau tidak ada lagi. Pihak keluarga juga penting dalam psikoterapi. dimana pasien menghadapkan dirinya sendiri pada situasi yang menimbulkan tindakan kompulsif atau (seperti memegang sepatu yang kotor) dan kemudian menahan diri agar tidak menampilkan perilaku yang menjadi ritualnya membuatnya menghadapi stimulus yang membangkitkan kecemasan.13 e. Psikoterapi6 Psikoterapi jelas ambil bagian dalam terapi pasien obsesif kompulsif. Untuk pelengkap dukungan emosional. sehingga memungkinkan kecemasan menjadi hilang. maka hal ini menjadi sulit untuk dijadikan target terapi. motivasi.13 f. pasien mungkin mampu berfungsi. bila intensitas ritual dan kecemasan tidak dapat lagi ditoleransi. Walaupun gejala dengan berbagai derajat keparahan. Tanpa hal tersebut akan menyebabkan gangguan bagi mereka. penentraman. maka perlu dirawat dirumah sakit dan penampungan institusi untuk menghilangkan stress lingkungan eksternal dan menurunkan gejala sampai tingkat yang dapat ditoleransi.

Adanya gagasan yang terlalu dipegang (overvalued) (yaitu penerimaan obsesi dan kompulsi) h. Adanya peristiwa pencetus c. merupakan teknik pengobatan yang sangat penting bila pada keluarga pasien OCD ini didapatkan kekacauan hubungan dalam keluarga. Terapi kognitif dari Beck juga dapat digunakan untuk menangani pasien gangguan obsesif kompulsif. Suatu sifat gejala yang episodik Prognosis yang buruk ditandai oleh : a.7 g. Kompulsi yang aneh (bizzare) d. Prognosis Dubia ad Bonam. Gangguan kepribadian (terutama gangguan kepribadian skizotipal) Isi obsesional tampaknya tidak berhubungan dengan prognosis. menggunakan semua data anggota keluarga seperti tingkah laku individu dalam keluarga. Mengalah (bukannya menahan) pada kompulsi b. 10. 28 . Menilai tingkah laku setiap anggota keluarga yang mempengaruhi tingkah laku yang baik dan membina pengaruh tingkah laku yang positif dari setiap individu. Kepercayaan waham g. Onset pada masa anak-anak c.sempurna. masalah spesifikasi dalam anggota keluarga atau peran anggota keluarga yang kurang sesuai yang akan mengganggu keberhasilan fungsi masing-masing individu dalam keluarga termasuk dalam waktu jangka panjang akan berakibat buruk pada anak OCD. kesukaran dalam perkawinan. Seluruh anggota keluarga dimasukkan ke dalam proses terapi. Penyesuaian sosial dan pekerjaan yang baik b. Terapi Keluarga (Family therapy) Terapi keluarga. Prognosis yang baik ditandai oleh : a. Pada pendekatan ini pasien diuji untuk menguji ketakutan mereka bahwa hal yang buruk akan terjadi jika mereka tidak menampilkan perilaku kompulsi. Gangguan depresif berat yang menyertai f. Perlu perawatan di rumah sakit e.

29 . Kualitas hidup buruk 12. Masalah dalam relationships g.6 Komplikasi dari gangguan obsesif-kompulsif dapat menyebabkan atau berkaitan dengan:13 a.16. Depresi d.11. dan bunuh diri adalah risiko bagi semua pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif. Gangguan anxietas lainnya e. Kompetensi Dokter Umum KDU 2: Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaanpemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya : pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter mampu merujuk pasien secepatnya ke spesialis yang relevan dan mampu menindaklanjuti sesudahnya. Tidak mampu ke sekolah atau bekerja f. Schizofrenia c. Komplikasi Kira-kira 20-30% pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif memiliki gangguan depresif berat. Pikiran dan tindakan bunuh diri b.

Yogyakarta: Penerbit Kanisisus. 2007. Psikologi Abnormal Klinis Dewasa. Maramis.com/2011/12/02/mengenal-tourette-syndrome/ tanggal 10 Januari 2012 10. 9. Jakarta. Fausiah. Harrison’s Principles of Internal Medicine. Catatan Kecil Gangguan Obsesif Kompulsif. Surabaya: Airlangga University Press.wordpress. Dra. 1993.Newman.A. dkk. 2010.Daftar Pustaka 1. 2009. Abnormal Psychology 8 th edition. 2008. C & Neale. New York: John Wiley & Son 8. Mengenal Tourette Syndrome. Hall CS. J. diunduh dari http://www.org/opini_kusumawati_soal_simund_freud. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis Jilid Dua. Iwan Budi. Lindzey G. 30 . 2006. 7.86-90. Depkes RI Direktorat Jenderal Pelayanan Medik.com. 2002. Hatta Kusumawati. Santoso. 11. Benjamin & Virginia Saddock. p. http://ningrumwahyuni. Ilmu Kedokteran Jiwa Edisi 2. W. Mark dan David H. Departemen Kesehatan. Sadock BJ. Jakarta: Binarupa Aksara.Pd. Buku Ajar Psikiatri Klinis Edisi Kedua. George W. Willy F. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 7th edition.html tanggal 10 Januari 2012 5. Anwar. M. Teori-Teori Psikodinamik Klinis. 3. Barlow. V. 1993. Grebb JA.acehinstitute. Jakarta: EGC. Jakarta: EGC Medical Publishers. Thorn. Gerald. 2003.M. Durand. Ningrumwahyuni. Kaplan HI. John. Kamus Kedokteran Dorland. Surabaya: Penerbit Amelis. Diunduh dari http://tengakarta. Desy. 14. 2004. 2.wordpress. Sekilas Tentang Teori Kepribadian Sigmud Freud Dan Aplikasinya Dalam Proses Bimbingan. 6. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. F & Widury. 13. Intisari Psikologi Abnormal. Dorland. New York: Mc Graw Hill. 2009. 2001. Davison. Diakses 4 Maret 2010 12. Saddock. Jakarta: UIPress. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. 4.

mhsip.15. Kompetensi Dokter Umum.pdf--13/02/10 16. Symptom distress Scale (Adapted from Symptomp Checklist-90) http://www. 31 . Jakarta : Konsil Kedokteran Indonesia.org/reportcard/sympdiss. 2010. Konsil Kedokteran Indonesia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful